Anda di halaman 1dari 106

ANALISIS PENDAPATAN DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA

PADA SISTEM KEMITRAAN USAHA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT


(Kasus Pola Kemitraan di PT. Perkebunan Nusantara VI dan PT. Bakrie Pasaman
Plantation, Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat)

Oleh
ASRI YARSI
A14302021

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006

RINGKASAN

ASRI YARSI. Analisis Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja pada Sistem
Kemitraan Usaha Perkebunan Kelapa Sawit (Kasus Pola Kemitraan di PT.
Perkebunan Nusantara VI dan PT. Bakrie Pasaman Plantation, Kabupaten
Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat). Di bawah bimbingan TANTI
NOVIANTI.
Pembangunan sektor pertanian pada dasarnya merupakan bagian integral
dari pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Sektor pertanian secara
potensial mampu memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian
Indonesia. Sampai tahun 2004, sektor pertanian menyumbang 15,39 persen
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku dan menyerap
40 persen tenaga kerja dari 100 juta angkatan kerja nasional.
Sub sektor perkebunan memegang peranan yang penting dalam
pembangunan pertanian terutama dalam penghasil devisa, penyerapan tanaga
kerja dan kontribusi terhadap produk domestik bruto. Kelapa sawit sebagai salah
satu komoditi andalan perkebunan Indonesia memiliki peluang besar untuk
dikembangkan sebagai penghasil devisa. Jumlah nilai ekspor minyak sawit
Indonesia pada tahun 2004 terhadap nilai ekspor non migas mencapai 8 persen
atau sebesar 54 milyar dolar Amerika.
Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) Mengkaji mekanisme pola
kemitraan perkebunan yang diterapkan oleh PTPN VI dan PT BPP,
(2) Menganalisis pendapatan usaha perkebunan yang diterima oleh petani plasma
dan perusahaan inti (kebun inti dan pabrik kelapa sawit) PTPN VI dan PT BPP,
(3) Menganalisis penyerapan tenaga kerja pada sistem kemitraan usaha
perkebunan kelapa sawit ini, dan (4) Mengidentifikasi peran tenaga kerja kebun
plasma dalam meningkatkan produksi kebun plasma.
Sistem kemitraan perkebunan adalah kerja sama yang strategis antara
perkebunan rakyat dan perkebunan besar dengan memperhatikan prinsip saling
membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Pola kemitraan
yang diterapkan oleh PTPN VI adalah pola PIR-Bun yang dikenal dengan proyek
NESP Ophir sedangkan pola kemitraan PT BPP adalah pola Bapak Angkat Anak
Angkat yang dikenal dengan Plasma KKPA project.
Pendapatan pada sistem kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit
berbeda-beda tergantung dari penerimaan yang diperoleh dan jumlah biaya yang
dikeluarkan. Pendapatan kebun plasma dan kebun inti PTPN VI lebih tinggi dari
PT BPP. Untuk pendapatan pabrik kelapa sawit, Pabrik kelapa sawit PT BPP
memperoleh pendapatan yang lebih besar dari PTPN VI. Pendapatan pada kebun
plasma PT BPP tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani peserta.
Dari keseluruhan perhitungan rasio penerimaan terhadap biaya, diperoleh nilai
R/C lebih besar dari satu yang berarti pelaksanaan usaha perkebunan kelapa sawit
sudah efisien atas biaya yang dikeluarkan. Perhitungan R/C untuk PKS, PKS PT
BPP lebih efisien dan lebih menguntungkan dari PKS PTPN VI.

Tenaga kerja yang terserap pada perusahaan PTPN VI adalah sebanyak


772 karyawan dan satu hektar kebun kelapa sawit PTPN VI pada periode tahun
2005 membutuhkan satu tenaga kerja. Tenaga kerja yang terserap pada PT BPP
adalah sebanyak 1621 orang dan satu hektar kebun kelapa sawit PT BPP pada
periode tahun 2005 membutuhkan 1,08 tenaga kerja. PT BPP lebih banyak
menyerap tenaga kerja dalam masyarakat untuk usaha perkebunan yang dilakukan
dari pada PTPN VI.
Tenaga kerja kebun plasma sangat berperan dalam meningkatkan produksi
kebun plasma. Hasil estimasi untuk regresi produksi perkebunan kelapa sawit
kebun plasma diperoleh bahwa tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi
kelapa sawit. Untuk setiap peningkatan penggunaan faktor produksi tenaga kerja
satu HOK maka akan menyebabkan peningkatan produksi sebesar 0,788 ton.
Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak usaha perkebunan kelapa sawit maka
akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Pola kemitraan yang dikembangkan harus ditujukan untuk menciptakan
kemandirian petani plasma seperti yang dilakukan pada proyek NESP Ophir.
Pembentukan dan pengelolan organisasi petani plasma/KPS/KUD harus atas
partisipasi dari anggota yang pembinaannya dilakukan oleh perusahaan inti dan
pemerintah. Kedua sistem kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit baik proyek
NESP maupun plasma KKPA project telah membuka kesempatan kerja yang
cukup besar dalam masyarakat. Pola kemitraan dapat lebih banyak dikembangkan
di daerah tetapi pelaksanaannya perlu dipantau oleh pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. Perusahaan inti tidak boleh hanya memperkaya diri sendiri
dan menggunakan kebun plasma sebagai jaminan bahan baku pabrik kelapa sawit.
Harus diciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara petani plasma dan
perusahaan inti.

ANALISIS PENDAPATAN DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA


PADA SISTEM KEMITRAAN USAHA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
(Kasus Pola Kemitraan di PT. Perkebunan Nusantara VI dan PT. Bakrie Pasaman
Plantation, Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat )

Oleh
ASRI YARSI
A14302021

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006

Judul

: Analisis Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja pada Sistem


Kemitraan Usaha Perkebunan Kelapa Sawit (Kasus Pola
Kemitraan di PT. Perkebunan Nusantara VI dan PT. Bakrie
Pasaman Plantation, Kabupaten Pasaman Barat Provinsi
Sumatera barat)

Nama

: ASRI YARSI

NRP

: A14302021

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Tanti Novianti, SP. MSi


NIP. 132 206 249

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. H. Supiandi Sabiham, M.Agr


NIP. 130 422 698

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL


ANALISIS PENDAPATAN DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA
SISTEM KEMITRAAN USAHA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Kasus
Pola Kemitraan di PT. Perkebunan Nusantara VI dan PT. Bakrie Pasaman
Plantation, Kabupaten Pasaman Barat Propinsi Sumatera Barat) ADALAH
BENAR-BENAR

HASIL

KARYA

SAYA

SENDIRI

DAN

TIDAK

MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU


DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN
RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. SKRIPSI INI BELUM
PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA
PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Agustus 2006

ASRI YARSI
A14302021

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kapar pada tanggal 7 Agustus tahun 1984. Penulis


adalah anak kedelapan dari delapan bersaudara pasangan Bahtiar dan Sariaman.
Penulis mengawali pendidikan formal di SD Negeri 81 Sarik pada tahun 1990.
Tahun 1996 penulis melanjutkan pendidikan ke SLTP Negeri 2 Pasaman. Pada
tahun 1999 penulis melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 1 Pasaman dan
menyelesaikan pendidikan pada tahun 2002.
Penulis diterima sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor tahun 2002
melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada Fakultas Pertanian,
Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Program Studi Ekonomi Pertanian dan
Sumberdaya.

Bogor, Agustus 2006

Penulis

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
ANALISIS PENDAPATAN DAN PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA
SISTEM KEMITRAAN USAHA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Kasus
Pola Kemitraan di PT. Perkebunan Nusantara VI dan PT. Bakrie Pasaman
Plantation, Kabupaten Pasaman Barat Propinsi Sumatera Barat). Skripsi ini
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun untuk perbaikan skripsi ini menjadi lebih baik.

Bogor, Agustus 2006

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH


Puji dan syukur kepada ALLAH SWT atas rahmat, berkah, dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini
penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
selama masa perkuliahan dan juga dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu :
1. Keluarga besar tercinta, Ayahanda Bahtiar dan Ibunda Sariaman, Yarnalis,
Yardinis, Yarnimas, Ali Uzmel, Arnita, Nurpima beserta keluarga dan
kakakku tersayang Nursiwis atas semua doa, kerja keras, kesabaran,
dorongan, perhatian dan bantuan dalam meraih cita-cita penulis.
2. Tanti Novianti, SP. Msi sebagai dosen pembimbing skripsi yang dengan
kesabarannya telah membimbing, mengarahkan, memberikan masukan, saran
dan kritikan dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Ir. Nindyantoro, MSP dan A. Faroby Falatehan. SP, ME atas kesediannya
menjadi dosen penguji utama dan dosen penguji wakil departemen.
4. Joni Fitrah atas segala bantuan dan dorongan kepada penulis, teman-teman
EPS39 dan all EPSers, teman-teman di Pondok Surya dan Astri 378, temanteman IMHP, anggota KKP Desa Ciparay Jampang Kulon, Rini dan Rinel
serta teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu atas segala bantuan
dan kebersamaannya selama ini.
5. Bapak Sar yang mau menjadi bapak angkat dan selalu membantu, keluarga
besar PTPN VI dan PT BPP serta semua pihak yang telah membantu penulis
dalam penyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................. i
DAFTAR TABEL ......................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. vi

BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................... 1


1.1. Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ................................................................. 5
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................ 8
1.4. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 9
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 10
2.1. Perkebunan .............................................................................. 10
2.2. Sistem Kemitraan Usaha Perkebunan ..................................... 12
2.3. Tenaga Kerja ........................................................................... 17
2.3.1. Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja ..................... 18
2.3.2. Potret Tenaga kerja di Sektor Pertanian ......................... 19
2.4. Pendapatan Usaha ................................................................... 21
2.5. Penelitian Empiris Terdahulu .................................................. 23
BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN ....................................................... 25
3.1. Pembangunan Perkebunan Rakyat dengan Kemitraan
Usaha ....................................................................................... 25
3.2. Dampak Penerapan Pola Kemitraan terhadap Pendapatan ..... 26
3.3. Dampak Penerapan Pola Kemitraan terhadap Kesempatan
Kerja ........................................................................................ 27
3.4. Kerangka Pemikiran Konseptual ............................................. 28

BAB IV. METODE PENELITIAN ............................................................. 30


4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 30
4.2. Jenis dan Sumber Data ............................................................ 30
4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data .................................... 31
4.3.1. Pendapatan Usaha Perkebunan ...................................... 31
4.3.2. Rasio Penerimaan dan Biaya .......................................... 33
4.3.3. Penyerapan Tenaga Kerja .............................................. 35
4.3.4. Peran Tenaga Kerja Kebun Plasma terhadap
Produksi Kebun Plasma ................................................. 36
BAB V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ...................................... 40
5.1. PT Perkebunan Nusantara VI Persero (PTPN VI)
Kebun Ophir ............................................................................ 40
5.1.1. Sejarah Ringkas ............................................................. 40
5.1.2. Pola PIR-Bun/NESP Ophir .......................................... 42
5.2. PT. Bakrie Pasaman Plantations (PT BPP) ............................. 47
5.2.1. Sejarah Ringkas ............................................................ 47
5.2.2. Pola Bapak Angkat Anak Angkat / Plasma KKPA
Project .......................................................................... 49
BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 55
6.1. Pendapatan Usaha Perkebunan PTPN VI dan PT BPP ........... 55
6.1.1. Pendapatan Kebun Plasma ........................................... 55
6.1.2. Pendapatan Kebun Inti ................................................. 62
6.1.3. Pendapatan Kebun Plasma dan Kebun Inti .................. 66
6.1.4. Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) ....................... 67
6.2. Analisis Imbangan Penerimaan terhadap Biaya (R/C) ........... 69
6.3. Penyerapan Tenaga Kerja ....................................................... 71
6.3.1. PTPN VI ......................................................................... 71
6.3.2. PT BPP ........................................................................... 73
6.4. Peran Tenaga Kerja Kebun Plasma terhadap
Produksi Kebun Plasma. .......................................................... 74

ii

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 77


7.1. Kesimpulan ............................................................................ 77
7.2. Saran ....................................................................................... 78

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 80


LAMPIRAN ................................................................................................... 82

iii

DAFTAR TABEL
No

Halaman

1. Kontribusi Sub Sektor Pertanian terhadap Produk Domestik


Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001-2004 ................................. 2
2. Kontribusi Sub Sektor Tanaman Perkebunan terhadap Sektor Pertanian .
dan PDB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001-2004 ........................... 3
3. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Tahun
1998-2003 ................................................................................................. 4
4. Potret Tenaga Kerja di Sektor Pertanian Tahun 2002-2009 ..................... 20
5. Perhitungan Pendapatan Usaha ................................................................. 34
6. Luas Lahan dan Tahun Tanam Kebun Inti dan Kebun Plasma
PTPN VI .................................................................................................... 42
7. Total Biaya Tunai Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005 .......................... 56
8. Total Biaya Tidak Tunai Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005 ................ 58
9. Total Biaya Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005 ..................................... 59
10. Analisis Pendapatan Perkebunan Kelapa Sawit Kebun Plasma Per 2 Ha
Tahun 2005 .............................................................................................. 61
11. Total Biaya Tunai Kebun Inti 2 Ha Tahun 2005 ...................................... 63
12. Total Biaya Tidak Tunai Kebun Inti per 2 Ha Tahun 2005 ..................... 64
13. Total Biaya Kebun Inti per 2 Ha Tahun 2005 .......................................... 64
14. Analisis Pendapatan Perkebunan Kelapa Sawit Kebun Inti Per 2 Ha
Tahun 2005 ............................................................................................... 66
15. Analisis Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit Tahun 2005 ........................... 69
16. Nilai R/C Kebun Plasma, Kebun Inti dan Pendapatan Pabrik
Kelapa Sawit PTPN VI dan PT BPP ........................................................ 70
17. Tenaga Kerja PTPN VI Periode Desember 2005 ..................................... 72
18. Hasil Estimasi Regresi Produksi Usaha Kebun Plasma ........................... 73

iv

DAFTAR GAMBAR
No

Halaman

1. Bagan Kerangka Pemikiran Konseptual .................................................... 29

DAFTAR LAMPIRAN
No

Halaman

1. Pendapatan Rata-rata Petani Plasma Kelapa Sawit PTPN VI Tahun 2005


per 2 Hektar ................................................................................................ 82
2. Pendapatan Rata-rata Kebun Inti Perkebunan Kelapa Sawit PTPN VI
Tahun 2005 per 2 Hektar ........................................................................... 83
3. Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit PTPN VI Tahun 2005 ........................... 84
4. Pendapatan Rata-rata Petani Plasma Perkebunan Kelapa Sawit PT BPP
Tahun 2005 per 2 Hektar ............................................................................ 85
5. Pendapatan Rata-rata Kebun Inti Perkebunan Kelapa Sawit PT BPP
Tahun 2005 per 2 Hektar ........................................................................... 86
6. Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit PT BPP Tahun 2005 ............................. 87
7. Data Produksi, Tenaga Kerja dan Modal Pada Kebun Plasma PTPN VI
Bulan Desember 2005 ................................................................................ 88
8. Hasil Regresi Sederhana Faktor Produksi Perkebunan Kelapa Sawit
Kebun Plasma ............................................................................................ 89
9. Standar Tandan Buah Segar (TBS) Menurut Umur dan Kelas Lahan
Menurut Pusat Penelitian Marihat Medan tahun 1997 .............................. 90

vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan sektor pertanian pada dasarnya merupakan bagian integral
dari pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Sektor pertanian secara
potensial mampu memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian
Indonesia. Sampai tahun 2004, sektor pertanian menyumbang 15,39 persen
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku dan menyerap
40 persen tenaga kerja dari 100 juta angkatan kerja nasional (BPS, 2005).
Sektor

pertanian

menjadi

harapan

dalam

mengurangi

jumlah

pengangguran. Meskipun laju penciptaan kerja di sektor pertanian tidak setinggi


sektor industri, tetapi fakta memperlihatkan bahwa sektor pertanian pada tahun
2002 mampu menciptakan kesempatan kerja bagi 40,63 juta orang. Sektor
pertanian diharapkan dapat menyerap tambahan tenaga kerja sebanyak 1,4 juta
selama periode 2005 2009, sehingga jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor
ini 42,4 juta pada tahun 2009 (Rencana Tenaga Kerja Nasional, 2004 2009).
Sektor pertanian mencakup sub sektor tanaman pangan, tanaman
perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan dan hasil-hasilnya. Walaupun
kontribusi sektor pertanian terhadap PDB sudah mulai menurun, namun sektor ini
tetap menjadi tumpuan dan harapan dalam penyerapan tenaga kerja. Dilihat dari
Tabel 1, pada tahun 2003 sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDB
atas harga berlaku sebesar 15,93 persen dan pada tahun 2004 menurun menjadi
15,39 persen.

Tabel 1. Kontribusi Sektor Pertanian Indonesia terhadap Produk Domestik


Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2001-2004
Tahun

Pertanian (Milyar Rp)

PDB (Milyar Rp)

Kontribusi sektor pertanian


terhadap PDB (%)

2001

263.327,9

1.684.280,5

15,63

2002

298.876,8

1.863.274,7

16,04

2003

325.653,7

2.045.853,5

15,93

2004

354.453,3

2.303.031,5

15,39

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2005

Sub sektor perkebunan memegang peranan yang penting dalam


pembangunan pertanian terutama dalam penghasil devisa, penyerapan tanaga
kerja dan kontribusi terhadap produk domestik bruto. Devisa yang dihasilkan dari
sektor pertanian tahun 2004 sebesar 4.859 juta dolar Amerika, dan kontribusi dari
sub sektor perkebunan sebesar 7.784 juta dolar Amerika (160,20 %). Pada tahun
2004, sub sektor perkebunan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 18,6 juta
pekerja (45 %) dari 41,3 juta angkatan kerja di sektor pertanian (Direktorat
Jenderal Perkebunan, 2005).
Kontribusi sub sektor tanaman perkebunan terhadap Produk Domestik
Bruto (PDB) mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada Tabel 2, tahun 2004
pendapatan nasional dari sub sektor perkebunan atas dasar harga berlaku sebesar
57.418,9 milyar rupiah yaitu menyumbang sebesar 2,49 persen terhadap PDB
atau sebesar 16,20 persen terhadap sektor pertanian. Kontribusi ini mengalami
peningkatan dibandingkan tahun 2001 yang memberikan kontribusi sebesar 2,18
persen terhadap PDB dan 13,96 persen terhadap sektor pertanian. Peningkatan
penerimaan dari sub sektor perkebunan ini disebabkan meningkatnya luas areal
tanam dan peningkatan produktivitas perkebunan.

Tabel 2. Kontribusi Sub Sektor Tanaman Perkebunan Indonesia terhadap


Sektor Pertanian dan PDB Atas Dasar Harga Berlaku Tahun
2001-2004

Tahun

Tanaman
Perkebunan
(Milyar Rp)

Pertanian
(Milyar Rp)

PDB
(Milyar Rp)

Kontribusi tanaman
perkebunan terhadap
sektor pertanian (%)

Kontribusi
tanaman
perkebunan
terhadap PDB (%)

2001

36.758,6

263.327,9

1.648.280,5

13,96

2,18

2002

43.956,4

298.876,8

1.863.274,7

14,71

2,36

2003

48.829,8

325.653,7

2.045.853,5

14,99

2,39

2004

57.418,9

354.453,3

2.303.031,5

16,20

2,49

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2005

Kelapa sawit sebagai salah satu komoditi andalan perkebunan Indonesia


memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai penghasil devisa. Hasil
olahan dari kelapa sawit yang diekspor adalah minyak sawit kasar (Crude Palm
Oil/ CPO), minyak inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO), inti sawit (Palm
Kernel/PK). Jumlah nilai ekspor minyak sawit Indonesia pada tahun 2004
terhadap nilai ekspor non migas mencapai 8 persen atau sebesar 54 milyar
dolar Amerika (Suharto, 2006).
Perkebunan kelapa sawit merupakan perkebunan yang cukup potensial
untuk dikembangkan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena, Pertama, kelapa
sawit merupakan bahan baku dalam proses produksi minyak goreng sehingga
dengan suplai yang berkesinambungan akan menghasilkan harga yang relatif
stabil. Kedua, dalam proses pengolahan kelapa sawit dari hulu ke hilir membuka
kesempatan kerja yang cukup besar. Ketiga, adanya potensi peningkatan konsumsi
minyak dan lemak perkapita. Selama tahun 2005, minyak sawit telah menjadi
minyak makan yang terbesar di dunia. Konsumsi minyak sawit dunia mencapai
26 persen dari total konsumsi minyak makan dunia (Suharto, 2006).

