Anda di halaman 1dari 10

STUDI KASUS

YULIA PUTRI CARLIANA


260110120054
1.

Diabetes Militus

Satu tahun sebelum diperiksa seorang wanita berumur 47 tahun


di diagnosis menderita Diabetes Militus tipe 2. Kemudian pada
saat didiagnosis, pasien diberikan obat resep metformin 500 mg
2 kali sehari, dan disarankan mengubah gaya hidup, termasuk
pola maka, olahraga, dan mengurangi berat badan.
Selama beberapa bulan berikutnya, dosis metformin ditambah
menjadi dua kali 1000 mg sehari. Sang pasien, yang selalu
menjaga penampilannya, terkejut ketika diberitahu bahwa dia
kelebihan berat badan. Dia menunjukkan kegelisahan saat
mendapatkan berita bahwa dia terkena diabetes tipe 2 dan
diindikasi bahwa bibinya, yang berumur 77 tahun, memiliki
diabetes untuk waktu yang lama. Pada saat ini, bibinya berada
pada kondisi yang buruk, memiliki penyakit ginjal stadium akhir,
dan kakinya diamputasi.
Uji Fisik dan Laboratorium
Index massa tubuh

28.5 kg/m2

Lingkar pinggang

36 inci

Tekanan darah

137/78 mm Hg

Plasma glukosa puasa (FPG)

220mg/dL

Hemoglobin terglikosilasi (A1C)

7,8%

(0.4%

lebih

rendah

daripada saat diagnosis)


Pilihan Klinis
Perubahan terapi apa yang perlu dibuat pada titik ini?

Implementasikan

konseling

intensif

berdasarkan

perubahan gaya hidup

Menggunakan insulin basal + Konseling gaya hidup yang


intensif

Tambahkan sulfonylurea + Konseling gaya hidup yang


intensif

Tambahkan glitazone + Konseling gaya hidup yang


intensif

Obat Pilhan pada Fase Ini : Sulfonilurea (Glimepiride)


Sulfonilurea digunakan sebagai obat pilihan yang bekerja
dengan cara menstimulasi kerja sel beta untuk menstimulasi
insuli karena sebelumnya pasien pernah diberi dengan metformin
untuk meningkatkan tingkat sensitivitas dari insulin, namun
karena satu tahun berikutnya pasien tidak mengikuti saran dari
dokter untuk menggunakannya sesuai resep, maka didiagnosis
terjadi penurunan jumlah dari Insulin.
Sulfonilurea bekerja dengan cara menstimulasi insulin dari
sel beta pancreas. Sulfonilurea berikatan dengan reseptor
sulfonylurea yang memiliki afintaas tinggi yang berkaitan dengan
saluran K-ATP pada sel Beta Pankreas, akan menghambat efflux
kalium sehingga terjadi depolarisasi kemudian membuka saluran
Ca

dan

menyebabkan

influx

Ca

sehingga

meningkatkan

pelepasan insulin. Di samping itu, sulfonylurea juga dapat


meningkatkan reseptor terhadap insulin di hati dan perifer.
Keputusan Klinis : Menambahkan sebuah Sulfonilurea dan
Konseling Gaya Hidup yang Intensif.
Berdasarkan saran dari penyedia layanan kesehatannya,
sang pasien menghadiri beberapa sesi dengan seorang ahli
diabetes di sebuah rumah sakit local dan menambahkan
glimepiride 4

mg sehari

pada

pengobatannya. Dia

mulai

melakukan diet, menghadiri kelas menari dengan suaminya, dan


berat badannya turun seberat 14 lb. A1C nya turun hingga 6.8%.
Bagaimanapun, dia merasa bahwa diet ketatnya sulit dijaga dan
mulai menguranginya sedikit. A1C nya meningkat hingga
8.1% . Dia tidak bisa percaya bahwa gangguan sedikit pada
dietnya menghasilkan peningkatan yang tinggi pada A1C nya.
Dia menjadi depresi dan ketakutan kalau dia akan seperti
bibinya.
Pilihan Klinis
Perubahan terapi apa yang perlu dibuat pada titik ini?

Tambahkan exenatide, tingkatkan konseling

Tambahkan sebuah glitazone, tingkatkan konseling

Tambahkan sebuah insulin basal, tingkatkan konseling

Tambahkan sebuah insulin prandial, tingkatkan konseling

Obat Pilihan : Insulin Basal (Glargine)


Penggunaan dengan insulin basal merupakan perlakuan
yang tepat untuk pasien yang mengalami peningkatan kadar

HbA1c hingga 7% saat kombinasi tiga obat diabetic dan


perubahan pola hidup tidak mempan.
Insulin

Glargine

bekerja

dengan

cara

meregulasi

metabolism glukosa. Insulin dan analognya menurunkan tingkat


glukosa darah dengan menstimulasi uptake periferal glukosa,
terutama oleh otot rangka dan lemak, dan dengan menginhibisi
produksi glukosa hati. Insulin menginhibis lipolisis pada sel
adipose, menginhibisi proteolisis, dan meningkatkan sintesis
protein.
Keputusan Klinis : Tambahkan sebuah Insulin Basal (Glargine)

