Anda di halaman 1dari 7

PATOFISIOLOGI

SYOK ANAFILAKTIK PADA ANAK

Oleh:
Yolanda Muthia Dewi
1061050053
Pembimbing:
Dr. Mas Wishnuwardhana, Sp. A

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak


Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi
Periode 11 Mei 2015- 25 Juli 2015
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia
2015

DEFINISI
Syok adalah ketidakmampuan memberikan perfusi darah teroksigenasi dan
substrat ke dalam jaringan untuk memertahankan fungsi organ. Hantaran oksigen
berhubungan langsung dengan kandungan oksigen arteri (saturasi oksigen dan
konsentrasi hemoglobin) dan curah jantung (isi sekuncup dan denyut jantung). Pada
bayi muda, jaringan kontraktilitas miokardiumnya masih relatif sedikit sehingga
peningkatan kebutuhan curah jantung dipenuhi dengan meningkatkan denyut jantung
yang diperantai oleh rangsangan saraf. Pada anak yang lebih besar dan remaja, curah
jantung paling efektif ditingkatkan dengan menambah isi sekuncup melalui
pengaturan neurohormon yang meningkatkan tonus vaskular sehingga aliran balik
vena ke jantung meningkat (preload meningkat), menurunkan resistensi arteri
(menurunkan afterload) dan meningkatkan kontraktilitas miokardium. 1
Ahli alergi dan imunologi pada Juli 2005 dalam Second Symposium on the
Definition and Management of Anaphylaxis mendefinisikan syok anafilaktik sebagai
reaksi alergi serius dalam onset yang cepat dan dapat menyebabkan kematian. 2,3
Syok anafilaktik terjadi dikarenakan hipersensitifitas terkait immunoglobulin
E yang menyebabkan mediator kimia keluar dari sel mast dan basophil. Sedangkan
reaksi anafilaktoid adalah reaksi yang tidak terkait immunoglobulin E. 4

ETIOLOGI
Penyebab terbanyak syok anafilaksis pada anak adalah makanan, diikuti oleh
pengobatan seperti Hymenoptera envenomation, produk darah, imunoterapi, lateks,
vaksin dan media kontras radiografi. Di Australia, telur, kacang-kacangan dan produk
susu adalah penyebab tersering syok anafilaktik pada anak. Sedangkan di Itali,
makanan laut dan produk susu sebagai penyebab tersering. Pada Negara Asia
Tenggara, penyebab terseringnya adalah makanan laut. Individu alergi penisilin
mempunyai resiko 4-10% untuk alergi sefalosporin. Hal yang perlu diperhatikan pula
adalah bagaimana allergen tersebut terpajan pada pasien. Syok anafilaktik yang
disebabkan oleh obat injeksi parenteral dan hymenoptera envenomation lebih cepat
menimbulkan gejala. Tetapi allergen yang masuk lewat makanan juga dilaporkan
memperlihatkan gehala kurang dari 1 menit dari waktu terpajan. Syok anafilaksis
yang terjadi karena imunisasi diperkiran terjadi 1,5 kali per 1 juta pemberian

imunisasi. Imunisasi yang tersering adalah imunisasi MMR (measles, mumps,


rubella) dan influenza. Hal ini dikarenakan preparat vaksin menggunakan chickderived cells. . syok anafilaktik yang disebabkan oleh lateks lebih sering terjadi pada
pasien dengan spina bifida, defek urogenital dan pasien yang mengalami pembedahan
berkali-kali. Hal ini dikarenakan pajanan berulang antigen lateks meningkatkan
sensitifitas terhadap lateks. 4
Makanan

Penyebab syok anafilaksis pada anak


Kacang-kacangan, telur, susu sapi,
makanan laut, biji-bijian dan buah;

Obat-obatan

pewarna makanan
Antibiotic (penisilin,nsulfonamid),

Envenomations

NSAID, aspirin, protamine dan anestesi.


Semut merah, hymenoptera seperti lebah

Imunoterapi
Produk darah
Latex
Vaksin
Media kontras radiografi
Idiopatik
Exercise

dan wasps
Ekstrak alergen

PATOFISIOLOGI
Allergen dapat masuk melalui ingestion, parenteral, inhalasi atau kontak
langsung. Saat pasien terpajan pertama kali oleh suatu antigen, antibodi IgE spesifik
akan terbentuk untuk melawan antigen asing tersebut. Antibody yang terbentuk akan
terikat kuat pada reseptor Fc pada sel mas jaringan dan sel basophil yang berada di
darah. Ketika pajanan kedua terjadi dan barrier epithelial dan endothelial dilewati oleh
antigen tersebut, antigen akan terikat dengan antibody IgE pada sel mast dan sel
basophil yang telah tersensitisasi pada pajanan sebelumnya.hal ini menyebabkan
degranulasi sel mas dan basophil yang akan melepaskan mediator-meidator kimia.
Mediator tersebut adalah histamine, prostaglandin D2, leukotriene, platelet-activating
factor, tryptase dan eosinophil and neutrophil chemotactic factor. Mediator ini akan
menyebabkan peningkatan permeabilitas vascular, bronkospasme, vasodilatasi dan
perubahan pada tonus otot polos.pada syok anafilaktik, dapat terjadi reaksi bifasik.
Hal ini dikarenakan reaksi hipersensitifitas yang terlambat sekitar 72 jam setelah
gejala pertama muncul.4

