Anda di halaman 1dari 20

RESPONSI

ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


HERPES ZOSTER THORACALIS DEXTRA

Pembimbing:
dr. Dian Ardiana, Sp.KK

Penyusun :
Monica Wijaya, S. Ked
2010.04.0.0159
BAGIAN KULIT KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2015

RESPONSI ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

HERPES ZOSTER THORACALIS DEXTRA


Nama

: Monica Wijaya, S.Ked

NIM

: 2010.04.0.0159

-----------------------------------------------------------------------------------------------I.

II.

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn. HS

Umur

: 53 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Bendul merisi, Gg, Besar 58B, Surabaya.

Pekerjaan

: Karyawan Perum Damri

Agama

: Islam

Suku/Bangsa

: Indonesia

Tanggal pemeriksaan

: 18 Maret 2015

ANAMNESA
Keluhan Utama

Muncul plentingan-plentingan kecil berisi cairan pada dada sebelah


kanan, ketiak, punggung sebelah kanan, dan tangan sebelah kanan.

Keluhan Tambahan

Plentingan terasa nyeri dan gatal.

Kemeng pada dada, punggung kanan sampai tangan kanan.

Nyeri kepala (-)

Demam (-)

Batuk (-)

Pilek (-)

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page1

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSAL Dr. Ramelan Surabaya
pada hari Rabu, 18 Maret 2015, dengan keluhan muncul plentinganplentingan kecil berisi cairan pada dada sebelah kanan, ketiak,
punggung sebelah kanan, dan tangan sebelah kanan yang terasa nyeri
dan gatal sejak 3 hari yang lalu (15 Maret 2015).
Awalnya berupa bintik-bintik kecil kemerahan diketiak yang kemudian
menjadi plentingan-plentingan berisi cairan jernih. Plentinganplentingan makin hari bertambah banyak dan menyebar ke dada,
punggung dan tangan sebelah kanan.
5 hari sebelum muncul plentingan pasien merasa badannya terasa
pegal-pegal dan kemeng.
Demam (-), batuk (-), pilek (-).
Pasien belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu

Penderita mengatakan pernah mengalami cacar air waktu kecil

Diabetes melitus disangkal

Hipertensi disangkal

Riwayat asma disangkal

Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang sedang menderita cacar.

Riwayat alergi di dalam keluarga disangkal.

Riwayat Asma disangkal.

Riwayat Diabetes Melitus disangkal.

Riwayat Psikososial

Tidak ada anggota keluarganya yang mengalami keluhan yang sama


dengan penderita.

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page2

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

Penderita mandi 2x sehari memakai sabun mandi dan menggunakan air


PDAM.

Penderita mengganti pakaiannya setiap hari dan memakai handuk


sendiri tidak bergantian dengan anggota keluarga yang lain.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Status Gizi

: kesan baik

Status Generalis
Kepala

: dalam batas normal

Leher

: lihat status dermatologis

Thorax

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Ekstremitas

: lihat status dermatologis

Status Dermatologis
Lokasi

Efloresensi

Regio thoracalis dan brachi dextra

Tampak vesikel bergerombol berisi cairan jernih dan keruh dengan

dasar kulit eritematus diantara kulit normal.


Unilateral, tidak melewati garis tengah tubuh
Beberapa vesikel bergabung membentuk bula.
Tampak usia lesi tidak sama.

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page3

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

IV.

RESUME
Penderita laki-laki, 53 tahun mengeluh muncul plentingan-plentingan kecil

berisi cairan pada dada sebelah kanan, ketiak, punggung sebelah kanan, dan tangan
FK Universitas Hang Tuah 2015

Page4

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

sebelah kanan yang terasa nyeri dan gatal sejak 3 hari yang lalu. Awalnya berupa
bintik-bintik kecil kemerahan diketiak yang kemudian menjadi plentingan-plentingan
berisi cairan jernih. Plentingan-plentingan makin hari bertambah banyak dan
menyebar ke dada, punggung dan tangan sebelah kanan. 5 hari sebelum muncul
plentingan pasien merasa badannya terasa pegal-pegal dan kemeng.
Status dermatologis :
Lokasi

: Regio thoracalis dextra dan brachi dextra

Efloresensi

Tampak vesikel bergerombol berisi cairan jernih dan keruh dengan


dasar kulit eritematus diantara kulit normal.

