Anda di halaman 1dari 10

A.

Skenario 1
Pada skenario 1 kasusnya sebagai berikut:
Ratna adalah seorang gadis remaja berumur 14 tahun. Hari ini ia tidak ke
sekolah karena sementara mengalami haid dan merasa nyeri pada perut bagian
bawah. Awalnya nyeri di bagian perut kemudian menjalar ke bagian pinggang. Ia
juga merasa mual, muntah dan sakit kepala. Menurut Ibunya Ratna juga cepat
marah dan mudah tersinggung. Ratna menarche usia 13 tahun.
1. Klarifikasi Istilah
Menarche : Usia pertama kali mendapat haid
2.

Identifikasi Masalah
Nyeri perut bagian bawah, menjalar ke pinggang
Mual, muntah, sakit kepala
Cepat marah, mudah tersinggung

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)

Daftar Pertanyaan yang diperlukan untuk menjawab masalah:


Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dan Diagnosis Banding
Etiologi
Faktor resiko
Patogenesis
Patofisiologi
Penatalaksanaan
Edukasi
Pencegahan
Epidemiologi
Komplikasi
Prognosis

3. Hasil Analisis Masalah


Pada kasus ini pasien masih remaja berumur 14 tahun, sedang mengalami
siklus haid yaitu fase menstruasi. Pasien datang dengan keluhan nyeri perut
bagian bawah saat haid yang menjalar sampai pinggang. Keluhan yang dialami
pasien sampai membuatnya tidak masuk sekolah, dan aktivitas hariannya
terganggu. Selain mengeluh nyeri, pasien juga merasa mual, muntah, sakit
kepala, cepat marah dan mudah tersinggung. Dari keluhan diatas kelompok
mengambil hipotesis bahwa pasien tersebut mengalami dismenore.Dismenore
adalah nyeri selama haid yang dapat dirasakan di perut bawah atau pinggang,
dapat bersifat seperti malas-malas, seperti ngilu, atau seperti ditusuk-tusuk
(Prawirohardjo, 1994). Dismenore ini terjadi akibat pelepasan berlebihan
prostaglandin pada saat pertengahan fase luteal siklus haid. Akibat pelepasan
prostaglandin yang berlebihan tersebut akan menyebabkan manifestasi klinik
berupa nyeri perut bagian bawah, yang menjalar ke pinggang, serta efek-efek
sistemik seperti mual, muntah, dan sakit kepala. Gejala-gejala lain seperti cepat
marah dan mudah tersinggung kemungkinan merupakan gejala-gejala premenstrual sindrom (PMS) sebagai akibat dari ketidakseimbangan hormon yang
terjadi pada masa menstruasi.

6. Hasil Belajar Mandiri


a) Anamnesis
Identitas Pasien (nama, nama, umur, pekerjaan, usia, jenis kelamin)
Keluhan utama: Nyeri perut bagian bawah yang menjalar ke pinggang, mual,
muntah, sakit kepala, cepat marah dan mudah tersinggung.
Riwayat penyakit sekarang: Keluhan dirasakan menganggu belum lama
Riwayat penyakit dahulu: tidak pernah ada keluhan seperti hal tersebut yang
dirasakan berat oeh pasien.
Riwayat haid: menarche uUmur menarchi pertama kali, lama haid,

jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid, hari pertama haid
dan terakhir, perkiraan tanggal partus sia 13 tahun, ada gejala PMS

seperti mudah marah dan mudah tersinggung.


Riwayat kehamilan: G0P0A0
Riwayat Obsgin: tidak diketahui ( riwayat haid, riwayat seksual, dan kelainan
ginekologi lainnnya)
Gaya hidup: tidak diketahui (olahraga, kebiasaan merokok dan alkoholisme,
stress)

b) Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum (tensi, nadi, respirasi, suhu, conjungtiva anemis)


Pemeriksaan ginekologi pemeriksaan abdomen ( inspeksi, palpasi, perkusi
abdomen)
dan
pemeriksaan
genitalia
eksterna
(inspeksi
genitalia
eksterna inspeksi vulva untuk melihat adanya ulkus, pembengkakan, pus,
darah, leucorrhoe). VT dan inspekulo tidak dilakukan karena pasien masih belum
menikah.

