Anda di halaman 1dari 37

CARCINOMA SINONASAL

Presented by :
Nurul Atikah Sinaga
Noni Gusmawan
Putri Maulidasari
Erlinda Ramona Putri
Novia Dwana
Cut Mila Sari
Dini

Pembimbing : dr Lily Setiani, Sp. THT-KL

PENDAHULUAN
Karsinoma sinonasal banyak terjadi di negara berkembang. Di bagian
Asia, keganasan sinonasal adalah peringkat kedua yang paling umum
setelah karsinoma nasofaring. Pria yang terkena 1,5 kali lebih sering
dibandingkan wanita,dan 80% dari tumor ini terjadi pada orang
berusia 45-85 tahun

Lokasi rongga hidung dan sinus paranasal membuat tumor sangat


dekat dengan struktur vital. Masalah ini diperburuk oleh fakta bahwa
manifestasi awal yang terjadi (misalnya epistaksis unilateral,
obstruksi nasi) mirip dengan kondisi awal yang umum dikeluhkan
tanpa adanya keluhan spesifik lainnya. Oleh karena itu, pasien dan
dokter sering mengabaikan atau meminimalkan presentasi awal dari
tumor dan mengobati tahap awal tumor ganas sebagai gangguan
sinonasal jinak.

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Hidung

FAKTOR RESIKO
Penggunaan Tembakau
Alkohol
Inhalasi Spesifik seperti debu industri kayu, tekstil, logam berat, dll
Sinar ionisasi seperti Sinar radiasi, Sinar UV
Virus: Virus HPV, Virus Epstein-barr
Usia
Jenis Kelamin

PATOFISIOLOGI
Faktor resiko

Mutasi pada gen yang mengatur pertumbuhan tubuh yaitu gen


proliferasi dan diferensiasi ( Proto-onkogen dan anti-onkogen)

Fase inisiasi, dan Fase promosi

Fase Induksi

Fase in situ dan Fase


diseminasi
7

KLASIFIKASI
Epitel
Karsinoma sel squamous
Differensiasi
Squamous basaloid
Adenosquamous
Karsinoma sel nonsquamous
Adenoid cystic carcinoma
Mucoepidermoid carsinoma
Adenocarcinoma
Neuroendocrine carcinoma
Hyalinizing clear cell
carcinoma
Melanoma maligna
Olfactory neuroblastoma
Sinonasal undifferentiated
carcinoma

Non epitel
Chondrosarcoma
Osteogenic sarkoma
Soft tissue sarcoma
Fibrosarcoma
Malignant fibrous
histiocytoma
Hemangiopericytoma
Angiosarcoma
Kaposis sarcoma
Rhabdomyosarcoma
Lymphoploroferative
Lymphoma
Polymorphic
reticulosis
Plasmacytoma
Metastatic

Mikroskopik Keratinizing Squamous Cell


Karsinoma

Mikroskopik Non-Keratinizing
Karsinoma

DIAGNOSIS
1.

Anamnesis

Gejala Nasal

Gejala Oral

Gejala Fasial

Gejala
Intrakranial

10

PEMERIKSAAN FISIK

Perhatikan wajah pasien apakah terdapat asimetri atau distorsi. Jika


ada proptosis, perhatikan arah pendorongan bola mata. Jika mata
terdorong ke atas, berarti tumor berasal dari sinus maxilla, jika ke
bawah dan lateral berarti tumor berasal dari sinus frontal atau
etmoid.

Periksa kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopi anterior dan


posterior. Permukaan yang licin merupakan pertanda tumor jinak
sedangkan permukaan yang berbenjol-benjol, rapuh dan mudah
berdarah merupakan pertanda tumor ganas.

Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medial berarti tumor


berada di sinus maksila. Untuk memeriksa rongga oral, disamping
inspeksi lakukan juga palpasi gusi rahang atas dan palatum, apakah
ada nyeri tekan, penonjolan atau gigi goyang.

