Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada tahun 2005 terjadi kasus pembunuhan di Wisconsin oleh seorang anak laki – laki
dengan menggunakan racun tikus berjenis brodifakum. Dia meracuni seluruh anggota
keluarga dengan cara mencampur brodifakum dalam makanan. Keluarga anak laki – laki itu
mengalami beberapa keluhan yang tidak fatal seperti sakit perut maupun muntah –
muntah.Namun setelah 5 minggu keluarganya meninggal akibat brodifakum.Brodifakum
sendiri adalah antikoagulan generasi kedua yang biasanya digunakan sebagai racun tikus.
Antikoagluan racun tikus pertama kali ditemukan pada tahun 1940 dan hingga sekarang
masih bannyak penelitian untuk mengembangkan dan juga penelitian terhadap keamanan
racun tikus.salah satu racun tikus yang beredar luas di pasaran adalah brodifakum.
Brodifakum (4-hydroxycloumarin antagonis vitamin K) adalah antikoagulan generasi kedua
yang menyerang system hematologi dengan merusak system pembekuan darah. [1,2] Substansi
ini termasuk dalam superwarfarin, golongan potent, antikoagulan jangka panjang, maupun
pengencer darah. brodifakum masih berhubungan dengan warfarin yang sampai sekarang
masih digunakan untuk mencegah pembekuan darah.[3]
Brodifakum sendiri bekerja dengan menghambat kompetitif vitamin K dalam sintesis
faktor – faktor pembekuan darah (faktor II protrombin, faktor VII, XI, dan X di dalam hati),
sehingga terjadi penurunan kadar faktor - faktor tersebut dalam darah dan menyebabkan
terganggunya mekanisme koagulasi darah. Akibat terjadinya penghambatan dalam koagulasi
darah dapat menyebabkan timbulnya perdarahan dalam organ vital tikus.[4]
Jika sudah mencapai dosis efek dan menyebabkan gangguan pembekuan darah biasanya
muncul gejala gusi berdarah, epistaksis, ekimosis, haematoma, hematemesis, melena, dan
hematuria. Sedangkan resiko utama brodifakum pada tikus adalah perdarahan fatal pada
gastrointestinal dan intracerebral.[1]

1

2

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka saya melakukan penelitian mengenai
hubungan pemberian brodifakum dosis bertingkat dengan perubahan gambaran patologi
anatomi gaster mencit karena pada penelitian sebelumnya belum ditemukan adanya efek yang
besar pada jaringan gaster dengan pemberian brodifakum.

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka permasalahan yang
dirumuskan dalam penelitian ini yaitu Bagaimana perbandinganperubahan gambaran patologi
anatomi gaster tikus denganpemberian brodifakum dosis LD50 dan LD100?

1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui perbandingan patologi anatomi gaster mencit terhadap pemberian brodifakum
dosis LD50 dan LD100
1.3.2 Tujuan Khusus

Mengetahui gambaran normal patologi anatomi gaster tikus wistar.
Mengetahui kerusakan atau perubahan jaringan gaster tikus wistar terhadap

pemberian brodifakum LD50.
Mengetahui kerusakan atau perubahan jaringan gaster tikus wistar terhadap

pemberian brodifakum LD100
Membandingkan jaringan gaster normal dengan gaster yang terkontaminasi

brodifakum LD50.
Membandingkan jaringan gaster normal dengan gaster yang terkontaminasi

brodifakum LD100.
Membandingan jaringan gaster yang terkontaminasi LD50 dengan jaringan gaster
yang terkontaminasi LD100.

3

Membandingkan jaringan gastert normal dengan gaster yang terkontaminasi LD50
dan LD100

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Penelitian untuk Peneliti

Dapat digunakan untuk mengidentifikasi perubahan jaringan gaster pada manusia
atau hewan lain akibat keracunan brodifakum.

1.4.2 Manfaat Penelitian untuk Ilmu Pengetahuan

Dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian – penelitian brodifakum
kedepannya.

1.4.3 Manfaat Penelitian untuk Masyarakat

Dapat digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya
brodifakum

1.5 Keaslian Penelitian
Nama peneliti, Judul

Metode penelitian

Hasil

brodifakum tidak menimbulkan keracunan tetapi kematian dalam waktu sekitar 4 hari Laboratory and Field Studies Eksperimental terhadap hewan Pada pemberian brodifakum of Brodifacoum Residues in dengan pemberian dosis secara bertingkat. salah satu contohnya pada serangga dan kepiting. dan pengumpulan hewan percobaan ditemukan to Wildlife and People data hewan yang memakan paling banyak residu di hati brodifakum secara sekunder daripada pada serum dan otot. sedangkan pada penelitian dengan pengumpulan data ditemukan bahwa ditemukan residu brodifakum pada beberapa hewan yang memakan tikus maupun hewan lain yang terpapar brodifakum BAB II TINJAUAN PUSTAKA . pada setiap Relation toRisk of Exposure bertingkat.4 penelitian. Tahun terbit Literature Review of the Pengumpulan Data Efek yang dihasilkan Acute Toxicity and brodifacum terhadap hewan Persistance of Brodifacoum to invertebrate berbeda dengan Invertebrates mamalia.

