Anda di halaman 1dari 169

Marriage Complicated

By

Ria

Title

Marriage Complicated

Author

Ria

Re-Post

https://www.facebook.com/pages/Kumpulan-cerbungcerpen-dan-novel-

remaja/398889196838615?ref=ts&fref=ts

Re-Publish

https://www.read-blogger.blogspot.com

SINOPSIS :

Apa yang akan anda lakukan jika seandainya anda dipaksa menikah? Menolak? melakukan perlawanan? melarikan diri atau mengancam pria yang akan jadi calon suami anda? Tapi apa yang akan anda lakukan seandainya pria yang menjadi calon suami anda adalah seorang Eligible Bachelor yang digilai dan dipuja para wanita? Apa anda akan tetap menolak? Atau akan mati-matian membuat sang calon suami jatuh cinta.

Ariana Winata, wanita lajang berusia 25 tahun yang sudah memiliki kehidupan yang cukup mapan. Bekerja sebagai seorang guru di sekolah swasta ternama yang memberikannya gaji lebih dari cukup, membuat hidup Ana, begitu ia disapa, sangat sempurna. Kehidupan sosialnya pun berjalan dengan lancar. Kecuali untuk satu hal, yang berhubungan dengan pasangan hidup. Ana masih tidak ingin memikirkan hal itu. Bahkan ia berpikir untuk tidak menikah karena terlalu nyaman dengan hidupnya. Namun suatu ketika, keluarganya mendesaknya untuk segera menikah. Bahkan telah memilihkan jodoh untuknya. Mati- matian Ana menolak rencana gila itu. Ia melakukan segala cara untuk membuat sang calon suami membatalkan perjodohan gila itu. Namun entah mengapa pria yang dijodohkan dengan Ana justru terlihat tenang dan menerima perjodohan itu.

Wisatya Dirga Prawira, pria berusia 29 tahun yang tampan, kaya, sukses dan pastinya digilai oleh kaum hawa. Hidupnya lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi bisnis keluarga, hingga ia sama sekali tidak punya waktu untuk kehidupan asmaranya. Karena itu ia pasrah saja saat orangtuanya menjodohkannya dengan Ariana Winata, putri sahabat kedua orangtuanya. Seorang guru yang terkenal nyentrik dan sangat easy going. Namun kesan pertamanya tentang Ana, benar-benar jauh dari apa yang ia bayangkan. Dibalik itu semua ia sangat mengagumi karakter Ana yang blak-blakan dan sangat jujur.

Pernikahan Ana dan Satya yang dibangun atas dasar perjodohan, menimbulkan berbagai kerumitan dalam hidup mereka. Dua pribadi yang bertolak belakang dan tidak saling mencintai hidup dalam satu atap. Kekonyolan, kekacauan, dan perseteruan kecil kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Akankah mereka mampu mengatasi segala hal bersama? Mungkinkah cinta tumbuh seiring dengan berjalannya waktu?

www.read-blogger.blogspot.com PROLOG Lelaki itu memasuki ruangan pesta dengan langkah percaya diri. Ia terlihat tampan

www.read-blogger.blogspot.com

PROLOG

Lelaki itu memasuki ruangan pesta dengan langkah percaya diri. Ia terlihat tampan dengan setelan jas berwarna silver yang menempel pas di tubuhnya. Sudah pasti begitu ia muncul, para wanita terpekik histeris, bahkan ada yang akan pingsan karena lupa bernafas. Pesona seorang Satya memang tidak bisa dihindari. Tatapan matanya yang tajam bagai elang, mampu membuat hati para wanita manapun rela melakukan apa saja demi mendapatkan kesempatan berdekatan dengannya. Dan Satya sadar benar akan hal itu. Maka dari itu terkadang ia memanfaatkan ketenaran dan kepopulerannya sebagai ajang hiburan untuk dirinya sendiri. Misalnya dengan mendekati seorang wanita, mengajak mengobrol dan mengeluarkan sedikit pesona, hingga wanita tersebut kehilangan orientasinya. Lalu Satya akan pergi dan tinggallah wanita itu dengan sekawanan wanita lain, ingin tahu apa yang terjadi. Sangat tidak dewasa memang, tapi itulah cara Satya melepaskan diri dari penatnya keseharian yang ia jalani.

“Hei, Sat? Kapan datang?” sapa Jorgie, sang pemilik pesta yang tengah merayakan resepsi pernikahannya.

“Baru saja. Maaf terlambat, ada sedikit masalah di kantor,” jelas Satya sambil mengambil segelas sampanye yang disediakan seorang pelayan.

“Oh, kali ini akuisisi apa?” tanya Jorgie, tidak heran dengan temannya yang terkenal sangat ahli melobi para investor dan kliennya.

“Ehm, Golden Palace,” jawab Satya santai, membuat Jorgie terbelalak kaget.

“Gila, udah hampir setahun aku berusaha menaklukkan gedung yang satu itu tapi selalu gagal. Gimana caranya?” tanya Jorgie ingin tahu, namun Satya hanya tersenyum simpul sambil mengedipkan mata nakalnya, kemudian beranjak pergi meninggalkan Jorgie yang masih terperangah.

Di sudut lain ruangan mewah itu terjadi sedikit keributan. Seorang wanita terlihat membuat kehebohan dengan perilakunya yang mabuk berat. Ia menggelosor di lantai sambil meracau hebat. Beberapa temannya mencoba membantu, tapi wanita mabuk tersebut benar-benar tidak tertolong lagi.

“An

Ana

panggil Elia, berusaha menyadarkan wanita mabuk yang bernama Ana itu.

“No

Ah

racau Ana tidak karuan. Keempat temannya yang ada disana hanya bisa

menggelengkan kepala menyaksikan kelakuannya.

“Fa, apa yang dia minum?” tanya Elia pada Farah, menyerah berusaha membantu Ana berdiri.

“Sampanye,” jawab Farah datar.

“Berapa banyak?” timpal Resti.

“Satu,” jawab Dhina yang mencoba membantu Ana berdiri.

1

www.read-blogger.blogspot.com “Satu gelas?” tanya Elia, masa hanya satu gelas bisa membuat seorang Ana mabuk ber

www.read-blogger.blogspot.com

“Satu gelas?” tanya Elia, masa hanya satu gelas bisa membuat seorang Ana mabuk berat seperti sapi disuntik obat bius? Ana memang tidak tahan minum, namun jika satu atau dua gelas, ia masih bisa diajak berkompromi walau pasti tetap saja bicaranya akan meracau. Tapi kali ini?

“Botol

terbelalak kaget.

El, BOTOL!” pekik Farah membuat Elia dan Resti yang tadi tidak bersama mereka

“Hah? Satu botol? Pantas aja kelakuannya mirip gajah mabuk,” ucap Elia tak percaya.

“Udah deh, jangan berdebat! Lebih baik bantu aku bawa Ana ke tempat aman, malu dilihatin orang-orang,” pinta Dhina, ketiga temannya pun tersadar bahwa sejak tadi mereka menjadi tontonan massal. Keempatnya pun berusaha mengangkat tubuh Ana bersama-sama. Namun saat akan diangkat, tiba-tiba Ana berdiri tegak.

“Stop

sempoyongan, tidak dapat berdiri tegak.

!”

teriaknya mengagetkan semua orang. Keadaannya yang mabuk membuat tubuh Ana

“An, kamu baik-baik aja kan?” tanya Dhina, “I’m Oke!” balas Ana sambil berjalan dengan tubuh sempoyongan.

“Ana

kemari. Namun ternyata Ana tidak jatuh. Ia tetap dapat berjalan, meski dalam keadaan terombang-ambing.

teriak teman-temannya berusaha menangkap tubuh Ana yang limbung kesana

Dikejauhan Satya memperhatikan wanita mabuk yang menyedihkan itu. ia mendecakkan lidah, mencemooh tindakan bodoh wanita itu.

“Dasar, wanita menyedihkan,” cemohnya sambil meneguk isi sampanye yang tersisa digelasnya.

2

www.read-blogger.blogspot.com SATU Ana berlari dengan tergesa-gesa menuju kelasnya. Ini untuk yang kesekian kalinya ia

www.read-blogger.blogspot.com

SATU

Ana berlari dengan tergesa-gesa menuju kelasnya. Ini untuk yang kesekian kalinya ia terlambat. Jika sampai Pak Ronald, wakil kepala sekolah memergokinya, maka habislah ia. Namun keberuntungan masih berpihak padanya. Tidak ada tanda-tanda kemunculan Pak Ronald di sekitarnya. Dengan nafas terengah-engah, Ana memunculkan kepalanya dari balik pintu.

“Maaf Ibu telat,” ucapnya santai, sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Semua murid menatap maklum akan kelakuan guru mereka yang satu itu.

“Hah, bukannya Ibu biasa begini?” timpal Emiliana, atau akrab disapa Mili, murid yang punya lidah setajam silet dan selalu mengkritik apapun yang dilakukan Ana. Ana menatap Mili sambil menjengitkan sebelah alisnya.

“Baik, sampai dimana pelajaran kita?” tanya Ana, sambil membenarkan letak highheels yang menempel di kakinya.

“Sejak kapan kita pernah belajar? Bukannya Bu Ariana gak pernah memberikan pengajaran atau penjelasan buat kami?” kritik Mili, perang kata-kata akan segera dimulai.

“Oh, Thank you Mili. Hampir setahun Ibu mengajar di sini, dan kamu satu-satunya yang paling mengerti Ibu. Gak salah kalau kamu selalu jadi juara di kelas ini dengan kepandaian kamu dalam berargumentasi,” balas Ana, masih terlihat santai dan tak acuh.

“Baik buka materi terakhir kalian dan kerjakan soal-soal yang ada di sana,” perintah Ana, kemudian duduk di kursinya dan mulai sibuk dengan ponselnya.

“Dasar guru payah,” umpat Mili, ternyata Ana mendengarnya dan membalas umpatan gadis itu, “Thank You Mili,”, namun Ana membalas tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya membuat Mili jengkel.

“Bagaimana mungkin seorang guru tidak punya rasa tanggung jawab terhadap muridnya dan membiarkan muridnya belajar sendiri?” protes Mili yang sudah tidak tahan dengan sikap cuek gurunya itu. Ana mendongak, meletakkan ponselnya di meja.

“Dengar, Emiliana,” ucap Ana tampak serius, “Ini namanya kalian belajar mandiri. Inilah konsep pendidikan saat ini. membiarkan murid mencari tahu dan mengeksplorasi kemampuannya. Guru hanya sebagai pendamping dan pembimbing. Hanya memberi arahan, mengerti?”

“Tapi Ibu sama sekali tidak memberi arahan apapun,” Mili tetap memprotes.

“Ah, gadis tengil? jika saja bukan karena uangnya yang membayar gajiku, sudah kulempar gadis ini ke Samudera Pasifik,” gumam Ana dalam hati. Ana kemudian tersenyum dengan sangat manis membuat Mili mengernyitkan dahi.

“Mili,” Ana mulai berdiri sambil mengibaskan rambut bagian depannya yang keluar dari

3

www.read-blogger.blogspot.com tatanan akibat ak si maratonnya tadi, “Just Do it! Jangan protes. Kamukan pintar? Apa

www.read-blogger.blogspot.com

tatanan akibat aksi maratonnya tadi, “Just Do it! Jangan protes. Kamukan pintar? Apa susahnya mengerjakan soal seperti itu bagi kamu? Toh teman-teman kamu gak ada yang protes, ya kan?” tanya Ana, mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Terlihat anak-anak itu sama sekali tidak peduli. Tentu saja tidak peduli, kalau mereka bisa lulus dengan mudah dari sekolah itu.

***

SMU PRIMA MANDIRI, adalah satu dari sekian banyak sekolah swasta ternama di ibukota. Namun ada satu hal yang membedakan sekolah ini dengan sekolah lainnya. Jika sekolah

lainnya menjaga prestise mereka dengan prestasi dan deretan siswa dengan otak cemerlang,

di sekolah ini, mereka menjaga prestisenya dengan kumpulan siswa dari kalangan borjuis.

Tanpa otak encer, selama orangtua mereka punya banyak uang dan saldo tabungan melimpah

di bank, maka sekolah ini dengan tangan terbuka akan menyambut mereka. Karena itu juga

sekolah ini tidak menyediakan program beasiswa. Beasiswa berarti membagi mangkok nasi mereka menjadi dua dengan anak dari rakyat jelata. Itu juga yang membuat Ana betah mengajar di sekolah ini. Tanpa perlu repot, tapi uang akan mengalir setiap bulan, dan nilainya juga cukup besar. Kapitalis memang, tapi itulah hidup. Walau begitu, bukan berarti sekolah ini tidak memiliki murid dengan otak seencer Albert Einsten. Salah satu contoh nyata adalah Mili, murid yang selalu mengkritik sikap guru-guru oportunis seperti Ana.

“Sudah selesai?” tanya Ana yang sedang sibuk chatting dengan para sahabatnya. Mili benar- benar jengkel dengan ulahnya.

“Hei, nanti malam kita jadi Clubbing?” tulis Ana di pesannya pada keempat sahabatnya sejak SMU. Dhina, Elia, Farah dan Resti.

“Oke!” balas keempatnya bersamaan, dan Ana tersenyum.

Namun tiba-tiba keceriaannya pudar saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Mbak Ani, tertera dengan jelas nama itu di layar ponselnya. Dengan enggan Ana mengangkat teleponnya, “Ya,”

“An, malam ini kamu harus pulang, Mama mau kamu makan malam di rumah,” cecar Ani begitu Ana menjawab telepon.

“Eh, gak bisa Mbak, malam ini aku banyak tugas. Harus megetik naskah soal untuk muridku,”ucap Ana berbohong, murid-muridnya yang mendengar percakapan itu memandang heran pada Ana.

“Dasar pembohong,” ledek Mili sambil tetap menulis, “Thank You Mili,” balas Ana sinis, menjauhkan sejenak ponsel dari telinganya saat mendengar Mili meledeknya.

“Gak bisa, kata Mama kamu

tidak asing bagi Ana dan sangat ditakutinya, “Pokoknya kamu harus pulang malam ini!” tegas sang Mama dari seberang sana.

tiba-tiba suara Ani terputus dan digantikan dengan suara yang

“Ah

Mbak gak bilang di situ ada Mama?” balas Ana kesal.

menyebalkan,” umpat Ana, kemudian mulai bicara lagi dengan kakaknya, “Kenapa

4

www.read-blogger.blogspot.com “Baik, baik, aku pulang,” Ana menutup telepon dengan jengkel,”Apa yang kalian lihat,

www.read-blogger.blogspot.com

“Baik, baik, aku pulang,” Ana menutup telepon dengan jengkel,”Apa yang kalian lihat, kembali bekerja,” teriaknya pada mata-mata yang sejak tadi menatapnya.

***

Restoran bergaya Eropa timur itu terlihat lengang dengan sedikitnya pengunjung yang hadir. Mungkin karena saat itu masih terlalu sore untuk menikmati makan malam. Tapi tidak bagi Satya, saat ia bermaksud mengambil alih sebuah hotel bintang lima yang tengah dililit masalah keuangan. Satya memang pengusaha yang sangat pintar melobi dan membaca situasi. Dengan lihai ia mampu melihat pasar mana yang bisa ia masuki atau perusahaan mana yang bisa ia akuisisi untuk mengembangkan Dirga Price Company, perusahaan milik keluarganya yang sudah turun temurun memegang peranan besar bagi perekonomian Indonesia.

“Jadi, jika anda mau menandatangani berkas ini, maka semua masalah keuangan di hotel anda akan segera teratasi. Perusahaan kami akan mengambil alih dan memperbaiki strutural dan manajemen hotel agar hotel itu dapat hidup lagi,” ucap Redo, sekretaris Satya, yang biasanya lebih dulu menangani semua masalah. Jika Redo, tidak mampu, barulah Satya yang akan turun tangan.

“Tapi itu artinya

ucap pak Bimo, pemilik Hotel Citra yang akan diakuisisi oleh Satya.

“Itu artinya anda tidak hanya menyelamatkan hidup anda, tapi juga menyelamatkan hidup ratusan karyawan anda, karena kami hanya akan memperbaiki struktur menajemen hotel, bukan memecat semua karyawan dan membuat mereka menjadi pengangguran,” balas Satya, dengan santai menyuapkan potongan beefsteak ke mulutnya. Pak Bimo terlihat mengangguk. Ia yakin Satya tidak seperti pengusaha lain yang hanya ingin mengambil keuntungan tapi juga memikirkan nasib orang-orang yang ada dibalik bisnis tersebut.

“Baiklah,” ucap pak Bimo akhirnya setuju. Redo tersenyum penuh kemenangan. Ia kagum pada profesionalitas dan kinerja Satya dalam menangani pekerjaannya.

Dengan sigap, Redo menyerahkan surat perjanjian akuisisi yang langsung ditandatangani oleh pak Bimo.

“Pastikan anda menepati janji untuk tetap mempekerjakan para karyawan,” pinta pak Bimo sambil menyerahkan berkas yang telah ia tandatangani.

“Pasti. Anda jangan khawatir,” ucap Satya penuh percaya diri sambil menjabat tangan pak Bimo. Merekapun melanjutkan acara makannya sambil berbincang.

“Wah, Pak Satya benar-benar hebat. Saya selalu kagum melihat Bapak selalu memenangkan negosias seperti ini,” puji Redo, saat mereka telah selesai bertransaksi dan bersiap untuk kembali ke kantor.

“Nanti kamu juga akan mahir dengan sendirinya,” balas Satya santai. Keduanya berjalan meninggalkan restoran.

Saat tengah berjalan, keduanya menangkap sedikit keributan kecil yang terjadi di sebuah

5

www.read-blogger.blogspot.com antrian kasir pusat perbelanjaan yang tak jauh dari restoran tersebut. Terlihat seorang

www.read-blogger.blogspot.com

antrian kasir pusat perbelanjaan yang tak jauh dari restoran tersebut. Terlihat seorang wanita muda sedang beradu mulut dengan seorang pria karena si pria memotong antrian barisan.

“Maaf Pak, anda harus mengantri di belakang,” tegur Ana pada pria yangmenyerobot antrian.

“Saya mau cepat,” balas si pria setengah membentak. Ana yang tidak tahan melihat kelakuan orang-orang seperti inipun membalas pria itu.

“Tapi Ibu ini juga mau cepat. Gak lihat apa anaknya udah merengek minta pulang?” teriak Ana tak mau kalah, menunjuk Ibu yang berdiri di depannya.

Satya yang melihat keributan itu memandang kagum pada sosok wanita muda yang berani menegur pria yang tidak disiplin itu. Tadinya ia ingin membantu wanita muda itu, namun saat melihat seorang petugas keamanan berjalan ke arah keributan, Satya mengurungkan niatnya. “Ayo pergi,” ajak Satya pada Redo. Redopun mengikuti langkah Satya meninggalkan tempat itu.

“Ada apa ini?” tanya sang satpam.

“Bapak lihat? Orang ini menerobos antrian. Padahal Ibu ini sudah dari tadi mengantri, tapi dia seenaknya menerobos. Dasar tidak tahu aturan,” umpat Ana kesal. Jika saja murid- muridnya mendengar Ana mengucapkan kalimat itu, mereka pasti tertawa terbahak-bahak. Seorang Ariana Winata yang terkenal selalu terlambat dan tidak disiplin, bisa-bisanya menasehati orang lain tentang kedisiplinan.

“Maaf, Pak, tapi Bapak harus mengantri,” ucap si satpam sambil mempersilahkan pria tersebut kembali ke antriannya. Pria itu memandang gemas pada Ana saat berjalan ke belakang, namun Ana sama sekali tidak takut. Ia balas menantang tatapan pria itu.

“Dasar

gerutu Ana.

***

Mobil sedan hitam mengkilat itu berhenti tepat di sebuah rumah super mewah. Satya turun dari mobil dan segera tersenyum saat sang Ibu sudah menyambut kedatangannya di depan pintu.

“Bagaimana kabar kamu hari ini?” tanya sang ibu.

“Baik, sangat baik,” balas Satya sambil memeluk dan mencium pipi sang ibu manja. “Kalau kamu sibuk begini, kapan kamu punya waktu untuk menikah dan kasih Mama cucu Sat? Masa kalah sama adikmu Naya?” tanya Mamanya sambil berjalan berangkulan ke dalam rumah.

“Ehm

Mama kan udah punya cucu dari Naya,”

“Iya, tapi Mama maunya cucu dari anak lelaki Mama satu-satunya. Lagipula Naya kan gak tinggal di sini,”

“Minta saja mereka untuk pulang ke Indonesia,”

6

www.read-blogger.blogspot.com “Kamu kaya gak kenal Naya deh. Mana mau dia ninggalin suaminya. Dan kamu tahu

www.read-blogger.blogspot.com

“Kamu kaya gak kenal Naya deh. Mana mau dia ninggalin suaminya. Dan kamu tahu Lukman itu orangnya kan berpendirian. Dia mana mau selalu tergantung sama orang lain. Dia mau bekerja atas usahanya sendiri. Kan kamu tahu dia diterima bekerja di kedutaan luar negri karena usahanya, bukan karena embel-embel keluarganya,” terang sang Mama. Satya hanya tersenyum mendengar mamanya berkeluh kesah.

“Jadi kapan kamu mau kenalin calon istrimu ke Mama dan Papa?” tanya Mamanya lagi.

“Ma, Satya itu gak punya waktu buat diri sendiri, apalagi buat cari calon istri,”

“Gimana kalau Mama yang carikan, kamu setuju?” tawar Mamanya. Satya melihat ada binar bahagia di mata sang mama, maka iapun tak kuasa untuk menolak, “Terserah Mama. Satya yakin, pilihan Mama pasti yang terbaik,”. Sang mama girang luar biasa mendengar kesediaan anaknya. Ia mencium pipi Satya, kemudian berjalan cepat menyusul suaminya untuk mengabarkan berita itu. Satya tersenyum melihat kabahagiaan Ibunya.

Dijodohkan? Apa ini keputusan yang tepat? Pikir Satya. Tapi tidak apa, untuk saat ini, kebahagiaan Mamanya yang terpenting. Masalah dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya, itu urusan gampang. Paling-paling wanita yang akan dijodohkan dengannya tak jauh beda dengan kebanyakan wanita kalangan atas, putri sahabat mamanya, yang gemar shopping, sosialita, dan bergosip. Satya yakin ia mampu menangani hal itu. anggap saja ini seperti pertaruhan bisnis. Ia akan menghandle dan mengajak wanita itu bernegosiasi untuk pernikahan ini. Selama semua keinginan para wanita elit itu terpenuhi, maka semua akan berjalan lancar. Bisnis apa yang tidak mampu ditanganinya? Pikir Satya dengan penuh percaya diri.

***

Ana masih berada di dalam mobilnya. Sudah lebih dari pukul tujuh malam. Keluarganya pasti sudah menunggunya sejak tadi. Sejak memutuskan tinggal sendiri di apartemennya, atau lebih tepatnya apartemen yang dibelikan kedua orangtuanya, Ana memang jarang sekali mengunjungi keluarganya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan teman- temannya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ana keluar dari mobil dan melangkah masuk ke rumah.

“Tante Ana

teriak Danish dan Daffa, dua jagoan keponakan kesayangan Ana.

“Hai

“Uh, ada Princess Syaqila juga?” Ana mengambil alih menggendong keponakan perempuannya dari tangan Meiva, kakak iparnya, ibu dari Danish dan Daffa.

sayang, Tante kangeeennnn

banget sama kalian,” balas Ana memeluk dua bocah itu.

“Baru datang An?” tanya Meiva.

“Bukan baru datang, tapi sengaja datang telat. Dia pasti berlama-lama nongkrong di mobilnya,” timpal Ani, kakak perempuannya yang selalu berdebat dengannya.

“Gimana pekerjaan kamu An?” tanya Andi, kakak tertua Ana, yang selalu mendukung apapun keputusan Ana.

7

www.read-blogger.blogspot.com “Baik Mas, Papa mana?”tanya Ana, mereka serempak menunjuk ke taman belakang, tempat

www.read-blogger.blogspot.com

“Baik Mas, Papa mana?”tanya Ana, mereka serempak menunjuk ke taman belakang, tempat dimana papanya sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman hiasnya. Ana segera berlari menyusul papanya.

“Papa

kaktus.

peluk Ana dari belakang saat melihat papanya yang tengah menyiram tanaman

“hm

gumam papanya.

“Kok cuma Hm

Papa gak rindu sama anaknya?”

“Rindu, kenapa kamu jarang pulang?” tanya papanya.

“Ehm

mulai membantu papanya menyirami kaktus.

Ana banyak kerjaan Pa,” jawab Ana sambil mengambil penyemprot berisi air dan

“Sibuk? Bukannya kamu sibuk main?”

“Ah Papa

kelakuan manja putri bungsunya.

rengek Ana sambil memanyunkan bibirnya. Papanya tersenyum melihat

Keluarga Winata terkenal sebagai keluarga elit. Sejak tiga generasi, anggota keluarga Winata bekerja di pemerintahan, termasuk papa Ana. Karena itu Ana bisa dengan santai menikmati hidupnya. Namun sejak pensiun, papa Ana lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dan sesekali memeriksa perkebunan teh yang mereka miliki yang berada di luar kota. Uang bukan masalah bagi mereka. Sebenarnya Ana bisa saja tidak bekerja, namun ia tidak suka jika harus diam di rumah tanpa melakukan apapun. Anapun sama seperti kebanyakan wanita metropolis lainnya, senang berbelanja, hang out, dan clubbing. Namun ada dua hal yang tidak boleh ia lakukan saat menikmati pergaulannya, Free sex dan minum. Untuk minum ia hanya boleh mentolerir satu gelas minuman beralkohol saja, karena ia orang yanag tidak tahan minun. Jika sudah mabuk, Ana akan meracau dan membuat kehebohan. Dan untuk free sex, keluarganya akan membunuhnya jika sampai ia melakukan hal seperti itu. walau dibesarkan dalam keluarga yang liberal, namun Ana tetap harus mengikuti norma dan aturan yang diterapkan keluarganya.

“Makan malamnya enak, Ma. Ana pamit dulu ya?” ucap Ana disela-sela waktu berkumpul keluarganya.

“Kamu gak nginap disini An?” tanya Andi.

“Gak Mas, besokkan aku harus ngajar,”

“Heh, alasan ngajar, padahal dia mau clubbing tuh bareng teman-temannya,” cecar Ani yang mengenal betul sifat adik perempuannya itu. Ana mendelik sebal padanya.

