Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Laringitis merupakan suatu proses inflamasi pada laring yang dapat terjadi baik akut
maupun kronik. Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan berlangsung dalam kurun waktu
kurang lebih 3 minggu. Bila gejala telah lebih dari 3 minggu dinamakan laringitis kronis. Pada
peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal, kadang-kadang pada pemeriksaan
patologik terdapat metaplasia skuamosa. Pembengkakan melibatkan pita suara yang memicu
terjadinya suara parau hingga hilangnya suara. 1
Inflamasi atau infeksi pada laring dapat dibagi menjadi laringitis akut dan laringitis
kronis, infeksi maupun non infeksi, inflamasi lokal maupun sistemik yang melibatkan laring.
Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan biasanya muncul dengan gejala yang lebih
dominan seperti gangguan pernafasan dan demam. Laringitis kronis biasanya terjadi bertahap
dan telah bermanifestasi beberapa minggu sebelum pasien datang ke dokter dengan keluhan
gangguan pernafasan dan nyeri. 2
Diagnosis laringitis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari. Laringitis akut
umunya bersifat self limited. bila terapi dilakukan dengan baik maka prognosisnya sangat baik.
Pada laringitis kronis prognosis bergantung kepada penyebab dari laringitis kronis tersebut. 2
Laringitis kronis terbanyak disebabkan oleh iritasi misalnya asap rokok, sehingga pasien
disarankan beristirahat total dengan menghentikan kebiasaan merokok dan demikian pula pada
laringitis kronis akibat penyalahgunaan suara, pasien disarankan beristirahat. Pada pasien non
perokok, kemungkinan besar laringitis kronis dipicu oleh iritasi silent dari asam lambung,
sehingga perlu diberikan anti-refluks dari penyekat H2 hingga penyekat pompa proton, disertai
modifikasi gaya hidup. 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Embriologi
Faring, laring, trakea dan paru merupakan derivat foregut embrional yang
terbentuk sekitar 18 hari setelah terjadi konsepsi. Tidak lama sesudahnya terbentuk alur faring
median yang berisi petunjuk-petunjuk pertama sistem pernafasan dan benih laring. Sulkus atau
alur laringotrakeal mulai nyata sekitar hari ke 21 kehidupan embrio. Perluasan alur ke kaudal
merupakan primaordial paru. Alur menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung dan kemudian
menjadi dua lobus pada hari ke 27 atau 28. Bangian yang paling proksimal dari tuba akan
menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina epitelial dapat dikenali pada hari ke 33.
Sedangkan kartilago, otot, dan sebagian besar pita suara terbentuk dalam 3-4 minggu
berikutnya.Hanya kartilago epiglotis yang tidak terbentuk hingga masa midfetal. Banyak
struktur merupakan derivat aparatus brankialis. 3
2.2. Anatomi
Laring berada di depan dan sejajar dengan vetebra cervikal 4 sampai 6, bagian atasnya
yang aka melanjutkan ke faring berbentuk seperti bentuk limas segitiga dan bagian bawahnya yg
akan melanjutkan ke trakea berbentuk seperti sirkular. Laring dibentuk oleh sebuah tulang yaitu
tulang hioid di bagian atas dan beberapa tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U,
yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak oleh tendon dan
otot-otot. Saat menelan, konstraksi otot-otot (M.sternohioid dan M.Tirohioid) ini akan
menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk
membantu menggerakan lidah. 3
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago tiroid, krikoid, aritenoid,
kornikulata, kuneiform, dan epiglotis. Kartilago tiroid, merupakan tulang rawan laring yang
terbesar, terdiri dari dua lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah
belakang. Tulang rawan ini berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan

