Anda di halaman 1dari 24

Perkembangan industri farmasi di Indonesia semakin maju, hal ini terbukti dengan meningkatnya

pasar farmasi Indonesia yang tumbuh signifikan mencapai 13,5% per tahun dan nilai pasar
industri farmasi di Indonesia ditargetkan mencapai US$ 4,9 miliar pada tahun 2012. Angka
pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan rata-rata industri farmasi dunia yang hanya sebesar
3% per tahun. Indonesia memiliki pangsa pasar terbesar, sekitar 37% di Asia Tenggara dengan
penduduk mencapai 650 juta. Indonesia bersama Thailand dan Filipina menguasai pasar industri
farmasi Asia Tenggara sebesar 80% serta diperkirakan pasar industri farmasi hingga 2016 akan
mencapai nilai 96,1 miliar USD (Rinaldi, 2012).
Tingginya tingkat pertumbuhan pasar industri farmasi Indonesia meningkatkan daya saing
Indonesia di mata dunia. Hal ini merupakan sesuatu yang patut dibanggakan, namun dibalik itu
teap ada masalah lain yang muncul seiring dengan meningkatnya pertumbuhan industri farmasi.
Salah satu topik utama yang muncul dibelakang setiap kata industri adalah limbah. Limbah ini
dikeluarkan melalui media udara, air dan tanah yang merupakan komponen ekosistem alam.
Limbah yang mengandung bahan pencemar akan mengubah kualitas bila lingkungan tersebut
tidak mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan daya dukung yang ada padanya (Gintings, ).
Pencemaran oleh industri terjadi akibat adanya bahan beracun dan berbahaya dalam limbah lepas
yang masuk lingkungan hingga terjadi perubahan kualitas lingkungan. Sumber bahan beracun
dan berbahaya dapat diklasifikasikan: (1) industri kimia organik maupun anorganik, (2)
penggunaan bahan beracun dan berbahaya sebagai bahan baku atau bahan penolong dan (3)
peristiwa kimia-fisika, biologi dalam pabrik (Gintings, .
Limbah industri dapat menghasilkan bahan toksik yang berbahaya terhadap lingkungan,
sehingga pencemaran akibat limbah industri akan mempengaruhi lingkungan dan kesehatan
masyarakat. Limbah B3 berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan berupa terlepasnya

senyawa organik dan/atau anorganik beracun ke udara ambien dan/atau pencemaran lingkungan.
Limbah cair dapat menyebabkan keracunan pada manusia, terutama limbah cair yang
mengandung zat racun seperti As, CN, Cr, Cd, Cu, F, Hg, Pb atau Zn. Limbah cair juga
merupakan limbah yang paling sering menimbulkan masalah lingkungan (Supraptini, 2002).
Tingginya resiko pencemaran oleh limbah industri membuat pengembangan industri
harus disertai upaya pengendalian lingkungan dalam bentuk penanganan limbah yang dilepaskan
serta penilaian terhadap resiko lingkungan akibat kegiatan maupun hasil buangan industri.
Kebijakan nyata dari pemerintah untuk meminimalisasi risiko pencemaran dan dampak yang
mungkin ditimbulkan industri adalah peraturan penyusunan dokumen AMDAL. Menurut PP
Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
yang selanjutnya disebut AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan kegiatan. Dokumen AMDAL terdiri dari 4 bagian
yang merupakan suatu kesatuan dan saling berhubungan yaitu Kerangka Acuan (KA), Analisis
Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL).
Implementasi AMDAL ini dalam pelaksanaannya sering mengalami hambatan. Menurut
Ana Shoba (2006), masih ada perusahaan yang telah memiliki dokumen AMDAL tidak
melaksanakan seluruh rekomendasi/arahan yang terdapat di dalam dokumen RKL, RPL dan hal
itu telah menyebabkan timbulnya masalah pencemaran/perusakan lingkungan. H Wirtjes (2003)
menjelaskan, untuk mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan, seluruh
rekomendasi dan arahan yang terdapat di dalam RKL dan RPL harus dilaksanakan dan

rekomendasi/arahan RKL dan RPL harus dievaluasi. Untuk kepentingan evaluasi tersebut,
instrumen yang sangat berperan adalah pemantauan lingkungan secara rutin.
Salah satu perusahaan yang diketahui melaksanakan pemantauan secara rutin adalah
PT.Bio Farma (Persero) Bandung. PT. Bio Farma adalah industri berwawasan lingkungan yang
menerapkan praktik green industry dan satu-satunya perusahaan farmasi yang mendapatkan
peringkat emas dari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2014 dalam Program Penilaian
Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Peringkat emas ini
diperuntukkan bagi usaha dan atau kegiatan yang telah berhasil melaksanakan upaya
pengendalian pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup dan atau melaksanakan produksi
bersih dan telah mencapai hasil yang sangat memuaskan. Pencapaian ini tidak terlepas dari
komitmen perusahaan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkala.
Hal inilah yang mendasari peserta magang untuk memilih PT. Bio Farma (Persero) Bandung
sebagai tempat untuk memepelajari aplikasi pemantauan lingkungan.

Menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan memenuhi standar World Health
Organization (WHO) telah menjadi fokus dari PT. Bio Farma melalui sembilan kebijakan
perusahaan yang diterapkan.
Selain itu PT. Bio Farma juga menjadikan lingkungan seperti pengolahan limbah,
tanggung jawab korporat (CSR) serta keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan sebagai
fokus perusahaan dalam menunjang kinerja perusahaan menuju perusahaan berdaya saing global.

