Anda di halaman 1dari 16

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan oleh terjadinya
bangkitan (seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan berkala. Bangkitan
dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal
dari sekelompok besar sel-sel otak, bersifat singkron dan berirama. Bangkitnya epilepsi terjadi
apabila proses eksitasi didalam otak lebih dominan dari pada proses inhibisi. Perubahanperubahan di dalam eksitasi aferen, disinhibisi, pergeseran konsentrasi ion ekstraselular, voltagegated ion-channel opening, dan menguatkan sinkroni neuron sangat penting artinya dalam hal
inisiasi dan perambatan aktivitas bangkitan epileptik. Aktivitas neuron diatur oleh konsentrasi ion
didalam ruang ekstraselular dan intraselular, dan oleh gerakan keluar masuk ion-ion menerobos
membran neuron. (3)
Epilepsi yang sukar untuk mengendalikan secara medis atau pharmacoresistant , sebab
mayoritas pasien dengan epilepsi adalah bersifat menentang, kebanyakan yang sering terserang
terlebih dahulu yaitu bagian kepala. Obat yang bias menenangkan antiepileptik yang standar.
Berkaitan dengan biomolekular basis kompleksnya. Sakit kepala yang menyerang sukar sekali
untuk diperlakukan secara pharmakologis, walaupun obat antiepileptic sudah secara optimal
diberikan,sekitar 30-40% tentang penderita epilepsi yang terjangkit, biasanya pasien melakukan
operasi pembedahan untuk menghilangkan rasa sakit sementara. Akan tetapi gejala epilepsi akan
timbul sesekali, karena epilepsi sukar untuk dihilangkan rasa sakit kepala yang menyerang. (3)

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi. Pengguna narkotik
dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna narkotik mungkin mendapat seizure
pertama karena menggunakan narkotik, tapi selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure
walaupun sudah lepas dari narkotik.Di Inggris, satu orang diantara 131 orang menyindap epilepsi.
Jadi setidaknya 456000 penyindap epilepsi di Inggris. (3)
Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua bahkan bayi yang
baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3%
penduduk akan menderita epilepsi seumur hidup. Di Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi
(1%) penduduk terserang epilepsi, dan kurang lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani
pengobatan pada lima tahun terakhir. Menurut World Health Organization (WHO) sekira 50 juta
penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsy.

(3)

Pada dasarnya setip orang dapat mengalami

epilepsi. Setiap orang memiliki otak dengan ambang bangkitan masing-masing apakah lebih
tahan atau kurang tahan terhadap munculnya bangkitan. Selain itu penyebab epilepsi cukup
beragam: cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, infestasi parasit, tumor otak. Epilepsi dapat
terjadi pada laki-laki maupun perempuan, umur berapa saja, dan ras apa saja. Jumlah penderita
epilepsi meliputi 1-2% dari populasi. Secara umum diperoleh gambaran bahwa insidensi epilepsi
menunjukan pola bimodal: puncak insidensi terdapat pada golongan anak dan usia lanjut. (3)

B. TUJUAN PENULISAN
Referat ini bertujuan menggali lebih lanjut dan membahas tentang penyakit
epilepsi pada anak, sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan tentang epilepsi bagaimana
penanganan dan cara mendiagnosis.

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Epilepsi adalah suatu penyakit yang ditandai dengan kecenderungan untuk mengalami
kejang berulang.

(4),

Epilepsi ialah sekumpulan gejala-gejala sebagai sesuatu manifestasi

gangguan-gangguan fungsi otak yang terjadi secara tiba-tiba (paroxysmal), berlebihan, tidak
teratur, berlangsung sementara dan cenderung untuk berulang.(5)
B. KLASIFIKASI
1. Kejang Parsial
Kejang Parsial merupakan kejang dengan onset lokal pada satu bagian tubuh dan
biasanya disertai dengan aura. Kejang parsial timbul akibat abnormalitas aktivitas elektrik
otak yang terjadi pada salah satu hemisfer otak atau salah satu bagian dari hemisfer otak.

Kejang parsial sederhana tidak disertai penurunan kesadaran


Kejang parsial kompleks disertai dengan penurunan kesadaran

2. Kejang Umum
Kejang umum timbul akibat abnormalitas aktivitas elektrik neuron yang terjadi pada
seluruh hemisfer otak secara stimulan

Absens
Ciri khas serangan absens adalah durasi singkat, onset dan terminasi mendadak,
frekuensi sangat sering, terkadang disertai gerakan klonik pada mata, dagu dan

bibir
Mioklonik
Kejang mioklonik adalah kontraksi mendadak, sebentar yang dapat umum atau

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


terbatas pada wajah, batang tubuh, satu atau lebih ekstremitas atau satu grup otot.

