Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

:

Ny. S

RM

:

020929

Umur

:

63 tahun

Jenis Kelamin

:

Perempuan

Suku Bangsa

:

Indonesia

Agama

:

Islam

Alamat

:

Jl. Dr. Leimena No.42, tello baru

Pekerjaan

:

Ibu Rumah Tangga

Tgl. Pemeriksaan

:

28 juli 2015

Rumah Sakit

:

RSUH

Dokter pemeriksa

:

dr. R

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Mata terasa mengganjal dan nyeri pada kedua mata

Anamnesis terpimpin :
Dialami sejak kurang lebih 3 hari yang lalu memberat 1 hari terakhir. Kedua
mata dirasakan seperti ada yang mengganjal , terkadang disertai nyeri,
dirasakan terus menerus. Mata juga dirasakan gatal dan berwarna merah,
kadang disertai air mata berlebih. Pasien sebelumnya sering menggosokgosok matanya. Sebelumnya pasien tidak pernah berobat untuk keluhan ini.
Rasa silau ada, tidak ada kotoran mata berlebih.Selain itu pasien juga
memiliki pengelihatan yang kabur, pengelihatan kabur dalami pada kedua
mata, dirasakan kabur saat melihat jauh dan dekat, dikeluhkan sejak setahun
yang lalu.
Riwayat menggunakan kacamata ada sejak setahun yang lalu.
Riwayat operasi mata sebelumnya tidak ada.

1

Riwayat penyakit mata sebelumnya : katarak , diketahui sejak setahun yang
lalu.
Riwayat penyakit hipertensi tidak ada, riwayat penyakit diabetes tidak ada,
riwayat alergi tidak ada.
Riwayat penyakit yang sama di keluarga tidak ada
Tanda Vital:
Keadaan umum

: Baik/ Gizi Cukup/ Sadar

Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 76 x/ menit

Pernapasan

: 20 x/ menit

III.

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
A. INSPEKSI

Gambar 1.
Gambar 2.

No

Pemeriksaan

OD

OS

1.

Palpebra

Edema (-)

Edema (-)

2.

App. Lakrimalis

Lakrimasi (+)

Lakrimasi (+)

3.

Silia

Sekret (-)

Sekret (-)

4.

Konjungtiva

Hiperemis (+)

Hiperemis (+)

2

5.

Bola mata

6.

Mekanisme muskular Ke segala arah

Ke segala arah

7.

Kornea

Agak keruh

Agak keruh

Normal

Normal

8.

Normal

Bilik mata depan

Normal

9.

Iris

Cokelat, kripte (+)

Cokleat, kripte (+)

10

Pupil

Bulat,sentral.

Bulat,sentral,

11.

Lensa

Keruh

Keruh

B. PALPASI
No

Pemeriksaan

OD

OS

1.

Tensi Okuler

Tn

Tn

2.

Nyeri Tekan

(-)

(-)

3.

Massa Tumor

(-)

(-)

4.

Glandula periaurikuler

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

C. Visus

Tanpa kacamata
o VOD
Koreksi
Menjadi
o VOS
Koreksi
Menjadi
ODS

∫ +3,00

Dengan kacamata
o VOD
o VOS

D. Tonometri

:
: 20/100F
: ∁ −1,75 x 100 o
: 20/40 f
: 20/100F
: ∫ +1,00 ∁ -1,75 x 80o
: 20/40 f

:
: 20/40F
: 20/40F
:
3

permukaan Bilik mata depan cembung cembung Iris Normal Normal Pupil Cokelat.5 = 17. Campus visual : Tidak dilakukan pemeriksaan F.RC (+) Lensa Keruh pada nucleus Keruh (LOCS = NO2NC3) I.RC (+) pada nucleus. Bulat. (LOCS = NO2NC3) Keratometri OD = ∫ +0.3 mmHg TOS : 5/5.50 X 95 Biometri X 92 : tidak dilakukan pemeriksaan 4 . kripte (+) Cokelat.5 = 17. permukaan Infiltrat (+). Kornea agak keruh.sentral.sentral. Infiltrat (+).TOD : 5/5. Color Sense : Tidak dilakukan pemeriksaan G. Penyinaran Oblik PemePemeriksaan OD OS Konjungtiva Hiperemis (+) Kornea Kornea agak Hiperemis (+) keruh. Light Sense : Tidak dilakukan pemeriksaan H. J.50 ∁ −0 .75 OS = ∫ +0. kripte (+) Bulat.3 mmHg E.00 ∁ -0.

Pasien sebelumnya sering menggosok-gosok matanya. datang ke poliklinik mata RSP dengan sensasi benda asing & nyeri pada kedua mata. Sebelumnya pasien tidak pernah berobat untuk keluhan ini. funduskopi tidak dilakukan pemeriksaan N. Visus pada kedua 5 . Tes fluoresensi OD = fluoresen (+). lensa keruh pada nukleus dan kortikal (LOCS = NO2NC3) M. infiltrat berbentuk pungtat di arah jam 3-6. merah (+). dialami sejak kurang lebih 3 hari yang lalu memberat 1 hari terakhir. kornea keruh infiltrat (+) . Slit Lamp  SLOD: Konjungtiva hiperemis (+). BMD.K. dan pupil normal. iris. (LOCS = NO2NC3)  SLOS: Konjungtiva hiperemis (+). OS = fluoresen (+). infiltrat berbentuk pungtat di arah jam 6-9 L. dan pupil dalam batas normal. hiperlakrimasi (+). kornea keruh infiltrat (+) . sekret (-) fotofobia (+). Resume Seorang perempuan berusia 63 tahun . lensa keruh pada nukleus dan kortikal. BMD. Mata gatal (+). iris.

