Anda di halaman 1dari 94

UNIVERSITAS INDONESIA

STUDI KASUS PERILAKU NEGARA PENGKLAIM DI LAUT CINA


SELATAN TERKAIT ANCAMAN CINA: UJI TEORI BALANCE OF POWER
(1991-2011)

SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

DIAN ADITYA NING LESTARI


0906492663

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
DEPOK
DESEMBER 2013

Universitas Indonesia

UNIVERSITAS INDONESIA

STUDI KASUS PERILAKU NEGARA PENGKLAIM DI LAUT CINA


SELATAN TERKAIT ANCAMAN CINA: UJI TEORI BALANCE OF POWER
(1991-2011)

SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional

DIAN ADITYA NING LESTARI


0906492663

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
DEPOK
DESEMBER 2013

Universitas Indonesia

Universitas Indonesia

Universitas Indonesia


HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di
bawah ini :
Nama : Dian Aditya Ning Lestari
NPM : 0906492663
Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional
Departemen : Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jenis Karya : Skripsi
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif ( Non-exclusive Royalty-Free
Right ) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Studi Kasus Perilaku Negara Pengklaim di Laut Cina Selatan terkait Ancaman
Cina: Uji Teori Balance of Power (1991-2011)
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif
ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan memublikasikan tugas akhir
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada tanggal: 22 Januari 2014.
Yang menyatakan,

(Dian Aditya Ning Lestari)


Universitas Indonesia


KATA PENGANTAR
Dunia Abad ke-21, dunia yang telah berubah dan membutuhkan perspektif dan
analisis baru dalam Ilmu Hubungan Internasional. Mulai dari tidak munculnya lagi
balancing terhadap kekuatan hegemoni dunia (Amerika Serikat) sampai bertambah
relevannya signifikansi kawasan dalam isu-isu keamanan, seperti maraknya sengketa
wilayah yang dapat memicu konflik, menjadi fenomena yang menghiasi dunia di
masa sekarang, sehingga relevansi teori harus didorong untuk bisa menjawab
kebutuhannya.
Penulis berangkat untuk meneliti relevansi teori balance of power dengan
studi kasus perilaku negara yang terlibat dalam salah satu sengketa wilayah yang
berbahaya di kawasan, yaitu Sengketa Wilayah Laut Cina Selatan, untuk menjawab
tantangan diatas. Teori klasik dan parsimoni seperti balance of power seharusnya
relevan di semua kasus. Pun tidak, relevansi teori tersebut harus tetap dicari untuk
memberikan dunia, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi ilmu hubungan
internasional lainnya, penjelasan mengenai keterbatasan teori ini. Pun induksi teori
perlu dilakukan apabila kekhususan sebuah fenomena tidak mampu dijelaskan oleh
teori ini.
Fenomena perilaku negara terkait Sengketa Wilayah Laut Cina Selatan inipun
merupakan sebuah anomali, karena ternyata hukum-hukum variabel balance of power
tidak terjadi di dalamnya. Ketika seharusnya imbalance of power menciptakan
instabilitas, bahkan perang besar, di lautan ini terjadi stabilitas. Selain itu, perilaku
balancing dan bandwagoning negara-negara lebih lemah yang terlibat (Malaysia,
Filipina, Vietnam, dan Brunei) terkait ancaman Cina pun tidak sesuai dengan hukum
yang diterapkan Kenneth Waltz.
Ada apa dibalik negara-negara yang terlibat Sengketa Wilayah Laut Cina
Selatan ini sehingga anomali itu tercipta? Seberapa relevankah teori balance of
power? Dapatkan teori baru diinduksi terhadap balance of power untuk meningkatkan
relevansinya? Penulis maju untuk meneliti perilaku negara terkait fenomena yang
komparabel dengan fenomena di Eropa pada masa Perang Dunia ini demi
mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas.
Dian Aditya Ning Lestari

Universitas Indonesia


UCAPAN TERIMA KASIH
Dengan segenap hati penulis mengucapkan terima kasih kepada individu-individu
dibawah ini yang, tanpa dukungannya, baik dukungan moral maupun substansial,
tidak akan pernah bisa skripsi ini diselesaikan oleh penulis:
1. Andi Widjajanto S.Sos., M.Sc., Ph.D., sebagai dosen pembimbing penulis,
yang tanpa persetujuannya tidak akan pernah penulis maju sidang. Bantuan
akademik serta contohnya yang baik sebagai peneliti yang baik akan selalu
menjadi inspirasi bagi penulis;
2. Makmur Keliat Ph.D, orang yang juga membuat skripsi tentang Laut Cina
Selatan, yang telah bersedia menjadi penguji ahli dalam sidang skripsi ini;
3. Nurul Isnaeni MA dan Andrew Mantong M.Sc., sebagai Ketua Program S1
dan Sekretaris Program S1 yang tanpa bantuannya disiplin birokrasi di
Departemen tidak akan ditegakkan dan kelengkapan persuratan skripsi penulis
tidak akan terselesaikan;
4. Dra. Evi Fitriani MA, MIA dan Dwi Ardhanariswari Sundrijo, S.Sos.,
MA, yang menjadi panutan penulis, juga Yeremia Lalisang S.Sos., M.Sc.
yang sedang menempuh studi S3, ketiganya adalah contoh bagi penulis
tentang bagaimana kita harus selalu menjaga idealisme di dunia kerja;
5. Soeprapto Budisantoso M.Sc dan Dewi Yulia Nurhayati sebagai orang tua
penulis; tujuan penulis menyelesaikan skripsi ini adalah mereka, sebab semua
orang tua tentu ingin anaknya menjadi sarjana, entah mengapa;
6. Andhyta Firselly Utami, sebagai teman penulis, Rizki Yuniarini yang ceria,
dan Hanifah Ahmad yang terdepan dalam profesionalitas, ketiganya
merupakan contoh yang baik bagi penulis selama berada di masa kuliah;
7. Sahabat-sahabat di HI 2009, 2007, 2008, 2010, 2011, dan 2012, terima kasih
segala pelajaran dan canda tawanya, dan untuk HI 2013 selamat datang di
keluarga besar HI UI yang kucinta!
8. Segenap panitia IndonesiaMUN 2013, Global Festival 2011, segenap
pengurus Indonesian Future Leaders, serta seluruh pengurus HMHI;
teman-teman di tim UI for HNMUN 2011, 2012, murid-murid di tim
HNMUN 2014, terima kasih atas pengalaman yang mendewasakan;

Universitas Indonesia


9. Semua sahabat penulis semenjak TK hingga sekarang, yang telah
mewarnai hidup penulis dan menemani petualangan penulis; dan
10. Terakhir, untuk Sindhu Partomo, penulis kehilangan kata-kata, terima kasih
atas segalanya; selesaikan kuliahmu, aku, Alex, Nikki, Dachs, Deutsch dan
Kaiser, serta seluruh dunia yang tak sabar ingin kita benarkan salahnya,
menunggu.
Tertanda,
Dian Aditya Ning Lestari

Universitas Indonesia


ABSTRAK
Nama

: Dian Aditya Ning Lestari

Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional


Judul

: Studi Kasus Perilaku Negara Pengklaim di Laut Cina Selatan


terkait Ancaman Cina: Uji Teori Balance of Power (1991-2011)

Penelitian ini menguji relevansi Teori Balance of Power milik Kenneth Waltz
dengan metode studi kasus. Fenomena yang diteliti adalah stabilnya kawasan Laut
Cina Selatan yang dikelilingi Negara-negara bersengketa dengan besaran power yang
tidak berimbang. Hasil penelitian ini adalah bahwa Teori Balance of Power relevan
dalam menjelaskan perilaku Brunei dan Filipina yang melakukan external balancing
dengan Britania Raya dan Amerika Serikat, sehingga tercipta bipolaritas ganda. Teori
ini irelevan dalam menjelaskan perilaku Malaysia dan Vietnam, dimana keduanya
tidak melakukan internal balancing maupun external balancing, namun stabilitas
tetap terjaga diantara mereka. Malaysia tidak menganggap Cina sebagai ancaman
utama, sedangkan Vietnam memiliki pengalaman memenangi perang melawan negara
besar. Menjelaskan perilaku Vietnam, penulis ini menawarkan konsep asymmetric
balancing, yang membutuhkan penelitian lebih lanjut agar dapat mengembangkannya
sebagai teori dalam ranah Ilmu Hubungan Internasional.
Kata kunci: Balance of Power, studi kasus, Brunei, Filipina, Malaysia, Vietnam, Laut
Cina Selatan.

Universitas Indonesia


ABSTRACT
Name

: Dian Aditya Ning Lestari

Study Program : International Relations


Title

: Case Study of Claimant States Behavior at The South China


Sea related to the Threat of China: Testing the Balance of
Power Theory (1991-2011)

This research tests the relevance of Kenneth Waltzs Balance of Power Theory using
the case study method. It studies the currently stable South China Sea, which is
surrounded by claimant states highly diverse in term of power magnitude. The result
is that Balance of Power Theory is relevant in explaining Bruneis and Philippines
external balancing with United States and United Kingdom, thus creating a dual
bipolarity. The theory is irrelevant in explaining Malaysia and Vietnams behavior
where they did not do neither internal nor external balancing, yet the stability has
been there. Malaysia did not perceive China as the main threat; meanwhile Vietnam
has had an experience of winning asymmetric war against greater power. Explaining
the behavior of Vietnam, this research proposes the concept of asymmetric balancing,
which need further research in order to make it a theory in the field of International
Relations.
Keywords: Balance of Power, case study, Brunei, Malaysia, Philippines, Vietnam,
South China Sea

Universitas Indonesia


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMISv
KATA PENGANTAR ....................................................................................... vi
UCAPAN TERIMA KASIH .............................................................................. vii
ABSTRAK .......................................................................................................... ix
ABSTRACT.......................................................................................................... x
DAFTAR ISI ...................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL............................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xv
1. PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2. Permasalahan .......................................................................................... 4
1.3. Kerangka Pemikiran ................................................................................ 6
1.3.1 Teori Balance of Power................................................................. 6
1.3.2 Permasalahan pada Teori Balance of Power................................. 7
1.4. Metode Penelitian .................................................................................... 9
1.5.Tujuan dan Signifikansi Penelitian ......................................................... 12
1.6.Tinjauan Pustaka . 13
1.6.1 Soft Balancing..13
1.6.2 Kritik terhadap Soft Balancing..17
1.6.3 Indirect Balancing dan Complex Balancing...19
1.7. Rencana Pembabakan Penelitian ............................................................. 21
2. STUDI KASUS ............................................................................................. 22
2.1. Sengketa Wilayah di Laut Cina Selatan .................................................. 22
2.1.1. Sejarah Sengketa .......................................................................... 23
2.1.2. Negara-Negara yang Bersengketa ................................................. 25
2.2. Imbalance of Power di Laut Cina Selatan .............................................. 27
2.3. Stabilitas di Laut Cina Selatan ................................................................ 33
2.4. Insentif Konflik di Laut Cina Selatan..... ................................................ 35
2.4.1. Historical Enmity ......................................................................... 36
2.4.1.1. Vietnam dan Cina ........................................................ 36
2.4.1.2. Filipina dan Cina ......................................................... 38
2.4.1.3. Malaysia Cina - Vietnam ......................................... 39
2.4.1.4. Brunei - Malaysia........................................................ 40
2.4.2. Nilai Strategis Laut Cina Selatan ................................................. 41
2.4.2.1. Nilai Strategis Fisik ....................................................... 41
2.4.2.2. Nilai Geostrategis.......................................................... 42
2.4.2.3. Potensi Energi Laut Cina Selatan .................................. 42
2.4.2.4. Inefektivitas Rezim/Institusi ......................................... 43
3. ANALISIS...................................................................................................... 49

Universitas Indonesia


3.1 Relevansi Teori Balance of Power di Laut Cina Selatan ......................... 49
3.1.1. Kekhususan Asia Tenggara ........................................................... 51
3.1.2. Kasus Filipina ............................................................................... 53
3.1.3. Kasus Brunei ................................................................................. 55
3.1.4. Struktur di Laut Cina Selatan ........................................................ 57
3.2. Irelevansi Teori Balance of Power .......................................................... 58
3.2.1. Kasus Malaysia ............................................................................. 59
3.2.2. Kasus Vietnam: Assymetric Balancing ......................................... 61
4. PENUTUP...................................................................................................... 70 4.1.
Kesimpulan ......................................................................................................... 70
4.2. Rekomendasi ........................................................................................... 72
4.3. Refleksi terhadap Indonesia .................................................................... 73
4.4. Sumbangsih terhadap Ilmu Hubungan Internasional .............................. 74
DAFTAR REFERENSI .................................................................................... 75

Universitas Indonesia


DAFTAR TABEL
Tabel 1.1: Kapabilitas Militer yang Mengitari Laut Cina Selatan tahun 1991,
2003 dan 2011 ................................................................................... 3
Tabel 2.1: Balance of Force yang Mengitari Laut Cina Selatan 1991-2011 ...... 28
Tabel 2.2: Lini Waktu Peristiwa di Laut Cina Selatan ....................................... 33
Tabel 3.1: Perbandingan Kapabilitas AS-Vietnam dalam Perang Vietnam ....... 63
Tabel 3.2: Distribusi Jumlah Kapabilitas Cina sebagai Konsekuensi Force
Deployment dalam Skenario Invasi Penyerangan Cina di Laut Cina Selatan
............................................................................................................ 67

Universitas Indonesia


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1: Langkah-Langkah Metodis Studi Kasus................................12
Gambar 2.1: Kontestasi Klaim di Laut Cina Selatan .......................................... 23
Gambar 3.1: Proses Terciptanya Stabilitas di Laut Cina Selatan jika Teori Balance of
Power Sepenuhnya Relevan...................................................... 49
Gambar 3.2: Proses yang Diindikasi terjadi dari Studi Kasus ............................ 50
Gambar 3.3: Bipolaritas Ganda di Laut Cina Selatan ......................................... 58
Gambar 3.4: Skenario Force Deployment Cina Jika Menginvasi Laut Cina
Selatan ........................................................................................... 66

Universitas Indonesia


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam studi Hubungan Internasional, khususnya kajian keamanan, terdapat
berbagai mazhab menjelaskan bagaimana struktur dalam sistem internasional
mempengaruhi

perilaku

aktor.

Salah

satunya

adalah

Realisme

Struktural

(Neorealisme). Realisme Struktural percaya bahwa perilaku aktor dipengaruhi


keseimbangan kekuatan (balance of power) pada sistem internasional.1 Keseimbangan
kekuatan tersebut dipercaya sebagai pembawa stabilitas pada sistem internasional,
seperti apa yang terjadi di masa Perang Dingin, dimana distribusi kekuatan yang
seimbang antara Amerika Serikat dan Uni Soviet menciptakan dunia global yang
stabil.2
Walau demikian, anomali terjadi di tingkat regional, salah satunya di Kawasan
Asia Pasifik. Berbagai penulis setuju bahwa di kawasan ini terjadi tiga hal. Yang
pertama adalah adanya historical enmity. Mulai dari T.V Paul. Michael Leifer. sampai
Evelyn Goh, mereka setuju bahwa ada kebencian historis yang ada karena
kolonialisme yang satu terhadap yang lain.3 Yang kedua, kawasan ini masih melihat
ancaman Eropa Abad 17-18, yaitu perebutan wilayah dalam bentuk sengketa
perbatasan.4 Mulai dari Senkaku-Tiaoyu sampai Laut Cina Selatan, sengketa wilayah

1

Inti dari Kenneth Waltz, Theory of International Politics, (Masscachussets: Addison-Wesley


Publishing Company, 1979).
2
Tentang hal ini, pendapat terbagi antara penganut unipolar stability, bipolar stability dan multipolar
stability, berdasarkan jumlah negara yang lebih kuat dari yang lain dalam sistem tersebut. Kenneth
Waltz berargumen bahwa bipolar stability -lah yang bekerja, dimana adanya dua kekuatan yang saling
bersaing, sebagai hasil dari respon negara akan ancaman (balancing/bandwagoning), akan menjaga
stabilitas. (Baca: Ibid).
3
Evelyn Goh, Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing Regional Security
Strategies, dalam International Security 32, No. 3 (Winter 2007/08), hal. 132-148; Michael Leifer,
Stalemate in the South China Sea, Publikasi Asia Research Center, London School Economics and
Political Sciences, diunduh dari http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf; dan Amitav
Acharya, Constructing Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional
Order, (London: Routledge, 2001), Bab 5: Managing Intra-Regional Relations.
4
Kawasan Asia Tenggara didominasi konflik-konflik bilateral (seperti konflik Indonesia-Malaysia,
Thailand-Kamboja, etc) yang umumnya terjadi karena spillover effect dari konflik-konflik dalam
negeri, seperti konflik etnis dan konflik perbatasan (baca: Acharya, 2001). Konflik perbatasan ini
menjadi isu keamanan yang lazim di Asia Tenggara dan menjadi bagus berbagai usaha CBM yang
dilakukan institusi keamanan, seperti ASEAN. Kawasan Asia Timur juga masih memiliki berbagai
konflik perbatasan yang tidak dapat diselesaikan karena berbagai hambatan. Kompleksitas keamanan di
Asia Timur masih didominasi oleh persaingan yang merupakan warisan historis pasca Perang Dunia II
dan Perang Dingin, sehingga kawasan masih didominasi oleh hubungan enmity (baca: Barry Buzan dan
Ole Weaver, Regions and Powers: The Structure of International Security, (Cambridge: Cambridge
University Press: 2003), Bab 5: Northeast and Southeast Asian RSCs during the Cold War, dan Bab

Universitas Indonesia


terjadi sejak dua dekade lalu dan tidak pernah selesai. Yang ketiga, yaitu imbalance of
power alias ketidakseimbangan kekuatan, yang terjadi antara negara terbesar di
kawasan, Cina, dengan negara-negara di sekitarnya. Tiga hal ini seharusnya memicu
instabilitas, namun dua dekade terakhir tidak terjadi perang besar di kawasan ini.
Kita ambil contoh Sengketa Wilayah Laut Cina Selatan sebagai salah satu
sengketa wilayah berbahaya. Amitav Acharya menyebutkan Laut Cina Selatan
sebagai flashpoint of conflict 5 dan Kaplan menyebutkan bahwa the South China Sea
is the future of conflict, karena banyaknya kepentingan dan ketegangan disana, yang
seharusnya memicu konflik.6
Selain berbahaya, sengketa wilayah ini juga menjadi saksi historical enmity
yang mendalam. Kebencian masyarakat Vietnam terhadap Cina bertahan hingga
sekarang7 sebagai respon atas serangan militer tahun 1977 atas Kepulauan Paracel,8
dan konfrontasi 1987-1988 di Johnson Reef dan Fiery Cross Reef.910

6: The 1990s and beyond: an emergent East Asian complex.). Kondisi ini tentunya mempersulit
berbagai usaha-usaha penyelesaian konflik perbatasan, yang merupakan isu yang sensitif bagi semua
negara. Salah satu konflik yang melibatkan bukan hanya negara-negara di Asia Timur tapi juga Asia
Tenggara, adalah Konflik Laut Cina Selatan.
5
Kesimpulan tersebut dibuatnya setelah mengamati potensi konflik yang ada di Laut Cina Selatan,
sebagai akibat dari inevektivitas rezim dan banyaknya kepentingan yang bertabrakan disana, inti Bab 5
Managing Intra-Regional Relations, dari: Amitav Acharya, Constructing Security Community in
Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional Order, (London: Routledge, 2001).
6
Robert D. Kaplan, the South China Sea is the Future Conflict, Foreign Policy, terakhir kali
dimodifikasi tanggal 15 Agustus 2011, diakses dari
http://www.foreignpolicy.com/articles/2011/08/15/the_south_china_sea_is_the_future_of_conflict?pag
e=full
7
South China Sea: Vietnamese hold anti-Chinese protest, Reuters, BBC.co.uk, terakhir dimodifikasi
tanggal 5 Juni 2011, diakses dari http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-13661779
8
Laut Cina Selatan telah menjadi rebutan sejak akhir masa kolonial dan berlanjut di masa Perang
Dingin hingga sekarang. Cina merupakan negara paling asertif dalam usaha perebutannya. Salah satu
contoh tindak asertifnya adalah operasi militer tahun 1974 atas Kepulauan Paracel. Dalam serangan
tersebut, pasukan Vietnam Selatan dikalahkan dan mundur dari Kepulauan Paracel. Pasukan Vietnam
Selatan kewalahan oleh pasukan Cina yang lebih superior dan dikalahkan dalam waktu dua hari.
Sumber militer di Vietnam Selatan mengatakan bahwa 14 kapal perang Cina, termasuk empat guided
missile destroyers, dikerahkan dalam misi itu berbarengan dengan empat MiG-21 dan MiG-23.
Sumber: Lo Chu-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea
Islands, (London: Routledge 1989), hal. 56.
9
Pada awal yahun 1978, sesungguhnya terjadi gencatan senjata antara dua negara, namun seiring
memburuknya hubungan pada akhr 1978 gencatan senjata ini berakhir.(Lo, Chi-kin Hal. 105) Pada saat
itulah kemudian sengketa yang masih berada dalam ranah sengketa diplomatik itumenjadi isu yang
resmi dan publik. Bermagai manuver diplomatik kemudian berganti menjadi aksi-aksi propaganda dan
konfrontasi-konfrontasi militer (Ibid, hal.111); aksi-aksi propaganda tersebut terus berlanjut hingga
tahun 1980an, diiringi oleh peningkatan kapabilitas militer yang didukung oleh pembangunan basis
dukungan militer di pesisir dan di masing-masing daerah yang diduduki di kepulatan tersebut (Ibid.,
hal. 120); pada Februari dan Maret 1987, angkatan laut Vietnam dan Cina melakukan aksi saling
tembak di area kepulauan Nansha (Spratlys), yang menimbulkan korban bagi kedua belah pihak. Pada
Maret 1988 aksi saling tembak it akhirnya berubah menjadi konfrontasi militer yang serius antara
kedua negara. Sumber: Ibid, hal. 100-120.
10
Konfrontasi tersebut terjadi di sekitar Chigua Jiao atoll (Johnson Reef) dan di Yongshu Jiao reef
(Fiery Cross Reef), merupakan salah satu konflik yang paling menciptakan kebencian historis

Universitas Indonesia


Imbalance of power pun jelas mengitarinya. Tabel berikut menunjukkan
ketidakseimbangan distribusi kekuatan tersebut:
Tabel 1.1: Kapabilitas Militer yang Mengitari Laut Cina Selatan tahun
1991, 2003 dan 2011. 11





1991

Kapabilitas
AL

AU

AL

2003
AU

AL

2011
AU

SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
Fighters
Bombers
Ground Attack
SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
Fighters
Bombers
Ground Attack
SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
Fighters
Bombers
Ground Attack

Cina

Vietnam
0
0
0
7
0
125
0
60
0
2
0
6
1
124
0
65
0
2
0
0
7
0
0
219

1
93
19
37
0
4600
630
600
1
68
21
42
0
1232
248
758
3
62
13
65
0
1070
132
421

Negara
Filipina
0
0
0
1
0
9
0
0
0
0
0
1
0
14
0
0
0
0
0
1
0
15
0
0

Malaysia
0
0
0
4
0
0
0
0
0
0
0
4
6
17
0
57
0
2
0
8
4
31
0
26

Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Sumber: East Asia and Australasia, The Military Balance, (Institute for International and Strategic
Studies: 1991, 2003, 2011)


masyarakat Vietnam terhadap Cina. Sumber: Jianming Shen, China's Sovereignty over the South
China Sea Islands: A Historical Perspective, Oxford Journals, hal. 96, diunduh dari
http://chinesejil.oxfordjournals.org/
11
1991: tahun dimana Cina pertama kali memformalisasikan klaimnya, hal ini komparatif terhadap
pengumuman perang di Eropa masa perang dunia yang menjadi awal mula Perang, misalnya Perang
Russo-Perancis dan Perang Besar Jerman; 2003: pertengahan antara dua tahun; 2011: tahun dimana
penelitian ini mulai dilakukan.

Universitas Indonesia


Dari tabel tersebut jelas bahwa selama dua dekade, kekuatan Cina jauh di atas
dua lainnya. Bahkan ketika kita hanya membandingkan kapabilitas Angkatan Laut
(AL) dan Angkatan Udara (AU) Cina di Laut Cina Selatan dengan seluruh kapabilitas
militer AL dan AU Vietnam dan Filipina. Karenanya jelaslah bahwa seharusnya di
kawasan terjadi instabilitas, paling tidak karena Sengketa Wilayah Laut Cina Selatan.
Melihat bahwa internal balancing tidak terjadi di Laut Cina Selatan, kita
mengekspektasi adanya external balancing atau bahkan bandwagoning. 12 Namun
tidak ada aliansi yang terbentuk antara negara-negara Asia Tenggara yang terancam,
yang ada justru perpecahan dan ketidaksatuan suara dalam menyikapi Cina13 dan
tidak ada pula bandwagoning dengan Cina.14 Irelevansi teori Kenneth Waltz mulai
terlihat dari data statistik pada tabel diatas dan kepentingan untuk mengujinya terkait
fenomena perilaku negara yang perebutan klaim di Laut Cina Selatan yang
memperlihatkan anomali terhadap teori tersebut.
1.2. Permasalahan
Menurut Teori Balance of Power, seharusnya pada akhirnya struktur bipolar
terjadi atas konsekuensi perilaku negara yang mempertahankan diri dengan
melakukan balancing atau bandwagoning, sehingga tercipta sistem yang seimbang
yang menciptakan stabilitas. Begitulah proses yang seharusnya terjadi menurut teori
Balance of Power, jika tidak ada variabel penentu lain yang mempengaruhi perilaku
negara, atau jika variabel penentu lain itu memang tidak signifikan, seperti yang
dikatakan oleh Waltz.
Menempatkan diri dalam teori Waltz, seharusnya struktur bipolar tercipta
diantara negara yang terancam dan mengancam. Internal balancing atau peningkatan
kapabilitas militer yang mengimbangi ancaman terjadi sebagai konsekuensi
imbalance, namun tabel sebelumnya tidak menunjukkan adanya pengimbangan
tersebut. Jika itu tidak terjadi, harusnya external balancing lah yang terjadi, dimana
negara yang terancam pun kekuatannya untuk mempertahankan survival-nya, namun
negara-negara Asia Tenggara yang terancam tidak melakukan yang demikian.

12

Definisi internal dan external Balancing dijelaskan di bagian kerangka pemikiran.


