Anda di halaman 1dari 7

RUMUS LULUS UN FISIKA

 pengukuran 

Gerak Melingkar Beraturan (GMB)
* Rumus : θ = ω t
s=θR

* Pembacaan jangka sorong :
3

4

x = 35 mm + 0,7 mm
= 35,7 mm
(3 angka penting)
Ketelitian = 0,1 mm
Ketidakpastian :
∆x = 1 x 0,1 mm

5

0

10

2

v
= ω2 R
ω=2πf
R
v2
Fs = m as = m
= m ω2 R
R
as =

* 2 roda seporos

= 0,05 mm
Jika ketidakpastian dimasukkan : x = (35,7 ± 0,05) mm
(4 angka penting)
* Pembacaan mikrometer skrup :
x = 3,5 mm + 0,26 mm
= 3,76 mm
1 2
3
30
(3 angka penting)
Ketelitian = 0,01 mm
Ketidakpastian :
20
∆x = 1 x 0,01 mm
2 

Vektor resultan
* Resultan 2 vektor : VR = V12 + V22 + 2 V1 V2 cos θ
* Selisih 2 vektor : VS = V12 + V22 − 2 V1 V2 cos θ

* 2 roda dihubungkan tali
v1 = v2
ω1 R1 = ω2 R2
f1 R1 = f2 R2
* 2 roda bersinggungan

=

s

t

(vo + vt) t

t

s  

Hukum II Newton : ∑F = m a
Hukum III Newton : Faksi = Freaksi

* Bidang datar kasar : 
Diam (a = 0)
F ≤ µs N
gaya gesek : fs = F

N

diperlambat

• •
• •

f

F

w 

Bergerak : F > µs N
gaya gesek : fk = µk N
* Bidang miring licin :

N

∑Fx = m g sin θ
a = g sin θ

m

gs

θ
in

θ

w=mg

* Bidang miring kasar :
N 

Benda diam : (a = 0)
fs = m g sin θ
m

gs

θ
in

f

θ 

Benda tepat akan bergerak :
µs = tan θ

+ 2as
dipercepat

Hukum I Newton :
benda semula diam → tetap diam
∑F = 0
benda semula ber-GLB → tetap GLB

θ
os

* Grafik
v

v o2 

gc

v 2t

1
2 

Hukum Newton dan penerapannya

m

vt = vo + a t
s = vo t + 12 a t2 =

v1 = v2
ω1 R1 = ω2 R2
f1 R1 = f2 R2 

Benda bergerak :
fk = µk m g cos θ
a = g (sin θ - µk cos θ) 

Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
* Rumus :

2
1

θ
os

+ Vy2

2
1

gc

3. Resultannya : VR =

Vx2

1

m

* Resultan 3 vektor (metode analitis) :
1. Hitung komponen x dan y dari tiap-tiap vektor (V1x,
V2x, V3x, V1y, V2y, dan V3y) ⇒ V1x = V1 cos θ
V1y = V1 sin θ
θ = sudut apit antara V1 dengan sumbu x. 
V1x = positif, jika ke kanan
= negatif, jika ke kiri 
V1y = positif, jika ke atas
= negatif, jika ke bawah
2. Jumlahkan : Vx = V1x + V2x + V3x
Vy = V1y + V2y + V3y

2

f1 = f2
ω1 = ω2
v1
v
= 2
R1 R 2

= 0,005 mm
Jika ketidakpastian dimasukkan : x = (3,76 ± 0,005) mm
(4 angka penting)
* Angka penting : - semua angka bukan nol
- semua angka nol yang tidak berada
di deretan depan. 
Hasil penjumlahan atau pengurangan memiliki
angka di belakang koma sebanyak bilangan yang
paling sedikit angka di belakang komanya 
Hasil perkalian atau pembagian memiliki angka
penting sebanyak bilangan yang paling sedikit
angka pentingnya

v= ωR

2 

Benda bergerak lurus beraturan :

