Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak aplikasi PLC dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam bidang
industri dan pabrik. PLC banyak digunakan untuk mengendalikan suatu alat
agar melakukan sesuatu yang sesuai dengan kontrol yang diberikan oleh
operator. Kontrol tersebut seperti pengaturan waktu, penghitungan, dan lainlainya yang disusun dalam satu rangkaian yang saling terhubung. Pengaturan
waktu dalam PLC menggunakan Time On/Off sedangkan penghitungan
dilakukan

oleh

sebuah

counter

(piranti

pencacah)

memungkinkan

dilakukannya pencacahan atau (penghitungan) terhadap sejumlah sinyal input.


Misalnya dalam suatu program PLC yang digunakan untuk menghitung
jumlah orang yang masuk, barang yang akan dimasukkan ke dalam kotak dan
sebagainya. Counter-counter yang digunakan dalam penerapan-penerapan
semacam ini tersedia sebagai komponen yang terbentuk (built in) di dalam
PLC. Dengan pentingnya PLC dalam aplikasi counter serta dapat diterapkan
pada pelatihan dasar PLC pada mata kuliah Praktek Pemrograman Logic
Control di Politeknik Negeri Sriwijaya, maka penulis sebagai mahasiswa
teknik elektronika membuat Aplikasi Gabungan Rangkaian Time On/Time OF
dan Counter Up/Down menggunakan PLC.
1.2 Capaian Pembelajaran
1. Capaian Pembelajaran Umum
- Mahasiswa memiliki ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan dan
mempunyai sikap kerja yang diperlukan untuk mengidentifikasi,
menjelaskan karakteristik dan menjalankan program atau Ladder
Diagram untuk fungsi-fungsi logika AND, OR, NOR, NAND, NOT,
-

dan XOR.
Mahasiswa mampu mengembangkan Ladder Diagram yang melibatkan
penggunaan relay internal, latching, timer, counter dan piranti

penanganan data PLC.


2. Capaian Pembelajaran Khusus

Mengetahui aplikasi gabungan rangkaian time on/off dan counter

up/down.
Mengetahui prinsip kerja gabungan rangkaian time on/off dan dari
counter up/down PLC.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Time On dan Time Off
2

Perangkat lunak proses yang umum digunakan setelah kontak dan coil adalah
timer (pengatur waktu). Di dalam banyak aplikasi kontrol, pengontrolan waktu
adalah sesuatu yang dibutukan. Sebagai contoh, sebuah motor atau pompa
mungkin harus dikonrol untuk beroperasi selama interval waktu tertentu, atau
mungkin diaktifkan setelah berlalunya suatu periode waktu tertentu. Itulah
sebabnya, PLC dilengkapi dengan timer untuk mendukung kebutuhan ini. Timer
mengukur (atau menghitung) waktu dalam satuan detik atau sepersekian detik
dengan menggunakan piranti clock internal CPU. Fungsi timer yang paling umum
adalah TIMER ONDELAY (TON) yang merupakan fungsi dasar. Ada beberapa
bentuk konfigurasi timer, yang diperoleh dari pengembangan fungsi TON, PLC
mempunyai banyak kemampuan untuk memanipulasi fungsi timer. Fungsi dasar
yang kedua adalah TIMER OFF DELAY (TOFF).
Timer on-Delay dapat digunakan untuk membentuk sebuah timer off-Delay.
Dengan konfigurasi semacam ini, ketika terdapat input seketika ke In 1, output
Out I dan timer keduanya menjadi aktif. Karena input dikunci(latched) oleh
kontak-kontak timer yang normal tertutup membuka dan mematikan output.
Dengan demikian, operasi dimulai dengan keadaan output yang aktif dan tetap
aktif hingga waktu delay berlalu.
Sejumlah PLC dilengkapi dengan, selain timer on-delay, timer off-delay
secara built in dan oleh karenanya, pengguna time on delay untuk menghasilkan
timer off delay tidak lagi diperlukan. Perhatikan bahwa pada pabrikan LG, timer
diperlukan sebagai sebuah komponen tunda pada sebuah anak tangga, ketimbang
sebagai sebuah relay. Pada simbol terdapat di dalam gambar kotak yang
mempresentasikan

timer, angka

diletakkan

sebelum

huruf

yang

mengindikasikan bahwa timer yang bersangkutan adalah timer off-delay.