Dijelaskan di bagian pembahasan.
14
Selain cultural competence kita mengkofirmasi hal ini, memang tidak ada traktat aliansi diantara
negara-negara yang bersengketa. Lagipula, dalam konteks skripsi ini yang dibahas adalah potensi
instabilitas terkait sengketa wilayah, sulit untuk memikirkan adanya negara yang akan melakukan
bandwagoning dengan negara yang mengancam bukan hanya karena kapabilitas, tapi karena intensinya
mengambil kedaulatan yang diklaim.
13

Universitas Indonesia


Jika itupun tidak terjadi, harusnya negara-negara bandwagoning dengan Cina,
namun tidak demikian faktanya. Dengan demikian, teori ini jelas irelevan. Namun
untuk memastikan relevansi tersebut, kita harus maju untuk meneliti Sengketa
Wilayah Laut Cina Selatan ini dengan asumsi-asumsi Kenneth Waltz, lalu mencari
terkait asumsi mana fenomena tidak berlaku sama, sehingga terkait asumsi itulah
induksi teori perlu dilakukan. Namun sebelumnya, kita perlu mengetahui kondisikondisi dimana balancing versi Kenneth Waltz semestinya terjadi.
T.V. Paul menjelaskan bahwa balancing versi Kenneth Waltz yang sering
disebut hard balancing itu akan terjadi ketika (1) terdapat ancaman militer yang
intens terhadap keamanan negara; (2) adanya ancaman kepunahan akibat peningkatan
kekuatan rising power dan (3) negara terjebak dalam persaingan jangka panjang
dengan negara lain. 15 Ketiganya terjadi di Laut Cina Selatan, namun: (1) tidak ada
internal balancing maupun external balancing sebagai syarat terciptanya bipolaritas
dan (2) walaupun demikian, kawasan perairan ini tetap stabil dan tidak melihat
adanya perang besar dalam 20 tahun terakhir.
Dengan demikian, cukup alasan untuk menguji teori Kenneth Waltz,
mengingat berbagai indikasi diatas menantang asersi Teori Balance of Power dan
asumsinya, tentang bagaimana negara akan berperilaku dalam merespon perimbangan
kekuatan dalam sistem dan tentang bagaimana semestinya perilaku tersebut akan
mendatangkan bipolaritas, sebagai penyebab dari stabilitas atau ketiadaan perang
besar. Merespon permasalahan tersebut, skripsi ini berniat menjawab pertanyaan:
Seberapa relevankah Teori Balance of Power Kenneth Waltz dalam menjelaskan
perilaku negara Asia Tenggara yang mengklaim wilayah di Laut Cina Selatan terkait
kehadiran ancaman Cina? (1991-2011)
Sengketa Wilayah Laut Cina Selatan yang seharusnya konfliktual menjadi
studi kasus yang dipilih. Variabel-variabel dalam teori yang dipertanyakan itu sendiri
akan digunakan dalam pembahasan dalam penelitian, sebelum pada akhirnya akan
dianalisis terkait fenomena dan sub-fenomena apa sajakah teori yang diuji oleh
penelitian ini relevan atau tidak.

15

Michel Fortmann, T. V. Paul, and James J. Wirtz, Conclusions: Balance of Power at the Turn of the
New Century, dalam Balance of Power: Theory and Practice in the 21st Century ed. T. V. Paul, James
J. Wirtz, and Michel Fortmann, (Stanford: Stanford University Press, 2004), hal. 365.

Universitas Indonesia


1.3. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini akan menguji Teori Balance of Power, sesuai dengan pertanyaan
penelitiannya. Skripsi ini akan mengatur kerangka pemikirannya untuk percaya pada
asumsi-asumsi dasar realisme, pada awalnya, untuk kepentingan menguji teori yang
diciptakan oleh Kenneth Waltz ini.
1.3.1. Teori Balance of Power
Balance of Power merupakan teori di bawah mazhab realisme struktural
(neorealisme), yang tunduk pada asumsi aliran tersebut bahwa sistem internasional
bersifat anarki, aktor kunci dalam hubungan internasional adalah negara, tujuan
negara adalah memaksimalisasi kekuatan serta keamanannya dan negara berperilaku
rasional dalam upayanya mewujudkan tujuannya. 16 Secara istilah ia pertama kali
digunakan oleh Rousseau dan Hume, sebelum dikembangkan konteksnya ke dalam
hubungan internasional oleh Morgenthau dibawah mazhab realisme klasik dan Waltz,
dibawah mazhab neorealisme.17
Teori Balance of Power mengargumentasikan hubungan dua variabel: sistem
sebagai variabel independen yang mempengaruhi perilaku negara sebagai variabel
dependen. Sistem yang dimaksud adalah struktur perimbangan kekuatan dalam sistem
internasional. Perilaku negara yang dimaksud adalah balancing mengacu kepada aksi
mandiri atau bersama-sama negara untuk menggabungkan kekuatannya menandingi
kekuatan besar18 dan bandwagoning mengacu kepada bergabungnya negara dengan
kekuatan besar untuk menjamin keamanannya.19
Balancing terdiri atas dua, yaitu internal balancing dan external balancing.20
Internal balancing mengacu kepada aksi negara meningkatkan kekuatan militer dan
ekonominya untuk menandingi kekuatan besar. Namun untuk menjaga relevansinya,
skripsi ini akan berdiri di pihak paling tradisional dan hanya menghitung kekuatan
militer. External balancing mengacu kepada aksi negara menggabungkan kekuatan
dengan negara-negara yang sama-sama merasa terancam untuk melawan ancaman.

16

Baca Bab 6 dari Kenneth Waltz, Theory of International Politics, (Masscachussets: Addison-Wesley
Publishing Company, 1979).
17
Ibid.
18
Baca Keith L. Shimko, International Relations: Perspectives and Controversies, (Boston:
Wadsworth, 2010), hal. 69-71, kesimpulan dari penjelasan Waltz.
19
Kenneth Waltz, Theory of International Politics, (Masscachussets: Addison-Wesley Publishing
Company, 1979), hal. 118-130.
20
Ibid.

Universitas Indonesia


Ada bermacam-macam cara menggabungkan kekuatan, tapi dengan alasan yang sama
skripsi ini akan berdiri di pihak paling tradisional dan hanya mempertimbangkan
aliansi 21 sebagai bukti aksi ini. Alasan skripsi ini mengambil pengertian paling
tradisional dari teori ini adalah karena balance of power dalam interpretasi paling
tradisionalnya itulah yang ingin diuji skripsi ini.
Terkait hubungan antar variabel, teori ini percaya bahwa perimbangan
kekuatan dalam sistem akan mempengaruhi perilaku/strategi negara yang mencari
keseimbangan kekuatan dalam sistem. Menurut teori ini, dengan demikian, struktur
polaritas22 yang akan terjadi pada akhirnya adalah bipolar,23 yang kemudian akan
menciptakan stabilitas, alias kondisi bertahannya sistem tanpa perubahan besar,
seperti perang. Alur logika inilah yang akan diklarifikasi oleh penelitian ini jika
ditemukan irelevan.
1.3.2. Permasalahan pada Teori Balance of Power
Mengartikan Balance of Power merupakan sebuah tantangan, utamanya
karena absennya satu pengertian yang baku. Sebagai konsep ia bisa mengacu pada
strategi, proses, maupun kondisi, maupun hasil .2425 Sebagai strategi, hasil yang ideal,
maupun proses, balance of power terjadi karena kompetisi antar negara untuk
mempertahankan survival atau keberlangsungannya dalam kondisi anarki.
Kondisi anarki merupakan kondisi dimana tidak ada otoritas lebih besar yang
bisa mamaksakan agenda. Karenanya, negara-negara harus menolong diri mereka
sendiri jika keberlangsungannya terancam sehingga, tercipta self-help system.26 Untuk
memahami teori ini untuk kepentingan mengujinya, harus dipahami hubungan antar
variabel yang diargumentasikan teori.

21

Aliansi yang diperhitngkan harus memiliki perjanjian yang mengharuskan negara lain untuk
membantu negara yang terancam jika diserang, yaitu dengan bantuan serangan balik.
22
Pembangian kekuatan dalam sistem internasional, bipolar: dua kekuatan, multipolar: lebih dari dua
kekuatan.
23
Dua kekuatan besar berkuasa, baik great power secara individu maupun aliansi, maupun empire
negara besar yang berkuasa atas negara lemah.
24
Jacob G. Hariri, When Do States Balance Power? Refining, Not Refuting, Structural Realist
Balance of Power Theory, makalah yang disiapkan untuk panel Realism and Foreign Policy:
Structural and Neoclassical Realist Perspectives pada SGIR ke-7 Pan-European International
Relations Conference, Stockholm, Swedia, 9-11 September 2010, hal 29, diunduh dari
stockholm.sgir.eu/uploads/HaririWivelSGIR.pdf
25
Jack. S. Levy, What Do Great Powers Balance Against and When? dalam Balance of Power:
Theory and Practice in the 21st Century ed. T. V. Paul, James J. Wirtz, and Michel Fortmann,
(Stanford: Stanford University Press, 2004), hal. 29.
26
Kenneth Waltz, Theory of International Politics, (Masscachussets: Addison-Wesley Publishing
Company, 1979), hal. 118.

Universitas Indonesia


Jack. S. Levy memberi perhatian pada masalah ini dan maju untuk
mengemukakan bagaimana beberapa teoris menggunakan istilah balance of power
untuk mengacu kepada distribusi kekuatan actual dan oleh beberapa lainnya mengacu
kepada distribusi kekuatan ideal. 27 Penulis sendiri akan menggunakannya untuk
mengacu kepada keduanya dalam penelitian ini, terkait alasan di atas, untuk
menghindari kerancuan. Karena yang menjadi fokus skripsi ini bukan klarifikasi atas
kerancuan konsep, tapi atas penyebab dari kerancuan konsep tersebut, yaitu terlalu
luasnya teori.
Terlalu luasnya teori ini menguntungkan karena kesederhanaan yang
ditawarkannya dan sifatnya yang parsimoni. Kedua sifat itu membuatnya dapat
dijustifikasi untuk digunakan dalam hampir semua kasus, selama aktornya adalah
negara dan isu yang dibahas adalah keamanan tradisional. Hanya saja, masalah timbul
ketika tidak klarifikasi akan relevansi tidak diisi oleh siapapun, sehingga relevansi
teori ini diterima begitu saja, tanpa mengindahkan konteks waktu atau tempat dimana
teori tersebut bisa atau tidak bisa berlaku. Karenanya, uji teori untuk menemukan
relevansi menjadi penting untuk dilakukan.
Terkait klarifikasi, Waltz sendiri sudah menegaskan bahwa teori ini hanya
berlaku bagi great powers. Tetapi, penggunaan data kawasan Eropa pada masa Perang
Dunia oleh Walz sendiri, justifikasi untuk mengabaikan eksklusivitas keberlakuan
teori ini dengan mudah dapat dibantah. Tentu saja, kebebasan akademik memberikan
kesempatan untuk mengindahkan atau tidak mengindahkan penegasan apapun, namun
jika kesimpulan ditarik tanpa adanya kesadaran akan batasan relevansi, hal tersebut
bisa menjadi masalah dan dapat menciptakan bias yang berasal dari pemaksaan
penggunaan teori yang berlaku pada kawasan lain tapi belum tentu berlaku terkait
fenomena di kawasan tertentu, karena kekhususan yang dimiliki kawasan tersebut.
Skripsi ini memiliki kepentingan untuk mencegah penggunaan teori ini dengan
serampangan tanpa menyadari batasan aktor dan konteks dalam teori tersebut,
karenanya teori tersebut harus diuji. Selain itu, untuk yang luas dan terlalu abstrak
seperti ini, uji teori, utamanya untuk memetakan dan mengidentifikasi batas relevansi
diperlukan demi kepentingan pragmatis, seperti kemudahan dalam pembuatan
kebijakan yang berdasar atas teori ini.

27

Jack. S. Levy, What Do Great Powers Balance Against and When? dalam Balance of Power:
Theory and Practice in the 21st Century ed. T. V. Paul, James J. Wirtz, and Michel Fortmann,
(Stanford: Stanford University Press, 2004), hal. 29.

Universitas Indonesia


Dengan demikian, penting bagi keistimewaan kawasan Asia Tenggara dan
Asia Timur terkait kasus yang ini untuk dipertimbangkan. Jika pada akhirnya tipologi
teori akan dihasilkan dari pertimbangan akan hal-hal khusus dalam kasus yang diteliti
skripsi ini (dan sub-kasusnya), tipologi teori tersebut akan diargumentasikan dan
dikembangkan. Diharapkan, tipologi teori tersebut akan berguna bagi pembuatan
kebijakan 28 dan kepentingan lainnya, seperti lahirnya teori yang dapat diklaim murni
berasal dari pemikiran Asia, khususnya Asia Tenggara dan Asia Timur.
Perlu diketahui bahwa dalam skripsi ini, ketika penulis menyebut Balance of
Power dengan awalan kapital, penulis mengacu kepada teori Balance of Power dan
ketika menyebut balance of power dengan huruf kecil, penulis mengacu pada konsep
balance of power yang mengacu pada kondisi (status quo) dalam struktur sistem
internasional. Ketika mengacu pada hasil ideal, penulis akan menuliskannya sebagai
balance of power sebagai hasil ideal.
1.4. Metode Penelitian29
Skripsi yang bertujuan menguji teori Kenneth Waltz ini akan menggunakan
metode case study atau studi kasus, 30 yang merupakan salah satu metode untuk
mengembangkan teori sesuai dengan pendapat George dan Bennet dalam bukunya,
Case Study and Theory Development in the Social Sciences.
Case study atau studi kasus merupakan metode dimana peneliti mengambil
satu atau lebih kasus untuk mengembangkan teori. Dalam bukunya, George dan
Bennet menjelaskan bagaimana metode case study dapat membantu peneliti dalam
pengembangan teori karena memberi ruang bagi peneliti untuk menggali detil
fenomena untuk kemudian dicocokkan dengan variabel dan hubungan antar variabel
teori, sehingga pada akhirnya diketahui seberapa relevan sebuah teori bekerja pada
sebuah kasus, seberapa terbatas teori tersebut terkait sebuah konteks khusus dalam
fenomena tersebut. Case study memiliki kelemahan, tapi dalam menginduksi teori,
case study merupakan salah satu metode paling ideal.
Dalam case study, pemilihan kasus harus dilakukan dengan detil dan cermat,
dengan alasan-alasan yang jelas, seperti: kasus mengindikasikan anomali terhadap
teori, berpotensi memberikan tambahan variabel bagi teori, meningkatkan relevansi

28

Berdasarkan penjelasan George dan Bennet dalam Alexander L. George dan Andrew Bennet, Case
Study and Theory Development in the Social Sciences,(Cambridge, Massachussets: MIT Press, 2005).
29
Buku rujukan dari metode penelitian ini adalah Ibid.
30
Baca Bab I: Study and Theory Development, dari Ibid.

Universitas Indonesia


teori, menjelaskan batasan teori, atau karena berbagai alasan lainnya. Dengan
demikian, sebuah kasus valid menjadi bahan penelitian dalam mengembangkan teori,
bukan semata-mata karena kasus tersebut penting atau menarik. Terdapat dua cara
melakukan case study, yaitu single-case study (studi kasus satuan) atau multiple case
study (lebih dari satu) yang biasanya bersifat komparatif. Perlu diketahui bahwa
tinjauan sejarah penting bagi case study sehingga tinjauan sejarah akan menjadi
bagian dari penelitian ini.
Kasus perilaku negara-negara Asia Tenggara yang menjadi pengklaim di Laut
Cina Selatan terkait kehadiran ancaman Cina akan dipilih oleh penelitian ini terkait
indikasi anomali yang diperlihatkannya. Selain itu, kasus ini juga diambil karena
potensinya untuk meningkatkan relevansi teori dan menjelaskan batasan relevansi
teori dalam kasus, serta potensi kekhususan dalam kasus untuk mengembangkan teori
tipologi. Kasus yang diteliti penulis merupakan case of state behaviour, sebuah kasus
perilaku negara, yang merupakan variabel dependen dari teori Balance of Power.
Struktur sistem international (Balance of Power) yang imbalance telah terjadi, namun
perilaku yang diindikasi terjadi di kawasan Laut Cina Selatan tidak seperti apa yang
diramalkan Kenneth Waltz.
Karena ingin menguji relevansi teori Balance of Power pada sebuah anomali
khusus yang ditemukan, skripsi ini akan menggunakan single case study, karena
mencari pola dari dua kasus yang sama untuk mengembangkan teori bukanlah yang
diinginkannya. Yang diinginkannya adalah mencari kekhususan dalam sebuah
fenomena dan melihat apakah kekhususan tersebut berpotensi untuk mengembangkan
tipologi teori. Jika pada akhirnya ditemukan kekhususan dalam sebuah fenomena
yang berpotensi mengembangkan tipologi teori, maka teori tersebut akan
dikembangkan dengan menggunakan analytical explanation.
Dari sisi ontologi, metode ini menguji teori terhadap suatu kasus dan/atau sub31

kasus. Skripsi ini menguji teori terhadap perilaku negara terkait Sengketa Wilayah
Laut Cina Selatan, berdasarkan kesimpulan teori itu sendiri tentang bagaimana negara
akan berlaku, dalam kondisi yang didefinisikan oleh teori itu sendiri. Sub-kasus
sub-kasus terkait juga akan digunakan dalam analisis jika diperlukan dan dilihat
keterkaitan sub-kasus tersebut dengan relevan-tidaknya teori.

31

Sub-kasus adalah kasus-kasus lebih kecil yang menjadi bagian dari kasus yang lebih besar. Dalam
sebuah penelitian studi kasus, harus jelas apakah yang sedang diteliti penulis adalah kasus atau subkasus. Pada akhirnya, harus jelas pula apakah teori yang diuji berlaku atau tidak berlaku pada kasus
atau sub-kasus.

Universitas Indonesia


Terkait justifikasi epistemologis pengembangan teori, skripsi ini percaya pada
logic of discovery dan bahwa logic of discovery dapat digunakan bersamaan dengan
logic of confirmation, bahkan keduanya dapat melengkapi satu sama lain. Keduanya
dibutuhkan dalam pengembangan sebuah ilmu dan alangkah baiknya jika relevansi
teori difalsifikasi berlakunya dalam kasus atau sub-kasus tertentu, sebelum teori yang
mampu menjelaskan kasus atau sub-kasus tertentu dikembangkan. Itulah yang
dilakukan oleh penelitian ini.
Penelitian ini sendiri melihat bahwa masih ada harapan bagi relevansi Balance
of Power di kawasan dan ingin mengembangkan Ilmu Hubungan Internasional lebih
lanjut dengan mencari relevansi itu. Namun, penelitian ini sadar bahwa terkait
kekhususan kasus-kasus tertentu, teori ini terancam untuk tidak berlaku, utamanya
setelah melihat indikasi yang dijelaskan dalam bagian latar belakang. Sehingga,
dalam konteks dimana teori yang menjadi fokus penelitian tidak berlaku, diperkukan
induksi teori tipologi baru.
Seperti yang dikatakan oleh Karl Popper, 32 yang juga diargumentasikan oleh
George dan Bennet dalam bukunya, tidak masalah memilih logika yang mana, selama
kita mengikuti langkah-langkah saintifik yang tepat dan teratur dalam mengumpulkan
data. Karenanya, skripsi ini maju dengan jelas untuk mencapai tujuan uji teori, dengan
langkah-langkah metodis seperti yang tertergambar dalam diagram:

1
Menentukan
tujuan, desain,
dan struktur
penelitian

2
Melaksanakan
studi kasus

3
Menghubungkan
data temuan
dengan tujuan
penelitian

Gambar 1.1: Langkah-Langkah Metodis Studi Kasus



32

Jack. S. Levy, What Do Great Powers Balance Against and When? dalam Balance of Power:
Theory and Practice in the 21st Century ed. T. V. Paul, James J. Wirtz, and Michel Fortmann,
(Stanford: Stanford University Press, 2004), hal. 44.

Universitas Indonesia


Ketiga langkah seperti yang terlihat pada gambar akan tersirat dalam
penelitian ini. Langkah pertama dalam Bab I dan langkah kedua serta ketiga di babbab selanjutnya. Perlu diketahui bahwa data yang digunakan dalam penelitian case
study juga harus fokus. Data-data yang akan penting bagi penulis adalah: tinjauan
umum peristiwa yang melatar belakangi kasus, tinjauan sejarah, kondisi balance of
power di Laut Cina Selatan, insentif konflik yang ada, kondisi stabilitas dan
pembahasan tentang kondisi masing-masing negara yang terlibat. Semua data tersebut
akan dibahas di Bab II: Studi Kasus. Sementara di Bab III, analisis terhadap perilaku
negara akan dibahas, bersamaan dengan analisis relevansi dan pencarian celah untuk
induksi teori yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian.
1.5. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
Penelitian ini bertujuan mempertanyakan seberapa relevan teori Balance of
Power Kenneth Waltz, utamanya dalam konteks Asia Tenggara dan Asia Timur.
Teori ini begitu parsimoni dan sederhana, sehingga digunakan oleh berbagai peneliti
begitu saja tanpa mempertanyakan validitasnya pada fenomena yang ditelitinya dan
turunan dari fenomena tersebut. Skripsi ini akan menjawab pertanyaan tentang
relevansi teori tersebut dengan mempertimbangkan kekhususan konteks wilayah dan
waktu dari kasus yang dipilih. Kasus tersebut adalah perilaku negara pengklaim Laut
Cina Selatan terkait kehadiran ancaman Cina. Perlu diketahui bahwa perilaku negara
merupakan variabel dependen menurut Teori Balance of Power Waltz.
Siginifikansi penelitian ini antara lain adalah mengambil peran dalam usaha
meningkatkan relevansi teori Balance of Power dengan kondisi sekarang,
meningkatkan relevansi mazhab realisme yang masih dibutuhkan selama negara
masih memiliki senjata, memberi penjelasan baru bagi fenomena-fenomena keamanan
internasional utamanya di Asia Tenggara, mencari teori yang lebih sesuai dengan
kondisi di Asia Tenggara dengan segala keunikannya dalam fenomena. Jack S. Levy
mengatakan bahwa ada western bias dalam induksi teori-teori barat, utamanya
Balance of Power.33 Hal ini menjadi alasan terakhir dan terutama dari mengapa
skripsi ini ingin melakukan preskripsi teori, menjadi penantang atas teori-teori Barat
yang sudah ada.

33

Jack. S. Levy, What Do Great Powers Balance Against and When? dalam Balance of Power:
Theory and Practice in the 21st Century ed. T. V. Paul, James J. Wirtz, and Michel Fortmann,
(Stanford: Stanford University Press, 2004), hal. 38-39.

Universitas Indonesia


1.6. Tinjauan Pustaka
Diskusi kontemporer tentang Teori Balance of Power kebanyakan terjadi
dalam ranah pengembangan

teori alternatif maupun tipologi teori. Dalam

pengembangan teori alternatif, terdapat berbagai macam inovasi dari teori Balance of
Power, antara lain Balance of Threat (Stephen Walt), Balance of Interest (Randall
Schweller), Balance of Influence (Evelyn Goh), Offense-Defense Balance (Jervis,
Stephen Van Evera, Sean Lynn-Jones dan Charles Glaser) dan Security Dilemma
theory (Thomas Christensen, Robert Ross, and William Rose). Namun karena ingin
menginduksi teori tipologi, penelitian ini akan memfokuskan tinjauan pustakanya ke
pengembangan Teori Balance of Power yang fokus pada tipologi teori.
Pengembangan teori tersebut antara lain adalah pengembangan teori soft
balancing, yang menciptakan perbedaan soft balancing dengan hard balancing, yang
menjadi terminologi untuk menyebut balancing versi Waltzian dalam dunia
kontemporer. Selain itu, ada pula indirect balancing dan regional complex balancing
yang dikembangkan oleh Evelyin Goh, dibawah teori balance of influence-nya.
Sebenarnya terdapat bebagai pengembangan tipologi teori lain, yaitu offshore
balancing, balancing melalui kekuatan laut (Levy) dan lain-lain, namun penulis
memilih untuk fokus pada soft balancing, indirect balancing dan regional complex
balancing karena ketiga teori inilah yang diinduksi dengan secara spefisik mengamati
kawasan Asia Tenggara, seperti apa yang dilakukan oleh penulis. Bagian

tinjauan

pustaka ini akan membahas tipologi teori mereka, agar jelas bahwa yang
dikembangkan penulis benar-benar baru secara asersi dan metodologi yang berbeda
dari apa yang digunakan oleh mereka, walaupun meneliti kawasan yang sama.
1.6.1. Soft Balancing
Jika hard balancing mengacu kepada pengertian tradisional tentang balancing
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, soft balancing mengacu kepada aktivitasaktivitas non aliansi (dengan demikian, tanpa suatu menargetkan negara tertentu
sebagai ancaman yang jelas) dan non-militer yang dilakukan oleh negara-negara
lemah dalam menandingi kekuatan besar.
Menurut teori ini aktivitas-aktivitas seperti arms build-up terbatas, kerjasama
militer ad-hoc dan kerjasama institusional dalam kawasan maupun secara global
dapat dikategorikan sebagai aktivitas soft balancing. Dalam kondisi-kondisi tertentu

Universitas Indonesia


dimana keberadaan ancaman menjadi makin nyata dan tidak bisa dihindari lagi,
aktivitas-aktivitas soft balancing ini dapat menjadi hard balancing.34
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh dikembangkan oleh Paul (2005)
dan Pape (2005)

35

yang kemudian memunculkan berbagai macam perdebatan

diantara para teoris Balance of Power. Paul secara umum menggunakan teori ini
untuk menjelaskan mengapa pasca Perang Dingin tidak ditemukan lagi adanya
aktivitas balancing terhadap kekuatan besar oleh second-tier major powers (seperti
Cina, Rusia, India, dll) terhadap Amerika Serikat yang senantiasa menghadirkan
kekuatannya di setiap sudut di kawasan. 36 Kemudian ia menjelaskan bahwa negaranegara bukannya tidak melakukan balancing, tapi melakukan soft balancing yang
melibatkan pembentukan koalisi diplomatik terbatas atau ententes, sepert yang
mereka lakukan didalam PBB.
Ententes ini memiliki target ancaman yang implisit dan memiliki tujuan
meningkatkan aliansi mereka jika Amerika Serikat

bertindak lebih dari yang

37

seharusnya, seperti, yang dicontohkan oleh Paul, yang dilakukan negara-negara


middle powers tersebut terhadap aksi Amerika pada kasus Kosovo tahun 1999 dan
perang Iraq tahun 2002-2003. Salah satu alasan mengapa negara-negara ini tidak
melakukan hard balancing, menurut Paul, adalah karena Amerika Serikat zaman
sekarang tidak pernah secara eksplisit mengambil kebijakan yang mengancam
kedaulatan mereka. Jika ya, dipastikan aksi hard balancing melawannya akan segera
muncul. Namun karena keberadaan kebijakan itu tidak pernah ada, ditambah dengan
kerjasama ekonomi dengan AS yang terlalu berharga untuk diperjuangkan, maka yang
dilakukan oleh negara-negara second-tier power adalah soft balancing.
Sementara Pape, yang setuju dengan penjelasan Paul akan bagaimana secondtier-power melakukan balancing terhadap kekuatan besar pasca Perang Dingin,
menambahkan penjelasan ke arah bagaimana soft balancing dapat terjadi kerena
tindakan unilateralis great power dan umumnya terjadi dalam kondisi dimana dunia
sedang berada dibawah sistem unipolar. Seperti yang juga dipercaya Paul, dalam


34

Stephen G. Brooks and William C. Wohlforth Hard Times for Soft Balancing dalam International
Security, Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005), hal. 73.
35
Robert A. Pape, Soft Balancing against the United States, dalam International Security, Vol. 30,
No. 1 (Summer, 2005), hal. 7-45.
36
Ibid.
37
T.V. Paul, Soft Balancing in the Age of U.S. Primacy, dalam International Security, Vol. 30, No. 1
(Summer, 2005), hal. 46-71.

