Anda di halaman 1dari 17

21

BABII
KONSEPDANTEORIPENEGAKANHUKUM

A. LatarBelakangPenegakanHukum
Hukum merupakan suatu sarana dimana didalamnya terkandung nilainilai
atau konsepkonsep tentang keadilan, kebenaran kemanfaatan sosial, dan
sebagainya. Penegakan hukum pada hakikatnya merupakan penegakan ideide
atau konsepkonsep serta usaha untuk mewujudkan ideide dari harapan
masyarakatuntukmenjadikenyataan.
Penegakan hukum di Indonesia harus didasari oleh hukum administrasi
negara, penegakan hukum yang dilakukan oleh hukum administrasi negara
merupakan hukum yang melahirkan penegakan hukum dan pemerintahan yang
sehat dan teratur, dalam arti memadai atau setidaktidaknya dapat dikatakan
menjalankanhukum negaradalammenujunegarayangsupremasihukum.
Indonesia merupakan Negara hukum yang dijelaskan dalam UUD 1945,
yaitu Negara yang berdasar atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan
kekuasaanbelaka(machtstaat).
Namun,pelaksanaanhukumdiIndonesiamasihterlihatberbedadikalangan
mayarakatluas,sekaranginihukumdiIndonesiasudahbisadijualbeli.Asalakan
punyabanyakuangmakasemuakebebasanhukumbisadilaksanakan,supremasi
hukum di Indonesia masih dipertanyakan. Konyol memang di Negara yang

21

22

berbasis pada hukum tetapi justru hukum bisa dijual belikan oleh elit yang
mempunyai uang. Seharusnya hukum itu bersifat netral dan berfungsi memberi
kesejahteraandanmeningkatkankeamanandiIndonesiaini.
Dalampermasalahaninidibutuhkanduafungsinegara,yaitunegarasebagai
suatu wadah mensejahterkan rakyat, fungsi negara yaitu menjaga agar jangan
sampai terjadi penggangguan terhadap hak pribadi warga masyarakat yang
bersangkutan. Fungsi negara dalam hukum tidak hanya sebatas menjaga
keamanansajabagimasyarakat,tetapi negarajugasebagaipencapaidanpewujud
kesejahteraanbagimasyarakat.
Hal di atas dapat dilakukan negara untuk mengembalikan kembali
kepercayaanmasyarakatterhadappenegakanhukumdiIndonesia.Permasalahan
kelonggaran hukum di Indonesia dapat disebabkan rusaknya moral para
administrasi negara dan wakil rakyat sehingga berpaling arah menjadi ketidak
adilandalampenegakanhukumitusendiri.
Maka dari permasalahan diatas penegakan hukum di Indonesia perlu di
tingkatkan,danmelibatkanbanyakhal.Penegakanhukumakandipengaruhioleh
beberapa faktor, diantaranya adalah pelaku pejabat negara sebagai penegak
hukum dan masyarakat luas dan melibatkan semua pihak sebagai pelaksana
hukumdiIndonesia.Penegakan hukumdanketertibanmerupakansyaratmutlak
bagi upayaupaya penciptaan Indonesia yang damai dan sejahtera. Apabila
hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan, maka kepastian, rasa aman,
tenteram,ataupunkehidupanyangrukunakandapatterwujud.

23

B. KonsepPenegakanHukum
Penegakanhukummerupakanusahauntukmewujudkanideidedankonsep
konsep hukum yang diharapakan rakyat menjadi kenyataan. Penegakan hukum
merupakansuatuprosesyangmelibatkanbanyakhal.
Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum adalah kegiatan
menyerasikan hubungan nilainilai yang terjabarkan didalam kaidah
kaidah/pandangan nilai yang mantap dan mengejewantah dan sikap tindak
sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara
danmempertahankankedamaianpergaulanhidup.
Penegakan hukum secara konkret adalah berlakunya hukum positif dalam
praktik sebagaimana seharusnya patut untuk dipatuhi. Oleh karena itu,
memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan hukum in
concreto dalam mempertahankan dan menjamin di taatinya hukum materiil
denganmenggunakancaraproseduralyangditetapkanolehhukumformal.
MenurutSatjipto Raharjo,penegakan hukum pada hakikatnya merupakan
penegakan ideide atau konsepkonsep tentang keadilan, kebenaran,
kemamfaatan sosial, dan sebagainya. Jadi Penegakan hukum merupakan usaha
untuk mewujudkan ide dan konsepkonsep tadi menjadi kenyataan. Satjipto
Rahardjo membedakan istilah penegakan hukum (law enforcement) dengan
penggunaanhukum(theuseoflaw).Penegakanhukumdanpenggunaanhukum
adalah dua hal yang berbeda. Orang dapat menegakkan hukum untuk

