Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada saat ini, konflik pertanahan dirasa semakin meningkat seiring
dengan kegunaan tanah yang memiliki nilai ekonomis, memiliki nilai sosial
politik dan pertahanan keamanan yang tinggi. Menurut Farkhani dari perbagai
konflik pertanahan yang terjadi dapat disimpulkan bahwa konflik pertanahan
menurut bentuk atau sifatnya dapat diklasifikasikan dalam dua hal. (Farkhani,
2012,

http://stainsalatiga.ac.id/mengenal-hak-atas-tanah-dan-konflik-

pertanahan-di-indonesia/) Pertama, konflik vertikal (struktural) yakni konflik
pertanahan yang melibatkan antara penguasa dan rakyat. Kedua, konflik
horizontal, yakni konflik pertanahan yang melibatkan antar anggota
masyarakat, baik antara satu orang dengan satu orang yang lain, satu orang
berhadapan dengan kelompok masyarakat atau kelompok masyarakat atau
kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya.
Konflik vertikal dalam pertanahan salah satu penyebabnya adalah
munculnya hunian-hunian liar di tanah negara. hunian liar dalam karateristik
hukum digambarkan ketiadaan hak milik terhadap lahan yang dipergunakan
untuk membangun rumah. (Etty Sulistyowati, 2007: 109) Hal ini terjadi pada
lahan kosong milik pemerintah atau umum, di sebidang tanah seperti bantaran
sungai, bantaran waduk, bantaran rel kereta api, tanah rawa-rawa dan
sebagainya. Kemudian ketika lahan tersebut tidak dipergunakan oleh
pemiliknya, maka diambil oleh pemukim liar untuk membangun rumah.
Keberadaan adanya hunian-hunian liar di tanah negara dapat memberi
dampak negatif terhadap tata ruang kota yaitu mengurangi ruang terbuka
hijau, sistem drainase semakin buruk yang pada akhirnya akan mengakibatkan
banjir di daerah tersebut, dan menyebabkan sirkulasi transportasi di suatu
daerah akan terganggu jika hunian liar berada pada jalur-jalur transportasi
seperti jalur kereta api dan pinggir jalan tol. (Etty Isworo, 2012: 96)
Salah satu daerah yang tersebar meningkatnya kawasan hunian liar di
tanah negara adalah kawasan bantaran sungai Bengawan Solo di kota
Surakarta. Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terbesar di Pulau Jawa,
1

terletak di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan luas wilayah sungai
± 12% dari seluruh wilayah Pulau Jawa pada posisi 11 018’ BT sampai 112045’
BT dan 6049’LS sampai 8008’ LS. (Satuan Kerja Bina Pengelolaan SDA
Direktorat Bina Penatagunaan Sumber Daya Air, Kementrian Pekerjaan
Umum

Republik

Indonesia,

2013,

http://sda.pu.go.id:8181/sda/?

act=peraturan_ws_detail&wid=19&gid=6)
Sungai Bengawan Solo dengan curah hujan tahunan rata-rata 2.100
mm merupakan sebuah sumber air yang potensial bagi usaha-usaha
pengelolaan dan pengembangan sumber daya air, untuk memenuhi berbagai
keperluan dan kebutuhan, antara lain untuk kebutuhan domestik, air baku air
minum dan industri, irigasi dan lain-lain. Karena banyaknnya manfaat dari
sungai Bengawan Solo tersebut, maka dibutuhkan pelestarian dari sungai
tersebut.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai,
memberikan definisi mengenai bantaran sungai yaitu ruang antara tepi palung
sungai dan kaki tanggul sebelah dalam yang terletak di kiri dan/atau kanan
palung sungai. Jika menelaah definisi dari tersebut, wilayah di sekitar ruang
antara tepi palung sungai dan kaki tanggul haruslah steril dari bangunan
apapun terutama hunian tempat tinggal. Hal tersebut karena jika bantaran
sungai ditempati oleh bangunan maka akan berpotensi mempersempit daerah
aliran sungai, dan akan berakibat merusak ekosistem sungai selain itu, akibat
yang sering ditimbulkan karena sempitnya Daerah Aliran Sungai yaitu terjadi
banjir di wilayah-wilayah yang dilewati aliran sungai Bengawan Solo.
Ada enam kelurahan di Kota Surakarta yang merupakan kawasan
bantaran sungai Bengawan Solo antara lain Kelurahan Pucang Sawit terdiri
dari 300 Rumah, Kelurahan Sewu terdiri dari 363 Rumah, Kelurahan
Sangkrah terdiri dari 294 Rumah, Kelurahan Semanggi terdiri dari 339
Rumah, Kelurahan Joyosuran terdiri dari 57

Rumah dan Kelurahan Jebres

terdiri dari 218 Rumah. Dampak yang terjadi ketika berkembangnya kawasan
bantaran sungai Bengawan Solo di kota Surakarta adalah ketiadaannya lahan
atas resapan air yang menimbulkan banjir keenam kelurahan di sekitar hunian
liar bantaran sungai Bengawan Solo.
2

Fakta empiris telah menunjukan bahwa penduduk di DAS Bengawan
Solo terus bertambah dan tinggal di daerah rawan banjir. Tahun 1980 ada 13,5
juta jiwa, tahun 1990 menjadi 14,7 juta jiwa, dan tahun 2005 ada 17,5 juta
jiwa. Tutupan hutan hanya 13,6% dari luas DAS. Erosi tanah mencapai 3,14
mm/tahun yang melebihi erosi yang ditoleransikan. Kondisi ini menyebabkan
banjir

setiap

tahun

di

Bengawan

Solo.

(BNPB,

2013,

http://bnpb.go.id/uploads/migration/pubs/cover/567.pdf)
Dalam rangka mengatasi banjir tahun 2007, pada masa pemerintahan
Joko Widodo telah menerapkan konsep relokasi. Pada saat itu, relokasi
dilakukan karena peristiwa bencana banjir yang menimpa Kota Surakarta dan
konsep tersebut terus dipertahankankan hingga saat ini pada masa
pemerintahan Walikota Surakarta FX. Rudyatmo. Namun, konsep relokasi ini
masih menimbulkan pertanyaan apakah telah ada landasan yuridis yang
memberikan legalitas atas konsep relokasi tersebut atau tidak.
Dalam Pasal 3 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 51 Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin
yang Berhak atau Kuasanya (untuk selanjutnya disebut UU No. 51/PRP/1960)
menyatakan bahwa penguasa Daerah dapat mengambil tindakan-tindakan
untuk menyelesaikan pemakaian tanah yang bukan perkebunan dan bukan
hutan tanpa izin yang berhak atau kuasanya yang sah, yang ada didaerahnya
masing-masing pada suatu waktu.
Selanjutnya dalam Ayat (2) UU No. 51/PRP/1960) juga menyatakan
bahwa penyelesaian tersebut pada ayat (1) pasal ini diadakan dengan
memperhatikan rencana peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan.
Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) dan (2) UU No. 51/PRP/1960, seharusnya
Pemerintah Kota Surakarta melakukan tindakan-tindakan yang sewajarnya
untuk menyelesaikan permasalahan hunian liar di bantaran sungai dengan
tujuan untuk merevitalisasi sungai. Pada kenyataannya tindakan-tindakan yang
dilakukan Pemerintah Kota Surakarta adalah dengan melakukan penggusuran
atas hunian liar.
Penggusuran yang dilakukan sangatlah tidak memperhatikan Hak
Asasi Manusia mengenai hak atas tempat tinggal sebagaimana diatur dalam
3

