Anda di halaman 1dari 10

Kisah tentang

Gelembung-gelembung kecil muncul


ke permukaan kolam. Flop menyembulkan
kepalanya dari air, menarik nafas dalam-dalam,
dan melihat berkeliling.
Indah sekali hari ini! dia memanggil
sahabatnya, Flip, yang sedang beristirahat di
tepian.
Flip mengantuk, tetapi Flop ingin bermain.
Dia menepuk-nepuk air dengan kakinya yang
besar dan berselaput itu, kemudian menukik
terjun ke air dengan hebatnya! Flop terus
berenang ke sana dan ke mari, membuat
kegaduhan sehingga Flip tidak bisa tidur lagi. Ia
menyembulkan kepala keluar dari tempurungnya
dan menyambut hari baru.

Dua ekor
kura-kura

Flop terapung-apung di air, sambil menyambar serangga yang


beterbangan di udara. Hari yang indah, Flip menyetujui ketika dia akhirnya
dapat menyusul Flop. Baiknya kita buat apa hari ini?
Kamu lihat benda aneh yang mengapung itu? Ayo kita lihat.
Oke, Flip setuju. Flop memimpin di muka, Flip mengikuti dari belakang.
Flip sangat dekat dengan Flop. Dipikirnya Flop adalah kura-kura terbaik
yang dikenalnya. Flop senang bertualang dan berani. Flip mengagumi dia
dan berandai-andai dirinya seperti Flop.

Flop berenang dengan cepat, tetapi ketika mereka


sudah dekat ia mengurangi kecepatan agar jangan
menabrak benda yang terapung-apung itu. Benda itu
besar dan bundar dan sebagian muncul di permukaan
air. Ketika Flip menabrak benda itu, terasa keras dan licin.
Apa itu? tanya Flip.
Botol! Lihat! Kamu bisa melihat ke dalam!
Halooo! Flop berteriak ke dalam botol yang tak ada
tutupnya.
Flip terkikih sewaktu mendengar gema halo. Halo
halo..Bandung! Yuuuuuhuuuuu! kata Flip.

Ayo kita masuk, Flop menyarankan.


Lebih baik jangan. Kelihatannya tidak
meyakinkan.
Jangan kuatir. Kita akan baik-baik saja. Flop
mendorong dan berjuang untuk memasukkan
tempurungnya melalui bagian yang terbuka dan
akhirnya berhasil masukjauh ke dasar botol itu.
Kamu baik-baik saja? Flip berseru.
Aku baik-baik saja, Flop menjawab.
Botol itu keras dan licin. Flop meraba-raba
mencari tempat berpegangan pada dinding
botol dengan cakarnya berusaha menarik dirinya
keluar.

Selang beberapa saat, katanya, Tadi sulit masuk.


Aku tidak bisa menemukan cara untuk mengangkat
tubuhku ke luar. Ra..rasanya aku tidak bisa
keluar.
Flop mencoba memanjat lagi, tetapi dia
tidak bisa menarik tubuhnya keluar melalui
mulut botol.
Jangan kuatir, kata Flip. Kita akan
cari akal. Pikirannya berpacu! Dia tidak
tahu harus berbuat apa. Kemudian
dia melihat ada sulur hijau yang
panjang, yang berasal dari
tumbuhan merambat di
permukaan air.

Mungkin itu bisa membantu. Dia menggigit sulur


dari tumbuhan merambat tadi dan menariknya
sekuat tenaga ke botol. Dia berenang mengitari
botol, melilitnya dengan sulur itu secepat mungkin.
Kemudian dia menggigit ujung sulur yang satunya
dan berenang ke tepian, sambil menarik botol
tersebut. Kerja keras dan membuat rahangnya
sakit, tetapi dia bertekad untuk membantu
temannya.
Akhirnya, dia berhasil memanjat tepian kolam,
sambil menarik botol itu. Botol terangkat dari air
dan kini berada di pasir.

Flip melepaskan sulur tadi dan bergegas


menuju ke botol untuk melihat apakah Flop
baik-baik saja. Ya! Ia masih terbaring di dasar
botol, mengintai ke arahnya.
Mungkin aku bisa menjatuhkan salah satu
batu dari atas sana dan menghancurkan
botolnya, pikir Flip. Tetapi nanti Flop terluka.
Tidak, bukan ide yang bagus!
Kemudian muncul ide yang lain. Aku
akan berenang ke bagian utara kolam untuk
mengambil sesuatu. Aku akan segera kembali.
Bagian utara kolam? Flop berpikir. Mau apa
dia ke sana? Itu adalah tempat lumut hijau
yang licin, yang biasanya kita hindari.

Flip berenang ke arah lumut. Ketika sudah dekat, Flip


menahan nafas, menutup mata, dan terjun menyelam.
Byur!
Dengan tempurung, kaki, wajah dan kepalanya yang
berlumuran lumut, Flip kembali ke tempat Flop. Dia
mencengkeram pinggiran botol dengan kakinya, dan
melumurkan lumut dari tempurungnya ke mulut botol.
Kemudian dia memanggil Flop, Oke, ini ide gila,
tetapi mungkin bisa berhasil! Berlarilah secepat mungkin
dan coba mendorong melalui bagian yang terbuka
itu. Lumut yang licin ini mungkin bisa membantu kamu
keluar dari situ.

Flop mundur sejauh mungkin. Dia mengerahkan


seluruh tenaga untuk mengambil ancang-ancang dari
dasar botol dan berlari kencang menuju ke mulut botol
ia pun melesat keluar!
Sekarang mereka berdua berlumuran lumut. Flip
tersenyum, Aku senang kamu baik-baik saja.
Kamu begitu berani dan cerdik, Flip. Aku tidak yakin
punya akal seperti kamu.
Flip jengah.
Terima kasih sudah membantuku. Harusnya aku
mendengarkan kamu sewaktu kamu mengingatkan untuk
tidak masuk ke dalam botol itu.
Ayo kita membersihkan diri dari lumut ini.

Mereka terjun ke dalam air melalui dedaunan,


menggeliat dan bergoncang-goncang hingga
lumutnya sudah bersih. Ketika mereka sudah selesai,
mereka muncul ke permukaan air lagi.
Hari masih indah; matahari memantulkan
warna indah keemasan. Flip dan Flop merangkak
pada sebatang kayu dan duduk berdampingan
menikmati sinar matahari. Tak satu pun dari mereka
mengucapkan sepatah kata selama waktu
yang lama. Mereka mengawasi serangga yang
beterbangan dan pepohonan yang melambailambai ditiup angin. Senang sekali merasa aman.

Contributed by Aaliyah Smith, based on a story by Viv Eaan. Illustrations and design by Stefan Merour.
Published by My Wonder Studio. Copyright 2013 by The Family International