Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Penderita diabetes melitus akan sangat meningkatkan resiko penyakit


kardiovaskular, dimana penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian terbesar dari
diabetes melitus. Komplikasi lain yang mungkin terjadi pada jangka waktu yang panjang
selain penyakit kardiovaskular adalah nefropati, neuropati, maupun retinopati. Sedangkan
untuk komplikasi jangka pendek dapat terjadi asidosis laktat, ketoasidosis, koma
hiperglikemik, dan sebagainya.

Diabetes melitus sendiri sebenarnya merupakan keadaan dimana kadar gula darah
meningkat. Peningkatan gula darah ini dapat disebabkan oleh kekurangan sekresi dari
insulin yang merupakan diabetes tipe 1, ataupun disebabkan oleh kurangnya respon tubuh
terhadap insulin yang disebut dengan diabetes tipe II. Diabetes juga dapat disebabkan oleh
penyakit lain seperti defek genetik, obat-obatan, infeksi, imunologi, dan sebagainya.

Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit gangguan metabolik disebabkan oleh


kekurangan insulin secara relative maupun absolut.
Kekurangan insulin absolute adalah insulin tidak dapat dihasilkan sama sekali
oleh pancreas.
Kekurangan insulin relative :
Insulin yang disekresikan sedikit
Kualitas insulin yang disekresikan buruk
Resistensi insulin atau tubuh tidak menggunakan insulin untuk
metabolism glukosa terutama jaringan otot.

Diabetes melitus merupakan suatu kelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hyperglikemia. Glukosa secara normal
bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang
dikonsumsi
KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI ATAU PENYEBAB DIABETES MELITUS

DIABETES MELITUS YPE 1


- (destruksi sel beta, umumnya menjurus kedefisiensi insulin absolut)
- A. Melalui proses imonologik
- B. Idiopatik
DIABETES MELITUS TYPE 2
- (bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi
insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama
resisensi insulin)
DIABETES MELITUS TYPE LAIN
a Defek genetik fungsi sel beta
- Kromosom 12, HNF-1alfa (dahulu MODY 3)
- Kromosom 7, glukokinase (dahulu MODY 2)
- Kromosom 20, HNF-4 alfa (dahulu MODY 1)
- Kromosom 13, insulin promoter faktor-1 (dahulu MODY 4)
- Kromosom 17, HNF-4alfa (dahulu MODY 5)
- Kromosom 2, neuro DI (dahulu MODY 6)
- DNA Mitokondria
- lainnya
b. Defek genetik kerja insulin : resistensi insulin type A,

leprechaunism, syndrom rabson mendenhall, diabees lipoatrofik, lainnya


c. Penyakit eksokrin pankreas : pankreatitis, trauma atau
pankreatektomy, fibrosis kistik, hemokromatosis, pankreatopati
fibrokalkulus, lainnya
d. Endokrinopati : akromegali, syndrom cushing, feokromasitoma,
hiperiroidisme, somaostatinoma, aldosteronoma, dan lainnya
e. Karena obat atau zat kimia : vacor, pentamidin, asam nikotinat,
glukokortikoid, hormon tiroid, diazoxid, anagonis beta adenergik, tiazid,
dilatin, inerferon alfa dan lainnya.
f. Infeksi : rubella kongenital, CMV dan lainnya
g. Imonologi ( jarang): Syndrom stiff-man, antibody anti resepor
insulin, lainnya.
h. Syndrome genetik lainnya : syndrom down, syndrom klinefelter,
sindrom tuner, sindrom wolframs, ataksia friedreichs, chorea
huntington, syndrom laurence-moon-bieldl, distrofi miotonik, porfiria,
syndrom pader willi, dan lainnya.
DIABETES KEHAMILAN
BERIKUT INI AKAN SAYA PAPARKAN BERBAGAI MANIFESTASI KLINIS DIABETES
MELIUS YANG KHUSUS PADA KELAINAN KULIT, SEDANGKAN UNTUK GEJALA
KLINIK LAIN TENTANG DIABETES, DAPAT DIBACA PADA POSTING SAYA TENTANG
DIABETES MELITUS

KELAINAN KULIT PADA PENDERITA DABETES MELITUS


Diabetes mellitus merupakan suatu kondisi yang sering disertai dengan manifestasi pada
kulit. Manifestasi yang muncul pada kulit pun dapat bermacam-macam bentuknya. Adanya
efek metabolik didalam mikrosirkulasi dan berubahnya susunan kolagen dikulit
mengakibatkan banyak kelainan yang mungkin terjadi pada kulit penderita DM. Diperkirakan
bahwa 30% dari pasien dengan diabetes mellitus akan mengalami masalah kulit pada tahap
tertentu sepanjang perjalanan penyakit mereka.

Kadar gula kulit


Kadar gula kulit (glukosa kulit) merupakan 55% dari kadar gula darah atau
glukosa darah pada orang biasa. Pada penderita diabetes, rasio kadar glukosa kulit
meningkat sampai 69-71% dari glukosa darah yang sudah meninggi. Pada penderita yang
sudah diobatipun rasionya melebihi 55%.
Glukosa kulit berkonsentrasi tinggi di daerah intertriginosa (lipatan seperti
ketiak,lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki) dan interdigitalis.
Hal tersebut mempermudah timbulnya dermatitis, infeksi bakterial (terutama furunkel) dan
infeksi jamur (terutama kandidiosis). kandidosis sering di temukan sebagai kolpitis. Keadaan
ini dinamakan diabetes kulit (skin desease)
Pruritus
Pruritus pada diabetes mellitus merupakan keluhan yang sering terdengar,
tetapi tidak selalu ada. Sensasi tersebut tidak hanya disebabkan oleh hiperglikemi, tetapi
juga iritabilitas ujung-ujung saraf dan kelainan-kelainan metabolik dikulit.

Pruritus terutama berlokalisasi pada daerah anogenital (pruritus


ani/vulvae/skroti) dan daerah-daerah intertriginosa (terutama submama pada wanita dengan
adipositas). Kadar glikogen pada sel-sel epitel kulit dan vagina meningkat, hingga
menimbulkan diabetes kulit. Keadaan tersebut merupaka faktor predisposisi timbulnya
dermatiis, kandidosis, dan furunkolosis.