24

memberikan keadilan, tetapi orang juga dapat menegakkan hukum untuk


digunakan bagi pencapaian tujuan atau kepentingan lain. Menegakkan hukum
tidakpersissamadenganmenggunakanhukum.1
Pada hakikatnyan penegakan hukum mewujudkan nilainilai atau kaedah
kaedah yang memuat keadilan dan kebenaran, penegakan hukum bukan hanya
menjadi tugasdariparapenegakhukumyangsudahdikenal secarakonvensional,
tetapi menjadi tugas dari setiap orang. Meskipun demikian, dalam kaitannya
denganhukumpublikpemerintahlahyangbertanggungjawab.
Menurut Blacks Law Dictionary, penegakan hukum (law enforcement),
diartikan sebagai the act of putting something such as a law into effect the
execution of a law the carrying out of a mandate or command.2 Secara
sederhana dapat dikatakan bahwa penegakan hukum merupakan usaha untuk
menegakkan normanorma dan kaidahkaidah hukum sekaligus nilainilai yang
ada di belakangnya. Aparat penegak hukum hendaknya memahami benarbenar
jiwa hukum (legal spirit) yang mendasari peraturan hukum yang harus
ditegakkan, terkait dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam proses
pembuatanperundangundangan(lawmakingprocess).3

Satjipto Rahardjo, SisiSisi Lain dari Hukum di Indonesia, Cetakan Kedua, (Jakarta: Buku
Kompas,2006),169
2
BlackHenryCampbell,BlacksLawDictionary,EdisiVI,(St.PaulMinesota:WestPublishing,
1999), 578
3
Muladi,HakAsasiManusia,PolitikdanSistemPeradilanPidana,CetakanKedua,(Semarang:
BadanPenerbitUniversitasDiponegoro,2002), 69

25

Penegakan hukum merupakan subsistem sosial, sehingga penegakannya


dipengaruhi lingkungan yang sangat kompleks seperti perkembangan politik,
ekonomi, sosial, budaya,hankam, iptek,pendidikandansebagainya.Penegakan
hukum harus berlandaskan kepada prinsipprinsip negara hukum sebagaimana
tersirat dalam UUD 1945 dan asasasas hukum yang berlaku di lingkungan
bangsabangsa yang beradab (seperti the Basic Principles of Independence of
Judiciary), agar penegak hukum dapat menghindarkan diri dari praktikpraktik
negatifakibatpengaruhlingkunganyangsangatkomplekstersebut.4
Berdasarkan teori efektivitas hukum yang dikemukakan oleh Soerjono
Soekanto, ada 5 hal yang mempengaruhi efektif atau tidaknya penegakan
hukum,yaitu:
1. Faktor hukumatauperaturanitusendiri (undangundang)
Kemungkinannya adalah bahwa terjadinya ketidak cocokan dalam
peraturan perundangundanagn mengenai bidang kehidupan tertentu.
Kemungkinan lainnya adalah ketidak cocokan peraturan perunaang
unadangan dengan hukum tidak tertulis atau hukumkebiasaan.kadang kala
ketidak serasian antara hukum tercatat dengan hukum kebiasaan dan
seterusnya.
2. Faktor penegakhukum
Yaitupihakpihakyangmembentukmaupunyangmenerapkanhukum.
Mentalitas petugas yang menegakan hukum atara lain mencakup
4