V.

Unilateral, tidak melewati garis tengah tubuh

Beberapa vesikel bergabung membentuk bula.

Tampak usia lesi tidak sama.

DIAGNOSA
Herpes zoster thoracalis dextra

VI.

DIAGNOSA BANDING
1. Herpes simpleks virus zosteriform
2. Dermatitis kontak
3. Insect bites
4. Eritema multiform

VII.

PENATALAKSANAAN
VII.1 Planning Diagnosis
Pemeriksaan Tzanck smear
VII.2 Planning Terapi

Medikamentosa
o Acyclovir 5 x 800mg/hari
o Asam mefenamat 2x500 mg/hari prn

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page5

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

o Vitamin B-complex 1 x 1/ hari


o Salicyl talk sue

Non-medikamentosa
o Menjaga higienitas tubuh dengan mandi 2 x/hari dengan
menggunakan sabun untuk mencegah infeksi sekunder.
o Menjelaskan pada penderita dapat timbul rasa nyeri pada
daerah bekas penyembuhan.
o Menjelaskan bahwa penyakit ini dapat kambuh lagi jika
daya tahan tubuh penderita menurun.

VII.3 Monitoring

Keluhan penderita berkurang, tetap atau makin bertambah berat.

Perkembangan perluasan lesi. Lesi meluas atau menetap atau mulai


berkurang.

Perhatikan lesi dan kulit sekitarnya, terjadi atau tidaknya infeksi


sekunder.

VII.4 Edukasi

Menyarankan agar penderita tetap menjaga higienitas serta


merawat diri agar terhindar dari infeksi sekunder dengan cara tetap
mandi dengan menggunakan sabun.

Memberitahukan agar penderita tidak menggaruk lesi kulit jika


terasa gatal, karena dengan garukan tersebut malah dapat
memperdalam lesi sehingga timbul sikatrik/ jaringan parut.

Menyarankan agar penderita makan makanan yang seimbang untuk


meningkatkan daya tahan tubuh sehingga proses penyembuhan
dapat lebih cepat.

Mengingatkan penderita meminum obat secara teratur dan disiplin


agar proses penyembuhan dapat berjalan lancar.

VIII. PROGNOSIS

Baik jika dirawat dini dan belum terjadi komplikasi

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page6

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

TINJAUAN PUSTAKA
HERPES ZOSTER
Herpes zoster (nama lain: shingles) adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus varicella-zoster. Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster
akan menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih
ganglia (pusat saraf) posterior. Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas
seluler maka virus tersebut dapat aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke
kulit sehingga menimbulkan penyakit herpes zoster. Di kulit, virus akan
memperbanyak diri (multiplikasi) dan membentuk bintil-bintil kecil berwarna merah,
berisi cairan, dan menggembung pada daerah sekitar kulit yang dilalui virus tersebut.
Herpes zoster cenderung menyerang orang lanjut usia dan penderita penyakit
imunosupresif seperti penderita AIDS, leukimia, lupus dan limfoma.1
I. Definisi
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela
zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang
terjadi setelah infeksi primer.1
II.

Epidemiologi
Herpes zoster terjadi secara sporadis sepanjang tahun tanpa prevalensi

musiman. Terjadinya herpes zoster tidak tergantung pada prevalensi varisela, dan
tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa herpes zoster dapat diperoleh oleh kontak
dengan orang lain dengan varisela atau herpes.4 Sebaliknya, kejadian herpes zoster
ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan host-virus.4 Kejadian
herpes zoster juga dipengaruhi hubungan antara host dan virus.2
Usia:
Salah satu faktor resiko yang kuat adalah usia tua. Kejadian herpes zoster yaitu 1,53/1000/tahun untuk segala usia. 7-11/1000/tahun untuk usia 60 tahun di Eropa dan
Amerika Utara.
Immunitas:

