Anda di halaman 1dari 29

BAB I

LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. A

Umur

: 56 tahun

Jenis Kelamin

: Wanita

Agama

: Islam

Status

: Menikah

Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Cigalautang

No. Rekam Medis : 13965752

II.
ANAMNESIS
Tanggal 2 oktober 2013 jam 14.14 wib
Keluhan Utama
Nyeri pada paha kiri

Riwayat Perjalanan Penyakit:


Nyeri pada paha kiri dirasakan sejak 25 hari SMRS, Awalnya nyeri dirasakan
setelah os terjatuh dari ketinggian kurang lebih 4 meter, jatuh terguling-guling dan
paha kiri os terbentur dengan benda keras.
Selain nyeri pada paha kiri, os juga mengeluh pada daerah yang terbentur terlihat
membengkak dan kemerahan, serta kaki kiri susah untuk digerakan.
Kemudian pada saat itu os langsung dibawa ke tempat pijat oleh keluarganya, os
mengaku sudah 10 kali dipijat pada paha kirinya, os merasakan bahwa nyerinya tidak
kunjung sembuh, dan malah bertambah sakit. Kemudian os dibawa ke RSUD
Tasikmalaya.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Riwayat Diabetes Melitus

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat trauma
Riwayat operasi

: disangkal
: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat DM disangkal
Riwayat hipertensi disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis

Kesadaran

Vital Sign

IV.

: Compos mentis

Tekanan Darah

: 150/90 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Pernafasan

: 24 x/menit

Suhu

: 36,5C

Kepala
Mata
Leher
Thorax
Abdomen

: DBN
: DBN
: DBN
: DBN
: DBN

STATUS LOKALIS
a/r Femur sinistra
Inspeksi
- Deformitas (+)
- Hematom (-)

Palpasi
- Capilary refill time < 2 detik
- Akral teraba hangat
- Pulsasi a dorsalis pedis (+)
- Sensibilitas (+)
Move
- Jari-jari kaki aktif masih bisa digerakan
- ROM, gerakan terbatas karena nyeri

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi
- Hb
: 11,6 g/dl
- Ht
: 34%
- Trombosit
: 299.000/dl
- Leukosit
: 7.300/ul

Radiologi

Gambar 1
Foto femur Sinistra AP/Lateral
Hasil pemeriksaan :
-

Tampak Fraktur oblik pada 1/3 proximal os femur sinistra

Celah sendi yang tervisualisasi baik

Jaringan disekitarnya tampak swelling

Kesan : Fraktur transversal pada 1/3 tengah os femur dextra

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Fraktur oblik 1/3 femur proksimal dextra displace

VII. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa:
- IVFD RL 20 tpm
- Pasang bidai untuk fiksasi sementara untuk menunggu operasi. Imobilisasi
-Tramadol 100 mg 2x1
- Ranitidin 25 mg 2x1
- Konsul Orthopedi untuk renca operasi ORIF

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad functionam : bonam

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi, Fisiologi dan Histologi


1. Anatomi, fisiologi dan histologi

Dalam hal ini, penulis akan membahas beberapa sistem antara lain (1) sistem
tulang, (2) sistem sendi, (3) sistem otot, (4) sistem saraf.
a. Sistem tulang
1) Os. Femur
Merupakan tulang panjang dalam tubuh yang dibagi atas Caput
Corpus dan collum dengan ujung distal dan proksimal. Tulang ini bersendi
dengan acetabulum dalam struktur persendian panggul dan bersendi dengan
tulang tibia pada sendi lutut (Syaifudin, B.AC 1995). Tulang paha atau
tungkai atas merupakan tulang terpanjang dan terbesar pada tubuh yang
termasuk seperempat bagian dari panjang tubuh. Tulang paha terdiri dari 3
bagian, yaitu epiphysis proximalis, diaphysis, dan epiphysis distalis.1