Sebagai ilustrasi penggunaan sebuah timer off-delay, perhatikanlah
program Allan Bradley yang diperlihatkan pada gambar di bawah. 10F
dipergunakan untuk mengindikasikan bahwa timer yang digunakan adalah timer
off-delay, dan bukannya timer on-delay (TON). Basis waktu ditetapkan pada 1:0
yang adalah 1 detik. Preset ditetapkan pada nilai 10sehingga waktu preset timer
adalah 10 detik. Paa anak tangga pertama, output timer dihasilkan oleh kontakkontak EN (dan kata enable) yang berarti tidak terdapat delay antara terjadinya

input 1:012/01 dan output dan EN. Sebagai akibatnya, kontak-kontak EN pada
anak tangga 2 menutup seketika setelah input diberikan ke 1:012/01. Sehingga,
terdapat sebuah output dan 0:013/01 seketika setelah input 1:012/01 diaktifkan.
Kontak-kontak TT (dan kata timer-timing) pada anak tangga 3 diaktifkan segera
setelah timer berjalan. Karena timer ini adalah timer off-delay, timer dimulai
dalam keadaan menyala setelah 10 detik sebelum akhirnya menjadi mati.
Sehingga, kontak-kontak IT akan menutup ketika waktu preset 10 detik dimulai.
Akibatnya output 0:012/02 berada dalam keadaan aktif selama 10 detik. Kontakkontak DN (dan kata done), yang normal tertutup, membuka seelah 10 detik
sehingga menjadikan output 0:013/03 aktif setelah waktu 10 detik berlalu.
Kontak-kontak DN, yang normal terbuka, menutup setelah 10 detik dan dengan
demikian output 0:013/04 mati setelah 10 detik berlalu.
Gambar 1.
Penerapan timer
off-delay
Fungsi timer yang perlu diketahui selain dari tipe TON dan TOF, ada
beberapa tipe fungsi timer diantaranya:
1. Timer satu input
Timer satu input disebut non-retentive timer, digunakan dalam
beberapa PLC, ditunjukan dalam gambar 2 bila IN001 diberi energi maka
kontak akan tertutup, maka timer TS017 akan mulai menghitung untuk 4
detik, setelah 4 detik output akan ON. Jika IN001 energinya hilang dan
kontak terbuka, maka timer akan mereset kembali seperti kondisi awal dan
output akan OFF. Bilamana IN001 terbuka diantara interval waktu
(misalnya pada saat 2 detik) maka timer akan mereset kembali menjadi
nol.

Gambar 2. Timer Satu Input


2. Timer Dua Input
Tipe timer satu input mempunyai kelemahan yaitu kembali mereset
pada saat input kehilangan energi. Gambar 3 dibawah ini adalah tipe
dengan dormat blok, dilengkapi dengan line enable/reset, timer akan
bekerja apabila diberi energi. Apabila energi hilang akan tetap menghitung
samapi nol atau reset pada saat nol. Line IN001 menyebabkan timer
berjalan, ketika enable, bilamana input enable kehilangan energi timer
akan bekerja sampai 0 dan berhenti tidak mereset 0, catatan, ketika IN001
terbuka dan IN002 tertutup timer serupa dengan gambar 2 contoh lain,
IN002 tertutup, IN001 diatur ON setelah 6 detik, IN001 terbuka atau Off,
timer mempertahankan hitungan ke 6, tidak mencapai hitungan yang
ditetapkan 14 detik, dan output timer masih tetap OFF, timer tidak akan
mereset kecuali IN002 terbuka, apabila IN001 kembali ON, hitungan
dimulai sampai ke 8 dan output timer akan ON.