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page7

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

Faktor resiko utama yang lain adalah disfungsi imun seluler. Pasien imunosupresi
seperti human immunodeficiency virus (HIV), transplantasi sumsum tulang, leukimia
dan

lymphoma,

penggunaan

obat

kemoterapi

kanker

dan

penggunaan

kortikosteroid.mempunyai resiko 20-100 lebih besar mengalami herpes zoster. 2


Episode herpes zoster yang berulang jarang terjadi dan biasanya terjadi pada pasien
imunosupresi. 2
Pasien dengan herpes zoster kurang infeksius bila dibandingkan dengan pasien yang
menderita varicella. Kejadian varicella setelah kontak dekat pasien yang mengalami
herpes zoster hanya sepertiga dibandingkan kontak dekat dengan pasien varicella
III.

Etiologi
Reaktivasi virus varisela zoster1

IV Patofisiologi
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan syaraf tepi dan ganglion
kranalis kelainan kulit yang timbul memberian lokasi yang setingkat dengan
daerah persyarafan ganglion tersebut. Kadang virus ini juga menyerang ganglion
anterior, bagian motorik kranalis sehingga memberikan gejala-gejala gangguan
motorik.1

Cara penularan dan patogenesis penyakit


Selama episode infeksi varicella primer (cacar air), VZV sangat menular
dan menyebar baik melalui droplet pernapasan (bersin dan batuk) maupun
kontak langsung. Infeksi VZV terjadi ketika virus kontak dengan mukosa
saluran pernafasan bagian atas atau pada conjungtiva mata. Virus berada di
peredaran darah melalui sel mononuklear menuju kulit, sehingga terjadi ruam
umum cacar air. Virus juga menginfeksi pada dorsal root ganglia dari spinal
column dan cranial nerve ganglia, dimana dia menjadi latent. Pada dasarnya
dilindungi dari sistem kekebalan tubuh manusia, VZV biasanya tetap aktif di
ganglia selama beberapa dekade.
Herpes zoster terjadi ketika virus kemudian reaktivasi, awalnya
menimbulkan nyeri dan segera setelah itu ruam vesikular menular pada
distribusi satu atau dua dermatom. Herpes zoster lebih kurang menular

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page8

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

dibanding varicella. Zoster umumnya menyebar hanya dengan kontak langsung


dengan lesi terbuka, kering dan tidak melalui droplet udara. Virus rapuh ini
dapat hidup untuk jangka waktu yang singkat pada handuk, seprei dan pakaian.
Barang-barang tersebut harus dilihat sebagai potensi sumber penularan. Setelah
lesi herpes zoster membentuk kerak dan tidak lagi berair maka pasien tidak lagi
infeksius.
Perlu diingat bahwa orang dengan shingles tidak dapat menularkan zoster
atau shingles ke lainnya. Bagaimanapun, kontak dengan drainase dari lesi zoster
dapat menyebabkan cacar air pada individu yang tidak memiliki riwayat infeksi
varicella sebelumnya dan tidak pernah terkena cacar air.
Pasien

imunokompromise

dengan

zoster

beresiko

terhadap

berkembangnya penyebaran infeksi VZV, disebut disseminated herpes zoster.


Ini potensial merupakan penyakit serius dapat menimbulkan lesi kulit di seluruh
tubuh dan infeksi pada organ dalam. Infeksi ini lebih menular dibandingkan
dengan herpes zoster typical dan mungkin menyebar melalui droplet udara,
sebagai infeksi primer varicella. Untuk alasan ini, beberapa pasien dengan
disseminated zoster, serta mereka yang beresiko terhadap infeksi ini, sebaiknya
mendapatkan rawat inap dengan isolasi pernafasan secara ketat.7

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page9

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

III.