membentuk adams apple dan di dalam tulang rawan ini terdapat pita suara, dihubungkan
dengan kartilago krikoid oleh ligamentum krikotiroid. 3
Kartilago krikoid terbentuk dari kartilago hialin yang berada tepat dibawah kartilago
tiroid berbentuk seperti cincin signet, pada orang dewasa kartilago krikoid terletak setinggi
dengan vetebra C6 sampai C7 dan pada anak-anak setinggi vetebra C3 sampai C4. Kartilago
aritenoid mempunyai ukuran yang lebih kecil, bertanggung jawab untuk membuka dan menutup
laring, berbentuk seperti piramid, terdapat 2 buah (sepasang) yang terletak dekat permukaan
belakang laring dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid, sendi ini disebut artikulasi
krikoaritenoid. 3
Sepasang kartilago kornikulata atau bisa disebut kartilago santorini melekat pada
kartilago aritenoid di daerah apeks dan berada di dalam lipatan ariepiglotik. Sepasang kartilago
kuneiformis atau bisa disebut kartilago wrisberg terdapat di dalam lipatan ariepiglotik , kartilago
kornikulata dan kuneiformis berperan dalam rigiditas dari lipatan ariepiglotik. Sedangkan
kartilago tritisea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral. 3

Gambar 1. Anatomi Laring


Epiglotis merupakan Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang
dasar lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang kartilago thyroidea. Plica aryepiglottica,
berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan
masuk laring. 3

Membrana mukosa di Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius, terdiri dari
sel-sel silinder yang bersilia. Plica vocalis dilapisi oleh epitel skuamosa. Plica vocalis adalah dua
lembar membrana mukosa tipis yang terletak di atas ligamenturn vocale, dua pita fibrosa yang
teregang di antara bagian dalam kartilago thyroidea di bagian depan dan cartilago arytenoidea di
bagian belakang. Plica vocalis palsu adalah dua lipatan membrana mukosa tepat di atas plica
vocalis sejati. Bagian ini tidak terlibat dalarn produksi suara.
Pada laring terdapat 2 buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi
krikoaritenoid. Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid
(anterior, lateral, dan posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum

krikotiroid

posterior, ligamentum kornikulofaringeal, ligamentum hiotoroid lateral, ligamentum hiotiroid


media, ligamentum hioepiglotica, ligamentum ventricularis , ligamentum vocale yang
menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid dan ligamentum tiroepiglotica.
Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot instrinsik,
otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sedangkan otot-otot
instrinsik menyebabkan gerakan bagian-bagian laring sendiri. Otot-otot ekstrinsik laring ada
yang terletak diatas tulang hyoid (suprahioid), dan ada yang terletak dibawah tulang hyoid
(infrahioid). Otot ekstrinsik yang supra hyoid ialah M. Digastricus, M.Geniohioid, M.Stylohioid,
dan M.Milohioid. Otot yang infrahioid ialah M.sternohioid dan M.Tirohioid. Otot-otot ekstrinsik
laring yang suprahioid berfungsi menarik laring kebawah, sedangkan yang infrahioid menarik
laring keatas. Otot-otot intrinsik laring ialah M. Krikoaritenoid lateral. M.Tiroepiglotica,
M.vocalis,M. Tiroaritenoid, M.Ariepiglotica, dan M.Krikotiroid. Otot-otot ini terletak di bagian
lateral laring.Otot-otot intrinsik laring yang terletak di bagian posterior, ialah M.aritenoid
transversum, M.Ariteniod obliq dan M.Krioaritenoid posterior. 3
2.2.1. Rongga laring.
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laring, batas bawahnya ialah
bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan belakang
epiglottis, tuberkulum epiglotic, ligamentum tiroepiglotic, sudut antara kedua belah lamina
kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membran kuadranagularis,

kartilago aritenoid, konus elasticus, dan arkus kartilago krikoid, sedangkan batas belakangnya
ialah M.aritenoid transverses dan lamina kartilago krikoid. 2
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vocale dan ligamentum ventrikulare,
maka terbentuklah plika vocalis (pita suara asli) dan plica ventrikularis (pita suara palsu). Bidang
antara plica vocalis kiri dan kanan, disebut rima glottis, sedangkan antara kedua plica
ventrikularis disebut rima vestibuli. Plica vocalis dan plica ventrikularis membagi rongga laring
dalam tiga bagian, yaitu vestibulum laring , glotic dan subglotic.
Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat diatas plica ventrikularis. Daerah ini
disebut supraglotic. Antara plica vocalis dan pita ventrikularis, pada tiap sisinya disebut
ventriculus laring morgagni.
Rima glottis terdiri dari dua bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago.
Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plica vocalis, dan terletak dibagian anterior,
sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak di
bagian posterioir. Daerah subglotic adalah rongga laring yang terletak di bawah pita suara
(plicavocalis). 2

