Anda di halaman 1dari 4

Delta plain

Delta plain merupakan bagian kearah darat dari suatu delta. Umumnya terdiri dari
endapan marsh dan rawa yang berbutir halus seperti serpih dan bahan-bahan
organik (batubara). Delta plain merupakan bagian dari delta yang karakteristik
lingkungannya didominasi oleh proses fluvial dan tidal. Pada delta plain sangat
jarang ditemukan adanya aktivitas dari gelombang yang sangat besar. Daerah delta
plain ini ditoreh (incised) oleh fluvial distributaries dengan kedalaman berkisar dari
5 30 m. Pada distributaries channel ini sering terendapkan endapan batupasir
channel-fill yang sangat baik untuk reservoir (Allen & Coadou, 1982).

Delta front
Delta front merupakan daerah dimana endapan sedimen dari sungai bergerak
memasuki cekungan dan berasosiasi/berinteraksi dengan proses cekungan
(basinal). Akibat adanya perubahan pada kondisi hidrolik, maka sedimen dari sungai
akan memasuki cekungan dan terjadi penurunan kecepatan secara tiba-tiba yang
menyebabkan diendapkannya material-material dari sungai tersebut. Kemudian
material-material tersebut akan didistribusikan dan dipengaruhi oleh proses basinal.
Umumnya pasir yang diendapkan pada daerah ini terendapkan pada distributary
inlet sebagai bar. Konfigurasi dan karakteristik dari bar ini umumnya sangat cocok
sebagai reservoir, didukung dengan aktivitas laut yang mempengaruhinya (Allen &
Coadou, 1982).

Prodelta
Prodelta adalah bagian delta yang paling menjauh kearah laut atau sering disebut
pula sebagai delta front slope. Endapan prodelta biasanya dicirikan dengan
endapan berbutir halus seperti lempung dan lanau. Pada daerah ini sering
ditemukan zona lumpur (mud zone) tanpa kehadiran pasir. Batupasir umumnya
terendapkan pada delta front khususnya pada daerah distributary inlet, sehingga
pada daerah prodelta hanya diendapkan suspensi halus. Endapan-endapan prodelta
merupakan transisi kepada shelf-mud deposite. Endapan prodelta umumnya sulit
dibedakan dengan shelf-mud deposite. Keduanya hanya dapat dibedakan ketika
adanya suatu data runtutan vertikal dan horisontal yang baik (Reineck & Singh,
1980).

Delta dapat terjadi pada berbagai macam tubuh air dimana endapan sungai lebih banyak yang
diendapkan dibandingkan dengan endapan yang disapu atau dibawa gelombang atau arus.
Sedangkan syarat-syarat terbentuknya delta adalah :
1. Adanya sungai yang mengalir ke hilir.
2. Tidak ada gerakan tektonik yang mengakibatkan penurunan dasar laut atau danau yang
besar.
3. Terdapat proses pengendapan.
Proses yang berperan membentuk delta
1. Proses Fluvial (Fluvial Dominated)
2. Proses Gelombang (Wave dominated)
3. Proses Pasang Surut (Tide Dominated)

Klasifikasi Delta
Klasifikasi merupakan suatu usaha pengelompokkan berdasarkan kesamaan sifat,
fisik yang dapat teramati (Tabel 4.1). Dalam hal klasifikasi delta, ada beberapa
klasifikasi yang sering digunakan. Klasifikasi delta yang sering digunakan adalah
klasifikasi menurut Galloway, 1975 dan klasifikasi menurut Fisher, 1969
Dalam klasifikasi Galloway (1975) ditampilkan beberapa contoh delta di dunia yang
mewakili tipikal proses yang relatif dominan bekerja membentuk setiap tipikal delta,
sebagai contoh fluvial dominated delta akan membentuk delta yang berbentuk
elongate contohnya adalah Delta Missisipi, kemudian tide dominated delta akan
membentuk delta yang berbentuk estuarine contohnya Delta GanggaBrahmaputra, selanjutnya wave dominated delta akan menghasilkan delta yang
berbentuk cuspate contohnya Delta San Fransisco. Namun, pada dasarnya setiap
delta yang terdapat di dunia tidaklah murni dihasilkan oleh dominasi salah satu
faktor pengontrol di atas, namun lebih merupakan hasil interaksi antara dua atau
bahkan tiga faktor pengontrol, sebagai contoh Delta Mahakam dan Delta Ebro yang
berbentuk lobate yang dihasilkan utamanya dari proses fluvial dan tidal dengan
sedikit pengaruh gelombang (wave),
Selain klasifikasi menurut Galloway, juga terdapat klasifikasi menurut Fisher (1969).
Dalam klasifikasi ini, Fisher menyimpulkan bahwa proses pembentukan delta
dipengaruhi oleh dua faktor pengontrol utama yaitu proses fluvial dan pasokan
sedimen, serta proses asal laut (marine processes). Berdasarkan dominasi salah
satu faktor tersebut, Fisher dalam klasifikasinya membagi delta menjadi dua
kelompok yaitu delta yang bersifat high constructive, apabila proses fluvial dan
pasokan sedimen yang dominan mengontrol pembentukan delta dan delta yang
bersifat high desctructive apabila proses asal laut yang lebih dominan. Pada gambar
klasifikasi Fisher dapat dilihat beberapa geometri delta berdasarkan proses dominan
yang mengontrolnya menurut Fisher et al., (1969)