Komoditi kelapa sawit diusahakan oleh perusahaan dan perkebunan


rakyat, namun lebih dari 60 persen produksi kelapa sawit berasal dari perusahaan
perkebunan. Berdasarkan data BPS sampai tahun 2004, perkebunan kelapa sawit
telah diusahakan oleh 889 perusahaan perkebunan. Pada tahun 2003, luas areal
perkebunan kelapa sawit mencapai 5.239.171 hektar, 1.827.844 hektar merupakan
perkebunan rakyat, 645.823 hektar merupakan perkebunan negara dan 2.765.504
hektar adalah perkebunan milik swasta. Luas areal perkebunan kelapa sawit
mengalami pertumbuhan yang signifikan. Perkembangan luas lahan dan volume
produksi kelapa sawit disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia
Tahun 1998-2003
Perkebunan Rakyat
Tahun

Perkebunan Besar
Negara

Perkebunan Besar
Swasta

Total luas
areal
(Ha)

Luas
areal (Ha)

Produksi
(ton)

Luas
areal (Ha)

Produksi
(ton)

Luas
areal (Ha)

Produksi
(ton)

1998

890.506

1.344.569

556.640

1.501.747

2.113.050

3.084.099

3.560.196

1999

1.041.046

1.547.811

576.999

1.468.949

2.283.757

3.438 830

3.901.802

2000

1.166.758

1.905.653

588.125

1.460.945

2.403.194

3.633.901

4.158.077

2001

1.561.031

2.798.032

609.947

1.519.289

2.542.457

4.079.151

4.713.453

2002

1.808.424

3.426.740

631.566

1.607.734

2.627.068

4.587.871

5.067.058

2003

1.827.844

3.645.942

645.823

1.543.528

2.765.504

4.627.744

5.239.171

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2005

Kebijakan

pengembangan

kelapa

sawit

perlu

diarahkan

pada

pengembangan usaha kelapa sawit rakyat, agar terjadi keseimbangan arus modal
yang selama ini banyak dikuasai oleh pihak swasta dan pemerintah. Sebelum
tahun 1979, hanya pemerintah dan perusahaan besar swasta yang memiliki
perkebunan kelapa sawit. Sejak saat itu kebijakan pemerintah menfokuskan pada
pengembangan

perkebunan kelapa sawit

rakyat

melalui kemitraan dengan

perkebunan besar. Pola pengembangan perkebunan rakyat khususnya kelapa sawit


dilakukan dengan berbagai metode antara lain dengan : (1) Program Inti Plasma
yang dikenal dengan Perkebunan Inti Rakyat/PIR, (2) Program Rehabilitasi
Tanaman Ekspor/PRPTE, (3) Unit Pelayanan dan Pengembangan (UPP)
Berbantuan, Swadaya Berbantuan dan dengan Swadaya Murni, dan (4) Program
Anak Bapak Angkat. Pola inti plasma memiliki berbagai tipe antara lain PIR-Bun
dan PIR Trans (Direktorat Jenderal Perkebunan, 1999).
Berdasarkan kondisi tahun 2000, setiap hektar perkebunan kelapa sawit
rata-rata menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 0,67 tenaga kerja dan setiap
6000 hektar kebun kelapa sawit membutuhkan pabrik kelapa sawit/PKS dengan
kapasitas 30 ton TBS/jam yang menampung tenaga kerja sekitar 150 orang
(Direktorat Jendral Perkebunan, 2000). Dari data tersebut berarti setiap hektar
kebun kelapa sawit menampung tenaga kerja langsung sebanyak 0,695 orang
(termasuk tenaga kerja pabrik). Luas areal kebun kelapa sawit di Indonesia sampai
tahun 2003 mencapai 5.239.171 hektar yang berarti dapat menampung tenaga
kerja sejumlah 3.641.224 orang.

1.2. Perumusan Masalah


Pemerintah sudah sejak lama melakukan berbagai upaya dalam
mengembangkan perkebunan kelapa sawit karena dengan pembangunan
perkebunan akan mendorong pertumbuhan wilayah. Salah satu usaha penelitian
perencanaan pengembangan wilayah yang dilakukan adalah pada tahun 1970 oleh
agricultural development project dengan dukungan biaya dari pemerintah Jerman
Barat. Hasil penelitiannya menentukan wilayah Pasaman Barat menjadi salah satu

wilayah harapan di masa datang dan potensial untuk pengembangan perkebunan


kelapa sawit (Muchtar, 1987).
Perkebunan rakyat berkembang dalam kondisi dengan berbagai kelemahan
namun mempunyai peranan yang strategis sebagai sumber pendapatan petani dan
penghasilan devisa. Perkebunan rakyat mengalami keadaan yang sudah
merupakan lingkaran setan yaitu antara harga yang rendah, rendahnya mutu,
rendahnya produksi, menurunnya pendapatan, dan seterusnya. Untuk itu,
kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan perkebunan menempatkan
perkebunan rakyat sebagai sasaran utama dan perkebunan besar sebagai
pendukung yang dikenal dengan sistem kemitraan usaha. Upaya pengembangan
perkebunan kelapa sawit melalui pola kemitraan seperti : (1) Perkebunan Inti
Rakyat, (2) Bangun Operasi Transfer, (3) Kerja Sama Operasional, (4) contrack
Farming, dan (5) Dagang umum.
Pola kemitraan di bidang pekebunan telah dilakukan sebelum memasuki
PJP I. Pola kemitraan yang ada saat ini merupakan kelanjutan, peningkatan,
perluasan, penataan, dan pemantapan dari kerjasama kemitraan sebelumnya.
Sistem kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit diarahkan untuk dapat
mengembangkan perkebunan kelapa sawit berorientasi pasar, meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani, serta mendorong perluasan dan
pemerataan kesempatan kerja.
Pola kemitraan perkebunan kelapa sawit yang dicetuskan oleh pemerintah
tidak selamanya memberikan keuntungan. Berdasarkan penelitian WALHI tahun
2005, pola kemitraan tidak selamanya menguntungkan petani dan masyarakat

sekitar. Penelitian di Ngabang, Pontianak oleh Daliman (WALHI)1 menyimpulkan


bahwa penghasilan petani plasma tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik
minimum seorang pekerja (tidak termasuk keluarganya), yakni rata-rata perbulan
hanya Rp 148.500,00 perkapling. Selain itu, petani plasma diberbagai tempat di
Indonesia memiliki produktivitas kebun yang rendah karena perkebunan kelapa
sawit menggunakan input teknologi yang tidak dikuasai petani dan kurangnya
pembinaan dari pemerintah dan perusahaan inti. Pemasaran TBS petani plasma
yang hanya kepada perusahaan inti menyebabkan posisi tawar petani rendah.
PT Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI) adalah perusahaan besar negara
pertama dan satu-satunya di Kabupaten Pasaman Barat. PTPN VI kebun Ophir
merupakan proyek pengembangan Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR Bun)
yang dilaksanakan pada tahun 1981. Proyek PIR ini ternyata membuahkan hasil
yang luar biasa karena dapat meningkatkan pendapatan petani dan menciptakan
sentra-sentra pembangunan sosial ekonomi baru dalam pengembangan wilayah.
Keberhasilan PTPN VI dalam usaha perkebunan kelapa sawit diikuti dengan
berdirinya perusahaan-perusahaan perkebunan swasta di Kabupaten Pasaman
Barat. PT Bakrie Pasaman Plantation (PT BPP) merupakan salah satu perkebunan
besar swasta

di Kabupaten Pasaman Barat yang memiliki areal perkebunan

kelapa sawit terluas. PT BPP melaksanakan pola kemitraan dengan masyarakat


sekitar dalam pembangunan perkebunan kelapa sawit yang dilakukannya.
Sistem kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pasaman
Barat dilakukan oleh dua perusahaan inti yaitu perusahaan besar negara dan
perusahaan besar swasta. Adanya dua perusahaan inti yang melakukan pola

www. walhi. co.id.

kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit maka dapat dibandingkan pola


kemitraan antara kedua perusahaan inti yang dapat dilihat dari mekanisme
penerapan pola kemitraan, pendapatan dan penyerapan tenaga kerja yang terjadi
dalam pola kemitraan.
Dari kondisi di atas maka masalah yang ingin dikaji dalam rangka
mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pasaman Barat
adalah :
1. Bagaimana mekanisme pola kemitraan perkebunan yang diterapkan oleh
PTPN VI dan PT BPP ?
2. Bagaimana pendapatan yang diterima oleh petani plasma dan perusahaan
inti (kebun inti dan pabrik kelapa sawit) PTPN VI dan PT BPP ?
3. Seberapa besar penyerapan tenaga kerja pada sistem kemitraan usaha
perkebunan kelapa sawit ini ?
4. Sejauh mana peran tenaga kerja kebun plasma dalam meningkatkan
produksi kebun plasma ?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Mengkaji mekanisme pola kemitraan perkebunan yang diterapkan oleh
PT Perkebunan Nusantara VI dan PT Bakrie Pasaman Plantation.
2. Menganalisis pendapatan usaha perkebunan yang diterima oleh petani
plasma dan perusahaan inti (kebun inti dan pabrik kelapa sawit) PTPN VI
dan PT BPP.

3. Menganalisis penyerapan tenaga kerja pada sistem kemitraan

usaha

perkebunan kelapa sawit ini.


4. Mengidentifikasi

pengaruh

tenaga

kerja

kebun

plasma

dalam

meningkatkan produksi kebun plasma.


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam bidang studinya.
2. Memberikan informasi kepada perusahaan maupun pemerintah dalam
membuat kebijakan dan pengembangan pola kemitraan dimasa yang akan
datang.
3. Sebagai informasi bagi petani untuk memutuskan keikutsertaan dalam pola
kemitraan yang dilaksanakan.
4. Memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya dan pihakpihak lain yang membutuhkan.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian


Fokus dari penelitian adalah pendapatan dan penyerapan tenaga keja
kebun plasma, kebun inti, dan pabrik kelapa sawit PTPN VI dan PT BPP.
Pendapatan kebun inti dan kebun plasma dihitung per kapling (luas lahan
2 hektar) sedangkan pendapatan pabrik kelapa sawit dihitung secara keseluruhan.
Data yang digunakan adalah data pada tahun 2005. Kedua perusahaan ini
memiliki perbedaan waktu, PTPN VI dibangun tahun 1980 sedangkan PT BPP
pada tahun 1989. Penelitian ini hanya menganalisis pendapatan dan penyerapan
tenaga kerja pada tahun 2005 tanpa melihat perbedaan waktu berdirinya
perusahaaan dan waktu pelaksanaan proyek kemitraan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perkebunan
Usaha perkebunan terdiri dari usaha budidaya perkebunan dan usaha
industri perkebunan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan
Perkebunan No. 107 Kpts II Tahun 1999, Usaha budidaya perkebunan adalah
serangkaian kegiatan pengusahaan tanaman perkebunan yang meliputi kegiatan
pra tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman dan pemanenan termasuk
perubahan jenis tanaman. Usaha industri perkebunan merupakan serangkaian
kegiatan pengolahan produksi tanaman perkebunan yang bertujuan untuk
memperpanjang daya simpan atau meningkatkan nilai tambah, sebagai contoh dari
usaha lndustri perkebunan adalah ekstraksi kelapa sawit, industri gula pasir dari
tebu, teh hitam dan teh hijau, lateks dan lain sebagainya.
Pengusahaan tanaman perkebunan di Indonesia dilakukan oleh perkebunan
rakyat

dan perkebunan besar yang terdiri dari perkebunan besar swasta dan

perkebunan besar negara (PNP/PTP/BUMN). Menurut BPS (2005) perkebunan


besar adalah usaha perkebunan yang dilakukan oleh badan usaha dan badan
hukum diatas tanah negara yang mendapat izin dari instansi yang berwenang,
diluar batasan tersebut merupakan perkebunan rakyat. Perkebunan besar memiliki
ciri-ciri usaha antara lain : (1) Merupakan bentuk usaha pertanian berskala luas
dan kompleks, (2) Menggunakan areal pertanahan yang luas, (3) Bersifat padat
modal, (4) Menggunakan tenaga karja yang cukup besar, dengan pembagian kerja
yang dirinci dan struktur hubungan kerja yang rapi, (5) Menggunakan teknologi

11

modern, dan (6) Berorientasi pada pasar. Hal ini berbeda sekali dengan
perkebunan rakyat dengan ciri-ciri usaha sebagai berikut : (1) Bentuk usahanya
kecil, (2) Penggunaan lahan terbatas, (3) Tidak padat Modal, (4) Sumber tenaga
kerja terpusat pada anggota keluarga, dan (5) Lebih berorientasi pada kebutuhan
subsisten (Mubyarto, 1992).
Pembangunan perkebunan merupakan salah satu alternatif aktivitas dalam
pemberdayaan masyarakat. Peranan pembangunan perkebunan di negara
Indonesia menurut Siahaan (1995) adalah :
1. Menaikkan penerimaan devisa dan pendapatan negara.
2. Penyediaan lapangan pekerjaan/sumber mata pencaharian dan lapangan
usaha.
3. Turut membantu dan melaksanakan kelestarian alam yang lebih terjamin.
4. Membantu usaha pemerintah dalam bidang kegiatan lainnya seperti
tranmigrasi, pengaturan pemilikan tanah, penggalakan koperasi, penataaan
desa dan sebagainya
5. Menciptakan iklim yang baik bagi pertumbuhan Indonesia.
6. Turut menciptakan pembangunan/pertumbuhan ekonomi growth centre
baru.
Kebijakan pembangunan perkebunan oleh pemerintah difokuskan untuk
mengembangkan perkebunan rakyat yaitu dengan pola kemitraan dengan
perkebunan besar. Dalam pelaksanaan pola kemitraan ini, petani tergabung dalam
suatu kelembagaan petani misalnya koperasi yang akan memperjuangkan hak-hak
mereka. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No. 107 Kpts II Tahun 1999 ketentuan mengenai pola usaha perkebunan adalah :

11

12

a. Pola koperasi usaha perkebunan yaitu pola pengembangan yang sahamnya


100 persen dimiliki oleh koperasi usaha perkebunan.
b. Pola patungan koperasi dan investor yaitu pola pengembangan yang
sahamnya 65 persen dimiliki koperasi dan 35 persen dimiliki
investor/perusahaan.
c. Pola patungan investor dan koperasi yaitu pola pengembangan yang
sahamnya 80 persen dimiliki investor/perusahaan dan minimal 20 persen
dimiliki koperasi yang ditingkatkan secara bertahap.
d. Pola BOT (Build, Operate and Transfer) yaitu pola pengembangan dimana
pembangunan dan pengoperasian dilakukan oleh investor/perusahaan yang
kemudian pada waktu tertentu seluruhnya dialihkan kepada koperasi.
e. Pola BTN yaitu pola pengembangan dimana investor/perusahaan
membangun kebun dan atau pabrik yang kemudian akan dialihkan kepada
peminat/pemilik yang tergabung dalam koperasi.

2.2. Sistem Kemitraan Usaha Perkebunan


Landasan pengembangan kemitraan di bidang pertanian dalam Undangundang No. 12 Tahun 1992 telah menetapkan :
1. Pasal 47 ayat 3 Badan usaha diarahkan untuk kerjasama secara terpadu
dengan masyarakat petani dalam melakukan usaha budidaya tanaman.
2. Pasal 47 ayat 4 Pemerintah dapat menugaskan badan usaha untuk
pengembangkan kerjasama dengan petani.
3. Pasal 49 Pemerintah membina usaha lemah serta mendorong dan
membina terciptanya kerjasama yang serasi dan saling menguntungkan
antara pengusaha lemah.

12

13

Istilah kemitraan berdasarkan Undang-undang No. 9 Tahun 1995 yaitu


kerja sama antara usaha kecil dan usaha menengah atau dengan usaha besar
disertai pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar
dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling
menguntungkan. Pola kemitraan antara pengusaha besar dan pengusaha kecil atau
koperasi dapat dilakukan melalui berbagai bentuk. Berdasarkan Undang-Undang
No. 9 Tahun 1995, kemitraan dilaksanakan dengan pola :
1. Inti-Plasma
Hubungan kemitraan yang didalamnya usaha menengah atau usaha besar
bertindak sebagai inti dan usaha kecil selaku plasma. Perusahaan inti
melaksanakan pembinaan mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan
teknis, sampai dengan pemasaran hasil produksi.
2. Subkontrak
Hubungan kemitraan yang didalamnya usaha kecil memproduksi
komponen yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar sebagai
bagian dari produksinya.
3. Dagang Umum
Hubungan kemitraan yang didalamnya usaha

menengah atau besar

memasarkan hasil produksi usaha kecil atau usaha kecil memasok kebutuhan
yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar mitranya.
4. Waralaba
Hubungan kemitraan yang didalamnya pemberi waralaba memberikan hak
penggunaan lisensi, merek dagang, dan saluran distribusi perusahaannya
disertai bantuan bimbingan manajemen.

13

14

5. Keagenan
Hubungan kemitraan yang didalamnya usaha kecil diberi hak khusus
untuk memasarkan barang dan jasa mitranya.
6. Bentuk-bentuk lain atau pola kemitraan yang belum di bakukan.
Sistem kemitraan perkebunan adalah kerja sama yang strategis antara
perkebunan rakyat dan perkebunan besar dengan memperhatikan prinsip saling
membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Kemitraan usaha
perkebunan mengacu pada terciptanya keseimbangan, keselarasan, keterampilan,
dan interpendesi yang dilandasi saling percaya dengan keterbukaan (Daim, 2003).
Menurut Undang-undang No. 9 Tahun 1995 selama kerja sama ini berlangsung
maka seharusnya yang terjadi dalam suatu pola kemitraan usaha adalah :
a. Proses transfer teknologi.
b. Proses transfer manajemen.
c. Adanya jaminan terhadap resiko produksi.
d. Adanya jaminan modal.
e. Adanya jaminan pasar
f. Adanya jaminan peningkatan kesejahteraan atau asset dari mitra usaha
g. Adanya pengurangan tingkat ketergantungan mitra usaha.
Bentuk-bentuk pola kemitraan perkebunan menurut Daim (2003) :
1. Perkebunan Inti Rakyat (PIR)
PIR adalah perusahaan yang melakukan tugas perencanaan, bimbingan dan
pelayanan sarana produksi, kredit pengolahan hasil dan pemasaran hasil bagi
usaha tani yang dibimbingnya (plasma) sambil mengusahakan usahatani yang

14

15

dimiliki dan dikelola sendiri. Pola PIR diarahkan pada wilayah-wilayah yang
mempunyai aksesibilitas rendah (remote).
Menurut sumber dananya pola PIR/NES (Perkebunan Inti Rakyat/Nucle
Estate and small hiolder project) terbagi atas :
a. PIR Swadaya
PIR ini dibiayai sepenuhnya dari dana dalam negeri yang terdiri dari
Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan kredit perbankan. Contohnya PIRlokal dan PIR-khusus.
b. PIR NES Perbantuan
PIR ini dibiayai dari sumber dana dalam negeri yang dilengkapi dengan
sumber dana dari kerjasama/bantuan negara atau badan luar negeri. Konsep ini
melahirkan PIR-Bun.
2. Bangun Operasi Transfer (BOT)
Pola pengembangan dimana pembangunan dan pengoperasian dilakukan
oleh investor/perusahaan yang kemudian pada waktu tertentu seluruhnya
dialihkan kepada koperasi/petani.
3. Kerjasama Operasional (KSO)
Kerjasama yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan operasional bapak
angkat, tetapi tidak terlalu mengikat kepastian pemakaian barang/bahan yang
dipasok mitra usahanya. Pola keterkaitan ini banyak dilakukan perusahaan
besar dan menengah yang membutuhkan berbagai macam bahan dan barangbarang dalam manajemen usahanya.

15

16

4. Contrack Farming (CF)


Contrack farming merupakan suatu pola dimana petani melalui wadah
kelompok tani atau gabungan kelompok /KUD membuat perjanjian kontrak
penjualan dengan perusahaan prosesor/eksportir. Dalam perjanjian kontrak
tersebut tertulis jumlah, mutu dan penyerahan barang serta harga yang telah
disepakati bersama antara petani/kelompok tani/KUD dengan perusahaan
pembeli.
5. Dagang Umum (DU)
Kemitraan pola dagang umum adalah kemitraan yang terjadi pada tingkat
pemasaran. Pada dasarnya dalam pola ini perusahaan besar berperan sebagai
pemasar produk yang dihasilkan oleh perusahaan kecil. Latar belakang
timbulnya kemitraan pola ini adalah adanya kepentingan bisnis antar kedua
belah pihak yang bermitra.
Berdasarkan bentuk pola kemitraan seperti pola PIR, BOT, KSO, CF dan
DU, dalam memilih pola kemitraan harus tetap sejalan dengan kebijaksanaan
pembangunan perkebunan yang berkaitan dengan kesempatan kerja, pemasok
bahan baku industri, peningkatan produktivitas, peningkatan pendapatan. Perlu
pula diperhatikan kelemahan petani yang umumnya meliputi teknologi, modal,
akses pasar, pengolahan hasil, SDM, kelembagaan dan produktivitas. Berdasarkan
berbagai faktor tersebut maka dapat disarankan bahwa kemitraan pola PIR lebih
tepat untuk terus dikembangkan pada pembangunan dibidang perkebunan.
Dengan adanya kemitraan usaha seperti itu diharapkan mengangkat
perkebunan rakyat menjadi pilar pembangunan ekonomi karena kelemahan
mendasar petani pekebun adalah modal, teknis dan manajemen. Melalui sistem

16

17

kemitraan akan tercipta transfer pengetahuan dari perkebunan besar dan membuka
akses bagi perkebunan rakyat ke sumber permodalan dan pasar. Keuntungan bagi
perkebunan besar adalah memperoleh kontinuitas produksi atau meningkatnya
kapasitas yang lebih besar. Sistem kemitraan usaha perkebunan diharapkan
menciptakan keterkaitan usaha yang dilaksanakan melalui kegiatan pembinaan
dan pengembangan dalam bidang produksi, pengolahan, pemasaran, permodalan,
teknologi dan sumberdaya manusia.

