Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit gigi dan mulut adalah penyakit yang dapat menggangggu
aktivitas dan efektivitas seseorang dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari
terutama bila menimbulkan nyeri. Masalah kesehatan gigi di Indonesia saat ini
dapat menyulitkan Indonesia untuk mencapai 20% penduduk dengan gigi
berfungsi baik.
Salah satu penyakit yang sering terjadi adalah penyakit pulpa. Pulpa
adalah bagian dari gigi paling dalam, yang mengandung saraf dan pembuluh
darah. Penyakit pulpa karenya infeksi mikroorganisme disebut pulpitis. Pulpitis
merupakan penyakit lanjut karena didahuli oleh terjadinya karies, hyperemia
pulpa baru setelah itu menjadi pulpitis, yaitu ketika radang sudah mengenai
kavum pulpa.
Pulpitits hiperplastik atau pulpa polip adalah suatu inflamasi pulpa
produktis yang disebabkan oleh karies yang luas pada pulpa. Gangguan ini
ditandai dengan adanya jaringan granulasi, kadang-kadang ditutupi oleh
epithelium yang disebabkan karena iritasi.
Selain pulpitis karies gigi juga bisa mengakibatkan terjadinya gangren
pulpa. Gangren pulpa adalah keadaan gigi dimana jaringan pulpa sudah mati,
sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga
jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagaian
besar pulpa.

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
Nama

: Ny.F

Alamat

: Blitar

Umur

: 27 tahun

Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Wiraswasta

Status

: Menikah

Tanggal periksa

: 9 April 2015

II.

RIWAYAT KASUS

Keluhan Utama : Gigi rahang bawah kiri berlubang

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke poli klinik Gigi dan Mulut
RSUD Mardi Waluyo Blitar dengan keluhan gigi rahang bawah kiri
berlubang, berwarna hitam tapi tidak terasa sakit. Pasien menginginkan
giginya di cabut, karena sering berdarah jika terkena saat sikat gigi. Gigi
tersebut terasa sakit terakhir 3 bulan yang lalu. Pasien rutin menyikat
gigi 2 kali sehari (pagi dan sore) saat mandi.

Riwayat perawatan
a. Gigi : Pernah menambalkan gigi rahang bawah kanan dan kiri sekitar
1 tahun yang lalu.
b. Jaringan lunak rongga mulut dan sekitarnya : Belum pernah
melakukan perawatan rongga mulut sebelumnya.

Riwayat kesehatan

Kelainan darah

: (-)

Kelainan endokrin

: (-)

Gangguan nutrisi

: (-)

Kelainan jantung

: (-)

Kelainan kulit/ kelamin

: (-)

Gangguan pencernaan

: (-)

Gangguan respiratori

: (-)

Kelainan imunologi

: (-)

Gangguan TMJ

: (-)

Tekanan darah

: (-)

Diabetes mellitus

: (-)

Lain-lain

: (-)

Obat-obatan yang telah /sedang dijalani :


-

disangkal

Keadaan sosial/kebiasaan :
-

Pasien berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi menengah ke atas

- Sikat gigi 2x sehari saat mandi pagi dan sore

Riwayat Keluarga :
a. Kelainan darah

: tidak ada kelainan

b. Kelainan endokrin

: tidak ada kelainan

c. Diabetes melitus
d. Kelainan jantung
e. Kelainan syaraf
f. Alergi
g. lain-lain

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
:-

III. PEMERIKSAAN KLINIS


1. EKSTRA ORAL :
a. Muka
: Simetris
b. Pipi kiri
: tidak ada kelainan
Pipi kanan
: tidak ada kelainan
c.
Bibir atas
: tidak ada kelainan
bibir bawah
: tidak ada kelainan
d. Sudut mulut
: tidak ada kelainan
e. Kelenjar submandibularis kiri : tidak teraba/ tidak ada kelainan
kanan : tidak teraba/ tidak ada kelainan
f. Kelenjar submentalis
: tidak teraba/ tidak ada kelainan
g. Kelenjar leher
: tidak teraba/ tidak ada kelainan
h. Kelenjar sublingualis
: tidak teraba/ tidak ada kelainan
i. Kelenjar parotis
: tidak teraba/ tidak ada kelainan