Kita juga harus memeriksa telinga adakah tuli konduktif unilateral


tanpa kelainan telinga dan kelainan saraf cranial. Adanya
pembesaran kelenjar leher juga perlu dicari meskipun tumor ini
jarang bermetastasis ke kelenjar leher.
11

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Biopsi

CT Scan

Pemeriksaan X ray Sinus


Paranasal
MRI

Pemeriksaan Positron
Emission Tomography (PET)

12

STAGING

13

PENATALAKSANAAN

Pembedahan
Radioterapi
Kemoterapi
14

KOMPLIKASI
Perdarahan
Kebocoran Cairan otak
Epifora
Diplopia
15

PROGNOSIS

Pada umumnya prognosis kurang baik. Banyak sekali


faktor yang mempengaruhi prognosis keganasan pada
sinonasal. Faktor-faktor tersebut seperti perbedaan
diagnosis histologi, asal tumor primer, perluasan tumor,
pengobatan yang diberikan sebelumnya, status batas
sayatan, terapi adjuvan yang diberikan, status
imunologis, lamanya follow up dan banyak lagi faktor
lain yang dapat berpengaruh terhadap agresifitas
penyakit dan hasil pengobatan yang tentunya
berpengaruh juga terhadap prognosis penyakit ini.
Pengobatan multimodalitas akan memberikan hasil yang
terbaik dalam mengontrol tumor primer dan akan
meningkatkan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar
75% untuk seluruh stadium tumor.
16

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan : IRT
No. CM

:
:
:
:

Ny. Sipek
72 tahun
Perempuan
Lueng Baroe Nagan Raya

: 1-02-80-56

17

ANAMNESIS

KU

Keluhan Utama

Hidung
tersumbat

KT

Keluhan
Tambahan

Keluar cairan
seperti nanah
lewat hidung,
pipi bengkak
dan nyeri

18

RPS

Pasien rujukan dari Rumah Sakit Umum Meulaboh


dengan keluhan hidung tersumbat sejak 1
tahun yang lalu, hidung tersumbat dirasakan
semakin memberat , membuat pasien sulit
bernafas dan mengganggu tidur pasien. Sebelum
dirujuk pasien pernah berobat ke puskesmas dan
didiagnosa polip dan diberikan obat semprot
hidung, namun keluhan tidak berkurang dan
semakin lama pasien merasa semakin sulit
bernafas melalui hidung,

akhir tahun 2014 pasien datang ke Rumah Sakit


Meulaboh dengan keluhan hidung tersumbat yang
semakin parah dan mengeluarkan cairan seperti
darah bercampur nanah, pipi kiri pasien juga
semakin membengkak di sertai nyeri, lalu pasien
dirujuk ke RSUDZA, pasien dirawat dan dilakukan
pemeriksaan penunjang dan pasien dipulangkan
dan diminta kembali lagi 2 minggu kemudian untuk
mengambil hasil pemeriksaan penunjang, namun
pasien tidak kembali karena terhambat masalah
biaya, bengkak dipipi semakin besar dan nyeri dan
pada bulan 5 pasien kembali ke RSUDZA dengan
kondisi yang semakin memburuk.

19

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah dirawat tahun 2014 akhir dengan keluhan hidung
tersumbat dan keluar cairan darah dari hidung. Pasien memiliki
riwayat hipertensi yang terkontrol.

Riwayat Keluarga
Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama. Terdapat Riwayat
hipertensi tetapi DM di keluarga disangkal.

Riwayat Pengobatan
Pasien pernah menggunakan obat semprot yang didapatkan dari
Rumah Sakit Meulaboh.
Riwayat Kebiasaan Sosial
Pasien sering mengkonsumsi ikan asin.

20

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Fisik Umum
Status Generalisata
Keadaan umum: baik
Kesadaran
: compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah
: 140/70 mmhg
Nadi
: 84 x/ menit
Suhu
: 37 C
RR
: 20x/ menit

21

Thoraks :
I: Simetris, retraksi (-)
P: fremitus taktil kanan=kiri, nyeri tekan (-)
P: sonor (+/+)
A: ves (+/+), rh (+/+) pada kedua lapangan paru bawah, wh (-/-).
Cor: BJ I > BJ II, reguler (+), bising (-)
Abdomen :
I: simetris, distensi (-)
P: soepel, nyeri tekan (-)
P: timpani (+)
A: peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas :
Superior : Edema (-/-), pucat (-/-), sianosis (-/-), akral hangat
Inferior : Edema (-/-), pucat (-/-), sianosis (-/-), akral hangat
22

FOTO KLINIS

23

Status Lokalis
1. Telinga

Dekstra

Sinistra

Tragus sign (-)

Tragus sign (-)

Lapang

Lapang

Ada

Ada

Ada, jernih

Tidak ada

Intak

Intak

Reflex cahaya

Arah jam 5

Arah jam 7

Retroauricular

Fistel (-), abses (-)

Fistel (-), abses (-)

Preauricular
CAE
Serumen
Secret
Membran timpani

24

Hidung

2.