Universitas Indonesia


kondisi dimana aksi-aksi negara hegemoni dalam sistem unipolar ini mendatangkan
ancaman nyata, soft balancing dapat berubah menjadi hard balancing.
Dalam sistem perimbangan kekuatan, Pape mencatat beberapa hal yang perlu
diwaspadai negara middle powers/second-tier powers: (1) ancaman serangan dari
kekuatan besar lain; (2) ancaman bahaya tidak langsung, dimana aksi-aksi militer
kekuatan besar lain dapat mengancam keamanan negara tertentu, walaupun secara
tidak disengaja; dan (3) kemungkinan bahwa suatu kekuatan besar dapat menjadi
hegemoni global, yang berarti ia akan dapat melakukan berbagai aksi yang berbahaya,
seperti menulis ulang aturan-aturan internasional demi keuntungan jangka
panjangnya, mengeksploitasi sumber daya ekonomi dunia untuk relative gain-nya,
memaksakan imperialisme pada second-tier powers, atau bahkan melakukan
penaklukan pada suatu negara dalam sistem.38 Ancaman-ancaman inilah yang masih
ada walaupun negara status-quo power tidak lagi melakukan aksi yang secara
langsung membahayakan kedaulatan, sehingga menjadi insentif untuk negara-negara
kekuatan-menengah melakukan soft balancing.
Soft balancing, dalam pelaksanaannya, tidak serta merta langsung menantang
keunggulan kekuatan militer negara unipolar, tetapi ia dapat menunda, memperumit,
serta meningkatkan kerugian dari penggunaan kekuatan tersebut. Instrumeninstrumen non-militer seperti institusi internasional, economic statecraft dan
interpretasi baku terhadap netralitas dapat memberikan efek yang nyata, atau paling
tidak tidak langsung, kepada prospek penggunaan kekuatan militer pemimpin
unipolar. Dengan demikian logika balancing terhadap superpower unipolar adalah
koordinasi ekspektasi aksi-aksi kolektif antara negara-negara kekuatan menengah.39
Menurut Pape, tentang bagaimana soft balancing bekerja, ada beberapa set of
action yang dapat dilakukan states dalam melakukan soft balancing, yang semuanya
bertujuan menghambat misi unilateral great powers. Aksi-aksi tersebut antara lain40:

Territorial Denial
Aksi dimana negara-negara kekuatan menengah mempersulit akses

kekuatan besar terhadap kawasan dimana negara kekuatan menengah


berdaulat. Hal ini dapat menghambat aksi unilateral kekuatan besar.

38

Robert A. Pape, Soft Balancing against the United States, dalam International Security, Vol. 30,
No. 1 (Summer, 2005), hal. 7-45.
39
Ibid, hal. 17.
40
Ibid, hal. 36-37.

Universitas Indonesia

Entangling Diplomacy
Alias sistem diplomasi yang membingungkan atau memperumit

kegiatan yang ingin dilakukan kekuatan besar yang mengancam. Dengan


demikian aksi-aksi seperti perang atau serangan oleh kekuatan besar dapat
dicegah.

Economic strenghtening
Dengan memperkuat ekonominya, negara-negara kekuatan menengah

dapat memperkuat dirinya secara internal yang mana kemudian ia akan


meningkatkan posisi tawarnya dan rekan-rekan kekuatan menengahnya demi
mencegah kebijakan mengancam negara hegemoni.

Signals to Resolve Balance


Negara-negara menengah, dengan berkumpul bersama-sama dan

mengambil

langkah

demi

mencegah,

mengurangi,

memperumit

dan

meningkatkan kerugian bagi negara kekuatan besar dalam melaksanakan aksi


unilateralnya, telah mensinyalir keinginan mereka untuk bersama-sama
melakukan balancing (hard) apabila mereka menilai aksi-aksi negara
kekuatan besar telah memperlihatkan ancaman nyata yang mengancam
kedaulatannya.
Secara gamblang dapat dikatakan bahwa di Asia Tenggara dan Asia Timur,
soft balancing terjadi.

Hal-hal seperti terbentuknya berbagai macam kerjasama

keamanan ad hoc, pembentukan institusi keamanan seperti ASEAN Regional Forum


dan pembentukan norma-norma yang mengatur perilaku di Laut Cina Selatan seperti
Declaration of Code of Conduct in the South China Sea tahun 2002 itu sendiri.
Yuen Foong Khoong merupakan peneliti dari kawasan yang mendukung
pendapat tentang berlakunya soft balancing dalam menjelaskan kekhususan di Asia
Tenggara dan Asia Timur terkait balancing. Dalam karyanya yang berjudul Coping
with Strategic Uncertainty: The Role of Institution and Soft Balancing in Southeast
Asias Post Cold War Strategy, ia mengatakan bahwa set of actions negara-negara
Asia Tenggara dalam menghadapi pengaruh Cina dapat dikatakan sebagai soft
balancing. 41

Karenanya, ia menganggap teori ini berguna untuk menjelaskan


41

Baca Yuen Foong Khoong, Coping with Strategic Uncertainty: The Role of Institution and Soft
Balancing in Southeast Asias Post Cold War Strategy dalam Peter Katzenstein, Allen Carlson and JJ
Suh (eds.), Rethinking Security in East Asia, (Stanford: Stanford University Press: 2004).

Universitas Indonesia


hubungan Asia Tenggara dan Cina dalam konteks perimbangan kekuatan, spesifik
dalam hubungannya dengan perilaku Cina di Laut Cina Selatan.
Kebebasan akademik memberi justifikasi bagi Yuen Foong Khoong untuk
berargumentasi demikian, namun penulis ingin berkontribusi dalam diskursus balance
of power di Asia Tenggara dengan melakukan penelitian yang terlebih dahulu
menguji teori yang menjadi teori sentral kedalam fenomena di kawasan, sebelum
membuat kesimpulan dengan teori lain tanpa memfalsifikasi teori yang lama. Dengan
demikian penulis maju untuk melaksanakan penelitian ini.
Dalam sub-bab berikutnya, kritik terhadap soft balancing akan penulis bahas,
untuk memperlihatkan bagaimana tipologi teori yang sudah ada belum cukup kuat,
sehingga dibutuhkan penjelasan baru, yang dapat datang dari pengembangan teori
baru, seperti yang ditargetkan di akhir penelitian penulis. Dengan demikian, jelas
bahwa teori tipologi yang akan dihasilkan oleh penelitian ini akan memiliki ruang
signifikansi dalam Ilmu Hubungan Internasional, utamanya dalam kajian kawasan.
1.6.2. Kritik terhadap Soft Balancing
Teori soft balancing yang berkembang baru dewasa ini dikritik oleh para
peneliti karena dianggap tidak mengindahkan kemungkinan adanya penjelasanpenjelasan lain perihal absennya aktivitas-aktivitas hard balancing terhadap kekuatan
besar, misalnya terhadap Amerika Serikat yang senantiasa memastikan kehadirannya
di tiap kawasan. Salah satu yang menyuarakan kritiknya terkeras adalah Stephen
Brooks. Dalam tulisannya, Hard Times for Soft Balancing (2005) mengatakan bahwa,
selain karena tidak mengindahkan kemungkinan-kemungkinan penjelasan lain, teori
ini tidak menggunakan analisis empiris yang berhati-hati tentang fenomena.42
Perlu diketahui bahwa umumnya, soft balancing terjadi ketika negara-negara
yang bekerjasama tidak mengembangkan pemahaman keamanan yang setara dan
memadai antara satu dan yang lain tentang bagaimana mengimbangi negara lain yang
mengancam. Dengan kondisi demikian, sulit mengatakan negara-negara yang terlibat
perebutan klaim memiliki intensi melakukan soft balancing yang sama.
Jika memang sekarang negara-negara berada dalam kondisi melakukan soft
balancing karena dominasi Amerika, itu berarti keberadaan perilaku balancing dalam
sistem adalah imperatif, yang berarti bahwa jika benar soft balancing mengalami

42

Stephen G. Brooks and William C. Wohlforth Hard Times for Soft Balancing dalam International
Security, Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005), hal. 75.

Universitas Indonesia


kesuksesan, kedepannya peranan Amerika Serikat dalam dunia akan secara bertahap
menurun. Namun terhadap hal ini penulis berpendapat, benar adanya dalam realisme
struktural para realis berpendapat bahwa kemunculan perilaku balancing, walau dari
masa ke masa menimbulkan varian karena teori tentunya menyesuaikan diri dengan
fenomena yang berkembang, adalah hal yang dianggap wajar, rasional dan dengan
demikian, pasti, dalam sistem internasional. Begitu pula dengan keberadaan soft
balancing ini.
Tentang keberadaan penjelasan-penjelasan lain, Brooks menjelaskan bahwa
keberadaan teori soft balancing gagal menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi
karena tidak memberikan instrumen konseptual yang

membedakan aksi soft

balancing dengan apa yang disebutnya unipolar politics as usual. 43 Dengan


demikian, sulit dibedakan apakah suatu aksi merupakan suatu aksi merupakan
penjelasan lain dari perilaku negara atau adalah suatu aksi soft balancing. Karena itu,
sebagai efeknya, siapa saja dapat mengidentifikasi perilaku apa saja yang mempersulit
pelaksanaan politik luar negeri AS sebagai soft balancing. Hal ini merupakan
kesalahan metodis yang fatal, mengingat kekurangan yang ada pada teori ini dapat
menciptakan bias.
Untuk menghilangkan bias itu, Brooks memberikan empat penjelasan
alternatif tentang mengapa negara tidak mengembangkan perilaku hard balancing
terhadap Amerika Serikat, yaitu keberadaan kepentingan ekonomi negara,
kepentingan keamanan regional, ketidaksetujuan akan suatu kebijakan spesifik AS
atau keinginan meningkatkan bargaining position dan keberadaan insentif politik
domestik. Keempat hal ini, dapat menjadi pendorong mengapa akhirnya negara
melakukan suatu aksi yang kemudian menghambat manifestasi politik luar negeri AS,
bukan serta merta karena negara-negara tersebut ingin manuver AS.44
Lieber dan Alexander juga mengkritik soft balancing dan mengatakan bahwa,
keempat aksi-aksi negara yang disebut Pape sebagai hal-hal yang dapat dilakukan
negara

dalam

melaksanakan

soft

balancing

(territorial

denial,

economic

strenghtening, entangling diplomacy, etc) tidak disusun berdasarkan logika yang


benar karena tidak mengindahkan berbagai fakta. Terhadap penggunaan institusi
internasional untuk menghambat kinerja AS, sulit untuk diargumentasikan karena

43

Stephen G. Brooks and William C. Wohlforth Hard Times for Soft Balancing dalam International
Security, Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005), hal. 79.
44
Ibid, hal. 79-80.

Universitas Indonesia


justru negara hegemoni seperti AS lah yang paling berkuasa dalam institusi
internasional

seperti

Perserikatan

Bangsa-Bangsa

(PBB).

Terhadap

usaha

mengenyahkan kekuatan AS dari kawasan dengan territorial denial, dapat dikatakan


bahwa justru negara-negara tertentu menginginkan kehadiran AS sebagai penjamin
keamanannya di kawasan.45
Terhadap penjelasan Brooks, penulis setuju bahwa keberadaan teori soft
balancing memang gagal memberikan instrumen konseptual yang membuatnya
mampu membedakan diri dari penjelasan-penjelasan lain. Ada methodological flaws
sejak awal pada teori ini. Terhadap penjelasan Lieber dan Alexander penulis pun
setuju. Karena itu penulis ingin membawa teori tersebut ke arah sistematika balance
of power regional, dimana bukan negara besar seperti Amerika Serikat yang paling
berkuasa, dimana negara besar terintegrasi ke dalam sebuah kompleksitas keamanan
yang sama dengan kawasan tempat negara-negara kecil yang signifikan perannya.46
Penelitian ini berharap agar ditemukan potensi varian-varian baru dari teori
balancing, yang dapat berkontribusi bagi pengembangan teori ini, sekaligus untuk
mengoreksi teori soft balancing. Dengan demikian, diharapkan perilaku negaranegara pengklaim terkait keberadaan Cina yang menurut Teori Balance of Power
seharusnya mengancam negara-negara Asia Tenggara dapat dengan lebih tepat
dijelaskan oleh teori lain selain soft balancing.
1.6.3. Indirect Balancing dan Complex Balancing
Indirect balancing dan (regional) complex balancing merupakan dua varian
teori yang dikembangkan oleh Evelyn Goh dalam karyanya, Great Powers and
Hierarchical

Order

in

Southeast

Asia:

Analyzing

Regional

Strategies, 47 yang berada dibawah ranah teori balance of influence

Security
48

yang

dikembangannya.


45

Lieber dan Alexander juga memberikan berbagai contoh lain mengapa bukan hanya hard balancing,
tapi soft balancing juga tidak bekerja di dunia abad 21. Lebih lanjut baca Keir A. Lieber dan Gerard
Alexander, Waiting for Balancing: Why the World Is Not Pushing Back, dalam International
Security, Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005), hal. 109-139.
46
Lihat Barry Buzan, Ole Weaver, Regions and Powers: The Structure of International Security,
(Cambridge: Cambidge University Press, 2003), hal.62.
4747
Baca Evelyn Goh, Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing Regional
Security Strategies dalam International Security 32:3. hal. 132-148.
48
Bagaimana negara mengatur dan mengelola pengaruh kekuatan di kawasannya demi menghadapi
ancaman dari kekuatan lain dapat dibaca dalam Ibid.

Universitas Indonesia


Goh merupakan salah satu akademisi yang paling keras mengatakan bahwa
varian teori soft balancing tidaklah tepat diaplikasikan pada Asia Tenggara karena
berpendapat bahwa Asia Tenggara tidak termasuk ke dalam negara-negara yang
dikategorikan Paul dan Pape sebagai negara yang akan melakukan soft balancing.
Goh menganggap bahwa negara-negara yang melakukan soft balancing, seperti yang
dicontohkan oleh Paul dan Pape, merupakan negara-negara yang tidak bisa
melakukan hard balancing alias menciptakan hubungan aliansi militer. Sementara,
negara-negara Asia Tenggara adalah negara-negara yang mampu melakukan hard
balancing karena kehadiran AS di kawasan.
Goh sendiri muncul dengan tawaran indirect balancing dan regional complex
balancing yang menurutnya dilakukan negara-negara Asia Tenggara dengan balance
of influence kekuatan-kekuatan eksternal yang memiliki kepentingan di dalam
kawasan. 49 Indirect balancing mengacu kepada aksi negara yang secara tidak
langsung menggunakan negara lain untuk memanajemen ancaman membuat aksi-aksi
lain yang mana negara tidak menggunakan pihak ketiga dalam memanajemen
ancaman dan menghadapinya secara langsung disebut direct balancing. Karena itu,
disimpulkan oleh Goh bahwa yang dilakukan negara-negara Asia Tenggara adalah
indirect balancing, yang dilakukannya dengan mengelola balance of influence, 50
dengan menghadirkan kekuatan besar lain di kawasan dalam ikatan kerjasama militer
tidak langsung (tanpa target yang jelas). Karena itulah Goh mengkontestasikan soft
balancing dengan pilihan varian indirect balancing dan complex balancing yang
dilakukannya negara-negara Asia Tenggara dengan mengelola balance of influence
kekuatan-kekuatan eksternal yang memiliki kepentingan di dalam kawasan.51 Dengan
demikian, poin yang ingin disampaikan Goh adalah, bahwasanya negara-negara Asia
Tenggara menggunakan pihak ketiga dalam melaksanakan strategi balancingnya.
Terkait tipologi teori oleh Goh ini, penulis masih bisa mengklaim bahwa
metodologinya berbeda dan kasus yang ditelitinya pun berbeda. Goh meneliti ASEAN
secara institusional dan melihat kerjasama institusional antar negara-negara di dalam
kawasan dengan negara-negara di luar kawasan, sehingga keluar dengan kesimpulan
teori tipologinya.

49

Evelyn Goh, Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing Regional Security
Strategies dalam International Security 32:3, hal. 132-148.
50
Ibid.
51
Ibid.

Universitas Indonesia


Penulis, berbeda dengan Goh, maju untuk meneliti perilaku negara di Laut
Cina Selatan terkait kehadiran ancaman Cina, dengan menggunakan asumsi neorealis
untuk menguji teori Balance of Power dan mengukur seberapa relevankah teori
tersebut dalam sengketa wilayah yang seharusnya konfliktual. Karenanya penulis
percaya bahwa tipologi teori yang akan dihasilkan Goh dan yang dihasilkan oleh
penelitian ini akan berbeda.
Tujuan dari tinjauan pustaka ini adalah memperbesar kepercayaan pembaca
bahwa penulis maju untuk meneliti hal yang baru, tidak mengulangi apa yang sudah
ada. Selain itu, tinjauan pustaka ini juga bertujuan memperlihatkan bahwa
kemungkinan hasil induksi teori yang sama akan minimal. Dengan demikian, tinjauan
pustaka ini telah membahas beberapa induksi tipologi teori lain yang berbeda dari
desain penelitian penulis.
1.7. Rencana Pembabakan Penelitian
Skripsi ini terbagi atas empat bab: Bab I: Pendahuluan, yang berisi tujuan,
struktur dan disain riset; Bab II: Studi Kasus, yang berisi pembahasan kasus yang
didalami oleh penelitian; Bab III: Analisis, yang berisi penghubungan data yang
didapatkan dari studi kasus dengan tujuan penelitian serta induksi teori; dan Bab IV:
Penutup, yang berisi kesimpulan, rekomendasi, refleksi bagi Indonesia dan
pembahasan menganai potensi penelitian ini memberi sumbangsih pada Ilmu
Hubungan Internasional.

Universitas Indonesia


BAB 2
STUDI KASUS
2.1. Sengketa Wilayah di Laut Cina Selatan
Sengketa wilayah Laut Cina Selatan merupakan persaingan klaim atas
perairan dan kepulauan di Laut Cina Selatan yang melibatkan negara-negara di Asia
Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei dan Asia Timur seperti Cina
dan Vietnam.52
Sengketa ini mengacu kepada kontestasi klaim antara negara-negara di atas
terhadap kepulauan Spratly dan Paracels, sekaligus wilayah perairan 12 mil laut lepas
garis pantai di sekitarnya --sesuai
dengan peraturan UNCLOS (United
Nation Convention on the Law of the
Sea).

53

Adanya

sengketa

ini

menyebabkan negara-negara di atas


terlibat berbagai kemelut diplomatik
hingga

konflik

bersenjata.

Keberadaan yang satu kemudian


menjadi ancaman bagi yang lain,
apalagi dengan keberadaan Cina
sebagai negara terbesar di kawasan.
Laut Cina Selatan sebagai
lokasi dimana kontestasi klaim ini
terjadi

dijuluki

the

troubled

waters, 54 julukan yang diberikan

Gambar 2.1 : Kontestasi Klaim di Laut Cina Selatan


Sumber: http://www.un.org/Depts/los/convention_
agreements/ texts/unclos/unclos_e.pdf


52

Negara-negara yang berkonflik memperebutkan yurisdiksi terhadap lautan ini antara lain adalah
Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia dan Cina. Saat Malaysia dan Brunei mengkhawatirkan
Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Batas Landas Kontinen mereka, Vietnam, Cina, Taiwan dan
Filipina terlibat dalam aksi saling klaim terhadap dua kepulauan terbesar di Laut Cina Selatan: Spratlys
dan Paracels. Terjadinya aksi saling klaim ini wajar saja terjadi, mengingat dasar laut Laut Cina
Selatan diperkirakan memiliki kandungan hidrokarbon dan minyak bumi dalam jumlah yang besar.
Lebih lengkapnya baca Hasjim Djalal, Indonesia and The Law of The Sea, (Jakarta: Centre for
Strategic and International Studies, 1995), hal. 365-366. Di skripsi ini, Taiwan tidak akan dibahas.
53
12 mil nautik Laut Wilayah, belum termasuk 200 mil nautik batas landas kontinen dan Zona
Ekonomi Eksklusif. Baca naskah UNCLOS di
http://www.un.org/Depts/los/convention_agreements/texts/unclos/unclos_e.pdf
54
Julukan untuk Laut Cina Selatan dari berbagai media seperti VOA, China Daily dan dari berbagai
referensi akademik seperti ISEAS, US-China (USC) Institute dan lain-lain. Pernah menjadi judul dari

Universitas Indonesia


karena potensi konflik yang dimilikinya. Potensi konflik tersebut merupakan bagian
dari takdir yang harus diterimanya sebagai perairan dengan lokasi strategis yang tidak
layak huni, sehingga memberikan kesempatan bagi negara manapun untuk
mengklaimnya. Laut ini didefinisikan oleh International Hydrogaphic Bureau sebagai
kawasan perairan yang berbatasan di titik 3 Lintang Selatan dengan selat Karimata55
di Selatan dan dengan Selat Taiwan sampai ke Pantai Fukien di Cina di Utara.
Sengketa wilayah Laut Cina Selatan merupakan salah satu sengketa berbahaya
di kawasan, dalam konteks bagaimana ia dapat menghadirkan instabilitas di kawasan.
Dalam tulisannya, Kaplan mengatakan bahwa the South China Sea is the future of
conflict, yang sekaligus menjadi judul artikelnya. Argumentasinya dalam artikel
tersebut dibangun berdasarkan fakta bahwa perang, kedepannya, kemungkinan besar
akan terjadi di lautan dan Laut Cina Selatan adalah lautan yang paling dengan
pertentatngan kepentingan yang paling sensitif ini.56
2.1.1. Sejarah Sengketa
Sengketa wilayah Laut Cina Selatan sebenarnya menjadi isu sejak tahun 1885,
ketika Cina mengumumkan klaimnya untuk pertama kali atas salah satu kepulauan
terbesar di perairan tersebut, yaitu Spratlys.57 Namun, baru pada tahun 1991, ketika
Cina memformalisasikan klaimnya atas keseluruhan Laut Cina Selatan dengan
mengeluarkan the Law on Territorial Waters and Their Contiguous Areas sengketa
ini menjadi sengketa perbatasan formal antara negara-negara yang berada di
sekeliling perairan tersebut: Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan
dan Cina.58 Namun, sebelum formalisasi klaim tersebut, telah terjadi beberapa konflik

film dokumenter oleh USC Institute, yang dapat diakses dari
http://china.usc.edu/ShowArticle.aspx?articleID=2145&AspxAutoDetectCookieSupport=1
55
Selat diantara Pulau Sumatera dan Kalimantan, Indonesia
56
Robert D. Kaplan, the South China Sea is the Future Conflict dalam Foreign Policy, terakhir kali
dimodifikasi 15 Agustus 2011, diakses dari
http://www.foreignpolicy.com/articles/2011/08/15/the_south_china_sea_is_the_future_of_conflict?pag
e=full
57
Setelah itu terdapat berbagai macam dinamika dalam dunia internasional yang mempengaruhi status
kepulauan ini, salah satunya adalah pendudukan Jepang pada Masa Perang Dunia II. Jepang yang kalah
kemudian melepaskan kepulauan Spratlys untuk kembali diklaim oleh Cina. Isu ini kembali memanas
ketika Cina melakukan pendudukan militer terhadap Kepulauan Paracel yang saat telah diklaim oleh
Vietnam pada tahun 1974. Hal ini dilihat penulis sebagai kali pertama Cina berperilaku asertif di Laut
Cina Selata. Baca Timeline: Disputes in the South China Sea, Singapore Institute of International
Affairs, terakhir dimodifikasi 1 Juli 2011, diakses dari http://www.siiaonline.org/?q=research/timelinedisputes-south-china-sea, 26/03/2012
58
Hasjim Djalal, Indonesia and The Law of The Sea, (Jakarta: Centre for Strategic and International
Studies, 1995), hal. 365.

