Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan


perubahan pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang
ada di dalam makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat
adalah penyakit asma.
Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara
total. Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan
terbebas dari ancaman serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan
lingkungannya serta faktor ekonomi, penderita harus selalu berhadapan dengan faktor
alergen yang menjadi penyebab serangan. Biaya pengobatan simptomatik pada waktu
serangan mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi pengobatan
profilaksis yang memerlukan waktu lebih lama, sering menjadi problem tersendiri.
Peran dokter dalam mengatasi penyakit asma sangatlah penting. Dokter sebagai pintu
pertama yang akan diketuk oleh penderita dalam menolong penderita asma, harus selalu
meningkatkan pelayanan, salah satunya yang sering diabaikan adalah memberikan
edukasi atau pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan kepada penderita dan
keluarganya akan sangat berarti bagi penderita, terutama bagaimana sikap dan tindakan
yang bisa dikerjakan pada waktu menghadapi serangan, dan bagaimana caranya
mencegah terjadinya serangan asma.
1. PEMERIKSAAN
a. Anamnesa
- Keluhan sesak nafas, mengi, dada terasa berat atau tertekan, batuk berdahak yang tak
-

kunjung sembuh, atau batuk malam hari.


Semua keluhan biasanya bersifat episodik dan reversible.
Mungkin ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang

lain.
b. Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum : penderita tampak sesak nafas dan gelisah, penderita lebih nyaman
-

dalam posisi duduk.


Jantung : pekak jantung mengecil, takikardi > 120 x/menit.
Paru :
1

1. Inspeksi : dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong ke bawah.


Frekuensi nafas > 30 kali per menit
2. Auskultasi : terdengar wheezing (mengi), ekspirasi memanjang.
3. Perkusi : hipersonor
4. Palpasi : Vokal Fremitus kanan=kiri
c. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati :
- Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal
-

eosinopil.
Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang

bronkus.
Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid

dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.


b. Pemeriksaan darah
- Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
-

hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.


Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana

menandakan terdapatnya suatu infeksi.


Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada

waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.


2. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah
dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila
terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
- Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
- Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan
semakin bertambah.
- Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru. Dapat
pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
- Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium,
maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
2

3. Pemeriksaan tes kulit


Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Pemeriksaan menggunakan tes tempel.

4. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara yang paling cepat
dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan
bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian
bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan
FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya
respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja
penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi
dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan
spirometrinya menunjukkan obstruksi.
2. ETIOLOGI
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan
asma bronkhial.
a. Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga
dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat
mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
3

1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan


Cth : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut
Cth : makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
Cth : perhiasan, logam dan jam tangan
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir
yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang
serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga.
Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus
segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat
untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala
asmanya belum bisa diobati.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan,
industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau
cuti.
Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.
Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

3. EPIDEMIOLOGI
4

Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal ini
tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di
Indonesia. Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986 menunjukkan asma
menduduki urutan ke-5 dari 10 penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan
bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik dan emfisema
sebagai penyebab kematian ke- 4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995, prevalensi
asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis kronik 11/1000 dan
obstruksi paru 2/1000. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan
kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan
prevalensi asma (gejala asma 12 bulan terakhir/recent asthma) 6,2 % yang 64 % diantaranya
mempunyai gejala klasik. (Muchid dkk,2007).
Untuk indonesia antara 5 s/d 7 %. Perbandingan antara anak perempuan dan anak lakilaki 1,5 : 1, tetapi menjelang dewasa perbandingan ini sama dan pada fase menopause
perbandingan antara perempuan dan laki-laki relatif tidak jauh berbeda saat anak. Prevalensi
terjadinya asma lebih banyak pada anak kecil dari pada orang dewasa.

4. PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar
bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda
asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai
berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah
antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila
reaksi dengan antigen spesifikasinya. (Tanjung, 2003)
Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru
yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup
alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang
telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam
zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient),
5

faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini
akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus
yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga
menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. (Tanjung, 2003)
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi
karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar
bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah
akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi.
Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi
sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional
dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran
mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. (Tanjung,
2003).
Penyempitan saluran nafas ternyata tidak merata pada seluruh lapangan paru, ada daerah paru
yang hipoventilasi sehingga mengalami hipoksia. Ditandai dengan penurunan PaO 2
merupakan kelainan yang bersifat subklinis pada asma. Untuk mengatasi kejadian ini tubuh
berusaha mengkompensasi dengan meningkatkan ventilasi sehingga terjadi hiperventilasi.
Akibat dari hiperventilasi terjadi pengeluaran CO2 yang berlebihan sehingga PaCO2 menurun
akhirnya terjadilah apa yang disebut dengan alkalosis respiratorik.
Pada serangan asma yang akut terjadi hipersekresi mukus sehingga menutup alveolus dan
media pertukaran gas menjadi lebih sedikit. Hipoksia semakin berat dirasakan dan tubuh
berusaha mengkompensasi dengan menambah kapasitas hiperventilasinya yang terjadi adalah
peningkatan produksi CO2 tetapi terjadi keadaan hipoventilasi sehingga retensi CO2
menyebabkan kadar CO2 menjadi tinggi (hiperkapnia) dan kemudian asidosis respiratorik
menyusul kemudian. Hipoksia yang berlangsung lama akan menuju terjadinya asidosis
metabolik dan terjadi shunting yaitu peredaran darah paru tanpa melalui sistem pertukaran
gas yang baik dan keadaan-keadaan ini memperburuk hiperkapnia yang telah ada.

Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi duduk membungkuk
dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut. Posisi ini didapati juga pada pasien
dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Tanda lain yang menyertai sesak
napas adalah pernapasan cuping hidung yang sesuai dengan irama pernapasan. Frekuensi
pernapasan terlihat meningkat (takipneu), otot Bantu pernapasan ikut aktif, dan penderita
tampak gelisah. Pada fase permulaan, sesak napas akan diikuti dengan penurunan PaO 2 dan
PaCO2, tetapi pH normal atau sedikit naik. Hipoventilasi yang terjadi kemudian akan
memperberat sesak napas, karena menyebabkan penurunan PaO 2 dan pH serta meningkatkan
PaCO2 darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan darah dan denyut nadi sampai 110130/menit, karena peningkatan konsentrasi katekolamin dalam darah akibat respons
hipoksemia.

5. DIAGNOSIS
WORKING DIAGNOSIS
WD : Asma bronkiale
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas
dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan.
Umumnya diagnosis asma tidak sulit, terutama bila dijumpai gejala yang klasik seperti sesak
napas, batuk dan mengi. Serangan asma dapat timbul berulang-ulang dengan masa remisi
diantaranya. Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan, tetapi kadang-kadang dapat
pula hilang sendiri dengan spontan. Asma dapat pula menjadi kronik sehingga berlangsung
secara terus menerus. Penemuan pada pemeriksaan fisis penderita tergantung dari derajat
obstruksi jalan napas. Ekspirasi memanjang, mengi, hiperinflasi dada, takikardi, pernapasan
cepat, sampai sianosis dapat dijumpai pada serangan. Tetapi banyak juga penderita yang
asma yang menimbulkan mengi sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang.
Gejala Klinis
Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas mendadak, disertai fase inspirasi yang
lebih pendek dibandingkan dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyi mengi (wheezing),
batuk yang disertai serangn napas yang kumat-kumatan. Pada beberapa penderita asma,
keluhan tersebut dapat ringan, sedang atau berat dan sesak napas penderita timbul
7