dalam hal ini mereka hanya diberikan sosialisasi mengenai penggusuran yang akan dilakukan terhadap mereka.Pasal 28H Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Adalah sebuah pelanggaran HAM. Tetapi hak asasi manusia. (Siti Manggar. tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan argumentasi cerdas mengenai penyelesaian hunian liar di bantaran sungai Bengawan Solo yang humanis. 4 . termasuk tanah produktif dan prasarana umum di lokasi atau lahan lain. Para korban penggusuran tidak diberikan alternatif untuk menjalankan kehidupan yang lebih layak. Pemerintah Kota Surakarta dapat suatu model pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak terhadap masyarakat yang menempati hunian liar di kawasan bantaran sungai Bengawan Solo yaitu relokasi. Berdasarkan uraian diatas. 2006: 2) Hal ini diperkuat oleh Pasal 17 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara telah memberikan landasan yuridis dimana setiap RAPBD harus menyediakan anggaran yang berkaitan dengan pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak. Relokasi adalah membangun kembali perumahan. melainkan menonjolkan sisi kemanusiaan. mengingat mereka tidak memiliki izin untuk menempati tempat tersebut. (Rina Kemala Sari. harta kekayaan. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka. B. dalam hal ini. tidak menonjolkan kepemilikan tanah. 2011: 218) Rumusan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Penggusuran dengan kata lain tidak memberikan pilihan kepada korban penggusuran dan tidak memberikan alternatif kehidupan yang lebih baik. maka menjadi penting untuk dikaji masalah hukum dengan judul “RELOKASI SEBAGAI MODEL PENYELESAIAN HUNIAN LIAR YANG HUMANIS DALAM PEMENUHAN HAK-HAK KONSTITUSIONAL WARGA NEGARA (STUDI PENYELESAIAN SENGKETA ATAS HUNIAN LIAR DI BANTARAN SUNGAI BENGAWAN SOLO). apabila membuat manusia menurun derajat hidupnya.

2007: 153-154). yaitu: 1. Teori Penyelesaian Sengketa Teori penyelesaian sengketa dikembangkan oleh Ralf Dahrendof pada tahun 1958. 2013: 144-146) 1. antara lain: (Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sengketa. Teori hubungan masyarakat Teori hubungan masyarakat berpendapat bahwa penyebab terjadinya sengketa adalah polarisasi (kelompok yang berlawanan) yang terus terjadi. Teori penyelesaian sengketa beroreintasi pada struktur dan institusi sosial (George Ritzer dan Douglas J. 5 . Goodman. Konsesensus. Ralf Dahrendof berpendapat bahwa masyarakat mempunyai dua wajah. dan 2. Selanjutnya Simon Fisher mengemukakan enam teori yang mengkaji dan menganalisis penyebab terjadinya sengketa.

Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak. dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan- kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap. Teori kebutuhan manusia Teori ini berasumsi bahwa terjadinya penyebab sengketa adalah oleh kebutuhan dasar manusia. 5. Membantu pihak-pihak yang mengalami sengketa untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu. budaya dan ekonomi. 6. mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. dan b. Teori negosiasi prinsip Teori ini menganggap bahwa penyebab terjadinya sengketa adalah dikarenakan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang sengketa oleh pihak-pihak yang mengalami sengketa. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: 6 . Teori transformasi sengketa Teori ini berasumsi bahwa senketa terjadi disebabkan oleh masalahmasalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalahmasalah sosial. Teori kesalahpahaman Teori kesalahpahaman antar budaya berasumsi bahwa sengketa terjadi disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi diantara berbagai budaya yang berbeda. baik fisik. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah: a.ketidak percayaan dan permusuhan di dalam kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Teori identitas Teori ini berasumsi bahwa terjadinya sengketa disebabkan karena identitas yang terancam. 2. yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan masa lalu yang tidak diselesaikan 4. 3.

B. yaitu menurunkan aspirasi sendiri dan bersedia kurang dari yang sebetulnya diinginkan. sebagai sistem moral bagi abad baru. Bentham menawarkan suatu klasifikasi kejahatan yang didasarkan atas berat tidaknya 7 . baik secara fisik maupun psikologis. utilitarianisme dimaksudkan sebagai dasar etis-moral untuk memperbaharui hukum Inggris. Oleh karena itu. Contending (bertanding). Bentham beranggapan bahwa klasifikasi kejahatan dalam hukum Inggris sudah ketinggalan zaman dan karenanya harus diganti dengan yang lebih up to date. bukan yang abstrak. 2004: 9-10) 1.a. Rubin. yaitu mencoba menerapkan suatu solusi yang lebih disukai oleh salah satu pihak atas pihak lainnya. 3. yaitu memilih meninggalkan situasi sengketa. Pruitt dan Jeffrey Z. 4. khususnya hukum pidana. Membantu pihak-pihak yang mengalami sengketa untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. 5. Melalui buku tersebut. yaittu: (Dean G. Jeremy Bentham (1748-1832). Pruitt dan Jeffrey Z. Yielding (mengalah). Dean G. Teori Utilitarianisme Utilitarianisme dalam bentuknya yang matang dikembangkan oleh filsuf Inggris. dan b. Dengan demikian. Rubin mengemukakan sebuah teori tentang penyelesaian sengketa yang disebut dengan teori strategi penyelesaian sengketa. Ia berpendapat bahwa tujuan utama hukum adalah untuk memajukan kepentingan para warga Negara dan bukan memaksakan perintah-perintah Tuhan atau melindungi apa yang disebut hakhak kodrati. With drawing (menarik diri). Agar pihak-pihak yang mengalami sengketa mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak. melalui bukunya yang terkenal Introduction to the Principles of Morals and Legislation. Inaction (diam). Bentham hendak mewujudkan suatu teori hukum yang kongkret. yaitu mencari alternatif yang memuaskan aspirasi kedua belah pihak. Problem solving (pemecahan masalah). 2. yaitu tidak melakukan apa-apa. Menurut Bentham.

Kebahagiaan tercapai jika ia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan. Dengan demikian. akan tetapi the greatest happiness juga dapat diperhitungkan. Menurut kodratnya. maka satu-satunya aspek yang bisa berbeda adalah kuantitasnya. Bentham mengembangkan Kalkulus Kepuasan (the hedonic calculus). 1997: 247). manusia menghindari ketidaksenangan dan mencari kesenangan.pelanggaran dan yang terakhir ini diukur berdasarkan kesusahan dan penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat (K. Untuk itu. Konsep Relokasi Dalam buku yang berjudul Analisis dan Evaluasi Hukum Tertulis Tentang Cara Kegiatan Perombakan Rumah Pemukiman Kumuh Didalam Perkotaan (Paulus Wirotomo. Bentham sampai pada prinsip utama utilitarianisme yang berbunyi: the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar). Menurut Bentham. Oleh karena kebahagiaan merupakan tujuan utama manusia dalam hidup. penanganannya dilakukan dengan relokasi ke lokasi perumahan dan pemukiman lain yang telah ditentukan dan dipersiapkan sesuai dengan peruntukkannya. Prinsip ini menjadi norma untuk tindakan-tindakan pribadi maupun untuk kebijakan pemerintah untuk rakyat (Jeremy Bentham. Karena kualitas kesenangan selalu sama. 8 . C. 1996: 11). bukan kebahagiaan individu yang egois sebagaimana dikemukakan Hedonisme Klasik. sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang. bukan hanya the greatest number yang dapat diperhitungkan. pada dasarnya setiap manusia berada di bawah pemerintahan 2 penguasa yang berdaulat: ketidaksenangan (pain) dan kesenangan (pleasure). Moralitas suatu perbuatan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia. Bertens. Dengan demikian. prinsip utilitarianisme ini harus diterapkan secara kuantitatif. maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk. menjelaskan bahwa pengertian relokasi adalah perumahan dan pemukiman kumuh yang lokasinya tidak sesuai dengan tata ruang wilayah yang telah ditentukan. 2000: 14). Menurut Bentham.