“Kalau gitu kami juga mau pamit Ma,” ucap Ani kemudian bersiap pergi, ia menyerahkan putrinya Syaqila yang ada digendongannya pada Arif, suaminya.

“Kalau gitu hati-hati,” pesan Andi pada adik-adiknya. Sebagai Anak tertua, Andi yang

8

www.read-blogger.blogspot.com bertanggung jawab menjaga kedua orangtua mereka. Karena itu, ia memilih untuk tinggal

www.read-blogger.blogspot.com

bertanggung jawab menjaga kedua orangtua mereka. Karena itu, ia memilih untuk tinggal bersama papa dan mamanya. Untunglah Meiva, sang istri tidak keberatan.

“Pasti

orangtuanya. Ani pun melakukan hal yang sama. Sepeninggal kedua putrinya, rumah keluarga Winata terlihat sepi, karena memang selama ini, Ana lah yang selalu membuat keributan dan keramaian di dalam rumah itu.

Sampai jumpa Ma, Pa,” ucap Ana berpamitan sambil memeluk erat kedua

9

www.read-blogger.blogspot.com DUA Setelah acara makan malam selesai, Ana lebih dulu kembali ke apartemennya untuk

www.read-blogger.blogspot.com

DUA

Setelah acara makan malam selesai, Ana lebih dulu kembali ke apartemennya untuk memperbaiki penampilannya. Ia mengenakan dress sebatas lutut yang tidak terlalu seksi tapi cukup membuat mata para pria terpana. Setelah penampilannya dirasa cukup memadai, ia bergegas pergi. Ana berjalan memasuki sebuah club yang terdengar hingar bingar dengan dentuman musik tekno yang membahana di seluruh ruangan. Ia dan para sahabatnya memang berjanji akan bertemu di club yang biasa mereka datangi. Tak sulit menemukan keberadaan para sahabatnya di tengah kerumunan dan redupnya penerangan di ruangan itu.

"Sorry telat," sapa Ana pada kedua sahabatnya yang telah tiba lebih dulu, "Loh, mana Farah sama Resti?" tanya Ana karena tidak melihat kehadiran keduanya.

"Farah, gak bisa datang karena mendadak ada acara keluarga. Mertuanya datang dari Bandung. Dan Resti, tiba-tiba telpon katanya kepalanya mendadak sakit," jelas Elia.

"Oh," gumam Ana santai.

Diantara kelima sahabat itu, dua dari mereka, Farah dan Resti memang sudah berstatus menikah. Tapi keduanya masih sering berkumpul dengan Ana, Dhina dan Elia. Suami keduanya tidak pernah melarang, tentu saja, pria mana yang berani melarang wanita-wanita diktator seperti mereka.

"Jhon, buatkan minuman untukku," pinta Ana saat telah duduk di meja yang dekat dengan bar.

"Ana

"

pekik Dhina dan Elia bersamaan.

Jhon, si bartender yang sudah sangat mengenal Ana, mendelik padanya membuat Ana jengkel, "Ayolah, aku tidak minum, buatkan saja softdrink, oke! Aku juga tahu hal gila apa yang kulakukan di pesta Gracia kemarin. Aku tidak akan melakukan kebodohan yang sama," pinta Ana, Jhon pun mengangguk setuju dan mulai meracik minuman untuk Ana.

"Jadi kenapa kamu terlambat?" tanya Dhina sambil meneguk segelas tequila yag dipesannya.

"Oh, tadi aku harus

sosok yang sangat di kenalnya.

"

Ana menghentikan ucapannya karena tiba-tiba saja ia menangkap tiga

"Tunggu sebentar," ucap Ana, kemudian berjalan pergi menghampiri tiga sosok remaja yang tak lain adalah murid Ana. Bagaimana mungkin anak dibawah umur bisa masuk ke club ini? Mereka pasti menyuap petugas di depan sana, pikir Ana.

Tok

Ketiganya mendongak dan mendapati Ana menatap mereka dengan mata menyipit curiga.

tok

tok

sebuah

ketukan mendarat di meja kaca yang ditempati ketiga gadis itu.

"Hah

"

pekik ketiganya tanpa suara.

10

www.read-blogger.blogspot.com "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ana lembut, namun jika nada suara Ana

www.read-blogger.blogspot.com

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ana lembut, namun jika nada suara Ana selembut itu, artinya ia akan segera menghabisi mereka jika ketiganya macam-macam.

"Eh, Bu Ariana, kita cuma hang out doang kok," jawab Raya, salah satu dari ketiga remaja itu dengan nada gugup.

"Hang out? Wah, hebat ya, remaja sekarang hang outnya di club, bukan di kafe. Gimana bisa anak dibawah umur masuk tempat ini, cepat pulang!" perintah Ana dengan nada membentak. Ketiga gadis itu terperanjat. Dhina dan Elia menggelengkan kepala melihat ulah Ana.

"Cepat!" bentaknya membuat ketiga gadis itu berjalan tergesa-gesa menjauhi Ana.

"Hah

menutupi wajahnya. Hal itu merupakan salah satu kebiasaan Ana yang menjadi ciri khasnya.

Huft

"

Ana menghembuskan nafas sambil menyibakkan rambut depan yang

"Siapa mereka?" tanya Dhina saat Ana kembali ke mejanya.

"Muridku," jawab Ana santai, "Hei, ini musik favoritku, lets dance Dhina dan Elia ke lantai dansa.

"

ajak Ana menarik

Disaat ketiga wanita muda itu berdansa, tiga remaja yang diusir Ana ternyata masih bersembunyi di sebelah pintu keluar. Raya yang jengkel dengan sikap Ana berniat untuk membalas gurunya itu.

"Emang mau ngebalas gimana Ra?" tanya Feby dan Kiky bersamaan.

"Kalian tunggu di sini, oke!" perintah Raya, kemudian ia membuat dirinya sedikit berantakan agar terlihat lebih dewasa dan berjalan menuju meja bartender.

"Vodka Orange please

mungkin. Bartender mengamati Raya, "Oh, Come on, Im not a kid

berucap dengan gaya bule yang terdengar sangat meyakinkan. Untunglah, wajah Raya

memang sedikit Indo hingga sang bartender pun memberikan pesanannya.

"

pinta Raya pada sang bartender dengan gaya yang dibuat sedewasa "

just give it to me

Raya

"Thank You

"

ucap Raya sambil meletakkan beberapa lembar uang setelah menerima

pesanannya.

Raya berjalan menuju meja yang tadi di duduki Ana dan teman-temannya kemudian menukar minuman yang dipesan Ana dengan yang ia bawa. Karena keadaan club yang hingar binar, mudah saja bagi Raya menukar minuman itu. Ia yakin Ana tidak akan curiga karena wanita itu begitu ceroboh, ditambah lagi penerangan di club yang memang remang-remang. Ana pasti tidak akan sadar minumannya telah di tukar.

"Beres

"

ucap Raya saat menghampiri kedua temannya.

"Apa gak keterlaluan?" tanya Feby cemas.

"Tenang aja deh Feb, gak bakal kenapa-napa, paling Bu Ariana cuma teler doang," balas Raya santai.

11

www.read-blogger.blogspot.com Ketiganya kembali memperhatikan Ana dan kedua sahabatnya. Tiga wanita muda itu berjalan

www.read-blogger.blogspot.com

Ketiganya kembali memperhatikan Ana dan kedua sahabatnya. Tiga wanita muda itu berjalan kembali ke mejanya dengan tawa riang setelah puas bergoyang. Tanpa curiga sedikitpun Ana mulai meneguk minumannya.

"Yes

ajaknya pada Feby dan Kiky. Ketiganyapun berjalan menuju pintu keluar.

"

ucap Raya saat melihat Ana sudah meminum minuman pemberiannya, "Ayo pergi

"

"Kok, minumannya agak beda ya?" gumam Ana, namun tidak ada yang mendengar gumamannya karena Dhina dan Elia larut dalam suasana club.

"Ehm. Tapi lumayan," ucap Ana lagi sambil meneguk habis isi minumannya.

***

Satya berjalan memasuki ruangan club dengan langkah hati-hati. Entah mengapa ia mau menerima ajakan Jorgie saat menelponnya tadi. Padahal sudah lama ia tidak datang ke tempat seperti ini. Ia sendiri bingung, tapi mungkin memang ia butuh sedikit hiburan untuk melepaskan stres setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya.

"Hei, akhirnya muncul juga," sapa Jorgie, saat Satya tiba. Di sana sudah Ada Aldo dan Fadli, teman semasa sekolahnya juga.

"Mau minum?" tanya Aldo, "Tequila please tidak terlalu keras.

"

pinta Satya, sengaja memilih minuman yang

"Hei, pengantin baru, bisa-bisanya kamu malah clubbing? Gimana istrimu?" tanya Satya pada Jorgie yang baru saja menikah.

"Tenang, Gracia lagi di rumah mamanya. Maklum, anak manja, belum terbiasa berpisah dari orangtuanya," balas Jorgie santai. Keempat pria itupun kembali menikmati minuman masing- masing sambil bercerita banyak hal.

Di sudut yang lain, Ana kembali berulah, minuman yang diberikan Raya memberikan efek dahsyat baginya. Dalam hitungan menit, kesadaran Ana sudah berantakan. Kepalanya pusing dan otaknya mulai bekerja dengan tidak baik. Ia meracau tidak karuan dan mulai bertingkah gila dengan memaksa sang bertender memberikannya minuman lagi

"Give me more

"

teriaknya kacau sambil menarik baju sang bartender.

"An

Ana

ampun deh nih perempuan

"

Dhina berusaha melerainya.

"Dia minum softdrink kan? Kok jadi begini?" ucap Elia, berusaha membantu Dhina.

"Lepasin

Eliapun mengambil gelas minuman Ana, dan mencium baunya.

aku

mau lagi

"

racau Ana berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Dhina.

"Wah, minumannya ketuker. Pantas dia kumat begini," ucap Elia membuat Dhina terbelalak, "Hah?" pekiknya. Dan saat Dhina lengah, Ana berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Dhina dan berjalan menuju lantai dansa.

12

www.read-blogger.blogspot.com "Ana " pekik Dhina dan Elia menyusul temannya yang mulai menggila. Ana bergoyang

www.read-blogger.blogspot.com

"Ana

"

pekik Dhina dan Elia menyusul temannya yang mulai menggila.

Ana bergoyang seperti orang kesetanan. Ia meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti dentuman musik. Sesekali ia menggoda dan mengajak berdansa beberapa pria yang ada di sana. Pria- pria itu tentu saja senang mendapat lawan menari yang cukup HOT. Keributan kecilpun tak dapat dihindari saat Ana dan Dhina juga Elia saling tarik menarik.

"Ayoo

"

teriak Elia, namun Ana terus memberontak, "No

El

"

balas Ana.

Tanpa mereka sadari, sejak tadi keempat pria yang juga ada di tempat itu memperhatikan kelakuan tiga wanita itu. Mereka tertawa melihat aksi saling tarik antara ketiganya. Namun tak ayal mereka berdecak kagum saat melihat Ana berdansa tadi. Benar-benar menggoda, mungkin itu yang dipikirkan keempat pria itu.

"Wah, masih ada wanita seperti itu di dunia ya?" ucap Aldo.

"Kalau aja tadi aku di sana, pasti juga udah dansa sama perempuan itu," timpal Jorgie, membuat Satya memukul kepalanya sambil berujar, "Ingat istrimu,"

Kembali Satya memperhatikan kedua wanita itu yang akhirnya berhasil menyeret teman mereka keluar dari lantai dansa.

"Aku ke toilet dulu," ucap Satya, kemudian beranjak pergi.

Elia dan Dhina berusaha membawa Ana keluar dari club. Tapi memang, wanita satu itu jika sudah mabuk, justru punya ketahanan yang luar biasa saat akan di seret keluar.

"Toilet

Dhina pun hanya bisa menggerutu dan melepaskan Ana untuk ke toilet.

"

teriak Ana tiba-tiba, ia membekap mulutnya untuk menahan muntah. Elia dan

"Apa dia tahu dimana letak toilet saat mabuk begitu?" tanya Dhina cemas.

"Gak usah khawatir Dhi, gak akan ada orang yag berani macam-maca sama orang mabuk seganas dia. Toilet adalah tempat yang bisa dengan mudah ditemukan Ana kalau dia lagi teler begitu," ucap Elia menenangkan.

Memang benar dugaan Elia, Ana dengan mudah menemukan toilet dan segera memuntahkan semua cairan menjijikkan yang sejak tadi mengantri di kerongkongannya.

"Hah

"

desah Ana lega. Mualnya sudah hilang, tapi tidak berarti mabuknya juga hilang.

Dengan langkah gontai, Ana keluar dari toilet. Tak jauh ia berjalan, sebuah petaka muncul, hak sepatunya tiba-tiba lepas membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai. "

"Auh

terjadi. Ia sadar sepatunya patah. Bukan sekedar sepatu, tapi salah satu sepatu terbaiknya.

Ana melepaskan sepatu itu dari kakinya dan mulai meraung.

pekiknya menahan sakit. Namun bukan Ana namanya jika ia tidak sadar apa yang

"Hah

wajahnya.

my shoes

"

jeritnya histeris sambil mengacungkan sepatunya yang patah di depan

13

www.read-blogger.blogspot.com Kebetulan Satya baru saja keluar dari toilet pria. Ia melihat seorang wanita terduduk di

www.read-blogger.blogspot.com

Kebetulan Satya baru saja keluar dari toilet pria. Ia melihat seorang wanita terduduk di lantai sambil menangis histeris. Karena tidak tega, Satya berjalan menghampiri wanita itu.

"Hei, Nona, anda baik-baik saja," tanya Satya cemas. Kecemasan yang tidak perlu sebenarnya. Karena begitu Satya bertanya, Ana mendongak dan langsung menarik kerah kemejanya sambil berteriak-teriak histeris padanya.

"Sepatuku

pria itu sulit bernafas.

my

Choo's

Ah

"

jerit Ana sambil menarik-narik kerah kemeja Satya, membuat

"Hei, lepaskan

Ana tetap menarik kerah bajunya dan mengguncang-guncangkan tubuh Satya sambil terus meracau tentang sepatunya.

"

teriaknya berusaha melepaskan cengkeraman Ana, namun usahanya sia-sia.

"Dasar wanita gila

"

pekik Satya terus berusaha melepaskan diri.

Sementara itu Elia dan Dhina mulai cemas karena Ana tidak juga kembali. Merekapun berinisiatif untuk menyusul Ana ke toilet. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Ana tengah bergumul dengan seorang pria. Bukan Ana yang menjadi korban, melainkan Satya.

"Ana

"

pekik Elia dan Dhina bersamaan, berlari menghampiri Ana dan pria malang itu.

"My Choo's

"

teriak Ana tiada henti, histeris menangisi sepatu kesayangannya.

"An, lepasin, kasian nih orang," jerit Elia berusaha membantu Satya melepaskan diri.

Ketiganya terus bergulat dengan Ana yang tengah mabuk. Hingga tiba-tiba, "Huek muntah dengan sukses di lengan Satya.

" Ana

"Argh

"

erang Satya frustrasi.

"Iiihh

"

desis Elia dan Dhina mulai menjauhkan tangannya dari Ana.

Setelah puas mengeluarkan muntahnya, tubuh Ana melemas. Iapun melepaskan cengkeramannya pada Satya dengan sendirinya.

"An

Ana

bangun

"

Dhina mengguncangkan tubuh Ana yang mulai tak sadarkan diri.

"Maaf, Mas," ucap Elia, takut sekaligus menyesal akan kelakuan sahabatnya.

"Its Oke!" balas Satya, tapi terlihat jelas ia kesal setengah mati, "Urus teman kalian yang seperti orang gila itu. Jangan biarkan dia mabuk dan menyakiti orang lain lagi," ucap Satya dengan nada sinis kemudian beranjak menuju toilet untuk membersihkan diri. Elia dan Dhina hanya bisa berpandangan.

"Gimana nih, gak mungkin dong kita biarin dia pulang ke apartemennya dalam keadaan begini. Bisa-bisa dia membakar seluruh gedung," tanya Dhina dengan nada setengah bercanda.

14

www.read-blogger.blogspot.com "Biar dia ikut ke apartemenku aja," ucap Elia, karena tahu tidak mungkin meminta

www.read-blogger.blogspot.com

"Biar dia ikut ke apartemenku aja," ucap Elia, karena tahu tidak mungkin meminta Dhina yang membawanya karena Dhina masih tinggal bersama orangtuanya.

"Dasar wanita gila muntahan Ana.

"

umpat Satya sambil membersihkan lengan kemejanya yang terkena

"Kok bisa ada wanita yang sudah dewasa tapi kelakun masih seperti remaja yang pertama kali minum?" kembali Satya mengumpatnya. Setelah dirasa cukup bersih Satya pun meninggalkan toilet. Tadinya ia berpikir untuk bergabung kembali dengan teman-temannya. Namun mengingat keadaannya yang tidak memungkinkan iapun memutuskan untuk pergi.

"Sorry guys, aku balik duluan," ucap Satya melalui ponselnya.

***

Alarm di ponselnya berbunyi. Dengan enggan Ana mengambil ponselnya untuk mematikan suara berisik itu. Namun alangkah terkejutnya Ana saat melihat waktu yang tertera di layar ponsel.

"Hah

membuat keseimbangannya goyah karena pengaruh mabuk kemarin masih menempel di

kepalanya.

jam 7

"

pekik Ana sambil melompat dari tempat tidur. Aksinya yang tiba-tiba

"Auh

"

ringis Ana.

"Ada apa An?" tanya Elia yang baru keluar dari kamar mandi. Ana tidak heran dirinya berada di kamar Elia. Jika sudah mabuk berat, sahabat-sahabatnya tidak akan pernah membiarkannya pulang ke apartemennya.

"Kok gak bangunin aku sih El. Hari ini kan aku harus ngajar?" pekik Ana sambil berlari ke kamar mandi.

"Yeh, kamu aja yang kalau teler kaya mayat. Udah aku goncangin juga gak bangun-bangun," teriak Elia, Memangnya aku separah itu? tanya Ana memunculkan kepalanya di pintu dengan busa pasta gigi memenuhi mulutnya.

"Ih, nih perempuan jorok banget

mandi jika tidak mau Elia menghajarnya.

"

pekik Elia, membuat Ana segera menutup pintu kamar

"Aku gak punya baju buat ngajar El," raung Ana setelah selesai dengan prosesi mandi ekspressnya.

"Pakai bajuku," Elia mencampakkan satu stel kemeja lengkap dengan rok pensil dibawah lutut dan sebuah blazer untuk melengkapi kesan formal dandanan Ana.

"Kamu tahu apa yang bikin kamu teler?" tanya Elia saat Ana sibuk merapikan penampilannya. Karena tidak punya banyak waktu, ia hanya berpakaian, berdandan seadanya, tanpa make up dan dengan tatanan rambut yang hanya digelung asal-asalan.

"Apa?" tanya Ana sambil menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya.

15

www.read-blogger.blogspot.com "Ada yang nukar minuman kamu menjadi Vodka Orange," balas Elia, membuat Ana terpekik

www.read-blogger.blogspot.com

"Ada yang nukar minuman kamu menjadi Vodka Orange," balas Elia, membuat Ana terpekik kaget, "Apa!", Elia mengangguk.

Ana berpikir sejenak. Sebuah titik terang muncul di benaknya, "Aku tahu siapa orang iseng yang sengaja menukar minumanku," gumam Ana.

"Siapa?" tanya Elia penasaran, namun Ana menggeleng tidak ingin memberitahu.

"Biar aku selesaikan sendiri El, anak-anak tengil itu akan dapat balasannya," ucap Ana sambil menyusun ide pembalasan di kepalanya. Namun kembali ia terpekik saat melihat jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat.

"Aduh El, aku benar-benar telat!" pekiknya, Elia melemparkan kunci mobil dan ditangkap dengan sigap oleh Ana.

"Pakai mobilku, mobilmu kita titip di club,"

"Thanks El," balas Ana, berlari menuju pintu sambil menyambar sepatu apapun yang ada di rak sepatu di samping pintu masuk apartemen Elia. Ia bersyukur, ukuran kakinya dan Elia sama, jadi ia tidak perlu pusing jika dalam keadaan terdesak seperti ini harus memakai sepatu Elia.

***

Satya kembali membuka berkas yang akan diajukan pada klien dari PT Bumi Daya. Ia ingin memastikan bahwa semua sudah tersusun rapi, hingga tiba-tiba ia mendengar benturan yang cukup keras dari arah belakang mobilnya. Sebuah mobil sedan merah, menabrak bagian belakang mobilnya. Pagi-pagi harus mendapatkan bencana seperti ini membuat Satya mengerang. Dengan kesal ia keluar dari mobil untuk melihat seberapa parah kerusakan yang ia alami.

"Parah

"

gumamnya, kemudian berjalan menghampiri mobil si penabrak.

Di dalam mobilnya, tepatnya mobil Elia, Ana terlihat ketakutan. Ia baru saja menabrak

sebuah mobil mewah yang harganya

ngeri saat si pemilik mobil mewah mendekat ke mobilnya.

Ana tidak berani membayangkannya. Ana bergidik

"Mati deh

"

umpatnya.

Sebuah ketukan tidak sabar terdengar di jendela mobilnya. Ana membuka setengah kaca mobilnya.

"Keluar," ucap Satya, si pemilik mobil, tegas. Dengan takut-takut, Ana keluar dari mobilnya.

"Kamu lihat apa yang kamu sebabkan di mobil saya?" ucap Satya menunjuk ke arah kerusakan mobilnya. Ana mengangguk. Satya memandang sekilas pada Ana, kemudian ia tertegun.

"Bukankah ini wanita gila yang tadi malam menghajarku habis-habisan?" gumam Satya

16

www.read-blogger.blogspot.com dalam hati. Ia memperhatikan Ana dari atas hingga bawah, kemudian berdecak, "Ck

www.read-blogger.blogspot.com

dalam hati. Ia memperhatikan Ana dari atas hingga bawah, kemudian berdecak, "Ck

memperhatikan Satya dan sangat tidak suka melihat cara Satya menatapnya seakan ada yang

salah dengan dirinya.

" Ana

"Aku tidak ingin buang-buang waktu, berikan KTP-mu atau nomor teleponmu," perintah Satya tegas.

"Hah?" gumam Ana.

"Berikan KTP-mu atau nomor teleponmu jadi aku bisa mengirimkan biaya tagihannya padamu,"

"Hah?" kembali Ana bergumam membuat Satya jengkel.

"Ini akan memakan waktu, bicara dengan orang yang kelihatannya masih mabuk," gumam Satya, Ana cukup tersinggung mendengar ucapan Satya namun entah mengapa otaknya tidak berfungsi dengan baik untuk membalas ejekan itu.

"Baik

mobilnya dengan ponsel.

"

ucap Satya berjalan menuju bamper depan mobil Ana dan memotret plat nomor

"Begini lebih baik. Aku akan segera mengirimkan tagihannya padamu," ucap Satya tegas seraya beranjak pergi dari hadapan Ana yang masih terpaku.

"Buang-buang waktu saja," gerutu Satya saat ia telah berada di dalam mobilnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyalakan mesin mobilnya bersiap pergi. Namun sebelum benar- benar menjauh, sekilas ia melirik Ana yang masih terpaku di samping mobilnya lewat kaca spion.

Detik berikutnya Ana tersadar dari lamunannya. Ia sendiri bingung kenapa sama sekali tidak mampu membalas satupun ucapan Satya. Kembali ia melirik arloji di tangannya dan mulai

terpekik, "Hah

"ucapnya

untuk yang keempat kalinya menyadari dirinya benar-benar

terlambat.

17

www.read-blogger.blogspot.com TIGA Pak Ronald menatap tajam Ana. Ini pertama kalinya ia memergoki Ana terlambat. Selama

www.read-blogger.blogspot.com

TIGA

Pak Ronald menatap tajam Ana. Ini pertama kalinya ia memergoki Ana terlambat. Selama ini ia sering mendengar selentingan kabar yang mengatakan bahwa Ariana sering datang terlambat. Namun ia tidak mempercayainya. Dan kali ini saat ia menangkap basah Ana dengan mata kepalanya sendiri, akhirnya ia percaya.

“Bu Ariana, apa benar Ibu sering terlambat?” tanya pak Ronald tajam.

“Eh, gak Pak. Hanya

beberapa kali,” jawab Ana berbohong.

“Ini peringatan untuk Ibu. Jika saya menangkap basah Ibu terlambat lagi, maka dengan terpaksa saya akan memecat Ibu,” ancam pak Ronald.

“Pasti, gak akan ada kata terlambat lagi untuk saya,” janji Ana, “Boleh saya pergi? Kelas saya sudah dimulai setengah jam yang lalu,” pinta Ana, pak Ronald pun mengijinkannya pergi.

“Huft

pembalasan untuk para tutup botol itu,”, Ana mempercepat langkahnya.

selamat

desah Ana begitu ia keluar dari ruangan pak Ronald, “Sekarang, waktunya

***

Satya memasuki ruang rapat dengan tergesa-gesa. Ia terlambat untuk menghadiri rapat penting dengan klien dari PT Bumi Daya. Ini semua karena insiden yang dialaminya pagi tadi. Terpaksa ia harus memasukkan dulu mobilnya ke bengkel langganan baru kemudian menyusul ke kantor dengan menggunakan taksi.

“Maaf saya terlambat,” ucap Satya begitu ia masuk ke ruang rapat. Wajah klien sudah terlihat tidak senang. Ini pertama kalinya dalam sejarah seorang Satya mengalami keterlambatan.

“Saya benar-benar minta maaf, tapi ada sedikit kecelakaan yang saya alami,” jelas Satya, terlihat wajah klien yang tadinya marah menjadi sedikit prihatin.

“Apa anda baik-baik saja?” tanya Pak Gilang, perwakilan dari PT Bumi Daya.

“Untunglah tidak terjadi apapun pada saya. Bisa kita lanjutkan rapatnya?” pinta Satya setelah berhasil meluluhkan hati klien dengan cerita kecelakaan yang ia alami.

“Kenapa bisa kecelakaan?” tanya Redo setelah rapat yang berlangsung cukup lama itu selesai. Ia sedikit kaget mendengar penuturan bosnya. Karena sepengetahuannya, Satya adalah orang yang sangat disiplin dan hati-hati. Tidak mungkin ia menjadi begitu ceroboh sampai menyebabkan kecelakaan seperti itu.

“Ada wanita mabuk yang menabrak bagian belakang mobilku,” balas Satya santai, sambil menyerahkan file rapat ke tangan Redo.

