Anda di halaman 1dari 2

GURU SEBAGAI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA.

MASIH
RELEVANKAH?
GURU SEBAGAI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. MASIH RELEVANKAH?
(artikel dibuat untuk lomba mading internal Racana UIN MALIKI Malang)
Oleh: Sulfa Sholikha
Ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini sudah sangat biasa
didengungkan sejak dulu. Guru selama ini adalah figur yang dianggap sebagai pencetak
orang-orang hebat. Seorang profesor jenius, seorang musisi hebat, seorang presiden dianggap
lahir oleh karena jasa guru. Sebab guru adalah seseorang yang mendidik orang-orang hebat
tersebut menjadi sukses.
Apresiasi terhadap peran guru masih sangat rendah pada zaman dahulu. Profil guru
melulu dikenal sebagai sosok yang serba sederhana. Pakaian sederhana, rumah sederhana,
makan sederhana, semuanya serba sederhana. Hal tersebut terdapat hubungan dengan
masalah gaji guru pada saat itu yang dikatakan sangat rendah.
Apresiasi terhadap peran guru dikaitkan dengan gaji memang cukup relevan. Sebab
pada saat itu, tugas guru tidaklah mudah seperti saat ini. namun gaji guru sangat kecil
dibanding dengan gaji profesi-profesi lain.
Pada zaman sekarang, kesejahteraan guru sudah mulai diperhatikan. Hal ini ditandai
dengan adanya pengakuan profesi guru. Gaji guru bahkan disinyalir akan dinaikan sebagai
salah satu upaya peningkatan kesejahteraannya. Jika pada zaman dahulu guru dengan gaji
rendah disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa, guru ikhlas mengajar meskipun gaji yang
diterima belum cukup dalam memenuhi kebutuhannya, maka bagaimana dengan profil guru
jaman sekarang yang diketahui memiliki gaji tinggi? Apakah dia masih disebut dengan
pahlawan tanpa tanda jasa?.
Peningkatan kesejahteraan guru oleh pemerintah sebenarnya dilakukan dengan
harapan agar profesionalitas guru meningkat. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa jika
guru sejahtera, maka profesionalitasnya akan meningkat. Dugaan ini masuk akal, sebab
teknologi pendidikan kini semakin canggih, pengembangan terhadap pendidikan itu sendiri
juga dikembangkan untuk mencapai kesempurnaan pendidikan. Jika pengembangan
pendidikan tersebut tidak didukung dengan kompetensi guru yang memadai, maka
pendidikan akan tertinggal dan semakin kurang mampu menciptakan generasi yang
berkualitas.
Relevansinya adalah, jika guru bergaji rendah. Dan gaji tersebut hanya cukup untuk
mencukupi kebutuhan hidupnya, maka bagaimana cara seorang guru untuk meningkatkan
profesionalitasnya? Sedangkan untuk meningkatkan profesionalitasnya guru juga butuh
belajar. Dan untuk belajar, guru butuh sejumlah biaya. Contoh kecil, untuk meningkatkan
pengetahuan yang relevan dan up to date, guru butuh membeli banyak buku, akrab dengan
internet, mengikuti seminar-seminar dan lokakarya. Sedangkan untuk menjaga kesehatan agar

tampil prima, guru perlu menjaga pola hidup sehat dengan gizi makanan seimbang dll. Untuk
melakukan semua itu, tentu membutuhkan sejumlah biaya yang harus dikeluarkan. Dari
wacana tersebut, jelaslah bahwa peningkatan gaji guru memang sebenarnya dilakukan untuk
meningkatkan profesionalitasnya.
Setelah kita mengetahui bahwa peningkatan gaji guru bertujuan demikian, maka
masih relevankah sandang pahlawan tanpa tanda jasa ini diberikan kepada guru? Jika
berdasarkan wacana di atas, bahwa peningkatan gaji guru sebagai upaya peningkatan
profesionalitasnya, maka sandang tersebut tentu masih relevan. Tapi bagaimana menurut
anda????????.... ^_^