Dapat berulang atau tunggal


Klonik
Pada kejang tipe ini tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang kelojot,

dijumpai terutama sekali pada anak.


Tonik
Merupakan kontraksi otot yang kaku, menyebabkan ekstremitas menetap dalam
satu posisi. Biasanya terdapat deviasi bola mata dan kepala ke satu sisi, dapat
disertai rotasi seluruh batang tubuh. Wajah menjadi pucat kemudian merah dan
kebiruan karena tidak dapat bernafas. Mata terbuka atau tertutup, konjungtiva

tidak sensitive, pupil dilatasi.


Tonik Klonik
Merupakan suatu kejang yang diawali dengan tonik, sesaat kemudian diikuti oleh

gerakan klonik
Atonik
Berupa kehilangan tonus. Dapat terjadi secara fragmentasi hanya kepala jatuh ke
depan atau lengan jatuh tergantung atau menyeluruh sehingga pasien terjatuh.

3. Kejang Tidak Dapat di klasifikasikan


Sebagian besar serangan yang terjadi pada bayi baru lahir termasuk golongan ini.

C. ETIOLOGI
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama, ialah
epilepsi idopatik, remote symptomatic epilepsy (RSE), epilepsi simtomatik akut, dan epilepsi
pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam
klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan prognosis
yang baik dan yang buruk. (3)
Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas pada
CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang tak jelas tetapi
dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit neurologik yang jelas.
Sementara itu, dipandang dari kemungkinan terjadinya bangkitan ulang pasca-awitan, definisi
neurologik dalam kaitannya dengan umur saat awitan mempunyai nilai prediksi sebagai berikut:
1. Apabila pada saat lahir telah terjadi defisit neurologik maka dalam waktu 12 bulan pertama
seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang
2. Apabila defisit neurologik terjadi pada saat pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang
adalah 75% pada 12 bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu, bangkitan
pertama yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko 40% dalam
12 bulan pertama dan 36 bulan pertama untuk terjadinya bangkitan ulang. Secara keseluruhan
resiko untuk terjadinya bangkitan ulang tidak konstan. Sebagian besar kasus menunjukan
bangkitan ulang dalam waktu 6 bulan pertama. (3)
Epilepsi dapat dibagi dalam tiga golongan utama antara lain:
1. Epilepsi Grand Mal
Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang berlebihan dari neuron
diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam serebrum, dan bahkan di batang otak dan talamus.
Kejang grand mal berlangsung selama 3 atau 4 menit.
2. Epilepsi Petit Mal
Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau penurunan kesadaran
selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


kontraksi otot seperti sentakan (twitch- like),biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan
mata.
3. Epilepsi Fokal
Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regoi setempat pada korteks
serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada serebrum dan batang otak. Epilepsi fokal
disebabkan oleh resi organik setempat atau adanya kelainan fungsional. (1,2,3,5)
D. PATOFISIOLOGI
Dasar serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron neuron otak dan transmisi pada
sinap. Ada dua jenis neurotransmitter, yakni neurotransmitter eksitasi yang memudahkan
depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmitter inhibisi (inhibitif terhadap penyaluran
aktivitas listrik saraf dalam sinaps ) yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih
stabil dan tidak mudah melepaskan listrik. Diantara neurotransmitter- neurotransmitter eksitasi
dapat disebut glutamate, aspartat, norepinefrin dan asetilkolin sedangkan neurotransmitter
inhibisi yang terkenal dengan gama butyric acid (GABA) dan glisin. Jika hasil pengaruh kedua
jenis lepas muatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsangan. Dalam keadaan istirahat,
membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada dalam keadaan polarisasi.
Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane neuron dan seluruh sel akan melepas
muatan listirk.
Oleh berbagai faktor, diantaranya keadaan patologik, dapat merubah atau mengganggu
fungsi membran neuron sehingga membran mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan
ekstra ke intra seluler. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepas
muatan listrik berlebihan, tidak teratur dan terkendali. Lepas muatan listrik demikian oleh
sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan epilepsi. Suatu sifat khas
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


serangan epilepsy ialah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi.
Diduga inhibisi ini adalah pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Selain itu juga
sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron neuron tidak terus-menerus
berlepas muatan memegang peranan. Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu serangan
epilepsy terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang penting untuk
fungsi otak.