Hewan jenis rodensia pada umumnya memetabolisme coumarin menjadi 3.[9] . Penelitian struktur kimiawi dari senyawa coumarin menunjukkan bahwa dalam beberapa coumarin.[6] Coumarin memiliki tingkat toksik moderate untuk hepar dan ginjal. yang membuatnya menjadi 7-hydroxycoumarin.1 mg/kgBB. atau lebih sering dikenal dengan nama umbelliferone. substitusi senyawa dapat terjadi di banyak tempat.Meskipun coumarin agak berbahaya bagi manusia.2-benzopyrone merupakan suatu kelas yang penting dan besar yang dibentuk oleh oxygen heterocycles.5 2. Senyawa coumarin telah menunjukkan spectrum yang luas dari tumbuhan obat yang digunakan sejak dahulu dan hingga saat ini sudah ditemukan sekitar 1300 senyawa lain yang berhasil diidentifikasi.Karenan efek famakologi yang bermacam-macam. coumarin bersifat hepatotoksik pada tikus namun tidak pada mencit. Akan tetapi penjelasan tentang hubungan struktur dan aktivitas coumarin tetaplah belum jelas. yaitu LD 50 275mg/kg.1 Brodifakum sebagai Derivat Coumarin Coumarin atau 1.[5] 1. senyawa dengan tingkat toksisitas yang lebih rendah. The German Federal Institute for Risk Assessment telah mengeluarkan jumlah konsumsi harian yang boleh dikonsumsi. Banyak coumarin yang teroksigenasi pada posisi C-7. yaitu 0.4-coumarin epoxide. namun untuk konsumsi yang agak tinggi dalam waktu singkat tidaklah terlalu berbahaya [8]. Occupational Safety and Health Administration dari amerika serikat tidak mengklasifikasikan coumarin sebagai zat karsinogen terhadap manusia. coumarin telah menarik peningkatan minat penelitian dalam beberapa tahun terakhir.Manusia pada umumnya memetabolisasi coumarin menjadi 7-hydroxycoumarin.Terdapat banyak kemungkinan permutasi yang ditawarkan dengan menggukanakn substitusi dan konjugasi. tingkat toksisitas yang rendah dibandingkan dengan senyawa yang memilii hubungan dengan coumarin lainnya. sanyawa yang beracun dan tidak stabil yang pada metabolisme lebih lanjut dapat menyebabkan kanker hepar pada tikus dan tumor traktus respiratorius pada mencit [7].2-benzopyrone merupakan zat kimia yang sering ditemukan dalam bermacam-macam tanaman. yang sering dianggap sebagai prekursor biogenetik dari coumarin yang lebih kompleks.

[1] .3.4-tetrahydronaphtol.6 Meskipun sebenarnya coumarin tidak memiliki efek antikoagulan. Brodifakum biasanya berbentuk bubuk putih yang tidak berbau dan mencair pada suhu 228 – 232 C.[10] Berikut adalah beberapa contoh senyawa derivat dari coumarin :      Brodifakum Bromadiolon Coumafury Difenacoum Warfarin 2. brodifakum ini diperoleh dari kondensasi 4-hydroxycoumarin dengan 3-(4’-bromodiphenyl – 4-yl) -1. coumarin dapat berubah menjadi natural antikoagulan dicoumarul oleh spesies beberapa fungi.Tetapi karena potensi kerja yang tinggi dan durasi kerja yang panjang (waktu paruh 20 – 130 hari). kloroform dan larutan klorin lainnya.Ini terjadi karena produksi dari 4-hydroxycoumarin.2 Brodifakum 2. yang kemudian karena pada kehadiran formaldehid berubah menjadi anticoagulan yang sebenarnya yaitu dicoumarol. Dicoumarol pernah bertanggung jawab terhadap kasus pendarahan yang dikenal dengan nama "Sweet clover disease".2.1 Fisik dan kimia brodifafkum Antikoagulan sintesis ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1975 oleh karena banyaknya muncul hama tikus yang resistan terhadap golongan warfarin. Brodifakum sangat rendah kelarutannya di air tetapi sangat larut apabila dicampur dengan acetone.[11] Brodifakum adalah antikoagulan 4-hydroxycloumarin dengan kerja yang serupa dengan pendahulunya seperti dikumarol dan warfarin. Brodifakum juga merupakan zat kimia yang stabil dan tidak gampang berubah ikatannya dalam suhu ruangan. brodifakum dikategorikan sebagai antikoagulan generasi kedua atau superwarfarin.2.brodifakum juga akan membentuk garam amine apabila terlarut dalam air.

setelah diabsorbsi.2 Absorbsi obat Reaksi pemberian obat tergantung oleh dua faktor penting yaitu farmakokinetik dan farmakodinamik. Fase biotransformasi: fase dimana terjadi perubahan struktur kimia obat dalam cairan atau jaringan tubuh dan dikatalis oleh enzim. Fase absorbsi: Saat pertama kali obat masuk dalam tubuh.7 2. factor absorbsi inilah yang nantinya akan mempengaruhi jumlah dosis obat yang dibutuhkan dan kecepatan perjalanan obat di dalam tubuh. metabolism dan ekskresi. Farmakodinamik adalah suatu pengaruh obat dalam tubuh. Fase distribusi: Fase penyebaran obat di dalam jaringan – jaringan tubuh. obat terikat mengalami fase distribusi ke sirkulasi sistemik menuju ke reseptor dan jaringan – jaringan. Fase ekskresi: merupakan fase pengeluaran sisa – sisa obat. distribusi. Hasil metabolisme diekskresikan melalui ginjal. 2. obat terbagi menjadi dua bagian yaitu obat terikat dan obat bebas.[32] 1. Kecepatan ekskresi dipengaruhi kecepatan eliminasi efek obat dalam tubuh. 3.Mengenai efek fisiologis dan biokimiawi obat terhadap berbagai jaringan tubuh yang sakit maupun sehat serta mekanisme kerjanya. Sedangkan obat bebas melanjutkan proses ke fase metabolism atau biotransformasi di hepar.2. Farmakokinetik adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat dan aspek farmakologi yang mencakup efek obat dalam tubuh yaitu absorbs. 4.2. 2.3 Cara Kerja Brodifakum . obat diabsorbsi oleh jaringan tubuh.