Lingkungan,
limbah

tersebut

untuk

yang

wadah

sesuai

dengan

kemampuan

diri

sendiri

karena

memulihkan

tampung

merupakan

lingkungan.

Daya

tempat

tampung

penerima

akan

asimilasinya.

interaksi

lingkungan

yang

Kemampuan

pengaruh

antara

menyerap

tempat

luar,

bahan

lingkungan

disebut

yang

daya

satu

dengan

lain

berbeda.

8
Bahan

pencemar

yang

dengan

satu

atau

lebih

kimia

dan

secara

fisika,

mengakibatkan
pencemar

kondisinya

karena

sangat

itu

perlu

lingkungan.
akibat

lingkungan.

kualitas

sesuai

dalam

sebagai

kualitas

mengubah

memulihkan

ke

komponen
biologi

perubahan

akan

masuk

bila

dengan

diketahui

sifat

daya

lingkungan
Perubahan
dari

adanya

Limbah
lingkungan
dukung

limbah

dan

yang

akan
komponen
bahan

lingkungan

pencemar

mengandung

tersebut
yang

berinteraksi

ada

komponen

bahan

tidak

mampu

padanya.
bahan

akan

Oleh

pencemar

yang terkandung dalam limbah tersebut.

Kebijakan Bio Farma merefleksikan komitmen perusahaan sebagai green industry yakni
Pencegahan Pencemaran, Penghematan Energi dan Sumber Daya Alam, dan Patuh terhadap
Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lainnya. Sasaran yang ingin diwujudkan Bio Farma
dalam pengelolaan lingkungan adalah:

1. Pengelolaan lingkungan secara komprehensif baik udara, air limbah, limbah padat, dan
limbah B3 yang patuh dan sesuai dengan standar regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
2. Penerapan standar beyond compliance dalam pengelolaan lingkungan untuk mencapai
efisiensi kegiatan operasional dan wujud komitmen dan tanggung jawab perusahaan terhadap
lingkungan dan sosial.
Inovasi inovasi program pengelolaan lingkungan sebagai bentuk perbaikan
berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan untuk menjamin terus meningkatnya kualitas
pengelolaan lingkungan dari tahun ke tahun.
Dalam kegiatan operasionalnya, Bio Farma menyadari bahwa aktifitas Perusahaan
mempunyai dampak terhadap lingkungan. Karena itu Perusahaan senantiasa menjaga dan
melakukan pengendalian terhadap lingkungan sesuai dengan perundang - undangan dan
persyaratan lainnya. Bio Farma berkomitmen untuk mewujudkan standar operasional bisnis yang
ramah lingkungan, yang tidak hanya patuh terhadap peraturan perundangan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah, namun juga melangkah lebih jauh dengan menerapkan standar beyond
compliance terhadap peraturan lingkungan dalam rangka mencapai standar kinerja yang efisien
dengan tetap menjaga kualitas produk sehingga mampu berkompetisi di pasar internasional.

Vaksin dan antisera merupakan salah satu produk farmasi yang memiliki manfaat yang
sangat besar bagi manusia, terutama dalam pencegahan dan pengobatan terhadap berbagai
penyakit mematikan yang ditimbulkan oleh virus dan bakteri. Berbagai penyakit mematikan
seperti campak, polio, difteri dan tetanus pada manusia telah berhasil diatasi dengan adanya
vaksin dan antisera yang mampu meningkatkan antibodi menjadi lebih kuat dan tahan terhadap
penyakit-penyakit tersebut. Keberadaan vaksin dan antisera mutlak dibutuhkan guna menunjang
kesehatan umat manusia.
PT. Bio Farma sebagai salah satu produsen vaksin dan antisera di dunia serta satu-satunya
di Indonesia, telah berhasil memainkan perannya dalam menyediakan berbagai vaksin dan
antisera untuk keperluan kesehatan umat manusia di dunia. Vaksin dan antisera produksi PT. Bio
Farma telah mencukupi kebutuhan vaksin dan antisera nasional dan juga telah diekspor ke lebih
dari 130 negara di dunia.
Berkembangnya industri vaksin di Indonesia tidak terlepas dari sisi negatifnya, dibalik
sisi positif yang ada. Salah satu topik utama yang muncul dibelakang setiap kata industri
adalah limbah. Pada dasarnya kegiatan suatu industri adalah mengolah masukan (input)
menjadi keluaran (output). Keluaran yang dihasilkan suatu industri adalah berupa produk yang
diinginkan beserta limbah. Limbah ini dikeluarkan melalui media udara, air dan tanah yang
merupakan komponen ekosistem alam. Limbah yang mengandung bahan pencemar akan
mengubah kualitas bila lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan
daya dukung yang ada padanya. Ketika lingkungan sudah tidak bisa diperuntukkan sebagaimana
mestinya, maka lingkungan tersebut dikatakan tercemar.
Pencemaran oleh industri terjadi akibat adanya bahan beracun dan berbahaya
dalam limbah lepas yang masuk lingkungan hingga terjadi perubahan kualitas

lingkungan. Sumber bahan beracun dan berbahaya dapat diklasifikasikan: (1)


industri kimia organik maupun anorganik, (2) penggunaan bahan beracun dan
berbahaya sebagai bahan baku atau bahan penolong dan (3) peristiwa kimia-fisika,
biologi dalam pabrik. Limbah yang mengandung bahan pencemar akan merubah
kualitas lingkungan bila lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya
sesuai dengan daya dukung yang ada padanya.