Social and Cultural Rights pada tahun 1966. aspirasi warga dan peran serta warga dalam proyek relokasi. Kajian Mengenai Hak Asasi Manusia Sejarah mengenai perkembangan pemikiran hak asasi manusia telah berlangsung lama dari yang sangat sederhanya yang mewakili zaman awal dan yang sangat kompleks yang mewakili zaman modern. hak-hak generasi kedua pada dasarnya tuntutan akan persamaan sosial yang sering dikatakan sebagai “hak-hak positif” karena pemenuhan hak-hak tersebut sangat membutuhkan peran aktif negara. Pendekatan yang interaktif kepada masyarakat yang terkena relokasi dalam rangka menginformasikan rencana proyek relokasi tersebut. Puncak perkembangan generasi pertama hak asasi manusia ini adalah pada persitiwa penandatanganan naskah Universal Declaration of Human Rights Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948. Generasi Kedua. penyiapan prasarana dan sarana lingkungan dilokasi yang baru. muncul pula konsepsi baru hak asasi manusia yaitu mencakup pengertian mengenai hak untuk pembangunan atau 9 . Puncak perkembangan kedua ini tercapai dengan ditandatanganinya International Couvenant on Economic. 2005: 211) Generasi Pertama. kebutuhan dasar manusia. Penyusunan rencana penempatan lokasi rumah tempat tinggal baru dengan memperhatikan aspirasi warga. maka prosedur yang dapat ditempuh yaitu: (Mustianto Sepriyansyah. 4.Untuk melakukan analisis terhadap pelaksanaan relokasi. 3. mewakili hak-hak sipil dan politik yakni hak asasi manusia yang “klasik”. 2. Karel Vasak seorang sarjana berkebangsaan Perancis mengemukakan suatu model perkembangan hak asasi manusia dikutip oleh Jimly Asshidiqie yaitu: (Jimly Asshidiqie. dan prinsip kebebasan sipil dan politik. D. Kemudian pada tahun 1986. Pekerjaan fisik berupa pengukuran yang bermanfaat bagi penentuan besarnya kompensasi bagi masing-masing warga. 2014: 2101) 1. Dalam konsepsi generasi pertama ini elemen dasar konsepsi hak asasi manusia itu mencakup soal prinsip integritas manusia. Kegiatan forum diskusi ini dilaksanakan mulai dari perencanaan hingga terlaksananya proyek. Pembentukan forum diskusi warga sebagai wadah untuk menggali respon.

(Majda El Muhtaj. kesehatan dan sebagainya. Selanjutnya dalam Ayat (2) penyelenggaraan rumah dan perumahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah. E. Hak-hak dalam bidang pembangunan ini antara lain: (Jimly Ashidiqqie. Hak atas perumahan menandakan upaya nyata bagi terjamin dan terpenuhinya hak hidup yang layak. Dalam pasal 25 ayat 1 UDHR tahun 1948 memberikan sandaran hukum internasional bahwa hak atas perumahan berkaitan erat dengan pemenuhan standar kehidupan yang layak (as part of the right to an adequate standart of living). 2008: 141-142) Dalam kajian hukum HAM. Selain itu Pasal 50 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman juga menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk 10 . istilah hak perumahan dikenal dengan beberapa istilah seperti the human right to an adequate housing. Konsepsi baru inilah yang oleh para ahli disebut sebagai konsepsi hak asasi manusia Generasi Ketiga. sosial dan budaya. hak perumahan merupakan unsur esensial yang dapat memperkuat terpenuhinya hak-hak fundamental lainnya. Hak Dasar Perumahan yang Layak Hak perumahan adalah HAM.rights to development. 2008: 625) (1) Hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang sehat. 2008: 145) Pasal 19 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman menegaskan bahwa penyelenggaraan rumah dan perumahan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia bagi peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain. menikmati. the right to housing dan lain sebagainya. (3) Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai. Secara normatif. (2) Hak untuk memperoleh perumahan yang layak. Hak perumahan merupakan konstruksi terpenting dalam mengokohkan terpenuhinya hak ekonomi. seperti hak pangan. aman. serasi. dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. (Majda El Muhtaj. instrumen internasional memberikan pengakuan yang kuat terhadap eksistensi hak perumahan. pemerintah daerah dan/atau setiap orang untuk menjamin hak setiap warga negara untuk menempati. dan teratur.

in an environment of a quality that permits a life of dignity and well-being. Prinsip pertama deklarasi itu menyatakan. Hal tersebut juga diatur tegas dalam Pasal 129 huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pemenuhan hak atas perumahan dijelaskan lebih lanjut dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman menjelaskan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. harmonis. man has the fundamental right to freedom. Deklarasi ini memantapkan langkah penghormatan dan perlindungan integritas dari lingkungan global dan sistem pembangunan.bertempat tinggal atau menghuni rumah. equality and adequate conditions of life. Hal itu menegaskan bahwa pemerintah berkewajiban untuk menjamin 11 . Pasal 28H Ayat (1) menyebutkan. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. F. Negara juga bertanggung jawab dalam menyediakan dan memberikan kemudahan perolehan rumah bagi masyarakat melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman serta keswadayaan masyarakat. Tinjauan Pemenuhan Hak atas Lingkungan Hidup dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Penegasan hak atas lingkungan hidup berawal ketika lahirnya Deklarasi Stockholm pada 5 Juni 1972. dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. tetapi juga aspek budaya yang memastikan taraf keselarasannya dengan pemenuhan hak atas lingkungan hidup yang sehat dan aman. aman. bertempat tinggal. Ketentuan tersebut memberikan penegasan penting bahwa hak atas perumahan merupakan HAM yang tidak saja memenuhi unsur kepastian hukum dan aksesibilitas. Selain itu sebagai tujuan Negara Republik Indonesia Negara bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau di dalam lingkungan yang sehat.

pemeliharaan. “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Adapun yang dimaksud dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan. Pasal 1 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Lidup menyatakan. pengawasan dan penegakan hukum. Konstitusionalitas HAM atas lingkungan hidup semakin dipertegas dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. 2008: 199 12 . yang mempengaruhi alam itu sendiri. (Majda El Muhtaj. Di Indonesia pemenuhan atas hak atas lingkungan hidup diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang dalam pasal 9 ayat (3) menegaskan: “setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”. Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menghadirkan pengakuan dan jaminan perlindungan HAM atas lingkungan hidup. lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. (Majda El Muhtaj. daya. Penegasan penting lainnya. bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan untu menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia. pemanfaatan. dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. dalam Pasal 28 H Ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan. keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya. 2008: 205).pemenuhan lingkungan hidup yang sehat dan bersih. pengendalian. Hal tersebut dipertegas dan dikuatkan. bertempat tinggal. sebagaimana tercantum pada Pasal 3 huruf g Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup.

terjaminnya penggunaan sumber daya alam yang lestari. Kelima. terkendalinya aliran permukaan dan banjir. yang berfungsi menampung. sehingga kontrol atas perilaku manusia dan peranan pemerintah menjadi mutlak adanya. yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Sedangkan kriteria umum yang digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pengelolaan daerah aliran sungai yaitu dengan tercapainya pembangunan ekonomi dengan mempertahankan kepentingan sosial kemasyarakatan dengan tetap mempertahankan fungsi lingkungan hidup (Astrid damayanti. Keempat. terjaminnya jumlah dan kualitas air yang baik sepanjang tahun. menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Kedua.Daerah aliran sungai dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya. Kartodihardjo menjelaskan bahwa tujuan dari pengelolaan daerah aliran sungai secara biofisik antara lain: Pertama. Ketiga. BAB III 13 . Dengan adanya tujuan dan kriteria tersebut maka penghormatan atas hak asasi lingkungan hidup pada daerah aliran sungai menjadi aspek yang sangat penting dan mendasar bahwa lingkungan pun mempunyai keterbatasan. 2010: 24). terkendalinya erosi tanah dan proses degradasi lahan lainnya. Tercapainya keseimbangan ekologis lingkungan sebagai sistem penyangga kehidupan.

