Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

KESEHATAN PREMARITAL

OLEH :
Johanes Putra
Angelina Tjokro
Yulince VK Tambonop

Departement Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Periode 1 Juni 2015 14 Agustus 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menikah merupakan satu momen yang tak hanya membahagiakan tapi juga sebuah
jenjang akhir bagi tiap pasangan. Kesibukan mempersiapkan hari bersejarah tersebut perlu
dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, termasuk masalah pemeriksaan kesehatan pra nikah.
Pemeriksaan kesehatan pra nikah merupakan hal yang penting untuk dilakukan, karena jika tak
waspada, ada banyak resiko yang dapat menjadi penghalang dalam menjalani pernikahan. Jadi
menghindari resiko sedini mungkin adalah tindakan yang bijaksana dengan melakukan
pemeriksaan kesehatan pasangan calon pengantin ke dokter atau Rumah Sakit. Melalui
pemeriksaan kesehatan pra nikah bisa diketahui kondisi kedua calon mempelai, memperoleh
kesiapan mental, serta mengetahui jika ada penyakit-penyakit yang nantinya dapat segera
ditanggulangi sedini mungkin.1
Pemeriksaan ini perlu dilakukan, karena pasangan yang menikah tak hanya memerlukan
kecocokan kepribadian, tapi juga harus memperhatikan faktor genetik yang nantinya akan
mempengaruhi keturunan. Karena jika gen pasangan tidak cocok, nantinya dapat memunculkan
kelainan-kelainan genetik pada anak yang dilahirkan. Masalah yang mungkin dialami masalah
keturunan dari yang ringan hingga berat. Jika dari awal kondisi ini sudah dipahami dan tetap
ingin melangsungkan pernikahan, setidaknya secara mental pasangan ini bisa lebih siap nantinya
atau diobati sebelumnya. Hanya saja pemeriksaan pra nikah ini belum begitu familiar, bahkan
beberapa informasi yang beredar justru tidak tepat. Seperti hanya perempuan saja yang diperiksa,

atau tidak perlu diperiksa karena cinta dan berbagai alasan yang justru merugikan kedua belah
pihak yang akan menikah nantinya. 1,2
Di Indonesia, pemeriksaan kesehatan memang belum lazim dilakukan. Bahkan bagi
sebagian kalangan, pemeriksaan kesehatan seolah tabu dilakukan karena dianggap akan
menyinggung calon besan atau calon mertua dengan menguak riwayat kesehatan keluarga. Selain
itu, biaya pemeriksaan kesehatan yang tidak bisa dibilang murah ini umumnya belum
dimasukkan ke dalam skala prioritas yang harus diutamakan. Masyarakat kita cenderung lebih
memprioritaskan ketersediaan hidangan yang mencukupi untuk para undangan.
Tidak semua pasangan melakukan persiapan medis menjelang pernikahan. Padahal, risiko
atau bahaya medis yang diperkirakan bakal muncul setelah perkawinan bisa dicegah. Sebab
melalui pemeriksaan kesehatan pra nikah dapat diketahui penyakit dan kelainan apa saja yang
harus diwaspadai sebelum pernikahan.

1.2 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Menjelaskan apa yang dimaksud dengan pemeriksaan premarital

Menjelaskan mengenai tujuan dari pemeriksaan premarital

Menjelaskan komponen dari pemeriksaan premarital

1.3 Manfaat Penelitian

Menambah wawasan bagi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan premarital,


sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan
premarital sebelum menikah.

Menambah pengetahuan tentang pemeriksaan premarital dibidang kesehatan khususnya


bagi dokter muda sehingga dapat memberikan edukasi kepada calon pasangan.