Dalam kegiatan operasionalnya, Bio Farma menyadari bahwa aktifitas Perusahaan


mempunyai dampak terhadap lingkungan. Karena itu Perusahaan senantiasa menjaga dan
melakukan pengendalian terhadap lingkungan sesuai dengan perundang - undangan dan
persyaratan lainnya. (EN13, EN14)
Kegiatan operasional PT. Bio Farma (Persero) banyak melibatkan bio farma
Sebagai satu-satunya produsen vaksin dan antisera di Indonesia, Bio Farma telah
memainkan peran signifikan dalam upaya menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, bebas dari
penyakit menular, sehingga menjadi generasi yang produktif dan siap bersaing secara global di
masa mendatang.
Berkembangnya suatu industry, tidak terkecuali industri
Industri, tidak akan pernah terlepas dari permasahan limbah. Limbah industri dapat
didefinisikan sebagai limbah yang dihasilkan dari hasil sampingan kegiatan
pengolahan barang mentah menjadi suatu produk yang meliputi sisa proses
industri, proses pencucian dan perawatan peralatan. Dibandingkan dengan limbah
domestik, pada umumnya limbah industri bersifat kompleks, sehingga proses
pengelolaannya tidak sesederhana limbah domestik. Zat yang digunakan juga
sebagian besar merupakan senyawa anorganik sehingga tidak dapat terurai dengan
sendirinya di alam. Bahkan pada industri tertentu dapat menghasilkan limbah yang

mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Limbah limbah industri tersebut
biasanya terlebih dahulu diolah sehingga sesuai dengan standar baku mutu limbah
yang telah ditetapkan sebelum dilepas ke alam.
Berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan berupa terlepasnya senyawa
organik dan/atau anorganik beracun ke udara ambien dan/atau pencemaran
lingkungan
Pencemaran yang ditimbulkan industri karena ada limbah keluar pabrik
mengandung bahan beracun dan berbahaya. Bahan pencemar keluar bersama bahan
buangan melalui media udara, air dan bahan padatan. Bahan buangan yang keluar
dari pabrik masuk dalam lingkungan dapatdiidentifikasi sebagai sumber pencemar.
Pencemaran terjadi akibat adanya bahan beracun dan berbahaya dalam limbah
lepas yang masuk lingkungan hingga terjadi perubahan kualitas lingkungan. Sumber
bahan beracun dan berbahaya dapat diklasifikasikan: (1) industri kimia organik
maupun anorganik, (2) penggunaan bahan beracun dan berbahaya sebagai bahan
baku atau bahan penolong dan (3) peristiwa kimia-fisika, biologi dalam pabrik.
Limbah yang mengandung bahan pencemar akan merubah kualitas lingkungan bila
lingkungan tersebut tidak mampu memulihkan kondisinya sesuai dengan daya
dukung yang ada padanya.

Salah satu kebijakan industri di bidang lingkungan hidup untuk meminimasi dampak negatif
yang timbul dari suatu kegiatan atau industri yaitu berupa penyusunan dokumen AMDAL.
Menurut PP Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting

suatu usaha dan kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan kegiatan. Salah satu dokumen
AMDAL yang termasuk ke dalam penyusunan AMDAL yaitu RKL (Rencana Pengelolaan
Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan). Rencana Pengelolaan Lingkungan
Hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan
akibat dari rencana Usaha dan Kegiatan. Sedangkan, Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
(RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak akibat dari
rencana Usaha dan Kegiatan (PP No 27 Tahun 2012). Pentingnya dokumen RKL-RPL pada suatu
perusahaan sangat menentukan perusahaan tersebut terhadap penilaian mengenai permasalahan
dalam izin lingkungan.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut Amdal,
adalah kajian mengenai dampak penting suatu Usaha dan/atau Kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan. 3. Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya
disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau
Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan
bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau
Kegiatan. 4. Usaha dan/atau Kegiatan adalah segala bentuk aktivitas yang dapat
menimbulkan perubahan terhadap rona lingkungan hidup serta menyebabkan
dampak

terhadap

lingkungan

hidup.

5.

Dampak

Penting

adalah

perubahan

lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu Usaha
dan/atau Kegiatan. 6. Kerangka Acuan adalah ruang lingkup kajian analisis dampak

lingkungan

hidup

yang

merupakan

hasil

pelingkupan.

7.

Analisis

Dampak

Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut Andal, adalah telaahan secara cermat
dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana Usaha dan/atau Kegiatan. 8.
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut RKL, adalah upaya
penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari
rencana Usaha dan/atau Kegiatan.