Silbernagl S. Color Atlas of Pathophysiology. New York: Thieme. 2000


E. MANIFESTASI KLINIK
Kejang parsial simplek dimulai dengan muatan listrik di bagian otak tertentu dan muatan
ini tetap terbatas di daerah tersebut. Penderita mengalami sensasi, gerakan atau kelainan psikis
yang abnormal, tergantung kepada daerah otak yang terkena. Jika terjadi di bagian otak yang
mengendalikan gerakan otot lengan kanan, maka lengan kanan akan bergoyang dan mengalami
sentakan; jika terjadi pada lobus temporalis anterior sebelah dalam, maka penderita akan
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


mencium bau yang sangat menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan. Pada penderita yang
mengalami kelainan psikis bisa mengalami dj vu (merasa pernah mengalami keadaan sekarang
di masa yang lalu). (4)
Kejang Jacksonian gejalanya dimulai pada satu bagian tubuh tertentu (misalnya tangan atau kaki)
dan kemudian menjalar ke anggota gerak, sejalan dengan penyebaran aktivitas listrik di otak. (4)
Kejang parsial (psikomotor) kompleks dimulai dengan hilangnya kontak penderita dengan
lingkungan sekitarnya selama 1-2 menit.
Penderita menjadi goyah, menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara yang aneh dan tanpa
tujuan, mengeluarkan suara-suara yang tak berarti, tidak mampu memahami apa yang orang lain
katakan dan menolak bantuan. Kebingungan berlangsung selama beberapa menit, dan diikuti
dengan penyembuhan total. (4)
Kejang konvulsif (kejang tonik-klonik, grand mal) biasanya dimulai dengan kelainan muatan
listrik pada daerah otak yang terbatas. Muatan listrik ini segera menyebar ke daerah otak lainnya
dan menyebabkan seluruh daerah mengalami kelainan fungsi. (4)
Epilepsi primer generalisata ditandai dengan muatan listrik abnormal di daerah otak yang luas,
yang sejak awal menyebabkan penyebaran kelainan fungsi. Pada kedua jenis epilepsi ini terjadi
kejang sebagai reaksi tubuh terhadap muatan yang abnormal. Pada kejang konvulsif, terjadi
penurunan kesadaran sementara, kejang otot yang hebat dan sentakan-sentakan di seluruh tubuh,
kepala berpaling ke satu sisi, gigi dikatupkan kuat-kuat dan hilangnya pengendalian kandung
kemih. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala, linglung sementara dan merasa sangat
lelah. Biasanya penderita tidak dapat mengingat apa yang terjadi selama kejang. (4)
Kejang petit mal dimulai pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 5 tahun. Tidak terjadi
kejang dan gejala dramatis lainnya dari grand mal. Penderita hanya menatap, kelopak matanya
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


bergetar atau otot wajahnya berkedut-kedut selama 10-30 detik. Penderita tidak memberikan
respon terhadap sekitarnya tetapi tidak terjatuh, pingsan maupun menyentak-nyentak. (4)
Status epileptikus merupakan kejang yang paling serius, dimana kejang terjadi terus menerus,
tidak berhenti. Kontraksi otot sangat kuat, tidak mampu bernafas sebagaimana mestinya dan
muatan listrik di dalam otaknya menyebar luas.
Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi kerusakan jantung dan otak yang menetap dan penderita
bisa meninggal. (4)
Gejala kejang berdasarkan sisi otak yang terkena (4)
Sisi otak yg terkena