2. INTRA ORAL :
a. Mukosa labial atas
Mukosa labial bawah
b. Mukosa pipi kiri
Mukosa pipi kanan
c. Bukal fold atas
Bukal fold bawah
d. Labial fold atas
Labial fold bawah
e. Ginggiva rahang atas
Ginggiva rahang bawah kiri
f. Lidah
g. Dasar mulut
h. Palatum
i. Tonsil
j. Pharynx
k. Lain lain
8

7
2

III

V IV III II

2
7

1
V
IV
II I I

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan

I
V
I I

3
8 8

II III IV
II III IV

Keterangan gambar:
1
2
3
4
5
6
8
7 24 6 = Karies
5 Media
4
14,15,16,17,
2
1
Sondase (+), Perkusi (-), 7Palpasi8 (-), CE (-)
Pulpa polip
37
= Karies Profunda + pulpa polip
Sondase (-), Perkusi (-), Palpasi (-), CE (-)
35,36, 45,46,47 ` = Tumpatan
IV. DIAGNOSA :
14,15,16,17, 24
37

= Hiperemi pulpa (Pulpitis Reversibel)


= Pulpa polip e.c Gangren pulpa gigi 37

V. RENCANA PERAWATAN :
14,15,16,17, 24
37

= Tumpatan
= Pro Ekstraksi dan Pro Protesa

1. Pengobatan : R/ Amoxicillin 500mg Tab No. X / 3 dd tab 1

R/ As.Mefenamat 500mg Tab No.X / 3 dd tab 1 prn

2. Pemeriksaan Penunjang :
Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi
Lab.Patologi anatomi
Sitologi
Biopsi
Lab.Mikrobiologi
Bakteriologi
Jamur
Lab.Patologi Klinik