BAB II
PEMERIKSAAN KESEHATAN PRA NIKAH

2.1 Definisi
Premarital check up atau premarital screening merupakan sebuah rangkaian test yang
dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Dalam rangkaian test ini akan dilakukan
pemeriksaan genetik, penyakit infeksi dan penyakit lainya yang ditularkan melalui darah yang
nantinya akan berdampak langsung ke anak pasangan tersebut kelak. Sekarang premarital
checkup merupakan salah satu strategi untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit kelainan
genetik, kelainan kongenital, dan beberapa masalah medis lainnya. Premarital counseling
merupakan salah satu upaya yang telah diterima dari sudut agama dan etika. Untuk melakukan
pemeriksaan ini, sangatlah penting kerja sama dari kedua pihak pasangan, dimana harus
diberikan penjelasan bahwa terdapat kesataraan satu sama lain. Sehingga mereka harus saling
mendukung pasangan mereka masing-masing.3

2.2 Tujuan Pemeriksaan Kesehatan


Pemeriksaan pra nikah memiliki tujuan baik dari sisi medis maupun nonmedis. Dari sisi
nonmedis bertujuan untuk mengetahui apakah calon pengantin benar-benar sudah siap menikah
atau belum. Jika ternyata ditemukan masalah, maka dapat diusahakan agar masalah tersebut
diselesaikan secepatnya. Konseling ini sekaligus pula untuk menyiapkan kehamilan yang benarbenar dikehendaki. Karena banyak wanita yang telah menikah, tapi belum siap dan khawatir
dengan kehamilan yang mungkin akan dijalaninya.
Sedangkan dari sisi medis, pemeriksaan pranikah, dapat mendeteksi adanya penyakit.
Pemeriksaan ini bukan sekadar untuk mengetahui apakah pasangan atau yang bersangkutan
menderita penyakit tertentu, tapi pemeriksaan ini juga dapat mengetahui berbagai risiko dan
kemungkinan yang terjadi kelak jika bermasalah dengan keturunan atau ada masalah dengan
anak yang dilahirkan. Contoh dari penyakit genetik ini adalah kelainan darah berupa thalassemia
dan hemofillia. Selain penyakit genetik ada juga penyakit lain yang berisiko diturunkan kepada

anak dari orangtua yang mempunyai riwayat penyakit dalam keluarga seperti diabetes melitus,
hipertensi, kelainan jantung, dan masih banyak penyakit lainnya. Kemungkinan jenis penyakit
lainnya yang perlu diketahui adalah beberapa jenis penyakit menular diantaranya infeksi
termasuk hepatitis B, penyakit menular seksual, dan HIV/AIDS. Jika diketahui lebih dini,
pasangan yang akan menikah bisa melakukan pencegahan atau pengobatan sebelum pernikahan
dilakukan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan kesehatan pra pernikahan ini memiliki
berbagai tujuan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan, terutama yang berkaitan
dengan masalah kesehatan reproduksi, fertilitas. dan genetika.
2. Memperoleh kesiapan mental karena masing-masing mengetahui benar kondisi kesehatan
calon pasangan hidupnya.
3. Mengetahui penyakit-penyakit yang nantinya bila tak segera ditanggulangi dapat
membahayakan calon pasutri termasuk bakal keturunannya.
4. Menghindari masalah finansial, sosial, dan psikologis dari keluarga dengan anak yang
menderita penyakit tertentu
Langkah-langkah melakukan pemeriksaan kesehatan pra nikah sebenarnya tidak sulit dan
tidak memerlukan biaya besar. Namun dibutuhkan kesadaran dan kemauan dari kedua calon
pengantin tersebut. Dengan menyadari manfaat dari pemeriksaan pra nikah maka sebaiknya
pemeriksaan kesehatan tersebut dilakukan.4

2.3. Waktu Pemeriksaan Kesehatan


Idealnya

pemeriksaan

kesehatan

pra

nikah

dilakukan

enam

bulan

sebelum

dilangsungkannya pernikahan. Namun, ukuran ideal itu juga masih bersifat fleksibel. Artinya, tes
kesehatan pra nikah dapat dilakukan kapanpun selama pernikahan belum berlangsung. Jika
ditemukan ada masalah, pengobatannya bisa dilanjutkan setelah menikah. Misalnya, bila si pria
diketahui menderita penyakit kelamin. Calon pengantin tersebut bisa segera menjalani
pengobatan dan ketika sudah menikah wajib memakai kondom selama berhubungan seksual agar
tak menular pada sang istri. Hasil pemeriksaan kesehatan pra nikah wajib diketahui oleh kedua
calon pengantin.1