Ibid,70

26

hakim,polisi, jasa, pembela, petugas pemasyrakatan dan seterusnya. Jika


hukumnya baik tapi mental orang yang bertangggung jawab untuk
menegakkanhukumtersebutmasihbelummantap,makabisamenyebabkan
terjadinyagangguandalamsystem hukumitusendiri.
3. Faktor saranaataufasilitasyangmendukungpenegakanhukum.
Kalau

hukumnya baik dan mentalitas orang yang bertugas

menegakkanhukumjugabaiknamunjikafasilitasnakurangmemadai,maka
hukum tadibisasajaberjalantidaksesuaidenganrencana.
4. Faktormasyarakat
Yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau di
tetapkan.faktor masyarakat disini adalah, bagaimana kesadaran masyarakat
akanhukum yangada.
5. Faktorkebudayaan
Yaknisebagaihasilkarya,cipta,danrasayangdidasarkanpadakarsa
manusia di dalam pergaulan hidup. Bagaiman hukumyang ada bisa masuk
kedalam dan menyatu dengan kebudayaan yang ada, sehingga semuanya
berjalandenganbaik.5
Relevan dengan teori efektivitas hukum yang dikemukakan Soerjono
Soekanto tersebut, Romli Atmasasmita mengatakan faktorfaktor yang
menghambat efektivitas penegakan hukum tidak hanya terletak pada sikap

SoerjonoSoekanto,FaktorFaktorYangMempengaruhiPenegakanHukum,(Jakarta:PT.Raja
GrafindoPersada, 2008), hal.8

27

mentalaparaturpenegakhukum(hakim,jaksa,polisidanpenasihathukum)akan
tetapijugaterletakpadafaktorsosialisasihukumyangseringdiabaikan.6
Konsepsi operasional tentang bekerjanya hukum dalam masyarakat dengan
didasarkanpadaduakonsepyangberbedayaitukonseptentangramalanramalan
mengenai akibatakibat (prediction of consequences) yang dikemukakan oleh
Lundberg dan Lansing tahun 1973 dan konsep Hans Kelsen tentang aspek
rangkapdarisuatuperaturanhukum.7
Berdasarkan konsep Lundberg dan Lansing, serta konsep Hans Kelsen
tersebut Robert B. Seidman dan William J. Chambliss menyusun suatu teori
bekerjanya hukum di dalam masyarakat. Keberhasilan pelaksanaan suatu
peraturan perundangundangan sangat tergantung banyak faktor. Secara garis
besarbekerjanyahukumdalammasyarakatakanditentukanolehbeberapafaktor
utama.Faktorfaktortersebutdapat:
1. Bersifat yuridis normatif (menyangkut pembuatan peraturan perundang
undangannya).
2. Penegakannya(parapihakdanperananpemerintah).
3. Serta faktor yang bersifat yuridis sosiologis (menyangkut pertimbangan
ekonomissertakulturhukumpelakubisnis).8

RomliAtmasasmita,ReformasiHukum,HakAsasiManusia &PenegakanHukum,(Bandung:
MandarMaju,2001) 55
7
Ronny Hanitijo Soemitro, Perspektif Sosial dalam Pemahaman MasalahMasalah Hukum,
Semarang:CVAgung, 1989), 23
8
Suteki, Rekonstruksi Politik Hukum Tentang Hak Menguasai Negara Atas Sumber Daya Air
Berbasis Nilai Keadilan Sosial (Studi Privatisasi Pengelolaan Sumber Daya Air), (Disertasi pada
ProgramDoktorIlmuHukumUniversitasDiponegoroSemarang, 2008), 34