Gejala

Lobus frontalis

Kedutan pada otot tertentu

Lobus oksipitalis

Halusinasi kilauan cahaya

Lobus parietalis

Mati rasa atau kesemutan di bagian tubuh tertentu

Lobus temporalis

Halusinasi gambaran dan perilaku repetitif yang


kompleks
misalnya berjalan berputar-putar

Lobus temporalis anterior

Gerakan mengunyah, gerakan bibir mencium

Lobus temporalis
sebelah dalam

anterior Halusinasi bau, baik yg menyenangkan maupun yg


tidak menyenangkan

F. DIAGNOSIS
Anamnesis
Pada anamnesis, yang pertama dilakukan adalah mengajukan pertanyaan - pertanyaan
dengan maksud mendapat gambaran yang setepat-tepatnya tentang sawan yang terjadi. Usaha
untuk mendapatkan gambaran bangkitan kejang yang diuraikan berikut ini berdasarkan
klasifikasikan jenis bangkitan epilepsy internasional 1981.
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum dan neurologis dilakukan seperti biasanya.
Pemeriksaan Penunjang
Perlu diperiksa kadar glukosa, kalsium, magnesium, natrium, bilirubin, ureum dalam
darah. Yang memudahkan timbulnya kejang adalah keadaan hipoglikemia, hipomagnesemia,
hipo atau hipernatremia, hiperbilirubinemia, uremia. Penting pula diperiksa pH darah karena
alkalosis mungkinpula disertai kejang.
Pemeriksaan Radiologis
Pada foto rontgen kepala dapat dilihat adanya kelainan-kelainan pada tengkorak.
Klasifikasi abnormal dapat dijumpai pada toxoplasmosis, meningioma. Skentomografik
olahan komputer dapat lebih jelas menunjukkan kelainan-kelainan pada tengkorak dan dalam
rongga intrakranium.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menunjang diagnosis epilepsi adalah :
1. Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal pada penderita epilepsy umumnya normal. Pungsi lumbal dilakukan
pada penderita yang dicurigai meningitis.
2. Elektroensefalografi (EEG)
Pemeriksaan EEG harus dilakukan pada semua penderita epilepsi. EEG dapat
mengkonfirmasi aktivitas epilepsy bahkan dapat menunjang diagnosis klinis dengan baik,
tetapi tidak menegakkan diagnosis secara pasti. Adanya kelainan fokal pada EEG
menunjukkan kemungkinan adanya lesi structural di otak, sedangkan adanya kelainan umum
pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya kelainan genetika atau metabolic.
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


3. Pencitraan
Pemeriksaan pencitraan yang dilakukan antara lain foto polos kepala, angiografi serebral, CTScan, MRI. Pada foto polos kepala dilihat adanya tanda-tanda peninggian tekanan
intracranial, asimetris, tengkorak, perkapuran abnormal tetapi pemeriksaan ini sudah banyak
ditinggalkan. Angiografi dilakukan pada pasien yang akan dioperasi karena adanya focus
epilepsy berupa tumor.
CT- scan dan MRI digunakan untuk mendeteksi adanya malformasi otak kongenital.
Indikasi CT- scan dan MRI antara lain kesulitan dalam mengontrol kejang, ditemukannya
kelainan neurologis yang progresif dalam pemeriksaan fisik, perburukan dalam hasil EEG,
curiga terhadap peningkatan tekanan intracranial dan pada kasus-kasus dimana
dipertimbangkan untuk dilakukan pembedahan.
G. PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah untuk mengatasi kejang dengan dosis optimal terendah. Yang
terpenting adalah kadar obat antiepilepsi bebas yang dapat menembus sawar darah otak dan
mencapai reseptor susunan saraf pusat.
Serangan epilepsy dapat dihentikan oleh obat dan dapat pula dicegah agar tidak kambuh.
Obat tersebut disebut sebagai obat antikonvulsi atau obat antiepilepsy.
Prinsip pengobatan epilepsy :
1. Mendiagnosis secara pasti, menentukan etiologi, jenis serangan dan sindrom epilepsy
2. Memulai pengobatan dengan satu jenis obat antiepilepsi
3. Penggantian obat antiepilepsi secara bertahap apabila obat antiepilepsi yang pertama
gagal.
4.Pemberian obat antiepilepsi sampai 1-2 tahun bebas kejang
Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK

OAE pilihan pertama dan kedua :


1. Serangan parsial (sederhana, kompleks dan umum sekunder)
OAE I : Karbamazepin, fenobarbital, primidon, fenitoin
OAE II : Benzodiazepin, asam valproat
2. Serangan tonik klonik
OAE I : Karbamazepin, fenobarbital, primidon, fenitoin, asam valproat
OAE II : Benzodiazepin, asam valproat
3. Serangan absens
OAE I : Eosuksimid, asam valproat
OAE II : Benzodiazepin
4. Serangan mioklonik
OAE I : Benzodiazepim, asam valproat
OAE II : Etosuksimid
5. Serangan tonik, klonik, atonik
Semua OAE kecuali etosuksinid

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


Tatalaksana kejang
Berikan diazepam secara rektal
Masukkan satu ampul diazepam ke dalam semprit 1 ml. Sesuaikan dosis dengan berat
badan anak bila memungkinkan (lihat tabel), kemudian lepaskan jarumnya.
Masukkan semprit ke dalam rektum 4-5 cm dan injeksikan larutan diazepam
Rapatkan kedua pantat anak selama beberapa menit.

