Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA EPILEPSI


A. Konsep Penyakit
1. Pengertian
Epilepsi ialah gangguan kronik otak dengan ciri
timbulnya

gejala-gejala

yang

datang

dalam

serangan-

serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan


listrik

abnormal

reversibel

sel-sel

dengan

saraf

berbagai

otak

etiologi.

yang

bersifat

Serangan

ialah

suatu gejala yang timbulnya tiba-tiba dan menghilang


secara tiba-tiba (Mansjoer, 2000).
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat
(SSP)

yang

dicirikan

oleh

terjadinya

bangkitan

(seizure, fit, attact, spell) yang bersifat spontan


dan berkala (Harsono, 2007).

2. Etiologi
a. Idiopatik: sebagian besar epilepsi pada anak adalah
epilepsi pada anak adalah epilepsi idiopatik.
b. Faktor
herediter:
ada
beberapa
penyakit

yang

bersifat herediter yang disertai bangkitan kejang


seperti

sklerosis

angiomatosis

tuberosa,

neurofibriomatosis,

ensepalo-trigeminal,

fenilketonuria,

hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
c. Faktor genetik: pada kejang demam
holding spells
d. Kelainan kongenital

otak:

atropi,

agenesis korfus kalosum.


e. Gangguan
metabolik:
Hipoglikemia,

dan

breath

forensepali,
hipokalsimia,

hiponatremia, hipernatremia.
f. Infeksi: radang yang disebabkan bakteri atau virus
pada otak dan selaputnya, toksoplasmosis.

g. Trauma:

Kontusio

serebri,

hematoma

hematoma subdural.
h. Neoplasma otak dan selaputnya.
i. Kelainan pembuluh darah, mal
kolagen.
j. Keracunan:

timbal

(Pb),

fenotiazin, air.
k. Lain-lain: penyakit

formasi,

kamper

darah,

subaraknoid,

penyakit

(kapur

gangguan

barus),

keseimbangan

hormon degenerasi serebral.


3. Patofisiologi
Secara umum, epilepsi terjadi karena menurunnya
potensial membran sel saraf akibat proses patologik
dalam otak, gaya mekanik atau toksik, yang selanjutnya
melepas

muatan

(Mansjoer,
peranan

listrik

2000).

dari

Beberapa

asetilkolin

sel

saraf

penyelidikan

sebagai

zat

tersebut

menunjukkan

yang

merendahkan

potensial membran postsinaptik dalam hal terlepasnya


muatan

listrik

yang

terjadi

sewaktu-waktu

saja,

sehingga manifestasi klinisnya muncul sewaktu-waktu.


Bila asetilkolin sudah cukup tertimbun di permukaan
otak,

maka

pelepasan

muatan

listrik

sel-sel

saraf

kortikal dipermudah. Setilkolin diproduksi oleh selsel

saraf

kolinergik

dan

merembes

keluar

dari

permukaan otak. Pada kesadaran waspada (terjaga) lebih


banyak asetilkolin lebih banyak merembes ke luar dari
permukaan

otak

dari

pada

selama

tidur.

Pada epilepsi idiopatik, tipe grandmal, secara primer


muatan

listrik

dilepas

oleh

nuklei

intralaminares

talami, yang dikenal juga sebagai inti centercephalic.


Inti

ini

aspesifik

merupakan
atau

terminal

lintasan

dari

lintasan

asendens

asendens

ekstralemsnikal.

Input dari korteks serebri melalui lintasan aspesifik


itu menentukan derajat kesadaran. Bilamana sama sekali
tidak ada input maka timbullah koma. Pada grandmal,
oleh

karena

terjadilah

sebab
lepas

yang
muatan

belum
listrik

dapat
dari

dipastikan,
inti-inti

intralaminar

talamik

talamokortikal

secara

yang

berlebih.

