Anda di halaman 1dari 26

Sekilas Pertambangan Mineral & Batubara

by: Prianto Budi Saptono

I.1. Istilah Pertambangan Umum serta Pertambangan


Mineral dan Batubara
Dari sisi peraturan, istilah pertambangan umum bisa dikatakan mengacu pada
Keputusan enteri Pertambangan dan Energi Nomor 134.K/201/M/PE/1996 tentang
Penggunaan Peta,Penjelasan Batas dan Luas Wilayah Kuasa Pertambangan,
Kontrak Karya, dan Kontrak Karya Batubara di Bidang Pertambangan Umum.
Istilah pertambangan umum ini juga dipakai di dalam PSAK 33 (Revisi 2011).
Meskipun tidak djelaskan secara eksplisit, di dalam perihal Keputusan Menteri
Pertambangan dan Energi Nomor 134.K/201/M/PE/1996 tersebut, terlihat jelas
bahwa Pertambangan umum mengarah ke pertambangan mineral dan batubara,
bukan pertambangan minyak dan gas bumi.
Sebelumnya, pertambangan umum diatur dengan UU No. 11/1967 tentang
Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan. Sejak UU No. 4/2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara diundangkan pada tanggal 12 Januari 2009,
pengoperasian pertambangan umum mengacu pada pada UU No. 4/2009
tersebut.

I.2. Pengertian Pertambangan, Mineral, dan Batubara


Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan
kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan
penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak. Karena itu,pengelolaannya harus dikuasai oleh
Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha
mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan. kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara yang merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan
gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata
kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara kelanjutan.
Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (UU No.
11/1967) sudah tidak sesuai lagi. Dengan demikian, dibutuhkan perubahan peraturan perundangundangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan
potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan
berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan.Untuk itu,
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 (UU No. 4/2009) tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
hadir untuk menggantikan UU No. 11/1967.
Tabel I.1 memberikan gambaran sekilas tentang pengertian pertambangan, mineral, dan batubara.
Perihal
Pertambangan

Mineral

Batubara

Deskripsi
sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian pengelolaan dan
pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi,
studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang
Senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia
tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,
baik dalam bentuk lepas atau padu [Psl 1 angka 2]
Endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari sisa
tumbuh-tumbuhan [Psl 1 angka 3]

Pertambangan
mineral
Pertambangan
Batubara
Usaha
Pertambangan

Pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan, di luar panas
bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah [Psl 1 angka 4]
Pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen
padat, gambut, dan batuan aspal [Psl 1 angka 5]
Kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan
kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
pascatambang [Psl 1 angka 6]

Komoditas
tambang mineral
dan batu bara

a)mineral radioaktif meliputi:


- radium,
- thorium
- bahan galian radioaktif lainnya;
b
mineral logam meliputi
)
- litium
- berilium
- kalsium
- emas
- timbal
- seng
- mangaan
- platina
- bauksit
- air raksa
- barit
- vanadium
- kobalt
- tantalum
- indium
- yitrium
- galena
- alumina
- ilmenit
- khrom
- dysprosium
- thorium
- niobium
- neodymium
- aluminium
- palladium
- ruthenium
- iridium
- stronium
- germanium
c)mineral bukan logam meliputi
- intan
- korundum
- pasir kuarsa
- fluorspar
- brom
- klor
- halit
- asbes
- magnesit
- yarosit
- ball clay
- fire clay
- feldspar
- bentonit
- kalsit
- rijang
- zirkon
- wolastonit
- perlit
- garam batu
- batu gamping untuk semen
d
batuan meliputi:
)
- pumice
- onik
- obsidian
- tras
- tanah diatome
- marmer
- slate
- tanah serap
- andesit
(fullers earth)
- basalt
- granit
- tanah liat
- gabro
- opal
- trakhit

- uranium,

- monasit

- magnesium
- tembaga
- timah
- bismuth
- wolfram
- kromit
- cadmium
- magnetit
- niobium
- erbium
- cesium
- hafnium
- rhodium
- selenium
- zenotin

- kalium
- perak
- nikel
-molibdenum
- titanium
- antimoni
- galium
- besi
- zirkonium
- ytterbium
- lanthanum
- scandium
- osmium
- telluride

- grafit
- kriolit
- belerang
- talk
- oker
- zeolit
- gipsum
- pirofilit
- tawas
- clay

- arsen
- yodium
- fosfat
- mika
- fluorit
- kaolin
- dolomit
- kuarsit
- batu kuarsa

- toseki
- perlit
- granodiorit
- peridotit
- leusit
- batu apung
- chert
- krisoprase

- kristal kuarsa
- kayu terkersikan - tanah urug
- agat
- kalsedon
- batu gunung
- jasper
- giok
- kerikil sungai
- gamet
- top
- kerikil sungai ayak - diorit
- kerikil galian
tanpa pasir
- quarry besar
dari bukit
- kerikil berpasir
- batu kali
- pasir urug
alami (sirtu)
- urukan tanah
- pasir pasang
- bahan timbunan
setempat
pilihan (tanah)
- batu gamping
- tanah merah
- pasir laut
(laterit)
- pasir yang tidak mengandung unsur mineral logam atau unsur mineral
bukan logam dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi
pertambangan
e)batubara meliputi:
- bitumen padat
- batuan aspal
- batubara
- gambut
Sumber: UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

I.3. Wilayah Pertambangan dan Kegiatan Usaha


Pertambangan
A. Wilayah Pertambangan
Usaha pertambangan mineral dan batubara dilakukan di dalam Wilayah Pertambangan atau WP,
yaitu wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan
administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional. WP ini menjadi landasan
bagi penetapan kegiatan pertambangan dan ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi
dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan DPR-RI. WP terdiri atas:
a. WUP atau Wilayah Usaha Pertambangan, yaitu bagian dan WP yang telah memiliki
ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi;
b. WPR atau Wilayah Pertambangan Rakyat, yaitu bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan
usaha pertambangan rakyatb
c.

