Anda di halaman 1dari 24

Rhinitis Alergika

Viboy
(10 2011 173)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11470
viboygloryo@ymail.com

PENDAHULUAN

Seorang wanita, 26 tahun datang ke poliklinik UKRIDA dengan keluhan sering mengalami
hidung tersumbat bergantian pada lubang hidung kiri dan kanan sejak 1 minggu yang lalu,
disertai keluar ingus encer dan jernih. Pasien juga sering bersin di pagi hari.

PEMBAHASAN

Gambar 1:anatomi hidung


Hidung merupakan organ penciuman dan jalan utama keluar-masuknya udara dari dan ke
paru-paru.Hidung juga memberikan tambahan resonansi pada suara dan merupakan tempat
bermuaranya sinus paranasalis dan saluran air mata.Hidung bagian atas terdiri dari tulang dan
hidung bagian bawah terdiri dari tulang rawan (kartilago).Di dalam hidung terdapat rongga yang
dipisahkan menjadi 2 rongga oleh septum, yang membentang dari lubang hidung sampai ke
tenggorokan bagian belakang.Tulang yang disebut konka nasalis menonjol ke dalam rongga
hidung, membentuk sejumlah lipatan.1

Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir dan pembuluh darah.Luasnya permukaan dan
banyaknya pembuluh darah memungkinkan hidung menghangatkan dan melembabkan udara
yang masuk dengan segera.Sel-sel pada selaput lendir menghasilkan lendir dan memiliki
tonjolan-tonjolan kecil seperti rambut (silia).Biasanya kotoran yang masuk ke hidung ditangkap
oleh lendir, lalu disapu oleh silia ke arah lobang hidung atau ke tenggorokan. Cara ini membantu
membersihkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru.Bersin secara otomatis membersihkan
2

saluran hidung sebagai respon terhadap iritasi, sedangkan batuk membersihkan paru-paru.
Sel-sel penghidu terdapat di rongga hidung bagian atas.Sel-sel ini memiliki silia yang mengarah
ke bawah (ke rongga hidung) dan serat saraf yang mengarah ke atas. Saraf olfaktorius langsung
mengarah ke otak.1
ANAMNESIS
Suatu anamnesis yang teliti dapat memperkirakan diagnosis sesuatu penyakit yang mana
selanjutnya dapat di konfirmasi dengan pemeriksaan fisik dan penunjang. Dokter akan
mengambil segala informasi yang akan membantunya dalam menegakkan diagnosis.Antaranya:

Identitas: nama, umur, jenis kelamin dan pekerjaannya.

Keluhan utama: pernyataan dalam bahasa pasien tentang permasalahan yang sedang
dihadapinya.Menurut kasus

Mendapatkan sejarah rinci adalah penting dalam evaluasi penyakit rhinitis alergika. Elemen
penting termasuk evaluasi durasi, keadaan sekitar, dan garis waktu gejala, pemicu gejala, respon
terhadap obat-obatan, kondisi komorbiditas, riwayat keluarga penyakit alergi, paparan
lingkungan, eksposur kerja dan efek pada kualitas hidup. Sejarah menyeluruh dapat membantu
mengidentifikasi pemicu spesifik atau kemungkinan adanya etiologi rinitis alergi tersebut.
i.

Gejala
Gejala yang bisa dihubungkan dengan alergi rhinitis termasuk bersin, gatal (hidung, mata,
telinga, palatum), rhinorrhea, postnasal drip, hidung tersumbat, daya penciuman
berkurang, sakit kepala, sakit telinga, mata berair, mata merah, mata bengkak, kelelahan,
mengantuk, dan malaise.
Tanyakan usia timbulnya gejala dan apakah gejala telah hadir terus-menerus sejak awal.
Timbulnya rhinitis alergi dapat terjadi dengan baik semasa dewasa, sebagian besar pasien
menunjukkan gejala pada usia 20 tahun.2,3
Tanyakan pola waktu gejala dan apakah gejala terjadi pada tingkat yang konsisten
sepanjang tahun (yaitu, rhinitis perennial), hanya terjadi pada musim tertentu (yaitu,
rhinitis musiman) atau kombinasi dari keduanya. Selama periode eksaserbasi, tanyakan
3

apakah gejala terjadi pada setiap hari atau hanya episodik. Tanyakan apakah gejala hadir
sepanjang hari atau hanya pada waktu tertentu di siang hari. Informasi ini dapat
membantu menunjukkan diagnosis dan menentukan kemungkinan pemicu.
Menentukan sistem organ yang terkena dan gejala spesifik. Beberapa pasien memiliki
keterlibatan eksklusif hidung, sementara yang lain ada keterlibatan beberapa organ.
Beberapa pasien terutama yang bersin, gatal, mata berair dan hidung berair (gejala klasik
hayfever), sementara yang lain mungkin hanya mengeluhkan hidung tersumbat. Keluhan
signifikan hidung tersumbat, terutama jika unilateral kemungkinan hambatan struktural,
seperti polip, benda asing, atau menyimpang septum.2,3
ii.

Faktor pemicu
Tentukan apakah gejala berhubungan sementara dengan faktor-faktor pemicu tertentu
yang spesifik. Ini mungkin termasuk hubungan dengan serbuk bunga, spora jamur
semasa sedang bekerja di pekarangan rumah, binatang tertentu atau debu ketika
membersihkan rumah.
Pemicu iritasi seperti asap, polusi dan bau yang kuat dapat memperburuk gejala pada
pasien dengan rhinitis alergika. Ini juga sering memicu rhinitis vasomotor. Banyak pasien
memiliki keduanya rhinitis alergika dan rinitis vasomotor.
Pasien lain mungkin menjelaskan gejala sepanjang tahun yang tidak berhubungan
dengan pemicu tertentu yang spesifik. Ini konsisten dengan rhinitis nonallergika, tapi
alergen perennial, seperti tungau debu atau eksposur hewan, juga harus dipertimbangkan
dalam situasi ini. Dengan paparan kronis dan gejala-gejala kronis, pasien mungkin tidak
dapat mengaitkan gejala dengan pemicu tertentu.2,3

iii.