Kelurahan Joyosuran terdiri dari 57 Rumah dan Kelurahan Jebres terdiri dari 218 Rumah. Kondisi ini membuat Pemerintah Kota Surakarta membuat suatu rencana untuk merelokasi rumah-rumah yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo ke daerah yang lebih aman. Namun karena kurangnya pengelolaan sungai yang baik. Pasal 3 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya (untuk selanjutnya disebut UU No. Hal tersebut berakibat terjadinya konflik atau sengketa antara pemerintah dan masyarakat. (Data BAPERMAS) Meskipun tidak menyebabkan korban jiwa. 51/PRP/1960) menyatakan bahwa penguasa Daerah dapat mengambil tindakan-tindakan untuk menyelesaikan pemakaian tanah yang bukan perkebunan dan bukan hutan tanpa izin yang berhak atau kuasanya yang sah. 51/PRP/1960. maka berakibat banjir khususnya di daerah bantaran sungai Bengawan Solo. Relokasi sebagai Model Penyelesaian Hunian Liar yang Humanis dalam Pemenuhan Hak atas Tempat Tinggal yang Layak Bagi Warga Negara Banjir besar pernah terjadi pada tahun 2007 yang berimbas terendamnya enam kelurahan di Kota Surakarta yang merupakan kawasan bantaran sungai Bengawan Solo antara lain Pucang Sawit terdiri dari 300 Rumah. Fakta menunjukan bahwa tindakan yang dilakukan pemerintah selama ini adalah dengan melakukan penggusuran yang tidak memperhatikan hak asasi masyarakat. yang ada didaerahnya masing-masing pada suatu waktu. Kelurahan Semanggi terdiri dari 339 Rumah. Menurut Simon Fisher mengenai enam teori penyebab terjadinya 14 . aliran air yang dihasilkan dari sungai Bengawan Solo sangatlah besar. Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) dan (2) UU No. 51/PRP/1960) juga menyatakan bahwa penyelesaian tersebut pada ayat (1) pasal ini diadakan dengan memperhatikan rencana peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan. Melihat tatanan empiris bantaran sungai Bengawan Solo.PEMBAHASAN A. Kelurahan Sangkrah terdiri dari 294 Rumah. Selanjutnya dalam Ayat (2) UU No. namun ratusan rumah rusak akibat bencana banjir yang melanda tersebut. Kelurahan Sewu terdiri dari 363 Rumah.

salah satunya adalah dengan Problem solving (pemecahan masalah). Selanjutnya dalam Ayat (2) penyelenggaraan rumah dan perumahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah. mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Pruitt dan Jeffrey Z. dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. serasi. yaitu mencari alternatif yang memuaskan aspirasi kedua belah pihak. Selain itu Pasal 50 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman juga menegaskan bahwa setiap orang berhak untuk bertempat tinggal atau menghuni rumah. salah satu teori yang sesuai diantara keenam teori tersebut adalah teori kebutuhan manusia. dan teratur. Hal tersebut juga diatur tegas dalam Pasal 129 huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.dalam 15 . menikmati. diperlukan alternatif penyelesaian sengketa sebagai solusi selain tindakan yang telah diatur oleh UU No. Rubin dalam teori strategi penyelesaian sengketa. 51/PRP/1960. 51/PRP/1960. Tejadinya sengketa antara masyarakat yang tinggal di hunian liar bantaran sungai Bengawan Solo dikarenakan mereka yang berasal dari golongan ekonomi kecil harus memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu memiliki rumah sehingga mereka memanfaatkan lahan kosong milik pemerintah yang sesungguhnya diperuntukkan untuk Daerah Aliran Sungai. Oleh sebab itu. maka jelas akan menimbulkan sengketa atau konflik antara pemerintah dengan masyarakat. aman. Pasal 19 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman menegaskan bahwa penyelenggaraan rumah dan perumahan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia bagi peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.sengketa. penyelesaian sengketa yang dapat ditempuh menurut Dean G. pemerintah daerah dan/atau setiap orang untuk menjamin hak setiap warga negara untuk menempati. Teori ini berasumsi bahwa terjadinya penyebab sengketa adalah oleh kebutuhan dasar manusia. baik fisik. Oleh sebab itu. Selama ini jika mengacu pada Pasal 3 UU No.

Awal ketika Pemerintah Kota Surakarta memberitahukan kepada warga bahwa akan diadakan relokasi. aspirasi warga dan peran serta warga dalam proyek relokasi. Proses relokasi dimulai tahun 2007. Kegiatan forum diskusi ini dilaksanakan mulai dari perencanaan hingga terlaksananya proyek. Konsep relokasi dalam Surat Keputusan Walikota Surakarta Nomor 362. Selain itu warga dibebaskan untuk memilih lokasi yang diinginkan. 2010: 12) 2. Rudyatmo datang untuk berdialog memberi penjelasan kepada warga dan memberikan solusi untuk merelokasi warga bantaran sungai Bengawan Solo. Pembentukan forum diskusi warga sebagai wadah untuk menggali respon. Salah satu problem solving yang menarik dan dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta adalah dengan melakukan relokasi hunian liar di bantaran sungai Bengawan Solo. (Majalah Novum. Agar pihak-pihak yang mengalami sengketa mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak. Membantu pihak-pihak yang mengalami sengketa untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Penolakan itu berhenti setelah warga dikumpulkan di kantor kelurahan kemudian Walikota Surakarta yaitu Joko Widodo dan Wakil Walikota Surakarta yaitu FX. dan b. Pendekatan yang interaktif kepada masyarakat yang terkena relokasi dalam rangka menginformasikan rencana proyek relokasi tersebut. sebelumnya pernah terjadi penggusuran untuk membuatan tanggul. Untuk melakukan analisis terhadap pelaksanaan relokasi. sempat terjadi penolakan oleh warga karena warga trauma.pemecahan masalah kaitannya dengan kebutuhan manusia tersebut.05/15/1/2009 yang diterapkan pada waktu itu adalah dengan membentuk kepanitiaan pelaksanaan program relokasi yang terdiri atas: 16 . sasaran yang ingin dicapai adalah: a. maka prosedur yang dapat ditempuh yaitu: 1.