4. inhalasi. bekerja dengan mengganggu sintesis normal faktor pembekuan vitamin k-dependent pada hepar hewan vertebra. Intoksikasi paling cepat melalui inhalasi. Brodifakum meng antagonisasi enzim vitamin K1-epoxide reductase pada hepar dan menyebabkan penurunan secara bertahap dari bentuk aktif vitamin K.Kematian dapat juga terjadi secara tiba-tiba tergantung dimana pendarahan tersebut terjadi. sehingga plasma darah dan darah mulai keluar dari pembuluh darah kecil.3 epokside yang secara biologis tidak akftif di reduksi oleh enzim mikrosomal menjadi bentuk aktif vitamin K. Absorbsi utama brodifakun terjadi di saluran . seperti racun antikoagulan lainnya. terutama apabila pendarahan terjadi pada bagian otak maupun pada bagian jantung. yang sangat penting pada sintesis prothrombin dan faktor pembekuan lainnya. Hewan yang keracunan akan mengtalami pendarahan internal yang semakin lama semakin parah dan dapat mengakibatkan shock. Brodifakum ( sama seperti antikoagulan yang lain dalam dosis toksik) meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. kehilangan kesadaran dan pada akhirnya kematian.2. yang menyebabkan peningkatan waktu untuk pembekuan darah sampai pada titik dimana tidak terjadi pembekuan darah sama sekali. Pada tikus umumnya kematian terjadai dalam waktu 1 minggu setelah pemberian brodifakum.1 Absorbsi dan distribusi Brodifakum Cara masuk brodifakum ke dadalam tubuh dapat melalui per oral.[13] Periode laten brodifakum mulai dari waktu pemberian hingga ditemukannya tanda-tanda klinis bermacam-macam. sedangkan paling lambat melalui per kutan. Pada sel hepar vitamin k 1-2.8 Brodifakum.[12] Selain itu. dan pada akhirnya faktor pembekuan vitamin K-dependent.4 Metabolisme brodifakum 2. 2. maupun per kutan.2.

2.3 Metabolisme brodifakum Metabolisme brodifakum belum sepenuhnya didefinisikan akibat belum adanya penelitian ilmiah terhadap brodifakum.pada kasus intoksikasi tikus.2.[16] Phenobarbital diketahui dapat meningkatkan aktivitas sistem enzim mikrosomal hepatoseluler dan juga meningkatkan metabolisme brodifakum sama halnya dengan warfarin.[16] 2. 120 hari pada anjing. dan 156 jam pada tikus.4.4.9 gastrointestinal.15] Warfarin memiliki waktu paruh pada plasma 42 jam dan dengan asumsi fungsi hepar normal.[14] 2.Brodifakum dan senyawa terkait lainnya mengikat lebih kuat pada bagian lipofilik hepar daripada senyawa warfarin. Studi metabolisme pada hewan telah menunjukkan waktu paruh brodifakum sekitar 24 hari. konsentrasi substansi pada hepar adalah 20 kali lebih tinggi dibandingkan pada konsentrasi serum. efek antikoagulan pada brodifakum dapat berlangsung selama lebih dar 7 minggu pada intoksikasi pasien.[14] .2 Biologi paruh waktu brodifakum Seperti pada semua golongan superwarfarin. brodifakum memiliki waktu paruh pada plasma yang sangat panjang. Sedangkan efek antikoagulan akan menghilang dalam beberapa hari.[11. Sebaliknya. Brodifakum dihidroksilasi menjadi senyawa inactive dengan campuran enzim oksidase di mikrosom hepar. Dalam penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa pretreatment dengan Phenobarbital dapat mengurangi efek antikoagulan dari brodifakum. Tetapi mengingat brodifakum telah tersubstitusi dengan struktur 4-hydroxycoumarin. kemungkinan besar golongan superwarfarin ini dimetabolisme dengan cara yang mirip dengan warfarin.

[16] 2. lutut dan juga pantat.5.4 Eliminasi Brodifakum Eliminasi brodifakum mungkin hampir mirip dengan senyawa warfarin yaitu dengan cara senyawa yang dihasilkan dari hidroksilasi pada fungsi sistem oksidasi hepatoseluler akan diekskresikan dalam urin.[1] 2. Sedangkan sistem syaraf tepi jarang ditemukan adanya komplikasi akibat brodifakum.5.4.[16] 2. Sedangkan pada kasus brodifakum yang tertelan oleh manusia biasanya didapatkan nyeri perut dan juga nyeri pinggang setelah terjadi perdarahan intra – abdominal.1 Neurologi Dampak brodifakum pada system saraf dapat ditemukan pada sistem saraf pusat.2.2.2 Gastrointestinal Pada hewan yang diberikan brodifakum secara oral ditemukan adanya hematemesis dan juga melena pada saluran pencernaannya. diantaranya adalah[1] 2.10 2.5.ditemukan adanya perdarahan pada intracerebral akibat komplikasi sekunder. tidak ditemukan gejala klinis yang .2.3 Hepar Pada penelitian yang sudah ada.5 Efek brodifakum pada organ Brodifakum dapat mengakibatkan berbagai komplikasi pada organ tubuh hewan maupun manusia.2. walaupun hepar merupakan organ yang berperan dalam metabolisme brodifakum.2.Pada beberapa kasus ditemukan juga terdapat perdarahan pada jaringan – jaringan otot terutama pada otot siku.

