Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia


SOFTENER
Nama Kelompok 5A:
1. Vonindya Khoirun N.M.
2. Zandhika Alfi Pratama
3. Dinda Aulia Rizki P.
4. Rizka Amalia Kusuma P.

(2312
(2312
(2312
(2312

030
030
030
030

016)
059)
093)
094)

Tanggal Percobaan :
10 April 2015
Asisten Labolatorium
Fery Ida Nur Aini
(2312 030 034)
Dosen Pembimbing
Ir. Agung Subyakto, MS
NIP. 19580312 198601 1 001

PROGAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan penting dalam proses produksi dan
kegiatan lain dalam suatu industri. Untuk itu diperluan penyediaan air
bersih yang secara kualitas memenuhi standar yang berlaku dan
secara kuantitas dan kontinuitas harus memenuhi kebutuhan industri
sehingga proses produksi tersebut dapat berjalan dengan baik.
Air pengisi ketel adalah air yang diisikan kedalam ketel untuk
diubah menjadi uap. Air pengisi ketel ini dapat digunakan dari air
sumur atau air kondensat. Pada dasamya air yang akan digunakan,
terutama yang digunakan sebagai air pengisi ketel, harus memenuhi
syarat. Air yang berasal dari alam (sungai dan tanah) tidak ada yang
dalam keadaan murni, biasanya terdapat pengotor-pengotor, antara
lain zat tersuspensi (lumpur dan tanah liat) dan zat terlarut (garamgaram mineral).
Umumnya softener digunakan sebagai pretreatment untuk air
umpan boiler dan cooling tower atau proses produksi. Tujuan softener
adalah mengurangi mineral dalam air upaya mencegah terjadinya
kerak (scaling) pada pipa-pipa boiler atau pipa-pipa heat exchanger
yang menimbulkan pemborosan bahan bakar serta mengganggu
produksi.
I.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan softener ini adalah bagaimana
menganalisa air softener dari air PDAM Gebang Lor 14, Surabaya
dengan parameter pH, Total Dissolved Solid (TDS), Ca-Hardness, dan
Total Hardness?

I-1

BAB I Pendahuluan
I.3 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan softener ini adalah untuk menganalisa air
softener dari air PDAM Gebang Lor 14, Surabaya dengan parameter
pH, Total Dissolved Solid (TDS), Ca-Hardness, dan Total Hardness.

I-2

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Kesadahan
Kesadahan atau yang disebut juga sebagai hardness merupakan
sifat air yang disebabkan oleh ion ion (kation) logam bervalensi dua.
Ion ion tersebut mampu berinteraksi dengan sabun membentuk
kerak air. Kesadahan dalam air terutama disebabkan oleh ion kalsium
(Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat, juga ion
Mn2+ , Fe2+ serta ion kation lain yang bervalensi 2.Dari tingkat
kesadahannya, air dikelompokkan menjadi dua, yakni air sadah atau
air keras dan air lunak. Air sadah atau air keras (hard water) adalah air
yang mengandung kadar

mineral, khususnya

ion

kalsium

dan

magnesium yang tinggi. Pada air sadah, sabun menghasilkan busa


yang sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Air dengan kesadahan
tinggi ini biasanya terdapat pada air tanah di daerah berkapur tinggi.
Sedangkan air lunak, adalah air yang mengandung kadar mineral yang
rendah.
II.1.1.1 Tipe Tipe Kesadahan
Berdasarkan jenis anion yang diikat, kesadahan dibagi menjadi
dua, yakni kesadahan sementara dan kesadahan tetap.
1. Kesadahan Sementara
Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion
bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa
kalsium

bikarbonat

(Ca(HCO3)2)

atau

magnesium

bikarbonat

(Mg(HCO3)2). Oleh kareana itu, kesadahan sementara ini sering disebut


sebagai kesadahan bikarbonat. Air yang mengandung ion atau
senyawa-senyawa

tersebut

disebut

air

sadah

sementara

karena

kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air

II-1

BAB II Tinjauan Pustaka


tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan/atau Mg2+. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :
Ca(HCO3)2 (aq)

CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

Mg(HCO3)2 (aq)

MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

2. Kesadahan Tetap
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya
garam-garam klorida, sulfat, dan karbonat, misal CaSO 4, MgSO4,
CaCl2, MgCl2. Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion
selain ion bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-.
Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida
(CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium
klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat
(MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air
sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya
dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari
kesadahan,

harus

dilakukan

dengan

cara

kimia,

yaitu

dengan

mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia tertentu. Pereaksi yang


digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na 2CO3

(aq)

atau K2CO3

(aq).

Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion


Ca2+ dan atau Mg2+. Reaksi yang terjadi :
CaCl2

(aq)

Mg(NO3)2

+ Na2CO3
(aq)

CaCO3

(aq)

+ K2CO3

MgCO3

(aq)

(s)
(s)

+ 2NaCl

(aq)

+ 2KNO3

(aq)

Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air


tersebut telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain
air tersebut telah terbebas dari kesadahan.
II.1.1.2 Dampak Dampak Air Sadah
Air dengan kesadahan tinggi, dimana Ca2+ dan Mg2+ berasal dari
kalsium

bikarbonat

(Mg(HCO3)2),

kelebihan

(Ca(HCO3)2)
ion

Ca2+

atau
serta

magnesium
ion

CO3-

bikarbonat

mengakibatkan

terbentuknya kerak pada dinding pipa, ceret, panci yang disebabkan


oleh endapan kalsium karbonat (CaCO3). Kerak ini akan mengurangi
penampang basah pada pipa, ceret, panci dan menyulitkan pemanasan
II-2

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


air, memerlukan bahan bakar yang lebih banyak dalam ketel (boiler)
dan bahkan ketel tersebut akan meledak.
Air sadah juga tidak menguntungkan atau mengganggu proses
pencucian menggunakan sabun. Bila sabun digunakan pada air sadah,
mula mula sabun harus berinteraksi lebih dahulu dengan setiap ion
kalsium dan magnesium yang terdapat dalam air sadah tersebut,
sebelum sabun dapat berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Air
sadah mengendapkan anion sabun sehingga mengurangi efektivitas
mencuci. Hal ini menyebabkan boros konsumsi sabun. Ketika air sadah
bertemu dengan sabun yang terjadi adalah ion yang dikandung air
sadah merusak efek surfaktan dari sabun. Ketika air sadah bertemu
dengan sabun akan membentuk endapan padat (soap scum) dengan
reaksi berikut :
RCOONa(aq) + Ca2+(aq) (RCOO)2Ca

(s)

+ 2 NaCl

Hal ini bukan saja memboroskan penggunaan sabun, tetapi


gumpalangumpalan yang terjadi akan mengendap sebagai lapisan
tipis pada alat alat yang dicuci sehingga mengganggu proses
pembersihan dan pembilasan oleh air. Menurut WHO, air yang bersifat
sadah akan menimbulkan dampak :
1. Terhadap kesehatan dapat menyebabkan cardiovascular disease
(penyumbatan pembuluh darah jantung) dan urithialis (batu ginjal).
2. Menyebabkan pergerakan pada peralatan logam untuk memasak
sehingga penggunaan energy menjadi boros.
3. Penyumbatan pada pipa logam karena endapan CaCO3
4. Pemakaian sabun menjadi boros karena buih yang dihasilkan
sedikit.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat
menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan
pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air
sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air
sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang

II-3

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan
diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian.
II.1.2 Air dan Pengolahannya
Dalam suatu industri, air merupakan bahan utilitas, dimana air
dapat berfungsi sebagai air proses, air sanitasi, air pendingin dan air
boiler. Air untuk umpan boiler biasanya berasal dari air sungai, air
laut, air sumur, air hujan, atau air yang telah diproses seperti air
minum dan air industri. Untuk keperluan industri, kontaminasi dalam
air merupakan faktor yang harus diperhatikan. Karena hal tersebut
dapat memicu masalah yang serius, seperti terjadinya kerak, korosi,
dan carry over. Untuk mencegah masalahtersebut, suatu pengolahan
air yang terkendali harus dilaksanakan. Pengolahan air boiler secara
umum dapat dibagi jadi dua bagian yaitu, Pengolahan secara mekanis,
yang dilakukan diluar boiler atau dikenal dengan External Treatment
dan Pengolahan secara kimiawi, yang dilakukan didalam boiler atau
dikenal dengan Internal Treatment.
A. Pengolahan Air Baku dan Air Umpan
Pengolahan air baku untuk air umpan terdiri atas koagulasi
flokulasi, penyaringan, pertukaran ion, dan deaerasi. Berikut ini yang
akan dibahas adalah masalah pengolahan dengan penukaran ion.
Pertukaran Ion
Demineralisasi atau deionisasi adalah suatu sistem pengolahan
air dengan pertukaran ion (ion exchange) melalui media ion exchange
resin. Sistem ini mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian
yang sangat tinggi (Ultra Pure Water) dengan jumlah kandungan zationik dan an-ionik mendekati nol sehingga mencapai batas yang
hampir tidak dapat dideteksi lagi.
Teknologi Water Treatment biasa tidak dapat menghasilkan
tingkat kemurnian tersebut di atas. Sedangkan pada beberapa jenis
industri tertentu, kontaminasi sekecil apapun dapat mengakibatkan
terjadinya kerusakan ataupun malfungsi. Untuk memilih paket
demineralisasi
II-4

yang

tepat

dan

sesuai

kebutuhan,

maka

arus

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


mempertimbangkan adalah kualitas air baku, kualitas air produk,
kapasitas,dan desain teknis.
B. Proses Demineralisasi
Dalam paparan ringkas di bawah ini disampaikan empat tahap
proses demineralisasi.
1. Tahap operasi
Umumnya air baku mengalir dari atas ke bawah (downflow) atau
sebuah unit tipikal demineralisasi dengan dua dengan dua media
(two-bed demineralizer).
2. Tahap cuci (backwash)
Kalau kemampuan resin berkurang banyak atau habis maka
tahap pencucian perlu dilaksanakan. Air bersih dialirkan dari
bawah ke atas (upflow) agar memecah sumbatan pada resin,
melepaskan padatan halus yang terperangkap di dalamnya lalu
melepaskan jebakan gas di dalam resin dan pelapisan ulang resin.
3. Tahap regenerasi
Tujuan tahap ini adalah mengganti ion yang terjerat resin
dengan

