Anda di halaman 1dari 7

Propofol

Merupakan derivat fenol dengan ma,a kimia di-iso profil fenol yang banyak dipakai
sebagai obt anastesia intravena. Obat ini relatif baru dan lebih dikenal dengan nama dagang
DIPRIVAN. Pertama kali dipergunakan dalam praktik anastesi pada tahun 1977 sebagai obat
induksi. Sekarang sudah ada beberapa macam merek lain seperti safol, fresofol, trivam,
recofol.
Sifat fisik dan kimia serta kemasan
Berupa cairan berwarna putih seperti susu, tidak larut dalam air dan bersifat asam.
Dikemas dalam bentuk ampul, berisi 20 ml/ampul, yang mengandung 10 mg/ml.
Efek farmakologi
Terhadap susunan saraf pusat.
Sebagai obat induksi, mula kerjanya cepat. Penurunan kesadaran segera terjadi
setelah pemberian obat ini secara intravena. Pada pemberian dosis induksi
(2mg/kgBB), pemulihan kedaran berlangsung cepat, pasien akan bangun setelah 4-5
menit tanpa disertai efek samping seperti misalnya : mual muntah, sakit kepala dan
lain-lainnya.

Khasiat farmakologinya adalah hipnotik murni, tidak mempunyai efek


analgetik maupun relaksasi otot. Walaupun terjadi penurunan tonus rangka, hal ini
disebabkan karena efek sentralnya.
Terhadap sistem respirasi.
Menimbulkan depresi pernafasan yang beratnya sesuai dengan dosis yang
diberikan. Pada beberapa pasien, bisa disertai dengan henti nafas sesaat.
Dibandingkan dengan tiopenton, kejadian henti nafas lebih sering terjadi pada
pemberian diprivan ini.
Terhadap sistem kardiovaskular.
Depresi pada sistem kardiovaskular yang ditimbulkannya sesuai dengan dosis
yang diberikan. Tekanan darah turun yang segera diikuti dengan kompensasi
peningkatan denyut nadi.
Tehadap sistem organ lain.
Tidak menimbulkan depresi sintesa hormon steroid adrenal dan tidak
menimbulkan pelepasan histamin, baik di tempat suntikan maupun sistemik.
Penggunaan klinik dan dosis.
1. Induksi anastesia, dosisnya 2,0-2,5 mg/kgBB. Pada lansia dan bayi dosis ini harus
disesuaikan
2. suplemen anastesia umum dan analgesik regional.
3. anastesia tunggal pada prosedur singkat, misal : reposisi
4. sedasi di Unit Terapi Intensif

Fentanil
Merupakan obat narkotik sintetik yang paling banyak digunakan dalam oraktik
anastesiologi. Mempunyai potensi 1000 kali lebih kuat dibandingkan dengan petidin dan 50100 kali lebih kuat dari morfin. Mulai kerjanya cepat dan masa kerjanya pendek. Pada walnya
digunakan sebagai obat analgesia neurolept yang dikombinasikan dengan droperidol yang
dikenal dengan nama inovar
Efek farmakologi
Terhadap susunan saraf pusat
Seperti halnya preparat opioid yang lain, fentanil bersifat depresan terhadap susunan
saraf pusat sehingga menurunkan kesadaran pasien. Pada dosis lazim, kesadaran pasien
menurun dan khasiat analgetiknya sangat kuat. Pada dosis tinggi akan terjadi depresi psat
pernafasan dan kesadaran pasien menurun sampai koma.

Terhadap sistem respirasi


Menimbulkan depresi pusat pernafasan. Pa dosis 1-2 ug/kg BB, menimbulkan depresi
frekuensi nafas sedangkan dosis diatas 3 ug/ Kg BB menimbulkan depresi frekuensi dan
volume nafas.
Terhadap sistem kardiovaskular
Sistem kardiovaskular tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas otot jantung
maupun tonus pembuluh darah.
Terhadap sistem endokrin
Fentanil mampu menekan respon sistem hormon dan metabolik akibat stres anastesia
dan pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik dalam darah relatif stabil.
Metabolisme dan ekskresinya
Dimetabolisme dalam hati menjadi norfentanil dan hidroksipropionil fentanil dan
hidroksipropionil norfentanil, selanjutnya dibuang lewat empedu dan urin.
Penggunaan klinik dan dosis, digunakan sebagai :
1. komponen analgesia pada anastesia umum balans
2. komponen analgesia pada analgesia neurolept
3. induksi anstesia

