Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus
penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik
secara vertikal dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana
pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horisontal dalam arti antar sarana
pelayanan kesehatan yang sama (KepMenKesRI, 2004).
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus
atau masalah kesehatan yang timbul baik secara vertikal (dan satu unit ke unit
yang lebih lengkap / rumah sakit) untuk horizontal (dari satu bagian lain dalam
satu unit). Sistem Rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara
timbal balik atas masalah yang timbul,baik secara vertical (komunikasi antar unit
yang sederajat) ataupun secara horisontal (lebih tinggi yang lebih rendah) ke
fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi
wilayah administrasi (Satrianegara, 2009).
Di negara Indonesia sistem rujukan kesehatan telah dirumuskan dalam
Permenkes No. 01 tahun 2012. Sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan
tanggung jawab timbal balik pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal
maupun horiontal. Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus

kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan


sakitnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi dari Sistem Rujukan?
2. Bagaimana sistem rujukan untuk pelayanan di bidang kesehatan gigi?
3. Bagaimanakah kasus di bidang Bedah Mulut yang membutuhkan rujukan?

1.3 Tujuan
1. Mampu menjelaskan definisi dari Sistem Rujukan
2. Mampu menjelaskan Sistem Rujukan untuk pelayanan di bidang kesehatan
gigi?
3. Mampu menjelaskan kasus di bidang Bedah Mulut yang membutuhkan
rujukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Rujukan
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas masalah

kesehatan masyarakat dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan secara timbal


balik secara vertikal maupun horizontal meliputi sarana, rujukan teknologi,
rujukan tenaga ahli, rujukan operasional, rujukan kasus, rujukan ilmu pengetahuan
dan rujukan bahan pemeriksaan laboratorium (Permenkes No V, 2012).
Tata laksana rujukan:
1. Internal antar petugas di satu rumah.
2. Antara puskesmas pembantu dan puskesmas Induk.
3. Antara masyarakat dan puskesmas.
4. Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya.
5. Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya.
6. Internal antar-bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit.
7. Antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari rumah
sakit.

2.2

Sistem Rujukan
Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan

yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik


atas masalah yang timbul, baik secara vertikal (komunikasi antar unit yang

sederajat) ataupun secara horisontal (lebih tinggi yang lebih rendah) ke fasilitas
pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi wilayah
administrasi (KepMenKesRI, 2004).
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab
pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal.
Pelimpahan wewenang dalam sistem rujukan dibagi menjadi:
1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita
sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan
selama jangka waktu tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan
penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja .
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan
penderita sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan
penderita sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka
waktu pelimpahan wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi
rujukan tidak ikut campur (KepMenKesRI, 2004).

2.3 Jenis-Jenis Sistem Rujukan di Indonesia


Menurut

PerMenKes No 034 (2012), jenis-jenis sistem rujukan di

Indonesia:
1. Menurut

tata

hubungannya,

internal dan rujukan eksternal

sistem rujukan terdiri

dari: Rujukan

a. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit


pelayanan di dalam institusi tersebut Misalnya dari jejaring puskesmas
(puskesmas pembantu) ke puskesmas induk.
b. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit - unit dalam
jenjang pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan
ke puskesmas rawat map) maupun vertikal (dan puskesmas ke rumah sakit
umum daerah) (PerMenKes, 2012).
2. Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari: Rujukan Medik
dan Rujukan Kesehatan.
a. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya
penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk
pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi,
diabetes melitus) ke rumah sakit umum daerah.
b. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan
dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan
(preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik
konsultasi gizi (PerMenKes, 2012).
3. Menurut rujukan dalam kedokteran gigi, antara lain :
a. Rujukan Kasus Dengan Atau Tanpa Pasien :

Dari posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas, indikasinya : semua


kelainan/kasus/keluhan yang ditemukan pada jaringan keras dan
jaringa lunak didalam rongga mulut.