Gejala klinis
Pada awal terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti

terbakar dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu.
Penyebab terjadinya rasa sakit yang akut tersebut sulit dideteksi apabila ruam (bintil
merah pada kulit) belum muncul. Ruam shingles mulai muncul dari lepuhan (blister)
kecil di atas dasar kulit merah dengan lepuhan lainnya terus muncul dalam 3-5 hari.
Lepuhan atau bintil merah akan timbul mengikuti syaraf dari sumsum tulang belakang
dan membentuk pola seperti pita pada area kulit. Penyebaran bintil-bintil tersebut
menyerupai sinar (ray-like) yang disebut

pola dermatomal. Bintil akan muncul

diseluruh atau hanya sebagian jalur saraf yang terkait. Biasanya, hanya satu saraf yang
terlibat, namun dibeberapa kasus bisa jadi lebih dari satu saraf ikut terlibat. Bintil atau
lepuh akan pecah dan berair, kemudian daerah sekitarnya akan mengeras dan mulai
sembuh. Gejala tersebut akan terjadi selama 3-4 minggu. Pada sebagian kecil kasus,
ruam tidak muncul tetapi hanya ada rasa sakit.8
Herpes zoster pada anak-anak jarang didahului gejala prodormal. Gejala
prodormal yang dapat dijumpai yaitu radikuler, parestesia, malaise, nyeri keala dan
demam, biasanya terjadi 1-3 minggu sebelum timbul ruam kulit.3,4

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page10

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

Lesi kulit yang khas dari herpes zoster yaitu lokalisasinya biasanya unilateral
dan jarang melewati garis tengah tubuh. Lokasi yang sering dijumpai yaitu pada
dermatom T3 hingga L2 dan nervus ke V dan VII.3,4,5

Lesi awal berupa makula dan papula yang eritematous, kemudian dalam waktu
12-24 jam akan berkembang menjadi vesikel dan akan berlanjut menjadi pustula pada
hari ke 3-4 dan akhirnya pada hari ke 7-10 akan terbentuk krusta dan dapat sembuh
tanpa parut, kecuali terjadi infeksi sekunder bakterial. Pada pasien imunokompromise
dapat terjadi herpes zoster diseminata dan dapat mengenai alat visceral seperti paru,
hati, otak dan disseminated intravascular coagulopathy (DIC) sehingga dapat
berakibat fatal. Lesi pada kulitnya biasanya sembuh lebih lama dan dapat mengalami
nekrosis, hemoragik dan dapat terbentuk parut.3,4,5
IV.

Diagnosa
Tekhnik yang digunakan untuk mendiagnosa varicella sama dengan yang

digunakan untuk mendiagnosa herpes zoster. Gambaran klinis sering cukup untuk
menimbulkan kecurigaan diagnosis, dan Tzanck smear dapat secara cepat
mengkonfirmasi kecurigaan klinis tersebut.1
Zosteriform herpes simplex juga dapat menghasilkan hasil positif untuk tes
Tzanck smear, namun jumlah lesi biasanya lebih terbatas dan derajat nyeri substansial
kurang. Melebihi persiapan tzanck, pengujian DFA lebih disukain untuk kultur virus,
karena cepat, jenis virus, dan memiliki hasil lebih tinggi dibanding dengan kulture
yang akan dihasilkan. Ketika dibandingkan dengan infeksi varicella zoster virus
(VZV) yang terdokumentasi, Tzanck smear 75% positif (hingga dengan 10% positif
palsu dan variabilitas yang tinggi, tergantung pada keahlian pemeriksa), dan kultur
hanya 44% positif. Tes PCR 97% positif. Pada lesi atipical biopsi mungkin diperlukan
FK Universitas Hang Tuah 2015

Page11

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

untuk menunjukkan efek virus herpes khas sitopatik. Test Immunoperoxidase stain
kemudian dapat ditunjukkan pada paraffin-fixed tissue untuk mengidentifikasi secara
khusus. Pada kasus dimana acyclovir gagal secara klinis, kultur virus dapat dilakukan
dan pengujian sensitifitas acyclovir dilakukan. Hal tersebut bukan standar untuk VZV
seperti pada herpes simplex virus (HSV).1
Untuk mendeteksi penyakit herpes zoster, dapat dilakukan beberapa macam
tes, yaitu:

Tzanck smear2,7

Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru, kemudian
diwarnai dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin, Giemsas, Wrights,
toluidine blue ataupun Papanicolaouss. Dengan menggunakan mikroskop
cahaya akan dijumpai multinucleates giant cells.

Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84%

Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan herpes
simpleks virus.