2.4. Subjek Pemeriksaan Kesehatan


Setiap pasangan yang akan menikah sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan
kesehatan pra menikah. Pemeriksaan ini tidak hanya untuk perempuan saja tapi juga laki-lakinya.
Pemeriksaan ini bukan sekadar untuk mengetahui apakah pasangan atau yang bersangkutan
menderita penyakit tertentu, tapi pemeriksaan ini juga dapat mengetahui berbagai risiko dan
kemungkinan yang terjadi kelak jika bermasalah dengan keturunan atau ada masalah dengan
anak yang dilahirkan. Oleh karena itu selain kesiapan batin, dibutuhkan kesiapan fisik yang
prima untuk menyambut datangnya keturunan. Calon suami dan istri ada sebaiknya
memeriksakan kesiapan organ reproduksinya, agar proses mendapat keturunan nantinya menjadi
lancar. 1
2.5. Komponen Pemeriksaan Kesehatan Pranikah
Terdapat beberapa komponen dalam premarital check up agar terjadi pemeriksaan yang
komprehensif. Pemeriksaan tersebut antara lain:

Advokasi premarital check up

Konseling premarital

Pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik

Investigasi hasil pemeriksaan premarital

Imunisasi premarital

Registrasi dan penyimpanan data pemeriksaan5


2.5.1. Advokasi premarital check up
Pada advokasi premarital check up, calon pasangan suami istri lebih dahulu dijelaskan
mengenai pentingnya konseling dan pemeriksaan yang akan dilakukan sebagai upaya preventif.
Konseling dan pemeriksaan premarital ini berupaya untuk mencegah penyakit genetik, infeksi,
dan kelainan kongenital yang mungkin terjadi. Selain itu dijelaskan pula mengenai seluruh
prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dan kerahasiaan hasil dari pemeriksaan akan selalu
dijaga.5

2.5.2

Premarital Counseling

Konseling ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai pengetahuan dasar


tentang suatu pernikahan. Pada tahap ini pasangan calon suami istri diajak untuk berdiskusi dan
bebas mengungkapkan pendapat dan pertanyaan tentang pernikahan yang akan mereka hadapi.
Hal ini bertujuan agar calon pasangan tersebut memiliki pengetahuan yang cukup bila sudah
menjalani pernikahan. Beberapa pembahasan yang akan dibahas antara lain:5
-

Penjelasan mengenai pengetahuan dasar pernikahan


Anatomis alat kelamin pria dan wanita
Fisiologi reproduksi (fisiologi menstruasi dan kehamilan)
Metode dalam merencanakan keluarga baru
Jarak melahirkan 3-5 tahun merupakan yang terbaik untuk kesehatan ibu dan

anak
Kelainan yang sering terjadi dan dapat dicegah (Rhesus incompatibility and

Downs syndrome)
Membantu pasangan calon pernikahan dalam berdikusi mengenai pemikiran dan

ketakutan yang akan mereka hadapi


Memberikan informasi mengenai hubungan seksual pertama pada malam pernikahan
Konseling merupakan suatu proses yang dilakukan oleh individual atau pasangan untuk

mengetahui keadaan kesehatan masinng-masing, sehingga calon pasangan dapat memberikan


keputusan yang tepat tetang pernikahan, reproduksi, dan kesehatan mereka. Salah satu
pendekatan yang cukup berhasil pada konseling adalah metode solution-focused. Metode ini
bertujuan untuk memfokuskan pemecahan masalah dan membantu pasangan dalam menciptakan
pandangan mengenai pernikahan yang akan mereka jalani. Beberapa pilihan yang mungkin
dijalani antara lain pembatalan pernikahan, melakukan pemeriksaan prenatal bagi mereka yang
memutuskan untuk menikah, adopsi anak, donasi sperma, ovum atau pre-embrio dari individual
yang terbebas dari penyakit. Pilihan yang dibuat didasar oleh ketersediaan, biaya, peraturan
daerah setempat, dan segi religi.3
2.5.3