Dari poli gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu,


indikasinya:

semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga

kesehatan gigi (dokter gigi, perawat gigi) di puskesmas yang


memerlukan tindakan diluar kemampuannya (PerMenKes, 2012).
b. Rujukan Model (Prosthetic Atau Orthodonsi) :
Pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan prothesa termasuk
mahkota dan jembatan, plat orthodonsi, obturator, feeding plate, inlay,
onlay (PerMenKes, 2012).
c. Rujukan Spesimen
Semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,
perawat gigi) di puskesmas yang memerlukan pemeriksaan penunjang
diagnostik/laboratorium sehubungan dengan kelainan dalam rongga
mulutnya.
d. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan atau
ketrampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan
pelayanan yang lebih optimal.
e. Rujukan Kesehatan Gigi
Semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan pencegahan kasus
yang memerlukan bantuan teknologi, sarana dan biaya operasional
(PerMenKes, 2012).

2.4 Mekanisme Sistem Rujukan di Indonesia

Jalur rujukan terdiri dari dua jalur yakni :


1. Rujukan Upaya Kesehatan perorangan
a. Antara masyarakat dengan puskesmas

b. Antara puskesmas pembantu atau bidan di desa dengan puskesmas


c. Intern petugas puskesmas atau puskesmas rawat inap
d. Antar puskesmas atau puskesmas dengan rumah sakit atau fasilitas
pelayanan lainnya (Satrianegara, 2009).
2. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
a. Dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten atau kota
b. Dari puskesmas ke instansi lain yang lebih kompeten baik intrasektoral
maupun lintas sektoral
c. Bila rujukan ditingkat kabupaten atau kota masih belum mampu
menanggulangi bisa diteruskan ke provinsi atau pusat (Satrianegara, 2009).

2.5 Prosedur Merujuk Dan Menerima Rujukan Pasien


Menurut keputusan Dikti KemDikBud (2011), dalam prosedur merujuk
dan menerima rujukan pasien ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak yang
merujuk dan pihak yang menerima rujukan dengan rincian beberapa prosedur
sebagai berikut:
1. Prosedur Standar Merujuk Pasien
Prosedur Klinis:
a. Melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
medik untuk menentukan diagnosa utama dan diagnose banding.
b. Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus berdasarkan Standar
Prosedur Operasional (SPO).
c. Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan.

d. Untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas Medis / Paramedis


yang kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien.
e. Apabila pasien diantar dengan kendaraan Puskesmas keliling atau
ambulans, agar petugas dan kendaraan tetap menunggu pasien di IGD
tujuan sampai ada kepastian pasien tersebut mendapat pelayanan dan
kesimpulan dirawat inap atau rawat jalan
Prosedur Administratif:
a. Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan pra-rujukan.
b. Membuat catatan rekam medis pasien.
c. Memberikan Informed Consent (persetujuan/penolakan rujukan)
d. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2 (form R/1/a terlampir). Lembar
pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang bersakutan.
Lembar kedua disimpan sebagai arsip.
e. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
f. Menyiapkan

sarana

transportasi

dan

sedapat

mungkin

menjalin

komunikasi dengan tempat tujuan rujukan.


g. Pengiriman pasien ini sebaiknya dilaksanakan setelah diselesaikan
administrasi yang bersangkutan (Dikti KemDikBud 2011).
2. Prosedur Standar Menerima Rujukan Pasien
Prosedur Klinis:
a. Segera menerima dan melakukan stabilisasi pasien rujukan sesuai Standar
Prosedur Operasional (SPO).