:-

Poli Penyakit Dalam


Poli THT
Poli Kulit & Kelamin

:::-

:::::-

3. Rujukan :

VI. LEMBAR PERAWATAN


Tgl

Elemen

09/

37

Diagnosa

Terapi

Pulpa polip e.c

Pro Extraksi dan Pro Protesa

04/

gangrene pulpa

R/ Amoxicillin 500mg Tab

15

37

Keterangan
KIE:
No. X

3 dd tab 1
R/ As.Mefenamat 500mg Tab No.X
3 dd tab 1 prn

Menjaga
kebersihan
rongga mulut
dengan
menggosok gigi 2
x sehari sesudah

14,15,
16, 17,
24,

Hiperemi Pulpa

Pro Tumpatan

makan dan
sebelum tidur
Periksa ke dokter
gigi 6 bulan
sekali

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pulpitis Reversible
II.1.1 Definisi
Pulpitis reversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa ringan-sampaisedang yang disebabkan oleh stimuli noksius, tetapi pulpa mampu kembali pada
keadaan tidak terinflamasi setelah stimuli ditiadakan. Rasa sakit yang berlangsung
sebentar dapat dihasilkan oleh stimuli termal pada pulpa yang mengalami
inflamasi reversibel, tetapi rasa sakit hilang segera setelah stimuli dihilangkan. 1
II.1.2 Histopatologi.
Pulpitis reversibel dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan inflamasi
ringan-sampai-sedang terbatas pada daerah di mana tubuli dentin terlibat, seperti
misalnya karies dentin. Secara mikroskopis, terlihat dentin reparatif, gangguan
lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah, ekstravasasi cairan edema, dan
adanya sel inflamasi kronis yang secara imunologis kompeten. Meskipun sel
inflamasi kronis menonjol, dapat dilihat juga sel inflamasi akut. 1
II.1.3 Faktor Penyebab
Pulpitis reversibel dapat disebabkan oleh apa saja yang mampu melukai
pulpa. Tegasnya, penyebabnya dapat salah satu yang tertulis berikut : trauma,
misalnya suatu pukulan atau hubungan oklusal yang terganggu; syok termal,
seperti yang ditimbulkan pada waktu melakukan preparasi kavitas dengan bur
tumpul, atau membiarkan bur terlalu lama berkontak dengan gigi, atau karena
panas yang berlebihan pada waktu memoles tumpatan; dehidrasi kavitas dengan
alcohol atau kloroform yang berlebihan, atau rangsangan pada leher gigi yang
dentinnya terbuka; penempatan tumpatan amalgam yang baru berkontak, atau
beroklusi dengan suatu restorasi emas; stimulus kimiawi, misalnya dari bahan
makanan manis atau masam atau dari iritasi tumpatan silikat atau akrilik swapolimerisasi; atau bakteri, misalnya dari karies. Setelah insersi suatu restorasi,
pasien sering mengeluh tentang sensitivitas ringan terhadap perubahan temperatur,
terutama dingin. Sensitivitas macam itu dapat berlangsung 2 sampai 3 hari atau
seminggu atau bahkan lebih lama, tetapi berangsur-angsur akan hilang. sensitivitas
ini adalah gejala pulpitis reversibel.1
II.1.4 Gejala-gejala

Pulpitis reversibel simptomatik ditandai oleh rasa sakit tajam yang hanya
sebentar. Lebih sering diakibatkan oleh makanan dan minuman dingin daripada
panas dan oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut bila
penyebabnya telah ditiadakan. Perbedaannya klinis antara pulpitis reversibel dan
irreversibel adalah kuantitatif; rasa sakit pulpitis irreversibel adalah lebih parah
dan berlangsung lebih lama. Pada pulpitis reversibel, penyebab rasa sakit
umumnya peka terhadap suatu stimulus, seperti air dingin atau aliran udara,
sedangkan pulpitis irreversibel rasa sakit dapat datang tanpa stimulus yang nyata.
Pulpitis reversibel asimptomatik dapat disebabkan karena karies yang baru mulai
dan menjadi normal kembali setelah karies dihilangkan dan menjadi normal
kembali setelah karies dihilangkan dan gigi direstorasi dengan baik. 1
II.1.5 Diagnosis
Diagnosis berdasarkan suatu studi mengenai gejala pasien dan berdasarkan
tes klinis. Rasa sakitnya tajam, berlangsung beberapa detik, dan umumnya
berhenti bila stimulus dihilangkan. Dingin, manis, atau masam biasanya
menyebabkan rasa sakit. Rasa sakit dapat menjadi kronis. Meskipin masingmasing paroksisme (serangan hebat) mungkin berlangsung sebentar, paroksisme
dapat berlanjut berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Pulpa dapat
sembuh sama sekali, atau rasa sakit dapat tiap kali dapat berlangsung lebih lama
dan interval keringanan dapat menjadi lebih pendek, sampai akhirnya pulpa mati. 1
Karena pulpa sensitif terhadap perubahan temperatur, terutama dingin,
aplikasi dingin merupakan suatu cara yang bagus untuk menemukan dan
mendiagnosis gigi yang terlibat. Sebuah gigi dengan pulpitis reversibel secara
normal bereaksi terhadap perkusi, palpasi, dan mobilitas, dan pada pemeriksaan
radiografi jaringan periapikal adalah normal. 1
Anamnesa : 4

Biasanya nyeri bila minum panas, dingin, asam dan asin


Nyeri tajam singkat tidak spontan, tidak terus menerus
Rasa nyeri lama hilangnya setelah rangsangan dihilangkan
Pemeriksaan Objektif : 4