Pemeriksaan Riwayat Kesehatan dan Pemeriksaan Fisik


Menanyakan kepada kedua belah pihak mengenai :
- Kekerabatan mereka atau penyakit keluarga
- Riwayat penyakit seperti : diabetes melitus, tuberkulosis, hipertensi, penyakit menular
seksual, parotitis pada pria dan lainnya.
- Riwayat operasi : laparotomi, varicocele, hydrocele, dan hernia

- Riwayat Menstruasi : Usia menarche, siklus menstruasi, durasi menstruasi, banyaknya


perdarahan saat menstruasi, dysmenorrhea , keputihan, dan hari pertama haid terakhir.
- Imunisasi Rubela (campak)
- Riwayat penyakit genetik dalam keluarga (contoh : hemophilia dan thalassemia)
Lakukan pemeriksaan umum. Lihat adanya kelainan seperti :
- Tanda adanya gangguan pada kelenjar endokrin, seperti :

Perawakan yang sangat pendek : mengindikasikan adannya kelainan


seperti Sindrom Turner atau Dwarfism (kondisi ini berhubungan dengan

gangguan saat haid dan infertilitas)


Perawakan yang sangat tinggi : Mengindikasikan Gigantisme (kondisi ini
berhubungan dengan gangguan saat haid dan infertilitas)

- Ukuran payudara dan kondisi puting


- Obesitas yang abnormal, hirsutisme
- Tanda-tanda adanya penyakit sistemik :

Kakeksia ( TBC, Gagal Ginjal, dan lainnya)


Tanda anemia
Lesi pada kulit
Penyakit Jantung
Diabetes
Hipertensi

- Lakukan Pemeriksaan abdomen, sebagai berikut :

Inspeksi penyebaran rambut pubis


Inspeksi adanya kemungkinan massa pada abdomen, skar
Inspeksi organ genital eksterna

- Wanita :

Ulserasi pada genital (herpes, sifilis ulserasi, ulkus mole, granuloma

inguinale atau limfogranuloma venereum).


Kondisi pada labia minor, dan klitoris
(Pemeriksaan vaginal toucher tidak dilakukan pada wanita yang masih
perawan)6,7

- Pria :

Ulserasi pada genital (herpes, sifilis ulserasi, ulkus mole, granuloma

inguinale atau limfogranuloma venereum).


Cairan dari saluran kemih

Varicocele
Hipospadia
Undescensus testis

2.6. Jenis Pemeriksaan Kesehatan


Di beberapa rumah sakit, sebenarnya sudah tersedia paket kesehatan pranikah yang bisa
dipilih para calon pengantin. Pemeriksaan premarital yang dimaksud antara lain meliputi
pemeriksaan hematologi rutin dan analisa hemoglobin untuk mengetahui adanya kelainan atau
penyakit darah, pemeriksaan urinalisis lengkap yang berguna memantau fungsi ginjal dan
penyakit lain yang terkait dengan ginjal atau saluran kemih, pemeriksaan golongan darah dan
rhesus yang akan berguna bagi calon janin, pemeriksaan gula darah untuk mengetahui adanya
penyakit diabetes melitus, pemeriksaan HbsAg untuk mengetahui adanya kemungkinan
peradangan hati, pemeriksaan VDLR/ RPR untuk mengetahui adanya kemungkinan penyakit
sifilis serta pemeriksaan TORCH yang dilakukan calon mempelai perempuan yang bertujuan
mendeteksi infeksi yang disebabkan parasit Toxoplasma, virus Rubella, virus Cytomegalo, dan
virus Herpes yang bila menyerang pada perempuan di masa kehamilan bisa menyebabkan
keguguran, kelainan pada janin maupun kelahiran prematur.
Pemeriksaan terhadap golongan darah, seperti faktor ABO darah dan juga faktor rhesus
juga perlu dilakukan mengingat terjadinya ketidaksesuaian rhesus (Rhesus Incompatibility),
selain ketidaksesuaian golongan darah ABO, juga bisa mempengaruhi kualitas keturunan. 7
Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah:
USG bagi calon ibu
Pemeriksaan dengan USG (ultra sonografi) bisa melihat apakah seorang perempuan
menderita kista, mioma, tumor, atau gangguan lain pada calon mempelai wanita. Jika ada
kelainan atau infeksi maka dapat segera diatasi sehingga tidak mengganggu proses kehamilan.

