Anda di halaman 1dari 21

Seragam

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali
saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk
masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat
rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk,
tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang
berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin.
Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa
diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena
keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga
kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan
padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya
sejak itu.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu
kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan
meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu.
Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya.
Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya.
Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang
ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia
menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan
pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan

yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di
sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu
ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir
setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan
kesahajaan hidup keluarganya.
Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya
langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering
memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk
mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai
koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar
berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan.
Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat
saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari
Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk
bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga
seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari
jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya.
Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu
berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah
melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik
cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau,
tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal
terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana
sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit,
dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di
pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan
saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit
masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa
menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak
memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor
jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya
yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga
minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung
saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk
dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan
kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh
dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk
berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu.

” Kami tertawa. seorang remaja putus sekolah . peduli padanya. tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Ayah dan ibunya sudah meninggal. sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu.” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit.Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Aku percaya padanya.” Terbayang sosok kakaknya dahulu. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya. Dia bercerita.” ”Ulahnya?” Dia mengangguk. Lalu dengan suara bergetar. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya. ”Kau tahu. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. tidak minta ganti. tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam! Ketika akhirnya api padam. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu. Sayang. Tapi. Sayang. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku. ”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. semakin tua dia semakin tidak tahu diri. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan. dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Hanya kini. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah. Napasnya memburu kelelahan. Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini. Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. apalagi seragam itu. Dia mengkhianati kepercayaanku. dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. ”Salahmu sendiri. ”Kakakku itu. Kolam itu sudah tiada.

Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata. Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya. Tapi dia tidak tahu. pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu.yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. dengan seragam dinas itu. . ”Kami akan bertahan. masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya. saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Sepanjang perjalanan pulang.” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Kini setelah beranjak tua. Sebagai sahabat. Ada kesungguhan dalam suaranya. seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Saya malu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

.

Hanya mengenakan pakaian dalam putih dan jubah melorot di bagian bahu. Perkataannya tidak jelas sehingga polisi mengulang jawaban untuk memastikan kebenaran. . bagaimana ia bisa berangkat kerja sedang rumahnya baru saja dibobol maling. Pintu dibuka. Semalam otaknya mampat dan punggungnya yang terlalu letih butuh istirahat. Tak jauh dari pemilik gedung yang berdiri gugup menyapa. pertanyaan-pertanyaan. tetangga sebelah.Gembok Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia. Saat kembali masuk. mengucapkan terima kasih. Kau diperkenankan mengganti kunci baru dan menambah gembok. tersaruk meraih sisa kopi semalam. “Pencurian. Wiechert menggeram. tetangga sebelah banyak bicara dengan setengah menangis. Wiechert membuka pintu. Pintunya diketuk. Mesin ketik dengan sehelai kertas berisi separuh tulisan teronggok diam. Suara langkah kaki tergesa menaiki tangga.” Otto Baumer. bangkit dari tidur. ia berkeluh kesah dengan keras.” kata pemilik gedung mubazir. Ia memperhatikan pekerjaan yang belum rampung. beberapa polisi keluar-masuk tempat tinggal tetangga sebelah. “Segera betulkan pintumu. 1 Februari 2015) “FRAU Wiechert?” “Ja. Sudah jelas kejadiannya begitu masih dikatakan lagi. Otto Baumer akan segera diberi tahu. Mereka akhirnya berpesan.” Wiechert terjaga karena suara berisik. bila menemukan perkembangan informasi atau bahkan pelaku.