Koagulasi darah ini dapat ditemukan setelah terpapar brodifakum dalam dosis yang signifikan. Gejala hematologis yang biasa ditemukan adalah gusi berdarah.5. hematuria. tenggorokan (efek local) Didapatkan adanya epistaksis dan juga perdarahan pada bagian gusi akibat adanya gangguan koagulasi darah.2.2. Brodifakum juga dapat menyebabkan perdarahan saluran kemih.5.2.Tetapi di hepar didapatkan adanya koagulopati dan juga terdapat residu brodifakum akibat dari metabolismenya.11 jelas.2.7 Hematologi Komplikasi utama pada brodifakum dapat ditemukan pada hematologi karena brodifakum mengganggu sintesis vitamin K yang mengakibatkan adanya gangguan koagulasi darah. epistaksis.5.4 Sistem saluran kemih Haematuria biasanya didapatkan pada hewan yang terpapar brodifakum.8 Resiko lain Salah satu kasus aborsi telah dilaporkan oleh Lipton & Klaas (1984).6 Mata. hematoma.2. dan juga dapat ditemukan adanya perdarahan internal.5. ekimosis. 2.[1] 2. haematuria bisa didapatkan secara klinis tetapi ada juga yang harus diperiksa dalam laboratorium.5. 2.Data sekresi ASI sampai saat ini belum ditemukan sehingga menyusui tidak .[16] 2. hidung.[1] 2. telinga.5 Kulit Kadang – kadang pada beberapa kasus intoksikasi brodifakum pada manusia didapatkan juga munculnya ruam – ruam petekiae.

yang terlibat dalam pembekuan darah. brodifakum (sama seperti antikoagulan lain dalam dosis toksik) meningkatkan permeabilitas kapiler darah. dan brodifakoum terus menurunkan tingkat aktif vitamin K dalam darah. [2] Vitamin K dibutuhkan untuk sintesis substansi – substansi penting seperti protrombin. dan lebih parah pada ikan.6 Intoksikasi brodifakum Brodifacoum menghambat enzim vitamin K epoksida reduktase.[17] Sebagai tambahan. mengakibatkan shok. plasma darah dan darah itu sendiri mulai bocor ke pembuluh – pembuluh darah yang lebih kecil. dan kematian.40 mg/kgBB .27 mg/kgBB Mencit 0. Binatang yang teracuni brodifakum dapat menderita perdarahan organ dalam yang semakin parah.[18] Nilai LD50 pada beberapa contoh binatang [17] Tikus 0.2. Individu dengan perdarahn diathesis memiliki resiko yang lebih tinggi. kehilangan kesadaran.12 dianjurkan. Brodifakum sangat mematikan bagi mamalia dan burung. Enzim ini diperlukan untuk pembentukan dari vitamin K dari vitamin K-epoksida.brodifakum adalah racun yang mudah terakumulasi karena merupakan lipofilik dan sangat lambat dieliminasi oleh tubuh. Gangguan ini menjadi bertambah parah sampai darah kehilangan kemampuannya untuk membeku secara efektif.[11] 2.

3.Pada sebagian besar hewan.25-3.Umur rata – rata seekor tikus galur wistar adalah 1.Gaster berada di bawah difragma dan terletak di region abdomen. tetapi memiliki perbedaan yang vital. Panjang dari usus halus berbeda – beda pada tikus.1 Anatomi gaster tikus galur wistar Gaster adalah organ pencernaan yang paling melebar dan terletak di antara bagian akhir dari esophagus dan awal dari duodenum.Gaster terdiri dari beberapa bagian seperti kardiak.30 mg/kgBB Marmut 0.25-25 mg/kgBB Anjing 0. Caecum pada tikus sangat luas dan tidak terbentuk umbai cacing (apendiks). epitel squamous bertingkat berubah . Seperti esofagus yang masuk ke lambung pada bagian sentral.Tikus galur wistar ini adalah tikus yang paling sering digunakan dalam penelitian biomedical.5 – 3 tahun.13 mg/kgBB Kucing 0.3 Tikus galur wistar Tikus galur wistar adalah mamalia kecil yang masuk dalam orda Rodentia. dan pilorus. Tikus juga memiliki sistem gastrointestinal yang hampir sama dengan hewan lain.[19] 2.13 Kelinci 0.6 mg/kgBB 2.28 mg/kgBB Tupai 0. Kingdom – animalia Filum –Chordata Class – Mamalia Ordo – Rodentia Famili – Muridae Tikus ini biasanya memiliki berat badan 25 – 40g (betina) dan 20 – 40g (jantan). fundus.