w=mg

µk = tan θ

t

1

... y n ) ∑ (A n .* Katrol : Katrol kasar bermassa M : (m 2 − m 1 ) a= g (m1 + m 2 + 12 M) * m 2 − m1 g m1 + m 2 Tegangan tali : T = m1 (g + a) = m2 (g – a) Percepatan : a = T T w1 * Katrol dan bidang datar licin : w1 T N rA2 : w mA = massa planet A mB = massa planet B rA = jarak planet A dari matahari rB = jarak planet B dari matahari yo = 1 t 3 t = tinggi segitiga  Jajaran genjang. persegi. dan persegi panjang : yo = 1 t t = tinggi 2 I = m r2 * Momen Inersia Partikel :  Momen Inersia Sistem Partikel : w2 * 2 Momentum sudut : L = I ω  Untuk partikel : L = I ω = m v r  Momentum sudut dengan momen gaya : τ = dt  Hukum kekekalan momentum sudut : ⇔ i * Momen inersia benda tegar homogen :  Batang poros di pusat : I = 1 m l2  Usaha dan energi Usaha : W = F s cos θ Energi potensial : EP = m g h  Energi kinetik : EK = 1 m v2   2  Hukum Kekeakalan Energi Mekanik : (berlaku jika tidak ada gaya luar) EP1 + EK1 = EP2 + EK2 * Hubungan usaha dan perubahan energi : (jika ada gaya luar)  Terjadi perubahan tinggi dan kecepatan : W = ∆EM = EM2 – EM1 = (EP2 + EK2) – (EP1 + EK1) = (m g h2 + 1 m v22 ) – (m g h1 + 1 m v12 ) 2 Silinder pejal : I = 1 m l2 3 I = 1 m R2 2 Silinder tipis berongga (cincin) : I = m R2  Bola pejal : I = 2 m R2 5 I = 2 m R2 3 Bola berongga : * Benda menggelinding dari puncak bidang miring tanpa kecepatan awal (vo = 0) v= 2gh 1+ k → k= I mR2 v = kecepatan benda di dasar bidang miring h = tinggi puncak bidang miring 2  Elastisitas F A ∆l e= l Fl σ E= = e A ∆l F = k ∆x Ep = 1 k ∆x2 = 1 F ∆x  Tegangan (stress) : σ=  Tegangan (strain) :  Modul Young :  Gaya pegas : Energi potensial pegas :   2  Terjadi perubahan kecepatan saja : W = EK2 – EK1 = 1 m v22 – 1 m v12 12  I1 ω1 = I2 ω2 2 I = ∑ (m i ri2 ) = m1 r12 + m 2 r22 + m 3 r32 + .. x n ) y= x= ∑A ∑A  Segitiga : T1 w1 (m 2 − m1 ) a= g (m1 + m 2 + 12 M ) m1 m 2 rB2 N dL r2 * Gaya tarik matahari terhadap planet A dan B : FA : FB = w2 w2  diam atau bergerak dengan kecepatan tetap: N = m g  bergerak ke atas : N = m (g + a)  bergerak ke bawah : N = m (g – a) mB m2 m1 * Katrol kasar bermassa M dan bidang datar licin : T  mA T2 w1 * Lift :  Gaya Gravitasi : F = G T1 w2 N m2 a= g m1 + m 2 T = m1 a = m2 (g – a) M  2 2  Tetapan gaya EA : k= l  Pegas Seri :  Pegas Paralel : kp = k1 + k2 1 ks = 1 k1 + 1 k2 2 .. belah ketupat. y) ∑ (A n . Batang poros di ujung : T2  Terjadi perubahan tinggi saja : W = EP2 – EP1 = m g h2 – m g h1  Dinamika Rotasi  M Energi kinetik rotasi : EKr = 1 I ω2 L1 = L2  Titik berat benda 2 dimensi : Z (x.