Dekstra

Sinistra

Mukosa

Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

Secret

Tidak ada

Ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Konka inferior

Eutrofi

Hipertropi

Pasase udara

Lancar

Terhambat

Septum nasi (Deviasi +)

25

3.

Orofaring

Dekstra

Sinistra

Tonsil

T1

T1

Kripta

Tidak ada

Tidak ada

Detritus

Tidak ada

Tidak ada

Perlengketan

Tidak ada

Tidak ada

Sikatrik

Tidak ada

Tidak ada

Faring

Dekstra

Sinistra

Mukosa

Merah muda

Merah muda

Granul

Tidak ada

Tidak ada

Bulging

Tidak ada

Tidak ada

Reflex muntah

Normal

Normal

Arkus faring

Simetris

Simetris

Uvula

Simetris

Simetris

26

4.

Maksilofacial

Dekstra

Sinistra

Letak

Simetris

Simetris

Parese N. kranialis VII

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Hematom

Tidak ada

Tidak ada

27

PEMERIKSAN PENUNJANG
1.

Laboratorium
Jenis pemeriksaan

13 Mei 2015

15 mei 2015

17 mei 2015

6,0 gr/dl

6,9 g/dl

11,6 g/dl

Eritrosit

3,0.106/mm3

3,2. 106/mm3

5. 106/mm3

Leukosit

6,0.103/mm3

6,0.103/ mm3

6,4. 103/mm3

559.103 / mm3

443.103/ mm3

434. 103/mm3

20 %

22 %

37 %

Eosinofil

22

Basofil

Netrofil Segmen

48

53

39

Limfosit

34

22

Monosit

13

17

AST/SGOT

18 U/L

16 U/L

ALT/SGPT

9 U/L

9 U/L

36 mg/dl

29 mg/dL

0,80 mg/dl

0,75 mg/dL

Hemoglobin

Trombosit
Hematokrit

Ureum
Kreatinin

28

Thoraks PA
19 Mei 2015
2.

. Cor

: CTR 56 %
. Pulmo
: tak
tampak kelainan
. Sinus costophrenicus
kanan dan kiri tajam
. Kesimpulan:
Kardiomegali Ringan

29

CT Scan SPN
18 Mei 2015
Kesimpulan :
. Massa solid di sinus
maksilaris kiri meluas
ke cavum nasi kiri.
Sinus ethmoidalis kiri,
sinus sphenoidalis dan
frontalis kiri disertai
destruksi os maksilaris
kiri dan dinding sinus
maksilaris kiri.
. Tak tampak perluasan
massa ke intrakranial.
3.

30

DIAGNOSA SEMENTARA / DIAGNOSA KERJA

Carsinoma Sinonasal + Anemia


Terapi Farmakologis
a. Terapi awal

IVFD

Rl 20 gtt/i
Transfusi PRC 4 Kolf sampai Hb >10
Ceftriaxon 2 x 1gr
b.

Terapi Post Op Maksilektomi Parsial e.c Tumor Sinonasal


IVFD

RL 20 gtt/i
Cefriaxone 2x1 gr
Transamin 3x500mg
Keterolac 3x30mg
Vit K 2x1 Amp
Diovan 1x1
Amlodipin 1x1

Operatif
Dilakukan pembedahan rhinotomi lateral dengan jenis insisi nya weber
fergussion
31

PROGNOSIS
Quo ad vitam

Ad bonam

Quo ad functionam

Ad bonam

Quo ad sanationam

Ad bonam

32

PEMBAHASAN
Yang dijumpai pada pasien

Analisis Teori

Dari anamnesis, pasien


mengeluhkan hidung tersumbat
saat datang pertama kali.
Pasien juga mengeluh sulit
bernafas, tidur terganggu,
hidung mengeluarkan cairan
seperti darah bercampur nanah
dan berbau tidak enak, pipi kiri
semakin membengkak dan
disertai nyeri.