c)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah lengkap dan urinalisis
Pemeriksaan kadar hormon: FSH, LH, estrogen dan progesteron
USG

d) Diagnosis dan Diagnosis Banding


Diagnosis yang kelompok ambil yaitudismenore primer. Dismenore
primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa ada kelainan alat-alat genital yang
nyata. Dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya
setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan
pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar yang tidak disertai
dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama-sama
dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada
beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat rasa nyeri ialah kejang
berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar
ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai
rasa mual, muntah, sakit kepala, diarea, iritabilitas, dan sebagainya.
Sedangkan diagnosis banding yang diambil yaitu endometriosis.
Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih

berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Gejala-gejala yang ditemukan pada


penyakit ini adalah 1) nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang
terjadi pada dan selama haid, 2) dispareunia, 3) nyeri waktu defekasi,
khususnya pada waktu haid, 4) poli- dan hipermenorea, 5) infertilitas.
e) Etiologi
Penyebabnya dismenore yaitu karena adanya jumlah Prostaglandin F2
yang berlebihan pada darah menstruasi yang merangsang hiperaktivitas
uterus.Hormon yang berperan disini yaitu estrogen yang merangsang pelepasan
prostaglandin oleh rahim.
f)

Faktor resiko
Menarche pada usia lebih awal
Menarche pada usia lebih awal menyebabkan alat-alat reproduksi
belum berfungsi secara optimal dan belum siap mengalami perubahanperubahan sehingga timbul nyeri ketika menstruasi.
Belum pernah hamil dan melahirkan
Wanita yang hamil biasanya terjadi alergi yang berhubungan dengan saraf yang menyebabkan
adrenalin mengalami penurunan, serta menyebabkan leher rahim melebar sehingga sensasi nyeri
haid berkurang bahkan hilang.

Lama menstruasi lebih dari nomal


Lama menstruasi lebih dari normal (7 hari), menstruasi menimbulkan adanya
kontraksi uterus, terjadi lebih lama mengakibatkan uterus lebih sering
berkontraksi, dan semakin banyak prostaglandin yang dikeluarkan . Produksi
prostaglandin yang berlebihan menimbulkan rasa nyeri, sedangkan kontraksi
uterus yang turus menerus menyebabkan suplai darah ke uterus trhenti dan
terjadi disminore.

Umur muda
Perempuan semakin tua, lebih sering mengalami menstruasi maka leher rahim
bertabah lebar, sehingga pada usia tua kejadian disminore jarang ditemukan.

g) Patogenesis
Berawal dari siklus haid yang berlangsung secara fisiologis.
Masa reproduksi: pubertas-menopause
sesuai dengan irama hormonal
Lapisan endometrium uterus
proliferasi untuk menerima embryo
lepas kalau kehamilan tidak terjadi
Menopause: siklus menstruasi berhenti
ovum habis, kadar estrogen turun
terjadi antara usia 45-50 tahun
Pembagian fisiologis
fase folikel: perdarahan - 15 (9-23) hari,
fase ovulasi: 1-3 hari, sampai ovulasi
fase luteum: 12 hari - perdarahan berikut

Sesuai dengan perubahan hormonal


Menjelang akhir fase luteum:
estrogen dan progesteron FSH dan LH mencapai titik terendah (feedback
negatif)
perbandingan LH/FSH sedikit di atas 1
Pada kasus ini terjadi peningkatan prostaglandin yang diakibatkan oleh
menurunnya produksi hormone estrogen dan progesteron. Berdasarkan semua
teori yang dikemukakan, hormonal tetap memegang peranan penting memicu
terjadinya kerjasama berbagai factor yang menimbulkan dismenorea primer
sebagai berikut :
korpus luteum mempunyai umur 8 hari sebagai korpus luteum menstruatikum,
sejak umurnya 4 hari (sejak ovulasi) telah mulai terjadi penurunan pengeluaran
estrogen dan progesteron.
h) Patofisiologi

i)