Tes sperma
Untuk calon mempelai pria, ada lagi satu pemeriksaan kesehatan pranikah yang bisa
dilakukan, yaitu tes sperma atau sperma analisa (spermiogram). Pemeriksaan sperma sebaiknya
dilakukan di klinik fertilitas agar hasilnya sesuai standarisasi yang baku. Karena jika tidak di
klinik khusus fertilitas atau pada dokter ahli andrologi, hasilnya bisa sangat bervariasi dan bukan
tidak mungkin malah bisa merugikan pasien. Namun pemeriksaan sperma ini bukan termasuk
standar pemeriksaan rutin.
Untuk penanganan sperma yang tidak normal harus dengan pemeriksaan dokter agar
diketahui penyebabnya, antara lain:
-

Kebiasaan yang salah, seperti berendam dalam air panas, memakai celana rangkap dan
ketat.

Pekerjaaan, semisal hoki atau teknisi yang sering bekerja di ruang yang panas.

Penyakit, yaitu penyakit kelamin, infeksi, penyakit kulit di kantung skrotum sehingga
kantung itu terlalu tebal.

Penyakit kongenital sehingga pertumbuhan genitalia seorang pria tidak sempurna.

Kelainan lain seperti kelainan kromosom.


Setelah dicari penyebabnya maka dapat diputuskan pengobatan yang sesuai. Jika tidak

segera diobati, kualitas sperma akan makin turun sehingga akan menimbulkan masalah bagi
calon pasangan suami istri tersebut untuk dapat memiliki keturunan.

2.7. Penyakit-Penyakit yang Perlu Dideteksi


Dengan pemeriksaan kesehatan pra nikah, dapat diketahui riwayat kesehatan kedua belah
pihak, termasuk soal genetik, penyakit kronis, hingga penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi

kondisi kesehatan keturunan. Misalnya ada tidaknya penyakit kelainan darah seperti thalassemia
dan hemofilia. Kedua penyakit itu bisa diturunkan melalui pernikahan dengan pengidapnya atau
mereka yang bersifat pembawa (carrier). Pemeriksaan dan konseling genetik ini perlu dilakukan
jika ada kecurigaan calon pasangan memiliki penyakit bawaan, dan apalagi jika menikah dengan
kerabat dari garis darah yang berdekatan. Gen resesif dan cacat yang bertemu dengan gen resesif
dan cacat yang sama akan melahirkan keturunan yang cacat, dan ini sering terjadi jika menikah
dengan garis darah yang dekat (incest). 2

2.7.1. Penyakit Genetik


Penyakit genetik seperti thalassemia dan hemofilia bisa diturunkan melalui pernikahan
dengan pengidapnya atau mereka yang bersifat pembawa (carrier). Pemeriksaan dan konseling
genetik ini perlu dilakukan jika ada kecurigaan calon pasangan memiliki penyakit bawaan, dan
apalagi jika menikah dengan kerabat dari garis darah yang berdekatan. Gen resesif dan cacat
yang bertemu dengan gen resesif dan cacat yang sama akan melahirkan keturunan yang cacat,
dan ini sering terjadi jika menikah dengan garis darah yang dekat (incest). 2