Gambar 2. Pita suara


2.2.2. Persyarafan
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringeus superior dan
laringeus inferior (recurrent). Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik dan sensorik.
Nervus laryngeus superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada

mukosa laring dibawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak diatas m.konstriktor faring
medial, disebelah medial a.karotis interna, kemudian menuju ke kornu mayor tulang hyoid dan
setelah menerima hubungan dengan ganglion servikal superior, membagi diri dalam 2 cabang,
yaitu ramus eksternus dan ramus internus. 2
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.konstriktor faring inferior dan menuju
ke m.krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh m.tirohioid terletak disebelah medial
a.tiroid superior, menembus membran hiotiroid, dan bersama-sama dengan a.laringeus superior
menuju ke mukosa laring. 2
Nervus laringeus inferior merupakan lanjutan dari n.rekuren setelah saraf itu memberikan
cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan lanjutan dari n.vagus.
Nervus rekuren kanan akan menyilang a.subklavia kanan dibawahnya, sedangkan
n.rekuren kiri akan menyilang aorta. Nervus laringis inferior berjalan diantara cabang-cabang
arteri tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai pada
permukaan medial m.krikofaring. Disebelah posterior dari sendi krikoaritenoid, saraf ini
bercabang dua menjadi ramus anterior dan ramus posterior, Ramus anterior akan mempersarafi
otot-otot intrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus posterior mempersyarafi otot-otot
intrinsik laring superior dan mengadakan anstomosis dengan n.laringitis superior ramus
internus.2
2.2.3. Pendarahan
Perdarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior dan a.laringis
inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. A.laringis superior
berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membrane tirohioid bersama-sama dengan
cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus membrane ini untuk berjalan ke
bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis, untuk memperdarahi
mukosa dan otot-otot laring. 2
Arteri laringis inferior merupakan cabang dari a.tiroid inferior dan bersama-sama dengan
n.laringis inferior berjalan ke belakang sendri krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir

bawah dari m.konstriksor faring inferior. Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang,
memperdarahi mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior. Vena laringis
superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan a.laringis superior dan inferior dan
kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior. 2

2.2.4. Pembuluh Limfe


Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vocal. Disini mukosanya
tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vocal pembuluh limfa dibagi
dalam golongan superior dan inferior. 3
Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus piriformis dan
a.laringeus superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior
rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior berjalan kebawah dengan
a.laringeus inferior dan bergabung dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa dintaranya
menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular. 3
2.3. Fisiologi
Laring berfungsi sebagai proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, respirasi, sirkulasi, menelan,
emosi dan fonasi. Fungsi laring untuk proteksi adalah untuk mencegah agar makanan dan benda
asing masuk kedalam trakea dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis yang secara
bersamaan. Benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dan sekret yang berasal dari paru juga
dapat dikeluarkan lewat reflek batuk. Fungsi respirasi laring dengan mengatur mengatur besar
kecilnya rima glotis. Dengan terjadinya perubahan tekanan udara maka didalam traktus trakeobronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Oleh karena itu laring juga mempunyai
fungsi sebagai alat pengatur sirkulasi darah. Fungsi laring dalam proses menelan mempunyai tiga
mekanisme yaitu gerakan laring bagian bawah keatas, menutup aditus laringeus, serta
mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk kedalam laring. Laring
mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti berteriak, mengeluh, menangis dan

