Anda di halaman 1dari 17

KEMAJUAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sejak kelahirannya pada awal abad ke-7 di Mekkah, Islam terus mengalami
perkembangan yang pesat melewati berbagai tantangan yang sangat berat, sampai akhirnya
tersebar ke seluruh dunia.[1] Bernard Lewis menulis, sampai akhir kekuasaan Khulafaurrasyidin
wilayah Islam terbentang luas dari Maroko sampai Indonesia, dari Kazakhtan sampai Sinegal.[2]
Seperti apapun kronologi wafatnya Kholifah Ali bin Abi Thalib, yang jelas hal ini telah
menginspirasikan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan untuk tampil sebagai pemegang tampuk
kekuasaan islam, yang akhirnya berhasil dan mengubah kekuasaan dengan sistem dinasti dan
diberi nama khilafah bani Umayyah. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya dinasti yang
dibentuk muawiyah akhirnya dinasti ini runtuh pula.
Indikasi keruntuhan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah tercium sepeninggal khalifah
Umar ibn Abdul Aziz. Kedamaian dan ketentraman yang dirasakan masyarakat berganti dengan
kekacauan dan kerusuhan. Keadaan ini terus berlanjut hingga pucuk pimpinan dinasti ini
dipegang khalifah Hisyam ibn Abdul Malik dan khalifah-khalifah berikutnya. Di sisi lain
kelompok oposisi yang digalang oleh keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib yang mendapatkan
dukungan dari golongan mawali (non-Arab) dan Abu Muslim al-Khurasani menjelma menjadi
momok menakutkan, ditambah lagi khalifah-khalifah yang menggantikan Hisyam Ibn Abdul
Malik begitu lemah dan bermoral buruk. Ketika Marwan Ibn Muhammad naik tahta, Khalifah
yang tercatat sebagai khalifah terakhir dari Bani Umayyah ini karena adanya kekacauan, dia
melarikan diri ke Mesir dan akhirnya terbunuh di sana. Dan pada saat itulah kekhalifahan
berpindah kepada Bani Abbasiyah.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan pembahasaan makalah ini adalah :
1. Awal munculnya dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah
2. Sistem pergantian Kholifah
3. Prestasi yang dicapai
4. Sebab kemunduran

C. Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah di atas, penulis mempunyai tujuan agar :
1. Mengetahui Awal munculnya dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah
2. Mengetahui Sistem pergantian Kholifah
3. Mengetahui Prestasi yang dicapai
4. Mengetahui Sebab kemunduran
BAB II
PEMBAHASAN
A. DINASTI BANI UMAYYAH
a. Asal-usul Dinasti Bani Umayyah
Nama Daulah Umayah berasal dari nama Umayah ibnu Abdi Syam ibnu Abdi Manaf,
yaitu salah seorang dari pemimpin Qurays di zama Jahiliyah[3]. Bani Umayah merupakan
keturunan Umayah, yang masih memiliki ikatan famili dengan para pendahulu Nabi. Naiknya
bani Umayah ke puncak kekuasaan, dimulai oleh Muawiyah ibnu Abi Sufyan, salah seorang
keturunan bani umayah dan salah seorang sahabat Nabi, dan ia menjadi bagian penting dalam
setiap masa pemerintahan para khulafa ar-rasyidun. Pada masa Ustman, Muawiyah diduga
memiliki hubungan yang kuat dengan Ustman, sehingga terjebak dengan praktik nepotisme
dengan Muwiyah. Bahkan kerusakan pemerintahan Ustman akibat nepotismenya kepada Bani
Umayah, sehingga mendapatkan tantangan dari para pendukung Ali.[4]
Disinilah letak kepekaan nalar politik yang dimiliki Muawiyah mulai bekerja. Muawiyah
pada dasarnya termasuk politisi ulung yang mampu mengambil posisi kekuasaan dalam setiap
masa pemerintahan. Pada masa Ustman, betapa Muawiyah mampu membangun koalisi nepotis
dengan Ustman, sehingga Bani Umayah tetap menjadi pihak yang diuntungkan. Sementara pada
masa-masa Ali, Muawiyah telah mulai melakukan gerakan politik untuk meraih posisi puncak
dalam kekuasaan. Muawiyah mampu memanfaatkan kelemahan dan keluguan kekuasaan Ali.
Pada masa Ali masih berkuasa, Muawiyah telah memiliki kekuatan penuh, sehingga pada
saat Ali terbunuh, Muawiyah langsung mengambil alih kekuasaan dengan sangat mudah dan
terkordinasi dengan baik. Salah satu kepekaan nalar politik Muawiyah ialah mampu belajar
pada pengalaman yang terjadi pada tiga khalifah sebelumnya, yang berakhir dengan
pembunuhan. Pilihan memindahkan kekuasaan ke luar Jazirah Arab, menunjukkan sikap dan
kecerdasan politik Muawiyah dalam menghindari pergolakan antar kubu yang sangat tragis di
kalangan umat Islam di jazirah Arab bahkan sebagai upaya untuk menghindari tragedi

