Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Identitas Pasien

Nama

: Ny. T

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 28 tahun

Alamat

: Cikubang Taraju

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Sudah Menikah

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Anamnesis pasien :
Keluhan Utama :
Benjolan di punggung
Riwayat Penyakit Sekarang :

pasien datang ke poli ortopedi diantar oleh keluarganya , OS mengatakan bahwa


terdapat benjolan di punggung

sejak 6 bulan sebelum masuk RS, benjolan

sebesar telur bebek, awalnya benjolan kecil tetapi semakin hari benjolan
dirasakan semakin membesar,

pada benjolan tidak kemerahan, jika dipegang

keras, tidak dapat digerakkan, teraba hangat, warna seperti kulit sekitarnya. OS
mengatakan tidak pernah terjatuh sebelum nya.

Selain itu OS juga mengatakan selain di punggung terdapat juga benjolan


diketiak, benjolan sebesar kacang melinjo, teraba lunak, tidak nyeri dan dapat
digerakan warna seperti kulit sekitarnya, Demam (+), Penurunan berat badan
yang dirasa sangat cepat.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah didiagnosis menderita TBC kurang lebih 5 tahun yang lalu, dan
sudah menjalani pengobatan TB selama 6 bulan dan sudah dinyatakan sembuh.
Riwayat Penggobatan
1

Baru pertama kali berobat


Riwayat Alergi
Os mengaku tidak memiliki riwayat alergi
Riwayat Keluarga
Adik perempuan pasien, juga didiagnosis menderita TBC dan sedang menjalani
terapi TBC
Riwayat Trauma dan Operasi
Os mengaku tidak pernah mengalami kecelakaan ataupun operasi sebelumnya.
Riwayat Medis Sebelumnya
Tidak Pernah dirawat di RS
Pemeriksaan fisik
a. KU

: Tampak Sakit Sedang

b. Kesadaran

: Kompos Mentis

c. Vital sign

- TD

: 120/80 mmHg

- Nadi

: 80 x/menit

- Respirasi : 20 x/menit
- Suhu

: 36,2 C

- BB

: 42 kg

Pemeriksaan khusus :

Kepala :

DBN

Mata:

Konjungtiva Anemis -/-

Sklera Ikterik -/-

Refleks pupil +/+

Pupil isokor

Mulut :
2

Sianosis -

Bibir kering

Leher :

KGB : Tidak ada pembesaran

JVP

Trakea tidak deviasi

: Tidak ada peningkatan

Inspeksi :

Gerakan hemitoraks simetris +/+,Retraksi dinding dada -/-

Permukaan dada simetris

Jejas -/-

Sikatrik -/-

Benjolan -/-

Palpasi :

Massa -/- , krepitasi -/-

Vokal taktil fremitus simetris dextra/sinistra

Pembesaran KGB aksilaris -/-

Perkusi :

Batas pulmo-hepar : sonor - pekak ICS VI-VII linea mid clavicula dextra

Batas pulmo-gaster : sonor timpani ICS VII-VIII linea axilaris anterior


sinistra

Auskultasi :

Sonor diseluruh lapang paru dextra/sinistra

Vesikular diseluruh lapang paru dextra/sinistra, ronkhi -/-, wheezing -/-

Cor :

Inspeksi :

Palpasi :

Ictus cordis tidak terlihat

Ictus cordis teraba di intercostal V linea midclavicula sinistra

Auskultasi :

Bunyi jantung I-II regular

Murmur (-)
3

Gallop (-)

Abdomen

Inspeksi :

Datar

Scar (-)

Auskultasi

Bising usus (+)

Palpasi
soepel, tidak ada nyeri tekan

Perkusi :
Tympani

Ekstremitas
Edema

DBN

Akral hangat
Kekuatan otot : 5/5
4/4

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :

Darah rutin :

Hb

: 10,6 gr/dl (Pr : 12-16)

Ht

: 29 % (Pr : 35-45)

LED

: 63/75 (Pr: <20)