. ∆t = ∆p = luas di bawah grafik F(t) I = ∆p ⇒ F .. h4... = e= h1 h2 h3 h n −1  Fluida dinamis  Debit :Q= V t  Jika massa jenis gas tetap : = f N k ∆T x = 2 h (H − h )  Usaha : Isobarik : W = P ∆V Isokhorik : W = 0 ∫ P dV V1 * Mesin Carnot : ( ) ∆P = beda tekanan ke atas dan ke bawah pada sayap A = luas sisi bawah sayap ρ = massa jenis udara v1 dan v2 = laju aliran udara di atas dan di bawah sayap Isotermik : W = n R T ln V2 V1 Adiabatik : W = –∆U v  Gaya angkat pesawat : F = ∆P A = 12 ρ A v12 − v22 P1 P2 f = 3 ⇒ monoatomik f = 5 ⇒ diatomik 300 – 1000 K f = 5 ⇒ diatomik T > 1000 K V2 x T1 = T2 Hukum I Termodinamika : Q = ∆U + W h Jarak mendatar maksimum jatuhnya air di tanah : v1 = v2  W= H T1 T2  Termodinamika :  Perubahan energi dalam :  Persamaan v = 2gh v1 = v2  Jika massa gas tetap : ∆U = f n R ∆T kontinuitas : A1 v1 = A2 v2 d12 v1 = d22 v2 * Azas Bernoulli : P1 + ρ g h1 + 12 ρ v12 = P2 + ρ g h2 + 12 ρ v22 3k T 3R T 3P = = mo Mr ρ * Kelajuan efektif : vRMS = =Av  Laju pancaran zat cair dari dinding tangki : n= m Mr N = n NA P V = n R ∆T = N k T h v 4  Teori kinetik Gas :  Persamaan umum gas : θ M = massa balok m = massa peluru Y  Konveksi : m1 v1 + m2 v2 = m1 v1' + m 2 v 2'  Jika m1 = m2 ⇒ terjadi pertukaran kecepatan v1' = v2 dan v2' = v1 +m 2 g h v = Mm Qterima = Qlepas * Perpindahan kalor :  Tumbukkan Lenting Sempurna (TLS) :  Berlaku hukum kekekalan energi kinetik  Rumus : e = 1 ⇒ v1 + v1' = v2 + v2' v' = 2 g h Kalor & perubahan suhu : Q = m c ∆t = C ∆t Kalor & perubahan wujud : Q = m L   Q 2 T2 = Q1 T1 T2 < T1 Q2 < Q1 Q T W Q1 − Q 2 = = 1− 2 = 1− 2 Q1 Q1 Q1 T1 T' 1− η  Merubah efisiensi pada T2 tetap : 1 = T1 1 − η' Efisiensi : η=  Merubah efisiensi pada T1 tetap : T2' 1 − η' = T2 1 − η 3 . Impuls dan Momentum  kalor Momentum  Impuls : p=mv : I = F .. h3. h3 h2 h4 hn = = = . dan seterusnya. ∆t = m (v2 – v1)  v ' − v2'    Koefisien restitusi : e = – 1  v1 − v 2    * Hukum kekekalan momentum : p1 + p2 = p1' + p2' m1 v1 + m2 v2 = m1 v1' + m 2 v 2'  * Azas Black : A ∆T Q =k t d  pada 2 benda yang disambung : Q Q   =  X  t X  t Y  Konduksi : Q = h A ∆T t Q  Radiasi : P= = e σ A T4 t  Jika suhu benda berubah dari T1 menjadi T2 : P1  T1  =  P2  T2   Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali (TTLSS) :  Rumus : e = 0 ⇒ v1' = v2' = v' m1 v1 + m2 v2 = (m1 + m2) v'  Ayunan balistik : * Energi kinetik rata-rata gas : EK = 32 k T  Jika suhu gas berubah dari T1 menjadi T2 : EK1 T1 = EK 2 T2 v'  Tumbukan Lenting Sebagian (TLSb) v ' − v2'  Rumus : 0 < e < 1 ⇒ e = 1 v 2 − v1  Contoh TLSb : Bola dilepaskan dari ketinggian h1 memantul secara berturut-turut mencapai ketinggianmaksimum h2.