pembunuhan yang dilakukan terhadap tiga khalifah sebelumnya. Akhirnya, Muawiyah dan
dinastinya mengendalikan kekuasaannya dari luar jazirah Arab, mencoba bersebarangan dengan
para pendahulu-pendahulunya yang berkonsentrasi di wilayah jazirah Arab. Menurut H.A.R.
Gibb : Mulai tahun 660 M. ibu kota kerajaan Arab dipindahkan ke Damaskus, tempat kedudukan
baru khilafah Bani Umayah, sedangkan Madinah tetap merupakan pusat pelajaran agama Islam,
pemerintah dan kehidupan umum kerajaan dipengaruhi oleh dapat istiadat Yunani Romawi
Timur.[5]

b. Sistem Pergantian Kholifah


Pada masa-masa Awal Muawiyah menjadi penguasa kekuasaan masih berjalan secara
demokratis, tetapi setelah berjalan dalam beberapa waktu, Muawiyah mengubah model
pemerintahnya dengan model pemerintahan monarchiheredetis (kerajaan turun temurun).[6]
yaitu sebagai berikut:
NO

NAMA

MASA BERKUASA

Muawiyah ibnu Abi Sufyan

661-681 M

Yazid ibn Muawiyah

681-683 M

Muawiyah ibnu Yazid

683-685 M

Marwan ibnu Hakam

684-685M.

Abdul Malik ibn Marwan

685-705 M

Al-Walid ibnu Abdul Malik

705-715 M

Sulaiman ibnu Abdul Malik

715-717 M

Umar ibnu Abdul Aziz

717-720 M

Yazid ibnu Abdul Malik

720-824 M

10

Hisyam ibnu Abdul Malik

724-743 M

11

Walid ibn Yazid

734-744 M

12

Yazid ibn Walid [ Yazid III]

744 M

13

Ibrahim ibn Malik

744 M

14

Marwan ibn Muhammad

745-750 M

c.Keberhasilan Yang Dicapai


Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu material dan immaterial

a). Bidang Material :


1. Muawiyah mendirikan Dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda dengan
peralatannya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata.
2. Muawiyah merupakan khalifah yang mula-mula menyuruh agar dibuatkan anjung dalam
masjid tempat is sembahyang. Ia sangat khwatir akan keselamatan dirinya, karena khalifah Umar
dan Ali, terbunuh ketika sedang melaksanakan shalat.
3. Lambang kerajaan sebelumnya Al-Khulafaur Rasyidin, tidak pernah membuat lambang Negara
baru pada masa Umayyah, menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya. Lambang itu
menjadi ciri khas kerajaan Umayyah.
4. Muawiyah sudah merancang pola pengiriman surat (post), kemudian dimatangkan lagi pada
masa Malik bin Marwan. Proyek al-Barid (pos) ini, semakin ditata dengan baik, sehingga
menjadi alat pengiriman yang baik pada waktu itu.
5. Arsitektur semacam seni yang permanent pada tahun 691H, Khalifah Abd Al-Malik membangun
sebuah kubah yang megah dengan arsitektur barat yang dikenal dengan The Dame Of The
Rock (Gubah As-Sakharah).
6. Pembuatan mata uang dijaman khalifah Abd Al Malik yang kemudian diedarkan keseluruh
penjuru negeri islam.
7. Pembuatan panti Asuhan untuk anak-anak yatim, panti jompo, juga tempat-tempat untuk orangorang yang infalid, segala fasilitas disediakan oleh Umayyah.
8. Pengembangan angkatan laut muawiyah yang terkenal sejak masa Uthman sebagai Amir AlBahri, tentu akan mengembangkan idenya dimasa dia berkuasa, sehingga kapal perang waktu itu
berjumlah 1700 buah.
9. Khalifah Abd Al-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi
pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan
Islam yang tadinya berbahasa Yunani dan Pahlawi sehingga sampai berdampak pada orangorang non Arab menjadi pandai berbahasa Arab dan untuk menyempurnakan pengetahuan tata
bahasa Arab orang-orang non Arab, disusun buku tata bahasa Arab oleh Sibawaih dalam alKitab.
10. Merubah mata uang yang dipakai di daerah-daerah