Leukosit

: 11.900 (Dewasa 5.000 10.000 sel/ml)

Trombosit

: 445.000 (150.000-300.000)

Kimia darah

Ureum

: 28 (15-45)

Kreatinin

: 0,74 (P= 0,5-0,9)

SGOT

: 21 (P: 10-31)

SGPT

: 10 (P: 9-32)

Status Lokalis
Regio Vertebrae :
4

Inspeksi
-

Terdapat Benjolan lonjong kurang lebih dengan ukuran 10x5cm di


Vertebrae Thoracalis 10

Luka (-)

Deformitas (+)

Palpasi :
Nyeri tekan (-)

Diagnosa kerja
Spondilitis TB
Konsultasi
Spesialis Bedah Orthopedi
Penatalaksanaan
OAT I
INH 300mg 1x1
Rifampicin 450mg 1x1
Pirazinamide 500mg 1x1
Etambutol 750mg 1x1
Sohobion 1x1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI TULANG BELAKANG
Tulang belakang manusia adalah pilar atau tiang yang berfungsi sebagai
penyangga tubuh dan melindungi sumsum tulang belakang. Pilar itu terdiri atas 33
ruas tulang belakang yang tersusun secara segmental yang terdiri atas 7 ruas tulang
servikal (vertebra servikalis), 12 ruas tulang torakal (vertebra torakalis), 5 ruas tulang
lumbal (vertebra lumbalis), 5 ruas tulang sakral yang menyatu (vertebra sakral), dan
4 ruas tulang ekor (vertebra koksigea).2

Gambar 1. Anatomi tulang belakang


Vertebra tipikal terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1. Korpus vertebra, terletak di anterior, berfungsi untuk menjaga untuk menyangga
berat badan.
2. Arkus vertebra, terletak di posterior, menutup foramen vertebra. Di dalam
foramina vertebral terdapat kanal vertebral tempat medula spinalis. Fungsi dari
arkus vertebra untuk melindungi medulla spinalis. Arkus vertebra terdiri dari dua
pedikel melingkar, satu dari korpus, dan dua plat datar yang disebut laminae yang
menyatu di garis tengah posterior.
3. Tiga prosesus, dua transversus dan satu spinosus, merupakan tempat perlekatan
otot dan membantu pergerakan vertebra
4. Empat prosesus artikularis, dua superior dan dua inferior, masing-masing
mempunyai articular facet. Prosesus artikularis terproyeksi ke superior dan
inferior dari arkus vertebra. Arah dari artikular facet menentukan pergerakan
alami dari vertebra dan mencegah vertebra terjatuh ke anterior.1,2

Gambar 2. Bagian-bagian tulang belakang


B. DEFINISI
Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis
tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif
yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosa.Tuberkulosis yang muncul pada
tulang belakang merupakan tuberkulosis sekunder yang biasanya berasal dari
tuberkulosis ginjal. Berdasarkan statistik, spondilitis tuberkulosis atau Potts disease
paling sering ditemukan pada vertebra torakalis segmen posterior dan vertebra
lumbalis segmen anterior (T8-L3), coxae dan lutut serta paling jarang pada vertebra
C1-2. Tuberkulosis pada vertebra ini sering terlambat dideteksi karena hanya terasa
9