Respon terhadap pengobatan


Respon pengobatan dengan antihistamin mendukung diagnosis rhinitis alergika,
meskipun bersin, gatal, dan rhinorrhea berhubungan dengan rhinitis nonallergic juga
dapat membaik dengan antihistamin. Respon untuk kortikosteroid intranasal juga
mendukung diagnosis rhinitis alergika, meskipun beberapa kasus rhinitis nonalergika
(terutama rhinitis nonalergika dengan eosinofil sindrom [NARES]) juga membaik dengan
steroid nasal.2,3

vi.

Kondisi komorbid
4

Pasien dengan rhinitis alergika mungkin memiliki kondisi atopik lain seperti asma atau
dermatitis atopik. Pasien dengan rhinitis alergika, sebanyak 20% juga memiliki gejala
asma. Rhinitis alergika yang tidak terkontrol dapat memperburukan asma atau dermatitis
atopik.
Carilah kondisi yang dapat terjadi sebagai komplikasi dari rhinitis alergika. Sinusitis
terjadi cukup sering. Komplikasi lain yang mungkin termasuk otitis media, gangguan
tidur atau apnea, masalah gigi (overbite), dan kelainan langit-langit. Rencana pengobatan
mungkin akan berbeda jika salah satu komplikasi ini hadir. Polip nasal terjadi dalam
hubungan dengan rhinitis alergika, meskipun apakah sebenarnya rhinitis alergika
menyebabkan terjadinya polip nasal masih belum jelas. Polip mungkin tidak merespon
terhadap pengobatan medis dan mungkin mempengaruhi pasien untuk sinusitis atau
gangguan tidur (karena kongesti).
Selidiki riwayat medis masa lalu, termasuk kondisi medis lainnya saat ini. Penyakit
seperti hipotiroidisme atau sarkoidosis dapat menyebabkan rhinitis nonallergic.
Bersamaan kondisi medis mungkin mempengaruhi pilihan pengobatan.
vii.

Riwayat keluarga
Karena rhinitis alergi memiliki komponen genetik yang signifikan, riwayat keluarga
positif untuk atopi membuat diagnosa lebih mungkin. Bahkan, risiko yang lebih besar
rhinitis alergika ada jika kedua orang tua atopik dibandingkan jika salah satu orang tua
atopik. Namun, penyebab rhinitis alergika tampaknya multifaktorial, dan orang yang
tidak memiliki riwayat keluarga rhinitis alergi dapat mengembangkan penyakit rhinitis
alergi.2,3

viii.

Pengaruh persekitaran atau pekerjaan


Sejarah menyeluruh atas risiko lingkungan membantu untuk mengidentifikasi pemicu
alergi tertentu. Ini harus mencakup pemeriksaan faktor risiko untuk eksposur terhadap
alergen tahunan (misalnya, tungau debu, jamur, hewan peliharaan). Faktor risiko untuk
pemaparan debu tungau termasuk karpet, panas, kelembaban, dan tempat tidur yang tidak
memiliki sarung anti-debu. Kelembaban kronis di rumah merupakan faktor risiko untuk
eksposur pertumbuhan jamur. Sejarah hobi dan kegiatan rekreasi membantu menentukan
risiko dan pola waktu pemaparan serbuk sari.
5

Tanyakan tentang lingkungan tempat kerja atau sekolah. Ini mungkin termasuk paparan
alergen tahunan biasa (misalnya, tungau, jamur, bulu binatang peliharaan) atau alergen
kerja unik (misalnya, hewan laboratorium, produk hewani, biji-bijian dan bahan organik,
debu kayu, lateks, enzim).
ix.

Pengaruh kualitas hidup


Suatu penilaian yang akurat tentang morbiditas rhinitis alergi tidak dapat diperoleh tanpa
bertanya tentang efek pada kualitas hidup pasien. Pertanyaan yang telah divalidasi khusus
telah tersedia untuk membantu menentukan efek pada kualitas hidup. Tentukan adanya
gejala seperti mengantuk kelelahan, malaise (yang mungkin atau mungkin tidak
berhubungan dengan pengobatan) dan sakit kepala. Selidiki kualitas tidur dan
kemampuan untuk berfungsi di tempat kerja.2,3

PEMERIKSAAN
1. PEMERIKSAAN FISIK:
Pemeriksaan fisik harus fokus pada hidung, tetapi pemeriksaan wajah, mata, telinga,
orofaring, leher, paru-paru, dan kulit juga penting. Cari temuan fisik yang mungkin konsisten
dengan penyakit sistemik yang berhubungan dengan rhinitis.4
1. Inspeksi umum
"Allergi shiners" adalah lingkaran hitam di sekitar mata dan berhubungan dengan
vasodilatasi atau kongesti hidung. "Kerutan pada hidung" adalah kerutan horizontal di bagian
bawah jembatan dari hidung yang disebabkan oleh menggosok ke atas berulang ujung hidung
dengan telapak tangan (yaitu, "alergi salute").
2. Pemeriksaan hidung
Pemeriksaan hidung terbaik dicapai dengan spekulum hidung atau otoskop dengan adaptor
hidung. Di kantor spesialis, sebuah rhinolaryngoscope kaku atau fleksibel dapat digunakan.
Mukosa dari hidung mungkin bengkak (berawa) dan berwarna abu-abu pucat kebiruan.
Beberapa pasien mungkin memiliki dominan eritema mukosa yang juga dapat diamati pada
medicamentosa rhinitis, infeksi, atau rhinitis vasomotor. Sementara pucat, berawa, mukosa biru
6