Gambar 3. Format Blok Dengan Dua Input


Gambar 3 dengan diagram format coil, keduanya memiliki input
masukan energi dan input reset/enable, merupakan pilihan lain, IN 7 untuk
pengatur waktu RT31=RN, dan IN8 enable RT31=RS, ketika timer

menjadi ON, output 31 (internal) mengatur output 78 menjadi ON.


Perhitungan dalam register tidak digambarkan, di dalam beberapa PLC
nilai preset waktu sudah tetap misalnya timer 5 detik, timer 10 detik dst.

Gambar 4. Format Coil


Gambar 5 menunjukkan timer dengan tiga input dimana input
reset/enable dipisah masing-masing memiliki saluran input yang berbeda,
ini banyak digunakan pada kasus-kasus khusu. Ilustrasi gambar
merupakan timer untuk kasus spesial, dimana line reset dan enable
terpisah menjadi dua, konfigurasi ini digunakan untuk program spesial
pengaturan kebutuhan yang tersedia.

Gambar 5. Format Blok Dengan Pemisahan Enable Reset


3. Timer yang bersifat menyimpan RTO (Retentive Timer ON)
Timer RTO dibuat tetap mempertahankan nilainya, ini berarti
bahwa walaupun kondisi input dimatikan (Off) nilai terakhir yang masuk
dalam timer akan disimpan (retentive), sehingga bila input diaktifkan lagi
6

(ON), maka timer akan mulai menghitung dari nilai terahir pada saat timer
dimatikan. Gambar 6.a menunjukkan diagram ladder RTO, bilamana input
1:012 ON, timer mulai menghitung dengan nilai menambah, setiap 1 detik
pada T4:10, apabila input 1:012 Off pada hitungan ke 40, maka angka
terakhir akan disimpan. Bilamana 1:012 On kembali hitungan dilanjutkan
mulai dari nilai 40 sampai selesai 180, dan timer direset, senadainya pada
hitungan 120 direset maka timer dianggap selesai menghitung kembali 0.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 6.b.
(a)
(a)
(a)
(a)
(a)
(a)
Diagram Ladder RTO
(b) T
i
m
i
n
g

Diagram RTO
Gambar 6. Retentive Timer ON (Allen Bradley format)
2.1.2 Counter Up dan Counter Down

Counter

merupakan

rangkaian

logika

pengurut,

karena

counter

membutuhkan karakteristik memori, dan pewaktu memegang peranan yang


penting. Counter digital mempunyai karakteristik penting yaitu sebagai berikut:
Counter Up adalah rangkaian flip-flop yang dihubungkan secara seri dengan
cara output flip-flop yang pertama menjadi input flip-flop berikutnya. Pulsa dari
clock menjadi input untuk flip-flop yang pertama dan akan menyebabkan
perubahan pada kondisi output untuk saat yang di kehendaki. Counter Up ini
berfungsi untuk menghitung secara maju.
Counter Down adalah serangkaian flip-flop yang dihubungkan secara sepi
dengan cara output flip-flop yang pertama menjadi input flip-flop berikutnya.
Pulsa dari clock menjadi input untuk flip-flop yang pertama dan akan
menyebabkan perubahan pada kondisi output untuk saat yang dikehendaki.
Counter Up ini berfungsi untuk menghitung secara mundur.
Sebagaimana dengan rangkaian sekuensial yang lain, menyusun counter
digunakan flip-flop. Counter dapat digunakan untuk menghitung banyaknya
clock-pulsa dalam waktu yang tersedia (pengukuran frekuensi), Counter dapat
juga digunakan untuk membagi frekuensi dan menyimpan data.
Ada dua macam counter, yaitu Asinkronous Counter dan Sinkronous Counter.
Sinkronous Counter disebut uga Ripple Through Counter atau Counter Serial
(Serial Counter), karena output masing-masing flip-flop yang digunakan akan
berubah kondisi dari 0ke1 dan sebaliknya secara berurutan, hal ini disebabkan
karena flip-flop yang paling ujung dikendalikan oleh sinyal clock, sedangkan
sinyal clock untuk flip-flop lainnya berasal dari masing-masing flip-flop
sebelumnya. Sedangkan pada Counter sinkron, output flip-flop ynag digunakan
bergantian secara serempak. Hal ini disebabkan karena masing-masing flip-flop
tersebut dikendalikan secara serempak oleh sinyal clock. Oleh karena itu Counter
Sinkron dapat pula disebut sebagai Counter parallel (Parallel Counter).
Counter pada PLC.
Pada PLC Cara kerja dari Counter dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 7. Prinsip kerja counter