yang dikuasai Islam. Sebelumnya

mata uang Bizantium dan Persia seperti dinar dan dirham. Penggantinya uang dirham
terbuat dari mas dan dirham dari perak dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.
11. Perluasaan wilayah kekuasaan dari Afrika menuju wilayah Barat daya, benua Eropa, bahkan
perluasaan ini juga sampai ke Andalusia (Spanyol) di bawah kepemimpinan panglima Thariq bin
Ziad, yang berhasil menaklukkan Kordova, Granada, dan Toledo.
12. Dibangun mesjid-mesjid dan istana. Katedral St. Jhon di Damaskus dirubah menjadi mesjid,
sedang Katedral yang ada di Hims dipakai sebagai mesjid dan gereja. Di al-Quds (Jerussalem)
Abdul Malik membangun mesjid al-Aqsha. Monumen terbaik yang ditinggalkan zaman ini
adalah Qubah al-Sakhr di al-Quds. Di mesjid al-Aqsha yang menurut riwayatnya tempat Nabi

Ibrahim hendak menyembelih Ismail dan Nabi Muhammad mulai dengan miraj ke langit, mesjid
Cordova di Spanyol dibangun, mesjid Mekah dan Madinah diperbaiki dan diperbesar oleh
Abdul Malik dan Walid.
13. Bahkan pada masa, Sulaiman ibn Malik, telah dibangun pembangunan mega raksasa yang
terkenal dengan Jamiul Umawi.
b). Bidang Immaterial
1.

Mendirikan pusat kegiatan ilmiah di Kufah dan Bashrah yang akhirnya memunculkan namanama besar seperti Hasan al-Basri, Ibn Shihab al-Zuhri dan Washil bin Atha. Bidang yang
menjadi perhatian adalah tafsir, hadits, fikih, dan kalam.

2. Penyair-penyair Arab baru bermunculan setelah perhatian mereka terhadap syair Arab Jahiliyah
dibangkitkan. Mereka itu adalah Umar Ibn Abi Rabiah (w. 719 m.), Jamil al-Udhri (w. 701 M.),
Qays Ibn al-Mulawwah (w. 699 M.) yang lebih dikenal dengan nama Majnun Laila, al-Farazdaq
(w 732M.), Jarir (w. 792 M) dan al-Akhtal (w. 710 M.).
3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Sastra-Seni
Waktu dinasti ini telah mulai dirintis jalan ilmu naqli ; berupa filsafat dan eksakta. Dan ilmu
pengetahun berkembang dalam tiga bidang, yaitu bidang diniyah, tarikh, dan filsafat. Kota-kota
yang menjadi pusat ilmu pengetahuan selama pemerintahan dinasti Umayah, antara lain kota
Kairawan, Kordoba, Granda dan lain sebagainya. Sehingga secara perlahan ilmu pengetahuan
terbagi menjadi dua macam, yaitu : pertama, Al-Adaabul Hadits (ilmu-ilmu baru), yang
meliputi : Al-ulumul Islamiyah (ilmu al-Quran, Hadist, Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, At-Tarikh
dan al-Jughrafi), Al-Ulumul Dkhiliyah (ilmu yang diperlukan untuk kemajuan Islam), yang
meliputi : ilmu thib, filsafat, ilmu pasti, dan ilmu eksakta lainnya yang disalin dari Persia dan
Romawi. Kedua : Al-Adaabul Qadamah (ilmu lama), yaitu ilmu yang telah ada pasa zaman
Jahiliyah dan ilmu di zaman khalifah yang empat, seperti ilmu lughah, syair, khitabah dan
amtsal.
Pada masa ini pula sudah mulai dirancang tentang undang-undang yang bersumber dari alQuran, sehingga menuntut masyarakat mempelajari tentang tafsir al-Quran. Salah seorang ahli
tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas. Pada waktu itu beliau telah
menafsirkan al-Quran dengan riwayat dan isnad, kemudian kesulitan-kesulitan dalam
mengartikan al-Quran dicari dalam al-hadist, yang pada gilirannya melahirkan ilmu hadist. Dan
akhirnya kitab tentang ilmu hadist sudah mulai dikarang oleh para ulama muslim. Beberapa