BMD.iris. dan pupil normal. kornea agak keruh & infiltrat (+) .ODS keratitis punctate superficialis susp. pada kedua mata. kornea agak keruh. infiltrat pungtat arah jam 3-6 OS : tes fluoresen (+) . Riwayat penyakit sistemik (-) Dari inspeksi ditemukan. dan pupil normal. hiperemis. korneaagak keruh & infiltrat (+) .mata menurun dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dan setahun yang lalu didiagnosa sebagai katarak. iris. Causa bakteri .75 x 100 OD : tes fluoresen (+). 6 . Diagnosis banding.00 = 8pt VOD = 20/100F ∁ −1.75 x 80o menjadi 20/40f ODS +3.ODS katarak senil immature . lensa keruh pada nucleus dan kortikal.OS mixed astigmat . (LOCS = NO2NC3) SLOS: Konjungtiva hiperemis (+). Riwayat menggunakan kacamata (+) sejak 1 tahun terakhir Riwayat operasi mata sebelumnya (-). lensa keruh pada nucleus dan kortikal (LOCS= NO2NC3) N.OD simple miop astigmat . hiperlakrimasi. infiltrat pungtat arah jam 6-9 SLOD: Konjungtiva hiperemis (+).ODS presbiop O. BMD.00 ∁ -1. VOS = 20/100F  o menjadi 20/40 f ∫ +1. Diagnosis kerja .

Pemeriksaan segmen anterior ditemukan kornea agak keruh dan pemeriksaan dengan pemulasan flurescein kemudian dilihat dengan slit lamp hasilnya ditemukan bintik-bintik yang berpendar di permukaan kornea bagian para sentral. dari anamnesis didapatkan wanita berusia 63 tahun . 5. Dari hasil pemeriksaan status lokalis ini menunjukkan bahwa infeksi kornea dapat diklasifikasikan sesuai dengan lapisan kornea yang terkena yaitu bagian superfisialis dan terbentuk bintik-bintik yang terkumpul di daerah 7 . Macula/nebula/leukoma sentral. P. terkadang gatal dan air mata yang berlebih.Cendo Polygran EDMD 6x1 gH ODS .bebat mata Q. Keratitis viral. Dry eye. 3. Corpus alienum kornea.1. Prognosis     quo ad vitam quo ad sanationam quo ad visam quo ad cosmeticam : bonam : bonam : bonam : bonam DISKUSI Pada kasus diatas.Becom C 1x1 . 2. 4. keluhan ini juga disertai mata yang merah . Dari anamnesis menunjukkan bahwa pasien mengalami suatu infeksi kedua mata dengan keluhan mata merah. datang dengan keluhan rasa mengganjal disertai nyeri di mata. berair Dari gejala yang timbul tersebut menunjukkan diagnosis sementara mengarah ke diagnosis keratitis. silau (fotofobia). Penatalaksanaan . serta silau.Cendo Reepithel EDMD 6x1 gH ODS . dirasakan sejak 3 hari yang lalu dan memberat sehari terakhir. Astigmatisme.

dan vitamin. dan adanya sekret yang purulen yang biasa terdapat pada keratitis bakterial. Terapi yang diberikan yaitu pemberian tetes antibiotik. Kornea memiliki mekanisme protektif terhadap lingkungan maupun paparan patogen (virus. air mata buatan. amoeba. Diagnosis kerja yang ditegakkan pada pasien tersebut adalah keratitis punctata superfisisalis. Seorang ahli mata dapat melihat strutur dalam mata karena kornea bersifat jernih dan memiliki daya bias sebesar 43D. Ketika patogen berhasil masuk dan membuat defek epitelial di kornea. 8 . Keratitis akan memberikan gejala seperti rasa nyeri. fotofobia. TINJAUAN PUSTAKA Kornea adalah salah satu media refraksi sehingga manusia dapat melihat. maka jaringan braditropik kornea akan merespon patogen spesifik dengan peradangan pada kornea (keratitis).membrane bowman. bakteri dan jamur).

1 B. Herpes genital atau infeksi virus lain. Insidensi keratitis pada tahun 1993 adalah 5. kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain. perbandingan lakilaki dan perempuan tidak begitu bermakna pada angka kejadian keratitis. jenis bakteri seperti Staphylococcus aureus. EPIDEMIOLOGI Frekuensi keratitis di Amerika Serikat sebesar 5% di antara seluruh kasus kelainan mata. penggunaan lensa kontak yang berlebihan.7 per 100. Staphylococcus epidermidis. Kornea menempati 1/6 dari jaringan fibrosa bagian depan dari bola mata. Sedangkan predisposisi terjadinya keratitis antara lain terjadi karena trauma. Stapylococcus aeroginosa.000 orang tiap tahun.Penyebab keratitis 90% disebabkan oleh bakteri. Di negara-negara berkembang insidensi keratitis berkisar antara 5.9-20. DEFINISI Keratitis adalah perdangan kornea yang ditandai dengan oedema kornea. 1 A. serta higienis dan nutrisi yang tidak baik.2 C. dan Moarxella. Bagian anterior dari kornea berbentuk elips dengan diameter horizontal 9 . dan kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya. pemakaian lensa kontak dan perawatan lensa kontak yang buruk.000 penduduk di Indonesia. menutupi bola mata bagian depan. infiltrasi seluler dan kongesti siliar. ANATOMI Gambar 4 : struktur mata Kornea adalah jaringan transparan tembus cahaya.3 per 100.