.. 2. A Taraf intensitas : TI = 10 log sudut fase : θ = ω t m k x  fase : ϕ= t m x T λ P = daya = I . 1. k = 9 x 109 Nm2/C2 r2  Muatan ke-3 mengalami gaya yang resultannya nol :  q1 dan q2 sejenis ⇒ q3 di dalam q1 q 2 = 2  q1 dan q2 tak sejenis ⇒ q3 di luar 2 r13 r23 * Gaya Coulomb : F = k  q1 > q 2 ⇒ q3 lebih dekat ke q2  q1 < q 2 ⇒ q3 lebih dekat ke q1 4 . arah rambat ke kiri ω = 2π f = 2π T 2 π k= λ   beda fase 2 titik pada suatu gelombang : ∆ϕ = ∆x λ * Efek Doppler : v ± vp fp = fs v m vs Pendengar Sumber mendekat menjauh + vp – vp – vs + vs  Listrik statis q1 q 2 . λL Lebar terang pusat : y = d  GELOMBANG arah getar pertama ke atas n = 0. d= 1 N Orde maksimum : nmaks = d λ  Bunyi * Intensitas dan taraf intensitas : Intensitas : I= P . 3. n = 0. 1. .. terbalik. Alat optik  optik fisik * Mikroskop : Perbesaran : M = Mob x Mok s' 1 1 1 Mob = ob ⇒ = + s ob f ob s ob s ok sn s ok s Mok = n f ok Mok = * Interferensi celah ganda : Garis terang : d sin θ = n λ .. ⇒ umum Mok = Interferensi : gejala superposisi atau penggabungan 2 gelombang koheren pada suatu titik  Difraksi : gejala pelenturan gelombang ketika melalui penghalang atau celah sempit  ⇒ tak akomodasi (sok = fok) sn + 1 ⇒ akomodasi maksimum f ok s ok' = −s n Jarak garis terang dan gelap yang berdekatan : λL p= 2d 2p = Panjang mikroskop = jarak antara obyektif dan okuler d = s ob' + sok  Sifat bayangan yang dibentuk obyektif : nyata. terbalik. . d = jarak 2 goresan N = tetapan kisi * Difraksi pada celah tunggal : Garis gelap : d sin θ = n λ .... Garis gelap : d sin θ = n λ . diperbesar. .22 λ L dm = Resolusi minimum : D * Persamaan simpangan : arah getar pertama ke atas n = 0.22 λ Sudut resolusi minimum : θ m = D 1. . Io energi waktu Io = 10–12 W/m2 r  I 2 titik berjarak r1 dan r2 dari sumber : 1 =  2  I 2  r1  2 2 r  r TI2 = TI1 + 10 log  1  = TI1 + 20 log 1 r 2  r2  n buah sumber identik : In = n I1 TIn = TI1 + 10 log n arah rambat ke kanan y = ±A sin (ω t m k x) λ ω v=fλ= = T k n = 1. diperbesar..  Sifat bayangan akhir (dibentuk okuler) : maya.. * Teropong Perbesaran :  Teropong bintang :  Teropong bumi : f M = ob (tak akomodasi) f ok d = fob + fok d = fob + 4fp + fok (fp = jarak fokus lensa pembalik)  Teropong panggung : d = fob + fok (okulernya lensa cekung) sinar inframerah gelombang mikro gelombang TV gelombang radio frekuensi makin besar sinar tampak ungu nila biru hijau kuning jingga merah panjang gelombang makin besar  Spektrum gelombang elektromagnetik : sinar γ sinar X sinar ultraviolet λL d = jarak 2 garis terang berurutan = jarak 2 garis gelap yang berdekatan * Interferensi pada kisi : Garis terang : d sin θ = n λ . 2. 2. 1.. * Difraksi mempengaruhi resolusi alat optik : 1... 2.