28

Faktor materi (substansi) suatu hukum atau peraturan perundangundangan


memegangperananpentingdalampenegakanhukum(lawenforcement).Artinya
didalamhukumatauperaturanperundangundanganitusendiriharusterkandung
dan bahkan merupakan conditio sine quanon di dalamnya keadilan (justice).
Sebab, bagaimana pun juga hukum yang baik adalah hukum yang di dalamnya
terkandungnilainilaikeadilan.
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah faktor aparatur penegak hukum
itusendiriyanglazimjugadisebutlawenforcer(enforcementagencies).Relevan
dengan haltersebutB.M.Taverne mengatakan, geefmegoede rechter,goede
rechter commissarissen, goede officieren van justitieen, goede politie
ambtenaren, en ik zal met een slecht wetboek van strafprosesrecht het goede
berukenbahwasanyaberikanakuhakim,jaksa,polisidanadvokatyangbaik,
maka aku akan berantas kejahatan meskipun tanpa secarik undangundang
pun. Dengan kata lain, berikan padaku hakim dan jaksa yang baik, maka
dengan hukum yang buruk saya bisa mendatangkan keadilan.9 Artinya,
bagaimanapunlengkapnyasuaturumusanundangundang,tanpadidukungoleh
aparatur penegak hukum yang baik, memilikki moralitas dan integritas yang
tinggi,makahasilnyaakanburuk.
Hal yang sangat penting yang harus juga mendapat perhatian serius dari
aparatur penegak hukum adalah tidak bersikap diskriminatif dalam penegakan
hukum (law enforcement). Hukum seringkali hanya efektif terhadap pelaku
9

SatjiptoRahardjo,MembedahHukumProgresif, (Jakarta:BukuKompas, 2006), 6

29

pelaku pelanggaran hukum masyarakat kelas menengah. Inilah yang pernah


dikuatirkanHonoredeBalzac sebagaimanadikutipPillipeSands bahwa hukum
diduniasudahberubahmenjadisepertisaranglabalaba,Lesloissontdestoiles
daraignees a tavers lesquelles passent les grosses mouches et ou restent les
petites (hukum, seperti sarang labalaba, menangkap seranggaserangga kecil
dan membiarkan yang besarbesar lolos).10 Atau yang dalam Bahasa Inggris
disebut:lawsarespiderwebsthroughwhichthebigfliespassandthelittleones
getcaught,artinyapenegakanhukumhanyaberlakubagiyangtidakmampu.
Diskriminasi dijalankan di mana penegakan hukum itu telah berubah dari
pengayomanmenjadisaranglabalaba.11
Relevandengan haltersebutThomasJefferson menggambarkannya sebagai
berikut:Itdoesnogoodtohavelawsdrafted,debated,andapproved,isthewill
and means to enforce them is weak adalah percuma saja untuk merancang
undangundang, mendebatkan, dan kemudian menyetujuinya, apabila keinginan
danalatuntukmelaksanakannyalemah.12 Lebihlanjutdikatakan,Theexecution
of the laws is more important than the making of them, pelaksanaan hukum
adalahlebihpentingdaripembuatannya.
MenurutSunaryati FGHartono,saranadanprasarana,baikperangkatkeras
(sepertigedungtempatbekerja,failingkabinets,mejatulis,komputerdanlaptop,
10

SatjiptoRahardjo,LapisanLapisanDalamStudiHukum.(Malang:Bayumedia,2008), 111
Tim Editor, Percikan Permenungan. Kumpulan KataKata Mutiara, (Jakarta: Penerbit Mitra
Utama,1983),15
12
CharlesHimawan.HikmahGlobalisasiHukum. Artikeldalam HarianUmumKompas,8Mei
1993, 4
11

30

senjata,kapalperunggu,danlainsebagainya),perangkatlunak(sepertiprogram,
rencana,prosedurdanlainsebagainya)maupunbrainware(ahliahlidiberbagai
bidang, seperti ahli peneliti, ahli komunikasi, ahli komputer, ahli desain, ahli
perencanaan,ahlimediasidanarbitrase,danlainlain).13
Dalampelaksanaanpenegakan hukum hal yangterpentingadalah semangat
penyelenggara negara atau semangat aparatur penegak hukumnya (the man
behindthelaw),sebagaimanayangdiamanatkandalamPenjelasanUmumUUD
1945:
Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidup negara,
ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para
pemimpin pemerintahan. Meskipun dibikin UndangUndang Dasar yang
menurut katakatanya bersifat kekeluargaan apabila semangat para
penyelenggaranegara,UndangUndangDasartaditentutidakadaartinya
dalam praktik. Sebaliknya, meskipun UndangUndang Dasar itu tidak
sempurna, akan tetapi jikalau semangat para penyelenggara pemerintahan
baik, UndangUndang Dasar itu tentu tidak akan merintangi jalannya
negara.Jadi,yangpalingpentingialahsemangat.14
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa penegakan hukum merupakan
usaha menegakkan normanormadankaidahkaidah hukumsekaligus nilainilai
yang ada di belakangnya. Dengan demikian aparat penegak hukum hendaknya
memahami benarbenar jiwa hukum (legal spirit) yang mendasari peraturan
13