Sebagai perusahaan yang memproduksi vaksin dan anti sera, limbah merupakan salah
satu topic utama yang harus di perhatikan. Limbah B3 bersumber kegiatan sendiri. Limbah B3
bangkai hewan uji sludge dari proses IPAL majun terkontaminasi dan plastik kemasan bangkai
hewan uji
Menyadari bahaya yang mungkin di timbulkan, PT. Bio Farma selalu mengusahakan
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Bio Farma juga terus mengupayakan
penggunaan energy yang lebih efisien. Berbagai program penghematan energi terus dilakukan
dan dikampanyekan secara gencar. Ini merupakan program nyata Perusahaan untuk turut
memakai energi yang terbarukan, ramah lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi biaya
pengoperasian.
Dalam kegiatan operasionalnya, Bio Farma menyadari
bahwa aktifitas Perusahaan mempunyai dampak terhadap
lingkungan. Karena itu Perusahaan senantiasa menjaga
dan melakukan pengendalian terhadap lingkungan sesuai
dengan perundang - undangan dan persyaratan lainnya.
(EN13, EN14)

Bio Farma berkomitmen untuk mewujudkan standar


operasional bisnis yang ramah lingkungan, yang tidak
hanya patuh terhadap peraturan perundangan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah, namun juga melangkah lebih
jauh dengan menerapkan standar beyond compliance
terhadap peraturan lingkungan dalam rangka mencapai
standar kinerja yang efisien dengan tetap menjaga
kualitas produk sehingga mampu berkompetisi di pasar
internasional.
Kebijakan Bio Farma merefleksikan komitmen perusahaan
sebagai green industry yakni Pencegahan Pencemaran,
Penghematan Energi dan Sumber Daya Alam, dan Patuh
terhadap Peraturan Perundangan dan Persyaratan
Lainnya. Sasaran yang ingin diwujudkan Bio Farma dalam
pengelolaan lingkungan adalah:
1. Pengelolaan lingkungan secara komprehensif baik udara, air limbah, limbah padat, dan
limbah B3 yang patuh dan sesuai dengan standar regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
2. Penerapan standar beyond compliance dalam pengelolaan lingkungan untuk mencapai
efisiensi kegiatan operasional dan wujud komitmen dan tanggung jawab perusahaan terhadap
lingkungan dan sosial.
Inovasi inovasi program pengelolaan lingkungan sebagai bentuk perbaikan
berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan untuk menjamin terus meningkatnya kualitas
pengelolaan lingkungan dari tahun ke tahun.

Pada

input

dasarnya

meliputi

fungsi

bahan

industri

baku,

input

mengolah

bahan

penolong,

output.

menjadi

tenaga

kerja

Sebagai

mesin

dan

tenaga ahli dan lain-lain. Selain penggolongan tersebut industri juga diklasifikasikan menjadi
3, yaitu: industri primer, industri yang mengubah bahan mentah menjadi setengah jadi;
industri

sekunder,

adalah

setengah

jadi

menjadi

meliputi

industri

jasa

industri

barang

jadi;

ataupun

yang
industri

industri

merubah
tertier,

barang

sebagian

besar
bahan

lanjutan

yang

mengolah

akan

menyerap

bahan

penerima

adalah

industri sekunder.
Lingkungan
sesuai

sebagai

dengan

badan

kemampuan.

Sebagai

permukaan

tanah,

air

sungai,

mempunyai

karakteristik

berbeda.

berbeda
waktu

karakteristiknya
yang

berbeda.

serta

penerima

danau
Air

dengan
Air

badan

di

air

dan

lautan

suatu

waktu

pada

berbeda

lingkungan

pengaruh

luar

lingkungan

antara

Komponen

untuk

disebut

karakteristiknya

lingkungan

memulihkan

satu

dengan
faktor

pencemar

atau

lebih

komponen

lingkungan.

secara

fisika,

kimia

biologis

perubahan

dan

nilai

tempat

tertentu

sama

dengan

yang
akibat

peristiwa

alami
lain.

karena

interaksi

lingkungan.

Daya

dukung

lain

berbeda.

tempat

yang

mempengaruhinya
daya

Bahan

membawa

masuk

masing-masing

sendiri

yang

nilai
yang

diri

dukung

dan

menetapkan

udara,

faktor

daya

tempat

dan

tempat

pengaruh

Kemampuan

yang

tersebut

ke

dalam

lingkungan
Perubahan

sebagai

lingkungan

akibat
yang

lingkungan.

D. Ciri Khas Pemantauan Lingkungan


1. Dilakukan secara terencana dan terkendali.
2. Setiap perlakuan didokumentasi secara verbal dan visual.

turut
dukung.