Tabel 7.1 Basal Insulin Titration Algorithms

Tambahkan 10 unit dari glargine insulin pada saat waktu


tidur dan gunakan berdasarkan algoritma yang tepat, pada kasus
ini sebaiknya menggunakan 1-1-100. Pada algoritma ini, pasien
diminta untuk meningkatkan dosis glargine merekea sebanyak
satu setiap hari sampai tingkat FPG mereka berada pada <100
mg/dL3. Diantara basal insulin, glargine memiliki respon 24 jam
yang paling halus. Awalnya, A1C pasien turun hingga 7.1%. Dia
meningkatkan dosis glargine hingga sejumlah 28 biji tetapi takut

untuk menaikannya menjadi lebih tinggi. Dia didorong untuk,


melakukan diet lagi, dan mendaftarkan diri untuk kelas latihan
menari yang lain. Setelah beberapa waktu, A1C nya meningkat
hingga 7.6% dan saat glukosa darah nya diuji rata-rata yang
didapat sekitar -130 mg/dL. Saat A1C nya meningkat, dia merasa
ketakutan dan ragu dengan cara pengobatannya.
Pilihan Klinis
Perubahan terapi apa yang perlu dilakukan saat ini?

Tingkatkan konseling

Tingkatkan

dosis

insulin

basal

(glargine),

tingkatkan

konseling

Ubah

campuran

menjadi

70/30

insulin,

tingkatkan

konseling

Tambahkan insulin prandial, tingkatkan konseling

Obat Pilihan pada Fase Ini : Insulin Basal (Glargine)


Dikarenakan kadar dari HbA1c pasien meningkat maka
penggunaan insulin basal sangat tepat digunakan pada pasien
yang tidak mencapai control glikemik yang diharapkan (nilai
HbA1c 7%) pada saat kombinasi tiga obat antidiabetik dan
modifikasi pola hidup tidak dilakukan. Insulin basal adalah insulin
kerja panjang yang berperan dalam menekan kadar glukosa
darah puasa (FBG).
Insulin

Glargine

bekerja

dengan

cara

meregulasi

metabolism glukosa. Insulin dan analognya menurunkan tingkat


glukosa darah dengan menstimulasi uptake periferal glukosa,
terutama oleh otot rangka dan lemak, dan dengan menginhibisi

produksi glukosa hati. Insulin menginhibis lipolisis pada sel


adipose, menginhibisi proteolisis, dan meningkatkan sintesis
protein.
Keputusan Klinis : Tingkatkan Dosis Insulin Basal (Glargine)
dan Tingkatkan Konseling
Sang pasien menaikan dosis insulin glargine hingga 47 unit
insulin glargine. Hasil dari FPG nya yang didapat yaitu sekitar 95
100 mg/dL, dan dia tidak mengalami adanya hipoglikemia yang
signifikan.

Dia

didorong

bahwa

dia

sedang

mengontrol

diabetesnya dan bahagia ketika dia mengetahui bahwa A1C nya


yaitu 6.6%. Dia diminta untuk mengecek kadar gula darah
sebelum dan 2 jam setelah makan malam untuk menskrining
ekskursi glukosa pasca prandial jikalau diluar rentang yang
diterima. Mungkin akan lebih baik jika menambah insulin prandial
untuk mencegah puncak glukosa postprandial, tapi untuk saat ini
dia senang bahwa kadar A1C nya berada dalam rentang yang
baik.

2.

HIPERTENSI

Seorang pria berumur 65 tahun mengalami nyeri di daerah


abdominal. Gejala lain yang dia rasakan adalah anoreksia,
nausea, perut kembung, sering bersendawa, sesak napas, dan
adanya pembengkakan (oedem) didaerah kaki.
Pemeriksaan fisik:
Tekanan