“Sebaiknya kau memasang gembok tambahan.” “Sebaiknya tidak menyimpan kunci di bawah keset di depan pintu.” Wiechert menoleh.”Ja. Dengan jubah yang sudah dibetulkan letak bahunya.” “Ja. keadaan bagian dalam rumah berantakan. “Aku selalu menyimpan kunci dalam saku.” “Pada pukul lima pagi. Wiechert pergi ke toko kelontong 24 jam. segala barang berharga hilang. Sudah terdapat gerendel. simpanan uang.” “Herr Baumer juga tak tahu. Pot tanaman mungil yang diletakkan di sisi kiri pintu Otto Baumer terguling. Saat pulang. Wiechert hanya tidak ingin saat ia pergi bagian dalam rumahnya diobrak-abrik maling. Membeli teh dan roti. pintu sudah terbuka.” Wiechert baru saja merebahkan tubuh saat itu. Bagaimana ia bisa hafal kebiasaan Herr Baumer menyimpan kunci? Bagaimana bisa ia tahu sepagi itu Herr Baumer pergi keluar?” “Aku tidak tahu.” Wiechert melongok ke bawah. Tidak ada keset.” “Ja. “Herr Klaus-Otto Baumer pergi belanja di toko kelontong 24 jam. Laci meja tersorok keluar.” . “Hanya pengandaian. Selalu dikait saat hendak tidur. Nekat sekali. Polisi tidak tahu.” “Puluhan tahun menyewakan apartemen. Gembok? Gembok tambahan adalah ide bagus meski hanya sedikit barang berharga. tali di pinggang yang diikat begitu saja. pemilik gedung buru-buru mengganti.“ Pemilik gedung pamit hendak memberi tahu penghuni lain. Lemari terbuka. Menyadari kesalahannya. Aku juga tidak. “Polisi curiga pelakunya orang dalam. Televisi.” Wiechert mendengarkan tanpa minat. ini yang pertama. Atau di bagian bawah pot tanaman.” “Ach so. dicongkel. Tidak ada barang berharga di dalam ruangannya kecuali mesin ketik dan setumpuk naskah setengah jadi—bila maling kelas teri mengerti literasi. Peristiwa ini membuat keadaan menjadi rawan. engselnya rusak. Tanpa lubang intip. Pakaian berhamburan. “Jangan menyimpan kunci di—” Perempuan itu menirukan gaya bicara pemilik gedung sambil turun tangga. Tak mendengar apa-apa.” “Ja. Wiechert mengamati bagian dalam pintu rumahnya.

S. “Aku mencari gembok.” “Tapi kalimat Anda bagus. dan meski sudah ditutupi jubah.” “Berapa harganya?” “Hanya ada satu kunci untuk satu gembok. “Aku mencari gembok. “Anda penulis?” Wiechert menggeleng. “Bukan yang berwarna kuning. Bila ada cinta. memberi tanda supaya Wiechert mengikutinya. “Seperti hati dan cinta. Pemuda itu menunjuk salah satu gembok. “Hanya mengoceh. memasukkan kunci. ja. “H. “Aku mencari perlindungan ganda. Kurang keamanannya. “Apa kepanjangan H.” kata Wiechert lagi di lantai dua. Dari bayangan kaca perempuan itu memperhatikan rambutnya yang hitam pendek berantakan. matanya berkantung. Kemudian ia mendemonstrasikan cara membuka dan menutup.G. bahu kurusnya masih mencuat seperti rangka payung. kunci ditarik namun tidak bisa. Bila tidak. Seorang laki-laki muda. Extra plus. hati akan tertutup. memutar. baru ketika posisi gembok kembali ditutup kunci berhasil dicabut. posisi gembok terbuka.G. “Apa artinya?” .” Itu bukan jawaban atas H. “Ja. ditindik di antara bibir bagian bawah dan dagu.” Pelayan itu masih bertahan.” Pelayan itu tiba-tiba menyahut tertarik. Pelayan itu hanya menyebutkan kelebihan barang yang dijualnya.G. Bagian perkakas rumah tangga. hati siap membuka untuk menyambutnya.S. Wiechert kembali masuk. Ia berdiri di luar.Di toko kelontong Wiechert membeli sebungkus roti dan susu kardus dan sebungkus rokok. rambut dicat merah. mengunyah sarapan dan minum susu sendirian. Butuh beberapa menit menunggu sarapannya bereaksi dan beberapa kepul rokok untuk menghangatkan tubuh.?“ “Kuncinya tidak bisa dilepas bila tidak dalam posisi menutup.” Wiechert menimang-nimang..” Pelayan itu mengeluarkan sebuah gembok berwarna perak.” Pelayan memberi tahu supaya ia naik ke lantai dua. Ia menunjuk deret bermacam-macam gembok di etalase.” Mata Wiechert menelusuri satu demi satu gembok yang ada.” Wiechert tidak tahu mengapa tiba-tiba ia mengucapkan satu kalimat dari naskah yang sedang ditulisnya.S.