Kelompok Kerja Tingkat Kelompok Pada tingkat kelompok. Kelompok kerja ini memiliki tugas dan fungsi: (1) menginvetarisasi atau mendata warga yang berhak mendapatkan bantuan program relokasi. monitoring dan evaluasi pelaksanaan program relokasi. Tim Tingkat Kota Kelompok Kerja (untuk selanjutnya disebut Pokja) program relokasi pada tingkat kota memiliki tugas dan fungsi: (1) mengkoordinir pelaksanaan pemberian bantuan program relokasi kepada warga penerima. (2) melakukan verifikasi pengajuan permohonan bantuan program relokasi. Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat SEKDA Kota Surakarta Nomor 362/16/1/2009 yaitu sebagai berikut: 1) Rembug warga 17 . (6) menyusun guidance dan site plan bangunan relokasi. Dalam menindaklanjuti program relokasi yang telah dilakukan Pemerintah Kota Surakarta pada tahun 2007. (3) menetapkan warga penerima program relokasi. (7) menetapkan dan menyerahkan ganti rugi atas tanah yang haknya akan dilepas atau diserahkan termasuk bangunan.a. c. (5) melaksanakan pengadaan tanah dalam rangka untuk merelokasi pemukiman. tanaman dan benda-benda lain yang berada diatas tanah. (4) melaksanakan sosialisasi. b. (3) membuat laporan pertanggungjawaban penyerahan bantuan (SPJ) serta mendokumentasikan semua kegiatan yang telah dilaksanakan. (2) mengiringi proses relokasi. Kelompok Kerja Tingkat Kelurahan Kelompok kerja ini dilegitimasi berdasarkan musyawarah bersama warga dengan kelurahan dan LPMK. dibentuk sub Pokja untuk mewakili masyarakat yang menerima program. selanjutnya Pemerintah Kota Surakarta menetapkan prosedur pelaksanaan lanjutan yang ditetapkan dalam Keputusan Asisten Ekonomi.

(2) menyerahkan fotocopy KTP dan KK penduduk setempat. 2) Pengajuan proposal Pengajuan proposal permohonan bantuan kepada Walikota Surakarta dilakukan secara kolektif oleh Pokja dalam berkas pengusulan/proposal yang terdiri atas: (1) daftar calon penerima program relokasi sesuai formulir yang ditentukan disertai dengan foto diri dan foto kondisi rumah. Selain itu juga melakukan identifikasi data lengkap calon penerima bantuan relokasi yang merujuk pada data korban banjir tahun 2007. lurah memfasilitasi calon warga penerima bantuan relokasi dengan cara menyepakati susunan Pokja Kelurahan tahun 2009. PA. 4) Verifikasi berkas pengusulan/proposal Ketua Tim Verifikasi data. (3) menyerahkan foto rumah kondisi awal serta rencana penggunaan bantuan sesuai dengan formulir yang ada. 18 . Selanjutnya berkas proposal yang diketahui oleh Lurah dan Camat dikirmkan ke BAPERMAS. Kemudian dengan adanya petimbangan banyaknya jumlah calon penerima program relokasi dan luasnya wilayah. PP. 3) Penerimaan berkas pengusulan/proposal BAPERMAS. dengan anggota tim melakukan verifikasi kepada Ketua Tim Pasca Banjir guna bahan pertimbangan untuk ditetapkan sebagai warga penerima bantuan program relokasi dengan Surat Keterangan Walikota.Dalam hal ini. dan KB untuk diverifikasi oleh Tim Verifikasi. PA dan KB menghimpun berkas proposal permohonan dan selanjutnya menyerhakan kepada Tim Verifikasi untuk pengecekan kesesuaian dengan persyaratan yang ada. PP. (4) daftar susunan Pokja kelurahan. disertai dengan surat keterangan dari kepala kelurahan bahwa yang bersangkutan tinggal ditempat.

-.5) Pengajuan bantuan hibah Setelah terbit Keputusan Walikota Surakarta tentang daftar warga yang menerima bantuan pasca banjir 2007 Tahap II tahin 2009. kelurahan Sewu 19 . 8. 12. Berdasarkan Keputusan Walikota Surakarta Nomor 466... site plan tanah pembagian kapling.untuk fasilitas umum.untuk pembangunan rumah dan Rp. Untuk mensukseskan program relokasi tersebut dalam Keputusan Asisten Ekonomi.000. kelurahan Pucang Sawit sebanyak 274 rumah di tanah Negara dan 10 rumah yang bersertifikat Hak Milik. BAPERMAS.000.1/96/1/2012 dana tersebut diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kota Surakarta (APBD) tahun 2012.untuk pembelian tanah seluas 50-60 m2. Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat SEKDA Kota Surakarta Nomor 362/16/1/2009. PA.500. warga yang menerima bantuan melalui Pokja masingmasing melengkapi berkas berupa fotocopy Sertifikat tanah yang akan dibeli.000. dan KB akan mengajukan permohonan pencairan hibah kepada Walikota Surakarta melalui Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Surakarta. Program relokasi di Kota Surakarta dikelompokkan menjadi dua.800. yaitu bangunan yang berada di atas tanah milik Negara yang digolongkan sebagai hunian liar dan bangunan yang berada di tanah bersertifikat Hak Milik. Pemerintah Kota Surakarta menggelontorkan dana sebesar Rp. 1. Pekerjaan fisik berupa pengukuran yang bermanfaat bagi penentuan besarnya kompensasi bagi masing-masing warga. penyiapan prasarana dan sarana lingkungan dilokasi yang baru. PP. peryataan siap jual beli Notaris.. Dalam hal ini untuk pembelian tanah dalam program relokasi. 20.000.500. Proses relokasi yang dilakukan berjalan sukses terbukti dengan telah direlokasinya rumah-rumah di bantaran sungai Bengawan Solo antara lain di kelurahan Jebres sebanyak 172 rumah di tanah Negara. Jadi setiap rumah mendapatkan dana sebesar Rp.000. Rp. 3.

Penyusunan rencana penempatan lokasi rumah tempat tinggal baru dengan memperhatikan aspirasi warga. Pelaksanaan kegiatan relokasi dilakukan sesuai hasil kesepakatan rembug warga dan mengacu pada rencana penggunaan bantuan yang telah dibuat sebelumnya serta berdasarkan ketentuan dalam perjanjian. kelurahan Sewu sebanyak 18 rumah. (3) menyertakan fotocopy sertifikat tanah atas nama pemilik (warga penerima bantuan) atau surat keterangan sertifikat masih dalam proses dari Badan Pertanahan Nasional setempat. kelurahan Sangkrah sebanyak 111 rumah di tanah Negara dan 28 rumah yang bersertifikt Hak Milik. kelurahan Semanggi sebanyak 170 rumah di tanah Negara dan 84 rumah yang bersertifikt Hak Milik selanjutnya kelurahan Joyosuran sebanyak 48 rumah di tanah negara. kelurahan Semanggi sebanyak 78 rumah dan kelurahan Joyosuran sebanyak 11 rumah. maka warga yang menerima bantuan melalui Pokja membuat Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) atas penerimaan bantuan oleh masing-masing warga yang dikumpulkan secara kolektif oleh Pokja yang terdiri dari : (1) rincian penggunaan bantuan dengan format terlampir. dan kelurahan Semanggi sebanyak 21 rumah. Namun tidak semua rumah di bantaran sungai Bengawan Solo direlokasi pada saat itu. kelurahan Pucang Sawit sebanyak 4 rumah. Selain itu. Ada beberapa kelurahan yang belum direlokasi baik rumah yang telah mempunyai sertifikat Hak Milik ataupun hunian liar di tanah Negara. rumah yang telah bersertifikat Hak Milik yang belum direlokasi antara lai di kelurahan Jebres sebanyak 3 rumah. Hunian liar di tanah Negara yang belum direlokasi di kelurahan Pucang Sawit sebanyak 55 rumah. kelurahan Sewu sebanyak 106 rumah. 4. (2) foto rumah setelah relokasi. 20 . Setelah program relokasi rumah pasca banjir selesai. kelurahan Sangkrah sebanyak 145 rumah.sebanyak 249 rumah di tanah negara dan 33 rumah yang bersertifikt Hak Milik.