WPN atau Wilayah Pencadangan Negara, yaitu bagian dari WP yang dicadangkan untuk
kepentingan strategis nasional (daerah yang dicadangkan untuk komoditas tertentu dan
daerah konservasi dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan).
Gambar I.1 Pembagian Wilayah Pertambangan (WP)

Sumber: UU 4/2009 dan PP 23/2010


Gambar I.1 memberikan ilustrasi lebih detil lagi tentang beberapa WUP, WPR, dan
WPN,sebagaimana diatur di dalam UU 4/2009 dan PP 23/2010, yaitu:
1. Dalam 1 (satu) WUP (Wilayah Usaha Pertambangan) dapat terdiri atas 1 (satu) atau
beberapa WIUP atau Wilayah Izin Usaha Pertambangan [Psl 9 ayat (1) PP 23/2010]
2. Dalam 1 (satu) WIUP dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa IUP (Izin Usaha Pertambangan)
[Psl 6 ayat (5) PP 23/2010]
3. Dalam 1 (satu) WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat) dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa
IPR (Izin Pertambangan Rakyat) [Psl 47 ayat (3) PP 23/2010]
4. WPN yang akan diusahakan untuk kegiatan usaha pertambangan berubah statusnya menjadi
WUPK (Wilayah Usaha Pertambangan Khusus) [Psl 27 UU 4/2009]
5. Satu WUPK terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUPK (Wilayah Izin Usaha Pertambangan
Khusus) yang berada pada lintas wilayah provinsi, lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau
dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota [Psl 30 UU 4/2009]
6. Dalam 1 (satu) WIUPK dapat terdiri atas 1 (satu) atau beberapa IUPK (Izin Usaha
Pertambangan Khusus) [Psl 49 ayat (4) PP 23/2010]
B. Kegiatan Usaha Pertambangan Berdasarkan UU No. 4/2009

Usaha pertambangan mineral dan batubara memiliki tahapan kegiatan seperti terlihat pada Tabel I.2.
Tahapan tersebut sesuai dengan pengertian dari pertambangan itu sendiri (lihat Tabel I.1).
Tabel I.2 Tahapan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
Kegiatan Utama
Deskripsi
1. Penyelidikan Tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui
Umum
kondisi geologi regional dan indikasi adanya
mineralisasi
2. Eksplorasi
Tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk
memperoleh informasi secara terperinci dan teliti
tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan
sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi
mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup
3. Studi
Kelayakan
Tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk
memperoleh informasi secara rinci seluruh
aspek yang berkaitan untuk menentukan
kelayakan ekonomis dan teknis usaha
pertambangan, termasuk analisis mengenai
dampak lingkungan serta perencanaan
pascatambang

4. Konstruksi

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang


selanjutnya disebut amdal, adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlu-kan bagi
proses pengambilan keputusan tentang
penyelengga-raan usaha dan/atau kegiatan

Kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan


pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi,
termasuk pengendalian dampak lingkungan
5.
Bagian kegiatan usaha pertambangan untuk
Penambangan memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral
ikutannya
6. Pengolahan Kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan
& Pemurnian
mutu mineral dan/atau batubara serta untuk
memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan
7.
Kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan
Pengangkutan mineral dan/atau batubara dari daerah tambang
dan/atau Kegiatan Utama Deskripsi Jenis Izin
Pertambangan tempat pengolahan dan pemurnian
sampai tempat penyerahan
8. Penjualan
Kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil
pertambangan mineral atau batubara

Jenis Izin Pertambangan


IUP
IUPK
IPR
Eksplorasi Eksplorasi

IUP
IUPK
IPR
Eksplorasi Eksplorasi

IUP
IUPK
IPR
Eksplorasi Eksplorasi

IUP
Operasi
Produksi
IUP
Operasi
Produksi
IUP
Operasi
Produksi

IUPK
Operasi
Produksi
IUPK
Operasi
Produksi
IUPK
Operasi
Produksi

IUP
Operasi
Produksi

IUPK
Operasi
Produksi

IPR

IUP
Operasi
Produksi

IUPK
Operasi
Produksi

IPR

9. Kegiatan
Kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah
Pascatambang akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha
IUP
pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan
Operasi
alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh Produksi
wilayah penambangan

IUPK
Operasi
Produksi

IPR

Sumber: Pasal 1, 36, 67, dan 76 UU No. 4 Tahun 2009 dan PP No. 23/2010

IPR

IPR

IPR

- See more at: http://www.transformasi.net/articles/read/136/kegiatan-usaha-pertambanganberdasarkan-uu.html#sthash.TK0cVbvD.dpuf


C. Kegiatan Usaha Pertambangan Berdasarkan PSAK 33 (Revisi 1994)
Meskipun perlakuan akuntansi berdasarkan PSAK 33 (Revisi 1994) tentang Akuntansi Pertambangan
Umum sudah tidak berlaku karena direvisi oleh PSAK 33 (Revisi 2011) tentang Aktivitas Pengupasan
Lapisan Tanah dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pertambangan Umum, tahapan kegiatan
usaha pertambangan yang dikupas di dalam PSAK 33 (Revisi 1994) masih relevan untuk
diungkapkan. Hal tersebut terlihat pada Tabel I.3 dan detil kegiatan serta biaya terkaitnya diuraikan
pada Tabel I.4. PSAK 33 (Revisi 1994) disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia bekerja sama dengan
Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi dan PT Tambang
Timah (persero).
Tabel I.3 Tahapan Kegiatan Usaha Pertambangan Umum Sesuai PSAK 33 (Revisi 1994)
Tahapan
Eksplorasi
(termasuk
evaluasi)

Deskripsi

Eksplorasi adalah usaha dalam rangka mencari, menemukan, dan


mengevaluasi Cadangan terbukti pada suatu wilayah tambang dalam
jangka waktu tertentu seperti yang diatur dalam peraturan perundangan
yang berlaku.

Cadangan terbukti merupakan suatu taksiran cadangan bahan galian


tambang umum dalam suatu Area of Interest yang secara teknis maupun
ekonomis dapat dipertanggungjawabkan kemungkinannya untuk
diproduksi di masa mendatang berdasarkan harga bahan galian tambang
umum pada saat taksiran tersebut dibuat dan biaya penambangannya

Pengembangan
dan Konstruksi

setiap kegiatan yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan Cadangan Terbukti


sampai siap diproduksi secara komersial (pengembangan) dan pembangunan
fasilitas dan prasarana untuk melaksanakan dan mendukung kegiatan produksi
(konstruksi)

Produksi

semua kegiatan mulai dari bahan galian dari Cadangan Terbukti ke permukaan
bumi sampai siap untuk dipasarkan, dimanfaatkan, atau dioleh lebih lanjut

pengelolaan yang meliputi upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan,


Pengelolaan
pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, dan pengembangan lingkungan hidup
Lingkungan Hidup sebagai usaha untuk mengurangi dan mengendalikan dampak negatif kegiatan
usaha penambangan
Sumber: PSAK 33 (Revisi 1994) (IAI, 1994)

- See more at: http://www.transformasi.net/articles/read/137/kegiatan-usaha-pertambanganberdasarkan-psak-33.html#sthash.4hNkE9yW.dpuf