Kultur virus
Cairan dari lepuh yang baru pecah dapat diambil dan dimasukkan ke dalam
media virus untuk segera dianalisa di laboratorium virologi. Apabila waktu
pengiriman cukup lama, sampel da[at diletakkan pada es cair. Pertumbuhan
virus varicella-zoster akan memakan waktu 3-14 hari dan uji ini memiliki
tingkat sensitivitas 30-70% dengan spesifitas mencapai 100%.

Direct fluorescent assay (DFA)


Uji antibodi fluoresens langsung lebih sensitif bila dibandingkan dengan
tekhnik kultur sel. Sel dari ruam atau lesi diambil dengan menggunakan scapel
(semacam pisau) atau jarum kemudian dioleskan pada kaca dan diwarnai
FK Universitas Hang Tuah 2015

Page12

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

dengan antibodi monoklonal yang terkonjugasi dengan pewarna fluorescens.


Uji ini akan mendeteksi glikoprotein virus.

Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah berbentuk
krusta pemriksaan dengan DFA kurang sensitif

Hasil pemeriksaan cepat

Membutuhkan mikroskop fluorescence

Test ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster

Permeriksaan ini dapat membedakan antara VZV dengan herpes simpleks


virus.

Uji serologi
Uji serologi yang sering digunakan untuk mndeteksi herpes zoster adalah
ELISA

PCR
PCR digunakan untuk mendeteksi DNA-virus varicella di dalam cairan tubuh,
contohnya cairan serebrospina.

Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepatt dan sangat sensitif

Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti scraping
dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk krusta dapat juga digunakan
preparat, dan CSF.

Sensitifitasnya berkisar 97-100%

Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus varicella zoster.

Biopsi kulit
Hasil pemeriksaan histopatologis : tampak vesikel intraepidermal dengan
degenerasi sel epidermal dan acantholysis. Pada dermis bagian atas dijumpai
adanya lymphocytic infiltrat. 2,3,9,10,11,12

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page13

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

V.

Diagnosa banding
Gambaran klinis yang khas memungkinkan

diagnosis dengan sedikit

kesulitan. Unilateral, painful eruption dari kelompok vesikel disepanjang dermatom,


dengan hyperesthesia dan kadang-kadang pembesaran daerah getah bening adalah
khas. Kadang-kadang, parestesia kulit segmental atau nyeri bisa mendahului letusan
dengan 4 atau 5 hari. Pada pasien, terjadinya tanda prodromal mudah dibingungkan
dengan nyeri angina pectoris, duodenal ulcer, bilary atau renal colic, appendicitis,
pleurodynia, atau glaukoma dini. Diagnosis menjadi jelas sekali ketika erupsi kulit
muncul. Herpes simplex dan herpes zoster menjadi sulit dibedakan ketika lesi HSV
linear (zosteriform HSV), atau jika jumlah dari lesi zoster kecil dan terlokasi pada
satu sisi (tidak melibatkan seluruh dermatom). Tes direct fluorescent antibody (DFA)
atau kultur virus yang akan membedakannya. DFA umumnya lebih disukai karena
lebih cepat dan sensitif.1
Diagnosis banding herpes zoster yaitu: 2
5. Herpes simpleks virus zosteriform
6. Dermatitis kontak
7. Insect bites
8. Burns
9. Drug eruption
10. Eritema multiform
VI.

Terapi
Terapi pada herpes zoster terdiri dari tiga hal utama yaitu:
1. Pengobatan infeksi virus akut

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page14

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

2. Pengobatan rasa sakit akut yang berkaitan dengan penyakit tersebut


3. Pencegahan terhadap neuralgia pasca herpes13
Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan pengobatan yang
spesifik dan pengobatan yang diebrikan bersifat simptomatis yaitu:
Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah pecah
Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat diberikan salep
antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder
Dapat diberikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh golongan salisilat
(aspirin) untuk menghindari terjadinya Reye syndrome.
Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder
akibat garukan.3,7,12

Terapi Topikal
Fase akut herpes zoster, diberikan kompres dingin, calamine lotion dapat

meredakan gejala lokal dan mempercepat pengeringan lesi vesikuler.2

Obat Antivirus
Pemberian antivirus dapat mengurangi rasa lama sakit, keparahan dan waktu

penyembuhan akan lebih singkat.