berlebihan

Perangsangan

ini

menghasilkan

kejang seluruh tubuh dan sekaligus menghalangi sel-sel


saraf yang memelihara kesadaran yang menerima impuls
aferen dari dunia luar sehingga kesadaran menghilang.
Serangan
epilepsi
dimulai
dengan
meluasnya
depolarisasi impuls dari

fokus epileptogenesis, mula-

mula ke neuron sekitarnya lalu ke hemisfer sebelahnya,


subkortek, thalamus, batang otak dan Kemudian untuk
bersama-sama

dan

menimbulkan
eksitasi
korteks

serentak

serangan

selesai
serebri,

dalam

kejang.
dan

secara intermiten menghambat


Pada

gambaran

Setelah

dimulailah
thalamus

EEG

dapat

waktu

proses

sesaat
meluasnya

inhibisi

ganglia

basalis

di
yang

discharge epileptiknya.

terlihat

sebagai

perubahan

dari polyspike menjadi spike and wave yang makin lama


makin lambat
berhentinya
exhaustion

dan akhirnya berhenti.


serangan

neuron.

sebagai

(karena

Dulu dianggap

akibat

kehabisan

tertimbunnya asam laktat).

terjadinya
glukosa

dan

Namun serangan epilepsi

bisa terhenti tanpa terjadinya neuronal exhaustion.


Pada
keadaan
tertentu
(hipoglikemia
otak,
hipoksia otak, asidosis metabolik) depolarisasi impuls
dapat

menimbulkan

aktivitas

serangan

yang

berkepanjangan disebut status epileptikus.


4. Manifestasi Klinis
Menurut
Terminology

Commission
of

the

of

Classification

International

League

and

Against

Epilepsy (ILAE) tahun 1981, epilepsy diklasifikasikan


sebagai berikut :
a. Epilepsi parsial (fokal, lokal)
1) Sawan parsial sederhana kesadaran tetap normal
a) Dengan gejala motorik
Fokal motorik tidak menjalar

Fokal

motorik

menjalar

(dikenal

dengan

Epilepsi Jackson)
Versiz disertai gerakan memutar tubuh, mata,
kepala
Postural disertai lengan atau tungkai kaku
dalam sikap tertentu
Fonasi disertai dengan arus bicara terhenti
atau menimbulkan bunyi- bunyian tertentu
b) Dengan

gejala

somatosensoris

atau

sensoris

spesial (melibatkan pancaindera)


Somatosensoris

timbul

rasa

kesemutan

atau

seperti ditusk jarum


Visual terlihat kilatan cahaya
Auditorius terdengar sesuatu
Olfaktoris terhidu sesuatu
Disertai vertigo
c) Dengan

gejala

atau

tanda

gangguan

syaraf

otonom pucat, berkeringat, dilatasi pupil.


d) Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur)
sensasi epigastrium,
Disfasia

mengulang

suku

kata,

kata

atau

bagian kalimat
Dimnesia
pernah

gangguan
mengalami,

fungsi

ingatan

merasakan,

seperti

melihat

atau

sebaliknya tidak pernah.


Kognitif gangguan orientasi waktu
Afektif merasa senang, susah, marah, takut
Ilusi perubahan persepsi benda yang dilihat
Halusinasi kompleks (berstruktur) : mendengar
ada yangbicara, musik, melihat suatu fenomena
tertentu

2) Epilepsi parsial kompleks (disertai gangguan


kesadaran)
a) Serangan parsial sederhana diikuti gangguan
kesadaran
Dengan gejala parsial sederhana disertai
dengan menurunnya kesadaran
Dengan

automatisme

gerakan-gerakan

tidak terkendali dan tidak disadari


b) Dengan penurunan kesadaran sejak permulaan
serangan
Hanya dengan penurunan kesadaran
Dengan automatisme
3) Epilepsy

parsial

yang

berkembang

menjadi

bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)


a) Sawan

parsial

sederhana

yang

berkembangan

menjadi bangkitan umum


b) Sawan

parsial

kompleks

yang

berkembang

menjadi bangkitan umum


c) Sawan

parsial

sederhana

yang

menjadi

bangkitan parsial kompleks lalu berkembang


menjadi bangkitan umum
b. Epilepsi umum (konvulsif dan non-konvulsif)
1) Epilepsi lena (absence) : kegiatan yang sedang
dikerjakan terhenti, muka tampak membengong, bola
mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi bila
diajak bicara, biasanya berlangsung - menit
dan sering dijumpai pada anak. Cirikhasnya :
a) Hanya penurunan kesadaran
b) Dengan komponen klonik ringan
c) Dengan komponen atonik
d) Dengan komponen tonik
e) Dengan automatisme
f) Dengan komponen autonom : kombinasi