Ekstra oral : Tidak ada pembengkakan


Intra oral :
Perkusi (-)
Karies mengenai dentin/karies profunda
Pulpa belum terbuka
Sondase (+)
Chlor etil (+)
II.2 Pulpitis Irreversibel
II.2.1 Definisi
Pulpitis irreversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa yang persisten,
dapat simptomatik atau asimptomatik yang disebabkan oleh stimulus noksius.
Pulpitis irreversibel akut menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan oleh
stimulus panas atau dingin, atau rasa sakit timbul secara spontan. Rasa sakit
bertahan untuk beberapa menit sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus
termal dihilangkan. 1
II.2.2 Histopatologi
Gangguan ini mempunyai tingkatan inflamasi kronis dan akut di dalam
pulpa. Pulpitis irreversibel dapat disebabkan oleh suatu stimulus berbahaya yang
berlangsung lama seperti misalnya karies. Bila karies menembus dentin dapat
menyebabkan respon inflamasi kronis. Bila karies tidak diambil, perubahan
inflamasi di dalam pulpa akan meningkat keparahannya jika kerusakan mendekati
pulpa. 1
II.2.3 Faktor Peyebab
Sebab paling umum pulpitis irreversibel adalah keterlibatan bakterial pulpa
melalui karies, meskipun factor klinis, kimiawi, termal, atau mekanis, yang telah
disebut sebagai penyebab penyakit pulpa, mungkin juga menyebabkan pulpitis.
Sebagai yang dinyatakan sebelumnya, pulpitis reversibel dapat memburuk
menjadi pulpitis irreversibel. 1
II.2.4 Gejala-gejala

10

Pada tingkat awal pulpitis irreversibel, suatu paroksisme rasa sakit dapat
disebabkan oleh hal-hal berikut : perubahan temperatur, terutama dingin; bahan
makanan manis atau masam; tekanan makanan yang masuk ke dalam kavitas atau
pengisapan yang dilakukan oleh lidah atau pipi; dan sikap berbaring yang
menyebabkan kongesti pembuluh darah pulpa. Rasa sakit biasanya tetap
berlangsung meski penyebabnya dihilangkan, dan dapat datang dan pergi secara
spontan, tanpa penyebab yang jelas. Pasien dapat melukiskan rasa sakit sebagai
menusuk, tajam-menusuk, atau menyentak-nyentak, dan umumnya adalah parah.
Rasa sakit dapat sebentar-sebentar atau terus-menerus tergantung pada tingkat
keterlibatan pulpa dan tergantung pada hubungannya dengan ada tidaknya suatu
stimulus eksternal. 1
II.2.5 Diagnosis
Pemeriksaan biasanya menemukan suatu kavitas dalam yang meluas ke
pulpa atau karies di bawah tumpatan. Pulpa mungkin sudah terbuka. Waktu
mencapai jalan masuk ke lubang pembukaan akan terlihat suatu lapisan keabuabuan yang menyerupai buih meliputi pulpa terbuka dan dentin sekitarnya.
Probing ke dalam daerah ini tidak menyebakan rasa sakit pada pasien hingga
dicapai daerah pulpa yang lebih dalam. Pada tingkat ini dapat terjadi sakit dan
perdarahan. Bila pulpa tidak terbuka oleh proses karies, dapat terlihat sedikit
nanah jika dicapai jalan masuk ke kamar pulpa. 1
Pemeriksaan radiografik mungkin tidak menunjukkan sesuatu yang nyata
yang belum diketahui secara klinis, mungkin memperlihatkan suatu kavitas
proksimal yang secara visual tidak terlihat, atau mungkin memberi kesan
keterlibatan suatu tanduk pulpa. Suatu radiografi dapat juga menunjukkan
pembukaan pulpa, karies di bawah suatu tumpatan, atau suatu kavitas dalam atau
tumpatan mengancam integritas pulpa. Pada tingkat awal pulpitis irreversibel, tes
termal dapat mendatangkan rasa sakit yang bertahan setelah penghilangan
stimulus termal. Pada tingkat belakangan, bila pulpa terbuka, dapat bereaksi
secara normal. Hasil pemeriksaan untuk tes mobilitas, perkusi dan palpasi adalah
negatif. 1
Anamnesa : 4

