Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu indikator kompetensi profesional adalah kompetensi
pengembangan profesi guru, satu diantara pengembangan profesi guru adalah
kemampuan dalam bidang penyajian materi. Namun kenyataan di lapangan
menunjukkan bahwa masih banyak guru yang perlu kemampuannya dalam
bidang penyampaian materi kepada peserta didiknya, khususnya pada bidang
study Matematika. Sebagian dari mereka masih ada yang belum memahami
bagaimana cara menyajikan materi yang baik dan benar sehingga dapat
dipahami dan dimengerti oleh peserta didiknya. Untuk mengatasi hal tersebut,
Kepala Sekolah Dasar Negeri Karet III telah melaksanakan penelitian dan
bimbingan teknik PTS.
Bimbingan teknik PTS selama ini ternyata masih belum memadai
untuk meningkatkan profesional guru dalam waktu yang relatif singkat.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya penguatan kompetensi
guru dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satu strategi untuk
menguatkan profesional guru adalah melaksanakan bimbingan dan latihan.
Pernyataan ini dimaksudkan dapat memberikan pemahaman, dan
motivasi para guru untuk menyelesaikan permasalahan di kelas. Melalui
metode PTS ini Kepala Sekolah dapat menguatkan kompetensi guru
dibidangnya masing-masing. Dengan dilakukannya PTS, maka kompetensi

guru akan meningkat dan berimplikasi pada peningkatan kreativitas, inovasi,


mampu menyelesaikan masalah, dan berpikir kritis. Bahkan dampak lainnya
pun akan meningkatkan angka kredit guru dalam proses kenaikan pangkat dan
atau sertifikasi yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan guru.
B. Standar Kompentesi PTS
Peserta pelatihan diharapkan mampu :
1. Memahami konsep PTS
2. Menyusun laporan PS
3. Mengevaluasi laporan PTS
4. Membimbing guru dalam membuat PTK sebagai kegiatan pengembangan
profesi guru
C. Deskripsi Materi Pelatihan
Materi pelatihan terdiri atas lima bagian yaitu :
1. Dimensi kompetensi manajerial dengan materi Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS)
2. Dimensi Kompetensi Kewirausahaan dengan materi Kewirausahaan
3. Dimensi Kompetensi Supervisi dengan materi Supervisi Akademik dan
Kepemimpinan Pembelajaran
4. PTS
Materi pelatihan pada bagian ini dibatasi pada PTS yang meliputi kegiatan
belajar :
1) Konsep PTS

2) Penyusunan Proposal dan Laporan PTS, dan


3) Evaluasi Laporan PTS
D. Langkah-Langkah Mempelajari Materi Pelatihan
Bahan belajar ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah dalam
pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
mempelajari materi ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara
umum aktivitas individual meliputi : (1) membaca materi pelatihan, (2)
melakukan latihan/tugas, mengatasi masalah/kasus pada setiap kegiatan
belajar, (3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi : (1)
mendiskusikan materi pelatihan, (2) bertukar pengalaman dalam melakukan
latihan/menyelesaikan masalah/kasus, (3) melakukan seminar/diskusi hasil
latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan refleksi,
membuat rencana tindakan (action plan). Langkah-langkah tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :
Aktivitas Individu

Aktivitas Kelompok

Membaca Materi
Pelatihan

Membaca Materi
Pelatihan

Melaksanakan
Latihan / Tugas /
Studi Kasus

Melaksanakan
Latihan / Tugas /
Studi Kasus

Membuat
Rangkuman

Membuat
Rangkuman

Melakukan Refleksi
Membuat Rencana
Aksi (Action Plan)

Melakukan Refleksi
Membuat Rencana
Aksi (Action Plan)

Gambar 1 : Langkah-Langkah Kegiatan Pelatihan

Dalam gambar di atas tampak bahwa aktivitas kelompok selalu


didahului oleh aktivitas individu. Dengan demikian, maka aktivitas individu
adalah hal yang utama. Sedangkan aktivitas kelompok lebih merupakan forum
untuk berbagi, memberikan pengayaan dan penguatan terhadap kegiatan
belajar yang lebih dilakukan individu masing-masing.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, diharapkan peserta
pelatihan baik secara individu maupun bersama-sama dapat meningkatkan
kompetensinya,

yang

pada

gilirannya

diharapkan

berdampak

pada

peningkatan kompentesi guru yang dibinanya dan akhirnya mampu


menghasilkan siswa yang kreatif, inovatif, mampu menyelesaikan masalah,
berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Kualitas pendidikan disuatu negara menunjukkan kualitas sumber daya