2.3. Tenaga Kerja


Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang unik. Tenaga kerja berbeda
dengan faktor produksi lainnya seperti modal. Perbedaan yang utama adalah
sumberdaya tenaga kerja tidak dapat dipisahkan secara fisik dari tenaga kerja itu
sendiri. Tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang
sedang mencari pekerjaan, dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah
dan mengurus rumah tangga (Simanjuntak, 1998).
Besarnya suplai tenaga kerja dalam masyarakat adalah jumlah yang
menawarkan jasanya untuk proses produksi. Diantara tenaga kerja ini sebagian
sudah aktif dalam kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa yang dinamakan
dengan golongan yang bekerja (employed persons). Sebagian lainnya tergolong
yang siap bekerja atau sedang berusaha mencari pekerjaan yang dinamakan
pencari kerja atau pengangguran. Jumlah orang yang bekerja tergantung dari
besarnya permintaan atau demand dalam masyarakat. Permintaan tenaga kerja
dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi dan tingkat upah.

17

18

2.3.1. Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja


Penawaran tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah
satuan pekerja yang disetujui oleh pensuplai untuk ditawarkan (Ananta, 1990).
Sedangkan menurut Simanjuntak (1998) penyediaan tenagakerja merupakan
sejumlah usaha atau jasa yang tersedia dalam masyarakat untuk mengahasilkan
barang dan jasa. Jumlah satuan pekerja yang ditawarkan tergantung pada
(1) Besarnya jumlah penduduk, (2) Persentase penduduk yang memilih berada
dalam angkatan kerja, dan (3) Jam kerja yang ditawarkan oleh peserta angkatan
kerja. Ketiga komponen ini dipengaruhi oleh upah pasar.
Perusahaan merupakan unit ekonomi yang berkecimpung dalam produksi
dimana produksi merupakan transformasi dari input (faktor produksi) ke dalam
output. Permintaan perusahaan akan input merupakan suatu permintaan turunan
(devired demand) yang diperoleh dari permintaan konsumen terhadap produk
perusahaan. Fungsi perusahaan cukup bervariasi, meliputi memaksimumkan
keuntungan dan memaksimumkan penjualan atau perilaku untuk memberikan
kepuasan pada konsumen, namun maksimisasi keuntungan sering dijadikan dasar
dalam menentukan penggunaan tenaga kerja. Pengusaha harus membuat pilihan
mengenai input (tenaga kerja dan input lainnya) serta output (jenis dan jumlah)
dengan kombinasi yang tepat agar diperoleh keuntungan maksimal.
Besarnya permintaan perusahaan akan tenaga kerja pada dasarnya
tergantung pada besarnya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa yang
dihasilkan perusahaan tersebut. Fungsi permintaan tenaga kerja biasanya
didasarkan pada teori neoklasik mengenai marginal physical product of labor
(VMPL). Dengan asumsi perusahaan beroperasi pada sistem persaingan, maka

18

19

perusahaan cenderung untuk mempekerjakan tenaga kerja dengan tingkat upah


sama dengan nilai produk marginal tenaga kerja. VMPL menunjukkan tingkat
upah maksimum yang mau dibayarkan oleh perusahaan agar keuntungan
perusahaan maksimum.
Berlawanan dengan fungsi penawaran tenaga kerja, maka permintaan
terhadap tenaga kerja berkurang bila tingkat upah naik. Besarnya elastisitas
permintan tenaga kerja tergantung pada : (1) Kemungkinan subsitusi tenaga kerja
dengan faktor produksi yang lain, (2) Elastisitas permintaan terhadap barang yang
dihasilkan, (3) Proporsi biaya karyawan terhadap seluruh biaya produksi, dan (4)
Elastisitas persediaan faktor produksi pelengkap lainnya.

2.3.2. Potret Tenaga Kerja di Sektor Pertanian


Tenaga kerja di sektor pertanian adalah tenaga kerja yang terlibat dalam
kegiatan pertanian dalam arti luas yang meliputi usahatani, peternakan, nelayan,
petani tambak baik sektor buruh maupun pengelolaan usahatani. Jumlah tenaga
kerja di sektor pertanian pada tahun 2000 adalah 40.970.856 orang (BPS, 2000).
Berdasarkan bidang usaha, sektor pertanian dibagi atas subsektor tanaman
pangan/palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan, mixed farming, jasa
pertanian, perikanan, dan kehutanan. Dilihat dari jumlah tenaga kerja yang
terlibat, sektor pertanian paling dominan dalam menciptakan kesempatan kerja.
Pada tahun 2002, kesempatan kerja yang diciptakan di sektor pertanian sebanyak
40,63 juta orang (44,34%). Sebagian besar tenaga kerja pertanian berada pada sub
sektor tanaman pangan/palawija, hortikultura, dan perkebunan, yang jumlahnya

19

20

pada tahun 2002 mencapai 34,9 juta orang atau 84,15 persen dari total tenaga
kerja pertanian di luar perikanan dan kehutanan (39.173.283 jiwa)
Tabel 4. Potret Tenaga Kerja di Sektor Pertanian Tahun 2002-2009 3
No
1

Uraian
Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian
a. Tahun 2002
b. Tahun 2009 (perkiraan)
2 Sebaran TK menurut sub sektor tahun 2002
a. Tan.pangan/palawija/hortikultura/perkebunan
b. Peternakan
c. Mixed farming
d. Jasa pertanian
Total (tidak termasuk perikanan, kehutanan)
3 Angka produktivitas sektor Pertanian
a. Tahun 2002
b. Tahun 2003
4 Sebaran TK menurut umur tahun 2002
a. 10 - 24
b. 25 - 44 tahun
c. > 45 th
5 TK Pertanian menurut tingkat pendidikan tahun 2002
a. < SD
b. SLTP
c. SLTA
d. PT
6 Curahan jam kerja tahun 2002
a. Kurang 35 jam/mg
b. Lebih 35 jam/mg
7 Peningkatan Jumlah RT pertanian tahun 2002
a. Jawa
b. Luar Jawa
c. Indonesia
8 Penduduk miskin bekerja di sektor pertanian
a. Tahun 2002
b. Tahun 2003
9 Setengah Penganggur di Sektor pertanian Tahun 2002
Sumber : Rencana Tenaga Kerja Nasional 2004-2009

Keterangan
40,634 juta (44,3 %)
42,4 Juta
34.921.185 (84,15%)
2.706.135 (6,91%)
601.665 (1,53%)
944.298 (2,41%)
39.173.283
Rp. 1,69 juta/orang
Rp. 1,68 juta/orang
6.184.551 (16%)
18.128.777 (46%)
14.859.955 (38%)
38.210.995 (81,68%)
5.028.849 (12,84%)
2.042.619 (5,21%)
107.226 (0,27%)
23.268.178 (59%)
15.905.105 (41%)
1,97%
2,74%
2,31%
20.604.600 (57,8%)
22.250.600 (59,6%)
70,2%

Produktivitas tenaga kerja sektor pertanian adalah yang paling rendah


dibandingkan dengan sektor lain. Pada tahun 2002 produktivitas sektor pertanian
bernilai 1,68 juta rupiah per orang dan pada tahun 2003 nilainya turun menjadi
1.68 juta rupiah per orang. Angka produktivitas sektor pertanian ini sangat rendah
3

www.nakertrans.go. id

20

21

jika dibandingkan dengan sektor pertambangan, listrik, gas dan air yang angka
produktivitasnya mencapai Rp 54,94 juta per orang (Soegiharto, 2004). Angka
produktivitas tersebut mengandung arti bahwa kondisi pekerja di sektor pertanian
sangat memprihatinkan dan dapat pula dikatakan bahwa sektor pertanian saat ini
dalam kondisi yang sudah jenuh terhadap kesempatan kerja.
Rendahnya produktivitas tenaga kerja pertanian dipengaruhi oleh kondisi
umur, tingkat pendidikan, curahan jam kerja, dan luas garapan petani. Sebaran
tenaga kerja pertanian (di luar perikanan dan kehutanan) berdasarkan kelompok
umur memperlihatkan bahwa, sebagian besar berada pada umur 25-44 tahun
(46%), kemudian kelompok umur diatas 45 tahun (38%), dan kelompok umur
kurang dari 25 tahun (16%). Mengamati komposisi umur tenaga kerja tersebut
dikhawatirkan di masa depan akan kekurangan tenaga kerja pertanian. Sektor
pertanian menunjukan trend aging agriculture , yaitu suatu kondisi dimana tenaga
kerja yang berada di pertanian adalah tenaga kerja yang berusia lanjut. Tenaga
kerja pertanian sampai saat ini masih didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat
pendidikan SD ke bawah, yang jumlahnya mencapai 81 persen dari tenaga kerja
pertanian.

2.4. Pendapatan Usaha


Usahatani sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh produksi dilapangan
pertanian, pada akhirnya akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan
yang diperoleh. Pendapatan merupakan balas jasa dari kerjasama faktor-faktor
produksi. Pendapatan usaha adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya
yang telah dikeluarkan (Soekartawi, 1995). Besarnya pendapatan yang diterima

21

22

merupakan balas jasa atas tenaga kerja, modal yang dipakai, dan pengelolaan yang
dilakukan. Balas jasa yang diterima pemilik faktor produksi dihitung untuk jangka
waktu tertentu misalnya satu musim tanam atau satu tahun.
Pendapatan usaha yang diterima berbeda untuk setiap orang, perbedaan
pendapatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor ini ada yang masih
dapat diubah dalam batas-batas kemampuan petani atau tidak dapat diubah sama
sekali. Faktor yang tidak dapat diubah adalah iklim dan jenis tanah. Beberapa
faktor yang mempengaruhi pendapatan dan dapat dilakukan perbaikan untuk
meningkatkan pendapatan adalah luas lahan usaha, efisiensi kerja, dan efisiensi
produksi.
Luas rata-rata usahatani di Indonesia amat kecil hal ini merupakan salah
satu penghambat untuk mengadakan perubahan dalam memilih jenis tanaman dan
menggunakan alat mekanis. Efisiensi kerja yang merupakan jumlah pekerjaan
produktif yang berhasil diselesaikan oleh seorang pekerja. Umumnya makin tinggi
efisiensi kerja makin tinggi pendapatan petani. Meningkatkan pendapatan melalui
peningkatan efisiensi produksi dapat dilaksanakan dengan perbaikan cara-cara
berusahatani, makin tinggi efisiensi produksi maka makin tinggi pendapatan
usahatani (Soehardjo dan Patong, 1973).
Analisis pendapatan mempunyai kegunaan bagi petani maupun bagi
pemilik faktor produksi. Ada dua tujuan utama dari analisis pendapatan, yaitu
menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usahatani dan menggambarkan
keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Analisis pendapatan
memberikan bantuan untuk mengukur keberhasilan dari usaha yang dilakukan.
2.5. Penelitian Empiris Terdahulu

22

23

Secara umum penelitian terhadap analisis pendapatan dan penyerapan


tenaga kerja pada kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit bertujuan untuk
mengetahui apakah pola kemitraan ini menguntungkan petani atau tidak. Oleh
karena itu akan dilihat penelitian-penelitian sejenis pada komoditas kelapa sawit.
Menurut Muchtar (1987), dari penelitiannya yang berjudul Dampak
Ekonomi Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit Ophir Terhadap Pengembangan
Wilayah Pasaman Barat dengan analisis basis ekonomi dan analisis pendapatan.
Hasil analisis basis ekonomi diperoleh nilai multiplier sebesar 100 Artinya setiap
investasi Rp 1,00 akan memberikan multiplier sebesar Rp 100,00. Pendapatan
petani sebelum menjadi peserta PIR adalah Rp 283.020,00 sedangkan pendapatan
setelah PIR adalah Rp 1.123.120, Pendapatan petani sebelum menjadi peserta PIR
dibandingkan dengan pendapatan setelah ikut PIR meningkat 396 persen. Data
yang ada juga memperlihatkan bahwa pendapatan kepala keluarga peserta PIR
230 persen lebih besar dari pendapatan kepala keluarga tidak peserta PIR.
Mangkuprawira et al (1989) melakukan penelitian mengenai pendapatan
petani di lokasi perkebunan inti rakyat di Jawa Barat. Dalam analisis pendapatan
ini dibandingkan pendapatan petani PIR kelapa sawit, kelapa dan karet begitu juga
untuk alokasi jam kerja petani. Pelaksanaan pola perkebunan inti rakyat ini belum
mencapai target dari pemerintah yaitu masih di bawah 1.500 dolar Amerika dan
alokasi jam kerja petani lebih tinggi pada petani perkebunan kelapa sawit daripada
perkebunan kelapa dan karet.
Yudistira (2003), meneliti analisis finansial dan ekonomi kelapa sawit PT.
Mesa Inti Kebun. Analisis ini menunjukkan perkebunan di PT. Mesa Inti Kebun
layak dilaksanakan. Dari hasil penelitian menggunakan faktor diskonto sebesar 11

23

24

persen untuk analisis finansial kebun inti diperoleh NPV yang bernilai positif
yaitu sebesar Rp 29.391.962.210, net B/C sebesar 1,37, IRR sebesar 14,40 persen
dan MPI selama 10 tahun 11 bulan. Analisis finansial kebun plasma pada faktor
diskonto sebesar 11 persen diperoleh NPV sebesar Rp 22.876.791.670, net B/C
sebesar 1,20, IRR sebesar 12,60 persen dan MPI selama 12 tahun 8 bulan.
Analisis ekonomi kebun inti pada tingkat diskonto 11 persen diperoleh NPV yang
bernilai positif yaitu sebesar Rp 208.638.607.670, net B/C sebesar 4,02, IRR
sebesar 29,87 persen dan MPI selama 8 tahun 10 bulan sedangkan untuk kebun
plasma diperoleh NPV sebesar Rp 52.686.057.040, net B/C sebesar 1.49, IRR
sebesar 14,80 persen dan MPI selama 11 tahun 4 bulan. Perkebunan PT. Mesa Inti
Kebun, kebun plasma maupun kebun inti layak dilaksanakan karena memenuhi
kriteria kelayakan investasi secara finansial dan ekonomi.
Daliman (2005) meneliti dampak perkebunan kelapa sawit dalam
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani. Hasil analisis
pendapatan menyimpulkan penghasilan petani plasma tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan fisik

minimum seorang pekerja (tidak termasuk

keluarganya), yakni rata-rata perbulan Rp 148.500,00 per kapling ( 2 Ha).


Pendapatan tunai petani meningkat pada 3 - 4 bulan pertama dalam setahun tetapi
untuk pendapatan tidak tunai mengalami penurunan antara 40 - 60 persen.
Penelitian sebelumnya belum pernah membandingkan pola kemitraan
perkebunan kelapa sawit pada perusahaan milik swasta dan negara. Penelitian ini
akan melihat pendapatan petani plasma dan perusahaan inti serta penyerapan
tenaga kerja pada dua perusahaan tersebut.

24

BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Pembangunan Perkebunan Rakyat dengan Kemitraan Usaha


Suatu kegiatan pertanian yang menyeluruh dan saling berkaitan
merupakan suatu upaya untuk meningkatkan produksi pertanian, pendapatan
petani dan menciptakan nilai tambah. Upaya ini secara luas akan mempunyai
dampak terhadap peningkatan devisa melalui ekspor dan subsitusi impor.
Kelemahan petani pada umumnya meliputi teknologi, modal, akses pasar,
pengolahan hasil, sumberdaya manusia, kelembagaan dan produktivitas.
Kebijaksanaan pembangunan perkebunan yang dikembangkan harus berkaitan
dengan

kesempatan

kerja,

pemasok

bahan

baku

industri,

peningkatan

produktivitas dan peningkatan pendapatan.


Keberhasilan kemitraan usaha sangat tergantung kepada pihak yang
bermitra. Pengusaha harus menyadari para petani memerlukan berbagai upaya
pemberdayaan. Kemitraan usaha perkebunan mengacu pada terciptanya
keseimbangan, keselarasan, keterampilan, dan interdependensi yang dilandasi
saling percaya dengan keterbukaan. Kemitraan akan terwujud dengan terciptanya :
(1) Saling membutuhkan atau intervedensi artinya pengusaha memerlukan
pasokan bahan baku, sedang petani memerlukan bimbingan teknologi, pemasaran,
dan processing, (2) Saling menguntungkan artinya kedua bilah pihak harus dapat
memperoleh nilai tambah dari kerjasama, dan (3) Saling memperkuat artinya
kedua belah pihak sama-sama memahami hak dan kewajiban.

26

Upaya pemantapan yang memerlukan perhatian dan penanganan dalam


pola kemitraan antara lain kerjasama yang transparansi sejak awal sehingga
masing-masing pihak tahu dan sadar hak-hak serta kewajibannya, penumbuhan
dan pengembangan fungsi dari kelembagaan kelompok tani yang merupakan basis
terkecil dari manajemen produksi yang dilakukan mitra usaha atau perusahaan
inti. Pembentukan koperasi (kelembagaan petani) harus lebih terkonsentrasi pada
sektor jasa (angkutan pupuk, angkutan produksi dan lain-lain).
Kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah dalam perkebunan
rakyat memerlukan berbagai upaya penyuluhan dan pembinaan. Peningkatan
kualitas sumberdaya manusia di tingkat petani dapat dilakukan dengan
peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan pengorganisasian. Skala ekonomi
petani harus terus ditata sampai mencapai usaha berskala ekonomi. Tugas utama
perusahaan mitra adalah menjaga agar pengelolaan produksi ditingkat petani tetap
sesuai dengan standar teknis dan bertanggung jawab sejak awal pembangunan
perkebunan sampai pasca konversi sehingga produktivitas optimal.

3.2. Dampak Penerapan Pola Kemitraan terhadap Pendapatan


Pembangunan perkebunan dengan pola kemitraan memiliki tujuan untuk
mendorong peningkatan pendapatan petani, pembangunan wilayah, pembangunan
sentra produksi dan pertumbuhan ekonomi. Kehadiran perusahaan inti dalam pola
kemitraan dapat berperan dalam pemberdayaan petani di bidang teknologi, modal,
kelembagaan dan lain-lain.
Pola kemitraan akan meningkatkan produktivitas karena berisikan paket
intensifikasi yang ditransfer oleh perusahaan inti kepada petani plasma berupa

26

27

teknologi baru. Teknologi yang digunakan akan berpengaruh pada produksi yang
dihasilkan, biaya dikeluarkan serta tenaga kerja yang digunakan. Dalam pola
kemitraan juga terjadi inovasi dalam manajemen, kelembagaan, pengolahan dan
pemasaran. Semua paket intensifikasi dalam pola kemitraan bertujuan
meningkatkan produktivitas yang pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan
pendapatan.
Peningkatan pendapatan apabila dilihat dari pendekatan produksi maka
akan berkaitan dengan
pembagian

antara

masalah

hasil/keluaran

produktivitas. Produktivitas
yang

dicapai

dengan

merupakan
keseluruhan

sumberdaya/masukan yang telah digunakan persatuan tertentu. Peningkatan


produktivitas mengandung arti bahwa jumlah produksi yang dicapai dapat lebih
besar dengan menggunakan sumberdaya yang sama. Sumberdaya terdiri dari
faktor produksi seperti lahan, sumberdaya manusia, peralatan dan lain-lain. Pada
pola kemitraan biasanya produktivitas kebun plasma diharapkan dapat setara
dengan produktivitas kebun intinya.

3.3. Dampak Penerapan Pola Kemitraan terhadap Kesempatan Kerja


Tenaga kerja dipandang sebagai suatu faktor produksi yang mampu
meningkatkan daya guna faktor produksi lainnya (mengolah tanah, memanfaatkan
modal dan sebagainya). Terdapat dua faktor yang mempengaruhi keadaan tenaga
kerja, yaitu faktor permintaan dan penawaran. Faktor permintaan dipengaruhi oleh
dinamika pembangunan ekonomi, sedangkan faktor penawaran ditentukan oleh
perubahan struktur umur penduduk

27

28

Salah satu tujuan yang penting dalam pembangunan ekonomi adalah


penyediaan lapangan kerja yang cukup untuk mengejar pertambahan angkatan
kerja. Pembangunan perkebunan dengan sistem kemitraan usaha dimaksudkan
untuk membina perkebunan rakyat (usahatani kecil) agar dapat membuka
kesempatan kerja di pedesaan. Perkebunan rakyat merupakan usaha yang strategis
dalam menyerap tenaga kerja keluarga dan luar keluarga. Dalam perkebunan
kelapa sawit baik untuk kebun inti maupun kebun plasma dibutuhkan tenaga
kerja dalam aktivitas pemeliharaan, panen, pangangkutan dan lain-lain.
Perkembangan usaha perkebunan kelapa sawit akan membutuhkan pabrik kelapa
sawit untuk mengolah tandan buah segar yang dihasilkan petani, pabrik kelapa
sawit akan menambah lapangan kerja yang tersedia dan dapat menyerap tenaga
kerja yang ada dalam masyarakat.