Penggunaan agen antiviral dalam kurun waktu 72 jam setelah terbentuk ruam
akan mempersingkat durasi terbentuknya ruam dan meringankan rasa sakit akibat
ruam tersebut. Apabila ruam telah pecah, maka penggunaan antiviral tidak efektif lagi.
Contoh beberapa antiviral yang biasa digunakan untuk perawatan herpes zoster adalah
Acyclovir, Famciclovir dan Valacyclovir.13
Dosis antivirus (oral) untuk pengobatan herpes zoster :

Acyclovir p.o 5x800 mg/hari/ selama 7 hari.


Oral

: Dewasa (imunokompeten): 800 mg setiap 4 jam (5xsehari)


selama 7-10 hari

Iv

: Anak<12 th (imunokompromis) : 20 mg/kg /dosis setiap 8


jam selama 7 hari.
Anak>12 tahun dan dewasa (imunokompromise) : 10
mg/kg/dosis atau 500 mg/m2/dosis setiap 8 jam selama 7 hari

Valacyclovir , Dewasa : p.o 3x1 g/hari selama 7 hari.

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page15

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

Famcyclovir, Dewasa : p.o 3x500 mg/hari selama 7 hari.14

Terapi lain
Sebagai Anti inflamasi diberikan kortikosteroid oral (seperti prednison dengan

dosis 60 mg/hari selama 7 hari, kemudian di tappering off 30 mg selama 7 hari,


selanjutnya 15 mg selama 7 hari).16 Sedangkan untuk mengatasi neuralgia pascaherpes
digunakan analgesik, antidepresan trisiklik dan antikonvulsan. Contoh analgesik yang
sering digunakan, krim yang mengandung senyawa calamine, kapsaisin dan
xylocaine. Antidepresan trisiklik dapat aktif mengurangi sakit akibat neuralgia
pascaherpes karena menghambat penyerapan kembali neurotransmitter serotonin dan
norepinefrin. Contoh antidepresan trisiklik yang digunakan adalah amitriptylin,
nortriptylin, dan nortriptylin. Untuk mengontrol sakit neuropatik, digunakan
antikonvulsan seperti phenytoin, carbamazepin dan gabapentin.2,15
VII.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat dijumpai pada herpes zoster yaitu :


1. Infeksi sekunder pada kulit yang disebabkan bakteri
2. Post herpetic neuralgia (PHN)
3. Pada daerah ophtalmic dapat terjadi keratitis, episcleritis, iritis, papillitis dan
kerusakan syaraf
4. Herpes zoster yang diseminata yang dapat mengenai organ tubuh seperti otak,
paru dan dapat terjadi DIC dan dapat berakibat fatal

5. Meningoencephalitis
6. Motor paresis
7. Terbentuk scar.2,5,7

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page16

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

Post herpetic neuralgia merupakan komplikasi dari herpes zoster yang paling
umum, terjadi pada 10-15% dari seluruh pasien. Resiko dari komplikasi ini meningkat
sesuai dengan pertambahan usia. Post herpetic neuralgia didefinisikan sebagai gejala
sensorik (biasanya nyeri atau kekakuan) yang terdapat pada distribusi dermatom yang
sebelumnya terlibat lebih dari 30 hari setelah ruam awal.7
Herpes zoster ophtalmicus merupakan komplikasi umum yang lain. Perawat
harus menyadari bahwa keterlibatan opthalmic branch dari saraf trigeminal berpotensi
mengancam penglihatan. Bukti dari komplikasi ini termasuk nyeri mata unilateral,
erupsi vesikular disekitar mata, konjungtivitis, episcleritis, iritis, atau lid droop.
Perujukan ke ophtamologist harus dilakukan segera mungkin.7