2.7.2. Keputihan (Fluour Albus)


Salah satu keluhan yang sering ditemukan pada wanita adalah masalah keputihan.
Sebenarnya ada dua jenis keputihan, yaitu yang bersifat fisiologis dan yang bersifat patologis.
Keputihan yang fisiologis sebenarnya tak perlu diobati, tidak membahayakan dan tidak menular.
Sedangkan yang patologis harus diobati agar tidak bertambah parah dan kemungkinan menular
kepada pasangan seks, dan bermasalah dalam terjadinya kehamilan atau berpengaruh terhadap
jenis kelamin anak yang bakal dikandung. Keputihan yang patologis bisa disebabkan oleh jamur,

parasit dan bakteri. Secara kasar dapat diduga dengan melihat keluhan, sifat, dan tanda
keputihan. Keputihan normal biasanya hanya bening dan encer, muncul saat ovulasi, menjelang
haid, saat mendapat rangsangan seks, dan kehamilan. Biasanya tidak gatal dan tidak berbau.
Keputihan patologis selain lebih kental dan flek di pakaian dalam, biasanya berbau dan
berwarna. Dari warna keputihan, dapat diduga etiologi penyakit. Keputihan karena jamur
candida albicans berwarna putih susu (menjadi serbuk seperti bedak kalau mengering), sangat
gatal, bahkan kalau digaruk bisa melukai vagina. Keputihan yang disebabkan oleh parasit
trichomonas vaginalis, dan ini jenis keputihan yang tersering, biasanya berwarna kekuningan,
juga gatal dan berbau. Sedang keputihan yang disebabkan bakteri, biasanya berwarna kehijauan.
Keputihan patologis diobati sesuai penyebabnya. Diperlukan pemeriksaan laboratorium
mikrobiologis/ parasitologi untuk memastikan penyebab keputihan patologis sehingga dapat
dipilih obat yang tepat sesuai dengan etiologinya. Keputihan patologis perlu diobati sebelum hari
pernikahan, agar tidak menulari pasangan hidup. Jika tidak, akan lebih sukar menyembuhkannya
sebab akan terjadi fenomena pingpong. Istri sembuh, namun jika suami tak diobati, suami
tertular, dan keputihan suami lalu menulari istri lagi, dan begitu seterusnya. Maka jika istri
keputihan, suami pun perlu diobati. Keputihan juga membuat suasana vagina lebih asam,
sehingga mengganggu spermatozoa yang membawa kromososm Y sehingga wanita yang
keputihan sukar mendapat anak laki-laki, sebab sebagian besar sperma yang membawa
kromosom Y (sex-chromosome Y) mati terpapar oleh lingkungan vagina, yang sedang keputihan,
yang bersifat lebih asam sehingga lebih banyak anak perempuan, atau perempuan semua.2,6

2.7.3. Infeksi Saluran Kemih

Kaum wanita lebih mudah terinfeksi saluran kemih bagian bawah dibandingkan dengan
kaum pria. Selain karena anatomi saluran kemih bagian bawah wanita yang lebih pendek, muara
saluran kemihnya berdekatan dengan muara vagina, tempat darah haid rutin keluar, dan suasana
mulut vagina yang lembab, sehingga adanya kemungkinan tercemar dengan pembalut yang
sudah tidak bersih. Infeksi yang masuk dari saluran kemih bawah akan memasuki saluran kemih,
menjalar naik ke kandung kemih, dan terus ke atas sampai ke ginjal. Selain lewat bawah, infeksi
juga bisa datang dari usus melalui pembuluh darah, langsung ke ginjal. Jika infeksi hanya
bersarang di saluran kemih bawah, gejalanya berupa nyeri seperti disayat, rasa panas sewaktu
berkemih, dan biasanya di akhir berkemih. Karena sangat nyeri, penderita dapat mengalami
keluhan takut berkemih. Infeksi saluran kemih ini harus disembuhkan sampai tuntas. Jika tidak,
penyakit akan berlangsung menahun, dan bisa bermasalah.2