Dismenore adalah nyeri yang terjadi tanpa tanda-tanda infeksi atau


penyakit panggul. Dismenore biasanya terjadi akibat pelepasan berlebihan suatu
prostaglandin, prostaglandin F2a, dari sel-sel endometrium uterus. Prostaglandin
F2a adalah suatu perangsang kuat kontraksi otot polos miometriumdan kontraksi
pembuluh darah uterus, hal ini memperparah hipoksia uterus yang secara
normal
terjadi pada haid, sehingga timbul rasa nyeri hebat. Nyeri hebat tersebut dapat
teratasi dengan inhibitor prostaglandin misalnya indometasin, dapat secara
efektif mengurangi kram. Inhibator prostaglandinharus digunakan pada saat
tanda awal nyeri muncul, atau sebagian wanita pada tanda pertama pengeluaran
(Corwin,2000).
Nyeri perut bagian bawah, menjalar ke pinggang pelepasan prostaglandin yang
berlebihan yang menyebabkan hiperaktifitas uterus sedangkan penjalaran ke
pinggang diakibatkan olehpeningkatan sensitivitas serabut saraf
Mual, muntah, sakit kepala peredaran prostaglandin secara sistemik
Cepat marah, mudah tersinggung gangguan keseimbangan hormon estrogen
dan progesteron
Penatalaksanaan

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) :OAINS/NSAID adalah terapi awal yang sering
digunakan untuk dismenorea. OAINS/NSAID mempunyai efek analgetika yang secara langsung
menghambat sintesis prostaglandin dan menekan jumlah darah haid yang keluar. Seperti diketahui
sintesis prostaglandin diatur oleh dua isoform siklooksigenase (COX) yang berbeda, yaitu COX-1
dan COX-2. Sebagian besar NSAID/OAINS bekerja menghambat COX-2.

Pil Kontrasepsi Kombinasi : bekerja dengan cara mencegah ovulasi dan pertumbuhan jaringan
endometrium sehingga mengurangi jumlah darah haid dan sekresi Prostaglandin serta kram
uterus. Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi sangat efektif untuk mengatasi dismenorea dan
sekaligus akan membuat siklus haid menjadi teratur.

Latihan Fisik : latihan fisik dapat meningkatkan aliran darah ke daerah pelvis sehingga
menstimulasi pelepasan Beta Endorfin yang bekerja sebagai analgesik non spesifik .

Kompres Hangat : Penempelan panas dengan suhu 39derajat Celsius selama 12 jam terbukti
sama efektifnya dengan penggunaan ibuprofen.

j)

Edukasi

Memberikan konseling kepada pasien


Menghindari faktor-faktor resiko

k) Pencegahan

Hindari konsumsi alkohol


Alkohol merupakan racun bagi tubuh kita, dan hati bertanggungjawab
terhadap penghancur estrogen untuk disekresi oleh tubuh. Fungsi
hatiterganggu karena adanya komsumsi alkoholyang terus menerus, maka
estrogen tidak bisa disekresi dari tubuh, akibatnya estrogen dalam tubuh
meningkat dandapat menimbulkan gangguan pada pelvis.

Hindari merokok
Merokok dapat meningkatkan
lamanyadisminore.

lamanya

mensruasi

dan

meningkatkan

Rajin berolahraga
Kejadian
disminore
akan
meningkat
dengan
kurangnya
aktifitas
selam menstruasi dan kurangnya olah raga, hal ini dapat menyebabkan
sirkulasi darah dan oksigen menurun. Dampak pada uterus adalah aliran
darah dan sirkulasi oksigen pun berkurang dan menyebabkan nyeri.