D. Perbandingan Tahapan Kegiatan Usaha Pertambangan


Jika tahapan kegiatan usaha pertambangan menurut UU No. 4/2009 (lihat Tabel I.2) ditandingkan
dengan tahapan menurut PSAK 33 (Revisi 1994), seperti terlihat pada Tabel I.3 dan Tabel.4,
perbandingannya terlihat pada Gambar I.2. Di dalam Gambar I.2 terlihat perbedaan secara jelas
perubahannya. Proses perizinan dan administrasi yang diuraikan dalam PSAK 33 (Revisi 1994) tidak
terlihat pada tahapan menurut UU No.24/2009 karena perizinan telah diproses sebelumnya dengan
penerbitan IUP Eksplorasi.
Tabel I.4 Tahapan Kegiatan Usaha Pertambangan Umum Sesuai PSAK 33 (Revisi 1994)
Tahapan
Eksplorasi
1) Penyelidikan
Umum

Deskripsi Kegiatan
penyelidikan secara geologi umum atau geofisik
yang dilakukan di daratan, dan/atau dari udara
dengan maksud untuk membuat peta geologi
umum atau untuk menetapkan tanda-tanda
adanya bahan galian

2) Perijinan dan kegiatan pengurusan ijin untuk melakukan


Administrasi
kegiatan eksplorasi di suatu daerah tertentu,
antara lain meliputi pengurusan hak Kuasa
Pertambangan, Kontrak Kerja Sama, Kontrak
Karya, dan pembebasan tanah serta kegiatan
administrasi eksplorasi

3) Geologi dan
Geofisika

Kegiatan geologi meliputi pekerjaan


analisis foto udara dan pemetaan
geologi permukaan tanah dengan tujuan
untuk emmetakan penyebaran mineral.

Jenis Biaya

Biaya studi literatur,

Biaya perolehan data


satelit dan foto udara,

Biaya pemetaan geologi,

Biaya pengambilan
contoh, dan

Biaya analisis contoh


permukaan

Biaya perolehan Kuasa


Pertambangan,

Biaya perolehan kontrak


Kerja sama,

Biaya perolehan Kontrak


Karya,

Biaya Pembebasan
tanah/tanam tumbuh, dan

Biaya administrasi
eksplorasi

Biaya Side Looking Air


Radar (SLAR),

4) Pemboran
Eksplorasi

5) Evaluasi

Geofisika merupakan suatu teknologi


eksplorasi dengan menggunakan
sifatsifat fisik batuan yang diselidiki
untuk tujuan memperoleh data di bawah
permukaan tanah

Pemboran digunakan untuk mengetahui data


endapan di bawah permukaan tanah secara
rinci. Melalui pemeriksaan laboratorium atas
contoh bor dapat diketahui jenis dan kadar
batuan. Hasil pemboran beberapa lubang dapat
dikorelasikan untuk batuan-batuan yang sejenis
dan dapat pula dihitung besarnya cadangan
bahan galian tambang umum

Biaya geologi lapangan,

Biaya geologi kimia,


termasuk analisis
pengujian laboratorium,

Biaya penyelidikan
gravitasi,

Biaya penyelidikan
magnetik, dan

Biaya penyelidikan
seismik

Biaya persiapan lahan,


termasuk baiya
pembuatan jalan masuk
ke lokasi pemboran,

Biaya pemboran,
termasuk peralatan bor,

Biaya mobilisasi dan


demobilisasi,

Biaya pengujian dan


perampungan, dan

Biaya logistik selama


dilaksanakannya
pemboran

kegiatan untuk mengkaji apakah suatu cadangan biaya untuk kegiatan evaluasi
secara teknis layak untuk ditambang dan
mempunyai nilai komersial. Kegiatan pada tahap
pengenalisisan dampak lingkungan, perijinan
yang dibutuhkan, metode penambangan, proses
pengolahan, survei mengenai transportasi,
prasarana yang dibutuhkan, anggaran yang
dibutuhkan, serta nilai pasar cadanagn dan
rencana produksi

Pengembangan
& Konstruksi
1) Kegiatan
kegiatan pengurusan perijinan dalam lingkup
administrasi
pertambangan umum guna mendukung
dimulainya pelaksanaan kegitan pengembangan
dan konstruksi

a. Biaya Pengembangan
(i) Biaya administrasi:

2) Kegiatan
teknis

kegiatan rancang bangun dan kegiatan fisik


lapangan untuk memudahkanmasuk ke tempat
cadangan bahan tambang dalam rangka
persiapan kegiatan produksi

biaya pengurusan
perijinan dan Kuasa
Pertambangan, biaya
pembebasan tanah
(ii) Biaya pembersihan
lahan (land clearing), dan
(iii) Biaya pembukaan
tambang, termasuk
pengupasan lapisan
tanah (sebelum produksi).
b. Biaya Konstruksi
(i) Biaya pembuatan
prasarana,
(ii) Biaya pembuatan atau
pengadaan bangunan,
dan
(iii) Biaya pembuatan
atau pengadaan mesin
dan peralatan.

Produksi
1) Pengupasan
lapisan tanah

2) Pengambilan
bahan galian

a. Pengupasan lapisan tanah selama masa


produksi meliputi kegiatan
penggarukan/dorong, gali/muat, dan
pengangkutan tanah dari lokasi
penggalian ke lokasi penimbunan atau
lokasi lainnya

b. Pengambilan bahan galian dengan cara


yangs esuai dengan sifat dan
karakteristik bahan galian tambang yang
bersangkutan seperti: penggalian,
penyemprotan dengan air, penggunaan
alat-alat berat (buldozer dan shovel),
pengerukan dengan menggunakan kapal
keruk, dan peledakan

Biaya yang terjadi dalam


pengupasan lapisan
tanah antara lain:

Biaya pengupasan tanah,

Biaya penyediaan lahan


untk penimbunan tanah,
dan

Biaya penimbunan tanah


hasil pengupasan

Biaya-biaya yang terjadi


dalam pengambilan
bahan galian antara lain:

Biaya penggalian

Biaya penyemprotan,

Biaya pengerukan, atau


biaya peledakan, dan

3) Pencucian
bahan galian

kegiatan untuk membersihkan dan memisahkan


bahan galian dengan mineral atau bahan galian
ikutan lainnya seperti : tanah, abu, lempung,
pasir, belerang, lumpur, atau mineral pengotor
lainnya. Kegiatan pencucian dilakukan dengan
menggunakan air, bahan kimia (proses kimia),
alat pencuci 9misalnya polong atau jig), atau
saringan. Dalam kegiatan pencucian termasuk
pula proses penghancuran bahan galian yang
berukuran besar menjadi ukuran sesuai dengan
yang ditetapkan, sehingga layak dijual atau
diolah lebih lanjut

4) Pengangkutan Pengangkutan bahan galian dari lokasi


bahan galian
penambangan ke stasiun pengumpul dilakukan
dengan peralatan seperti: belt conveyor, lori
pengangkut, dump truck, tongkang atau kapal