nyeri punggung/pinggang yang ringan. Pasien baru memeriksakan penyakitnya bila


sudah timbul abses ataupun kifosis.3,4
C. EPIDEMIOLOGI
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi di seluruh dunia dan biasanya
berhubungan dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia
serta kondisi sosial di negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan
sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan sedang
berkembang, terutama di Asia, dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih
menjadi merupakan masalah utama. Pada negara-negara yang sudah berkembang
atau maju insidensi ini mengalami penurunan secara dramatis dalam kurun waktu 30
tahun terakhir. Perlu dicermati bahwa di Amerika dan Inggris insidensi penyakit ini
mengalami peningkatan pada populasi imigran, tunawisma lanjut usia dan pada orang
dengan tahap lanjut infeksi HIV (Medical Research Council TB and Chest Diseases
Unit 1980). Selain itu dari penelitian juga diketahui bahwa peminum alkohol dan
pengguna obat-obatan terlarang adalah kelompok beresiko besar terkena penyakit ini.
Di Amerika Utara, Eropa dan Saudi Arabia, penyakit ini terutama mengenai
dewasa, dengan usia rata-rata 40-50 tahun sementara di Asia dan Afrika sebagian
besar mengenai anak-anak (50% kasus terjadi antara usia 1-20 tahun). Pola ini
mengalami perubahan dan terlihat dengan adanya penurunan insidensi infeksi
tuberkulosa pada bayi dan anak-anak di Hong Kong. Pada kasus-kasus pasien dengan
tuberkulosa, keterlibatan tulang dan sendi terjadi pada kurang lebih 10% kasus.
Walaupun setiap tulang atau sendi dapat terkena, akan tetapi tulang yang mempunyai
fungsi untuk menahan beban (weight bearing) dan mempunyai pergerakan yang
cukup besar (mobile) lebih sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain.
Dari seluruh kasus tersebut, tulang belakang merupakan tempat yang paling sering
terkena tuberkulosa tulang (kurang lebih 50% kasus) diikuti kemudian oleh tulang
panggul, lutut dan tulang-tulang lain di kaki, sedangkan tulang di lengan dan tangan
jarang terkena. Area torako-lumbal terutama torakal bagian bawah (umumnya T 10)
dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang paling sering terlibat karena pada
area ini pergerakan dan tekanan dari weight bearing mencapai maksimum, lalu dikuti
dengan area servikal dan sakral.

10

Defisit neurologis muncul pada 10-47% kasus pasien dengan spondilitis


tuberkulosa. Di negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan penyebab
paling sering untuk kondisi paraplegia non traumatik. Insidensi paraplegia, terjadi
lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak. Hal ini
berhubungan dengan insidensi usia terjadinya infeksi tuberkulosa pada tulang
belakang, kecuali pada dekade pertama dimana sangat jarang ditemukan keadaan ini.5
D. ETIOLOGI
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di
tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3
dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10% oleh mikobakterium tuberkulosa
atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam
(BTA). Namun, Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan,
sinar matahari, dan sinar ultraviolet, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di
tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman,
tertidur lama selama beberapa tahun.(1,8) Basil tipe bovin berada dalam susu sapi
yang menderita mastitis tuberkulosis dan bila diminum akan menyebabkan
tuberkulosis usus. Basil tipe human berada dalam bercak ludah (droplet) orang yang
terinfeksi tuberkulosis.4 Lokalisasi spondilitis tuberkolusa terutama pada daerah
vertebra torakal bawah dan lumbal atas, sehingga diduga adanya infeksi sekunder
dari

suatu

tuberkulosis

traktus

urinarius,

yang

penyebarannya

melalui

pleksus Batson pada vena paravertebralis.6

E. PATOGENESIS
Penularan TBC terjadi karena menghirup udara yang mengandung
Mikobakterium tuberkulosis (M.Tb), di alveolus akan difagositosis oleh makrofag
alveolus dan dibunuh. Tetapi bila M.Tb yang dihirup virulen dan makrofag alveolus
lemah maka M.Tb akan berkembang biak dan menghancurkan makrofag. Monosit
dan makrofag dari darah akan ditarik secara kemotaksis ke arah M.Tb berada,
kemudian memfagositosis M.Tb tetapi tidak dapat membunuhnya. Makrofag dan
M.Tb membentuk tuberkel yang mengandung sel-sel epiteloid, makrofag yang
menyatu (sel raksasa Langhans) dan limfosit. Tuberkel akan menjadi tuberkuloma