ulama hadist yang terkenal pada masa itu, antara lain : Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin
Ubaidilah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri, Ibnu Abi Malikah (Abdullah bin Abi Malikah atTayammami al-Makky, Al-Auzai Abdurrahman bin Amr, Hasan Basri as-Syabi. Dalam bidang
hadist ini, Umar bin Abd Aziz secara khusus memerintahkan Ibn Syihab az-Zuhri untuk
mengumpulkan hadist. Oeh karena itu, Ibnu Syihab telah dianggap sanat berjasa dalam
menyebarkan hadist hingga menembus berbagai zaman. Sejak saat itulah perkembangan kitabkitab hadist mulai dilakukan.[7]
4. Gerakan Penerjemahan dan Arabisasi
Gerakan penerjemahan ke dalam bahasa Arab (Arabisasi buku), juga dilakukan, terutama pada
masa khalifah Marwan. Pada saat itu, ia memerintahkan penerjemahan sebuah buku kedokteran
karya Aaron, seorang dokter dari iskandariyah, ke dalam bahasa Siriani, kemudian diterjemahkan
lagi ke dalam bahasa Arab. Demikian pula, Khalifah memerintahkan menerjemahkan buku
dongeng dalam bahasa sansakerta yang dikenal dengan Kalilah wa Dimnah, karya Bidpai. Buku
ini diterjemahkan oleh Abdullah ibnu Al-Muqaffa. Ia juga telah banyak menerjemahkan banyak
buku lain, seperti filsafat dan logika, termasuk karya Aristoteles :Categoris, Hermeneutica,
Analityca Posterior serta karya Porphyrius :Isagoge.[8]

d. Kemunduran Dinasti Umayyah


Selama berkuasa kurang lebih 90 tahun lamanya, penguasa Bani Umayah, sejak Umayah
berkuasa harus diakui telah banyak memberikan sesuatu yang berarti bagi Islam. Tetapi,
kekuasaan yang dibangun dengan cara-cara yang keras dan kasar seperti yang dilakukan oleh
Muawiyah seperti pasa saat ia merebut kekkuasaan, dan ditambah lagi dengan pola suksesi yang
bersifat keluargaan telah memunculkan perlawanan yang keras dari lawan-lawan politik Bani
Umaya. Sejak sepeninggal Hisyam ibnu Abd Malik, khalifah-khalifah Bani Umayah terus
mengalami melemah, bukan hanya moral tetap juga lemah dalam kekuataan politik. Kelemahn
ini tentu saja terus dimanfaatkan dengan baik oleh musuh-musuh Bani Umayah untuk
dihancurkan, dan segera diganti.
Beberapa faktor yang menjadi akar melemah dan hancurnya Bani Umayah, antara lain :

1. System suksesi khalifah dengan cara dinatian bukan tradisi Arab dan lebih mengandalkan aspek
senioritas. Pengaturannya tidak jelas, sehingga menimbulkan menimbulkan persaingan yang
keras di kalangan anggota keluarga.
2.