Sunaryati FG Hartono. Paradigma Pembangunan Hukum Nasional Indonesia: Respons


TerhadapGlobalisasiTanpaMengorbankanKepentinganNasionaldanKesejahteraanMasyarakat.
Makalah dalam Seminar & Temu Hukum Nasional IX: Membangun Hukum Nasional yang
Demokratis dalam Tatanan Masyarakat yang Berbudaya dan Cerdas Hukum, pada tanggal 2021
November2008diHotelHyattRegencyYogyakarta
14
Supandji,Hendarman.PenegakanHukumdanUpayaMembangunKepercayaanMasyarakat
pada Sistem Hukum Nasional. Makalah disampaikan dalam acara Seminar dan Temu Hukum
Nasional IX, dengan tema Membangun Hukum Nasional yang Demokratis dalam Tatanan
Masyarakat yang Berbudaya dan Cerdas Hukum, tanggal 2022 Nopember 2008 di Hotel Hyatt
RegencyYogyakarta

31

hukum yang harus ditegakkan, terkait dengan berbagai dinamika yang terjadi
dalamprosespembuatanperundangundangan(lawmakingprocess).15
Penegakan hukum (law enforcement), keadilan dan hak asasi manusia
merupakan tiga kata kunci dalam suatu negara hukum (rechtsstaat) seperti
halnya Indonesia. Ketiga istilah tersebut mempunyai hubungan dan keterkaitan
yangsangaterat.Keadilanadalahhakikatdarihukum.Olehkarenaitu,jikasuatu
negara menyebutdirinya sebagai negara hukum, makadidalam negaratersebut
harusmenjunjungtinggikeadilan(justice).Bahkanparameterbagisuatunegara
yang berdasarkan atas hukum adalah dijaminnya pelaksanaan HAM. Jadi,
berbicara tentang negara hukum tidak hanya berhubungan erat dengan keadilan
dannilaikeadilansosialtetapijugaberbasisnilaiHAM.

C. TeoriPenegakanHukum
J.B.J.M ten berge menyebutkan beberapa aspek yang harus di perhatikan
ataudipertimbangkandalamrangkapenegakanhukum,yaitu:
1. Suatu peraturan harus sedikit mungkin membiarkan ruang bagi perbedaan
interpretasi.
2. Ketentuanperkecualianharusdibatasisecaraminimal.
3. Peraturan harus sebanyak mungkin di arahkan pada kenyataan yang secara
objektifdapatditentukan.

15

Ibid, 69

32

4. Peraturan harus dapat dilaksanakan oleh mereka yang terkena peraturan itu
danmerekayangdibebanidengantugaspenegakanhukum.16
Adabeberapateori penegakanhukum,diantaranyayaitu:
1. Teori Aliran Utilitis
Teori utilitas disebut juga dengan teori aliran kegunaan yakni aliran
yang menggariskan bahwa tujuan hukum yaitu untuk mengabdi kepada
kegunaan, yakni kegunaan yang dapat dinikmati oleh setiap warga
masyarakatdalamkadaryangsetinggimungkin(oleh:JeremyBentham).
2. Aristotelasdalambukunyarhetoricamengatakantujuandarihukumadalah
keadilan.
3. TeoriEtis
Yaituteoriyangmengajarkanbahwaisisuatuhukumyangberlakubagi
suatubangsatertentuyaituharuslahberdasarkanpadakesadaranetisbangsa
yang bersangkutan, seyogyanya melaksanakan pandanganpandangan yang
benarakan nilainilaikehidupan yang baik, menurutteori initujuan hukum
adalahuntukmencapaikedilandanpenegakanhukum.
4. TeoripenegakanhukumJohnGraham
Bahwa penegakan hukum dilapangan oleh polisi merupakan kebijakan
penegakanhukumdalampencegahankejahatan.
5. MenurutHamisMC.Rae

16

Abdurrahman, Perkembangan Pemikiran tentang Pembinaan Hukum Nasional. (Jakarta :