R) = 0  I positif jika arus searah putaran loop  I negatif jika arus berlawanan arah putaran loop  E positif   akibat perubahan fluks : ξ = -N dφ dt  akibat perubahan arus : ξ = -L di dt  akibat kawat memotong tegak lurus garis gaya : ξ = B. XL V dan I berbeda fase π2 atau 90o.4 mA 1 2 qV= 10 q2 2C 30 20 40 50 mA 0  Pada partikel bermuatan : F = q V B sin θ  Aturan tangan kanan : Ibu jari → arah v Keempat jari lurus → arah B Telapak tangan → arah F untuk muatan positif Punggung tangan → arah F untuk muatan negatif  Pada Dua kawat lurus sejajar : F = 0 C=  Pada kawat berarus listrik : F = B i l sin θ  Aturan tangan kanan : Ibu jari → arah i Keempat jari lurus → arah B Telapak tangan → arah F µ o i1 i 2 l 2 πa → tarik-menarik → tolak-menolak i1 dan i2 searah i1 dan i2 berlawanan arah  Induksi elektromagnetik 5 10  Φ = B A cos θ Fluks Magnet : Hukum Lenz : “Arah arus induksi menentang perubahan yang menimbulkannya”. µ o iN 2 πa f = frekuensi arus bolak-balik (Hz) ω = frekuensi sudut arus bolak-balik (Hz) XL = reaktansi induktif (Ω) 5 . V mendahului I.ω sinωt * Induktansi diri : E negatif  Di pertangahan selenoida : : I maks 2 Vef = Vmaks 2  Rangkaian Resistor (R) : V dan I sefase V = I .* Kuat medan listrik : E = k q * Gaya Lorenz r2  Titik P mengalami kuat medan yang resultannya nol :  q1 dan q2 sejenis ⇒ P di dalam q1 q 2 = 2  q1 dan q2 tak sejenis ⇒ P di luar 2 r13 r23  q1 > q 2 ⇒ P lebih dekat ke q2  q1 < q 2 ⇒ P lebih dekat ke q1 * Kapasitor keping sejajar : εr εo A d q C= V  Energi : kapasitas :  sebanding dengan luas keping (A) dan permitivitas relatif bahan (εr)  berbanding terbalik dengan jarak kedua keping (d) W= 1 2 C V2 =  Listrik dinamis : * Pembacaan amperemeter dan voltmeter : Contoh : (lihat gambar di samping) I = 34 x 5 mA 50 = 3.l.B. * GGL Induksi :  * Hukum Ohm : I= V I Daya listrik : V2 P=VI=I R= R Energi listrik : W = V I t = I2 R t = 2 V2 t R * Hukum I Kirchhoff : ∑Imasuk = ∑Ikeluar * Hukum II Kirchoff : ∑E + ∑(I.A.R  Rangkaian Induktor (L) : XL = ω L = 2π f L V = I .v sin α  arah gaya Lorentz berlawanan dengan arah v  arah arus induksi ikuti kaedah tangan kanan  Kumparan berputar * Transformator : NP : NS = VP : V S η= Efisiensi :  Nilai efektif dan maksimum : I ef = µ iN  Diujung solenoida : B= µo i N 2l  Di pusat toroida berjari-jari efektif a : B = NP : NS = I S : I P  Arus Bolak-Balik  Di pusat kawat melingkar berjari-jari a : B = o 2a  Aturan tangan kanan : Ibu jari → arah B Lipatan 4 jari lainnya → arah i µo i N l PS PP Trafo ideal (η = 100%) : µ i B= µo N2 A l L=  Medan Magnet * Induksi magnetik  Berjarak a dari kawat lurus : B= o 2 πa  Aturan tangan kanan : Ibu jari → arah i Lipatan 4 jari lainnya → arah B ξ = N.