Hindari stress
Stres menimbulkan penekanan sensasi saraf-saraf pinggul
otot punggung bawah sehingga menyebabkan disminore.

l)

Komplikasi

syok neurogenik
mengganggu aktivitas sehari-hari
emosional : gelisah & depresi

dan

otot-

m) Prognosis
Tergantung penatalaksanaan dan kepatuhan pasien dalam pengobatan

. Pemeriksaan fisik
a.
Pemeriksaan kesadaran klie, BB / TB, tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu
b.
Head To Toe
14.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Haid
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya haid antara lain :

1. Faktor hormone
Hormon-hormon yang mempengaruhi terjadinya haid pada seorang wanita yaitu:
a FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan oleh Hipofise
b Estrogen yang dihasilkan oleh ovarium
c LH (Luteinizing Hormone) dihasilkan oleh Hipofise
d Progesteron dihasilkan oleh ovarium
2. Faktor Enzim
Enzim hidrolitik yang terdapat dalam endometrium merusak sel yang berperan
dalam sintesa protein, yang mengganggu metabolisme sehingga mengakibatkan
regresi endometrium dan perdarahan.
3. Faktor Vascular
Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan
fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh pula
arteria-arteria, vena-vena dan hubungan antaranya. Dengan regresi endometrium
timbul statis dalm vena-vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya
dengan arteri, dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan
hematom, baik dari arteri maupun dari vena.
4. Faktor Prostaglandin
Endometrium mengandung prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi
endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan kontraksi myometrium
sebagai suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada haid.

12. 1.Amenore
Definisi Amenore
Amenorea adalah keadaaan tidak terjadinya haid pada seorang wanita. Hal tersebut normal
terjadi pada masa sebelum pubertas, kehamilan dan menyusui, dan setelah menopause. Amenorea
sendiri terbagi dua, yaitu:
a. Amenorea primer, yaitu keadaan tidak terjadinya haid pada wanita usia 16 tahun.
b. Amenorea sekunder, yaitu tidak terjadinya haid selama 3 siklus (pada kasus oligomenorea/jumlah
darah haid sedikit), atau 6 siklus setelah sebelumnya mendapatkan siklus haid biasa.
Penyebab
Penyebab tersering dari amenorea primer adalah:
Pubertas terlambat

Kegagalan dari fungsi indung telur

Agenesis uterovaginal (tidak tumbuhnya organ rahim dan vagina)

Gangguan pada susunan saraf pusat

Himen imperforata yang menyebabkan sumbatan keluarnya darah haid, dapat dipikirkan
apabila wanita memiliki rahim dan vagina normal

Penyebab terbanyak dari amenorea sekunder adalah kehamilan, setelah kehamilan, menyusui, dan
penggunaan metode kontrasepsi. Jika sebab-sebab tersebut bisa disingkirkan, maka penyebab
lainnya adalah:
Obat-obatan

Stres dan depresi

Nutrisi yang kurang, penurunan berat badan berlebihan, olahraga berlebihan, obesitas

Gangguan hipotalamus dan hipofisis

Gangguan indung telur

Penyakit kronik

Tanda dan Gejala


Tanda amenorea adalah tidak didapatkannya haid pada usia 16 tahun, dengan atau tanpa
perkembangan s`eksual sekunder (perkembangan payudara, perkembangan rambut pubis), atau
kondisi dimana wanita tersebut tidak mendapatkan haid padahal sebelumnya sudah pernah
mendapatkan haid. Gejala lainnya tergantung dari apa yang menyebabkan terjadinya amenorea.
2. Oligomenorea
Definisi Oligomenore
Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus haid memanjang lebih dari 35 hari,
sedangkan jumlah perdarahan tetap sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan mengalami
haid yang lebih jarang daripada biasanya. Namun, jika berhentinya siklus haid berlangsung lebih dari
3 bulan, maka kondisi tersebut dikenal sebagai amenorea sekunder.
Penyebab
Oligomenorea biasanya terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan hormonal pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Gangguan hormon tersebut menyebabkan lamanya siklus haid normal
menjadi memanjang, sehingga haid menjadi lebih jarang terjadi. Oligomenorea sering terjadi pada 3-5
tahun pertama setelah haid pertama ataupun beberapa tahun menjelang terjadinya menopause.
Oligomenorea yang terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi normal yang terjadi karena kurang
baiknya koordinasi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya haid pertama dan
menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh.
Disamping itu, oligomenorea dapat juga terjadi pada:
Gangguan indung telur, misal : Sindrome Polikistik Ovarium (PCOS)

Stres dan depresi

Sakit kronik

Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa, bulimia)

