Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH PBL BLOK III (Part3)

Pembelahan Mitosis dan Meiosis serta Perbedaannya

Tahap Kariokinesis
Kariokinesi adalah tahap pembelahan inti sel. Tahap ini terdiri dari fase atau
tahap-tahap yang lebih rinci sebagai berikut:
1. Profase
Pada tahap ini, DNA mulai dikemas atau dipaket menjadi kromosom.
Pada tahap awal, kromosom mulai muncul dan tampak lebih pendek serta
menebal. Masing-masing terdiri atas dua untai pararel yang disebut kromatid,
saling berhubungan pada sentromer. Setiap kromosom terduplikasi dan
tampak sebagai dua kromatid saudara identik yang tersambung pada
sentromernya. Bersamaan dengan ini gelendong mitotik mulai terbentuk,
gelendong ini terdiri atas sentrosom

dan mikrotubulus (terbentuk dari

sentrosom yang menjulur). Susunan radial mikrotubulus yang lebih pendek


dan menjulur dari sentrosom disebut aster (bintang). Sentrosom yang berisi
pasangan sentriol masing-masing bergerak ke kutub berlawanan yang
didorong oleh perpanjangan

mikrotubulus di antaranya. Selanjutnya

terbentuk benang-benang spindel (benang-benang mikrotubulus) yang


terhubung dari kutub ke kutub. Pada profase akhir, masing-masing kromosom
terlihat terdiri dari dua kromatid yang terikat pada sentromer. Selanjutnya,
nukleolus hilang dan membran nukleus hancur. Pada tahap ini kromosom
terletak bebas di dalam sitoplasma.
2. Prometafase
Kromosom menjadi semakin terkondensasi, masing-masing dari
kedua kromatid pada setiap kromosom kini memiliki kinetokor, yang
merupakan struktur protein terspesialisasi yang terletak pada sentromer.
Beberapa mikrotubulus melekat pada kinetokor yang disebut mikrotubulus
kinetokor, mikrotubulus ini menarik kromosom maju-mundur.
3. Metafase
Tahap ini merupakan tahap yang paling lama, seringkali berlangsung
sekitar 20 menit. Pada tahap ini, kromosom bergerak ke bidang ekuator
benang spindel (bidang pembelahan yang akan membentuk dua kromosom
yang disebut kromatid saudara). Kromosom berjejer pada bidang ekuator
(lempeng metafase) dan sentromernya berada pula pada lempengan
metafase. Kromosom terletak di bidang ekuator dengan tujuan agar
pembagian jumlah formasi DNA yang akan diberikan kepada sel anakan yang

baru benar-benar rata dan sama jumlahnya. Untuk setiap kromosom,


kinetokor kromatid saudara melekat ke mikrotubulus yang berasal dari kutub
bersebrangan..
4. Anafase
Tahap ini merupakan tahap mitosis yang paling pendek, seringkali
berlangsung hanya beberapa menit. Pada tahap ini, masing-masing
sentromer yang mengikat kromatid membelah secara bersamaan. Kromatid
bergerak menuju kutub pembelahan. Kromatid dapat bergerak ke kutub
pembelahan karena terjadinya kontraksi benang spindel. Pada saat kontraksi,
benang spindel memendek kemudian menarik kromatid menjadi dua bagian
ke dua kutub yang berlawanan (dengan kecepatan sekitar 1mm/menit).
Tahap anafase menghasilkan salinan kromosom berpasangan (1c, 2n). Sel
memanjang saat mikrotubulus kinetokor memanjang.
5. Telofase
Pada tahap ini, kromatid telah disebut kromosom. Membran inti mulai
muncul dan
terkondensasi.

nukleolus kembali
Kromosom

muncul.

membentuk

Kromosom

menjadi

benang-benang

kurang

kromatin.