Pengelolaan
Lingkungan
Hidup

Penimbunan bahan
galian

Biaya-biaya yang terjadi


dalam pencucian bahan
galian antara lain:

Biaya pembersihan dan


pemisahan bahan galian
utama dari bahan galian
ikutannya,

Biaya pembentukan
ukuran/besarnya bahan
galian sesuai dengan
yang ditetapkan
perusahaan

biaya yang tejadi untuk


mengangkut bahan galian
tambang umum dari lokasi
penambangan ke stasiun
pengumpul

Biaya-biaya pengeloalan
a. Penyusunan dokumen Analis Mengenai lingkungan hidup meliputi tetapi
tidak terbatas pada
Dampak lingkungan (AMDAL)
kegiatankegiatan tersebut di atas.
b. Upaya pencegahan pencemaran sungai Pada dasarnya biaya ini
oleh air hasil penirisan tambang, berupa merupakan biaya pengadaan
pembuatan kolam pengendap lumpur di prasarana PLH, biaya yang timbul
sekitar: lokasi penggalian, dumping area, atas usaha mengurangi dan
dan stockpile. Termasuk dalam kegiatan mengendalikan dampak negatif
ini adalah pengurasan lumpur dari kolam kegiatan pertambangan
pengendap.
c.

Pengaturan bentuk lahan (landscaping)


disesuaikan dengan kondisi topografi
dan hidrologi setempat. Kegiatan ini
meliputi: (i) Pengaturan bentuk lereng,
dimaksudkan untuk mengurangi
kecepatan air permukaan, erosi,
sedimentasi, dan longsor; (ii)
Pengaturan saluran pembuangan air,
dimaksudkan untuk mengatur air agar
tidak mengalir pad tempat tempat
tertentu, sehingga dapat mengurangi
kerusakan lahan akibat erosi.

d. Pengelolaan tanah pucuk (top soil), yaitu


kegiatan pengambilan dan penyimpanan

tanah pucuk dari lokasi tanah yang akan


ditambang dan ditimbun untuk
dimanfaatkan kembali pada kegiatan
reklamasi bekas daerah timbunan yang
telah selesai.
e. Revegetasi, yaitu penanaman kembali
pada lahan bekas tambang yang
vegetasi awalnya telah rusak atau
terganggu.
f.

Pengendalian erosi, yaitu kegiatan


berupa penanaman rumput, pembautan
teras, pemberian batu pecah,
pembuatan saluran pengelak, dan lainlain.

g. Pencegahan pencemaran akibat debu,


antara lain kegiatan berupa
penyemprotan air di lokasi jalan
produksi, loading station, stockpile, dan
tempat lainnya yang dapat menimbulkan
debu.
h. Pencegahan kelongsoran, yaitu kegiatan
berupa pemantapan lereng dengan
melandaikannya, pembuatan slope dan
tanggul pengaman (dike).
i.

Peneliti tanah dan tanaman untuk


mendapatkan cara dan teknik
penanaman yang baik dan cocok.

j.

Pemantauan kualitas yang dari kolamkolam pengendapan, saluran


pemukiman, dan sungai di sekitar loaksi
penambangan.

k.

Pemantauan kualitas udara di lokasi


kegiatan penambangan dan pemukiman
karyawan, serta penduduk sekitarnya.

l.

Pemantauan kualitas tanah di dumping


area

m. Pemantauan luas lokasi vegetasi yang


rusak dan yang vtelah
n. direvegetasi.Pemantauan keberhasilan
dari usaha pengendalian dan
pengelolaan lingkungan yang dilakukan.
o. Pemantauan laju erosi

Sumber: PSAK 33 (Revisi 1994) (IAI, 1994)

Selain perbedaan tahapan proses perizinan dan administrasi, di dalam Gambar I.2, tahapan
penjualan pada PSAK 33 (Revisi 1994) tidak tercakup di dalam tahapan kegiatan usaha
pertambangan. Ini berbeda dengan ketentuan di dalam UU No. 4/2009. Kegiatan usaha
pertambangan untuk menjual hasil pertambangan mineral atau batubara menurut UU No. 4/2009
termasuk dalam tahapan kegiatan pertambangan minerba.
Gambar I.2 Perbandingan Tahapan Kegiatan Pertambangan Menurut UU No. 4/2009 dan PSAK 33
(Revisi 1994)

Sumber: UU No. 4/2009 dan PSAK 33 (Revisi 1994)


- See more at: http://www.transformasi.net/articles/read/138/perbandingan-tahapan-kegiatan-usahapertambangan.html#sthash.cXeKN66Z.dpuf

I.4. Bentuk Usaha Pertambangan


Usaha pertambangan sesuai dengan Pasal 35 UU No. 4/2009 dilaksanakan dalam bentuk:
1. IUP atau Izin Usaha Pertambangan, yaitu izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.
2. IPR atau Izin Pertambangan Rakyat, yaitu izin untuk melaksanakan usaha pertambangan
dalam wilayah pertambangan rakyat (WPR) dengan luas wilayah dan investasi terbatas.
3. IUPK atau Izin Usaha Pertambangan Khusus.

Dengan diberlakukannya UU No. 4/2009, sesuai dengan ketentuan penutupnya, UU No.11/1967


dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Namun demikian, tidak semua ketentuan yang ada pada
UU No. 11/1967 tersebut dicabut dan langsung dinyatakan tidak berlaku lagi. Dalam ketentuan
peralihan Pasal 169 huruf a UU No. 4/2009 dinyatakan bahwa Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian
Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) masih berlaku sampai jangka waktu
berakhirnya kontrak/perjanjian. Hal ini dikarenakan KK dan PKP2B merupakan suatu kontrak yang
sah dan harus dihormati oleh pihak-pihak yang membuat. Dalam kaitan dengan kontrakkontrak
dimaksud biasa diterapkan adanya prinsip the sanctity of contract atau kesucian kontrak yang ada
sebelumnya harus dihormati tetap sah dan berlaku, meskipun hukum yg menjadi dasarnya sudah
berubah.
Lebih lanjut Pasal 112 PP 23/2010 menjelaskan ketentuan peralihan terkait dengan kontrak karya dan
PKP2B sebagai berikut:
1. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
ditandatangani sebelum diundangkan PP 23/2010 dinyatakan tetap berlaku sampai jangka
waktunya berakhir.
2. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang belum
memperoleh perpanjangan pertama dan/atau kedua dapat diperpanjang menjadi IUP
perpanjangan tanpa melalui lelang dan kegiatan usahanya dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan PP 23/2010, kecuali mengenai penerimaan negara yang lebih menguntungkan.
3. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah
melakukan tahap kegiatan operasi produksi wajib melaksanakan pengutamaan kepentingan
dalam negeri sesuai dengan ketentuan PP 23/2010.
See
more
at:
http://www.transformasi.net/articles/read/139/bentuk-usahapertambangan.html#sthash.tRXOvq9Z.dpuf