2) Epilepsi lena tak khas (atypical absence) : dapat


disertai dengan gangguan tonus yang lebih jelas ;
permulaan

dan

berakhirnya

bangkitan

tidak

mendadak.
3) Epilepsi mioklonik : terjadi kontraksi mendadak,
sebentar,

dapat

kuat

atau

lemah

sebagian

otot

atau semua otot-otot, sekali atau berulang-ulang.


4) Epilepsi klonik : tidak ada komponen tonik, hanya
terjadi kejang kelonjot.
5) Epilepsi tonik : tidak ada komponen klonik, otototot hanya menjadi kaku.
6) Epilepsy tonik-klonik (Grandmal epilepsy)
Serangan

dapat

diawali

dengan

aura,

klien

mendadak jatuh pingsan, otot-otot seluruh badan


kaku. Kejang kaku berlangsung selama kira-kira
-

menit

diikuti

kejang

kelonjot

diseluruh

badan. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri.


Tarikan

nafas

menjadi

dalam

beberapa

saat

lamanya. Bila pembentukan ludah meningkat saat


kejang,
nafas

mulut

kuat.

kejang

menjadi

Mungkin

selesai,

berbusa

pula

klien

karena

klien
dapat

hembusan

miksi.

Setelah

bangun

dengan

kesadaran yang masih rendah atau langsung menjadi


sadar dengan keluhan badan pegal-pegal, lelah dan
nyeri kepala
7) Epilepsi

atonik

otot-otot

seluruh

badan

mendadak lemas sehingga klien terjatuh. Kesadaran


dapat tetap baik dan dapat juga menurun sebentar.
8) Status

epileptikum

berlangsung

aktifitas

terus-menerus

lebih

kejang
dari

30

yang
menit

tanpa pulihnya kesadaran.


c. Epilepsi tak tergolongkan
Ialah bangkitan pada bayi berupa gerakan bola mata
yang

ritmik,

mengunyah-ngunyah,

gerakan

seperti

berwenang, menggigil atau pernafasan yang mendadak


berhenti sejenak.
5. Pemeriksaan Penunjang
Elektroensefhalografi (EEG) merupakan pemeriksaan
penunjang

yang

diagnosis

epilepsi

bersifat
maupun

informatif
bila

khas

epileptik

diluar

serangan

gelombang

paku,

yang

dapat

ditemukan
baik

terekam

berupa

runcing

memastikan

pola

EEG

yang

saat

serangan

gelombang,

runcing,

lambat,

paku

lambat.

Pemeriksaan tambahan lain yang juga bermanfaat adalah


pemeriksaan

poto

mendeteksinya
scan,

yang

hematom,

polos

adanya

berguna

tumor,

kepala,

fraktur
untuk

yang

tulang

mendeteksi

hidrosefalus,

berguna

untuk

tengkorak:
adanya

sedangkan

CT

infark,

pemeriksaan

laboratorium dilakukan atas indikasi untuk memastikan


adanya

kelainan

sistemik

seperti

hipoglikemia,

hiponatremia, uremia, dan lain-lain.


6. Penatalaksanaa
Tujuan Pengobatan adalah mencegah timbulnya sawan
tanpa mengganggu kapasitas fisik dan intelek pasien.
Pengobatan epilepsi meliputi pengobatan medikamentosa
dan pengobatan psikososial.
a. Pengobatan Medika Mentosa
Pada epilepsi yang simtomatis dimana sawan
yang timbul adalah manifestasi penyebabnya seperti;
tumor otak, radang otak, gangguan metabolik, maka
di samping pemberian obat anti epilepsi diperlukan
pula terapi kasual.

b. Pengobatan Psikososial
Pasien
diberikan
pengobatan
terbebas

yang
dari

penerangan

optimal

sawan.