Counter dalam PLC bekerja seperti halnya counter mekanik atau
elektronik, yang mana membandingkan nilai yang terkumpul dengan nilai setting,
hasil perbandingan digunakan sebagai acuan keluaran.
Counter terdiri dari dua elemen dasar yaitu kumparan relay untuk
menghitung pulsa-pulsa input dan kumparan relay untuk mengembalikan counter
ke posisi awalnya (reset), sedangkan kontak-kontak yang diasosiasikan dengan
counter berada pada anak tangga lainnya.

Gambar 8. Program Counter Sederhana


Ketika terdapat sebuah input ke ini, counter akan kembali ke keadaan
awalnya (reset). Ketika terdapat sebuah input ke In2, counter mulai menghitung
misalnya 10 pulsa input maka setelah pulsa input diterima oleh In2 kontak-kontak
counter akan menutup dan akan dihasilkan sebuah output I.
2.1.2.1 Penerapan Counter
Ketika sebuah pulsa input ke X400 maka kedua counter akan melakukan
reset. Input ke X400 dapat dihasilkan oleh sakelar tombol tekan yang digunakan
untuk menghidupkan ban berjalan. Input yang dihitung adalah X401.
Input ini dapat berupa pulsa input yang diberikan oleh sebuah sensor sel
cahaya yang mendeteksi lewatnya kaleng-kaleng ketika bergerak pada ban
berjalan.
C460 mulai menghitung segera setelah X400 menutup sekejap. Ketika
C460 telah menghitung 6 kaleng, counter akan menutup kontak-kontaknya
sehingga menghasilkan sebuah output ke Y430. Output Y430 dapat berupa

10

solenoida yang digunakan untuk mengaktifkan sebuah deflektor yang akan


membelokkan pergerakan kaleng-kaleng ke arah kardus lainnya.
Ketika C460 berhenti menghitung, kontak-kontaknya akan menutup
sehingga mengakibatkan C461 mulai menghitung 12 pulsa input ke X401
kemudian menutup kontak-kontaknya. Hasil ini mengakibatkan ke dua counter
melakukan reset dan pengulangan kembali seluruh proses.
2.1.2.2 Pencacah Maju dan Mundur
Diagram tangga di atas merupakan penggabungan antara Up counter dan
Down counter. Di mana ketika sebuah barang masuk, maka sebuah input
diberikan ke sini. Hal ini akan menambah nilai perhitungan sebesar I. Ketika
sebuah barang keluar, sebuah pulsa input diberikan ke In2. Hal ini akan
mengurangi nilai perhitungan sebesar I serta mengurangi akumulasi sebesar I.
Ketika akumulasi nilai perhitungan telah mencapai suatu nilai yang ditetapkan
(preset), output Out I akan diaktifkan.
Aplikasi aplikasi yang menggunakan counter secara umum bekerja
sebagai berikut:
- Menghitung hingga ke suatu nilai preset, setelah tercapai akan
-

menghasilkan suatu event.


Membuat suatu event tetap terjadi, sampai counter mencapai nilai reset
baru berhenti.

Simbol counter pada ladder diagram ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:
Gambar 9.
Ladder
Diagram untuk
Counter Up
dan Counter
Down
Untuk Software PLC-LG GMWIN 4.
Makna simbol ladder diagram Counter pada Software PLC-LG GMWIN 4:
- CU
- R

: Inputan dari program, misalkan sensor.


: Reset (tidak bisa dimasukkan kontaktor, hanya bisa
11

dimasukkan alamat inputnya saja).