11

Nyeri tajam spontan yang berlangsung terus-menerus menjalar kebelakang

telinga
Penderita tidak dapat menunjukkan gigi yang sakit

Pemeriksaan Objektif : 4
Ekstra oral : tidak ada kelainan
Intra oral :

Kavitas terlihat dalam dan tertutup sisa makanan


Pulpa terbuka bisa juga tidak
Sondase (+)
Khlor ethil (+)
Perkusi bisa (+) bisa (-)

II.3 Pulpitis hiperplastik kronis


II.3.1 Definisi
Pulpitis hiperplastik kronis atau polip pulpa adalah suatu inflamasi pulpa
produktif yang disebabkan oleh suatu pembukaan karies luas yang kadang-kadang
tertutup oleh epithelium dan disebabkan karena iritasi tingkat rendah yang
berlangsung lama. 1
II.3.2 Histopatologi
Secara histopatologis, permukaan polip pulpa ditutup epithelium skuamasi
yang bertingkat-tingkat. Polip pulpa gigi sulung lebih mungkin tertutup oleh
epithelium skuamasi yang bertingkat-tingkat/berstrata daripada polip pulpa gigi
permanen. Epithelium semacam itu dapat berasal dari gingival atau dari sel
epithelial mukosa atau lidah yang baru saja mengalami deskuamasi. Jaringan di
dalam kamar pulpa sering berubah menjadi granulasi, yang menonjol dari pulpa
masuk ke dalam lesi karies. Jaringan granulasi adalah jaringan penghubung
vaskuler, muda dan berisi neutrofil PMF, limfosit, dan sel-sel plasma. Jaringan
pulpa mengalami inflamasi kronis. Serabut saraf dapat ditemukan pada lapisan
epithelial. 1
II.3.3 Faktor Penyebab
Terbukanya pulpa karena karies yang lambat dan progresif merupakan
penyebabnya. Untuk pengembangan pulpitis hiperplastik diperlukan suatu kavitas

12

besar yang terbuka, pulpa muda yang resisten, dan stimulus tingkat rendah yang
kronis. Iritasi mekanis yang disebabkan karena pengunyahan dan infeksi bacterial
sering mengadakan stimulus. 1
II.3.4 Gejala-gejala
Pulpitis hiperplastik kronis tidak mempunyai gejala, kecuali selama
mastikasi, bila tekanan bolus makanan menyebabkan rasa tidak menyenangkan. 1
II.3.5 Diagnosis
Gangguan ini umumnya hanya terlihat pada gigi anak-anak dan orang
muda. Penampilan jaringan polipoid secara klinis adalah khas : suatu massa pulpa
yang kemerah-merahan dan seperti daging mengisi sebagian besar kamar pulpa
atau kavitas atau bahkan meluas melewati perbatasan gigi. Jaringan polipoid
kurang sensitif daripada jaringan pulpa normal dan lebih sensitif daripada jaringan
gingival. Pemotongan jaringan ini tidak menyebabkan rasa sakit. Jaringan ini
mudah berdarah karena suatu anyaman pembuluh darah yang subur. Jika jaringan
pulpa hiperplastik meluas melewati kavitas atau gigi, maka akan terlihat seolaholah jaringan gusi tumbuh di dalam kavitas. 1
Tidak begitu sukar untuk mendiagnosis pulpitis hiperplastik kronis dengan
hanya pemeriksaan klinis. Jaringan pulpa hiperplastik di dalam kamar pulpa atau
kavitas

gigi

adalah

khas

dalam

penampilannya.