Latar belakang terbentuknya Bani Umayah tidak terlepas dari konflik politik yang terjadi di
masa Ali. Ktbu Ali (Syiah) dan kubu khawarij yang masih tersisa, terus menjadi oposisi dan
melakukan perlawanan terhadap Bani Umayah, baik dengan terang-terangan maupun dengan
cara sembunyi-sembunyi. Penumpasan terhadap kelompok-kelompok ini, banyak menyedot
kekuatan pemerintah Bani Umayah.

3. Pada masa Bani Umayah pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia
Selatan (Bani Kalb) terus menruncing. Konflik ini membuat penguasa Bani Umayah merasa
kesulitan dalam menggalang persatuan dan kesatuan.
4.

Faktor lemahnya Bani Umayah juga akibat sikap hidup mewah orang-orang di lingkungan
istana, sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kekuasaan. Kemudian,
banyak para agamawan yang kecewa dengan penguasa Bani Umayah karena penguasa ini sudah
tidak memperhatikan pengembangan agama.

5.

Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd Thalib yang
mendapatkan dukungan dari Bani Hasyim dan golongan Syiah dan kaum Mawali.[9]
Akhir kehancuran Dinasti Umayah, dimulai oleh pembunuhan terhadap khalifah Marwan
yang dilakukan oleh Abul Abbas as-Shaffah, setelah itu ia menjadi khalifah dalam kekuasaan
umata Islam. Kemudian kelompok Abul Abbas, beralih menghancurkan Yazid bin Umar bin
Hubairah, yang merupakan benteng terakhir kekuasaan dinasti Umayah.[10] Jadi, hancurnya dua
kekuayaan Umayah ini, menjadi akhir dari kiprah bani Umayah dalam sejarah kekuasan Islam.
B. DINASTI ABBASIYAH
a. Asal-usul Dinasti Bani Abbasiyah
Khilafah Bani Abbasyiyah adalah penerus tongkat estafet perjuangan Islam dari khilafah
bani Umayyah yang berhasil mereka gulingkan pada tahun 750 M. Akar munculnya khilafah ini
dimulai dari tindakan propaganda Abbasiyah yang dimotori oleh Ibrahim (orang Bani
Abbas/saudara Saffah) yang mendapat dukungan dari pemuka khurasan bernama Abu Muslim.
Ditambah lagi kekuatan oposisi yang semakin solid serta pemegang kursi pemerintahan bani
Umayyah semakin melemah. Dari tindakan propaganda ini akhirnya memunculkan perselisihan

seru antara bani Umayyah dan bani Abbasiyah yang diakhiri dengan jatuhnya kekuasaan Bani
Umayyah.
Dinasti Abbasiyah muncul juga tidak bisa dilepaskan dari bantuan orang-orang Persia yang
merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam sosial, politik dan administrasi. Orang-orang
Persia percaya kepada hak agung raja-raja (yang berasal dari Tuhan). Kekhalifahan menurut
mereka merupakan kekuasaan dari Allah. Hal ini nampak jelas dalam ucapan al-Manshur yang
menyatakan:Innamaa Anaa Sulthaanullah fii Ardlihii (sesungguhnya saya adalah kekuasaan
Tuhan di bumi-Nya). Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya merupakan
mandat langsung dari Allah bukan dari rakyat. Sistem kekhalifahan semacam ini sangat berbeda
dengan sistem kekhalifahan pada masa Khulafaur Rasyidun dimana kekhalifahan mereka berasal
dari rakyat.
Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah dari
keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad S.A.W.
b. Sistem Pergantian Kholifah
Sistem pemerintahan yang diterapkan bani Abbasiyah masih sama dengan pendahulunya,
bani Umayyah dengan sistem kekuasaan absolutisme. Mereka mengangkat dan mengumumkan
seorang atau dua orang putra mahkota atau saudaranya sendiri untuk terus mempertahankan
kepemerintahan. Kebijakan menerapakan sistem seperti ini tentu saja menimbulkan
kecemburuan dan kebencian diantara sesama keluarga. Sebagai contoh, tatkala al-Manshur naik
tahta, dia mengumumkan Mahdi sebagai putra mahkota pertama dan menunjuk Isa ibn Musa,
kemenakannya sebagai putra mahkota kedua. Saat itu juga al-Manshur mengasingkan Isa sama
sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah pertama al-Shaffah.
Seluruh anggota keluarga Abbas dan pemimpin umat Islam mengangkat Abdullah al-Saffah
ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas sebagai khalifah mereka yang pertama
walaupun masih ada Abu Jafar (al-Manshur) yang nantinya akan menjadi khalifah yang kedua.
Kekhalifahan bani Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang dan pada
periode pertama (750 848 M) tercatat kurang lebih 10 khalifah yang memimpin dengan silsilah
keturunan sebagai berikut :
N
O
1.
2.