A. Izin Usaha Pertambangan (IUP)


Pasal 40 UU 4/2009 di antaranya menyebutkan bahwa IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral atau batubara. Pemegang IUP yang menemukan mineral lain di
dalam WIUP yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya. Pemegang IUP yang
bermaksud mengusahakan mineral lain tersebut wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Berikut adalah ringkasan
prosedur dan persyaratan memperoleh IUP, beserta Tabel I.5, Tabel I.6, dan Tabel I.7 yang
merangkumnya.
1. Prosedur Memperoleh IUP
Perihal
Pemohon

Penjelasan
a. badan usaha (swasta, BUMN, atau BUMD)
b. koperasi
c.

perseorangan (orang perseorangan, perusahaan firma, atau perusahaan


komanditer

Pemberi
izin

Pemberian
WIUP

Pemberian
IUP

Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai dengan kewenangan wilayahnya

WIUP adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP [Psl 1 angka 31 UU
No. 4/2009]

Pemberian WIUP terdiri atas


a) WIUP radioaktif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
b) WIUP mineral logam melalui lelang
c) WIUP batubara melalui lelang
d) WIUP mineral bukan logam melalui pengajuan permohonan wilayah
e) WIUP batuan melalui pengajuan permohonan wilayah

IUP terdiri dari


a. IUP Eksplorasi, yaitu izin usaha yang diberikan untuk melakukan
tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan
dan terdiri dari (1) mineral logam; (2) batubara; (3) mineral bukan logam;
dan/atau (4) batuan
b. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai
pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi
produksi, yaitu kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan, dan terdiri dari (1)
mineral logam; (2) batubara; (3) mineral bukan logam; dan/atau (4)
batuan

IUP tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUP [Psl 41
UU 4/2009]

Persyaratan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi meliputi persyaratan:


a. administratif;
b. teknis;
c.

lingkungan; dan

d. finansial

IUP diberikan oleh:


a. bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah
kabupaten/kota;
b. gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota
dalam 1 (satu) provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari
bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
c.

Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah


mendapatkan rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sumber: UU No. 4/2009 dan PP No. 23/2010


2. Persyaratan Memperoleh IUP
Persyaratan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi terdiri persyaratan administratif,teknis,
lingkungan, dan finansial. Ketentuan ini dinyatakan dalam Pasal 65 UU No. 4/2009 juncto Pasal 23
s.d. Pasal 27 PP 23/2010. Tabel I.6 dan Tabel I.7 dan uraian berikut memberikan gambaran semua
persyaratan tersebut.
a. Persyaratan Administratif
N
o

Persyaratan

1 surat permohonan;
susunan direksi/pengurus dan
2
daftar pemegang saham
3 Susunan pengurus
4 surat keterangan domisili
5 NPWP
6 KTP
akte pendirian yang bergerak di
7
bidang usaha pertambangan
8 Profil entitas

Badan Usaha
Koperasi
Perseorangan
Firama/CV
ML&B MNL& ML&B MNL& ML&B MNL& ML&B
MNL&B
B
B
B
B
B
B
B
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
-

X
X
-

X
X
-

X
X
X
-

X
-

X
X
X

X
-

X
X
-

Sumber: PP 23/2010 (ML&BB = Mineral Logam dan Batubara; MNL&B = Mineral Non Logam dan
Batuan)
b. Persyaratan Teknis dan Lingkungan
IUP
IUP
Eksplorasi

Syarat
Teknis

Deskripsi
1. daftar riwayat hidup dan surat pernyataan tenaga ahli
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling
sedikit 3 (tiga) tahun;

2. peta WIUP yang dilengkapi dengan batas koordinat geografis


lintang dan bujur sesuai dengan ketentuan sistem informasi
geografi yang berlaku secara nasional

IUP Operasi
Produksi

Lingkunga pernyataan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di


n
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
Teknis
1. peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang
dan bujur sesuai dengan ketentuan sistem informasi geografi yang
berlaku secara nasional;
2. laporan lengkap eksplorasi;
3. laporan studi kelayakan;
4. rencana reklamasi dan pascatambang;
5. rencana kerja dan anggaran biaya;
6. rencana pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan
operasi produksi;dan
7. tersedianya tenaga ahli pertambangan dan/atau geologi yang
berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun
Lingkunga
n

1. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan


perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup; dan
2. persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan

Sumber: PP 23/2010
c. Persyaratan Finansial
1. Laporan keuangan tahun terakhir yang sudah diaudit akuntan publik.
2. Menempatkan jaminan kesungguhan lelang dalam bentuk uang tunai di bank pemerintah
sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai kompensasi data informasi atau dari total biaya
pengganti investasi untuk lelang WIUP yang telah berakhir.
3. Pernyataan bersedia membayar nilai lelang WIUP dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima)
hari kerja, setelah pengumuman pemenang lelang
See
more
at:
http://www.transformasi.net/articles/read/140/izin-usahapertambangan.html#sthash.Jd6Q8RYz.dpuf

B. Izin Pertambangan Rakyat (IPR)

Pasal 66 UU 4/2009 menyebutkan bahwa kegiatan pertambangan rakyat mencakup:


1. pertambangan mineral logam;
2. pertambangan mineral bukan logam;
3. pertambangan batuan; dan/atau
4. pertambangan batubara
Berikut adalah uraian terkait dengan prosedur dan persyaratan untuk memperoleh IPR dan Tabel I.8
dan Tabel I.9 merangkumnya.
1. Prosedur Memperoleh IPR
Perihal
Pemohon

Penjelasan
a. penduduk setempat, baik orang perseorangan maupun kelompok masyarakat
b. koperasi

Pemberi izin

Pemberian
WPR

Pemberian
IPR

bupati/walikota

WPR adalah bagian dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan


rakyat

Setiap usaha pertambangan rakyat pada WPR dapat dilaksanakan apabila


telah mendapatkan IPR

Untuk mendapatkan IPR, pemohon harus memenuhi:


a. persyaratan administratif;
b. persyaratan teknis; dan
c.

persyaratan finansial

IPR diberikan setelah WPR ditetapkan oleh bupati/walikota

Sumber: UU 4/2009 dan PP 23/2010


2. Persyaratan Memperoleh IPR
N
o
A
1
2
3
4
5
6
B.
1.
2.
3.
C.

Orang
perseorangan

Persyaratan
Administratif
Surat permohonan
KTP
Komoditas tambang yang dimohon
Surat keterangan dari kelurahn/desa setempat
NPWP
akte pendirian koperasi yang telah disahkan oleh pejabat
yang berwenang
Teknis (surat pernyataan yang berisi informasi di bawah
ini)
sumuran pada IPR paling dalam 25 meter
menggunakan pompa mekanik, penggelundungan atau
permesinan dengan jumlah tenaga maksimal 25 horse
power untuk 1 (satu) IPR
tidak menggunakan alat berat dan bahan peledak
Finansial (laporan keuangan 1 (satu) tahun terakhir)