Pemerintah Kota Surakarta telah menjalankan kewajibannya dalam pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak yang merupakan hak fundamental setiap warga Negara seperti yang tertuang dalam Pasal 28H Ayat (3) UUD 1945. (3) Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam pembangunan 21 . 2011: 52) Dalam memenuhi hak masyarat atas perumahan yang layak dan sehat maka arah kebijakan yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta yaitu: (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Surakarta. produktif dan berkelanjutan. (Zaini Musthofa. maka masyarakat mendapatkan kepastian hukum dan masyarakat merasa lebih aman dari ancaman permasalahan di kemudian hari. (2) Menyempurnakan berbagai peraturan perudang-undangan yang dapat menjamin perlindungan hak masyarakat miskin atas perumahan.Dengan adanya program relokasi yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta. Pemerintah Kota Surakarta mempunyai visi “Semua Orang Menghuni Rumah yang Layak dalam Pemukiman yang Sehat”. masyarakat juga memiliki status lahan dan rumah berupa Sertifikat Hak Milik. (2) Mendorong pertumbuhan wilayah dan keserasian antar wilayah. misi yang ingin dicapai adalah: (1) Mewujudkan masyarakat yang mandiri melalui pembangunan perumahan dan pemukiman. Dalam kaitannya dengan penangan permasalahan perumahan dan pemukiman khususnya hunian liar di bantaran sungai Bengawan Solo. aman. teratur. Selain itu. 2010) (1) Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan perumahan. (3) Mewujudkan lingkungan pemukiman perumahan yang sehat. 2011: 96-97) Dengan adanya perubahan status yang awalnya illegal menjadi legal. rukun. (Zaini Musthofa. Dari visi tersebut. masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo tersebut kemudiann dipindahkan ke lokasi pemukiman yang baru yaitu Kelurahan Mojosongo yang merupakan kawasan yang diperuntukan untuk pengembangan pemukiman dalam Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kota Surakarta dan pada saat pemindahan tersebut.

Pemenuhan hak tersebut dilakukan dengan cara memberikan program relokasi yang berbasis humanis dan berlandaskan musyawarah yang mufakat sehingga peran Pemerintah Kota Surakarta sebagai fasilitator penyedia hunian bagi masyarakat Kota Surakarta terpenuhi. Seperti pada prinsip utama utilitarianisme klasik yang dicetuskan oleh Jeremy Bentham berbunyi: the greatest happiness of the greatest number (kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar). program relokasi yang telah dilakukan Pemerintah Kota Surakarta sejak tahun 2007 hingga saat ini dirasa telah memenuhi hak masyarakat akan tempat tinggal yang layak. (5) Meningkatkan ketersediaan rumah yang layak dan sehat bagi masyarakat miskin dan golongan rentan. Munculnya solusi humanis ini telah mampu mengurangi konflik yang sering muncul berkaitan dengan penyelesaian hunian liar dengan menerapkan UU No. Asumsi mengenai kata humanis erat kaitannya dengan memberikan kebahagiaan untuk masyarakat. Oleh sebab itu. Konsep relokasi ini tidak hanya memberikan kebahagiaan (kemanfaatan) dalam jumlah terbesar. (4) Meningkatkan keterjangkauan dan kemampuan masyarakat dalam pembangunan rumah yang layak dan sehat. Dapat dikatakan berbasis humanis karena masyarakat Kota Surakarta juga turut berpartisipasi dalam pemenuhan hak atas hunian yang layak dalam program relokasi tersebut dengan cara membentuk Pokja sebagai perwakilan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi atas relokasi yang diharapkan oleh masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo. Penggusuran dirasa telah memberikan ketidak bahagiaan bagi masyarakat. 51/PRP/1960. Sehingga relokasi yang dilakukan tidak menimbulkan konflik sosial. 22 . tetapi juga memberikan kebahagiaan (kemanfaatan) besar bagi masyarakat seluruhnya.rumah yang layak dan sehat. Model relokasi mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menegaskan bahwa RAPBD harus menyediakan anggaran yang berkaitan dengan pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak karena adanya kebijakan Pemerintah Kota Surakarta mengenai ini telah menimbulkan kebahagiaan bagi masyarakat dalam pemenuhan hak konstitusional mengenai tempat tinggal yang layak.

model relokasi 2008. Peraturan perundang-undangan tertulis harus ada dan berlaku lebih dulu atau mendahului tindakan atau perbuatan administrasi yang dilakukan. Tindakan-tindakan tersebut seringkali hanya menguntungkan bagi pemerintah daerah namun bertentangan dengan Hak Asasi Manusia sepeti melakukan penggusuran. hak asasi manusia terabaikan atau dilanggar dengan sengaja dan penderitaan yang ditimbulkannya tidak dapat diatasi secara adil.com/pemikiran/view/11) Dalam perkembangannya.jimly. serta perlindungan hak asasi manusia. Jika dalam suatu Negara. dengan demikian. 23 . masih menimbulkan pertentangan dengan asas legalitas sebagai tindakan hukum pemerintah. sehingga model relokasi tidak mempunyai perlindungan hukum yang kuat untuk terjaminnya suatu kepastian hukum di dalamnya. 51/PRP/1960 ditegaskan pemerintah daerah dapat melakukan tindakan-tindakan untuk mengosongkan tanah yang bersangkutan. dimana dalam setiap negara segala tindakan pemerintahan harus didasarkan atas peraturan. setiap perbuatan atau tindakan administrasi harus didasarkan atas aturan atau ‘rules and procedures’ (regels). penerapan Asshidiqie. Jimly Asshidiqie menyatakan bahwa prinsip pokok negara hukum merupakan pilar utama yang menyangga berdiri tegaknya suatu negara sehingga dapat disebut negara hukum dalam arti yang sebenarnya. Rasionalitas Tindakan Relokasi sebagai Upaya Pemenuhan Konstitusional Warga Negara dalam Hunian Liar Relokasi sebagai tindakan hukum pemerintah dalam pemenuhan konstitusional warga negara yang bertempat tinggal dalam hunian liar maka perlu dikaji lebih lanjut apakah mempunyai dasar legalitas pelaksanaan tindakan relokasi tersebut.B. maka Negara yang bersangkutan tidak dapat disebut sebagai Negara Hukum dalam arti yang sesungguhnya. (Jimly http://www. dimana adanya jaminan hukum untuk memperoleh penghormatan dan perlindungan yang adil. Pertentangan tersebut dikarenakan dalam UU No. Ada dua belas prinsip pokok negara hukum yang dikemukakan yang beberapa diantaranya yaitu asas legalitas.

2011: 42). meskipun disadari bahwa asas wetmatigheid menjamin pelaksanaan asas persamaan di hadapan hukum dan asas kepastian hukum (Edi As’adi. Landasan yuridis Pemerintah Kota Surakarta menggunakan solusi relokasi adalah pada Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang memungkinkan Pemerintah Kota Surakarta menciptakan model pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak terhadap masyarakat yang menempati hunian liar di kawasan bantaran sungai Bengawan Solo yaitu relokasi. Alasan rasional mengapa tidak digunakan UU No. maka tidak ada alasan bagi pemerintah untuk melakukan tindakan penggusuran sesuai dengan UU No. 2011:42). Sebaliknya pemikiran negara hukum abad XX lebih mengedepankan doelstelling (penerapan tujuan). Asas Kepercayaan dan Menanggapi Pengharapan yang Wajar Alasan pertama adalah masyarakat yang tinggal di bantaran sungai Bengawan Solo tidak memiliki sertifikat atau illegal. (Rina Kemala Sari. 51/PRP/1960 yang tidak mencerminkan sikap humanis.Namun menurut Philipus M. Meskipun tidak di atur secara limitatif. dan beleid (kebijakan) (Edi As’adi. namun dengan dianggarkannya RAPBD untuk pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak. plan (rencana). 51/PRP/1960 sebagai tindakah hukum pemerintah daerah antara lain : 1. Relokasi adalah membangun kembali perumahan. harta kekayaan. Lahan yang mereka tempati adalah lahan milik Pemerintah Kota Surakarta. 2006: 2) Hal ini diperkuat oleh Pasal 17 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara telah memberikan landasan yuridis dimana setiap RAPBD harus menyediakan anggaran yang berkaitan dengan pemenuhan hak atas tempat tinggal yang layak. termasuk tanah produktif dan prasarana umum di lokasi atau lahan lain. Hadjon dalam hukum administrasi asas legalitas dalam wujud wetmatigheid van bestuur (undang-undang) sudah lama dirasakan tidak memadai. Mereka juga telah lama menempati lahan di bantaran sungai Bengawan Solo. normstelling (penerapan norma). meski mereka sadar bahwa lahan tersebut bukan miliknya. namun karena keterbatasan 24 .