2.5 Gambar 5 : lapisan kornea Lapisan kornea1.5 mm. kornea mempunyai enam lapisan yang berbeda-beda : lapisan epitel. lapisan pre-descemet (dua’s layer) . Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0. dan glukosa yang merupakan - barrier. sel poligonal dan sel - gepeng. lapisan Bowman. Epitel .Tebalnya 50 m.Ikatan ini menghambat pengaliran air.membran Descemet dan lapisan endotel. Dari anterior ke posterior. stroma. Membran Bowman 10 . Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya.7 mm dan diameter vertikal 11 mm.2.52 mm di bagian tengah dan 0.5 1. 1. Bagian posterior berbentuk sirkular dengan diameter rata-rata 11.11. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih yang terdiri dari satu lapis sel basal.65 mm di bagian perifer. dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. 2. elektrolit. Epitel berasal dari ektoderm permukaan. sel basal berkaitan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden. - Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

4. sedangkan di bagian perifer serat kolagen ini bercabang.Berasal dari mesotelium. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus. Membran Descement . ketebalan 15 μm . saraf nasosiliar. besar 2040 m. berlapis satu. Endotel .terdiri dari 8 lamella yang sebagian besar merupakan jaringan kolagen tipe 1 yang tersusun ke arah longitudinal. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma.Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma - kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid. masuk ke dalam stroma kornea. 3. transversal dan oblique 5. berbentuk heksagonal. 6. pada permukaan terlihat anyaman yang teratur.Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya.- Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan - stroma. Stroma . Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf.lapisan aseluler dengan diameter 10. terbentuknya serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi 11 . menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden.15 μm. mempunyai tebal 40 m. Dua’s layer jurnal duas layer . Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

6 kekuatan dioptri mata normal manusia. D. Kornea merupakan struktur vital dari mata dan oleh karenanya kornea sangat sensitif. dimana 43.2. atau sekitar 74% dari seluruh kekuatan dioptri mata normal. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. sehingga menyebabkan sensitifitas yang tinggi pada kornea. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea. Transparansi stroma dibentuk oleh pengaturan fisis special dari komponen – komponen fibril. Walaupun indeks refraksi dari masing – masing fibril kolagen berbeda dari substansi infibrilar. Sifat deturgescence di jaga dengan pompa bikarbonat aktif dari endotel dan fungsi barrier dari epitel dan endotel. diameter yang kecil (300 A) dari fibril dan jarak yang kecil diantara mereka (300 A) mengakibatkan pemisahan dan regularitas yang menyebabkan sedikit pembiasan cahaya dibandingkan dengan inhomogenitas optikalnya. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.5 Kornea mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai medium refraksi dan untuk memproteksi lensa intraokular. 12 . Sensasi taktil yang terkecil pun dapat menyebabkan refleks penutupan mata. Kornea di jaga agar tetap berada pada keadaan “basah” dengan kadar air sebanyak 78%. FISIOLOGI1. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea. Hal ini mengakibatkan gangguan pada kornea dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam fungsi visus seseorang. Kornea menerima suplai sensoris dari bagian oftalmik nervus trigeminus.25 dioptri dari total 58. Peran kornea dalam proses refraksi cahaya bagi penglihatan seseorang sangatlah penting. Saraf – saraf kornea masuk dari stroma kornea melalui membran bowman dan berakhir secara bebas diantara sel – sel epithelial serta tidak memiliki selebung myelin lagi sekitar 2 – 3 mm dari limbus ke sentral kornea. dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk dilakukan oleh kornea. memiliki struktur yang uniform yang sifat deturgescence – nya. Transparansi kornea dimungkinkan oleh sifatnya yang avaskuler. Kornea menjalankan dua fungsi utama ini dengan cara mempertahankan sifat transparansi kornea dan pergantian dari jaringannya.dalam waktu 3 bulan.

Pada saat epitel mengalami trauma. Kornea mendapatkan pemaparan konstan dari mikroba dan pengaruh lingkungan. penggunaan lensa kontak. lagopthalmos. yaitu :    Difusi dari kapiler – kapiler disekitarnya Difusi dari humor aquous Difusi dari film air mata Tiga lapisan film air mata prekornea memastikan bahwa kornea tetap lembut dan membantu nutrisi kornea. perubahan pada barrier epitel kornea (dry eyes). Seperti halnya lensa. permukaan epitel akan kasar dan pasien akan melihat gambaran yang kabur. penetrasi mengekspose ujung benda saraf asing atau sensorik dan menyebabkan nyeri yang intens disertai dengan refleks lakrimasi dan penutupan bola mata involunter. Tanpa film air mata.2. amoeba dan jamur. sklera dan badan vitreous. refleks lakrimasi (epiphora) dan nyeri selalu mengarahkan kepada kemungkinan adanya cedera kornea. struma yang avaskuler dan lapisan bowman menjadi mudah untuk mengalami infeksi dengan organisme yang bervariasi. gangguan paralitik. oleh sebab itu untuk melindunginya kornea memiliki beberapa mekanisme pertahanan. metabolismenya lambat dimana ini berarti penyembuhannya juga lambat. Streptokokus pneumonia merupakan pathogen kornea bakterial. E. patogen-patogen yang lain membutuhkan 13 . PATOFISIOLOGI1. trauma dan penggunaan preparat imunosupresif topical maupun sistemik. Mekanisme pertahanan tersebut termasuk refleks berkedip.3 Terdapat beberapa kondisi yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya inflamasi pada kornea seperti blefaritis. termasuk bakteri. fungsi antimikroba film air mata (lisosim). Metabolisme kornea (asam amino dan glukosa) diperoleh dari 3 sumber. epitel hidrofobik yang membentuk barrier terhadap difusi serta kemampuan epitel untuk beregenerasi secara cepat dan lengkap.Setiap kerusakan keratokonjungtivitis pada kornea ultraviolet) (erosi. Enzim lisosom yang terdapat pada film air mata juga melindungi mata dari infeksi. Epitel merupakan barrier yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea. Trias yang terdiri atas penutupan mata involunter (blepharospasme). kornea merupakan struktur jaringan yang braditrofik.