- RV
: Untuk mensetting counter yang diinginkan (misalkan 3).
- IN
: Proses penghitungan counter berjalan.
Sebuah Counter disebut Up counter jika dapat menghitung secara
berurutan mulai dari bilangan terkecil sampai bilangan terbesar. Contoh: 0-1-2-34-5-6-7-n. Sedangkan Down counter adalah Counter yang dapat menghitung
secara berurutan dari bilangan terbesar ke bilangan terkecil.

CP
R

Gambar 10. Simbol Logika Counter


CTUD
BOOL
BOOL

CU
CD

BOOL

BOOL

LD

QU
QD
CV

BOOL
BOOL
INT

Gambar 11. Simbol Counter Up/Down pada PLC

Counter atau penghitung input suatu input sinyal dari kerja mesin atau
benda-benda lain yang menjadi input juga dalam PLC. Perintah CNC (Fungsi
tombol instruksi pada programming console untuk counter) juga sebagai penunda
kerja kontak CNT yang mengendalikan kontak lain atau output. Pada CNT bukan
waktu yang dihitung melainkan jumlah sinyal yang menjadi input dari CNC itu
sendiri. Input yang dihitung CNT dalam PLC antara 0000 hingga 9999 kali
hitungan sinyal input. CNT dapat direset bila akan dihentikan kerjanya dan akan
bekerja menghitung dari awal bila reset sudah terbuka dan sinyal input ada yang
masuk.
Dibawah ini merupakan konfigurasi pin untuk counter up/down.
INST0
CTUD
CU
QU
12

SW
2
%MX0
%MX1
STACK_MAX

CD

STACK_EMPTY
QD
STORED_NUMBER

CV

LD
PV

Gambar 12. Konfigurasi pin untuk counter up/down


Keterangan :
CU

= Up counter pulse input

CD

= Down counter pulse input

= Reset

LD

= Load A preset Value

PV

= Preset Value

QU

= Up counter output

QD

= Down counter output

CV

= Current Value

BAB III
LANGKAH PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu :
1. Perangkat komputer
1 buah
2. Modul PLC
1 buah
3. Software GMWIN
1 buah
4. Kabel penghubung/banana
secukupnya
3.2 Langkah percobaan pada GMWIN 4.0.
1. Hidupkan komputer.
2. Pilih program GMWIN 4.0 pada menu start.
13

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kemudian pada menu bar pilih new project.


Kemudian akan tampil menu, isi project name lalu pilih GM 6.
Setelah di klik next maka akan muncul menu.
Lalu isi data dan pilih LD (Ladder Diagram).
Klik finish.
Pilih simbol di samping row gambar sesuai yang dibutuhkan dari garis,
saklar, dan outputnya serta FB untuk memasukkan data up counter (CTU)

dan down counter (CTD).


9. Lalu buat aplikasi gabungan rangkaian time on/off dan counter up/down
-

serta masukan data dalam PLC dengan kondisi :


Sistem ON/OFF melalui push button Start (%I0.0) dan STOP (%I0.2).
Jika sistem On, maka indikator %Q0.0 akan ON.
Jika sistem Off, maka indikator %Q0.0 akan kedap-kedip dengan durasi 1

detik.
Jika isi tangki belum penuh, maka Supply Valve (%Q0.1) akan ON hingga

tangki penuh.
(Perhatikan Sensor Upper Level Switch %I0.5).
Jika tangki penuh, dilanjutkan dengan proses mixing, mixer motor

(%Q0.2) akan On selama 10 detik.


Dilanjutkan dengan proses pengosongan melalui Drain Valve (%Q0.3)
Drain Valve masih tetap ON selama 5 detik Setelah Sensor Lower Limit

Switch %I0.4 tidak terdeteksi.


Proses berulang kembali.
Jika siklus telah berulang 3x (dihitung dari Drain Valve), maka sistem

akan OFF dan Indikator Complete (%Q0.4) akan ON.


Jika saat sistem ON, namun tangki sudah penuh, maka dilanjutkan ke
proses mixing.
Tips :
Perhatikan kondisi Sensor Upper / Lower Level Switch!
Sensor Upper Level Switch tidak mungkin ON jika Sensor Lower Level
Switch tidak On!