abu-abu khas untuk rhinitis alergika. Pemeriksaan mukosa tidak bisa definitif membedakan
antara penyebab alergi dan rhinitis nonalergika.
Menilai karakter dan jumlah lendir hidung. Sekresi jernih dan berair sering dikaitkan
dengan rhinitis alergi. Sedangkan sekresi purulen kental dan biasanya berhubungan dengan
sinusitis. Namun lebih tebal, bernanah, lendir berwarna juga dapat terjadi pada rhinitis alergika.
Periksa septum hidung untuk mencari setiap penyimpangan atau perforasi septum yang
dapat hadir karena rhinitis kronis, penyakit granulomatosa, penyalahgunaan kokain, operasi
sebelumnya, penyalahgunaan dekongestan topikal atau steroid topikal berlebihan.
Memeriksa rongga hidung untuk massa lain seperti polip atau tumor. Massa polip keras dan
keabu-abuan yang sering melekat pada tangkai yang mungkin tidak terlihat. Setelah
penyemprotan dekongestan topikal. polip tidak mengecil sedangkan mukosa hidung sekitarnya
menyusut.4
3. Telinga, mata dan orofaring
Lakukan otoscopy untuk mencari retraksi membran timpani, tingkat udara-cairan atau
gelembung. Melakukan otoscopy pneumatik dapat dipertimbangkan untuk mencari mobilitas
membran timpani abnormal. Temuan ini dapat dikaitkan pada rhinitis alergika terutama jika
disfungsi tuba Eustachius atau media otitis sekunder.
Pemeriksaan pada mata dapat mengungkapkan temuan injeksi dan pembengkakan dari
konjungtiva palpebral pada kelebihan produksi air mata. Garis Dennie-Morgan (kusut menonjol
di bawah kelopak mata inferior) berhubungan pada alergika rhinitis.
Istilah "cobblestoning" digunakan untuk menggambarkan goresan jaringan limfoid pada
faring posterior yang umumnya diamati pada rhinitis alergika. Hipertrofi tonsil juga dapat
diamati. Maloklusi (overbite) dan langit-langit melengkung tinggi dapat diamati pada pasien
yang bernapas dari mulut mereka secara berlebihan.4
4. Leher
Perhatikan gejala klinis limfadenopati atau penyakit tiroid.
5. Paru
Perhatikan karakteristik penyakit asma.
6. Kulit
Evaluasi kemungkinan atopik dermatitis.
7

Perhatikan juga gejala klinis penyakit sistemik lain yang kemungkinan bisa menyebabkan
rhinitis alergika misalnya seperti sarkoidosis, hipotiroid, immunodefisiensi, sindrom diskinesia
siliaris dan penyakit jaringan ikat lain.4
2. PEMERIKSAAN PENUNJANG:
Tes alergi dapat mengungkapkan zat spesifik yang memicu gejala. Tes kulit adalah
metode yang paling umum dari tes alergi. Salah satu metode yang paling umum adalah uji
tusuk. Tes ini melibatkan menempatkan sejumlah kecil zat penyebab alergi yang dicurigai
pada kulit, biasanya lengan bawah, lengan atas, atau belakang. Kemudian, kulit menusuk
sehingga alergen berjalan di bawah permukaan kulit. Operator layanan kesehatan melihat
kulit untuk tanda-tanda reaksi, biasanya pembengkakan dan kemerahan dari situs. Hasil
biasanya terlihat dalam waktu 15-20 menit. Beberapa alergen dapat diuji pada waktu yang
sama.5
Sebuah metode yang sama melibatkan penyuntikan sejumlah kecil alergen ke dalam kulit
dan menonton untuk reaksi di situs. Ini disebut tes kulit intradermal. Hal ini lebih mungkin
untuk digunakan ketika tes sedang dilakukan untuk mengetahui apakah Anda alergi terhadap
sesuatu yang spesifik, seperti racun lebah atau penicillin.
Patch pengujian adalah suatu metode untuk mendiagnosis reaksi alergi pada kulit.
Kemungkinan alergen yang ditempelkan ke kulit selama 48 jam. Penyedia layanan kesehatan
akan melihat daerah tersebut dalam 24 jam, dan kemudian lagi 48 jam kemudian.
Sekiranya tidak dapat menjalani tes kulit, tes darah khusus dapat membantu diagnosis.
Tes ini dapat mengukur tingkat zat tertentu yang terkait dengan alergi, terutama yang disebut
imunoglobulin E (IgE).
Hitung darah lengkap (CBC), khususnya eosinofil jumlah sel darah putih (meningkat
ketika memiliki penyakit alergi tertentu, infeksi, dan kondisi medis lainnya) juga dapat
membantu mengungkapkan alergi.5
DIAGNOSIS
I.

DIAGNOSIS KERJA

Menurut kasus, pasien didiagnosis menghidap rinitis alergika.2,5


Rinitis alergika adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu
8

mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (von Pirquet,
1986). Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah
kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.
Klasifikasi Rinitis Alergika:
Dahulu rinitis alergika dibedakan menjadi 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya,yaitu:
1. Rinitis alergi musiman (seasonal,hay fever,polinosis)
Di Indonesia,tidak dikenal rinitis alergi musiman,hanya ada di negara yang mempunyai 4
musim.alergan penyebabnya spesifik,yaitu tepungsari(pollen) dan spora jamur.Oleh
karena itu,nama yang tepat ialah polinosis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik
yang tampak adalah gejala pada hidung dan mata(mata merah,gatal disertai lakrimasi).
2. Rinitis alergi sepanjang tahun(parennial)
Gejala pada penyakit ini timbul intermitten atau terus-menerus tanpa variasi musim,jadi
dapat ditemukan sepanjang tahun.Penyebab yang paling sering adalah alergan
inhalen,terutama pada orang dewasa dan alergan ingestan.2,5
Alergan inhalan utama adalah alergan dalam ruman(indoor) dan alergan luar

rumah(outdoor)
Alergan ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya disertai
dengan gejala alergi lainnya,seperti urtikaria,gangguan pencernaan.