bereaksi

dengan

komponen
dari

bahan

disebut

satu

lingkungan
pencemar,
pencemaran

3. Dilakukan menurut prosedur metodologi ilmiah yang ketat.


4. Menggunakan instrumen pengukuran yang standard dan sesuai.
5. Dilakukan dengan frekuensi dan siklus waktu tertentu yang tetap.
F. Manfaat Pemantauan Lingkungan
1. Dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan mekanisme kerja suatu
sistem pengelolaan lingkungan.
2. Dapat memonitor secara dini perubahan kualitas lingkungan.
3. Memperkecil risiko dan potensi gugatan hukum dari pihak eksternal
tehadap dampak kegiatan dan kehandalan sistem pengelolaan lingkungan
yang dijalankan.
4. Dapat menguji ketepatan prediksi dampak kegiatan dan menyempurnakan
rekomendasi mitigasi dampak dari sistem pengelolaan lingkungan yang
dijalakan.
5. Menjadi alat bukti dalam menilai ketaatan/kepatuhan
pemrakarsa/penanggung jawab kegiatan terhadap peraturan perundangundang.
6. Dapat mendeteksi secara dini kerusakan/gangguan pada sistem operasi dan
dampaknya terhadap kualitas lingkungan.
7. Meningkatkan citra baik perusahaan di kalangan pemerintah, konsumen,
mitra bisnis dan masyarakat.
3
G. Jenis-jenis Pemantauan Lingkungan
H. Ruang Lingkup Kegiatan Pemantauan Lingkungan
1. Menyusun rencana kerja pemantauan lingkungan.
2. Menentukan aspek, komponen, dampak dan parameter lingkungan yang
akan dipantau.
3. Menyusun prosedur pelaksanaan pemantauan yang sesuai dengan prosedur
standard operasi.
4. Membuat format-format dan formulir pemantuan serta mengisinya dengan
data yang relevan.
5. Membuat buku jurnal harian dan bulanan serta format berita acara kegiatan
pemantauan.
6. Melakukan pengukuran terhadap parameter lingkungan yang dipantau.
7. Melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel efluen dan ambien.
8. Membuat sistem informasi lingkungan.
9. Mengelola dan menganalisis data.
10. Menyusun laporan bulanan dan rekomendasi kepada pimpinan perusahaan.
5
11. Menyusun laporan per triwulan kepada, BAPEDALDA Kabupaten dan Kota,
BAPEDALDA Propinsi, BAPEDAL Regional dan BAPEDAL Pusat.
I. Tahap-tahap Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan
1. Survey dan sosialisasi program.
2. Menyusun rencana kerja, kerangka acuan dan format pemantauan
lingkungan.
3. Pelaksanaan pemantauan lingkungan.
4. Evaluasi pelaksanaan pemantauan lingkungan.
5. Improvement/penyempurnaan program pemantauan lingkungan.

J. Ruang Lingkup Tugas Konsultan Dalam Pemantauan Lingkungan


Tugas konsultan dalam pemantauan lingkungan di perusahaan-perusahaan
meliputi aspek perencanaan, supervisi dan advisory terhadap seluruh ruang
lingkup tugas pemantauan lingkungan. Untuk melaksanakan tugas tersebut
konsultan bekerja berdasarkan Kerangka Acuan dan Kontrak Perjanjian Kerja
Sama denga pihak perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang menjadi klien dari
konsultan meliputi perusahaan yang bergerak dalam bidang :
- Industri Manufacture
- Agro Industri
- Industri Jasa
- Industri Pertambangan
- Jasa Kontruksi
Mitra kerja konsultan dalam kegiatan pemantauan lingkungan adalah BAPEDAL
Pusat, BAPEDAL Regional, BAPEDALDA Propinsi, BAPEDALDA Kabupaten dan
Kota, dan Laboratorium Rujukan.
K. Laporan Pelaksanaan Pemantauan Lingkungan
Ada dua jenis laporan pelaksanaan pemantauan lingkungan yaitu :
1. Laporan Internal yang dikeluarkan setiap bulan dan ditujukan kepada
pimpinan perusahaan.
2. Laporan Eksternal yang dikeluarkan setiap 3 (tiga) bulan dan ditujukan
kepada BAPEDALDA Kabupaten dan Kota, BAPEDALDA Propinsi, BAPEDAL
Regional, dan BAPEDAL Pusat.
L. Evaluasi dan Tolok Ukur Keberhasilan kinerja Pelaksanaan
Pemantauan Lingkungan
Untuk menilai keberhasilan kinerja sistem pemantauan lingkungan yang
dikembangkan, digunakan beberapa indikator sebagai tolok ukur :
1. Kualitas Efluen yang dihasilkan tidak melampaui ambang batas Baku Mutu
Efluen.
2. Kualitas Ambien tidak melampaui batas Baku Kerusakan Lingkungan, Baku
Getaran, Baku Kebisingan dan Baku Kebauan.
3. Kepemilikan dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang
lengkap dan memenuhi ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
4. Berkurangnya keluhan, pengaduan, tuntutan dan gugatan dari warga
masyarakat yang menyangkut dengan masalah lingkungan terhadap
perusahaan.
6
DIAGRAM ALIR MEKANISME KERJA
PEMANTAUAN LINGKUNGAN
Perbaikan
Mitigasi
Hasil di bawah ambang batas Hasil tidak melampaui Hasil Mitigasi berhasil
Baku Mutu Efluen batas kriteria Baku mempertahankan kualitas
Kerusakan Ambien lingkungan
PEMANTAUAN
PELAKSANAAN
RKL / RPL

KUALITAS
AMBIEN
KUALITAS
EFLUEN
SISTEM
OPERASI
PRODUKSI
Indikator yang paling baik dalam menentukan derajat suatu kasus pencemaran adalah
dengan cara mengukur atau memeriksa konsentrasi gas sulfurdioksida, indeks asap dan
partikel-partikel debu di udara.
Gas sulfurdioksida
Gas sulfur dioksida merupakan gas pencemar di udara yang konsentrasinya paling tinggi
di daerah kawasan industri.
Indeks Asap
Indeks asap diukur dengan menggunakan paper tape untuk menyaring sampel udara, dan
densitasnya diukur dengan fotoelektrik meter. Indeks asap ini sangat bervariasi dari hari
ke hari dan bergantung pada perubahan iklim.
Partikel debu
Partikel-partikel berupa debu dan arang dari hasil pembakaran sampah dan industry
merupakan salah satu indikator yang dipergunakan untuk mengukur derajat pencemaran
udara. Hasil pengukuran dinyatakan dalam satu milligram atau microgram partikel per
meter kubik udara.
Parameter lain untuk indikator pencemaran udara
Karbon monoksida
Karbon monoksida dapat juga dipakai sebagai parameter untuk indikator pencemaran
udara, terustama yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar minyak oleh kendaraan
bermotor.
Oksidan
Oksidan, miasalnya saja ozon dihasilkan akibat kerja sinar matahari terhadap asap
pembuangan kendara bermotor di kota-kota besar.
Nitrogen dioksida

