Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN 3 KMB II

Maharaufa F., 0606102700


Kelompok 4
Kelas A

IRIGASI KOLOSTOMI

KOLOSTOMI
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan
pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang cukup bermakna, terpai
komponen darah dapat diberikan. Pengobatan tergantung pada tahap penyakit dan
komplikasi yang berhubungan. Endoskopi, ultrasonografi dan laparoskopi telah
terbukti berhasil dalam pentahapan kanker kolorektal pada periode praoperatif.
Metode pentahapan yang dapat digunakan secara luas adalah klasifikasi
Duke:
a. Kelas A – tumor dibatasi pada mukosa dan sub mukosa
b. Kelas B – penetrasi melalui dinding usus
c. Kelas C – Invasi ke dalam sistem limfe yang mengalir regional
d. Kelas D – metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan kanker kolon dan
rektal. Pembedahan dapat bersifat kuratif atau paliatif. Kanker yang terbatas pada
satu sisi dapat diangkat dengan kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan
polipektomi, suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk meminimalkan
luasnya pembedahan pada beberapa kasus. Laparoskop digunakan sebagai
pedoman dalam menbuat keputusan di kolon; massa tumor kemudian di eksisi.
Laser Nd: yang telah terbukti efektif pada beberapa lesi. Reseksi usus
diindikasikan ntuk kebanyakan lesi kelas A dan semua kelas B serta lesi C.
Pembedahan kadang dianjurkan untuk mengatasi kanker koon kelas D. Tujuan
pembedahan dalam situasi ini adalah paliatif. Apabila tumor telah menyebar dan
mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak dapat dilakukan.
Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran tumor.
 LAR (Low Anterior Resection)
 HCT (Hemi Colorectal)
 APR (Abdominal Parietal Resection): dilakukan kolostomi permanen
Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut (Doughty & Jackson,
1993):
a. Reseksi abdominoperineal dengan kolostomi sigmoid
permanen (pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan
semua rektum serta sfingter anal)
b. Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental
dan anostomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi
(memungkinkan dekompresi usus awal dan persiapan
usus sebelum reseksi)
c. Reseksi segmental dengan anostomosis (pengangkatan
tumor dan porsi usus pada sisis pertumbuhan, pembuluh
darah dan nodus limfatik)
d. Kolostomi permanen atau ileostomi (untuk
menyembuhkan lesi obstruksi yang tidak dapat direseksi)
Berkenaan dengan teknik perbaikan melalui pembedahan, kolostomi
dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker kolorektal. Kolostomi adalah
pembuatan lubang (stoma) pada kolon secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi
sebagai diversi sementara atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau
evakuasi isi kolon keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan
penempatan kolostomi, yang ditentukan oleh lokasi tumor dan luasnya invasi pada
jaringan sekitar.

JENIS – JENIS KOLOSTOMI


Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada
beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara
permanen maupun sementara.
• Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah
tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya
keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum
sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen
biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang)
• Kolostomi Temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk
mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan
seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini
mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang
disebut kolostomi double barrel.