Selanjutnya, pada tahap telofase akhir, terjadi pembelahan sitoplasma


dengan proses yang disebut sitokinesis.
Tahap Sitokinesis
Pada tahap ini terjadi pembelahan sitoplasma yang diikuti dengan
pembentukan sekat sel yang baru. Sekat memisahkan dua inti tersebut menjadi
dua sel anakan. Pada sel hewan, tahap sitokinesis dimulai saat telofase berakhir.
Pada telofase akhir terjadi penguraian benang-benang spindel, kemudian segera
terbentuk cincin mikrofilamen yang menyempit di daerah bekas bidang ekuator.
Kontraksi ke arah dalam ini menyebabkan celah yang mendalam pada
permukaan sel, diikuti dengan pembagian isi dua sel secara terpisah.

Gambar 1.9 Mitosis pada sel hewan


A. Tahap-tahap pembelahan sel secara meiosis (Pembelahan Reduktif)
Pembelahan ini merupakan pembelahan yang menghasilkan sel-sel kelamin
(sperma dan sel telur) yang berisi kromosom setengah pasang (haploid=n).
Pembelahan ini terbagi dalam dua tahap.
Meiosis I
Meiosis I memisahkan setiap pasang kromosom homolog dan membagi anggota

pasangan tersebut pada sel-sel anakan.


Tiga peristiwa yang terjadi pada meiosis selama meiosis I antara lain:
Sinapsis dan Pindah Silang (Profase I)
Peristiwa sinapsis ini tidak terjadi pada tahap mitosis
Homolog di Lempengan Metafase I
Kromosom berjejer sebagai pasangan homolog di lempengan metafase,
bukan sebagai kromosom individual saperti pada metafase mitosis. Pemisah
Homolog (Anafase I).
Kromosom bergerak ke arah kutub namun kromatid-kromatid saudara dari
setiap

kromosom

terreplikasi

tetap

melekat.

Sebaliknya,

pada

anafase

mitosis,kromatid-kromatid saudara memisah. Kromatid-kromatid saudara ini saling


melekat sepanjang lengan berkat kompleks protein yang disebut kohesin.
1. Interfase
Pada tahap ini, sel berada pada tahap persiapan

untuk

mengggandakan pembelahan. Persiapannya adalah berupa penggandaan


DNA dari satu salinan menjadi dua salinan. Tahap akhir interfase adalah
adanya dua salinan DNA yang telah siap dikemas menjadi kromosom.
2. Profase I
Pada tahap ini DNA dikemas ke dalam kromosom. Pada akhir profase
I, terbentuk kromosom homolog yang berpasangan membentuk tetrad.
Kromosom homolog adalah sepasang kromosom yang terdiri dari dua
kromosom identik (perkecualian: kromosom kelamin memiliki bentuk dan
ukuran yang berbeda yaitu x dan y. Akan tetapi, biasanya keduanya tetap
dianggap sebagai kromosom homolog. Hal ini karena tiap kromosom terdiri
dari sepasang kromatid kembar yang mirip kembar siam yang lengket
sebagian pada bagian sentromernya). Tahap ini merupakan tahap terlama
dalam meiosis karena terdiri atas beberapa tahap.
a. Tahap leptoten
Kromatin berubah menjadi kromosom yang mengalami kondensasi
dan terlihat sebagai benang tunggal yang panjang. Pada beberapa
organisme, kromosom tersebut mengandung bentukan seperti manikmanik, yang merupakan daerah kromosom yang menyerap warna dengan
kuat yaitu kromomer.

b. Tahap zigoten
Sentrosom membelah menjadi dua, kemudian bergerak menuju kutub
yang berlawanan. Kromosom homolog yang berasal dari gamet kedua
orang

tua

termasuk

bagian

kromomer

saling

berdekatan

dan

berpasangan, atau disebut melakukan sinapsis.


c. Tahap pakiten
Tiap kromosom melakukan penggandaan atau replikasi menjadi dua
kromatid dengan sentromer yang masih tetap menyatu dan belum
membelah. Tiap kromosom yang berpasangan mengandung empat
kromatid disebut tetrad atau bivalen.
d. Tahap diploten
Kromosom homolog terlihat menjauhi. Pada saat itu terjadi pelekatan
berbentuk X pada suatu temat tertentu di kromosom yang disebut kiasma.
Kiasma merupakan bentuk persilangan dua dari empat kromatid suatu
kromosom dengan pasangan kromosom homolognya.