1) Eo * Daya radiasi :  Teori Relativitas Khusus Menurut Einstein : Energi kinetik relativistik :  Radiasi benda hitam Z = impedansi (Ω) P = daya (W)  m = γ mo Relativitas massa : mo = massa benda diam m = massa benda bergerak R cos θ = Z = faktor daya XL = XC Lo γ Lo = panjang benda menurut pengamat yang diam relatif terhadap benda L = panjang benda menurut pengamat yang bergerak relatif terhadap benda  E= 1243 λ EK c EK = h f – Wo = h – Wo 0 λ fo f Wo = fungsi kerja atau energi .Wo ambang bahan  EK :  makin besar jika frekuensi cahaya diperbesar  tidak dipengaruhi intensitas cahaya (foton)  Arus fotoelektron :  makin besar jika intensitas foton diperbesar  tidak dipengaruhi frekuensi cahaya Potensial henti (V) ⇒ e V = EK 6 .672 . V = IZ = ∆to = selang waktu menurut pengamat yang bergerak terhadap bumi ∆t = selang waktu menurut pengamat yang diam terhadap bumi 2 VL = I X L . R2 + (VL − VC VC = I XC )2 X − X C VL − VC tg θ = L = R VR P= 2 I ef Z cos θ = 2 I ef  R  Hubungan Sifat XL dan XC Rangkaian Keterangan   Resistif V dan I sefase terjadi resonansi dengan frekuensi resonansi : fres = 1 1 LC 2π XL > XC Induktif V mendahului I dengan beda fase θ XL < XC Kapasitif I mendahului V dengan beda fase θ  Eo = mo c2 Energi total : E = γ Eo Momentum relativistik : p= E 2 − Eo2 c2 P = e σ A T4 C T λm = panjang gelombang yang sesuai untuk intensitas radiasi maksimum C = tetapan pergeseran Wien (= 2. XC = 1 = Rangkaian Kapasitor (C) : ωC 1 2π f C Kontraksi panjang : L=  Dilatasi waktu : ∆t = γ ∆to V = I . XC = reaktansi kapasitif (Ω)  Rangkaian Seri R-L-C : Z = R + (X L − X C ) 2 VR = I R .untuk benda mengkilat e = 0 σ = 5. XC V dan I berbeda fase π2 atau 90o. I mendahului V.898 .63 x 10-34 J s)  cara lain (dengan dalil pitagoras) : jika : v = xr c 2 Energi diam : e = emisivitas (0 < e < 1) : . 10-3 m K) * Hukum pergeseran Wien : λm = Penjumlahan kecepatan : Menurut Galileo : v12 = v1P + vP2 v12 = v1P + v P 2 v v 1 + 1P 2 P 2 c v1P = kecepatan benda 1 relatif terhadap pengamat v2P = kecepatan benda 2 relatif terhadap pengamat v12 = kecepatan benda 1 relatif terhadap benda 2 c = cepat rambat cahaya (= 3 x 108 m/s) Konstanta transformasi Laplace : γ= maka : γ = yr 1 dimana : r = x +y 2 Jika E dalam eV dan λ dalam nm : * Efek fotolistrik : 2 1− v c2 r y x 2  Teori kuantum * Menurut Planck : “Radiasi gelombang elektromagnetik terdiri dari paket-paket energi yang disebut kuanta energi” c Kuanta energi (energi foton) : E = h f = h λ c Jika ada n buah foton : E=nhf=nh λ h = tetapan Planck (= 6.untuk benda hitam sempurna e = 1 . 10-8 W m-2 K-4 = tetapan Stefan Boltzman vp2 = –v2p  Ek = E – Eo = (γ .

Sinar partikel sifat radiaoktif Alfa (α) Inti atom  Dibelokkan oleh medan 4 magnet atau medan listrik 2 He  Daya tembus terkecil  Daya ionisasi terbesar Beta (β) Elektron  Dibelokkan oleh medan 0 magnet atau medan listrik −1 e Gamma Foton  Tidak gibelokkan oleh medan 0 magnet atau medan listrik (γ) γ 0  Daya tembus terbesar  Daya ionisasi terkecil Partikel lain : 11 p = proton 0 −1 β = positron 2 1 H = deutron 1 0 n = netron 1 1 H = hidrogen 3 1 H = tritron Aktivitas : A 1 =  Ao  2  n N 1 =  No  2  n m 1 =  mo  2  n N N0 0.693 T t T t = waktu peluruhan T = waktu paro m = massa NA = bilangan Avogadro (= 6.5 N0 0 T t A=λN m N= NA Mr Tetapan peluruhan : λ = 0. Inti atom * Energi ikat inti : Eikat = ∆m x c Eikat = ∆m x 931 MeV Defek massa : ∆m = Z mproton + (A – Z) mnetron – minti 2  Peluruhan : * Radioaktivitas : gejala perubahan inti tidak stabil menjadi inti stabil dengan disertai pemancaran sinar radioaktif.02 x 1023 atom/mol) n=  Pemanfaatan 14  Isotop C radioisotop : : untuk menentukan umur fosil  Sinar γ : untuk sterilisasi 123  Isotop I : untuk mendeteksi gagal ginjal dan tumor gondok 60  Isotop Co : untuk membunuh sel kanker 24  Isotop Na : untuk mendeteksi penyempitan pembuluh darah (tromosit  Isotop silicon : untuk mendeteksi letak kebocoran pipa saluran minyak 90  Sinar beta dari Sr : untuk industri kertas 1 .