Universitas Indonesia


di kawasan perairan ini yang berarti telah terjadi inefektivitas dalam pencegahannya,
atau justru tidak ada upaya pencegahan sama sekali.
Menelusuri akar dari sengketa wilayah Laut Cina Selatan, kita akan kembali
pada Asia Tenggara pada masa dekolonialisasi. Negara yang pernah berdaulat atas
perairan tersebut adalah Perancis dan Jepang,59 dan mereka gagal mendefinisikan
batas-batas yurisdiksi yang jelas atas perairan tersebut. 60 Akibatnya, dalam proses
dekolonialisasi hingga sekarang, pulau-pulau di perairan tersebut tidak pernah
menjadi subjek dari transfer kedaulatan yang jelas.
Proses transfer kedaulatan formal yang pernah terjadi di Laut Cina Selatan
antara lain adalah Japanese Peace Treaty tahun 1951,61 dan San Fransisco Peace
Conference yang mendahuluinya. Keduanya tidak menghasilkan keputusan mengikathukum apapun tentang perairan tersebut. Lo Chi-kin mensinyalir bahwa saat itu nilai
strategis kepulauan di perairan ini belum disadari, karena itu, pemerintah kolonial
tidak melakukan transfer kedaulatan yang serius.
Sejak dulu Cina dan Vietnam sebenarnya telah mengeluarkan barbagai
pernyataan politik perihal kepemilikan mereka atas kepulauan-kepulauan ini. Diduga,
mereka sudah menyadari pentingnya kepulauan-kepulauan ini. 62 Namun karena saat

59

Perancis pernah mengambil alih kedaulatan atas Spratlys dengan ditandatanganinya perjanjian
dengan Dinasti Nguyen pada abad ke-17 yang membuatnya menjadi perwakilan kedaulatan Dinasti
tersebut di kancah internasional. Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut Dinasti Nguyen
menyerahkan hak atas representasi internasionalnya kepada Perancis, membuat kedaulatan bagi
kepulauan kekuasaannya termasuk Spratlys menjadi milik Perancis.Sedangkan Jepang pernah
menduduki kepulauan tersebut dalam misinya menaklukkan Asia Tenggara di masa Perang Dunia II
Sumber: Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea
Islands, (London: Routledge, 1989), hal. 27.
60
Kegagalan tersebut terjadi karena keterbatasan mereka dari sisi teknologi. Pendefinisian batas darat
dapat secara sederhana dilakukan, tetapi pendefinisian batas laut tentunya membutuhkan teknologi
spesifik yang saat itu belum ada. Dalam pengukuran batas-batas dalam laut, serta tidak adanya urgensi.
Kepulauan di Laut Cina Selatan banyak terdiri atas pulau-pulau kecil yang dapat dihuni serta karangkarangan yang saat itu dianggap tidak memiliki nilai. Karenanya dalam proses transfer kedaulatan
dahulu, kepulauan-kepulauan tersebut tidak begitu diperhatikan karena belum dianggap penting, seperti
sekarang, sehingga pada akhirnya pulau-pulau dalam perairan ini dibiarkan begitu saja.
61
Tidak satupun klausa mengacu secara spesifik kepada pulau-pulau disana. Sumber: Michael Leifer,
Stalemate in the South China Sea, Publikasi Asia Research Center, London School Economics and
Political Sciences, diunduh dari http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf
62
Pernyataan resmi pertama pemerintah Republik Rakyat Cina tentang kedaulatan atas Kepulauan
Spratly dan Paracel pertama kali dikeluarkan dalam San Francisco Peace Conference ini, tercatat
dalam U.S.-British Draft Treaty with Japan. Dikatakan oleh Zhou Enlai (Chou En-lai), dalam
kapasistasnya sebagai Menteri Luar Negeri Cina: ..the Draft Treaty stipulated that Japan should
renounce all rights to Nan Wai (Spratly) Island and Si Sha Islands (Paracels), but again deliberately
makes no mention of the problem of restoring sovereignty over them. As a matter of fact, just like all
the Nan Sha Islands (Spratlys), Chung Sha Islands (Macclesfield Bank) and Tung Sha Islands (Pratas),
Si Sha Islands and Nan Wei Island have always been Chinas territory. Dikutip dari Supplement to
Peoples China, 1 September 1951:16, dikutip dalam Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial
Dispute: The Case of the South China Sea Islands, (London: Routledge 1989). Pernyataan dengan

Universitas Indonesia


itu representasi mereka masih lemah di dunia internasional dan suara mereka tidak
begitu diakui (dan diwakili oleh pemerintah kolonial mereka), tidak satupun dari
pernyataan tersebut yang benar-benar ditindak lanjuti menjadi keputusan mengikathukum.63
Pasca Perang Dunia II kemelut yang berbeda mengitari kepulauan di perairan
ini. Kolonialisme dan imperialisme digantikan oleh persaingan antara kubu barat dan
kubu Soviet a la Perang Dingin. Kemelut tersebut akhirnya menjembatani perairan ini
kepada takdir konfliktual yang dimilikinya dan dinamika persaingan klaim antara
aktor-aktor yang terlibat berkembang menjadi konfrontasi bersenjata.
2.1.2. Negara-Negara yang Bersengketa
Negara-negara yang bersengketa di Lautan ini antara lain adalah Cina,
Taiwan, Vietnam, Filipina, Brunei dan Malaysia. Brunei, tidak seperti negara-negara
lain tidak memiliki klaim atas kepulauan yang besar, tidak melakukan pendudukan
dan tidak menciptakan benteng di bebatuan pulau, tetapi ia memiliki klaim terhadap
dua area terpisah yaitu Louisa Reef dan Rifleman Bank. Klaim Brunei atas Louisa
Reef sebenarnya lemah karna statusnya yang inhabitasi, sementara Rifleman Bank
juga diklaim oleh Malaysia.64
Malaysia mengklaim total 12 pulau di Laut Cina Selatan. Enam dianaranya
adalah Ardasier Reef, Dallas Reef, Louisa Reef, Mariveles Reef, Royal Charlotte Reef
dan Swallow Reefyang secara fisik diduduki oleh pasukan Malaysia. Tiga lagi
adalah Erica, Investigator dan Luconia diklaim tapi tidak diduduki. Satu lagi, adalah

tujuan yang sama juga dikeluarkan oleh delegasi Vietnam, yang saat itu diwakili oleh pemerintahan
Bao Dai. Merekapun mengklaim Kepulauan Spratly dan Paracel secara publik melalui konferensi di
atas. Sumber: Marwyn S. Samuels, Contest for the South China Sea, (New York dan London:
Methuen, 1982) hal.79, dikutip dalam buku yang sama.
63
Perlu diketahui bahwa saat itu delegasi Cina tidak diundang ke konferensi ini. Saat itu, suara Cina
diwakili oleh Uni Soviet, utamanya perihal daerah-daerah yang harus dikembalikan padanya sebagai
korban Jepang dalam Perang Dunia II. Yang ditegaskan oleh Uni Soviet saat itu adalah: The right
of the Chinese Peoples Republic over Manchuria, the Island of Taiwan (Formosa) with all islands
adjacent to it, the Pen(g) huletao Islands (the Pescadores), the Tun(g) shatsuntao (the Pratas Islands),
as well as over the islands of Sishatsuntao and Chun(g) shatsuntao (the Paracel Islands, the group of
the Amphitrites, and the shoal of Maxfield {sic}), and Nanshatsuntao including the Spratly. (Sumber:
Ibid) Menurut Lo Chi-kin, peneliti yang meneliti klaim Cina terhadap Spratlys dan Paracels dengan
meneliti berbagai pernyataan publik yang dikeluarkan Cina dan negara-negara bersangkutan perihal
klaimnya, jelas dari pernyataan di atas bahwa delegasi Soviet agaknya bingung dan tidak benar-benar
memahami tata nama dari grup-grup kepulauan di Laut Cina Selatan. Pada akhirnya yang terjadi
kemudian adalah pernyataan tersebut ditolak oleh konferensi. Sumber: Lo Chi-kin, Chinas Policy
Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands, (London: Routledge 1989).
64
Joshua P. Rowan, The U.S-Japan Security Alliance, ASEAN, and the South China Sea Dispute,
dalam Asian Survey, Vol. 45, Issue 3, hal. 414-436.

Universitas Indonesia


Commodore Reef, yang juga diklaim oleh Filipina. Terakhir, Amboyna Cay dan the
Braque Canada Reefs yang diklaim oleh Malaysia dan Vietnam. 65
Filipina mengklaim delapan pulau-pulau kecil di Spratlys berdasarkan klaim
sejarah. Kalayaan (Freedomland) yang diberikan Thomas Cloma pada tahun 1974
kepada Filipina adalah pulau-pulau ini. Cloma mengklaim diri menemukan kepulauan
yang disebutnya sebagai kumpuluan pulau, pulau pasir, ambang pasir, karangkarangan dan area penangkapan ikan, dengan total wilayah 64.976 kuadrat mil
laut.

66

Filipina seringkali terlibat konflik, utamanya dengan Cina, dalam

mempertahankan pulau-pulau ini. Di tahun 1990. Tahun 1995 Cina menduduki


Mischief Reefs yang berada dalam ZEE Filipina 1000 mil dari daratan Cina. Sejak
tahun 2003, saat Cina dan Filipina melakukan kerjasama energi, konflik ini dapat
diminimalisir.67
Vietnam mempertahankan klaimnya atas keseluruhan Paracels, walau pada
tahun 1976 Cina telah mengakuisisinya secara total. Hanoi mempertahankan 22 lokasi
di Laut Cina selatan, termasuk West London Reef, Amboyna Cay, Pearson Reef, Sin
Crowe Island, Namyit Island, Sand Cay, Barque Canada Reef dan Southwest Cay di
kepulauan Spratlys. Vietnam memiliki sekitar 350 pasukan yang siaga di kepulauan
ini dan diperkirakan kini telah menjadi 1000 pasukan di tahun 1992. 68
Terakhir, Cina. Cina merupakan negara penuntut yang paling asertif. Ia
mengklaim keseluruhan Spratlys dan Paracels sebagai miliknya dengan klaim
sejarah yang mundur sejauh ribuan tahun yang lalu sejak tahun 110 di Dinasti Han,
juga atas ekspedisi Dinasti Ming di abad ke 18. Cina saat ini menduduki beberapa
kepulauan kecil di Spratlys dan Paracels, tidak mengindahkan negara penuntut yang
lain. 69
Cina merupakan negara dengan klaim terbesar secara kekuatan maupun secara
luas wilayah karena mengklaim hampir keseluruhan Laut Cina Selatan sebagai

65

Joshua P. Rowan, The U.S-Japan Security Alliance, ASEAN, and the South China Sea Dispute,
dalam Asian Survey, Vol. 45, Issue 3, hal. 414-436.
66
Atas hak yang diklaimnya atas penemuannya, ia menamai kepulauan tersebut Kalayaan alias
Freedomland. Dalam Peta Freedomland yang diciptakan Cloma, pulau-pulau utama seperti
Kepulauan Spratly , Itu Aba, Nam Yit dan Thitu dimasukkan dalam peta tersebut. Cloma juga
menyadari bahwa terdapat persaingain klaim atas kepulauan ini. Ia mengakhiri suratnya dengan
menyarankan pemerintah Filipina untuk membawa klaim ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB). Sumber: Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China
Sea Islands, (London: Routledge 1989), hal. 141-142.
67
Joshua P. Rowan, The U.S-Japan Security Alliance, ASEAN, and the South China Sea Dispute,
dalam Asian Survey, Vol. 45, Issue 3, hal 414-436.
68
Ibid.
69
Ibid.

Universitas Indonesia


miliknya. dengan justifikasi bahwa Kepulauan Spratlys - dinamakan Cina dengan
kepulauan Nanshadan Paracels miliknya sejak zaman Cina Kuno. Salah satu bukti
sejarah yang dicoba untuk diperjuangkannya adalah dokumen Nan Zhou Yi Wu Zhi
(Records of Strange Things in the South) dari Masa Tiga Kerajaan (220-265 M).70
Pada tahun 1991 saat Cina mengeluarkan the Law on Territorial Waters and Their
Contiguous Areas, yang secara formal mengklaim keseluruhan Laut Cina Selatan
sebagai miliknya.71 Dengan kekuatannya yang relatif besar, Cina merupakan ancaman
terbesar bagi negara-negara pengklaim lain.
2.2. Imbalance of power di Laut Cina Selatan
Imbalance of power adalah apa yang ditemukan peneliti dalam kasus Laut
Cina Selatan ini. Menurut Kenneth Waltz, hal yang termasuk insentif sistemik ini
seharusnya menciptakan perilaku balancing, atau bandwagoning. Jika tidak, balance
of power sebagai kondisi ideal (yang menurut Waltz dapat menciptakan stabilitas)
tidak akan tercipta. Masalahnya, Laut Cina Selatan, dalam waktu 20 tahun terakhir,
tidak melihat aksi balancing yang menciptakan struktur bipolar dalam kasus, tidak
melihat aksi bandwagoning yang jelas terhadap Cina yang secara umum dilihat
sebagai ancaman. Selain itu, kawasan pun tidak melihat perang terjadi di lautan ini,
yang seharusnya bisa dipancing oleh imbalance ini.
Menjawab anomali di atas mengharuskan kita untuk mengamati balance of
force di sekeliling kawasan. Penulis memilih untuk mengamati balance of force tahun
1991, ketika sengketa Laut Cina Selatan pertama kali secara formal dimulai dengan
diformalisasikannya klaim Cina, sampai tahun 2011 ketika penelitian ini mulai
dilakukan. Kapabilitas yang akan dihitung dalam tabel balance of force dibawah
adalah alutsista-alutsista yang akan signifikan untuk bertahan dan menyerang, jika
diasumsikan perang terjadi di Laut Cina Selatan dan alutsista yang diasumsikan
berguna untuk melakukan ekspansi alias pendudukan terhadap wilayah yang diklaim.


70

Monique Chemillier-Gendreau, Sovereignty over the Paracel and Spratly Island, (The Hague:
Kluwer Law International: 1996), hal. 59.
71
Bukan hanya kepulauan, dengan hukum ini, Cina juga menyatakan dalam hukum dalam negeri yang
dianggap formal tersebut bahwa dalam jarak 12 mil dari kepulauan-kepulauan tersebut, adalah laut
wilayahnya dan 24 mil dari kepulauan tersebut, adalah lautan dengan hak ekonominya. Baca dokumen
the Law on Territorial Waters and Their Contiguous Areas of the Peoples Republic of China,
diakses dari http://www.asianlii.org/cn/legis/cen/laws/tsatcz392, pada 11/04/2012.

Universitas Indonesia


Berikut adalah tabel balance of force yang menunjukkan imbalance of power
tersebut:

Tabel 2.1: Balance of Force yang Mengitari Laut Cina Selatan 1991-201172
1991

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

1992

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

1993

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

1994

Kapabilitas

AL SSBN

Cina Vietnam
1
0
93
0
19
0
37
7
0
0
4600
125
630
0
600
60
Cina Vietnam
1
0
45
0
17
0
37
7
0
0
4600
125
630
0
600
60
Cina Vietnam
1
0
46
0
18
0
38
7
0
0
4600
125
630
0
600
65
Cina Vietnam
1
0

Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
0
9
0
0
0
0
0
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
0
9
13
0
0
0
33
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
0
7
13
0
0
0
33
Negara
Filipina Malaysia
0
0

Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0

72

Kapabilitas yang dihitung adalah kapabilitas yang signifikan untuk kepentingan ofensif dan defensif
dalam perang maritim di Laut Cina Selatan. Kapal-kapal untuk pendudukan (setelah kemenangan)
tidak dihitung, dengan asumsi bahwa penjagaan akan tetap dilakukan dengan kapal-kapal besar di
perairan.

Universitas Indonesia


Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack
1995

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

1996

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

1997

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

1998

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters

49
18
37
0
4600
625
600

0
0
7
0
125
0
65

Cina Vietnam
1
0
51
0
18
0
32
7
0
0
4600
125
480
0
500
65
Cina Vietnam
1
0
62
0
18
0
36
8
0
0
4448
125
566
0
440
71
Cina Vietnam
1
0
60
0
18
0
36
7
0
0
3139
124
376
0
440
71
Cina Vietnam
1
0
62
2
18
0
35
7
0
0
2947
124

0
0
0
0
1
4
0
0
7
13
0
0
0
35
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
0
7
29
0
0
0
63
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
6
0
0
7
33
0
0
0
27
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
0
5
23
0
0
0
33
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
6
0
2
6
33

0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0

Universitas Indonesia


Bombers
Ground Attack
1999

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2000

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2001

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2002

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2003

Kapabilitas
AL SSBN

402
440

0
77

Cina Vietnam
1
0
70
2
18
0
35
6
0
1
3355
124
402
0
440
65
Cina Vietnam
1
0
65
2
20
0
40
6
0
0
1307
124
197
0
1950
65
Cina Vietnam
1
0
68
2
21
0
41
6
0
0
1307
124
197
0
1950
65
Cina Vietnam
1
0
68
2
21
0
42
6
0
1
1126
124
225
0
1860
65
Cina Vietnam
1
0

0
0
0
44
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
6
32
0
0
0
52
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
11
22
0
0
0
42
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
11
22
0
0
0
42
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
14
17
0
0
0
57
Negara
Filipina Malaysia
0
0

0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0

Universitas Indonesia


Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack
2004

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2005

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2006

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2007

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters

68
21
42
0
1232
248
758

2
0
6
1
124
0
65

Cina Vietnam
1
0
68
2
21
0
42
6
0
1
1210
124
248
0
776
71
Cina Vietnam
1
0
68
2
21
0
42
6
0
5
1326
140
290
0
1443
71
Cina Vietnam
1
0
57
2
27
0
44
6
0
5
1598
140
352
0
1465
64
Cina Vietnam
1
0
57
2
28
0
48
6
0
5
1525
140

0
0
0
0
1
4
0
6
14
17
0
0
0
57
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
21
17
0
0
0
57
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
21
17
0
0
0
48
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
5
18
0
0
0
66
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
5
18

0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0

Universitas Indonesia


Bombers
Ground Attack
2008

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2009

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2010

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

2011

Kapabilitas
AL SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
AU Fighters
Bombers
Ground Attack

352
1538

0
64

Cina Vietnam
3
0
59
2
29
0
46
6
0
0
1525
124
212
0
847
65
Cina Vietnam
3
0
62
2
28
0
50
5
0
6
1525
140
132
0
421
64
Cina Vietnam
3
0
62
2
28
0
52
5
0
6
1184
140
132
0
421
64
Cina Vietnam
3
0
62
2
13
0
65
0
0
7
1070
0
132
0
421
219

0
0
0
52
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
0
0
0
1
4
0
6
14
17
0
0
0
68
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
1
0
0
1
3
0
8
15
18
0
0
0
64
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
2
0
0
1
2
0
10
15
29
0
0
0
28
Negara
Filipina Malaysia
0
0
0
2
0
0
1
8
0
4
15
31
0
0
0
26

0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
0
0
0
0
0
0
0
0

Sumber: East Asia and Australasia, The Military Balance, (Institute for International and
Strategic Studies), 1991-2011

Universitas Indonesia


Tabel 2.1. sebelumnya jelas menunjukkan perilaku negara-negara yang
seharusnya terancam oleh Cina: mereka tidak melakukan internal balancing yang
signifikan. Seharusnya, konflik terjadi. Tapi pada kenyataannya sejak tahun 1991
ketika formalisasi klaim (yang seharusnya mengancam) dilakukan Cina hingga tahun
2011 kawasan ini melihat stabilitas.
2.3. Stabilitas di Laut Cina Selatan
Untuk menunjukkan kondisi stabil di Laut Cina Selatan, sub-bab ini
menampilkan lini waktu peristiwa-peristiwa penting dalam 20 tahun terakhir ini. Dari
tabel tersebut, kita akan melihat bahwa 1) perang tidak pernah terjadi, 2) ekskalasi
akan langsung direspon dengan resolusi damai (padahal institusi tidak terlibat dalam
menjembataninya, artinya ini merupakan inisiasi negara sendiri) dan 3) dalam 20
tahun terakhir kawasan didominasi kondisi damai. Berikut adalah tabel yang
memperlihatkan lini waktu peristiwa tersebut:

Tabel 2.2: Lini Waktu Peristiwa di Laut Cina Selatan

Tahun

Hal
Cina mengesahkan hukum laut wilayah, mencakup Laut Cina Selatan (LCS).

1991

1992
1993
1994

Negara pengklaim menyatakan berkomitmen menyelesaikan masalah


secara damai.
Cina mengirim pasukan ke Da Ba Dau Reef, dekat Sin Cowe Reef yang
diklaim Vietnam. Menimbulkan pertempuran militer kecil.
Cina menawarkan negosiasi perihal Spratlys, menegaskan ulang
komitmennya untuk menjaga perdamaian.
Workshop LCS dilanjutkan di ASEAN.
Cina mendistribusikan peta formal negaranya yang mencakup LCS.

ASEAN Regional Forum (ARF) terbentuk.


Cina menduduk Mischief Reef di ZEE Filipina.
Cina dan Filipina berkonflik di Mischief Reef.
1995
Cina dan Filipina berkomitmen damai (Agustus).
Cina dan Vietnam berkomitmen damai (November).
Cina mendistribusikan peta baseline yang diklaimnya.
1996
Cina menawarkan pembuatan ASEAN-China joint-Code of Conduct (COC)
1997-1998 Workshop penyelesaian konflik melalui ARF.
1999

Filipina mendorong penciptaan Draft Code of Conduct.

2000-2001 Cina dan Filipina menyatakan komitmennya untuk penyelesaian DOC.

Universitas Indonesia

2002
2003
2004

Declaration on the COC diadopsi. Hanya sekedar deklarasi, belum legally-


binding (mengikat secara hukum).
Cina mempublikasikan pelarangan aktivitas pemancingan di LCS, menyulut
kemarahan Vietnam.
Status quo, workshop penyelesaian konflik melalui ARF.

Perusahaan minyak dari Vietnam, Cina, Filipina, menandatangani kontrak


joint-exploration.
2006-2008 Status quo, workshop penyelesaian konflik melalui ARF.
Cina - AS bertikai di Laut Cina Selatan, Cina tidak menginginkan AS di daerah
2009
"kedaulatan"nya.
Cina tersinggung atas diangkatnya isu LCS di ARF.
2010
East Asia Summit di Hanoi, tidak ada hasil apapun tentang LCS.
ADMM+ diluncurkan, belum menghasilkan perjanjian apapun tentang LCS.
Filipina memulai latihan militer dengan AS.
Kapal Perang Filipina menabrak kapal nelayan Vietnam.
Permintaan maaf dari AL Filipina.
Cina-Vietnam menandatangani perjanjian keterbukaan.
2011
Vietnam-AS meluncurkan serangkaian latihan perang.
Vietnam berlatih tembakan rudal.
Kapal Patroli Cina memotong kabel survey Kapal Vietnam.
Filipina mengumumkan peningkatan aktivitas patroli di lautan itu.
Kapal Patroli Cina mengancam akan menyerang kapal Filipina.
2005

Sumber: Data diolah dari Global Times, Review: Disputes in the region,
www.globaltimes.cn/SPECIALCOVERAGE/SouthChinaSeaConflict.aspx; dan
The
New
York
Times,
South
China
Sea:
Chronology
of
Coverage,
http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/southchinasea/

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kawasan didominasi situasi damai. Jika


ada pertikaian sekalipun, pertikaiannya mayoritas kecil. Kasus-kasus ekstrim seperti
pendudukan sekalipun langsung direspon resolusi damai atas inisasi negara-negara
sendiri. Menelaah lini waktu tersebut, akan ditemukan bahwa yang paling sering
terjadi di Laut Cina Selatan adalah aksi kejar dan aksi provokasi oleh kapal patroli,
tanpa kejelasan apakah Cina sebagai negara memang memerintahkan aksi tersebut.
Selain itu, aksi tersebut selalu diikuti dengan konsesi oleh negara yang terlibat, yang
menghasilkan komitmen untuk menjaga perdamaian dalam bentuk pernyataan. Dapat
dilihat pula bahwa komitmen tersebut seringkali dilanggar, dengan datangnya aksi
provokasi lagi kemudian.
Selain aksi provokasi oleh kapal patroli, dimulai di tahun 2011, latihan militer
dengan aktor eksternal pun mulai dilakukan. Ini merupakan aksi provokasi yang jelas
dilakukan oleh negara, tapi tidak pernah ada respons berupa perang, walaupun
kecaman dari negara yang merasa terganggung kedaulatannya pasti diberikan. Aktor

Universitas Indonesia


yang merasa terancam adalah Cina dan yang melakukan latihan militer adalah ASVietnam dan AS-Filipina, seperti yang dapat dilihat pada tabel.
Terakhir, jika ada aksi yang paling dekat dengan perang, itulah aksi
pendudukan Cina terhadap Mischief Reef di tahun 1995. Cina dan Filipina sempat
bertikai di karang tersebut, tapi tidak berselang berapa lama, mereka pun berdamai
tanpa ada perubahan pada perimbangan kekuatan (target perang yang dimaksudkan
seharusnya terjadi jika terdapat imbalance adalah pengurangan kekuatan, atau dalam
kasus ini, seharusnya pendudukan73) sehingga dengan demikian, kondisi tetap stabil.
Salah satu yang mempengaruhi terciptanya kondisi stabil tersebut fakta bahwa
pulau kecil tersebut merupakan sebuah ZEE, bukan Laut Wilayah. Sulit bagi Filipina
untuk menjustifikasi perang ataupun rasa terancam, jika hanya sejauh itu Cina
berperilaku, selain fakta bahwa Cina tidak mengirimkan kapabilitas ofensifnya yang
paling berbahaya, sehingga sulit baginya untuk meminta bantuan AS yang berada di
sisinya untuk mengambil aksi asertif terhadap Cina. Dengan demikian tabel diatas
telah menunjukkan kepada kita stabilitas di Laut Cina Selatan. Hal yang merupakan
anomali bagi neorealisme, karena, menggunakan paradigma tersebut, kita percaya
bahwa sistem yang imbalance seharusnya menyebabkan konflik, perang terbuka yang
dapat mengubah struktur dalam sistem, ergo, sistem instabil. Waltz mungkin akan
mengatakan bahwa imperialisme Cina-AS-lah penyebab stabilitas. Tapi, secara
metodologi, studi kasus Waltz adalah Perang Dunia II dan kondisi imbalance ini
mirip dengan saat itu. Kondisi Laut Cina Selatan juga komparabel dengan dunia pada
masa Perang Dingin, dimana konflik-konflik kecil terjadi, tapi konflik besar antara
dua negara superpower tidak. Seperti halnya konflik-konflik kecil yang terjadi di Laut
Cina Selatan yang tidak pernah memuncak dalam dua puluh tahun terakhir. Bedanya,
di lautan ini terdapat imbalance of power sementara di tingkat global di masa Perang
Dingin terdapat balance yang mendekati 50:50 Mengapa hal tersebut bisa terjadi
dibahas dalam Bab Analisis, dihubungkan dengan batasan relevansi dan induksi teori.
2.4. Insentif Konflik di Laut Cina Selatan
Data-data dalam sub-bab ini adalah data untuk memperkuat argumen bahwa
seharusnya konflik terjadi, sehingga memperjelas anomali yang ada, sekaligus
menjadi data penunjang bagi analisis.

73

Yang dimaksud adalah pendudukan seluruh perairan yang diklaim sebagai laut wilayah.

Universitas Indonesia


Dengan menggunakan cultural competence-nya sebagai penduduk Asia
Tenggara,

74

berdasar pada argumen-argumen peneliti seperti Goh, Leifer dan

Acharya, penulis menyimpulkan bahwa beberapa hal yang dapat mendorong konflik
di Laut Cina Selatan antara lain adalah: historical enmity,75 nilai strategis Laut Cina
Selatan dan inefektivitas institusi/rezim.
2.4.1. Historical Enmity
Historical enmity (permusuhan historis) tercipta karena sejarah konfliktual
kawasan. Terkait Laut Cina Selatan, sudah sejak dulu negara-negara pengklaim
berebut atasnya. Untuk memahami seberapa dalam permusuhan mereka kita harus
membahas beberapa sengketa militer dan diplomatik yang pernag terjadi dalam
sejarah persaingan mereka.
2.4.1.1. Vietnam dan Cina
Pada tahun 1974 konflik terjadi antara Cina dan Vietnam Selatan karena
memperebutkan kepulauan Paracels. Sejak awal kedua negara memang tidak
memiliki hubungan diplomatik yang baik karena klaim keduanya. Dalam serangan
tersebut, pasukan Vietnam Selatan dikalahkan dan mundur dari Kepulauan Paracels.
Pasukan Vietnam Selatan kewalahan oleh pasukan Cina yang lebih superior dan
dikalahkan dalam waktu dua hari. Sumber militer di Vietnam Selatan mengatakan
bahwa 14 kapal perang Cina, termasuk empat guided missile destroyers, dikerahkan
dalam misi itu bersamaan dengan empat MiG-21 dan MiG-23.76
Skenario yang dipercaya terjadi dalam konflik tersebut adalah bahwa, selama
16 18 Januari 1974, percikan pertempuran kecil terjadi antara kapal Cina dan
Vietnam Selatan yang saling berkejaran dan saling bersembunyi diantara pulau-pulau
kecil di sana. Percikan pertemupuran kecil ini memuncak menjadi pertempuran yang

74

Cultural competence mengacu kepada pengetahuan yang secara unik kita punya sebagai warga Asia
Tenggara, perihal kasus ini, yang dapat dianggap kebenaran mutlak, sebab kita sendiripun adalah
sumber data yang valid dalam penelitian apapun mengenai Asia Tenggara, tergantun kebutuhan
penelitian.
75
Evelyn Goh, Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing Regional Security
Strategies, dalam International Security 32, No. 3 (Winter 2007/08), hal. 132-148; Michael Leifer,
Stalemate in the South China Sea, Publikasi Asia Research Center, London School Economics and
Political Sciences, diunduh dari http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf; dan Amitav
Acharya, Constructing Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional
Order, (London: Routledge, 2001), Bab 5: Managing Intra-Regional Relations.
76
Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 56.