Makanan masuk ke lambung menuju lambung bagian depan (forestomach).23] Sebagian besar lambung mamalia menghasilkan pepsinogen A. Bagian lambung yang dekat dengan duodenum adalah bagian glandular dan dikarakterisasi oleh epitel sekretori yang lembut dan lipatan-lipatan (rugae).Kelenjar dilapisi oleh sel-sel yang mensekresi mukus dengan sitoplasma granuler dan nukleus basal.Lambung bagian non glandular mempunyai lekukan mukus yang dilapisi dengan epitel skuamous berlapis. Sel endokrin pada antrum memproduksi berbagai hormon seperti gastrin. Bagian pilorus dari lambung dikarakterisasi oleh mukus dari epitel kolumnar sederhana. sel chief.[20] Bagian pilorus lebih bercabang-cabang. diketahui berperan dalam kontraktilitas usus.14 menjadi epitel kolumnar pada gaster.[22. somatostatin. histologi. Histamin. sebuah daerah nonsekretori dengan epitel yang kasar. dimana pada bagian ini terdapat beberapa tipe sel seperti sel parietal yang menghasilkan asam klorida. dan cathepsin E. berkelok-elok. Fundus merupakan bagian yang sedikit lebih kompleks dari kardiak. bersama dengan sel endokrin dan sel parietal yang tersebar.Kelenjar gastrik tersusun dari sel parietal dan sel chief.Bagian glandular adalah korpus yang dilapisi oleh epitel kolumnar sederhana.[22] . cathepsin D. Pada tikus hanya dihasilkan pepsinogen C dan cathepsin D serta E.Lambung tikus berada di rongga perut sebelah kiri.Lambung tikus tidak jauh berbeda dengan lambung rodensia pada umumnya. dan sel enteroendokrin.Kardiak merupakan bagian sempit pada pertemuan antara gaster dengan esofagus. dan farmakologi dari sel mast pada bagian tubuh lainnya. pepsinogen C. dan lebih longgar dibanding bagian fundus. Sel mast di lambung berbeda secara morfologi.[21] Struktur dari lambung tikus adalah dua bagian dan dipisahkan oleh prominent limiting ridge yang menghalangi untuk muntah.Kardiak terdiri dari kelenjar kistik atau tubuler yang dilapisi sel-sel yang mensekresi mukus dimana diantaranya tersebar banyak sel-sel endokrin dan sedikit sel parietal serta sel utama (pepsinogen). dekat dengan hati. dan lainnya.

Bila kosong.Salah satu sifat luar biasa dari mukosa lambung adalah kemampuannya menghasilkan secret dengan pH mulai dari 2 sampai serendah 0. dan epitel yang khusus untuk penyerapan nutrisi [25]. komponen utama mukosa adalah membrane mukosa. sel endokrin untuk sekresi hormon saluran pencernaan. dan serat syaraf berjalan melewati lamina propia dan lapisan ini mengandung gut associated lymphoid tissue (GALT) yang penting dalam pertahanan melawan bakteri usus. Dinding gaster terdiri atas empat lapisan umum saluran cerna yaitu mukosa.Mukosa lambung dilapisi oleh epitel kolumner simpleks dan terdapat sel goblet. muskularis eksterna. .Bagian ini dibagi menjadi tiga lapisan.2 liter dapat masuk sebelum tekanan intraluminal mulai naik. pembuluh limfe.15 2. Lambung merupakan organ gabungan eksokrin dan endokrin yang mencernakan makanan dan mensekresikan hormone. Pembuluh – pembuluh darah halus.Membranamukosa mengandung sel eksokrin untuk sekresi getah pencernaan. suatu lapisan epitel bagian dalam yang berfungsi sebagai permukaan protektif serta mengalami modifikasi di daerah – daerah tertentu untuk sekresi dan absorbsi. volume secret yang dihasilkan seharinya berkisar antara 500 – 1000 ml. Lamina propia adalah lapisan tengah jaringan ikat yang tipis tempat epitel melekat. namun 1. volume lumennya hanya 50 – 75 ml. dan serosa [24] Mukosa melapisi permukaan luminal saluran pencernaan.3. submukosa.2 Histofisiologi gaster secara luas Lambung adalah reservoar untuk menampung makanan dan pengolahannya oleh produk kelenjar – kelenjar dalam mukosa.9. Kapasitasnya cukup besar.

[26] . Atrofi mukosa oxyntic berhubungan dengan hilangnya sekresi asam lambung dan terjadi metaplasia intestinal. sehingga menyebabkan tipisnya mukosa dan menyebabkan kerusakan keras mukosa. Lapisan ini memiliki pembuluh darah dan limfe yang besar.[25] Submukosa adalah lapisan tebal jaringan ikat yang menyebabkan saluran pencernaan memiliki elastisitas dan distensibilitas.Histologi Gaster Mukosa muskularis adalah lapisan otot polos di sebelah luar yang terletak di sebelah lapisan submukosa.Atrofi dapat juga ditemukan tanpa adanya metaplasia intestinal terutama pada gastritis autoimun.16 Gambar 1. Pergantian epitel antrum dengan epitel intestinal disebut metaplasi intestinal yang menimbulkan kesan adanya atrofi kelenjar secara mikroskopik. Hilangnya jaringan kelenjar ini dapat karena proses inflamasi yang lama dan digantikan oleh fibrosis. [25] Pengertian dari atrofi kelenjar.Atrofi keras mukosa antrum biasanya dihubungkan dengan metaplasia intestinal dan meninggikan resiko terjadinya keganasan. walaupun metaplasia sebenarnya adalah proses yang berdiri sendiri. metaplasi intestinal dan kerusakan epitel permukaan lambung yaitu: atrofi mukosa gaster ialah hilangnya jaringan kelenjar.keduanya bercabang – cabang kea rah luar ke lapisan otot sekitarnya.

Pada penderita yang sering menggunakan aspirin. Obat – obat lain yang mempunyai pengaruh terhadap mukosa gaster yaitu digitalis.3.3. yodium.Efek iritasi obat terhadap mukosa gaster pada tiap individu berlainan. Pada tukak peptic infeksi Helicobacter pylori merupakan factor etiologi yang utama sedangkan untuk kanker lambung termasuk karsinogen tipe 1 yang definitive Infeksi Helicobacter pylori pada saluran cerna bagian atas mempunyai variasi klinis yang luas. pada beberapa kasus penyebabnya adalah pemakaian obat. sampai saat ini belum jelas betul proses penularan serta patomekanisme infeksi kuman ini pada berbagai keadaan patologis saluran cerna bagian atas (SCBA).2 Infeksi Sejak penemuan kuman Helicobacter pylori oleh Marshall dan Warren pada tahun 1983. Pathogenesis yang dihasilkan berupa radang akibat iritasi mukosa. mulai dar kelompok asimtomatik sampai tikak peptic. sering kali mengalami perubahan mukosa gaster dan perdarahan. tergantung dosis pemakaian.3. antibiotic spectrum luas dan lain – lain.3.28] 2. kemudian terbukti bahwa infeksi Helicobacter pylori merupakan masalah global. bahkan dihubungkan dengan keganasan di lambung seperti adenokarsinoma tipe intestinal atau mucosal associated lymphoid tissue (MALT) Limfoma.3.3 Faktor – faktor yang mempengaruhi kerusakan gaster 2.1 Konsumsi obat yang berlebihan Banyak sekali factor yang bisa menyebabkan kerusakan gaster. termasuk di Indonesia.17 2. [29] . Kortikosteroid dosis tinggi dan penggunaan berulang juga meningkatkan pembentukan ulkus [27.