PENANGANAN KOLOSTOMI
Perawat menangani kolostomi sampai pasien dapat mengambil alih
perawatan ini. Perawatan kulit harus diajarkan bersamaan dengan bagaimana
menerapkan drainase kantung dan melaksanakan irigasi.
a. Perawatan kulit:
Pasien dianjurkan melinduni kulit peristoma dengan sering mencuci
area tersebut dengan menggunakan sabun ringan dan waslap lembab serta
lembut. Selama kulit dibersihkan, kasa dapat digunakan untuk menutup
stoma atau tampon vagina dapat dimasukkan dengan perlahan untuk
mengabsorbsi kelebihan drainase.
Pasien diizinkan untuk mandi atau mandi pancuran sebelum
memasang alat yang bersih. Plester mikropor yang dilekatkan pada sisi
kantung akan melindunginya selama mandi. Kulit dikeringkan dengan
seksama menggunakan kasa; hindari menggosok area tersebut.
b. Memasang kantung drainase:
Stoma diukur untuk menentukan ukuran kantung yang tepat. Lubang
kantung harus sekitar 0,3cm lebih besar dari stoma. Kulit dibersihkan
sesuai proedur. Kantung kemudian dipasang dengan cara membuka kertas
perekat dan menekannya di atas stoma selama 30 detik. Iritasi kulit ringan
memerlukan taburan bedak Karaya atau bedak stomahesive sebelum
kantung dilekatkan.
c. Menangani kantung drainase:
Kantung kolostomi dapat digunakan segera setelah irigasi; dan diganti
dengan balutan yang lebih sederhana. Pasien dapat memilih berbagai
bentuk kantung, tergantung pada kebutuhan individu. Kebanyakan kantung
sekali pakai dan tahan bau.
Untuk selanjutnya kantung kolostomi biasanya tidak diperlukan.
Segera setelah pasien belajar evakuasi rutin, kantung dapat disimpan dan
kantung kolostomi tertutup atau balutan sederhana menggunakan tisu
sekali pakai, dipertahankan di tempatnya dengan sabuk elastis. Kecuali gas
dan sedikit mukus, tidak ada isi usus yang akan keluar dari lubang
kolostomi di antara irigasi; karenanya kantung kolostomi tidak diperlukan.
d. Mengangkat alat:
Alat drainase diganti bila isinya telah mencapai sepertiga sampai
seperempat bagian sehingga berat isinya tidak menyebabkan kantung lepas
dari diskus perekatnya dan keluar isinya. Pasien dapat memilih posisi
duduk atau berdiri yang nyaman dan dengan perlahan mendorong kulit
menjauh dari permukaan piringan sambil menarik kantung ke atas dan
menjauh dari stoma. Tekanan perlahan mencegah kulit dari trauma dan
mencegah adanya isi fekal cair yang tercecer keluar.

KATEGORI STOMA:
 Single barrel/ end stoma, hanya 1 stoma: dilakukan permanen; bagian distal
ditutup dan bagian proksimal yang terbuka
 Double barrel: bisa dilakukan temporer ataupun permanen; stoma bagian
distal dan proksimal dipotong kemudian diangkat dan dikeluarkan
 Loop colostoma: dilakukan temporer: bagian kolon diangkat, dikeluarkan,
dan diberikan fiber (bridge); saat di permukaan tubuh, kolon dibukan dan
dijahit kiri dan kanan ke permukaan kulit
 Mukospicetel: pada kasus Ca kolorektal yang tidak bisa diangkat sama
sekali
- dilakukan bada bagian kolon descenden
- bagian proksimal untuk mengeluarkan feses
- bagian distal untuk mengeluarkan mukus yang dihasilkan
Ca
JENIS KANTUNG:
 Drainable (terbuka bawahnya), memiliki klem: digunakan untuk
menampung feses
 Close end (tidak ada lubang dibawahnya): digunakan untuk menampung
feses
 Puff drain (memiliki lubang dan seperti selang dibawahnya: digunakan
untuk menampung urin

BAGIAN PLATE:
 Faceplate: bagian melingkar yang ditempel ke tubuh klien
 One piece, clear (transparan) drainable
 One piece, opaq (buram/kecoklatan) drainable
 Stoma cap: untuk menutup stoma, tidak perlu kantung

I. INDIKASI TINDAKAN
Irigasi kolostomi merupakan prosedur mengganti kantong kolostomi
yang penuh dengan yang baru, yang harus dilakukan pada klien dengan kanker
kolon dan/atau rektum yang telah dibuatkan cara dan lokasi evakuasi kotoran
melalui operasi saluran cerna. Irigasi dapat dilakukan paling dini 5-6 hari
setelah operasi.

II. TUJUAN TINDAKAN


Prosedur ini bertujuan untuk mengosongkan isi kolon (dari feces, gas,
lendir), membersihkan saluran cerna bagian bawah, menetapkan pola evakuasi
yang teratur sehingga kegiatan normal tidak terganggu dan memberikan
kenyamanan pada klien.