perforasi dari membrane descement terjadi dan humor aquos akan keluar. Lapisan ini juga ditutupi oleh 2-4 lapisan sel skuamos luar yang datar. Hasilnya stroma akan mengalami atropi dan melekat pada membarana descement yang relatif kuat dan akan menghasilkan descematocele dimana  hanya membaran descement yang intak. sel basal kolumer yang tertutupi oleh sebuah lapisan wing cell yang biasanya terdiri atas 1-3 lapisan. 14 . Ketika penyakit semakin progresif. Sementara itu proses penyembuhan kornea lebih kompleks yang disebabkan oleh luasnya diferensiasi dan organisasi dari sub-struktur kornea. Hal ini disebut ulkus kornea perforata dan merupakan indikasi bagi intervensi bedah secepatnya. Penyembuhan luka epitel. Pasien akan menunjukkan gejala penurunan visus progresif dan bola mata akan menjadi lunak. dan hal ini terjadi di bawah pengaruh matriks protein ekstraseluler dan faktor pertumbuhan. Epitel manusia tersusun atas 5-7 lapisan dan ketebalannya kira-kira 50 mikrometer. beberapa rantai kejadian tipikal akan terjadi. yaitu:     Lesi pada kornea Patogen akan menginvasi dan mengkolonisasi struma kornea Antibodi akan menginfiltrasi lokasi invasi patogen Hasilnya akan tampak gambaran opasitas pada kornea dan titik invasi pathogen akan membuka lebih luas dan memberikan gambaran infiltrasi  kornea Iritasi dari bilik mata depan dengan hipopion (umumnya berupa pus yang   akan berakumulasi pada lantai dari bilik mata depan) Patogen akan menginvasi seluruh kornea. Terdiri atas sebuah lapisan yang aktif bermitosis. Sel basal epitel melengket pada membrana basalisnya melalui sebuah kompleks adhesi.inokulasi yang berat atau pada host yang immunocompromised untuk dapat menghasilkan sebuah infeksi di kornea. Pemahaman mengenai penyembuhan luka pada kornea terus meningkat seiring pentingnya proses fisiologis yang mencakup kejadian-kejadian di tingkat seluler dan subselulernya.Ketika patogen telah menginvasi jaringan kornea melalui lesi kornea superfisial.

migrasi sel. dan adhesi. Penelitian pada hewat telah menunjukkan bahwa fase ini terdiri atas .gambar : representasi 3D dari anatomi kornea gambar. Representasi diagram dari sel basal dan wing dalam kornea Proses yang terlibat dalam penyembuhan epitel kornea dapat dideskripsikan melalui 3 fase yang terpisah yang sesungguhnya merupakan suatu rangkaian kejadian yang berkelanjutan. lalu akhirnya proliferasi sel. fase laten. 15 .

Stage 2 : migrasi dan adhesi sel terjadi selama 24-36 jam. perlengketan epitel kornea ke stroma 1. 16 . debrideme n epitelial invasi leukosit PMN pembersih an sel nektrotik/d ebris retraksi/se l epitel mengelilin gi tepi luka penurunan perlengket an hemidesm osom 200 μm ke arah luar dari tepi luka awal ekstensi lamellipodi al dan filopodial 2. Stage 1: fase laten terjadi dalam waktu 4-6 jam.gambar .

a a d d h h es es ii e e pi te kemuncul l/s kemuncul an tr an kolagen o kolagen tipe III m tipe m III sintesis sintesis al al hemidesmosom baru dan kompleks jangkar kompleks jangkar fibronektin fibronektin menghilang menghilang penyelesaian monolayer epitel menutup luka pembentukan pembentukan garis garis kontak kontak Y-X Y-X migrasi migrasi sentripetal sentripetal oleh oleh sel sel epitel epitel ke ke permukaan permukaan stromal (energi dari stromal (energi dari glikogenesis) glikogenesis) pembentukan pembentukan seperti seperti jangkar jangkar menandai menandai awal awal pembentukan pembentukan sel sel kemunculan fibronektin (1jam) filamen aktin terakumulasi pada sudut lamellipodia dan filopodia membentuk support sitoskeletal ekstensi filopodial dan lamellipodial selesai pembentukan filamen aktin dalam sel(terdiri atas fordrin . vinculin. ankyrin) 17 .

yaitu : 18 .2. yaitu :  Streptokokus pneumonia  Pseudomonas aeroginosa  Streptokokus hemolitikus  Moraxella liquefaciens  Klebsiella pneumoniae b.6 Terdapat bermacam-macam pembagian dari keratitis yaitu: 1. Keratitis viral Virus lain yang dapat menyebabkan keratitis.3. Keratitis bakterial Bakteri-bakteri yang biasa menyebabkan keratitis bakterialis.4. Menurut penyebabnya : a. hipersensitivit hipersensitivit as saraf saraf epitel epitel as kornea kornea selama selama beberapa beberapa bulan bulan penggantian penggantian ujung ujung terminal terminal akson saraf akson saraf kornea kornea kemungkinan kemungkinan hiperplasia hiperplasia epitel epitel pembentukan pembentukan lanjut lanjut hemidesmoso hemidesmoso m m PMCs PMCs meningkatkan meningkatkan T Terminally erminally Differentiated Differentiated Cells Cells (TDCs) (TDCs) TACs TACs meningkatkan meningkatkan sel sel post post mitotic mitotic (PMCs) (PMCs) stem stem sel sel memproduksi memproduksi Transient Transient Ampligying Ampligying Cells Cells (TACs) (TACs) aktivasi aktivasi stem stem sel limbus sel limbus F. KLASIFIKASI1. Stage 3 : proliferasi sel berlangsung selama 36 jam hingga beberapa bulan.