Gejala dan tanda dari syok anafilaktik


Sistem saraf pusat

: bingung, letargi, iritabel, penurunan kesadaran, somnolen

Kulit

: urtikaria, pruritus, angioedema, kemerahan

Saluran napas atas

: stridor, hoarseness, oropharyngeal atau laryngeal edema,


uvular edema, pembengkakan lidah dan bobor, bersin, pilek,
obstruksi jalan napas atas.

Saluran napas bawah : batuk, seak, bronkospasme, takipnoe, gagal napas


Sistem kardiovaskular: takikardi, hipotensi, pusing sinkop aritmia, diaphoresis, pallor
sianosis dan gagal jantung.
Sistem pencernaan

: mual, muntah, diare dan nyeri perut3

DIAGNOSA
Diagnosa syok anafilaktik dapat ditegakkan bila ada salah satu dari kriteria
dibawah ini terpenuhi:
1. Gejala timbul mendadak (menit-jam) pada kulit, jaringan mukosa atau
keduanya seperti generalized hives, gatal, kemerahan dan mulut-lidah-uvula
membengkak. Dan disertai minimal satu dari:
a. Gangguan sistem respirasi seperti: sesak, mengi, batuk, stridor dan
hipksemia.
b. Penurunan tekanan darah mendadak atau gejala disfungsi organ seperti
hipotonia (kolaps) dan inkontinensia.
2. Dua atau lebih dari gejala berikut yang timbul tiba-tiba setelah pajanan
allergen atau pencetus lainnya (menit-jam)
a. Gejala kulit atau jaringan mukosa yang timbul mendadak seperti
generalized

hives,

gatal,

kemerahan

dan

mulut-lidah-uvula

membengkak
b. Gangguan sistem respiratori mendadak seperti: sesak, mengi, batuk,
stridor dan hipoksemia.
c. Penurunan tekanan darah mendadak atau gejala disfungsi organ seperti
hipotonia (kolaps) dan inkontinensia.
d. Gangguan sistem gastrointestinal mendadak seperti kram, nyeri perut
dan muntah.
3. Penurunan tekanan darah setelah pajanan allergen pada pasien (menit-jam)
a. Pada bayi dan anak, penurunan tekanan darah sistolik (sesuai umur)
atau penuruna tekanan darah sistolik lebih dari 30%. Tekanan darah
sistolik yang rendah pada anak apabila tekanan darah kurang dari

70mmHg pada usia 1 bulan-1tahun, dan kurang dari 90 mmHg pada


usia 11-17 tahun. Frekuensi jantung normal adalah 80-140x/menit pada
usia 1-2 tahun, 80-120x/menit pada usia 3 tahun dan 70-115 x/menit
pada usia lebih dari 3 tahun. Manifestasi syok pada bayi dan anak lebih
banyak takikardi dibandingkan hipotensi.
b. Pada dewasa, bila tekanan darah kutang dari 90 mmHg atau penurunan
tekanan darah lebih dari 30%.3

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada tatalaksana akut syok anafilaktik, tidak ada indikasi untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium. Jika ada keraguan dalam mendiagnosa syok anafilaktik,
peningkatan signifikan dari serum tryptase dapat membantu. Histamine dan beta
tryptse adalah komponen hasil degranulasi sel mast, dimana sel mast menyekresi alfa
tryptase. Histamine banyak pada sel basophil. Pengukutan dari level histamine itu
sulit dan tidak mendukung diagnose dari syok anafilaksis. Deteksi abnormalitas dari
histamine sangat sulit, peningkatannya hanya dalam 5-10 menit dan menurun dengan
cepat dan menjadi normal dalam 15-60 menit. Sebaliknya, tryptase mudah di
dapatkan. Tryptase meningkat dalam 1-2 jam. Tetapi pemeriksaan spesifik beta
tryptase belum dapat dilakukan.