3.4. Kerangka Pemikiran Konseptual


Pola kemitraan menawarkan suatu pendekatan pembangunan yang
mengkaitkan perusahaan besar dengan petani kecil, sehinggga kelebihankelebihan yang dimiliki oleh perusahaan besar dapat ditransfer kepada petani
kecil. Kelebihan yang dialihkan dapat berupa kemampuan teknologi, manajemen
dan finansial sehingga petani kecil mampu menjadi manajer yang mandiri dan
tangguh bagi usahataninya.
Pola kemitraan merupakan kerjasama strategis antara petani dan
perusahaan besar. Perusahaan mitra bertindak sebagai penyedia sarana produksi,
pelaksana pemasaran sekaligus pengolahan produksi. Petani dalam pola kemitraan
bertindak sebagai pelaksana usahatani. Pemberian bantuan dari perusahaan kepada

28

29

petani akan diakumulasikan dan dibayar kembali oleh petani setelah perkebunan
kelapa sawit yang dimiliki berproduksi. Pengembangan perkebunan kelapa sawit
memiliki peluang dalam menciptakan lapangan kerja dari kegiatan pra panen
hingga pasca panen. Alur pemikiran dalam penelitian ini dapat disimpulkan dalam
Gambar 1.
Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit

Sistem Kemitraan Usaha

Peningkatan Produktivitas
Penciptaan Kesempatan Kerja
Pola Kemitraan
dengan Perkebunan
Besar Negara

Pola Kemitraan
dengan Perkebunan
Besar Swasta

PTPN VI

PT BPP

Peserta Kemitraan
Kebun Plasma
Produksi TBS

Perusahaan Inti
Pabrik dan Kebun Inti
Pengolahan, Pemasaran, dan
Produksi TBS

- Pendapatan
- Penyerapan tenaga
kerja

- Pendapatan
- Penyerapan tenaga
kerja

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Konseptual


Ket :
: Alur pemikiran

: Hal-hal yang dianalisis

: Dijual

: Alur analisis

29

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara VI
dan PT Bakrie Pasaman Plantation. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja
(purposive) dengan pertimbangan PT Perkebunan Nusantara VI merupakan
Perkebunan Besar Negara pertama di Kabupaten Pasaman Barat yang melakukan
pola kemitraan dan PT Bakrie Pasaman Plantation merupakan Perkebunan Besar
Swasta dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas di Kabupaten Pasaman Barat
yang melakukan pola kemitraan. Pengumpulan data dilakukan mulai Bulan April
sampai dengan Bulan Juni 2006.

4.2. Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang dipergunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah oleh peneliti dan langsung
diperoleh dari objek yang diteliti. Data primer diperoleh melalui wawancara
langsung dengan petani peserta, pemilik perkebunan, pengawas perkebunan, dan
pekerja perkebunan kelapa sawit. Data sekunder adalah data yang diterbitkan atau
digunakan oleh organisasi atau lembaga yang bukan merupakan hasil pengolahan
peneliti. Data sekunder diperoleh dari PTPN VI, PT BPP, Direktorat Jenderal
Perkebunan Indonesia, Biro Pusat Statistik, Departemen Perindustrian dan
Perdagangan, dan dapat juga diperoleh melalui studi literatur, internet dan
lembaga terkait lainnya.

31

4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data


Pengolahan data disesuaikan dengan data yang ada dan tujuan yang ingin
dicapai. Untuk mencapai tujuan pertama digunakan metode deskriptif. Untuk
mencapai tujuan kedua dan ketiga, data dianalisis dengan metode deskriptif
tabulasi. Sedangkan untuk mencapai tujuan keempat digunakan analisis model
ekonometrika.

4.3.1. Pendapatan Usaha Perkebunan


Pada analisis usahatani diperlukan data tentang penerimaan, biaya, dan
pendapatan usahatani. Cara analisis terhadap variabel penerimaan, biaya, dan
pendapatan disebut dengan analisis anggaran arus uang tunai atau cash flow
analysis (Soekarwati, 1995).
Penerimaan usahatani adalah suatu nilai produk total dalam jangka waktu
tertentu, baik untuk dijual maupun untuk dikonsumsi sendiri. Penerimaan adalah
perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Rumus penerimaan
usahatani adalah :
TR = Y x PY
Dimana :
TR : Total Penerimaan.
Y : Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani.
PY : Harga Y
Biaya usahatani merupakan nilai penggunaan sarana produksi dan lainlain yang dibebankan pada produk yang bersangkutan. Biaya usaha tani
diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.

31

32

Biaya tunai merupakan pengeluaran tunai usahatani yang dilakukan oleh petani
sendiri. Biaya tunai digunakan untuk melihat pengalokasian modal yang dimiliki
oleh petani. Biaya tidak tunai (diperhitungan) adalah biaya penyusutan alat-alat
pertanian, sewa lahan milik sendiri dan tenaga kerja dalam keluarga.
Biaya dalam usahatani terdiri dari biaya tetap/fixed cost dan biaya
variabel/variabel cost. Biaya tetap didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap
jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau
sedikit. Besarnya biaya tetap tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang
diperoleh dan sifat penggunaannya tidak habis dipakai dalam satu kali proses
produksi. Contoh biaya tetap adalah pajak, tanah, dan bunga pinjaman dan lainlain. Biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi
yang diperoleh dan sifat penggunaannya habis terpakai dalam satu kali proses
produksi. Contoh biaya tidak tetap adalah biaya untuk sarana produksi dan tenaga
kerja luar keluarga.
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya.
Pendapatan yang diukur adalah pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas
biaya total.
1. Pendapatan Atas Biaya Tunai
Pendapatan atas biaya tunai diperoleh dari penerimaan total yang dikurangi
dengan biaya tunai yang benar-benar dikeluarkan baik biaya variabel maupun
biaya tetap dan merupakan ukuran kemampuan usaha untuk menghasilkan
uang tunai. Rumus pendapatan atas biaya tunai adalah :
tunai = TR TC tunai
tunai = (Y x PY ) (TFC1 + TVC1)

32

33

2. Pendapatan Atas Biaya Total


Pendapatan atas biaya total adalah pendapatan yang diperoleh dari total
penerimaan dikurangi dengan biaya tunai termasuk biaya-biaya yang
diperhitungkan. Rumus pendapatan atas biaya total adalah :
total = TR TC
total = (Y x PY) ((TFC1 + TVC1) + (TFC2 + TVC2))
Dimana :
tunai

: Pendapatan Usahatani tunai.

total

: Pendapatan Usahatani total.

TR

: Total Penerimaan.

TC

: Total Pengeluaran.

TFC1 : Total Biaya Tetap yang Dibayar Tunai.


TVC1 : Total Biaya Variabel yang Dibayar Tunai.
TFC2 : Total Biaya Tetap yang Diperhitungkan.
TVC2 : Total Biaya Variabel yang Diperhitungkan.

4.3.2. Rasio Penerimaan dan Biaya (Return Cost Ratio)


Analisis return cost ratio atau R/C adalah perbandingan (nisbah) antara
penerimaan dan biaya. Return cost ratio digunakan untuk mengukur efisiensi
usahatani terhadap setiap penggunaan satu unit input.

Analisis imbangan

penerimaan dan biaya digunakan untuk mengetahui relatif usahatani berdasarkan


perhitungan finansial.
R

tunai

TR
TCtunai

Total

TR
TC

33

34

Dimana :
TR

: Total Penerimaan.

TC

: Total Pengeluaran.

TC tunai

: Total Pengeluaran tunai.

Kriteria :
R/C > 1, usaha menguntungkan.
R/C = 1, usaha tidak untung dan tidak rugi.
R/C < 1, usaha tidak menguntungkan atau rugi.
Apabila R/C > 1 berarti penerimaan yang diperoleh lebih besar daripada
tiap unit biaya yang dikeluarkan untuk menerima penerimaan tersebut. Apabila
R/C < 1 maka tiap unit biaya yang dikeluarkan akan lebih besar daripada
penerimaan yang diperoleh.
Menurut Soeharjo dan Patong (1973), perhitungan pendapatan usaha
adalah seperti dalam Tabel 5.
Tabel 5. Perhitungan Pendapatan Usaha
Arus Penerimaan
Produksi Kotor
Harga Satuan Produksi
Total Penerimaan (Ax B)
Arus Pengeluaran
Biaya Tunai :
- Biaya bahan baku
= Rp D
- Biaya upah
= Rp E
- Pajak usaha
= Rp F
- Biaya lain-lain
= Rp G
Total biaya tunai (D+ E + F + G)
Biaya diperhitungkan :
- Biaya penyusutan
= Rp I
- Tenaga kerja keluarga
= Rp J
- Bunga modal
= Rp K
Total biaya diperhitungkan (I + J + K)
Total seluruh pengeluaran (H + L)
Analisis pendapatan/keuntungan (C M)
Analisis imbangan penerimaan atas biaya tunai (C/H)
Analisis imbangan penerimaan atas biaya total (C/M)

34

= A kg
= Rp B
= Rp C

= Rp H

= Rp L
= Rp M
= Rp N
= Rp Q
= Rp T

35

4.3.3. Penyerapan Tenaga Kerja


Penyerapan tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja dalam dan luar
keluarga yang digunakan secara produktif dalam usaha perkebunan. Penggunaan
tenaga kerja dihitung dalam satuan hari kerja pria (HKP), dimana HKP adalah
sekitar tujuh jam kerja dengan tingkat konversi :
1. Satu hari kerja wanita (HKW) = 0,8 HKP
2. Satu hari kerja anak (HKA) = 0,5 HKP
Untuk mengetahui persentase tenaga kerja yang terserap pada usaha
perkebunan terhadap jumlah tenaga kerja yang tersedia dalam keluarga, perlu
diketahui potensi kerja. Potensi kerja dihitung dengan menghitung jumlah tenaga
kerja yang tersedia dalam rumah tangga dikonversikan dalam hari kerja pria
(HKP) dan dikalikan 300 atau jumlah hari kerja dalam setahun. Dengan demikian
akan diperoleh angka ketersediaan tenaga kerja pertahun dalam rumah tangga.
Curahan jam kerja untuk kegiatan perkebunan dihitung berdasarkan alokasi jam
kerja anggota keluarga dalam sehari untuk kegiatan perkebunan.

4.3.4. Peran Tenaga Kerja Kebun Plasma terhadap Produksi Kebun Plasma
Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel tak
bebas pada satu atau lebih variabel tak bebasnya, dengan maksud menaksir atau
meramalkan nilai rata-rata hitung (mean) atau rata-rata (populasi) variabel tak
bebas. Diantara model-model regresi, model regresi linear merupakan model yang
paling sederhana dan paling sering digunakan. Model regresi linear diduga dengan
menggunakan metode kuadrat terkecil biasa (method of ordinary least sguare).
Metode ini dilakukan dengan meminimumkan jumlah kuadrat simpangan nilai yi

35

36

terhadap E(yi) atau disebut dengan galat atau error. Metode kuadrat terkecil biasa
dikemukakan oleh Carl F Gauss (Gujarati, 1978). Asumsi-asumsi yang harus
dipenuhi dalam metode kuadrat terkecil adalah :
1. Kehomogenan ragam sisaan
2. Kenormalan galat
3. Hasil plot sisaan yang saling bebas
Untuk mencapai tujuan keempat digunakan alat analisis kuantitatif linear
dengan menggunakan rumus analisis regresi :
Y = a + b1X1+ b2X2
Dimana :
Y

: Produksi kebun plasma (ton)

X1

: Modal usaha (Rp)

X2

: Tenaga kerja di kebun plasma (HOK)

: Konstanta

b1, b2 : Koefisien regresi

Pengujian hipotesis :
Uji R2
Penjelasan persentase variasi total peubah tidak bebas yang disebabkan
oleh peubah bebas digunakan dengan pengujian R2. Uji ini digunakan untuk
mengukur sampai sejauh mana besar keragaman yang dapat diterangkan oleh
variabel bebas terhadap variabel tak bebas.

36

37

Uji F-Statistik
Uji F digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh peubah bebas
terhadap peubah tidak bebas secara keseluruhan.
Hipotesis :
H0 : 1 = 2 = 3 = 0
H1 : Minimal terdapat satu i 0 ; dimana i = 1,2,3,n

R /k 1
(1 R ) / n k
2

F Hitung =

F tabel = F(k-1, n-k)


Kriteria uji :
F-Hitung > F(k-1, n-k), maka tolak H0
F-Hitung < F(k-1, n-k), maka terima H0
Dimana :
R : Koefisien determinasi
n : Banyaknya data
k : Jumlah koefisien regresi dugaan
Jika H0 ditolak berarti minimal ada satu variabel bebas yang berpengaruh
nyata terhadap total besarnya output, dan sebaliknya jika H0 diterima maka tidak
ada satu pun variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap output.
Uji t-Statistik
Uji t digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh suatu peubah
bebas secara individu atau masing-masing berpengaruh nyata atau tidak terhadap
peubah tidak bebas.

37

38

Hipotesis :
H0 : bi = 0
H1 : bi 0 ; dimana i = 1,2,3,k
t-hitung =

b
S(b)
i

t-tabel = t / 2(n-k)
Dimana :
S(b) = simpangan baku koefisien dugaan
Kriteria uji :
t-hitung > t / 2(n-k), maka tolak H0
t-hitung < t / 2(n-k), maka terima H0
Jika H0 ditolak berarti variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel
tidak bebas dalam model dan sebaliknya jika H0 diterima maka variabel bebas
tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas.
Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah pengujian yang dilakukan untuk melihat
apakah terdapat hubungan linear diantara beberapa atau semua variabel bebas dari
model regresi. Gejala multikolinearitas dalam suatu model akan menimbulkan
beberapa konsekuensi diantaranya adalah :
1. Meskipun penaksiran OLS mungkin bisa diperoleh namun kesalahan
standarnya mungkin akan cenderung semakin besar dengan meningkatnya
tingkat korelasi antara peningkatan variabel.
2. Standar error dari parameter diduga sangat besar sehingga selang
keyakinan untuk parameter yang relevan cenderung lebih besar.

38

39

3. Jika

multikolinearitasnya

tinggi

kemungkinan

probabilitas

untuk

menerima hipotesis yang salah menjadi besar.


4. Kesalahan standar akan semakin besar dan sensitif bila ada perubahan
data.
5. Tidak mungkinnya mengisolasi pengaruh individual dari variabel yang
menjelaskan (Gujarati, 1978).
Multikolinearitas dapat dideteksi dengan melihat korelasi antara peubah
bebasnya (X). Multikolinearitas dapat dilihat dengan nilai VIF (Variance Inflation
Factor). Nilai VIF yang lebih besar dari 10 merupakan indikasi adanya
multikolinearitas.

39

BAB V
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1. PT Perkebunan Nusantara VI Persero (PTPN VI) Kebun Ophir


5.1.1. Sejarah Ringkas
Kebun Ophir di Kabupaten Pasaman Barat Propinsi Sumatera Barat sudah
ada sejak masa penjajahan Belanda yang pada waktu itu disebut Onderneming
Ophir. Pada tahun 1932 Onderneming Ophir dengan lahan seluas 4.600 Ha
ditanami kelapa sawit dan kopi secara besar-besaran oleh perusahaan NV Kultuur
Maatschapply Ophir yang berpusat di Amsterdam Belanda. Tahun 1942, Belanda
menyerah kepada Jepang sehingga kebun Ophir dikuasai oleh Jepang sampai
Indonesia merdeka tahun 1945. Masuknya Jepang ke Indonesia menyebabkan
Onderneming Ophir terganggu keberlanjutannya, tanaman rusak berat, sebagian
besar peralatan dan perlengkapan tidak dapat dipergunakan lagi.
Tahun 1955 kebun Ophir dibeli oleh Departemen Hankam RI dari pihak
konsesi Belanda. Rencana membuka kembali kebun Ophir gagal karena terjadi
pemberontakan PRRI. Pemberontakan PRRI menyebabkan bekas puing-puing
peninggalan Belanda yang masih ada menjadi hancur sehingga segala peralatan
kebun Ophir tidak dapat dipergunakan lagi. Setelah pemberontakan usai banyak
pihak perusahaan swasta yang berusaha mengelola kebun Ophir, tetapi belum
berhasil karena memerlukan modal dan tenaga ahli yang cukup besar. Keadaan ini
berlangsung hingga tahun 1970-an, ketika pemerintah Indonesia mulai
memikirkan strategi pengembangan perkebunan kelapa sawit dari daerah yang
potensial.

41

Tahun 1980 pemerintah Indonesia berhasil membentuk pola PIR


(Perusahaan Inti Rakyat) dengan nama Nucleus Estate Small Holder Participation
(NESP) Ophir. NESP Ophir merupakan salah satu proyek perkebunan yang
dikembangkan pemerintah melalui pola kerja sama antara rakyat (plasma) dan
perusahaan perkebunan besar (inti). Proyek NESP Ophir dibentuk dan
dikembangkan atas prakarsa Panglima Kodam III 17 Agustus Sumatera Barat
setelah melihat keberhasilan proyek Kodam II Bukit Barisan di Sei Baleh
Sumatera Utara yang dikelola oleh PT Perkebunan VI (Persero). Proyek ini
didukung oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat dan mendapat
persetujuan

dari

Menteri

Pertanian

RI

melalui

surat

SPBN

No.

156/A/GUB/C/1979 dengan menugaskan PTP VI Persero sebagai pelaksana


proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit.
Penugasan kepada PTP VI berkaitan dengan kemampuan teknis kelapa
sawit, manajemen yang dimiliki serta berdasarkan kepada Tri Dharma
Perkebunan, yaitu : (1) Meningkatkan devisa negara, (2) Menciptakan lapangan
kerja, dan (3) Melestarikan sumberdaya alam. Proyek NESP Ophir merupakan
hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan Republik Federal Jerman. Republik
Federal Jerman memberikan bantuan dalam bidang keuangan dan teknis
sedangkan PTP VI sebagai pengembang perkebunan dengan pola PIR Perkebunan
(PIR-Bun).
Perusahaan PTP VI diubah menjadi PTPN VI Persero oleh pemerintah
tanggal 14 Februari 1996 berdasarkan PP No. 11 Tahun 1996. PTPN VI
merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk perusahaan
Perseroan dengan wilayah kerja propinsi Sumatera Barat dan propinsi Jambi.

41

42

Kebun Ophir merupakan salah satu dari enam belas unit usaha yang ada dibawah
pengelolaan manajemen PTP Nusantara (Persero).
PTPN VI telah berhasil membangun kebun kelapa sawit seluas 8.056
hektar yang terdiri atas kebun inti seluas 3.256 hektar dan kebun plasma seluas
4.800 hektar. Kebun inti terdiri dari 4 afdeling dan kebun plasma terdiri dari 5
plasma Penanaman dilakukan secara bertahap sejak tahun 1982 sampai dengan
tahun 1994. PTPN VI terletak di Kecamatan Luhak Nan Duo dan Kinali,
Kabupaten Pasaman Barat yang berjarak 186 Km dari Ibukota Propinsi.
Tabel 6. Luas Lahan dan Tahun Tanam Kebun Inti dan Kebun Plasma
PTPN VI
Kebun inti
Afdeling

Inti I

Inti II
Inti III
Inti IV

Tahun tanam
1982
1985
1989
1993
1994
1982
1985
1986
1985
1986
1993
1985
1986
1993

Total
Sumber : Profil PTPN VI, 2005

Kebun plasma
Luas lahan
(Ha)
791
11
50
5
5
426
352
50
758
14
45
291
420
38

Plasma

Tahun tanam

Luas lahan
(Ha)

Plasma I

1981/1982

1100

Plasma II

1982/1983

750

Plasma III

1983/1984

1000

Plasma IV

1985/1986

1330

Plasma V

1984/1985
Total

620
4800

3256

5.1.2. Pola PIR-Bun /NESP Ophir


Pola kemitraan yang dilaksanakan oleh PTPN VI adalah pola PIR-Bun
yang dikenal dengan proyek NESP. Proyek

Nucleus

Estate

Small

Holder

Participation (NESP) Ophir mulai dibangun pada 3 Maret 1981 dengan bantuan

42

43

kredit dari pemerintah Jerman Barat sebesar DM 65 juta. Bantuan kredit ini sesuai
dengan perjanjian pinjaman (loan agreement) No. 80.60.383 tanggal 31 Agustus
1982 antara pemerintah RI dengan kementrian kerja sama bantuan luar negeri
Jerman (BMZ/Bundesministrium fur Mirtschaftliche Zusammenarbeit).
Proyek NESP bertujuan menciptakan petani mandiri dengan pembentukan
organisasi yang dapat menyalurkan aspirasi secara sehat sesuai dengan normanorma yang berlaku. Pola penumbuhan dan pengembangan organisasi NESP
Ophir sesuai dengan faktor P (partisipasi) pada NESP yaitu koperasi tumbuh dari
bawah dengan kekuatan kelompok dan peran pihak luar adalah sebagai
pendamping.
Pembangunan kebun Ophir PTPN VI dibantu KFW (Kreditanstalt Fur
Wiederaufbau) dan GTZ (Deutsche Gesellschayt fur Techniche Zusammanarbeit).
KFW merupakan bank pembangunan Jerman yang bertanggung jawab membantu
dalam segi keuangan mulai dari persiapan lahan (areal), penanaman,
pembangunan rumah petani, pembangunan jalan dan pabrik. Badan kerjasama
teknis Jerman atau GTZ bertanggung jawab menangani bidang pendidikan,
pembinaan dan pembentukan kelompok tani serta sebagai penasihat dilapangan.
Petani plasma yang menjadi peserta proyek NESP Ophir terdiri dari 54
persen penduduk setempat (1.290 KK), 35 persen purnawirawan ABRI (840 KK)
dan 11 persen pensiunan pegawai negeri sipil (270 KK). Jumlah total petani
peserta adalah 2.400 kepala keluarga. Areal pembangunan kebun plasma adalah
seluas 4.800 hektar dan lahan untuk perumahan/pekarangan/lahan pangan seluas
1.103 hektar. Setiap kepala keluarga petani plasma mendapatkan 2 hektar kebun
sawit dan 0,45 hektar lahan pangan/perumahan.

