Anda di halaman 1dari 13

PEMBERIAN INSULIN & PEMERIKSAAN GULA

DARAH MANDIRI (PGDM)


PADA PASIEN DIABETES MELITUS

SKILL LAB
MODUL HORMONAL & METABOLISME
LBM 3

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


FK UNISSULA
---NA---

PEMBERIAN INSULIN & PEMERIKSAAN GULA DARAH MANDIRI


PADA PASIEN DIABETES MELITUS
PANDUAN SKILLAB :
Waktu praktikum 2 x 100 menit
1. Pada 50 menit pertama:
instruktur menerangkan: materi pemberian insulin & pemeriksaan gula
darah mandiri pada skenario latihan 1 & 2
instruktur memandu diskusi/menjawab berbagai pertanyaan mahasiswa
2. Pada 50 menit kedua:
Instruktur memandu pemutaran CD mengenai pemakaian insulin &
pemeriksaan gula darah mandiri dengan glukometer
Instruktur memandu diskusi/menjawab pertanyaan mahasiswa
Instruktur memandu cara/tehnik pemberian insulin dengan pen insulin &
jarum/spuit insulin serta edukasi penggunaan insulin pada pasien
(bergantian/berpasangan dengan mahasiswa lain) skenario latihan 1 & 2
3. Pada 100 menit berikutnya:
mahasiswa mendiskusikan secara mandiri materi penggunaan insulin &
PGDM kasus 1 & 2
Mahasiswa mempraktekkan cara cara/tehnik pemberian insulin dengan
pen insulin & jarum insulin serta edukasi penggunaan insulin pada
pasien (salah satu kasus yang dipilih) secara bergantian.
Instruktur mengamati dan memberi point penilaian kesiapan materi &
keaktifan mahasiswa pada form penilaian dari MEU.

KELENGKAPAN/SARANA LATIHAN:
1. CD pemakaian insulin (humapen)
2. CD pemakaian glukometer/accucek
3. Peraga Humapen: pen 1 buah, insulin/penfill 1 buah, jarum 1
buah
TEORI
(KONSENSUS PERKENI 2006)
Pendahuluan
Penemuan insulin lebih dari 80 tahun yang lalu merupakan salah satu
penemuan terbesar dalam dunia kedokteran pada abad ke-20. Saat ini,
penggunaan insulin mengalami kemajuan yang pesat. Beberapa kemajuan itu
antara lain dalam hal jumlah jumlah penggunaan insulin per pasien, perbaikan
mutu insulin, dan cara penggunaan insulin.
Keuntungan yang mendasar dari penggunaan insulin dibandingkan obat
antidiabetik oral dalam pengobatan diabetes melitus adalah insulin terdapat
dalam tubuh secara alamiah. Selain itu, pengobatan dengan insulin dapat
diberikan sesuai dengan pola sekresi insulin endogen. Sementara itu kendala
utama dalam penggunaan insulin adalah pemakaiannya dengan cara menyuntik
2

dan harganya yang relatif mahal. Namun demikian, para ahli dan peneliti terus
mengusahakan penemuan sediaan insulin sampai bentuk oral agar penggunaan
lebih sederhana dan menyenangkan bagi para pasien.

TERAPI INSULIN
Pemberian insulin merupakan bagian dari penatalaksanaan DM.
Insulin diperlukan pada keadaan (indikasi insulin):
1. DM tipe 1 (tergantung insulin)
2. Penurunan berat badan yang cepat
3. Hiperglikernia berat yang disertai ketosis
4. Ketoasidosis diabetik
5. Hiperglikernia hiperosmolar non ketotik
6. Hiperglikermia dengan asidosis laktat
7. Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
8. Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
9. Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak
terkendali dengan TGM
10.Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
11. Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Jenis dan lama kerja insulin
Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni:
- insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
- insulin kerja pendek (short acting insulin)
- insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)
- insulin kerja panjang (long acting insulin)
- insulin campuran tetap (premixed insulin)
Warna larutan insulin dapat dibedakan menurut isi dari insulin (terlihat pada
gambar LAMPIRAN)
Injeksi Insulin
Kerja cepat (Regular) : 30 menit sebelum makan
kerja menengah (NPH) : sebelum tidur malam atau dicampur dengan
reguler
Insulin Mix / campuran : 30 menit sebelum makan pagi dan malam
Penyimpanan Insulin
Dalam lemari es 20 - 80 C hingga kadaluarsa

Pada suhu ruang (30 derajat Celcius), insulin stabil selama 30 hari

Hindari suhu yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin)


30 menit sebelum makan pagi & malam
Dasar pemikiran terapi insulin:

Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi basal dan sekresi prandial.
Terapi insulin diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin yang
fisiologis
Defisiensi insulin mungkin berupa defisiensi insulin basal, insulin prandial
atau keduanya. Defisiensi insulin basal menyebabkan timbulnya
hiperglikemi pada keadaan puasa, sedangkan defisiensi insulin prandial
akan menimbulkan hiperglikemi setelah makan
Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap
defisiensi-yang terjadi
Terapi insulin dapat diberikan secara. tunggal (satu macam) berupa: insulin
kerja cepat (rapid acting), kerja pendek (short acting), kerja menengah
(intermediate acting) atau kerja panjang (long acting) dan insulin
campuran tetap (premixed insulin).
Pemberian dapat pula secara kombinasi antara jenis insulin kerja cepat
atau insulin kerja pendek untuk koreksi defisiensi insulin prandial, dengan
kerja menengah atau kerja panjang untuk koreksi defisiensi insulin basal.
Juga dapat dilakukan kombinasi dengan OHO
Terapi insulin tunggal atau kombinasi disesuaikan dengan kebutuhan
pasien dan respons individu terhadap insulin, yang dinilai dari hasil
perneriksaan kadar glukosa darah harian.
Penyesuaian dosis insulin dapat dilakukan dengan menambah 2-4 unit
setiap 3-4 hari bila target terapi belum tercapai

Tempat suntikan insulin

Tiap tempat suntikan dipakai 15 kali, (catatan untuk perut 30 kali: 15 x diatas
pusat, 15 kali di bawah pusat). Jarak antar suntikan sekitar 2 jari (2.5 cm)

Cara Penyuntikan Insulin

Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan).


Kulit di jepit dengan 2 jari kemudian suntikkan insulin dengan arah alat
suntik tegak lurus terhadap permukaan kulit, bila kulit belum bersih usap
dengan kapas alkohol
Pada keadaan khusus diberikan intramuskular atau intravena secara
bolus atau drip.
Terdapat sediaan insulin campuran (mixed insulin) antara insulin kerja
pendek dlan kerja menengah, dengan perbandingan dlosis yang tertentu.
Apabila tidak terdapat sediaan insulin campuran tersebut atau diperlukan
perbandingan dosis yang lain, dapat dilakukan percampuran sendiri
antara kedua jenis insulin tersebut.
Lokasi penyuntikan, cara penyuntikan maupun cara penyimpanan insulin
harus dilakukan dengan benar, demikian pula mengenai rotasi tempat
suntik. Rotasi suntikan bergantian, agar mudah dilakukan rotasi searah
jarum jam, misalnya: bahu kiri perut paha kiri pantat kiri
pantat kanan paha kanan bahu kanan dst.
Apabila diperlukan, sejauh sterilitas penyimpanan terjamin, semprit insulin
dan jarumnya dapat dipakai lebih dari satu kali oleh diabetisi yang sama.
Kemasan insulin injeksi dapat berupa vial yang diberikan dengan jarum
suntik/ spuit & bentuk pen sekali pakai (novopen) atau pen dengan
isinya/penfill (humapen)
Penggunaan insulin dengan humapen secara rinci dapat melihat pada CD.
Efek samping terapi insulin
Efek samping utama dari terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemi,
dengan gejala diantaranya: gemetar, lemas, keringat dingin dll
Penanggulangannya: minum air manis/gula, suntikan insulin kurangi
dosis/tunda, konsultasi ke dokter

Efek samping yang lain berupa reaksi imun terhadap insulin yang dapat
menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.

LAMPIRAN GAMBAR WARNA LARUTAN INSULIN

GAMBAR PERKEMBANGAN INSULIN (Jenis & cara pemakaiannya)

Ket gambar: pen insulin dengan isi ulang


GAMBAR: Evolusi Regimen Insulin

Ket gambar: pen insulin sekali pakai


PENILAIAN HASIL TERAPI DNG PEMERIKSAAN GULA DARAH MANDIRI
(PGDM)

Dalam praktek sehari-hari, hasil pengobatan diabetes tipe 2 harus dipantau


secara terencana dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan jasmani dan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:
1.Pemeriksaan kadar glukosa darah
Tujuan pemeriksaan glukosa darah:

Untuk mengetahui apakah target terapi telah tercapai


Untuk melakukan penyesuaian dosis obat, bila target terapi belum
tercapai.

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan kadar glukosa


darah puasa dan 2 jam postprandial secara berkala sesuai dengan kebutuhan.
2. Pemeriksaan A 1C
Tes hemoglobin terglikasi, yang disebut juga sebagai glycohemoglobin, atau
hemoglobin glikosilasi disingkat sebagai All C, merupakan cara yang cligunakan
untuk menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Tes ini ticlak
clapat digunakan untulk menilai hasil pengobatan jangka pendek. Pemeriksaan
Al C dianiurkan dilakukan sebanyalk 4 kali dalam setahun.
3. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)
Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler. Saat ini
banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang
umumnya sederhana dan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar glukosa
darah memakai alat-alat tersebut dlapat dipercaya sejauh kalibrasi
dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara
standar yang dianjurkan. Secara berkala, hasil pemantauan dengan cara
reagen kering perlu dibandingkan dengan cara konvensional.
PGDM dianjurkan bagi diabetisi dengan pengobatan insulin atau pemicu sekresi
insulin. Waktu pemeriksaan PGDM bervariasi, tergantung pada terapi. Waktu
yang dianjurkan adalah, pada saat sebelum makan, 2 jam setelah makan
(menilai ekskursi maksimal glukosa), menjelang waktu tidur (untuk menilai risiko
hipoglikemia), clan di antara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia
nokturnal yang kadang tanpa gejala), atau ketika mengalami gejala seperti
hypoglycemic spells.
Prosedur pernantauan