ion

yang

semula

ada

di

dalam

media

resin

dan

mengembalikan kapasitas tukar resin ke tingkat awal atau ke


tingkat yang diinginkan. Operasi regenerasi dilaksanakan dengan
mengalirkan larutan regeneran dari atas resin. Ada empat tahap
dalam regenerasi, yaitubackwashing untuk membersihkan media
resin (tahap dua di atas), memasukkan regeneran, slow rinse untuk
mendorong

regeneran

ke

media

resin,

fast

rinse

untuk

menghilangkan sisa regeneran dari resin dan ion yang tak


diinginkan ke saluran pembuangan (disposal point).
4. Tahap bilas (fast rinse)
Air berkecepatan tinggi membilas partikulat di dalam media
resin, juga ion kalsium dan magnesium ke pembuangan dan untuk
menghilangkan sisa-sisa larutan regenerasi yang terperangkap di
dalam resin. Pembilasan dilakukan dengan air bersih aliran ke
bawah. Setelah tahap ini, proses kembali ke awal (tahap servis).
II-5

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Sesungguhnya

konfigurasi

instalasi

dan

proses

demineralisasi sangat kompleks, tidak sesederhana seperti yang


ditulis di atas dan jauh lebih rumit dari pada IPAM yang dimiliki
PDAM.
C. Pengolahan dengan Penukaran Ion
Pengolahan ini menggunakan resin penukar ion dengan maksud
agar ion-ion garam yang terlarut dalam air dapat diganti hingga
diperoleh air yang sesuai untuk boiler.
a. Resin Penukar Ion
Resin

yang

digunakan

untuk

penukar

ion

harus

mempunyai struktur dimana radikal penukar ionnya terikat pada


struktur polimer.

Gambar II.1 Model Struktur dari Resin Penukar Ion


Resin ini dibagi menjadi dua yaitu:
b. Resin penukar kation
Suatu resin penukar kation adalah resin yang berkombinasi
dengan gugus sulfo. Disebut pula penukar kation asam kuat, atau
kombinasi dengan gugus karboksil. Disebut pula resin penukar
kation asam lemah.
c. Resin penukar anion
Suatu resin penukar anion adalah resin yang berkombinasi
dengan gugus quartenary ammonium, disebut pula resin penukar
anion basa kuat, atau yang berkombinasi dengan gugus amina
tersier, sekunder dan primer. Disebut pula resin penukar anion
basa lemah.
d. Pengolahan Pelunakan. Komponen-komponen kesadahan dalam air
akan menyebabkan terjadinya

kerak pada boiler bertekanan

rendah. Komponen-komponen ini dapat dihilangkan dari air dengan


pengolahan pelunakan.
II-6

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Resin penukar ion yang dipergunakan dalam cara ini
adalah senyawa Na dari penukar kation asam kuat. Jadi bila air
dilewatkan pada bed resin ini, air akan digantikan oleh ion-ion Na
dari resin sehingga diperoleh air lunak.

Gambar II.2 Pengolahan Pelunakan Air


Reaksi-reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut:
R-(SO3Na)2 + Ca(HCO3)2 R-(SO3)2Ca + 2NaHCO3..... (2.2)
R-(SO3Na)2 + MgSO4 R(-SO3)2Mg + 2Na2SO4...... (2.3)
Resin penukar ion yang telah kehilangan daya tukarnya dapat
dipergunakan kembali setelah diregenerasi dengan menggunakan
NaCl. Reaksi yang terjadi pada saat regenerasi adalah:
R(-SO3)2Ca + 2NaCl R(-SO3Na)2 + CaCl2 .................. (2.4)
R(-SO3)2Mg + 2NaCl R(-SO3Na)2 + MgCl2 ........ (2.5)
Masalah pengerakan karena komponen-komponen kesadahan di
atas dapat dicegah dengan memakai air umpan boiler berupa air
lunak. Walaupun sudah menggunakan proses pelunakan air namun
kadang-kadang masih saja terbentuk kerak dalam boiler, hal ini
disebabkan masih adanya kebocoran komponen kesadahan oleh
karena kurangnya pengawasan operasional.
II.1.2 Softener
Softener

adalah

suatu

alat

yang

digunakan

untuk

menghilangkan hardness (Ca dan Mg) yang terdapat dalam air sumber
sehingga didapatkan air yang mempunyai pH 7,5-10 dan kesadahan 0
II-7

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


ppm CaCO3. Softener berupa tabung berisi resin dan air. Fungsi dari
resin adalah menangkap hardness sehingga hardness tidak terbawa ke
dalam ketal uap. Karena resin terus digunakan maka akan mengalami
kejenuhan dan perlu dilakukan regenerasi atau pencucian.
Proses regenerasi pada softener: Softener yang digunakan untuk
melunakan air sebelum masuk ke feed water tank berisi media resin.
Setelah beberapa lama penggunaan resin, resin tersebut akan
mengalami

kejenuhan,

sehingga

harus

dilakukan

regenerasi.