b. Setelah stabil, meneruskan pasien ke ruang perawatan elektif untuk


perawatan selanjutnya atau meneruskan ke sarana kesehatan yang lebih
mampu untuk dirujuk lanjut.
c. Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien.
Prosedur Administratif:
a. Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang telah
diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien.
b. Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda terima
pasien sesuai aturan masing-masing sarana.
c. Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada kartu
catatan medis dan diteruskan ke tempat perawatan selanjutnya sesuai
kondisi pasien.
d. Membuat informed consent (persetujuan tindakan, persetujuan rawat inap
atau pulang paksa).
e. Segera memberikan informasi tentang keputusan tindakan / perawatan
yang akan dilakukan kepada petugas / keluarga pasien yang mengantar.
f. Apabila tidak sanggup menangani (sesuai perlengkapan Puskesmas /
RSUD yang bersangkutan), maka harus merujuk ke RSU yang lebih
mampu dengan membuat surat rujukan pasien rangkap 2 kemudian surat
rujukan yang asli dibawa bersama pasien, prosedur selanjutnya sama
seperti merujuk pasien.
g. Mencatat identitas pasien di buku register yang ditentukan.
h. Bagi Rumah Sakit, mengisi laporan Triwulan (Dikti KemDikBud 2011).

3. Prosedur Standar Membalas Rujukan Pasien


Prosedur Klinis:
a. Rumah Sakit atau Puskesmas yang menerima rujukan pasien wajib
mengembalikan pasien ke RS / Puskesmas / Polindes/Poskesdes pengirim
setelah dilakukan proses antara lain: Sesudah pemeriksaan medis, diobati
dan dirawat tetapi penyembuhan selanjutnya perlu di follow

up oleh

Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes/Poskesdes pengirim.


b. Sesudah pemeriksaan medis, diselesaikan tindakan kegawatan

klinis,

tetapi pengobatan dan perawatan selanjutnya dapat dilakukan di Rumah


Sakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes pengirim.
c. Melakukan pemeriksaan fisik dan mendiagnosa bahwa kondisi pasien
sudah

memungkinkan

untuk

keluar

dari

perawatan

Rumah

Sakit/Puskesmas tersebut dalam keadaan:

Sehat atau Sembuh.

Sudah ada kemajuan klinis dan boleh rawat jalan.

Belum ada kemajuan klinis dan harus dirujuk ke tempat lain.

Pasien sudah meninggal (Dikti KemDikBud 2011).

2.6 Kewenangan Dokter Gigi Umum Dalam Bidang Bedah Mulut


Batas-batas wewenang dokter gigi umum dalam tindakannya menurut
Konsil Kedokteran Indonesia (2008) dalam bidang bedah mulut adalah:
1. Diagnosa
2. Ekstraksi
3. Odontektomi impaksi ringan

4. Alveolektomi
5. Ekstraksi open method
6. Diskusi kasus
7. Insisi Eksisi
9. Operkulektomi
10. Asisten operasi
11. Reposisi TMJ
12. Kegawat daruratan
13. Penegakan infeksi tumor jinak, kista, kangker
14. Penanganan komplikasi exodonsi dan anastesi local (dry socket,shock dll)
15. Penanganan fraktur alveolus,gigi avulsi,luksasi,akibat trauma dengan fiksasi
essig
16. Melakukan suturing
17. Kewaspadaan universal (aseptic)

2.7 Kasus-Kasus Bedah Mulut Yang Membutuhkan Rujukan


Pelayanan klinis dalam bidang bedah mulut oleh dokter gigi umum yang
memerlukan tindakan rujukan sesuai peraturan Konsil Kedokteran Indonesia
(2007):
1. Perawatan bedah dentoalveolar (pencabutan gigi M3 yang tertanam dalam
tulang rahang, pencabutan gigi dengan penderita medically compromised,
pencabutan gigi dengan tingkat kesulitan tinggi disertai faktor lokal dan
sistemik, bedah preprosthetic untuk penempatan implant gigi atau gigi tiruan).
2. Perawatan celah bibir dan langit-langit.