NAMA
Saffah ibn Muhammad
Abu Jafar al-Manshur ibn

MASA BERKUASA
(132 H/750 M)
(136 H/754 M)

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Muhammad
Mahdi ibn al-Manshur
Hadi ibn Mahdi
Harun al-Rasyid ibn Mahdi
Amin ibn Harun
Mamun ibn Harun
Mutashim ibn Harun
Watsiq ibn Mutashim
Mutawakkil ibn Mutashim

(158 H/775 M)
(169 H/785M)
(170 H/786M)
(193 H/804 M)
(198 H/813 M)
(218 H/833 M)
(227 H/842 M)
(232 H/848 M)

Dalam perkembangannya, di bawah khalifah Saffah, ibu kota negara berada di kota Anbar
dekat kufah dengan istana yang diberi nama al-Hasyimiyah. Namun demi menjaga stabilitas
negara yang baru berdiri itu akhirnya pada tahun 762 M al-Manshur memindahkan ibu kota
negara ke Baghdad dengan istana al-Hasyimiyah II. Dengan demikian, pusat pemerintahan
daulah Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Diantara langkah-langkah yang diambil al-Manshur dalam menertibkan pemerintahannya
antara lain :
1. Mengangkat pejabat di lembaga ekskutif dan yudikatif.
2. Mengangkat wazir (menteri) sebagai koordinator departemen. Dan wazir pertama yang
diangkatnya adalah Khalid ibn Barmak berasal dari kota Balkh Persia
3. Mengangkat sekretaris negara dan kepolisian negara dan membenahi angkatan bersenjata
4. Memaksimalkan peranan kantor pos. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah
laku gubernur setempat kepada khalifah.
5. Berdamai dengan kaisar Constantine V, dan selama gencatan senjata, Bizantium membayar upeti
tahunan.
Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan oleh Shaffah dan al-Manshur,
maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada beberapa khalifah sesudahnya. Popularitas
daulah Abbasiyah mencapai klimaks kesuksesan adalah pada masa pemerintahan khalifah Harun
al-Rasyid dan puteranya al-Mamun.
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai
dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan
politik yang ada, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi
lima periode dengan karakteristik yang berbeda-beda pula :

1. Periode pertama (132 H/750 M 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2. Periode kedua (232 H/847 M 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama
3. Periode ketiga, (334 H/945 M 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam
pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode keempat, (447 H/1055 M 590 H/1194 M) masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam
pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5. Periode kelima, (590 H/1194 M 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti
lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
c.Keberhasilan Yang Dicapai
Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu material dan immaterial
a). Bidang Material :
Pada zaman al-Mahdi, sebenarnya perekonomian sudah mulai menggeliat dengan
peningkatan di sektor pertanian, melaluai irigasi dan peningkatan hasil pertambangan. Diantara
prestasi-prestasi yang berhasil diraih al-Mahdi antara lain:
1. Dia membangun gedung-gedung sepanjang jalan menuju Makkah.
2. Masjid Agung di Madinah diperbesar tetapi menghapus nama khalifah bani Umayyah, Walid
dari dinding masjid itu dan mengganti dengan namanya.
3. Membangun tempat pelayanan pos antara Makkah dan Madinah kemudian Yaman yang
berfungsi sebagai tempat pembayaran ongkos perjalanan tiap mil.
4. Membuat benteng di beberapa kota khususnya Rusafa di bagian Baghdad Timur
Popularitas daulah bani Abbasiyah mencapai puncak peradaban dan kemakmurannya di
zaman Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Mamun (813-833 M). Kekayaan yang
banyak, dimanfaatkan Harun untuk keperluan sosial. Istana-istana besar, rumah sakit, lembaga
pendidikan, dokter dan farmasi didirikan. Bahkan menurut sebagian ahli sejarah menyatakan
bahwa sebenarnya Harun ingin menggabungkan laut tengah dengan laut merah. Namun Yahya
ibn Khalid (dari keluarga barmak) tidak menyetujui gagsan itu. Pada masa al-Mamun menjadi
khalifah, ia banyak mendirikan sekolah-sekolah. Salah satu karya terbesarnya adalah
pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi
dengan perpustakaan yang sangat besar.
Baghdad, kota kuno yang didirikan oleh orang-orang Persia, merupakan tempat perdagangan
yang kerap kali dikunjungi oleh pedagang dari India dan Cina. Para Insinyur, tukang batu, dan