Universitas Indonesia


serius pada dini hari 19 Januari 1974.77 Walau demikian, perihal dimulainya konflik,
Cina dan Vietnam Selatan memiliki skenario masing-masing dimana keduanya saling
menuduh satu sama lain sebagai pihak yang menyerang duluan.
Dikatakan bahwa penyerangan Cina tersebut didorong oleh keputusan
pemerintah Vietnam Selatan pada September 1973 untuk memasukkan kepulauan
Spratlys kedalam wilayah administratif Provinsi Phuoc Tuy. Keputusan tersebut
dibuat menyusul rekomendasi dari Dewan Minyak Nasional Vietnam Selatan.
Rekomendasi tersebut disampaikan sebagai hasil dari diberikannya konsesi minyak
kepada sejumlah perusahaan minyak internasional dan konsorsium untuk eksplorasi di
lepas pantai Vietnam Selatan pada Juli 1973.78 Inilah insentif energi bagi konfik.
Kondisi lain yang mendorong Cina untuk melakukan penyerangan
berhubungan dengan konteks dunia pada masa Perang Dingin: keputusan Amerika
Serikat untuk mengurangi bantuan militernya ke Vietnam Selatan. Karena hal
tersebut, Vietnam Selatan terpaksa mengambil kebijakan untuk mengurangi kekuatan
militernya di segala lini, termasuk di Laut Cina Selatan.79 Akibatnya, hanya ada
sedikit prajurit Vietnam Selatan untuk bertahan di Laut Cina Selatan dan saat Cina
menyerang merekapun kewalahan. Pasca pertempuran ini, selama tahun 1970an
hingga awal 1980an, sengketa antara kedua negara ini menjadi semakin intensif.
Pada saat Vietnam telah terunifikasi, sejarah berulang. Pada Februari dan
Maret 1987, angkatan laut Vietnam dan Cina melakukan aksi saling tembak di area
kepulauan Nansha (Spratlys), yang menimbulkan korban bagi kedua belah pihak.
Pada Maret 1988 aksi saling tembak itu akhirnya berubah menjadi konfrontasi militer
yang serius antara kedua negara. Konfrontasi tersebut terjadi di sekitar Chigua Jiao
Atoll (Johnson Reef) dan di Yongshu Jiao Reef (Fiery Cross Reef).80
Salah satu faktor pendorong lain terhadap konflik ini adalah kekecewaan Cina
akan Vietnam yang mengubah posisinya dan tidak lagi mendukung klaim Cina atas
Laut Cina Selatan, seperti ketika ia masih dibawah rezim Vietnam Utara dahulu.
Konflik ini merupakan salah satu konflik yang paling menciptakan kebencian historis
masyarakat Vietnam terhadap Cina, yang masih diekspresikan masyarakat hingga
sekarang.

77

Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 56.
78
Ibid, hal. 55.
79
Lihat http://www.globaltimes.cn/SPECIALCOVERAGE/SouthChinaSeaConflict.aspx.
80
Jianming Shen, China's Sovereignty over the South China Sea Islands: A Historical Perspective,
hal. 96, diunduh dari http://chinesejil.oxfordjournals.org/

Universitas Indonesia


2.4.1.2 Filipina dan Cina
Filipina bersengketa dengan Malaysia atas Kepulauan Spratlys

81

dan

bersitegang dengan Cina di awal mula sengketa ini. Awal klaim Filipina tidak begitu
berbeda dari yang lainnya, tidak pernyataan resmi apapun sampai ketika pulau ini
ditemukan pada 1956 oleh Tomas A Cloma. Sebelum kisah Cloma ini, telah dicatat
juga bahwa tahun 1946, Filipina telah mengeluarkan pernyataan melalui Kementrian
Luar Negerinya bahwa the New Southern Islands (istilah yang digunakan oleh
Jepang bagi seluruh pulau di Laut Cina Selatan) harus diberikan kepadanya.82
Berdasarkan atas surat dari Tomas Cloma ini, Filipina mulai mengklaim
Spralys. Karena perubahan posisinya ini pemerintah Filipina kemudian menerima
kecaman dari masyaraat Cina. Shao Hsun-cheng, Profesor Ilmu Sejarah di Universitas
Beijing menulis kan bahwa Spratly telah menjadi bagian dari wilayah Cina bahkan
sebelum Magellan menemukan Filipina.83 Sejauh ini, respon antara kedua belah
pihak masih berada di ranah informal.
Pada 1971 barulah isu ini menjadi formal, ketika pada tanggal 10 Juli Presiden
Ferdinand Marcos mengeluarkan pernyataan resmi untuk pertama kalinya. Dalam
pernyataan tersebut, tiga hal menjadi isu utama: Pertama, karena kedekatan jarak Itu
Aba (disebut Ligaw oleh Filipina) dekat dengan Filipina, kehadiran prajurit Taiwan
(dan prajurit-prajurit militer negara manapun) menjadi ancaman serius bagi
keamanan nasional Filipina; kedua, pemerintah Filipina menegaskan lagi bahwa
kepulauan Spratly dianggap berada di bawah perwalian de facto dari Kekuatan
Sekutu, sehingga tidak ada negara yang boleh menempatkan pasukannya tanpa seizin
Sekutu; ketiga, Filipina menegaskan lagi posisinya di tahun 1956 tentang 53 pulau
Freedomlandpulau-pulau diluar Spratlys yang ditemukan oleh warga negara
Filipina, Tomas Cloma, yang dianggap dianggap berada dalam status res nullius84
sebelum ditemukan.85
Empat tahun kemudian dalam kunjungan Marcos ke Cina pada Juni 1975,
barulah untuk pertama kalinya isu ini dibicarakan oleh kedua negara dalam pertemuan

81

Sengketa Kepulauan Paracel hanya antara Cina dan Vietnam.


Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 140.
83
Ibid, hal. 142.
84
Asas dalam hukum yang berarti bahwa sebuah objek hukum tertentu (yang bisa dimiliki) belum
menjadi milik subjek tertentu. Objek seperti ini biasanya dianggap ownerless, sehingga
kepemilikannya bebas menjadi milik siapa saja (yang menemukannya).
85
Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), 145-146.
82

Universitas Indonesia


Pembicaraan dalam kunjungan ini juga tidak berkontribusi signifikan dalam konteks
penyelesaian sengketa wilayah Laut Cina Selatan, karena walaupun berhasil
menghasilkan joint-communique antara kedua belah pihak, tidak satupun hal tentang
kepulauan Spratly disebutkan dalam joint-communique tersebut. Dua tahun kemudian,
pada Juli 1977, Menteri Luar Negeri Huang Hua memperingatkan bahwa tidak ada
eksploitasi sumber daya alam di Spratlys dan dasar laut di sekitarnya yang valid untuk
dilakukan tanpa seizin pemerintah Cina. Saat itu, tidak ada negara lain yang
melakukan eksplotasi sumber daya alam di wilayah tersebut selain Filipina, sehingga
jelas bahwa Filipina adalah target dari peringatan tersebut.86
Sejak saat itu, ketegangan antara Filipina dan Cina terus berlanjut hingga
sekarang. Demikian pula, sesungguhnya, dengan sengketa antara Filipina dengan
negara pengklaim lain seperti Vietnam. Dalam masa-masa persaingan klaim di era
1970an-1990an ini Filipina dan Vietnam sebenarnya pernah terlibat aksi baku tembak.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam sejarah terdapat juga sengketa
antar negara-negara Asia Tenggara, bukan hanya sengketa melawan Cina.
2.4.1.3 Malaysia - Cina - Vietnam
Dalam konteks sejarah sengketa di Spratlys, Malaysia merupakan negara
terakhir yang bergabung. Klaimnya terhadap beberapa pulau di kelompok Spratlys
tidak menjadi publik hingga Desember 1979, ketika Kuala Lumpur mempublikasikan
peta resmi batas landas kontinen Kerajaan Malaysia. Pada peta tersebut, beberapa
pulau dan karang-karangan dalam grup Spratlys dimasukkan kedalam teritori
Malaysia, antara lain Amboyna Cay (Pulak Kecil Amboyna), Commodore Reef
(Terumba Laksamana) dan Swallow Reef (Terumba Layang-Layang). Dua pulau yang
pertama tadi diklaim oleh Vietnam, Filipina, Cina dan Taiwan. Sementara Swallow
Reef diklaim oleh semua negara yang terlibat kecuali Filipina. Bagi negara-negara
lain yang bersengketa, klaim Malaysia merupakan suatu kejutan, karena Malaysia
tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap kepulauan tersebut sebelumnya.
Yang pernah dilakukan Malaysia hanya melakukan protes informal pada tahun 1975,


86

Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 151.

Universitas Indonesia


ketika Cina mempublikasikan petanya yang menunjukkan batas kedaulatan teritorial
Cina yang sangat dekat dengan Sabah dan Sarawak.87
Melihat konteks dimana Malaysia mengklaim pulau-pulau di atas atas nama
Batas

Landas

Kontinen,

nampaknya

hal

ini

ada

hubungannya

dengan

penandatangannya terhadap Konvensi Batas Landas Kontinen 1958 di tahun 1964.


Dengan demikian, batas landas kontinen alias alasan geografis lah justifikasi Malaysia
mengklaim tiga pulau tersebut. Seperti yang dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Urusan
Hukum Malaysia pada 19 Mei 1983: hak Malaysia atas Amboyna Cay adalah
masalah geografi sederhana.88 Di kemudian hari diketahui bahwa klaim geografis ini
tidak sepenuhnya benar.
Malaysia membawa klaimnya lebih jauh pada tahun 1983, ketika ia
mengirimkan pasukannya untuk menduduki Swallow Reef. Okupasi ini pertama kali
dilaporkan oleh pers Malaysia pada 4 September 1983. Mengetahui hal ini, Vietnam
langsung mengajukan protes. Namun reaksi Malaysia, tentunya, adalah bahwa teritori
tersebut sejak awal memang sudah menjadi milik Malaysia.
2.4.1.4. Brunei - Malaysia
Brunei Darussalam pertama kali melakukan klaimnya pada tahun 1982. Klaim
tersebut dibuatnya atas Louisa Reef, semacam karang-karangan kecil dalam
kepulauan Spratlys. Louisa Reef ini masuk juga kedalam klaim Cina dan Malaysia. 89
Setahun setelah Brunei melakukan klaim ini, Malaysia segera mengirimkan
pasukan untuk membuat mercusuar di karang-karangan itu. Brunei, karena itu,
merupakan satu-satunya negara pengklaim yang tidak memiliki okupasi atas pulau
yang diklaimnya. Karenanya, klaim Brunei atas karang ini lebih dilihatnya sebagai
isu persaingan bilateral dengan Malaysia. Walau demikian Brunei tidak mengakui
klaim Cina dan menyadari bahwa sengketa ini bersifat multilatral dan dengan
demikian membutuhkan solusi multilateral.90


87

Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 155.
88
Ibid, hal. 156.
89
Sumber: Ian Storey, Chinas Thirst for Energy Fuels Improved Relations with Brunei, dalam
China Brief, Volume: 5 Issue: 24, diakses dari
http://www.jamestown.org/single/?no_cache=1&tx_ttnews[tt_news]=3913
90
Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 156.

Universitas Indonesia


Selama Perang Dingin Brunei berada dibawah protektorat Inggris, sejak tahun
1888. Bisa dibiliang, segala kebijakan luar negerinya saat itu merupakan pengaruh
Inggris. Baru pada saat ia merdeka tahun 1983, tepatnya tanggal 31 Desember,
kebijakan luar negerinya bisa dianggap sebagai miliknya. 91 Setahun setelah
kemerdekaannya, secara resmi Brunei mengumumkan Louisa Reef sebagai ZEEnya.92
2.4.2. Nilai Strategis Laut Cina Selatan
Selain historical enmity, insentif konflik di Laut Cina Selatan adalah nilai
strategisnya. Nilai strategis adalah nilai-nilai yang menunjukkan betapa berguna dan
berharganya lautan ini. Nilai-nilai strategis tersebut antara lain adalah nilai strategis
fisik, nilai geostrategis dan potensi energi di Laut Cina Selatan.
2.4.2.1 Nilai Strategis Fisik
Laut Cina Selatan mencakup 4 juta km2 area perairan yang terdiri atas 1,7 juta
km2 landas kontinen dengan kedalaman dibawah 200 meter isobath dan sekitar 2,3
juta km2 dasar laut dengan kedalaman lebih dari 200 meter isobath. Di perairan ini
terdapat sekitar 200 pulau, kebanyakan diantaranya tidak layak huni, sehingga pada
sejak awal tidak pernah menjadi subjek dari kedaulatan tertentu. Walau demikian
keberadaan pulau-pulau ini penting karena alasan-alasan ekonomis, strategis, politis,
serta legal. 93 Karena keberadaan pulau-pulau tak layak huni ini, negara-negara di
sekitarnya dapat melakukan aksi-aksi yang akan mendukung proyeksi kekuatannya
maupun

formalisasi

klaimnya,

seperti

membangun

pangkalan

laut,

lokasi

pemancingan, maupun infrastruktur lainnya.


Kepulauan Paracel terdiri atas 30 pulau-pulau kecil, kepulauan pasir dan
karang-karangan, yang mencakup lebih dari 15.000 km permukaan laut. Kepulauan
ini memiliki letak yang dekat dengan garis pantai Cina dan Vietnam. Kepulauan ini
terdiri atas dua kelompok besar: Amphitrite Group dan Crescent Group yang terletak
sekitar about 70 km dari satu sama lain.94

91

Lo Chi-kin, Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South China Sea Islands,
(London: Routledge, 1989), hal. 156.
92
Territorial Claims in the Spratly and Paracel Islands, Global Security, diakses dari
http://www.globalsecurity.org/military/world/war/spratly-claims.htm
93
Hasjim Djalal, Indonesia and The Law of The Sea, (Jakarta: Centre for Strategic and International
Studies, 1995), hal. 365.
94
Monique Chemillier-Gendreau, Sovereignty over the Paracel and Spratly Island, (The Hague:
Kluwer Law International: 1996, hal. 56.

Universitas Indonesia


Kepulauan Spratly terdiri atas 750 karang-karangan, pulau-pulau kecil, pulau
pasir, pulau besar, dll. Kepulauan ini terbentang dari lepas pantai barat daya Filipina
ke Malaysia (Sabah), hingga ke lepas pantai di selatan Vietnam. Kepulauan ini
menutupi lebih dari 425,000 km2 permukaan laut.
Sama dengan Paracels, kebanyakan pulau di Spratlys tidak layak dihuni dan
sekilas tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Tapi karena ia begitu penting bagi
pendefinisian batas-batas internasional negara-negara di sekitarnya, negara-negara
tersebut juga saling mengklaim atasnya. Mereka berlomba-lomba membangun
infrastruktur dan

sekitar 45 pulau kini telah diokupasi oleh sekelompok kecil

kekuatan militer negara-negara tersebut.


2.4.2.2 Nilai Geostrategis
Laut Cina Selatan merupakan salah satu jalur laut paling penting di dunia.
Posisinya yang menghubungkan negara-negara berkembang Asia Timur, Asia
Tenggara, ke Samudera Hinda yang kemudian akan menghubungkan mereka dengan
Asia Selatan dan Timur Tengah membuatnya penting. Kareanya lokasi yang strategis,
ia menjadi jalur yang begitu penting bagi perdagangan dunia. Perlu diketahui bahwa
90% perdagangan dunia terjadi via lautan dan 45% diantaranya terjadi di wilayah
Laut Cina Selatan.95 Jepang sendiri sangat tergantung dengan keberadaan perairan ini
karena 80% dari seluruh aktivitas perdangannya terjadi di perairan ini.96 Amerika
Serikat juga hadir di kawasan ini karena nilai strategisnya yang penting, salah satunya
untuk menjaga freedom of navigation, 97 agar kapal-kapal dagangnya, serta kapal
dagang aliansi-aliansinya, bisa melewati perairan ini.
2.4.2.3. Potensi Energi Laut Cina Selatan
Laut Cina Selatan diperkirakan memiliki kandungan hidrokarbon dan minyak
bumi dalam jumlah yang besar, 98 sehingga cukup wajar bila kemudian perairan ini
diperebutkan. Departemen Energi Cina melihat kemungkinan produksi total 213
milyar barel dengan prediksi 1.4 - 1.9 juta barel per hari Kawasan perairan ini, denan
demikian, akan menjadi penting bagi masa depan negara-negara Asia Tenggara dan

95

Joshua P. Rowan, The U.S-Japan Security Alliance, ASEAN, and the South China Sea Dispute,
dalam Asian Survey, Vol. 45, Issue 3, hal. 414-436
96
Baca: Hasjim Djalal, Indonesia and The Law of The Sea, (Jakarta: Centre for Strategic and
International Studies, 1995).
97
Ibid, hal. 368-369.
98
Ibid, hal. 366.

Universitas Indonesia


Cina di masa depan yang konsumsi energinya terus meningkat dalam jumlah rata-rata
4% dalam 20 tahun. 99
Cina merupakan kekuatan terbesar di kawasan, yang saat ini ekonominya
sedang berkembang, sehingga membutuhkan jaminan ketersediaan energi untuk masa
depan. Diprediksi oleh para analis bahwa pada tahun 2050 Cina akan memiliki PDB
tertinggi di dunia, dengan pengeluaran militer yang diperkirakan tumbuh 11.8 persen
tiap tahunnya. 100 Keuntungan populasi, luas wilayah dan penguasaannya atas
teknologi

101

menjadi katalisator supremasinya, ditambah dengan kapabilitas

militernya yang paling tinggi di kawasan.102 Dengan kondisi tersebut, Cina adalah
negara dengan potensi tertinggi untuk menjadi penentu agenda dalam kawasan. Bukan
tidak mungkin keberadaan potensi energi ini bisa menjadi insentif bagi Cina untuk
membawa sengketa yang ada ke tingkat yang lebih lanjut, yaitu perang, agar ia bisa
memastikan agenda tersebut dan menjadi polisi di kawasan, agar ia dapat memastikan
tercukupinya kebutuhannya. Sesuai dengan asumsi neorealisme, semua demi survival.
2.4.2.4 Inefektivitas Rezim/Institusi
Rezim/Institusi yang kuat akan mengatur perilaku negara, seperti bagaimana
aliansi mendikte kewajiban bagi untuk berkorban demi survival negara sesame
anggota. Rezim-rezim yang memayungi Laut Cina Selatan tidak seefektif aliansi
dalam memastikan berakhirnya tensi. Rezim tersebut adalah UNCLOS, ASEAN dan
DOC. DOC akan dibahas terpisah walaupun diciptakan oleh ASEAN.
UNCLOS
Saat ini instrumen hukum di tingkat global yang diharapkan bisa mengatur
masalah di Laut Cina Selatan, termasuk aktivitas perdagangan, eksplorasi dan

99

Hasjim Djalal, Indonesia and The Law of The Sea, (Jakarta: Centre for Strategic and International
Studies, 1995), hal. 366.
100
Office of Secretary of Defense, Military and Security Developments Involving Peoples Republic
of China, 2010; A Report to Congress, Pursuant to the National Defense Authorization Act for Fiscal
Year 2010, 2010.
101
Merupakan instrumen-instrumen yang penting bagi dan dapat dikategorikan sebagai hard power.
Untuk penjelasan lebih lanjut baca Joseph S. Nye, Jr., Understanding International Conflicts: An
Introduction to Theory and History, (New York: Harper Collins College Publishers, 1993).
102
Lebih lengkapnya baca Military and Security Developments Involving Peoples Republic of China,
2010; A Report to Congress, Pursuant to the National Defense Authorization Act for Fiscal Year
2010, Military Power of the Peoples Republic of China, 2009; A Report to Congress, Pursuant to
the National Defense Authorization Act for Fiscal Year 2009 dan Military Power of the Peoples
Republic of China, 2008; A Report to Congress, Pursuant to the National Defense Authorization Act
for Fiscal Year 2008.

Universitas Indonesia


perbatasa adalah UNCLOS. Terdapat tiga pasal dalam UNCLOS yang lahir pada
tahun 1982 ini yang paling relevan terhadap kasus: (i) Pasal 3 tentang laut wilayah 12
mil dari pesisir, (ii) pasal 55 dan 75 tentang ZEE dan (iii) Part VIII dari UNCLOS
tentang Regime of Islands, dimana pasal 121 menyebutkan bahwa batuan dimana
kehidupan manusiadan kehidupan ekonomi mereka tidak dapat didukung tidak akan
menjadi subjek dari ZEE. Ini menjadi penyebab negara-negara penuntut berlombalomba menciptakan instalasi-instalasi masing-masing di kawasan bebatauan tak
terhuni di kepulauan di Laut Cina Selatan. 103
Aturan tentang batas landas kontinen mengatur tentang lereng kontinen104
Kriteria yang dipakai untuk menentukan kapan habisnya landas kontinen ialah disaat
dasar laut secara tajam menurun dan penurunan ini biasanya terjadi pada kedalaman
laut 200 meter. Namun definisi tersebut lebih ke arah definisi hukum, bukan definisi
geologis. Hal tersebut disebabkan oleh fakta bahwa konvensi hanya mengatur landas
kontinen yang berada di luar laut wilayah sampai kedalaman 200 meter atau lebih.
Inilah yang membedakan dari definisi geologis karena secara geologis landas
kontinen itu dimulai dari tepi pantai. Batas luar landas kontinen tidak akan boleh
melebihi 350 mil laut dari garis pangkal atau tidak boleh melebihi 100 mil laut dari
garis batas kedalaman (isobath) 2.500 meter.
Aturan tentang Zona Ekonomi Eksklusif (Konvensi 1982 Pasal 57)
menentukan bahwa lebar zona ekonomi eksklusif tidak boleh melebihi 200 mil laut
dari garis pangkal dari mana lebar laut wilayah diukur. Sebenarnya lebar zona
ekonomi tersebut dikurangi 12 mil Laut Wilayah, atau hanya 188 mil laut saja,
dengan hak yang berbeda dengan Laut Wilayah. Negara memiliki kedaulatan penuh
atas Laut Wilayah, namun untuk zona ekonomi hanya hak berdaulat dengan tujuan
eksploitasi sumber-sumber kekayaan yang terdapat di daerah laut tersebut.105 Dalam
pelaksanaan hak berdaulat tersebut telah ditetapkan dalam Pasal 73 Konvensi:
..negara pantai dapat mengambil tindakan-tindakan yang
dianggap perlu seperti pemeriksaan, penangkapan kapal-kapal maupun
melakukan proses peradilan terhadap kapal-kapal yang melanggar
ketentuan-ketentuan yang dibuat negara pantai.


103

Joshua P. Rowan, The U.S-Japan Security Alliance, ASEAN, and the South China Sea Dispute,
dalam Asian Survey, Vol. 45, Issue 3, hal. 414-436.
104
Dr. Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika
Global, (Bandung: Alumni, 2010), hal. 340.
105
Ibid, hal. 362.

Universitas Indonesia


Walaupun pasal yang dikutip diatas menyebutkan demikian, bukan berarti
negara pantai dapat berbuat semaunya, bagian laut tersebut (ZEE) tetap dapat
dipergunakan oleh negara lain sebagai laut lepas, seperti yang disinggung dalam Pasal
87 Konvensi tentang kebebasan di laut lepas.
Aturan tentang Laut Wilayah Dalam Pasal 15 Konvensi Hukum Laut 1982
mengatur bahwa:
Where the coasts of two States are opposite or adjacent to each other,
neither of the two States is entitled, failing agreement between them to the
contrary, to extend its territorial sea beyond the median line every point
of which is equidistant from the neares points on the baselines from
which the breadth of the territorail seas of each of the two States is
measured. The above provision does not apply, however, where it is
necessary by reason of historic title or special circumstances to delimit
the territorial seas of the two States in a way which is at variance
therewith.106

Pasal diatas menekankan pada penggunaan prinsip garis tengah (median line)
dalam menentukan garis batas laut wilayah kecuali ada alasan hak historis atau
keadaan lain. Namun dengan instrumen hukum selengkap ini, sengketa tetap terjadi
karena keengganan negara-negara untuk mengambil jalur hukum internasional. Inilah
yang menjadi masalah besar dari sisi inevektifivitas rezim di tingkat internasional.
Bahkan ketika rezim di tingkat internasionalpun tidak dapat menyelesaikan
permasalahan, sangat rentan bagi kawasan yang memiliki persengketaan untuk
menjadi instabil, seperti contoh yang bisa kita ambil adalah konflik Israel-Palestina.
Walau demikian, sengketa ini tidak pernah terekskalasi menjadi perang besar dalam
dua puluh tahun terakhir.
ASEAN
ASEAN (Association of Southeast Asian Nation) merupakan institusi
keamanan, satu-satunya, yang semestinya dan seyogyanya memayungi kasus Laut
Cina Selatan, karena ia beranggotakan hampir semua negara yang bersengketa.107 Ia


106

Dr. Boer Mauna, Hukum Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika
Global, (Bandung: Alumni, 2010), hal. 362.
107
Cina menjadi anggota ASEAN Regional Forum, Forum keamanan dibawah ASEAN, salah satu
rezim ASEAN, karena itu dapat dibilang Cinapun seharusnya dapat diatur oleh ASEAN dalam jarak
tertentu.