Acanthosis Nigricans
Acanthosis Nigricans merupakan salah satu lesi Kulit Non-Spesifik Pada
Diabetes Mellitus selain pruritus, sehingga keadaan ini bisa di jumpai pada keluhan penyakit
yang lainnya. Acanthosis Nigricans adalah merupakan kehitaman yang ada pada kulit atau
hiperpigmentasi kulit pada daerah lipatan tubuh. Biasanya terjadi pada ketiak, belakang
leher, lipatan tangan dan pusar.
Acanthosis Nigricans ditandai oleh adanya penebalan kulit seperti beludru
yang berwarna kehitaman pada daerah ketiak, lipat paha dan leher bagian belakang.
Karakteristik dari acanthosis nigricans yaitu plak hiperpigmentasi, hyperkeratosis dan terjadi
simetris. Warna gelap adalah karena penebalan keratin yang mengandung epitel superfisial.
Meskipun lesi umumnya asimtomatik, mereka bisa menyakitkan, berbau
busuk, atau maserasi. Karena kelainan ini merupakan lesi yang nonpesifik dari diabetes,
maka Acanthosis Nigricans dapat pula ditemukan pada efek samping obat tertentu
(misalnya, asam nikotinat, kortikosteroid), dan di berbagai masalah endocrinopathies
(misalnya, acromegaly, sindrom Cushing, leprechaunism) dan juga sebagai tanda
paraneoplasm (terutama pada kanker lambung).
Tinggi kadar plasma insulin diperkirakan untuk berkontribusi pada
pengembangan acanthosis nigricans. Hal ini terjadi karena jumlah insulin yang tidak
berikatan dengan reseptornya meningkat sehingga insulin banyak berikatan dengan
reseptor yang mirip dengan reseptor insulin sehingga terjadi resistensi insulin, yang
kemudian tumbuh jaringan baru yang menyebabkan penebalan kulit dan perubahan warna
(hiperpigmentasi).
Pengobatan yang paling efektif adalah perubahan gaya hidup. Penurunan
berat badan dan olahraga dapat mengurangi resistensi insulin. Acanthosis nigricans adalah
reversibel dengan penurunan berat badan jika dilihat sebagai komplikasi dari obesitas. Jika
lesi tidak menunjukkan gejala, mereka tidak memerlukan pengobatan. Salep yang
mengandung asam salisilat atau retinoat dapat digunakan untuk mengurangi lesi lebih tebal
di daerah maserasi ataupun dapat dilakukan tindakan laser.

akantosis nigrans tampak plak hiperpigmentasi dan


hyperkeratosis

Acanthosis Nigricans pada lipatan ketiak

nigricans acanthosis pada lipatan leher

plak hiperpigmentasi dari nigricans acanthosis,


biasanya diperkirakan berhubungan dengan tingginya
tingkat sirkulasi insulin.

Dermopati Diabetikum
Dermopathy diabetes adalah suatu kondisi kulit yang ditandai gambaran klinis
lesi coklat terang atau kemerahan, oval atau bulat, patch bersisik sedikit menjorok paling
sering muncul pada tulang kering. Dermopati Diabetikum ini tidak spesifik untuk diabetes,
dimana sekitar 20% dari orang nondiabetes menunjukkan lesi serupa. Pria lebih sering
terkena dari pada wanita, dan usia rata-rata adalah 50 tahun.
Lesinya juga dapat terjadi pada lengan, dibagian samping depan dan bawah
kaki. Kelainannya dimulai dengan papul-papul kecil dan plak yang kecil berwarna merah
memudar. Kemudian lesi dapat berkembang menjadi banyak (multiple), bilateral, berbatas
tegas, bulat atau oval, skar dangkal yang hiperpigmentasi dan atau macula hiperpigmentasi
atropik yang bersisik halus pada daerah pretibial.
Penyebab pasti dermopathy diabetes tidak diketahui, tetapi mungkin
berhubungan dengan diabetes neuropatik (saraf) dan komplikasi vascular (pembuluh darah)
, studi telah menunjukkan kondisi yang terjadi lebih sering pada pasien diabetes dengan
retinopati (kerusakan retina mata), neuropati (saraf / kerusakan sensorik) dan nefropati
(kerusakan ginjal), selain itu gambaran bercak-bercak tibial pada dermopathy diabetes juga
diperkirakan muncul karena respon trauma panas, dingin atau trauma tumpul pada pasien
diabetes.
Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit kulit. Kondisi ini cenderung
sembuh dengan sendirinya menjadi bekas luka depresi.

Dermopati Diabetikum Umumnya terjadi pada kedua

Dermopati Diabetikum dengan gambaran klinis lesi Bulat


atau oval,Warna coklat kemerahan, Awalnya bersisik tapi
kemudian mendatar dan menjadi menjorok

Dermopathy diabetes cenderung terjadi pada pasien yang


lebih tua atau mereka yang telah menderita diabetes
selama setidaknya 10-20 tahun

tulang kering, selain itu juga dapat ditemukan pada


Lengan, Anterior paha, Lateral kaki

Penyebab pasti dermopathy diabetes tidak diketahui, tetapi


mungkin berhubungan dengan diabetes neuropatik (saraf)
dan komplikasi vascular (pembuluh darah) ataupun akibat
trauma

Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum ( NLD)