Bila bukan cinta yang tepat.” Jörg berhenti sebentar. Saku kiri. kunci. “Kau berlebihan. Menemukan teman mengobrol yang tepat seperti gembok dengan kunci yang tepat. Sampai di rumah ia segera memasang dudukan dan mencoba menutup dan membuka untuk memeriksa apakah sudah terpasang baik. Wiechert Völler—atau Völler Wiechert.” “Tunggu di sini. Wiechert mendengarnya seperti. .” “Aku tidak apa-apa. “Berapa harganya?” “Aku senang bertemu Anda. Ia menjelaskan sedikit pada temannya yang bertugas di belakang meja kasir. mata pelayan itu berbinar-binar.” Wiechert mengucapkan terima kasih. Laki-laki tua gemuk itu sekarang sedang jongkok membetulkan engsel yang rusak. Memilih yang sewarna dan menyerahkan pada Wiechert. Penulis favoritku: Helga Brunner.” “Jörg. Jörg kembali merendahkan suara.” Jörg membawa pergi gembok. “Kau suka membaca cerita cinta. Pintu Otto Baumer sudah dipasangi gembok ukuran sangat besar. Sudah hampir habis. hati tak akan hendak terbuka. Wiechert memeriksa tindikan dan warna rambut dan tato yang terlihat sedikit ujungnya dari balik kemeja kerja. aku lupa tepatnya. Tema cinta-cintaan selalu menarik perhatianku.” “Tidak bisa begitu. Hilde Anselm. Sungguh. “Bila bukan kunci yang tepat. Mencari uang.” “Aku kira teman perempuanmu banyak. “Aku membaca roman popular.” Mendengar penjelasan Wiechert.” “Tidak dengan penampilan seperti ini. Anggap ini hadiah dariku. Bila Anda kemari lagi untuk berbelanja. Pelayan laki-laki itu kembali dengan menyerahkan belanjaan Wiechert.Wiechert memeriksa sisa rokok. Ia menjatuhkan puntung dan menginjaknya gepeng. “Anda tidak perlu membayar. beserta dudukannya. ia tidak boleh banyak bergerak.” Pelayan itu memperkenalkan diri lalu merendahkan volume suara. mampir ke lantai dua.” Lalu. lanjutnya. gembok tidak akan mau dibuka. Saku kanan. “Tidak ada yang bisa aku ajak bicara mengenai roman cinta-cintaan di sini.” “Kau punya dudukan gembok? Apa istilahnya—tempat untuk mengaitkan gembok saat pintu sudah ditutup?” Jörg bergeser ke samping. aku hanya sedang membantu membayar belanjaan. perempuan itu kakinya terkilir atau apalah.” Wiechert merogoh saku jubah. “Aku bekerja sif pagi sampai sore. Seandainya aku bisa bertemu dengan salah satu dari mereka.

Kalau macet. Wiechert akan menjadikan karakter unik Jörg sebagai tokoh utama yang jatuh cinta pada seorang pelanggan bulimia.” Wiechert merebus air. Sembari menunggu ia kembali menyulut rokok.” Wiechert hendak masuk ketika Otto Baumer menyusulkan kalimat berikutnya dengan buruburu. Ini akan jadi cerita roman yang tidak biasa. Ia bermukim di Yogyakarta. “Sebaiknya kau membeli yang model begitu. Tapi. Uang yang tidak jadi keluar bisa ia belikan setok kopi atau rokok untuk hari berikutnya. warna biru seragam.Wiechert menyedot rokok sekali lagi. Novelnya yang akan terbit berjudul Kris & Silvana. tindikan. Suara mesin ketiknya mulai berdentam-dentam. Semoga kali ini ia mampu menyelesaikan tulisan. Lumayan. . Novelnya The Strawberry Surprise diadaptasi ke layar lebar pada 2014. Mengingat Jörg. seperti kata pemilik gedung. Tidak menyangka pemuda itu akan bersungguh-sungguh mau membayari belanjaan. Lahir di Madiun 7 November 1983. Peluit ceret berbunyi nyaring.” “Ja. Herr.” “Semoga harimu menyenangkan. ia akan kembali ke toko kelontong untuk mengobrol mengorek ide. setelah puluhan tahun ini yang pertama. “Aku membeli gembok dengan perlindungan ganda dengan gembok yang lebih tebal dan mantap.” Suara Wiechert mengandung nada simpati. “Ini pengalaman kurang menyenangkan untukmu yang baru pindah ke sini. obrolan cinta teranalogi kunci dan gembok membuat Wiechert menemukan ide baru. (*) Desi Puspitasari. adalah novelis dan cerpenis. Teringat Jörg.“Mencegah jauh lebih baik ketimbang kemalingan.” Otto Baumer kembali pada pekerjaannya. Wiechert menyeduh kopi dan membawanya ke ruang kerja. rambut dicat merah.