Universitas Indonesia


memiliki misi menjadi Komunitas Keamanan, karena itu seharusnya dan seyogyanya
institusi ini tegas dalam memastikan kawasan yang bebas konflik. 108
Terdapat beberapa hal yang membuat ASEAN tidak dapat menjadi institusi
yang efektif dalam penyelesaian sengketa. Yang pertama adalah absennya lembaga
dalam ASEAN yang bisa menjadi instrumen pemaksa dalam penyelesaian sengketasengketa yang ada, termasuk Laut Cina Selatan. Lembaga yang dimaksud sebenarnya
adalah ASEAN High Council, namun Council ini deaktif sampai sekarang. Kedua,
adanya keengganan dalam membahas kasus-kasus sengketa perbatasan yang sensitf,
termasuk Laut Cina Selatan. Michael Leifer menyebutkan faktor ini dan menjelaskan
lebih lanjut bahwa Negara-negara ASEAN lebih memilih penyelesaian tidak
langsung, seperti pengadaan workshop dan confidence building measure109 (misalnya
via ASEAN Regional Forum). Ketiga, suara negara-negara Asia Tenggara tidak
bersatu dalam merespon keberadaan Cina dan masalah-masalah yang dibawanya,
seperti klaimnya atas keseluruhan Spratlys dan Paracels yang akan membuat seluruh
Laut Cina Selatan jadi miliknya, jika klaim direalisasikan. ASEAN sebagai institusi
yang memayungi urusan Laut Cina Selatan seyogyanya digerakkan untuk
menyelesaikan sengketa ini. Namun konflik intra-ASEAN sendiri perihal status
kepemilikan lautann ini sekaligus juga konflik intra-ASEAN lainnya, menjadi
halangan terhadap adanya satu kesatuan ASEAN. Negara-negara ASEAN menjadi
negara yang sendirinya bersaing dengan satu sama lain atas Laut Cina Selatan.
Acharya, mensinyalir mini arms race diantara negara-negara ASEAN tersebut,110
sehingga sulit untuk membayangkan adanya satu suara ASEAN akan dengan damai
menyelesaikan kasus ini dan bergabung menentang Cina dalam waktu tekat.
Ralf Emmers mengatakan bahwa ASEAN memiliki absence of associative
dimension karena tidak pernah benar-benar menyelesaikan konflik ini secara
multilateral dan hanya meresponnya secara bilateral. 111ASEAN juga memiliki nilai

108

Baca Michael Leifer, Stalemate in the South China Sea, Publikasi Asia Research Center, London
School Economics and Political Sciences, diunduh dari
http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf
109
Michael Leifer, Stalemate in the South China Sea, Publikasi Asia Research Center, London
School Economics and Political Sciences, diunduh dari
http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf
110
Amitav Acharya, Constructing Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of
Regional Order, (London: Routledge, 2001).
111
Baca Bab 6: ASEANs post-Cold War Involvement in the South China Sea Dispute: The
Relevance of Associative and Balance of Power Dimensions, dari Ralf Emmers, Cooperative Security
and The Balance of Power in ASEAN and the ARF, ( London: Routledge Curzon: 2004).

Universitas Indonesia


yang kontra-produktif bagi penyelesaian konflik. Antara lain: prinsip non-intervensi
dan prinsip konsensus, serta nilai-nilai lain yang kita kenal sebagai ASEAN Way.
ASEAN Way menjadi nilai-nilai yang juga dipegang dalam mekanisme
resolusi konflik Laut Cina Selatan. Karena itu, mekanisme tersebut tidak berkembang
menjadi rezim yang memaksa dan keberhasilan yang diharapkan hanya sekedar
melakukan manajemen konflik dan menjembatani komunikasi antar negara
anggotanya.

112

Dengan demikian, dalam penanganan sengketa yang melibatkan

negara luar kawasan, mekanisme resolusi konflik ASEAN menjadi tidak efektif.
Declaration of the Code of Conduct of the South China Sea
ASEAN sedang dalam tahap untuk menciptakan suatu peraturan yang
diharapkan bisa mengatur dan memanajemen aktivitas bersama di Laut Cina Selatan.
Aturan tersebut adalah Code of Conduct of the South China Sea yang sampai pada
tahun dimana skripsi ini dimulai, masih berbentuk deklarasi yang tidak mengikat
hukum. Deklarasi yang dimaksud adalah 2002 Declaration on the Code of Conduct of
the South China Sea (DOC).
DOC dikembangkan dari ASEAN Declaration on the South China Sea, tahun
1992, ketika ASEAN pertama kali mencoba memiliki satu posisi dalam menyikapi
kehadiran Cina di Laut Cina Selatan. Deklarasi ini secara implisit merupakan respon
atas aksi Cina yang pada tahun yang merilis Law on the Territorial Seanya pada 25
Februari 1992, yang menegaskan kepemilikan Cina atas keseluruhan kepulauan
Spratlys dan Paracels maka seluruh Laut Cina Selatan. Walau tidak mengikat
hukum, deklarasi ini merupakan komitmen negara untuk menjaga perdamaian dan
mau mengeksplorasi bersama. Namun, komitmen hanya komitmen jika tidak diikuti
oleh efek gentar yang datang dari pemaksaan pertanggung jawaban jika komitmen
dilanggar. Jika rezim tidak mampu menjadi pemaksa hal ini, maka suatu rezim
disebut inefektif.
Efektivitas DOC sangat diragukan karena sebagai rezim mengikat hukum.
DOC yang belum mengikat hukum tidak akan efektif karena nilainya yang hanya
berupa norma saja. Untuk menciptakan kerjasama regional yang efektif, Cina dan
ASEAN benar-benar harus berkomitmen terhadap DOC dan mulai menciptakan COC

112

Baca Bab 1 Regimes for Cooperative Security: The Formation and Institutional Evolution of
ASEAN and the ARF dari Ralf Emmers, Cooperative Security and The Balance of Power in ASEAN
and the ARF, (London: Routledge Curzon: 2004).

Universitas Indonesia


yang mengikat hukum, sehingga negara-negara ASEAN dapat bernapas lega dari
potensi ancaman Cina.113 Jika aturan yang legally-binding itu belum ada sampai
sekarang, efektivitas norma tersebut dalam menciptakan kepatuhan akan sangat
dipertanyakan sehingga tidak bisa digunakan untuk menuntut pertanggung jawaban
kepada siapapun jika konflik terjadi. Karena inefektivitas rezim inilah Laut Cina
Selatan menjadi flashpoint of conflict.114 Inefektivitas institusi/rezim ini menjadi
faktor ekstrinsik yang bisa memicu konflik, 115 selain faktor-faktor yang telah
disebutkan diatas. Dengan aturan yang masih belum mengikat hukum ini, sulit untuk
membayangkan bahwa komitmen untuk damai akan selalu terjaga. Mengikuti asumsi
realis, negara akan melakukan apapun jika terdesak, demi mempertahankan
survivalnya, termasuk merebut seluruh sumber energi jika kebutuhannya meningkat.
Ketika itu terjadi, DOC tidak akan dapat mencegahnya.
Dalam 20 tahun ini, inefektivitas rezim terjadi atas Laut Cina Selatan. Walau
demikian, stabilitas terjaga dan sengketa tidak mengekskalasi menjadi perang besar,
yang berarti ada disinsentif yang lebih besar terhadap konflik. Meninjau sisi balance
of power-nya, mempertimbangkan studi kasus diatas, pasti ada beberapa hal yang
tidak sesuai dengan apa yang ditawarkan Kenneth Waltz. Bab berikutnya akan
membahas hal-hal yang dapat memicu ketidaksesuaian tersebut dan membahas
relevansi teori Kenneth Waltz berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan.


113

Tran Truong Thuy, Recent Developments in the South China Sea: Implications for Regional
Security and Cooperation, CSIC Southeast Asia Program, June 30 2011.
114
Michael Leifer, Stalemate in the South China Sea, Publikasi Asia Research Center, London
School Economics and Political Sciences, diunduh dari
http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf
115
Baca Clive Schofield, Dangerous Ground: A Geo-Political Overview of the South China Sea
dalam Security and International Politics in the South Cina Sea, ed. Sam Bateman dan Ralf Emmers,
2009 (Part I: Geopolitics in the South China Sea).

Universitas Indonesia


BAB 3
ANALISIS
3. 1. Relevansi Teori Balance of Power di Laut Cina Selatan
Studi kasus diatas telah menunjukkan banyak data tentang kondisi terkait
kasus yang diteliti penulis. Di bab ini, penulis akan melakukan analisis terkait datadata tersebut dihubungkan dengan tujuan penulis melaksanakan penelitian ini:
memeriksa relevansi dan menginduksi teori yang lebih bisa menjelaskan fenomena
jika dibutuhkan.
Terkait relevansi, Kenneth Waltz mengatakan bahwa stabilitas tercipta dari
sebuah balance of power (sebagai hasil ideal), dalam sebuah struktur distribusi
kekuatan yang terbagi dua (bipolar), setelah negara-negara yang terancam melakukan
balancing atau bandwagoning terhadap kekuatan besar. Jika teori tersebut benar,
maka proses yang seharusnya terjadi terkait kasus yang diteliti penulis adalah seperti
yang ditunjukkan oleh diagram berikut:

BOP
(Imbalance)

Balancing/
Bandwagon

ASEAN vs China
Bipolarity

Stability

Gambar 3. 1: Proses Terciptanya Stabilitas di Laut Cina Selatan Jika Teori Balance of
Power Sepenuhnya Relevan

Universitas Indonesia


Namun pada faktanya, terjadi pelanggaran pada hukum yang didikte oleh teori
tersebut. Dengan kondisi imbalance dimana negara-negara Asia Tenggara yang
mengklaim memiliki kekuatan yang jauh lebih lemah, dengan data kapabilitas militer
negara-negara pengklaim dan fakta bahwa negara-negara yang terancam tersebut
tidak memiliki satu suara perihal Cina, yang terjadi adalah sebagai berikut:

BOP
(Imbalance)

No internal
balancing no
bandwagon

No ASEAN -
China
Bipolarity

Stability

Gambar 3.2: Proses yang Diindikasi terjadi dari Studi Kasus

Sekilas memang dapat disimpulkan bahwa yang terjadi di Laut Cina Selatan
adalah imbalance = stability. Dengan demikian, dapat diargumentasikan bahwa dalam
negara-negara di Asia Tenggara, mereka sudah terbiasa dengan struktur hirarki,116
karena itu balance of power yang begitu tinggi paritasnya bukanlah sebuah masalah.
Hal ini menjadi salah satu alasan tentang mengapa mereka puas dengan kondisi

116

Baca Evelyn Goh, Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing Regional
Security Strategies, dalam International Security 32, No. 3 (Winter 2007/08), hal. 132-148.

Universitas Indonesia


imbalance dan tidak terdorong untuk melakukan internal balancing, bandwagoning,
dan kepuasannya tidak mendorongnya untuk melakukan peningkatan kekuatan yang
signifikan. Bertahun-tahun paritas kekuatan di Asia Tenggara kalah jauh
dibandingkan dengan kekuatan great powers yang mengelilingi mereka, namun
hingga kini mereka tidak melakukan agresi semenjak dekolonialisasi. Bisa dikatakan,
rendahnya komitmen ekspansionis negara besar juga mempengaruhi hal ini. Negara
Asia Tenggara tetap nyaman dan merasa aman walau kapasitasnya begitu ketinggalan.
Dengan demikian, ditemukan indikasi bahwa, jika dalam konteks Cold War, bagi
Amerika Serikat dan Uni Soviet balance of power yang ideal dan menciptakan
stabilitas adalah 50:50, di kawasan Asia Tenggara, balance of power yang ideal
adalah dan menciptakan stabilitas 90:10, apalagi mempertimbangkan kecenderungan
negara-negara Asia Tenggara untuk justru bersaing dengan sesamanya.
Sejauh ini indikasi ditemukan bahwa balance yang jauh paritas, dalam kasus
Asia Tenggara, merupakan balance yang ideal karena menimbulkan stabilitas.
Namun, kita belum bisa menyimpulkan demikian sebelum mempertimbangkan jenis
balancing yang sejauh ini belum jelas terjadi atau tidak. Penelitian ini harus terlebih
dahulu menganalisis apakah benar balancing atau bandwagoning melawan Cina
benar-benar sama sekali tidak terjadi. Ataukah, sebenarnya terjadi namun belum
dipertimbangkan dalam proses yangd diasumsikan diatas: external balancing. Selain
itu, perlu dianalisis juga apakah ada pada akhrinya ada struktur bipolar yang muncul,
karena menurut teori Kenneth Waltz, struktur bipolar itulah yang menciptakan
stabilitas. Jika struktur bipolar belum dibahas dan penelitian ini langsung membuat
kesimpulan

perihal

relevansi

atau

irelevansi

teori

Waltz,

dikhawatirkan

kesimpulannya tidak akan cukup kuat.


3.1.1. Kekhususan Asia Tenggara
Seperti yang digambarkan pada diagram 3.1, jika teori Waltz sepenuhnya
relevan, kita mengharapkan adanya internal balancing atau bandwagoning. Ketika
data perimbangan kekuatan menunjukkan tidak adanya internal balancing yang
mampu mengejar kapabilitas Cina dan cultural competence kita juga mengkonfirmasi
bahwa dalam kasus Laut Cina Selatan tidak ada bandwagoning yang terjadi (Vietnam
yang secara ideologi paling dekat dengan Cina dan secara historis berhutang budi

Universitas Indonesia


pada Cina atas bantuannya di Perang Vietnam117 juga melawannya dalam kasus ini,
bahkan sejak Vietnam (Utara) baru merdeka118 ), seharusnya kita mengekspektasi
terjadi external balancing dan jika kita mengikuti asumsi Waltz tentang bagaimana
external balancing terjadi, kita akan mencari aliansi antara negara-negara yang lebih
lemah disekitar lautan ini melawan Cina. Namun pada kasus ini, external balancing
tidak terjadi diantara negara-negara Asia Tenggara yang lebih lemah yang terancam
oleh klaim dan kekuatan Cina.
Penelitian ini mensinyalir beberapa hal yang menjadi penyebab dari tidak
terjadinya external balancing mengikuti skenario Waltz berdasarkan data yang
didapatkan dari studi kasus. Studi kasus telah mensinyalir bahwa ada perpecahan
diantara kubu negara-negara Asia Tenggara sendiri. Perpecahan tersebut ditunjukkan
oleh dua hal: tidak bersatunya suara negara-negara Asia Tenggara, utamanya yang
turut mengklaim, mengenai bagaimana harus merespon Cina; dan keengganan untuk
menyelesaikan masalah kedaulatan di forum multilateral maupun tribunal
internasional, sehingga kepastian tentang status lautan ini tidak pernah jelas.
Terkait manifestasi yang pertama, tidak bersatunya negara-negara Asia
Tenggara ini bisa disebabkan oleh fakta bahwa mereka sendiri sebenarnya bersaing
dengan satu sama lain atas kepemilikan laut ini. Nilai strategis Laut Cina Selatan juga
terlalu berharga bagi mereka sehingga untuk melepaskan klaim dan berkorban demi
sesamanya atas nama kesatuan ASEAN. Dengan adanya persaingan ini, sulit
membayangkan negara-negara Asia Tenggara mau bersatu melawan Cina.
Stabilitas selama 20 tahun terakhir ini juga menunjukkan bagaimana Cina pun
memiliki keraguan juga dalam bersikap asertif di Laut Cina Selatan. Cina yang
kadang asertif dan kadang kooperatif seperti yang dapat dilihat dari data lini waktu
mengindikasikan keraguan tersebut. Dengan demikian, kebutuhan negara-negara
pengklaim yang lebih lemah untuk mengesampingkan persaingan dan bekerja sama
belum ada, sementara status quo masih memberi kesempatan bagi mereka untuk
mengklaim kepemilikan mereka atas laut tersebut. 119
Terkait keengganan untuk menyelesaikan masalah kedaulatan di forum
multilateral dan tribunal internasional, hal ini sejalan dengan adanya keinginan untuk

117

Cina mendukung Vietnam Utara di Perang Vietnam, dengan mengirimkan senjata dan bantuan lain.
Lihat bab sebelumnya di bagian historical enmity Vietnam. Begitu merdeka, Vietnam langsung
membuat pernyataan tentang kepemilikannya atas Laut Cina Selatan dan penolakannya terhadap klaim
Cina.
119
Masing-masing memiliki bukti sejarah tentang kepemilikan Laut itu, tapi tidak ada yang diakui
secara internasional.
118

Universitas Indonesia


memanfaatkan laut ini semaksimal mungkin sebelum konflik besar atau perubahan
lain muncul. Dengan lemahnya rezim/institusi yang ada, negara pengklaim masih bisa
menikmati ketidakjelasan status quo tanpa takut kehilangan laut ini. ASEAN High
Council sebagai lembaga dalam ASEAN yang diharapkan untuk bisa menyelesaikan
sengketa jika UNCLOS tidak bisa menyelesaikannya juga tidak berfungsi, karena: 1)
Cina bukan anggota ASEAN; 2) Adanya keengganan membahas isu sensitif di
ASEAN; dan 3) Tidak ada yang mendorong ASEAN High Council untuk berfungsi
dengan baik hingga sekarang. Semua hal ini menunjukkan bahwa tidak ada trust atau
kepercayaan diantara negara-negara ASEAN. Trust issue ini memperlambat berbagai
hal yang perlu dilakukan, termasuk integrasi. 120 Karena itu, sulit membayangkan
bipolaritas ASEAN versus Cina akan tercipta.
Walaupun sama-sama korban kolonialisasi, adanya berbagai faktor seperti
trust issue, keengganan untuk membuat posisi bersama dan lain-lain, negara-negara
Asia Tenggara lebih memilki potensi untuk bersaing dengan satu sama lain, alih-alih
membentuk aliansi satu sama lain. Keengganan untuk menggunakan tribunal
internasional dan forum multilateral juga menjadi bukti bagaimana mereka lebih
memilih untuk menyelesaikan masalah sendiri-sendiri dibanding bekerja sama. Dapat
disimpulkan, bahwa negara-negara kecil ini tidak percaya pada sesame rekan negara
kecilnya,

sementara

kenyamanannya

akan

balance

90:10

menunjukkan

kepercayaannya pada negara besar.


Berbagai hal yang dibahas diatas menunjukkan kekhususan kawasan yang
harus kita membicarakan dalam membahas relevansi Teori Balance of Power di
kawasan.

Dalam

konteks

external

balancing,

kekhususan

tersebut

akan

dimanifestasikan dalam mempertimbangkan adanya aliansi dengan negara luar


kawasan, sehubungan trust issue antar negara-negara Asia Tenggara dan kenyamanan
mereka dengan hierarki. Penelitian ini kemudian akan membahas negara-negara yang
disinyalir melakukan external balancing tersebut.
3.1.2. Kasus Filipina
Kita akan membahas perilaku Filipina sebagai bagian dari kasus perilaku
negara-negara pengklaim yang diteliti terkait ancaman Cina. Dalam tabel balance of
force yang ada di bab sebelumnya dapat kita lihat bahwa kapabilitas Cina jauh di atas

120

Wahyuningrum Yuyun ASEAN Integration Going Slow due to Trust Issue, diakses dari
http://www.dpiap.org/resources/article.php?genreid=15&id=0000436&genre=ASEAN

Universitas Indonesia


yang lainnya, seharusnya negara-negara berusaha keras untuk mengimbangi,
utamanya negara yang pernah terlibat langsung pertikaian dengan Cina, bahkan
diduduki ZEE-nya, seperti Filipina.
Tetapi, dari tabel jelas kita lihat bahwa Filipina tidak melakukan internal
balancing sama sekali. Penulis sadar bahwa penelitian ini hanya mempertimbangkan
senjata yang dianggapnya efektif untuk efek gentar maupun untuk perang di perairan,
yang mahal dan sulit untuk dibeli oleh negara kecil. Tetapi, jika memang dunia dihiasi
ketakutan akan hilangnya kedaulatan seperti yang tergambar dalam dunia milik
neorealisme, Filipina akan bantuan negara lain untuk melengkapi persenjataannya.
Jika teori Waltz menjadi relevan, Filipina akan melakukan aliansi demi kepemilikan
efek gentar yang sama dengan kepemilikan senjata. Disini, teori Waltz relevan,
karena Filipina melakukan aliansi dengan Amerika.
Dengan mempertimbangkan kekhususan Asia Tenggara, kita akan melihat
bipolaritas sebagai hal yang tercipta bukan antara Cina dan negara lemah di kawasan,
tapi dengan negara luar kawasan. Amerika adalah penyebab efek gentar Filipina
terhadap apapun ancaman yang mungkin ada di lautan ini. Terjelaskan mengapa
Filipina tidak melakukan buildup sama sekali, ketika armada ke tujuh AS berkeliling
timur lautnya dan siap untuk menyerang Cina jika melakukan tindakan agresif di Laut
Cina Selatan. Pada saat pendudukan Mischief Reefs, memang AS tidak melakukan
apa-apa. Tapi perlu diketahui bahwa Mieschief Reefs adalah wilayah ZEE dan bukan
Laut Wilayah.
Filipina dan AS terlibat aliansi sejak ditanda tanganinya Mutual Defense
Treaty antara AS dan Filipina pada tahun 1951. Selain kemerdekaan Filipina, traktat
ini menyebutkan bahwa kedua bangsa akan saling mendukung satu sama lain ketika
salah satunya diserang. 121 Dengan demikian, ini merupakan justifikasi hukum yang
kuat antara kedua negara bahwa yang mereka lakukan adalah aliansi, satu bentuk
pengaturan keamanan yang pasti dan kaku, dimana satu diserang berarti penyerangan
terhadap semua. Aliansi ini merupakan bentuk tradisional dari external balancing.
Bisa dibilang bahwa hard balancing merupakan fenomena yang terjadi dalam konteks
Laut Cina Selatan, utamanya terkait Vietnam dan Cina. Keberadaan pangkalan
angkatan Laut AS di Subic Bay, Filipina, merupakan bukti kuatnya ikatan aliansi ini,

121

Naskah perjanjian ini dapat diakses dari Chan Robles Virtual Law Library:
http://www.chanrobles.com/mutualdefensetreaty.htm#.UopN_RaBLZs

Universitas Indonesia


dengan komitmen dan keterbukaan besar dari pemerintah Filipina terhadap AS.122
Pangkalan tesebut ditutup pada tahun 1992, namun bukan alasan politis yang
membuatnya ditutup, namun alasan alam, yaitu meletusnya Gunung Pinabo 32 km
dari Subic bay. Sekarang, pangkalan itu akan dibuka lagi untuk AS, menunjukkan
intensi melanjutkan hubungannya dengan AS.
Memperhitungkan kapasitas AS yang hingga sekarang lebih kuat dari Cina,
jelas bahwa efek gentar Filipina menjadi kuat. Bahkan ketika kita menghitung
kekuatan U.S Seventh Fleet saja, 123 kita masih akan melihat bahwa AS lebih kuat
dari Cina. Secara sistemik inilah yang menjadi deterrence bagi Cina untuk tidak
melakukan agresi di Laut Cina Selatan.
Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa stabilitas tercipta berkat Filipina yang
melakukan hard external balancing di kawasan. Penulis telah mengemukakan analisis
yang menunjukkan pentingnya membahas kekhususan kawasan dalam mencari
relevansi teori. Jika kita mencari bipolaritas a la Waltz yang menggambarkan
pembentukan aliansi antar negara lemah melawan negara besar, di Asia Tenggara hal
tersebut tidak ditemukan. Ternyata, dalam kasus ini, Filipina lebih suka melawan
ancaman dengan ancaman bagi ancaman, seperti negara external kawasan bagi Cina.
Untuk bisa mengklaim hal itu, penelitian ini akan melakukan studi kasus lain.
3.1.3. Kasus Brunei
Brunei konstan memiliki angka 0 dalam setiap alut sista yang dipilih penulis
untuk diperhitungkan dalam tabel balance of force. Pesawat tempur dan principle
surface combatants yang penting bagi realisasi klaim atas pulau rupanya tidak
menjadi targetnya dalam 20 tahun terakhir, walau negara yang GDP per kapitanya
mencapai $39,355 itu kaya akan hasil minyak. Ia memilih untuk fokus pada


122

Dalam kasus ini, AS sendiri dengan pelan-pelan menunjukkan komitmennya pada Filipina dengan
latihan bersamanya yang dilakukan di Laut Cina Selatan. Dugaan penulis, lebih dari itu, As dan
Filipina akan memprovokasi Cina terlalu jauh.
123
Angkatan Laut AS di Samudera PAsifik, tepat di Timur Laut Filipina, Angkatan Laut terdekat
dengan Laut Cina Selatan. Tentang kapabilitas, US Sevent Fleet memiliki satu aircraft carrier yang
bertugas (USS George Washington), bersamaan dengan satu skuadron destroyer. Naval aviationnya
lengkap dan mengalahkan Cina dalam jumlah dan teknologi. Selain itu, armada ini juga didukung oleh
armada tiga, armada lain dalam Komando Pasifik Angkatan Laut AS. Walau mengerahkan seluruh
Angkatan Lautnya, untuk sekarang, sulit bagi Cina untuk mengalahkan AS, apalagi jika AS
mengumpulkan seluruh angkatan Lautnya dan menggerakkan aliansinya, Filipina dan Jepang. Diakses
dari halaman informasi US Navy, globalsecurity.org

Universitas Indonesia


kapabilitas patroli dan penjagaan pesisir 124 untuk melindungi wilayahnya yang
daratannya hanya seluas 5,765 km2 ini.125
Brunei tidak memiliki banyak klaim di Laut Cina Selatan. Ia hanya memiliki
satu klaim yang lemah atas Louisa Reef dan satu klaim lebih kuat atas Rifleman Bank
yang tumpang tindih dengan Malaysia. Berarti, ancaman bagi Brunei dalam konteks
kedaulatan di Laut Cina Selatan hanya Malaysia. Dalam Sejarah juga Brunei hanya
pernah punya pertikaian politis dengan Malaysia perihal pulau ini, tidak dengan
lainnya. Walau demikian, mengambil asumsi Kenneth Waltz bahwa negara akan
mati-matian mempertahankan survivalnya, Brunei seharusnya tetap mengkhawatirkan
ekspansi Cina dan menyiapkan persenjataan yang layak. Kunci mengapa Brunei pun
tetap puas ada pada kesamaanya dengan Filipina. Penulis mensinyalir kesamaan
antara Brunei dan Filipina dalam konteks external balancing. Keduanya didukung
oleh angkatan bersenjata terkuat di dunia dalam konteks Angkatan Laut: Filipina
dengan AS, Brunei dengan Inggris.126
Inggris mendukung Brunei dengan menyediakan British Military Garrison
Brunei, pasukan militer yang dikelola oleh Inggris dan merupakan satu-satunya alat
pertahanan negara bagi Brunei. Garrison tersebut tidak memiliki kapabilitas tempur
yang signifikan dan data pada tabel balance of force mengacu pada British Military
Garrison tersebut. Tentu saja, ia tidak cukup untuk menjadi efek gentar bagi Cina.
Namun, perlu diketahui bahwa Inggris memiliki kekuatan militer yang cukup.
Ia memilki tiga Aircraft Carrier, yang bisa dikirimkannya dengan alasan menjaga
Brunei ketika Cina melakukan tindakan yang diluar batas toleransi. Perlu diketahui
bahwa kini Inggris sendiri memiliki aspirasi untuk memproyeksikan kekuatan lautnya
secara global. Komitmen tersebut terjelaskan dari dokumen resmi Angkatan Lautnya
yang menyebutkan komitmennya untuk membangkitkan kejayaan sebagai kekuatan
maritim kelas dunia, demi melindungi kepentingan Inggris secara global dan
meningkatkan signifikansinya di dunia internasional, demi rekan-rekan Inggris di
seberang lautan. Karena itu skenario dimana Inggris dapat atau akan mengirimkan
kekuatan lautnya ketika Brunei membutuhkannya tetap ada, apalagi ditergetkan

124

Lihat East Asia and AustraliaThe Military Balance, International Institute for Strategic Studies,
1991-2001, Brunei.
125
Brunei Country Profile, Overview and Facts diakses dari http://www.bbc.co.uk/news/world-asiapacific-12990058
126
Diakses dari dokumen resmi Angkatan Laut Inggris: The Royal Navy today, tomorrow, and
towards 2015, diakses dari http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2700.htm

Universitas Indonesia


bahwa tahun 2015 Inggris sudah bisa mencapai visi ini. Sesuai dengan yang tertulis
dalam dalam dokumen resminya:
The implication is that the Royal Navy must be able to project maritime
power to protect and promote our nations interests. This will require a navy
that is operationally versatile and interoperable in all environments as part
of a joint, multi-national and multi-agency force. There is an imperative to
be forward deployed.127
.maritime domain is required to protect UK citizens, territory, and trade
from terrorists, criminals, piracy, state sponsored insurgents and unlawful
restrictions on freedom of navigation. This responsibility covers the UKs
territorial waters, 14 Overseas Territories, 3 Crown Dependencies and trade
on the high seas. In an interconnected world maritime security is vital to the
UKs economic prosperity. 128
.A deployed navy, not just an insurance policy but working constantly to
promote and protect the UKs national interests by concentrating effort on
the highest priority geographical areas; a visible symbol of Britains role in
the world. 129

Melihat visi di atas dan fakta bahwa, seperti AS, Inggris pun memiliki
kepentingan menjaga freedom of navigation, jika Cina bertindak diluar batas yang
akan mengancam survival negara-negara sekitarnya, termasuk Brunei, bukan tidak
mungkin Inggris akan turut mengirimkan pasukannya, dengan justifikasi memberi
pertahanan kepada Brunei sebagai aliansinya.
3.1.4. Struktur di Laut Cina Selatan
Mempertimbangkan hal diatas, instabilitas akibat serangan Cina hampir tidak
mungkin karena keberadaan AS berkat external balancing Filipina. Jika pun Brunei
terancam karena Cina yang memasuki wilayahnya, Brunei memiliki Inggris yang
pasti akan meningkatkan pengaruhnya dan menjawab komitmennya. Brunei sendiri,
dengan demikian, memiliki pelindung yang hampir sekuat AS di pertempuran lautan,
yang bahkan melegenda dalam prestasi Angkatan Lautnya. Bisa disimpulkan, dengan
demikian, bahwa separated bipolarity memang terjadi, antara Brunei (Inggris) Cina
dan Filipina (AS) Cina. Keduanya menciptakan separated balance yang melebihi
Cina, sehingga menggentarkan aksi ekspansif Cina. Hal ini terjadi karena Brunei pun,

127

Diakses dari dokumen resmi Angkatan Laut Inggris: The Royal Navy today, tomorrow, and
towards 2015, diakses dari http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2700.htm
128
Ibid.
129
Ibid.