Necrobiosis lipoidica adalah gangguan degenerasi kolagen dengan respon
granulomatosa, penebalan dinding pembuluh darah, dan penumpukan lemak. Ini juga
merupakan kelainan non spesifik, sebab dapa ditemukan pada penyaki lain. Kejadiannya
adalah 0,3% pada penderita diabetes, dan sangat jarang di non-penderita diabetes.
NLD mirip dengan dermopathy diabetes. Perbedaannya adalah bahwa
tempat yang sedikit, namun lebih besar dan lebih dalam. Gambaran klinisnya berupa
bercak-bercak numuler yang nyeri atau plak eritem dengan warna kuning pada bagian
central yang menandakan akumulasi dari lipid. Lesi secara perlahan dapat membesar.
Dengan bentukkan plak yang irreguler, tepi lesi terkadang sedikit meninggi dan kulit disekitar
lesi berwarna merah kebiruan, dengan pembuluh darah yang menonjol (telangiectasia)
Biasanya NLD paling sering berlokasi pada kedua tungkai, pretibial, bagian
medial maleolus dan 15 % terdapat di tangan, pergelangan tangan, badan, wajah dan kulit
kepala dimana NLD dapat menyebabkan atropi dan allopesia.
Patogenesis dari NLD belum diketahui secara pasti. Ada pendapat yang
menghubungkan mikroangiopati diabetikum yang berkaitan dengan neuropati dengan
terjadinya NLD. Biopsi kulit dapat dilakukan untuk mengkonfirmasikan diagnosis.
Pemeriksaan histopatologi menunjukkan reaksi inflamasi granulomatous sekitar kolagen
yang hancur. Hal ini dikenal sebagai necrobiosis atau collagenolyis.
Terapi pada NLD ditujukan untuk menghambat perkembangan proses
penyakit. Terapi yang digunakan yaitu dengan steroid topical krim potensi tinggi atau steroid
intralesional injeksi pada daerah yang aktif. Krim steroid telah diketahui menyebabkan
penipisan kulit, jadi jika digunakan, yang terbaik adalah dengan membungkus daerah
dengan kain.
Dalam beberapa kasus resisten, aspirin, chloroquine (Aralen), dan siklosporin
( Sandimmune, Neoral) telah digunakan dengan beberapa keberhasilan.
Bagian bawah kaki harus dilindungi dari trauma. Pasien harus disarankan
untuk menghindari hal yang berpotensi menimbulkan trauma seperti olahraga tertentu dan
mereka harus mengenakan stoking selutut atau bantalan tulang kering untuk perlindungan.

Necrobiosis lipoidica dengan klinis berupa lesi bulat, oval


atau tidak teratur. Pusat patch menjadi mengkilap, pucat,
menipis, dengan pembuluh darah yang menonjol
(telangiectasia)

Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum, penyebabnya belum


diketahui diduga berhubungan dengan mikroangiopati
diabetikum

Necrobiosis lipoidica diperlukan pemeriksaan biopsi,


dengan gambaran histopatologik menunjukkan reaksi
inflamasi granulomatous sekitar kolagen hancur. Hal ini
dikenal sebagai necrobiosis atau collagenolyis.

Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum. Terapi yang


digunakan yaitu dengan steroid topical krim potensi tinggi
atau steroid intralesional injeksi

Granuloma Annulare
Bentuk lesinya berupa plaque anular yang berwarna merah seperti daging,
atau papul-papul berwarna merah kecoklatan dengan susunan bilateral dapat terjadi pada
tubuh bagian atas, leher, lengan, dan kadang pada kaki.
Etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti. Kelainan ini umumnya
terkena pada kulit anak-anak, remaja atau dewasa muda (usia kurang dari 30 tahun).
Keadaan ini juga ditemukan pada penyaki lain selain diabetes melitus.
Kelainan ini juga tidak spesifik untuk diabetes. Kondisi ini biasanya terlihat
pada orang sehat. Kadang-kadang, hal itu mungkin terkait dengan diabetes atau penyakit
tiroid.
Diagnosa dilakukan dengan biopsi untuk menentukan penyebab ruam. Biopsi
menunjukkan degenerasi necrobiotic karakteristik kolagen dermal dikelilingi oleh reaksi
inflamasi. Selain dengan biopsi, juga dilakukan pemeriksaan dengan KOH 10% untuk
membedakan antara annulare granuloma dan infeksi jamur.

Karena annulare granuloma biasanya tidak menimbulkan gejala, pengobatan


mungkin tidak dibutuhkan kecuali untuk alasan kosmetik. Terapi yang disarankan adalah
kortikosteroid intralesi dan topical (5 mg/mL acetonide triamcinolone) dan niacinemide 500
mg 3 kali dalam sehari, penggunaanya dimonitor karena dapat meningkatkan kadar gula
darah. Obat lain yang digunakan pada kasus yang lebih berat adalah dapsone dan
Psoralen-Ultraviolet A (PUVA) tiga kali dalam seminggu.

Granuloma annulare, dengan klinis lesinya berupa plaque


anular yang berwarna merah seperti daging, atau papulpapul berwarna merah kecoklatan dengan susunan bilateral

Granuloma annulare, dapat dicegah dengan melindungi


daerah-daerah dari matahari dengan membatasi paparan.
Dan didiagnosa dengan uji KOH dan biopsi

Granuloma Annulare, penyebabnya tidak diketahui dan


dijumpai pada kulit anak-anak, remaja atau dewasa muda.

Granuloma annulare on the elbow. Terapi dengan


kortikosteroid intralesi dan topical dan niacinemide

Bula Diabetikum
Diabetes bula, juga dikenal sebagai bullosis diabeticorum dengan adanya
bentuk lepuh blister yang besar, longgar, tanpa rasa nyeri dan non-inflammatoris, sering
terjadi pada ekstremitas bawah tapi terkadang juga bisa ditemui pada tangan dan jari.
Penyebab terbentuknya bula diabetikum belum diketahui secara pasti. Bula
biasanya muncul secara secara tiba-tiba dan kelainan ini bukan akibat dari trauma maupun
infeksi. Diabetes bula tampaknya lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dan terjadi
antara usia 17-84 tahun.
Sering terjadi pada pasien yang memiliki diabetes yang berlangsung lama,
diabetes type 1 atau dengan komplikasi diabetes ganda dengan neuropati perifer. Diagnosis
diferensial meliputi epidermolisis bulosa acquisita, porfiria cutanea tarda, bulosa pemfigoid,
bulosa impetigo, lecet koma, dan eritema multiforme.

Terdapat 2 tipe bula diabetikum yaitu intraepidermal dan subepidermal.


Bula intraepidermal terdiri dari cairan jernih, steril, nonhemorragik, dan umumnya sembuh
sendiri dalam waktu 2 sampai 5 minggu tanpa skar atropi. Tipe bula subepidermal memiliki
ciri yang sama dengan bula intraepidermal hanya saja kadang-kadang tipe subepidermal
berupa bula hemorragik dan penyembuhannya menimbulkan skar atropi.
Diabetes bula biasanya spontan sembuh dalam 2-6 minggu. Pengobatan
terdiri dari aspirating lecet dan menerapkan petroleum jelly atau salep antibiotik topikal untuk
mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah infeksi sekunder

Bullosis diabeticorum dengan klinis bentuk lepuh blister


yang besar, longgar, tanpa rasa nyeri dan noninflammatoris

Diabetic bullae, terdiri atas bentuk bula intraepidermal dan


bula subepidermal

Bula Diabetikum yang tanpak mengelupas. Bula atau


melepuh ini terjadi secara spontan pada kaki dan tangan
pasien diabetes. Biasanya pada diabetes kronis.