III. ALAT YANG DIPERSIAPKAN


 Sarung tangan bersih
 Irigator (wadah khusus untuk irigasi)
 Cairan irigasi (air masak, hangat kuku) 500-1500 cc, atau cairan lain
untuk irigasi sesuai program medis
 Selang
 Konektor (penyambung selang)
 Klem (yang bisa dipakai dengan hanya menggunakan satu tangan)
 Kateter karet no. 22 atau 24 atau corong plastik khusus untuk irigasi
kolostomi
 Kantung/sarung irigasi (yang bisa ditempelkan)
 Kantung palstik untuk tempat sampah/barang yang basah
 Kertas toilet, handuk
 Perlak
 Sabun
 Salep Mukosantin , jika terjadi iritasi (jamur)
 Stoma powder (ostomi powder)
 Stomahessive pasta (membuat permukaan kulit jadi baik dan sebagai
skin barrier)
 Ukuran stoma atau diganti spidol

TINDAKAN
1. Persiapan klien
a. Mengucapkan salam
terapeutik
b. Memperkenalkan
diri
c. Menjelaskan pada
klien dan keluarga
tentang prosedur
dan tujuan tindakan
yang akan
dilaksanakan.
d. Penjelasan yang
disampaikan
dimengerti
klien/keluarganya
e. Selama komunikasi
digunakan bahasa
yang jelas,
sistematis serta
tidak mengancam.
f. Klien/keluarga
diberi kesempatan
bertanya untuk
klarifikasi
g. Privasi klien selama
komunikasi
dihargai.
h. Memperlihatkan
kesabaran, penuh
empati, sopan, dan
perhatian serta
respek selama
berkomunikasi dan
melakukan tindakan
i. Membuat kontrak
(waktu, tempat, dan
tindakan yang akan
dilakukan)

2. Prosedur
a. Mencuci tangan
b. Menjelaskan tujuan
dan prosedur irigasi
kolostomi pada
klien
c. Menyaipkan klien
untuk irigasi
kolostomi:
- Memilih waktu yang tepat untuk irigasi kolostomi
- Menggantungkan irigator 45-50 cm diatas stoma (setinggi bahu
klien, bila duduk)
- Mendudukkan klien di depan commode atau di commode
- Mengangkat balutan/kantung kolostomi dan memasukkan
kedalam kantung palstik yang sudah disediakan
d. Memasang lengan
(sarung) irigasi ke
stoma dan
meletakkan
ujungnya dalam
commode/toilet
e. Mengalirkan cairan
melalui selang dan
corong irigasi
f. Memberi pelumas
pada kateter dan
memasukkan ke
stoma dengan
cermat (tidak boleh
lebih dari 8 cm);
memegang corong
dengan baik
g. Bila kateter tidak
bisa masuk dengan
mudah, mengalirkan
cairan secara
perlahan ketika
memasukkan kateter
dan tidak memaksa
kateter masuk
h. Mengalirkan cairan
ke kolon perlahan-
lahan.
Menghentikan
cairan (mengklem
selang) bila terjadi
kram perut dan
memberi klien
waktu untuk
istirahat sejenak,
sebelum
melanjutkan
prosedur. Cairan
dialirkan dalam
waktu 5-10 menit
i. Mempertahankan
corong pada
tempatnya selama
10 menit setelah
cairan dimasukkan,
kemudian angkat
perlahan-lahan
j. Memberi waktu
selama 10 menit
agar cairan mengalir
keluar;
mengeringkan ujung
kantung irigasi dan
menempelkan ke
atas (mengklem
ujung kantung)
k. Mempertahankan
kantung di tempat
selama 20 menit dan
menganjurkan klien
untuk ambulasi.
Setelah tindakan selesai:
- Membersihkan dan mengeringkan area
stoma dengan air dan sabun
- Memasang perlindungan kulit dan
mengganti balutan pada kolostomi
l. Mendokumentasika
n prosedur dan
respons klien pada
catatan klien
m. Mencuci alat bekas
pakai dengan air dan
sabun,
mengeringkan dan
menyimpannya
kembali

PERAWATAN KLIEN DENGAN KOLOSTOMI

I. PREOPERATIF
1. Hubungi perawat terapist enterostomal (ET) untuk memberikan
rekomendasi lokasi stoma dan pengajaran yang diperlukan. Perawat ET
terutama yang di latih untuk bekerja dengan klien dalam merencanakan
penanganan kolostomi. Faktor-faktor seperti berat badan klien, cara
berpakaian klien, dan garis pinggang dipertimbangkan dalam penempatan
stoma untuk memfasilitasi rasa nyaman dalam perawatan jangka panjang
dan mempermudah penanganan.
2. Jawab pertanyaan-pertanyaan klien langsung, berikan klarifikasi dari
informasi yang diperlukan. Klien yang memahami perawatan preoperatif
dan postoperatif dengan baik akan berkurang rasa cemas dan mampu
bekerjasama dalam penanganan dengan lebih baik.
3. Rujuk ke kelompok ostomi sesuai kebutuhan klien. Berbicara dengan
seseorang yang telah memakai ostomi dapat menolong klien menjadi lebih
nyaman dengan kolostomi.