Tak akan pernah dilupakannya harum kopi yang menenteramkan ini. Pemuda itu mengangguk pelan saat ia memesan. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara paling baik. Apa pun bisa terjadi. Maka selepas keluar penjara. juga cinta yang tak pernah mati. Kini terlihat seperti banteng muda yang siap meluapkan dendamnya. Mungkin seseorang akan menyerangnya. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Ketika ditugaskan ke kota ini. Ada tulisan bawah poster itu. Kita harus selalu berhati-hati menghadapi kebencian. saat menatap anak muda penyaji kopi yang terus memandanginya. Meja kursi kayu hanya terlihat makin gelap dan tua. Yang dulu tak ada hanya poster bergambar siluet wajah lelaki berkumis tebal. seolah aroma itu dicuri dari surga. Sejarah memang aneh: dulu lelaki itu pembangkang. Sepuluh tahun dalam penjara membuat kewaspadaannya makin terasah. Ia tersenyum. Ia meraba pistol di balik jaket. Panas udara siang membuat aroma kopi terasa semakin kental. yang terpasang dekat jendela. Pada kopi ada revolusi. batinnya. 11 Januari 2015) KEBEBASAN selalu layak dirayakan. dan kedai kopi ini seolah diperuntukkan bagi orang-orang seperti itu. para pembangkang yang sejak dulu memang selalu berkumpul di kedai kopi ini. Ada orang-orang yang bersikeras mempertahankan kenangan. Sekadar berjaga.Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati Cerpen Agus Noor (Kompas. Ia tetap tenang. yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Nyaris tak ada yang berubah. kini dianggap pejuang. Umur anak muda itu baru 11 tahun saat bapaknya mati. Mata itu mengingatkan pada mata lakilaki yang dulu dibunuhnya. agar tak melewatkan kedai kopi ini dari ‘daftar yang . komandannya memberi tahu. Beberapa orang di kedai kopi langsung menatap tajam saat ia masuk. seperti larik puisi. Ia mengenali beberapa dari mereka.

Mereka diseret. bagi orang-orang di kota ini kedai kopi bukan sekadar tempat untuk menikmati kopi. tak hanya bergerak di hutan-hutan. dan makin memicu perlawanan. Ada peristiwa yang tak akan pernah dilupakan oleh penduduk kota ini. Semua informasi di kota ini akan dengan mudah didapatkan di kedai kopi. tetapi juga menyusup ke kota. Ia tahu anak muda itu gugup. tetapi selalu berbicara dengan intonasi santun. Saat operasi militer dianggap tak lagi efektif. Kota ini menjadi kota yang selalu rusuh oleh gagasan gila perihal kemerdekaan. Ia terlihat keras. Para perusuh itu. “Tapi aku tak yakin. menyodorkan secangkir kopi yang sedikit bergetar ketika diletakkan di meja. ketika suatu hari tentara mengeksekusi delapan anak muda di perempatan pusat kota. rambut agak ikal. Kedai kopi yang bukan saja istimewa. nyaris kurus. Di kedai kopi waktu seperti berhenti. Orang bisa sepanjang hari duduk di kedai kopi untuk berkumpul.” . yang hanya bisa kau ketahui setelah kau meminumnya. begitu tentara menyebut. Yang dianggap musuh negara paling berbahaya ternyata bukan seorang berperawakan kekar. Tapi siapa yang bisa membunuh gagasan? Kepala bisa ditembak sampai pecah. tetapi gagasan akan terus hidup dalam kepala banyak orang. berbual atau menyendiri. berkulit gelap. tetapi juga berbahaya. juga tempat paling tepat untuk menyelesaikan masalah. Rasanya tak ada penduduk kota ini yang tak menyukai kopi. Saat itu demonstrasi nyaris meledak setiap hari. ia dikirim ke kota ini untuk menghabisi seorang pembangkang yang dianggap berbahaya bagi negara. diculik dan tak pernah kembali. Pertengkaran bisa diselesaikan dengan secangkir kopi. Amnesty International menekan pemerintah pusat. Tentara melakukan pembersihan.harus dikunjungi’: Kedai kopi yang menyediakan kopi terbaik. Dari informasi yang dimiliki ia mengenali lelaki yang mesti dihabisi. ia pun dikirim. Bertahun lalu. Hampir di setiap jalan di kota ini selalu ada kedai kopi. “Ini kopi terbaik yang kusajikan untukmu yang di dalamnya tersimpan rahasia. mempercakapkan hal-hal rahasia. Sebagai agen intelijen terlatih ia pun dengan cepat mengetahui. kasak-kusuk perlawanan. Peristiwa itu mendapat protes keras. apakah kamu berani meminumnya habis. Jadi inilah orang yang selalu menghasut anak-anak muda untuk melakukan perlawanan dan menuntut kemerdekaan. dan karena itu tentara tak pernah berhasil menangkapnya. Dia hanya penyaji kopi. yang hidup berpindahpindah dalam hutan memimpin gerilyawan. Kekejian seperti itu terkadang diperlukan untuk menciptakan ketakutan. tetapi berusaha mengendalikan emosinya. kemudian ditembak tepat di kepala. dibariskan satu per satu.” Anak muda itu menatapnya. menyerang pos keamanan atau menyergap pasukan patroli keamanan. *** ANAK muda penyaji kopi itu telah berdiri di dekatnya. Orang yang dicarinya itu hanya bertubuh kecil. Puluhan orang ditangkap.