Bullosis Diabeticorum, biasanya dapat sembuh sendiri


tanpa pengobatan

KUTANEOUS INFEKSI PADA DIABETES MELLITUS

Neuropati sensorik, penyakit vaskular aterosklerotik, dan hiperglikemia semua


mempengaruhi pasien diabetes untuk terjadinya infeksi pada jaringan kulit dan soft tissue.

Pasien dengan diabetes yang berlangsung lama atau kronis cenderung memiliki
mikrovaskuler dan penyakit makrovaskular dengan perfusi jaringan yang dihasilkan miskin
dan peningkatan risiko infeksi. Selain itu, kemampuan kulit untuk bertindak sebagai
penghalang terhadap infeksi tidak terjadi akibat adanya neuropati diabetes sehingga

memungkinkan penderita tidak sadar telah terjadi cedera atau luka. Adanya Hiperglikemia
dan asidemia juga memperburuk gangguan dalam kekebalan humoral dan leukosit
polimorfonuklear
Beberapa infeksi kutaneus yang terjadi pada penderita diabetes melitus :

Infeksi Kandida
Diabetes mellitus dan infeksi kandidiasis adalah dua hal yang saling
berhubungan, dimana Diabetes mellitus dapat menyebabkan terjadinya infeksi kandidiasis
dan sebaliknya infeksi kandidiasis juga dapat memperparah keadaan Diabetes mellitus.
Oleh karena itu, penanggulangannya harus berkesinambungan.
Perlche adalah tanda klasik diabetes pada anak-anak, dan infeksi kandida
lokal dari alat kelamin perempuan (kandidiasis vulva-vaginalis), pada pria berupa Candida
balanitis, balanoposthitis, dan intertrigo dapat menyajikan petunjuk tanda-tanda memiliki
hubungan yang kuat dengan diabetes
Infeksi kandidiasis vulva-vaginalis merupakan masalah yang sering menimpa
wanita yang mengidap diabetes. Hal ini merupakan penyebab tersering timbulnya pruritus
vulva selama glukosuria. Klinisnya dapat berupa eritem pada vulva, yang dapat disertai
fissure dengan atau tanpa satelit pustul. Vaginitis biasanya ditunjukkan dengan adanya
discharge berwarna putih. Pengobatan tradisional melibatkan menormalkan gula darah,
mengobati baik vagina dan vulva dengan obat topikal. Karena pasien ini sering memiliki
reservoir Candida dalam usus besar, nistatin oral juga dapat diberikan. Pilihan lain untuk
kandidiasis vagina oral satu dosis 150 mg flukonazol.
Kandidiasis oral sering ditemukan pada penderita diabetes mellitus yang tidak
terkontrol. Secara klinis kandidiasi oral memberikan gambaran berwarna putih, ada bagian
eritematous, daerah dengan fissure terutama pada sudut mulut atau patch berwarna putih
pada buccal dan palatum.pengobatan mungkin tergantung pada normalisasi gula darah dan
penggunaan obat anti candida atau anti jamur.
Selain itu infeksi juga dapat terjadi pada kaki dan tangan, misalnya Candida
paronychia yang umumnya terjadi pada diabetes merupakan Candida paronychia kronik
dan biasanya melibatkan tangan tetapi mungkin terjadi pada kaki. Sering dimulai pada
lipatan kuku lateral tanpak eritema, bengkak, dan pemisahan lipat dari batas lateral kuku.
Infeksi lebih lanjut dapat mengakibatkan keterlibatan lipatan kuku proksimal dan pemisahan
kutikula dari kuku.
Dermatofitosis
Diabetes mellitus dikenal sebagai faktor predisposisi terjadinya infeksi
dermatofita meskipun hal ini tidak umum yang melibatkan kuku dan area intertriginosa.
Infeksi dangkal yang umum disebabkan oleh Trichophyton rubrum, T
mentagrophytes , dan Epidermophyton floccosum . Pada pasien diabetes, onikomikosis atau
tinea pedis perlu untuk dipantau dan dirawat, karena dapat menjadi pelabuhan masuk
kuman untuk infeksi. Hal ini terutama berlaku untuk pasien dengan komplikasi neurovaskular
dan intertrigo.
Gangren Pada Diabetes
Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan
pembuluh darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Gangren adalah kerusakan dan
kematian jaringan pada tubuh yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian tubuh yang
terkena terputus karena berbagai faktor. Ganggren diabetikum biasanya terlihat dijari kaki,
atau tangan, kadang-kadang ditempat yang terkena (daerah sacral dan trokhanter)
Ada tiga jenis gangren: gangrene kering, basah atau gas. Gangren kering
adalah salah satu yang paling sering mempengaruhi orang-orang dengan diabetes.

gangren kering terjadi karena kendala atau memperlambatnya aliran darah ke organ atau
bagian dari tubuh yang terpengaruh.
Adapun gejalanya berupa rasa sakit, dingin, jika ada luka sukar sembuh
karena aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Nadi kaki sukar diraba, kulit pucat
atau kebiru-biruan, kemudian dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian terinfeksi
dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena infeksi bisa menjalar
ke seluruh tubuh (sepsis).
Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan
emboli trombus kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan neuropati perifer.
Neuropati diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan autonom yang masing-masing
memegang peranan pada terjadinya luka kaki.
Faktor predisposisi terbentuknya gangren diabetikum ini adalah trauma
ringan, infeksi lokal, atau tindakan lokal (misalnya ekstraksi kuku). Gangren terutama terlihat
pada penderita yang berusia setengah tua atau lebih.
Gangren sering menyebar begitu cepat sehingga tidak dapat dihentikan
dengan antibiotik saja. Jaringan yang telah rusak oleh gangren tidak dapat diselamatkan,
oleh karena itu sebelum jaringan tersebut rusak atau mengalami kematian pengobatan
masih dapat dilakukan (dengan antibiotik), namun jika jaringan yang mengalami ganggren
atau kematian, maka tindakan debridemen dan amputasi merupakan langkah
penatalaksanaan yang di tempuh.