18

www.read-blogger.blogspot.com “Lalu? Bagaimana mobilnya? apa si penabrak mau tanggung jawab?” tanya Redo penasaran.

www.read-blogger.blogspot.com

“Lalu? Bagaimana mobilnya? apa si penabrak mau tanggung jawab?” tanya Redo penasaran.

“Cukup parah. Tapi mau tidak mau, wanita itu tetap akan mendapatkan tagihannya,” ucap Satya tegas sambil melangkah memasuki ruangannya. Redo hanya menggeleng sambil mengimbangi kecepatan langkah bosnya.

***

Sepanjang perjalanan menuju ruang guru, Ana terus menggerutu tentang kesialannya pagi itu. Ia menabrak mobil orang, harus membayar tagihan dua kali lipat untuk mobil yang ditabraknya dan tentu saja mobil Elia. Untunglah Elia tidak mengamuk saat Ana memberitahu bahwa mobilnya lecet karena Ana menabrak mobil orang lain. Dan lagi ia harus mendapat teguran dari pak Ronald. Mulai hari ini, Ana bertekad bahwa ia tidak akan terlambat lagi jika tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Bukan karena ia mencintai pekerjaannya, tapi karena pekerjaan ini satu-satunya yang dirasa Ana cukup santai dan menyenangkan. Ia sudah pernah bekerja di kantor. Berkutat dengan waktu dan kegiatan yang monoton membuat otaknya mati rasa. Karena itu ia memutuskan berhenti dari kantor lamanya dan mencari pekerjaan lain yang membuatnya punya banyak waktu.

“Benar-benar sial

membuatnya menjadi wanita gila semalam.

ah seandainya

gerutuannnya terhenti saat ia melihat tiga makhluk yang

“Ah

Feby, Kiky dan Raya yang dipanggil dengan sebutan National Anthem menoleh kaget mendengar panggilan Ana. Ana menjulurkan telunjuknya, tanda meminta ketiga gadis itu mendekat.

pekik Ana pelan, “Hei, National Anthem

panggilnya pada Raya dan dua temannya,

“Good. Ikut saya,” pinta Ana mulai berjalan, ketiga gadis itu megikuti Ana di belakang. Ana menggiring ketiganya menuju Lab Biologi. Setelah mereka masuk, dengan kasar Ana menutup pintu membuat mereka terkejut.

“Duduk,” perintah Ana. Nada suaranya yang menyeramkan membuat tiga siswi itu tak berkutik dan menuruti perintah Ana.

“Kalian tahu apa yang terjadi tadi malam karena ulah kalian?”, Ana menatap tajam ketiganya membuat ketiganya ketakutan setengah mati.

“Memangnya a

Sayangnya usahanya gagal. Ana duduk di meja di depan mereka, menyilangkan kaki dan mendekap kedua tangannya di dada. Berlagak menjadi penguasa.

apa

yang kami lakukan?” balas Raya gugup, mencoba bersikap berani.

“Karena minuman yang kalian tukar, saya bertingkah seperti sapi gila yang disuntik boraks. Menari seperti orang kesurupan dan yang paling parah kalian tahu? Karena ulah kalian saya

harus kehilangan sepatu terbaik saya. My Choo’s

sangat menyedihkan. Kalian tahu!” bentak Ana dengan kecepatan bicara yang mengalahkan

lajunya kereta super cepat Shinkansen di Jepang. Ketiga muridnya melongo mendengar ucapan Ana.

Jimmy Choo’s ku harus patah dengan

19

www.read-blogger.blogspot.com “Kenapa Bu Ariana malah tuduh kita?” balas Raya tidak terima dengan tuduhan Ana.

www.read-blogger.blogspot.com

“Kenapa Bu Ariana malah tuduh kita?” balas Raya tidak terima dengan tuduhan Ana.

“Kalian pikir orang dewasa mau, ngelakuin hal kekanak-kanakkan seperti yang kalian lakukan? Kalian pikir saya gak cukup kenal semua makhluk penghuni club itu hah? Dan kamu, National Anthem ”

“Nama saya Raya, bukan National Anthem!” protes Raya karena Ana memanggil namanya dengan seenaknya.

“Terserah,” balas Ana cuek, “Saya cuma mau kalian bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada saya. Saya mau kalian mengganti sepatu Choo’s saya,”

“Hah?” teriak ketiganya serempak, “Tapi kita mana punya uang buat ganti itu sepatu Bu,” balas Raya.

“Kalian emang gak punya, tapi orangtua kalian kan punya. Kalian gak tahu betapa mahalnya saya beli sepatu itu?”

“Jangan-jangan sepatu KW? Masa bisa patah begitu kalau asli?” sindir Raya membuat Ana sewot.

“Hei, National Anthem, kamu pikir saya mau beli barang-barang KW begitu? Kalau kalian gak mau ganti, saya akan laporkan kejadian kemarin ke kepala sekolah,” ancam Ana.

“Kalau gitu Ibu juga bakal ketahuan dong?” Raya tak kalah mengancam.

“Gak masalah,” jawab Ana santai, membuat ketiga gadis itu menciut takut.

“Bu, kita mana punya uang buat gantiin sepatu itu? Please Bu, kasih hukuman yang lain aja ya?” pinta Feby. Ana memperhatikan ketiga gadis itu, timbul rasa kasihan di hatinya.

“Baik, tapi kalian tetap akan saya hukum,” ketiga gadis itu terdengar lega. Lebih baik dihukum daripada harus mengganti sepatu itu. Karena jika mereka menggantinya, otomatis kedua orangtua mereka akan tahu bahwa mereka pergi ke club.

“Berdiri sambil menghormat di tiang bendera sambil menyanyikan lagu National Anthem Indonesia Raya sampai selesai,” perintah Ana.

“Hah?” ketiganya melongo mendengar hukuman yang diberikan Ana.

***

Troley belanja yang didorong Asri Winata sudah terisi penuh dengan barang. Ini memang waktunya ia berbelanja. Sebenarnya bisa saja ia meminta Meiva, menantunya yang mengerjakannya. Namun ia kasihan melihat Meiva yang sudah repot mengurus dua anaknya ditambah lagi harus mengurus Syaqila, putri kecil Ani. Dan sebagai mertua ia juga tidak mau membebankan semua tanggung jawab rumah tangga pada Meiva. Karena itu ia mengambil alih tugas berbelanja. Walau umurnya sudah lebih dari separuh abad, namun Asri masih terlihat kuat dan bugar.

20

www.read-blogger.blogspot.com "Asri?" sapa sebuah suara yang terdengar tidak asing baginya. "Pur? Purnama

www.read-blogger.blogspot.com

"Asri?" sapa sebuah suara yang terdengar tidak asing baginya.

"Pur? Purnama kan?" balas Asri seolah tak percaya, Purnama pun mengangguk. Kedua sahabat lama itu berpelukan.

"Apa kabar?" tanya Asri.

"Baik," jawab Purnama.

Keduanya pun memilih berbincang di sebuah coffeshop yang ada di pusat perbelanjaan itu. Sudah lama mereka tidak saling bertemu, hampir dua tahun. Walau tinggal di satu kota yang sama, keduanya jarang bertemu karena terlalu sibuk mengurus keluarga masing-masing. Jadi jarang punya waktu untuk berkumpul.

"Sibuk apa sekarang?" tanya Purnama.

"Yah, begitu-begitu aja. Ngurus suami, main sama cucu," jelas Asri. Terbersit sedikit rasa iri di hari Purnama mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Kamu enak, di rumah rame. Kalau aku, paling cuma ada Mas Wiryo sama Satya doang. Gak punya cucu buat diajakain main,"

"Loh, memang cucu kamu kemana?"

"Naya kan udah pindah ke Jepang, ikut suaminya. Jadi ya di rumah sepi,"

"Terus Satya? Memang dia belum menikah?"

"Satya? boro-boro nikah, pacar aja gak pernah dikenalin. Gak punya waktu katanya. Padahal "

aku mau cepat-cepat punya cucu dari dia. Tapi

"Sama. Aku juga lagi pusing mikirin anakku yang nakalnya luar biasa itu?" keluh Asri.

"Siapa? Ariani?" tanya Pur penasaran.

"Ani kan udah nikah Pur, dua tahun lalu. Bahkan udah punya anak, masa kamu lupa?" jelas Asri.

"Oh, lalu siapa yang bikin kamu pusing?" tanya Pur lagi.

"Siapa lagi kalau bukan si nakal Ariana,"

"Ana? Oh ya! Bagaimana kabarnya? Sekarang kerja apa?"

"Baik. Dia sekarang jadi guru SMA,"

"Terus apa yang bikin kamu pusing?"

21

www.read-blogger.blogspot.com "Yah, kelakuannya. Rasanya aku pengen cepat-cepat nikahin dia biar ada orang yang bisa

www.read-blogger.blogspot.com

"Yah, kelakuannya. Rasanya aku pengen cepat-cepat nikahin dia biar ada orang yang bisa ngatur dan mendisiplinkan anak itu,"

"Gimana kalau kita jodohkan dengan Satya?" celetuk Pur menanggapi ucapan Asri.

"Hah? Jodohkan dengan Satya? Apa mereka mau? Bukan, tapi apa Satya mau?" tanya Asri khawatir.

"Jangan khawatir, Satya udah serahin urusan jodoh sama aku. Dijamin dia gak akan nolak. Ana-nya bagaimana?" Pur balik bertanya.

"Kamu gak usah khawatir. Anak itu gak akan nolak. Memang dia bisa kalau semua fasilitasnya di tarik?" ucap Asri sambil tersenyum jahil pada Pur.

"Kamu ini ya?" balas Pur, tertawa melihat ancaman sahabatnya untuk putrinya.

***

Seluruh Siswa tertawa melihat hukuman yang dijalani Raya dan kawan-kawan. Raya rasanya malu setengah mati. Di hadapan seluruh sekolah, di siang yang terik, mereka di suruh menghormat bendera sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sementara Mili yang melihat temannya di hukum, kembali mencibir tindakan Ana.

"Kakanakkan. Apa gak ada hukuman yang lebih baik daripada hal bodoh begini?"

Ana menatap tajam Mili, "Contohnya? Menyuruh mereka membuat essai kenapa dinosaurus dan mamoth bisa punah? Atau kenapa gravitasi itu ada? Atau kenapa Mili punya mulut lebih pedas dibandingkan lima kilo cabe rawit?" ejek Ana, Mili mendelik kesal.

"Dengar ya, Ms. Perfect. Saya gurunya terserah mau saya berikan hukuman apa. Kalau saya suruh mereka nyebur ke empang juga itu urusan saya. Oke!" ucap Ana sambil menepuk pundak Mili lalu berjalan pergi.

"Bu Ariana?" panggil Pak Tito, guru olahraga yang selalu mengejar-ngejar Ana.

"Gangguan apa lagi ini?" gerutu Ana kemudian beralik sambil menyunggingkan seulas senyum.

"Ya Pak Tito?" balas Ana berlagak manis.

"Saya punya dua tiket nonton, mungkin

"

"Dengar Pak Tito," potong Ana dengan suara tegas, "Saya gak bisa. Dan tolong Bapak jauhi saya karena sebentar lagi saya akan menikah. Saya gak mau calon suami saya salah paham. Permisi," ucap Ana sambil berjalan pergi meninggalkan pak Tito yang tertegun.

"Suami? Hah? Dasar pembohong, pria mana yang mau sama perempuan seperti dia?" cibir Mili begitu Ana beranjak pergi.

22

www.read-blogger.blogspot.com Asri dan Purnama sudah memgatur pertemuan untuk Ana dan Satya. Mereka juga sudah

www.read-blogger.blogspot.com

Asri dan Purnama sudah memgatur pertemuan untuk Ana dan Satya. Mereka juga sudah memberitahukan rencana perjodohan Ana dan Satya pada keluarga masing-masing. Kedua keluarga menyambut baik perjodohan itu. Hanya saja mereka belum tahu reaksi anak-anak yang dijodohkan itu. Satya dengan tenang menerima perjodohan itu, tapi tidak dengan Ana.

"Apa?" jerit Ana saat sang ibu memintanya pulang dan memberitahukan rencana perjodohan itu.

"Pokoknya semua sudah sepakat. Kamu dan Satya akan segera menikah. Sabtu ini kamu harus bertemu dengan Satya. Mama dan Tante Pur sudah atur semuanya," ucap Mamanya tegas.

"Gak bisa Ma. Ana gak mau nikah. Mama apaan sih main jodoh-jodohin seenaknya?" protes Ana.

"Mama gak peduli. Pokoknya mau tidak mau Mama tetap akan menikahkan kamu dengan Satya," balas mamanya tegas.

"Hah? Pa

pada papanya.

tolong bujuk Ibu Suri ini buat ngebatalin perjodohan gila ini, please

"

pinta Ana

"Papa udah setuju, jadi kamu gak bisa berbuat apapun. Semua sudah setuju," tegas mamanya.

"Oh, jadi semua sekongkol nih mau keroyok aku? Oke, aku bakal kabur. Aku gak mau dijodohin,"

"Silakan. Tapi semua fasilitas, mulai dari apartemen, mobil, ATM, kartu kredit, akan ditarik. Dan nama kamu akan Mama coret dari daftar anak Mama,"

"Hah? Mama lebih kejam dari Ibu tiri tahu gak?" gerutu Ana, namun tidak ada satu orang pun yang mendukungnya.

"Mas Andi

"

rengek Ana pada kakak lelakinya.

"Udah deh An, coba aja dulu ketemu. Siapa tahu kalian cocok," ucapan Andi sama sekali tidak menenangkan Ana.

"Argh

tersenyum penuh kemenangan.

"

erangnya frustrasi sambil mengacak-acak tumpukan bantal di sofa. Sang mama

***

Elia, Dhina, Farah dan Resti memperhatikan Ana yang sejak tadi memainkan minumannya dengan sedotan. Ulahnya itu membuat para sahabatnya dan pengunjung resto itu merasa jijik. Bagaimana tidak, jika seorang wanita dewasa memainkan minumannya dan membuat berbagai gelembung di dalam gelasnya dengan memainkan udara di mulutnya dengan sedotan.

"An, udah dong! Jorok banget," tegur Resti, manjauhkan minuman itu dari mulut Ana.

23

www.read-blogger.blogspot.com Sedotan yang masih tertinggal di mulutnya meneteskan air minuman itu ke permukaan meja.

www.read-blogger.blogspot.com

Sedotan yang masih tertinggal di mulutnya meneteskan air minuman itu ke permukaan meja.

"Ish

"

desis Elia, menarik sedotan itu dari mulut Ana.

"Aku harus gimana?" ucap Ana tiba-tiba. Keempat sahabatnya memandang iba padanya setelah Ana menceritakan masalahnya.

"Ya udah, kamu temuin aja dulu," saran Farah.

"Kalau gak sreg, kamu bisa tinggalin, gampang kan?" timpal Elia.

"Gampang gigimu, El. Itu artinya aku harus rela hidup menggembel gitu? Kecuali kamu mau nanggung aku seumur hidup," balas Ana membuat Elia mencebik.

"Temuin dulu deh An, siapa tahu orangnya cakep?" Resti menyarankan.

"Eh, ngomong-ngomong soal cowok cakep, pria yang kemarin jadi korban keganasan Ana di club cakep juga loh?” celetuk Elia tiba-tiba.

“Masa sih?” tanya Farah dan Resti, “Ya kan Dhi?” Elia melirik Dhina, Dhina hanya mengangguk.

“Pria yang kemarin aku tabrak pakai mobil kamu juga cakep kok El,” tiba-tiba Ana menggumam. Ia akui pria yang ia tabrak yang tak lain adalah Satya memang keren. Tadinya Ana ingin mengajaknya berkenalan, namun karena insiden itu ia mengurungkan niatnya. Ditambah lagi wajah Satya yang terlihat kesal, membuat Ana semakin takut.

“El, ada tagihan masuk ke rekeningmu gak?” tanya Ana setelah mengingat kejadian itu.

“Gak, emang kenapa?” tanya Elia bingung.

“Ya kan tuh orang motret plat nomor mobil kamu. Otomatis tagihan ya jatuh di kamu? Apa dia berubah pikiran ya?” gumam Ana sama bingungnya.

“Udah deh, yang pasti, masalah kamu ini gimana? Kamu mau apa enggak ketemu orangnya?” tanya Elia mengingatkan Ana.

“Gak, aku gak mau nikah. Aku akan buat pria itu membatalkan pernikahan ini. PASTI!” Ana menggebrak meja membuat semua pengunjung menatap lima wanita yang sejak tadi membuat keributan.

“Gak usah pake gebrak meja kali An,” desis Farah menundukkan wajah menahan malu, diikuti temannya yang lain. Namun Ana tidak peduli. Ia bertekad membatalkan perjodohan ini. Jika ia tidak bisa, maka Ana akan membuat pria itu yang membatalkannya.

24

www.read-blogger.blogspot.com EMPAT Ana memasuki restoran bergaya Eropa itu dengan tenang. Rencana perjodohan yang telah

www.read-blogger.blogspot.com

EMPAT

Ana memasuki restoran bergaya Eropa itu dengan tenang. Rencana perjodohan yang telah diatur mengharuskannya untuk bertemu dengan sang calon suami. Tadinya Ana tidak ingin pergi, namun mamanya terus mendesak dan mengancam benar-benar akan menarik semua fasilitas Ana, membuat Ana tak berkutik. Ia belum sanggup jika harus hidup pas-pasan. Mengandalkan gajinya saja, hanya cukup untuk hidup sebulan, tanpa hiburan. Hidup tanpa hiburan? Tembak saja kepalaku, begitu Ana selalu berkata.

“Ariana Winata,” ucap Ana menyebutkan namanya pada pelayan yang telah menantinya. Dengan sigap si pelayan membawa Ana ke meja yang telah dipersiapkan untuk mereka. di sana telah duduk seorang pria yang tengah sibuk dengan gadgetnya.

“Di sini,” ucap si pelayan kemudian pergi setelah Ana mengucapkan terima kasih.

“Anda, Satya?” sapa Ana yang dibalas, “Ya,” oleh pria tersebut sembari mendongakkan kepalanya dari gadget untuk menatap orang yang menyapanya.

“KAMU!!!!” pekik keduanya dengan nada berbeda. Jika Satya mengucapkannya dengan nada datar, maka Ana mengucapkannya dengan nada terkejut histeris.

Hampir sepuluh menit mereka duduk diam tanpa sepatah katapun. Ana sudah mulai bosan. Pria di depannya ini bahkan tidak berniat memulai pembicaraan. Ia lebih sibuk dengan gadget ditangannya dan membiarkan Ana layaknya dagangan yang tidak laku.

“Hei, mau sampai kapan kamu nganggurin aku begini? Memang aku tembok apa?” teriak Ana kesal. Satya mendongak menatap Ana. Tatapannya tak menyiratkan perasaan apapun, membuat Ana sulit menebak, apakah pria ini senang atau tersiksa dengan perjodohan ini.

“Oh ya, “ ucap Satya akhirnya bersuara. Ia mengambil sesuatu dari dalam dompetnya kemudian mengangsurkan secarik kertas ke hadapan Ana.

“Apa ini?” tanya Ana sambil mengambil kertas tersebut.

“Tagihan biaya perbaikan mobilku. Kebetulan kita bertemu,” ucapan Satya membuat Ana menganga tak percaya.

“Wah

tagihan

benar-benar. Anda luar biasa, gimana bisa dipertemuan perjodohan malah ngasih

ckckck

Ana berdecak takjub terhadap sikap Satya.

“Bisnis adalah bisnis, bagaimanapun itu bisnis kita yang tertunda,” gumam Satya santai.

“Memang pria luar biasa! Bisa-bisanya dia minta bayar tagihan sama calon istrinya?” pekik Ana dalam hati.

"Baik. Aku akan bayar semua tagihan," ucap Ana akhirnya walau dalam hati ia mencak- mencak karena besarnya nominal yang tertera di kertas itu, "Aku akan membayar semuanya. Tapi, kamu harus batalkan pernikahan konyol ini," Ana tersenyum puas, paling tidak

25

www.read-blogger.blogspot.com rencananya kali ini akan berhasil. Pria itu mungkin akan mempertimbangkan untuk membatalkan

www.read-blogger.blogspot.com

rencananya kali ini akan berhasil. Pria itu mungkin akan mempertimbangkan untuk membatalkan pernikahan mereka.

"Tidak!" jawab Satya tegas membuat Ana menganga tak percaya.

"Loh, kenapa enggak? Kamu kan bisa bilang kalau kamu gak suka sama aku. Semua masalah pasti beres," desak Ana.

"Kenapa bukan kamu yang ngomong ke keluargamu, kenapa harus aku?" tanya Satya,

membuat Ana tergagap untuk menjawab, "Itu

a

anu

aku

gak mau nyakitin Mamaku,"

"Tepat," balas Satya menjetikkan jarinya di hadapan Ana, "Aku juga gak bisa nyakitin Mamaku,"

"Kalau gitu aku gak akan mau bayar tagihan itu," ancam Ana, namun Satya hanya mengendikkan bahunya.

"Aku gak akan bayar," teriak Ana sambil memukul-mukul kertas yang ada di atas meja, menghasilkan suara berisik. Semua pengunjung memandang Ana.

"Aku gak mau bayar

menanggapinya. Ia malah mengambil cangkir kopinya dan menyeruput isinya.

"

teriaknya lagi sambil berbalik untuk pergi. Satya tidak

"Dasar laki-laki keras kepala

"

umpat Ana sambil berjalan menuju pintu keluar.

***

Satya pulang ke rumah dengan wajah datar. Ia sama sekali tidak menampakkan ekspresi apapun. Negosiasi yang ia rencanakan untuk calon istrinya gagal total setelah mengetahui bahwa wanita yang dijodohkan dengannya adalah wanita yang dua kali membawa bencana untuknya. Semua diluar dugaannya. Satya merasa bahwa negosiasi kali ini akan berjalan rumit melihat betapa keras kepala dan cerobohnya Ana. Ia pun mengubah strategi. Jika kemarin ia merencanakan hubungan mutualisme, tapi sepertinya kali ini ia akan menjalankan hubungan parasitisme dengan menekan pihak Ana agar wanita itu takluk dan patuh pada semua rencananya.

"Tapi pasti sulit keras.

"

desah Satya, memijat dahinya dengan jari, menandakan ia tengah berpikir

"Bagaimana pertemuannya? Kamu suka sama Ana?" tanya sang mama yang sudah menyambut Satya di depan pintu.

"Suka," jawab Satya berbohong, senyum ceria tersungging di bibir Purnama. Ia segera berjalan menuju pesawat telpon untuk mengabarkan berita gembira itu pada Asri, sahabatnya.

"Bagaimana?" tanya Asri di seberang sana.

"Beres. Satya suka," balas Purnama, keduanya tertawa gembira mendengar berita itu. Satya hanya menggeleng melihat kebahagiaan mamanya.

26

*** www.read-blogger.blogspot.com Sementara itu Ana mengerang frustrasi di kamarnya. Ia mulai menggila. Mengobrak-abrik

***

www.read-blogger.blogspot.com

Sementara itu Ana mengerang frustrasi di kamarnya. Ia mulai menggila. Mengobrak-abrik seisi kamarnya hingga tak bersisa. Ia kesal, marah, depresi, bercampur menjadi satu.

"Argh

"

teriaknya sambil melompat-lompat di kasurnya.

"Wisatya Dirga Prawira

membatalkan pernikahan konyol ini. Argh

Tanpa sadar bahwa ia harus bekerja keras untuk membereskan kekacauan yang ia buat.

dengar

jangan panggil aku, Ariana Winata jika aku gak bisa "

Ana mulai mengacak-acak kembali kasurnya.

Dering telepon membangunkan Ana dari tidurnya. Untunglah hari itu hari Minggu, jika tidak ia pasti terlambat ke sekolah. Dengan mata masih mengantuk, Ana menjawab teleponnya.

"Ha

loo

"

jawabnya dengan suara mengantuk.

"Ariana Winata? Jam berapa ini? Bukannya kita mau mengantarkan kepergian Farah dan Resti!" teriak Elia memekakkan telinga Ana.

"Astaga!" Ana segera terbangun dari tidurnya, "Oke, segera menyusul," ucapnya cepat sambil menutup telepon dan mencampakkannya ke kasur.

"Aaakkkhhhh

menghancurkan kamarku

"

teriak Ana saat melihat betapa kacaunya kamarnya, "Siapa monster yang "

jeritnya histeris.

***

Ana, Elia dan Dhina sudah tiba di Bandara untuk mengantarkan keberangkatan Resti ke New York. Ia akan menemani suaminya untuk mengambil gelar Masternya di sana. Setelah mereka berpamitan dengan Farah yang harus rela pindah ke Bandung untuk tinggal bersama mertuanya, mereka bertiga bergegas menuju Bandara. Farah dan Resti memang tidak akan bisa lagi berkumpul bersama ketiganya, namun mereka sepakat bahwa mereka akan berkumpul di pernikahan Ana nanti.

"Tenang, An. Kita pasti datang kok, ke pernikahan kamu," ucap Resti sebelum berpisah, membuat Ana mencibir kesal, "Btw, gimana dengan calon suamimu? Cakep gak?" tanya Resti, sengaja memancing kekesalan Ana.

"Kalian tahu, calon suamiku itu adalah orang yang mobilnya aku tabrak, Puas! Namanya Wisatya Dirga Prawira, pengusaha muda yang jadi incaran para wanita penggosip se- Indonesia," jelas Ana dengan nada kesal. Elia, Resti dan Dhina tertawa.

"Wisatya?" timpal Eddy, suami Resti tiba-tiba, "Apa yang ini orangnya?" Eddy menunjukkan foto Satya yang ada di majalah yang sedang ia baca. Ana mengangguk. Ketiga temannya mendelik tak percaya.

"Gila

laki-laki yang kamu muntahin di club waktu itu,"

ini orangnya?" pekik Elia membuat jantung Ana hampir copot, "Kamu tahu An? Ini

"Hah!", Ana dan Resti terpekik bersamaan.

27

www.read-blogger.blogspot.com "Terus kenapa dia malah mau aja dijodohin. Bukannya nolak?" tanya Ana bingung.

www.read-blogger.blogspot.com

"Terus kenapa dia malah mau aja dijodohin. Bukannya nolak?" tanya Ana bingung.

"Dia emang jodoh kamu kali," ucap Dhina mencoba mempengaruhi Ana.

"Udah An. Terima aja, Limited Edition ini!" Elia malah memanas-manasi.

"Gak!" tolak Ana tegas. "Pokoknya aku akan tetap membatalkan pernikahan ini. Apapun caranya!"