Kiasma juga

merupakan tempat terjadinya pindah silang (crossing over) pada


kromosom. Setiap pasang homolog memilikisatu atau lebih kiasma.
Karena adanya peristiwa tersebut kromosom sel gamet yang terbentuk
sama sekali tidak identik dengan susunan kromosom sel induknya.
Sinapsis berakhir di pertengahan profase dan kromosom-kromosom
setiap pasangan sedikit memisah.
e. Tahap diakinesis
Terbentuk benang-benang spindel dari pergerakan dua sentriol (hasil
pembelahan) ke arah kutub yang berlawanan. Proses ini diakhiri dengan
menghilangnya nukleolus dan membran nukleus serta tetrad mulai
bergerak ke bidang ekuator.
3. Metafase I
Pada tahap ini, tetrad kromosom berada pada bidang ekuator atau
lempeng

metafase,

dengan

satu

kromosom

pada

setiap

pasangan

menghadap ke kutub yang berbeda. Pada bidang ekuator, benang-benang


spindel (mikrotubul) melekatkan diri pada tiap kinetokor. Ujung benang
spindel yang lainnya membentang melekat di kedua kutub pembelahan yang
berlawanan.
4. Anafase I
Penguraian protein-protein yang menyebabkan kohesi kromatid
saudara di sepanjang lengan-lengan kromatid memungkinkan homologhomolog

memisah.

Tiap

kromosom

homolog

(yang

berisi

kromatid

kembarnya) masing-masing mulai ditarik ke kutub pembelahan yang


berlawanan arah aparatus gelondong. Kohesi kromatid saudara masih
bertahan di sentromer, menyebabkan kedua kromatid bergerak sebagai suatu

kesatuan ke kutub yang sama. Tujuan anafase I adalah membagi isi


kromosom diploid menjadi haploid.
5. Telofase I
Pada tahap ini, tiap kromosom homolog telah mencapai kutub
pembelahan.
6. Sitokinesis I
Pada tahap ini, tiap kromosom homolog dipisahkan oleh sekat
sehingga sitokinesis menghasilkan dua sel,masing-masing berisi kromosom
dengan kromatid kembarnya.
7. Interkinesis
Tahap ini merupakan tahap diantara dua pembelahan meiosis. Pada
tahap ini tidak terjadi replikasi DNA. Hasil pembelahan meiosis I
menghasilkan dua sel anakan haploid. Namun, kromosom tersebut masih
berisi sepasang kromatid yang berarti kandungan kandungan DNA-nya masih
rangkap (2c). Tujuan meiosis II adalah membagi kedua salinan tersebut pada
sel anakan yang baru.
Meiosis II
1. Profase II
Pada tahap ini kromatid kembarannya masih melekat pada tiap
sentromer kromosom. Aparatus gelondong terbentuk. Pada akhir tahap ini,
kromosom masing-masing terdiri atas dua kromatid yang tergabung di
sentromer, bergerak ke arah lempengan metafase II.
2. Metafase II
Pada tahap ini tiap kromosom (yang berisi dua kromatid) merentang
pada bidang ekuator (lempeng metafase) seperti pada mitosis. Terbentuk
benang-benang spindel, satu ujung melekat pada kinetokor dan ujung lain
membentang menuju kutub pembelahan yang berlawanan arah.
3. Anafase II
Benang spindel mulai menarik kromatid menuju kutub pembelahan
yang berlawanan. Akibatnya, kromosom memisahkan kedua kromatidnya dan
bergerak menuju kutub yang berbeda. Kromatid yang terpisah ini dinamakan
kromosom. Kromatid bisa terpisah karena penguraian protein-protein yang
menggabungkan kromatid-kromatid saudara di sentromer.
4. Telofase II
Kromosom telah mencapai kutub pembelahan. Hasil total dari tahap
ini adalah terbentuk empat inti yang masing-masing mengandung setengah
pasangan kromosom (haploid) dan satu salinan DNA (1n, 1c)
5. Sitokinesis II
Tiap inti mulai dipisakan oleh sekat sel dan akhirnya menghasilkan
empat sel kembar haploid.