para pekerja tangan didatangkan dari Syiria, Bashra, Kufa untuk membantu didalam
memperindah kota. Bahkan di daerah pinggir kota ini sudah terbagi menjadi empat bagian
pemukiman yang masing-masing mempunyai seorang pemimpin yang dipercaya untuk
mendirikan pasar di pemukimannya. Demikianlah di zaman Abbasiyah pertama. Baghdad
menjadi kota terpenting di dunia sebagai sentral perdagangan, ilmu pengetahuan dan kesenian.
Masjid-masjid dan bangunan-bangunan lain semakin bertambah banyak dan menjadi hal
menarik dalam kesenian muslim.
a). Bidang Imaterial :
Kemajuan yang dicapai dinasti Abbasiyah mencakup ilmu agama, filsafat dan sain (Harun
Nasution, 2001:65-69). Ilmu agama yang dikembangkan pada masa ini mencakup:
a. Ilmu Hadits
Tokohnya: Al-Bukhori dengan kitabnya al-Jami al-Shahih dan Tarikh al-Kabir, Muslim dengan
kitabnya Shahih Muslim, Ibnu Majjah, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan al-Nasai.
b. Ilmu Tafsir
Tokohnya: Ibnu Jarir Ath Thabari dengan karyanya Jami al-Bayan fi Tafsir al- Quran sebagai
pegangan pokok bagi mufassir hingga sekarang, Abu Muslim Muhammad Ibn Bahar alAshfahani dengan tafsirnya Jamiut Tawil, Ar-Razy dengan tafsirnya Al-Muqthathaf.
c. Ilmu Fiqih
Tokohnya: Abu Hanifah dengan kitabnya Musnad al-Imam al-Adhom atau Fiqh al-Akbar, Malik
dengan kitabnya al-Muwatha, Syafii dengan kitabnya al-Um dan al-Fiqh al-Akbar fi al-Tauhid,
dan Ibn Hambal dengan kitabnya al-Musnad.
d. Ilmu Tasawuf atau Mistisisme Islam
Tokohnya: Abu Bakr Muhammad al-Kalabadi dengan karyanya al-Taarruf li Mazhab Ahl alTasawuf, Abu Nasr as-Sarraj al-Tusi dengan karyanya al-Luma, Abu Hamid al-Ghazali dengan
karyanya Ihya Ulum al-Din, dan Abu Qasim Abd al-Karim al- Qusyairi dengan karyanya
Maqamat. Tokoh lainnya, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husain Ibn Mansur al-Hallaj,
dsb.
e. Ilmu Kalam atau Theologi
Tokohnya seperti Washil bin Atha, Ibn al-Huzail, al-Allaf, dll dari golongan Mutazilah, Abu alHasan al-Asyari dan al-Maturidi dari ahli sunnah.
f. Ilmu Tarikh atau Sejarah