” akhirnya ia berkata. Itu sebabnya para pengecut selalu selamat.” “Ini bukan soal dendam. Kematian ayahmu bukan tanggung jawabku. Asal kau tahu. Lagu dangdut terdengar dari kedai kopi seberang jalan. Tapi ia merasakan suasana begitu sunyi di kedai ini. Hanya pengecut yang membunuh dengan cara-cara licik. Pengecut lebih pantas dikasihani. insting yang mengharuskannya bersikap hati-hati dalam situasi seperti ini. “Kamu memang sudah dihukum. Jari-jarinya berkedut. Dan aku yakin. “Seperti yang selalu dikatakan orang-orang di kota ini. atau bila kau perlu bunuhlah akuuuu… “Kau pasti membenciku. Klakson angkot. seolah berharap terjadi perkelahian seru.Di luar. Tapi baiklah. Padahal rokok di asbak masih panjang. Lagu dangdut masih terdengar dari kedai seberang: Tuduhlah aku. sepanjang hidupmu. hal yang selalu terjadi bila ia merasa cemas.” Ia mengisap rokok dalam-dalam.” “Seperti ketika kamu menghabisi ayah aku!” Terdengar kursi kayu digeser. pasti kau tak percaya.” “Jangan terlalu percaya pada apa yang diberitakan koran-koran. Ini soal keadilan. knalpot sepeda motor meraung kencang. “Aku telah menghabiskan sepuluh tahun dalam penjara untuk sesuatu yang dituduhkan padaku yang sebenarnya tak pernah kulakukan. mari kita selesaikan semuanya dengan secangkir kopi. Salah alamat bila kau mendendam kepadaku.” “Kalau kukatakan aku bukan pembunuh ayahmu.” “Selalu tersedia cukup banyak alasan untuk menjadi pembunuh.” “Yang pertama-tama dilakukan para pengecut memang selalu mencari pembenaran. aku mengagumi ayahmu. sepuas hatiiimuuuu. “Duduklah. kau pasti tahu kenapa ayahmu harus dibunuh. dan anak muda itu duduk. Itu tanggung jawab negara.” “Pengecut tak akan pernah berani mengakui kejahatan yang dilakukan!” “Aku sendiri hanya orang yang dikorbankan untuk menutupi kesalahan orang lain. tapi seperti ada yang menahannya.” tatapan anak muda itu makin tajam. “Untuk apa membenci seorang pengecut. Ia ingin meminum kopi di cangkir itu pelan. kamu akan terus dihukum oleh . Semua orang dalam kedai terdiam dan memandang ke arahnya.” Ia kembali menyalakan sebatang rokok. bila aku memang kau anggap pembunuh ayahmu. hingga rokok di jarinya nyaris lepas. jalanan ramai lalu lalang kendaraan.

Tapi aku tahu. tetapi tak ada yang bisa membuatnya merasa begitu nikmat senikmat setiap kali ia menikmati kopi .” “Apa yang kamu tuntut dari keadilan? Keadilan tak pernah membuat yang mati hidup kembali.” Ia diam-diam melirik pada poster di tembok kayu itu. Dan kamu akan tahu mana biji kopi terbaik yang pantas disajikan untuk pelanggan. Itu jauh lebih jantan dan terhormat.” “Yang mati memang tak akan pernah hidup kembali…” “Kecuali Tuhan. Wajah itu selalu muncul dalam mimpi buruknya. Ia tak akan pernah lupa pada saat-saat ia mulai mendekati lelaki itu.” “Aku bukan pengecut!” Suaranya terdengar mengambang di udara. lelaki itu dengan cepat menyukainya. Bagiku. Kamu merasa. anak muda itu tertawa masam. Juga bukan persoalan kamu dan ayahku. Ia pun mengerti kenapa di kedai ini tak ada mesin penggiling kopi.kepengecutan dan ketakutanmu. Ini bukan persoalan antara aku dan kamu. Biji kopi terbaik tetap saja tak akan enak bila tangan penyaji kopi itu tak mengenali jiwa kopi. tak ada kata lupa untuk kejahatan. “Keadilan bukan perkara orang per orang. kamu akan merasakan sesuatu yang lembut. Namun pada kenyataannya kopi di kedai kopi ini memang terasa paling nikmat di lidahnya. semestinya kamu menantang ayahku untuk berduel. Lelaki itu mengolah sendiri biji-biji kopi dengan tangannya. Sentuhlah biji-biji kopi itu dengan seluruh perasaanmu. Pembunuh selalu bersikeras melupakan korbannya. Ketika ia selalu mengajaknya bicara tentang kopi. “Apa kamu pikir dengan berani datang ke kedai ayahku ini kamu sudah membuktikan keberanianmu? Tidak! Aku yakin kamu datang kemari bukan untuk meminta maaf. aku yakin. dan kita tunggu apa yang terjadi. dari lelaki itu ia tahu rahasia menyajikan kopi. Sentuhan tangan penyaji kopilah yang membedakan rasa kopi. mencoba berkelakar mencairkan suasana tegang. Menyedihkan memang. pengecut selalu selamat oleh kepengecutannya. Ia sudah sering menikmati kopi di banyak kedai kopi. Kamu datang kemari justru karena ingin membuktikan bahwa kamu tidak bersalah telah membunuh ayahku. Bahkan. “Kalau begitu. Masuklah ke dalam hati musuhmu melalui apa yang disukainya.” Ketika ia hanya terdiam gamang memandangi cangkir kopi. Sebenarnya ia tak hendak percaya. sampai salah satu di antara kalian mati. minum kopi itu. sudah cukup untuk menganggap selesai persoalan. kamu sudah lupa seperti apa ayahku. Jika kamu menganggap ini hanya persoalan pribadi.” ia menimpali ucapan anak muda itu. dengan dipenjara sepuluh tahun. pengecut semacammu tak akan pernah berani bersikap jantan seperti itu. wajah lelaki berkumis tebal itu tak akan pernah mungkin dilupakannya. Tapi itu bukan alasan bagiku untuk berhenti menuntut keadilan. Saat menikmati kopi di sore bergerimis.