3. Perawatan patah tulang daerah gigi, rahang dan tulang-tulang daerah wajah
4. Perawatan tumor termasuk kanker daerah kepala dan leher (bekerja sama
dengan bedah kepala dan leher). Perawatan kista dan tumor daerah rongga
mulut.
5. Perawatan kelainan dysgnathia (oklusi gigitan terbalik atau tidak tepat) dan
orthognatik reconstructive surgery, orthognathic surgery, maxillomandibular
advancement, bedah koreksi asymetri wajah.
6. Perawatan pada pasien yang mempunyai keluhan nyeri wajah.
7. Perawatan segala kondisi yang berkaitan dengan sendi rahang.
8. Perawatan posisi rahang yang tumbuh tidak tepat ke posisi yang diinginkan
(bekerjasama dengan spesialis ortodonsia).
9. Perawatan distraksi osteogenesis.
10. Mengganti gigi dengan implant yang menyatu dengan tulang.

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Anamnesis
Pada tanggal 8 Juli 2014, Pasien perempuan umur 61 tahun datang ke
Bagian Bedah Mulut RSUD Pare Kediri dengan keluhan ingin menyabutkan gigi
depan bawahnya. Pasien mengeluhkan gigi tersebut terasa goyang, tidak sakit dan
tidak nyaman saat digunakan makan. Pasien mengatakan memiliki riwayat
penyakit kencing manis sejak 10 tahun yang lalu, pasien mengatakan pernah
memeriksakan giginya di Puskesmas sekitar 6 bulan yang lalu dan belum
dilakukan pencabutan.
3.2 Pemeriksaan Klinis
1. Pemeriksaan Subjektif
a. Pemeriksaan umum:
-

Usia

: 61 tahun

Jenis kelamin

: perempuan

Kepala

: Normal

Kelenjar tiroid

: Normal

Wajah

: Simestris

TD

: 160/100 mmHg

b. Riwayat Medis
-

Penyakit sistemik : Pasien memiliki riwayat penyakit sistemik sejak


10 tahun yang lalu.

c. Riwayat Gigi
-

Pasien pernah datang ke Puskesmas Mojoroto Kediri ingin


menyabutkan gigi nya. pasien mengatakan belum dilakukan
pencabutan gigi.

2. Pemeriksaan Obyektif
a. Gigi 32 :
-

Kegoyangan gigi derajat 3

Kalkulus

: (+)

Gingiva sekitar

: Kemerahan

3. Diagnosa pada gigi 32

: Periodontitis kronis oleh karena penyakit sistemik

3.3 Rencana Terapi


Setelah dilakukan pemeriksaan subyektif dan obyektif di Bagian Bedah
Mulut RSUD Pare, rencana perawatan selanjutnya yaitu perlu dilakukan
pemeriksaan kadar gula darah (KGD) pada pasien dengan merujuk ke Bagian
Laboratoris RSUD Pare agar mengetahui kadar gula darah pasien sebelum
dilakukan tindakan ekstraksi.
Pemeriksaan kadar gula darah (KGD) menunjukkan hasil kadar glukosa
320 mg/dL. Dengan hasil pemeriksaan tersebut rencana perawatan selanjutnya
dengan merujuk pasien ke Poli Penyakit Dalam RSUD Pare Kediri.

Hasil dari balasan rujukan Poli Penyakit Dalam, pasien mengalami


penyakit sistemik Diabetes Melitus dengan hasil pemeriksaan kadar gula darah
(KGD) sebesar 320 mg/dL diatas batas normal dan dilakukan penundaan extraksi
pada gigi 32.