Universitas Indonesia


yang memiliki aliansi dengan Inggris, melakukan hard external balancing yang
secara sistemik menjaganya dari instabilitas di kawasan, termasuk di Laut Cina
Selatan. Dengan demikian, struktur bipolaritas ganda yang tercipta berkat hard
external balancing kedua negara di atas adalah sebagai berikut:

Struktur Bipolar 2:
Inggris (Brunei) - Cina

Struktur Bipolar 1: AS
(Filipina) - Cina

Gambar 3.3: Bipolaritas Ganda di Laut Cina Selatan

3.2. Irelevansi Teori Balance of Power


Lalu bagaimana dengan Malaysia dan Vietnam? Disinilah penulis melihat
irelevansi Teori Balance of Power dalam menjelaskan fenomena di kawasan. Sekilas
mengamati tabel balance of force akan memperlihatkan: 1) pertambahan alut sista
Malaysia, di tahun 1992; 2) Vietnam sebagai pemilik alut sista signifikan terbanyak
selain Cina. Secara gamblang, kita bisa langsung menyimpulkan bahwa teori Waltz
bekerja dan kedua negara ini melakukan hard internal balancing.
Masalahnya, ketika kita membicarakan internal balancing dalam konteks
Waltz, kita membicarakan internal balancing dalam konteks tradisional, dimana

Universitas Indonesia


yang kita ingin lihat adalah arms buildup yang begitu signifikan diantara kedua
negara yang bersaing dan saling mengejar, sehingga bisa diargumentasikan sebagai
arms race. Namun dalam kasus Vietnam dan Malaysia tidaklah demikian. Padahal,
Vietnam merupakan negara yang cukup besar yang pernah memiliki pengalaman
memenangkan perang melawan AS.130 Malaysia juga merupakan salah satu bagian
dari Five Power Defence Agreement, inisiatif keamanan regional antara Malaysia,
Singapura, Selandia Baru, Australia dan Inggris, secara gamblang kita bisa langsung
menyebutnya aliansi. Lalu mengapa ia tidak melakukan hard balancing?
Sejauh ini bisa disimpulkan bahwa kedua negara tidak melakukan hard
balancing versi Waltz. Mengapa tidak demikian dan jika memang tidak demikian,
mengapa stabilitas bisa tercipta?
3.2.1. Kasus Malaysia
Dalam kasus Malaysia, penelitian ini menganalisis bahwa ia tidak melakukan
hard balancing versi Waltz. Five Power Defense Agreement adalah suatu inisiatif
keamanan dimana Malaysia bergabung didalamnya, yang berpotensi disebut sebagai
aliansi. Terkait hal ini, penelitian ini tidak akan mengkategorikannya sebagai aliansi,
karena beberapa hal: 1) tidak ada pasal dalam

dokumen pembentukannya yaitu

Anglo-Malayan Defence Agreement yang dengan gamblang menyebutkan yang lain


bertanggung jawab terhadap yang satu, sehingga bentuknya bukan aliansi; 2) tidak
ada negara anggota yang mengirimkan pasukan stand by di Malaysia di tengah
sejarah konfliktual Malaysia dengan Indonesia, tidak seperti Filipina dan Brunei. Hal
ini memperlihatkan adanya kesan Malaysia harus berusaha sendiri mempertahankan
dirinya yang, berdasarkan contoh lain yang ada, tidak semestinya ada pada
pengaturan keamanan sekaku aliansi. Five Power Defense Agreement memang hanya
memiliki tuntutan sebatas five states will consult each other in the event of external
aggression or threat of attack against Peninsular Malaysia,131 bukan sesuatu yang
berbau penyerangan satu merupakan penyerangan terhadap yang lain seperti
sebelumnya. Bahkan, dijelaskan dalam exchange notes yang mengatur tanggung

130

Sebenarnya, apakah Vietnam atau Amerika Serikat Serikat yang dapat dibilang menang, masih
dalam perdebatan. Dalam konteks atrisi dan penghabisan kekuatan musuh, Vietnam tidak dapat
dikatakan menang. Namun dalam konteks pencapaian tujuan, yaitu mengusir AS dan membentuk
Vietnam yang berideologo kominis, bisa dibilang Vietnam telah menang.
131
Kho Hou San, The Five Power Defence Arrangements: If it ain't broke... diakses
http://www.asean.org/archive/arf/7ARF/Prof-Dment-Programme/Doc-6.pdf

Universitas Indonesia


jawab masing-masing negara bahwa tidak ada tuntutan akan bantuan militer langsung
ataupun intervensi langsung. Yang ada hanyalah keharusan untuk merespon secara
cepat jika ada ancaman terhadap peninsular Malaysia. 132 Dengan demikian jelas
bahwa perjanjian ini bukan aliansi dan tidak dapat dikategorikan hard external
balancing tradisional a la Waltzian.
Lalu bagaimana dengan internal balancing? Malaysia merupakan satu-satunya
negara yang terbukti melakukan penambahan kapabilitas ofensif lautan dalam tabel
balance of force, yang dimulai pada tahun 1992. Penambahan jenis itu disusul dengan
penambahan jumlah di tahun 1995, terhadap figthers dan ground attack yang pertama
kali dimilikinya. Masalahnya apakah benar alut sista ini ditambah untuk mencegah
ancaman Cina?
Negara-negara di Asia Tenggara seringkali melakukan persaingan karena
permusuhan historis. Permusuhan historis Malaysia yang terbesar adalah dengan
negara yang pernah berkonflik dengannya, yaitu Indonesia. Indonesia bukan hanya
pernah mengumumkan secara internasional slogan Ganyang Malaysia yang berarti
habiskan semua orang Malaysia, suatu pernyataan anti-Malaysia yang sangat besar
di masa kolonial. Selain itu, Indonesia juga terlibat dalam sengketa Sipadan-Ligitan
dengan Malaysia. Walau kini mendapatkannya, dulu Malaysia dan Indonesia sempat
memiliki tensi besar karenanya. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan
sepasukan polisi hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara
Indonesia serta meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau.133
Sengketa ini sudah terjadi sejak tahun 1960an. Persengketaan antara Indonesia
dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967 ketika dalam pertemuan teknis hukum
laut antara kedua negara, masing-masing negara ternyata memasukkan pulau Sipadan
dan pulau Ligitan ke dalam batas-batas wilayahnya. Malaysia Indonesia atau
Malaysia Cina? Sulit untuk mengetahui apakah buildup ini dilakukan untuk
Malaysia atau Indonesia. Namun karena klaim Cina sendiri lebih berbahaya bagi
negara lain selain Malaysia dan dengan asumsi bahwa Vietnam dan Filipina akan
menjadi tembok defensif Malaysia sebelum pasukan Cina sampai kepada wilayah
yang diklaimnya, maka penulis menganggap bahwa Indonesia lebih berbahaya bagi
Malaysia. Bukan hanya karena kebencian historis namun letak geografis. Dengan
demikian besar kemungkinan Malaysia melakukan internal balancing bukan karena

132

Draft dari treaty ini apat diakses di http://www.austlii.edu.au/au/other/dfat/treaties/1971/21.html.


Dokumen ICJ perihal ini dapat diakses di http://www.icj-cij.org/docket/files/102/7177.pdf

133

Universitas Indonesia


Cina sebagai alasan utamanya, tapi karena Indonesia. Apalagi jika melihat bahwa
paritas kekuatan kedua negara tidak berbeda jauh. Dalam kasus Asia Tenggara,
rupanya security dilemma mencuat ketika kekuatan setara, bukan ketika kekuatan jauh
tidak imbang dengan kekuatan besar. Bisa dibilang, 50:50 adalah instabilitas dan
90:10 adalah stabilitas. Kasus Indonesia dan Malaysia membuktikan hal tersebut,
walaupun penelitian lebih jauh dibutuhkan untuk melihat apakah hal ini juga berlaku
di negara lain.134
3.2.2. Kasus Vietnam: Asymmetric Balancing
Walaupun memiliki kapabilitas yang lebih banyak daripada negara-negara
pengklaim Asia Tenggara lain, bisa diargumentasikan bahwa Vietnam sebenarnya
sama sekali tidak melakukan penambahan. Ia hanya melakukan penyeimbangan
terhadap fighters dan ground attacknya, paling tidak itulah yang bisa dilihat dari
balance of force yang ditabulasi di atas.
Vietnam adalah anomali terbesar bagi Teori Balance of Power. Ia merupakan
negara terbesar yang bertikai, yang paling terancam dan yang memiliki permusuhan
historis terdalam dengan Cina. Lalu mengapa ia tidak melakukan internal balancing
yang

hebat,

padahal

iapun

tidak

melakukan

external balancing

maupun

bandwagoning dengan Cina? Aapakah Vietnam sudah puas dengan posisinya?


Kita akan membahas sejarah konfliktual di Vietnam terlebih dahulu untuk
menjawabnya. Jika memang Vietnam sudah puas. Mengapa ia bisa puas? Jawabannya
terletak pada dinamika AS dan Vietnam pada Perang Dingin, dimana Vietnam
berhasil memukul mundur AS.
Perlu diketahui bahwa terancamnya Vietnam karena Cina sekarang mirip
dengan terancamnya Vietnam karena AS karena beberapa hal. Pertama, terdapat
imbalance of power yang sangat besar, dimana Vietnam menjadi pihak yang kalah
secara kapabilitas dalam jumlah total. Kedua, terdapat suatu bentuk political will
untuk melemahkan Vietnam, dimasa pada Perang Vietnam pasukan AS memiliki
target melemahkan kekuatan pasukan Viet Cong dan di masa Cina-Vietnam, dalam
skenario dimana perang terjadi di Laut Cina Selatan, Cina akan menargetkan
perebutan wilayah Vietnam, pendudukan, lalu penjagaan dengan melemahkan
kapabilitas ofensif Vietnam agar ia tidak bisa menyerang lagi. Dengan demikian

134

Lihat perbandingan balance of force Indonesia dan Malaysia di IISS Miltary Balance, 1991-2011.

Universitas Indonesia


kondisinya mirip dengan sekarang dan jika Vietnam sangat percaya diri dan puas
tentang apa yang dimilikinya sekarang ia pasti pernah memilki pengalaman perang di
kondisi yang serupa.
Bagaimanakah pengalaman perang Vietnam dalam kondisi yang serupa
tersebut? Penulis mensinyalir dua hal yang berhubungan dengan kepuasan Vietnam
dan kepuasannya akan kondisi balance yang sekarang: 1) Dalam kondisi yang
disebutkan di atas, Vietnam pernah menang melawan AS yang agregat kekuatan
militernya jauh lebih kuat, bahkan hanya dengan menggunakan alut sista yang
terbatas; 2) Rendahnya komitmen politik musuh dalam menjalankan ekspansi,
sehingga komitmen yang bertahan akan jauh lebih kuat, seperti yang terjadi dalam
konteks Perang Vietnam.
Terkait argumen pertama, tidak ada alasan lain kenapa suatu negara bisa puas
dengan kekuatan minim kecuali ketika ia, dengan keterbatasan itu, pernah memiliki
pengalaman

kemenangan.

Apalagi

dengan

hubungannya

dengan

komitmen

ekspansionis yang rendah, dimana musuh tidak benar-benar memiliki alasan


ekspansionis, atau tidak memiliki ketahanan untuk melakukan penyerangan dengan
tujuan ekspansi dalam waktu yang lama, karena keterbatasan resource. Dalam perang
Vietnam, keduanya terjadi, sehingga Vietnam menang dengan usaha gerilya yang
strategis dan tepat.
Kondisi Cina yang sekarang mirip dengan kondisi AS saat itu, dilihat dari
usahanya 20 tahun terakhir ini dalam merebut Laut Cina Selatan yang turun naik
komitmennya, ditunjukkan dengan permintaan maaf yang selalu menyusul
pendudukan ataupun penyerangan dan pengusiran, ditambah dengan tidak adanya
follow up serangan atau pendudukan berikutnya. Dengan kondisi demikian, wajar jika
Vietnam merasa percaya diri dengan jumlah alut sistanya yang sekarang.
Terkait jumlah alut sista, Vietnam AS pada masa perang dingin hanya layak
jadi contoh paralel jika memang, dalam perimbangan dimana hasil perang
menghasilkan

kemenangan

Vietnam

ini,

jumlahnya

mirip

dengan

jumlah

perimbangan Cina dan Vietnam sekarang. Karena itu kita lihat perimbangan kekuatan
AS Vietnam pada masa Perang Vietnam, dalam konteks alut sista yang digunakan
dalam Perang oleh kedua belah pihak. Alasan mengambil jumlah alut sista yang
digunakan pada saat perang dalam melihat perimbangan kapabilitas adalah karena
sisa alut sista yang lain dianggap tidak ada gunanya, karena tidak akan diturunkan

Universitas Indonesia


dalam perang spesifik ini demi guna yang lain. Berikut tabel perbandingan kapabilitas
AS-Vietnam yang dimaksud:
Tabel 3.1: Perbandingan Kapabilitas AS-Vietnam dalam Perang Vietnam135
AS
Aircraft: 24
A-1 Skyraider ground attack aircraft
A-3 Skywarrior carrier based bomber
A-37 Dragonfly ground attack aircraft
F-5 Freedom Fighterlight-weight, low-
cost fighter used in strike aircraft
role
A-4 Skyhawk carrier borne strike
aircraft
RA-5C Vigilante carrier borne
reconnaissance aircraft
A-6 Intruder carrier borne all weather
strike aircraft
A-7 Corsair II carrier borne strike
aircraft
AH-1 Cobra attack helicopter
A-26 Invader light bomber
AC-47 Spooky gunship (four) with the
1st Air Cavalry Division
AC-130 "Spectre" Gunship
AC-119G "Shadow" Gunship
AC-119K "Stinger" Gunship
B-52 Stratofortress heavy bomber
B-57 Canberra medium bombers - used
by the U.S. Air Force
Canberra B.20 Royal Australian Air
Force medium bomber
F-4 Phantom II carrier and land based
fighter-bomber
F-8 Crusader carrier and land based
fighter-bomber
F-105 Thunderchief fighter-bomber
F-100 Super Sabre fighter-bomber
F-101 Voodoo (RF-101) fighter-
bomber/reconnaissance plane

Vietnam
Artilery & Anti Aircarft: 20
ZPU-4 quad 14.5 mm anti-aircraft
machine gun
ZU-23 twin 23 mm anti-aircraft cannon
M1939 37 mm anti-aircraft gun
S-60 57 mm anti-aircraft gun
85 mm air defense gun M1939 (52-K)
100 mm air defense gun KS-19
The KS-19
82 mm, 107 mm, 120 mm, and 160mm
mortars
122 mm Katyusha rockets
Type 63 multiple rocket launcher
BM-21 Grad
BM-25 (MRL) limited numbers
122 mm gun M1931/37 (A-19)
122 mm howitzer M1938 (M-30)
D-74 122 mm Field Gun
130 mm towed field gun M1954 (M-
46)
152 mm howitzer M1943 (D-1)
152 mm towed gun-howitzer M1955
(D-20)

Anti-Aircraft systm
Type 63 anti-aircraft self-
propelled systems
ZSU-57-2 anti-aircraft self-
propelled systems
ZSU-23-4 anti-aircraft self-
propelled systems


135

Alut sista yang dipilih hanya yang signifikan terkait Perang Vietnam.

Universitas Indonesia

F-102 Delta Dagger fighter


F-104 Starfighter fighter
F-111 Aardvark medium bomber
OH-6 Cayuse Transport/ Observation
helicopter
OH-58 Kiowa Transport/ Observation
helicopter
OV-10 Bronco, light attack/observation
aircraft
UH-1 "Huey" gunship role (various
models)

Artilery: 11
105 mm Howitzer M2A1
105 mm Howitzer M102
155 mm Howitzer M114
M53 Self-propelled 155mm gun
M55 Self-propelled 8-inch howitzer
M107 howitzer Self-propelled 175 mm
gun
M108 Self-propelled 105 mm howitzer
M109 Self-propelled 155 mm howitzer
M110 Self-propelled 8-inch howitzer
75mm Pack Howitzer M1
L5 pack howitzer 105 mm pack

Tank: 5
M41 Walker Bulldog light tank - Used
by South Vietnamese Army ARVN
M48 Patton medium tank - Used by
the US Army, USMC, and ARVN
forces until replaced by the M60
Patton.
M551 Sheridan airborne
reconnaissance assault
vehicle/light tank - Used by the
US Army
Centurion main battle tank
M60 Patton Main battle tank that
replaced the M48 Patton

Aircraft: 6
MiG-21 jet fighter
MiG-19 jet fighter, used in limited
numbers
MiG-17 jet fighter
MiG-15 jet fighter, used in limited
numbers
Shenyang J-6 jet fighter
Shenyang J-5 jet fighter

Tank: 6
PT-76 amphibious tank
Type 62 light tank
Type 63 amphibious tank
T-34/85 medium tank, used in limited
numbers
T-54 main battle tanks
Type 59 main battle tanks

Sumber: data pada tabel diolah dari Vietnam War: Weapons and Equipment http://www.olivedrab.com/od_history_vietnam_weapons_equipment.php; George W. Smith, The Siege at Hue, (Lynne
Reinner Publishers:1999) hal. 142-143; dan John J. Tolson, Vietnam Studies: Airmobility 196171,
(US, US Government Printing Office: 1898)

Universitas Indonesia


Berdasarkan tabel perbandingan 3.1 tersebut, Vietnam secara terbatas berhasil
mengimbangi AS. Dalam guerilla war, musuhnya seringkali memiliki komitmen
ekspansionis yang kurang tinggi, sehingga memudahkan pemilik kekuatan yang lebih
lemah untuk menang.
Dalam kasus Cina, komitmen ekspansionis yang kurang disusul dengan
keterbatasan Cina untuk, jikapun ingin melakukan ekspansi terhadap Laut Cina
Selatan, mengerahkan seluruh kekuatannya. Hal ini disebabkan oleh adanya ancaman
lain yang menunggu Cina, yaitu Rusia di Utara dan Jepang di Timur, sehingga
membuat hanya South Sea Fleet yang dalam 20 tahun terakhir ini mampu untuk
dikirimnya untuk menduduki laut Cina Selatan, sementara North Sea dan East Sea
Fleet sibuk dengan ancaman geografis lainnya. Jika kita membagi tiga kekuatan Cina,
dengan pertimbangan bahwa hanya South Sea Fleet yang akan dikerahkan, kapabilitas
Cina tidak akan sebesar itu lagi.
Lagipula, dengan adanya Taiwan sebagai kepentingan utama Cina dan Seventh
Fleet AS yang harus diperlemah dahulu agar tidak mengganggu proses invasi. Selain
itu, dalam invasi kekuatan pun harus dibagi agar bisa menduduki semua wilayah yang
diinginkan Cina. Dengan kondisi seperti ini, penulis mensinyalir adanya kesempatan
menang bagi Vietnam, bahkan adanya kesempatan bagi Vietnam untuk menang
jumlah.
Untuk mengetahui apakah hal ini benar, kita harus membuat skenario tentang
bagaimana Cina akan membagi kekuatannya jika, dengan kekuatannya 20 tahun
terakhir ini, akan menginvasi Laut Cina Selatan. Dengan pertimbangan seperti yang
dijelaskan di atas, yaitu komitmen ekspansionis Cina akan Taiwan yang lebih tinggi,
pada akhirnya kapabilias yang dapat dikirimkan ke Vietnam untuk merebut pulau
terdekat dengan Vietnam akan terbatas.
Kepentingan untuk melemahkan kekuatan AS dan kepentingan untuk bertahan
dari serangan Taiwan yang juga akan mengklaim dan memajukan prajuritnya jika
Cina maju merebut Laut Cina Selatan sampai ke batas paling Selatan akan membuat
Cina harus menyimpan kapabilitasnya untuk bertahan. Karena itu, bisa dibayangkan
bahwa kapabilitas Cina yang akan sampai pada perbatasan Vietnam akan jauh lebih
sedikit dari kapabilitas totalnya. Pada akhirnya, Cina harus membagi pasukannya
berdasarkan skenario diatas, yang merupakan skenario paling wajar yang diperkirakan
penulis.

Universitas Indonesia


Untuk mempermudah penggambaran akan skenario, berikut gambar yang
menunjukkan skenario force deployment Cina di Laut Cina Selatan jika ia akan
menginvasi lautan tersebut, merebut seluruh pulau dari negara pengklaim lainnya dan
kemudian berperang atau bertahan di perbatasannya:

NSF
Total Force

ESF

Max SSF

Taiwan

Max
LCS

AS

Max
Invasion
Philippi
nes

Max
Vietnam
Brunei,
Malaysi
a

Gambar 3.4: Skenario Force Deployment Cina Jika Menginvasi Laut Cina Selatan
Sumber: gambar kawasan Laut Cina Selatan diakses dari http://rt.com/files/news/
china-passport-asia-dispute501/iefaa525e2bd4cb5be7ac6d51d439c0b4_00b89880.
jpg, sebelum disunting penulis untuk menunjukkan skenario.
Gambar di atas menggambarkan force deployment Cina dalam skenario invasi
ke Laut Cina Selatan. Bisa dilihat bahwa pada akhirnya Cina tidak akan dapat
mengirimkan seluruh pasukannya ke wilayah Vietnam begit saja. Pembagian
kekuatan itu akan menyebabkan berkurangnya deployment Cina ke wilayah
perbatasan Vietnam. Dengan demikian diindikasi bahwa Vietnam akan mampu
bertahan walaupun ia tidak melakukan balancing maupun bandwagoning.

Universitas Indonesia


Perkiraan kapabilitas akhir Cina yang akan berhadapan dengan Vietnam dapat
dilihat pada tabel 3.2, berdasarkan skenario force deployment pada gambar 3.4:
Tabel 3.2: Distribusi Jumlah Kapabilitas Cina sebagai Konsekuensi Force
Deployment dalam Skenario Invasi Penyerangan Cina di Laut Cina Selatan

Tahun Kapabilitas
1991 SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
Fighters
Bombers
Ground
Attack


2003 SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
Fighters
Bombers
Ground
Attack


2011 SSBN
Submarines
Destroyers
Frigates
Corvettes
Fighters
Bombers
Ground
Attack

Max
Total
SSF
Force (Total
/3)

Max
LCS
(Max
SSF/2)

1
93
19
37
0
4600
630

0
31
6
12
0
1533
210

0
15.5
3
6
0
766.5
105

600

200

100

Max
Max
Vietnam
Invasion
(Max
Vietnam
(Max
Invasion
LCS/2)
/3)
0
0
0
7
2
0
1
0
0
3
1
7
0
0
0
383
127
125
52
17
0
50

16

60

1
68
21
42
0
1232
248

0
22
7
14
0
410
82

0
11
3.5
7
0
205
41

0
5
1
3
0
102
20

0
1
0
1
0
34
6

0
2
0
6
1
124
0

758

252

126

63

21

65

3
62
13
65
0
1070
132

1
20
4
21
0
356
44

0
10
2
10.5
0
178
22

0
5
1
5
0
89
11

0
1
0
1
0
29
3

0
2
0
0
7
0
0

421

140

70

35

11

219

Sumber: data pada total force diambil dari East Asia and Australasia, The Military
Balance, (Institute for International and Strategic Studies), 1991, 2003 dan 2011, data
di kolom lain merupakan penghitungan independen penulis.

Universitas Indonesia


Dari tabel di atas, jelas bahwa pada akhirnya Vietnam mampu mengimbangi
Cina, bahkan melebihi kekuatannya. Ternyata, guerilla balance yang ada
menghasilkan kemungkinan menang bagi Vietnam. Ini berarti bahwa guerilla
balancing Vietnam (semestinya) mampu menggentarkan Cina dan kemungkinan
besar Cina menyadari ini dan menyadari keterbatasannya dalam deployment yang
akan menyeimbangkan kekuatannya dengan musuh-musuhnya di medan perang,
sehingga

komitmen

ekspansionisnya

terbatas.