memandangi bayangan muram tubuhnya.” Anak muda itu bangkit meninggalkannya sendirian. “Tak pernah ada sebelumnya yang membiarkan kopi di kedai ini menjadi dingin tanpa menyentuhnya. adakah seseorang yang masih mengingat dan mengenangnya? (*) Agus Noor. Bahkan ketika dalam penjara. sebelum akhirnya menghilang ke dalam cahaya kota yang remang. Kematian seorang pengecut seperti dirinya tak akan pernah mendapat kehormatan seperti kematian lelaki yang dibunuhnya. tetapi juga meyakinkanku kalau kamu memang pengecut yang dihantui ketakutanmu sendiri. Saat melintas di depan toko kelontong berkaca lebar ia berhenti. dan untuk terakhir kali memandang kedai kopi itu dari kejauhan. Kopi yang disajikan anak muda itu benar-benar telah membuatnya diluapi perasaan takut. ini menjadi sutradara dan penulis lakon dalam seri seni pertunjukan Indonesia Kita yang digagas seniman Butet Kartaredjasa. mengingatkannya pada peristiwa saat ia menuangkan arsenik ke dalam cangkir kopi lelaki berkumis itu.” suara anak muda itu membuyarkan ingatannya. Jawa Tengah. diam-diam ia sering minta tolong pada sipir untuk membelikan kopi dari kedai ini. Kemudian ia berjalan menuju kelokan. punya latar belakang pendidikan teater di ISI Yogyakarta. . Gadis itu memakai kaos bergambar sablon wajah lelaki berkumis itu. “Itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu bukan saja pengecut karena tidak berani meminum kopi yang aku sajikan. Cerpennya pernah dinobatkan sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 2011. Dengan sogokan tentu saja.di kedai ini. Bayangan di kaca itu seperti hantu masa lalu yang tak ingin dilihatnya. Bila pada akhirnya ia benar-benar menghilang dari dunia ini. Penulis yang lahir di Tegal. mata cekung dan alis matanya yang semurung sayap burung sedikit tertutup rambut yang mulai gondrong. Seakan dalam secangkir kopi itu ada kebahagiaan yang dikekalkan. Ia melihat seorang gadis berjalan bergegas menyeberang jalan. tetapi lebih populer sebagai cerpenis dan aktivis media sosial. Tapi perasaan kosong dalam hatinya menghamparkan kehampaan melebihi luas langit yang dipandanginya. Tak akan pernah berani lagi ia kembali ke kedai kopi itu. *** LANGIT gelap dan kosong ketika ia keluar dari kedai itu. Rasanya ia merasa lebih terhormat bila anak muda itu menghajarnya hingga babak belur ketimbang membuatnya merasa terhina seperti ini. kulit coklat gelapnya tersamar warna jaket yang telah pudar.