Regenerasi adalah proses mereaksikan NaCl (garam dapur) dengan


resin yang bertujuan untuk mengaktifkan resin yang telah dipakai
sehingga dapat menangkap hardness kembali dan menghasilkan air
yang sesuai dengan ketentuan air pengisi ketel. Reaksi dari proses
regenerasi ini adalah sebagai berikut :
Mg-Resin + Ca-Resin + NaCl Na2-Resin + MgCl2 + CaCl2 (2.6)
Dari reaksi diatas terlihat bahwa natrium dari garam bereaksi
dengan resin dan hardness bereaksi dengan chloride dari garam
sehingga resin kembali seperti semula.
Tabel II.1 Penyebab dan Penanganan Pengurangan Kesadahan dari
Tangki Softener
Masalah
Peningkatan
kesadahan
Fluktuasi dalam air

lunak melebihi

Regenerasi resin

kapasitas softener
Fluktuasi
kesadahan pada air

siklus produksi

baku

berkurang

Penanganan

Pengambilan air

lunak untuk satu

Air produk

II-8

Penyebab

Penurunan
kapasitas tukar
resin

Analisa
kesadahan berkala
pada air baku dan
air produk
Supplement
resin, penghilangan
kontaminan dari
resin dan air baku

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Kran
Kebocoran resin

Memperbaiki

rusak,plate

tangki softener

pengumpul air,dsb

Supplement
Pembengkakan

Oksidasi resin

resin

oleh klor

resin, penghilangan
oksigen terlarut dari
air baku

Kran rusak
Penyerapan

Perbaikan

Kurangnya

kesadaahan yang tidak

regenerasi dan

maksimal

backwash pada
resin

softener
Regenerasi dan
backwash resin

a. Pelunakan dan Pengurangan Alkali (Dealkalisasi)


Pengolahan dengan cara ini merupakan suatu metode dimana
komponen-komponen kesadahan dan bikarbonat sebagai komponen
M-alkalinitas dihilangkan. Pengolahan ini dibagi atas beberapa cara
antara lain :
1. Pelunakan dengan resin bentuk H dicampur dengan air baku.
2. Pemisahan pelunakan dengan resin bentuk Na dan H.
b. Pembebasan Mineral dengan Bed Campuran Resin
Metode ini dikerjakan dengan melewatkan air baku kedalam
tabung yang berisikan resin penukar kation asam kuat bentuk H dan
resin penukar anion basa kuat bentuk OH yang dicampur secara
homogen. Dengan adanya campuran ini maka air bebas mineral yang
diperoleh

mempunyai

mutu

kemurnian

yang

tinggi.

Reaksi

pembebasan mineral yang terjadi :


R (-SO3H)2 + Ca(HCO3)2 R(-SO3)2Ca + 2H2CO3 ............ (2.7)
R (-SO3H)2 + MgSO4 R(-SO3)2Mg + H2SO4 .................... (2.8)
R-SO3H + NaCl R-SO3Na + HCl .................................. (2.9)
RNOH + H2CO3 RNHCO3 + H2O ............................... (2.10)
R(NOH)2 + H2SO4 R(N)2SO4 + 2H2O ......................... (2.11)
RNOH + HCl RNCl + H2O ........................................ (2.12)
II-9

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


RNOH + H2SiO3 RNHSiO3 + H2O .............................. (2.13)
Regenerasi resin penukar kation :
Bed H : R(-SO3)2Ca + 2HCl R(-SO3H)2 + CaCl .............. (2.14)
R(-SO3)2Mg + 2HCl R(-SO3H)2 + MgCl ...................... (2.15)
R-SO3Na + HCl R(-SO3H)2 + NaCl ............................ (2.16)
Regenerasi resin penukar anion :
RNHCO3 + NaOH RNOH + NaHCO3 ......................... (2.17)
R(N)2SO4 + 2NaOH R(NOH)2 + Na2SO4 .................... (2.18)
RHCl + NaOH RNOH + NaCl .................................... (2.19)
RNHSiO3 + 2NaOH RNOH + NaSiO3 + H2O ............. (2.20)
c. Pembebasan Mineral dengan 2 Bed 1 Degasifikasi
Sistem ini terdiri dari tabung kation yang terisi bed H asam kuat
dan tabung anion yang terisi bed OH basa kuat. Setelah kation-kation
dalam air baku diganti dengan ion-ion hidrogen dalam bed-H dan CO2
dihilangkan dalam unit penghilang karbon serta anion-anion diganti
dengan ion-ion hidroksil dalam bed-OH akan diperoleh air bebas ion.
d. Pembebasan Mineral dengan 4 Bed 1 Degasifikasi
Mutu air yang dihasilkan hampir sama dengan sistem 2 bed
degasifikasi yang ditambah dengan alat pemoles. Alat ini dapat
mengurangi jumlah regeneran yang dipergunakan, waktu regenerasi,
dan jumlah air regeneran dari kolom kedua ke kolom pertama.
e. Pembebasan Mineral dengan Regenerasi Aliran Berlawanan
Keuntungan dari cara ini adalah jumlah regeneran yang
digunakan lebih sedikit dari cara searah, karena :
-

Air dengan mutu tinggi dapat diperoleh walaupun dengan tingkat


regenerasi yang rendah.