Gambar 2.1 Os femur

- Epiphysis Proksimalis
Ujung membuat bulatan 2/3 bagian bola disebut caput femoris yang punya
facies articularis untuk bersendi dengan acetabulum ditengahnya terdapat
cekungan disebut fovea capitis. Caput melanjutkan diri sebagai collum femoris
yang kemudian disebelah lateral membulat disebut throcantor major ke arah
medial juga membulat kecil disebut trochantor minor. Dilihat dari depan, kedua
bulatan major dan minor ini dihubungkan oleh garis yang disebut linea
intertrochanterica (linea spiralis). Dilihat dari belakang, kedua bulatan ini
dihubungkan oleh rigi disebut crista intertrochanterica. Dilihat dari belakang
pula, maka disebelah medial trochantor major terdapat cekungan disebut fossa
trochanterica.
- Diaphysis
Merupakan bagian yang panjang disebut corpus. Penampang melintang
merupakan segitiga dengan basis menghadap ke depan. Mempunyai dataran yaitu
9

facies medialis, facies lateralis, facies anterior. Batas antara facies medialis dan
lateralis nampak di bagian belakang berupa garis disebut linea aspera, yang dimulai
dari bagian proximal dengan adanya suatu tonjolan kasar disebut tuberositas glutea.
Linea ini terbagi menjadi dua bibit yaitu labium mediale dan labium laterale,
labium medial sendiri merupakan lanjutan dari linea intertrochanrterica. Linea
aspera bagian distal membentuk segitiga disebut planum popliseum. Dari
trochantor minor terdapat suatu garis disebut linea pectinea. Pada dataran belakang
terdapat foramen nutricium, labium medial lateral disebut juga supracondylaris
lateralis/medialis.1
- Epiphysis distalis
Merupakan bulatan sepasang yang disebut condylus medialis dan condylus
lateralis. Disebelah proximal tonjolan ini terdapat lagi masing-masing sebuah
bulatan kecil disebut epicondylus medialis dan epicondylus lateralis. Epicondylus
ini merupakan akhir perjalanan linea aspera bagian distal dilihat dari depan terdapat
dataran sendi yang melebar disebut facies patelaris untuk bersendi dengan os.
patella. Intercondyloidea yang dibagian proximalnya terdapat garis disebut linea
intercondyloidea. 1

b. Arthrologi/sistem sendi
Sendi adalah hubungan antara dua tulang atau lebih dari sistem sendi, disini
meliputi sistem sendi panggul dan sendi lutut. 1
1) Sendi panggul

10

Sendi panggul dibentuk oleh facies lunata acetabullum dan caput femoris.
Facies lunata rongga sendi atau cavum articularis merupakan cekungan bentuk
simetris terbentang melampaui equator labium acetabuli, labium acetabuli
mengandung zat rawan fibrosa. Facies lunata dan labium menjadi dua pertiga
caput femoris lekuk tulang tidak lengkap dan bagian interior ditutup oleh lig
trasuersum, acetabuli, dimana terdapat bantalan lemak menuju caput femoris.
Kapsul sendi melekat pada tulang panggul sebelah luar labium acetabuli sehingga
labium aetabuli dengan bebas masuk ke rongga kapsul. Sendi panggul diperkuat
oleh ligamentum-ligamentum yang diantaranya: 1
a) Ligamentum Iliofemorale
Berbentuk Y, dasarnya melekat pada spinailiaca anterium dan interior
berfungsi mencegah gerakan extensi dan exirotasi tungkai atas yang
berlebihan pada sendi pangkal paha.
b) Ligamentum pubofemorale
Berbentuk segitiga, dasarnya ligamen pada ramus superior pubis,
berfungsi mencegah gerakan abduksi tungkai atas yang berlebihan.
c) Ligamentum ischiofemorale
Berbentuk spiral, melekat pada corpus ischium dekat tepi aetabulum.

d) Ligamentum transferum acetabuli


Dibentuk oleh labium acetabulare. Berfungsi mencegah keluarnya caput
femoris dari acetabuli.
e) Ligamentum cepitis femoris
11

