Anda di halaman 1dari 6

3.

1 Teori Dasar Lumpur Pemboran


Pada mulanya orang hanya menggunakan air saja untuk mengangkat serpih pemboran. Lalu
dengan berkembangnya teknologi pemboran, lumpur mulai digunakan. Untuk memperbaiki sifatsifat lumpur, zat-zat kimia ditambahkan dan akhirnya digunakan pula udara dan gas untuk
pemboran. Sesuai dengan lithologi dan stratigrafi yang berbeda-beda untuk setiap lapangan, serta
tujuan pemboran yang berbeda-beda (eksplorasi, pengembangan,kerja ulang) kita mengenal
type/sistem lumpur yang berbeda-beda pulaseperti:
1. Sistem Lumpur Tak Terdispersi (Non Dispersed). Termasuk diantaranya lumpur tajak
untuk permukaan dan sumur dangkal dengan treatment yang sangat terbatas.
2. Sistem Lumpur Terdispersi untuk sumur yang lebih dalam yang membutuhkan berat jenis
yang lebih tinggi atau kondisi lubang yang problematis. Lumpur perlu didispersikan
menggunakan dispersant seperti senyawa Lignosulfonat, Lignite serta Tannin
3. Lime Mud (Calcium Treated Mud), sistem Lumpur yang mengandalkan ion-ion Calcium
untuk melindungi lapisan formasi shale yang mudah runtuh karena menyerap air.
4. Sistem Lumpur Air Garam yang mengandalkan larutan garam (NaCl, KCl)) untuk
mengurangi pembasahan formasi oleh air.
5. Sistem Lumpur Polymer yang mengandalkan polymer-polymer seperti Poly Acrylate,
Xanthan Gum, Cellulosa untuk melindungi formasi dan mencegah terlarutnya cuttings
kedalam lumpur bor. Sistem ini dapat ditingkatkan kemampuannya dengan 24
menambahkan garam KCl atau NaCl, sehingga sistem ini disebut Salt Polymer System.
6. Oil Base Mud. Untuk mengebor lapisan formasi yang sangat peka terhadap air,
digunakan sistem lumpur yang menggunakan minyak sebagai medium pelarut. Bahanbahan kimia yang dipakai haruslah dapat larut atau kompatibel dengan minyak, berbeda
dengan bahan kimia yang larut dalam air. Sistem Lumpur ini Sistem Lumpur ini sangat
handal melindungi desintefrasi formasi, tahan suhu tinggi, akan tetapi kecuali mahal juga
kurang ramah lingkungan (mencemari) 7. Sistem Lumpur Synthetis menggunakan fluida
sintetis dar jenis ester, ether, dan poly alha olefin, untuk menggantikan minyak sebagai
medium pelarut. Lumpur ini sekualitas dengan Oil Based Mud, ramah lingkungan, akan
tetapi dianggap terlalu mahal.

Secara umum lumpur pemboran mempunyai empat komponen dasar, yaitu :

1.
2.
3.
4.

Komponen Cair
Komponen Padat Reaktif
Komponen Padat Innert
Komponen Additive/Pengontrol

Komponen Cair
Komponen cair adalah suatu material yang diperlukan dalam pembuatan sistem lumpur (mud
base) yang nantinya akan menentukan jenis sistem lumpur. Komponen cair dapat berupa air atau
minyak. Air dapat pula dibagi menjadi dua yaitu air tawar dan air asin.
Komponen Padat Reaktif
Padatan ini bereaksi dengan sekelilingnya (sistem) membentuk koloidal. Clay air tawar seperti
bentonite menyerap air tawar dan membentuk lumpur. Jumlah barel lumpur yang dihasilkan dari
satu ton clay agar viskositasnya 15 cp, disebut yield. Untuk bentonite yield-nya kira-kira 100
bbl/ton.
Komponen Padat Non-Reaktif
Komponen padat non-reaktif adalah komponen padat yang tidak bereaksi (inert) terhadap sistem
lumpurnya atau komponen pemberat, seperti barite (BaSO4 ), galena (PbS) dan biji besi atau ore
(Fe2O3 ).
Komponen Additive (bahan kimia)
Komponen additive merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk mengontrol sifat-sifat
lumpur bor. Bahan kimia tersebut pada umumnya digunakan untuk mengontrol: viskositas,
filtration loss, pH, densitas.
2.2. Fungsi Lumpur Pemboran
Fungsi utama lumpur pemboran adalah:
1. Mengangkat serbuk bor ke permukaan
Pembersihan lubang bor adalah fungsi pokok dari lumpur pemboran. Fungsi ini juga paling
sering dilalaikan dan salah dinterpretasikan. Serbuk bor biasanya mempunyai SG sekitar 2,3