Nitrogen dioksida merupakan gas yang dihasilkan baik akibat kegiatan manusia maupun
akibat proses alam semacam aktivitas gunung berapi. Gas ini dapat dipakai sebagai
indikator pencemaran udara.
Timah hitam atau timbal
Sering dipakai sebagai bahan untuk menambah kekuatan dan kecepatan mobil dan
biasanya ditambah ke dalam bahan bakar bensin.
Pencemaran Lingkungan oleh Kegiatan Industri

Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup,


zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan
manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiri
atas amdal.
Sebagai industry yang peduli lingkungan, bio farma telah melakukan pemantauan
lingkungan yang dilaporkan secara berkala. Ada dua jenis laporan pelaksanaan
pemantauan lingkungan yaitu laporan Internal yang dikeluarkan setiap bulan dan
ditujukan kepada pimpinan perusahaan dan laporan eksternal yang dikeluarkan
setiap 3 (tiga) bulan dan ditujukan kepada BAPEDALDA Kabupaten dan Kota,
BAPEDALDA Propinsi, BAPEDAL Regional, dan BAPEDAL Pusat.
a. baku mutu air; b. baku mutu air limbah; c. baku mutu air laut; d. baku mutu
udara ambien; e. baku mutu emisi; f. baku mutu gangguan; dan g. baku mutu
lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secanggih
apapun
dokumen
AMDAL
atau
dokumen
Audit
Lingkungan
yang
dihasilkan tanpa upaya pemantauan yang sistematis dan terjadwal tidak banyak
manfaatnya.
Secara
umum
kelemahan
utama
pihak
Pemrakarsa
(pemilik/pengelola
usaha)
selama
ini
adalah
mengabaikan
aspek
pemantauan.
Perbaikan
sistem
hanya
dapat
dilaksanakan
setelah
dilakukan
evaluasi,
dan
evaluasi hanya dapat dilakukan berdasarkan hasil pemantauan rutin. Oleh karena
itu
upaya
pemantauan
lingkungan
memiliki
peran
strategis
didalam
sistem
pengelolaan lingkungan, disamping upaya penegakan hukum. Melihat pentingnya 2
aspek
pemantauan
di
dalam
sistem
pengelolaan
lingkungan,
dengan
ini
kami
mengembangkan
konsep
pemantauan
lingkungan
yang
bersifat
komphrehensif
dan
menawarkannya
kepada
Pemeritah
Daerah
dan
para
pelaku
bisnis di Sumatera Utara.

Pemantauan merupakan bagian yang amat penting dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Amdal tanpa diikuti oleh pemantauan tidak akan banyak berarti, tidak akan ada yang

dapat mengetahui apakah pendugaan dampak yang tercantum dalam dokumen Amdal
dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Kegunaan pemantauan lingkungan antara lain:
a. Untuk menguji pendugaan dampak
b. Untuk mendapatkan efektivitas dari aktivitas atau teknologi yang digunakan untuk
mengendalikan dampak negatif
c. Untuk mendapatkan tanda peringatan sedini mungkin mengenai perubahan
lingkungan
d. Untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menunjang tuntutan-tuntutan ganti rugi
(Suratmo, 1993).

Negara berkembang seperti Indonesia mutlak melakukan suatu pembangunan


dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kemakmuran rakyat. Pembangunan
di
era globalisasi ini didukung oleh munculnya teknologi yang sangat canggih. Di Kota
Denpasar khususnya, perkembangan teknologi sangat pesat. Namun, teknologi
tersebut
memiliki dampak yang sangat besar dalam perubahan lingkungan yang disebabkan
oleh
tercemarnya lingkungan tersebut oleh limbah dan sampah. Pencemaran lingkungan
adalah berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alami,
sehingga mutu kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang
menyebabkan
lingkungan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Manusia merupakan komponen lingkungan alam yang bersama-sama dengan
komponen alam lainnya, hidup bersama dan mengelola lingkungan dunia. Karena
manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan pikiran, peranannya dalam
mengelola lingkungan sangat besar. Manusia dapat dengan mudah mengatur alam
dan
lingkungannya sesuai dengan yang diinginkan melalui pemanfaatan ilmu dan
teknologi yang dikembangkannya. Akibat perkembangan ilmu dan teknologi yang
sangat pesat, kebudayaan manusia pun berubah dimulai dari budaya hidup
berpindahpindah (nomad), kemudian hidup menetap dan mulai mengembangkan
buah
pikirannya yang terus berkembang sampai sekarang ini. Hasilnya berupa teknologi
yang dapat membuat manusia lupa akan tugasnya dalam mengelola bumi. Sifat dan
perilakunya semakin berubah dari zaman ke zaman. Sekarang ini manusia mulai
bersifat
boros,
konsumtif
dan
cenderung
merusak
lingkungannya.