Berbentuk gepeng dan segitiga melekat pada caput femoris. Berfungsi


sebagai tempat berjalan vasa dan saraf, meratakan sinovial pada permukaan
sendi.
2) Sendi Lutut
Senddi lutut dibentuk oleh tiga sendi yang berbeda dan dilindungi oleh kapsul
sendi. Sendi tersebut dibentuk oleh tulang femur dan patella yang mana pada facet
sendi terdiri dari tiga permukaan pada bagian lateral, yang mana pada satu permukaan
bagian medial otot vastus lateralis menarik patella ke arah proximal sedangkan otot
vastus medialis menarik patela ke arah medial, sehingga patella stabil. Pada posisi
30o, 40o dari ekstansi, patellah tertarik oleh mekanisme gaya kerja otot sangat kuat.
Keterangan gambar 2.1
1. Caput reflexum
2. Caput rectum
3. Lig. Iliofemorale
4. collum femoris
5. trochanter major
6. Tuberositas glutea
7. Trochanter minor
8. Lig. Ischio femorale
9. Lig. Sacrotuberale
10. Lig. sacrospinale

12

Gambar 2.2 Articulatio coxae


Tabel 2.1 Otot Tungkai Atas Bagian Posterior
No
1

Otot
Biceps femoralis

Regio
Caput
longum
(tuber isciadoleum)
caput breve (linea

Insertio
Permukaan
medial tibia

Fungsi
Flexi abduksi, rotasi
lateral arc.Co xae

13

Inerv
Ramus tibi
N. ischiadic

Semi
tendonisos
is

aspera) crista supra


condilair
lateral
batang femur)
Tuber ischiadikum
Tuber ischiadikum

Condylus
medialis tibia

Adduktor magnus

Tuber ischiadicum

Tiberculum
adduktor
femur

Iliacus

Quadricep
Femoralis
a.
Rectus
femoris

d.

Flex dan rotasi,


medial sendi lutut
serta extensi serta
extensi Arc. Coxae
Extensi
Arc
Coxae

Semi embranosus

c.

Flexi, rotasi, medial


sendi lutut serta Arc.
Coxae

Tabel 2.2 Otot Tungkai Atas Bagian Anterior


No
Otot
Regio
1
Sartorius
Spina iliace anterior
superior (SIAS)

b.

Medial
tibia

Vatus
lateralis

Vatus
medialis
Vatus
intermedius

Insertio
Permukaan
medial tibia

Fossa illiaca di dalam


abdomen

Throcantor
femur

SIAS

Tendon m.
quadriceps
pada patela,
vialigamentu
m patellae ke
dalam
tuberositas
tibia

Ujung atas dan batang


femur, septum facialis
lat ke dalam
Ujung atas dan
batang femur

Ramus
tibia
N.is
icum
Ramus ti
N. ischiadic

Ramus tibi
N. Ischiadi

Fungsi
Fleksi abduis,
rotasi, lateral
arc coxae
Flexi

Inervasi
N. femoralis

Flexi arc coxae

N. femoralis

Extansi lutut

N. femoralis

Extensi lutut,
menstabilkan
patela

N. femoralis

N. femoralis

N. femoralis
Permukaan
anterior dan
lateral batang
femur

Extensi lutut

14

Sistem persyarafan pada tungkai atas (paha) dibagi menjadi 4 yaitu:


3) Nervus femoralis
Merupakan cabang terbesar dari pleksus lumbalis. Nervus ini berisi dari tiga
bagian pleksus anterior yang berasal dari nervus lumbalis (L2, L3 dan L4). Nervus ini
muncul dari tepi lateral psoas di dalam abdomen dan berjalan ke bawah melewati m.
psoas dan m.iliacus ia terletak di sebelah fasia illiaca dan memasuki paha lateral
terhadap anterior femoralis dan selubung femoral di belakang ligament inguinal dan
pecah menjadi devisi anterior dan posterior nervus femoralis mensyarafi semua otot
anterior paha. 1
4) Nervus obturatorius
Berasal dari plexus lumbalis (L2, L3 dan L4) dan muncul pada bagian tepi m.
psoas di dalam abdomen, nervus ini berjalan ke bawah dan depan pada lateral pelvis
untuk mencapai bagian atas foramen abturatorium, yang mana tempat ini pecah
menjadi devisi anterior dan posterior. Devisi anterior memberi cabang-cabang
muscular pada m. gracilis, m. adduktor brevis dan longus. Sedangkan devisi posterior
mensyarafi articularis guna memberi cabang-cabang muscular kepada m.obturatorius
esternus, dan adduktor magnus. 1