mendadak, dirasakan makin lama makin meningkat atau tiba-tiba menjadi lebih berat.
(Medicafarma,2008)
Wheezing terutama terdengar saat ekspirasi. Berat ringannya wheezing tergantung cepat
atau lambatnya aliran udara yang keluar masuk paru. Bila dijumpai obstruksi ringan atau
kelelahan otot pernapasan, wheezing akan terdengar lebih lemah atau tidak terdengar
sama sekali. Batuk hamper selalu ada, bahkan seringkali diikuti dengan dahak putih
berbuih. Selain itu, makin kental dahak, maka keluhan sesak akan semakin berat.
(Medicafarma,2008)
Jenis jenis asma :
1. Berdasarkan Etiologi
a. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang
spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan
aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu
predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus
spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
(Medicafarma,2008)
Asma Ekstrinsik dibagi menjadi :
Asma ekstrinsik atopik
Sifat-sifatnya adalah sebagai berikut:
- Penyebabnya adalah rangsangan allergen eksternal spesifik dan dapat
-

diperlihatkan dengan reaksi kulit tipe 1


Gejala klinik dan keluhan cenderung timbul pada awal kehdupan, 85% kasus

timbul sebelum usia 30 tahun


Sebagian besar mengalami perubahan dengan tiba-tiba pada masa puber, dengan

serangan asma yang berbeda-beda


Prognosis tergantung pada serangan pertama dan berat ringannya gejala yang
timbul. Jika serangan pertama pada usia muda disertai dengan gejala yang lebih

berat, maka prognosis menjadi jelek.


Perubahan alamiah terjadi karena adanya kelainan dari kekebalan tubuh pada IgE
yang timbul terutama pada awal kehidupan dan cenderung berkurang di

kemudian hari
Asma bentuk ini memberikan tes kulit yang positif
8

Dalam darah menunjukkan kenaikan kadar IgE spesifik


Ada riwayat keluarga yang menderita asma
Terhadap pengobatan memberikan respon yang cepat
(Medicafarma,2008)

Asma ekstrinsik non atopik


Memiliki sifat-sifat antara lain
- Serangan asma timbul berhubungan dengan bermacam-macam alergen yang
-

spesifik
Tes kulit memberi reaksi tipe segera, tipe lambat dan ganda terhadap alergi yang
tersensitasi dapat menjadi positif
Dalam serum didapatkan IgE dan IgG yang spesifik
Timbulnya gejala cenderung pada saat akhir kehidupan atau di kemudian hari
(Medicafarma,2008)

b. Intrinsik/idiopatik (non alergik)


Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang
tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan
oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi
lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang
menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma
gabungan. (Medicafarma,2008)
Sifat dari asma intrinsik :
- Alergen pencetus sukar ditentukan
- Tidak ada alergen ekstrinsik sebagai penyebab dan tes kulit memberi hasil negatif
- Merupakan kelompok yang heterogen, respons untuk terjadi asma dicetuskan oleh

penyebab dan melalui mekanisme yang berbeda- beda


Sering ditemukan pada penderita dewasa, dimulai pada umur di atas
30 tahun dan disebut juga late onset asma
Serangan sesak pada asma tipe ini dapat berlangsung lama dan seringkali

menimbulkan kematian bila pengobatan tanpa disertai kortikosteroid.


Perubahan patologi yang terjadi sama dengan asma ekstrinsik, namun tidak dapat

dibuktikan dengan keterlibatan IgE


Kadar IgE serum normal, tetapi eosinofil dapat meningkat jauh lebih tinggi

dibandingkan dengan asma ekstrinsik


Selain itu tes serologi dapat menunjukkan adanya faktor rematoid, misalnya sel

LE
Riwayat keluarga jauh lebih sedikit, sekitar 12-48%

Polip hidung dan sensitivitas terhadap aspirin sering dijumpai


(Medicafarma,2008)

c. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik
dari bentuk alergik dan non-alergik. (Medicafarma,2008)
B. Berdasarkan Keparahan Penyakit
1. Asma intermiten
Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu, eksaserbasi ringan dalam beberapa jam
atau hari, gejala asma malam hari terjadi < 2 kali dalam 1 bulan, fungsi paru normal
dan asimtomatik di antara waktu serangan, Peak Expiratory Folw (PEF) dan Forced
Expiratory Value in 1 second (PEV1) > 80%
2. Asma ringan
Gejala muncul > 1 kali dalam 1 minggu tetapi < 1 kali dalam 1 hari, eksaserbasi
mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi > 2 kali dalam 1
bulan, PEF dan PEV1 > 80%
3. Asma sedang (moderate)
Gejala muncul tiap hari, eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma
malam hari terjadi >1 kali dalam 1 minggu, menggunakan inhalasi beta 2 agonis kerja
cepat dalam keseharian, PEF dan PEV1 >60% dan < 80%
4. Asma parah (severe)
Gejala terus menerus terjadi, eksaserbasi sering terjadi, gejala asma malam hari
sering terjadi, aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60%
C. Berdasarkan terkontrol atau tidaknya asma
Dibagi menjadi 3 yaitu asma terkontrol, asma terkontrol sebagian (partial), dan asma
tak terkontrol.

Hal yang membedakan antara asma dan penyakit paru lainnya adalah pada saat serangan asma
dapat hilang dengan ataupun tanpa obat-obatan.

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
a. Bronkitis kronis
10

Peradangan dan hipersekresi bronkus yang kronik dan sering berjalan progresif lambat
yang ditandai dengan batuk kronik mengeluarkan sputum 3 bulan dalam setahun paling
sedikit terjadi dua tahun. Gejala utama batuk disertai sputum biasanya terjadi pada
penderita > 35 tahun dan perokok berat. Gejalanya berupa batuk di pagi hari, lama-lama
disertai mengi, menurunya kemampuan kegiatan jasmani pada stadium lanjut ditemukan
sianosis dan tanda-tanda kor pumonal.
b. Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi(ektasis) dan
distorsi bronkus local yang bersifat patologis dan berjalan kronik, presisten atau
irreversible. Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam
dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastic, otot-otot polos bronkus, tulang
rawan dan pembuluh darah. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil, bronkus
besar umumnya jarang.
Ciri khas dari penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya
hemoptisis(50% kasus), sesak nafas (dispnea) dan pneumonia berulang serta demam
berulang karena sering mengalami infeksi berulang.
c. Emfisema paru
Terjadi perubahan anatomis yang irreversible disertai kehilangan dinding alveolus. Sesak
merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan mengi jarang menyertainya.
Penderita biasanya kurus. Berbeda dengan asma, emfisema biasanya tidak ada fase
remisi, penderita selalu merasa sesak pada saat melakukan aktivitas. Pada pemeriksaan
fisik di dapat dada seperti tong, gerakan nafas terbatas, hipersonor, pekak hati menurun,
suara vesikuler sangat lemah. Pada foto dada di dapat adanya hiperinflasi.
c. Gagal jantung kiri
Gejala gagal jantung yang sering terjadi pada malam hari dikenal sebagai paroksisimal
dispneu. Penderita tiba-tiba terbangun pada malam hari karena sesak, tetapi sesak
berkurang jika penderita duduk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya kardiomegali
dan udem paru.

d. Emboli paru
11

Hal-hal yang dapat menimbulkan emboli paru adalah gagal jantung dan tromboflebitis
dengan gejala sesak nafas, pasien terbatuk-batuk disertai darah, nyeri pleura, keringat
dingin, kejang, dan pingsang. Pada pemeriksaan fisik didapat ortopnea, takikardi, gagal
jantung kanan, pleural friction, gallop, sianosis, dan hipertensi.
6. PENATALAKSANAAN
- Medikamentosa
Tujuan pengobatan simpatomatik adalah :
a. Mengatasi serangan asma dengan segera.
b. Mempertahankan dilatasi bronkus seoptimal mungkin.
c. Mencegah serangan berikutnya.(Medlinux,2008)