bahwa

sebagian

Pasien

harus

dengan

besar

akan

patuh

dalam

menjalani pengobatannya, sehingga dapat bebas dari


sawan dan dapat belajar, bekerja, dan bermasyarakat
secara normal.
7. Prognosis
Pasien epilepsi yang berobat teratur, 1/3 akan
bebas serangan paling sedikit 2 tahun, dan apabila
lebih

dari

dihentikan,
dikatakan

tahun
pasien

telah

sesudah
tidak

mengalami

serangan

terakhir

obat

mengalami

sawan

lagi,

remisi.

Diperkirakan

30%

pasien tidak akan mengalami remisi meskipun minum obat


secara teratur. Sesudah remisi, kemungkinan munculnya
serangan ulang paling sering didapat pada sawan tonik
klonik dan sawan parsial kompleks. Demikian pula usia
muda lebih mudah mengalami relaps sesudah remisi.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Data Subyektif, antara lain :
1) Keluhan Utama
Untuk

keluhan

biasanya

utama,

ketempat

pasien

pelayanan

atau
kesehatan

keluarga
karena

klien yang mengalami penurunan kesadaran secara


tiba-tiba disertai mulut berbuih. Kadang-kadang
klien

keluarga

mengeluh

anaknya

prestasinya

tidak baik dan sering tidak mencatat. Klien atau


keluarga

mengeluh

anaknya

atau

anggota

keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak


bicara.
2) Riwayat kesehatan.
Klien yang berhubungan dengan faktor resiko biopsiko-spiritual. Kapan klien mulai serangan, pada
usia

berapa.

Frekuensi

serangan,

ada

faktor

presipitasi seperti suhu tinggi, kurang tidur,


dan

emosi

yang

labil.

Apakah

pernah

menderita

sakit berat yang disertai hilangnya kesadaran,


kejang, cedera otak operasi otak, Apakah klien
terbiasa menggunakan obat-obat penenang atau obat
terlarang,

atau

mengkonsumsi

alkohol.

Klien

mengalami gangguan interaksi dengan orang lain /


keluarga karena malu, merasa rendah diri, ketidak
berdayaan,

tidak

mempunyai

harapan

dan

selalu

waspada/berhati-hati dlm hubungan dgn orang lain.


3) Riwayat kesehatan keluarga.
Dimaksudkan

untuk

mendapatkan

informasi

kemungkinan masalah yang sama pada keluarga.


4) Klien

dapat

mengeluhkan

kelemahan/lelah

dan

kurang mampu melakukan aktivitas sehari-hari.


b. Data Objektif, antara lain:
Dari
pemeriksaan
fisik
didapat
penurunan
kekuatan otot. Data pada saat serangan dijumpai:
1) Perubahan
pada
tanda-tanda
vital
berupa
peningkatan tekanan darah, denyut nadi meningkat
dan sianosis.
2) Inkontinensia urin dan fekal.
3) Perlukaan pada gusi dan lidah.
4) Ada riwayat nyeri, kehilangan kesadaran/pingsan,
kehilangan

kesadaran

sesaat

klien menangis, jatuh kelantai, disertai komponen


motorik seperti kejang tonik klonik.
5) Mioklonik.
tonik, klonik, atonik. Klien menggigit

lidah.

mulut berbuih, ada inkontinensia urin dan fekal,


bibir dan muka cianosis, mata dan kepala bergerak
memutar-mutar pada satu posisi atau keduanya.
c. Data setelah Serangan:
1) Setelah serangan tanda-tanda vital mungkin
berubah.
2) Klien mengalami lethargi, bingung, otot sakit,
gangguan bicara, nyeri kepala.

3) Perubahan

dalam

gerakan

misalnya

hemiplegi/hemiparese sementara.
4) Klien
lupa
atau
sedikit
ingat

terhadap

kejadian yang menimpa dirinya.