BAB IV
PEMBAHASAN

Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus
atau masalah kesehatan yang timbul baik secara vertikal (dan satu unit ke unit
yang lebih lengkap / rumah sakit) untuk horizontal (dari satu bagian lain dalam
satu unit). Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara
timbal balik atas masalah yang timbul, baik secara vertikal (komunikasi antar unit
yang sederajat) ataupun secara horisontal (lebih tinggi yang lebih rendah) ke
fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi
wilayah administrasi (Satrianegara, 2009).
Penatalaksanaan kasus ekstraksi gigi 32, perlu dipertimbangkan kerja sama
dalam pemeriksaan lebih lanjut atas permasalahan yang timbul pada pasien
dengan melakukan rujukan secara horisontal antar-bagian / unit pelayanan di
dalam satu rumah sakit. Diperlukan pemeriksaan kadar gula darah (KGD)
ditujukan ke Bagian Laboratoris pada pasien yang memiliki riwayat penyakit
sistemik agar mengetahui kadar gula darah sebelum dilakukan tindakan ekstraksi
gigi 32. Pemeriksaan kadar gula darah (KGD) menunjukkan hasil kadar glukosa
320 mg/dL. Dengan hasil pemeriksaan tersebut rencana perawatan selanjutnya
dengan merujuk pasien ke Poli Penyakit Dalam RSUD Pare Kediri. Hasil dari
balasan rujukan Poli Penyakit Dalam, pasien mengalami penyakit sistemik
Diabetes Melitus dengan hasil pemeriksaan kadar gula darah (KGD)

sebesar 320 mg/dL diatas batas normal. Adapun nilai normal kadar gula darah
(KGD) menurut WHO: Gula darah puasa (8 jam tidak makan) = 70 110 mg/dL,
Gula darah 2 jam PP (sesudah makan) = 100 140 mg/dL dan Gula darah acak
= 70 - 125 mg/dL. Dari hasil balasan rujukan Poli Penyakit Dalam untuk
dilakukan penundaan ekstraksi gigi 32.
Pencabutan gigi hanya boleh dilakukan bila kadar gula darah telah
teregulasi dengan baik. (min < 200 mg / dL ). Pada beberapa keadaan tidak boleh
dilakukan ekstraksi gigi karena beberapa faktor atau merupakan kontraindikasi
ekstraksi gigi. kontraindikasi ekstraksi gigi sangat berperan penting untuk tidak
dilakukan ekstraksi gigi sampai masalahnya dapat diatasi. Kontra indikasi
pencabutan gigi atau tindakan bedah lainnya disebabkan oleh faktor lokal atau
sistemik. Dikatakan menjadi kontra indikasi pencabutan gigi bila dokter gigi /
dokter spesialis akan memberi izin atau menanti keadaan umum penderita hingga
dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang
membahayakan bagi jiwa penderita.

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
1. Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus
penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik.
2. Diperlukan rujukan laboratoris untuk

pemeriksaan kadar gula darah

(KGD) bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit sistemik sebelum


dilakukan ekstraksi gigi.
3. Diperlukan rujukan ke Bagian Penyakit Dalam bagi pasien yang memiliki
kadar gula darah (KGD) diatas batas normal sebelum tindakan ekstraksi
gigi.
4. Penundaan ekstraksi pada gigi 32 dikarenakan hasil dari pemeriksaan
kadar gula darah (KGD) 320 mg/dL dan diatas dari batas normal.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito,W.2007.Sistem Kesehatan.Jakarta:PT Raja Gravindo Persada.


Dikti KemDikBud. 2011. POKJA Revisi Standar Kompetensi dan Standar
Pendidikan Profesi Dokter gigi. Jakarta: Depkes.
Keputusan Menteri Kesehatan RI . 2004. Sistem Rujukan. Jakarta : Depkes.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2007. Standar Kompetensi Dokter Gigi Spesialis.
Diunduh dari:
http://www.kki.go.id/assets/data/arsip/Standar_Kompetensi_Dokter_Gigi_
Spesialis.pdf
Konsil Kedokteran Indonesia. 2008 . Standar Kompetensi Profesi Dokter Gigi.
Diunduh dari:
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/123456789/838/4/BK200
8-G36.pdf
Permenkes. 2012. Sistem rujukan pelayanan kesehatan. Jakarta : Depkes.
Satrianegara, M. 2009. Buku Ajar Organisasi Dan Manajemen Pelayanan
Indonesia. Jakarta: Salemba Medika.