Penurunan berat badan berlebihan

Olahraga berlebihan, misal atlit

Adanya tumor yang melepaskan estrogen

Adanya kelainan pada struktur rahim atau serviks yang menghambat pengeluaran darah haid

Penggunaan obat-obatan tertentu


Umumnya oligomenorea tidak menyebabkan masalah, namun pada beberapa kasus, dapat
menyebabkan gangguan kesuburan. Pemeriksaan ke dokter kandungan harus dilakukan ketika
oligomenorea berlangsung lebih dari 3 bulan dan mulai menimbulkan gangguan kesuburan.
3. Polimenorea
Definisi Polimenore
Ketika seorang wanita mengalami siklus haid yang lebih sering (siklus haid yang lebih singkat
dari 21 hari), hal ini dikenal dengan istilah polimenorea. Wanita dengan polimenorea akan mengalami
haid hingga dua kali atau lebih dalam sebulan, dengan pola yang teratur dan jumlah perdarahan yang
relatif sama atau lebih banyak dari biasanya.
Polimenorea harus dapat dibedakan dari metroragia. Metroragia merupakan suatu perdarahan
iregular yang terjadi di antara dua waktu haid. Pada metroragia, haid terjadi dalam waktu yang lebih
singkat dengan darah yang dikeluarkan lebih sedikit.
Penyebab

Timbulnya haid yang lebih sering ini tentunya akan menimbulkan kekhawatiran pada wanita yang
mengalaminya. Polimenorea dapat terjadi akibat adanya ketidakseimbangan sistem
hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Ketidak seimbangan hormon tersebut dapat mengakibatkan gangguan pada proses ovulasi
(pelepasan sel telur) atau memendeknya waktu yang dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu siklus
haid normal sehingga didapatkan haid yang lebih sering. Gangguan keseimbangan hormon dapat
terjadi pada:
3-5 tahun pertama setelah haid pertama

Beberapa tahun menjelang menopause

Gangguan indung telur

Stress dan depresi

Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa, bulimia)

Penurunan berat badan berlebihan

Obesitas

Olahraga berlebihan, misal atlit

Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antikoagulan, aspirin, NSAID, dll

Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan dapat sembuh dengan sendirinya. Penderita
polimenorea harus segera dibawa ke dokter jika polimenorea berlangsung terus menerus.
Polimenorea yang berlangsung terus menerus dapat menimbulkan gangguan hemodinamik tubuh
akibat darah yang keluar terus menerus. Disamping itu, polimenorea dapat juga akan menimbulkan
keluhan berupa gangguan kesuburan karena gangguan hormonal pada polimenorea mengakibatkan
gangguan ovulasi (proses pelepasan sel telur). Wanita dengan gangguan ovulasi seringkali
mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.
4. Menoragia atau Hipermenorea
Definisi Menoragia atau Hipermenorea
Menoragia atau hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal (lebih
dari 80ml/hari) atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah
sewaktu haid. Siklus haid yang normal berlangsung antara 21-35 hari, selama 2-8 hari dengan jumlah
darah haid sekitar 25-80 ml/hari.
Gejala
Penderita menoragia dapat mengalami beberapa gejala seperti:
Perlu mengganti pembalut hampir setiap jam selama beberapa hari berturut-turut

Perlunya mengganti pembalut di malam hari atau pembalut ganda di malam hari

haid berlangsung lebih dari 7 hari

Darah haid dapat berupa gumpalan-gumpalan darah

Haid yang berlangsung berkepanjangan dengan jumlah darah yang terlalu banyak untuk
dikeluarkan setiap harinya dapat menyebabkan tubuh kehilangan terlalu banyak darah sehingga
memicu terjadinya anemia. Terdapat tanda-tanda anemia, seperti napas lebih pendek, mudah lelah,
pucat, kurang konsentrasi, dll.