43

44

Mekanisme pola kemitraan pada NESP Ophir adalah sebagai berikut :


A. Pembentukan Kelompok Tani NESP Ophir
Setelah petani masuk dalam proyek, petani mendapat pelatihan tentang
budidaya

kelapa

sawit

dan

manajemen

kebun.

Calon

petani

peserta

dikelompokkan sesuai dengan hamparan pemukiman dan lokasi perkebunan.


Jumlah anggota setiap kelompok tani berkisar dari 20 sampai dengan 28 orang
kepala keluarga.
Kebun kelapa sawit yang dimiliki masing-masing peserta tidak homogen
dan kemampuan peserta bervariasi dalam pemeliharaan sehingga menciptakan
job sharing diantara anggota kelompok sesuai dengan kebutuhan. Job sharing
yang terjadi dalam kelompok NESP Ophir yaitu setiap pemeliharaan kebun yang
dilakukan oleh setiap anggota kelompok tani akan dibayar secara individu tetapi
hasil penjualan TBS dibagi sama rata. Pembentukan kelompok menciptakan suatu
stimulasi, motivasi dan kekuatan pada petani sehingga lebih mudah mengarahkan
dalam partisipasi yang saling menguntungkan. Job sharing membuat petani dapat
memperoleh hasil optimum baik yang berasal dari lahan miliknya maupun dari
lahan anggota-anggota lainnya.
B. Pengelolaan Kelompok Tani NESP Ophir
Kelompok tani dikelola oleh pengurus kelompok yang terdiri dari ketua
dan sekretaris. Kelompok ini memilih seorang krani yang berfungsi untuk
mengurus TBS. Krani digaji dari keuangan kelompok, sedangkan honor pengurus
kelompok, pembuatan SPB (Surat Pengantar Buah) dan keperluan lainnya yang
berhubungan langsung dengan kepentingan kelompok dan anggota dibiayai dari
dana group manajemen yang dihimpun oleh KUD dari anggota sebesar Rp 2,-/kg

44

45

TBS. Kontribusi pembuatan amprah dibebankan kepada petani Rp 1000,/KK/bulan.


Sistem pengelolaan kelompok merupakan hal yang sangat menentukan
dalam kemajuan petani NESP Ophir. Oleh karena itu sejak awal pembentukan
kelompok harus memahami prinsip-prinsip kebersamaan dalam kelompok karena
merupakan pondasi dasar untuk menuju kemandirian petani. Sistem yang
dijalankan kelompok tani NESP Ophir adalah sebagai berikut :
1. Tanah kebun seluas 2 Ha setelah lunas kredit adalah milik individu.
2. Tanaman kelapa sawit yang tumbuh dalam areal kelompok adalah milik
kelompok.
3. Biaya produksi dan kredit kebun dibayar bersama dari hasil kelompok.
4. Upah tenaga kerja setiap anggota kelompok dibayar sesuai kontribusi peserta.
5. Hasil bersih setelah dikurangi biaya produksi, kredit kebun, tenaga kerja
anggota kelompok dibagi rata.
6. Anggota yang tidak merawat kebun sesuai rencana kerja dan petunjuk teknis
dikenakan sanksi kelompok (denda).
7. Pemeliharaan kebun dibawah pengawasan kelompok.
Pemeliharaan kebun merupakan tanggung jawab individu sedangkan
penanganan dibidang produksi membutuhkan kerjasama dari anggota kelompok
tani. Anggota diperbolehkan menggunakan tenaga kerja sewaan untuk kegiatan
pemeliharaan kebun dan pemanenan tetapi pelaksanaannya harus diawasi oleh
pengurus kelompok. Kerjasama dalam kelompok tani dilakukan juga pada
berbagai kegiatan seperti : panen, transportasi, pemupukan, hama penyakit,
pemeliharaan jalan kebun, penentuan rendemen, kalkulasi upkepp cost/income

45

46

credit repayment. Kedisiplinan para anggota kelompok tani diperlukan untuk


kelancaran pelaksanaan kegiatan sehingga diberlakukan sanksi berupa denda.
Setiap kelompok menetapkan besarnya sanksi berdasarkan musyawarah
kelompok. Kegiatan-kegiatan yang dikenakan sanksi seperti ketidakhadiran/
ketepatan waktu menghadiri setiap pertemuan kelompok, ketepatan takaran dalam
pemberian pupuk, memanen buah yang masih mentah dan tidak memanen buah
yang sudah matang.
C. Pembentukan Organisasi
Proyek NESP Ophir sejak awal mempersiapkan petani dengan memberi
pendidikan dan pelatihan dalam rangka menciptakan organisasi petani yang
mandiri dan tangguh. Lembaga usahatani petani plasma NESP Ophir berupa suatu
organisasi usahatani yang tergabung dalam kelompok tani dan koperasi.
Organisasi diperlukan untuk dapat menyatukan kelompok tani dalam
menyelesaikan berbagai masalah yang timbul. Satu kelompok tani beranggotakan
20 sampai 28 Kepala Keluarga. Pada tahun 1985 kerjasama antar kelompok tani
melahirkan Koordinator Kelompok Tani/Badan Kerjasama Antar Kelompok
(BKAK) Unit I. Dari BKAK dibentuk Badan Kerjasama Antar Plasma (BKAP)
yang akhirnya berkembang menjadi Koperasi NESP Ophir. Pada NESP Ophir
terdapat 4 Koperasi Petani Sawit (KPS) yang mengorganisir kepentingan petani
plasma, yakni KPS Sejahtera, KPS Indah, KPS Maju, dan KPS Perintis. Keempat
KPS berada dibawah naungan koperasi sekunder Koperasi Jasa Usaha Bersama
(KJUB).
KPS memberikan pelayanan kepada anggotanya seperti pengadaan sarana
produksi dan peralatan pertanian/perkebunan, melaksanakan simpan pinjam

46

47

kepada anggota, perhitungan hasil produksi TBS petani, melaksanakan


pengembalian kredit kebun petani, dan lain-lain. KPS bertanggungjawab
menyalurkan pupuk kepada anggota dan menyediakan angkutan TBS berupa truktruk pembawa TBS dari Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) ke pabrik pengolahan.

5.2. PT. Bakrie Pasaman Plantations (PT BPP)


5.2.1. Sejarah Ringkas
PT. Bakrie Pasaman Plantation sebelumnya adalah PT. Bakrie Nusantara
Coorporation yang didirikan pada tanggal 21 Juni 1989. PT BPP bernaung
dibawah PT. Bakrie Sumatera Plantation sebagai anak perusahaan Bakrie
Brothers. Perusahaan ini merupakan perusahaan swasta nasional besar berskala
internasional. PT BPP mengemban misi kebijaksanaan pemerintah dalam hal
pengembangan sub sektor perkebunan sebagai usaha untuk meningkatkan
produksi komoditas non migas dan membantu pengembangan wilayah terpadu
(integrated area development) di daerah Sumatera Barat.
Pelaksanaan kebijaksanaan pemerintah dalam pembangunan pertanian
tertuang dalam instruksi presiden No. 1 Tahun 1996, yaitu pembangunan
perkebunan
kebijaksanaan

dengan

pola

pemerintah

Perusahaan

Inti

maka

Bakrie

PT.

Rakyat

(PIR).

Pasaman

Berdasarkan

Plantation

turut

berpartisipasi dalam pembangunan nasional di sub sektor perkebunan dan


melakukan pola kemitraan dangan masyarakat sekitar. PT BPP bertujuan
Memperluas lapangan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat pada
umumnya dan meningkatkan taraf hidup petani serta karyawan perkebunan pada
khususnya.

47

48

Lokasi usaha PT BPP adalah di Kecamatan Lembah Melintang dan


Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat Propinsi Sumatera Barat.
Lokasi ini memiliki jarak 250 km dari kota Padang (ibukota Propinsi). Budidaya
perkebunan utama adalah kelapa sawit.
Tahun 1990 PT BPP melakukan permohonan pencadangan lahan seluas
40.000 hektar dengan surat No. 389/DUP/VI/1990 tanggal 4 Juni 1990 dengan
perincian 16.000 hektar untuk kebun inti dan 24.000 hektar untuk kebun plasma.
Persetujuan prinsip pencadangan lahan dari Gubernur KDH Tingkat I Sumatera
Barat No. 525.26/1989/Prod. 1990 tanggal 28 Juli 1990 dan izin prinsip usaha
perkebunan kelapa sawit oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor HK
350/E4969/11, tanggal 21 Nopember 1990.
Berdasarkan Keputusan Bupati KDH Tingkat II Pasaman Nomor 6 Tahun
1998 tentang petunjuk teknis pelaksanaan pola kemitraan bapak angkat anak
angkat perkebunan kelapa sawit di daerah Tingkat II Pasaman, maka Investor
perkebunan yang menanamkan modalnya di Kabupaten Pasaman wajib
melaksanakan program kemitraan bapak angkat anak angkat dengan perbandingan
40 persen plasma dan 60 persen inti. Pola kemitraan bapak angkat anak angkat
adalah pola kemitraan dalam rangka pengembangan perkebunan kelapa sawit
dengan menggunakan Perusahaan Perkebunan Besar sebagai bapak angkat yang
mempunyai lahan inti dan membangun perkebunan rakyat (plasma) sebagai anak
angkat dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan bersama dengan
lembaga keuangan (perbankan).
Tahun 2005, PT BPP telah berhasil membangun kebun kelapa sawit seluas
12.580,41 hektar yang terdiri atas kebun inti seluas 8.125,4 hektar dan kebun

48

49

plasma seluas 4.455 hektar. Kebun inti terdiri dari 2 estate yaitu Air Balam estate
dan Sei Aur estate). Kebun plasma terdiri dari 3 KUD yaitu KUD Sungai Aur,
KUD Parit, KUD Silawai Jaya dan satu kelompok tani yaitu Kelompok Tani
Nagari Parit (KPNP) . Penanaman dilakukan secara bertahap sejak tahun 1991
sampai dengan sekarang. Kebun inti memiliki tanaman menghasilkan seluas
7.862,4 hektar dan tanaman belum menghasilkan seluas 263 hektar. Untuk kebun
plasma belum dilakukan konversi kecuali untuk Kelompok Tani Nagari Parit
(KPNP) yang dikonversi kepada petani tanggal 15 Januari 2005.

5.2.2. Pola Bapak Angkat Anak Angkat / Plasma KKPA project


Pola kemitraan bapak angkat anak angkat adalah pola kemitraan
perkebunan kelapa sawit dengan menggunakan Perusahaan Perkebunan Besar
(BUMN, PBSN, dan PMA) sebagai bapak angkat yang mempunyai lahan inti dan
membangun perkebunan rakyat (plasma) sebagai anak angkat dalam suatu sistem
kerjasama yang saling menguntungkan bersama dengan lembaga keuangan
(perbankan). Bapak angkat merupakan badan usaha berskala besar yang telah
melaksanakan program kemitraan seperti BUMN, Perkebunan Besar Swasta
(PBSN dan PMA). Anak angkat adalah Koperasi Unit Desa (KUD) yang dibentuk
oleh petani peserta untuk mengurus kepentingan anggotanya dan mewakili
kelompok tani dalam segala hubungannya dengan perusahaan bapak angkat
maupun perbankan.
Maksud pola kemitraan bapak angkat anak angkat dibidang perkebunan
kelapa sawit adalah untuk membangun dan membina perkebunan rakyat dengan
teknologi maju. Tujuan pola kemitraan bapak angkat anak angkat dibidang

49

50

perkebunan

kelapa

sawit

adalah

untuk

meningkatkan

pendapatan

dan

kesejahteraan masyarakat dipedesaan sebagai peserta plasma. Sasaran pola


kemitraan bapak angkat anak angkat dibidang perkebunan kelapa sawit adalah
masyarakat yang ekonomi lemah dan berada disekitar wilayah perkebunan bapak
angkat (inti) sehingga kehidupan dan ekonominya lebih baik dari sebelumnya.
Pola kemitraan bapak angkat anak angkat PT BPP dikenal dengan Plasma
KKPA project. KKPA atau Kredit Koperasi Primer untuk Anggota adalah fasilitas
kredit yang diberikan kepada petani peserta melalui KUD dan dipergunakan untuk
membangun kebun anak angkat. Pengadaan tanah kebun plasma KKPA project
berasal dari penyerahan tanah oleh ninik mamak/pemilik/penguasa tanah (ulayat
adat) yang diserahkan kepada Negara melalui pemerintah daerah yang selanjutnya
diperuntukan bagi kelompok tani peserta plasma untuk dijadikan areal kebun
plasma dengan pola bapak angkat anak angkat. Petani peserta plasma KKPA
adalah petani yang ditetapkan sebagai penerima pemilikan kebun anak angkat atau
petani pemilik lahan yang diikutkan dalam proyek pola kemitraan bapak angkat
anak angkat.
Pola penumbuhan dan pengembangan organisasi petani plasma KKPA
dilakukan dengan menggabungkan petani peserta plasma beberapa desa kedalam
suatu KUD yang telah ada melalui program KKPA yang dalam pelaksanaan
manajemen digerakkan oleh pembina. Pembina program KKPA adalah PT BPP
dan intansi pemerintah seperti dinas koperasi, dinas perkebunan dan badan
pertanahan nasional. KUD merupakan kerjasama dari beberapa kelompok tani
peserta program KKPA. Kelompok petani adalah wadah kerjasama usahatani pada
suatu kesatuan produksi dari blok kebun yang merupakan hamparan, minimal 25

50

51

Kepala Keluarga (KK). Pembina melaksanakan studi banding dan pelatihan untuk
tenaga administrasi KUD dan kelompok tani.
PT BPP telah berhasil membangun beberapa KKPA project yakni :
1. KKPA Sungai Aur. KKPA ini ditandatangani bulan Agustus 1994 dan
dibangun sejak tahun 1995. Pada tahun 2005 pembangunan perkebunan untuk
KKPA Sungai Aur telah mencapai 3.021 hektar sedangkan akad kredit dengan
KUD Sungai Aur adalah 4.570 hektar. Untuk lahan yang belum ditanami
kelapa sawit akan direalisasikan pada tahun-tahun ke depan. Jumlah petani
peserta KKPA Sungai Aur adalah 2.366 KK.
2. KKPA Parit dimulai tahun 1995 dengan akad kredit 1800 Ha. Tahun 2005
telah dibangun kebun kelapa sawit seluas 1407 Ha. Jumlah petani peserta
adalah 905 KK.
3. KPNP dibangun tahun 1992 dengan dana yang diperoleh dari PT. BPP. Kebun
plasma KPNP telah dikonversi kepada petani tanggal 15 januari 2005 dengan
luas 250,6 hektar. Jumlah petani peserta adalah 404 KK.
4. Silawai Jaya dibangun sejak tahun 1996 didanai oleh PT. BPP. Sampai tahun
2005 telah mencapai luas 320 hektar dengan petani peserta sebanyak 277 KK.
Pembangunan KKPA Sungai Aur dan Parit pada awalnya didanai oleh
Bank Nusa Internasional dan Bank Nasional tetapi dana dari bank ini terhenti
pada bulan Juli 1997. Dalam kegiatan selanjutnya pendanaaan kebun plasma ini
diteruskan (refinancing) oleh Bank Niaga Jakarta. Dana berupa kredit yang
pengembaliannya berdasarkan angsuran kredit dengan suku bunga pinjaman 9,5
persen per tahun.

51

52

Dalam pola kemitraan ini, bapak angkat dan anak angkat memiliki tugas
dan kewajiban sendiri. Hal itu dijabarkan sebagai berikut :
A. Tugas dan Kewajiban PT BPP sebagai Bapak Angkat :
1. Membangun kebun inti dan fasilitas lainnya yang dapat menampung hasil
perkebunan anak angkat.
2. Membantu anak angkat untuk mendapatkan kredit dari perbankan guna
pembangunan kebun.
3. Menyediakan jaminan bagi anak angkat untuk memperoleh kredit sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
4. Mengadakan kontrak kerja bersama anak angkat dalam melaksanakan
pembangunan kebun.
5. Membina secara teknis anak angkat agar mampu mengusahakan kebunnya
dengan baik.
6. Membeli hasil produksi kebun anak angkat dengan harga yang layak sesuai
dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian dan Direktur
Jenderal Perkebunan, minimal selama satu periode tanaman ( 25 tahun).
7. Membina secara teknis KUD agar mampu mengkoordinir kelompok
petani/petani peserta plasma.
8. Memberikan bagian-bagian pekerjaan kepada anak angkat untuk yang mampu
melakukan.
9. Melakukan koordinasi dengan anak angkat dalam rangka penggunaan setiap
dana yang dikeluarkan untuk pembangunan kebun anak angkat.
10. Melaksanakan pelayanan usaha terhadap anak angkat seperti saprotan,
pengangkutan hasil, pemeliharaan jalan dan lain-lain.

52

53

11. Membina anak angkat bersama-sama dengan pemerintah daerah agar anak
angkat lebih mandiri sesuai dengan fungsinya.
12. Bersama-sama dengan anak angkat dan bank yang ditunjuk untuk
mendistribusikan hasil penjualan, seperti untuk angsuran kredit, untuk
pendapatan petani, dana perawatan, dana replanting, saprotan dan lain-lain.
13. Mentaati semua perjanjian kerjasama dalam rangka pola kemitraan sesuai
dengan kesepakatan yang telah disetujui dan ditandatangani.
14. Memberikan kesempatan kerja dikebun kepada anggota kelompok tani peserta
plasma dan masyarakat setempat.
15. Memperoleh manajemen fee dari anak angkat sesuai dengan ketentuan.
B. Tugas dan Kewajiban Anak Angkat/Koperasi Unit Desa (KUD) :
1. KUD didalam pola kemitraan bapak angkat anak angkat adalah KUD yang
telah ada di daerah yang bersangkutan atau KUD yang dibentuk oleh petani
peserta plasma untuk mengurus segala kepentingannya dalam bidang usaha
yang berkaitan dengan pola kemitraan bapak angkat anak angkat.
2. Pengurus KUD dipilih secara demokratis oleh dari anggota KUD yang
merupakan satu-satunya wadah kegiatan para petani peserta plasma dan
mewakilinya dalam berhubungan dengan perusahaan bapak angkat dan pihakpihak lainnya.
3. Untuk mempermudah pembinaan oleh KUD sebagai anak angkat yang
membawahi beberapa kelompok petani, diperlukan tenaga kerja yang
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang khusus , sebagai berikut :
a) Manajer KUD.
b) Ketua kelompok kebun plasma satu orang 50 hektar.

53

54

c) Mandor afdeling kebun plasma satu orang 200 hektar.


d) Juru buku (karani dan juru bayar).
e) Tenaga kerja untuk pemeliharaan/panen kebun, rata-rata 0,8 orang
perhektar.
Dalam pengelolaan kebun, satu KUD mengelola 1000 hektar kebun
plasma agar pembinaan dan pemantauan dapat terlaksana dengan baik. Pada
akhirnya setiap kelompok tani mampu mendirikan satu KUD untuk mengurus
kebun dan KUD yang ada sebelumnya, KUD baru yang membawahi beberapa
KUD akan berubah fungsi menjadi Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB).
Kebun plasma PT BPP belum semuanya dilakukan konversi. Konversi
atau pengalihan adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari persiapan
dokumen pengalihan termasuk penetapan petani peserta, penilaian kebun,
sertifikasi lahan sampai dengan penandatangan akad kredit sehingga terjadi
pengalihan status pemeliharaan kebun dari bapak angkat kepada petani plasma.
Konversi sulit dilakukan karena pembangunan kebun yang bertahap sehingga
tidak setiap petani plasma akan memperoleh kebun yang sudah menghasilkan.
Selain itu jumlah petani peserta melebihi standar jumlah lahan yang dibangun
sehingga petani tidak memperoleh kebun sesuai blok standar yaitu satu kapling
atau sekitar 2 hektar per KK. Konversi yang dapat dilakukan bersifat konversi
kolektif yaitu penyerahan lahan kepada kelompok tani. Oleh karena itu anggota
kelompok tani selaku plasma bersedia bertanggungjawab secara tanggung renteng
terhadap segala resiko atau kerugian yang dialami anggota proyek kemitraan.
Maksud dari tanggung renteng adalah kebun kelapa sawit merupakan milik
bersama petani plasma dan hasilnya dibagi rata untuk semua anggota.