AkademikaPresindo.1989),27

33

Hamis mengatakan bahwa penegakan hukum dilakukan dengan


pendayagunaankemampuanberupapenegakanhukumdilakukanolehorang
yang betulbetul ahli dibidangnya dan dalam penegakan hukum akan lebih
baik jika penegakan hukum mempunyai pengalaman praktek berkaitan
denganbidangyangditanganinya.17

D. JenisPenegakanHukum
1. PenegakanHukumResponsif
IdepenegakanhukumyangresponsifitubaikdiBaratpadamasalampu
maupun dan sangat urgen di Indonesia saat ini atas dasar keprihatinan
terhadapkondisipenegakanhukumyangrepresif,bertentangandengannilai
keadilan sosial, HAM dan demokrasi. Penegakan hukum yang responsif
dapat dikatakan sebagaiconditio sine quanon saat ini, jika ingin hukum
tetapdianggapsebagaipanglimadalamkehidupanbermasyarakat,berbangsa
danbernegara.Artinyahukumyangmampumeresponkeinginanmasyarakat
untukterwujudnyakesejahteraan.
Pengembaraan mencari hukum responsif telah menjadi kegiatan teori
hukum modern yang terus berkelanjutan. Sebagaimana yang dikatakan
Jerome Frank (18891957), tujuan utama kaum realis hukum adalah untuk
membuat hukum menjadi lebih responsif terhadap kebutuhankebutuhan

17

RidwanHR,HukumAdministrasiNegara. (Jakarta:PTRajaGrafindoPersada,2008),17

34

sosial.18 Suatu hukum yang responsif masih harus diperjuangkan dalam


tataran implementasi, agar tidak bertentangan dengan nilai keadilan sosial,
HAMdandemokrasi.
Philippe Nonet & Philip Selznick mengintroduksi tipelogi hukum
responsif (responsive law) sebagai hukum negara yang mampu merespons
dan mengakomodasi nilai, prinsip, tradisi dan kepentingan masyarakat,
sehingga mencerminkan sistem pemerintahan demokratis yang dianut oleh
pemerintahyangsedangberkuasa,khususnyadalamimplementasikebijakan
pembangunan hukumnya. Relevan dengan itu, Roberto M. Unger
mengatakan bahwa dalam era negara kesejahteraan, maka wacana hukum
berorientasikebijakan.19
2. Penegakan HukumProgresif
Agar terwujudnya suatu penegakan hukum yang responsif, maka
dibutuhkan hukum progresif. Kata progresif berasal dari Bahasa Inggris
yaitu progressive yang berarti maju (kata sifat), dan orang yang
menyukaikemajuan(katabenda).KataprogresifmenurutBahasaIndonesia
berarti ke arah kemajuan, berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang
(tentang politik), bertingkattingkat naik (tentang aturan pemungutan pajak
dan sebagainya).20 Atas dasar itulah Satjipto Rahardjo menawarkan teori

18

PhilippeNonet&PhilipSelznick, HukumResponsif. (Bandung:PenerbitNusamedia,2007), 83


RobertoM.Unger,TeoriHukumKritis,PosisiHukumdalamMasyarakatModern, 2008,262
20
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi
Keempat, (Jakarta:PenerbitPTGramediaPustakaUtama,2008), 1105
19

35

hukum progresif. Inti dari hukum progresif terletak pada berpikir dan
bertindak progresif yang membebaskannya dari belenggu teks dokumen
hukum, karena pada akhirnya hukum itu bukan untuk teks hukum,
melainkanuntukkebahagiaandankesejahteraanmanusia.21
Menurut Satjipto Rahardjo, pemikiran hukum perlu kembali pada
filosofi dasarnya, yaitu hukum untuk manusia. Dengan filosofi tersebut,
maka manusia menjadipenentudantitikorientasihukum.Hukum bertugas
melayani manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, hukum itu bukan
merupakan institusi yang lepas dari kepentingan manusia. Mutu hukum,
ditentukan oleh kemampuannya untuk mengabdi kepada kesejahteraan
manusia. Ini menyebabkan hukum progresif menganut ideologi hukum
yangprokeadilandanhukumyangprorakyat.Denganideologiini,dedikasi
para pelaku hukum mendapat tempat yang utama untuk melakukan
pemulihan. Para pelaku hukum dituntut mengedepankan kejujuran dan
ketulusan dalam penegakan hukum. Mereka harus memiliki empati dan
kepedulian pada penderitaan yang dialami rakyat dan bangsa ini.
Kepentinganrakyat(kesejahteraandankebahagiaannya),harusmenjadititik
orientasidantujuanakhirpenyelenggaraanhukum.22