5) Terjadi perubahan kesadaran/tidak, pernafasan,
denyut jantung.
6) Ada perlukaan/cedera.
7) Gusi mengalami hiperplasi karena efek samping
penggunaan Dilantin.
Deskripsi
spesifik

dari

kejang

harus

mencakup beberapa data penting meliputi:


1) Awitan yakni serangan itu mendadak

atau

didahului oleh prodormal dan fase aura.


2) Durasi kejang berapa lama dan berapa

kali

frekuensinya.
3) Aktivitas motorik mencakup apakah ekstrimitas
yang

terkena

sesisi

atau

bilateral,

dimana

mulainya dan bagaimana kemajuannya.


4) Status
kesadaran
dan
nilai
kesadarannya.
Apakah

klien

dapat

dibangunkan

setelah serangan ?
5) Distrakbilitas, apakah
respon

terhadap

klien

lingkungan.

selama

dapat
Hal

atau

memberi

ini

sangat

penting untuk membedakan apakah yang terjadi


pada klien benar epilepsi atau hanya reaksi
konversi.
6) Keadaan gigi. Apakah pada saat serangan gigi
klien tertutup rapat atau terbuka.
7) Aktivitas tubuh seperti inkontinensia, muntah,
salivasi dan perdarahan dari mulut.
8) Masalah
yang
dialami
setelah
paralisis,

kelemahan,

baal

atau

serangan
semutan,

disfagia, disfasia cedera komplikasi, periode


post iktal atau lupa terhadap semua pristiwa
yang baru saja terjadi.
9) Faktor pencetus seperti stress emosional dan
fisik.
2. Diagnosa keperawatan
a. Risiko cedera berhubungan dengan tipe kejang.

b. Kebersihan

jalan

nafas

tidak

efektif

berhubungan

dengan obstruksi trakheobronkhial.


c. Kerusakan memori berhubungan dengan hipoksia.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan aktivitas
kejang.
e. Harga diri

rendah

berhubungan

dengan

perubahan

perkembangan.
f. Risiko isolasi berhubungan dengan perubahan status
kesehatan.
g. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak
yang menderita penyakit kronis.
h. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian.
i. Kurang pengetahuan orang tua berhubungan
keterbatasan paparan.
j. Manajemen
regimen

terapeutik

tidak

dengan
efektif

berhubungan dengan konflik pengambilan keputusan.


3. Intervensi
a. Diagnosa 1 : Risiko cedera berhubungan dengan tipe
kejang.
1) NOC : Pengendalian Resiko.
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
pencegahan

jatuh

selama

3x24

jam

diharapkan

pasien tidak mengalami cedera dan tetap tenang


dengan seringnya pengendalian resiko skala 3.
3) Kriteria hasil :
a) Pantau faktor resiko perilaku dan lingkungan.
b) Mempersiapkan lingkungan yang aman (misalnya,
penggunaan tikar karet).
c) Menghindari cedera fisik.
d) Mengidentifikasi
risiko

yang

meningkatkan

kerentanan terhadap cedera.


e) Orang tua akan mengenali resiko dan memantau
kekerasan.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Mencegah Jatuh
a) Identifikasi
faktor

yang

mempengaruhi

kebutuhan keamanan, misalnya perubahan status

mental, usia, pengobatan dan defisit motorik /


sensorik.
b) Identifikasi

faktor

lingkungan

yang

memungkinkan risiko jatuh.


c) Singkirkan benda-benda yang dapat menimbulkan
bahaya.
d) Arahkan anak ke area aman, khususnya jauh dari
jendela, tangga, alat pemainan/sumber air.
e) Jangan membuat anak teragitasi; bicara dengan
suara lembut dan sikap tenang.
f) Lindungi anak setelah kejang.
b. Diagnosa 2 : Kebersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan obstruksi trakheobronkhial
1) NOC : Kontrol Aspirasi
2) Tujuan
:
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan

Mencegah

Jatuh

selama

3x24

jam

diharapkan jalan nafas pasien kembali efektif


dengan seringnya memonitor aspirasi skala 2.
3) Kriteria hasil :
a) Mengidentifikasi faktor risiko.
b) Menghindari faktor risiko.
c) Menyediakan
makanan
sesuai
kemampuan
menelan pasien.
d) Mengupayakan konsitusi cairan dan makanan.
Skala :
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
4) NIC : Mencegah Jatuh
a) Pengelolaan jalan nafas.
b) Ajarkan batuk secara efektif.
c) Posisikan 90 derajat sesuai kemampuan.
d) Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
e) Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan
untuk membersihkan sekresi.
c. Diagnosa 3 : Kerusakan memori berhubungan dengan
hipoksia
1) NOC : Orientasi Kognitif
2) Tujuan
:
Setelah
dilakukan

tindakan

keperawatan Pelatihan Memori selama 3 x 24 jam


diharapkan pasien tidak menunjukkan kerusakan

memori dengan status orientasi kognitif skala


4.
3) Kriteria hasil :
a) Mengidentifikasikan

orang

terdekat,

tempat

sekarang, dan musim, tahun, hari yang benar.


b) Menggunakan teknik untuk membantu memperbaiki
memori.
c) Secara

akurat

mengingat

secara

tepat,

informasi saat ini dan lama.


d) Mengungkapkan kemampuan yang lebih baik untuk
mengingat.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Pelatihan Memori
a) Kaji depresi, ansietas, dan peningkatan stres
yang

mungkin

memberikan

kehilangan memori.
b) Kaji
fungsi
neurologis

kontribusi
untuk

pada

menentukan

masalah pasien, apakah kehilangan memori atau


demensia.
c) Beri label pada barang-barang.
d) Bantu pasien untuk rileks untuk meningkatkan
konsentrasi.
e) Berikan kesempatan
seperti
sesuai.
f) Berikan

suatu

pasien

permainan

gambar

untuk

pasangan

pengingat

diperlukan.
d. Diagnosa 4 : Gangguan

citra

konsentrasi
kartu

memori;
tubuh

yang
bila

berhubungan

dengan aktivitas kejang


1) NOC : Citra Tubuh
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Pencapaian Citra Tubuh selama 3x24 jam diharapkan
persepsi pasien terhadap dirinya positif dengan
status citra tubuh skala 3
3) Kriteria hasil :
a. Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.

b. Kesesuaian antara realitas tubuh, ideal tubuh


dan wujud tubuh.
c. Mengidentifikasi kekuatan personal.
d. Memelihara hubungan sosial yang dekat
hubungan personal.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Pencapaian Citra Tubuh
a) Tentukan
bagaimana
respon

anak

dan

terhadap

tubuhnya sesuai dengan tahap perkembangan.


b) Identifikasi
budaya,
agama,
ras,
jenis
kelamin,

dan

usia

dari

orang

penting

bagi

pasien yang menyangkut citra tubuh.


c) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan dan untuk berduka.
d) Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan

perhatian

tentang

hubungan

personal yang dekat.


e. Diagnosa 5 : Harga Diri Rendah berhubungan dengan
perubahan perkembangan.
1) NOC : Perkembangan Anak

:2,3,4,5

tahun:

Masa

Kanak-kanak Pertengahan (%-11 tahun), dan Remaja


(12-17 tahun).
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Peningkatan Harga Diri selama 3x24 jam diharapkan
harga

diri

meningkatkan

pasien
harga

positif
dirinya)

(pasien
dengan

perkembangan menunjukkan skala 3.


3) Kriteria hasil :
a) 2 th : Mengindikasikan keinginan

dapat
status

secara

verbal, berinteraksi dengan orang dewasa dalam


permainan sederhana.
b) 3 th : mampu mengatakan

nama

pertamanya;

memainkan interaksi dengan anak seusianya.


c) 4
th
:
Mampu
menjelaskan
aturan-aturan
permainan interaktid bersama teman seusianya.
d) Mempertahankan hubungan pribadi yang dekat.
Skala :

1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
4) NIC : Peningkatan Harga Diri
a) Pantau pernyataan pasien tentang penghargaan
diri.
b) Bantu

pasien

meningkatkan

penilaian

dirinya

terhadap penghargaan diri.