54

BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Pendapatan Usaha Perkebunan PTPN VI dan PT BPP


6.1.1. Pendapatan Kebun Plasma
Pendapatan kebun plasma merupakan hasil pengurangan penerimaan
kebun plasma dengan biaya yang dikeluarkan. Penerimaan kebun plasma berasal
dari produksi TBS yang dihasilkan kebun kelapa sawit seluas 2 Ha (1 kapling)
dikalikan harga TBS yang diterima dari perusahaan inti dalam periode 1 tahun.
Biaya terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai (biaya diperhitungkan). Biaya
tunai yang dikeluarkan adalah biaya manajemen, pemeliharaan jalan, biaya
angkutan, pemberantasan hama dan penyakit, pupuk dan analisa daun, simpanan
wajib, replanting, PBB, dana sosial, upah tenaga kerja, peralatan dan angsuran
kredit. Biaya tidak tunai yang dikeluarkan kebun plasma adalah penyusutan
tanaman menghasilkan, penyusutan peralatan dan sewa lahan.
a) Biaya Tunai
Biaya tunai terbesar yang dikeluarkan oleh petani plasma PTPN VI adalah
biaya pupuk dan analisa daun sebesar Rp 3.925.000,00 dengan persentase sebesar
38,52 persen sedangkan untuk petani plasma PT BPP adalah angsuran kredit
sebesar Rp 1.661.097,00 atau 49,09 persen. Pemupukan dilakukan atas dasar
pendekatan hasil analisa daun yang dilakukan per tahun, hasil analisis tanah yang
dilakukan per lima tahun, pengamatan lapangan/lingkungan, proyeksi produksi,
data pemupukan sebelumnya, hasil percobaan dan aspek finansial. Jenis pupuk
yang diberikan adalah Urea, RP, MOP, Kieserit dan Borate.

56

Angsuran kredit untuk petani plasma PT BPP dilakukan dengan


pemotongan 30 persen dari hasil penjualan TBS setelah dipotong biaya produksi.
Jika pemotongan 30 persen penjualan TBS tidak mencukupi untuk pembayaran
angsuran minimum pinjaman bank maka PT BPP akan menutupi kekurangan atas
angsuran pinjaman tersebut. Jika pemotongan

30 persen melebihi angsuran

minimum pinjaman bank maka akan diperhitungkan sebagai tambahan


pembayaran pokok pinjaman setelah dikurangi dengan tagihan PT BPP atas
pinjaman untuk menutupi kekurangan angsuran minimum sebelumnya. Pinjaman
dana kebun plasma PT BPP akan dilunasi dalam jangka waktu 8 tahun dengan
masa tenggang 1 tahun. Petani plasma PTPN VI tidak melakukan angsuran kredit
karena kredit telah lunas pada Mei 1998. Komponen biaya tunai dan berapa besar
jumlah biayanya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Total Biaya Tunai Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005

Biaya Manajemen

PTPN VI
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)
42.890
0,42

Pemeliharaan Jalan

1.008.652

9,90

36.000

1,06

Biaya Angkutan

419.870

4,12

547.344

16,18

Pemberantasan H&P

30.000

0,29

30.000

0,89

Pupuk, Analisa Daun dll

3.925.000

38,52

294.611

8,71

Simpanan Wajib

432.901

4,25

0,00

Replanting

900.000

8,83

0,00

PBB/Kontribusi Amprah

115.000

1,13

0,00

Dana Sosial

492.000

4,83

0,00

10

Upah Tenaga Kerja

2.700.000

26,50

437.875

12,94

11

Peralatan

122.000

1,20

100.000

2,96

12

Angsuran Kredit

0,00

1.661.097

49,09

Total
10.188.313
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

100,00

3.383.777

100,00

No

Komponen Biaya Tunai

56

PT BPP
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)
276.849
8,18

57

Replanting adalah dana yang dikumpulkan untuk peremajaan kebun kelapa


sawit. Kelapa sawit yang dilakukan peremajaan adalah tanaman kelapa sawit yang
produktivitasnya sudah rendah (dibawah break event point biaya operasionalnya
atau biaya eksploitasi), batang tanamnya sudah terlalu tinggi dan umurnya
berkisar antara 2530 tahun setelah tanam. Dana peremajaan kebun plasma PTPN
VI dihimpun melalui program asuransi IDAPERTABUN (Iuran Dana Peremajaan
Tanaman Perkebunan) yang diadakan oleh AJB Bumi Putera 1912. Dana
peremajaan kebun plasma PTPN VI pada tahun 2005 sebesar Rp 900.000,00 atau
8,83 persen dari total biaya tunai. Dana replanting dihimpun 8 tahun sebelum
tanaman kelapa sawit berumur 25 tahun. Kebun plasma PT BPP belum dilakukan
penghimpunan dana replanting karena tanaman paling tua berumur 14 tahun.
Biaya manajemen yang dikenakan pada kebun plasma PTPN VI adalah
biaya operasional Koperasi Petani Sawit (KPS) dalam mengelola kebun plasma.
Semua biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun plasma kecuali upah tenaga kerja
dan peralatan dikelola oleh KPS. Petani plasma secara individu bertanggungjawab
dalam pemeliharaan kebun, jika dalam pemeliharaan menggunakan tenaga kerja
sewaan maka upah dibayar sendiri.
Biaya manajemen yang dikenakan pada kebun plasma PT BPP adalah
biaya operasional KUD dan kelompok tani. Biaya operasional ini dipotong
sebesar 5 persen dari hasil penjualan TBS setelah dikurangi biaya produksi (biaya
pemeliharaan, pengangkutan, PHP, pupuk, upah tenaga kerja dan peralatan).
Biaya operasional ini terbagi dua yaitu 70 persen untuk operasional kelompok tani
dan 30 persen untuk operasional KUD.

57

58

b) Biaya Tidak Tunai (Biaya yang Diperhitungkan)


Biaya tidak tunai pada kebun plasma PTPN VI adalah penyusutan tanaman
menghasilkan, penyusutan peralatan, dan sewa lahan sedangkan untuk petani
plasma PT BPP adalah penyusutan tanaman menghasilkan dan sewa lahan. Lahan
kebun plasma PT BPP belum dilakukan konversi yaitu pengalihan status
pemeliharaan kebun dari PT BPP kepada petani plasma. Petani plasma PT BPP
tidak melakukan pengelolaan kebun sendiri tetapi keseluruhan kebun plasma
dikelola oleh bagian estate plasma PT BPP. Petani plasma PT BPP merupakan
pemilik lahan dimana dibangun kebun plasma kelapa sawit sehingga sewa lahan
dimasukkan kedalam biaya tidak tunai. Pada petani plasma PTPN VI dan PT BPP
tidak mempunyai tenaga kerja dalam keluarga, yang dimasukkan kedalam biaya
tenaga kerja adalah tenaga kerja tetap dan tenaga kerja upahan.
Tabel 8. Total Biaya Tidak Tunai Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005

No

Komponen Biaya Tidak


Tunai

Penyusutan

Tanaman menghasilkan

Peralatan

Sewa Lahan

Total
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

PTPN VI
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

PT BPP
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

306.828

12,97

1.033.000

67.38%

58.334

2,47

0.00%

1.000.000

84,56

500.000

32.62%

1.365.162

100,00

1.533.000

100,00

Sewa lahan pada kedua kebun plasma ini berbeda yaitu pada kebun plasma
PTPN VI adalah Rp 1.000.000,00 (84,56 %) dan PT BPP sebesar Rp 500.000,00
(32.62 %). Harga ini disesuaikan dengan harga sewa lahan yang berlaku di daerah
masing-masing. Pada kebun plasma PT BPP sewa lahan relatif murah karena
terletak di daerah terpencil ( 250 Km dari Ibukota Propinsi) dan sebelumnya
merupakan lahan tidur yang tidak termanfaatkan.

58

59

c) Total Biaya Faktor Produksi Kebun Plasma Perkebunan Kelapa Sawit


Total biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun plasma PTPN VI sebesar
88,18 persen yang lebih besar dari biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun
plasma PT BPP sebesar 68,82 persen. Total biaya tidak tunai untuk petani plasma
PTPN VI adalah sebesar Rp 1.365.162,00 (11,82 %) sedangkan pada petani
plasma PT BPP adalah Rp 1.533.000,00 (31,18 %). Biaya produksi terbesar kebun
plasma PTPN VI adalah pupuk dan analisa daun sebesar 33,97 persen sedangkan
untuk kebun plasma PT BPP adalah angsuran kredit sebesar 33,78 persen.
Tabel 9. Total Biaya Kebun Plasma per 2 Ha Tahun 2005

No

Komponen Biaya

Komponen Biaya Tunai

Biaya Manajemen

Pemeliharaan Jalan

Biaya Angkutan

Pemberantasan H&P

Pupuk, Analisa Daun dll

PTPN VI
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

PT BPP
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

42.890

0,37

276.849

5,63

1.008.652

8,73

36.000

0,73

419.870

3,63

547.344

11,13

30.000

0,26

30.000

0,61

3.925.000

33,97

294.611

5,99

Simpanan Wajib

432.901

3,75

0,00

Replanting

900.000

7,79

0,00

PBB/Kontribusi Amprah

115.000

1,00

0,00

Dana Sosial

492.000

4,26

0,00

10

Tenaga Kerja

2.700.000

23,37

437.875

8,91

11

Peralatan

122.000

1,06

100.000

2,03

12

Angsuran Kredit

0,00

1.661.097

33,78

10.188.313

88,18

3.383.777

68,82

306.828

2,66

1.033.000

21,01

58.334

0,50

0,00

Total Biaya Tunai


B

Komponen Biaya Tidak Tunai

Penyusutan

Tanaman menghasilkan

Peralatan

Sewa Lahan

1.000.000

8,66

500.000

10,17

Total Biaya Tidak Tunai

1.365.162

11,82

1.533.000

31,18

Total Biaya
11.553.475
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

100,00

4.916.777

100,00

59

60

d) Pendapatan Usaha Kebun Plasma Perkebunan Kelapa Sawit


Pendapatan usaha perkebunan kelapa sawit diperoleh dengan cara
mengurangi penerimaan dengan biaya-biaya. Biaya yang dikeluarkan meliputi
biaya tunai dan biaya tidak tunai. Biaya total merupakan penjumlahan biaya tunai
dengan biaya tidak tunai. Pendapatan yang dihitung adalah pendapatan atas biaya
tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai diperoleh
dengan mengurangi penerimaan dengan biaya tunai sedangkan pendapatan atas
biaya total diperoleh dengan mengurangi penerimaan dengan biaya total.
Penerimaan diperoleh dari perkalian jumlah produksi dalam suatu periode
dengan harga penjualan yang berlaku. Pendapatan kebun plasma dihitung dalam
periode satu tahun yaitu pada tahun 2005 (Tabel 9). Dari 2 Ha kebun plasma
PTPN VI jumlah produksi rata-rata yang dihasilkan dalam satu tahun adalah
46.727,61 Kg sedangkan untuk kebun plasma PT BPP adalah 10.946,88 Kg.
Berbedanya jumlah produksi ini disebabkan perbedaan produktivitas tanaman
kelapa sawit. Produktivitas kelapa sawit dipengaruhi oleh umur tanaman dan
faktor lainnya seperti kriteria lahan, kesesuai iklim, kualitas bibit dan
pemeliharaan. Berdasarkan pusat penelitian Marihat Medan (Lampiran 9) untuk
tanaman kelapa sawit berumur 20-24 tahun TBS yang dihasilkan untuk lahan
kelas 1 (lahan yang baik) adalah 18-25 ton/Ha/tahun sehingga produksi pada
kebun plasma PTPN VI dianggap sudah optimal. Untuk tanaman kelapa sawit
berumur 3-14 tahun produksi TBS adalah 5-21 ton/Ha/tahun pada lahan kelas IV
(lahan tidak baik) sehingga dapat dilihat bahwa produksi kebun plasma PT BPP
tidak optimal.

60

61

Harga TBS rata-rata yang diterima oleh petani plasma PTPN VI pada
tahun 2005 adalah Rp 696,16/Kg sedangkan untuk petani plasma PT BPP adalah
Rp 637,88/Kg. Harga yang diterima petani plasma dari PT BPP berdasarkan harga
pasar TBS sedangkan untuk PTPN VI, perhitungan harga TBS dipengaruhi oleh
harga CPO, inti sawit dan faktor K yang ditetapkan oleh perusahaan.
Tabel 10. Analisis Pendapatan Perkebunan Kelapa Sawit Kebun Plasma
Per 2 Ha Tahun 2005
No

Uraian

Penerimaan

Produksi TBS

Harga TBS (Rp)/Kg

PTPN VI
46.727,61

10.946,88

696,16

637,88

32.530.050

6.982.820

224.380

32.530.050

7.207.200

10.188.313

3.383.777

1.365.162

1.533.000

Total Biaya

11.553.475

4.916.777

Pendapatan Atas Biaya Tunai

22.341.737

3.823.423

20.976.576

2.290.423

Penerimaan TBS
3

Premi/Finalty TBS (Rp)


Penerimaan Total

Biaya

Biaya Tunai

Biaya Tidak Tunai

PT BPP

D Pendapatan Atas Biaya Total


Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

Penerimaan kebun plasma PTPN VI adalah Rp 32.530.050,00 dan kebun


plasma PT BPP adalah Rp 6.982.820,00. Selain penerimaan dari TBS petani
plasma PT BPP juga memperoleh premi sebagai penerimaan. Premi diperoleh jika
kebun plasma menghasilkan TBS sesuai dengan standar yang berlaku. Pemberian
premi bertujuan untuk meningkatkan mutu hasil panen TBS dan meningkatkan
pendapatan petani plasma sesuai dengan jumlah dan mutu hasil yang diperoleh.
Pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh kebun plasma PTPN VI adalah
sebesar Rp 22.341.737,00 dan kebun plasma PT BPP adalah Rp 3.823.423,00.
Pendapatan

atas

biaya

total

untuk

61

petani

plasma

PTPN

VI

adalah

62

Rp 20.976.576,00 dan PT BPP adalah Rp 2.290.423,00. Selisih pendapatan atas


biaya total antara petani plasma PTPN VI dan PT BPP sebesar Rp 18.686.153,00
Pendapatan kebun plasma PT BPP lebih rendah disebabkan masih rendahnya
produksi kebun dan harga TBS yang diterima lebih kecil dari plasma PTPN VI.
Pendapatan kebun plasma PTPN VI merupakan pendapatan rata-rata yang
diterima oleh satu kepala keluarga petani peserta selama satu tahun sehingga
pendapatan atas biaya tunai perbulan adalah Rp 1.861.811,00 dan pendapatan atas
biaya total per bulan adalah Rp 1.748.048,00. Untuk kebun plasma PT BPP
pendapatan yang dihitung belum merupakan pendapatan yang diterima oleh petani
plasma. Pemilikan lahan rata-rata petani plasma adalah 1,13 hektar sehingga
pendapatan atas biaya tunai perbulan adalah Rp 180.019,00 dan pendapatan atas
biaya total petani adalah Rp 107.841,00 per bulan. Pendapatan ini tidak dapat
memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani peserta.

6.1.2. Pendapatan Kebun Inti


Komponen-komponen biaya pada kebun inti memiliki perbedaan dengan
biaya pada kebun plasma. Biaya tunai yang dikeluarkan kebun inti adalah gaji staf
perkebunan, biaya pemeliharaan tanaman, penyiangan, pemupukan, panen da
pengumpulan hasil, biaya pengangkutan tenaga pemborong dan lain-lain. Biaya
tidak tunai yang dikeluarkan kebun inti adalah penyusutan tanaman menghasilkan
dan penyusutan peralatan.
a) Biaya Tunai
Biaya tunai terbesar yang dikeluarkan oleh kebun inti PTPN VI adalah
biaya panen dan pengumpulan hasil sebesar Rp 2.623.326,00 dengan persentase

62

63

sebesar 35,18 persen sedangkan untuk kebun inti PT BPP adalah biaya
pemupukan sebesar Rp 4.061.182,00 atau 33,76 persen. Untuk gaji staf
perkebunan terdapat perbedaan yang cukup besar besar antara PTPN VI dan PT
BPP. Perbedaan ini disebabkan staf kebun Inti PTPN VI hanya 6 orang sedangkan
pada PT BPP adalah 19 orang juga terdapat perbedaan dalam jumlah gaji dan
tunjangan yang diberikan oleh masing-masing perusahaan.
Tabel 11. Total Biaya Tunai Kebun Inti 2 Ha Tahun 2005

No

Komponen Biaya Tunai

Gaji staf perkebunan

Pemeliharaan tanaman

PTPN VI
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)
222.370
2,98

PT BPP
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)
3.047.459
24,51

782.052

10,49

1.726.500

13,89

Penyiangan

1.197.731

16,06

0,00

Pemupukan

1.371.524

18,39

4.061.182

33,76

Panen dan Pengumpulan hasil


Biaya pengangkutan tenaga
pemborong
Lain-lain

2.623.326

35,18

2.020.963

16,80

1.129.769

15,15

1.173.464

9,75

130.867

1,75

0,00

7.457.639

100,00

12.029.568

100,00

6
7

Total
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

b) Biaya Tidak Tunai (Biaya Yang Diperhitungkan)


Biaya tidak tunai terbesar pada kedua perusahaan ini terdapat pada
penyusutan tanaman menghasilkan. Penyusutan tanaman menghasilkan pada
kebun inti PTPN VI adalah sebesar 91,39 persen (Rp 263.683,00) sedangkan
untuk kebun inti PT BPP adalah 77,01 persen (Rp 3.248.114,00). Penyusutan
peralatan untuk kebun inti PTPN VI dan PT BPP adalah Rp 24.857,00 dan Rp
969.839,00.