Perbedaan dari susunan ion-ion yang diserap terhadap ion penukar


dari resin meningkatkan efisiensi regeneran.

Resin dapat dipakai seluruhnya (bila dengan aliran searah ada 30%
yang tak terpakai).

Jumlah air pencuci dan waktu regenerasi dapat dikurangi.

f. Pembebasan Mineral dengan Dua Lapisan


II-10

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Metode ini dilakukan dengan mengisi tabung penukar kation
dengan 2 lapisan resin penukar kation asam kuat dan lapisan resin
penukar kation asam lemah. Serta tabung penukar anion dengan
lapisan resin penukar anion basa kuat dan lapisan resin penukar
anion basa lemah.
Keuntungan dengan metode ini :
-

Regeneran yang terpakai mempunyai tingkat efisiensi pemakaian


sekitar 60-100%, karena resin asam lemah dan resin basa lemah
diregenerasi dengan regeneran yang sama dengan regeneran untuk
resin asam dan basa kuat.

Pengolahan limbah cair regenerasi cukup mudah karena kandungan


asam dan basa didalamnya cukup rendah.

Jumlah air pencuci dan waktu regenerasi dapat dikurangi.

Pelunakan Air Sadah


Pelunakan adalah penghapusan atau penghilangan
tertentu yang terdapat dalam air

yang tidak diperlukan

ion-ion

dan dapat

bereaksi dengan zat-zat lain yang terkandung dalam air sehingga


distribusi dari air dan penggunaannya terganggu. Kesadahan dalam
air

terutama disebabkan oleh ion-ion Ca2+ dan Mg2+ juga oleh Mn2+

dan Fe2+ atau semua kation yang bermuatan dua.


a. Analisa kesadahan total
Kesadahan total yaitu jumlah ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang dapat
ditentukan melalui titrasi EDTA sebagai titran dan menggunakan
indikator yang peka terhadap semua kation tersebut. Prinsip
analisa : EDTA dapat membuat pasangan kimiawi dengan ion-ion
kesadahan dan beberapa jenis ion lain. Pasangan tersebut lebih
kuat daripada hubungan indikator antara indikator dengan ion-ion
kesadahan. Oleh karena itu, pada pH 10 larutan akan berubah
menjadi biru yaitu disaat jumlah molekul EDTA yang ditambahkan
sama dengan ion kesadahan dalam sampel dan molekul indikator
terlepas dari ion kesadahan.
b. Analisa kesadahan Ca2+
II-11

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


EDTA akan bergabung dahulu dengan ion Ca 2+ kemudian baru
dengan ion Mg2+ dan dengan beberapa jenis ion lain namun tidak
sepenuhnya.Konsentrasi ion Ca2+ dapat ditentukan secara terpisah
bila ion Mg dihapuskan dari larutan pada keadaan pH yang tinggi
dimana hampir semua ion Mg mengendap sebagai Mg(OH)2.
II.1.3 Alkaliniti
Alkaliniti adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan
asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Sama halnya dengan larutan
buffer, alkaliniti merupakan pertahanan air terhadap pengasaman.
Alkaliniti adalah hasil reaksi-reaksi terpisah dalam larutan hingga
merupakan sebuah analisa makro yang menggabungkan beberapa
reaksi. Dalam air, alkaliniti sebagian besar disebabkan oleh adanya
bikarbonat, dan sisanya oleh karbonat dan hidroksida.
Alkaliniti ditetapkan melalui titrasi asam basa. Asam kuat seperti
asam sulfat dan asam klorida menetralkan zat-zat alkalinity yang
merupakan zat basa sampai titik akhir titrasi, kira-kira pH 8,3 dan pH
4,5. Titik akhir dapat ditentukan oleh :
a. Jenis indikator yang dipilih dimana warnanya berubah-ubah
pada pH titik akhir titrasi.
b. Perubahan nilai pH pada pH meter waktu titrasi asam basa.
Alkalinitas relatif sama jumlahnya dengan kesadahan dalam
suatu perairan. Alkalinitas juga berpengaruh terhadap pH dalam
suatu perairan. Dalam kondisi basa ion bikarbonat akan membentuk
ion karbonat dan melepaskan ion hidrogen yang bersifat asam
sehingga keadaan pH menjadi netral.sebaliknya bila keadaan terlalu
asam, ion karbonat akan mengalami hidrolis menjadi ion bikarbonat
dan melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan
kembali netral. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi
tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti
dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang
tinggi. (Achmad, 2004).