4 Diet Sebuah studi kohort di Harvard School of Public Health menemukan bahwa diet tinggi serat berhubungan dengan pengurangan resiko dalam pengembangan ulkus peptikum. karena pada orang tua terjadi penipisan lapisan lambung dan produksi mucus yang berkurang seiring dengan bertambahnya umur [30] 2.3.3.3 Usia Usia merupakan variabel yang paling berkaitan dengan prevalensi infeksi Helicobacter pylori.4 Sistem Skoring Barthel Manja Sistem scoring Barthel Manja adalah sistem scoring yang digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan gaster pada penelitian dengan menggunakan dosis bertingkat. terjadi penurunan resiko sebesar 45% ulkus peptikum pada orang dengan konsumsi tinggi serat dibandingkan dengan orang yang tidak. Ulserasi permukaan epitel . dalam waktu lebih dari 6 tahun. Tingkat kerusakan yang dimaksudkan adalah mengamati gambaran histopatologis gaster yang dipulas dengan Hematoksilin Eosin lalu diamati di bawah mikroskop dan diperiksa integritas mukosanya [33] Tingkat kerusakan yang akan diamati yaitu: 1.3. Erosi permukaaan epitel 4. Semakin tua seseorang maka semakin besar kemungkinan terinfeksi Helicobacter pylori.18 2. yaitu tidak terdapat perubahan pada patologis 2.[31] 2. Namun konsumsi tinggi serat yang tidak mempunyai efek terhadap kecepatan penyembuhan ulkus. Deskuamasi permukaan epitel 3.3. Normal.

1Kerangka Teori secara kontak kutan secara oral Brodifakum Dosis brodifakum Kondisi organ pencernaan (hepar.19 BAB III KERANGKA TEORI 3. Kerangka Teori Haematologi Kulit . gastrointestinal) Gangguan metabolisme vit Kepoxide Jangka waktu pemberian Brodifakum Berat badan Intoksikasi brodifakum neurologi Saluran kemih Gastrointestinal Gaster Kerusakan epitel gaster Gambar 2.

2 Kerangka Konsep Brodifakum LD100 per oral Patologi Anatomi gaster Brodifakum LD50 per oral Gambar 3. Kerangka Konsep 3.20 3.3 Hipotesis Terdapat perbedaan gambaran patologi anatomi gaster tikus wistar terhadap pemberian brodifakum dengan dosis LD50 dan LD100 .

2.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian pada ilmu kedokteran bidang forensik dan bidang patologi anatomi. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan pendekatan post test only control group design.3. Pada bulan Juni 2015 minggu kedua dilakukan analisis data dan penyusunan laporan hasil penelitian. 4. 4.21 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. Penelitian sampel dilakukan mulai Juni 2015. S K Test K Gol A Test A Gol B Test B .Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada laboratorium Biologi Universitas Negeri Semarang dan laboratorium WASPADA.

4 Populasi dan Subject Penelitian 4.4.4.22 Keterangan S : Kelompok sampel K : Kelompok control ( tidak diberikan brodifakum) Gol A : Kelompok perlakuan 1 (LD50) Gol B : Kelompok perlakuan 2(LD100) Test K : Test kelompok kontrol Test A : Test kelompok golongan 1 Test B : Test kelompok golongan 2 4.3 Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah tikus wistar yang memenuhi criteria inklusi dan setelah itu dilakukan berupa pemberian brodifakum dosis tertentu .2 Populasi terjangkau Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah tikus wistar yang terdapat pada laboraorium Biologi Universitas Negri Semarang 4.1 Populasi Target Populasi target adalah tikus wistar 4.4.

Sampel penelitian ini adalah gaster yang diambil dari tikus wistar yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi.4. Tikus yang telah memiliki umur sekitar 1 bulan 2. 4.2 Kriteria Eksklusi 1.4.3. Tikus yang memiliki berat badan 200 – 250 gram 4. Tikus yang mati sebelum mendapatkan perlakuan.4. Tikus yang memiliki kelainan anatomi maupun gangguan pada organ – organ dalamnya. Gaster tikus yang diambil setelah melewati waktu 24 jam pada waktu kematian tikus 4.23 4.3 Kriteria drop out 1. Gaster kemudian diawetkan dengan formalin 10% .4.3.4 Cara Sampling Cara pengambilan sampel adalah dengan pengambilan sampel acak sederhana (simple randomized sampling).1 Kriteria Inklusi 1. Tikus yang memiliki jenis kelamin jantan 3. 2.3.