dan usia tua. Keratitis jamur Jamur . Keratokonjungtivitis sika Suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Keratitis lagoftalmus Keratitis yang terjadi akibat adanya lagoftalmus dimana kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga mata terpapar dan terjadi kekeringan pada kornea dan konjungtiva yang memudahkan terjadinya infeksi. sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea. Pada keadaan anestesi kornea kehilangan daya pertahanannya terhadap iritasi dari luar. e. atropin. alakrimal kongenital. Keratitis neuroparalitik akibat kerusakan Nervus V Keratitis neuroparalitik merupakan keratitis akibat kelainan saraf trigeminus. Hal ini dapat menyebabkan kornea mudah terjadi infeksi sehingga mengakibatkan terbentuknya ulkus kornea. Dapat dikarenakan parese Nervus VII. f. sindrom Stevens Johnson. obat diuretik. Defisiensi komponen musin: defisiensi vitamin A. Defisiensi komponen lemak air mata. tumor fosa posterior kranium dan keadaan lainnya. trauma kimia. misalnya sindrom Sjorgen. Gangguan saraf ke-5 ini dapat terjadi akibat Herpes zoster.jamur yang biasa ditemukan pada keratitis. 19 . c. diantaranya :  Candida  Aspergilin  Nocardia  Cephalosporum d. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan: a. misalnya blefaritis menahun b. Defisiensi kelenjar air mata. Herpes simpleks  Herpes zoster  Variola (jarang)  Vacinia (jarang) c.

Menurut tempatnya : a. misalnya pada keratitis neuroparalitik. dari edema biasa dan vakuolasi sampai erosi kecil-kecil. dan tuberkulosis. pengkeruhan. Perubahan pada epitel sangat bervariasi. Semua variasi ini mempunyai makna diagnostik yang penting  Keratitis subepitelial Lesi-lesi ini sering terjadi karena keratitis epithelial (misal infiltrat subepitelial pada keratokonjungtivitis epidemika. keratinisasi partial dan lain-lain.  Keratitis sklerotikans 20 . Keratitis profunda  Keratitis interstitial Merupakan keratitis yang ditemukan pada jaringan yang lebih dalam. hidup di padang gurun. e. Keratitis superfisial  Keratitis epitelial Epitel kornea terlibat pada kebanyakan jenis konjungtivitis dan keratitis serta pada kasus-kasus tertentu merupakan satu-satunya jaringan yang terlibat (misalnya: pada keratitis punctata superficialis). pembentukan filament.d. Terjadi akibat alergi. yaitu keratitis nonsupuratif profunda disertai dengan neovaskularisasi. yang disebabkan adenovirus 8 dan 19). 2. Lesi-lesi ini juga bervariasi pada lokasinya di kornea. edema muncul sebagai penebalan kornea. dan vaskularisasi. b. Penguapan yang berlebihan. penipisan dan perlunakan yang dapat berakibat perforasi. Karena parut pada kornea. Umunya lesi ini dapat diamati dengan mata telanjang namun dapat juga dikenali pada pemeriksaan biomikroskopik terhadap keratitis epitelia.  Keratitis stromal Respons stroma kornea terhadap penyakit termasuk infiltrasi. infeksi lues. atau parut. yang menunjukkan akumulasi sel-sel radang. keratitis lagoftalmus.

Kornea terlihat putih menyerupai sklera. Keratitis numularis atau dimmer Keratitis numularis merupakan bentuk keratitis dengan ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan tepinya berbatas tegas sehingga memberikan gambaran halo. Keratitis ini berjalan lambat dan sering ditemukan pada petani sawah. memberikan hasil positif pada tes fluorescein. blefaritis. Keratokonjungtivitis epidemika Keratitis ini terjadi akibat peradangan kornea dan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi adenovirus tipe 8. Bila tidak diobati dapat menyebabkan ulkus kornea. 3. berbatas tegas unilateral yang menyertai radang sklera atau skleritis. 21 . Keratitis pungtata superfisial Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea. masih terdapat beberapa jenis keratitis lainnya: 1. keratopati. trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. 2. sinar ultraviolet. Keratitis marginal Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus akibat infeksi lokal konjungtiva. keracunan obat topikal (neomycin. tobramycin). Penyakit ini dapat timbul sebagai suatu epidemik. lagoftalmus. Selain keratitis yang dijelaskan di atas.Merupakan kekeruhan berbentuk segitiga pada kornea. Kadang-kadang mengenai seluruh limbus. terlokalisasi. Diduga merupakan reaksi alergi ataupun imunologik terhadap virus Herpes simpleks. 4. Keratitis memberikan kekeruhan infiltrat yang bulat atau lonjong di jaringan kornea.  Keratitis disiformis Disebut juga keratitis sawah karena banyak mengenai petani. Diduga terjadi karena perubahan susunan serat kolagen yang menetap. Etiologinya adalah sindrom dry eye.

7. namun terutama terjadi pada musim panas mengenai anak sebelum berumur 14 tahun. ditambah lagi gonokok mempunyai enzim proteolitik dan hidupnya intra seluler. Mengenai kelopak atas dan konjungtiva pada daerah limbus berupa hipertrofi papil yang kadang-kadang berbentuk Cobble stone. sehingga amat sensitif. mata merah. Terjadi pengelupasan lapis sel tanduk epitel kornea. Penderita akan mengeluh sakit pada mata karena kornea memiliki banyak serabut nyeri. Ulkus ini termasuk ulkus marginal. Rasa sakit diperberat oleh kuman kornea bergesekan dengan 22 . Ulkus Mooren Etiologinya belum diketahui. sehingga dapat menimbulkan kerusakan kornea yang hebat tanpa harus didahului dengan kerusakan epitel. Keratokonjungtivitis vernal Merupakan penyakit rekuren. G. tetapi diduga autoimun. dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral.5. Pada 60-80% kasus unilateral dan ditandai ekstravasasi limbus dan kornea perifer. Adanya blefarospasme menyebabkan sekret yang purulen dan penuh dengan gonokok tertumpuk di bawah konjungtiva palpebra superior. Kebanyakan lesi kornea superfisialis maupun yang sudah dalam menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. yang sering berakibat kerusakan mata. Penyebab belum diketahui.2. 8. 6. GEJALA KLINIS. mata berair. Terdapat daerah berwarna keputihan yang merupakan degenerasi hialin.4 Pasien dengan keratitis biasanya datang dengan keluhan iritasi ringan. dan silau (fotofobia) serta sulit membuka mata (blepharospasme). Ulkus yang dibentuk dalam dan dapat menimbulkan perforasi yang juga dapat berakhir dengan kebutaan. Gonore Kuman diplokokus gonore menyebabkan konjungtivitis purulenta yang akut disertai blefarospasme. penglihatan yang sedikit kabur. adanya sensasi benda asing. Keratokonjungtivitis flikten Merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. yang sakit dan progresif.