Gangren Pada Diabetes, merupakan ganggren kering

Gangren Diabetes, disebabkan adanya gangguan pembuluh


darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi

Gangrene Diabetes, merupakan dampak jangka lama


arteriosclerosis dan emboli trombus kecil

Gangrene Diabetes, pengobaannya dapat dengan


menggunakan antibiotik, dan jika terdapat jaringan
nekrotik , maka dilakukan nekrotomi dan debridemen.

Infeksi bakteri
Infeksi pyoderma seperti impetigo, folikulitis, carbuncles, furunkulosis,
ecthyma, dan erisipelas bisa lebih parah dan meluas pada pasien diabetes. Terapi terdiri
dari kontrol diabetes yang memadai dan, jika perlu, terapi antibiotik sistemik yang memadai,
infeksi lebih membutuhkan antibiotik intravena.
Beberapa infeksi bisa serius dan memerlukan perhatian segera medis
misalnya. carbuncles, yang merupakan infeksi bakteri mendalam folikel rambut (abses) dan
selulitis yang merupakan infeksi kulit yang mendalam. Selulitis sering muncul sebagai,
merah panas dan lembut pembengkakan kaki.
Erythrasma, disebabkan oleh Corynebacterium minutissimum , terjadi dengan
frekuensi yang meningkat pada pasien diabetes obesitas. Daerah intertriginosa adalah
tempat yang terkena dampak utama. Erythrasma klinisnya sebagai lesi eritoskuama, patch
hiperpigmentasi dengan perbatasan aktif. Dengan lampu Wood, fluoresensi karakteristik
karang terlihat. Pengobatan terdiri dari eritromisin topikal atau sistemik, atau keduanya.
Pencegahan berkeringat, gesekan maserasi, dan dapat membatasi kemungkinan terkena
infeksi ini
Infeksi pseudomonas, juga dapat nampak pada pasien diabetes, terutama
pada pasien yang tua. Biasanya infeksi yang terjadilah adalah Otitis eksternal maligna yang
merupakan infeksi saluran telinga eksternal oleh Pseudomonas, dengan gambaran klinis
berupa nyeri pada saluran telinga eksternal dan discharge purulen
MANIFESTASI LAPISAN DERMAL KULIT DIABETES MELLITUS

Diabetic Thick Skin (kulit tebal)


Berdasarkan banyak pengamatan, penderita diabetes memiliki kulit yang
lebih tebal daripada pasien non-diabetik. Ada 3 bentuk dari diabetik thick skin yaitu :
perubahan kulit seperti scleroderma pada jari dan punggung tangan yang berkaitan dengan
persendian ; gambaran klinis yang tidak tampak tapi penebalan kulit dapat diukur dan
dibandingkan dengan kontrol ; scleredema adult.
Penebalan kulit pada dorsum tangan terjadi pada 20% sampai 30% dari
semua pasien diabetes, terlepas dari jenis diabetes. Prevalensi sindrom tangan diabetes
bervariasi dari 8% menjadi 50%, ini dimulai dengan kekakuan sendi interphalangeal
metacarpophalangeal dan proksimal dan berkembang untuk membatasi mobilitas sendi.
Duyputen contracture (atau penebalan fasia palmaris) lebih lanjut dapat mempersulit
sindrom tangan diabetes.
Diabetic thick skin syndrome, secara klinis tampak sebagai pengerasan kulit,
dikaitkan dengan diabetik neuropathy, dan terjadi secara independent tidak tergantung pada
tingkat keparahan penyakit yang mendasarinya, usia pasien, atau regimen terapi.
Bertentangan dengan pola non-penderita diabetes, ketebalan kulit dapat meningkatkan
dengan usia
Skleredema pada Diabetes.
Skleredema adultorum pada diabetes merupakan sindrom yang di tandai
dengan adanya penambahan ketebalan kulit terutama pada bagian punggung dan leher
pada penderita paruh baya, kelebihan berat badan, yang tidak mengontrol dengan baik
diabetes tipe II nya.
Scleredema diabeticorum ditandai dengan penebalan dari kulit leher posterior
dan punggung atas, kadang-kadang meluas ke daerah deltoid dan lumbar, sering dengan
penurunan sensitivitas terhadap rasa sakit dan sentuhan. Scleredema terjadi pada 2,5%
sampai 14% dari penderita diabetes dan kadang-kadang sulit dibedakan dengan
scleredema karena penyakit Buschke, yang merupakan gangguan langka di mana daerah

penebalan kulit terjadi, terutama pada wajah, lengan, dan tangan, sering setelah infeksi
saluran pernapasan atas. Tidak ada pengobatan yang efektif dikenal untuk scleredema
diabeticorum.

Yellow Skin (Kulit kuning)


Orang dengan diabetes sering memiliki rona kuning pada kulit, yang biasanya
sering terlihat pada telapak tangan dan telapak kaki, karena pada daerah-daerah tersebut
jarang pigmen melanocytic.
Akibat berkurangnya kemampuan metabolisme hepatic dari karotenoid,
sekitar 10 % dari penderita diabetes yang kronik mengalami perubahan warna kulit
kekuning-kuningan (yellowish discoloration) yang dikenal sebagai aurantiasis.
Namun ada juga pendapat bahwa salah satu kemungkinan penyebab kulit
kuning mungkin glikosilasi produk akhir. Hal ini diketahui bahwa protein yang memiliki waktu
perputaran yang lama, seperti kolagen kulit, menjalani glikosilasi dan menjadi kuning. Suatu
produk glikosilasi canggih yang telah diidentifikasi, 2 - (2-furoyl) -4 (5) - (2-furanil)-1Himidazol, dimana produk ini memiliki rona kuning yang jelas.
VASKULAR MANIFESTASI DARI DIABETES MELLITUS