manusia, bangsa, kualitas pendidikan terkait erat dengan PTS yang dilaksanakan
di sekolah, untuk meningkatkan kualitas pendidik perlu dilakukan kegiatan dalam
rangkan meningkatkan kemampuan peneliti yang berkaitan dengan profesional
guru melalui Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan terjemahan dari
Penelitian Tindakan Sekolah. Agar anda memiliki pengertian yang mantap tentang
PTS dari segi tematik (arti kata). Action Research sesuai dengan arti katanya,
diterjemahkan menjadi penelitian tindakan : yang didefinisikan sebagai berikut :
- Penelitian tindakan sekolah adalah bentuk inkuiri atau penyelidikan yang
dilakukan melalui refleksi diri
- Penelitian dilakukan dalam situasi sosial termasuk situasi pendidikan
- Tujuan penelitian tindakan sekolah adalah memperbaiki dasar pemikiran dan
kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik tersebut, serta
situasi atau lembaga tempat praktik dilaksanakan.
Perbaikan pembelajaran terkait dengan daya kemampuan guru memilih
dan menentukan metode media, evolusi pengelolaan, perlu digunakan metode
yang bervariasi.
Salah satu kemampuan yang dimiliki peneliti adalah kemampuan
melaksanakan tugas profesional memahami bagaimana guru dalam melaksankan

tugasnya, dan mengembangkan kemampuan guru, peneliti perlu menguasai


hakikat dan konsep PTS.
Fungsi

utama

pembelajaran

adalah

memfasilitasi

tumbuh

dan

berkembangnya profesional guru.


Undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentan Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam pasal 1 butir 20 pembelajaran di artikan sebagai proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan. Antara belajar
dan pembelajaran memiliki keterkaitan subtantif dan fungsional. Belajar yang
cukup komprehensif diberikan oleh BELL - GRENDLER (1980 : 1) menyatakan
bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan
aneka ragam Competencies, skill and attitudes. Kemampuan (Competencies),
keterampilan (Skill) dan sikap (Attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan
berkelanjutan mulai dari masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang
hayat.
Pandangan lain tentang belajar menurut para ahli psikologi, antara lain
dirintis oleh William james, John Dewey, James Cattel, dan Edward Thorndike
tahun 1890 sampai 1900 (Bell-Gredler 1986 : 20 25).
Menurut Thorndike meneliti perilaku Trial and Error atau coba-coba,
respon akan diberikan berdasarkan azas coba-coba sebagai reaksi terhadap
stimulus yang muncul. Thorndike percaya reward and punishment (penghargaan
dan hukuman) serta successes and failures (berhasil dan kegagalan). Teori belajar
behabioristik mendefinisikan bahwa mengajar merupakan perubahan perilaku
khususnya perubahan kapasitas guru untuk berperilaku (yang baru) sebagai PTS.

BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Identifikasi Masalah
Hasil evaluasi PTS Kepala Sekolah Dasar Negeri Karet III, bahwa
guru yang profesional kira-kira baru mencapai 80%. Oleh karena itu
dipandang perlu diadakan PTS.
Menurut Asmawi Zainul dan Agus Mulanan (2003) evaluasi hasil
belajar

(tes)

merupakan

alat

untuk

mengukur

ketercapaian

tujuan

pembelajaran yang telah dirancang. Peneliti mencoba untuk refleksi diri


terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan bekerja sama dengan
SUPERVISOR, teman sejawat untuk mengetahui rendahnya

tingkat

penguasaan materi siswa, dari hasil kerja sama tersebut terungkap beberapa
penyebab antara lain :
1. Rendahnya minat siswa dalam menerima pelajaran
2. Siswa tidak dapat membedakan penjumlahan pecahan yang berpenyebut
sama dan berpenyebut berbeda.
3. Nilai rata-rata rendah
4. Siswa fasif bertanya
B. Analisis Masalah dan Permasalahan Masalah
Berdasarkan hasil refleksi serta masukan dari teman sejawat kesulitan
yang dihadapi siswa disebabkan oleh :
1. Kurang terampilnya guru menjelaskan kosep pembejalaran