***

Satya memperhatikan kertas tagihan yang tidak jadi diserahkan pada Ana. Ia masih belum mendapatkan cara untuk membuat Ana mau bekerja sama dengannya dalam rencana pernikahan ini. Sulit memakai cara halus pada wanita sekeras Ana, tapi tidak mungkin juga memakai cara yang keras karena itu akan semakin membuat Ana melakukan perlawanan. Di tengah rasa bingungnya, tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepalanya.

"Kompromi. Ya , aku harus mengajak wanita keras kepala itu berkompromi," ucap Satya yakin dengan idenya.

***

Selama jam pelajaran berlangsung, Ana hanya melamun dan memainkan gantungan ponselnya. Ia masih memikirkan ide untuk membuat Satya menolaknya. Jika ia yang bersikeras menolak, itu tidak akan ampuh. Mamanya sudah mengeluarkan jurus terdahsyat yang membuatnya tak berkutik. Beberapa kali ia mengangguk, kemudian menggeleng tak jelas membuat murid-muridnya bingung.

"Bu Ariana lagi kesambet ya?" bisik Feby pada Raya.

"Bukan, salah minum obat kayanya. Yang harusnya diminum obat waras, malah minum obat parkinson," bisik Raya, kedua gadis itupun terkikik pelan.

"Saya dengar apa yang kamu bilang, National Anthem," balas Ana dengan nada cuek. Seisi kelas tertawa mendengar Ana memanggil Raya dengan sebutan National Anthem. Raya hanya bisa menunjukkan wajah dongkol.

"Mau sampai kapan Ibu melamun dan gak mengajar?" sang juru protes, Mili, mulai bersuara.

"Sampai kamu berhenti memprotes saya Mili,"

Mili membanting pensilnya di meja kemudian berjalan keluar kelas.

"Mau kemana?" tanya Ana galak.

"Mau ke toilet!" balas Mili ketus.

"Jangan lupa disiram habis buang ya," celetuk Ana seenaknya membuat seisi kelas tertawa, Mili dengan wajah memerah berjalan keluar kelas.

28

*** www.read-blogger.blogspot.com Malam itu, Ana sudah bersiap. Ia sudah berada di arena Gym dimana Satya

***

www.read-blogger.blogspot.com

Malam itu, Ana sudah bersiap. Ia sudah berada di arena Gym dimana Satya biasa berolah raga setiap hari senin malam setelah bekerja. Ia banyak mencari tahu tentang Satya dari berbagai majalah maupun mesin pencari di internet. Untuk dapat menaklukkan lawan, bukankah kita harus mengenal musuh kita? Pikir Ana. Ana akan mengkonfrontasi Satya. Apapun akan ia lakukan agar tidak perlu menikah. Ia tiba setengah jam lebih awal. Namun Satya belum juga muncul. Padahal Ana sudah bosan setengah mati. Gym bukan tempat favoritnya. Ia bahkan tidak suka berolah raga. Olahraga yang paling ia suka adalah tidur.

"Kemana dia? Kok gak muncul-muncul?" gerutu Ana sambil mengunyah permen coklatnya yang kelima bungkus, "Atau jangan-jangan aku salah tempat?" gumamnya kemudian.

Namun seperti kata pepatah, pucuk dicinta ulam tiba. Setelah bosan menunggu, akhirnya Satya muncul. Ana sedikit ternganga takjub saat melihat penampilan Satya. Pria itu memakai kaos sport ketat yang menunjukkan lekuk sixpack di tubuhnya dan mengenakan celana panjang sport juga sepatu Nike, persis seperti yang dipakai Michael Jordan. Wanita mana yang tidak histeris melihat pria seatletis Satya. Jika selama ini ia selalu terlihat mengangumkan dengan setelan jas formalnya, kali ini ia terlihat HOT, dimata Ana.

"Apa? HOT?" teriak pikiran Ana mengingatkan, "Ariana , sadarlah. Dia musuh

bukan

".

Tiba-tiba Ana besembunyi di bawah meja yang ia tempati karena Satya berjalan ke arahnya. Karena terlalu terburu-buru, kepalanya membentur bagian bawah meja.

"Auh

"

pekik Ana tanpa suara, ia mengusap-usap kepalanya yang sakit.

Satya bukannya tidak menyadari kehadiran Ana. Bagaimana ia tidak melihat, seorang wanita yang asyik mengunyah cemilan di meja tunggu sementara orang lain tengah sibuk berolah raga. Keberadaan Ana benar-benar mencolok. Bahkan saat ia mendengar benturan meja dan kepala Ana yang beradu, Satya berusaha menahan senyumnya, melihat tingkah konyol guru itu.

Satya akan mulai mengatur kecepatan dan waktu di mesin treadmilnya ketika sebuah ketukan cukup keras di mesinnya, mengejutkannya. Ariana Winata menatapnya dengan wajah garang. Wanita itu berdiri di mesin treadmil yang ada di sebelahnya.

"Aku mau kita meluruskan hal ini," ucap Ana ketus saat Satya mulai berjalan di treadmilnya.

"Silahkan," balas Satya acuh.

"Kenapa kamu tetap ngotot mau nikah? Bukannya aku ini adalah tipe wanita yang sangat tidak masuk dalam kriteria hidup kamu dan sangat tidak diinginkan dalam hidup kamu?" cecar Ana. Ia juga mulai mengatur mesin treadmilnya dan ikut berjalan.

"Karena Mamaku,"

"Kalau gitu, bilang Mamamu kalau kamu gak mau nikah. Bilang Mamamu kalau aku itu ada dalam blacklist calon istri dan menantu idaman. Bilang Mamamu kalau aku suka clubbing,

29

www.read-blogger.blogspot.com kalau mabuk mirip sapi gila, ceroboh, gak bisa masak, gak pintar ngurus rumah, berantakan,

www.read-blogger.blogspot.com

kalau mabuk mirip sapi gila, ceroboh, gak bisa masak, gak pintar ngurus rumah, berantakan, "

gak bisa ngurus suami

cerocos Ana panjang lebar, Satya hanya diam mendengarkan.

“Mamaku udah tahu semua itu Ariana,” balas Satya santai.

“Hah?” pekik Ana melongo, “Oh ya, Mamamu kan satu genk dengan Ibu Suri,” celetuk Ana, Satya menjengitkan alisnya mendengar celetukan aneh Ana.

“Yah, kalau gitu

pokoknya kamu gak boleh nikah sama aku,” Ana kehabisan argumentasi.

“Maaf Ariana, tapi keputusanku sudah bulat. Suka tidak suka, kita akan menikah,” ucap Satya membuat Ana mengerang kalah.

“Argh

mesin treadmilnya, membuat Ana mulai merasa ada yang tidak beres dengan treadmil yang ia naiki.

jeritnya, tanpa sepengetahuan Ana, Satya menambah kecepatan dan waktu di

“Loh

mesin.

loh

kok makin cepat?” pekik Ana sambil mempercepat larinya mengimbangi laju

“Tadi kamu kan makan banyak coklat, lari adalah salah satu cara yang baik untuk menghancurkan lemak,” ucap Satya dengan nada mengejek, “Selamat berlari ya, aku gak mau calon istriku harus jahit ulang gaunnya di acara pernikahan kita,” ledek Satya sambil menghentikan laju mesinnya. Ia mengerling jahil ke Ana dan mulai berjalan pergi meninggalkan Ana yang mulai histeris.

“Hei

teriakannya. Walau pengunjung lain memperhatikan mereka berdua sejak tadi.

hei

Sat

Satya

teriak Ana sambil berlari semakin cepat. Satya tidak menghiraukan

“Hei

lantai karena tidak bisa mengibangi laju treadmil.

Satya

dasar pria brengsek

maki Ana, kemudian ia berteriak histeris dan jatuh ke

“Brengsek

membasahi tubuhnya, “Aku benci olahraga

maki Ana untuk yang kedua kali dengan nafas tersengal dan peluh bercucuran ”

teriaknya kemudian.

30

www.read-blogger.blogspot.com LIMA Ana tidak menyerah untuk terus mendesak Satya agar membatalkan perjodohan. Cara yang

www.read-blogger.blogspot.com

LIMA

Ana tidak menyerah untuk terus mendesak Satya agar membatalkan perjodohan. Cara yang satu tidak berhasil, maka ia memakai cara yang lain. Kali ini, ia mendatangi kantor Satya. Ia tetap harus memenangkan pertarungan jika tidak ingin hidupnya terkurung dalam pernikahan bodoh ini.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Fella, resepsionis yang berada di depan ruangan Satya.

“Saya ingin bertemu dengan Pak Satya,” ucap Ana tegas.

“Tunggu sebentar, dengan Ibu siapa?” tanya Fella lagi sebelum menghubungi telepon di ruangan Satya.

“Ariana Winata,”

“Baik, tunggu sebentar,”, terlihat Fella tengah berdebat dengan seseorang di sana. Ana memperhatikan dengan seksama wajah sang resepsionis.

“Maaf Bu, tapi Pak Satya bilang dia tidak punya janji denga Ibu,” jelas Fella membuat Ana kesal.

“Apa-apaan dia!” gerutu Ana, “Saya ini calon istrinya, cepat sambungkan dengan Satya,” perintah Ana namun Fella tetap menolak.

“Maaf Bu Ariana, tapi Pak Satya bilang tidak ingin diganggu karena ada beberapa rapat yang harus beliau hadiri,” suara Fella yang mendayu-dayu benar-benar membuat Ana iri setengah mati. Kok ada perempuan dengan suara sehalus beledu begini ya? Pikir Ana. Namun kembali ke kenyataan bahwa Satya menolaknya membuat Ana semakin kesal.

“Baik, kalau dia gak mau keluar, saya tungguin,” balas Ana kesal sambil kembali duduk di sofa ruang tunggu yang tak jauh dari konter Fella.

“Memangnya berapa lama dia bakal bertahan?” gerutu Ana sambil mulai membuka majalah yang ada di meja. Namun betapa bosannya ia karena semua majalah yang tersedia hanya melulu tentang bisnis. “Apa kantor ini gak punya majalah lain?” gerutunya sambil membolak-balik halaman majalah.

Hampir dua jam lamanya Ana menunggu, tapi sepertinya Satya memang sengaja membuat Ana kesal. Bagaimana bisa selama dua jam pria itu tidak keluar dari ruangannya sekali saja? Apa dia tidak bosan berada di salam sana terus menerus. Kecuali di dalam sana lengkap dengan segala fasilitas seperti home teater, kolam renang, meja biliar, lapangan tenis atau lapangan golf sekalian. Karena terlalu lelah dan bosan menunggu, Ana malah tertidur di sofa. Fella yang melihatnya segera menghubungi Satya dan mengabarkan bahwa Ariana tengah tertidur pulas di sofa. Mengetahui hal itu, seketika Satya keluar dari ruangannya.

"Itu Bu Ariananya Pak," ucap Fella saat Satya keluar. Satya mengangguk sembari berjalan ke arah sofa dimana Ana tertidur pulas.

31

www.read-blogger.blogspot.com "Dasar sembarangan," gerutu Satya. Ia berjongkok tepat di depan wajah Ana yang

www.read-blogger.blogspot.com

"Dasar

sembarangan," gerutu Satya. Ia berjongkok tepat di depan wajah Ana yang tertidur pulas seperti orang mati. Satya memperhatikan wajah Ana dengan seksama.

Gimana bisa seorang wanita terhormat gak punya rasa jaim dan malah tidur

"Jika tidur begini dia lebih manis. Tapi kalau sudah bangun, heh, kecantikannya kalah saing sama kebrutalannya," gumam Satya lagi. Fella yang mendengar gumaman sang bos dengan cukup baik hanya tersenyum. Seluruh kantor belum ada yang mengetahui rencana pernikahan Satya, mungkin Fella orang pertama yang mengetahuinya. Bahkan Redo, asisten Satya juga tidak tahu.

"Hei

bangun

"

ucap Satya sambil mengguncang tubuh Ana. Namun Ana tidak bereaksi.

"Hei

Ariana

bangun," kembali Satya membangunkannya, tapi tetap saja Ana yang kalau

tidur bagai mayat itu tetap tidak bereaksi. Satya yang merasa cara halus tidak mampu membangunkan si mayat hiduppun memilih menggunakan cara ekstrim. Ia menyingkirkan "

rambut yang menutupi dahi Ana dengan tangan kirinya kemudian, "Plak dahi Ana cukup keras terdengar hingga membangunkannya.

sebuah sentilan di

"Akh

mulai terlihat merah. Ia menyadari sesuatu. Satya sudah berdiri di hadapannya dengan tangan

di dekap di dada. Fella yang menyaksikan kejadian itu berusaha menahan tawanya. Baru kali ini ia melihat sisi jahil bosnya.

"

jerit Ana saat terbangun. "Ah

sakit

"

ucapnya sambil mengelus dahinya yang

"Ini kantor, bukan kamar hotel. Seenaknya kamu tidur," ucap Satya tegas.

Ana berdiri untuk mengimbangi sikap sok kuasa Satya, "Aku tahu. Tapi kenapa baru muncul sekarang. Udah dua jam lebih aku nunggu. Kamu sengaja ya?" cecar Ana.

"Aku gak punya waktu untuk meladeni pembicaraan gak penting kamu,", disaat bersamaan Redo tiba, "Ayo jalan!" perintah Satya padanya. Redo yang baru muncul seketika bingung, namun ia tetap menurut dan berjalan di sisi Satya.

Ana yang merasa diabaikan pun berteriak kesal sambil menyusul mereka, "Hei "

Huhh

teriaknya sambil berjalan cepat menyusul kecepatan Satya dan Redo.

gak sopan!

"Hei

nikahin aku. Kita gak akan menikah

Wisatya

urusan kita belum selelsai. Pokoknya aku gak akan nikah. Kamu gak boleh "

Ana mulai berterak seperti orang gila.

Orang-orang yang ada di sana memandang heran padanya. Tak terkecuali Redo.

"Pak Satya mau menikah?" tanya Redo bingung, Satya hanya mengangguk.

"Dengan dia?" tanya Redo lagi, nada suaranya menyiratkan ketidakpercayaan.

Satya tidak menjawab. Ia masuk ke dalam lift dan mulai memencet tombol lantai yang di tuju. Sementara Ana bergegas mengejar sambil terus mengoceh tidak karuan.

"Hei, Satya

jangan kabur. Mau kemana kamu? Pembicaraan kita belum selesai. Dasar laki-

32

www.read-blogger.blogspot.com laki batu, keras kepala, berdarah dingin, gak punya perasaan, HEI karuan sambil menekan

www.read-blogger.blogspot.com

laki batu, keras kepala, berdarah dingin, gak punya perasaan, HEI

karuan sambil menekan tombol, berusaha menahan pintu lift tetap terbuka.

!!!!" oceh Ana tidak

"Aku belum selesai

berjarak beberapa senti dimana pembatas pintu lift sebagai pemisah. Redo hanya terpaku sebagai penonton yang budiman. Tidak bergerak seincipun dari tempatnya berdiri.

teriak Ana dari luar lift. Satya berjalan mendekat. Mereka hanya

"

"BATALKAN PERNIKAHAN INI!" ucap Ana tegas.

"TIDAK AKAN!" balas Satya tak kalah tegas, kemudian telunjuknya mendorong dahi Ana cukup kuat, membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Dan sebelum pintu lift benar-benar tertutup, Satya menyunggingkan senyum mautnya membuat Ana terperangah di tempatnya berdiri. Detik berikutnya ia tersadar.

"Hah! Hei

memggedor-gedor pintu lift sambil berteriak memanggil Satya, "Hei makinya, Ana tidak peduli dirinya jadi bahan tontonan para karyawan.

"

jeritnya sambil berlari ke arah pintu lift. Walau tahu itu sia-sia, Ana tetap saja

Satya

Brengsek!!!"

Sementara itu, Satya dengan santai melenggamg pergi. Redo yang berjalan di sampingnya terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin Satya mau menikahi wanita seperti Ana? Redo sudah menjadi asistennya selama hampir enam tahun. Jadi Redo tahu pasti wanita seperti apa yang disukai Satya. Yang pasti bukan tipe wanita brutal dan meledak-ledak seperti Ana.

"Kamu pasti mikir kenapa aku mau menikah dengan dia kan?" tebak Satya, Redo mengangguk.

"Demi Mamaku Do. Dia putri temannya Mama yang dijodohkan denganku," jelas Satya singkat.

"Oh

"

ucap Redo datar, pantas saja, pikirnya.

Ana tetap tidak menyerah. Minggu berikutnya, Ia mendapat informasi bahwa Satya akan bermain Squash. Dengan cepat, ia menyusul Satya ke tempat itu. Walau ia tidak bisa bermain Squash, Ana tetap nekat mengganti pakaiannya dengan pakaian tenis dan masuk ke ruangan dimana Satya tengah berada. Begitu Ana memasuki ruangan, ia mengutuk dirinya sendiri kenapa tidak menunggu saja di luar. Bola Squash memantul ke sana kemari membuat Ana merunduk dan berlari ke sudut ruangan.

"Aku benci olahraga!" gerutu Ana ketakutan.

Satya yang menyadari kehadiran dan ketakutan Ana sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan permainan.

"Hei

Satya

berhenti

sebentar," teriak Ana, namun tak dihiraukan.

Ana kesal setengah mati, "Dasar pria berdarah dingin. Dasar vampir, lintah darat, rentenir maki Ana kesal.

"

Karena Satya tak juga menghiraukannya, Ana pun memberanikan diri berjalan menghampirinya. Namun tak ayal kembali Ana harus berjibaku. Berlari kesana kemari

33

www.read-blogger.blogspot.com mengejar Satya sekaligus menghindari bola. Ana benar-benar harus menguras tenaganya.

www.read-blogger.blogspot.com

mengejar Satya sekaligus menghindari bola. Ana benar-benar harus menguras tenaganya.

"Sat

berhenti dulu, kita harus bicara!" teriak Ana berlari mengimbangi Satya, namun Satya

justru mempercepat pukulan dan larinya membuat Ana semakin kesulitan.

"I hate this! I hate You! I hate evereything about You, Wisatya!" teriak Ana frustrasi, dan "Plak!", sial bagi Ana, bola Satya tepat memukul dahinya membuat wanita itu menjerit histeris sambil terduduk di lantai memegangi dahinya.

"Ah

bola

sialan!" maki Ana, dan ia mulai meringis kesakitan.

Satya menghentikan permainannya dan berjongkok di samping Ana.

"Are you okay?" tanya Satya, tak ada sedikitpun rasa cemas atau rasa bersalah dari suaranya.

Ana menatap geram Satya, "Apa kamu pikir dahi memar begini kepentok bola keras itu masih bisa dibilang baik-baik saja!!" jerit Ana histeris menunjuk dahinya. Satya memperhatikan dahinya yang memang memar merah dan mengusapnya lembut.

"Auh

melihat ekspresi Ana yang seperti anak kecil.

sakit,"

ringis Ana memejamkan mata menahan sakit. Satya mengulum senyumnya

"Ayo!" ajaknya seraya mulai berdiri.

"Ayo?" pekik Ana sambil ikut berdiri, "Ayo katamu? Hei, gak ada sedikitpun terbersit di

hatimu buat minta maaf? Wah

mulut Ana dengan tangannya membuat wanita itu melotot kesal.

dasar pria berdarah dingin. Pantas saja

", Satya menutup

"Kita obati dulu dahimu," ucapnya, Ana mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa ini mimpi? Apa pria berdarah dingin ini masih punya hati? Jika iya, maka jalan Ana untuk membatalkan pernikahan pasti lebih mudah, batinnya.

"Ayo

"

Satya mulai berjalan, diikuti langkah Ana di belakangnya.

***

Asri dan Purnama sama-sama tiba di restoran yang sudah mereka tentukan sebagai tempat untuk bertemu. Kedua ibu itu ingin membicarakan tentang perjodohan anak-anak mereka lebih lanjut. Mereka sudah tidak sabar untuk segera melangsungkan pernikahan Ana dan Satya. Apalagi tidak ada aksi protes keras dari kedua anak itu Walau mereka tidak tahu bahwa Ana mati-matian mendesak Satya untuk membatalkan rencana bodoh itu.

"Sepertinya kita tidak usah menunggu terlalu lama Sri, gimana kalau bulan depan saja kita nikahkan mereka?" saran Purnama.

"Ah, kamu serius Pur? Bulan depankan berarti dua minggu lagi?" balas Asri terkejut dengan rencana sahabatnya itu.

Purnama mengangguk pasti, "Semakin cepat semakin baik,"

34

www.read-blogger.blogspot.com "Apa gak tunggu beberapa bulan dulu? biar mereka lebih saling mengenal?" saran Asri.

www.read-blogger.blogspot.com

"Apa gak tunggu beberapa bulan dulu? biar mereka lebih saling mengenal?" saran Asri.

"No

balas Pur yakin, Asri kelihatan setuju. Bisa saja kedua anak itu berubah pikiran. Apalagi Ana.

Ia kenal betul dengan sifat putri bungsunya itu. Bukan tidak mungkin Ana akan merencanakan hal gila dan menghancurkan semua rencana yang telah mereka atur.

aku takut Satya berubah pikiran. Mereka kan bisa saling mengenal setelah menikah,"

"Oke, aku setuju!" ucap Asri akhirnya membuat Pur tersenyum lega, "Aku juga takut anak satu itu pasti akan berulah macam-macam untuk menggagalkan pernikahan ini," lanjut Asri, Purnama tahu bahwa anak yang dimaksud Asri pastilah Ariana.

***

Satya mengoleskan cairan penghilang rasa sakit ke dahi Ana. Kemudian ia menempelkan plester bening ke dahinya. Walau gerakan Satya sangat perlahan, tetap saja membuat Ana meringis kesakitan saat plester menyentuh dahinya.

"Lain kali gak usah sok ikut main kalau gak bisa main," sindir Satya kemudian bergerak untuk pergi. Ana yang tidak ingin kehilangan kesempatan segera berlari dan memblokir pintu keluar agar Satya tidak pergi.

"Mau kemana?" tanya Ana ketus.

"Mengembalikan kotak obat-obatan ini," balas Satya acuh.

"Hei, setelah menghantamku dengan bola sama sekali gak ada yang mau kamu ucapkan?" tanya Ana kesal.

"Apa?" Satya balik bertanya membuat Ana jengkel.

"Maaf, sorry, aku menyesal, apa perlu ke rumah sakit? Hal seperti itu?" ucap Ana menatap Satya penuh harap bahwa pria itu akan meminya maaf padanya.

"Kenapa?" tanya Satya membuat Ana melotot seolah bola matanya akan melesat keluar.

"Hah? Kenapa? Hallooo

apa anda buta?" teriak Ana menunjuk luka di dahinya.

"Pertama, Aku gak akan minta maaf, kedua, itu bukan kesalahanku, ketiga, kamu yang masuk atas keinginan sendiri ke dalam ruangan saat aku bermain Squash, keempat, saranku, jangan masuk ke arena permainan kalau gak bisa main, kelima, jangan buang-buang waktu untuk membujukku membatalkan pernikahan, keenam, simpan tenagamu untuk hari pernikahan kita "

"Wah

bahwa pria seperti Satya ternyata juga bisa bicara dengan kecepatan penuh seperti dirinya. Ana pikir, ia satu-satunya orang yang bisa berbicara dengan sangat cepat. Ternyata ia salah,

ia punya rival, dan rivalnya adalah calon suaminya sendiri.

panjang ya daftarnya?" sindir Ana memotong ucapan Satya. Ia tidak menyangka

"Mingir," ucap Satya tidak menghiraukan sindiran Ana.

35

www.read-blogger.blogspot.com "Gak akan!" balas Ana, merentangkan kedua tangannya memblokir pintu keluar. Satya

www.read-blogger.blogspot.com

"Gak akan!" balas Ana, merentangkan kedua tangannya memblokir pintu keluar. Satya tertawa melihat ulah kekanakkan Ana. Ia berniat mendorong Ana dengan telunjuknya seperti yang terakhir kali ia lakukan.Namun mengingat dahi wanita gila itu tengah sakit, Satya mengurungkan niatnya.

"Kalau gak mau minggir, aku akan

"

"Apa!" balas Ana, tidak takut akan ancaman Satya.

Satya menyunggingkan senyum evilnya, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ana. Ana bukan anak kecil yang bisa ditakut-takuti dengan hal konyol seperti itu. Ia malah menatap angkuh menantang Satya. Satya yang melihat Ana tak gentar dengan ancamannya malah semakin tersenyum mematikan dan sebuah kecupan ringan mendarat tepat di bibir Ana, membuatnya terbelalak kaget. Ana kehilangan orientasinya, tubuhnya seketika melemah dan menggelosor di lantai. Satya tertawa melihat reaksi Ana.

"Kita bukan remaja lagi. Ancaman adalah ancaman!" ucap Satya seraya berjalan pergi meninggalkan Ana yang masih terpaku di lantai.

"Apa-apaan itu?" gumam Ana mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia kalah lagi untuk yang kesekian kali.

36

www.read-blogger.blogspot.com ENAM Ruang makan kediaman keluarga Winata terlihat begitu ramai. Di sana sudah berkumpul

www.read-blogger.blogspot.com

ENAM

Ruang makan kediaman keluarga Winata terlihat begitu ramai. Di sana sudah berkumpul seluruh anggota keluarga Winata dan Prawira. Hari itu adalah hari yang paling ditunggu- tunggu oleh kedua ibu mereka, karena hari itu mereka akan mengumumkan kapan pernikahan antara Ana dan Satya akan dilangsungkan.

“Hah! Minggu depan?!” pekik keduanya saat kedua ibu mereka mengumumkan rencana itu dengan semangat menggebu. Anggota keluarga yang lain terlihat senang, tapi tidak dengan Ana. Setelah mendengar berita itu dan tidak dapat membantah sepatah katapun, ia melengos meninggalkan ruang keluarga menuju taman belakang.

Ana berjalan mondar-mandir. Rencananya memaksa Satya tidak ada yang berhasil satupun.

Ia bingung, marah kesal, namun tetap tidak bisa berbuat apapun untuk menggagalkan

pernikahan itu. Satya yang mengetahui kecemasan wanita itu berjalan mendekatinya.

“Astaga!” pekik Ana, saat Satya sudah berdiri di hadapannya.

“Masih memikirkan cara untuk membatalkannya?” tanya Satya, walau sebenarnya hal itu tidak perlu ditanyakan.

“Kenapa sih, kamu tetap ngotot mau nikah?”

“Sudah kubilang ini semua

“Demi Mama,” sambung Ana, “Tapi kita itu gak saling cinta. Kita punya banyak perbedaan, bukannya kita bakal saling menghancurkan kalau terus ngotot menikah?” ucap Ana lagi.