10. Lalu compile dan tunggu proses hingga success.


11. Setelah itu klik menu connect + write + run + monitor + on pada menu
bar dan tunggu proses hingga selesai.
12. Selanjutnya lakukan pengetesan pada PLC dan catat hasil percobaan.
13. Setelah selesai disconnect atau stop pada menu bar online program
GMWIN 4.

14

14. Dan bila perlu save as program tersebut dan simpan pada folder yang
diinginkan.
15. Tutup program GM WIN 4 setelah selesai melakukan percobaan.
16. Shut down komputer.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN
4.2 Hasil Percobaan

15

4.2 Analisa Data


Praktikum ini dilakukan percobaan mengenai pengontrol level air pada
suatu tangki. Pada pengerjaannya program yang dibuat merupakan gabungan
dari beberapa materi yang telah dipelajari pada praktikum percobaanpercobaan sebelumnya. Adapaun program tersebut antara lain terdapat materi

16

latching atau sistem interlock, timer, dan rangkaian counter. Pada instruksi,
terdapat control panel yang di dalmnya terdapat switch Start (I0.0) sebagai
saklar push button yang digunakan untuk menyalakan program, switch Stop
(I0.2) sebagai saklar untuk menghentikan semua program yang sedang
berjalan ketika terjadi gangguan, dan sebuah indikator (Q0.0). Rangkaian ini
dirancang

pada

suatu

perindustrian

sebagai

rangkaian

pengontrol

pencampuran bahan industri (pada praktikum dianalogikan sebagai air)


dengan nilai atau takaran yang telah ditentukan.
Pada rangkaian terdapat 4 buah output masing-masing di antara lain:
1. Indicator (Q0.0)
2. Supply Valve (Q0.1)
3. Mixer Motor (Q0.2)
4. Drain Valve (Q0.3)
Perintah pertama pada sistem adalah mengindikasikan lampu yang akan
menyala secara kedap-kedip atau flip-flip apabila semua sistem sedang dalam
keadaan off. Ketika tombol start ditekan maka supply valve akan secara
otomatis terbuka dan led indikator akan menyala menandakan sistem sedang
beroperasi. Pada tangki pendgisian air ini telah diletakkan dua buah sensor
lower level switch dan upper level switch yang digunakan untuk mendeteksi
ketinggian air. Air akan terus diisi meskipun sensor lower level telah
tersentuh, ketika upper level switch tersentuh oleh air yang terdapat pada
tangki maka secara otomatis drain valve akan tertutup dan mixer motor akan
bekerja. Mixer hanya bekerja selama 10 detik dan kemudian mati, diikuti
dengan drain valve yang terbuka untuk kembali mengosongkan tangki. Drain
valve akan tetap ON selama 5 detik setelah sensor lower level switch tidak
terdeteksi, setelah 3 kali proses tersebut mengulang makan mesin akan
berhenti bekerja dan lampu indikator akan flip-flop kembali.
Untuk menyelesaikan program ini, maka yang dilakukan pada row
pertama ladder diagram yaitu membuat timer on dan timer off dengan output
yang meruapakan lampu indikator itu sendiri. Pada row yang sama juga
ditambahkan feedback dari output lain yang digunakan yaitu supply valve,