Obat pilihan untuk pengobatan simpatomimetik adalah :


a. Bronkodilator golongan simpatomimetik (beta adrenergik / agonis beta)
Adrenalin (Epinefrin) injeksi. Dosis dewasa : 0,2-0,5 cc dalam larutan 1 : 1.000
injeksi subcutan. Dosis bayi dan anak : 0,01 cc/kg BB, dosis maksimal 0,25 cc.
Bila belum ada perbaikan, bisa diulangi sampai 3 X tiap 15-30 menit.
Efedrin. Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet 25 mg. Aktif dan efektif

diberikan peroral.
Salbutamol. Salbutamol merupakan bronkodilator yang sangat poten bekerja
cepat dengan efek samping minimal. Dosis : 3-4 X 0,05-0,1 mg/kg BB
(Medlinux,2008)

b. Bronkodilator golongan teofilin


Teofilin. Dosis : 16-20 mg/kg BB/hari oral atau IV.
Aminofilin. Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet 200 mg dan injeksi
240 mg/ampul. Dosis intravena : 5-6 mg/kg BB diberikan pelan-pelan. Dapat
diulang 6-8 jam kemudian , bila tidak ada perbaikan. Dosis : 3-4 X 3-5 mg/kg
BB (Medlinux,2008)
d. Kortikosteroid.
Obat ini tersedia di Puskesmas tetapi sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan
pengobatan dengan bronkodilator baik pada asma akut maupun kronis tidak
memberikan hasil yang memuaskan dan keadaan asma yang membahayakan jiwa
penderita (contoh : status asmatikus). Dalam pemakaian jangka pendek (2-5 hari)
kortikosteroid dapat diberikan dalam dosis besar baik oral maupun parenteral,
12

tanpa perlu tapering off. Obat pilihan hidrocortison dan dexamethason


(Medlinux,2008)
e. Ekspektoran.
Adanya mukus kental dan berlebihan (hipersekresi) di dalam saluran pernafasan
menjadi salah satu pemberat serangan asma, oleh karenanya harus diencerkan dan
dikeluarkan. Sebaiknya jangan memberikan ekspektoran yang mengandung
antihistamin, sedian yang ada di Puskesmas adalah Obat Batuk Hitam (OBH),
Obat Batuk Putih (OBP), Glicseril guaiakolat (GG) (Medlinux,2008)
e. Antibiotik
Hanya diberikan jika serangan asma dicetuskan atau disertai oleh rangsangan
infeksi saluran pernafasan, yang ditandai dengan suhu yang meninggi.
(Medlinux,2008)
-

Non Medikamentosa
Pendidikan / edukasi kepada penderita dan keluarga
Pengobatan yang efektif hanya mungkin berhasil dengan penatalaksanaan yang
komprehensif, dimana melibatkan kemampuan diagnostik dan terapi dari seorang
dokter Puskesmas di satu pihak dan adanya pengertian serta kerjasama penderita
dan keluarganya di pihak lain. Pendidikan kepada penderita dan keluarganya
adalah menjadi tanggung jawab dokter Puskesmas, sehingga dicapai hasil
pengobatan yang memuaskan bagi semua pihak. Beberapa hal yang perlu
diketahui dan dikerjakan oleh penderita dan keluarganya adalah :
1. Memahami sifat-sifat dari penyakit asma :
- Bahwa penyakit asma tidak bisa sembuh secara

sempurna.

- Bahwa penyakit asma bisa disembuhkan tetapi pada suatu saat oleh karena
faktor tertentu bisa kambuh lagi.
- Bahwa kekambuhan penyakit asma minimal bisa dijarangkan dengan
pengobatan jangka panjang secara teratur.
2. Memahami faktor yang menyebabkan serangan atau memperberat serangan,
seperti :
- Inhalan : debu rumah, bulu atau serpihan kulit binatang anjing, kucing, kuda dan
spora jamur.
- Ingestan : susu, telor, ikan, kacang-kacangan, dan obat-obatan tertentu.
- Kontaktan : zalf kulit, logam perhiasan.
13