“Mungkin itu menurutmu Ariana,” balas Satya, “Aku bisa mengatur semua,”

“Apa?” tanya Ana bersemangat, “Kamu berubah pikiran?”

Satya menggeleng membuat Ana kecewa, “Aku ingin menawarkan sedikit kerjasama denganmu,” ucap Satya, Ana menaikkan sebelah alisnya, “Anggap ini sebuah kompromi Ana, kompromi dalam pernikahan. Kita tetap menikah dan akan kutawarkan negosiasi yang akan menguntungkan kita berdua,” jelas Satya.

“Apa itu?” tanya Ana mulai tertarik.

“Kita akan menikah. Tapi hanya sebatas formalitas, selebihnya kita tetap menjadi pribadi masing-masing. Tidak ada aturan, kecuali di depan keluarga besar. Kamu tetap bebas

melakukan apapun, selama dalam batas wajar tapi no clubbing, no alcohol, dan no hang out

di luar batas. Jika kamu mematuhi kesepakatan, mungkin dalam jangka waktu setahun kita

bisa bercerai dan aku akan memberikan kompensasi atas perceraian kita berapapun yang kamu mau, asal jumlahnya masuk akal, bagaimana?” tawar Satya, Ana terlihat semakin tertarik.

“Setahun? Lama benar? Kenapa gak sebulan aja?” tanya Ana.

37

www.read-blogger.blogspot.com “Setahun itu waktu yang wajar Ana. Kenapa gak sekalian kamu sebutkan sehari? Bukankah

www.read-blogger.blogspot.com

“Setahun itu waktu yang wajar Ana. Kenapa gak sekalian kamu sebutkan sehari? Bukankah kamu sama sekali tidak dirugikan dalam kompromi ini? Justru aku yang rugi berat karena harus mengeluarkan uang untuk kompensasi,” jelas Satya, Ana terlihat mengangguk setuju.

“No Clubbing?” tanyanya, Satya mengangguk, “No Alcohol?”tanyanya lagi, kembali Satya mengangguk. Ana berpikir sejenak. Jika hanya itu ia pasti bisa menjalankan kompromi ini, ditambah lagi iming-iming kompensasi yang besar. Tapi ada satu hal lagi yang terbersit di kepala Ana, “No Physic Contact,” ucapnya kemudian, Satya terlihat ragu.

“Tapi tidak di depan keluarga,” ucap Satya akhirnya, “Deal?”, Satya mengulurkan tangannya meminta persetujuan Ana, “Deal!” balas Ana menjabat tangan pria itu.

Setelah kesepakatan kedua belah pihak terjalin, Ana dan Satya pun mulai disibukkan dengan berbagai hal untuk persiapan pernikahannya. Untuk resepsi dan undangan memang sudah diambil alih kedua ibu suri. Namun untuk urusan gaun dan cincin kawin, Ana dan Satya lah yang harus memutuskan. Dan di minggu siang itu, mereka kembali berdebat tentang gaun pengantin dan model cincinnya.

“Lebih baik pakai yang pertama tadi, lebih sopan,” saran Satya.

“Gak mau, aku mau yang ini, lebih sek depan cermin.

si

ucap Ana sambil memutar-mutar tubuhnya di

“Ganti

“Hei

aku

Satya mendorongnya kembali ke ruang ganti.

mau yang ini!” teriak Ana.

“Kompensasi batal!” ancam Satya, Ana melongokkan kepalanya dari balik pintu ruang ganti,

“Dasar Vampir!” ejeknya, kemudian menutup pintu dengan kesal.

Dii toko perhiasanpun kembali mereka berdebat. Satya ingin agar cincin kawin mereka berdesain sederhana namun Ana ingin cincinnya berhiaskan berlian.

“Kompensasi

“Batal

teriak Ana kemudian mengerang kalah. Satya tersenyum melihat tingkahnya.

Semakin ia mengenal Ana, Satya semakin menyukai sifat blak-blakan Ana yang terkadang suka berlebihan. Juga sikap tak tahu malu Ana yang bisa keluar dimanapun kapanpun.

Selesai dengan urusan gaun dan cincin keduanya memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari toko perhiasan tempat mereka memesan cincinnya. Saat keduanya tengah menikmati makanannya, sebuah berita mengejutkan yang membuat Ana spot jantung tujuh hari tujuh malam menghampirinya.

“Om Satya

Ana duduk bersama Satya.

teriak seorang gadis mendekati meja mereka. Mili memandang heran melihat

38

www.read-blogger.blogspot.com “Bu Ariana?” tanya Mili, nadanya terlihat tidak senang. “Mau apa kamu di sini?” Ana

www.read-blogger.blogspot.com

“Bu Ariana?” tanya Mili, nadanya terlihat tidak senang.

“Mau apa kamu di sini?” Ana balik bertanya.

“Om kenal dengan guru sableng ini?” tanya Mili mengalihkan pandangan pada Satya.

Sableng? Si tukang protes mengatainya Sableng? Darah Ana rasanya mendidih. Ingin sekali ia menyumpalkan cabe yang ada dihadapannya ke mulut Mili.

“Guru sableng?” gumam Satya menahan tawa, Mili menggeser kursi dan ikut duduk bersama mereka.

“Bu Ariana ini calon istri Om. Kamu belum dengar berita dari Mama kamu?” tanya Satya.

“Udah, tapi

Mili memandangi Ana tajam. Ana balas memandang tak kalah sengit.

Mili dan Ana tak lepas memandangi satu sama lain dengan tatapan sengit. Mili adalah keponakan Satya, itu bencana untuk Ana. Memang Mili bukan keponakan langsung Satya, karena Ayah Mili dan Satya hanya sebatas saudara sepupu. Tapi mengetahui bahwa makhluk penggerutu dan tukang protes yang satu ini memiliki hubungan keluarga dengan Satya benar- benar ancaman yang serius. Cukup di sekolah Mili menjadi musuh bebuyutannya, kenapa justru diluar sekolah ia dan Mili harus berhubungan lagi? Dumel Ana dalam hati.

“Jangan kira karena Ibu akan jadi istri Om Satya, aku akan lunak sama Ibu,” desis Mili saat hanya ada ia dan Ana.

“Oh ya, kamu pikir saya bahagia menikah dengan Om kamu? Kalau bukan karena keluarga, lebih baik saya lompat dari tebing daripada harus nikah sama makhluk yang sifatnya sebelas dua belas sama kamu!” balas Ana tak kalah sengit.

“Aku heran, kok mau-maunya Om Satya nikah sama wanita serabutan kaya Ibu,” sindir Mili.

“Tanyakan sama Om kamu yang otaknya mungkin lagi korslet, kenapa dia mau nikah sama

saya,” desis Ana, “Mungkin

seperti bintang iklan sampo. Mili rasanya mau memuntahkan semua isi perutnya melihat tingkah Ana.

karena pesona saya?” Ana memainkan rambutnya berlagak

“Udah selesai?” tanya Satya yang baru kembali dari toilet, “Ya!” balas keduanya sambil berdiri.

“Ayo Om,” ajak Mili sambil menggandeng tangan Satya. Mereka berjalan lebih dulu, Ana yang mengikuti dari belakang terlihat jengkel dan menggerutu melihat mereka berdua.

“Heuh

kenapa makhluk menyebalkan itu adalah keponakan Satya

omelnya tanpa suara.

***

Hari yang dinantikan tiba. Kedua keluarga tampak sangat bahagia. Prosesi akad nikah berjalan khidmat dan lancar. Walau sepanjang acara, Ana terus berdoa agar sebuah keajaiban datang dan membatalkan prosesi itu. Bencanapun tak apa, pikir Ana. Apakah tiba-tiba angin

39

www.read-blogger.blogspot.com kencang melanda, hujan lebat, banjir, rumah tetangga kebakaran, gempa bumi, bahkan tsunami

www.read-blogger.blogspot.com

kencang melanda, hujan lebat, banjir, rumah tetangga kebakaran, gempa bumi, bahkan tsunami sekalian, Ana akan dengan senang hati menerimanya. Yang penting semua acara ini batal. Namun sayangnya harapan Ana tidak akan pernah menjadi kenyataan.

“Selamat sayang, sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri,” ucap Mamanya memeluk Ana. Mama Satya pun melakukan hal yang sama di susul dengan ucapan selamat dari keluarga yang lain. Bahkan Adik Satya dan Resti, sahabat Ana, dengan senang hati datang dari jauh menempuh penerbangan berjam-jam hanya demi menyaksikan prosesi ini.

“Selamat ya Mbak, aku Naya, adiknya Mas Satya. Semoga Mbak betah dan tahan menghadapi sikap aneh Mas Satya,” ucap Naya saat memeluk Ana. Ana hanya tersenyum semanis mungkin, namun tak pelak kepalanya berpikir, aneh? Apa sifat Anehnya Satya? Apa lebih aneh dari sifatku yang kadang-kadang suka gak jelas? Pikir Ana.

Malamnya resepsi pernikahan dilangsungkan dengan sangat meriah. Mengingat kedua kelauarga memiliki banyak relasi bisnis, terutama Satya yang terkenal sebagai pegusaha muda, ruangan pesta yang luas dan mewah itu terlihat penuh sesak. Ana yang tidak terlalu suka dengan keramaian seperti itu rasanya ingin melarikan diri. Bahkan di kepalanya ia merancang sebuah pembunuhan massal.

“Kalau ini ruangan aku bom, pasti seperdelapan warga kota ini akan musnah,” pikir Ana sambil tersenyum licik layaknya teroris yang merancang pembantaian. Satya memperhatikan ulah istrinya itu.

“Hei, Apa yang kau pikirkan?” tanya Satya penasaran, Ana memandangnya, kemudian menggeleng sambil tertawa geli.

“Dasar wanita gila,” bisik Satya, “Deritamu kenapa mau menikahi wanita gila,” balas Ana di telinga Satya. Teman-teman Ana yang melihat keakraban keduanya tersenyum sambil menggoda Ana.

“Cie

memilih menyambut tamu yang lain.

udah damai nih?” ledek Elia saat Satya meninggalkan mereka untuk ber-reuni ria dan

“Gak, siapa bilang kita damai? Kita cuma gencatan senjata aja kok!” balas Ana.

“Aku heran An, kok tiba-tiba kamu mau nikah? Pasti ada apa-apanya?” ucap Farah menyelidik. Ana mengulum senyum. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia dan Satya mengadakan perjanjian kerjasama dan tahun depan ia akan jadi janda kaya karena setelah bercerai ia akan mendapat kompensasi dari Satya.

“Ehm

Ada deh

jawab Ana tersenyum jahil. Teman-temannya mencibir ulah kekanakkan

Ana.

“Oh ya An, kamu udah siap?” tanya Farah lagi.

“Siap apa?” Ana yang tidak mengerti maksud pertanyaan Farah terlihat bingung.

“Itu, masa kamu gak tahu?” bisik Resti, keempat sahabatnya terlihat tersenyum geli.

40

www.read-blogger.blogspot.com “Maksud kalian first night?” tanya Ana dengan suara yang cukup kencang. Tamu dengan

www.read-blogger.blogspot.com

“Maksud kalian first night?” tanya Ana dengan suara yang cukup kencang. Tamu dengan radius tiga meter dapat mendengar pembicaraan kelima wanita itu.

“Pake Toa sekalian, heuh, sikap nyablak kamu tuh ya, bisa jadi bumerang tahu,” sindir Dhina yang malu dengan sikap Ana.

“Gak usah khawatir. I’m Ready!” ucap Ana pasti membuat para sahabatnya terbelalak. Ana tertawa melihat ekspresi wajah mereka. Padahal yang dimaksud Ana dengan siap adalah ia siap untuk tidur sepanjang malam, bukannya siap bermain dan berperang dengan Satya.

Acara yang melelahkan itu akhirnya selesai. Ana merebahkan tubuhnya di kasur. Malam ini mereka memang harus menginap di hotel tempat dimana resepsi pernikahan dilangsungkan. Setelah acara ramah tamah dan segala macam wejangan sudah disampaikan oleh para tetua keluarga, waktunya bagi pasangan pengantin itu untuk beristirahat.

“Ah, capeknya

gerutu Ana sambil meregangkan badannya dengan menggeliat di tempat

tidur.

“Apa gak sebaiknya kamu mandi dulu,” ucap Satya sambil melepaskan satu persatu kancing kemejanya.

“Ah benar!” Ana menegakkan tubuhnya lalu berlari ke kamar mandi.

“Hei

menyarankan, bukannya memerintahkan. Namun dasar Ana, ia tidak peduli.

aku yang lebih dulu harusnya memakai kamar mandi!” teriak Satya, padahal ia hanya

“Ariana

kemudian, “Byur

teriak Satya sambil menggedor pintu kamar mandi. Ana membuka sedikit pintu

segelas air mengguyur wajah Satya, kemudian pintu menutup kembali.

“Wanita ini!” umpat Satya kesal sambil mengelap wajahnya dengan dasi yang ia pegang.

Di dalam kamar mandi Ana tertawa puas berhasil memberi pelajaran pada lelaki sok berkuasa itu. Sambil berendam di dalam bathtub yang dipenuhi busa sabun, Ana bersenandung gembira.

“Ah

gantinya. Maka saat ia telah selesai mandi, ia menjerit histeris mengetahui kenyataan itu.

“Ah

nyamannya

bodohnya

ucapnya, Ana tidak menyadari bahwa ia tidak membawa pakaian

makinya pada diri sendiri.

Untunglah masih ada kimono mandi yang tersedia di sana. Dengan terpaksa Ana mengenakan kimono itu. Padahal Ana orang yang paling enggan keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk atau kimono, apalagi ada Satya di luar. Tapi apa boleh buat, ini semua kesalahannya. Perlahan Ana mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi. Kemudian ia celingukan kesana kemari mencari keberdaan Satya. Ia menghela nafas lega saat tidak menemukan wujud Satya dimanapun. Dengan santai ia berjalan keluar. Namun ternyata dugaannya salah, Satya tengah duduk dengan santai di sofa depan TV.

“Sial

umpat Ana kembali, dan berjalan dengan sangat pelan menuju lemari pakaian untuk

41

www.read-blogger.blogspot.com mengambil pakaiannya. Namun kembali Ana harus dibuat terkejut, karena isi dalam lemari hanya

www.read-blogger.blogspot.com

mengambil pakaiannya. Namun kembali Ana harus dibuat terkejut, karena isi dalam lemari hanya ada tiga potong lingerie.

“Apa-apaan ini?” otak Ana mulai berpikir, “Ini pasti ulah Mbak Ani,” desisnya.

Sementara itu Satya yang telah selesai mandi baru saja keluar dengan mengenakan kaus dan celana panjang tidurnya. Ia heran melihat Ana yang masih mengenakan kimono.

“Kenapa gak ganti baju?” tanya Satya.

“Oh

pikir panjang. Satya menyipit curiga sambil berjalan mendekati Ana yang masih berdiri di

depan lemari. Tanpa peringatan, Satya membuka lemari dan kemudian tertawa terbahak melihat isi pakaian yang ada di sana.

itu, cuma lagi pengen pake kimono aja. Biar berasa jadi orang jepang,” balas Ana tanpa

“Jadi ini yang membuat kamu gak mau ganti baju?” ucap Satya disela tawanya, ia melemparkan sebuah lingerie berwarna merah ke wajah Ana, “Gak berani pakai ini?” tantang Satya.

“Berani

harus menunjukkan tubuh seksiku ke kamu?” balas Ana ketus, membuat Satya mencibir.

tapi gak di depan kamu? Buat apa? Kita kan hanya pasangan kompromi, kenapa aku

“Oh ya? Memang siapa pria gila yang akan terpesona melihat tubuh kurus kering kamu?” ledek Satya, wajah Ana memerah menahan amarah.

“Makan nih lingerie,” teriak Ana, melemparkan pakaian itu ke wajah Satya. Satya makin tertawa keras.

Ana betul-betul tidak merasa nyaman dengan kimono yang ia kenakan. Mana dirinya harus tidur di sofa. Satya menolak berbagi tempat tidur dengannya. Bahkan ia tidak mau mengalah dan memerintahkan Ana untuk tidur di sofa. Alasannya konyol, “Bukankah aku yang membayar seluruh tagihan?” ucap Satya santai.

“Benar-benar pria penuh perhitungan. Semua dianggap bisnis, bahkan pernikahan pun dianggap bisnis?”gerutu Ana tidak karuan.

Dengan kesal Ana menyambar telepon yang ada di meja samping sofa. Ia ingin membuat perhitungan pada kakaknya.

“Halo

terdengar suara Ani yang sangat mengantuk.

“Hei, nenek sihir, mana semua bajuku?” teriak Ana mengagetkan kakaknya. Ani yang terkejut seketika membuka matanya lebar.

“Loh, bukannya yang aku siapin di lemari itu pakaian kamu?” balas Ani cuek sambil mengucek matanya.

“Terus gimana aku keluar dari hotel besok? Masa mau pake lingerie

Ani di kamarnya hanya tertawa. Mereka memang hanya menginap satu malam di hotel itu.

pekik Ana histeris,

42

www.read-blogger.blogspot.com “Ya enggaklah. Besok pagi pakaian ganti kamu akan diantarkan room se rvice. Udah ah,

www.read-blogger.blogspot.com

“Ya enggaklah. Besok pagi pakaian ganti kamu akan diantarkan room service. Udah ah, have

fun ya, pengantin baru kesal memanggilnya.

ledek Ani kemudian memutus sambungan telepon. Ana berteriak

“Dasar! Nenek sihir

belum tidur, menahan tawa mendengar umpatan Ana.

umpat Ana pada telepon yang ada di tangannya. Satya yang ternyata

43

www.read-blogger.blogspot.com TUJUH Pagi itu Satya bangun lebih awal dibandingkan Ana. Ia membuka tirai jendela dan

www.read-blogger.blogspot.com

TUJUH

Pagi itu Satya bangun lebih awal dibandingkan Ana. Ia membuka tirai jendela dan membiarkan cahaya matahari menerangi kamar. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan aneh di sofa. Ana tidur dengan menggunakan kemejanya dan, Satya tersenyum saat menyadari bahwa Ana mengganti kimononya dengan lingerie dan menutupinya dengan kemeja milik Satya.

“Ana, Ariana, bangun

panggil Satya sambil mengguncangkan tubuh Ana dengan kakinya.

“Aku ma

menggelengkan kepala melihat kelakuannya.

sih

nga

ntuk

balas Ana dengan suara mirip geraman. Satya hanya

“Kita bisa terlambat ke Bandara,” kembali Satya mengguncang tubuh Ana dengan kakinya.

Karena terlalu kuat, seketika tubuh Ana menegak. Dengan mata masih mengantuk ia berjalan menuju kamar mandi, persis seperti mayat hidup.

“Satu jam lagi kita harus tiba di Bandara An,” teriak Satya dari luar. Ana yang sedang mencuci mukanya seketika terkejut.

“Hah? Bandara? Emang mau kemana?” tanya Ana saat ia telah selesai mencuci mukanya.

“KL,” balas Satya datar.

“KL? Bulan madu?” tanya Ana, cukup terkejut mendengar rencana kepergian mereka.

“Jangan ge-er Ana, kita bukannya mau bulan madu. Itu cuma alasan. Alasan sebenarnya kita mau ke KL karena ada pertemuan bisnis yang harus kuhadiri di sana,” jelas Satya membuat Ana mencibir, “Sudah kuduga,” balas Ana dongkol sambil berjalan menuju pintu karena seseorang membunyikan bel.

“Pakaian untuk Ariana Winata,” ucap pelayan saat Ana membuka pintu.

“Saya,” balas Ana sambil mengambil pakaian dari tangan pelayan. Si pelayan menatap heran melihat penampilan Ana. Sadar bahwa dirinya dipandangi, Ana menutup pintu dengan kasar membuat si pelayan terkejut.

“Dasar pelayan gak sopan!” gerutu Ana.

“Ada apa?” tanya Satya sambil mengambil pakaian ganti yang akan ia pakai untuk pergi dari lemari.

“Masa dia melototin tamu!” ucap Ana ketus, Satya cuma tertawa. Lagipula, siapa yang tidak akan memandang aneh pada Ana jika dia berpenampilan seperti itu.

***

44

www.read-blogger.blogspot.com Pesawat yang mereka tumpangi sudah mengudara sejak setengah jam yang lalu. Namun entah

www.read-blogger.blogspot.com

Pesawat yang mereka tumpangi sudah mengudara sejak setengah jam yang lalu. Namun entah mengapa, Ana sama sekali tidak bisa duduk dengan tenang. Sebentar ia bergerak ke kanan- kiri di tempat duduknya, sebentar ia ingin ke toilet, membuat Satya yang duduk di dekat lorong harus bolak-balik berdiri saat Ana akan keluar dari kursinya.

“Kamu itu kenapa sih? Seperti gak pernah naik pesawat saja,” gerutu Satya kesal.

“Gak tahu, tiba-tiba aja perutku mual dan perasaanku gak enak. Apa jangan-jangan ini firasat ya? Apa jangan-jangan pesawat yang kita tumpangi bakal di bajak? Hilang di tengah laut? Lost Contact? Mesinnya mati, terus kita semua harus terjun bebas dari ketinggian ribuan

kaki

kepanikannya yang berlebihan. Namun walau mulutnya ditutup, tetap saja Ana mengoceh

tidak karuan dengan suara gumaman hingga membuat semua penumpang memandangi mereka.

Satya menutup mulut Ana dengan tangannya untuk menghentikan ocehan

“Hentikan itu Ariana!” bisik Satya tegas di telinganya. Ana memandang Satya yang menatap tajam padanya. Seketika Ana mengangguk. Satya pun menyingkirkan tangannya dari mulut Ana. Namun saat Satya akan mulai memejamkan mata, kembali Ana mengocehkan kekhawatirannya.

“Gimana kalau pilotnya mabuk dan pesawat

“Buukk

melemparkan kembali bantal itu ke wajah Satya. Beberapa penumpang tertawa melihat pasangan muda itu.

sebuah bantal mendarat di wajah Ana, membuatnya mendesis kesal dan ingin

Suami istri Winata dan Prawira tengah menikmati teh bersama di kediaman keluarga Prawira. Mereka berbincang tentang betapa meriah dan lancarnya acara resepsi pernikahan putra-putri mereka. Bahkan beberapa kali mereka tertawa mengingat beberapa kejadian konyol yang dilakukan pasangan pengantin itu. Terutama Ana yang memang terkenal sangat ceroboh.

“Aku senang sekali akhirnya semua berjalan lancar dan sekarang kita sudah resmi jadi keluarga,” ucap Pur, pada suami dan kedua besannya.

“Iya ya Pur, aku harap Satya bisa mengubah sifat-sifat jelek Ana yang luar biasa itu,” balas Asri.

“Justru, aku harap Ana yang bisa sedikit mengubah kehidupan Satya yang monoton itu jadi lebih berwarna dengan sifatnya yang gak neko-neko,” timpal Wiryo yang selama ini juga agak khawatir dengan kecenderungan Satya yang lebih menyukai bisnis dibandingkan kehidupan sosialnya.

“Yah, semoga mereka bisa saling melengkapi. Dua-duanya kan punya sifat yang bertolak pasti agak sulit bagi mereka menyesuaikan diri masing-masing. Semoga mereka gak saling bertengkar,” ucap Adi, ayah Ana yang terkenal dengan sifat kalemnya.

“Yah, semoga. Mereka sudah sampai belum ya?” ucap Pur lagi,”Apa sebaiknya kita telepon?”

45

www.read-blogger.blogspot.com “Nanti aja Pur, mungkin mereka masih istirahat. Jangan ganggu pengantin baru itu dulu

www.read-blogger.blogspot.com

“Nanti aja Pur, mungkin mereka masih istirahat. Jangan ganggu pengantin baru itu dulu deh,” Asri menimpali.

Di sudut ruangan Real and Choco resto, keempat sahabat Ana pun tengah membicarakan hal yang sama, pesta pernikahan Ana. Mereka takjub pada nasib Ana yang bisa menjadi istri dari Satya, pengusaha muda yang terkenal sebagai penakluk hati para wanita. Mungkin saat berita pernikahan Satya dan Ana beredar di media, para wanita yang mengidolakan Satya akan patah hati dan menghabiskan stok tisu di rumahnya hanya untuk menangis dan meratapi mengapa Satya harus menikah dengan orang seperti Ana. Sahabat-sahabat Ana tertawa membayangkan hal itu.

“Jadi, kira-kira apa yang dilakukan Ana saat malam pertamanya ya?” ucap Elia penasaran.

“Benar ya? Secara Ana sama sekali gak punya pengalaman apapun soal sex. Jangan kan sex, pacaran aja bisa dihitung pake jari,” timpal Farah.

“Masih untung kalau mereka cuma tidur, kalau sampai Ana ngajak perang, wah

kan?” sahut Dhina, ketiga temannya tertawa. Masing-masing mencoba membayangkan apa yang terjadi di malam pertama sahabatnya itu.

bisa bahaya

“Yang nyawanya dalam bahaya ya jelas Satya, Ana kan kalau udah ngamuk lebih parah dari ”

singa betina

canda Elia diiringi tawa ketiga sahabatnya.

hahaha

“Udah Ah, kok jadi ngomongin malam pertamanya Ana? Sekarang tu anak udah dimana ya? Aku dengar mereka honeymoon ke KL?” Resti mencoba menghentikan pembicaraan mereka yang semakin menggila.

“Benar

ponsel Ana. Namun setelah mencoba beberapa kali, Ana belum juga menjawab teleponnya.

telepon

Ana ah,” Elia mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi nomor

“Mungkin baru nyampe kali, nanti aja,” saran Dhina, keempatnya pun menghentikan pembicaraan tentang Ana dan mulai menikmati makanan pesanan mereka yang telah tiba.

***

Menempuh perjalanan dua jam ditambah perbedaan waktu satu jam, harusnya tidaklah melelahkan. Namun entah mengapa, Ana begitu lelah. Mungkin karena efek pesta kemarin malam yang membuat tenaga Ana terkuras. Dengan malas-malasan ia mendorong kopernya mengikuti langkah Satya menuju pintu keluar Bandara KLIA. Karena tidak hati-hati, dirinya menabrak seseorang yang juga akan keluar dari bandara.

“So

sorry

ucap Ana terbata saat kopernya menubruk orang tersebut.

“It’s Oke,” balas pria itu sambil membenarkan posisi kopernya yang ikut terjatuh karena tabrakan itu. Satya yang berjalan di depan Ana segera menoleh ke belakang dan menggeleng heran melihat kecerobohan Ana.