2.7.4. Hepatitis B
Pemeriksaan pranikah juga dapat menghindari adanya penularan penyakit yang
ditularkan lewat hubungan seksual, seperti sifilis, gonorrhea, HIV/AIDS, dan penyakit hepatitis
B. Penyakit-penyakit tersebut dapat mempengaruhi saat terjadinya kehamilan, bahkan dapat
diturunkan. Perempuan sebenarnya lebih rentan terkena penyakit kelamin dibandingkan pria.
Karena anatomis alat kelamin wanita berbentuk cekung yang seakan menampung virus.
Sedangkan alat kelamin pria tidak demikian dan langsung dapat dibersihkan. Jika salah satu
pasangan menderita penyakit kelamin, sebelum menikah harus diobati dulu sampai sembuh.
Selain itu, jika misalnya seorang pria mengidap hepatitis B dan akan menikah, calon istrinya
harus diberikan kekebalan terhadap penyakit hepatitis B tersebut. Caranya dengan imunisasi

hepatitis B. Jika sang pasangan belum sembuh dari penyakit kelamin dan akan tetap menikah,
meskipun tidak menjamin 100% namun penggunaan kondom sangat dianjurkan.2,7

2.7.5. Infeksi TORCH


Penyakit lainnya yang penting diketahui sebelum pernikahan adalah infeksi TORCH
(pada wanita) dan penyakit menular seksual. TORCH merupakan kumpulan penyakit infeksi
yang terdiri dari toksoplasmosis (suatu penyakit yang aslinya merupakan parasit pada hewan
peliharaan seperti kucing), rubella (campak jerman), cytomegalovirus, Herpes virus I dan Herpes
virus II. Kelompok penyakit ini sering kali menyebabkan masalah pada ibu hamil seperti abortus,
bahkan infertilitas, atau cacat bawaan pada anak. Jika penyakit infeksi tersebut diketahui sejak
awal, dapat diobati sebelum terjadinya kehamilan. Dengan demikian, risiko terjadinya kelainan
atau keguguran akibat TORCH dapat dieliminasi. 2,7

2.7.6. Penyakit Menular Seksual (PMS)


Ada tidaknya penyakit menular seksual (PMS) juga penting untuk diketahui karena
sebagian besar PMS termasuk sifilis, herpes, dan gonorrhea bisa mengakibatkan terjadinya
kecacatan pada janin. Bila salah satu pasangan sebelumnya terdeteksi pernah melakukan seks
bebas, sebaiknya kedua pasangan melakukan pemeriksaan terhadap penyakit-penyakit ini, untuk
memastikan apakah sudah benar-benar sembuh sebelum melangsungkan pernikahan. 2

2.7.7. Rhesus yang Bersilangan


Selain itu terjadinya Rhesus yang bersilangan dapat mempengaruhi kualitas dari
keturunan suatu pasangan suami istri. Kebanyakan bangsa asia memiliki rhesus positif,

sedangkan bangsa Eropa rata-rata negatif. Jika calon pasangan suami istri mempunyai rhesus
yang bersilangan maka akan berdampak terhadap kualitas keturunan. Jika seorang perempuan
(rhesus negatif) menikah dengan lelaki (rhesus positif) maka bayi pertamanya memiliki
kemungkinan bergolongan rhesus negatif atau positif. Jika bayi mempunyai golongan rhesus
negatif, tidak ada masalah. Tetapi, jika memiliki golongan rhesus positif, masalah mungkin
timbul pada kehamilan berikutnya. Bila ternyata kehamilan yang kedua merupakan janin yang
bergolongan rhesus positif, kehamilan ini berbahaya. Karena antibodi antirhesus dari ibu dapat
memasuki sel darah merah janin.2
Penyakit lainnya yang perlu dideteksi pranikah adalah penyakit kronis seperti diabetes
melitus, hipertensi, dan kelainan jantung.