- Keadaan udara : polusi, perubahan hawa mendadak, dan hawa yang lembab.
- Infeksi saluran pernafasan.
- Pemakaian narkoba atau napza serta merokok.
- Stres psikis termasuk emosi yang berlebihan.
- Stres fisik atau kelelahan
3. Memahami faktor-faktor yang dapat mempercepat kesembuhan, membantu
perbaikan dan mengurangi serangan :
- Menghindari makanan yang diketahui menjadi penyebab serangan (bersifat
individual).
- Menghindari minum es atau makanan yang dicampur dengan es.
- Berhenti merokok dan penggunakan narkoba atau napza.
- Menghindari kontak dengan hewan diketahui menjadi penyebab serangan.
- Berusaha menghindari polusi udara (memakai masker), udara dingin dan
lembab.
- Berusaha menghindari kelelahan fisik dan psikis.
- Segera berobat bila sakit panas (infeksi), apalagi bila disertai dengan batuk dan
pilek.
- Minum obat secara teratur sesuai dengan anjuran dokter, baik obat simptomatis
maupun obat profilaksis.
- Pada waktu serangan berusaha untuk makan cukup kalori dan banyak minum air
hangat guna membantu pengenceran dahak.
- Manipulasi lingkungan : memakai kasur dan bantal dari busa, bertempat di
lingkungan dengan temperatur hangat.
5. Memahami kegunaan dan cara kerja dan cara pemakaian obat obatan yang
-

diberikan oleh dokter :


Bronkodilator : untuk mengatasi spasme bronkus.
Steroid : untuk menghilangkan atau mengurangi peradangan
Ekspektoran : untuk mengencerkan dan mengeluarkan dahak.
Antibiotika : untuk mengatasi infeksi, bila serangan asma dipicu adanya infeksi

saluran nafas.
6. Mampu menilai kemajuan dan kemunduran dari penyakit dan hasil pengobatan.

14

7. Mengetahui kapan self treatment atau pengobatan mandiri harus diakhiri dan
segera mencari pertolongan dokter.
Penderita dan keluarganya juga harus mengetahui beberapa pandangan yang salah
tentang asma, seperti :
1. Bahwa asma semata-mata timbul karena alergi, kecemasan atau stres, padahal
keadaan

bronkus

yang

hiperaktif

merupakan

faktor

utama.

2. Tidak ada sesak bukan berarti tidak ada serangan.


3. Baru berobat atau minum obat bila sesak nafas saja dan segera berhenti minum
obat bila sesak nafas berkurang atau hilang.

7. PREVENTIF
Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari pengobatan penyakit asma.
Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti
mudah untuk mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya. Usaha menjaga
kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat
yang cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila
dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau ginjal yang berat.
Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran pernapasan, sehingga dahak tadi
mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental,
liat dan sukar dikeluarkan. Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang
kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang berlebihan, kurang
minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas akibat bernapas cepat dan
dalam.
Menjaga kebersihan lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan
penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak
lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur
merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur sesedikit
15

mungkin berisi barang-barang untuk menghindari debu rumah. Hewan peliharaan, asap rokok,
semprotan nyamuk, atau semprotan rambut dan lain-lain mencetuskan penyakit asma.
Lingkungan pekerjaan juga perlu mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan
antara lingkungan kerja dengan serangan penyakit asmanya.
Menghindari Faktor Pencetus
Alergen yang tersering menimbulkan penyakit asma adalah tungau debu sehingga cara-cara
menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen lain seperti kucing, anjing, burung, perlu
mendapat perhatian dan juga perlu diketahui bahwa binatang yang tidak diduga seperti kecoak
dan tikus dapat menimbulkan penyakit asma. Infeksi virus saluran pernapasan sering
mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang
sedang terserang influenza. Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai atau penuh sesak.
Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara yang ekstrim, berlari-lari
mengejar kendaraan umum atau olahraga yang melelahkan. Jika akan berolahraga, lakukan
latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah serangan penyakit
asma. Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat
atau uap zat-zat kimia dan udara kotor lainnya harus dihindari. Perhatikan obat-obatan yang
diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung (beta-bloker), obatobat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna (tartrazine) dan zat pengawet makanan
(benzoat) juga dapat menimbulkan penyakit asma.
Menggunakan obat-obat antipenyakit asma
Pada serangan penyakit asma yang ringan apalagi frekuensinya jarang, penderita boleh memakai
obat bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul maupun sirup. Tetapi bila ingin agar gejala
penyakit asmanya cepat hilang, jelas aerosol lebih baik. Pada serangan yang lebih berat, bila
masih mungkin dapat menambah dosis obat, sering lebih baik mengkombinasikan dua atau tiga
macam obat. Misalnya mula-mula dengan aerosol atau tablet/sirup simpatomimetik
(menghilangkan gejala) kemudian dikombinasi dengan teofilin dan kalau tidak juga menghilang
baru ditambahkan kortikosteroid. Pada penyakit asma kronis bila keadaannya sudah terkendali
dapat dicoba obat-obat pencegah penyakit asma. Tujuan obat-obat pencegah serangan penyakit
16