Aku selalu ingin menyantapnya. Ia bagai membubuhkan sebuah mantra rahasia pada masakan. Ah. 23 November 2014) IBU memasak tumis dengan sebuah sihir. tumis buatan ibulah yang menyelamatkan kesedihan ayah. dan sedikit daging. Apalagi bila kemalangan sedang melanda. Tumis yang bagai obat bagi kemurungan. . Tumis ibu seakan telah menjadi candu bagi keluarga kami. Tumis yang membebaskan keluarga kami dari kesedihan yang mengendap. potongan tahu-tempe. dan kenangan akan kebahagiaan yang bersemayam di setiap kunyahannya. aku selalu mengingat ibu. Tumis yang sama seperti makanan lain— ada sayur-mayur. segala resah seolah sirna. betapa berartinya tumis bikinan ibu. Tapi ada sebuah bumbu rahasia yang membuat tumis ibu menjadi berbeda. Aku dan ayah menyebutnya sebagai tumis kebahagiaan.Sihir Tumis Ibu Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia. karena setelah memakan tumis ibu. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan tumis buatan ibu. dan sebuah kudapan yang dibuatnya. *** Saat kepiluan tiba. Setiap hari aku hanya ingin menandaskan tumis buatan ibu. Makanan itu seakan hadir sebagai penyejuk di atas meja. yang dapat membuat siapa saja merasa bahagia saat menyantapnya. seraya menikmati lembutnya kasih sayang. Aku ingat ketika usaha ayah gulung tikar. Santapan yang dapat membuat setiap orang jatuh cinta dan ingin terus menikmatinya. Makanan yang sudah banyak menyelamatkan hidup kami dari kemurungan yang menyayat hati.

kalau tumis buatan ibu memang terbuat dari sebuah sihir. Aku percaya. suamiku menangis ketika mencicipi masakanmu. mungkin. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dapur.” kata tante Linda. dan teman-teman sering menggangguku. “Mengapa tumis buatanmu begitu enak?” tanya ayah pada ibu untuk kesekian kalinya. . aku merasa tidak sendiri. Ibu memang pendiam. seraya memeluk ibu. aku merasa seperti kembali mendapatkan gairah hidup. karena tumis itu pernah menyelamatkan sebuah keluarga dari perceraian. masih ada keajaiban lain dari tumis ibu. Tapi ketika memakan tumis ibu. Bahkan ia merasa sangat berdosa kepada setiap wanita yang pernah ia permainkan. bocah pemurung. Begitu juga denganku. karena tumis buatanmu. kami semakin ketagihan. Sihir tumis ibu sungguh-sungguh telah bekerja. Ibu memasak makanan itu dengan sebuah mantra rahasia. Ia minta maaf kepadaku. Ia begitu sedih saat mengunyahnya. dan menyelamatkanku dari kenakalan bocah-bocah bengal itu. “Aku tak pernah bosan memakan tumis buatanmu. Para tetangga pun mengakui kalau tumis ibu begitu mujarab.Ayah yang semula murung dan putus asa karena tak memiliki pekerjaan tiba-tiba kembali bergairah membangun usahanya. “Apakah kau menaruh sihir di dalamnya?” Seperti biasa. Entah kebetulan atau tidak. kalau kebahagiaan tak selalu datang dari hal-hal mewah. “Pasti kau memasaknya dengan sebuah sihir. Aku merasa ibu selalu bersamaku. Aku. tumis ibu hampir tak pernah absen terhidang di meja makan. “Mengapa saat mengunyah tumis buatanmu. aku tidak jadi bercerai dengan suamiku. tapi tanpa tumis buatan ibu. Tak hanya itu. “Tiba-tiba.” Ibu hanya tersenyum. kami tidak akan menikmatinya dengan khidmat. karena aku tidak bisa melahirkan anak untuknya. “Terima kasih banyak. Semua masakan mewah boleh saja ada di atas meja makan. yang membuatnya menjadi tak pernah menjemukan untuk dikunyah.” Aku sering berpikir. dan mencabut kembali permohonan gugatan cerainya. Semakin banyak kami memakannya. tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jarang keluar rumah kecuali untuk berbelanja bahanbahan masakan untuk kami. Tumis ibu yang sederhana itu sudah cukup menjadi candu dan pemersatu di dalam keluarga kecil kami. ibu hanya tersenyum. Sayang…” lanjut ayah lagi. setelah memakan tumis bikinan ibu. Sayang?” kata ayah memuji ibu. tumis ibu seakan datang sebagai teman di dalam hidupku. memberitahukan perihal perceraian yang batal.