c) Hindari tindakan yang dapat melemahkan pasien.
d) Beri
penghargaan
/
pujian
terhadap
perkembangan pasien dalam pencapaian tujuan.
e) Ajarkan orang tua akan pentingnya ketertarikan
dan dukungannya terhadap perkembangan konsep
diri yang positif pada anak.
f. Diagnosa 6
: Resiko isolasi sosial
dengan gangguan psikologis.
1) NOC : Keterlibatan Sosial
2) Tujuan : Setelah dilakukan
Peningkatan

Sosialisasi

diharapkan

pasien

lingkungan

dan

dengan

status

dapat

dapat

selama

keperawatan
3x24

berinteraksi

diterima

keterlibatan

skala 3.
3) Kriteria Hasil :
a) Melaporkan adanya

tindakan

berhubungan

di

sosial

interaksi

jam
dengan

lingkungan
menunjukkan

dengan

teman,

tetangga, aggota keluarga.


b) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan
c) Mulai berhubungan dengan orang lain.
d) Mengembangkan hubungan satu sama lain.
e) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Peningkatan Sosialisasi
a) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial.
b) Kurang
stigma
isolasi
dengan
menghormati
martabat pasien.

c) Dukung

hubungan

dengan

orang

lain

yang

mempunyai ketertarikan dan tujuan sama


d) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien,
keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi.
e) Berikan uji pembatasan interpersonal.
f) Dukung
pasien
untuk
mengubah
lingkungan,
seperti jalan-jalan dan menonton film
g. Diagnosa 7
dengan

: Perubahan proses keluarga berhubungan

mempunyai

anak

yang

menderita

penyakit

kronik.
1) NOC : Parenting
2) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan
Peningkatan Integritas Keluarga selama 3x24 jam
diharapkan

keluarga

berfungsi

secara

efektif

dengan seringnya melakukan peran sebagai orang


tua yang ditunjukkan dengan skala 4.
3) Kriteria hasil :
a) Memberikan kebutuhan psikologi untuk anak.
b) Memberikan
perlindungan
dan
perawatan
kesehatan secara teratyr dan aseptik.
c) Stimulasi perkembangan kognitif.
d) Stimulasi perkembangan emosi.
e) Stimulasi perkembangan spiritual.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang-kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Peningkatan Integritas keluarga
a) Kaji interaksi antara pasien dan keluarga.
b) Tentukan jenis hubungan keluarga.
c) Tentukan gangguan dalam jenis proses keluarga.
d) Ajari
keterampilan
merawat
pasien
yang
diperlukan oleh keluarga.
e) Ajari keluarga perlunya

kerja

sama

dengan

sistem sekolah untuk menjamin akses kesempatan


pendidikan yang sesuai untuk penyakit kronik.
f) Bantu keluarga berfokus pada anaknya dibanding
dengan penyakitnya.
h. Diagnosa 8 : Cemas berhubungan

dengan

kematian / perubahan status kesehatan.


1) NOC : Kontrol Cemas

ancaman

2) Tujuan

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan pengurangan ansietas selama 3x24


jam diharapkan kecemasan hilang atau berkurang
dengan seringnya mengontrol cemas dengan skala
3) Kriteria hasil :
a) Merencanakan strategi koping untuk situasi
yang membuat stres.
b) Melaporkan tidak ada

gangguan

persepsi

sensori.
c) Manifestasi perilaku kecemasan tidak ada.
d) Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada
pengetahuan dan keterampilan yang baru.
e) Tidak menunjukkan perilaku agresif
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Pengurangan Ansietas
a) Sediakan
informasi
yang
sesungguhnya
meliputi diagnosis, treatmen dan prognosis.
b) Gunakan
pendekatan
yang
tenang
dan
meyakinkan.
c) Berikan dorongan

kepada

orang

tua

untu

menemani anak, sesuai dengan kebutuhan.


d) Sediakan
pengalihan
melalui
televise,
radio,

permainan,

untuk

mengurangi

ansietas.
i. Diagnosa 9

: Kurang pengetahuan berhubungan

dengan keterbatasan paparan


1) Tujuan
:
Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan Menjelaskan Proses Penyakit selama


3x24 jam diharapkan defisit pengetahuan dapat
teratasi

dengan

status

pengetahuan

mengenai

proses penyakit menunjukkan skala 4.