Lingkungan mempunyai daya dukung dan daya lenting. Daya dukung berarti
kemampuan lingkungan untuk dapat memenuhi kebutuhan sejumlah makhluk hidup
agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar didalamnya. Daya lenting berarti
kemampuan untuk pulih kembali kepada keadaan setimbang. Kegiatan manusia
amat
berpengaruh pada peningkatan atau penurunan daya dukung maupun daya lenting
lingkungan. Manusia dapat meningkatkan daya dukung lingkungan, tetapi karena
keterbatasan kemampuan dan kapasitas lingkungan, tidak mungkin terus
ditingkatkan
tanpa batas, sehingga manusia secara sadar ataupun tidak menyebabkan
ketidaksetimbangan atau kerusakan lingkungan.

Pencemaran air terjadi bila beberapa bahan atau kondisi yang dapat
menyebabkan penurunan kualitas badan air sehingga tidak memenuhi baku
mutu

atau

tidak

peruntukannya,

dapat

misalnya

digunakan
sebagai

untuk

bahan

keperluan
baku

air

tertentu

minum,

(sesuai

keperluan

perikanan, industri, dan lain-lain) (Sunu, 2001). Menurut Pemerintah Republik


Indonesia Nomor. 82 tahun 2001, Pencemaran air adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain kedalam
air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia, sehinnga
kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak
dapat berfungsi lagi sesuai peruntukkannya.
Air limbah industri cenderung mengandung zat berbahaya, oleh karena itu
harus

dicegah

agar

tidak

dibuang

ke

saluran

umum.

Karakteristik

pencemaran air dari industri manufaktur antara lain: - Limbah cair - Industri
makanan - Industri tekstil - Industri pulp dan kertas - Industri kimia - Industri
kulit - Industri electroplating

Menurut Wardhana (2004), indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah
adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui :
1) Adanya perubahan suhu air
Dalam kegiatan industri seringkali suatu proses disertai dengan timbulnya panas reaksi atau
panas dari suatu gerakan mesin. Agar proses industri dan mesin-mesin yang menunjang kegiatan
tersebut berjalan dengan baik maka panas yang terjadi harus dihilangkan. Penghilangan panas ini
biasanya dilakukan dengan membuang air ke lingkungan. Akibatnya air sungai suhunya naik,
oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Makin tinggi
kenaikan suhu air makin sedikit oksigen yang terlarut didalamnya.
2) Adanya perubahan PH atau konsentrasi ion Hidrogen

Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,57,5. Air dapat bersifat asam apabila pH lebih kecil dari pH normal,sedangkan air akan bersifat
basa apabila pH lebih besar dari pH normal.
3) Adanya perubahan warna, bau dan rasa air
Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri yang berupa bahan anorganik dan bahan
organik seringkali dapat larut didalam air. Apabila bahan buangan dan air limbah industri dapat
larut dalam air maka akan terjadi perubahan warna air. Bau yang keluar dari dalam air dapat
langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah dari kegiatan industri atau dapat pula
berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup didalam air. Timbulnya bau
pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat
pencemaran air yang cukup tinggi.
4) Timbulnya endapan, koloidal, bahan trelarut
Endapan dan koloidal serta bahan terlarut berasal dari bahan buangan industri yang bentuknya
padat. Bahan buangan industri yang berbentuk padat kalau tidak dapat larut secara sempurna
akan mengendap didasar sungai dan yang dapat terlarut sempurna akan menjadi koloidal.
Endapan sebelum sampai kedasar sungai akan melayang didalam air bersama-sama dengan
koloidal dan menghalangi masukya sinar matahari kedalam lapisan air. Selain itu bahan buanagn
industri berupa bahan anorganik yang dapat larut didalam air akan mendapat tambahan ion-ion
logam berat yang pada umumnya bersifat racun.
5) Adanya mikroorganisme
Kalau bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, berarti mikroorganisme akan ikut
berkembang biak. Perkembangan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa
mikroba patogen akan ikut berkembang juga dan menimbulkan penyakit.

6) Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan


Zat radioaktif dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani
dengan benar, baik melalui efek langsung aau efek tertunda, maka tidak dibenarkan dan tidak etis
bila ada yang membuang bahan sisa radioaktif ke lingkungan.
Pencemaran Udara

Menurut PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12


TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
DI DAERAH, Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan
manusia, sehingga melampaui baku mutu udara yang telah ditetapkan.
Pencemaran udara adalah suatu kondisi di mana kualitas udara
menjadi

rusak

berbahaya

dan

maupun

terkontaminasi
yang

oleh

membahayakan

zat-zat,

baik

kesehatan

yang

tubuh

tidak

manusia.

Pencemaran udara biasanya terjadi di kota-kota besar dan juga daerah


padat industri yang menghasilkan gas-gas yang mengandung zat di
atas

batas

kewajaran.

tergantung

dari

industri

utilitasnya.

partikel

dan

(debu,

Emisi

jenis

pencemaran
industri

Pencemaran

aerosol,

timah

udara

dan
udara

oleh

industri

prosesnya,
pada

hitam)

peralatan

dasarnya
dan

sangat

berbentuk

gas

(CO,

NOx, SOx, H2S, hidrokarbon).