Tenaga kesehatan harus memonitor pasien untuk tanda superinfeksi bakteri


dari lesi kulit, dimana mungkin membutuhkan terapi antibiotik. Perubahan pada
status mental, penyebaran lesi kulit melebihi 2 dermatoma, atau keterlibatan mata
harus mendapatkan rujukan ke dokter spesialis dengan segera.7
VIII. Pencegahan
Untuk mencegah herpes zoster, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah
dengan pemberian vaksinasi. Vaksin berfungsi untuk meningkatkan respon spesifik
limfosit sitotoksik terhadap virus tersebut pada pasien seropositif usia lanjut16. Vaksin
herpes zoster dapat berupa virus herpes zoster yang telah dilemahkan atau komponen
seluler virus tersebut yang berperan sebagai antigen.9 Penggunaan virus yang telah
FK Universitas Hang Tuah 2015

Page17

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

dilemahkan telah terbukti dapat mencegah atau mengurangi resiko terkena penyakit
tersebut pada pasien yang rentan, yaitu orang lanjut usia dan penderita
imunokompeten, serta imunosupresi.9,13

DAFTAR PUSTAKA
1. James WD, Berger TG, Elston DM. Andrews Disease of the skin: Clinical
dermatology. 11th edition. Elsevier Inc. 2011.
2. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ.
Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. 7th edition. America:The
McGraw-Hill Companies; 2008
3. Lichenctein R. Pediatrics, Chicken Pox or Varicella. 2002. [cited 2012 June 26].
Available from: URL: www.emedicine.com
4. Driano AN. Zoster-pediatric. 2002. www.emedicine.com.
5. Hurwitz S. Herpes zoster. In : Clinical pediatric Dermatology A Textbook of skin
Disease of childhood and adolescence. 2nd edition. Philadelphia. W.B Saunders
Company. 1993.
6. Weaver BA. Herpes zoster overview: Natural History and Incidence. J Am
Osteopath Assoc. 2009;109(2):52-56 [cited 2012 June 26]. Available from: URL:
www.jaoa.org/content/109/6_suppl_2/S2.full.pdf
7.

MacCary J. Herpes zoster (Shingles). The Health Care of Homeless Persons.


[cited

2012

June

26].

Available

from:

URL:

www.bhchp.org/BHcHP

%20Manual/pdf_files/Part1_PDF/HerperZoster.pdf
8. Melissa CS. Shingles (herpes zoster). MedicineNet Inc. 2012. [cited 2012 June
26]. Available from: URL: www.medicinenet.com/shingles/article.htm
9. Alguire P, Bader M. Observer extra: Herpes zoster. An internists guide to
preventing, diagnosing and treating herpes zoster. Philadelphia:American College
of

Physicians.

2007.

[cited

2012

June

26].

Available

from:

URL:

www.acpinternist.org/archives/2007/03/herpes.pdf
FK Universitas Hang Tuah 2015

Page18

Responsi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin_Herpes Zoster

10. Harper J. Varicella (chicken pox) In:Textbook of Pediatric Dermatology, volume.


Blackwell Science. 2000:336-9.
11. Mc Cary ML. Varicella Zoster Virus. American Academy of Dermatology, Inc.
1999.
12. Sugito TL. Infeksi Virus Varicella-Zoster pada bayi & anak. Dalam: Boediardja
SA editor. Infeksi kulit pada Bayi & Anak, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2003.
13. Simberkoff MS, Arbeit RD, Johnson GR, Oxman MN, Boardman KD, Williams
HM, at al. Safety of herpes zoster vaccine in the shingles prevention Study (A
Randomized Trial). Ann Intern Med. 2010;152:545-54. Available from: URL:
http://annals.org/data/Journals/AIM/20205/0000605-201005040-00004.pdf
14. Lacy CF, Amstrong LL, Goldman MP, Lance LL. Drug information handbook.
20th ed. New York: Levi-Comp; 2011.
15. Stankus SJ, Dlugopolski M, Packer D. Management of herpes zoster (shingles)
and postherpetic Neuralgia. Am Fam Physician. 2000;61(8):2437-44. [cited 2012
June 26]. Available from: URL: www.aafp.org/afp/2000/0415/p2437.html
16. Gnann JW, Whitley RJ. Clinical practice: Herpes zoster. N Engl J Med.
2002;347:340-6.

[cited

2012

June

26].

Available

from:

URL:

www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp013211

FK Universitas Hang Tuah 2015

Page19