2) NOC : Knowledge: Proses Penyakit
a) Menguraikan proses penyakit
b) Menguraikan faktor risiko
c) Menguraikan komplikasi
d) Menguraikan tanda dan gejala penyakit.

e) Menguraikan faktor penyebab untuk mencegah


komplikasi.
Skala:
1 : Tidak mengetahui
2 : Terbatas pengetahuannya
3 : Sedikit mengetahui
4 : Banyak pengetahuannya
5
:
Intensif
atau
mengetahuinya

secara

kompleks
3) NIC : Menjelaskan proses penyakit
a) Identifikasi etiologi yang memungkinkan.
b) Uraikan proses penyakit.
c) Uraikan tanda dan gejala penyakit.
d) Diskusikan terapi atau pilihan pengobatan.
e) Jelaskan patofisiologi penyakit.
f) Jelaskan komplikasi kronis yang mungkin
terjadi.
j. Diagnosa 10 : Resiko isolasi sosial
dengan gangguan psikologis.
1) NOC : Keterlibatan Sosial
2) Tujuan
:
Setelah

berhubungan

dilakukan

tindakan

keperawatan Peningkatan Sosialisasi selama 3x24


jam diharapkan pasien dapat berinteraksi dengan
lingkungan
dengan

dan

status

dapat

diterima

keterlibatan

skala 3.
3) Kriteria Hasil :
a) Melaporkan adanya

di

sosial

interaksi

lingkungan
menunjukkan

dengan

teman,

tetangga, anggota keluarga.


b) Berpartisipasi dalam aktivitas pengalihan
c) Mulai berhubungan dengan orang lain.
d) Mengembangkan hubungan satu sama lain.
e) Melaporkan adanya peningkatan dukungan sosial.
Skala :
1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang
4. Sering
5. Konsisten
4) NIC : Peningkatan Sosialisasi
a) Identifikasi dengan pasien faktor-faktor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial.
b) Kurang
stigma
isolasi
dengan
menghormati
martabat pasien.

c) Dukung

hubungan

dengan

orang

lain

yang

mempunyai ketertarikan dan tujuan sama.


d) Dukung usaha-usaha yang dilakukan pasien,
keluarga dan teman-teman untuk berinteraksi.
e) Berikan uji pembatasan interpersonal.
f) Dukung
pasien
untuk
mengubah
lingkungan,
seperti jalan-jalan dan menonton film

DAFTAR PUSTAKA
Manjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3
Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
Harsono (ED). 2007. Kapita Selekta Neurologi Second Ed.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Catzel, Pincus.1994.Kapita Selekta Pediatri (216-226).
Edisi II, Editor : Andrianto, Petrus.Jakarta:EGC.
Doenges, Marlynn E.2000.Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman

Untuk

Perencanaan

dan

Pendokumentasian

Perawatan Pasien.Jakarta:EGC.
Harsono.2007.Epilepsi.Yogyakarta:Gadjah Mada University
Press.
Manjoer,
Arif.2003.Kapita

Selekta

Kedokteran.Edisi

3Jilid 2.Jakarta:Media Aesculapius FKUI.


Nelson.Ilmu
Kesehatan
Anak
(339-345).Edisi
3.Jakarta:EGC.
Ngastiyah.2005.Perawatan
II.Jakarta:EGC.
Sachorin,
Rosa

Anak

Sakit(175-184).Edisi

M.1996.Prinsip

Pediatrik(290-293).Edisi

II

Alih

Keperawatan
bahasa

R.F

Maulang, Editor : Ni Luh Yasmin Asih.Jakarta:EGC.


Wilkinson,
Judit
M.2002.Buku
Saku
Diagnosa
Keperawatan.Alih Bahasa:Widyawati,dkk, Editor : Eny
Meiliya,dkk.Jakarta:EGC.
Wong,
Donna
L.2004.Pedoman

Klinis

Pediatrik. Edisi 4.Jakarta:EGC.

Keperawatan