Penyebab
Timbulnya perdarahan yang berlebihan saat terjadinya haid (menoragia) dapat terjadi akibat
beberapa hal, diantaranya:
1. Adanya kelainan organik, seperti:
infeksi saluran reporduksi

kelainan koagulasi (pembekuan darah), misal : akibat von willebrand disease, kekurangan
protrombin, idiopatik trombositopenia purpura (ITP), dll

Disfungsi organ yang menyebabkan terjadinya menoragia seperti gagal hepar atau gagal
ginjal. Penyakit hati kronik dapat menyebabkan gangguan dalam menghasilkan faktor pembekuan
darah dan menurunkan hormon estrogen.
2. Kelainan hormon endokrin misal akibat kelainan kelenjar tiroid dan kelenjar adrenal, tumor pituitari,
siklus anovulasi, Sindrome Polikistik Ovarium (PCOS), kegemukan, dll
3. Kelainan anatomi rahim seperti adanya mioma uteri, polip endometrium, hiperplasia endometrium,
kanker dinding rahim dan lain sebagainya.
4. Iatrogenik : misal akibat pemakaian IUD, hormon steroid, obat-obatan kemoterapi, obat-obatan
anti-inflamasi dan obat-obatan antikoagulan.
5. Hipomenorea
Definisi Hipmenorea
Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari biasa.
Penyebab
Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang
gizi, penyakit menahun maupun gangguan hormonal.
6. Metroragia
Definisi Metroragia
Metroragia adalah perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid.
Metroragia merupakan suatu perdarahan iregular yang terjadi di antara dua waktu haid. Pada
metroragia, haid terjadi dalam waktu yang lebih singkat dengan darah yang dikeluarkan lebih sedikit.
Metroragia tidak ada hubungannya dengan haid, namun keadaan ini sering dianggap oleh wanita
sebagai haid walaupun hanya berupa bercak
Klasifikasi
1.
Metroragia oleh karena adanya kehamilan, seperti abortus, kehamilan ektopik.
2.

Metroragia diluar kehamilan

Penyebab

1. Metroragia diluar kehamilan dapat disebabkan oleh luka yang tidak sembuh, carcinoma
corpus uteri, carcinoma cervicitis, peradangan dari haemorrhagis (seperti kolpitis
haemorrhagia, endometritis haemorrhagia), hormonal.

2. Perdarahan fungsional:
Perdarahan Anovulatoar, disebabkan oleh psikis, neurogen, hypofiser, ovarial (tumor atau
ovarium yang polikistik) dan kelainan gizi, metabolik, penyakit akut maupun kronis.

Perdarahan Ovulatoar, akibat korpus luteum persisten, kelainan pelepasan endometrium,


hipertensi, kelainan darah dan penyakit akut ataupun kronis.

E. Gangguan Lain Yang Ada Hubungan Dengan Haid


Pre Menstrual Tension (Ketegangan Pra Haid)
Ketegangan sebelum haid terjadi beberapa hari sebelum haid bahkan
sampaimenstruasi berlangsung. Terjadi karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan
progesterom menjelang menstruasi. Pre menstrual tension terjadi pada umur 30-40 tahun.
Gejala klinik dari pre menstrual tension adalah gangguan emosional; gelisah,
susah tidur;perut kembung, mual muntah; payudara tegang dan sakit; terkadang merasa tertekan

Terapi
Olahraga, perubahan diet (tanpa garam, kopi dan alkohol); mengurangi stress; konsumsi
antidepressan bila perlu; menekan fungsi ovulasi dengan kontrasepsi oral,
progestin;konsultasi dengan tenaga ahli, KIEM untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Mastodinia atau Mastalgia
Definisi
Adalah rasa tegang pada payudara menjelang haid.
Sebab-sebab
Disebabkan oleh dominasi hormon estrogen, sehingga terjadi retensi air dan garam yang disertai
hiperemia didaerah payudara.
Mittelschmerz (Rasa Nyeri pada Ovulasi)
Definisi
Adalah rasa sakit yang timbul pada wanita saat ovulasi, berlangsung beberapa jam sampai beberapa
hari di pertengahan siklus menstruasi. Hal ini terjadi karena pecahnya folikel Graff. Lamanya bisa
beberapa jam bahkan sampai 2-3 hari. Terkadang Mittelschmerz diikuti olehperdarahan yang berasal
dari proses ovulasi dengan gejala klinis seperti kehamilan ektopik yang pecah.