Radiografi

umumnya

menunjukkan suatu kavitas besar yang terbuka dengan pembukaan kamar pulpa.
Gigi bereaksi lemah atau sama sekali tidak terhadap tes termal, kecuali jika
digunakan dingin yang ekstrim, seperti etil klorida. Diperlukan lebih banyak arus
daripada gigi normal untuk mendapatkan suatu reaksi dengan menggunakan tester
pulpa listrik. 1
II.3.6 Penatalaksanaan
Perawatan pada pulpitis hiperplastik kronis yaitu dilakukan pembuangan
jaringan polipoid diikuti dengan ekstirpasi pulpa jika gigi tersebut masih dapat
direstorasi. Massa pulpa hiperplastik diambil dengan kuret periodontal atau
ekskavator. Selanjutnya, perdarahan yang terjadi dapat dikendalikan dengan
tekanan. Kemudian jaringan yang terdapat pada kamar pulpa diambil seluruhnya,
dan suatu dressing formokresol ditempatkan berkontak dengan jaringan pulpa

13

radikular. Pulpa radikular diekstirpasi pada kunjungan selanjutnya. Bila


memungkinkan, seluruh prosedur dilakukan pada satu kali kunjungan.
Selain perawatan tersebut, pilihan tindakan klinis lain yang dapat
dilakukan pada pulpitis hiperplastik kronis adalah dengan melakukan ekstraksi
gigi tersebut.
II.3.7 Prognosis
Prognosis untuk penyakit ini tergantung dari kondisi gigi dan keadaan bisa
atau tidaknya gigi tersebut direstorasi.
II.4 Gangren pulpa
II.4.1 Definisi
Gangren Pulpa adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah mati
sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga
jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian
besar ruang pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak tersebut akan mati dan menjadi
antigen sel-sel sebagian besar pulpa yang masih hidup. Proses terjadinya gangren
pulpa diawali oleh proses karies. Karies dentis adalah suatu penghancuran struktur
gigi (email, dentin dan sementum) oleh aktivitas sel jasad renik (mikroorganisme) dalam dental plak. Jadi proses karies hanya dapat terbentuk apabila
terdapat 4 faktor yang saling tumpang tindih. Adapun faktor-faktor tersebut adalah
bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi serta waktu. Perjalanan
gangren pulpa dimulai dengan adanya karies yang mengenai email (karies
superfisialis), dimana terdapat lubang dangkal, tidak lebih dari 1mm. Selanjutnya
proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan
rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau
makanan yang manis dan segera hilang jika rangsangan dihilangkan. Karies dentin
kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis.
Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada pulpitis terjadi peradangan
kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh limfe, sehingga
timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian
yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangren
pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan
atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat
dari proses pembusukan dari toksin kuman. 5

14

II.4.2 Gejala klinik


Gejala yang didapat dari pulpa yang gangren bisa terjadi tanpa keluhan
sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat
berwarna kecoklatan atau keabu-abuan. Pada gangrene pulpa dapat disebut juga
gigi non vital dimana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada
cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau
busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum
atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga
pulpa tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital. 5
II.4.3 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan objektif
(extraoral dan intraoral). Berdasarkan pemeriksaan klinis, secara objektif
didapatkan : 5
-

Karies profunda (+)


Pemeriksaan sonde (-), dengan menggunakan sonde mulut, lalu ditusukkan

beberapa kali ke dalam karies, hasilnya (-). Pasien tidak merasakan sakit.
Pemeriksaan perkusi (-), dengan menggunakan ujung sonde mulut yang bulat,
diketuk-ketuk kedalam gigi yang sakit, hasilnya (-).pasien tidak merasakan

sakit.
Pemeriksaan penciuman, dengan menggunakan pinset, ambil kapas lalu
sentuhkan pada gigi yang sakit kemudian cium kapasnya, hasilnya (+) akan

tercium bau busuk dari mulut pasien.


Pemeriksaan foto rontgen, terlihat suatu karies yang besar dan dalam, dan
terlihat juga rongga pulpa yang telah terbuka dan jaringan periodontium
memperlihatkan penebalan.