“Are you okey?” tanya Ana lagi, sekarang ia dapat melihat dengan jelas wajah pria yang ditabraknya.

46

www.read-blogger.blogspot.com “Yes, I’m okey, don’t worry terpaku menatap pria yang ditabraknya. Jika dibiarkan

www.read-blogger.blogspot.com

“Yes, I’m okey, don’t worry

terpaku menatap pria yang ditabraknya. Jika dibiarkan seperti itu, Satya yakin ia bisa bertahan dengan posisi itu untuk waktu yang sangat lama, seperti sapi ompong yang

kehilangan jatah rumput.

ucap pria itu sambil berjalan pergi meninggalkan Ana. Ana

“Ariana

menyusul Satya. Pria yang tadi menabrak Ana, sempat menoleh ke Arah Ana saat Satya meneriakkan namanya.

teriak Satya mengagetkannya. Ana tersadar dari bengongnya dan mulai berjalan

Tak butuh waktu lama bagi Ana dan Satya tiba di Hotel Inter Continen yang lokasinya tak jauh dari KLCC tower, tempat dimana Satya akan mengadakan pertemuan bisnis esok. Dengan menumpang taksi, ditambah jalanan kota Kuala Lumpur yang tidak macet seperti di Indonesia, mereka tiba di hotel dengan lancar. Setelah mengurus segala keperluan untuk menginap, mereka berdua segera menuju ke kamar. Begitu tiba di kamar, Ana segera merebahkan tubuhnya di kasur. Rasanya nyaman, karena selama di pesawat ia sama sekali tidak merasa nyaman. Ana mulai merancang kegiatannya selama di Kuala Lumpur di dalam otaknya. Shopping, jalan-jalan, wisata kuliner, shopping, shopping, shopping,

“Yeah

teriaknya girang membuat Satya yang tengah membereskan isi kopernya terlonjak

kaget.

“Kamu kenapa?” tanya Satya setelah selesai dengan kegiatannya lalu berjalan ke sofa dan mulai menyalakan TV.

“Aku mau shopping sepuasnya

ucap Ana dengan wajah berbinar.

“Uang darimana?” tanya Satya, “ Bukannya kamu meninggalkan dompet kamu di rumah?”

“Hah?” dengan cepat Ana membongkar isi tasnya. Hanya ada paspor, dompet uang kecil yang biasa ia bawa jika akan belanja ke supermarket terdekat, alat make up, ponsel, senter,

“Aaakkhhhhhhh

jerit Ana histeris.

“Kenapa kamu gak bilang? Kok kamu bisa tahu aku tinggalin dompet aku di rumah?” tanya Ana kesal.

“Bukannya saat akad kamu yang letakkan dompet kamu di atas meja rias?” ucap Satya, Ana memutar kembali memori di otaknya. Benar, saat acara akad nikah, ia memang sengaja meninggalkan dompetnya. Lagipula untuk apa orang mau nikah bawa-bawa dompet. Dan setelah akad, mereka segera bergerak ke hotel untuk resepsi. Urusan koper sudah Ana persiapkan sejak dua hari yang lalu. Walau ia tidak tahu Satya akan mengajaknya ke Kuala Lumpur, tapi yang pasti ia sudah mempersiapkan segala keperluannya untuk acara bulan madu, walau untuk tujuan yang lain. Ia mempersiapkan koper untuk tujuan berlibur, bukannya berbulan madu. Dan setelah menyadari bahwa ia meninggalkan dompetnya, langit di atas kepala Ana rasanya mau runtuh. Bagaimana mau menikmati liburan jika ia sama sekali tidak punya uang untuk berlibur?

Ana melirik Satya, “Sat

bujuk Ana dengan suara sangat manis.

kamu kan suamiku, mau kan pinjemin aku uang untuk shopping?”

47

www.read-blogger.blogspot.com “Hah? Untuk apa? Shopping? Apa aku harus?” tanya Satya ketus. “Yah, harus. Kamu kan

www.read-blogger.blogspot.com

“Hah? Untuk apa? Shopping? Apa aku harus?” tanya Satya ketus.

“Yah, harus. Kamu kan suami kalah ketus.

masa gak mau bayarin istrinya shopping?” jawab Ana tak

“Bukannya kita pasangan kompromi?” Satya mengingatkan.

“Ya, kita pasangan kompromi, pasangan bisnis. Kalau kamu gak bisa bayarin aku shopping, kalau gitu pinjamkan aku uang!” teriak Ana mulai emosi.

“Oh ya? Apa ada jaminan kamu bakal mengembalikan pinjaman?”

“Wah

darah,” maki Ana, membuat Satya malah tertawa, “Kalau gitu bayarkan uang kompensasinya sekarang!”

apa isi otakmu itu cuma bisnis dan profit? Dasar lintah darat, vampir penghisap

“Kompensasi dibayar saat kerja sama berakhir,” jawaban Satya membuat darah Ana

mendidih, “Dasar Vampir

teriak Ana kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar.

“Hei, pastikan kamu tahu jalan kembali ke hotel kalau memang mau kabur,” ledek Satya membiarkan Ana pergi, bukannya malah mengejarnya.

“Lintah darat, Vampir, berdarah dingin, gak punya hati, gak punya otak, dasar otak ikan

umpat Ana sepanjang perjalanan. Ia berjalan tak tentu arah meninggalkan hotel. Orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya menatap heran pada Ana yang terus menggerutu sepanjang jalan. Ana merasa ia sudah berjalan cukup jauh, karena kakinya terasa pegal. Ia menghentikan langkahnya dan mulai duduk di trotoar jalan. Makin heranlah orang-orang melihatnya.

“Hah

pasti udah gak waras,” gerutu Ana sambil memijat pergelangan kakinya. Seseorang sejak tadi sudah memperhatikan Ana. Namun Ana sama sekali tidak mengetahuinya.

kenapa

bisa aku setuju kerja sama dengan orang gak punya hati seperti dia ya? Aku

Tiba-tiba saja dua orang petugas kepolisian Diraja Malaysia menghampiri Ana. Mungkin mereka mengira Ana adalah tenaga kerja ilegal. Karena memang tampang Ana yang saat itu sedang kusut sama sekali tidak menunjukkan kalau ia adalah pelancong bukannya tenaga kerja ilegal.

“Maaf, Sila Puan tunjukkan ID card?” pinta salah seorang dari petugas.

“Hah?” balas Ana bingung. Seketika Ana sadar bahwa ia sama sekali tidak membawa apapun. Ia keluar dengan tangan kosong. Tak terpikir olehnya bahwa bisa saja ia terjaring razia tenaga kerja ilegal.

“Sorry, Sir, but i’m not illegal worker. I’m a tourist. I’m here with my husband for our honeymoon,” jelas Ana.

“Yes, but, could you show your id? Passport?” pinta si petugas.

48

www.read-blogger.blogspot.com “I’m sorry, but i left that in hotel. You can follow me to the

www.read-blogger.blogspot.com

“I’m sorry, but i left that in hotel. You can follow me to the hotel, so i can show you my passport,” ajak Ana mencoba bernegosiasi.

“Sorry Ma’am, but we can. You can follow us to the office,” ajak si petugas.

“No, no, please

Mereka tetap menggiring Ana ke kantornya yang tak jauh dari sana.

ucap Ana memohon, namun kedua petugas itu tidak mendengarkan.

“Please

hear me

i don’t lie

please

teriak Ana berusaha membujuk, namun usahanya

sia-sia.

Satya tiba di kantor polisi saat mendapat telepon dari hotel yang mengabarkan bahwa polisi Malaysia, menangkap Ana dan membawanya ke kantor mereka. Dengan tenang, Satya berjalan memasuki ruangan. Ia melihat Ana menundukkan kepalanya ke meja. Kelihatannya ia frustrasi menunggu kedatangan Satya. Ia mengatakan pada para polisi itu untuk menelpon hotel tempatnya menginap dan mengabarkan pada suaminya bahwa ia ada di kantor polisi. Namun sudah setengah jam menunggu, Satya belum juga muncul. Para polisi mulai curiga terhadap Ana.

“Excus me,” ucap Satya, dengan cepat Ana mengangkat kepala dan tersenyum lega melihat Satya tiba. Namun saat melihat senyum di wajah Satya, rasa kesal Ana timbul lagi.

“Dasar brengsek

polisi yang ada di sana melongo menyaksikan pertengkaran pasangan itu.

maki Ana sambil berlari ke arah Satya dan mulai memukulinya. Para

“Kamu sengaja kan? Berapa jauh sih, jarak hotel ke sini? Hah!” teriak Ana sambil terus memukul dan menendang tubuh Satya. Satya berusaha menghindar, namun ia malah tertawa saat Ana terus memukulinya, membuat para polisi itu semakin bingung.

Setelah puas melampiaskan amarahnya, Ana mulai tenang. Satya pun menyelesaikan urusannya yang tertunda dengan para polisi itu. ia menunjukkan passport mereka, juga bukti bahwa mereka adalah sepasang suami istri. Setelah merasa yakin, para polisi itupun mengizinkan keduanya pergi.

“Thank’s for helping my wife. I don’t know, what will happened to her, if you not found her, Sir,” ucap Satya membuat Ana mendelik sewot. Memangnya aku anak hilang? Pikirnya.

Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya berpamitan untuk kembali ke hotel. Selama di jalan, Ana terus menekuk wajahnya. Melihat hal itu,Satya pun menggodanya.

“Deuh, yang hilang di Negeri Jiran?” ledek Satya.

“Hilang? Kamu tuh yang hilang!” balas Ana kesal sambil menendang kaki Satya kemudian berjalan cepat meninggalkan Satya.

“Hei, arah hotel ke kiri, bukan kanan

mau memandang wajah Satya. Tak pelak aksi konyol Ana semakin membuat Satya tertawa geli.

teriak Satya, Ana pun berbalik arah dengan cepat, tak

49

www.read-blogger.blogspot.com DELAPAN Setelah menikmati makan malam di restoran hotel, Ana dan Satya kembali ke kamar.

www.read-blogger.blogspot.com

DELAPAN

Setelah menikmati makan malam di restoran hotel, Ana dan Satya kembali ke kamar. Karena Satya harus menghadiri pertemuan besok, jadi mereka sama sekali tidak punya waktu untuk menjelajah. Sebenarnya Ana bisa saja menjelajah sendiri, namun Satya sama sekali tidak berniat meminjaminya uang. Jadi Ana harus pasrah saja berada di kamar hotel, atau lebih tepatnya berada di samping Satya.

“Ah, nyamannya. Memang kalau perut kenyang, yang paling enak dilakukan adalah tidur ucap Ana setelah selesai mandi dan bersiap menarik selimutnya untuk tidur.

“Minggir,” usir Satya padanya, “Kenapa?” tanya Ana bingung.

“Ini kasurku, kamu

tidur di sofa,” perintah Satya.

“Sofa lagi?!?” pekik Ana, “Gak. Kemarin kan aku udah tidur di sofa, sekarang gantian kamu yang tidur di sana,” tolak Ana.

“Aku tidak terbiasa tidur di sembarang tempat. Gak seperti kamu. Kepalaku akan sakit kalau aku tidur di sofa. Dan gak mungkin aku menghadiri pertemuan dengan kepala migrain,” jelas Satya panjang lebar, “Lagipula, siapa yang membayar tagihan?” Satya mengingatkan, Ana mendesah tak percaya dengan kelakuan pria ini.

“Ya

Ia tidak ingin membuang-buang tenaganya berdebat dengan Satya.

ya

ya

kamulah pria penguasa

teriak Ana sambil berjalan membawa selimut ke sofa.

“Letakkan selimutnya,” perintah Satya, “Lalu aku pakai apa?” pekik Ana histeris. “Ambil selimut cadangan di lemari,”

Dengan dongkol Ana berjalan ke lemari dan mengeluarkan selimutnya. Lalu ia segera naik ke sofa dan bersiap tidur. Sofanya cukup nyaman, namun tetap saja Ana jengkel dengan sikap Satya.

“Dia enak-enakan tidur di kasur!” gerutu Ana,”Gak bisa! Malam ini, kita akan sama-sama gak nyaman, Satya. Kalau perlu kita sekalian begadang!” sambung Ana sambil tersenyum licik.

Ana menyalakan televisi dan menyetel volumenya dengan suara keras. Suara berisik televisi mengganggu tidur Satya. Ia mengerang dan bangun dari tidurnya yang hampir terlelap.

“Ana, bisa kecilkan volume TV-nya?” pinta Satya kesal.

“Gak, kamu tahu, pendengaranku agak bermasalah. Jadi kalau volume suaranya kecil gak bakal kedengaran,” jawab Ana cuek.

“Tempelkan saja sekalian mata dan telingamu ke layar TV,” balas Satya ketus. Ana Cuma mengangkat bahu tidak peduli. Bahkan ia sengaja memperbesar volumenya untuk membuat Satya bertambah jengkel.

50

www.read-blogger.blogspot.com Dengan kesal Satya beranjak dari kasur dan berjalan menuju sofa. Ia mengambil remote TV

www.read-blogger.blogspot.com

Dengan kesal Satya beranjak dari kasur dan berjalan menuju sofa. Ia mengambil remote TV dengan paksa dan mematikannya.

“Besok aku ada pertemuan An. Jadi bisa biarkan aku tidur dengan tenang?” pinta Satya lagi.

“Enggak!” balas Ana ketus, “Balikin remotenya,” perintahnya, karena televisinya memang tidak punya tombol power selain dari remote. Namun Satya tidak mau menyerahkannya.

“Balikin,” Ana mulai mengejar Satya untuk merebut remote dari tangannya, “Gak akan!” balas Satya berlari menghindari Ana.

Jadilah kedua pasangan pengantin itu saling berteriak dan berkejaran di dalam kamar. Tidak ada yang mau mengalah, baik Satya maupun Ana. Ana benar-benar kesal, bisa-bisanya Satya mengajaknya berkejaran hanya demi remote TV.

“Balikin gak?” teriak Ana sambil mengancam akan melemparkan vas bunga yang ia sambar dari atas meja bundar yang ada di kamar itu.

“Gak akan! Memang kamu berani melemparkan vas itu?” teriak Satya tak kalah galak. Satya menantang Ana. Pilihan yang salah. Karena dengan nekat, Ana benar-benar melemparkan vas itu ke arah Satya. Namun dengan sigap Satya menunduk menghindari lemparan Ana. Tapi naas bagi mereka, lemparan vas itu tepat menghancurkan jendel kaca kamar hotel.

“Praanggg

kepalanya berkali-kali meneoleh ke arah serpihan kaca dan Ana tanpa berkedip. Ana terlihat

menggigit kuku jarinya, panik, menyadari bencana yang ia sebabkan.

bunyi jendela kaca yang pecah mengagetkan mereka. Satya berdiri tegak,

Beberapa petugas hotel terlihat sibuk membersihkan serpihan kaca yang berserakan di lantai. Satya berkali-kali meminta maaf pada manajer hotel dan berjanji akan menanggung semua biaya perbaikan. Untunglah karena posisi Satya sebagai pengusaha muda yang cukup terkenal, dan karena Satya juga adalah salah satu tamu eksklusif di hotel itu, si manajer terlihat mengerti dan tidak mempermasalahkan semua itu. Namun tetap saja, pasti terbersit tanda tanya di kepala orang-orang tersebut. Apa yang sebenarnya dilakukan pasangan itu malam-malam begini hingga menyebabkan kekacauan super dahsyat seperti itu. Dan mungkin ini pertama kalinya ada kejadian tamu hotel menghancurkan kamar.

Sementara itu Ana hanya duduk diam di sofa. Tidak berani memandang ke arah mana pun. Ia menyesali kecerobohannya. Satya bisa melihat sedikit ketakutan di mata Ana. Sedikit, hanya sedikit. Karena orang seperti Ana pasti gampang melupakan hal-hal seperti itu.

“Kemasi kopermu, kita pindah ke kamar sebelah,” perintah Satya. Tanpa banyak bicara Ana melakasanakan apa yang diperintahkan Satya.

Sesampai di kamar sebelah, tanpa diperintah, Ana segera naik ke sofa dan bersiap untuk tidur. Satya ingin tertawa melihat tingkahnya, namun ia menahannya. Ia tahu Ana pasti merasa sangat bersalah.

“Untunglah, manajer hotel mengenalku, jika tidak? Kita pasti sudah jadi berita panas di media sini,”ucap Satya setengah bercanda namun Ana tidak menanggapinya.

51

www.read-blogger.blogspot.com “Maaf, selamat malam,” ucap Ana bersiap untuk tidur. “Kamu gak mau tidur di kasur?”

www.read-blogger.blogspot.com

“Maaf, selamat malam,” ucap Ana bersiap untuk tidur.

“Kamu gak mau tidur di kasur?” ajak Satya. Ana yang sudah berbaring menegakkan tubuhnya kembali, “Memang boleh?” tanya Ana.

“Kalau kamu gak mau

naik ke tempat tidur. Namun Satya mengernyit heran saat melihat Ana menggunakan guling sebagai pembatas.

belum sempat Satya menyelesaikan kalimatnya, Ana sudah berlari

“Kenapa dibuat pembatas?” tanya Satya.

“Untuk mengantisipasi segala hal yang tidak diinginkan,” jawab Ana.

“Ana, hal seperti itu hanya ada di drama yang kamu tonton. Kamu pikir aku segila itu? Dua orang yang gak saling cinta tidur di satu kasur, lalu paginya mereka berpelukan atau apalah, hal seperti itu bakal terjadi kalau kamu punya kebiasaan tidur yang aneh,” jelas Satya panjang lebar, “Kamu gak punya kebiasaan tidur yang aneh kan?” tanyanya.

Ana berpikir sejenak, “Gak sih, cuma, Mbak Ani bilang kalau tidur aku suka bikin suara aneh gitu di mulut. Tahu kan? Mirip suara gigi beradu gitu,” jelas Ana, Satya terlihat mengernyit.

“Kembali ke sofa!”

“Selamat malam Satya,” ucap Ana cepat sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.Satya menahan tawanya melihat ulah Ana.

***

Seorang pria terlihat berjalan menikmati keindahan kota Kuala Lumpur. Walau sendirian, ia sangat menikmati liburannya. Sambil sesekali menikmati cemilan khas Malaysia, ia juga membeli beberapa souvenir yang dijajakan. Di sudut lainnya, seorang wanita muda juga terlihat melakukan hal yang sama.

“Maaf,” ucap si pria, saat ia tak sengaja menabrak wanita itu.

“Gak apa-apa,” balas si wanita sambil tersenyum.

“Bisa Bahasa Indonesia?” tanya si pria heran, memperhatikan wajah bule si wanita.

“Aku malah berdarah Indonesia, Mamiku,” balas si wanita mengulurkan tangannya, “Adelia,kamu bisa panggil aku Adel,” ucap Adel dengan senyum menawan.

“Marvin,” balas si pria mengulurkan tangannya.

“Dalam rangka apa ke sini?” tanya Adel pada Marvin. Mereka berdua terlihat menikmati semilan roti canai dan teh tarik yang sudah tersedia.

“Liburan, kamu sendiri?” tanya Marvin, “Bisnis,” balas Adel. Mereka pun melanjutkan pembicaraannya. Keduanya terlihat akrab, walau baru saling mengenal.

52

*** www.read-blogger.blogspot.com “Ana, cepat bangun. Jam sebelas aku harus sudah tiba di KLCC,” teriak Satya

***

www.read-blogger.blogspot.com

“Ana, cepat bangun. Jam sebelas aku harus sudah tiba di KLCC,” teriak Satya berusaha membangunkan Ana.

“Ah, ini emang jam berapa?” Ana mulai bangun walau dengan bermalas-malasan.

“Jam sepuluh An. Kita harus turun untuk sarapan,” ucap Satya menarik selimut agar Ana segera bangun dan membenahi diri. Dengan pandangan samar khas orang yang baru bangun tidur, Ana melihat bahwa Satya telah rapi dengan setelan jasnya. Pria itu memang tampan, Ana akui itu. Namun jika mengingat-ingat sikap dan perlakuannya yang kadang sangat menyebalkan, Ana menguras habis semua poin ketampanannya menjadi nol.

Tepat pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit, mereka telah tiba di KLCC, tempat Satya akan mengadakan pertemuan. Satya meminta Ana menunggunya di sekitar gedung agar Satya mudah mencarinya jika pertemuannya sudah selesai. Ana hanya menjawab dengan wajah manyun. Bagaimana tidak manyun jika ia berada di pusat perbelanjaan terbesar di Malaysia, tapi sama sekali tidak bisa membeli apapun.

“Periksa kembali, dompet, paspor, id card,” perintah Satya sebelum pergi. Ana menunjukkan paspor dan dompet uang kecilnya dengan bibir cemberut. “Gak usah manyun. Kalau kamu gak bikin masalah selama aku pergi, aku bakal pertimbangin untuk minjemin kamu uang,” janji Satya, mendengar hal itu, seketika wajah Ana berbinar.

“Benar?” tanyanya menatap tajam Satya, Satya mengangguk. “Yes!” desisnya gembira. Satya tertawa melihatnya.

“Ini,” Satya menyerahkan uang seratus ringgit ke tangan Ana, Ana memandangi seratus ringgit itu dengan dahi mengerut, “Seratus ringit? Dapat apa ini?” protes Ana, Satya hanya tersenyum.

“Aku pergi dulu,” ucap Satya berpamitan sambil mengelus lembut kepala Ana. Ana yang tidak terbiasa dengan perlakuan manis Satya hanya bisa melongo, “Apa-apaan itu?” cibir Ana menatap punggung Satya yang mulai menghilang di telan kerumunan orang yang berlalu lalang.

Satya dan beberapa klien sudah berada di ruang pertemuan. Mereka menunggu seseorang yang belum tiba. Sebelum orang yang ditunggu tiba, Satya kembali berbincang dengan beberapa orang yang ada di sana.

“Sorry, i’m late,” ucap seorang wanita memasuki ruangan itu. Satya terlihat terkejut begitu menyadari siapa yang masuk.

“Mr,Satya, this is

wanita yang baru tiba itu, namun Satya lebih dulu menjawabnya, “Adelia Kaahnz,” ucap

Satya. Adelia tersenyum karena ternyata Satya masih mengingatnya.

” suara Mr. Grover terdengar berusaha memperkenalkan Satya dan

“Apa kabar Sat?” tanya Adelia.

53

www.read-blogger.blogspot.com “Baik,” balas Satya ikut tersenyum. “Udah lama ya kita gak ketemu? Mungkin sekitar

www.read-blogger.blogspot.com

“Baik,” balas Satya ikut tersenyum.

“Udah lama ya kita gak ketemu? Mungkin sekitar sembilan tahun?” ucap Adel mencoba mengingat, Satya mengangguk.

Adelia Kaahnz, wanita beradarah Indo-Jerman yang pernah menjadi teman bisnis Satya. Sembilan tahun lalu Adel hanyalah seorang karyawan magang di salah satu perusahaan yang menjadi rekan bisnis Satya. Setahun kemudian Adel pindah ke Jerman melanjutkan pendidikannya. Kemudian ia meneruskan bisnis keluarganya, membangun dan mengembangkan Kaahnz Corps and Engineering, perusahaan yang bergerdak di bidang Arsitektur. Dan kali ini mereka kembali dipertemukan sebagai rekan bisnis lagi.

Pertemuan yangdijadwalkan hanya berlangsung selama dua atau tiga jam, berubah menjadi lebih lama karena Adel dan Satya tak hanya berbincang mengenai bisnis, namun juga membicarakan cerita masa lalu mereka. Bahkan karena terlalu asyik berbincang, Satya sampai lupa bahwa ia meninggalkan Ana seorang diri di lantai bawah. Ana yang sudah merasa bosan dan lapar, mulai menggerutu. Kakinya sudah pegal berkeliling SURIA, bahkan uang seratus ringgitnya sudah ia gunakan untuk membeli roti dan minuman dan hanya tersisa beberapa puluh ringgit lagi. Perut Ana pun sudah memberontak minta di isi dengan makanan berat. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Satya namun tetap tidak diangkat.

“Apa dia mau membuatku mati kelaparan? Hah!” teriak Ana mengagetkan pengunjung di Mall yang kebanyakan adalah warga negara asing.

Dengan kesal Ana berjalan keluar, menuju taman belakang KLCC. Di taman ia duduk melamun seperti orang gila di ayunan. Menjadi bahan tontonan anak-anak bule yang bermain di taman itu.

“Dasar gak punya hati? Sama sekali belum nelpon untuk ngajak makan? Aku lapar!” Ana meringis menahan rasa laparnya. Kembali ia berjalan dan berdiri di atas jembatan, memandangi megahnya menara kembar yang ada di depannya.

“Percuma! Semewah apapun gedung di depan mataku kalau aku gak bisa belanja buat apa?”

teriak Ana kesal, “Aku mau shopping

!!!!”

Seorang anak yang kelihatannya warga negara inggris, atau entahlah, berjalan mendekati Ana. Anak itu menyerahkan sebatang cokelat padanya. “Hah? For me?” tanya Ana, anak itu mengangguk, kemudian berlari pergi.

“I’ve already give it to that aunt,” ucap Anak itu pada seorang pria. Pria itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Ana.

“Orang bilang cokelat bisa merubah suasana hati,” ucapnya di samping Ana yang mulai menikmati cokelatnya. Ana menoleh, “Kamu!” pekiknya, pria itu tersenyum.

“Marvin,” ucap pria itu mengulurkan tangannya. Ana masih tertegun. Pria ini adalah pria yang tidak sengaja ditabrak Ana saat di Bandara.

“Ana,” balas Ana, “Kamu dari Indonesia?” tanya Ana, Marvin mengangguk.

54

www.read-blogger.blogspot.com “Dalam rangka apa ke sini?” tanya Marvin. “Berlibur. Kamu?” “Melepaskan diri

www.read-blogger.blogspot.com

“Dalam rangka apa ke sini?” tanya Marvin.

“Berlibur. Kamu?”

“Melepaskan diri sejenak dari penatnya pekerjaan,” jawab Marvin.

“Apa pekerjaan kamu?”

“Aku bekerja di DELL,” balas Marvin, Ana membentuk huruf O di mulutnya.

“Berapa lama kamu di sini?” tanya Ana lagi, “Mungkin seminggu,” balas Marvin.

“Dan apa pekerjaanmu An?” tanya Marvin ingin tahu.

“Guru,” jawab Ana pasti. Marvin terlihat terkejut. “Kenapa? Aku kelihatan gak cocok ya buat jadi guru?” tanya Ana ragu, Marvin mengangguk pasti.