Dilatasi pembuluh darah iris adalah fenomena refleks yang disebabkan iritasi pada ujung serabut saraf pada kornea. pewarnaan dengan fluoresin. Anamnesis mengenai pemakaian obat lokal oleh pasien. penyakit-penyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya. namun erosi yang kambuh sangat sakit dan keratitis herpetic tidak. Dalam mengevaluasi peradangan kornea penting untuk membedakan apakah tanda yang kita temukan merupakan proses yang masih aktif atau merupakan kerusakan dari struktur kornea hasil dari proses di waktu yang lampau. Dari hasil anamnesis sering diungkapkan riwayat trauma. Letak lesi di kornea dapat diperkirakan dengan melihat tanda – tanda yang terdapat pada kornea. lokasi dari infiltrat pada kornea. selain oleh terapi imunosupresi khusus. seperti diabetes. AIDS.palpebra. dan penyakit ganas. misalnya pada keratitis herpetic akibat infeksi herpes simpleks sering kambuh. Tanda-tanda yang ditemukan ini juga berguna dalam mengawasi perkembangan penyakit dan respon terhadap pengobatan. neovaskularisasi. Karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral pada kornea.4 Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis. keratik presipitat. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit-penyakit sistemik.3. atau virus terutama keratitis herpes simpleks. lokasi dan morfologi kelainan. Sangat penting untuk melaksanakan penegakan diagnosis morfologis pada pasien yang dicurigai dengan lesi kornea. gejala klinik dan hasil pemeriksaan mata. edema kornea. DIAGNOSIS1.2. dan keadaan di bilik mata depan. Sejumlah tanda dan pemeriksaan sangat membantu dalam mendiagnosis dan menentukan penyebab dari suatu peradangan kornea seperti: pemeriksaan sensasi kornea. fungi. Pada 23 . derajat defek pada epithel. Pasien biasanya juga berair mata namun tidak disertai dengan pembentukan kotoran mata yang banyak kecuali pada ulkus kornea yang purulen. yang dapat merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri. Fotofobia yang terjadi biasanya terutama disebabkan oleh kontraksi iris yang meradang. adnya riwayat penyakit kornea. karena mungkin telah memakai kortikosteroid. H.

respon struma kornea dapat berupa infiltrasi sel radang. filament epithelial dan Keratitis terpapar akibat mukosa khas. pembentukan filament maupun keratinisasi partial. Pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) esensial dalam pemeriksaan kornea. apabila tidak terdapat alat tersebut dapat digunakan sebuah loup dan iluminasi yang terang. terutama di belahan bawah eksoftalmus Keratokonjungtuvitis kornea Lesi mirip-sinsisium. zoster Keratitis adenovirus linear (pseudosendrit) Erosi kecil-kecil terpulas fluorecein. 1. 5. perubahan epitel bervariasi secara luas mulai dari edema ringan dan vakuolasi hingga erosi. Dengan cara ini area yang kasar sebagai indikasi dari defek kornea dapat terlihat.keratitis epithelial. yang keruh dan vernal berbercak-bercak kelabu. difus Keratitis sindrom namun paling mencolok di daerah pupil Epitel rusak dan erosi kecil-kecil. Jenis keratitis Keratitis stafilokok Bentuk keratitis Erosi kecil-kecil terputus fluorescin. Pemeriksaan fisik pada keluhan yang mengarahkan kecurigaan kepada keratitis dilakukan melalui inspeksi dengan pencahayaan adekuat. Berikut ini merupakan jenis keratitis dan bentuknya: No. 6. daerah pupil atas. pleomorfik. paling mencolok di 2. terutama belahan bawah kornea Erosi kecil-kecil tidak teratur. Pemeriksaan harus melihat jalannya refleksi cahaya sementara memindahkan cahaya dengan hati – hati ke seluruh kornea. edema yang bermanifestasi kepada edema kornea yang awalnya bermula dari stroma lalu ke epitel kornea. Kadang-kadang membentuk bercak epithelium opak 24 . kadang-kadang 4. Keratitis varicella- lonjong) dengan edema dan degenerasi Lebih difus dari lesi HSK. Pada keratitis stromal. terpulas lagoftalmus atau fluorescein. Sjorgen terpulas fluorescein. Larutan flouresent dapat menggambarkan lesi epitel superfisial yang mungkin tidak dapat terlihat dengan inspeksi biasa. terutama Keratitis herpetik sepertiga bawah kornea Khas dendritik (kadang-kadang bulat atau 3. 7.