2.8. Prosedur Pemeriksaan Kesehatan


Untuk prosedur pemeriksaan kesehatan pra nikah, umumnya dilakukan dengan
mendatangi dokter spesialis kandungan

dokter puskesmas atau dokter umum, wawancara

singkat tentang riwayat kesehatan guna mengetahui penyakit apa yang pernah diderita, riwayat
kesehatan pada anggota keluarga (kanker, epilepsi, diabetes), juga keadaan lingkungan sekitar
dan kebiasaan sehari-hari (merokok, pengguna obat-obatan terlarang). Kemudian akan dilakukan
pemeriksaan fisik untuk mengetahui kelainan fisik seperti tekanan darah, keadaan jantung, paruparu, dan tanda-tanda fisik dari penyakit seperti anemia, asma, dan penyakit kulit.
Rangkaian tes radiologi seperti chest X-Ray dan laboratorium. Untuk laboratorium
dilakukan pemeriksaan panel ginjal seperti creatinin, tes fungsi hati seperti SGOT SGPT,
Hepatitis B panel HBs Antigen, gula darah/ fasting glucose, darah lengkap, hemoglobin,

platelets, ESR, white blood count (WBC), blood group + rhesus, MCV, MCH, MCHC dan
VDRL. Kemudian dilakukan juga pemeriksaan urin lengkap.1
Untuk persiapan, pasien biasanya diharuskan berpuasa mulai pukul 22.00, sehari sebelum
pemeriksaan. Setelah sample darah diambil, pasien dapat menikmati sarapan. Selama puasa,
hanya diperbolehkan minum air putih. Pasien juga harus membawa sedikit sampel urin pagi hari
di dalam wadah yang bersih.

2.9. Imunisasi Premarital


- Bila wanita belum mendapatkan vaksinasi rubella, disarankan untuk melakukan imunisasi lagi
kurang lebih 3 bulan sebelum pernikahan. Hal ini akan mencegah segala kemungkinan yang
terkait dengan infeksi Rubella dan efek teratogenik serta malformasi kongenital janin selama
kehamilan.
-Menyarankan kaum wanita untuk melakukan vaksinasi tetanus ulang, sehingga bisa
memperoleh proteksi maksimal sampai masa kehamilan dan melahirkan kelak.
- Menyarankan pasangan tersebut untuk divaksinasi Hepatitis.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dengan melakukan premarital check up, segala penyakit dan kelainan dapat
terdeteksi sedini mungkin. Sehingga tindakan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat. Saat
nanti bila terjadi pernikahan, maka pasangan sudah dalam kondisi fit dan terbebas dari segala
macam penyakit, terhindar dari kemungkinan perselisihan di kemudian hari karena tidak lagi
saling menyalahkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. [Eka Hospital] Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pra Nikah. [cited 2015 June 17].
Available from : URL : http://www.ekahospital.com/the-importance-of-pre-maritalmedical-check-up
2. [Anonim] Cek Kesehatan Sebelum Menikah. [cited 2015 June 17]. Available from :
URL : http://pranikah.org/pranikah/cek-kesehatan-sebelum-menikah/
3. M. rahman, et al. Premarital Health Screening- A review and Update. JAFMC
Bangladesh. Vol. 10 No.1 (June) 2014. 103-9.
4. Ministry of Health Portal Kingdom Of Saudi Arabia. Premarital Screening. [cited 2015
June 17]. Available from : URL :
http://www.moh.gov.sa/en/HealthAwareness/Beforemarriage/Pages/default.aspx
5. Premarital Package. Standars of Practice for Integrated MCH/RH Services. First Edition,
June 2005. 43-6
6. Mose JC, Alamsyah M, Hudono ST et al. Pemeriksaan Ginekologik. Dalam : Anwar M,
Baziad A, Prabowo P (Editor). Ilmu Kandungan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2011. hal. 112-20.

7. [Anonim] Medical History and Physical Examination. In : Schorge JO, Schaffer JI,
Halvorson LM et al (Editor). Williams Gynecology. 14th ed. New York : McGraw-Hill;
2008. p : 1-15