II-12

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Ada-dua-jenis_pengukuran_alkalinitas,.yaitu:
a) Methyl orange alkalinity atau yang disebut M-alkalinitas, yang
digunakan

untuk

mengevaluasi

potensial

scale

pada

Ph

rendah/asam (yang dianalisa bikarbonatnya).


b)

phenolphtalin

atau

P-alkalinitas,

yang

digunakan

untuk

mengukur alkalinitas pada PH yang sangat tinggi/basa (yang


dianalisa Hidroksidanya).
Jika M-alkalinitas lebih besar dari pada Total hardness, maka
semua hardnessnya menunjukkan adanya karbonat dan bikarbonat.
Jika M-alkalinitasnya lebih kecil dari total hardness, maka hardness
karbonat = M alkalinitasnya dan hardness non karbonatnya = total
hardness - M-alkalinitas
Reaksi yang terjadi adalah :
Pada pH 8,3
OH- + H+ H2O
CO32- + H+ HCO3Pada pH 4,5
HCO3- + H+ H2O + CO2
(G. Alaerts dan Sri Sumestri, 1984)

II-13

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Tabel II.2 Nilai Ph Titik Akhir Titrasi Alkaliniti untuk Beberapa
Contoh Air
Contoh air

pH titik akhir titrasi

Air dengan kandungan


alkaliniti CO32-, HCO3-,
OH-sebanyak :
30 mg CaCO3/l

8,3

5,1

150 mg CaCO3/l

8,3

4,8

500 mg CaCO3/l

8,3

4,5

alkaliniti, silikat, fosfat.

8,3

4,5

Limbah industri

8,3

3,7 (perkiraan)

Air dengan kandungan

(G. Alaerts dan Sri Sumestri, 1984)

II-14

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


II.2

Jurnal Aplikasi Industri


KARAKTERISTIK KINERJA RESIN PENUKAR ION
PADA SISTEM AIR BEBAS MINERAL(GCA 01) RSG-GAS
Proses pembuatan air bebas mineral pada sistem air bebas

mineral (GCA 01) RSG-GAS menggunakan resin penukar ion yang


terdiri dari resin penukar kation dan resin penukar anion serta mixed
bed resin. Air baku sebagai air umpan pada pembuatan air bebas
mineral diambil dari air pengolahan PAM PUSPIPTEK yang ditampung
dalam kolam air baku (raw water). Air baku dipompakan kedalam
sistem air bebas mineral menggunakan pompa benam bertingkat
banyak (multistage submersible pump) dengan kecepatan alir 5m3/jam.
Tahapan proses pembuatan air bebas mineral pada sistem air
bebas mineral (GCA 01) adalah air baku dari kolam air baku (raw
water)

dipompakan

melewati

saringan

pasir,

saringan

mekanik

kemudian dilewatkan dalam kolom resin penukar kation, kolom resin


penukar anion, kolom resin mix-bed, dan dilewatkan dalam saringan
resin.

Air

bebas

mineral

selanjutnya

ditampung

dalam

tangki

penampung air bebas mineral (GCA 01 BB 04) dan siap untuk


didistribusikan ke kolam reaktor dan fasilitas yang memerlukan air
bebas mineral.
Pada proses pembuatan air bebas mineral menggunakan unit
resin penukar ion, resin penukar ion ditempatkan dalam kolom
(proseskolom). Kolom/tangki resin penukar kation berisi 24 liter resin
tipe Lewatit IN 42 dan 250 liter resin tipe lewatit Mono Plus S 100,
kolom/tangki penukar anion berisi 50 liter resin lewatit IN 42 dan 550
liter resin lewatit MP 600 WS, Sedangkan kolom mixed bed berisi 75
liter lewatit MonoPlus MP 500 dan 75 liter MonoPlus SP-112 H. Arah
aliran air pada kolom resin penukar kation dan kolom resin penukar
anion adalah dari bawah ke atas sedang dalam kolom resin mix-bed
arah aliran air dari atas ke bawah.

II-15

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB II Tinjauan Pustaka


Bertambahnya waktu pengoperasian sistem air bebas mineral
(GCA 01) menunjukan harga konduktivitas air keluaran resin penukar
anion mengalami kenaikan. Hal ini berkaitan dengan kapasitas tukar
ion dari resin penukar ion. Kapasitas resin penukar ion adalah
bilangan

yang

menyatakan

jumlah

banyaknya

ion

yang

dapat

ditpertukarkan untuk setiap 1 (satu) gram resin atau tiap mililiter


Dengan berjalannya waktu penggunaan resin penukar ion, kemapuan
tukar resin penukar ion semakin berkurang dan lama kelamaan tidak
mampu lagi mempertukarkan ion-ion pengotor didalam air dengan H+
maupun OH- dari resin penukar ion. Pada proses pembuatan air bebas
mineral reaksi pertukaran ion terjadi pada ion yang mempunyai tanda
muatan sama antara air sebagai bahan baku dengan resin yang
dilaluinya dan berlangsung secara reversible (bolak balik) sehingga
dengan bertambahnya waktu penggunaan resin,oleh karena itu pada
saat tertentu semua kation atau anion dalam susunan butir-butir resin
yang dipakai itu telah habis dipertukarkan dengan kation atau anion
dalan air, Dalam hal ini resin penukar ion dianggap jenuh, sehingga
resin perlu diaktifkan kembali dengan jalan meregenerasi resin
tersebut.
pH air keluaran kolom penukar kation mengalami penurunan (air
bersifat asam). Hal ini disebabkan oleh setelah air melalui kolom resin
penukar