Pasal 40 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. mereka memanfaatkan sebagai tempat tinggal. dan Pasal 19 ayat (1). And Cultural Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Ekonomi. Pasal 11 ayat (1) International Covenant on Economic. kewajiban melindungi (duty to protect) dan kewajiban memenuhi (duty to fulfill) berdasarkan kesepakatan sukarela untuk memberikan penghormatan 25 . Social. 2. 2011: 95) Fakta empiris tersebut ternyata tidak langsung ditanggapi Pemerintah Kota Surakarta dengan mengimplementasikan UU No. 51/PRP/1960 sebagai solusi yang telah diatur oleh undang-undang. Sosial dan Budaya) Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hak Dasar atas Perumahan yang Layak Alasan kedua Pemerintah daerah tidak melakukan tindakan hukum sesuai UU No.ekonomi dan melihat adanya lahan kosong. Pemerintah daerah mempunyai kewajiban menghormati (duty to respect). Atas sikap diam yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta hingga tahun 2007 tersebut. 51/PRP/1960 adalah untuk memberi jaminan hak atas perumahan yang layak bagi masyarakat yang bertempat tinggal di hunian liar. Pasal 50 ayat (1) dan pasal 129 huruf a Undang-Undang nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. (Zaini Musthofa. melalui model relokasi yang dilakukan terhadap masyarakat yang bertempat tinggal di hunian liar dapat memberikan pemenuhan hak dasar atas perumahan yang layak dimana sesuai dengan amanat Pasal 25 ayat (1) Universal Declaration of Human Rights. maka menimbulkan kepercayaan dan pengharapan yang wajar dengan membiarkan dan memperbolehkan pendirian hunian liar di tanah negara sekalipun hal tersebut tidak memberi keuntungan bagi pemerintah daerah bagi masyarakat untuk mendapatkan tempat tinggal khususnya warga Bantaran Sungai Bengawan Solo. Tindakan hukum yang dapat digunakan adalah tindakan yang bersifat humanis seperti model relokasi.

Hal ini telah sesuai dalam pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 19 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 51/PRP/1960 bukan merupakan solusi efektif dan tidak menunjukan sikap pemerintah yang menjunjung tinggi hak asasi manusi. Pelanggaran terhadap hunian liar di Bantaran Sungai Bengawan Solo perlu diatasi dengan cara-cara yang humanis agar tidak terjadi pertentangan hak dan kemanusiaan. Pemenuhan hak atas lingkungan hidup tersebut diwujudkan dengan mengembalikan fungsi sungai. Konsep relokasi atas hunian liat ini dirasa menjadi sebuah solusi efektif untuk menghindari konflik sekaligus menjalankan kewajiban pemerintah dalam pemenuhan hak asasi warga Negara khususnya dalam pemenuhan atas tempat tinggal yang layak. 51/PRP/1960 namun melakukan tindakan yang bersifat humanis seperti model relokasi secara langsung dapat menciptakan lingkungan hidup yang baik atas lahan yang dihuni sebelumnya oleh masyarakat yang menempati hunian liar. Penyelesaian hunian liar di Bantaran Sungan Bengawan Solo dengan mengimplementasikan UU No.kepada masyarakat yang bertempat tinggal di hunian liar untuk dipindah ke pemukiman yang baru dengan status permanen dan mendapatkan kualitas yang lebih baik daripada rumah di hunian liar. 3. Dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo dijelaskan bahwa tujuan disusunnya Pola 26 . Hak Dasar atas Lingkungan Hidup yang Baik Alasan ketiga Pemerintah daerah tidak melakukan tindakan hukum sesuai UU No. Memiliki tempat tinggal yang layak adalah kebutuhan pokok manusia yang telah dijamin pemenuhan hak nya oleh UUD 1945. Dimana tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan pemerintah daerah adalah membuat dan mengelola perencanaan proyek pembangunan untuk menghindari potensi adanya banjir dengan mengembalikan fungsi daerah aliran sungai terhadap pemenuhan daerah resapan air didalamnya.

Penyelesaian atas hunian liar di bantaran sungai Bengawan Solo dapat menggunakan konsep relokasi yang telah diterapkan oleh Pemerintah Kota Surakarta pada tahun 2007-2009 lalu. Setelah hunian liar direlokasi. tenis meja. 2013.Pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Bengawan Solo secara umum adalah untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan.php? option=com_content&view=article&id=119:pilot-project-pengelolaankawasan-sungai&catid=3:news) 27 . Contoh taman kota yang telah ada adalah Taman Ronggowarsito yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem bagi lingkungan alam di sekitarnya. Program terbaru Pemerintah Kota Surakarta dalam melakukan revitalisasi bantaran sungai Bengawan Solo adalah membuat desain pilot project fasilitas publik yang akan dibangun di bantaran Sungai Bengawan Solo Pucang Sawit Surakarta. (Pola Pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Bengawan Solo. penambahan sumur resapan. Kehadiran pepohonan yang terdapat di dalamnya dapat berfungsi untuk menyimpan suplai air meskipun dalam kapasitas terbatas.org/index. tempat bermain anak-anak yang dipadukan dengan taman serta monumen peringatan terjadinya banjir. Selain itu taman tersebut juga merupakan bagian dari jalur hijau yang menjadi jantung penyuplai udara bersih. http://www. prasarana olah raga seperti bola volley. Salah satu isu yang harus diselesaikan adalah mengenai hunian liar di bantaran sungai Bengawan Solo. Fasilitas publik tersebut antara lain WC umum. 2010: 5) Untuk mewujudkan tujuan dari revitalisasi sungai Bengawan Solo. maka Pemerintah Kota Surakarta harus menyelesaikan isu-isu yang dihadapi dalam melakukan pengelolaan sungai Bengawan Solo. Pelaksanaan pilot project ini didanai oleh Departemen Pekerjaan Umum dan JICA. penghormatan atas perelokasian hunian liar adalah dengan membuat taman kota di daerah bantaran sungai Bengawan Solo.duwrmt. (Artikel DUWRMT.

ada beberapa alasan yang menyimpulkan bahwa relokasi merupakan tindakan Pemerintah Kota Surakarta yang efektif dalam mengatasi hunian liat di bantaran sungai Bengawan Solo yaitu Asas Kepercayaan dan Menanggapi Pengharapan yang wajar. Hal tersebut ditunjukan dengan masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo yang akan direlokasi diajak berpartisipasi dalam penentuan lokasi relokasi. Secara Normatif yang diatur dalam UU No. tindakan yang dapat dilakukan Pemerintah Kota Surakarta dalam mengatasi hunian liar adalah dengan melakukan penggusuran. hak atas perumahan yang layak dan hak dasar atas lingkungan hidup yang baik.BAB V PENUTUP A. pembangunan bangunan relokasi. Kemudian Pemerintah Kota Surakarta membuat konsep baru yaitu dengan melakukan relokasi dan hasil yang didapatkan bahwa relokasi yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta sangat berhasil dan sesuai dengan apa yang diinginkan masyarakat Kota Surakarta. namun pada faktanya penggusuran tersebut bertentangan dengan hak dasar hunian yang layak maupun hak atas lingkungan hidup. relokasi yang berbasis humanis atas hunian liar di bantaran sungai 28 . hingga relokasu dilakukan. Kemudian partisipasi masyarakat tersebut dapat ditunjukan dengan dibentuknya Pokja yang merupakan perwakilan dari masyarakat yang akan di relokasi. 2. Relokasi yang dilakukan juga sangat humanis. Maka. Kesimpulan 1. Selain itu. 51 PRP Tahun 1960.