lain-lain yang berkaitan dengan fungsinya untuk fonasi dengan membuat suara serta
mementukan tinggi rendahnya nada.2
2.4. Laringitis
Laringitis merupakan suatu proses inflamasi pada laring yang dapat terjadi baik akut
maupun kronik. Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan berlangsung dalam kurun waktu
kurang lebih 3 minggu. Bila gejala telah lebih dari 3 minggu dinamakan laringitis kronis.1
2.4.1. Laringitis Akut
Laringitis akut adalah radang akut laring yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang
berlangsung kurang dari 3 minggu dan pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus influenza
(tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah
Haemofilus influenzae, Branhamella catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus
dan Streptococcus pneumoniae. 4
Radang akut laring pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis akut
(common cold). Sedangkan laringitis kronik merupakan radang kronis laring yang dapat
disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang berat, polip hidung atau bronkitis kronis.
Mungkin juga disebabkan oelh penyalahgunaan suara (vocal abuse) seperti berteriak-teriak atau
biasa berbicara keras.1
2.4.1.1. Epidemiologi
Dari penelitian di Seattle Amerika, didapatkan angka serangan croup pada bayi usia 0-5
bulan didapatkan 5.2 dari 1000 anak per tahun, pada bayi usia 6-12 bulan didapatkan 11 dari
1000 anak per tahun, pada anak usia 1 tahun didapatkan 14.9 dari 1000 anak per tahun, pada
anak usia 2-3 tahun didapatkan 7.5 dari 1000 anak per tahun, dan pada anak usia 4-5 tahun
didapatkan 3.1 dari 1000 anak per tahun. Laringitis atau croup mempunyai puncak insidensi pada

usia 1-2 tahun. Sebelum usia 6 tahun laki-laki lebih mudah terserang dibandingkan perempuan,
dengan perbandingan laki-laki/perempuan 1.43:1. Banyak dari kasus-kasus croup timbul pada
musim gugur dimana kasus akibat virus parainfluenza lebih banyak timbul. Pada literatur lain
disebutkan croup banyak timbul pada musim dingin, tetapi dapat timbul sepanjang tahun.
Kurang lebih 15% dari para penderita mempunyai riwayat croup pada keluarganya.4

2.4.1.2. Etiologi
Sebagai penyebab radang ini ialah bakteri, yang menyebabkan radang local atau virus
yang menyebabkan peradangan sistemik.
1

Laryngitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas seperti influenza
atau common cold. Infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3),
rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah Haemofilus influenza, Branhamella
catarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus dan Streptococcus

2
3
4
5
6
7
8
9

pneumonia.
Gastro esofageal reflux disease (GERD).
Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim / cuaca.
Pemakaian suara yang berlebihan (vocal trauma).
Environmental insults (polusi).
Trauma.
Bahan kimia.
Merokok dan minum-minum alcohol.
Alergi. 1

2.4.1.3. Patofisiologi
Laryngitis akut merupakan inflamasi dari mukosa laring dan pita suara yang berlangsung
kurang dari 3 minggu. Parainfluenza virus, yang merupakan penyebab terbanyak dari laryngitis,

masuk melalui inflamasi dan menginfeksi sel dari epithelium saluran nafas local yang bersilia,
ditandai dengan edema dari lamina propria, submukosa, dan adventitia, diikuti dengan infiltrasi
selular dengan histosit, limfosit, sel plasma dan lekosit polimorfonuklear (PMN). Terjadi
pembengkakan dan kemerahan dari saluran nafas yang terlibat, kebanyakan ditemukan pada
dinding lateral dari trakea di bawah pita suara. Karena trakea subglotis dikelilingi oleh kartilago
krikoid, maka pembengkakan terjadi pada lumen saluran nafas dalam, menjadikannya sempit,
bahkan sampai hanya sebuah celah. 3
Daerah glottis dan subglotis pada bayi normalnya sempit, dan pengecilan sedikit saja dari
diameternya akan berakibat peningkatan hambatan saluran nafas yang besar dan penurunan
aliran udara. Seiring dengan membesarnya diameter saluran nafas sesuai dengan pertumbuhan
maka akibat dari penyempitan saluran nafas atas akan berakibat terjadinya stridor dan kesulitan
bernafas yang menuju pada hipoksia ketika sumbatan yang terjadi berat. Hipoksia dengan
sumbatan yang ringan menandakan keterlibatan saluran nafas bawah dan ketidak seimbangan
ventilasi dan perfusi akibat sumbatan dari saluran nafas bawah atau infeksi parenkim paru atau
bahkan adanya cairan.3
2.4.1.4. Gejala Klinis dan Diagnosis
1

Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien sebagai suara yang kasar
atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari suara yang biasa /
normal dimana terjadi gangguan getaran serta ketegangan dalam pendekatan kedua pita
suara kiri dan kanan sehingga menimbulkan suara menjadi parau bahkan sampai tidak

2
3
4
5

bersuara sama sekali (afoni).