11

dengan nekrosis dan fibrosis di dalamnya dan mungkin juga terjadi kalsifikasi. Lesi
pertama di alveolus (fokus primer) menjalar ke kelenjar limfe hilus dan terjadi
infeksi kelenjar limfe, yang bersama-sama dengan limfangitis akan membentuk
kompleks primer. Dari kelenjar limfe M.Tb dapat langsung menyebabkan penyakit di
organ-organ tersebut atau hidup dorman dalam makrofag jaringan dan dapat aktif
kembali bertahun-tahun kemudian. Tuberkel dapat hilang dengan resolusi atau terjadi
kalsifikasi atau terjadi nekrosis dengan masa keju yang dibentuk oleh makrofag.
Masa keju dapat mencair dan M.Tb dapat berkembang biak ekstra selular sehingga
dapat meluas di jaringan paru dan terjadi pneumonia, lesi endobronkial, pleuritis atau
Tb milier. Juga dapat menyebar secara bertahap menyebabkan lesi di organ-organ
lainnya.5,7,8
F. PATOFISIOLOGI
Basil tuberkulosis masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus
respiratorius. Pada saat terjadi infeksi primer, karena keadaan umum yang buruk
maka dapat terjadi basilemia. Penyebaran terjadi secara hematogen. Basil TB dapat
tersangkut di paru, hati limpa, ginjal dan tulang. Enam hingga 8 minggu kemudian,
respons imunologik timbul dan fokus tadi dapat mengalami reaksi selular yang
kemudian menjadi tidak aktif atau mungkin sembuh sempurna.9
Vertebra merupakan tempat yang sering terjangkit tuberkulosis tulang.
Penyakit ini paling sering menyerang korpus vertebra. Penyakit ini pada umumnya
mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan,
atau daerah epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang
menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan
pada korteks epifise, diskus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada
bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal sebagai
gibbus. Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada vertebra yang
bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan vertebra di dekatnya.
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang fibrosis
serta basil tuberkulosa) menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal
anterior dan mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini dapat
menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis ligament
yang lemah.

12

Pada daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang fasia paravertebralis dan


menyebar ke lateral di belakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat
mengalami protrusi ke depan dan menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai
abses faringeal. Abses dapat berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea,
esophagus, atau kavum pleura. Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal
pada daerah toraks setempat menempati daerah paravertebral, berbentuk massa yang
menonjol dan fusiform. Abses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis
sehingga timbul paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk
mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian
medial paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dapat
mengikuti pembuluh darah femoralis pada trigonum skarpei atau regio glutea.
Menurut Gilroy dan Meyer (1979), abses tuberkulosis biasanya terdapat pada
daerah vertebra torakalis atas dan tengah, tetapi menurut Bedbrook (1981) paling
sering pada vertebra torakalis 12 dan bila dipisahkan antara yang menderita
paraplegia dan nonparaplegia maka paraplegia biasanya pada vertebra torakalis10
sedang yang non paraplegia pada vertebra lumbalis. Penjelasan mengenai hal ini
sebagai berikut : arteri induk yang mempengaruhi medulla spinalis segmen torakal
paling sering terdapat pada vertebra torakal 8-lumbal 1 sisi kiri. Trombosis arteri
yang vital ini akan menyebabkan paraplegia. Faktor lain yang perlu diperhitungkan
adalah diameter relatif antara medulla spinalis dengan kanalis vertebralisnya.
Intumesensia lumbalis mulai melebar kira-kira setinggi vertebra torakalis 10, sedang
kanalis vertebralis di daerah tersebut relatif kecil. Pada vertebra lumbalis 1, kanalis
vertebralisnya jelas lebih besar oleh karena itu lebih memberikan ruang gerak bila
ada kompresi dari bagian anterior. Hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa
paraplegia lebih sering terjadi pada lesi setinggi vertebra torakal 10.
Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott terjadi melalui kombinasi 4
faktor yaitu:
1. Penekanan oleh abses dingin
2. Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis
3. Terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya
4. Penyempitan kanalis spinalis akibat angulasi korpus vertebra yang rusak

13

Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu :


1. Stadium implantasi.
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh penderita
menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama
6-8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada
anakanak umumnya pada daerah sentral vertebra.
2. Stadium destruksi awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta
penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6
minggu.
3. Stadium destruksi lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra dan terbentuk
massa
kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin), yang tejadi 2-3
bulan
setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta
kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di
sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra, yang
menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.
4. Stadium gangguan neurologis
Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi
terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini
ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra
torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan
neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini. Bila terjadi gangguan neurologis,
maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia, yaitu :
a. Derajat I : Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan
aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi
gangguan saraf sensoris.
b. Derajat II : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita
masih dapat melakukan pekerjaannya.
c. Derajat III : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi
gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anesthesia.
14

d. Derajat IV : Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan


defekasi dan miksi. Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia
dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung dari keadaan
penyakitnya.
Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan
ekstradural dari abses paravertebral atau akibat kerusakan langsung sumsum
tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang
sudah tidak aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada jembatan tulang
kanalis spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari
jaringan granulasi tuberkulosa. Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan
dan dapat terjadi destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler
vertebra.
5. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium implantasi.
Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena kerusakan vertebra yang
massif di sebelah depan.
Penyebaran basil ke vertebra menyebabkan spondilitis yang mengenai korpus
vertebra. Spondilitis tuberkulosis ditandai dengan destruksi progresif yang lambat
pada bagian anterior corpus vertebra disertai osteoporosis regional. Spondilitis
korpus vertebra ini dibagi menjadi 3 bentuk:3,4
1. Bentuk sentral
Destruksi awal pada sentral korpus vertebra yang dekat dengan lempeng
subkondral (biasanya ditemukan pada anak-anak)
2. Bentuk paradiskus

Terletak di bagian korpus vertebra yang bersebelahan dengan diskus


intervertebralis (biasanya ditemukan pada orang dewasa)
3. Bentuk anterior
Lokus awal di korpus vertebra bagian anterior yang merupakan perjalanan per
kontinuitatum dari vertebra di atasnya

Proses infeksi kadang disertai pembentukan banyak cairan yang nantinya


mengalami nekrosis. Nekrosis ini bisa menghasilkan massa seperti keju (limfadenitis
kaseosa) yang mencegah pembentukan tulang dan membuat tulang menjadi avaskuler
15

sehingga timbul tuberculous sequstra. Jaringan granulasi tuberkulosis masuk ke


dalam korteks korpus vertebra membentuk abses paravertebra yang meluas hingga ke
beberapa vertebra, ke atas, ke bawah, ligamen longitudinal anterior dan posterior.
Sering juga terjadi fistel tunggal atau multiple di kulit dari limfadenitis
tuberkulosis di leher atau di lipat paha. Bila spondilitis sudah mengenai vertebra
torakal atau lumbal maka nanahnya akan dikeluarkan melalui fasia otot psoas yang
merupakan locus minoris resistance sehingga terbentuk abses psoas. Abses ini dapat
turun ke region inguinal dan teraba sebagai benjolan. Abses yang terbentuk
merupakan abses dingin tanpa disertai tanda-tanda radang.
Abses juga dapat berkumpul dan mendesak ke arah belakang sehingga
menekan medulla spinalis dan mengakibatkan Potts paraplegia. Gejala awal
paraplegia dimulai dengan kaki terasa kaku, lemah atau penurunan koordinasi
tungkai. Proses ini dimulai dari penurunan daya kontraksi otot tungkai dan
peningkatan tonusnya sehingga terjadi spasme otot fleksor dan akhirnya terjadi
kontraktur.
Paraplegia kebanyakan ditemukan di daerah torakal, bukan lumbal karena
kanalis lumbalis agak longgar dan kauda equine tidak mudah tertekan. Diskus
intervertebralis yang avaskuler resisten terhadap infeksi tuberkulosis, namun diskus
di sekitarnya menyempit karena dehidrasi bahkan dapat dirusak oleh jaringan
granulasi tuberkulosis. Destruksi progresif bagian anterior korpus vertebra
menyebabkan kolapsnya bagian tersebut sehingga terjadi kifosis.4