Tes dilakukan pada vvaktu (tergantung tujuan pemeriksaan)


- sebelum makan
- 2 jam sesudah makan
- sebelum tidur malam*

Diabetisi dengan kontrol buruk/tidak stabil dilakukan tes setiap hari


sampai target tercapai
Diabetisi dengan kontrol baik/stabil tes dilakukan sebanyak 1 - 2 kali/
minggu. Pemantauan dapat lebih jarang apabila diabetisi terkontrol baik
secara konsisten. Pemantauan glukosa darah pada diabetisi yang
mendapat terapi insulin, ditujukan juga untuk penyesuaian dosis insulin
dan memantau timbulnya hipoglikemi.
Tes lebih sering dilakukan pada diabetisi yang melakukan aktifitas tinggi,
pada keadaan krisis, atau pada diabetis! yang sulit mencapai target terapi
(selalu tinggi, atau sering mengalami hipoglikemi).
*ADA menganjurkan pemeriksaan kadar glukosa darah malam hari (bed time)
dilakukan pada 22.00

PGDM

Contoh glukometer : dapat dipergunakan untuk


PGDM
Tehnik pemeriksaan dapat dilihat pada CD

Ket: berbagai alat glukometer untuk pemantauan gula darah, harus dilakukan
dengan cara yang benar

10

11

PELAKSANAAN SKILL LAB


Diskusi setiap kasus mengenai
1. indikasi insulin
2. waktu penyuntikan insulin
3. dosis insulin
4. cara penyuntikan insulin
5. tempat penyuntikan insulin & rotasinya
6. efek samping insulin
7. kapan dilakukan pemeriksaan gula darah
Teknik pemakaian insulin & edukasi penggunaan pada pasien
1. pemakaian insulin dengan pen atau jarum suntik
2. waktu penyuntikan
3. dosis & cara penyuntikan
4. tepat suntikan insulin & rotasinya
5. tanda-tanda hipoglikemi & cara mengatasinya
6. kapan pemantauan/pemeriksaan gula darah mandiri dilakukan
SKENARIO LATIHAN:
1. Seorang laki-laki 46 tahun BB 67 kg, TB 170 cm dirawat dengan keluhan
luka sulit sembuh, demam, mual, poliuria, GDP 250 mg/dL GD2jPP 347
mg/dL. Penderita akan diberikan suntikan insulin dengan pen insulin
menggunakan insulin kerja cepat 3 x sehari @ 6 unit & insulin kerja
menengah 1 kali per hari 18 unit.
2. Seorang wanita 60 tahun dikirim kembali ke Puskesmas oleh dr. SpPD
setelah dirawat di RS dengan post operasi perut (laparatomi). Pasien
tersebut berobat dengan fasilitas ASKESKIN. Dalam surat rujukan tertulis
telah dilakukan pemberian insulin NPH 10 unit. Pasien membawa vial
insulin.
KASUS 1
Wanita 25 tahun sedang hamil 36 minggu, GDS terakhir hasilnya 287 mg/dL.
Sebelumnya telah mendapatkan terapi di RS. Karena belum saatnya melahirkan
penderita tersebut di perbolehkan rawat jalan. Mempertimbangkan biaya & waktu
penderita kontrol pada puskesmas terdekat. Penderita membawa pen insulin,
dosis yang diberikan saat pulang insulin warna putih susu 1 kali sehari dengan
dosis @ 10 unit.
KASUS 2:
Laki-laki 56 tahun dengan BB saat ini 39 kg, TB 160 cm. BB 5 bulan yll 50 kg.
Saat ini mengeluh sulit tidur, penglihatan kabur, kaki kesemutan & mudah haus.
Cek GD 239 mg/dL Penderita tersebut diberikan suntikan reguler insulin 3 x
sehari dengan menggunakan vial & jarum suntik, dosis @ 6 unit. Penderita
direncanakan akan menyuntikkan sendiri insulinnya.

12

CEK LIST PENILAIAN

Nama mahasiswa ............................................


Tutor
...........................................

No
1

2.

Kurang Benar
Penguasaan materi
1. Indikasi insulin
2. waktu penyuntikan insulin
3. dosis insulin
4. cara penyuntikan insulin
5. tempat penyuntikan insulin &
rotasinya
6. efek samping insulin
7. kapan dilakukan pemeriksaan
gula darah & tujuannya
- Teknik pemakaian insulin
dengan pen
- Teknik pemakaian insulin
dengan jarum/spuit
EDUKASI SALAH SATU KASUS
DENGAN PASIEN
- waktu penyuntikan
- dosis & cara penyuntikan
- tepat suntikan insulin &
rotasinya
- tanda-tanda hipoglikemi &
cara mengatasinya
- kapan pemantauan/
pemeriksaan gula darah
mandiri dilakukan & tujuannya
TOTAL

Benar

0
0
0
0
0
0
0

1
1
1
1
1
1
1

Dilakukan kurang
benar
0
0
0

Dilakukan dengan
benar
1
1
1

13