samapai 3,0 dan rata-rata adalah 2,5. Jika serbuk bor lebih berat dari lumpur, maka serbuk bor
akan jatuh dengan kecepatan yang disebut dengan kecepatan slip.
Kecepatan slip dari serbuk bor dalam aliran fluida, dipengaruhi secara langsung oleh sifat
fisik lumpur antara lain kekentalan fluida. Jadi jika kecepatan lumpur di annulus dibatasi oleh
kemampuan pompa atau pembesaran lubang, maka lumpur perlu dikentalkan untuk mengurangi
kecepatan slip serbuk bor agar lubang bor tetap bersih. Keberhasilan pengangkatan juga
dipengaruhi oleh luasan permukaan atau bentuk daripada partikel serbuk bor, semakin besar
luasan dari partikel, maka gaya angkat fluida meneruskan tenaga dorong dari pompa akan
semakin bagus sehingga kecepatan slip serbuk bor juga bisa dikurangi dengan memperbaiki
sifat-sifat fisik lumpur, disamping itu juga mengoptimalkan tekanan pemompaan. Bentuk fisik
daripada partikel serbuk bor tergantung juga kepada jenis formasi yang ditembus.
Pada aliran laminer kecepatan fluida pada sisi dinding lubang bor sangatlah kecil sehingga
efek torsi mudah terjadi karena ujung alirannya yang parabolik, hal ini akan menyebabkan
serbuk bor mudah jatuh lagi ke dasar lubang bor, ini akan dapat menghambat berhasilnya
pengangkatan serbuk bor. Pengangkatan serbuk bor akan mendapatkan hasil yang lebih bagus
dengan menggunakan aliran turbulen, karena distribusi kecepatannya datar bukan parabolik
seperti pada aliran laminer.
Kekurangannya adalah mudah terjadi pengikisan lubang bor bila formasi yang ditembus
tidak kompak, hal ini akan mengakibatkan runtuhnya dinding lubang bor yang menyebabkan
semakin mengendapnya serbuk bor dan tidak terangkatnya serbuk bor dengan baik.
Lumpur dasar air dapat dikentalkan dengan menambahkan bentonite, dengan menambahkan
banyak padatan, dengan flokulasi padatan atau dengan aditif khusus. Jadi ada beberapa pilihan,
dan penentuan pilihan tergantung dari tujuan lain yang ingin dicapai. Bentonite adalah pilihan
yang murah, tetapi jika ada masalah hilang air, maka harus ditambah pengencer untuk mencegah
flokulasi.
Hasil yang didapat mungkin hanyalah sedikit penambahan pada kapasitas pengangkatan dan
masalah dalam lubang tetap terjadi. Penambahan banyak padatan akan menaikkan densitas,
pilihan ini tidak dianjurkan jika tidak digunakan untuk tujuan mengontrol tekanan. Penerapan
flokulasi lumpur adalah pilihan yang mudah dan murah, tetapi juga dibatasi oleh masalah hilang
air. Additif khusus mungkin merupakan pilihan yang paling tepat, tetapi hal ini akan menaikkan
biaya lumpur.

Lumpur pemboran yang baik untuk pembersihan dasar sumur apabila memiliki karakteristik
mengencer akibat gesekan (shear thining) yang baik, karena semakin bersih lubang bor berarti
semakin bagus pula pengangkatan serbuk bornya sampai kepermukaan.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mengontrol tekanan formasi


Mendinginkan serta melumasi pahat dan drillstring
Membersihkan dasar lubang bor
Membantu dalam evaluasi formasi
Melindungi formasi produktif
Membantu stabilitas formasi

2.3. Sifat-Sifat Fisik Lumpur Pemboran


Sifat fisik Lumpur yang terpenting yang dikontrol pada setiap operasi sumur migas dan panas
bumi ada tiga, yaitu:
1. Densitas
2. Rheologi (sifat aliran)
3. Filtration Loss
Densitas
Pengontrolan densitas lumpur pada hakekatnya adalah mencegah blow out, dan kadang-kadang
juga digunakan untuk menjaga stabilitas lubang bor. Lumpur yang terlalu berat dapat
menyebabkan terjadinya loss circulation, sedangkan, lumpur yang terlalu ringan dapat
menyebabkan masuknya fluida formasi ke dalam lubang bor (kick ) dan jika tidak segera diatasi
akan menyebabkan terjadinya semburan liar (blow out).
Rheologi (Sifat Aliran)
Pengontrol rheologi diperlukan untuk mengangkat serbuk bor (cutting) pada saat pemboran
berlangsung. Dalam terminologi lapanga minyak, istilah sifat aliran (flow properties) dan
viskositas adalah merupakan ungkapan umum yang digunakan untuk menggambarkan perilaku
lumpur pemboran dalam keadaan bergerak. Viskositas fluida pemboran merupakan fungsi dari
beberapa faktor, yaitu :