spectrum luas Keratitis superficial epitel Focus sel-sel epithelial sembab. PEMERIKSAAN PENUNJANG4. serta memperbaiki ketajaman penglihatan.8. lingkaran 10. mikropanus Lesi tipe virus seperti pada SPK. eksaserbasi. Ada beberapa hal yang perlu dinilai dalam mengevaluasi keadaan klinis keratitis meliputi: rasa sakit. menekan reaksi peradangan sehingga tidak memperberat destruksi pada kornea. pukul 9-3 ganglion gaseri Keratitis karena obat- Erosi kecil-kecil terpulas fluorescein dengan terutama antibiotika edema seluler berbintik-bintik. difus namun HS. 13. hiperemi bulbar. Keratitis rubeola. berkeratin menebal. mengatasi komplikasi. mempercepat penyembuhan defek epitel. HZ dan destruksi terutama di fissure palpebrae. 25 . di daerah rubella dan parotitis pupil epidemika Trachoma Erosi epitel kecil-kecil terpulas fluorescein Keratitis defisiensi pada sepertiga atas kornea Kekeruhan berbintik kelabu sel-sel epitel vitamin A akibat keratinisasi partial.6 Pemeriksaan laboratorium dengan melakukan kultur dari flora kornea dilakukan selama terjadi inflamasi aktif dapat membantu dalam penelitian selanjutnya akan tetapi hal tersebut tidak begitu signifikan dalam penegakan diagnosis dan penatalaksana penyakit keratitis pungtata superfisial. PENATALAKSANAAN. Pemeriksaan pencitraan dengan menggunakan fotografi slit lamp untuk mendokumentasikan inflamasi aktif dan periode inaktivitas dapat dilakukan tapi hal tersebut juga tidak begitu penting dalam penegakan diagnosis maupun penanganan penyakit J. Keratitis trofik-sekuele Edema epitel berbercak-bercak. filament selama 9.4. berhubungan dengan bintik-bintik bitot I. 14.1. punctata (SPK) Keratokonjungtivitis lonjong. bulat atau 11.2. menimbul bila penyakit aktif Erosi kecil-kecil terpulas fluorescein di limbic superior sepertiga atas kornea. limbus 12.6 Tujuan penatalaksanaan keratitis adalah mengeradikasi penyebab keratitis.

Pasien dapat diberi air mata buatan. Dalam hal ini juga untuk mengurangi subepithelial "ghost" opacity yang sering mengikuti keratitis dendritik. pada keratitis ini sebaiknya juga diberikan terapi simptomatisnya agar dapat memberikan rasa nyaman dan mengatasi keluhan-keluhan pasien. Pemberian tetes kortikosteroid pada KPS ini bertujuan untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah terbentuknya jaringan parut pada kornea. lakrimasi. rasa mengganjal. dan juga menghilangkan keluhan subjektif seperti fotobia namun pada umumnya pada pemberian steroid dapat menyebabkan kekambuhan karena steroid juga dapat memperpanjang infeksi dari virus jika memang etiologi dari keratitis tersebut adalah virus. Untuk bakteri gram positif pilihan pertama adalah cafazolin. Untuk virus dapat diberikan idoxuridine. Namun pemberian kortikosteroid topikal pada keratitis ini harus terus diawasi dan terkontrol karena pemakaian kortikosteroid untuk waktu 26 .fotofobia. Diharapkan debridement juga mampu mengurangi kandungan virus epithelial jika penyebabnya virus. amfoterisin atau fluconazol. Untuk jamur pilihan terapi yaitu: natamisin. ukuran ulkus dan luasnya infiltrat. Penatalaksanaan pada ketratitis pada prinsipnya adalah diberikan sesuai dengan etiologi. sikloplegik dan kortikosteroid. konsekuensinya reaksi radang akan cepat berkurang.Debridement epitel berperan untuk pengambilan spesimen diagnostik. Selain itu obat yang dapat membantu epitelisasi dapat diberikan. Pemberian air mata buatan yang mengandung metilselulosa dan gelatin yang dipakai sebagai pelumas oftalmik. gentamisin atau polimixin B. Namun selain terapi berdasarkan etiologi. kornea selain juga untuk menghilangkan sawar epitelial sehingga obat lebih mudah menembus. Sebagian besar pakar menganjurkan melakukan debridement sebelumnya. penisilin G atau vancomisin dan bakteri gram negatif dapat diberikan tobramisin. trifluridin atau acyclovir. Pemberian antibiotik juga diindikasikan jika terdapat secret mukopurulen. meningkatkan viskositas. dan memperpanjang waktu kontak kornea dengan lingkungan luar. menunjukkan adanya infeksi campuran dengan bakteri.

Sedangkan trokamida (0. Namun atropin (0. siklopegik khususnya pada kasus mengakibatkan lumpuhnya yang otot sfingter iris sehingga terjadi dilatasi pupil dan mengakibatkan paralisis otot siliar sehingga melemahkan akomodasi.5%1%) memberikan efek setelah 15-20 menit. Penggunaan kortikosteroid pada keratitis menurut beberapa jurnal dapat dipertimbangkan untuk diganti dengan NSAID. homatropin. merah. dengan efek maksimal dicapai setelah 20-30 menit dan hilang setelah 3-6 jam. bahkan bila perlu dilakukan keratoplasti.5%-2%) merupakan sikloplegik yang sangat kuat dan juga bersifat midriatik sehingga biasanya tidak dijadikan pilihan terapi pada keratitis tertentu misalnya KPS. Terdapat beberapa obat sikloplegia yaitu atropin. Lensa kontak sebagai terapi telah dipakai untuk mengendalikan gejala. dan tropikamida. Pemberian palpebra. dan mulut kering.lama dapat memperpanjang perjalanan penyakit hingga bertahun-tahun dan berakibat timbulnya katarak dan glaukoma terinduksi steroid. Pada keratitis yang telah mengalami penipisan stroma dapat ditambahkan lem cyanoacrylate untuk menghentikan luluhnya stroma. Efek maksimal atropin dicapai setelah 30-40 menit dan bila telah terjadi kelumpuhan otot akomodasi maka akan normal kembali dalam 2 minggu setelah obat dihentikan. supaya dapat melindungi lapisan kornea pada waktu kornea bergesekan dengan mengganggu. Bila tindakan tersebut gagal. demam. Atropin juga memberikan efek samping nadi cepat. Dari penelitianpenelitian tersebut telah menunjukan bahwa NSAID dapat mengurangi keluhan subjektif pasien dan juga mengatasi peradangannya seperti halnya kortikostroid namun lebih aman dari steroid itu sendiri karena tidak akan menyebabkan katarak ataupun glaukoma yang terinduksi steroid. Flap konjungtiva hanya dianjurkan bila masih 27 . Obat ini sering dipakai untuk melebarkan pupil pada pemeriksaan fundus okuli. menambah berat radang akibat infeksi bakteri juga steroid ini dapat menyembunyikan gejala penyakit lain. menambah kemungkinan infeksi jamur. harus dilakukan flap konjungtiva. Homatropin (2%-5%) efeknya hilang lebih cepat dibanding dengan atropin. efek maksimal dicapai dalam 20-90 menit dan akomodasi normal kembali setelah 24 jam hingga 3 hari.