“Hah? Sudah kuduga. Semua orang bilang aku lebih cocok jadi preman pasar,” Marvin tertawa mendengar ucapan Ana.

“Kamu sudah makan siang?” tanya Marvin, karena sepertinya ia tahu bahwa Ana belum makan siang. Melihat betapa kesalnya raut wajahnya. Ana menggeleng.

“Mau makan denganku?” ajak Marvin, Ana kelihatan ragu, “Aku yang traktir,” sambung Marvin, membuat Ana mengangguk berkali-kali persis anak anjing yang girang mendapat mainan baru.

Di saat tengah menikmati makan siangnya, baru Satya mengingat bahwa ia telah meninggalkan Ana terlalu lama. Di sela perbincangannya, Satya berusaha menghubungi Ana, namun Ana yang sedang menikmati makan siang bersama Marvin, sengaja mengabaikan teleponnya. Biar tahu rasa, batin Ana. Setelah menikmati makan siangnya, Ana dan Marvin kembali turun ke SURIA. Karena masih memiliki janji dengan temannya, Marvin berpamitan pada Ana.

“Lain kali kita ketemu lagi, mungkin di Jakarta kita bisa hang out bareng?” ucap Marvin sebelum pergi, Ana mengangguk pasti.

“Tentu, thank’s buat makan siangnya Vin. Ntar lain waktu kita bisa ketemu di Jakarta,” balas Ana. Marvin pun meninggalkan Ana seorang diri.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore waku Malaysia. Akhirnya Satya dan Adel mengakhiri perbincangan mereka. Sebelum berpamitan Adel meminta kembali nomor kontak Satya, karena ia juga akan dipindahkan ke kantor cabang di Jakarta.

“Kapan kamu mau balik ke Jakarta?” tanya Adel.

“Mungkin, dua atau tiga hari lagi,”balas Satya.

55

www.read-blogger.blogspot.com “Apa boleh kita berangkat bersama?” tanya Adel ragu, “Tentu,” balas Satya membuat

www.read-blogger.blogspot.com

“Apa boleh kita berangkat bersama?” tanya Adel ragu, “Tentu,” balas Satya membuat senyum di wajah Adel merekah.

“OK, kuhubungi nanti, bye Sat,”

Sepeninggal Adel, Satya bergegas menyusul Ana. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Ana namun tetap tidak di jawab. Akhirnya ia berhasil menemukan keberadaan Ana. Wanita satu itu sedang duduk di tangga depan kolam air mancur di pintu masuk SURIA. Ana seperti orang yang tidak punya tujuan hidup. Ia duduk sambil menundukkan kepalanya. Beberapa pria asing yang berlalu lalang di depannya sempat melirik ingin tahu padanya. Dengan tenang Satya berjalan mendekatinya.

“Maaf, membuatmu menunggu lama,” ucap Satya penuh penyesalan.

Ana berdiri tegak, menatap nanar pada Satya, “Maaf katamu? Gak lihat aku udah kaya orang gila gak punya tujuan nungguin kamu berjam-jam. Aku capek, lapar. Dan kamu cuma bekali aku dengan uang seratus ringgit? Kamu pikir seratus ringgit dapat apa, Hah?” teriak Ana melampiaskan emosinya. Sebagian orang yang berada di sekitar mereka memperhatikan pasangan itu.

“Kamu punya perasaan gak sih? Ninggalin aku sendirian di sini? Pernah gak sih, sedikit aja kamu mikirin aku? Apa aku baik-baik saja? Apa aku udah makan siang? Kutelepon berkali- kali kamu gak angkat! Dimana otak kamu Sat? Gunakan sedikit hati kamu buat mikirin orang lain, jangan cuma bisnis doang,” cecar Ana habis-habisan. Ia tidak peduli jika orang-orang itu melihatnya, toh mereka tidak mengerti apa yang ia katakan.

“Maaf. An. Aku janji kejadian seperti ini gak akan terjadi lagi,” janji Satya.

“Harus! Kalau sampai hal begini terjadi lagi, lebih baik aku ditangkap polisi Malaysia dan dikira TKI ilegal lalu aku bisa dipulangin dan dideportasi gratis ke Jakarta,” balas Ana ketus, namun tak pelak Satya hampir tertawa mendengar ucapan Ana yang meracau.

“Kamu udah makan?” tanya Satya lembut, “Udah,” balas Ana masih dengan nada ketus.

“Sama siapa?” tanya Satya bingung, Namun Ana memalingkan wajah, tak ingin menjawab pertanyaan Satya.

“Sebagai permintaan maaf, sekarang aku akan ajak kamu belanja. Kamu boleh beli apapun yang kamu mau,”, Satya menawarkan.

Mendengar kata belanja, wajah Ana berbinar cerah, “Beneran?” tanyanya, Satya mengangguk.

“Gak pake ngutang?”

“Gak Ana. Kamu boleh beli apapun. Prada, Gucci, Jimmy Choo’s

menyelesaikan ucapannya, Ana berteriak girang, “Air mancur

mendekati kolam karena atraksi air mancur sudah di mulai. Satya menggeleng melihat

belum sempat Satya

”,

kemudian Ana berlari

56

www.read-blogger.blogspot.com tingkah kenakkan Ana. Namun tak hanya Ana yang terlihat takjub dengan atraksi itu, karena

www.read-blogger.blogspot.com

tingkah kenakkan Ana. Namun tak hanya Ana yang terlihat takjub dengan atraksi itu, karena sebagian besar pengunjung juga melakukan hal yang sama.

57

www.read-blogger.blogspot.com SEMBILAN Adel memasuki apartemennya dengan wajah sumringah. Ia tidak menyangka akan bertemu

www.read-blogger.blogspot.com

SEMBILAN

Adel memasuki apartemennya dengan wajah sumringah. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Satya, pria yang dikenalnya dan berhasil membuatnya jatuh hati hampir sembilan tahun lalu itu. Bahkan di mata Adel, Satya terlihat semakin menawan dan penuh pesona. Ia terlihat dewasa dan lebih berwibawa. Itu terlihat dari sikap dan pembawaan Satya saat ia berbicara. Adel semakin mengagumi pria itu.

“Oh my God, Satya bahkan terlihat lebih tampan dibandingkan terakhir kali aku bertemu dengannya,” puji Adel.

Ia kemudian mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Satya. Namun sayangnya Satya tidak menjawab teleponnya karena saat ini ia harus rela membayar hutangnya dengan menemani Ana berbelanja mengelilingi seluruh pusat perbelanjaan SURIA.

***

“Mau sampai kapan kamu belanja An?” tanya Satya yang mulai bosan. Ia tidak menyangka ternyata Ana punya ketahananan yang luar biasa berjalan ke sana kemari jika itu menyangkut kesenangannya.

“Sebentar lagi Sat,” balas Ana sambil memperhatikan jajaran sepatu di toko yang entah urutan keberapa yang mereka kunjungi.

“Ini sudah hampir waktunya makan malam An,” Satya mengingatkan. Ana melirik arloji di tangannya, “Benar,” ucapnya kemudian.

“Kamu mau makan malam apa?” tanya Satya lagi.

“Ayam penyet,”

“Hah? Ayam penyet? Jauh-jauh ke Malaysia cuma mau makan ayam penyet?” tanya Satya bingung.

“Makanan di sini gak terlalu enak Sat. Lidahku gak nyaman dengan makanan sini. Nasi lemak melulu. Mau dimasukin berapa banyak lemak lagi ke tubuhku?”

“Western?” Ana menggeleng, “Pokoknya ayam penyet,” ucap Ana tidak mau berkompromi. Dengan terpaksa Satya menuruti keinginan Ana. Mereka mencari restoran waralaba Indonesia yang membuka cabangnya di sana.

***

Marvin menatap jauh ke hamparan cahaya yang terpantul dari menara kembar yang terlihat jelas dari balkon kamar hotelnya. Ia tersenyum mengingat kembali pertemuannya dengan Ariana, wanita yang menabraknya di Bandara, dan pastinya wanita yang membuatnya tertawan. Pertama kali bertemu dengan Ana, Marvin langsung jatuh hati, tidak hanya pada paras Ana yang ia nilai cukup manis tetapi juga karena kepribadiannya yang blak-blakan dan

58

www.read-blogger.blogspot.com easy going. Walau baru mengenal, namun Marvin merasa Ana adalah pribadi yang menarik. Mereka

www.read-blogger.blogspot.com

easy going. Walau baru mengenal, namun Marvin merasa Ana adalah pribadi yang menarik. Mereka sudah membicarakan banyak hal. Bahkan saat makan siang bersama tadi, tak hentinya Marvin tersenyum mendengar celotehan konyol yang terlontar dari bibir Ana. Namun ada satu yang masih mengganjal di hati Marvin, siapa pria yang memanggil Ana saat

di Bandara? Marvin belum menanyakan hal itu pada Ana, atau ia bahkan lupa tentang hal itu

saat dirinya bersama Ana.

“Apa besok kita bisa bertemu lagi, Ariana?” gumam Marvin, kemudian, masuk ke kamarnya untuk beristirahat.

***

Pagi itu Ana bangun lebih pagi dari Satya. Setelah mandi dan berbenah, Ana berjalan mengendap-endap meninggalkan kamar setelah lebih dulu meninggalkan pesan untuk Satya. Pesan yang pastinya akan membuat Satya spot jantung pagi-pagi karena ulah Ana. Ana

memutuskan untuk menghabiskan satu hari itu seorang diri, tanpa Satya. Tampilan Ana juga cukup chick. Ia mengenakan kemeja katun, jeans dan wedges. Dengan penampilannya yang casual seperti itu, Ana yakin ia bisa menggaet pria manapun yang ia inginkan. Wah, pedenya Ana terlalu selangit. Tapi begitulah ia. Dengan naik LRT, ia bergerak menuju menara kembar. Ia ingin naik ke menara atas. Jika tidak mengantri dari pagi, ia pasti tidak akan mendapatkan kesempatan untuk naik. Darimana Ana mendapatkan uang? Tentu saja setelah

ia mengacak-acak isi dompet Satya. Menurut pandangan Ana ia meminjamnya, tapi bagi

orang lain itu jelas pencurian. Dengan sangat hati-hati tadi malam, setelah memastikan Satya

tertidur pulas, Ana mengambil seribu ringgit dari dompet Satya. Tidak banyak memang, tapi cukuplah untuknya berkeliling kota seharian.

***

Tepat pukul delapan pagi, Satya terbangun dari tidurnya. Ia heran saat mendapati Ana tidak berada di sampingnya. Karena biasanya, Ana lah yang bangun paling lama. Namun kali ini ia tidak menemukan Ana. Satya mencoba mencari ke kamar mandi, namun juga tidak menemukannya. Hingga akhirnya ia melihat secarik kertas yang di letakkan di atas meja. Satya mengambil kertas itu dan membaca isinya.

“Jangan cari aku, hari ini aku ingin menghabiskan hari sendirian, tanpamu! Oh ya, aku meminjam sedikit uangmu, AKU PINJAM PASTI DIGANTI!” tulis Ana dengan penuh penekanan pada kata diganti. Satya segera bergegas mengambil dompetnya. Ia memeriksa isinya dan kemudian mengerang karena Ana telah mengambil uangnya tanpa ijin.

“ARIANA

!!!!”

pekik Satya kesal.

Setelah membersihkan dirinya, Satya segera keluar dari hotel untuk mencarinya. Berkali-kali

ia menelpon, tapi sepertinya Ana memang tidak ingin diganggu. Dengan kesal Satya terus

mencari hingga ke sudut kota dan ke tempat-tempat yang pasti Ana kunjungi. Tapi satya sama sekali tidak terpikir untuk mencari Ana ke menara kembar. Di saat Satya tengah panik mencarinya, Ana malah sedang asyik menikmati es krim di taman KLCC.

***

“Hai

sapa Marvin mengagetkannya hingga membuat es krim Ana terlepas dari tangannya.

59

www.read-blogger.blogspot.com “Ayo ganti!” tagih Ana tanpa basa -basi, Marvin menatap heran padanya. “Apa kegiatanmu

www.read-blogger.blogspot.com

“Ayo ganti!” tagih Ana tanpa basa-basi, Marvin menatap heran padanya.

“Apa kegiatanmu hari ini?” tanya Marvin mengalihkan pembicaraan.

“Ehm, cuma jalan-jalan seharian,”

“Mau bermain ke tempat yang menyenangkan?” ajak Marvin.

“Kemana?” tanya Ana ingin tahu.

“GENTING HIGHLAND,” mendengar kata itu, seketika Ana berdiri tegak dari duduknya, membuat Marvin terperanjat.

“Ayo

tapi menggeleng takjub, karena tidak dapat memprediksi apapun reaksi yang akan ditunjukkan Ana.

katanya mau ke Genting,” ucap Ana menarik tangan Marvin. Pria itu hanya menurut,

***

Satya masih dengan panik terus mencari keberadaan Ana. Saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya dengan cepat Satya menjawab, “Kamu dimana?”

“Halo Satya?” ucap suara di seberang sana yang Satya kira adalah Ana, tapi ternyata itu Adel.

“Oh, maaf. Siapa ini?” tanya Satya tapi tidak mengurangi kepanikannya.

“Adel, bisa kita ketemu?” tanya Adel, terjadi percakapan singkat diantara mereka berdua. Tak lama Adel menutup teleponnya dan tersenyum senang.

Adel melambaikan tangan sambil tersenyum saat melihat Satya memasuki restoran dimana mereka berjanji untuk bertemu. Dengan seulas senyum Satya duduk di depan Adel.

“Mau pesan apa?” tanya Adel, “Kopi saja,” balas Satya, dan Adel pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.

Bercerita dan mengobrol dengan Adel membuat Satya sejenak melupakan kekhawatirannya karena Ana. Adel banyak bercerita tentang perkembangan bisnis dan hidupnya selama sembilan tahun terakhir. Satya dengan baik menyimak segala cerita Adel dan sesekali menimpali dengan balik bercerita tentang hidupnya. Satya mengakui, Adel adalah wanita yang menyenangkan, namun entah mengapa justru Satya merasa sangat merindukan celoteh dan kekonyolan Ana ketika saat bersamanya. Apakah Satya mulai merasa nyaman dengan keberadaan Ana? Entahlah, tapi bercerita dengan Adel tidak senyaman dan semenyenangkan saat ia bersama Ana.

***

Di saat Satya merindukan berbincang dengannya, Ana justru berteriak kegirangan saat kereta gantung yang ia dan Marvin tumpangi meluncur menuju dataran tinggi Genting. Hamparan hutan hujan di ketinggian ribuan meter, membuat Ana tak henti-hentinya berdecak kagum.

60

www.read-blogger.blogspot.com Bukan sekali dua kali Ana datang ke tempat itu, tapi tetap saja ia berteriak

www.read-blogger.blogspot.com

Bukan sekali dua kali Ana datang ke tempat itu, tapi tetap saja ia berteriak girang dan merasakan adrenalinnya berpacu saat berada di ketinggian itu. Marvin yang duduk dengan tenang sempat beberapa kali mengabadikan moment dimana Ana menjerit histeris atau berdecak kagum. Ana pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ia juga mengabadikan moment itu.

“Akhirnya sampai

HIGHLAND Resort. Dengan semangat Ana melangkah mendahului Marvin. Walau ia menggigil kedinginan dengan suhu udara di sana, namun tetap saja tidak melunturkan

semangatnya untuk bermain di tempat itu.

ucap Ana girang saat mereka menginjakkan kaki di GENTING

Marvin menyerahkan tiket pas untuk Ana dan memasangkannya di pergelangan kanan Ana.

“Siap bermain?” tanya Marvin tak kalah bersemangat.

“AYO!” ajak Ana menarik pergelangan tangan Marvin, mengajaknya mencoba segala wahana yang ada di luar ruangan.

Mereka menjajal semua wahana permainan yang ada di sana. Bahkan permainan paling ekstrim sekalipun. Marvin sampai berdecak kagum pada keberanian Ana yang tanpa takut sedikitpun memainkan semuanya. Marvin saja sudah mual, hanya dengan mencoba beberapa wahana ekstrim, tapi Ana, ia tidak berhenti walau tubuhnya diputar, dibanting, dibolak-balik entah oleh permainan apapun, namun ia tetap ingin mencoba.

“Seru

teriak Ana menghampiri Marvin di pintu keluar wahana yang baru ia mainkan.

“Kamu gak ada takutnya ya?” tanya Marvin heran, Ana hanya tertawa.

“Sekarang kita kemana?” tanya Marvin lagi.

“Ke sana!” Ana menunjuk sebuah wahana seperti roket yang memutar-mutar pengunjungnya di ketinggian yang benar-benar menakutkan. Marvin bergidik ngeri melihat wahana itu. Ana

semakin memperlebar senyumnya, “Ayo

tariknya, tidak peduli Marvin suka atau tidak.

***

Tepat pukul tiga sore, Satya kembali ke hotel. Ia menyerah mencari Ana ke seluruh penjuru kota KL. Jika Ana tidak pulang malam itu juga, maka ia akan melaporkan kepergian Ana ke pihak kepolisian.

“Kamu dimana An?” Satya merebahkan dirinya di sofa. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Ana kembali. Dan berhasil, terdengar nada panggil di ponselnya.

“Halo

bisa mendengar suara yang sangat berisik.

jawab Ana, dari nada suaranya Ana terdengar girang. Dan di sekeliling Ana, Satya

“Dimana kamu!?!” teriak Satya, histeris tapi juga lega.

“Genting,” sahut Ana datar.

61

www.read-blogger.blogspot.com “Hah? Kamu di Genting dan sama sekali gak kabarin aku bikin aku panik setengah

www.read-blogger.blogspot.com

“Hah? Kamu di Genting dan sama sekali gak kabarin aku bikin aku panik setengah mati?” teriak Satya lagi, Ana cuma tertawa di sana, “Please deh Sat, aku kan udah bilang kalau aku mau jalan-jalan sendiri, dan sorry soal uang kamu, pulang nanti aku ganti,” balas Ana.

“Jangan kemana-mana, aku susul kamu ke sana,” ucap Satya memutuskan telepon. Ia bergerak menyambar jaketnya lalu menghubungi seorang teman untuk meminjamkannya mobil.

“Hah? Dia mau nyusul?” ucap Ana setelah telepon diputus.

“Siapa?” tanya Marvin yang datang menghampiri dengan membawa dua kantong jagung manis. Ana menggeleng, lalu mengambil satu kantong jagung itu dari tangan Marvin.

Dengan kecepatan penuh, Satya memacu mobilnya menuju Genting Highland lewat jalur darat. Untunglah Satya memiliki lisensi mengemudi internasional, jadi ia tidak perlu takut mengemudi di luar negeri. Dan beruntung, temannya meminjamkan Satya mobil mewah super cepat, ditambah lagi jalanan di Malaysia yang lebar, mulus dan bebas macet, memudahkan Satya bergerak lebih cepat. Menempuh waktu perjalanan tiga jam lebih, Satya akhirnya tiba di Genting resort. Setelah menyerahkan mobilnya pada petugas vallet, Satya bergegas menyusul Ana. Kembali ia menelpon Ana untuk mencari tahu keberadaan Ana . setelah mendapat kepastian, Satya menyusul Ana ke wahana permainan Indoor yang tak jauh dari genting resort. Mata Satya menjelajah seluruh ruangan mencari keberadaan Ana. Itu dia, akhirnya aku menemukannya, ucap Satya dalam hati. Namun Satya melihat Ana tidak sendiri. Ia terlihat gembira bersama seorang pria. Dengan wajah kesal, Satya menghampiri mereka.

“Ariana!” panggil Satya tegas. Ana menoleh, begitupun Marvin. Marvin terlihat terkejut saat melihat kedatangan Satya. Ia mengingat Satya sebagai pria yang juga meneriakkan nama Ana

di bandara tempo hari.

“Hai,” sapa Ana santai.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?” tanya Satya, bersiap mengamuk. Namun Ana sama sekali tidak terlihat takut. Marvin dan Satya saling pandang. Mungkin mereka mencoba menebak hubungan mereka masing-masing dengan Ana.

“Ini Marvin, Sat,” ucap Ana memperkenalkan, “Orang yang kemarin aku tabrak di Bandara,” jelas Ana, “Masa kamu gak ingat?”

Satya mencoba mengingat wajah Marvin lebih jelas, “Oh,hai. Satya,” Satya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.

“Marvin,” balas Marvin menjabat tangan Satya. Marvin merasa pernah melihat Satya selain

di Bandara, tapi dimana, ia sendiri lupa.

“Satya ini suamiku Vin,” ucapan Ana yang tiba-tiba, mengejutkan Marvin. Satya dapat melihat keterkejutan di mata Marvin saat Ana mengatakan bahwa ia adalah suami Ana.

62

www.read-blogger.blogspot.com “Suami?” ulang Marvin, ada rasa kecewa dalam suaranya mengetahui kenyataan itu. “Ayo

www.read-blogger.blogspot.com

“Suami?” ulang Marvin, ada rasa kecewa dalam suaranya mengetahui kenyataan itu.

“Ayo balik ke KL,” ajak Ana setelah sempat terjadi jeda hening yang cukup lama.

“Apa kamu gila? Aku ke sini dengan mobil An, gak mungkin aku harus nyetir lagi ke KL,” ucap Satya histeris, “Kita menginap,” Satya menarik tangan Ana menuju WORLD HOTEL yang terletak bersebelahan dengan wahana permainan.

“Ayo, Vin,” ajak Ana, malah menarik tangan Marvin.

Saat Ana melakukan itu, entah mengapa wajah Satya terlihat jengkel. Ia tidak suka menyadari kedekatan Ana dan Marvin. Ia dan Ana memang hanya sebatas pasangan kompromi. Tapi apa tidak bisa Ana menjaga sikapnya di depan umum. Malah seenaknya menggandeng pria lain di depan mata Satya.

Satya memesankan dua kamar. Satu untuknya dan Ana, sedang satu kamar lagi untuk Marvin. Kamar itu sengaja di pesan bersebelahan. Setelah menikmati makan malam, di udara terbuka Genting yang dingin, mereka kembali ke kamar masing-masing.

“Sampai ketemu besok Vin. Thank’s buat hari ini. Aku puas

membalas dengan senyuman. Satya yang mulai jengkel, segera menarik Ana masuk ke dalam kamar dan membanting pintu tepat di depan wajah Marvin. Marvin hanya terseyum menyadari sikap cemburu Satya.

banget,” ucap Ana, Marvin

“Ana

kamu keterlaluan tahu gak?” cecar Satya saat mereka sudah berada di kamar.

“Hotel ini punya baju ganti gak ya?” Ana malah mengacuhkan Satya dan mulai memeriksa lemari.

“Ariana!” teriak Satya mengagetkannya.

“Apa?” balas Ana juga berteriak.

“Hah?” desah Satya tak dapat berkata-kata lagi.

Karena tidak memiliki pakaian ganti, Ana meminta Satya untuk mengajaknya berbelanja di Mall yang masih berada di area hotel. Namun kembali mereka harus bertengkar saat Satya enggan membayar tagihan pakaian yang dibeli Ana.

“Kok gitu sih? Ayo bayarin,” perintah Ana, namun Satya tetap menolak.

“Bukannya kamu mencuri uang saya. Kamu bayar sendiri,” balas Satya.

“Dasar suami perhitungan, ayo bayar

rengek Ana membuat petugas Mall terlihat bingung.

“Ayo Sat, bayar

dengan judul pengusaha pelit yang perhitungan pada istri?” Satya melotot padanya.

jangan bikin malu dong, negara orang nih? Kamu mau masuk headline

“Kalau kamu gak mau bayar, aku bakal merengek di sini. Biar kita sekalian sama-sama

63

www.read-blogger.blogspot.com malu!” ancam Ana, Satya tidak ingin mengulang kejadian yang sama. Sudah cukup ia malu

www.read-blogger.blogspot.com

malu!” ancam Ana, Satya tidak ingin mengulang kejadian yang sama. Sudah cukup ia malu dengan insiden jendela hotel. Jika Ana mengancam itu bukanlah ancaman kosong. Ana tersenyum penuh kemenangan saat berhasil menaklukkan Satya.

Ana mendesah takjub melihat pemandangan yang terhampar dari jendela kamar. Berada di ketinggian membuat Ana merasa seolah ia berada di puncak dunia. Berkali-kali ia berdecak kagum membuat Satya menggeleng heran.

“Mau sampai kapan kamu nempelin muka kamu di situ? Awas kacanya pecah lagi,” sindir Satya membuat Ana mencibir, “Kan kamu yang nantang, kalau kamu tantangin aku buat mecahin ini kaca, aku bisa!”. Ana berajak dari jendela dan duduk di samping Satya di sofa.

“Sat, aku suka sekali naik kereta gantung itu. Besok aku mau pulang naik kereta gantung, jadi kamu pulang naik mobil sendiri, oke,” ucap Ana tiba-tiba. Satya mengerutkan dahi.

“Lalu Marvin?” tanya Satya.

“Ya, Marvin bareng aku, kamu naik mobil,”

“Hah?”

“Atau, Kita naik kereta gantung, kamu suruh Marvin bawa mobilnya. Itu juga kalau kamu percaya sama dia?” oceh Ana membuat Satya makin heran.

“Apa?”

“Atau, kamu sama Marvin naik kereta gantung, biar aku nyetir mobil,” usul Ana, ia tersenyum membayangkan dirinya mengendarai mobil mewah super cepat itu.

“Gak, kita bertiga pulang dengan mobil,” Satya memutuskan, kemudian ia beranjak menuju tempat tidur.

“Hah

dasar

cibir Ana.

Di saat kedua pasangan itu berdebat, mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang di kamar sebelah yang terlihat kecewa dan patah hati dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya, bahwa Ana sudah menikah. Dialah Marvin.

64

www.read-blogger.blogspot.com SEPULUH Ana menunggu dengan bosan di bandara KLIA. Pesawat yang mereka tumpangi akan tinggal

www.read-blogger.blogspot.com

SEPULUH

Ana menunggu dengan bosan di bandara KLIA. Pesawat yang mereka tumpangi akan tinggal landas dua jam lagi. Namun entah mengapa Satya belum mau masuk ke ruang check in dan lebih memilih menunggu di lounge. Satya bilang bahwa mereka menunggu seseorang. Seseorang yang bahkan tidak dikenal Ana.

“Maaf Sat, Aku terlambat,” ucap Adel menghampiri Satya yang tengah membaca surat kabar.

Satya menyingkirkan surat kabar itu dan menyambut Adel dengan seulas senyum. Ana yang tengah menikmati coklatnya menoleh heran melihat kedatangan orang asing yang tak dikenalnya.

