Anda di halaman 1dari 5

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Miraj Islamic

News Agency (MINA)


Ranah pendidikan senantiasa menjadi isu menarik dan penting
untuk terus dibicarakan sepanjang pendidikan itu masih
berlangsung. Lahirnya kader guru, dai, pejabat,
ekonom, fisikawan, antariksawan, bankir, eksportir, pakar
IT, sampai pejabat tinggi tidak lepas dari kawah pendidikan
yang pernah diperolehnya.
Namun anehnya, fakta membuktikan, jumlah pelanggar
kejahatan mulai dari kelas teri sampai kerah putih tidak juga
kunjung menurun. Bahkan cenderung meningkat, seiring
dengan tingkat kependidikan yang diperolehnya.
Fakta lemahnya akhlak anak-anak usia sekolah, kecintaan
mereka yang kurang terhadap nuansa ibadah, hingga lepasnya
komunikasi islami dengan kedua orang tuanya, merupakan
indikasi lemahnya ruh atau jiwa pendidikan itu sendiri. Ini
berarti ada sesuatu yang harus dibenahi dalam
dunia pendidikan. Yakni masih belum tertanamnya
pemantapan kejiwaan dalam diri anak didik.
Mendidik dengan Jiwa
Islam menghendaki program pendidikan yang menyeluruh,
baik menyangkut aspek duniawi maupun ukhrawi, rohani,
intelektual dan jasmani. Aplikasinya, memang memerlukan tiga
unsur utama, yaitu guru yang ikhlas serta memiliki kompetensi
keilmuwan dan keguruan, program pendidikan yang tepat

sasaran, dan tentu saja lingkungan yang kondusif bagi para


peserta didik dalam mengaplikasikan apa-apa yang
dipelajarinya.
Guru yang ikhlas bukan berarti tidak perlu gaji memadai, tetapi
yang lebih penting adalah tingkat kesadaran untuk apa ia
mengajar. Dalam tataran akidah seorang muslim, mengajar
berarti manifestasi ibadah atas amanah Allah Taala atas ilmu
yang dimilikinya. Karena itu, seorang guru betul-betul
berkeinginan agar murid-muridnya tumbuh menjadi manusiamanusia yang tunduk dan taat kepada Allah yang telah
menciptakan.
Menjadi guru merupakan panggilan jiwa, yang dengannya ia
tergerak dan bergerak untuk mengajar tanpa mengharap
seberapa besar ia mendapat imbalan. Walaupun ia
mendapatkan gaji atau honor (bisyarah) dari mengajarnya,
namun itu bukanlah tujuan.
Karena mendidik adalah panggilan jiwa, maka ia menjadikan
profesinya itu sebagai media dakwah menanamkan nilai-nilai
di dalam jiwa anak didiknya. Ia pun akan mengajar dengan
jiwanya, bukan hanya fisik dan otaknya saja. Ia senang melihat
anak didiknya berkembang keilmuannya, dan ia semakin
bahagia melihat perkembangan akhlak murid-muridnya.
Walaupun mungkin ia bukan guru akidah akhlak misalnya.
Ia ingin memberikan pengajaran dan ingin mensucikan jiwajiwa muda generasi mendatang. Sesuai dengan firman-Nya,
Sesungguhnya Allah telah berbuat kebaikan atas orang-orang

yang beriman ketika Ia mengutus bagi mereka seorang Rasul


yang membacakan bagi mereka Al-Kitab, mensucikan mereka,
mengajarkan Al-Kitab dan hikmah. (QS Ali Imran [3] : 164).
Karena itu, format utama pendidikan dalam Islam adalah
pengajaran pensucian jiwa (tazkiyatun nafs). Baru kemudian
pengajaran Al-Kitab dan hikmah. Dengan format tazkiyatun
nafs, pendidik mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan
yang utama. seperti tumbuhnya sifat-sifat dekat pada Allah,
menjalani hidup dengan aturan-Nya, kuat mental menghadapi
kehidupan, berjiwa sosial serta mampu memahami
fenomena alam.
Patut direnungkan apa yang dikemukakan pakar
pendidikan Dr. Ali Abdul Halim, yang menyebutkan seorang
pendidik handal seyogyanya menyadari dalam mendidik para
peserta didik, ia berurusan dengan fitrah manusia secara
keseluruhan.
Ia tidak hanya mendidik aspek intelektual, tapi juga aspek fisik,
emosional, hingga spiritual. Karena pendidikan pada dasarnya
adalah proses menyiapkan manusia shalih yang seimbang
dalam potensi, tujuan, ucapan dan tindakan. Sebuah proses
memanusiakan manusia pada fithrahnya sebagai manusia
hamba Allah (hablum minallah) dan manusia
bersosial (hablum minann naas).
Untuk menguatkan format di atas, orang tua memegang peran
pertama dan utama atas pendidikan bagi anak-anaknya. Orang
tua tidak hanya berkewajiban menyekolahkan anaknya ke

sebuah lembaga pendidikan Islami. Tapi juga diamanati Allah


untuk menjadikan anak-anaknya bertakwa serta beribadah
sesuai dengan ketentuan yang diatur-Nya.
Memang realitanya opini masyarakat masih menganggap
lembaga pendidikan berlabel Islami belum kompetitif dalam
kualitas dibandingkan sekolah pada umumnya. Nanti kalau
tingkat kebandelan anak sudah melewati ambang batas,
barulah dimasukkan ke dalam bengkel pesantren. Bila para
orang tua muslim berpikiran sama, sekolah berlabel Islami
seolah-olah hanya akan menjadi tempat berkumpulnya anakanak nakal.
Dialog
Setiap pengelolaan pendidikan perlu mengupayakan
terwujudnya iklim keterbukaan dan dialogis dalam
pembelajaran. Sebab anak didik bukanlah robot-robot mati
yang hanya bisa berjalan dengan remote control orang lain.
Anak didik juga bukan wonderwomen yang terdiri dari besi
dan baja. Namun, ia manusia biasa yang bisa rapuh dan
hancur.
Ketertutupan hanyalah berpotensi menghilangkan daya nalar
dan budaya berargumentasi secara logis. Malah akan
menyuburkan penyakit taqlid atau asal ikut tanpa pemahaman.
Menjadi keniscayaan kalau seorang pendidik perlu memiliki
daya pengaruh (quwwatu at-tatsiir) yang membekas. Sebab ia
tidak saja dituntut mendidik melalui lisan, tapi juga
keteladanan. Ia dituntut selalu sadar bahwa setiap gerak-gerik

dan penampilan dirinya bernuansa paedagogis. Banyak


kegagalan pendidikan terjadi karena sebagian pendidik yang
tidak sungguh-sungguh menjadi teladan kebaikan (uswah wa
qudwah) spirit of power bagi anak didiknya
Jangan sampai mengajar itu bermotif materi, sertifikasi, karier,
sampingan, dan motif lain yang jauh dari panggilan jiwa
seorang guru. Jangan sampai pula guru mudah sekali
meninggalkan jam mengajar tanpa dosa, membiarkan akhlak
anak-anak tanpa sentuhan perbaikan, dan minim komunikasi
keseharian.
Insya Allah, masih banyak pendidik yang memiliki idealisme
untuk terus mendidik anak sesuai fitrahnya, mendidik dengan
jiwanya, sepenuh hati. Karena itu sudah merupakan panggilan
jiwa seorang guru. Wallahu alam bish shawab. (P4/R05).