21

Satjipto Rahardjo. Konsep dan Karakteristik Hukum Progresif. Makalah Dalam Seminar
Nasional Hukum Progresif I, Diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Bekerjasama dengan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro dan Fakultas Hukum
UniversitasTrisakti,JakartadiSemarang,15Desember2007, 11
22
BernardL.Tanya,Hukum,PolitikdanKKN. (Surabaya:Srikandi, 2006), 43

36

Hukum yang progresif berangkat dari asumsi dasar bahwa hukum


adalah untuk manusia, bukan sebaliknya. Hukum bukan sebagai institusi
yang bersifat mutlak dan final, melainkan sebagai institusi bermoral,
bernurani dan karena itu sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk
mengabdi kepada manusia. Hukum adalah suatu institusi yang bertujuan
untuk mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera dan
membuat manusia bahagia. Secara lebih spesifik hukum progresif dapat
disebutsebagaihukumyangprorakyatdanprokeadilan.23
Dalam perkembangannya, setidaknya dapat diidentifikasi beberapa
karakterhukumprogresifyangdiharapkanmenjaditipehukumyangmampu
memberi jalan bagi pembangunan hukum di Indonesia di masa yang akan
datang, yaitu hukum progresif menganut paradigma: pertama hukum
diciptakanuntukkesejahteraanmanusia.Keduapluralismehukum.Ketiga
sinergiataskepentinganpusatdandaerah.Keempatkoordinasidankelima
harmonisasihukum.Asasyangmenjadidasarpenerapannyaadalah pertama
asas persatuan. Kedua asas kesamaan derajat. Ketiga asas desentralisasi.
Keempatasasotonomidan kelimaasasfungsional.24
Pada tataran praktis, maka pelaksanaan dekonstruksi hukum sebagai
bagian dari aplikasi tipe hukum progresif dilakukan dengan kegiatan
23

Satjipto Rahardjo. Hukum Progresif (Penjelajahan Suatu Gagasan). Artikel dalam News
LetterKajianHukumEkonomidanBisnisNo.59Desember2004, 114
24
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Solusi Permasalahan Hukum Pasca Bencana
Gempa dan Tsunami di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, diselenggarakan oleh Program Doktor
IlmuHukumUniversitasDiponegorobekerjasamadenganAusAIDdanBappenas,Semarang31Mei
2Juni2005, 19

37

menumbuhkan dan menyebarkan kesadaran tentang kebutuhan bangsa


Indonesia terhadap tipe hukum progresif dalam kehidupan berhukum di
Indonesia. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan sosialisasi hukum
progresif ke berbagai kalangan yang meliputi pertama kalangan
akademisi/Perguruan Tinggi. Kedua kalangan aparat pemerintah. Ketiga
kalanganpraktisihukumdan keempatkalanganmasyarakatumum.25
Hukum yang hidup di masyarakat belum tentu dapat ditegakkan, karena
hukum yang hidup di masyarakat juga bergantung pada penegak hukum di
masyarakat. Hukum dapat tegak di masyarakat bergantung pada tiga sesi:
pertama, materi hukum (fikih, fatwa, dan qnn). Kedua, aparat atau penegak
hukum (hakim, panitera, jurusita, P3N, dst). Ketiga, kesadaran hukum
masyarakatnya.Olehkarenaitu,pelaksanaanhukumislamdapatdilihatdarisegi
cakupanmaterihukum,aparathukum,dankesadaranhukummasyarakatnya.26

25

Ibid. 195
Jaih Mubarok, HukumIslam, Konsep, Pembaruan, dan Teori Penegakan.(Bandung: Benang
MerahPress,2006), 133
26