II. POSTOPERATIF
1. Kaji lokasi dan tipe kolostomi yang dibentuk. Lokasi stoma adalah
indikator letak lokasi pemotongan usus dan prediktor tipe drainase fekal.
2. Kaji tampilan stoma dan kondisi kulit disekitarnya dengan rutin.
Pengkajian stoma dan kondisi kulit penting diawal periode postoperatif,
kalau-kalau terkadi komplikasi untuk segera ditangani.
3. Posisi kantong penampung drain diatas stoma. Biasanya drainase dapat
berisi lebih banyak mukus dan cairan serosangrineous dari pada material
fekal. Mulainya usus berfungsi, fekal akan menjadi normal. Konsistensi
drainase tergantung pada stoma di bagian lokasi usus.
4. Kolostomi desending atau sigmoid dapat ditangani dengan menggunakan
kantong drainable atau irigasi. Pola eliminasi dari kolostomi sigmoid
hampir sama dengan pola eliminasi normal klien sebelum operasi. Banyak
klien akan buang air besar tiap hari dan tidak terus menerus menggunakan
kantong atau sistem drainase. Untuk lebih aman gunakan kantong
transparan.
5. Bila perlu, berikan kantong kolostomi irigasi, masukkan air ke dalam
kolon sesuai prosedur irigasi kolostomi. Air akan merangsang
pengosongan kolon. Klien dapat melakukan irigasi kolon tiap hari.
6. Bila dianjurkan irigasi kolostomi untuk klien dengan double-barrel atau
kolostomi loop, irigasi stoma di bagian proksimal. Pengkajian digital /
dengan jari pada usus langsung dari stoma dapat menolong membedakan
yang mana stoma proksimal. Usus bagian distal tidak mengandung fekal
dan tidak perlu diirigasi. Kadang-kadang dapat diirigasi hanya untuk
membersihkan terutama reanastomosa.
7. Pengosongan kantong drainable atau penggantian kantong kolostomi bila
diperlukan atau saat telah penuh 1/3 bagian kantong. Bila kantong
kepenuhan, beratnya dapat merusak kantong dan perekat dan
menyebabkan kebocoran.
8. Klien dengan kolostomi asending atau transversal tidak dilakukan irigasi.
Hanya sebagian kolon yang berfungsi, dan drainase fekal umumnya cair
dan terus menerus.
9. Berikan perawatan stoma dan kulit klien. Perawatan kulit dan stoma yang
baik penting untuk mempertahankan integritas kulit dan fungsi untuk
pertahanan utama terhadap infeksi.
10. Gunakan bahan-bahan dempul, seperti perekat stoma (stomahesive) atau
“karaya paste”, dan “wafer” (bubuk obat) yang dibutuhkan untuk menjaga
keamanan kantong ostomi. Ini kadang-kadang penting bagi klien dengan
kolostomi loop. Tantangan bagi klien dengan kolostomi loop transverse
adalah untuk menjaga keamanan kantong stoma diatas jembatan plastik.
11. Sebuah lubang pada kantong kolostomi akan menyalurkan flatus keluar.
Lubang ini dapat ditutup dengan “Band-Aid’ an dibuka hanya bila klien
mandi untuk kontrol bau. Kantong ostomi dapat menggembung keluar,
merusak integritas kulit, bila gas terkumpul terlalu banyak

RUJUKAN
Buku panduan laboratorium keperawatan. ”Perawatan kolostomi.”
Prohealth. (2009). ”Irigasi kolostomi.” http://www.puskesmas oke.com/doc/
Harahap, I.A. (2004). "Perawatan pasien dengan kolostomi Pada penderita
cancer colorectal.” Diambil dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-ikhsanuddin.pdf.
pada 19 Maret 2009.
http://www.scribd.com/doc/
Simon, H. (2008). Colostomy. Massachusetts: Harvard Medical School
Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddarrth Volume 2 Edisi 8 .Jakarta: EGC