Untuk menentukan apakah pulpa masih dapat diselamatkan, bisa dilakukan


beberapa pengujian: 5
-

Diberi rangsang dingin, rangsang dihentikan, nyeri hilang artinya pulpa


sehat. Pulpa dipertahankan dengan mencabut bagian gigi yang membusuk
dan menambalnya. Jika nyeri tetap, meskipun rangsang nyeri sudah
dihilangkan atau jika nyeri timbul secara spontan, maka pulpa tidak dapat
dipertahankan.

15

Penguji pulpa elektrik, alat ini digunakan untuk menunjukkan apakah


pulpa masih hidup, bukan untuk menentukan apakah pulpa masih sehat,
jika penderita merasakan aliran listrik pada giginya, berarti pulpa masih

hidup.
Mengetuk gigi dengan sebuah alat, jika dengan pengetukan gigi timbul
nyeri, berarti peradangan telah menyebar ke jaringan tulang dan

sekitarnya.
Rontgen gigi, dilakukan untuk mengetahui adanya pembusukan gigi dan
menunjukkan

apakah

penyebaran

peradangan

telah

menyebabkan

pengeroposan tulang disekitar akar gigi.

II.4.4 Patofisiologi
Bagan patifisiologi terjadinya gangren pulpa
Bakteri + karbihidrat makanan + Kerentanan permukaan gigi + waktu
(Saling tumpang tindih)

Karies superfisialis
Karies Media
Karies Profunda
Radang pada pulpa (Pulpitis)
Pembusukan jaringan pulpa (ditemukan gas-gas indol, skatol, putresin)
Bau Mulut
Keluar Gas H2S, NH3

16

Gigi non vital (Gangren pulpa)


II.4.5 Penatalaksanaan
Perawatan gigi pada gangren pulpa terdiri dari preparasi dan obturasi
saluran akar.
Preparasi saluran akar
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Preparasi akses
Ekstirpasi pulpa
Debridement
Drying
Obturasi
Restorasi : disesuaikan dengan kondisi jaringan gigi yang masih ada.

17

BAB IV
KESIMPULAN
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang didapatkan pasien didiagnosa
pulpa polip e.c gangren pulpa gigi 37 dan hiperemi pulpa (pulpitis reversibel)
pada gigi 14,15,16,17,24. Kondisi klinis pasien memungkinkan untuk dilakukan
ektraksi gigi yang mengalami gangren dan pulpa polip, jika perlu direcanakan
untuk protesa. Penyebab pulpa polip pada pasien ini kemungkinan adalah karena
adanya karang gigi yang luas sebelumnya sehingga memungkingkan pertumbuhan
polip. Dan dilakukan tumpatan pada gigi yang mengalami hiperemi pulpa.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Grossman IL, Oliet S, Rio CED. Ilmu endodontik dalam praktik. Ed.11.
Jakarta : EGC, 1995 : hal 1-19, 71-109.
2. Andlaw RJ, Rock WP. Perawatan gigi anak. Ed.2. Jakarta : Widya Medika,
1992 : hal 3-14.
3. Anonim.
Karies
gigi.
Available
at
http://id.wikipedia.org/wiki/kariesgigi. Diakses pada tanggal 8 juli
2010.
4. Julianti R, Dharma MS, Erdaliza, Anggia D, Fahmi F, dkk. Gigi dan mulut.
Pekanbaru
:
FK
UNRI,
2008.
Available
at
(http://yayanakhyar.wordpress.com. Diakses pada tanggal 8 Juli
2010.)
5. Kartini
A.
Gangren
pulpa.
Available
http://aniekart.blogspot.com/2009/07/bp-gigi-rsu-drslamet.html. Diakses pada tanggal 8 Juli 2010.

at

6. Walton RE, Torabinejad M. Principles and practice of endodontic.


Philadelphia : W.B. Saunders Company, 2002 : p.65.