kation,

semua

pengotor

kation

air

akan

diambil/dipertukarkan dengan H+ dari resin penukar kation, sehingga


terjadi pelepasan H+ dari resin penukar kation dan air keluaran kolom
resin penukar kation bersifat asam. Sedangkan pH air keluaran kolom
resin penukar anion mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan oleh
karena pada saat air melalui kolom resin penukar anion, anion
pengotor air akan diambil/dipertukarkan dengan OH- dari resin
penukar anion, sehingga terjadi pelepasan OH- dari resin penukar
anion oleh karena itu air setelah melewati kolom resin penukar anion
mempunyai pH mendekati pH netral atau sedikit basa.

II-16

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan
1. Air PDAM Gebang Lor 14 Surabaya

III.2 Bahan yang Digunakan


1. HCl pekat
2. Indikator Eriochrome Black T
3. Indikator Murexid
4. Larutan standart NaOH 1 N
5. Larutan standart EDTA 0,01 N
III.3 Alat yang Digunakan
1. Beaker glass
2. Buret dan statif
3. Demin Plant
4. TDS meter
5. pH meter
6. Erlenmeyer
7. Gelas ukur
8. Pipet tetes
9. Pemanas elektrik

III-1

BAB III Metodologi Percobaan


III.4 Prosedur Percobaan
III.4.1 Tahap Proses Demineralisasi
V-5

V-2

V-6

V - 10

ANION

KATION

E-4
V-1

V-3

V-8
P-41

BAK
PENAMPUNG
AIR
V-4

V-7

V-9

V - 11

E-2

E-1

Gambar III.1 Demin Plant


*Resin penukar ion yang digunakan hanya resin kation karena percobaan
yang dilakukan merupakan pelunakan (softener)

III.4.1 Tahap Proses Pelunakan (Softener)


1. Melakukan pengecekan terhadap valve maupun pompa.
2. Mengatur pembukaan valve sehingga tidak ada aliran menuju
resin anion (air keluar dari bagian bawah setelah resin penukar
kation tanpa melewati resin penukar anion).
3. Mengisi bak penampung E1 dengan air PDAM yang sebelumnya
telah dianalisa (pH, TDS, Ca-Hardness, Total Hardness) sebagai
sampel yang digunakan.
4. Menyalakan pompa.
5. Menampung air yang telah melewati resin kation dalam bak.
III.4.2 Tahap Analisa Parameter
III.4.2.1 Analisa pH & TDS
1. Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml.
2. Memasukkan masing-masing sampel dalam erlenmeyer.
3. Mengukur pH untuk tiap sampel menggunakan pH.
III-2

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III Metodologi Percobaan


II.4.2.2 Analisa Total Dissolved Solid (TDS)
1. Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml.
2. Memasukkan masing-masing sampel dalam erlenmeyer.
3. Mengukur TDS untuk tiap sampel menggunakan TDS meter
yang telah dikalibrasi.
II.4.2.3. Analisa Ca-Hardness
1. Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml.
2. Membuat pH setiap sampel menjadi 3 dengan menambahkan
2-3 tetes HCl pekat kemudian mendidihkan sampel.
3. Mendinginkan sampel.
4. Menambahkan larutan NaOH 1 N hingga pH menjadi 100,01.
5. Menambahkan indikator murexid secukupnya.
6. Menitrasi dengan larutan EDTA 0,01 M sampai terjadi
perubahan warna dari merah muda menjadi ungu.
II.4.2.4 Analisa Total Hardness
1. Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml.
2. Membuat pH setiap sampel menjadi 3 dengan menambahkan
2-3 tetes HCl pekat.
3. Membasakan sampel dengan menambahkan larutan NaOH 1 N
hingga pH menjadi 100,01.
4. Menambahkan indikator EBT secukupnya
5. Menitrasi dengan larutan EDTA 0,01 M sampai terjadi
perubahan warna dari merah muda menjadi biru.