Diabetes angiopathy
Angiopati diabetik merupakan bentuk angiopathy berhubungan dengan
diabetes mellitus. Angiopathy sendiri adalah istilah umum untuk penyakit dari pembuluh
darah (arteri , vena , dan kapiler ). Diabetes angiopaty merupakan komplikasi kornis dari
diabetes melitus
Ada dua jenis angiopathy: macroangiopathy dan microangiopathy
Makroangiopati
Makroangiopati merupakan angiopathy pembuluh darah
besar . Penderita diabetes memiliki insiden dan prevalensi yang lebih tinggi pada penyakit
pembuluh darah besar, dan memungkinkan terjadinya infark miokard dan stroke pada usia
yang jauh lebih muda daripada non-diabetes
Kelainan pembuluh darah besar (atherosclerosis) juga dapat
terjadi pada ekstremitas bawah dan mengakibatkan atropi kulit, kerontokan rambut, dingin
pada kaki, distropi kuku, dan lain-lain. Risiko relatif penyakit pembuluh besar dalam populasi
yang paling tinggi untuk perempuan daripada laki-laki pada penderita diabetes
Langkah pertama untuk terjadinya makroangipathy adalah
rusaknya sel endotel oleh karena pengaruh lemak atau oleh karena pengaruh tekanan
darah. Keadaan ini diikuti oleh melekatnya dan berkumpulnya sel-sel platelet. Kejadian ini
berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan non diabetes. Platelet ini mempunyai
pengaruh stimulasi terhadap proliferasi otot polos. Sel otot dari tunika media akan
berproliferasi kedalam tunika intima dan kedalam lumen dari pembuluh Clot ataupun
plaque yang terbentuk akan terdiri dari deposit-deposit lemak, platelets, dan sel otot.
Mikroangiopati
Mikroangiopati merupakan komplikasi kronik yang mengenai
pembuluh darah kecil (arteri kecil, arteriola, venula dan kapiler). Klinisnya dapat berupa
hemorragik, eksudat, devaskularisasi pada area yang terkena.
Lesi yang terutama pada angiopathy dan merupakan tanda
dari diabetik vascular disease adalah penebalan dari membrana basalis kapiler. Penebalan
ini semakin nyata bila perjalanan penyakit diabetes semakain lama, dan mungkin ada
hubungan dengan tingkat kontrol terhadap gula darah, walaupun penyataan ini masih
memerlukana penelitian lebih lanjut. Sebagian besar pembuluh darah mengalami penebalan
membrana basalis. Patologis yang pasti tentang terjadinya penebalan membrana basalis ini

belum diketahui. Tetapi telah dapat ditunjukkan bahwa membrana basalis yang menebal ini
permaebilitasnya meningkat terhadap cairan dan protein. Hal ini akan menghalangi
masuknya leukosit lebih jauh ke dalan cairan interstitial dan akan menyebabkan
menurunnya pertahanan terhadap infeksi bakteri. Selain itu juga penebalan membran
basalis pembuluh darah ini juga akan menyebabkan terjadinya stenosis aliran darah, yang
akibatnya akan menyebabkan kondisi iskemik dan berakhir pada nekrosis jaringan
sekitarnya.
Keadaan pada diabetes melitus yang berhubungan dengan
penyakit mikrovaskuler menyebabkan kebutaan (diabetik retinopaty), gagal ginjal (diabetik
nefropati), dan neuropati,
Williamson menyatakan bahwa hanya satu mekanisme untuk terjadinya
angiopathy, baik makroangiopathy ataupun mikroangiopathy, yaitu meningkatnya
permeabilitas membran dari pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil.
Forsham menyatakan bahwa akibat langsung dari hiperglikemia yang
berlama-lama akan mengakibatkan terjadinya penebalan pada membrana basalis pada otototot kapiler baik pada skeletal maupun pada coronary capiler.
Red Skin and Rubeosis Facei
Rubeosis facei merupakan keadaan dimana di jumpai kulit muka dan daerah
mata yang memerah atau flushed face yang di jumpai pada sekitar 3% to 59% dari
penderita diabetes melitus.
Kemerahan pada kulit wajah dan daerah mata yang dikenal dengan rubeosis
facei ini terjadi karena pembengkakan atau dilatasi dari pleksus vena dangkal atau vena
superfisial akibat dari microangiopathy fungsional(viskositas darah meningkat). Karena
variasi normal dalam kulit, tanda ini sulit untuk digunakan sebagai penanda microangiopathy
fungsional. Pada orang pirang dan berambut merah kulitnya akan lebih berwarna merah
karena pada kulit orang tersebut jumlah melainnya sangat sedikit sehingga mengaburkan
eritema atau kemerahan yang muncul.
Warna kemerahan pada kulit wajah ini selain mungkin disebabkan oleh
microangiopathy fungsional, juga karena efek sensitivitas matahari, atau dehidrasi. Kontrol
Ketat glukosa mungkin memperbaiki penampilan rubeosis facei, karena tidak ada
pengobatan yang spesifik untuk keadaan ini.
Pigmented Purpura
Purpura diabetikum adalah suatu kondisi kulit pada ekstremitas bagian
bawah yang merupakan hasil dari ekstravasasi sel darah merah dari pleksus vascular
superficial.
Kelainan ini ditandai dengan macula kecil sampai patch, multiple yang
berwarna coklat kemerahan sampai orange. Kelainan ini sering diderita pada pasien diabetik
usia tua.
Diperkirakan bahwa sekitar satu-setengah dari orang dengan kondisi ini juga
memiliki dermopathy diabetes. Dalam sebagian besar pasien, dekompensasi jantung
dengan edema pada kaki diperkirakan menjadi faktor pencetus bagi purpura.
Periungual telangiectasia
Penyakit mikrovaskuler adalah komplikasi utama dari diabetes mellitus. Pada
tingkat kapiler, hal ini dapat disebabkan masalah struktural (dinding kapiler misalnya
menebal) dan masalah fungsional (viskositas darah meningkat).
Periungual telangiectasia adalah warna kemerahan disekitar daerah lipatan
kuku, dimana warna merah itu disebabkan oleh darah yang terdapat didalam pembuluh
darah akibat kapiler yang berdilatasi / teleagiectasia yang dekat dengan permukaan kulit
pada daerah lipatan kuku