Jumlah

nominal

penyusutan

pada

kebun

inti

PT

BPP

(Rp 4.217.953,00) lebih besar jika dibandingkan dengan penyusutan pada kebun
inti PTPN VI (Rp 288.540,00). Perbedaan angka ini disebabkan perbedaan tahun
pembangunan kebun kelapa sawit, pembangunan kebun yang baru membutuhkan

63

64

modal dengan angka nominal yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.
Lahan yang digunakan oleh kebun inti merupakan lahan dengan hak guna usaha.
Tabel 12. Total Biaya Tidak Tunai Kebun Inti per 2 Ha Tahun 2005

No

Komponen Biaya Tidak


Tunai

PTPN VI
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

PT BPP
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

Penyusutan
1

Tanaman menghasilkan

Peralatan

Total
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

263.683

91,39

3.248.114

77,01

24.857

8,61

969.839

22,99

288.540

100,00

4.217.953

100,00

c) Total Biaya Faktor Produksi Kebun Inti Perkebunan Kelapa Sawit


Total biaya tunai yang dikeluarkan oleh kebun inti PTPN VI sebesar 96,28
persen yang memiliki persentase lebih besar dibandingkan biaya tunai yang
dikeluarkan oleh kebun inti PT BPP sebesar 74,04 persen. Total biaya tidak tunai
untuk kebun inti PTPN VI adalah sebesar 3,72 persen sedangkan kebun inti PT
BPP adalah 25,96 persen.
Tabel 13. Total Biaya Kebun Inti per 2 Ha Tahun 2005
No

Komponen Biaya

Komponen Biaya Tunai


1
Gaji staf perkebunan
2
Pemeliharaan tanaman
3
Penyiangan
4
Pemupukan
5
Panen dan Pengumpulan hasil
Biaya pengangkutan tenaga
6
pemborong
7
Lain-lain
Total Biaya Tunai
Komponen Biaya Tidak Tunai
1
Penyusutan
a
Tanaman menghasilkan
b
Peralatan
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

PTPN VI
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

PT BPP
Biaya
Persentase
(Rp)
(%)

222.370
782.052
1.197.731
1.371.524
2.623.326

2,87
10,10
15,46
17,71
33,87

3.047.459
1.726.500
0
4.061.182
2.020.963

18,76
10,63
0,00
25,00
12,44

1.129.769

14,58

1.173.464

7,22

130.867
7.457.639

1,90
96,28

0
12.029.568

0,00
74,04

263.683
24.857
288.540
7.746.179

3,40
0,32
3,72
100,00

3.248.114
969.839
4.217.953
16.247.521

19,99
5,97
25,96
100,00

64

65

Biaya produksi terbesar kebun inti PTPN VI terletak pada panen dan
pengumpulan hasil sebesar 33,87 persen sedangkan untuk kebun inti PT BPP
adalah pemupukan sebesar 25,00 persen. Jumlah nominal biaya kebun inti PT
BPP adalah Rp 16.247.571,00 yang lebih besar dari biaya kebun inti PTPN VI
(Rp 7.746.179,00). Jumlah biaya yang dikeluarkan kebun inti PT BPP lebih besar
daripada biaya yang dikeluarkan kebun inti PTPN VI baik untuk biaya tunai
maupun biaya tidak tunai.

d) Pendapatan usaha kebun inti perkebunan kelapa sawit


Pendapatan kebun inti yang dihitung adalah pendapatan atas biaya tunai
dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan yang dihitung merupakan pendapatan
dalam satu tahun pada tahun 2005. Luas areal kebun inti yang dihitung sama
dengan luas areal petani plasma yaitu 1 kapling (2 Ha). Pendapatan diperoleh
dengan mengurangi penerimaan dengan biaya. Penerimaan diperoleh dari
perkalian jumlah produksi dalam suatu periode dengan harga penjualan yang
berlaku.
Jumlah produksi rata-rata 2 Ha kebun inti PTPN VI yang dihasilkan pada
tahun 2005 adalah 36.644,48 Kg sedangkan untuk kebun plasma PT BPP adalah
35.838,59 Kg (Tabel 13). Umur tanaman pada kedua kebun inti berbeda, pada
kebun inti PTPN VI adalah 12-24 tahun sedangkan PT BPP adalah 3-15 tahun
tetapi jumlah produksi yang dihasilkan kedua kebun inti telah optimal. Jumlah
produksi kebun inti PTPN VI tidak jauh berbeda dengan kebun inti PT BPP.
Produktivitas kebun inti PTPN VI pada tahun 2005 adalah 18,32 ton/Ha dan
kebun inti PT BPP adalah 17,92 ton/Ha. Harga TBS yang digunakan dalam
perhitungan pendapatan kebun inti berdasarkan harga TBS yang berlaku pada

65

66

kebun plasma masing-masing perusahaan. Kebun inti PTPN VI dengan harga


TBS sebesar Rp 696,16/Kg dan untuk kebun inti PT BPP adalah Rp 637,88/Kg.
Penerimaan kebun inti PTPN VI adalah Rp 25.510.546,15 dan kebun inti
PT BPP adalah Rp 22.860.788,65. Pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh
kebun inti PTPN VI adalah sebesar Rp 18.052.907,00 dan kebun inti PT BPP
adalah Rp 10.831.221,00. Pendapatan atas biaya total untuk kebun inti PTPN VI
adalah Rp 17.764.367,00 dan PT BPP adalah Rp 6.613.297,00. Selisih pendapatan
atas biaya total antara kebun inti PTPN VI dan PT BPP sebesar
Rp 11.151.070,00. Hal ini disebabkan biaya tunai yang cukup tinggi dan biaya
penyusutan yang cukup besar pada kebun inti PT BPP.
Tabel 14. Analisis Pendapatan Perkebunan Kelapa Sawit Kebun Inti
Per 2 Ha Tahun 2005
No
A
1
2

Uraian

PTPN VI

Penerimaan
Produksi TBS (Kg)
Harga TBS (Rp)/Kg
Penerimaan TBS
B Biaya
1 Biaya Tunai
2 Biaya Tidak Tunai
Total Biaya
C Pendapatan Atas Biaya Tunai
D Pendapatan Atas Biaya Total
Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

PT BPP

36.644,48
696,16
25.510.546,15

35.838,59
637,88
22.860.788,65

7.457.639
288.540
7.746.179
18.052.907
17.764.367

12.029.568
4.217.953
16.247.521
10.831.221
6.613.267

6.1.3. Pendapatan Kebun Plasma dan Kebun Inti


Pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total pada kebun
plasma PTPN VI (Rp 22.341.737,00 dan Rp 20.976.576,000) lebih tinggi dari
pada pendapatan kebun inti (Rp 18.052.907,00 dan Rp 17.764.367,00). Hal ini
berarti petani plasma telah mampu mengadopsi teknologi perusahaan inti dalam

66

67

meningkatkan produksi dan tujuan pola kemitraan menyetarakan produktivitas


kebun plasma dapat setara dengan produktivitas kebun intinya telah tercapai.
Pada pola kemitraan di PT BPP, diperoleh pendapatan untuk kebun plasma
baik pendapatan atas biaya tunai maupun pendapatan atas biaya total
(Rp 3.823.423,00 dan Rp 2.290.423,00) lebih kecil dari kebun inti (Rp
10.831.221,00 dan Rp 6.613.297,00). Hal ini berarti perusahaan inti dalam
membina kebun plasma pada pola kemitraan yang dilaksanakan belum mampu
meningkatkan produktivitas kebun plasma setara dengan kebun inti.

6.1.4. Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit (PKS)


Pabrik kelapa sawit adalah bangunan yang terdiri dari stasiun-stasiun dan
beberapa unit peralatan teknis tempat pengolahan mulai dari penerimaan bahan
baku (TBS) sampai menjadi minyak sawit dan inti sawit. Tanaman kelapa sawit
akan menghasilkan 3 tahun setelah tanam.
PTPN VI berhasil membangun kebun kelapa sawit seluas 8.056 hektar
yang terdiri atas kebun inti seluas 3.256 hektar dan kebun plasma seluas 4.800
hektar. Penanaman kebun kelapa sawit dimulai tahun 1982. Pada awalnya kebun
menghasilkan produksi TBS yang masih rendah dan pengolahannya dilakukan
hanya dengan PKS pionir berkapasitas 10 ton TBS/jam. Meningkatnya produksi
TBS dari tahun ketahun sehingga telah dipasang dua lini PKS dengan kapasitas 20
ton TBS/jam. Pada tahun 1993 kapasitas pabrik ditingkatkan dari 40 ton TBS/jam
menjadi 50 ton TBS/jam atau 1000-1100 ton TBS/hari dengan melakukan
penambahan instalasi pabrik.

67

68

PT BPP sampai tahun 2005 berhasil membangun kebun kelapa sawit


seluas 12.580,41 hektar yang terdiri atas kebun inti seluas 8.125,4 hektar dan
kebun plasma seluas 4.455 hektar. PKS sebagai pengolah hasil produksi kebun
selesai dibangun bulan Mei 1996 dengan kapasitas 60 ton TBS/jam.
PKS menghasilkan minyak sawit dan inti sawit sebagai penerimaan.
Pendapatan PKS berasal dari volume minyak sawit dan inti sawit dikalikan
dengan harga minyak sawit dan inti sawit yang diterima perusahaan. Minyak
sawit dan inti sawit berasal dari bahan baku (TBS) plasma, inti, pihak III dan
mitra binaan. Volume produksi minyak dan inti sawit PTPN VI lebih besar dari
PT BPP karena PKS PT BPP hanya menerima bahan baku dari kebun inti dan
kebun plasma. Volume produksi minyak dan inti sawit kedua perusahaan ini dapat
dilihat pada Tabel 15. Biaya tunai PTPN VI terdiri dari pembelian bahan baku,
gaji dan tunjangan, pajak, laboratorium, keamanan, biaya listrik, air, telepon dan
lain-lain. Biaya tidak tunai pada PKS adalah penyusutan bangunan rumah, mesin
dan instalasi, aktiva hak guna usaha dan lain-lain (Lampiran 3).
Penerimaan PKS PTPN VI adalah Rp 176,39 milyar dan PKS PT BPP
adalah Rp 142,74 milyar. Pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh PKS PTPN
VI adalah sebesar Rp 95,44 milyar dan PKS PT BPP adalah Rp 108,82 milyar.
Pendapatan atas biaya total untuk PKS PTPN VI adalah Rp 93,78 milyar dan PT
BPP adalah Rp 99,59 milyar. Selisih pendapatan atas biaya total antara PKS
PTPN VI dan PT BPP sebesar Rp 5,81 milyar dimana pendapatan PKS PT BPP
lebih besar dari PTPN VI, hal ini disebabkan PKS PTPN VI memerlukan biaya
yang lebih besar daripada PKS PT BPP.

68

69

Tabel 15. Analisis Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit Tahun 2005


No

Uraian

Penerimaan

Produksi minyak sawit (Kg)

Harga minyak sawit (Rp/Kg)

PTPN VI
45.568.489

39.409.645

3.341,64

3.230

152.273.485.582

127.293.153.350

11.026.728

7.285.689

2.187,38

2.120

24.119.644.293

15.445.660.680

176.393.129.875

142.738.814.030

80.952.410.045

33.922.665.198

1.664.531.716

9.227.939.811

Total Biaya

82.616.941.761

43.150.605.009

Pendapatan Atas Biaya Tunai

95.440.719.830

108.816.148.832

93.776.188.114

99.588.209.021

Penerimaan minyak sawit (Rp)


3

Produksi inti sawit (Kg)

Harga inti sawit (Rp/Kg)


Penerimaan inti sawit (Rp)
Penerimaan total (Rp)

Biaya (Rp)

Biaya Tunai

Biaya Tidak Tunai

PT BPP

D Pendapatan Atas Biaya Total


Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

6.2. Analisis Imbangan Penerimaan terhadap Biaya (R/C)


Imbangan penerimaan atas biaya adalah penerimaan untuk setiap rupiah
yang dikeluarkan. Dengan analisis ini akan dapat diketahui apakah usaha
perkebunan kelapa sawit yang dilakukan efisien atau tidak. Usaha dikatakan
efisien jika nilai R/C yang didapat lebih dari satu dan tidak efisien jika nilai R/C
yang didapat adalah kurang dari satu.
Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai. R/C
yang dihitung adalah R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. Berdasarkan
Tabel 16, diperoleh R/C atas biaya tunai untuk kebun plasma PTPN VI adalah
3.19, artinya untuk setiap rupiah biaya tunai yang dikeluarkan akan diperoleh
penerimaan sebesar Rp 3,19 sedangkan untuk kebun plasma PT BPP diperoleh
R/C atas biaya tunai sebesar 2.13 yang berarti untuk setiap rupiah biaya tunai

69

70

yang dikeluarkan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 2,13. Pengertian untuk


nilai R/C atas biaya tunai untuk kebun inti dan pabrik kelapa sawit sama dengan
penjelasan nilai R/C atas biaya tunai pada kebun plasma.
Tabel 16. Nilai R/C Kebun Plasma, Kebun Inti dan Pendapatan Pabrik
Kelapa Sawit PTPN VI dan PT BPP
Kebun Plasma
No

Uraian

PTPN
VI

PT BPP

Kebun Inti
PTPN
VI

PKS

PT BPP

PTPN
VI

PT
BPP

R/C Atas Biaya Tunai

3.19

2.13

3.42

1.90

2.18

4.21

R/C Atas Biaya Total

2.82

1.47

3.29

1.41

2.14

3.31

Sumber : PTPN VI dan PT BPP (diolah)

R/C atas biaya tunai pada pola kemitraan PTPN VI untuk petani plasma
adalah 3.19 yang memiliki nilai lebih kecil dari kebun inti yaitu 3.42. Hal ini
berarti usaha kebun inti lebih menguntungkan dan lebih efisien. R/C atas biaya
tunai pada pola kemitraan PT BPP untuk petani plasma (2.13) lebih besar dari
kebun inti (1.90) yang berarti usaha kebun plasma PT BPP lebih efisien
dibandingkan kebun intinya. Efisiensi kebun plasma PT BPP dipengaruhi oleh
biaya tunai yang dikeluarkan, karena biaya dihitung berdasarkan produksi yang
dihasilkan seperti untuk angsuran kredit dan tenaga kerja upahan.
R/C atas biaya total untuk kebun plasma PTPN VI adalah 2.82 yang
berarti untuk setiap rupiah biaya total yang dikeluarkan akan diperoleh
penerimaan sebesar Rp 2,82. Untuk petani plasma PT BPP diperoleh R/C atas
biaya total sebesar 1.47 yang berarti untuk setiap rupiah biaya tunai yang
dikeluarkan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 1,47. Pengertian untuk nilai
R/C atas biaya total untuk kebun inti dan pabrik kelapa sawit sama dengan
penjelasan nilai R/C atas biaya total pada kebun plasma.

70

71

Hasil perhitungan nilai R/C untuk PKS, PKS PT BPP didapat nilai R/C
atas biaya tunai sebesar 4.21 dan R/C atas biaya total sebesar 3.31 yang lebih
besar dari nilai R/C PKS PTPN VI (2.18 dan 2.14). Nilai R/C ini
mengindentifikasikan bahwa usaha pabrik kelapa sawit PT BPP lebih efisien dan
menguntungkan dari usaha Pabrik kelapa sawit Kebun Plasma PTPN VI
Keuntungan dari PKS inilah yang dimanfaatkn oleh PT BPP dalam membangun
perkebunan kelapa sawit yang masih berlanjut hingga sekarang. Untuk PTPN VI
diperlukan perbaikan-perbaikan PKS karena umur pabrik dan peralatan yang
sudah tua.
Dari keseluruhan hasil perhitungan R/C atas biaya tunai dan R/C atas
biaya total kebun plasma, kebun inti dan pabrik kelapa sawit diperoleh nilai yang
lebih besar dari satu yang berarti usaha perkebunan kelapa sawit pada pola
kemitraan PTPN VI dan PT BPP yang dilakukan sudah efisien. Walaupun
sekarang PTPN VI lebih efisien pada kebun inti dan kebun plasma dari PT BPP
tetapi PTPN VI memasuki tahap dimana perlu dilakukan peremajaan dengan
pendapatan dari kebun kelapa sawit sama dengan nol.
6.3. Penyerapan Tenaga Kerja
6.3.1. PTPN VI
Jumlah tenaga kerja (31 Desember 2005) pada PTPN VI dapat dilihat pada
Tabel 17. Tenaga kerja pada PTPN VI terdiri dari tenaga kerja tetap (karyawan)
dan tenaga kerja lain (honorer). Pada tahun 2005 tersedia tenaga kerja pria 606
orang dan tenaga kerja wanita 166. Jam kerja efektif adalah 7 jam/hari dan hari
kerja efektif dalam satu tahun adalah 272 hari.

71

72

Tabel 17. Tenaga Kerja PTPN VI Periode Desember 2005


No

Unit/Bagian

Jumlah TK Tetap

Jumlah TK lain

Pria

Wanita

Jumlah

Pria

Wanita

Jumlah

Tanaman

260

123

383

Teknik

91

95

Keuangan

27

36

Umum

43

14

59

12

20

Pengolahan

175

179

598

154

752

12

20

Jumlah

Sumber : Profil PTPN VI, 2005


Untuk bagian budidaya atau tanaman pada PTPN VI tersedia tenaga kerja :
1. Tenaga kerja pria adalah 260 orang = 260 HOK/hari
2. Tenaga kerja wanita adalah 123 orang = 98,4 HOK/hari
3. Total HOK yang tersedia adalah 358,4 HOK
4. HOK untuk satu tahun adalah 97484,8 HOK
HOK untuk kebun kelapa sawit seluas 1 Ha adalah 29,94 HOK/tahun.
Dalam satu tahun hari kerja terhitung adalah 300 hari. Penyerapan tenaga kerja
untuk budidaya tanaman kelapa sawit adalah 0,1 HOK/ Ha atau membutuhkan 0,7
tenaga kerja dalam aktivitas budidaya tanaman kelapa sawit.
Penyerapan tenaga kerja selain pada bagian budidaya kelapa sawit PTPN
VI adalah :
1. Tenaga kerja pria adalah 346 orang = 346 HOK/hari
2. Tenaga kerja wanita adalah 43 orang = 34,4 HOK/hari
3. Total HOK yang tersedia adalah 380,4 HOK
4. HOK untuk satu tahun adalah 103.468,8 HOK
HOK untuk kebun kelapa sawit seluas 1 Ha adalah 12,84 HOK/tahun atau
0,30 tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja total untuk 1 hektar kebun kelapa

72

73

sawit PTPN VI pada periode tahun 2005 adalah satu tenaga kerja. PTPN VI telah
membuka kesempatan kerja bagi 752 orang tenaga kerja tetap dan memanfaatkan
tenaga kerja honorer sebesar 20 orang. Selain menggunakan tenaga kerja tetap,
PTPN VI juga menggunakan tenaga kerja borongan.

6.3.2. PT BPP
Tenaga kerja PT BPP terdiri dari Staff, karyawan HIP, karyawan SKU dan
buruh harian lepas. Karyawan HIP merupakan karyawan bulanan tetap dan
karyawan SKU adalah karyawan harian tetap. Jam kerja efektif adalah 7 jam/hari
pada hari senin sampai kamis dan 6 jam pada hari jumat dan sabtu. Hari kerja
efektif dalam satu minggu adalah 272 hari. Jumlah tenaga kerja tersedia (31
Desember 2005) untuk bagian budidaya atau tanaman PT BPP adalah :
1. Tenaga kerja pria adalah 789 orang = 789 HOK/hari
2. Tenaga kerja wanita adalah 339 orang = 271,2 HOK/hari
3. Total HOK yang tersedia adalah 1.136 HOK
4. HOK untuk satu minggu rata-rata adalah 6.059,98 HOK
5. HOK untuk satu tahun adalah 290.879,04 HOK
HOK untuk kebun kelapa sawit seluas 1 Ha adalah 35,80 HOK/tahun.
Dalam satu tahun hari kerja terhitung adalah 300 hari. Penyerapan tenaga kerja
untuk budidaya tanaman kelapa sawit adalah 0,12 HOK/Ha atau membutuhkan
0,84 tenaga kerja dalam aktivitas budidaya tanaman kelapa sawit.
Penyerapan tenaga kerja selain bagian budidaya pada PT BPP adalah
sebagai berikut :

73

74

1. Tenaga kerja pria adalah 345 orang = 345 HOK/hari


2. Tenaga kerja wanita adalah 148 orang = 118,4 HOK/hari
3. Total HOK yang tersedia adalah 463.4 HOK
4. HOK untuk satu minggu rata-rata adalah 2.647,98 HOK
5. HOK untuk satu tahun adalah 127.103,04 HOK
HOK untuk kebun kelapa sawit seluas 1 Ha adalah 10.10 HOK/tahun atau
0.24 orang/Ha. Penyerapan tenaga kerja total untuk 1 hektar kebun kelapa sawit
PT BPP pada periode tahun 2005

adalah 1,08 tenaga kerja. PT BPP telah

membuka kesempatan kerja bagi 1621 tenaga kerja.