2. Kurang bervariasi dalam menggunakan metode mengajar


3. Kurang memberikan contoh dan latihan-latihan secara intensif
4. Guru tidak menggunakan alat peraga yang kongkrit
C. Rencana Perbaikan
Berdasarkan hasil analisis, perumusan masalah serta identifikasi
masalah, maka penelitian merumuskan perbaikan pembelajaran yaitu
bagaimana meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar di kelas.
Rencana peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran, peneliti
dibantu oleh teman sejawat untuk mengamati yang ada di dalam kelas. Jumlah
siswa kelas V 42 orang terdiri dari 15 perempuan dan 27 laki-laki. Tingkat
kemampuan siswa, tidak merata ada yang kurang, sedang dan pintar, keadaan
keluarga siswa cukup, sedang dan kurang (di bawah garis kemiskinan)
sebagian lagi penduduk pendatang.
Peneliti mengajar di sore hari sehingga siswa pada siang hari
mengantuk dan sudah lelah bermain di pagi hari. Kondisi anak seperti ini tidak
menunjang semangat belajar siswa yang baik karena pada saat pembelajaran
dimulai anak selalu bercanda dan ribut.
Teman sejawat mengamati peneliti mengajar dan mengumpulkan data
seperti checklist pada lembar observasi.
Hal ini dilakukan selama peneliti melakukan proses perbaikan
pembelajaran pada mata pelajaran matematika dengan materi penjumlahan
pecahan berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda.. sehingga siswa ribut di
kelas dikarenakan ada seorang guru di belakang temannya yang duduk paling

sudut. Peneliti menjelaskan kepada siswa bahwa ibu guru yang ada di kelas
akan meneliti keadaan siswa di kelas, agar dapat melaksanakan pembelajaran
yang lebih optimal sehingga siswa akan mendapatkan nilai yang lebih baik
dari sebelumnya.

HASIL YANG DIPEROLEH NILAI MATEMATIKA PRASIKLUS


No

Nama Siswa

Hasil yang diperoleh


Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

Aan Irawan

Ahmad Ubaidillah

Ahmad Fauzi

Aldi Wijaya

10

10

10

Andi

10

Andreas Iskandar

10

Sri Sanjaya

Alda

Dini Lestari

10

Diki Ari Ramadan

10

11

Ferian De Caprio

10

12

Gunawan

13

Iin tamara

14

Iing Ismail

15

Jean Feliani

16

M. Julian Habibi

17

M. Akbar Fitriansyah

18

Nadya Tresia

19

Putri Ramadiana

10

20

Robby Feria

10

21 Reza Noprizal
No
Nama Siswa

4
Hasil yang diperoleh

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

22

Rovie Pratiwi

10

23

Ricard Gonzales

10

24

Rifka Dara Krismon

10

10

10

25

Siti Mukaromah

26

Stepanus Andre

7.5

27

Yosi Amelia P

28

Angelina Malau

29

Linda

30

Irma Melati Aris

31

Abu Muhammad

10

32

Nidya Rizky

33

Mashuri

10

10

34

Syaipulloh

35

Andriansyah

36

M. Rizik Arda

7.5

10

37

Dandi Leonardo

10

10

38

Novi Purwanto

39

Yusak

40

Ali Mustopa

7.5

41

Yunita Sari

Jumlah

179,5

270

310

Rata-rata

4,85

6,92

8,15

10

BAB IV
HASIL PENELITIAN
Deskripsi Persiklus
Pada pra siklus hanya 10 orang dari 42 siswa yang berhasil penyelesaikan
soal Matematika materi penjumlahan pecahan yang berpenyebut berbeda dan
penyebutnya sama. Tingkat pencapaian sebesar 23,8 %. Peneliti kemudian
merencanakan perbaikan kembali dengan soal yang sama dan angka yang
berbeda, dengan memakai alat peraga yang kongkrit seperti buah Apel. Anak-anak
di suruh memabwa sendiri dari rumah kemudian mendemonstrasikan yang telah di
praktikan peneliti sebelumnya.
Selesai demontrasi peneliti memberikan tes formatif sebanyak empat soal,
dari hasil tersebut peneliti menyimpulkan bahwa siswa mulai meningkat prestasi
belajarnya, terbukti nilai para siswa membaik dengan tingkat pencapaian sebesar
62,5 %.
Berdasarkan hasil nilai yang diperoleh siswa dari pra siklus sampai siklus
ke dua di persentasikan sebagai berikut :
Presentasi Nilai Matematika
No