Gangguan fisiologik pada golongan parenial lebih ringan dibandingkan dengan golongan
musiman tetapi karena lebih persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan.
Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative
ARIA(Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, menurut sifat berlangsungnya
dan tingkat berat ringannya penyakit: 2,5

Gambar 2 : klasifikasi rinitis alergika.

Antara gejala-gejala klinis dari rinitis alergika adalah:2,5

Hidung merasa tersumbat, disertai ingus


Bersin
Mata merah, gatal, dan selalu berair.
Kelopak mata bengkak
Gatal mulut, tenggorokan, telinga, dan wajah
Sakit tenggorokan
Batuk kering
Sakit kepala, nyeri wajah atau tekanan
Sebagian terjadi kemunduran pendengaran, penciuman, dan rasa
Kelelahan

10

Gambar 3:gambaran klinis rinitis alergika

II.

DIAGNOSIS BANDING
1. Rhinitis vasomotor
Rhinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi,
alergi,eosinofilia, perubahan hormonal (kehamilan,hipertiroid) dan pajanan obat
(kontrasepsi oral, antihipertensi, B-blocker, aspirin).. Ini termasuk pasien dengan gejala
yang berhubungan dengan perubahan suhu, kelembaban, konsumsi alkohol, dan bau.
Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung
temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembapan udara, perubahan suhu luar, latihan
jasmani,konsumsi alcohol dan bau, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak
dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut. Pada penderita rinitis vasomotor,
mekanisme pengatur ini hiperaktif dan cenderung saraf parasimpatis lebih aktif. 6
Rinitis vasomotor didiagnosa melalui eksklusi; pasien harus memiliki kadar IgE serum
normal, kulit pengujian negatif atau RAST, dan tidak ada peradangan pada hidung.
Gejala terutama terdiri dari :
a. Hipersekresi
11

b. kurang umum, pruritus dan bersin.(beberapa pasien dengan rinitis vasomotor ini
setelah makan makanan panas atau pedas (rhinitis gustatory)
c. Hidung tersumbat bergantian kiri dan kanan
d. Rinorea yang mukoid atau serosa
e. Memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur,perubahan suhu ekstrim,udara
lembab,asap rokok6
2. Rhinitis simpleks
Penyakit ini merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan pada manusia.Sering
juga disebut sebagai selsema atau common cold. Penyebabnya ialah beberapa jenis virus dan
yang paling penting ialah Rhinovirus. Virus-virus lainnya adalah Myxovirus, virus Coxsackle
dan virus ECHO. Penyakit ini sangat menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak
adanya kekebalan atau menurunnya daya tahan tubuh (kedinginan, kelelahan, adanya
penyakit menahun dan lain-lain) 6
Gejala utama terdiri dari :
a. Stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam : rasa panas, kering dan gatal
b.
c.
d.
e.

didalam hidung
Timbul bersin berulang-ulang
Hidung tersumbat dan ingus encer
Disertai dengan demam dan nyeri kepala
Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak.

Selanjutnya akan terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, sehingga sekret menjadi kental dan
sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejala kemudian akan
berkurang dan penderita akan sembuh sesudah 5 10 hari. Komplikasi yang mungkin
ditemukan adalah sinusitis, otitis, media, faringtis, bronkitis dan pneumonia. 6
ETIOLOGI
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara
genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting.
Pada 20 30 % semua populasi dan pada 10 15 % anak semuanya atopi. Apabila kedua orang
tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %.Peran lingkungan
12

dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan
merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi.
Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udara
pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari,dan
lain-lain. 7
Selain yang disebutkan tadi,ada juga penyebab lain bagi rinitis alergika:
Ragweed Bulubulu rumput yang paling umum terdapat sebagai pencetus alergi
musiman (di musim gugur)
Serbuk sari rumput (di akhir musim semi dan musim panas)
Serbuk sari pohon (di musim semi)
Jamur (berbagai jamur yang tumbuh di daundaun kering, umumnya terjadi di musim
panas)
Alergi rhinitis jenis sepanjang tahun muncul disebabkan oleh reaksi alergi terhadap
partikel udara seperti berikut ini:
Bulu binatang piaraan
Debu dan tungau rumah tangga
Kecoa
Jamur yang tumbuh di kertas dinding, tanaman rumah, karpet7

EPIDEMIOLOGI
Rinitis alergika merupakan kondisi alergi yang paling umum.Prevalensinya diperkirakan
20%dari populasi USA. Rinitis alergika menjadi lebih sering terjadi di negara-negara
industri.Gejala puncak terjadi pada dekade 2,3 dan 4 dan anak-anak lebih rentan terkena rinitis
alergika.Malah,genetik juga jelas dikatakan sebagai prediposisi untuk rinitis alergika.Pajanan
intaruterin dan masa kanak-kanak terhadap alergan meningkatkan risiko rinitis alergika dan
gangguan alergi yang lainnya seperti asma.7
PATOFISIOLOGI
13