(a)

(b)
Gambar 1.10 Tahap-tahap meiosis, (a).Meiosis I (b) sambungan meiosis I dan meiosis II

Perbedaan antara Mitosis dan Meiosis

Gambar 1.11 Perbedaan antara Pembelahan Sel Mitosis dan Meiosis

Properti
Tujuan

Mitosis

Tempat

Hasil

Jaringan somatik kecuali sel


kelamin.

Sifat

Pembelahan Sel
Replikasi DNA

Sinapsis dari
kromosom
homolog

Memperbanyak sel pada


proses pertumbuhan
Mengganti sel yang rusak
dan
reproduksi
pada
organisme bersel satu

Sel induk haploid (2 buah sel


anakan haploid (n))
Sel induk diploid (2 buah sel
anakan diploid (2n))

Sel anakan identik dengan sel induk

Berlangsung satu kali


Terjadi saat interfase sebelum
mitosis mulai
Tidak terjadi

Meiosis

Mengurangi jumlah kromosom


agar
generasi
berikutnya
mempunyai sel dengna jumlah
jumlah kromosom tetap.
Membentuk sel-sel kelamin
haploid (n) pada hewan dan
manusia.

Sel-sel kelamin (sperma dan ovum).

Sel induk diploid (4 buah sel


anakan haploid (n))

Sel anakan tidak identik dengan sel


induk
Berlangsung dua kali
Terjadi saat interfase sebelum meiosis
I mulai
Terjadi saat profase I bersama pindah
silang antara kromatid nonsaudara:
kiasmata yang dihasilkan menjaga
pasangan kromosom tetap bersama
akibat kohesi kromatid saudara.

Peran dalam
tubuh hewan

Memungkinkan dewasa multiselular


bertumbuh-kembang
dari
zigot,
menghasilkan
sel-sel
untuk
pertumbuhan, perbaikan dan pada
beberapa
spesies,
reproduksi
aseksual

Menghasilkan
gamet:mengurangi
jumlah kromosom menjadi separuh
dan menyebabkan variabilitas genetik
di antara gamet

Tabel 1.1 Perbedaan Mitosis dan Meiosis

Kesimpulan
Perbedaan antara pembelahan sel secara mitosis dan meiosis sangat penting
untuk diketahui oleh kita, karena pembelahan sel merupakan landasan fundamental dalam
ilmu genetika untuk mengetahui kelainan-kelainan pada saat proses penyusunan kromosom
dalam proses pembelahan sel.
Daftar Pustaka
1. Aryulina D, Muslim C, Manaf S, Winarni E.W. Biologi 3 SMA dan MA untuk kelas XII.
Jakarta: Esis, 2007
2. Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Edisi:12. Jakarta: EGC, 2002.
3. Wheater P.R, Burkitt H.G, Daniels V.G. Buku ajar dan atlas histologi fungsional.
Jakarta: EGC, 1995
4. Campbell N.A, Reece J.B, Urry L.A,Cain M.L, Wassermen S.A, Minorsky M, dkk.
Biologi. Jilid:1. Edisi:8. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010
5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC, 2004
6. Junquera L.C, Cameiro J. Histologi dasar teks dan atlas. Edisi: 10. Jakarta: EGC,
2007
7. Sadler T.W. Embriologi kedokteran. Edisi:10. Jakarta:EGC, 2010
8. Lehninger A.L. Dasar-dasar biokimia. Jakarta:Erlangga, 2003