Karena selain tempat tersebut dapat diduduki secara legal. alangkah lebih baik jika masyarakat sesegera mungkin untuk mecari tempat-tempat yang telah disediakan oleh Pemerintah sebagai lokasi hunian dalam penataan suatu daerah. Sebaiknya pemerintah daerah memelihara tanah-tanah yang dikuasainya dengan baik seperti taman kota dan daerah resapan air lainnya untuk mencegah datangnya potensi banjir. 29 . ketertiban maupun kesehatan masyarakat. 3. Selain itu saran dalam kegiatan relokasi. Jika Pemerintah menemukan hunian liar lain di bantaran sungai Bengawan Solo. Saran 1. seperti Dengan memberikan demikian program-program masyarakat akan pelatihan mempunyai keterampilan khusus dan lokasi pemukiman akan menjadi hunian yang layak. akan terjamin pula keamanan. kami memberi saran kepada Pemerintah Kota Surakarta agar membuat suatu program lanjutan pacsa relokasi keterampilan. maka sesegera mungkin untuk merelokasi masyarakat agar tidak ada suatu harapan bagi masyarakat yang tidak ditindak atas pendudukan hunian di lokasi illegal. Selain itu. Jika masyarakat mengetahui bahwa telah menduduki tanah Negara secara illegal. Saran yang ketida ditujukan kepada Pemerintah Daerah secara umum. B.Bengawan Solo adalah suatu model yang efektif yang dapat dilakukan dan dipertahankan untuk kedepannya. 2. Pemerintah Kota Surakarta diharapkan untuk melakukan evaluasi maupun pengawasan yang baik agar tidak terjadi penyimpangan atas dana bantuan yang diberikan Pemerintah untuk melakukan relokasi. Saran kedua ditujukan kepada Pemerintah Kota Surakarta. Saran pertama ditujukan kepada masyarakat baik masyarakat yang menduduki hunian liar di bantaran sungai Bengawan Solo. maupun masyarakat secara umum.

2007. 2004. Diakses dalam http://stainsalatiga.34 WIB. Kebijakan Perumahan dan Permukiman Bagi Masyarakat Urban. 2012. Graha Ilmu: Yogyakarta. George Ritzer dan Douglas J. Jurnal Ekonomi dan Manajemen Dinamika Universitas Negeri Semarang. Etika.id/mengenal-hak-atas-tanah-dankonflik-pertanahan-di-indonesia/ pada tanggal 21 Oktober 2014 pukul 01. Etty Sulistyowati. 2000. Volume 16 Nomor 1. Edi As’adi. Jeremy Bentham. Pokok-Pokok Negara Hukum. Pruit dan Jeffrey Z. Cetakan 1. Hukum Proyek Konstruksi Bangunan. 2013. Fakhani.go. Diakses dalam http://sda. Latar Belakang Pola PSDA WS Bengawan Solo. Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Penertiban Hunian Liar di Kota Solo.27 WIB. Konstitusi Press: Jakarta. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi. 2012.duwrmt. Direktorat Bina Penatagunaan Sumber Daya Air. 2005.pdf pada tanggal 21 Oktober 2014 pukul 01.ac. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.com/pemikiran/view/11 pada tanggal. pada tanggal 19 Juli 2013 pukul 13. diterjemahkan oleh Alimandan. Keputusan Asisten Ekonomi. Kementrian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. DUWRMT. Goodman. Dean G. Konflik Sosial. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Diakses dalam http://www. 2013. Bertens.org. 2007. Diakses dalam http://www. Mengenal Hak Atas Tanah dan Konflik Pertanahan di Indonesia.26 WIB. ________________. 21 Juli 201 pukul 19. Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat SEKDA Kota Surakarta Nomor 362/16/1/2009 tentang Petunjuk Teknis Pemberian 30 . K.pu. Diakses dalam http://bnpb. Rubin.id:8181/sda/? act=peraturan_ws_detail&wid=19&gid=6 pada tanggal 21 Oktober 2014 pukul 01.DAFTAR PUSTAKA BNPB. Teori Sosiologi Moderen.20 WIB. 2011. Prenada: Jakarta.21 WIB. 2013. 2008. Volume 1 Nomor 1.go. Jimly Asshiddiqie. Pembahasan Rencana Pembangunan Fasilitas Publik Sebagai Pilot Project Pengelolaan Kawasan Sungai (River Area Management) di Bantaran Sungai Bengawan Solo (Pucang Sawit Surakarta). Batoche Books: Kitchener. Sungai Bengawan Solo Kembali Meluap. Jurnal Jurisprudence Universitas Muhammadiyah Surakarta.id/uploads/migration/pubs/cover/567. An Introduction to the Principles of Morals and Legislation. Etty Isworo. 1997.jimly.

Jakarta. 20/XX/2010. Halaman 11-13. Jakarta. Keputusan Walikota Surakarta Nomor 362. Relokasi Memanusiakan Manusia. 2013. 5 April 2003. 12 Januari 2011. PT. Surakarta. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140. 13 November 2012. 1996. Jakarta. Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani. Tugas Akhir. 2008. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47. No. Surakarta. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dimensi-Dimensi HAM Mengurai Hak Ekonomi. Majda El Muhtaj.Bantuan Hibah Pasca Banjir 2007 Kota Surakarta Tahun 2009. Mustianto Sepriyansyah. 3 Oktober 2009. Surakarta. Volume 2 Nomor 2 Paulus Wirotomo. Raja Grafindo Persada: Jakarta. 8 November. Program Sarjana Universitas Sebelas Maret. Majalah Novum. “Evaluasi Pelaksanaan Program Relokasi Permukiman Kumuh (Studi Kasus: Program Relokasi Pemukiman di Kelurahan Pucang Sawit Kecamatan Jebres Surakarta”. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165. Tata Cara Pemugaran Pemukiman Kumuh di Perkotaan. 2014. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 8 Maret 2010. Keputusan Walikota Surakarta Nomor 466. Sosial dan Budaya. Jakarta. Jakarta. Kelurahan Joyosuran dan Kelurahan Pucang Sawit Kota Surakarta. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Relokasi Pemukiman Penduduk Bantaran Sungai Karang Mumus di Kota Samarinda. 23 September 1999. 31 . Jakarta. 2010.1/96/1/2012 tentang Warga Penerima Bantuan Hibah Uang untuk Pembelian Tanah dan Pembangunan Rumah Relokasi Akibat Terkena Banjir Tahun 2007 dan Proyek Pembangunan Parapet Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Jebres. Penerbit Departemen Kehakiman Indonesia: Jakarta. 15 Oktober 2004. Zaini Musthofa. 2011. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 266/KPTS/M/2010 tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 9 April 2009. 7 April 2009. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Raja Grafindo Persada: Jakarta.05/15/1/2009 tentang Pembentukan Tim dan Ketua Kelompok Kerja Penanganan Pasca Bencana Banjir Tahun 2007 Kota Surakarta. Penerapan Teori Hukum pada Penelitian Tesis dan Disertasi. Surakarta. Surakarta. Ejournal Ilmu Pemerintahan.