6.4. Peran Tenaga Kerja Kebun Plasma Terhadap Produksi Kebun Plasma
Pengaruh tenaga kerja terhadap produksi dapat dilihat dengan model
regresi. Model regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor tenaga kerja
dan faktor lain seperti modal pada kebun plasma terhadap produksi kebun plasma.
Data diolah dengan perangkat lunak komputer Minitab Release 14. Hasil estimasi
data dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 18. Hasil Estimasi Regresi Produksi Usaha Kebun Plasma
Variabel

Notasi

Koefisien

Konstan

2.61

0.76

0.452

Modal

X1

-0.000002

-0.50

0.618

Tenaga kerja

X2

0.788

18.07

0.000

Ket :

R2

: 95.5 %

R2 adjust(%) : 95.1 %
Uji-F

: 283.52

74

75

Uji R2
Berdasarkan hasil estimasi regresi Tabel 17, diperoleh nilai R2 sebesar 95,5
persen artinya model mampu dijelaskan oleh tenaga kerja dan modal didalam
persamaan sebesar 95,5 persen sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain
diluar model. Faktor-faktor lain yang tidak dijelaskan didalam model terdiri dari
pengaruh cuaca, kesesuaian lahan dan lain-lain.
Uji F-Statistik
Nilai F-statistik pada hasil analisis regresi ini sebesar 283.52 dengan nilai
probabilitasnya sebesar 0,000. Persamaan tersebut lulus uji F-statistik, dimana
nilai F-tabel pada taraf nyata 5 persen (F-tabel = 19,5) lebih kecil dari pada nilai F
statistiknya. Jadi dapat disimpulkan ada salah satu variabel penjelas (modal dan
tenaga kerja) yang berpengaruh nyata terhadap output pada tingkat kepercayaan 5
persen.
Uji t-statistik
Pengujian terhadap masing-masing variabel bebas dilakukan dengan uji
t-statistik. Pengujian t-statistik dapat dilakukan dengan melihat nilai t-tabel atau
nilai probabilitas dari masing-masing variabel bebas. Berdasarkan Tabel 1, dapat
dilihat bahwa faktor produksi tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi
karena memiliki nilai t-statistik yang lebih besar daripada nilai t-tabel pada taraf
nyata 5 persen (t-tabel = 2,01) dan nilai probabilitas 0,000. Modal tidak
berpengaruh nyata terhadap produksi.
Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas dapat dideteksi dengan melihat korelasi antar peubah
bebasnya (X). Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation

75

76

Factor) berdasarkan hasil estimasi regresidiperoleh nilai VIF sebesar 1,7 (< 10)
untuk peubah bebasnya (tenaga kerja dan modal) sehingga dapat disimpulkan
bahwa masing-masing peubah tidak terdapat gejala multikolinearitas.
Interpretasi Peubah-Peubah Dalam Model
Y = 2.61 - 0.000002 X1 + 0.788 X2
Berdasarkan dari hasil regresi linear sederhana diatas dapat dijelaskan
beberapa koefisien yaitu konstanta atau sebesar 2,61 menunjukkan bahwa ratarata produksi kebun plasma pada bulan Desember tahun 2005 adalah 2,61 ton
ketika penggunaan tenaga kerja dan modal adalah nol. Untuk koefisien dari modal
(b1) diperoleh nilai negatif dan nilai probabilitas yang menunjukkan bahwa modal
tidak berpengaruh nyata terhadap produksi. Untuk nilai b2 yang merupakan
koefisien dari tenaga kerja diperoleh nilai 0,788 artinya setiap peningkatan
penggunaan faktor produksi tenaga kerja 1 HOK maka akan menyebabkan
peningkatan produksi sebesar 0,788 ton. Hasil estimasi menunjukkan bahwa
faktor tenaga kerja berpengaruh secara nyata terhadap produksi kebun plasma.
Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak usaha perkebunan kelapa sawit maka
akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

76

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan
1. Pola kemitraan yang dilaksanakan oleh PTPN VI adalah pola PIR-Bun yang
dikenal dengan proyek NESP Ophir. Proyek NESP Ophir telah berhasil
menciptakan petani mandiri dengan pembentukan organisasi/koperasi petani
sawit yang dapat menyalurkan aspirasi petani plasma. Pola kemitraan PT BPP
adalah pola Bapak Angkat Anak Angkat yang dikenal dengan Plasma KKPA
project. Plasma KKPA project masih bersifat tanggung renteng yaitu kebun
milik bersama yang hasil dan biayanya dibagi rata.
2. Pendapatan kebun plasma dan kebun inti PTPN VI lebih tinggi dari PT BPP.
Untuk pendapatan pabrik kelapa sawit, Pabrik kelapa sawit PT BPP
memperoleh pendapatan yang lebih besar dari PTPN VI. Pendapatan pada
kebun plasma PT BPP tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani
peserta.
3. Tenaga kerja yang terserap pada perusahaan PTPN VI adalah sebanyak 772
karyawan dan satu hektar kebun kelapa sawit PTPN VI pada periode tahun
2005 membutuhkan satu tenaga kerja. Tenaga kerja yang terserap pada PT
BPP adalah sebanyak 1621 orang dan satu hektar kebun kelapa sawit PT BPP
pada periode tahun 2005 membutuhkan 1,08 tenaga kerja. PT BPP lebih
banyak menyerap tenaga kerja dalam masyarakat untuk usaha perkebunan
yang dilakukan dari pada PTPN VI.

78

4. Tenaga kerja kebun plasma sangat berperan dalam meningkatkan produksi


kebun plasma. Produksi kebun plasma perkebunan kelapa sawit dipengaruhi
secara nyata oleh tenaga kerja. Setiap peningkatan penggunaan tenaga kerja
pada kebun plasma maka akan menyebabkan peningkatan produksi kebun
plasma. Semakin banyak usaha perkebunan kelapa sawit maka akan
meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

7.2. Saran
1. Pola kemitraan yang dikembangkan harus ditujukan untuk menciptakan
kemandirian petani plasma seperti yang dilakukan pada proyek NESP Ophir.
Pembentukan dan pengelolan organisasi petani plasma/KPS/KUD harus atas
partisipasi dari anggota yang pembinaannya dilakukan oleh perusahaan inti
dan pemerintah
2. Kedua sistem kemitraan usaha perkebunan kelapa sawit baik proyek NESP
maupun plasma KKPA project telah membuka kesempatan kerja yang cukup
besar dalam masyarakat. Pola kemitraan dapat lebih banyak dikembangkan
di daerah tetapi pelaksanaannya perlu dipantau oleh pemerintah pusat dan
pemerintah daerah. Perusahaan inti tidak boleh hanya memperkaya diri sendiri
dan menggunakan kebun plasma sebagai jaminan bahan baku pabrik kelapa
sawit. Harus diciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara petani
plasma dan perusahaan inti.
3. Proyek NESP Ophir telah berhasil memberikan pendapatan yang cukup besar
kepada petani plasma dan menyerap tenaga kerja. Perlu dikembangkan pola
kemitraan yang serupa di daerah lain tetapi dengan perencanaan yang lebih

78

79

baik dan petani peserta adalah masyarakat sekitar yang tidak memiliki
pekerjaan tetap.
4. Penelitian ini masih memiliki ruang lingkup yang terbatas, untuk penelitian
selanjutnya dapat diteliti mengenai perbandingan pola kemitraan antara dua
perusahaan inti milik negara atau antara dua perusahaan inti milik swasta.
Kurangnya data yang diperoleh dari kebun plasma menyebabkan keterbatasan
dalam menganalisis, untuk selanjutnya mungkin penelitian dapat lebih
difokuskan kepada petani plasma dalam pola kemitraan.

79

80

DAFTAR PUSTAKA
Ananta, Aris. 1990. Ekonomi Sumberdaya Manusia. Lembaga Demografi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Anwar, effendi et al. 1985. Studi Pola Pengembangan Perkebunan yang
Dikaitkan dengan Program Tranmigrasi. Laporan penelitian IPB. Bogor.
Badan Pusat Statistik. 2004. Direktori Perkebunan Kelapa Sawit. Jakarta.
................................. 2005. Statistik Indonesia 2004. Jakarta.
Daim, Chamidun. 2003. Pengembangan kemitraan dan Dukungan
Pendanaannya di bidang perkebunan. Makalah Pengantar Falsafah Sains
Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2005. Statistik Perkebunan Indonesia. Jakarta.
Gujarati, Damodar. 1978. Ekonometrika Dasar (terjemahan). Penerbit Erlangga.
Jakarta.
Indrianisari, Ani. 1999. Kerjasama Inti Rakyat Dalam Upaya Meningkatkan
Penyerapan Tenaga Kerja Dan Pendapatan Usahatani Sutera Alam.
Skripsi Sarjana Tidak Dipublikasikan, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Mubyarto et al. 1992. Tanah dan Tenaga Kerja Perkebunan Kajian Sosial
Ekonomi. Aditya Media, Yogyakarta.
Muchtar, Muchlis. 1987. Dampak Ekonomi Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit
Ophir Terhadap Pengembangan Wilayah Pasaman Barat. Universitas
Andalas. Padang.
S, Yudistira P. 2003. Analisis Finansial dan Ekonomi Kelapa Sawit Perkebunan
Kelapa Sawit Pt Mesa Inti Kebun Kabupaten Musi Banyu Asin. Skripsi
Sarjana Tidak Dipublikasikan, Fakulas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Siahaan, R. H. 1985. Pengembangan dan Pembinaan Perkebunan Rakyat.
Universitas Sisingamangaraja XII. Medan.
Simanjuntak, Payaman J. 1998. Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia.
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Soegiharto, Saraswati. 2004. Potret Tenaga kerja di Sektor Pertanian. Warta
Ketenagakerjaan edisi (Nopember) 2004.

80

81

Soeharjo, A dan Dahlan Patong. 1973. Sendi-Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Soekartawi et al. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan
Petani Kecil.Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Soetarto et al. 2000. Prosiding Lokakarya Pola Penguasaan Lahan Dan Pola
Usaha Serta Pemberdayaan Bpn Dan Pemda Dalam Rangka Partisipasi
Di Sektor Perkebunan. Pustaka Wirausaha Muda, Bogor.
Suharto, Rosediana. 2006. Industri Kelapa SawitTumbuh Signifikan. Republika
Online 24 Januari 2006. Jakarta.

81

82

LAMPIRAN

82

83

Lampiran 1. Pendapatan Rata-rata Kebun Plasma Kelapa Sawit PTPN VI


Tahun 2005 per 2 Hektar
No
A
1
2

B
1

C
D
E
F

Uraian

Jumlah

Penerimaan
Produksi TBS(Kg)
Harga TBS (Rp/Kg)
Penerimaan (Rp)

46727.61
696.16
32530050.48

Biaya (Rp)
Biaya Tunai
Biaya Manajemen
Biaya Angkutan
Pemeliharaan Jalan
Pemberantasan H&P
Pupuk, Analisa Daun dll
Simpanan Wajib
Replanting
PBB/Kontribusi Amprah
Dana Sosial
Tenaga Kerja
Peralatan
Total Biaya Tunai
Biaya Tidak Tunai
Penyusutan
Tanaman menghasilkan
Peralatan
Sewa Lahan
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya

306827.51
58334.00
1000000.00
1365161.51
11553474.51

Pendapatan Atas Biaya Tunai


Pendapatan Atas Biaya Total
R/C Atas Biaya Tunai
R/C Atas Biaya Total

22341737.48
20976575.97
3.19
2.82

42890.00
1008652.00
419870.00
30000.00
3925000.00
432901.00
900000.00
115000.00
492000.00
2700000.00
122000.00
10188313.00

Sumber : PTPN VI (diolah)

83

84

Lampiran 2. Pendapatan Rata-rata Kebun Inti Perkebunan Kelapa Sawit


PTPN VI Tahun 2005 per 2 Hektar
No
A
1
2

B
1

C
D
E
F

Uraian

Jumlah

Penerimaan
Produksi TBS (Kg)
Harga TBS (Rp/Kg)
Penerimaan (Rp)

36644.48
696.16
25510546.15

Biaya (Rp)
Biaya Tunai
Gaji staf perkebunan
Pemeliharaan tanaman
a. Gaji dan biaya sosial pegawai non staf
b. Pemeliharaan jalan
c. Saluran air
d. Alat-alat dan perlengkapan
Penyiangan
a. Pemberantasan lalang dengan kimiawi
b. Menyiang dan merumput dengan tenaga sendiri
c. Menyiang danmerumput dengan kimiawi
d. Menyiang dan merumput dengan tenaga pemborong
e. Alat-alat dan perlengkapan
Pemupukan
a. Upah pemupukan
b. Analisa daun
c. Pupuk
d. Biaya pengangkutan
e. Alat-alat dan perlengkapan
Lain-lain
a. Pemangkasan
b. Inventaris pokok
Panen dan Pengumpulan hasil
a. Gaji dan biaya sosial pegawai non staf
b. Upah dan biaya sosial karyawan
c. Premi non staf
d. Premi karyawan
e. Monotoring buah
f. Alat-alat dan perlengkapan
g. Lain-lain
Biaya pengangkutan tenaga pemborong
Total Biaya Tunai

300096.98
774103.97
238578.06
1142453.22
26142.56
21302.21
120649.44
1129768.68
7457638.75

Biaya Tidak Tunai


Penyusutan
Tanaman menghasilkan
Peralatan
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya

263682.67
24857.46
288540.13
7746178.88

Pendapatan Atas Biaya Tunai


Pendapatan Atas Biaya Total
R/C Atas Biaya Tunai
R/C Atas Biaya Total

222370.24
652990.64
90972.50
2987.16
35101.35
66171.97
801015.49
130544.43
153120.79
46878.12
98666.45
3405.85
1219722.39
23954.92
25774.57
118923.50
11943.25

18052907.40
17764367.27
3.42
3.29

Sumber : PTPN VI (diolah)

84

85

Lampiran 3. Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit PTPN VI Tahun 2005


No
A
1
2
3
4

B
1

C
D
E
F

Uraian
Penerimaan
Produksi minyak sawit (Kg)
Harga minyak sawit (Rp/Kg)
Penerimaan minyak sawit (Rp)
Produksi inti sawit (Kg)
Harga inti sawit (Rp/Kg)
Penerimaan inti sawit (Rp)
Penerimaan total (Rp)

Jumlah
45568489.00
3341.64
152273485581.96
11026728.00
2187.38
24119644293
176393129874.60

Biaya (Rp)
Biaya Tunai
Pembelian bahan baku dari plasma
Pembelian bahan baku dari pihak III
Pembelian minyak sawit
Gaji dan tunjangan
Pajak
Biaya keamanan
Perjalanan, pengangkutan dan penginapan
Biaya laboratorium
Biaya mess
Pendidikan dan pelatihan
Biaya poliklinik
Biaya listrik, air dan telepon
Pengangkutan
Biaya bengkel
Alat tulis kantor
Imbalan kerja/premi
Beban asuransi
Pemeliharaan dan perbaikan
Biaya pengolahan
Biaya pengepakan
Lain-lain
Jumlah Biaya Tunai
Biaya Tidak Tunai
Penyusutan
Bangunan rumah
Bangunan perusahaan
Mesin dan instalasi
Jalan, jembatan dan saluran air
Alat pengangkutan
Biaya survey
Aktiva Hak guna Usaha
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya
Pendapatan Atas Biaya Tunai
Pendapatan Atas Biaya Total
R/C Atas Biaya Tunai
R/C Atas Biaya Total

6077105434.00
1359201430.00
24014895417.00
16030472486.00
356296011.00
1192739172.00
609872462.00
1113904765.00
265654721.00
2224939944.00
1372352421.00
6117670875.00
991747726.00
1704369777.00
22914000.00
998048155.00
961607804.00
7678707520.00
7429071672.00
210133651.00
220704602
80952410045.00
40221856.00
35817781.00
1453284308.00
82363678.00
48946199.00
646692.00
3251202.00
1664531716.00
82616941761.00
95440719829.60
93776188113.60
2.18
2.14

Sumber : PTPN VI (diolah)

85

86

Lampiran 4. Pendapatan Rata-rata Kebun Plasma Perkebunan Kelapa Sawit


PT BPP Tahun 2005 per 2 Hektar
No
A
1
2
3

B
1

C
D
E
F

Uraian

Jumlah

Penerimaan
Produksi TBS (Kg)
Harga TBS (Rp/Kg)
Penerimaan TBS (Rp)
Premi/Finalty TBS (Rp)
Penerimaan total (Rp)

10946.88
637.88
6982819.97
224379.80
7207199.77

Biaya (Rp)
Biaya Tunai
Biaya Manajemen
Biaya Angkutan
Pemeliharaan Jalan
Pemberantasan H&P
Pupuk, Analisa Daun dll
Angsuran Kredit
Tenaga Kerja
Peralatan
Total Biaya Tunai
Biaya Tidak Tunai
Penyusutan
Tanaman menghasilkan
Peralatan
Sewa Lahan
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya

276849.48
547344.00
36000.00
30000.00
294611.22
1661096.86
437875.20
100000.00
3383776.76

1033000.00
0.00
500000.00
1533000.00
4916777.00

Pendapatan Atas Biaya Tunai


Pendapatan Atas Biaya Total
R/C Atas Biaya Tunai
R/C Atas Biaya Total

3823423
2290423
2.13
1.47

Sumber : PT BPP (diolah)

86

87

Lampiran 5. Pendapatan Rata-rata Kebun Inti Perkebunan Kelapa Sawit


PT BPP Tahun 2005 per 2 Hektar
No
A
1
2

B
1

C
D
E
F

Uraian

Jumlah

Penerimaan
Produksi TBS (Kg)
Harga TBS (Rp/Kg)
Penerimaan (Rp)

35838.59
637.88
22860788.65

Biaya (Rp)
Biaya Tunai
Gaji staf perkebunan
Pemeliharaan tanaman
Pemupukan
Panen dan pengumpulan hasil
Biaya pengangkutan tenaga pemborong
Total Biaya Tunai
Biaya Tidak Tunai
Penyusutan
Tanaman menghasilkan
Peralatan
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya

3047458.99
1726499.80
4061182.38
2020963.02
1173463.88
12029568.07

3248114.44
969839.00
4217953.44
16247521.49

Pendapatan Atas Biaya Tunai


Pendapatan Atas Biaya Total
R/C Atas Biaya Tunai
R/C Atas Biaya Total

10831220.59
6613267.16
1.90
1.41

Sumber : PT BPP (diolah)

87

88

Lampiran 6. Pendapatan Pabrik Kelapa Sawit PT BPP Tahun 2005


No
A
1
2
3
4

B
1

C
D
E
F

Uraian
Penerimaan
Produksi minyak sawit (Kg)
Harga minyak sawit (Rp)
Penerimaan minyak sawit (Rp)
Produksi inti sawit (Kg)
Harga inti sawit (Rp)
Penerimaan inti sawit (Rp)
Penerimaan total (Rp)

Jumlah
39409645
3230
127293153350
7285689
2120
15445660680
142738814030

Biaya (Rp)
Biaya Tunai
Pembelian bahan baku dari plasma
Pembelian bahan baku dari pihak III
Biaya pelabuhan
Gaji dan tunjangan
Pajak
Keamanan
Perjalanan dinas
Beban pensiun
Biaya listrik, air dan telepon
Pengangkutan
Pendidikan dan pelatihan
Jasa profesional
Alat tulis kantor
Akomodasi/sewa mess
Perijinan dan retribusi
Imbalan kerja
Beban asuransi
Pemeliharaan dan perbaikan
Beban proses pengolahan
Pengangkutan minyak kelapa sawit
Laboratorium
Lain-lain
Jumlah Biaya Tunai
Biaya Tidak Tunai
Penyusutan dan amortisasi
Jalan, jembatan dan saluran air
Bangunan
Mesin dan peralatan
Alat-alat pengangkutan
Peralatan dan perabotan kantor
Aktiva sewa guna usaha
Total Biaya Tidak Tunai
Total Biaya

1410323028
5451940365
590867940
6357692929
4117240605
1242607440
685518270
559037013
2938715164
921040524
437827011
385603692
292231345
286784863
248187565
175972410
124585030
2265452333
1198226321
2477423047
147937608
1607450695
33922665198
1222425821
2526371229
3918960281
794088499
273067671
493026310
9227939811
43150605009

Pendapatan Atas Biaya Tunai


Pendapatan Atas Biaya Total
R/C Atas Biaya Tunai
R/C Atas Biaya Total

108816148832
99588209021
4.21
3.31

Sumber : PT BPP (diolah)

88

89

Lampiran 7. Data Produksi, Tenaga Kerja dan Modal Pada Kebun Plasma
PTPN VI Bulan Desember 2005
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Produksi (ton)
2.72
2.93
4.02
2.61
3.03
3.81
3.10
3.78
2.15
3.67
4.31
2.88
2.81
4.96
1.94
4.14
4.15
4.38
4.13
4.11
4.14
4.26
3.93
4.33
5.07
5.27
5.03
4.72
5.30
4.00

Tenaga Kerja (HOK)


2.28
2.28
4.00
2.28
2.84
3.44
2.84
3.44
1.72
3.44
4.56
2.28
2.28
5.16
1.72
4.00
4.00
4.56
4.56
4.00
4.00
4.56
3.44
4.56
5.16
5.16
5.16
4.56
5.16
4.00

Modal (Rp)
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
973783
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963
947963

Sumber : PTPN VI (diolah)


Lampiran 8. Hasil Regresi Sederhana Faktor Produksi Perkebunan Kelapa
Sawit Kebun Plasma
The regression equation is
Y = 2.61 - 0.000002 X1 + 0.788 X2
Predictor
Constant
X1
X2

Coef
2.614
-0.00000174
0.78759

SE Coef
3.424
0.00000345
0.04359

T
0.76
-0.50
18.07

89

P
0.452
0.618
0.000

VIF
1.7
1.7

90

S = 0.365806

R-Sq = 95.5%

PRESS = 3.78914

R-Sq(adj) = 95.1%

R-Sq(pred) = 95.23%

Analysis of Variance
Source
Regression
Residual Error
Total

Source
X1
X2

DF
2
27
29

SS
75.879
3.613
79.492

MS
37.939
0.134

F
283.52

P
0.000

DF Seq SS
1 32.188
1 43.690

Unusual Observations
Obs
14
19

X1
973783
947963

Y
4.9600
4.1300

Fit
4.9807
4.5532

SE Fit
0.0999
0.0448

Residual
-0.0207
-0.4232

St Resid
-0.16 X
-2.43R

Durbin-Watson statistic = 2.29010

Lampiran 9. Standar Tandan Buah Segar (TBS) Menurut Umur dan Kelas
Lahan menurut Pusat Penelitian Marihat Medan tahun 1997
Umur
(tahun)
3
4
5
6
7

Klasifikasi Lahan Untuk Produksi TBS (Ton/Ha/tahun)


I (baik)
II (sedang)
III (kurang baik)
VI (tidak baik)
9
7
6
5
17
15
13
10
21
19
16
14
25
22
19
16
28
25
23
19

90

91

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Ratarata

30
30
30
30
30
30
27
27
25
25
24
24
22
22
20
20
18
18
24

27
27
27
27
27
27
25
25
24
24
22
22
21
21
19
19
17
17
22

25
25
25
25
25
25
23
23
22
22
20
20
19
19
17
17
16
16
20

91

22
22
22
22
22
22
21
21
20
20
19
19
18
18
16
16
15
15
18

Anda mungkin juga menyukai