asma ialah selain untuk mencegah terjadinya serangan penyakit asma juga diharapkan agar
penggunaan obat-obat bronkodilator dan steroid sistemik dapat dikurangi dan bahkan kalau
mungkin dihentikan.
8. KOMPLIKSASI
a. Pneumothorax
b. Pneumomediastinum atau Emfisema subkutis
c. Atelektasis
d. Gagal nafas
e. Bronkitis
f. Fraktur iga
9. PROGNOSIS
- Pada umumnya bila segera ditangani dengan adekuat pronosa adalah baik.
- Asma karena faktor imunologi (faktor ekstrinsik) yang muncul semasa kecil rognosanya
-

lebih baik dari pada yang muncul sesudah dewasa.


Angka kematian meningkat bila tidak ada fasilitas kesehatan yang memadai.

17

BAB III
KESIMPULAN
Hipotesa diterima, pasien dengan sesak nafas, batuk berdahak dan tanpa demam, menderita
Asma Bronkial.
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan.
Umumnya diagnosis asma tidak sulit, terutama bila dijumpai gejala yang klasik seperti sesak
napas, batuk dan mengi. Serangan asma dapat timbul berulang-ulang dengan masa remisi
diantaranya. Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan, tetapi kadang-kadang dapat pula
hilang sendiri dengan spontan. Asma dapat pula menjadi kronik sehingga berlangsung secara
terus menerus. Penemuan pada pemeriksaan fisis penderita tergantung dari derajat obstruksi jalan
napas. Ekspirasi memanjang, mengi, hiperinflasi dada, takikardi, pernapasan cepat, sampai
sianosis dapat dijumpai pada serangan. Tetapi banyak juga penderita yang asma yang
menimbulkan mengi sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang.
Untuk menghindari adanya komplikasi, diperlukan diagnose tepat dan pengobatan yang tepat
sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi bahkan kematian.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Setiati S. Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed; Jilid:1. Jakarta:
FKUI; 2006. 404-14.
2. Michell RN, et al. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins dan Cotran. 7th ed.
Jakarta: EGC; 2008.
3. Gunawan Gan S, et al. Farmako dan Terapi. 5th ed. Jakarta: EGC; 2007.
4. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. 3rd ed.
Jakarta: FKUI; 2009.
5. Santoso Mardi, Kartadinata Henk, Hendra Wong, et al. Buku panduan ketrampilan
medik. Jakarta : FK UKRIDA ; 2009.
6. Kee Joyce LeFever. Pedoman pemeriksaan laboratorium dan diagnostik. Ed. keenam.
Jakarta: EGC.2008.
7. Ward Jane, Wiener Charles M, Leach Richard M et al. At a glance sistem respirasi. Ed.
kedua. Jakarta: Balai Penerbit Erlangga; 2008.
8. Dacre Jane, Kopelman Peter. Buku saku keterampilan klinis. Jakarta: EGC; 2004.
9. Asma bronkial.; 2003. Accesed: 27 Juli 2010. Available from URL: Diunduh dari
http://library.usu.ac.id
10. Asma Bronkial; 23 Desember 2009. Accesed: 27 Juli 2010. Available from URL:
http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/23/asma-bronkial/
11. Dr. Galih Endradita M. Asma Bronkial. Accesed: 27 Juli 2010. Available from URL:
http://www.scribd.com/doc/28707905/ASMA-BRONKIAL
19

20