Viskositas fasa cair

Volume padatan dalam lumpur


Volume fluida yang terdispersi (emulsi)
Jumlah partikel per satuan lumpur
Bentuk partikel padatan
Gaya tarik (atau gaya tolak) antara partikel-partikel padat, dan antara fasa padat dengan
fasa fluida

Viskositas menunjukkan kekentalan lumpur dalam aliran, dan gel strength menunjukkan
kekentalan lumpur dalam kondisi diam pada periode waktu tertentu. Secara ilmiah, viskositas
adalah suatu konstanta antara shear stress dan shear rate untuk fluida Newtonian, seperti air,
tetapi tidak berlaku untuk lumpur pemboran. Untuk fluida pemboran, perbandingan antara shear
stress dan shear rate berkurang dengan naiknya shear rate. Penggunaan utama plastic viscosity
yang diukur dalam centi poises, adalah untuk menunjukkan pengaruh kandungan padatan
terhadap kekentalan lumpur. Plastic viscosity diperoleh dengan mengurangkan dial reading 600
rpm dengan 300 rpm pada viscometer. Besarnya plastic viscosity dipengaruhi oleh kandungan
padatan, ukuran padatan, dan temperatur. Sukar mengatakan bahwa lumpur berat tertentu harus
mempunyai viskositas tertentu juga, karena faktor ukuran padatan berpengaruh.
Yield point adalah merupakan suatu pseudometer, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1, yang
diperoleh dengan ekstrapolasi garis lurus antara pembacaan dial 300 rpm dan 600 rpm pada
viscometer. Yield point ditentukan secara kuantitatif dengan pengurangan pembacaan 300 rpm
dengan plastic viscosity.
Gel strength adalah merupakan suatu harga yang menunjukkan kemampuan lumpur untuk
menahan padatan-padatan. Faktor yang menyebabkan terbentuknya gel strength yaitu adanya
gaya tarik menarik dari partikel-partikel atau plat-plat clay sewaktu tidak adanya sirkulasi
lumpur. Fungsi gel strength dalam lumpur pemboran adalah menahan cutting dan pasir dalam
suspensi sewaktu sirkulasi lumpur dihentikan.
Filtration Loss
Filtration loss adalah kehilangan sebagian fasa cair (filtrate) lumpur yang masuk ke dalam
formasi permeable. Filtration loss yang terlalu besar berpengaruh jelek terhadap formasi maupun
terhadap lumpurnya sendiri, karena dapat menyebabkan terjadinya formation damage

(pengurangan permeabilitas efektif terhadap minyak/gas) dan lumpur akan kehilangan banyak
cairan. Mud cake sebaiknya tipis agar tidak memperkecil lubang bor
Permasalahan yang sering timbul terkait akibat filter cake yang terlalu tebal atau karena
excessive filtration antara lain terjadinya penyempitan lubang bor, peningkatan torsi dan
hambatan, stuknya pipa, lost circulation, kualitas log yang buruk, dan kerusakan formasi. Untuk
itu kita membutuhkan lumpur yang memiliki filtration control yang memadai dan menghasilkan
filter cake yang tipis serta low permeable.
Filtrasi dapat terjadi apabila ada hal-hal berikut ini :
1. Ada liquid atau liquid/solid slurry
2. Ada permeable medium
3. Fluida harus memiliki tekanan yang lebih tinggi dari permeable medium
Selama pengeboran berjalan, fluida pengeboran disirkulasikan ke dalam lubang bor. Zona
permeable seperti sandstone dibor dan tekanan hidrostatik dari mud column dijaga lebih tinggi
daripada tekanan formasi. Ketika kondisi ini tercapai, filter cake akan terbentuk pada dinding
formasi yang bersifat permeable. Sementara itu fase liquid dari lumpur akan mengalir menembus
filter cake ke dalam formasi. Ketebalan filter cake dan kedalaman invasi filtrate dipengaruhi oleh
konsentrasi solid, differential pressure, permeabilitas filter cake tersebut, panjang waktu paparan.