Penyakit ini didahului dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi.
Reaksi alergi terdiri dari dua : 2,5
1. Immediate Phase Allergic Reaction (Reaksi Alergi Fase Cepat)
2. Late Phase Allergic Reaction (Reaksi Alergi Fase Lambat)
Sensitisasi
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses sensitisasi terhadap
alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akan tertumpuk di mukosa hidung yang
kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal ini menyebabkan sel Antigen Presenting Cell
(APC) akan menangkap alergen yang menempel tersebut. Kemudian antigen tersebut akan
bergabung dengan HLA kelas II membentuk suatu kompleks molekul MHC (Major
Histocompability Complex) kelas II. Kompleks molekul ini akan dipresentasikan terhadap sel T
helper (Th 0). Th 0 ini akan diaktifkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh APC menjadi Th1 dan
Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5, IL9, IL10, IL13 dan lainnya.
IL4 dan IL13 dapat diikat reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel B menjadi aktif
dan memproduksi IgE. IgE yang bersirkulasi dalam darah ini akan terikat dengan sel mast dan
basofil yang mana kedua sel ini merupakan sel mediator. Adanya IgE yang terikat ini
menyebabkan teraktifasinya kedua sel tersebut. 2,5
Histamin menyebabkan kelenjar mukosa dan goblet mengalami hipersekresi, sehingga hidung
beringus. Efek lainnya berupa gatal hidung, bersin-bersin, vasodilatasi dan penurunan
permeabilitas pembuluh darah dengan akibat pembengkakan mukosa sehingga terjadi gejala
sumbatan hidung.
Reaksi Alergi Fase Cepat
Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak kontak dengan alergen
sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan pada fase ini yaitu histamin, tiptase dan
mediator lain seperti leukotrien, prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. Mediator-mediator
tersebut menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluh darah dan dilatasi dari anastomosis
14

arteriovenula hidung yang menyebabkan terjadinya edema, berkumpulnya darah pada


kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupa hidung tersumbat dan oklusi dari saluran
hidung. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan hipersekresi dan
permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinorea. Rangsangan pada ujung saraf sensoris
(vidianus) menyebabkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. 2,5
Reaksi Alergi Fase Lambat
Terjadi setelah 4 8 jam setelah fase cepat. Reaksi ini disebabkan oleh mediator yang dihasilkan
oleh fase cepat beraksi terhadap sel endotel postkapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular
Cell Adhesion Mollecule (VCAM) dimana molekul ini menyebabkan sel leukosit seperti
eosinofil menempel pada sel endotel. Faktor kemotaktik seperti IL5 menyebabkan infiltrasi selsel eosinofil, sel mast, limfosit, basofil, neutrofil dan makrofag ke dalam mukosa hidung. Sel-sel
ini kemudian menjadi teraktivasi dan menghasilkan mediator lain seperti Eosinophilic Cationic
Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP) dan
Eosinophilic Peroxidase (EPO) yang menyebabkan gejala hiperreaktivitas dan hiperresponsif
hidung. Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih didominasi oleh sumbatan hidung.
KOMPLIKASI
1. Polip hidung
Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab
terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. Polip hidung biasanya tumbuh di
meatus medius dan merupakan manifestasi utama akibat proses inflamasi kronis yang
menimbulkan sumbatan sekitar ostia sinus di meatus medius. Polip memiliki tanda patognomonis
:ins pis ited mucous glands, akumulasi sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih-lebih
eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa.
Ditemukan juga mRNA untuk GM-CSF, TNF-alfa, IL-4 dan IL-5 yang berperan meningkatkan
reaksi alergis. 2,5,7
2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak
15

3. Sinusitis paranasal
Merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadi akibat edema ostia sinus
oleh

proses

alergis

dalam

mukosa.

Edema

mukosa

ostia

menyebabkan

sumbatan

ostia.Penyumbatan tersebut akan menyebabkan penimbunan mukus sehingga terjadi penurunan


oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri
terutama bakteri anaerob. Selain dari itu, proses alergi akan menyebabkan rusaknya fungsi barier
epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator-mediator protein basa yang dilepas sel
eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah.Pengobatan komplikasi rinits alergi
harus ditujukan untuk menghilangkan obstruksi ostia sinus dan tuba eustachius, serta
menetralisasi atau menghentikan reaksi humoral maupun seluler yang terjadi lebih meningkat.
Untuk tujuan ini maka pengobatab rasionalnya adalah pemberian antihistamin, dekongestan,
antiinflamasi, antibiotia adekuat, imunoterapi dan bila perlu operatif 2,5,7
PENATALAKSANAAN
Pengelolaan rhinitis alergi terdiri dari 3 kategori utama pengobatan yaitu, tindakan
pengendalian lingkungan dan penghindaran alergen, manajemen farmakologis dan imunoterapi.3
NON MEDIKAMENTOSA
1. Tindakan pengendalian lingkungan dan penghindaran alergan
Tindakan pengendalian lingkungan dan menghindari alergen melibatkan baik menghindari
alergen yang dikenal (pasien hipersensitivitas IgE-mediated) dan menghindari pemicu nonspesifik atau iritasi. Mempertimbangkan langkah-langkah pengendalian lingkungan dalam semua
kasus rhinitis alergika. Namun, pengendalian lingkungan global tanpa identifikasi pemicu yang
khusus adalah tidak tepat.2,5,7

Serbuk sari dan jamur di ruangan terbuka


Karena luas kehadiran mereka di udara terbuka, serbuk sari bisa sulit untuk dihindari.