5) Nervus gluteus superior dan inferior


Cabang nervus sacralis meninggalkan pelvis melalui bagian atas, dan bawah
foramen ischiadicus majus di atas m. piriformis dan mensyarafi m.gluteus medius dan
minimus serta maximus. 1
15

c. Sistem peredaran darah


Sistem peredaran darah tungkai atas (paha)
Di sini akan dibahas sistem peredaran darah dari sepanjang tungkai atas atau paha
yaitu pembuluh darah arteri dan vena.
1) Pembuluh darah arteri
Arteri membawa darah dari jantung menuju saluran tubuh dan arteri ini selalu
membawa darah segar berisi oksigen, kecuali arteri pulmonale yang membawa
darah kotor yang memerlukan oksigenisasi. Pembuluh darah arteri pada tungkai
antara lain yaitu:
a) Arteri femoralis
Arteri femoralis memasuki paha melalui bagian belakang ligament
inguinale dan merupakan lanjutan arteria illiace externa, yang terletak
dipertengahan antara SIAS (spina illiaca anterior superior) dan sympiphis
pubis. Arteria femoralis merupakan pemasok darah utama bagian tungkai,
berjalan menurun hampir bertemu ke tuberculum adductor femoralis dan
berakhir pada lubang otot magnus dengan memasuki spatica poplitea sebagai
arteria poplitea. 1

b) Arteria profunda femoralis


Merupakan arteri besar yang timbul dari sisi lateral arteri femoralis
dari trigonum femorale. Ia keluar dari anterior paha melalui bagian

16

belakang otot adductor, ia berjalan turun diantara otot adductor brevis dan
kemudian teletak pada otot adduktor magnus. 1
c) Arteria obturatoria
Merupakan cabang arteri illiaca interna, ia berjalan ke bawah dan ke
depan pada dinding lateral pelvis dan mengiringi nervus obturatoria
melalui canalis obturatorius, yaitu bagian atas foramen obturatum.
d) Arteri poplitea
Arteri poplitea berjalan melalui canalis adduktorius masuk ke fossa
bercabang menjadi arteri tibialis posterior terletak dalam fossa poplitea
dari fossa lateral ke medial adalah nervus tibialis, vena poplitea, arteri
poplitea. 1
2) Pembuluh darah vena
Pembuluh darah vena pada tungkai antara lain: 1
a) Vena femoralis
Vena femoralis memasuki paha melalui lubang pada otot adduktor
magnus sebagai lanjutan dari vena poplitea, ia menaiki paha mula-mula
pada sisi lateral dari arteri. Kemudian posterior darinya, dan akhirnya pada
sisi medialnya. Ia meninggalkan paha dalam ruang medial dari selubung
femoral dan berjalan dibelakang ligamentum inguinale menjadi vena iliaca
externa.
b) Vena profunda femoralis
Vena profunda femoris menampung cabang yang dapat disamakan
dengan cabang-cabang arterinya, ia mengalir ke dalam vena femoralis.
17

c) Vena obturatoria
Vena obturatoria menampung cabang-cabang yang dapat disamakan
dengan cabang-cabang arterinya, dimana mencurahkan isinya ke dalam
vena illiaca internal.
d) Vena saphena magna
Mengangkut perjalanan darah dari ujung medial arcus venosum
dorsalis pedis dan berjalan naik tepat di dalam malleolus medialis,
venosum dorsalin vena ini berjalan di belakang lutut, melengkung ke depan
melalui sisi medial paha. Ia bejalan melalui bagian bawah n. saphensus
pada fascia profunda dan bergabung dengan vena femoralis.

Gambar 2.3 Vaskularisasi Femur


18

FRAKTUR FEMUR
A. DEFINISI
Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan
tadi mungkin tak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan
korteks; biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang bergeser. Bilamana
tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau
permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup
(atau sederhana), sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang
yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit yang cenderung untuk
mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut fraktur terbuka. Rusaknya
kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung,
kelelahan

otot,

kondisi-kondisi

tertentu

seperti

degenerasi

tulang/

osteoporosis.