Menurut Sunu (2001), adapun komponen pencemaran air dikelompokkan sebagai


berikut:
a. Limbah Zat Kimia
Apabila limbah zat kimia yang belum terolah dibuang langsung ke air lingkungan seperti sungai,
danau, laut akan membahayakan bagi kehidupan organisme di dalam air. Limbah zat kimia
sebagai bahan pencemar air dikelompokkan sebagi berikut:

1. Insektisida Insektisida sebagai bahan pemberantas hama masih banyak digunakan


masyarakat khususnya di sektor pertanian. Apabila pemakaian insektisida berlebihan,
maka akan mempunyai dampak lingkungan.
2. Pembersih Zat kimia yang berfungsi sebagai pembersih banyak sekali macamnya
seperti shampo, detergen, dan bahan pembersih lainnya. Indikasi adanya limbah zat
pembersih yang berlebihan ditandai dengan timbulnya buih-buih pada permukaan air.
3. Larutan penyamak kulit Senyawa krom (Cr) merupakan bahan penyamak kulit yang
banyak digunakan pada industri penyamakan kulit. Sisa larutan panyamak kulit akan
dapat menambah jumlah ion logam pada air. Untuk itu maka industri penyamakan kulit
seharusnya mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk mengolah sisa
larutan penyamak kulit agar tidak merusak lingkungan khususnya pencemaran air.
4. Zat warna kimia Penggunaan zat warna cenderung meningkat sejalan dengan
perkembangan industri menggunakan zat warna agar produknya mempunyai daya tarik
yang lebih baik dibandingkan dengan warna aslinya. Pada dasarnya semua zat warna
adalah racun bagi kesehatan tubuh manusia.
b. Limbah Padat
Lingkup limbah padat yang dimaksudkan ini merupakan limbah hasil proses IPAL berupa
endapan (slude) yang biasanya hasil dari proses filter press. Slude dapat dikategorikan
tidak berbahaya dan dapat juga dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan
beracun (B3). Limbah padat yang terbentuk lebih halus, bila dibuang ke air lingkungan tidak
dapat larut dalam air dan tidak dapat mengendap, melainkan membentuk koloid yang
melayang-layang di dalam air. Koloid tersebut akan menjadikan air menjadi keruh sehingga
akan menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam air dan mengakibatkan terganggunya
proses fotosintesis tanaman di dalam air. Kandungan oksigen terlarut di dalam air juga
menurun sehingga akan mempengaruhi kehidupan di dalam air.
d. Limbah Organik

Limbah organik biasanya dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme. Oleh
karena itu, bila limbah industri terbuang langsung ke air lingkungan akan menambah
populasi mikroorganisme di dalam air. Bila air lingkungan sudah tercemar limbah organik
berarti sudah terdapat cukup banyak mikroorganisme di dalam air, maka tidak tertutup
kemungkinan berkembangnya bakteri patogen.
e. Limbah Anorganik
Limbah

anorganik

biasanya

tidak

dapat

membusuk

dan

sulit

didegradasi

oleh

mikroorganisme. Limbah anorganik pada umumnya berasal dari industri yang menggunakan
unsur-unsur logam seperti Arsen (As), Kadmium (Cd), Timbal (Pb), Krom (Cr), Kalsium (Ca),
Nikel (Ni), Magnesium (Mg), Air Raksa (Hg), dan lain-lain. Industri yang mengeluarkan
limbah

anorganik

seperti

industri

electroplating, industri kimia, dan lain-lain. Bila limbah anorganik langsung dibuang di air
lingkungan, maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air. Ion logam yang
berasal dari logam berat, bila terbuang ke air lingkungan sangat berbahaya bagi kehidupan
khususnya manusia.

Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomenafenomena yang terjadi pada berbaagai tingkatan, mulai dari tingkat proyek (untuk
memahami prilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan), sampai ke
tingkat kawasan atau bahkan regional tergantung pada skala masalah yang dihadapi.
Pemantauan merupakan kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus, sistematis
dan terencana. Pemantauan dilakukan terhadap komponen lingkungan yang relevan
untuk digunakan sebagai indikator untuk mengevaluasi penataan (compliance),
kecenderungan (trendline) dan tingkat kritis (critical level) dari suatu pengelolaan
lingkungan hidup.

Dampak negatif limbah gas, debu dan butiran-butiran halus terhadap kesehatan
manusia anatara lain:
Gas beracun:
CO, dapat menyebabkan gangguan fungsi otak
So2, No2, Ozon, NH3, beberapa senyawa aromatik, H2S dapat menimbulkan
gangguan pernapasan dan/atau iritasi mata.
Smog (Kabut/Asap), dapat mengganggu penglihatan serta pernapasan
Debu
Mengganggu pernapasan dan bila beracun (contohnya Pb) dapat menimbulkan
gangguan syaraf, saluran pernapasan dan menyebabkan anemia.
Debu yang mengandung serat abses dapat menimbulkan kanker
Dampak terhadap tanaman oleh ozon (o3), sulfur oksida (SO2) dan Nitrogen Oksida
(NO2) dapat merusakan pohon-pohonan. Pada hewan, gas dan debu dapat
menimbulkan gangguan pernapasan maupun akumulasi cemaran karena memakan
makanan yang sudah tercemar.