Lesi dari telangiectasia periungual, muncul sebagai merah, melebar atau


dilatasi kapiler, yang mudah terlihat dengan mata telanjang dan merupakan hasil dari
hilangnya loop kapiler dan pelebaran kapiler yang tersisa. Periungual telangiectasia lebih
banyak dijumpai pada penderita Diabetes melitus type I.
Dilatasi Vena mikrosirkulasi periungual tampaknya menjadi indikator yang
sangat baik terjadinya microangiopathy fungsional (viskositas darah meningkat). Perubahan
struktural daerah ini mungkin diwakili oleh tortuositas (gambaran berkelok-kelok) vena.
Penyakit Jaringan ikat juga dapat melibatkan telangiectases periungual,
meskipun lesi secara morfologis berbeda. Dalam diabetes, telangiectasia periungual sering
dikaitkan dengan eritema kuku lipat, disertai dengan nyeri jari dan "regged" kutikula.
Erupsi Xanthoma
Xanthoma diabetikorum tampak sebagai papul bulat berwarna kuning
kemerah-merahan dan kadang- kadang disertai talangikekstatis atau dilatasi kapiler serta
dapat menimbulkan rasa gatal. beberapa xanthomas bisa bergabung dan membentuk
xanthomas tuberous
Kondisi ini dapat terjadi ketika trigliserida yang kaya lipoprotein naik ke tingkat
yang sangat tinggi. Resistensi terhadap insulin yang parah membuat sulit bagi tubuh untuk
membersihkan lemak dari darah.
Tempat predelesinya ialah bokong, siku, dan lutut. xantoma terutama terlihat
pada wanita berusia 20-50 tahu dengan obesitas. Trauma merupakan fakor predisposisi.
Erupsi Xanthoma terjadi pada 0,1% dari pasien diabetes. Fitur histologis
utama adalah pembentukan sel busa dalam dermis superfisial yang dicampur dengan
infiltrat limfositik dan neutrophilic.
Pengobatan untuk erupsi xanthomatosis terdiri dari mengendalikan tingkat
lemak dalam darah. Letusan kulit akan hilang selama beberapa minggu. Obat yang
mengendalikan berbagai jenis lemak dalam darah (obat penurun lipid) mungkin juga
diperlukan.
Xanthelasma
Xanthelasma merupakan bentuk xanthoma yang paling sering dijumpai.
Xanthelasma adalah kumpulan kolesetrol di bawah kulit dengan batas tegas berwarna
kekuningan biasanya di sekitar mata seperti benjolan, sehingga sering disebut xanthelasma
palpebra.
Xanthelasma atau plaque kekuningan yang sering ditemukan di dekat
canthus bagian dalam kelopak mata, terutama sering ditemukan di kelopak mata atas
daripada di kelopak mata bawah. Benjolan tersebut berwarna kuning atau putih, berbentuk
datar atau bergelombang dan lembut jika disenntuh.
Selain pada mata, mereka dapat ditemukan pada, lutut siku, dan telapak
tangan. Xanthelasma mungkin terlihat seperti jerawat, tetapi ketika ditekan tidak ada nanah
yang keluar.
Xanthelasma tersusun atas sel-sel xanthoma. Sel-sel ini merupakan histiosit
dengan deposit lemak intraseluler terutama dalam retikuler dermis atas. Lipid utama yang
disimpan pada hiperlipidemia dan xanthelasma normolipid adalah kolesterol. Kebanyakan
kolesterol ini adalah yang teresterifikasi.
KELAINAN KUKU PADA DIABETES MELLITUS

Oychomycosis dan paronikia


Kelainan pada kuku biasanya berupa oychomycosis dan paronikia biasanya
ditemukan ditangan tapi juga dapat ditemukan pada kaki. Infeksi biasanya mulai pada
daerah lateral kuku sebagai eritem, bengkak, dan terpisah antara pinggiran kuku ke bagian

lateral kuku. Kemudian infeksi lebih lanjut memberikan gambaran pada kuku bagian
proksimal dan memisahkan antara kutikula dan kuku. Adanya pelembab yang terperangkap
pada celah-celah tadi mengakibatkan jamur tumbuh semakin pesat dan memperberat
inflamasi yang terjadi. Pada saat itu dapat terbentuk discharge purulen di tempat tersebut.
diagnosa infeksi jamur dapat ditegakkan dengan pengambilan sample discharge lalu
dilakukan pengecatan dengan KOH.

Yellow nails atau kuku kuning


Pasien lansia diabetes tipe 2 cenderung memiliki kuku kuning. Prevalensi
dari kuku kuning akibat diabetes 40% sampai 50% pada pasien dengan diabetes tipe 2 telah
dilaporkan, tetapi kadang-kadang kuku kuning juga ditemukan pada orang lanjut usia normal
(tanpa diabetes) dan pada pasien dengan onikomikosis, jadi ini bukan kelainan spesifik dari
diabetes.
Perubahan warna kuning pada diabetes paling jelas di ujung distal dari kuku
hallux. Terjadinya kuku kuning ini mungkin berhubungan dengan produk akhir dari glikosilasi,
mirip dengan proses terjadinya warna kuning pada kulit diabetes, meskipun hal ini belum
dikonfirmasi ataupun bisa juga berhubungan dengan gangguan mikrosirkulasi ke kuku dan
matriks kuku.
MANIFESTASI KUTANEUS DARI KOMPLIKASI DIABETES

Diabetic foot atau kaki diabetes


Kaki diabetik adalah kelainan pada tungkai bawah yang merupakan
komplikasi kronik diabetes mellitus. Suatu penyakit pada penderita diabetes pada bagian
kaki, terjadi karena terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat membedakan suhu panas
dan dingin, rasa sakit pun berkurang. Diabetes yang menderita neuropati dapat
berkembang menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan yang tidak disadari akibat
adanya insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani, maka akibatnya dapat terjadi
komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi
Kaki diabetik disebabkan oleh neuropati ( berkurangnya sensasi rasa nyeri
setempat), sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel pembuluh
darah (Angiopaty) dan berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Selain ketiga faktor
diatas,ada faktor lain lain yang merupakan faktor resiko terjadinya kaki diabetes, yaitu :
Faktor risiko demografis (usia, jenis kelamin, etnik, situasi sosial ), Faktor risiko
perilaku (ketrampilan manajemen diri sendiri sangat berkaitan dengan adanya komplikasi
kaki diabetik. Ini berhubungan dengan perhatian terhadap kerentanan.) Faktor risiko lain
(Ulserasi terdahulu (inilah faktor risiko paling utama dari ulkus), Berat badan, Merokok
Diabetic gustatory sweating
Diabetic gustatory sweating adalah suatu keadaan patologik yang ditandai
dengan keluarnya keringat yang berlebihan saat makan yang tidak berhubungan dengan
udara panas ataupun akibat makanan yang pedas, keadaan ini disebabkan karena adanya
kerusakan pada urat syaraf di area wajah karena degenerasi aksonal saraf. Urat syaraf
menjadi terlalu sensitif dalam menerima rangsangan dan menghasilkan keringat yang
membanjir setiap kali makan.
Diabetic gustatory sweating ditandai dengan keringat seperti mengalir tanpa
henti dari wajah, leher, dan area batas tumbuh rambut di kepala. Keadaan ini berhubungan
dengan neuropaty dan nefropaty.
Pengobatan yang efektif terdiri dari antikolinergik oral, clonidine, dan topikal
glycopyrrolate. Gustatory sweating diabetic mungkin dapat mengatasi transplantasi
postrenal menunjukkan adanya etiologi peran nefropati.
Oral Lichen planus