Pengurangan eksposur pada ruangan terbuka pada musim tertentu dimana hanya serbuk sari
tertentu sahaja yang ada bisa mengurangkan alergen. Secara umum, serbuk sari pohon hadir
di musim semi, serbuk sari rumput dari akhir musim semi sepanjang musim panas, dan
16

serbuk sari gulma dari akhir musim panas sampai musim gugur, tetapi pengecualian ini ada
pola musiman.
Jumlah serbuk sari cenderung lebih tinggi pada hari yang kering, cerah dan berangin.
Paparan dapat dibatasi selama ini, namun ini mungkin tidak dapat diandalkan karena jumlah
serbuk sari juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Menjaga jendela dan pintu
rumah dan mobil tertutup sebanyak mungkin selama musim serbuk sari (dengan AC, jika
perlu, pada mode sirkulasi) dapat membantu. Mandi setelah terpapar pada ruangan terbuka
dapat membantu dengan menghapus serbuk sari yang menempel di rambut dan kulit.
Meskipun semua langkah-langkah ini telah dilakukan, pasien yang alergi terhadap serbuk
sari biasanya tetap akan mempunyai gejala selama musim serbuk sari dan biasanya
memerlukan beberapa bentuk managemen yang lain. Seperti halnya dengan serbuk sari,
menghindari jamur di ruangan tebuka / musiman mungkin sulit.

Alergen dalam ruangan tertutup


Tergantung pada alergen, langkah pengendalian lingkungan untuk alergen dalam ruangan

tertutup bisa sangat membantu. Untuk tungau debu, menutupi kasur dan bantal dengan
sarung yang kedap membantu mengurangi exposur. Spread harus dicuci setiap 2 minggu di
tempat yang panas (paling tidak 130 F) air untuk membunuh tungau yang ada.
Pengvakuman yang efisien dan teliti semasa pembersihan karpet dapat membantu, namun
karpet harus dihapuskan juga pada akhirnya. Debu tungau berkembang dengan baik jika
kelembaban dalam ruangan di atas 50%, sehingga dehumidifikasi, AC atau keduanya dapat
membantu.2,5,7
Untuk alergi hewan, penghidaran yang lengkap merupakan pilihan terbaik. Untuk pasien
yang tidak bisa, atau yang tidak ingin, benar-benar menghindari hewan atau hewan
peliharaan, pengurungan hewan ke ruang yang tidak mempunyai karpet dan memastikan
hewan tersebut tidak memasuki kamar tidur dapat membantu. Tingkat alergen kucing di
rumah bisa dikurangi dengan efisiensi tinggi partikulat udara (HEPA) filter dan dengan
memandikan kucing setiap minggu (walaupun ini mungkin tidak praktis). Pemusnahan kecoa
dapat membantu untuk kasus pasien yang mempunyai kepekaan tinggi pada kecoa.

Alergen pekerjaan
Cara terbaik adalah menghindari allergen tersebut tetapi sekiranya tidak bisa pemakaian

masker atau respirator mungkin diperlukan.


17

Pemicu tidak spesifik

Paparan pada asap, minyak wangi atau bau yang kuat, perubahan suhu yang drastis dan
polusi alam sekitar merupakan salah satu pemicu yang tidak spesifik. Penghindaran situasisituasi ini harus dipertimbangkan sekiranya ada symptom yang memperburuk gejala.2,5,7
MEDIKAMENTOSA
1. Manajemen farmakologis
Sebagian besar kasus rhinitis alergika dapat diobati dengan farmakoterapi. Pasien dengan gejala
intermiten sering diperlakukan secara memadai dengan antihistamin oral, dekongestan, atau
keduanya sesuai kebutuhan. Regular penggunaan intranasal steroid semprotan yang mungkin
lebih sesuai untuk pasien dengan gejala-gejala kronis. Harian penggunaan antihistamin,
dekongestan, atau keduanya dapat dianggap baik sebagai pengganti atau di samping steroid
hidung. Itu, baru generasi kedua (yaitu, nonsedatif) antihistamin biasanya lebih baik untuk
menghindari sedasi dan efek samping lainnya yang terkait dengan, antihistamin generasi pertama
yang lebih tua. Tetes antihistamin pada mata (untuk gejala mata), semprotan antihistamin
intranasal, cromolyn intranasal, semprotan anticholinergic intranasal, dan kursus singkat dari
kortikosteroid oral (dicadangkan untuk berat, episode akut saja) juga dapat memberikan bantuan.

Antihistamin generasi kedua : Setirizine, Levosetirizine, Pseudoefedrin / Fexofenadin,


Loratadin, Desloratadin
Sering disebut sebagai antihistamin nonsedatif. Mereka bersaing dengan histamin untuk

jenis reseptor histamin 1 (H1) reseptor situs dalam pembuluh darah, saluran pencernaan dan
saluran pernafasan, yang menghambat efek fisiologis yang histamin biasanya menginduksi
pada situs reseptor H1. Beberapa tidak menghasilkan efek sedasi klinis signifikan pada dosis
biasa, sementara yang lain memiliki tingkat rendah sedasi. Efek samping lainnya (misalnya,
gejala antikolinergik) umumnya tidak diamati.
Semua mengendalikan gejala rhinitis alergika (yaitu, bersin, rhinorrhea, gatal) tetapi tidak
secara signifikan mengurangkan hidung tersumbat. Untuk alasan ini, beberapa antihistamin
generasi kedua yang tersedia sebagai persiapan sebuah kombinasi mengandung dekongestan.
Mereka sering lebih disukai untuk terapi lini pertama rhinitis alergika, terutama untuk gejala
18

musiman atau episodik, karena keberhasilan yang bagus serta profil keamanan. Mereka dapat
digunakan bila perlu atau harian.2,5,7
Azelastine topikal dan Olopatadine adalah semprotan hidung antihistamin yang efektif
mengurangi bersin, gatal, dan rhinorrhea tetapi juga secara efektif mengurangi kongesti.
Digunakan dua kali per hari, terutama bila dikombinasikan dengan topikal kortikosteroid
nasal, azelastine efektif dalam mengelola kedua alergi dan nonallergic rhinitis.
Antihistamin oral generasi kedua saat ini tersedia di Amerika Serikat setirizin,
levocetirizine, desloratadine, fexofenadine, dan loratadine. Setirizin, fexofenadine, dan
loratadine juga tersedia dalam dekongestan yang mengandung persiapan.2,5,7

Antagonis reseptor leukotrien : Montelukast


Alternatif untuk antihistamin oral untuk mengobati rhinitis alergika. Salah satu antagonis

reseptor leukotriene, montelukast (Singulair), telah disetujui di Amerika Serikat untuk


pengobatan rinitis alergi musiman. Ketika digunakan sebagai agen tunggal, menghasilkan
perbaikan sederhana dalam gejala rhinitis alergika.