5 Besar Sampel Pada penelitian eksperimental dengan rancangan diatas bisa digunakan rumus Feder (t-1)(r-1)≥15 Keterangan: t = banyak kelompok perlakuan r = jumlah besar sampel Menggunakan rumus diatas dapat ditemukan bahwa jumlah besar sampel per kelompok r≥9 Sehingga pada penelitian akan digunakan: Jumlah tikus perkelompok: 9 Jumlah tikus 3 kelompok : 27 Jumlah tikus cadangan perkelompok .4.5 Variabel Penelitian    Variabel bebas : Dosis brodifakum Variabel tergantung : Gambaran patologi anatomi tikus wistar Variabel pengganggu : Metabolisme tubuh tikus wistar 4. 5 4.24 4.6 Definisi Operasional .

25 Jenis Nama variabel Variabel Bebas Brodifakum Definisi Operasional Nilai Brodifakum yang digunakan 1.27mg/kg adalah brodifakum murni.08 mg/kg BB melakukan force feeding. LD50= 0.08mg/kg BB Tergantung Gambaran Gambaran mikroskopis mikroskopis gaster yang dimaksud gaster tikus adalah menilai tingkat 1. Brodifakum kemudian dibentuk menjadi agar – agar untuk mempermudah Skala Rasio BB 2. Normal (Gambar 4. dan LD100 sebesar 1.1) Ordinal .Brodifakum diberikan hanya pada hari pertama penilitian dan tikus dibiarkan selama 7 hari sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. kelompok kontrol. kelompok dengan LD50 sebesar 0. LD100= 1. Makan dan minum tikus diberikan secara ad libitum.27mg/kg BB. Perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok.

3) 4.Normal :tidak ada perubahan patologis 2. 4. Deskuamasi epitel (Gambar 4.Ulserasi : ditandai dengan adanya celah lebih dari sepuluh epitel per lesi.2) 3. 3. Deskuamasi epitel berupa kerusakan ringan epitel tanda adanya celah. Erosi permukaan epitel berupa celah pada satu sampai sepuluh epitel per lesi.4) . Ulserasi epitel (Gambar 4. Penilaian tingkat kerusakan sel gaster dengan sistem skor berdasarkan modifikasi Barthel Manja sebagai berikut: 1. Pada stadium ini biasanya terdapat jaringan granulasi dibawah epitel.26 wistar kerusakan gaster dengan mikroskop cahaya menggunakan pembesaran 400x pada 100 sel dengan lima lapangan pandang. Erosi epitel (Gambar 4. 2.

2. Deskuamasi epitel . Epitel normal Gambar 4.27 Gambar 4.1.

Erosi Epitel Gambar 4.3. Ulserasi Epitel .28 Gambar 4.4.

Alkohol bertingkat 70%. kemudian dilakukan proses adaptasi selama 7 hari. 96% 8.7.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :     Gaster tikus wistar Brodifakum Formalin Bahan – bahan untuk metode baku histology pemeriksaan jaringan: 1. .29 4. Hematoksilin Eosin 5. Albumin 4. Larutan xylol 7. Larutan buffer formalin 10% 2. Setelah itu dibagi menjadi 3 kelompok. 42 Tikus yang telah dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan kriteriaeksklusi.3 Cara Kerja Penelitian dilakukan pada laboratorium biologi Universitas Negeri Semarang. Paraffin 3. 80%.7 Cara Pengumpulan Data 4.7. 90%.7. Kontrol. LD50 dan LD100. Setiap tikus diberi tanda khas sesuai kelompoknya. Aquades 4.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :         Sonde Scalpel Pinset Gunting Tempat untuk menyimpan organ sampel Label untuk tikus Mikroskop Kamera 4. Asam asetat 6.

Dari setiap sampel gaster dibuat preparat dengan potongan longitudinal. erosi permukaan epitel dan ulserasi epitel. Kemudian dilakukan otopsi untuk mengambil gaster tikus dari semua kelompok perlakuan. kelompok LD50. Gaster tikus dibedakan menurut kelompok control. Sampel gaster tikus wistar diproses menjadi preparat secara metode baku histology dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. dan Kelompok LD100 Gaster tikus wistar yang sudah diambil dengan cara diotopsi dimasukkan ke dalam larutan formalin 10% untuk mencegah terjadinya kerusakan sel – sel gaster.08mg/kg BB. tikus akan diberikan dosis brodifakum dalam bentuk agar .30 Kemudian kelompok tikus LD50 diberikan dosis brodifakum sebesar 0. Tikus yang masuk pada kategori drop out akan dipisahkan untuk tidak diteliti. Kemudian tikus akan dibiarkan hidup dalam jangka waktu 7 hari pada lingkungan yang telah dikontrol.27mg/kg BB dan kelompok tikus LD100 sebesar 1. Kemudian sampel gaster dibawa ke laboratorium WASPADA. Setelah jangka waktu 7 hari.8 Alur Penelitian Tikus wistar yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi Adaptasi 7 hari . Sasaran pembacaan preparat adalah adanya deskuamasi epitel. Preparat tersebut akan dibaca dalam lima lapangan pandang dengan perbesaran 400x dengan menggunakan mikroskop. Pemberian makan dan minum dilakukan secara ad libitum. Setelah tikus dikelompokkan berdasarkan dosis brodifakum.agar per oral secara force feeding pada hari pertama. tikus yang masih hidup akan diterminasi. 4.

LD50 Kel.9 Analisa Data Data primer didapatkan dari hasil pengamatan gambaran patologi anaomi gaster yang didapatkan dengan cara pembuatan preparat dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. LD100 Pemberian brodifakum Perawatan terkontrol selama 7 hari hidup mati terminasi Pengambilan gaster secara otopsi Pemeriksaan Gambaran Patologi Anatomi Pengumpulan Hasil Analisa Data Hasil Data 4. Kontrol Kel. Setelah data pengamatan gambaran patologi anatomi gaster setiap tikus terkumpul. hasil tersebut .31 Kel.