Dengan

demikian

Vietnam

membuktikan kepada kita bahwa: (1) paritas kekuatan yang jauh bukan masalah, (2)
dengan kapabilitas kecil negara masih bisa memiliki kemungkinan menang,
tergantung lawan dan konfliknya dan ia bisa mensituasikannya demikian jika
menginginkannya, walaupun perimbangan kekuatan yang ada asimetris alias
imbalance. Vietnam membuktikan bahwa imbalance of power tidak pasti akan
membawa konsekuensi instabilitas, jika negara yakin akan kemungkinan menangnya.
Dalam konteks perimbangan kekuatan Vietnam-Cina, dengan demikian, yang
kita lihat pada tabel balance of force pada bab sebelumnya, adalah guerilla balancing,
(keseimbangan gerilya) atau asymmetric balancing, suatu strategi balancing terbatas
yang ditandai oleh: (1) pengimbangan akan alut sista yang diasumsikan signifikan
dalam perang yang skenarionya paling mungkin terjadi saja (dalam hal ini di Laut
Cina Selatan atau Gulf of Tonkin yang juga diklaim oleh Cina); dan (2) pengimbangan
kekuatan akan kapabilitas yang deployment nya sudah pasti dalam perang yang
diskenariokan tersebut. Balancing ini dimungkinkan ketika: (1) negara memiliki
pengalaman kemenangan gerilya dalam sejarah, yang memberikannya dan rakyatnya
rasa percaya diri, serta perhitungan strategis yang menghasilkan kemungkinan; (2)
adanya komitmen ekspansionis yang rendah dari negara yang menjadi musuh,
sehingga semangat pasukan akan menurut dari waktu ke waktu dan musuh akan
kehabisan tujuan dalam melakukan perang, yang indikasinya ada dalam persaingan
Cina-Vietnam sekarang akan Laut Cina Selatan.
Butuh penelitian lebih lanjut untuk melihat pola ini di seluruh kawasan, tapi
untuk kasus ini, analisis ini cukup menjelaskan kenapa Vietnam tidak menambah
senjatanya dan tetap menjaga balance 90:10. Jika penelitian lebih lanjut dilakukan
terhadap negara-negara lain dengan pengalaman yang sama di Asia Tenggara (seperti
Indonesia) dan ditemukan strategi yang sama, maka konsekuensi penjelasan baru akan
balance of power di Asia Tenggara muncul, bahkan di dunia, ketika negara-negara
lemah yang tidak mampu menyamai kekuatan great powers melakukan balancing

Universitas Indonesia


yang targeted terhadap jenis alut sista khusus dan kemungkinan jumlah alut sista yang
diturunkan, menyusul skenario peperangan yang paling mungkin antar dua negara
yang bermusuhan.
Asymmetric balancing bisa menjadi sumbangsih baru dalam pengembangan
teori balancing yang membuatnya makin relevan untuk menjelaskan strategi, perilaku
dan ideal balance of power bagi negara kecil dalam hubungannya dengan negaranegara besar. Bisa jadi, ideal balance of power bagi negara-negara kecil dalam
penjagaan stabilitas dan pencegahan invasi negara-negara besar, adalah 90:10 dengan
syarat kemungkinan menang bagi negara-negara kecil tersebut harus tetap terjamin,
seperti yang terlihat dalam kasus Vietnam ini.
Melihatnya sebagai suatu struktur yang terpisah dari yang lain, asymmetric
balance antara Vietnam dan Cina menciptakan stabilitas, karena tidak mungkin Cina
dengan kemampuannya yang sekarang akan maju untuk merebut kepulauan yang
dipersengketakannya dengan Vietnam, ditambah dengan kesempatan Vietnam untuk
menang dalam kondisi Cina yang terbatas dalam alut sista dan komitmen.
Dapat disimpulkan bahwa dalam dua puluh tahun terakhir, balancing seperti
inilah yang terjadi di perairan Laut Cina Selatan antara Cina dan Vietnam.
Asymmetric Balancing rupanya menjadi cukup bagi Vietnam ketika dengan kekuatan
minimum yang ditargetkan, ia bisa menggentarkan Cina. Dapat disimpulkan bahwa,
Cina yang selama ini pasti melakukan asesmen kekuatan terhadap calon musuhmusuhnya, termasuk Vietnam, pasti tergentarkan oleh fakta bahwa kekuatan yang
jauh lebih kecil yang dimiliki oleh Vietnam cukup untuk mengalahkannya. Apalagi,
dalam kondisi dimana ia memiliki musuh-musuh lain, yang juga berada dalam
kawasan. Dalam hal ini, seluruh negara pengklaim lainnya, Taiwan, AS, juga Britania
Raya yang beraliansi dengan Brunei.
Dalam konteks Vietnam Cina, bisa diargumentasikan bahwa asymmetric
balance ini cukup untuk menjaga stabilitas dan asymmetric balancing menjadi pilihan
perilaku Vietnam walau untuk benar-benar mengklaim hal ini, penelitian lebih lanjut
perlu dilakukan, misalnya dengan cara process-tracing. Namun di titik ini, penelitian
ini telah menyelesaikan tugasnya melakukan studi kasus dan melakukan penjelasan
analisa atas proposal teori yang diinduksinya dari perkiraannya akan pilihan strategi
Vietnam dan alasan mengapa internal balancing tidak dilakukan oleh Vietnam, yaitu
kepuasan. Penelitian ini juga telah menganalisa sejauh mana Teori Balance of Power
memikiki relevansi, sesuai dengan tujuan penelitiannya sejak awal.

Universitas Indonesia


BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Setelah melakukan analisis, penelitian ini menarik kesimpulan bahwa
stabilitas di Laut Cina Selatan terjadi karena: (1) bipolaritas ganda yang diciptakan
negara-negara yang bersengketa melalui aliansi dengan kekuatan besar di luar
kawasan; (2) adanya ancaman lain bagi negara-negara Asia Tenggara yang
bersengketa, yaitu ancaman dari sesama negara Asia Tenggara sendiri dan (3) Adanya
asymmetric balance yang tercipta dengan cara guerilla balancing yang dilakukan oleh
negara yang berkonflik dengan Cina, dimana pada akhirnya kekuatan yang lebih kecil
inipun memiliki kemungkinan untuk mengalahkan Cina ketika Cina menyerang.
Dalam konteks negara yang menyebabkannya, poin pertama diciptakan oleh Brunei
dan Filipina, poin kedua merupakan fenomena hasil pengamatan terhadap Malaysia
dan poin ketiga terhadap Vietnam.
Dengan temuan di atas, dapat pula disimpulkan bahwa: (1) Teori Balance of
Power Kenneth Waltz dalam konteks paling tradisional masih berlaku dalam kasus
Brunei dan Filipina, dimana ditemukan bahwa kedua negara tersebut sama sekali
tidak melakukan peningkatan kapabilitas, dalam hal ini kapabilitas yang akan
signifikan jika terjadi perang di Laut Cina Selatan, karena negara-negara ini alih-alih
melakukan external balancing dengan aliansinya masing-masing, dalam hal ini aliansi
Brunei adalah Inggris dan aliansi Filipina adalah Amerika Serikat; (2) Teori Balance
of Power Kenneth Waltz tidak relevan dalam kasus Malaysia dan Vietnam, karena
dalam kasus Malaysia, ternyata satu-satunya negara yang melakukan peningkatan
kapabilitas ini belum tentu melakukan peningkatan tersebut karena Cina.
Kemungkinan lain adalah, ia melakukan peningkatan kapabilitas relatif terhadap
musuh terbesarnya di kawasan, yaitu Indonesia, yang pernah terlibat sengketa
Sipadan-Ligitan dengannya. Security dilemma negara-negara di Asia Tenggara,
dengan demikian, disinyalir terjadi kepada sesamanya (yang memiliki balance
cenderung 50:50), bukan terhadap kekuatan besar di luar kawasan. Artinya, teori
Waltz terfalsifikasi, dengan adanya kemungkinan pengimbangan kekuatan terhadap
kekuatan yang lebih kecil, bukan yang lebih besar, ditambah dengan temuan bahwa
tidak adanya kerjasama dan kesatuan suara antara negara-negara Asia tenggara yang

Universitas Indonesia


berkonflik akan bagaimana menghadapi Cina. Ekspektasi dari teori Waltz adalah
bahwa negara-negara ini kemudian bersatu melawan Cina, namun itu tidak terjadi.
Dalam kasus Vietnam, diinduksi asymmetric balancing yaitu balancing yang
dilakukan tanpa mengejar kapabilitas yang sebanding dengan negara yang
mengancam, tapi mengejar kapabilitas yang cukup untuk menang ketika skenario
peperangan paling mungkin terjadi. Hal ini disimpulkan penulis setelah menganalisis
mengapa, Vietnam yang merupakan negara paling besar (maka paling berpotensi
meningkatkan kapabilitas relatif terhadap Cina), serta merupakan negara yang
memiliki paling banyak konflik historis dengan Cina (yang meninggalkan historical
enmity), malah tidak menjadi negara yang melakukan peningkatan kapabilitas paling
signifikan. Menurut penulis, yang paling mungkin menjadi alasan dibaliknya adalah
kepuasan yang dimilikinya, karena jika tidak puas tentu sudah ditingkatkannya
kapabilitasnya sejak dulu, mengingat keterlibatannya dalam perebutan Laut Cina
Selatan dengan Cina lebih panjang sejarahnya dari yang lain. Kepuasan ini disinyalir
penulis terjadi karena pengalamannya merebut kemenangan dalam perang melawan
negara besar yang jauh lebih besar dari Cina, yaitu AS, sehingga hingga sekarang ia
percaya bahwa tidak dibutuhkan kapabilitas yang sebanding secara menyeluruh untuk
memenangkan perang yang diramalkan akan terjadi secara targeted. Penulis
melakukan perbandingan akan kapabilitas militer Vietnam vis a vis Cina di masa
sekarang jika skenario perang di Laut Cina Selatan terjadi dengan kapabilitas militer
Vietnam vis a vis Amerika Serikat di masa Perang Vietnam. Ternyata walaupun
kapabilitas menyeluruhnya berbeda jauh, kapabilitas yang akan atau telah digunakan
dalam perangnya cenderung seimbang. Karenanya, Vietnam memiliki kemungkinan
menang dan cukup puas dengan apa yang telah dimilikinya sekarang untuk melawan
Cina. Ini menunjukkan dua hal bagi Teori Balance of Power.
Yang pertama adalah, balance of force yang digunakan untuk menentukan
balance harus dikaji ulang di setiap peneltian. Apakah dalam mengukur stabilitas
harus selalu digunakan total balance of force? Apakah balance dalam konteks ideal
sebagai hasil dari perilaku balancing dan/atau bandwagnoning harus 50:50 atau harus
on par demi menciptakan stabilitas? Karena dalam kasus Malaysia, ternyata
imbalance 90:10 tidak meninggalkan persepsi ancaman targeted terhadap Cina,
karena merasa negara yang bersaing dengannya dalam balance 50:50, seperti
Indonesia, karena berbagai alasan, lebih berbahanya. Sementara dalam kasus Vietnam
ternyata balance 90:10 sudah cukup untuk menggentarkan Cina, yang, dalam

Universitas Indonesia


pengambilan keputusan apakah ia akan melakukan perang ekspansif ke Laut Cina
Selatan, pasti mempertimbangkan kemungkinan kalahnya ia, dengan keberadaan
berbagai kekuatan yang menghalanginya di perairan ini. Dengan demikian, Vietnam
tidak melakukan internal balancing maupun external balancing, karena itu teori
Waltz perlu direvisi.
Yang kedua adalah, perlu dipertanyakan bagi teori tersebut, sejauh apakah
kekuatan harus seimbang untuk menciptakan stabilitas. Karena dalam kasus yang
diteliti penulis, seperti yang telah dijelaskan di atas, keseimbangan 90:10 tidak
mendatangkan perang walaupun dalam penelitian Waltz keseimbangan 50:50 antara
AS dan Rusia telah mencegah perang. Jika dilakukan penelitian lebih lanjut tentang
hal yang hanya terjadi diantara Vietnam dan Cina ini, bisa-bisa ditemukan bahwa
sebenarnya stabilitas dan balance of power tidak berhubungan, karena dalam abad ke21 penentu stabilitas bukanlah perbandingan jumlah kapabilitas militer, yang
merupakan hasil dari kapabilitas ekonomi yang signifikan, lagi.
4.2. Rekomendasi
Berdasarkan atas kesimpulan di atas, penulis merekomendasikan beberapa hal.
Yang pertama adalah adanya penelitian lebih lanjut tentang balance of power di
kawasan Asia Tenggara, dengan fokus pada potensi konflik yang tumpang tindih.
Dalam hal ini penulis merasa bahwa penelitian pada konflik Laut Cina Selatan saja
tidak cukup. Perlu juga ada penelitian dyadic antara negara-negara yang bersaing
secara langsung atas suatu wilayah di kawasan, agar ditemukan terhadap siapakah
sebenarnya negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Pasifik melakukan
balancing/bandwagoning, berasumsi bahwa teori Waltz masih memiliki relevansi,
walaupun terbatas, untuk digunakan meneliti kawasan.
Yang kedua, penulis merekomendasikan adanya penelitian historis akan
hubungan negara-negara Asia Tenggara, utamanya yang terlibat sengketa wilayah,
dengan kekuatan besar eksternal yang mengitarinya. Sebab, dalam pembahasan telah
dipaparkan bahwa historical enmity menjadi factor penting dan melalui analisis secara
tidak langsung ditemukan bahwa historical enmity antar negara-negara Asia Tenggara
menjadi persaingan dan permusuhan sehingga historical enmity sebagai akibat dari
hubungan kolonial malah menciptakan kepercayaan dan ketergantungan, melihat
kasus Brunei Inggris dan Filipina AS. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk

Universitas Indonesia


benar-benar secara valid menarik kesimpulan yang bisa diterima dunia akademis di
tingkatan yang lebih tinggi.
Yang ketiga, penulis merekomendasikan adanya penelitian terhadap negaranegara kecil lain yang pernah mengalami sejarah perang gerilya, agar supaya dapat
ditarik kesimpulan tentang apakah fenomena asymmetric balance yang ditemukan
penulis hanya terjadi di Vietnam ataukah juga terjadi dalam kasus Nngara lain, tanpa
mengklaim bahwa asymmetric balance itu telah menjadi teori tersendiri, mengingat
bahwa sekarang ia masih merupakan pola yang hanya penulis temukan terkait kasus
Vietnam Cina, menelaah kemungkinan konflik di Laut Cina Selatan.
4.3. Refleksi terhadap Indonesia
Walaupun hanya dapat disimpulkan terjadi dalam kasus Vietnam, temuan
asymmetric balancing dapat dijadikan refleksi bagi negara-negara lain, termasuk
Indonesia. Indonesia, sebagai negara yang juga berpotensi melakukan peningkatan
kapabilitas militer yang signifikan, sebagai negara yang pernah mengalami
kemenangan perang gerilya dan sebagai negara yang sekarang kesempatannya
melakukan peningkatan kapabilitas serba terbatas karena berbagai alasan termasuk
anggaran dan dilemma keamanan negara sekitar, dapat menggunakan guerilla
balancing sebagai alternatif strategi. Guerilla balancing yang menciptakan
asymmetric balance dapat memungkinkan gentaran terhadap negara besar yang
menjadi ancaman hanya dengan jumlah alut sista yang terbatas dan dengan demikian
juga dengan anggaran yang terbatas. Dengan demikian hal ini sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan Indonesia sekarang, yang bahkan belum menentukan minimum
essential force (MEF)-nya. Berkaca terhadap asymmetric balance, MEF Indonesia
haruslah direncanakan secara targeted, terhadap negara yang mengancam atau daerah
kritis tempat konflik diperkirakan akan mengancam. Selain itu, alut sista yang
direncanakan akan dibeli Indonesia juga harus disesuaikan dengan alut sista yang
diperkirakan akan diturunkan lawan dalam sebuah konflik, karena dengan demikian
kemungkinan menang dapat direbut tanpa mengejar balance yang 50:50. Jika
asymmetric balance mampu menjadi teori, Indonesia akan memiliki landasan
akademis akan aksi seperti ini dan dengan demikian lobby pada Dewan Perwakilan
Rakyat akan lebih mudah jika ada landasan teoritik ini. Karenanya, penulis berharap
temuan ini bisa dikembangkan dengan penelitian pada tingkat perolehan gelar yang
selanjutnya agar dapat diakui sebagai teori.

Universitas Indonesia


4.4. Sumbangsih terhadap Ilmu Hubungan Internasional
Selain refleksi terhadap Indonesia di atas, temuan ini, utamanya dalam
konteks asymmetric balance, akan menjadi sumbangsih bagi pengembangan ilmu
Hubungan Internasional, utamanya bagi Ilmu Hubungan Internasional Sekolah Asia
(Asian School of International Relation), karena sumbernya merupakan fenomena
yang terjadi di Asia, bahkan Asia Tenggara saja. Selain itu, karena berasal dari
Indonesia yang juga merupakan negara yang mirip dengan Vietnam dalam konteks
historis, jika telah berkembang sebagai teori, asymmetric balancing dapat diklaim
sebagai Indonesian School of International Relations. Untuk mengklaim sesuatu
sebagai pemikiran yang berasal dari suatu negara atau daerah, tidak hanya dibutuhkan
jurnal yang dibuat oleh akademisi dari negara atau kawasan tersebut, tapi juga teori
atau pemikirian yang bersumber dari fenomena di negara atau kawasna tersebut, yang
kemudian bisa diterima secara meluas. Namun untuk pencapaian hal tersebut, perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut di tingkatan yang lebih tinggi lagi dan penulis
berharap bisa membawa temuan asymmetric balancing ke dalam tingkatan tersebut.

Universitas Indonesia


DAFTAR REFERENSI

About

the

ASEAN

Regional

Forum.

Publikasi

remsi,

diakses

dari

aseanregionalforum.asean.org/about.html
Acharya, Amitav. Constructing Security Community in Southeast Asia: ASEAN and
the Problem of Regional Order. London: Routledge, 2001.
Australian Treaty Series 1971 No 21. Department of Foreign Affairs, Canberra.
Kumpulan traktat perihal Five Power Defence Arrangements. Diakses dari
http://www.austlii.edu.au/au/other/dfat/treaties/1971/21.html.
Brunei

Country

Profile,

Overview

and

Facts.

BBC.co.uk.

Diakses

dari

http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-12990058
Buzan, Barry dan Ole Weaver. Regions and Powers: The Structure of International
Security. Cambridge: Cambridge University Press: 2003.
Brooks, Stephen G. dan William C. Wohlforth. Hard Times for Soft Balancing.
International Security, Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005),
Chemillier-Gendreau, Monique. Sovereignty over the Paracel and Spratly Island. The
Hague: Kluwer Law International: 1996.
Chi-kin, Lo. Chinas Policy Towards Territorial Dispute: The Case of the South
China Sea Islands. London: Routledge 1989.
Declaration on the Code of Conduct of the South China Sea. Dokumen resmi,
diakses dari http://www.aseansec.org/13163.htm
Djalal, Hasyim. Indonesia and The Law of The Sea. Jakarta: Centre for Strategic and
International Studies: 1995.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1991.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1992.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1993.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1994.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1995.

Universitas Indonesia


East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1996.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1997.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1998.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 1999.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2000.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2001.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2002.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2003.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2004.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2005.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2006.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2007.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2008.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2009.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2010.
East Asia and Australasia, The Military Balance. Institute for International and
Strategic Studies: 2011.
Emmers, Ralf. Cooperative Security and The Balance of Power in ASEAN and the
ARF. London: Routledge Curzon: 2004.

Universitas Indonesia


Film

Dokumenter

USC

Institute,

diakses

dari

http://china.usc.edu/ShowArticle.aspx?articleID=2145&AspxAutoDetectCookieSu
pport=1
Fortmann, Michael, T. V. Paul, dan James J. Wirtz, Conclusions: Balance of Power
at the Turn of the New Century. Dalam Balance of Power: Theory and Practice
in the 21st Century diedit oleh T. V. Paul, James J. Wirtz, dan Michel Fortmann.
Stanford: Stanford University Press, 2004.
George, Alexander L. dan Andrew Bennet, Case Study and Theory Development in
the Social Sciences. Cambridge, Massachussets: MIT Press, 2005.
Goh, Evelyn. Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing
Regional Security Strategies. International Security 32, No. 3 (Winter
2007/08).
Hariri, Jacob G. When Do States Balance Power? Refining, Not Refuting, Structural
Realist

Balance

of

Power

Theory,

diakses

dari

stockholm.sgir.eu/uploads/HaririWivelSGIR.pdf
International Court of Justice Docket Files. Kumpulan Dokumen ICJ perihal Sipadan
dan Ligitan, diakses dari http://www.icj-cij.org/docket/files/102/7177.pdf
Kaplan, Robert D. The South China Sea is the Future Conflict. Foreign Policy.
Terakhir kali dimodifikasi tanggal 15 Agustus 2011, diakses dari
http://www.foreignpolicy.com/articles/2011/08/15/the_south_china_sea_is_
the_future_of_conflict?page=full
Khoong, Yuen Foong. Coping with Strategic Uncertainty: The Role of Institution
and Soft Balancing in Southeast Asias Post Cold War Strategy. Dalam
Rethinking Security in East Asia, diedit oleh Peter Katzenstein, Allen Carlson dan
J.J. Suh. Stanford: Stanford University Press: 2004.
Leifer, Michael. Stalemate in the South China Sea. Asia Research Center, London
School

Economics

and

Political

Sciences,

diakses

dari

http://community.middlebury.edu/~scs/docs/leifer.pdf;
Levy, Jack. S. What Do Great Powers Balance Against and When? dalam Balance
of Power: Theory and Practice in the 21st Century diedit oleh T. V. Paul, James J.
Wirtz, and Michel Fortmann. Stanford: Stanford University Press, 2004.
Lieber, Keir A. dan Gerard Alexander, Waiting for Balancing: Why the World Is
Not Pushing Back. International Security, Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005).

Universitas Indonesia


Map of the South China Sea, diakses dari http://rt.com/files/news/china-passportasia-dispute-501/iefaa525e2bd4cb5be7ac6d51d439c0b4_00b89880.jpg
Mauna, Dr. Boer. Hukum Internasional: Pengertian, Peranan, dan Fungsi Dalam Era
Dinamika Global. Bandung: Alumni, 2010.
Mearsheimer, John J. The Tragedy of Great Power Politics. NYC: W. W. Norton &
Company, 2001.
Military and Security Developments Involving Peoples Republic of China, Office
of Secretary of Defense, 2008. A Report to Congress, Pursuant to the National
Defense Authorization Act for Fiscal Year 2008. 2008.
Military and Security Developments Involving Peoples Republic of China, Office
of Secretary of Defense, 2009. A Report to Congress, Pursuant to the National
Defense Authorization Act for Fiscal Year 2009. 2009.
Military and Security Developments Involving Peoples Republic of China, Office
of Secretary of Defense, 2010. A Report to Congress, Pursuant to the National
Defense Authorization Act for Fiscal Year 2010. 2010.
Mutual Defense Treaty Between the Republic of The Philippines and the United
States of America. Naskah perjanjian resmi, dapat diakses dari Chan Robles
Virtual

Law

Library:

http://www.chanrobles.com/mutualdefensetreaty.htm#.UopN_RaBLZs
Nye, Joseph S.Jr.. Understanding International Conflicts: An Introduction to Theory
and History. New York: Harper Collins College Publishers, 1993.
Pape, Robert A. Soft Balancing against the United States. International Security,
Vol. 30, No. 1 (Summer, 2005).
Rowan, Joshua P. The U.S-Japan Security Alliance, ASEAN, and the South China
Sea Dispute. Asian Survey, Vol. 45, Issue 3.
San, Kho Hou. The Five Power Defence Arrangements: If it ain't broke... diakses
http://www.asean.org/archive/arf/7ARF/Prof-Dment-Programme/Doc-6.pdf
Schofield, Clive. Dangerous Ground: A Geo-Political Overview of the South China
Sea. Dalam Security and International Politics in the South Cina Sea, diedit
oleh Sam Bateman dan Ralf Emmers, 2009.
Shen, Jianming. China's Sovereignty over the South China Sea Islands: A Historical
Perspective. Oxford Journals. Diunduh dari http://chinesejil.oxfordjournals.org/

Universitas Indonesia


Shimko, Keith L.

International Relations: Perspectives and Controversies. 3rd

Edition. Boston: Wadsworth, 2010.


Smith, George W. The Siege at Hue. Lynne Reinner Publishers:1999.
South China Sea: Chronology of Coverage. The New York Times. Diakses dari
http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/southchina
sea/
South China Sea: Vietnamese hold anti-Chinese protest, Reuters. BBC.co.uk. Terakhir dimodifikasi tanggal
5 Juni 2011, diakses dari http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-13661779
Storey, Ian. Chinas Thirst for Energy Fuels Improved Relations with Brunei.
China

Brief,

Volume:

Issue:

24,

diakses

dari

http://www.jamestown.org/single/?no_cache=1&tx_ttnews[tt_news]=3913
Territorial Claims in the Spratly and Paracel Islands. Global Security. Diakses dari
http://www.globalsecurity.org/military/world/war/spratly-claims.htm
The Law on Territorial Waters and Their Contiguous Areas of the Peoples Republic
of China. Diakses dari http://www.asianlii.org/cn/legis/cen/laws/tsatcz392,
11/04/2012
The Royal Navy Today, Tomorrow, and Towards 2015. Dokumen resmi Angkatan
Laut Inggris, diakses dari http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/2700.htm
Timeline: Disputes in the South China Sea. Singapore Institute of International
Affairs,

terakhir

dimodifikasi

Juli

2011,

diakses

dari

http://www.siiaonline.org/?q=research/timeline-disputes-south-china-sea
Thuy, Tran Truong. Recent Developments in the South China Sea: Implications
for Regional Security and Cooperation. CSIC Southeast Asia Program, June 30
(2011).
Tolson, John J. Vietnam Studies: Airmobility 196171. US, US Government
Printing Office: 1898.
United Nations Convention on the Law of the Sea. Dokumen resmi PBB, diakses
dari
http://www.un.org/Depts/los/convention_agreements/texts/unclos/unclos_e.pdf
US Navy. Diakses dari globalsecurity.org
Vietnam War: Weapons and Equipment. Daftar senjata pada Perang Vietnam,
diakses

dari

http://www.olive-

drab.com/od_history_vietnam_weapons_equipment.php,

Universitas Indonesia


Wahyuningrum, Yuyun. ASEAN Integration Going Slow Due To Trust Issue,
diakses

dari

http://www.dpiap.org/resources/article.php?genreid=15&id=0000436&genre=ASE
AN
Walt, Stephen. Alliance Formation and the Balance of World Power.
International Security Vol. 9, No. 4 (Spring, 1985).
Waltz, Kenneth. Thory of International Politics. Masscachussets: Addison-Wesley
Publishing Company, 1979.
Webb, Michael C. dan Stephen D. Krasner. "Hegemonic Stability Theory: An
Empirical Assessment." Review of International Studies (1989) 15, 18398.

Universitas Indonesia