Gejala-gejala yang dikeluhkan pasien dapat


timbul sesuai dengan perluasan tumor itu
sendiri. Gejala hidung tersumbat, sulit
bernafas dan hidung mengeluarkan darah
bercampur nanah merupakan gejala nasal,
berupa obstruksi hidung unilateral dan
rinorea. Sekretnya sering bercampur darah
atau terjadi epistaksis. Khas pada tumor
ganas ingusnya berbau karena mengandung
jaringan nekrotik. Gejala-gejala ini dapat
mengganggu aktifitas dan membuat tidur
pasien terganggu. Tumor sinonasal yang
semakin membesar dapat terlihat dengan
gejala pipi kiri pasien yang semakin
membengkak.
33

Yang Dijumpai Pada Pasien

Analisis Teori

Dari riwayat kebiasaan,


didapatkan bahwa pasien sering
mengkonsumsi ikan asin.

Seringnya pasien mengkonsumsi ikan asin


diduga merupakan etiologi yang
menyebabkan tumor pada pasien ini. Ikan
asin dan makanan lain yang di asinkan
diduga merupakan bahan karsinogen yang
menjadi pemicu timbulnya pertumbuhan
sel yang abnormal yang menjadi cikal
bakal tumor dalam hal ini tumor sinonasal.

Dari pemeriksaan hidung


(rhinoskopi anterior) didapatkan
mukosa hiperemis, dijumpai
sekret kekuningan, konka
hipertropi, deviasi septum dan
pasase udara terhambat pada
hidung sebelah kiri.

Deviasi septum bisa terjadi pada tumor


ganas sinonasal karena desakan tumor
terhadap tulang hidung sehingga terjadi
deformitas hidung yang menyebabkan
hidung tersumbat dan menghambat aliran
udara pada hidung tersebut.

34

Yang Didapat Pada Pasien

Analisi Teori

Dari hasil pemeriksaan penunjang


tersebut, CT-Scan sinus paranasalis
potongan axial dan coronal dengan
dan tanpa kontras didapatkan massa
sinus maksilaris kiri yang meluas ke
cavum nasi kiri, sinus ethmoidalis
dan sinus spenoidalis dan
mendestruksi os maksila kiri dan
dinding sinus maksilaris kiri, tidak
ada perluasan ke intrakranial. Dan
dari hasil pemeriksaan histopatologi
di ambil kesimpulan suatu inverted
papilloma.

CT-Scan merupakan pemeriksaan


penunjang yang di anjurkan
untuk pemeriksaan tumor
sinonasal. CT-Scan pada pasien
ini dilakukan untuk menilai
struktur tulang sinus paranasal
dan menilai tumor sinonasal.
Namun, diagnosis pasti
ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan histopatologi. Jika
tumor tampak di rongga hidung
atau rongga mulut, maka biopsi
mudah dan harus segera
dilakukan.

35

Penatalaksanaan

Analisa Teori

Pada pasien ini dilakukan


pembedahan rhinotomi
lateral dengan jenis insisi
nya weber fergussion

Rhinotomi lateral dengan jenis insisi weber


fergussion di lakukan dengan membuat insisi di
samping hidung setinggi kantus medial sampai
ke ala nasi, diteruskan sampai ke dasar
kolumela, insisi dilanjutkan ke bawah melalui
sulkus infranasal dan mendorong bibir atas,
insisi diperluas sampai dibawah kelopak mata
disebut insisi Weber-Ferguson.
Prinsip pengobatan pada tumor sinonasal adalah
pengangkatan tumor secara keseluruhan, tanpa
meninggalkan sisa, mengingat tumor ini
cenderung kambuh. Sebagai pilihan pengobatan
utama adalah pengangkatan tumor dan eksisi
dengan pendekatan rinotomi lateral atau
degloving bila massa tumor ada di traktus
sinonasal dan dengan mastoidektomi untuk
massa tumor di telinga tengah dan kavum
mastoid.
36

TERIMA KASIH

37