RR
darah

=140/78mmHg
Nadi
kali/menit

kali/menit
Suhu tubuh

= 80

= 20
= 38oC

Data laboratorium:
HB

= 9,5 g/dL

Na

= 170 mEq/L

K+

= 7,2 mEq/L

Scr

= 1,9 mg/dL

Glukosa

= 110 mg/dL

AST

= 36 IU/L

CK

= 120 U/L

ALT

= 43 U/L

CK-MB

= 9 g/L

Eritrosit

= 3 x 106 /mm3

Leukosit

= 13.000 /mm3

Hematokrit = 35%

Metode SOAP
1. Subject
Nyeri abdominal, Anoreksia, Nousea, Perut Kembung,
Sering Bersendawa, Sesak Nafas
2. Object
Adanya Pembengkakan (Udem dikaki)
Data fisik:
TD = 140/78
Nadi = 80 kali/menit
RR = 20 kali/menit
Suhu = 38 oC
Data laboratorium:
HB = 9,5 g/dl (normal : 14-18 gr/dl)
Na = 170 mEq/L (normal : 145 mEq/L)
K = 7,2 mEq/L (normal : 3,5-5 mEq/L)
Scr = 1,9 mg/dL (normal : 0,6-1,3 mg/dL)
AST = 36 IU/L (normal : 37 U/L)
ALT = 43 U/L (normal : 42 U/L)
Glukosa = 110 mg/dL
CK = 120 U/L
CK-MB = 9 g/L (normal : 0-7 g/L)
Eritrosit = 3 x 106 /mm3 (normal : )
Leukosit = 13.000 /mm3 (normal : )
Hematokrit = 35% (normal : )
ClCr = (140-70) x 65 / 72 x 1,9 = 35,63 mL/menit
3. Assesment
- Pasien mengalami hipertensi dan anemia
disebabkan

perdarahan

lambung

oleh

yang
GERD

(Gastrointestinal Esofagus Refluks Desease).


- Asma pada pasien merupakan sesak napas sebagai ciri
tidak khas GERD bukan asma karena RR pasien dalam
range normal.
- Dari hasil pemeriksaan laboratorium tergambar profil
jantung

yang

mulai

mengalami

penurunan

(ditandai

peningkatan nilai CK dan CK-MB), peningkatan terjadi

karena faktor dari penyakit hipertensi yang diderita pasien


dan

fungsi

ginjal

yang

mulai

menurun

peningkatan nilai SCr).


4. Plan
a. Diberikan terapi farmakologi, yaitu :
Obat Becoride Inhaler (Betametason)
penggunaannya
kortikosteroid
hipertensi
Refluks

karena
yang

dan

GERD

Desease)

dan

(ditandai

dihentikan

merupakan

merupakan

golongan

faktor

(Gastrointestinal
sebenarnya

resiko

Esofagus

pasien

tidak

mengalami asma melainkan hanya gejala dari GRED


jadi obat tidak diperlukan.
Obat Voltaren (Natrium Diclofenak) juga dihentikan
penggunaannya

karena

dapat

meningkatkan

kandungan natrium yang memperparah hipertensi


pada pasien.
Diberikan obat :
Furosemide untuk

hipertensi

dan

mengobati

udema.
Sukralfat untuk GERD
Fero fumarat untuk anemia
Untuk obat nyeri tidak diberikan karena kurang
diperlukan, dimana nyeri disebabkan adanya luka
pada lambung akibat GERD, jadi jika GERD terobati
maka nyeri tidak muncul.
B. Diberikan terapi non-farmakologi
untuk penyakit hipertensi, GERD, dan anemia pada pasien
sebagai terapi penunjang yang dapat membantu proses
terapi pasien untuk kualitas hidup yang lebih baik.
5. Monitoring dan Evaluasi
A. Subjektif
1. Apakah keluhan GERD (sesak nafas, nyeri abdominal,
anoreksia,

nausea,

perut

kembung,

sering

bersendawa) berkurang atau tidak?


2. Apakah oedem di kaki pasien hilang atau tidak ?

3. Apakah anemia pasien sembuh atau tidak ?


4. Apakah hipertensi pada pasien terkontrol atau tidak ?
5. ika nyeri bertambah sebaiknya diperhatikan perlunya
penambahan obat anti nyeri yang sesuai.
6. Penyesuaian dosis diperlukan jika terapi kurang
efektif sesuai ketentuan yang cocok.
B. Objektif
1. Pemeriksaan tekanan darah.
2. Pemeriksaan Hb, eritrosit, dan hematokrit untuk
mengetahui tingkat kesembuhan anemia.
3. Pemeriksaan serum kreatinin untuk mengetahui
keadaan fungsi ginjal.
4. Pemeriksaan CK dan CK-MB untuk mengetahui
keadaan fungsi jantung.
5. Pemeriksaan elektrolit Na dan K.
C. Diperhatikan efek samping obat
6. KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)
a. Diberi penjelasan ada tidaknya gejala efek samping
yang timbul.
b. Minum obat secara teratur, berikut instruksi untuk
masing-masing obat.
c. Diminum per-oral.
d. Cukup minum.
e. Kurangi makanan berlemak, berbumbu asam, cokelat,
kopi, alkohol dan diet garam.
f. Olahraga teratur.
g. Posisi kepala / tempat tidur ditinggikan 6-8 inch.
h. Jangan makan terlalu kenyang, jangan segera tidur
setelah makan.
i. Sebaiknya makan sedikit-sedikit tapi sering.
j. Mencukupkan asupan nutrisi Fe, asam folat, dan vitamin
B12. Misalnya dari sayur-sayuran hijau.
k. Jika tinja mengalami perubahan warna merupakan efek
samping dari penggunaan suplemen Hemobion yang
l.

mengandung fero fumarat.


Pasien akan sering buang air kecil karena penggunaan
diuretik.

Anda mungkin juga menyukai