Nilai

2
3

2
3
4
5
6
7

Pra Siklus
Jumlah
%
9
23.07
1
2.56

Siklus I
Jumlah
%
-

Siklus II
Jumlah
%
-

4
5

11
2

28.20
5.13

2
5

5.13
12.82

2
2

5.13
5.13

6
7

5
3

12.82
7.86

16
9

41.02
12.82

4
8

10.25
20.15

12.82

20.51

20.51

5.13

3
39

7.69
100

3
39

7.69
100

13
39

33.33
100

10
Jumlah

11

Melihat data di atas, dapat dilihat ketuntasan siswa belajar masih sangat
kurang pada pra siklus, di bandingkan siklus pertama, sebesar 82,04 % jumlah
siswa yang memperoleh hasil ketuntasan, hanya 17,95% siswa yang nilainya di
bawah rata-rata.
Pada siklus kedua terjadi perubahan yaitu siswa memperoleh hasil
ketuntasan 89,75 % nilai di atas rata-rata sedangkan di bawah nilai rata-rata
sebesar 10,26 %.
Hasil Grafik Belajar Matematika
100

89.75

90

82.04

80
70
60
50
40
30

20.51

20
10
0
Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

Setelah guru melakukan perbaikan pembelajaran dapat diketahui


perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, diantaranya :
Sebelum siklus dengan siklus
Cara mengajar peneliti dalam pra siklus ternyata hasil yang dicapai belum
maksimal. Oleh karena itu peneliti melanjutkan pada siklus I.
Langkah-langkah yang akan ditempuh pada siklus I ini, sebagai berikut:
Peneliti dalam mengajar kurang menarik karena tidak menggunakan alat
peraga yang kongkrit. Kemudia peneliti melanjutkan perbaikan kembali, dengan
menggunakan tes formatif sebanyak 5 soal. Ternyata hasilnya lebih baik lagi,
terbukti nilai di atas 6 sebesar 82,04 % dari 39 siswa yang ikut tes formatif.
Peneliti melanjutkan kembali pada siklus II dengan hasil yang memuaskan sebesar
89,75 %.

12

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Peningkatan terhadap profesional guru harus lebih ditingkatkan lagi, agar
dapat menyampaikan materi lebih baik lagi, khususnya guru bidang study
Matematika.
2. Guru diharapkan dapat menggunakan metode yang bervariasi, agar peserta
didik tidak merasa bosan.
B. Saran
Dalam meningkatkan profesional guru perlu diperhatikan :
1. Peneliti harus mampu mengelola sekolah dengan baik agar proses KBM
berjalan dengan lancar.
2. Peneliti harus menguasai berbagai metode yang bervariasi.
3. Dalam melaksanakan PTS harus diadakan secara kontinyu.

Demikian hal-hal peneliti yang ditemukan melalui PTS. Untuk mencapai


hasil yang baik perlu Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) untuk
memberikan

masukan,

saran

dan

pengalaman

melaksanakan tugas.

13

masing-masing

dalam

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah


memberikan

rahmat

dan

karunia-Nya

kepada

peneliti

sehingga

dapat

menyelesaikan laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) pada SD Negeri


Kecamatan .. Kabupaten
Provinsi . Judul penelitian ini ialah Pemantapan Kemampuan
Profesional Guru Pada Bidang Study Matematika.
Dalam penyusunan laporan ini peneliti telah berusaha sebaik mungkin
untuk mendapatkan hasil penelitian yang sempurna. Walaupun demikian peneliti
menyadari bahwa, laporan penelitian ini jauh dari kesempurnaan. Hal ini
disebabkan keterbatasan dan kemampuan peneliti.
Pada kesempatan yang baik ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu baik moral maupun material sehingga
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dapat terselesaikan walaupun dalam
tingkat yang terbatas.
Ucapan terima kasih ini terutama peneliti sampaikan kepada yang
terhormat :
1. Bapak .., selaku pengawas
2. Bapak dan Ibu Kepala Sekolah Se Gugus
3. Bapak dan Ibu Guru SDN
Semoga segala bantuan yang sangat berharga ini dapat berguna bagi
peneliti dan mendapatkan balasan dari Allah SWT amin.

i
14

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

.....

DAFTAR ISI ..... ii


BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

...

B. Standar Kompetensi PTS

...

..

D. Langkah-Langkah Mempelajari Materi Pelatihan .

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN

C. Deskripsi Materi Pelatihan

A. Identifikasi Masalah

...

...

B. Analisis Masalah dan Permasalahan Masalah


C. Rencana Perbaikan
BAB IV

HASIL PENELITIAN

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

...

... 11

... 13

.... 13

ii
15