“Am i late?” tanya Adel lagi, “No, almost,” balas Satya, “Ayo check in,” ajak Satya kemudian seolah melupakan Ana. Ana yang kesal diabaikan seperti kantong sampah melemparkan batangan coklatnya ke kepala Satya.

“Auh

yang sama.

pekik Satya, menoleh ke arah orang yang melemparnya. Adel pun melakukan hal

“Ana

pekik Satya kesal.

“Ana? Gak ingin memperkenalkan kami? Kamu pikir aku apa? Tukang angkat koper kamu?” ucap Ana kesal, Satya terlihat menyadari kesalahannya.

“Sorry, An, ini Adel, dan Adel ini ”

“Pesawat udah mau berangkat,” ucap Ana ketus sambil menendang koper Satya dan berjalan pergi memasuki ruang check in.

Satya membenarkan posisi kopernya kemudian menariknya dan menyusul Ana. Adel pun melakukan hal yang sama. Namun ia masih bingung apa hubungan antara Satya dan Ana.

Di dalam pesawat mereka bertiga duduk di tempat yang berdekatan. Ana dan Satya duduk berdua sementara Adel duduk di depan mereka. Kembali Ana tidak bisa tenang dalam duduknya membuat Satya jengkel lagi.

“Bisa diam gak sih, An? Bergerak terus,” ucap Satya dengan nada kesal. Namun Ana tidak peduli.

Adel yang duduk di depan mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Namun ia tidak berani banyak bicara. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa Satya telah menikah dengan Ana. Kabar mengejutkan itu dikatakan Satya saat mereka berada di ruang tunggu.

Saat Satya memperkenalkan Ana sebagai istrinya, hati Adel rasanya hancur berkeping- keping. Pria yang dicintainya ternyata telah menikah. Harapan Adel untuk menjalin hubungan dengan Satya pupus sudah. Padahal ia sudah merancang skenario hidupnya saat kembali dipertemukan dengan Satya. Ia berharap bisa masuk ke dalam hidup Satya tak hanya

65

www.read-blogger.blogspot.com sebagai partner bisnis tapi juga sebagai partner dalam hidup. Untuk mengusir rasa sakitnya

www.read-blogger.blogspot.com

sebagai partner bisnis tapi juga sebagai partner dalam hidup. Untuk mengusir rasa sakitnya sementara, Adel memilih untuk memejamkan mata selama penerbangan berlangsung daripada ia harus mendengar celotehan pasangan di belakangnya.

***

Dua hari setelah kepulangannya, Ana memutuskan untuk kembali bekerja. Walau ia masih punya tiga hari lagi masa cuti, namun ia tidak ingin berlama-lama di rumah. Setelah menikah, Ana tak lagi tinggal di apartemennya. Ia dan Satya memutuskan untuk tinggal bersama orangtua Satya. Bukan Ana yang memutuskan tetapi Satya. Ana hanya bisa pasrah menerima.

Di depan kedua orangtua Satya, mereka berusaha bersikap layaknya pasangan yang manis,

namun di belakangnya, mereka kembali menjadi pribadi masing-masing yang kerap

beraselisih dan berbeda pendapat.

Berita pernikahan Ana dan Satya juga telah menyebar di semua media. Karena berita itu pula, saat Ana kembali ke sekolah, ia mendapat sambutan yang luar biasa meriah dari seluruh staf sekolah. Kecuali Mili, muridnya yang saat ini juga menjadi keponakannya. Mili masih saja menjalankan agenda anti Ana. Tapi Ana tidak mau ambil pusing dengan sikap gadis satu itu. Baginya, selama Mili tidak mengganggu eksistensinya di sekolah, ia akan membiarkan gadis

itu hidup dengan tenang.

“Selamat Bu Ariana,” ucap murid-muridnya saat Ana masuk ke dalam kelas.

“Terima kasih,” balas Ana, namun Mili kembali mencibirnya, “Eh, kasihan Om Satya, hidupnya pasti akan sangat berantakan karena punya istri seperti Ibu,”

“Kamu kenal sama suami Bu Ariana?” tanya Raya.

“Suami Bu Ariana itu Om-ku,” balas Mili dengan nada seolah Ana adalah kutukan yang akan menghancurkan hidup Satya.

“Ya, suami Ibu adalah Om-nya Mili, jadi otomatis, Mili sekarang jadi keponakan Ibu juga,” ucap Ana sengaja membuat Mili jengkel.

“Ih, Mil, gak cukup apa Bu Ariana jadi guru lu, nah sekarang malah jadi tante Lu? Malang banget sih nasib lu?” ejek Raya.

“National Anthem, harusnya yang merasa hidupnya malang itu Ibu. Bayangin, gimana rasanya punya ponakan yang bawelnya melebihi petasan banting. Bisa-bisa rambut Ibu yang kece ini ubanan duluan,” balas Ana membuat Mili bertambah jengkel.

“Sudah

kerjakan tugas kalian!” balas Ana ketus.

***

Adel sudah sejak pagi menunggu kedatangan Satya di kantornya. Hari ini mereka akan mulai membahas proyek pembangunan apartemen milik Dirga Price Company yang akan ditangani oleh Kaahnz Corp and Engineering. Karena Adel adalah perwakilan dari perusahaan yang berkantor pusat di Jerman itu, maka semua urusan di Indonesia, tepatnya di Jakarta akan ditangani langsung oleh Adel.

66

www.read-blogger.blogspot.com “Bisa kita mulai rapatnya?” ucap Satya begitu memasuki ruang rapat. Adel tersenyum

www.read-blogger.blogspot.com

“Bisa kita mulai rapatnya?” ucap Satya begitu memasuki ruang rapat.

Adel tersenyum melihat kedatangan pria itu. Seperti biasa, Satya tetap terlihat tampan dengan setelan jas hitamnya. Juga wibawanya saat memimpin rapat. Adel harus mengerahkan segenap konsentrasinya untuk bisa fokus pada materi rapat dan bukannya pada sosok Satya.

“Desain yang kalian tawarkan, aku sangat suka. Struktur bangunannya terlihat kuat dan juga sangat elegan. Sangat pas dengan pangsa pasar yang ingin kami jangkau,” puji Satya saat mereka berjalan bersama keluar dari ruang rapat.

“Aku senang. Tadinya aku pikir, konsep yang aku tawarkan gak sesuai dengan keinginan kamu,” balas Adel tersenyum manis pada Satya. Redo yang mengikuti langkah keduanya di belakang bisa melihat ketertarikan yang sangat nyata di mata Adel. Ia bisa melihat bahwa Adel tidak hanya mengagumi sosok bosnya itu tapi juga jatuh cinta padanya. Dan kembali Redo berpikir, bahwa wanita seperti Adel lah yang pantas menjadi pendamping Satya, bukannya wanita berangasan seperti Ana.

“Kita makan siang bareng? Ada restoran enak di dekat sini,” tawar Satya, Adel dan Redo menganguk setuju.

Satya membukakan pintu mobil Adel agar wanita itu bisa masuk. Setelah acara makan siang yang cukup menyenangkan itu, Adel harus kembali ke kantornya. Walau sebenarnya ia ingin bercerita lebih banyak dengan Satya.

“Sampai ketemu lain waktu,” ucap Adel, Satya mengangguk dan menutup pintu mobil Adel. Mobilpun segera meluncur pergi meninggalkan kantor itu.

“Kalau saya boleh jujur, Pak Satya lebih cocok dengan Bu Adel, daripada Ariana,” celetuk Redo yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Satya.

“Benarkah?” ucap Satya, dahinya mengernyit berusaha memahami ucapan Redo. Redo mengangguk pasti untuk meyakinkan.

“Kenapa kamu merasa kalau Adel lebih cocok dengan saya?” tanya Satya, mereka berjalan memasuki gedung kantor.

“Karena Ibu Adel punya banyak kesamaan dengan Anda. Sama-sama tenang dan berkepala dingin. Sedangkan Bu Ariana, dia meledak-ledak dan tidak bisa diprediksi dengan jelas seperti bom waktu. Orang seperti Bu Adel akan menguatkan eksistensi anda dengan sikapnya yang sangat percaya diri dan teratur, sedangkan orang seperti Bu Ariana akan membunuh anda dengan sikap cerobohnya yang kadang tidak mengenal waktu dan tempat. Anda dan Bu Adel seperti dua molekul yang gampang menyatu tetapi dengan Bu Ariana ”

“Kami seperti air dan api kan?” timpal Satya, Redo kembali mengangguk.

“Mungkin kamu benar. Tapi kenyataan yang terjadi berkata lain,” ucap Satya.

“Tapi kita bisa mengubah takdir kan? Kalau kita berusaha tidak ada yang mustahil, seperti yang selalu anda bilang,” balas Redo tanpa ragu sedikitpun. Satya kembali berusaha

67

www.read-blogger.blogspot.com mencerna kata-kata Redo. Apa yang dikatakan asistennya itu tidak salah. Sampai kapan ia dan

www.read-blogger.blogspot.com

mencerna kata-kata Redo. Apa yang dikatakan asistennya itu tidak salah. Sampai kapan ia dan Ana bisa berkompromi dengan baik. Apa keputusannya menikahi Ana adalah keputusan yang tepat? Kembali Satya mempertanyakannya.

***

Ana melangkahkan kaki memasuki apartemennya. Entah ia sadar atau tidak bahwa ia tidak lagi tinggal di tempat itu, namun ia tetap masuk. Ana melemparkan tasnya ke sofa. Membuka lemari es dan mengeluarkan beberapa cemilan dan minuman dingin. Lalau duduk di depan TV dan menyalakan DVD, seperti yang biasa ia lakukan saat tidak punya kegiatan setelah mengajar. Ana tertawa, menangis dan ikut tegang, menyaksikan beberapa film yang ia tonton. Tanpa terasa ia mulai mengantuk dan jatuh terlelap, membiarkan TV menyala di depannya yang berganti menontonnya.

Sementara waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Satya dan mamanya mulai cemas karena Ana belum juga pulang. Mereka khawatir, apalagi ponsel Ana juga tidak diangkat setiap kali dihubungi. Berkali-kali Satya mencoba menelpon ke rumah keluarga Winata dan sahabat-sahabat Ana, namun mereka juga tidak tahu dimana Ana. Dering ponsel yang nyaring membangunkan Ana dari tidur lelapnya. Dengan mata mengantuk ia menjawab panggilan itu.

“Halo?”

“Kamu dimana?” teriak suara yang tidak asing bagi Ana. Mendengar teriakan dari orang menyebalkan seperti Satya membuat singa dalam diri Ana bangun.

“Gak usah teriak-teriak aku di rumah. Memang kenapa?” balas Ana juga dengan teriakan.

“Rumah? Rumah yang mana Ariana?” tanya Satya membuat Ana mengernyitkan dahinya.

“Ya, rumah

ke rumah Satya bukan ke apartemennya.

Ana melihat ke sekelilingnya, barulah ia tersadar bahwa ia seharusnya pulang

“Pulang sekarang juga Ariana. Kamu gak tahu kami semua cemas di sini? Bahkan Mama sampai mau lapor polisi karena kamu, walau semestinya gak perlu,” ucapan Satya yang terdengar tidak mengkhawatirkannya membuat Ana kesal.

“Ya, memang gak perlu. Memang aku anak kecil yang harus dicari-cari dan gak tahu jalan pulang ke rumah?”

“Kalau begitu cepat pulang sekarang juga!” perintah Satya menutup teleponnya.

“Ish

apartemennya setelah membenahi sedikit kekacauan yang ia buat.

dasar sok berkuasa!” gerutu Ana, namun ia tetap beranjak pergi meninggalkan

Perjalanan dari apartemen Ana ke rumah Satya tidak terlalu jauh. Namun yang membuatnya terhambat adalah saat tengah berkendara dengan nyaman tiba-tiba saja ban mobil Ana pecah.

68

www.read-blogger.blogspot.com “Shit mobilnya untuk memeriksa ban di sebelah mana yang pecah. ” umpatnya kesal,

www.read-blogger.blogspot.com

“Shit

mobilnya untuk memeriksa ban di sebelah mana yang pecah.

umpatnya kesal, menghantamkan tangannya ke lingkaran kemudi. Ana turun dari

“Hebat, gimana caranya aku mau ganti ini ban?” gerutu Ana sambil menendang ban depan kanan mobilnya yang pecah. Ana tidak pernah melakukan hal seperti itu. Namun kali ini ia terpaksa harus mengerjakannya seorang diri. Tapi berapa kali pun ia mencoba, tetap saja ia tidak ahli dalam memperbaiki segala macam yang berhubungan dengan otomotif.

“Argh,

erangnya kesal membanting semua peralatan otomotif ke jalanan.

“Ada yang bisa dibantu?” ucap sebuah suara menawarkan bantuan untuknya.

“Yes, please

berdiri di hadapannya.

jawab Ana dengan wajah memelas. Ana tersenyum melihat orang yang

“Kenapa kamu bisa nyasar ke sini?” tanya Ana pada Marvin yang sibuk mengganti ban mobilnya.

“Kantorku di dekat sini An, dan kebetulan malam ini aku lembur jadi aku keluar sebentar untuk cari makan,” balas Marvin dengan cekatan mengganti ban mobil Ana. Hanya dalam waktu dua puluh menit ia sudah selesai mengerjakannya.

“Wah, hebat. Thank’s Vin,” Ana menyodorkan sebuah tisu untuk membersihkan tangan Marvin yang kotor, “sebagai bayaran karena membantuku, aku akan traktir kamu makan bubur ayam langgananku, rasanya enak banget loh,”.

Marvin melihat arlojinya kemudian berujar, “Karena aku gak punya banyak waktu, gimana kalau kita makan di tempat terdekat aja,”, ucapnya sambil menunjuk ke arah warung tenda yang tak jauh dari tempat mobil Ana terparkir. Ana melihat ke arah warung, kemudian mengangguk setuju.

Pukul sembilan tiga puluh malam Ana tiba di rumah. Begitu sampai di teras, depan wajah masam Satya sudah menyambutnya membuat perasaan Ana yang tadi ceria berubah menjadi jengkel.

“Darimana saja kamu?” tanya Satya ketus. O

Mau memulai konflik rumah tangga? Pikir Ana.

ow,

apa si pria penguasa ini mau cari masalah?

“Oh, tadi aku ketiduran di apartemen. Lalu di jalan ban mobilku pecah, makanya telat,” jelas Ana meredam rasa jengkelnya.

“Terus, siapa yang bantu kamu?”

“Marvin,” mendengar nama Marvin disebut entah mengapa rasa marah di hati Satya timbul, “karena dia udah bantuin, jadi sebagai ucapan terima ksaih ya aku traktir dia makan?” lanjut Ana.

“Bisa tidak kamu jangan terlalu dekat dengan Marvin?” pinta Satya, tapi lebih terdengar seperti perintah.

69

www.read-blogger.blogspot.com “Kenapa? Marvin menyenangkan,” tolak Ana. “Ana, kamu menikah dengan seorang pengusaha

www.read-blogger.blogspot.com

“Kenapa? Marvin menyenangkan,” tolak Ana.

“Ana, kamu menikah dengan seorang pengusaha yang pasti banyak mata akan memandang dan mencari tahu segala hal tentang kita. Jadi kamu harus menjaga sikap kamu,”

“Gak usah sok ngatur deh Sat, bukannya kita bebas menjalani hidup kita masing-masing. Itu kan inti dari kompromi kita?”

“Tapi

“Ana sudah pulang? Darimana saja?” tanya mama Satya menginterupsi perdebatan mereka.

“Ana tadi mampir ke apartemen, terus ketiduran Tante, eh Mama membiasakan diri memanggil mama Satya dengan sebutan mama.

” balas Ana mulai

“Oh, kamu udah makan malam?” tanya ibu mertuanya lagi, Anan mengangguk, “kalau gitu kamu mandi gih dan istirahat, kamu pasti capek,” lanjut mama Satya kemudian meninggalkan mereka berdua.

“Hah, capek, bukannya baru tidur? Mau istirahat lagi? Memangnya kamu kuda nil?” ledek Satya. Ana memandang geram padanya. Kemudian berjalan menghampiri Satya dan “BUK!” sebuah tinju melayang di perut Satya membuat pria itu meringis.

“Ops

!”

ucap Ana sambil mengelus-elus tangannya, kemudian berlari pergi meninggalkan

Satya.

“Ariana

teriak Satya mengejar Ana. Kedua orang dewasa yang tidak menyadari usianya itu

terlibat aksi kejar-kejaran di dalam rumah. Ana berlari sambil terus tertawa menyadari Satya yang berusaha menangkapnya. Sementara seisi rumah itu tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan pasangan muda itu.

“Buka pintunya Ariana dari dalam.

teriak Satya menggedor pintu kamarnya karena Ana menguncinya

“Selamat tidur di luar sayangku

menghiraukan Satya. Ia malah lebih memilih berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri membiarkan Satya terus berteriak di luar sana.

awas nyamuk

teriak Ana dari dari dalam sana tak

70

www.read-blogger.blogspot.com SEBELAS Ana memainkan sepatunya di lantai marmer mengkilat itu membentuk pola-pola tak

www.read-blogger.blogspot.com

SEBELAS

Ana memainkan sepatunya di lantai marmer mengkilat itu membentuk pola-pola tak beraturan. Sudah hampir dua jam ia berada di pesta membosankan itu. sebagai istri dari Satya ia memang harus menemani Satya menghadiri jamuan dan berbagai macam pertemuan non formal seperti saat ini. Tapi jika hanya berdiri bagaikan patung dan tersenyum kaku selebar senyuman joker, Ana lebih baik minggat, melarikan diri dari tempat itu secepatnya. Namun bukan perkara mudah bagi istri seorang Wisatya untuk melarikan diri seakan tak terlihat.

“Jadi kamu Ariana, istrinya Satya?” tanya seorang wanita menghampiri Ana, Ana melihat wanita barbie yang ada di depannya dengan pandangan menilai.

“Gak cantik-cantik amat. Kok Satya mau ya nikah sama kamu?” sahut suara wanita lainnya yang ikut menghampiri Ana.

“Gue denger sih katanya di jodohin. Tapi kok gue pikir lebih tepatnya elu yang genit-genit sama Satya?” sindir wanita barbie ketiga. Telinga Ana panas rasanya. Jika saja ini bukan pesta, tapi ring tinju mungkin Ana sudah menyarangkan berkali-kali pukulan ke wajah para barbie ini. Namun sebisa mungkin Ana menjaga sikapnya. Ia tidak ingin menanggapi.

“Permisi,” elak Ana berjalan pergi menghindari ketiga wanita itu. Matanya menjelajah mencari dimana Satya. Benar-benar pria tidak berperasaan, mengajak Ana ke pesta tapi malah membiarkannya seorang diri di pesta yang tidak membuatnya nyaman.

“Dimana sih tokai berantai itu?” umpat Ana sambil menyisir seluruh ruangan. Karena tidak hati-hati, Ana menabrak seorang pelayan yang tengah membawa sebaki minuman.

“Ah shiit

umpatnya dengan suara cukup keras untuk di dengar orang-orang.

“Maaf Nyonya,” ucap si pelayan takut. Namun Ana mengibaskan tangannya pertanda ia tidak marah pada si pelayan tapi pada kecerobohannya sendiri.

Ana mencoba membersihkan noda minuman yang menempel di gaunnya. Sebuah tangan mengulurkan tisu untuknya, dengan cepat Ana meraihnya.

“Thank’s,” ucapnya tanpa melihat siapa orang yang mengulurkann tisu itu.

“Ceroboh, bisa gak sih kamu lebih hati-hati? Apa gak malu selalu jadi pusat perhatian orang- orang?”

Ana menghentikan kegiatannya membersihkan gaunnya. Oh God, kenapa makhluk satu ini selalu saja memancing kemarahannya? Apa tidak bisa ia bersikap manis dulu di depan orang- orang? Ada saatnya kita bertengkar Satya! Gumam Ana dalam hatinya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Satya.

“Kamu udah cukup tua untuk selalu bertindak gegabah An,” sindir Satya lagi.

71

www.read-blogger.blogspot.com “Dan kamu udah cukup brengsek ninggalin aku sendirian di pesta sialan ini,” desis Ana

www.read-blogger.blogspot.com

“Dan kamu udah cukup brengsek ninggalin aku sendirian di pesta sialan ini,” desis Ana kesal. Satya melotot padanya.

“Aku gak peduli, aku mau pulang!” pekik Ana sambil berjalan pergi, namun Satya menahan pergelangan tangannya.

“Kamu gak akan kemana-mana,” desis Satya tajam.

“Lepasin gak?” ancam Ana, namun Satya tetap menggenggam tangannya.

“Hai Sat,” Satya dan Ana menoleh ke arah Adel yang datang menghampiri mereka. Adel memperhatikan tangan Satya yang menggenggam erat tangan Ana. Sementara Ana terlongo

takjub melihat penampilan Adel yang bak super model. Dengan tubuh tinggi semampai, dan

wajah khas Indo, membuat penampilan Adel luar biasa. Sedang dirinya? Heuh

dengan penampilannya yang sangat tidak luar biasa mempesona dan terkesan apa adanya.

Ana mencelos

“Ada apa Sat?” tanya Adel dengan suara merdunya. Entah di sengaja atau tidak tapi suara itu terlalu merdu hingga membuat Ana merinding mendengarnya.

“Tidak ada apa-apa. Kapan kamu datang?” tanya Satya, namun tetap tidak mengendurkan genggamannya pada Ana. “Bisa kenalkan aku dengan rekan-rekan yang lain. Kurasa aku harus mengenal semua partner kerja kita,” pinta Adel, berharap Satya melepaskan genggamannya pada Ana dan justru menggengam tangannya.

“Tentu. Ayo,” ajak Satya mulai berjalan, namun langkahnya tertahan karena Ana tidak ikut ”

bergerak, “ayo jalan

Satya memaksa tapi Ana tetap tidak mau bergerak.

“Aku mau pulang,” ucapnya tetap kukuh.

“Tidak,” Satya menyentak dan menggeret Ana mengikutinya diiringi Adel yang mulai terlihat jengkel dengan pasangan itu.

***

Asri tengah membongkar barang-barang kenangan keluarga Winata. Di dalam tumpukan kardus itu ia menemukan sebuah bingkai foto dimana terdapat Ana dan seorang anak laki-laki yang tengah tersenyum sambil menunjukkan hasil ikan yang mereka pancing. Asri tersenyum melihat foto kenangan itu. Ia membalik foto itu, di belang bingkai foto tertera tulisan, “ANA & SATYA, 1998”. Ternyata foto itu adalah foto kenangan Ana dan Satya. Saat itu Ana yang baru berumur 8 tahun bermain bersama Satya yang berumur 12 tahun. Kedua keluarga memang sangat jarang berkumpul. Namun setiap kali mereka bertemu Ana dan satya pasti bermain bersama dengan akur. Bahkan Satya lebih senang bermain dengan Ana dibandingkan dengan Andi, kakak Ana atau Naya, adiknya. Jika keduanya bertemu, sudah pasti mereka akan membuat onar dan menjahili siapapun, terutama Ani dan Naya yang terkenal cengeng. Namun Asri juga tidak mengerti, mengapa saat dijodohkan, keduanya, baik Ana maupun Satya seolah tidak saling mengenal dan mengingat satu sama lain.

“Apa mereka memang benar-benar tidak mengingat satu sama lain ya?” gumam asri.

Hal itu mungkin wajar. Karena saat berumur 15 tahun, papanya mengirim Satya untuk masuk

72

www.read-blogger.blogspot.com ke sekolah dengan sistem boarding school di Amerika. Papanya ingin menempa sikap mandiri dan

www.read-blogger.blogspot.com

ke sekolah dengan sistem boarding school di Amerika. Papanya ingin menempa sikap mandiri dan disiplin Satya dengan mengirimnya ke tempat yang jauh seorang diri. Dan Ana yang memang cenderung sangat gampang melupakan segala hal, pasti dengan sangat mudah melupakan keberadaan Satya yang pernah menjadi teman kecilnya.

***

Satya dan Adel asyik bercerita dengan rekan-rekan bisnisnya. Ana yanag sama sekali tidak mengerti bisnis hanya bisa menekuk wajah dengan kesal. Adel memperhatikan sikap Ana, namun tak ayal ia tersenyum senang karena sepertinya Ana benar-benar tidak bisa masuk ke dalam zona pembicaraan mereka.

“Hei ada cicak jatuh

pembicaraan itu serempak melihat ke lantai.

teriak Ana, Satya dan empat orang lainnya yang ada di lingkaran

"Dasar aneh," cibir Adel, Satya dan tiga partner bisnisnya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala.

“Terserah

tajam padanya, namun Ana tidak peduli, “kalau aku mau bilang bumi runtuh, apa ada yang keberatan?”

aku mau ngomong apa. Mulut, mulut siapa?” balas Ana ketus, Satya menatap

Adel mendengus mencibir kelakuan Ana. Ana tahu sepertinya Adel sangat tidak menyukainya. Dan ia tahu alasan ketidaksukaan Adel padanya, apalagi kalau bukan karena Satya. Ana bukan remaja yang tidak bisa mengenali tatapan suka dimata seseorang. Bahkan remaja sekarang lebih canggih, pikir Ana. Mereka bisa menebak rasa suka seseorang hanya dengan menguntit akun media sosialnya. Dan sifat usilnya timbul. Ia ingin mengobarkan api kecemburuan di dalam diri Adel.

“Sat

bingung dengan perubahan sikap Ana, “aku mau pulang

manja di lengan Satya. Ana melihat dari sudut matanya bahwa Adel mulai kesal.

rajuk Ana dengan nada yang dibuat semanja mungkin, Satya saja sampai mengernyit ”

ucapnya sambil menggelayut

“Kamu apa-apaan sih An?” tanya Satya yang tidak mengerti situasi. Adel menyembunyikan tawanya. Ana seketika kesal dan berlalu pergi. Namun Satya lagi-lagi menghentikannya.

“Kamu kenapa sih?” tanya Satya, Ana memandang geram padanya dan menghempaskan tangan Satya dari pergelangan tangannya. Dengan cepat Ana berlari keluar ruangan.

Satya berhasil menyusulnya dan kembali mempertanyakan sikap Ana yang begitu aneh, “Aku gak ngerti dengan jalan pikiran kamu, tahu?”

“Bisa gak sih, ikutin sedikit aja permainanku?”

“Maksud kamu?”

“Aku mau sedikit mempermainkan wanita yang bernama Adel itu. Aku mau buat dia kesal ”