Gambar 3. Spondilitis tuberkulosis


G. GEJALA KLINIS
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala
tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat
16

badan menurun. Suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta
sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam
hari (night cries).6,9
Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang
kepala. Gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses
retrofaring. Kadangkala penderita datang dengan gejala abses pada daerah
paravertebral, abdominal, inguinal, poplitea atau bokong, adanya sinus pada daerah
paravertebral atau penderita datang dengan gejala-gejala paraparesis, gejala
paraplegia, keluhan gangguan pergerakan tulang belakang akibat spasme atau gibus.6
Infeksi di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. Bila
berbalik ia menggerakkan kakinya, bukan mengayunkan dari sendi panggulnya. Saat
mengambil sesuatu dari lantai ia menekuk lututnya sementara tetap mempertahankan
punggungnya tetap kaku. Jika terdapat abses, maka abses dapat berjalan di bagian
kiri atau kanan mengelilingi rongga dada dan tampak sebagai pembengkakan lunak
dinding dada.3,6
Di regio lumbal abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang
terjadi di atas atau di bawah lipat paha. Jarang sekali pus dapat keluar melalui fistel
dalam pelvis dan mencapai permukaan di belakang sendi panggul. Pasien tampak
berjalan dengan lutut dan hip dalam posisi fleksi dan menyokong tulang belakangnya
dengan meletakkan tangannya diatas paha. Adanya kontraktur otot psoas akan
menimbulkan deformitas fleksi sendi panggul.6
H. DIAGNOSIS6
1. Anamnesis
Didapatkan adanya nyeri kronis pada tulang belakang yang disertai hilangnya
nafsu makan, penurunan berat badan dan adanya riwayat kontak dengan penderita
tuberkulosis akan lebih memperkuat diagnosa.

2. Pemeriksaan fisik
a. nyeri tekan pada tulang belakang yang terkena infeksi dan pergerakan yang
terbatas akibat nyeri dan spasme dari otot-otot paraspinal.
17

b. ditemukan gibbus atau deformitas berupa kifosis atau teraba adanya fluktuasi
pada pinggang atau inguinal.
c. adanya gangguan neurologis berupa gangguan motoris dari yang ringan
sampai yang paling berat
3. Pemeriksaan Penunjang4
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis
2) Uji Mantoux positif
3) Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikobakterium
4) Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional
5) Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
b. Pemeriksaan radiologis
1)

Pemeriksaan foto toraks


Untuk melihat adanya tuberkulosis paru

2)

Foto polos vertebra


Ditemukan osteoporosis, osteolitik dan destruksi korpus vertebra, disertai
penyempitan diskus intervertebralis yang berada diantara korpus tersebut
dan mungkin dapat ditemukan adanya massa abses paravertebral. Pada
foto AP, abses paravertebral di daerah servikal berbentuk sarang
burung (birrds nets) di daerah torakal berbentuk bulbul dan pada daerah
lumbal abses terlihat berbentuk fusiform. Pada stadium lanjut terjadi
destruksi vertebra yang hebat sehingga timbul kifosis.

3)

Pemeriksaan mielografi
Dilakukan bila terdapat gejala-gejala penekanan sumsum tulang.

4)

Pemeriksaan CT scan
CT scan dapat memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesi
irreguler, skelerosis, kolaps diskus dan gangguan sirkumferensi tulang.
Mendeteksi lebih awal serta lebih efektif umtuk menegaskan bentuk dan
kalsifikasi dari abses jaringan lunak.

5)

Pemeriksaan MRI
Mengevaluasi infeksi diskus intervertebra dan osteomielitis tulang
belakang dan menunjukkan adanya penekanan saraf.
18

I. DIAGNOSIS BANDING5
1. Infeksi

piogenik

(contoh

karena

staphylococcal/suppurative

spondylitis).
Adanya sklerosis atau pembentukan tulang baru pada foto rontgen
menunjukkan adanya infeksi piogenik. Selain itu keterlibatan dua
atau lebih corpus vertebra yang berdekatan lebih menunjukkan
adanya infeksi tuberkulosa daripada infeksi bakterial lain.