0 . 4. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPSS for windows 18.32 akan di cek kembali.10 Etika Penelitian Penelitian akan dilakukan setelah mendapat ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KPEK) Fakultas Kedokteran UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang DAFTAR PUSTAKA .Whitney. Uji hipotesis yang dilakukan adalah Mann .

and C. Chem.D. et al. Munaf. Brodifacoum Poison Information Monograph .T. Lipton RA & Klaas EM (1984) Human ingestion of superwarfarin rodenticide resulting in a prolonged anticoagulant effect.. no. King. Malcolm R. Coumarin. Comparative Effects of Brodifacoum on Rats and Possums. M.. Pronczuk. [Diakses pada 10 Jan 2015]. Vertebrate Pests.S. (2004). London. Diakses melalui http://www.. 29-46. Nzpp 533100 3. New Zealand Plant Protection 53:310-315 (2000). C.C.E. 7. K.The German Federal Institute for Risk Assessment. 9.org/documents/pims/chemical/pim077. 6.C. 30 October 2006.R Veitch. and Future Trends 4.E. Occupational Safety and Helath Administration 10. Frequently Asked Question about coumarin in cinnamon and other foods . Hadler (1992) Forty Five Years of Anticoagulant Rodenticides – Past.. Synthetic and natural coumarins as cytotoxic agents. J. 713-22. Hoult. 1999 . Littin. and H. J. Biochemical Journal 117. Kostova. K. 1970. vol. New Zealand ( New Zealand Journal of ecology. Acqua. Gen.C. (Updated 2014) 13. 2005.C murphy. Hauraki Gulf. 11. 1990. Brodifacum International Programme on Chemical Safety Poisons Information. 5. 27. Pharmacol. Vassallo. Dell Acqua. Keracunan Akut Pestisida. 207-210) . Toxicological sciences : an official journal of the Society of Toxicology 80 (2): 249–57 8. Sjamsuir. J. Paya.htm 2. 2. Bye. I. O’Connor. E.33 1.R. 1996.. Med. The biosynthesis of 4-hydroxycoumarin and dicoumarol byAspergillus fumigatus Fresenius. Present. D.inchem. Pronczuk. J. "Metabolic detoxification determines species differences in coumarin-induced hepatotoxicity". Jakarta: Widya Medika 5. J. 12. Eason. 23. Curr.R Dowding. Pharmacological and biochemical actions of simple coumarins: natural products with therapeutic potential. A. 237-45. 1997.Brodifacoum Residues in Target and NonTarget Species Following an Aerial Poisoning Operation on Motuihe Island.

2001. Fitzgerald K & Bronstein AC (1987).66-70 29. Diakses melalui http://www. Sept 27.inchem. Universitas Indonesia. Growe GH. D.pdf 27. Rydning A. Kasno. 12th ed.com 31. Healing of benign gastric ulcer with lowdose antacids and fiber diet. 20. 119-31 30. Berstad A. Tanurahardja B. Semarang : Badan Penerbit Undip.id/file?file=pdf/metadata-76847. Abstrak dari AACT/aapcc/abmt/capcc scientific meetings. Jakarta : EGC .digilib. Robins S. Suyono Slamet. [Diakses pada 12 Jan 2015]. IUCN Red List of Threatened Species.htm 18. Human physiology. Diambil dari: http://www. 2010. Jakarta : EGC . Jakarta : EGC. Bloom & Fawcet. Fox (2007) The Mouse in Biomedical Research: Normative Biology. and Models 2nd edition 22. Husbandry. Amori. Mus musculus. p. World Health Organization. James G. 536-50 25.ac. Diakses melalui http://www. Vol 2. Bachman KA & Sullivan TJ (1983) Dispositional and pharmacodynamics characteristics of brodifacoum in warfarin-sensitive rats 15. Danneman (2000) The Laboratory Mouse 24.emedicine. Prasetyo A. Patologi Rongga Mulut dan Traktus Gastrointestinal. G.medscape. anticoagulant rodenticide Comparison of first and second generation poisonings: fourteen canine cases. Data Sheet on Pesticides no. 2003: p. Canada: Nelson Education. Mukheriee S. Available from: http://www. Ed 7. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem .p. p. 2007 28. [Diakses pada 12 Jan 2015]. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.34 14.1996. 2009. (1996). 7thed. Perbandingan Derajat infeksi Helicobacter pylori dan Perubahan Patologik Mukosa Lambung. 3nd ed. Pesticide Profile – Brodifacoum. Peggy J. 541-2 26. 1986. Gastroenterology.org/abcprograms/policy/toxins/Profiles/brodifacoum. Kumar R. Lange O.57 Brodifacoum. Sherwood L. 2002. 16. 2000.abcbirds. Weberg R. Jones E. Buku Ajar Histologi. Naiman SC (1984) Prolonged anticoagulation in rat poisoning 17.html 19.W. American Bird Conservancy.org/documents/pds/pds/pest57_e.ui. 21. Chronic Gastritis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Samuelson (2007) Mouse Atonal Homolog 1 Directs Intestinal Progenitors to Secretory Cell Rather than Absorptive Cell Fate 23. Sherwood L.91 : 56-61 . Buku Ajar Patologi.

2007 33. Jakarta:departemen farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran – Universitas Indonesia. Kremer M. 5. Pretreatmen of mice with streptomycin provides a Salmonella enteric serovar typhimurium colitis model allows analysis of both pathogen and host. Barthel M. Farmakologi dan Terapi ed.org/egi/content/full/71/52839 .35 32. c2003. et all. Hodgart M. Syarif. et al. Amir. Rohde M. Hapfelmeier S. Available from http://iai. Quintanilla – Martinez L.asm.