Antihistamin generasi pertama : Klorfeniramin, Difenhidramin, Hidrosizin


Generasi pertama antagonis H1 (misalnya, diphenhydramine, hydroxyzine) efektif dalam

mengurangi gejala sebagian besar rhinitis alergika, tetapi mereka menghasilkan sejumlah
efek yang merugikan (misalnya, mengantuk, efek antikolinergik). Dapat digunakan bila
perlu, tetapi efek samping dapat membatasi kegunaan mereka ketika diambil pada setiap hari.
Beberapa pasien mentolerir efek samping dengan penggunaan jangka panjang, tetapi mereka
mungkin mengalami gangguan kognitif, dan keterampilan mengemudi mungkin terganggu.
Klorfeniramin merupakan salah satu antihistamin yang aman digunakan untuk wanita
hamil.2,5,7

Dekongestan : Pseudoefedrin
Merangsang vasokonstriksi dengan langsung mengaktifkan reseptor alpha-adrenergik

dari mukosa pernapasan. Pseudoephedrine menghasilkan relaksasi bronkial lemah (seperti


epinefrin atau efedrin) dan tidak efektif untuk mengobati asma. Meningkatkan denyut
jantung dan kontraktilitas dengan merangsang reseptor beta-adrenergik. Digunakan sendiri
atau dalam kombinasi dengan antihistamin untuk mengobati hidung tersumbat. Cemas dan
insomnia mungkin terjadi.
19

Kortikosteroid nasal : Memotason, Beklometason, Budesonid inhilasi, Flutikason,


Siklesonid, Flutikason furoat, Triamsinolon
Semprotan steroid hidung sangat efektif dalam mengobati rhinitis alergika. Obat ini dapat

mengontrol 4 gejala utama rhinitis (yaitu bersin, gatal, rhinorrhea, kongesti). Efektif sebagai
monoterapi, meskipun mereka tidak signifikan mempengaruhi gejala okular. Penelitian telah
menunjukkan steroid nasal lebih efektif daripada monoterapi dengan kromalin intranasal atau
antihistamines. Tetapi lebih banyak manfaat sekiranya dikombinasi bersama obat lain. Aman
digunakan dan tidak berhubungan dengan efek samping sistemik yang signifikan pada orang
dewasa.2,5,7
Efek samping lokal terbatas untuk iritasi ringan atau pendarahan hidung, yang dapat
hilang dengan penghentian sementara obat. Perforasi septum hidung jarang dilaporkan.
Keselamatan selama kehamilan belum ditetapkan namun pengalaman klinis menunjukkan
kortikosteroid nasal (terutama beclomethasone, yang memiliki pengalaman paling
digunakan) tidak mempengaruhi janin.
Steroid nasal dapat digunakan bila perlu, tapi tampaknya secara maksimal efektif bila
digunakan setiap hari sebagai terapi pemeliharaan. Mereka juga dapat membantu untuk
rhinitis vasomotor atau rinitis campuran (kombinasi vasomotor dan rhinitis alergika) dan
dapat membantu untuk mengontrol polip hidung.

Antihistamin intranasal : Azelastin, Olopatadin


Alternatif pada penggunaan antihistamin oral dalam pengobatan rhinitis alergika.

Azelastin digunakan bila perlu atau setiap hari secara tunggal atau kombinasi bersama obat
lain. Tidak seperti antihistamin oral, azelastin memiliki beberapa efek pada hidung
tersumbat. Bermanfaat untuk rhinitis vasomotor. Beberapa pasien mengalami rasa pahit.
Penyerapan sistemik dapat terjadi dan mengakibatkan sedasi (dilaporkan pada sekitar 11%
dari pasien).
Olopatadin digunakan untuk untuk meringankan gejala rhinitis alergika musiman.
Sebelum menggunakan obat, lepaskan 5 semprotan atau sampai kabut halus muncul. Bila
produk tidak digunakan selama lebih dari 7 hari, lepaskan 2 semprotan sebelum
menggunakan obat. Hindari penyemprotan ke mata.2,5,7

Kromolin intranasal : Natrium kromalin


20

Menghasilkan stabilisasi sel mast dan efek antialergik yang menghambat degranulation
sel mast. Tidak ada efek anti-inflamasi atau antihistamin secara langsung. Efektif untuk
profilaksis. Dapat digunakan tepat sebelum paparan alergen yang diketahui (misalnya hewan,
pekerjaan). Memulai perawatan 1-2 minggu sebelum musim serbuk sari dan terus setiap hari
untuk mencegah rhinitis alergika musiman. Pengaruh yang sederhana dibandingkan dengan
kortikosteroid intranasal. Dianggap aman untuk digunakan pada anak-anak dan kehamilan.