Sesak nafas dan stridor.
Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menelan atau berbicara.
Gejala radang umum seperti demam, malaise.
Batuk kering yang lama-kelamaan disertai dahak kental. 2

Gejala common cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit menelan,
sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demam dengan temperature
yang tidak mengalami peningkatan dari 38C.
Gejala influenza seperti bersin-bersin , nyeri tenggorok hingga sulit menelan, sumbatan

hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demam dengan peningkatan suhu
yang sangat berarti yakni lebih dari 38C, dan adanya rasa lemah, lemas yang disertai
dengan nyeri di seluruh tubuh.
Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis, membengkak

terutama di bagian atas dan bawah pita suara dan juga didapatkan tanda radang akut di
hidung atau sinus paranasal atau paru.
Obstruksi jalan nafas apabila ada oedem laring diikuti oedem subglotis yang terjadi

dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anak menjadi gelisah,
air hunger, sesak semakin bertambah berat, pemeriksaan fisik akan ditemukan retraksi
suprasternal dan epigastrium yang dapat menyebabkan keadaan darurat medic yang dapat
mengancam jiwa anak. 2
2.4.1.5. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik untuk mendukung diagnosa :
a Laringoskopi indirek ditemukan mukosa laring yang sangat sembab, hiperemis dan
tanpa membran serta tampak pembengkakan subglotis yaitu pembengkakan jaringan
b

ikat pada konus elastikus yang akan tampak di bawah pita suara.
Ditemukan tanda radang akut di hidung atau sinus paranasal atau paru.5

2.4.1.6. Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosa
a Foto Rontgen leher AP : bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis (Steeple sign).

Pemeriksaan laboratorium : gambaran darah dapat normal. Jika disertai infeksi

sekunder, lekositosis ringan dan limfositosis.


Pemeriksaan kultur : bila didapatkan eksudat di orofaring atau plika suara, dapat
dilakukan untuk mengetahui penyebab infeksi. Dari darah dapat didapatkan dan
limfositosis. 5

2.4.1.7. Diagnosa Banding


Diagnosa banding yang dapat diperkirakan dalam penentuan diagnosa laringitis akut, antara
lain:
a Benda asing pada laring
b Faringitis
c Bronkiolitis
d Bronkitis
e Pnemonia
f Laringitis kronik atau Alergi
g Reflux Laryngitis
h Spasmodic Dysphonia. 5
2.4.1.8. Penatalaksanaan
1

Indikasi Rawat Rumah Sakit :


Pasien dinyatakan perlu untuk rawat rumah sakit jika dalam kondisi
a Usia penderita dibawah 3 tahun
b Tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau axhausted
c Diagnosis penderita masih belum jelas
d Perawatan dirumah kurang memadai. 5
Terapi Umum :
Pengobatan edukatif (non-medikamentosa) yang dapat diberikan kepada pasien :
a Istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari.
b Jika pasien sesak dapat diberikan O2 2 L/ menit.
c Menghirup uap hangat dan dapat ditetesi minyak atsiri / minyak mint bila ada
muncul sumbatan di hidung atau penggunaan larutan garam fisiologis (saline 0,9
d

%) yang dikemas dalam bentuk semprotan hidung atau nasal spray.


Mengindari iritasi pada faring dan laring, misalnya merokok, makanan pedas atau

minum es.
Terapi Tambahan
Tindak lanjut penatalaksanaan dalam kondisi yang sudah cukup berat :
a Pengisapan lendir dari tenggorok atau laring.

b
4

Bila penatalaksanaan ini tidak berhasil maka dapat dilakukan endotrakeal atau

trakeostomi bila sudah terjadi obstruksi jalan nafas.


Terapi Medikamentosa
Terapi obat-obatan untuk menunjang proses perlawanan terhadap infeksi :
a Demam : Parasetamol atau ibuprofen / antipiretik.
b Hidung tersumbat : dekongestan nasal seperti fenilpropanolamin (PPA), efedrin,
c

pseudoefedrin, napasolin dapat diberikan dalam bentuk oral ataupun spray.