PENATALAKSANAAN
Menurut WAO Anaphylaxis Guidelines tatalaksana inisial syok anafilaktik
sebagai berikut:
1. Mengisi protocol kegawatdaruratan untuk mengenali dan menatalaksana syok
anafilaksis.
2. Jika memungkinkan, jauhkan pasien dari allergen ataupun pemicunya seperti
menghentikan pemberian intravena atau agen diagnostic dan atupun diagnostic
yang diperkitakan memicu gejala.
3. Memeriksa jalan napas (airway), pernapasan (breathing), sirkulasi, status
mental, melihat kondisi kulit dann berat badan.
4. Panggil bantuan dari pelayanan medis lainnya bila memungkinkan
5. Menyuntikkan adrenaline intramuscular pada mid-anterolateral dari paha
dengan dosis 0,01 mg/kg dari 1:1000 (1mg/ml). dosis maksimal 0,5 mg pada
dewasa dan 0,3 mg pada anak. Cata waktu pemberian dpsis. Ulangi dalam 515 menit bila dibutuhkan.

6. Meletakkan pasien dalam posisi terlentang apabila terdapat gangguan


pernapasan dan atau muntah. Angkat tungkai bawah.
7. Berikan oksigen (6-8 LPM) dengan face mask atau oropharyngeal airway bila
diperlukan.
8. Mepertahankan akses intravena dengan jarum atau kateter. Jika dibutuhkan
dapat diberikan 1-2 L cairan isotonic seperti NaCl 0,9% secara cepat misalnya,
10 ml/kg pada 5-10 menit pertama pada anak.
9. Melakukan resusitasi jantung paru bila diperlukan.
10. Monitor tekanan darah, frekuensi jantung dan status respiratori serta
oksigenasi pasien secara kontinu.3
Epinephrine memiliki sifat agonis alfa 1, beta 1 dan beta 2. Efek alfa 1 adalah
meningkatkan resistensi vascular peripheral dengan vasokonstriksi dan menurunkan
edema mukosa. Efek beta 1 agonis adalah meningkatkan inotropic dan kronotopic.
Stimulasi beta 2, meningkatkan bronkodilasi dan menurunkan pelepasan sel mast dan
basophil. Pemberian intramuscular lebih disarankan dibandingkan subkutaneus
dikarenakan kenaikan konsentrasi plasma epinephrine menjadi lebih cepat. Hal ini
dikarenakan perfusi darah ke kulit menurun untuk kompensasi tekanan darah selama
syok anafilaksis. Lokasi injeksi yang disarankan adalah anterolateral paha.
Konsentrasi epinephrine 1:1000 digunakan untuk pemberian intramuscular dengan
dosis 0,01 mg/kg (0,01 ml/kg) dengan dosis maksimal 0,3 mg (0,3 ml). Jika dosis
inisial tidak efektif, dapat diulangi dalam 5-15 menit.
Pemberian cairan kristaloid diberikan bolus 20 ml.kg. pasien hipotensi harus
dalam posisi Trendelenburg. Jika hipotensi menetap, walaupun sudah berada di posisi
Trendelenburg, sudah diberikan resusitasi cairan dan epinephrine intramuscular,
epinephrine intravena harus diberikan. Pemberian intravena atau intraosseus 1:10000
dengan dosis 0,01 mg/kg (0,1ml/kg), dengan dosis maksumal 1 mg. Jika hipotensi
masih menetap, dapat dberikan vasopressin atau alfa agonis lainnya. Pada pasien yang
mengkonsumsi beta bloker dapat diberikan glucagon yang mempunyai efek inotropic
dan konotropik. Pemberian kombinasi antihistamin H1 (diphenhydramine) dan H2
(Ranitidine) dilaporkan lebih efektif dibandingkan hanya H1 saja. Penggunaan
kortikosteroid tidak bermanfaat bila diberikan pada fase akut. Waktu observasi yang
disarankan adalah 6-8 jam, tetapi bisa sampai 24 jam bagi beberapa pasien. Pasien
resiko tinggi yaitu pernah ada reaksi bifasik, riwayat asma dan pasien yang
mempunyai kemungkinan besar terpajan allergen kembali. 4

TINJAUAN PUSTAKA
1. Lee KJ, Marcdante K.J. Sakit akut atau jejas pada anak: Syok. Dalam: Nelson
Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi 6. Ed: Somasetia Dadang. Penterjemah:
Nurmalia L D. Elsevier. 2014. Hal: 166-70
2. A Cheng; Canadian Paediatric Society, Acute Care Committee. Emergency
treatment of anaphylaxis in infants and children. Paediatric Child Health
2011;16(1):35-40.
3. F. Estelle R. Simons, Ledit R.F. Ardusso. 2012 Update: World Allergy
Organization Guidelines for the assessment and management of anaphylaxis.
4. Lane R.D, Bolte R. Pediatric Anaphylaxis. Pediatric Emergency Care ?
Volume23,Number1,January2007