Dosis
1. Untuk analgesia, 1-2 ug/Kg BB, diberikan im
2. Untuk induksi anastesia, 100-200 ug/kg BB iv
3. Untuk suplemen analgesia : 1-2 ug/kg BB

ISOFLURAN

Merupakan halogenasi eter, dikemas dalam bentuk cairan, tidak berwarna,


tidak eksplosif, tidak mengandung zat pengawet dan relatif tidak larut dalam darah
tapi cukup iritatif terhadap jalan nafas sehingga pada saat induksi inhalasi sering
menimbulkan batuk dan tahan nafas. Proses induksi dan pemulihannya relatif cepat
dibandingkan dengan obat obat anastes inhalasi yang ada pada saat ini tapi masih
lebih lambat dibandingkan dengan Sefofluran.
Efek farmakologi
Terhadap sistem saraf pusat
Efek depresinya pada SSP sesuai dengan dosis yang diberi isoflurane tidak
menimbulikan kelainan EEG seperti yang ditimbulkan oleh Enflurane. Pada dosis
anastesia tidak menimbulkan vasodilatasi dan perubahan sirkulasi serebral serta
mekanisme autoregulasi aliran darah otak tetap stabil. Kelebihan lain yang dimiliki
oleh isofluran adalah penurunan konsumsi oksigen otak. Sehingga dengan demikian
isoflurane merupakan obat pilihan untuk anastesia pada kraniotomi, karena tidak
berpengaruh pada tekanan intrakranial, mempunyai efek proteksi serebral dan efek
metaboliknya yang mnenguntungkan pada teknik hipotensi kendali.
Terhadap sistem kardiovaskular.

Efek depresinya pada otot jantung dan pembuluh darah lebih ringan dibanding
dengan obat anastesi volatil yang lain. Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil
selama anstesia. Dengan demikian merupakan obat pilihan untuk anastesia pasien
yang menderita kelainan kardiovaskuler.
Terhadap sistem respirasi.
Seperti halnya dengan obat asnatesia inhalasi yang lain, isoflurane juga
menimbulkan depresi nafas yang derajatnya sebanding dengan dosis yang diberikan.
Terhadap otot rangka
Menurunkan tonus otot skelet melalui mekanisme depresi pusat motoris pada
serebrum, sehingga dean demikian berpotensiasi dengan obat pelumpuh otot non
depolarisasi. Walaupun demikian masih diperlukan obat pelumpuh otot untuk
mendapatkan keadaan relaksasi otot yang optimal terutama pada operasi laparotomi.
Terhadap ginjal .
Pada dosis anastesia, isoflurane menurunkan aliran darah ginjal dan laju
filtrasi glumelurus menurun sehingga produksi urin berkurang, akan tetapi masih
dalam batas normal.
Terhadap hati
Isofluran tidak menimbulkan oeruban fungsi hati. Sampai saat ini belum ada
laporan hasil penelitian yang menyatakan bahwa isoflurane hepatotoksik.
Biotransformasi.
Hampir seluruhnya dikeluarkan untuk melalui udara ekspirasi, hanya 0,2 %
dimetabolisme dalam tubuh. Konsentrasi metabolitnya sangat rendah, tidak cukup
untuk menimbulkan gangguan fungsi ginjal.
Dosis
1. Untuk induksi, konsentrasi yang diberikan pada udara adalah 2,0 -3,0 % bersamasama dengan N20.
2. Untuk pemeliharaan dengan pola nafas spontan, konsentrasinya berkisar antara
1,0-2,5 % sedangkan untuk naafas kendali, berkisar antara 0,5-1,0 %

Keuntungan dan kelemahan


1. Keuntungannya adalah :
a. induksi cepat dan lancar, tetapi cukup iritatif terhadap mukosa jalan nafas,
b. pemulihannya lebih cepat dengan halotan dan enfluran,
c. tidak menimbulkan mual atau muntah, dan tidak menimbulkan menggigil
pasca anastesia
d. dak mudah meledak atau terbakar.
e. Sangat sedikit yang mengalami metabolisme dalam tubuh
f. Tidak menimbulkan efek eksitasi dalam tubuh.
2. Kelemahannya adalah :
a. Batas keamaanan sempit (mudah terjadi kelebihan dosis)
b. Analgesia dan relaksasinya kurang sehingga harus dikombinasikan dengan
obat lain.
Sumber :
Mangku, Gde, 2009, Obat Anastesi, Buku Ajar Anastesia dan Reanimasi, Permata
Puri Media, Jakarta Barat, pp 60-63.

Anda mungkin juga menyukai