Antibiotika yang adekuat apabila peradangan berasal dari paru. 5
Ampisilin 100 mg/kgBB/hari, IV, terbagi 4 dosis
Kloramfenikol :50 mg/kgBB/hari, IV, terbagi dalam 4 dosis
Sefalosporin generasi 3 (cefotaksim atau ceftriakson)
Kortikosteroid IV : deksametason 0,5mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis,
diberikan selama 1-2 hari. 5

2.4.1.9. Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya laringitis akut dapat dengan :
1 Jangan merokok dan menghindari asap rokok karena rokok akan membuat tenggorokan
2

kering dan mengakibatkan iritasi pada pita suara.


Minum banyak air karena cairan akan membantu menjaga agar lendir yang terdapat

3
4

pada tenggorokan tidak terlalu banyak dan mudah untuk dibersihkan.


Membatasi penggunaan alkohol dan kafein untuk mencegah tenggorokan kering.
Jangan berdehem untuk membersihkan tenggorokan karena berdehem
menyebabkan

terjadinya

vibrasi

abnormal

pada

pita

suara,

akan

meningkatkan

pembengkakan dan berdehem juga akan menyebabkan tenggorokan memproduksi lebih


banyak lendir. 5
2.4.1.10 Komplikasi
Pada beberapa kasus pada laringitis yang disebabkan oleh infeksi dapat menyebar ke bagian
lain pada saluran pernafasan. 2
2.4.1.11 Prognosis

Prognosis untuk penderita laryngitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama
satu minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat menyebabkan
oedem laring dan oedem subglotis sehingga dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas dan bila
hal ini terjadi dapat dilakukan pemasangan pipa endotrakeal atau trakeostomik. 4
2.4.2. Laringitis Kronik
2.4.3. Laringitis Kronik Non-Spesifik

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Laringitis akut merupakan kelainan pada laring yakni peradangan akut pada laring yang
biasanya kelanjutan dari penyakit rhinofaringitis atau common cold. Penyakit ini pada orang
dewasa merupakan penyakit yang ringan saja namun tidak bagi penderita anak kurang dari 3
tahun. Hal ini dikarenakan pada anak dapat menimbulkan udem laring dan subglotis sehingga
obstruksi jalan nafas yang sangat berbahaya dalam waktu beberapa jam saja penderita akan
mengalami total jalan nafas sementara itu pada orang dewasa tidak terjadi secepat pada anak.
Laringitis akut ini dapat terjadi dari kelanjutan infeksi saluran nafas seperti influenza atau
common cold. infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus dan
adenovirus. Penyakit ini dapat terjadi karena perubahan musim / cuaca, pemakaian suara yang
berlebihan, trauma, bahan kimia, dan minum-minum alkohol dan alergi.
Manifestasi klinis laringitis sangat tergantung pada beberapa faktor seperti kausanya,
besarnya edema jaringan, regio laring yang terlibat secara primer dan usia pasien. Pasien
biasanya datang dengan keluhan satu gejala atau lebih seperti rasa tidak nyaman pada tenggorok,
batuk, perubahan kualitas suara atau disfonia, odinofonia, disfagia, odinofagia, batuk, dispneu
atau stridor. Manifestasi laringitis kronis terutama pada laringitis kronis iritasi yang paling berat
adalah terjadinya ulserasi epitelium laring dengan granulasi.
Umumnya penderita laringitis akut tidak perlu dirawat dirumah sakit namun ada indikasi
dirawat di rumah sakit apabila penderitanya berumur kurang dari setahun, tampak toksik,
sianosis, dehidrasi atau axhausted, diagnosis penderita masih belum jelas dan perawatan dirumah
kurang
memadai.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gurkov R, Nagel P. Dasar-dasar ilmu THT. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2012.h. 96-7.
2. Soepardi A, Iskandar N, Basshirudin J, dkk. Telinga, hidung, teggorok, kepala dan leher.
Edisi ke-6. Jakarta: FKUI; 2007.h. 231-42.
3. Adams G. Boies: buku ajar penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: EGC 1997.h. 369-87.
4. Abdurrahman MH. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Edisi ke2. Bandung: Mizan Media
Utama; 2006.h. 13-20.
5. Harms,
Roger
W,

et

all.

2012.

Laringitis.

http://www.mayoclinic.com/health/laryngitis/DS00366/DSECTION.
December 15th, 2013.
6.

Available
Access

at:
at