Kelompok
Koperasi
Masyarakat

X
X
X
X
-

X
X
X
-

X
X
X
X

X
-

X
-

X
X

Sumber: UU 4/2009 dan PP 23/2010


See
more
at:
http://www.transformasi.net/articles/read/141/izin-pertambanganrakyat.html#sthash.Fcg6QCST.dpuf

C. Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK)


Pasal 74 UU 4/2009 di antaranya menjelaskan bahwa IUPK diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral
logam atau batubara dalam 1 (satu) WIUPK. Pemegang IUPK yang menemukan mineral lain di dalam
WIUPK yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya. Pemegang IUPK yang bermaksud
mengusahakan mineral lain tersebut wajib mengajukan permohonan IUPK baru kepada Menteri.
IUPK tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUPK (Pasal 80 UU 4/2009).
Dalam hal pada lokasi WIUPK ditemukan komoditas tambang lainnya yang bukan asosiasi mineral
yang diberikan dalam IUPK, pemegang IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi memperoleh
keutamaan dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya yang ditemukan. Dalam
mengusahakan komoditas tambang lainnya tersebut harus membentuk badan usaha baru. Hal seperti
ini di antaranya diatur di dalam Pasal 71 PP 23/2010.
1. Prosedur Memperoleh IUPK
Perihal
Pemohon

Penjelasan
a. BUMN
BUMD
badan usaha swasta

Pemberi izin Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan mineral

dan batubara
Pemberian
WIUPK

WIUPK adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK, sedangkan


WUPK atau adalah bagian dari WPN yang dapat diusahakan

Pemberian WIUPK terdiri atas WIUPK mineral logam dan/atau batubara

Pemohon hanya dapat diberikan 1 (satu) WIUPK, kecuali pemohon merupakan


badan usaha yang telah terbuka dapat diberikan lebih dari 1 (satu) WIUPK.

Proses pemberian WIUPK


a. Menteri dalam memberikan WIUPK harus terlebih dahulu menawarkan
kepada BUMN atau BUMD dengan cara prioritas.
b. Dalam hal peminat hanya ada 1 (satu) BUMN atau BUMD, WIUPK
diberikan kepada BUMN atau BUMD dengan membayar biaya
kompensasi data informasi
c.

Dalam hal peminat lebih dari 1 (satu) BUMN / BUMD, WIUPK diberikan
dengan cara lelang.

d. Dalam hal tidak ada BUMN atau BUMD yang berminat, WIUPK
ditawarkan kepada badan usaha swasta yang bergerak dalam bidang
pertambangan mineral atau batubara dengan cara lelang
Pemberian
IUPK

IUPK adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin


usaha pertambangan khusus (WIUPK), yang terdiri dari
a) IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan
kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di WIUPK.
b) IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai
pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi
produksi di WIUPK

IUPK diberikan oleh Menteri kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta
setelah mendapatkan WIUPK

Persyaratan IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi meliputi persyaratan:


a) administratif;
b) teknis;
c) lingkungan; dan
d) finansial

Sumber: UU 4/2009 dan PP 23/2010


2. Persyaratan Memperoleh IUPK
a. Persyaratan Administratif
Tabel I.11 memberikan deskripsi komparatif tentang persyaratan administratif untuk IUPK Eksplorasi
dan IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara berdasarkan prioritas dan melalui
pemenang lelang.

Tabel I.11 Persyaratan Administratif IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam atau
batubara
N
Persyaratan
o
1. Surat permohonan
2. Profil badan usaha
Akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha pertambangan yang
3.
telah disahkan oleh pejabat yang berwenang
4. NPWP
5. susunan direksi dan daftar pemegang saham
6. surat keterangan domisili

Priorita
Lelang
s
X
X
X
-X

--

X
X
X

-X
X

b. Persyaratan Teknis
1) Pengalaman di bidang pertambangan mineral atau batubara paling sedikit 3 (tiga) tahun, atau bagi
perusahaan baru harus mendapat dukungan dari perusahaan induk, mitra kerja, atau afiliasinya
yang bergerak di bidang pertambangan.
2) Mempunyai paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli dalam bidang pertambangan dan/atau geologi
yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun.
3) Rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 (satu) tahun eksplorasi
c. Persyaratan Lingkungan dan Finansial
Tabel I.12 menguraikan persyaratan lingkungan dan finansial IUP Eksplorasi dan IUP Operasi
Produksi. Uraian tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 23/2010.
Tabel I.12 Persyaratan Lingkungan dan Finansial IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
IUP

Syarat
Deskripsi
IUPK
Lingkunga pernyataan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di
Eksplorasi
n
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
Finansial a) bukti penempatan jaminan kesungguhan pelaksanaan kegiatan
eksplorasi; dan
b) bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi atau sesuai
dengan surat penawaran
IUPK Operasi Lingkunga a) pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan
Produksi
n
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup; dan
b) persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai ketentuan peraturan
perundangundangan
Finansial a) laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik; dan
b) bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir
Sumber: PP No. 23/2010
See
more
at:
http://www.transformasi.net/articles/read/142/izin-usaha-pertambangankhusus.html#sthash.NEXDn5R4.dpuf

D. Kontrak Karya

Pasal 169 UU 4/2009 di antaranya menjelaskan bahwa pada saat UU 4/2009 mulai berlaku, yaitu 12
Januari 2009, kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B)
yang telah ada sebelum berlakunya UU 4/2009 tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya
kontrak/perjanjian. Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan PKP2B disesuaikan
selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak UU 4/2009 diundangkan kecuali mengenai penerimaan
negara.
1. Dasar Pengaturan Kontrak Karya
Untuk kontrak karya, asal mula kata ini berawal dari Pasal 10 UU 11/1967, khususnya penjelasannya,
yang menyebutkan sbb.:
(1) Menteri dapat menunjukan pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau
Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa ertambangan. (2) Dalam
mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini
Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara harus berpegang pada pedoman-pedoman, petunjukpetunjuk, dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri. (3) Perjanjian karya tersebut dalam ayat (2)
pasal ini mulai berlaku sesudah disahkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan
Perwakilan Rakyat apabila menyangkut eksploitasi golongan a sepanjang mengenai bahan-bahan
galian yang ditentukan dalam pasal 13 Undang-undang ini dan/atau yang perjanjian karyanya
berbentuk penanaman modal asing.
Di dalam penjelasannya disebutkan bahwa Pasal 10 UU 11/1967 tersebut menjadi dasar untuk
kontrak karya baik dengan pihak modal dalam Negeri maupun dengan modal Asing. Konsultasi
termaksud dilakukan dengan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat c.q. Komisi yang bersangkutan.
Penentuan penempatan Kontrak Karya dan pelaksanaannya diatur dengan cara yang paling
menguntungkan bagi Negara dan masyarakat. Sementara itu, secara definitif pengertian kontrak
karya terlihat pada Tabel I.13.
Tabel I.13 Perbandingan Definisi Kontrak Karya
Definisi