Seketika air mata ibu berjatuhan. sebagaimana biasanya. ketegaran hati seorang ibu. membawakan sepiring nasi dengan lauk tumis tempe.” katanya padaku. ketika aku dan ibu sedang menonton TV. . Tapi ibu. Ibu mendekat. Aku pernah mengajak istriku untuk menyantap makanan itu. atau pada acara-acara keluarga. Ia langsung jatuh cinta pada masakan itu. sembari mengingat ayah. Setiap tamu diwajibkan untuk mencicipi tumis ibu. hingga piring itu aku renggut. membasahi pelupuk matanya. “Setiap kunyahanku terasa menenangkan. Ia menatapnya penuh harap. Aku berpikir. “Sihir rahasia?” Wanita itu menoleh pada ibu. Orang itu mengatakan bahwa ayah telah meninggal dunia akibat serangan jantung di kantornya. Sepanjang hari setelah kematian ayah. tiba-tiba ibu dating seperti malaikat yang turun ke bumi. Ia mendekatkan sendok ke mulutku. Tapi. Di suatu senja yang murung. seakan meminta jawaban.” kata ibu lirih. yang tak dapat kujelaskan dengan kata-kata. Setiap tamu yang datang pun. tumis ibu tetap menjadi menu wajib di meja makan. Terbuat dari apa makanan ini?” “Sebuah sihir rahasia. Tapi aku terus mengunci mulutku hingga rasa tumis yang manis meresap perlahan melalui sela bibir. dua suap. “Makanlah. Aku memakannya dengan perasaan haru. Sayang. hanya menjawab dengan sebersit senyum yang begitu menawan. seseorang datang membawa kabar duka. ibu sudah membuatkan masakan kesukaanmu.” jawabku cekikikan. Aku memakannya. Ibu kembali menyihirku dengan tumis buatannya. Aku menandaskan tumis ibu dengan tangis sukacita. Aku seperti telah tersihir… *** Belasan tahun setelah kematian ayah. Tiba-tiba di dalam tumis itu aku merasakan ketenangan. Sejak kejadian itu rumah kami seperti dirundung sebuah kutukan. aku selalu mengutuk kenyataan.*** Sudah puluhan kali tumis ibu menyelamatkan penghuni rumah kami dari kemalangan. Aku sama sekali tidak menjawab. Ia memasak tumis tempe dan kami menyantapnya berdua. dan segala macam kenangan yang berlalu begitu saja. tumis buatan ibu tidak boleh absen. “Makanan ini begitu enak. dan beberapa potong daging. Aku memakannya satu suap. barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan. dan cintanya yang begitu tulus. Kesedihan tak pernah usai mendesis dari setiap sudut ruangan.

Karya-karyanya tersebar di sejumlah media. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.” kata ibu singkat. aku dan istriku tidak lagi mengusik tumis buatan ibu akan dijual atau tidak. Kami hanya saling pandang. agar setidaknya. Sebenarnya aku pernah berpikir untuk menjual tumis ibu secara massal.” Sejak itu. Aku hanya berharap. setelah ibu pergi menyusul ayah. Aku ingin merasakan keajaiban dari sihir masakan ibu. Begitulah.“Mengapa ibu tak membuka restoran dan menjualnya?” kata istriku lagi. sambil menyantap tumis tahu buatan ibu dengan lahap.” Ibu menatapku. “Kalau kau mau. dalam sebuah keluarga yang tenang dan rukun. aku ingin meminta satu piring penuh tumis buatannya. Aku ingin menyantapnya. “Biarkan tumis itu menjadi makanan untuk orang-orang yang kucintai. cerpenis yang masih tercatat sebagai mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta. Aku tidak dapat melupakan tumis buatannya. kalau cinta dan kasih sayangnya dijual pada orang lain yang tidak ia kenal. dalam masakan yang biasa itu. agar setiap orang dapat merasakan kebahagiaan. . Apalagi setelah hakim mengetuk palu pada sidang perceraianku. (*) Risda Nur Widia. *** Keluarga bahagia memang selalu bermula dari dapur dan meja makan yang bahagia pula. Sudah banyak pula orang yang menginginkan tumis buatan ibu dijual di warung-warung atau bahkan di restoran. sudah lima tahun berlalu. aku dapat terlepas dari belenggu kesedihan. tumis ibu dapat terus menyelamatkan keluarga kami dari kemurungan dan kesedihan. Tidak ada yang dapat menyaingi kenikmatan dan kebahagiaan yang terdapat dalam masakan ibu yang sederhana itu. lalu tersenyum. aku selalu ingat pada kenangan masa kecilku. Seandainya ibu masih hidup. aku akan mengajarkan cara membuatnya. Sebab. Ia meraih juara dua Festival Sastra Yogyakarta 2013 (UGM) dan nomine Sastra Profetik Kuntowijoyo 2013 (UHAMK). Tapi ibu seakan tak rela. “Pasti sangat laris kalau dijual.