Umur/Berat Badab Anak


2 minggu s/d 2 bulan (<4kg)
2 - < 4 bulan (4 - < 6 kg)
4 - < 12 bulan (6 - < 10 kg)
1 - < 3 tahun (10 - < 14 kg)
3 - < 5 tahun (14 -19 kg)

Diazepam diberikan secara rektal


(Larutan 10 mg/2ml)
Dosis 0,1 ml/kg (0,4-0,6 mg/kg)
0,3 ml (1,5 mg)
0,5 ml (2,5 mg)
1,0 ml (5 mg)
1,25 ml (6,25 mg)
1,5 ml (7,5 mg)

Jika kejang masih berlanjut setelah 10 menit, berikan dosis kedua secara rektal atau berikan
diazepam IV 0.05 ml/kg (0.25 - 0.5 mg/kgBB, kecepatan 0.5 - 1 mg/menit atau total 3-5 menit)
bila infus terpasang dan lancar.
Jika kejang berlanjut setelah 10 menit kemudian, berikan dosis ketiga diazepam (rektal/IV),
atau berikan fenitoin IV 15 mg/kgBB (maksimal kecepatan pemberian 50 mg/menit, awas terjadi
aritmia), atau fenobarbital IV atau IM 15 mg/kgBB (terutama
untuk bayi kecil*)
Rujuk ke rumah sakit rujukan dengan kemampuan lebih tinggi yang terdekat bila dalam
10 menit kemudian masih kejang (untuk mendapatkan penatalaksanaan lebih lanjut status
konvulsivus)
Jika anak mengalami demam tinggi:
Kompres dengan air biasa (suhu ruangan) dan berikan parasetamol secara rektal (10 - 15
mg/kgBB)
Jangan beri pengobatan secara oral sampai kejang bisa ditanggulangi (bahaya aspirasi)
* Gunakan Fenobarbital (larutan 200 mg/ml) dalam dosis 20 mg/kgBB untuk menanggulangi
kejang pada bayi berumur < 2 minggu:

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.014.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


Berat badan 2 kg - dosis awal: 0.2 ml, ulangi 0.1 ml setelah 30 menit bila kejang berlanjut
Berat badan 3 kg - dosis awal: 0.3 ml, ulangi 0.15 ml setelah 30 menit bila kejang berlanjut
Buku saku Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit. Pedoman Bagi rumah Sakit
Rujukan tingkat Pertama di Kabupaten/kota

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.015.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFERAT ILMU KESEHATAN ANAK


DAFTAR PUSTAKA
1. Tjahjadi Petrus, Dikot Yustiani, Gunawan Dede. Gambaran Umum Mengenai Epilepsi Dalam :
Harsono, penyunting. Kapita Selekta Neurologi. Edisi 2. Yogyakarta : Gajah mada University
Press ; 2007 h : 119-133.
2. Syeban Zakiah, Markam S, Harahap Tagor. Epilepsi. Dalam: Markam Soemarmo, penyunting.
Penuntun Neurologi. Edisi 1. Tangerang : Binarupa aksara; 2009: h. 100-102.
3. Passat Jimmy. Epidemiologi Epilepsi. Dalam : Soetomenggolo Taslim, Ismael Sofyan,
Penyunting . Neurologi Anak . Jakarta : Badan Penerbit IDAI 1999, h.190-197
4. Lumbantobing SM. Etiologi Dan Faal sakitan Epilepsi. Dalam : soetomenggolo Taslim, Ismail
Sofyan, Penyunting. Neurologi Anak. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, : h 197-203
5. Soetomenggolo Taslim. Pemeriksaan Penunjang pada epilepsy. Dalam Soetomenggolo Taslim,
ismail sofyan, penyunting neurologi anak. Jakarta: Badan penerbit IDAI 1999, h.223-h.226
6. Ismail sofyan. Klasifikasi Bangkitan atau Serangan Kejang pada epilepsy. Dalam
Soetomenggolo Taslim, Ismail sofyan, penyunting neurologi anak. Jakarta: Badan penerbit IDAI
1999, h.204-h.209

Epilepsi , Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Umum Kota Yogya

Hal.016.