Oral lichen planus merupakan penyakit inflamasi kronik yang terkait immune
dimana etiopathologinya belum diketahui secara pasti. Faktor seperti stres, latarbelakang
genetik, beberapamaterial dental, obat-obatan, agen penginfeksi, atau kaitannya dengan
kelainan system immune dikatakan sebagai pencetus dari lesi ini
Hubungan antara diabetes dan lichen planus khususnya oral lichen planus
telah banyak diteliti. Namun, sebagian besar studi dilakukan untuk meneliti prevalensi dari
diabetes milletus pada pasiendengan lichen planus namun tidak untuk sebaliknya. Selain itu
banyak penelitian yang dibuat tanpa membedakan tipe diabetesnya. Dalam satu studi yang
dilakukan oleh Petrou-Amerikanou et al didapatkan bahwa prevalensi oral lichen planus
lebih banyak ditemui pada pada pasien diabetes tipe 1dibanding control, namun tidak pada
pasien diabetes tipe 2.
Secara klinis, oral lichen planus terlihat dalam bentuk garis putih retikular.
Secara klinis dan histopatologis lichen planus dan lesi lichenoid akibat reaksi obat sangat
sulit untuk dibedakan, meskipun demikian sejumlah besar eosinofil, parakeratosis dan
inflamasi perivaskuler di sekitar bagian tengah dan dalam pleksus kulit terlihat pada lesi
lichenoid akibat reaksi obat dan pada umumnya tidak pada lichenplanus.
Lesi oral lichen planus biasanya bilateral, dan atropic serta lesierosinya
biasanya sensitive dan terasa sangat sakit. Lesi ini lebihsering terlihat pada mukosa bukal,
lidah dan gingival serta jarang sekali terjadi di palatum, mukosa bibir,dan dasar mulut.
KOMPLIKASI KULIT AKIBAT PENGOBATAN DIABETES MELITUS

Sulfonilurea yang hipoglikemik


Obat ini dapat menimbulkan reaksi alergi, misalnya pruritus, eritema, urtika,
bahkan dermatitis generalisata dengan debris. Biasanya reaksi timbul setelah 2-3 pekan.
Kadang-kadang timbul foto-sensitisasi (foto-dermatitis bulosa) atau purpura.
Generasi pertama sulfonil urea.
Kebanyakan reaksi kulit terhadap obat hipoglikemik oral telah
dilaporkan dengan generasi pertama sulfonilurea (misalnya, klorpropamid, tolbutamid
[Orinase]).
Antara 1% dan 5% dari pasien yang meminum generasi pertama
sulfonilurea mengalami reaksi kulit dalam 2 bulan pertama pengobatan. Letusan
makulopapular adalah reaksi yang paling umum dan sering menghilang dengan
penghentian obat. Reaksi kulit lainnya adalah eritema umum, urtikaria, erupsi lichenoid,
eritema multiforme exsudativum, dermatitis eksfoliatif, eritema nodosum, dan reaksi
fotosensitifitas.
Generasi kedua sulfonil urea
Generasi kedua sulfonilurea seperti Glipizide (Glucotrol) dan
glimepiride (Amaryl) juga telah dikaitkan dengan reaksi kulit. Reaksi yang paling sering
dikaitkan dengan Glipizide yaitu photosensitivity, ruam, urtikaria, dan pruritus. Ini dilaporkan
kurang sering terjadi pada glimepiride.
Senyawa Biguanidin
Obat ini dapat menyebabkan reaksi-raksi dermatologik, tetapi jauh lebih
jarang daripada reaksi-reaksi dalam alat cerna.
Insulin
Obat ini dapat menyebabkan lipodistrofi, obesitas, reaksi-reaksi alergik
(biasanya urtika) atau kadang-kadang juga keloid. Lipodistrofi hipertrofi menimbulkan
penonjolan yang menyerupai lipoma tidak nyeri. Penonjolan akan menghilang dalam
beberapa pekan atau bulan, bila pemberian insulin dihentikan. Lipodistrofi atrofik tampak
sebagai kulit yang lekuk dan atrofik. Kelainan tersebut jarang mengalami regresi spontan.

Alergi insulin mungkin bersifat lokal atau sistemik dan biasanya terjadi dalam
bulan pertama dari terapi insulin. Gambaran alergi lokal berupa Eritematosa atau nodul
pruritus, urtikaria pada tempat suntikan, mungkin muncul segera, dalam 15 menit sampai 2
jam setelah injeksi, atau tertunda dengan onset 4 atau lebih jam setelah injeksi. Gambaran
reaksi alergi sistemik insulin dapat berupa utikaria umum dan jarang terjadi syok anafilatik.
Pada alergi lokal biasanya tidak memerlukan pengobatan karena resolusi spontan,
sedangkan alergi sistemik dapat diatasi dengan penghentian insulin untuk bentuk lain dari
terapi atau mungkin memerlukan desensitisasi.

Metformin (Glucophage)
Obat antihyperglycemic biguanide-derivatif, adalah obat pilihan pertama oral
pasien diabetes tipe 2. Efek samping yang dilaporkan termasuk Dermal psoriatiform erupsi
obat, eritema multiforme exsudativum, dan vasculitis leukocytoclastic. Pedoman Obat
Letusan Litt ini memberikan risiko reaksi fotosensitifitas terhadap metformin sebagai 1%
sampai 10% tapi tidak ada referensi untuk mengutip pernyataan ini. Eritema, eksantema,
pruritus, urtikaria dan juga telah dilaporkan sebagai efek samping dari metformin.

Acarbose (Precose)
Acarbose (Precose) adalah obat yang minimal diserap dari usus: hanya
sekitar 1% dari dosis mencapai aliran darah, dengan demikian jarang menyebabkan efek
samping.
menurut penelitian melaporkan kasus acarbose menyebabkan terjadinya
eritema multiforme. Obat-induced stimulasi limfosit dan uji tes patch untuk acarbose negatif.