III-3

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III Metodologi Percobaan


III.5. Diagram Alir Percobaan
III.5.1. Diagram Alir Tahap Proses Pelunakan (Softener)
Mulai
Melakukan pengecekan terhadap valve maupun pompa.
Mengatur pembukaan valve sehingga tidak ada aliran menuju
resin anion (air keluar dari bagian bawah setelah resin penukar
kation tanpa melewati resin penukar anion).
Mengisi bak penampung E1 dengan air PDAM yang sebelumnya
telah dianalisa (pH, TDS, Ca-Hardness, Total Hardness) sebagai
sampel yang digunakan
Menyalakan pompa.
Menampung air yang telah melewati resin kation dalam bak
Selesai
III.5.1. Tahap Analisis
III.5.2.1 Analisis pH
Mulai
Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml
Memasukkan masing-masing sampel dalam erlenmeyer
Mengukur pH untuk tiap sampel menggunakan pH meter

Selesai
III-4

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III Metodologi Percobaan


III.5.2.2 Analisis TDS (Total Dissolved Solid)
Mulai
Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml
Memasukkan masing-masing sampel dalam erlenmeyer
Mengukur pH untuk tiap sampel menggunakan TDS meter yang
telah dikalibrasi.
Selesai
III.5.2.3 Penentuan Ca-Hardness
Mulai
Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml.
Membuat pH setiap sampel menjadi 3 dengan menambahkan 2-4
tetes HCl pekat kemudian mendidihkan sampel.
Mendinginkan sampel.
Menambahkan larutan NaOH 1 N hingga pH menjadi 100,01.
Menambahkan indikator murexid secukupnya.
Menitrasi dengan larutan EDTA 0,01 M sampai terjadi
perubahan warna dari merah muda menjadi ungu
Selesai

III-5

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III Metodologi Percobaan


III.5.2.4 Penentuan Total Hardness
Mulai
Mengambil masing-masing sampel sebanyak 10 ml.
Membuat pH setiap sampel menjadi 3 dengan menambahkan 2-4
tetes HCl pekat.

Menambahkan larutan NaOH 1 N hingga pH menjadi 100,01.


Menambahkan indikator EBT secukupnya.
Menitrasi dengan larutan EDTA 0,01 M sampai terjadi
perubahan warna dari merah muda menjadi ungu
Selesai

III-6

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III Metodologi Percobaan


III.6 Gambar Alat Percobaan

Beaker glass

Gelas Ukur

Buret dan statif

III-7

Pemanas Elektrik

Pipet Tetes

pH Meter

Erlenmeyer

TDS meter

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB III Metodologi Percobaan

Demin plant

III-8

Program Studi D3 Teknik Kimia


Laboratorium Pengolahan Air Industri Kimia

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
Tabel IV.1 Hasil Pengamatan Air PDAM Gebang Lor 14 Surabaya
Parameter

In

Out

pH

7,34

7,87

TDS

357 ppm

362 ppm

Ca-Hadrness

250,225 ppm

55,0495 ppm

Total Hardness

390,351 ppm

345,31 ppm

IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Analisa TDS (Total Dissolve Solid)
Kadar TDS yang kecil akan makin baik untuk menghasilkan panas
dan menghantarkan panas boiler. Bila parameter TDS berada diatas
standar maka air boiler akan di blow down. Pada blow down dimana air
dikontrol dengan alat kontrol listrik atau mengukur air yang masuk
pada ketel. Artinya apabila zat padat terlarut dalam air (TDS) tinggi
diganti dengan zat padat terlarut (TDS) yang rendah dengan blow down
yang kontinyu.
IV.2.2 Analisa Kesadahan Ca dan Kesadahan Total
Terjadi penurunan nilai TDS antara air sebelum dan sesudah
treatment, hal ini sesuai dengan literatur bahwa proses pelunakan air
yaitu softener untuk menghilangkan unsur-unsur kesadahan (seperti
Mg, Ca dan lain-lain).
Bagi air industri, unsur Ca dapat menyebabkan kerak pada dinding
peralatan sistem pemanasan sehingga dapat menyebabkan kerusakan
pada peralatan industri, disamping itu dapat menghambat proses
pemanasan. Masalah ini dapat mengakibatkan penurunan kinerja
industri yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian. Oleh
karena

itu

persyaratan

kesadahan

pada

air

industri

sangat

diperhatikan. Pada umumnya jumlah kesadahan pada air industri


harus 0, berarti unsur Ca dan Mg dihilangkan sama sekali.

IV-1

BAB V
KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut :
1. Nilai pH yang diperoleh dari air softener adalah 7,87. Hal ini tidak sesuai
dengan Standard Kualitas Air Boiler menurut ABMA yang menyebutkan
bahwa nilai pH untuk pengisi air ketel sebesar lebih dari 8,5.
2. Nilai kesadahan total dari air softener adalah 345,31 ppm. Hal ini tidak
sesuai dengan Standard Kualitas Air Boiler menurut ABMA yang
menyebutkan bahwa nilai kesadahan total air untuk umpan boiler
adalah maksimal sebesar 60 ppm.
3. Nilai Ca Hardness dari air softener adalah 55,0495 ppm. Hal ini sesuai
dengan Standard Kualitas Air Boiler menurut ABMA yang menyebutkan
bahwa nilai Ca-hardness maksimal sebesar 60 ppm CaCO3.
4. Nilai TDS dari air softener yang didapat sebesar 362 mg/liter. Hal ini
sesuai dengan Standard Kualitas Air Boiler menurut ABMA yang
menyebutkan bahwa nilai TDS air untuk umpan boiler adalah maksimal
4000 ppm.
5. Dari hasil analisa yang dilakukan pada Air Gebang Lor 14, air tersebut
belum dapat digunakan sebagai air umpan boiler.

V-1