B. EPIDEMIOLOGI
Klasifikasi alfanumerik pada fraktur, yang dapat digunakan dalam
pengolahan komputer, telah dikembangkan oleh (Muller dkk., 1990). Angka
pertama menunjukkan tulang yaitu :2

1. Humerus
2. Radius/Ulna
3. Femur

19

4. Tibia/Fibula
Sedangkan angka kedua menunjukkan segmen, yaitu :
1. Proksimal
2. Diafiseal
3. Distal
4. Maleolar
Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada
fraktur collum, fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan
usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang
dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi)
sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan.
Sedangkan fraktur batang femur, fraktur supracondyler, fraktur intercondyler, fraktur
condyler femur banyak terjadi pada penderita laki laki dewasa karena kecelakaan
ataupun jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi
karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah. 2

C. ETIOLOGI
Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena;
jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya
menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran
20

kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak


yang luas. 2
Bila terkena kekuatan tak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang
jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat
fraktur mungkin tidak ada. 2

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam : 3
a. Fraktur collum femur :
Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu
misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter
mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan
oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak
dari tungkai bawah, dibagi dalam : 3

Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)

Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

b. Fraktur subtrochanter femur :


Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter
minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan
mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :

21

tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor


tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor
tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor
c. Fraktur batang femur (dewasa)
Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat
kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada
daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan
penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi
berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi
menjadi :

Tertutup

22

Fraktur femur kanan 1/3 distal


spiraldisplaced tertutup

Fraktur femur kanan 1/3 proksimal


kominutif displaced tertutup

Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara


tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ;
Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil,
biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam
menembus keluar.
Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena
benturan dari luar.

23

Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak
banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah)

d. Fraktur supracondyler femur :


Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke
posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot
gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma
langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus
atau varus dan disertai gaya rotasi. 4
e. Fraktur intercondyler femur :
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga
umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur.
f. Fraktur condyler femur :
Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi
disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

E. GAMBARAN KLINIK
Riwayat
Biasanya

terdapat

riwayat

cedera,

diikuti

dengan

ketidakmampuan

menggunakan tungkai yang mengalami cedera, fraktur tidak selalu dari tempat

24

yang cedera suatu pukulan dapat menyebebkan fraktur pada kondilus femur,
batang femur, pattela, ataupun acetabulum. Umur pasien dan mekanisme cedera itu
penting, kalau fraktur terjadi akibat cedera yang ringan curigailah lesi patologik
nyeri, memar dan pembengkakan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi
gejala itu tidak membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak, deformitas jauh
lebih mendukung. 4
Tanda tanda local :
a) Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal,
angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting
adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan
dengan fraktur, cedera terbuka
b) Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian
distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera
pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan
c) Movement : Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih
penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi
dibagian distal cedera.

F. DIAGNOSIS

Terdapat tanda klinis yang menunjang adanya fraktur

25

Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan


2 proyeksi yaitu anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering
menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur
pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar x pada pelvis dan
tulang belakang

G. PENATALAKSANAAN
1. Terapi konservatif :
o Proteksi
o Immobilisasi saja tanpa reposisi
o Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
o Traksi
Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patah
dalam jangka waktu sesingkat mungkin

Metode Pemasangan traksi:


Traksi Manual
Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan Emergency.
Dilakukan dengan menarik bagian tubuh.
Traksi Mekanik

26

Ada dua macam, yaitu :

Traksi Kulit
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot.
Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak
waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila
tidak diteruskan dengan pemasangan gips.

Traksi Skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced
traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat
metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

Kegunaan pemasangan traksi


Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :
o
o
o
o
o

Mengurangi nyeri akibat spasme otot


Memperbaiki dan mencegah deformitas
Immobilisasi
Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi).
Mengencangkan pada perlekatannya.

2. Terapi operatif
o

ORIF (Open Reduction internal fixation)

Indikasi ORIF :
o Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi
o Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup

27

o Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan


o Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan
operasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Koval Kenneth J., Zuckerman Joseph D. Handbook of Fractures. 3rd Edition.


Lippincott William & Wilkins Press. 2006.
2. Rasjad Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Bintang Lamumpatue :
Ujung pandang,1998 :327.
3. Mark E Baratz, MD. Tibia and Fibula Fracture. Available from
http://emedicine.medscape.com/article/826304-overview.

28

4. Lung-fung,

TSE.

Management

of

Open

Fractures.

http://www.aado.org/file/open-fracture-ws_mar09/LFTse.pdf.

Available

at

Accessed

on

March, 18th 2013.

29