17

mixer motor, drain valve dan juga lampu indikator itu sendiri yang dipasang
secara normally close. Untuk menyalakan led yang akan hidup secara terus
menerus ketika tombol start ditekan, maka dibuat rangkaian dengan gerbang
OR dengan input normally open dari supply valve, kemudian mixer motor
dan lalu drain valve serta menambahkan feedback dari rangkaian pencacah
penghitung atau counter untuk membuat indikator kembali flip-flop setelah
proses beroperasi sebanyak 3 kali. Feedback diletakkan secara seri terpasang
normally closed pada row tersebut.
Kemudian untuk membuat mixer motor bekerja dan supply valve
tertutup, maka pada row dibuat rangkaian interlock dengan output supply
valve dan ditamabahkan dengan feed back dari output mixer motor
menggunakan switch NC. Row selanjutnya membuat rangkaian untuk
menghidupkan mixer motor dengan inputan sensor lower dan upper, kedua
sensor ini dibuat menggunakan masukan normally open dengan output
berupa mixer motor agar saat kedua sensor ini telah mendeteksi bahan makan
secara otomatis supply valve akan tertutup dan mixer motor akan berjalan.
Untuk membuat motor yang yang hanya akan beropersi selama 10 detik,
maka dibuatlah rangkaian timer menggunakan timer pulse, feedback dar row
sebelumnya yang diletakkan sebagai input dan keluarannya yang berupa drain
valve. Diinstruksikan pula saat mixer motor bekerja selama 10 detik maka
drain valve akan terbuka secara otomatis, untuk itu pada rangkaian ini juga
diberikan lacthing dari drain valve pada inputannya dan feed back dari drain
valve diletakkan pada rangkaian motor sebelumnya agar motor dapat berhenti
bekerja saat drain valve telah terbuka. Row selanjutya lagi dibuat rangkaian
untuk menutup drain valve. Rangkaian ini dibuat dengan sensor lower dan
upper untuk menutup drain valve, yaitu dengan membuat kedua sensor
tersebut sebagai inputan dengan ditambahakan timer off selama 5 detik hal ini
bertujuan untuk menutup drain valve setelah 5 detik saat setelah kedua sensor
ini tidak mendeteksi lagi adanya bahan di dalam wadah pencampuran.
Keluaran dari rangkaian ini menggunakan output memori yang feedbacknya
diberikan pada rangkaian drain valve sebelumnya dengan menggunakan

18

switch NC agar drain valve dapat menutup, selain pada drain valve feed back
dari memori ini juga diberikan pada rangkaian supply valve. Feedback ini
diletakkan secara paralel dengan rangkaian latching dari supply valve
feedback ini dibuat dengan menggunakan switch NC, hal ini bermaksud agar
pada saat drain valve telah tertutup maka secara otomatis supply valve akan
terbuka kembali. Dan pada row terakhir dibuat rangkaian untuk
menghentikan kerja sistem setelah 3x melakukan penggulanagan kerja
dengan menggunakan rangkaian counter up. Dengan membuat feedback dari
output memori pada rangkaian sebelumnya sebagai inputan lalu ditambahkan
dengan counter up sebanyak 3 kali dengan keluaran memori 1, lalu feed back
dari memori ini akan diletakkan pada rangkaian indikator dan rangkaian
supply valve dengan switch NC. Hal ini bertujuan agar pada saat counter
telah menghitung sebanyak 3 kali proses maka memori 1 akan menyala dan
memutuskan arus pada rangkaian supply valve dan led indikator sehingga
supply valve tidak akan terbuka lagi dan led indikator akan kembali bekerja
secara flip-flop.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum percobaan yang telah dilakukan pada pemrograman
programmable logic controller maka dapat diketahui dari bebagai aplikasi
yang telah dilakukan seperti membuat interlock, penggunakan limit swich,
berbagai timer dan juga counter up akan baik dampaknya apabila dipelajari

19

dengan baik karena program-program tersebut berperan pada dunia industri


yang menggunakan PLC sebagai program kontrol pengindustrian mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Bolton William, alih bahasa Irzam Harmein. 2004. Programmable Logic
Controller (PLC) : Sebuah Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta Erlangga.
Permata Sari, Dewi dan Kusumanto .2014. Bahan Ajar Teknik
Elektronika. Politeknik Negeri Sriwijaya: Palembang.

Crispin, Alan J., 1990, Programmable Logic Controller And Their Engineering
Allplications, London: Mc. Graw-Hill Book Company.
Festech. 2008. MAS (Manufacturing Automation System) Training Set Manual.
Seoul Korea.
GLOFA-GM Series. 2006. Users Manual LG PLC, GMWIN For Window
(Model : SK-5700/SK-5900). Korea.
Stenerson, Jon, 2004, Fundamental of Programmable Logic Controller, Sensors,
And Communications, Third Edition, Upper Saddle River; Prentice Hall.

20