Pasien pun harus dilarang mengucek matanya karena dapat memperberat lesi yang telah ada. terdapat penempelan iris pada bagian belakang kornea (sinekia anterior). Pasien juga sebaiknya dianjurkan agar tidak terlalu sering terpapar sinar matahari ataupun debu karena keratitis ini dapat juga terjadi pada konjungtivitis vernal yang biasanya tercetus karena paparan sinar matahari. Leukoma : kekeruhan seluruh ketebalan kornea yang mudah sekali terlihat dari jarak yang agak jauh sekalipun. Selain terapi medikamentosa sebaiknya diberikan pula edukasi pada pasien keratitis.Pada keratitis dengan etiologi bakteri.4. 28 . KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS3. bila sudah terjadi descemetocele flap konjungtiva tidak perlu. maupun jamur sebaiknya kita menyarankan pasien untuk mencegah transmisi penyakitnya dengan menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan. Stafiloma kornea : bila seluruh permukaan kornea mengalami ulkus disertai perforasi. maka pada penyembuhan akan terjadi penonjolan keluar parut kornea yang disertai dengan sinekia anterior. sapu tangan. leukoma adherens dan stafiloma kornea. makula. dan debu. Pasien diberikan pengertian bahwa penyakit ini dapat berlangsung kronik dan juga dapat terjadi kekambuhan. leukoma. virus. dengan pengobatan yang baik dapat sembuh tanpa jaringan parut.ada sisa stroma kornea. K. dan tissue. tetapi dianjurkan dengan keratoplastik lamellar.6 Bila peradangan hanya di permukaan saja. membersihkan lap atau handuk. udara panas. Makula : parut yang lebih tebal berupa kekeruhan padat yang dapat dilihat tanpa menggunakan kaca pembesar. terutama jika pasien tersebut memang telah memiliki riwayat atopi sebelumnya. penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut yang dapat berupa nebula. Leukoma adherens : keadaan dimana selain adanya kekeruhan seluruh ketebalan kornea. Nebula : bentuk parut kornea berupa kekeruhan yang sangat tipis dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan kaca pembesar atau menggunakan slit lamp. Bila peradangan dalam.

sehingga kuman dapat masuk ke dalam mata dan menyebabkan endoftalmitis atau panoftalmitis. iris dapat menonjol keluar melalui perforasi dan terjadi prolaps iris. Saat terjadi perforasi. Dengan adanya perforasi. oleh karena timbulnya hubungan langsung dari bagian dalam mata dengan dunia luar. Adanya perforasi dapat membahayakan mata. tekanan intraokular menurun.Bila ulkusnya lebih dalam dapat terjadi perforasi. Bagan 1: Perjalanan Keratitis 29 .

Tersedia dari : http://emedicine.medscape. Balai Penerbit FKUI Jakarta.com/article/1194028-overview 30 . 4. hal 147-158 2. 5. United States Of America. 2007. Edisi Ketiga. Ilmu Penyakit Mata. 2004. Eye:Vision. hal 129-153 3. Blackwell Science.W. Sherwood L. Khurana A.Human Physiology.2005. Bacterial Keratitis. Hal 190-208.2007 6. Bruce J. United States od America.K.Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology Sixteenth Edition.E. hal 89 – 100. Ilyas S. Anthony B. Comphrehensive Ophtalmology Fourth Edition. Cornea. Chris C. Lectures Notes Oftalmologi Edisi Kesembilan. New Delhi. Diunduh pada 25 April 2013. Paul R.Sixth Edition. Thomson Higher Education. 2003. John P.DAFTAR PUSTAKA 1. Fernando H.

BAB II TNJAUAN PUSTAKA 2.1 31 .

7 PENATALAKSANAAN 32 .4 GEJALA KLINIS 3.3 KLASIFIKASI 3.BAB III KERATITIS 3.5 DIAGNOSIS 3.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG .3 PATOFISIOLOGI KERATITIS 3.2 EPIDEMIOLOGI 3.1 DEFINISI 3. 3.

rasa silau. Keratitis superfisial adalah radang kornea yang mengenai lapisan epitel dan membran bowman. status kesehatan pasien (contohnya immunocompromised). interstisial dan profunda. dan penglihatan menjadi sedikit kabur. yaitu superfisial. Diagnosis keratitis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan lampu celah. penatalaksanaan keratitis dapat dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan etiologi penyebabnya. Prognosis pada setiap kasus tergantung pada beberapa faktor. termasuk luasnya dan kedalaman lapisan kornea yang terlibat. ada atau tidaknya vaskularisasi dan deposit kolagen pada jaringan tersebut. nyeri. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. dan diagnosis serta pengobatan yang diberikan. Dengan pemeriksaan lampu celah. Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasinya. Setiap etiologi menunjukan gejala yang berbeda – beda tergantung dari jenis pathogen dan lapisan kornea yang terkena. BAB IV 33 . virulensi patogen. epifora.8 KOMPLIKASI & PROGNOSIS BAB III KESIMPULAN Keratitis adalah peradangan pada kornea yang ditandai dengan adanya infiltrat di lapisan kornea. kelilipan. ada atau tidak nya perluasan ke jaringan orbita lain. Keratitis dapat memberikan gejala mata merah. waktu penegakkan diagnosis klinis yang dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang lainnya seperti kultur pathogen.3.