2. Infeksi enterik (contoh typhoid, parathypoid).


Dapat dibedakan dari pemeriksaan laboratorium.

3. Tumor/penyakit
eosinophilic

keganasan

granuloma,

(leukemia,

aneurysma

bone

Hodgkins
cyst

dan

disease,
Ewings

sarcoma)
Metastase dapat menyebabkan destruksi dan kolapsnya corpus
vertebra tetapi berbeda dengan spondilitis tuberkulosa karena
ruang diskusnya tetap dipertahankan. Secara radiologis kelainan
karena infeksi mempunyai bentuk yang lebih difus sementara untuk
tumor tampak suatu lesi yang berbatas jelas.

4. Scheuermanns disease
Mudah dibedakan dari spondilitis tuberkulosa oleh karena tidak
adanya penipisan korpus vertebrae kecuali di bagian sudut superior
dan inferior bagian anterior dan tidak terbentuk abses paraspinal.

J. PENATALAKSANAAN6
Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera
mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia.
Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut:9
1. Pemberian obat antituberkulosis
2. Dekompresi medulla spinalis
3. Menghilangkan atau menyingkirkan produk infeksi
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)

19

Pengobatan terdiri atas:


1. Terapi konservatif
a. Tirah baring (bed rest) untuk mencegah paraplegia
b. Memperbaiki keadaan umum penderita dan pemberian tuberkulostatik
c. Pemasangan brace pada penderita, baik yang dioperasi ataupun yang tidak
dioperasi.

Dengan

memberikan

corset

yang

mencegah

gerak

vertebrae/membatasi gerak vertebrae. Corset tadi dapat dibikin dari gips, dari
kulit/plastik, dengan corset tadi pasien dapat duduk/berjalan.
Obat-obatan yang diberikan terdiri atas:
a. Isoniazid (INH) dengan dosis oral 5 mg/kg berat badan per hari dengan dosis
maksimal 300 mg. Dosis oral pada anak-anak 10 mg/kg berat badan.
b. Etambutol. Dosis oral 15-25 mg/kg berat badan per hari.
c. Rifampisin. Dosis oral 10 mg/kg berat badan diberikan pada anak-anak. Pada
orang dewasa 300-400 mg per hari.
d. Streptomisin, pada saat ini tidak digunakan lagi
e. Untuk mendapatkan hasil pengobatan yang efektif dan mencegah terjadinya
kekebalan kuman tuberkulosis terhadap obat yang diberikan maka diberikan
kombinasi beberapa obat tuberkulostatik.
Regimen yang dipergunakan di Amerika dan di Eropa adalah INH dan
Rifampisin selama 9 bulan atau INH + Rifampisin + Etambutol diberikan
selama 2 bulan dilanjutkan dengan pemberian INH + Rifampisin selama 7
bulan. Di Korea diberikan kombinasi antar INH+ Rifampisin selama 6-12
bulan atau INH + Etambutol selama 9-18 bulan. Standar pengobatan di
Indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah:
Kategori 1
Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA (-)/rontgen (+), diberikan dalam dua
tahap, yaitu :
1) Tahap I, diberikan Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg
dan Pirazinamid 1500 mg. Obat diberikan setiap hari selama 2 bulan
pertama (60 kali).
2) Tahap II, diberikan Rifampisin 450 mg dan INH 600 mg. Obat diberikan
tiga kaii seminggu (intermiten) selama 4 bulan (54 kali).