Antikolinergik intranasal : Ipratopium


Digunakan untuk mengurangi rhinorrhea pada pasien dengan rhinitis alergika atau

vasomotor. Tidak berpengaruh signifikan terhadap gejala lainnya. Dapat digunakan sendiri
atau bersama dengan obat lain. Di Amerika Serikat, ipratropium bromide (Atrovent Nasal
Spray) tersedia dalam konsentrasi 0,03% (resmi diindikasikan untuk pengobatan rhinitis
alergi dan nonallergic) dan 0,06% (resmi diindikasikan untuk pengobatan rhinorrhea terkait
dengan flu biasa). 2,5,7
Ipratropium berkaitan dengan atropin. Memiliki sifat anti-sekresi dan bila digunakan
secara lokal, menghambat sekresi dari kelenjar serosa dan seromucous lapisan mukosa
hidung. Miskin penyerapan oleh mukosa hidung, sehingga tidak terkait dengan efek samping
sistemik.
2. Imunoterapi (desensitisasi)
Sebuah badan penelitian klinis telah mengkaji efektivitas suntikan alergi dosis tinggi dalam
mengurangi gejala dan kebutuhan pengobatan. Ini adalah proses jangka panjang, perbaikan
sering tidak diamati selama 6-12 bulan dan jika bermanfaat, terapi harus dilanjutkan selama 3-5
tahun. Immunoterapi bukan tanpa resiko karena reaksi alergi parah sistemik kadang-kadang
dapat terjadi. Untuk alasan ini, pertimbangkan risiko dan manfaat imunoterapi pada setiap pasien
dan manfaat pilihan manajemen lainnya.
Indikasi imunoterapi ialah pada penyakit berat, respon yang buruk untuk pilihan manajemen
lainnya dan adanya kondisi komorbiditas atau komplikasi. Immunoterapi sering dikombinasikan
dengan farmakoterapi dan pengendalian lingkungan. Immunoterapi seharusnya hanya dilakukan
oleh individu-individu yang telah terlatih, yang lembaga pencegahan yang sesuai dan yang
dilengkapi untuk menghadapi kejadian buruk yang potensial.2,5,7

21

3. Operasi
Perawatan bedah tidak diindikasikan untuk rhinitis alergika tetapi mungkin diindikasikan untuk
yang mempunyai penyakit penyerta atau kondisi rumit, seperti sinusitis kronis, deviasi septum
berat (menyebabkan obstruksi berat), polip hidung atau kelainan anatomi lainnya.
PREVENTIF
Pada dasarnya penyakit alergi dapat dicegah dan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
1.Pencegahan primer untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini terhadap
alergen. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi bayi yang mempunyai risiko atopi.Pada ibu
hamil diberikan diet restriksi (tanpa susu, ikan laut, dan kacang) mulai trimester3 dan selama
menyusui, dan bayi mendapat ASI eksklusif selama 5-6 bulan. Selain itukontrol lingkungan
dilakukan untuk mencegah pajanan terhadap alergen dan polutan.7
2.Pencegahan sekunder untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak berupa
asma dan pilek alergi yang sudah tersensitisasi dengan gejala alergi tahap awal berupaalergi
makanan dan kulit. Tindakan yang dilakukan dengan penghindaran terhadappajanan alergen
inhalan dan makanan yang dapat diketahui dengan uji kulit.
3.Pencegahan tersier untuk mengurangi gejala klinis dan derajat beratnya penyakit
alergi dengan penghindaran alergen dan pengobatan.6
PROGNOSIS
Ad bonam karena kebanyakan rhinitis alergika bisa diobati. Kasus alergik yang berat bisa
diberikan suntikan imunoterapi. Beberapa orang (terutama anak-anak) dapat mengatasi alergi
sebagai sistem kekebalan tubuh menjadi kurang sensitif terhadap alergi. Namun, sebagai aturan
umum, sekali zat yang menyebabkan alergi bagi seorang individu, dapat terus mempengaruhi
orang tersebut dalam jangka panjang.7
22

KESIMPULAN
Rinitis alergika dapat sembuh secara sempurna jika diberikan perawatan yang benar dan tepat.
Menghindari atau eliminasi alergen dengan cara edukasi, farmakoterapi, dan
imunoterapi,sedangkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi komplikasi seperti
sinusitis dan polip hidung.Secara mudah dapat dikonklusikan bahawa kesehatan persekitaran
adalah amat penting karena ianya bukan saja dapat mencegah rinitis alergika namun dapat
mencegah penyakit-penyakit lain.

DAFTAR PUSTAKA
23

1. Lauralee Sherwood ,Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem.2nd ed:2001.


2. Efiaty A,Nurbaiti I,Jenny B,Ratna D,2001,Alergi hidung dalam Buku ajar Ilmu kesehatna
Telinga Hidung Tenggorokan kepala leher,edisi Enam,Balai Penerbit FK
UI,jakarta,pp.128-34.
3. Jenice L,Willims,Henry Schneiderman,Paula S.Algranati,Diagnosis Fisik Evaluasi
Diagnosis & Fungsi di Bansal,edisi bahasa Indonesia ; EGC,2003.pp.144
4. Mark H. Swartz, Buku Ajar Diagnostik Fisik,edisi bahasa Indonesia ; EGC,1995.pp 1328.
5. Javed Sheikh, MD, Umer Najib, MD. eMedicine from Medscape. Allergic Rhinitis :
Clinical. Terbitan 1 Februari 2011 diunduh tanggal 18 Maret 2011. URL :
http://emedicine.medscape.com/article/134825-overview
6. Efiaty A,Nurbaiti I,Jenny B,Ratna D,2001,Alergi hidung dalam Buku ajar Ilmu kesehatna
Telinga Hidung Tenggorokan kepala leher,rinitis vasomotor,edisi Enam,Balai Penerbit FK
UI,jakarta,pp.135-7.
7. Sumarman, Iwin. Patogenesis, Komplikasi, Pengobatan dan Pencegahan Rinitis Alergis,
Tinjauan Aspek Biomolekuler. Bandung : FK UNPAD. 1-17.2000.

24