1.Fluvial Dominated Delta

Terjadi ketika delta tersebut didominasi oleh sistem sungai yang proses pasang
surut atau gelombangnya sedikit sehingga proses pengendapan lebih intens dan
sedimen terus tersuplai. Membuat delta ini berbentuk seperti kaki burung (birds
foot delta). Endapan yang terjadi adalah lempung, lanau, dan pasir.
1.Wave Dominated Delta

Proses pengendapan pada delta ini masih terjadi namun gelombang memiliki
dominansi untuk mengerosi tepi luar struktur delta sehingga memudahkan untuk
memberikan gambaran tentang delta itu sendiri. Bentuk delta tipe ini adalah
Arcuate dan endapannya kebanyakan pasir.
1.Tidal (Pasang Surut) Dominated Delta

Proses pengendapan delta yang didominasi oleh pasang surut. Biasa terjadi pada
suatu daerah pasang surut yang cukup luas atau kecepatan pasang surut yang
tinggi. Dengan kondisi seperti itu maka suplai sedimen lebih didukung oleh pasang
surut yang kuat dan kecenderungan membentuk delta menjadi kecil. Fitur lain yang
dihasilkan adalah bahwa ia memiliki banyak struktur linier sejajar dengan arus
pasang surut dan tegak lurus ke lepas pantai.

1.Fluvial Dominated Delta


Terjadi ketika delta tersebut didominasi oleh sistem sungai yang proses pasang
surut atau gelombangnya sedikit sehingga proses pengendapan lebih intens dan
sedimen terus tersuplai. Membuat delta ini berbentuk seperti kaki burung (birds
foot delta).Endapan yang terjadi adalah lempung, lanau, pasir. Model stratigrafi
yang terdapat pada delta model ini adalah coarsening upward sequence.
2.Wave Dominated Delta
Proses pengendapan pada delta ini masih terjadi namun gelombang memiliki
dominansi untuk mengerosi tepi luar struktur delta sehingga memudahkan untuk
memberikan gambaran tentang delta itu sendiri. Bentuk delta tipe ini adalah
Arcuate dan endapannya kebanyakan pasir. Contoh tipe ini adalah Delta Sungai Nil.
[Penjelasan Arcuate cari di gugel yo]. Model stratigrafi tipe ini juga menunjukkan
coarsening upward sequence tapi mungkin bedanya pada sekuen-sekuennya, kalo
yang sebelumnya ada yang mengalami coarsening pada sekuen tebal dan kecil/tipis
akan tetapi pada tipe ini hampir di seluruhnya.
3.Tidal (Pasang Surut) Dominated Delta

Proses pengendapan delta yang didominasi oleh pasang surut. Biasa terjadi pada
suatu daerah pasang surut yang cukup luas atau kecepatan pasang surut yang
tinggi. Dengan kondisi seperti itu maka suplai sedimen lebih didukung oleh pasang
surut yang kuat dan kecenderungan membentuk delta menjadi kecil. Fitur lain yang
dihasilkan adalah bahwa ia memiliki banyak struktur linier sejajar dengan arus
pasang surut dan tegak lurus ke lepas pantai. Model stratigrafinya juga sama yaitu
coarsening upward sequence yang tersusun atas interbedded sand, lempung, lanau,
pasir halus, pasir kasar.

Huki, Luci. 2012. Pengendapan (sedimentasi). http://manfaatpengetahuan.blogspot.com/2012/11/pengendapan-sedimentasi/html. Diakses pada 26 Mei 2013.
Satyana, Awang Harun. 2007. Bencana Geologi dalam Sandhykla Jenggala dan
Majapahit : Hipotesis Erupsi Gununglumpur Historis Berdasarkan Kitab Pararaton, Serat
Kanda, Babad Tanah Jawi; Folklor Timun Mas; Analogi Erupsi LUSI; dan Analisis Geologi
Depresi Kendeng-Delta Brantas. BPMIGAS. Bali.
Thok, Tugino. 2012. Daftar Nama Delta di Indonesia.
http://mastugino.blogspot.com/2012/09/daftar-nama-delta-di-indonesia.html. Diakses pada 26
Mei 2013.
Tadlock, Justin. 2013. Lingkungan Pengendapan Transisi.
http://poncoaw.wordpress.com/2013/04/20/lingkungan-pengendapan-transisi/. Diakses pada 26
Mei 2013.
Allen, G.P., Laurier, D., Thouvenin, J.M., 1976, Sediment Distribution Pattern In The
Modern Mahakam Delta, Indonesian Petroleum Association, Proceedings 5th Annual
Convention Jakarta, p 159-178.
Bachtiar, A., et.al., 1999, Geological Study on Semberah Block, Final Report. PT
Intibumi Sarana Makmur (GDA Group)
Fisher, W.L., Brown, L.F., Scott, A.J., and McGowen, J.H., 1969. Delta System in The
Exploration for Oil & Gas. A research Colloquium, Bureau of Economic Geology,
University of Texas at Austin, Austin, Texas.
Galloway, W.E., 1983, Depositional System and Sequence in The Exploration for
Sandstone and Stratigraphic Traps, Springer Verlag, New York, USA.
Koesoemadinata, R.P., 1978. Geologi Minyak dan Gas Bumi. ITB, Bandung.