20

Kategori 2
Untuk penderita baru BTA (+) yang sudah pernah minuet obat selama lebih
sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang
diberikan dalam dua tahap. Yaitu :
1) Tahap I, diberikan Streptomisin 750 mg, INH 300 mg, Rifampisin 450
mg, Pirazinamid 1.500 mg dan Etambutol 750 mg. Obat diberikan setiap
hari, Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat
lainnya selama 3 bulan (90 kali)
2) Tahap II, diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1.250
mg. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermiten) selama 5 bulan (66 kali).
Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila:
1) Keadaan umum penderita bertambah baik
2) Laju endap darah menurun dan menetap
3) Gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang
4) Gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra
b. Terapi Operatif
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi
penderita tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih
memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold
abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis.
1) Abses dingin (Cold Abses)
Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena
dapat terjadi resorpsi spontan dengan pemberian obat tuberkulostatik.
Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada tiga cara untuk
menghilangkan lesi tuberkulosa, yaitu:
a) Debrideman fokal
b) Kostotransveresektomi
c) Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan
2) Paraplegia
Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu pengobatan
dengan kemoterapi
a) Laminektomi
b) Kosto-transveresektomi
c) Operasi radikal
21

d) Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang


3) Kifosis
Operasi dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat. Kifosis mempunyal
tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. Tindakan
operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal.
Indikasi operasi
1) Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau
malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi
dilakukan, setiap spondilitis tuberkolusi diberikan obat tuberkulostatik.
2) Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara
terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft.
3) Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun
pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada
medula spinalis.
K. KOMPLIKASI4
Komplikasi dari spondilitis tuberkulosis yang paling serius adalah Potts
paraplegia yang apabila muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural
oleh pus maupun sequester, atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis dan
bila muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan
granulasi atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis. Mielografi dan
MRI sangatlah bermanfaat untuk membedakan penyebab paraplegi ini. Paraplegi
yang disebabkan oleh tekanan ekstradural oleh pus ataupun sequester membutuhkan
tindakan operatif dengan cara dekompresi medulla spinalis dan saraf.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra
torakal ke dalam pleura sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan
pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas
abses yang merupakan cold absces.

L. PROGNOSIS
22

Prognosis spondilitis tuberkulosis tergantung pada cepatnya dilakukan terapi,


sensitivitas kuman tuberkulosis terhadap obat anti tuberkulosis dan ada tidaknya
komplikasi neurologik. Untuk spondilitis dengan paraplegia awal, prognosis untuk
kesembuhan sarafnya lebih baik, sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir,
prognosisnya kurang baik. Diagnosis sedini mungkin, dan dengan pengobatan yang
tepat, prognosisnya baik meskipun tanpa tindakan operatif. Penyakit dapat kambuh
jika pengobatan tidak teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat, yang dapat
menyebabkan terjadinya resistensi terhadap pengobatan.4,10

DAFTAR PUSTAKA

23

1. Newanda JM. Spondilitis tuberkulosa. Accessed February 3, 2012. Available from:


www.newandajm.wordpress.com/2009/09/03/spondilitis-tuberkulosa
2. Moore L, Agur A. Anatomi klinis dasar. Jakarta: Hipokrates; 2003
3. Sjamsuhidajat R dan Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2005
4. Ara. Spondilitis tuberkulosis. Accessed February 3, 2012. Available from:
www.bedara-uki.blogspot.com/2008/08/spondilitis-tbc.html
5. Vitriana. Spondilitis tuberkulosa. Accessed February 3, 2012. Available from:
www.repository.unpad.ac.id/bitstream/handle/spondilitis_tuberkulosa.pdf
6. Anonim. Spondilitis tuberculosis (penyakit potts). Accessed February 3, 2012.
Available from: www.dokterbedahtulang.com
7. Hidalgo JA. Pott disease (tuberculous spondylitis). Accessed February 3, 2012.
Available from: www.emedicine.medscape.com
8. Anonim.

Spondilitis

tuberkulosa.

Accessed

February

3,

2012.

Available

from:www.doc-alfarisi.blogspot.com/2011/04/patogenesis-patofisiologi-stadiumdan.html
9. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedoktera Jilid
2. Ed. III. Jakarta: FKUI; 2000
10. Anonim. Spondylitis tuberkulosa. Accessed February 3, 2012. Available from:
medlinux.blogspot.com/2007/.../spondylitis-tuberkulosa.html

24