1)

Referensi
kontrak karya adalah suatu perjanjian antara pemerintah RI Pasal 1 Keputusan Menteri
dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara asing Pertambangan dan Energi No.
1409.K/201/M.PE/1996

dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk pengusahaan


mineral dengan berpedoman kepada UU 1/1967 tentang
Penanaman Modal Asing serta UU 11/1967 tentang
Ketentuan Pokok-pokok Pertambangan Umum
Pasal 1 angka 1 Keputusan
2) kontrak karya adalah perjanjian antara pemerintah
Indonesia dengan perusahaan berbadan hukum Indonesia Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral No. 1614 tahun
dalam rangka penanaman modal asing untuk melaksanakan 2004
usaha pertambangan bahan galian, tidak termasuk minyak
bumi,gas alam, panas bumi, radio aktif, dan batu bara.

Sumber: Salim (2005) dalam Hukum Pertambangan di Indonesia, hal. 127-131, PT RajaGrafindo
Persada
Selain UU No. 11/1967, landasan hukum kontrak karya meliputi:
a) UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing jo. UU No. 11/1970 tentang perubahan dan
tambahan UU No. 1/1967
b) UU No. 6/1968 tentang penanaman modal dalam negeri jo. UU No. 12/1970 tentang perubahan
dan tambahan UU No. 6/1968

2. Sejarah Ringkas Model Kontrak Karya


Salim dalam bukunya Hukum Pertambangan di Indonesia (hal. 134, 2005) menjelaskan bahwa
model awal kontrak karya bukanlah konsep yang dirancang pemerintah Indonesia, melainkan hasil
rancangan PT Freeport Indonesia. Awalnya Menteri Pertambangan Indonesia menawarkan kepada
Freeport konsep bagi hasil berdasarkan petunjuk pelaksanaan kontrak perminyakan asing yang
disiapkan pada waktu pemerintahan Soekarno. Freeport menyatakan bahwa kontrak seperti itu hanya
menarik untuk perminyakan yang dapat menghasilkan dengan cepat, tetapi tidak untuk pertambangan
tembaga yang memerlukan investasi besar dan waktu lama untuk sampai pada tahap produksi.
Secara singkat, kontrak karya mengambil jalan tengah antara model konsesi pada zaman kolonial
Belanda, yang di dalamnya kontraktor asing mendapatkan hak penuh terhadap mineral dan tanah,
dengan model kontrak bagi hasil, yang di dalamnya negara tuan rumah langsung mendapatkan hak
atas peralatan dan prasarana dan dalam waktu singka seluruh operasi menjadi milik negara.
Sejak tahun 1967, kontrak karya yang dikenal pengusaha sebagai contrack of work mengalami
perubahan. Setiap perubahan dijadikan sebagai dasar sebutan bagi generasi kontrak. Karena itu,
sampai saat ini dikenal kontrak karya generasi I hingga generasi VII, padahal tidak ada perbedaan
mendasar antara generasi I dengan yang lainnya, kecuali kewajiban keuangan yang harus dipenuhi
pada pemerintah.
Bentuk usaha pertambangan mineral dan batubara menurut UU No. 4/2009, sebagaimana diuraikan
sebelumnya, berupa IUP, IPR, dan IUPK. Namun demikian, pada saat UU No. 4/2009 berlaku, masih
ada bentuk usaha pertambangan yang mengacu pada UU No. 11/1967. Dalam ketentuan peralihan
Pasal 169 huruf a UU No. 4/2009 dinyatakan bahwa Kontrak Karya (KK) dan Perjanjian Karya
Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) masih berlaku sampai jangka waktu berakhirnya
kontrak/perjanjian. Lebih lanjut, Pasal 112 PP 23/2010 menjelaskan ketentuan peralihan terkait
dengan kontrak karya dan PKP2B. Ketentuan tersebut di antaranya menegaskan kembali bahwa
kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang ditandatangani
sebelum iundangkan PP 23/2010 pada tanggal dinyatakan tetap berlaku sampai jangka waktunya
berakhir.
Perkembangan kontrak karya terlihat pada Tabel I.14. Sampai saat ini ada delapan generasi kontrak
karya. Menurut Salim (2005: 134) setiap perubahan dalam isi kontrak dijadikan sebagai dasar
sebutan generasi kontrak, padahal tidak ada perbedaan mendasar antara generasi I dan lainnya,
kecuali kewajiban keuangan yang harus dipenuhi pemerintah.
Tabel I.14 Generasi Kontrak Karya
Generasi
Periode
KK

Prinsip-prinsip utama dalam KK

erusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas


dasar izin pemerintah

pembagian hasil dalam bentuk uang dalam jumlah bebas (tidak


ditentukan besarnya) untuk tahun ke-1 sampai dengan ke-3, dengan
ketentuan bahwa penghasilan pemerintah untuk tahun ke-4 sampai
dengan ke-10 sebesar 35%..

Manajemen maupun operasional dalam melakukan eksplorasi itu berada


di tangan kontraktor.

jangka waktu kontrak selama 30 tahun dan dapat diperpanjang

kontraktor pertambangan dapat bekerja sama dengan pihak lain yang

Generasi
1967
I

Generasi 1968II
1983

telah memegang kuasa pertambangan.

pembagian hasil ditentukan berdasarkan tarif yang ditetapkan pada setiap


kontrak karya

Manajemen maupun operasional dalam melakukan eksplorasi itu berada


di tangan kontraktor.

jangka waktu kontrak selama 30 tahun [sama dengan Generasi I]

Perusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas


dasar izin pemerintah

manajemen dan operasional kontrak karya ditanggung oleh kontraktor


[sama dengan Generasi I]

bagi hasil mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 352 Tahun 1971

Jangka waktu pengusahaan tambang selama 30 tahun [sama dengan


Generasi I]

Perusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas


dasar izin pemerintah [sama dengan generasi II].

Masalah operasional dan manajemen berada di tangan kontraktor [sama


dengan generasi II]

Pembagian hasil

1) emas: 1% dari harga jika harga emas sebesar USD 300 dolar per troy
ons dan 2% dari harga jika harga emas mencapai USD 400 per troy ons.
2) perak: 1% jika harga USD 10 per troy ons dan 2% per troy ons jika
harga USD 15 per troy ons

Jangka waktu kontrak sama dengan generasi I

Perusahaan kontraktor sebagai pemegang kuasa pertambangan atas


dasar izin pemerintah [sama dengan generasi II]

Manajemen dan operasional ada di tangan kontraktor [sama dengan


generasi II]

Terdapat aturan tambahan soal rasio kewajaran utang yang dimiliki


kontraktor. Ratio kewajaran utang (Debt to Equity Ratio atau DER) 5:1
untuk tidak kurang atau sama dengan $200 juta investasi dan 8 1 untuk
lebih dari $200 juta

Pembagian hasil mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 1166.K/ 844/

Generasi 1983III
1986

Generasi 1986IV
1994

Generasi 1994V
1996

MPE/1992 tanggal 12 September 1992

Generasi 1996VI
1998

Generasi 1998VII
2004

Generasi 2004VIII
2008

Jangka waktu kontrak masih 30 tahun [sama dengan generasi I]

Tidak ada perubahan perizinan, manajemen, maupun operasional


perusahaan yang mendapat kontrak karya.

Pembagian hasil masih sama dengan generasi V

Jangka waktu kontrak 30 tahun [sama dengan generasi I]

tidak ada perubahan dari kontrak karya generasi sebelumnya

Perusahaan negara sebagai pemegang kuasa pertambangan sedangkan


perusahaan swasta bertindak sebagai kontraktor.

Manajemen di tangan kontraktor dan resiko operasional di tanggung oleh


kontraktor.

Pembagian hasil dalam bentuk uang atas dasar perbandingan


pemerintah perusahaan negara : kontraktor = 60% : 40% dengan
ketentuan bahwa penghasil pemerintah tiap tahun tidak boleh kurang dari
20% hasil kotor.

Jangka waktu kontrak 30 (tigapuluh) tahun untuk daerah baru dan 20


tahununtuk daerah lama.

Penyisihan wilayah dilakukan 2 (dua) atau 3 (tiga) setelah jangka waktu


tertentu

Sumber: Salim (2005: 134-135); Patty (2008: .), Palupi (2011)


- See more at: http://www.transformasi.net/articles/read/143/kontrak-karya.html#sthash.BqEXbilx.dpuf

E. Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B)


1. Pengertian PKP2B
Berdasarkan Pasal 169 UU 4/2009, sebagaimana telah dijelaskan pada butir D di atas, jenis kontrak
lainnya yang masih berlaku setelah UU 11/2009 adalah PKP2B. Istilah perjanjian karya ini ditemukan
dalam Pasal 10 ayat (2) dan (3) UU 11/1967 (lihat kutipan pada butir D angka 1 tentang Dasar
Pengaturan Kontrak). Pengertian PKP2B ini terlihat pada Tabel I.15.
Tabel I.15 Perbandingan Definisi PKP2B

Definisi

Referensi
Pasal 1 Keppres 49/1981

1) Perjanjian kerja sama adalah perjanjian antara perusahaan


negara tambang batubara sebagai pemegang kuasa
pertambangan dan pihak swasta sebagai kontraktor untuk
pengusahaan tambang batu bara untuk jangka waktu 30
tahun berdasarkan ketentuanketentuan tersebut dalam
Keppres ini
2) Perjanjian karya adalah perjanjian antara pemerintah dan Pasal 1 Keppres 75/1996
perusahaan kontraktor swasta untuk melaksanakan
pengusahaan pertambangan bahan galian batu bara.
Pasal 1 Kep. Menteri
3) PKP2B adalah suatu perjanjian antara pemerintah RI
Pertambangan dan Energi
dengan perusahaan swasta asing atau patungan antara
No.1409.K/201/M.PE/1996
asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk
pengusahaanbatu bara dengan berpedoman kepada UU No.
1/1967 tentang PMA serta UU No.11/1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan Umum.
Sumber: Salim (2005) dalam Hukum Pertambangan di Indonesia, hal. 225-227, PT RajaGrafindo
Persada
2. Karakteristik dan Prinsip-prinsip PKP2B
Salim (2005) mengutip Abrar Saleng (2004: 162-163) bahwa PKP2B merupakan perjanjian pola
campuran antara pola kontrak karya dengan kontrak production sharing. Dikatakan campuran atau
gabungan karena untuk ketentuan perpajakannya mengikuti pola kontrak karya, sedangkan
pembagian hasil produksinya mengikuti pola kontrak production sharing. Sementara itu, prinsipprinsip
PKP2B adalah:
a) perusahaan kontraktor swasta bertanggung jawab atas pengelolaan pengusahaan pertambangan
batu bara yang dilaksanakan berdasarkan perjanjian;
b) perusahaan kontraktor swasta menanggung semua risiko dan semua biaya berdasarkan
perjanjian dalam melaksanakan perusahaan pertambangan batu bara.
- See more at: http://www.transformasi.net/articles/read/144/perjanjian-karya-pengusahaanpertambangan-batubara.html#sthash.tuilolLY.dpuf

F. Kuasa Pertambangan (KP)


Istilah Kuasa Pertambangan atau KP tidak diatur lagi di dalam UU 4/2009. Istilah KP ini tertuang di
dalam Pasal 2 huruf I UU 11/1967 yang menyebutkan bahwa kuasa pertambangan adalah wewenang
yang diberikan kepada badan/perseorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. Di dalam
Ketentuan Peralihan UU 4/2009 hanya diatur tentang Kontrak Karya dan PKP2B. Pengaturan KP
tertuang di dalam Pasal 10 ayat (1) UU 11/1967 yang menyebutkan bahwa Menteri dapat menunjuk
pihak lain sebagai kontraktor apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang
belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Instansi Pemerintah atau Perusahaan Negara yang
bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan.
Melalui penerbitan PP 23/2010, di dalam Pasal 112 tentang Ketentuan Peralihan,permasalahan
payung hukum KP menjadi terselesaikan. Di dalam ketentuan tersebut di antaranya diatur bahwa
kuasa pertambangan, surat izin pertambangan daerah, dan surat izin pertambangan rakyat, yang
diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum ditetapkannya PP 23/2010
tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhir serta wajib:

1. disesuaikan menjadi IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan PP 23/2010 dalam jangka waktu
paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya PP 23/2010 dan khusus BUMN dan BUMD,
untuk IUP Operasi Produksi merupakan IUP Operasi Produksi pertama;
2. menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kuasa pertambangan sampai dengan
jangka waktu berakhirnya kuasa pertambangan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
3. melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dalam jangka waktu paling lambat 5
(lima) tahun sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara.
See
more
at:
pertambangan.html#sthash.1jlMmDsq.dpuf

http://www.transformasi.net/articles/read/145/kuasa-