Tokohnya: Ibn Hisyam (abad VIII), Ibn Sad (abad IX), dll.
g. Ilmu Sastra
Tokohnya: Abu al-Farraj al-Isfahani dengan karyanya Kitab al-Aghani, al-Jasyiari dengan
karyanya Alfu Lailah wa Lailah di pertengahan abad X. h. Ilmu agama lainnya seperti ilmu alQoriah, ilmu Bahasa, dan Tata Bahasa. Di antara ilmu yang menarik pada masa dinasti
Abbasiyah adalah Filsafat. Ilmu ini berasal dari Yunani kemudian diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab, bahkan juga buku-buku yang berasal dari Persia maupun Spanyol. Dari gerakan ini
muncul para filosof Islam, seperti:
a. Al-Kindi (185-260 H/801-873 M)
Al-Kindi lahir di Kufah, karyanya sekitar 270 buah yang dikelompokkan oleh ibn Nadim dan alQifti menjadi 17, yaitu: filsafat, logika, ilmu hitung, globular, musik, astronomi, geometri,
sperikal, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik,240 meteorology, dimensi, benda-benda
pertama, dan spesies tertentu logam dan kimia.
b. Al-Razi (251-313 H/865-925 M)
Nama latinnya adalah Rhazes, lahir di Rayy dekat Teheran. Buku-buku filsafatnya antara lain:
Al-Tibb al-Ruhani, Al-shirat al-Falsafiyyah, Amarat Iqbal al-Daulah, Kitab al-Ladzdzah, Kitab
al-Ilm al-Ilahi, dll.
c. Al-Farabi (258-339 H/870-950 M)
Di Barat dikenal dengan nama Alpharbiu, lahir di Wasij (suatu desa di Farab/ Transoxania).
Selain seorang filosof, ia juga ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam
bidang fisika, ia menulis kitab al-Musiqa. Di antara karyanya adalah: al-Tanbih ala Sabil alSaadat, Ihsha al-Ulum, al-Jam bayn Ray al-Hakimayn, Fushush al-Hikam, dll.
d. Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M)
Nama latin Ibn Sina adalah Avicenna, lahir di Afsyana (dekat Bukhara). Selain ahli filsafat dan
kedokteran, beliau juga memiliki karya dalam bidang logika, matematika, astronomi, fisika,
mineralogy, ekonomi, dan politik. Karyanya antara lain: Kitab al-Syifa, Kitab al-Nadjat, AlIsyarat wat-Tanbihat, Al-Hikmat al-Masyriqiyyah, dll.
e. Al-Ghazali (455-507H/1059-1111 M)
Beliau bergelar hujjatul Islam, lahir di Ghazaleh dekat Tus di Khurasan. Karyanya antara lain:
Al-Munqidz min ad-Dlalal, Tahafut al-Falasifah, Ihya Ulumuddin, Qawaid al-Aqaid, Misykat
al-Anwar, dll.

f. Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)


Di Barat namanya Averroes, lahir di Cordova. Bukunya yang terpenting ada empat: Bidayatul
Mujtahid, Faslul Maqal fi ma baina al-Hikmati was Syariat min al- Ittisal, Manahij al-Adillah fi
Aqaidi Ahl al-Millah, dan Tahafut at-Tahafut.
g. Ibn Bajjah (w. 533 H/1138 M)
Beliau lahir di Saragossa dan karyanya berupa risalah antara lain: Al-Ittisal, al- Wada, Tadbir alMutawahhid, dll.
h. Ibn Tufail (506-581 H/1110-1185 M)
Beliau lahir di Granada. Karangannya tentang filsafat, fisika, metafisika, kejiwaan dan
sebagainya tidak sampai kepada kita kecuali satu yaitu risalah Hay bin Yaqzhan.
Kemajuan sains pada masa dinasti Abbasiyah didukung oleh Science Policy, yakni antara lain
dengan didirikannya akademi, sekolah dan observatorium (lembaga ilmiah yang melakukan
penelitian dan pengajarannya sekaligus) di samping perpustakaan. Dengan kebijakan tersebut
menimbulkan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti:
a. Kedokteran
Tokohnya: Al-Razi dengan karyanya al-Hawi, Ibn Sina dengan karyanya al-Qanun fi al-Tibb
(Canon of Medicine) dan Materia Medica yang memuat 760 obat-obatan.
b. Ilmu Kimia
Tokohnya: Jabir Ibn Hayyan yang berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga
dapat diubah menjadi emas atau perak dengan menggunakan obat rahasia. Ia mengetahui cara
membuat asam belerang, asam sendawa, dan aqua regia yang dapat menghancurkan emas dan
perak.Ia juga memperbaiki teori aristoteles mengenai campuran logam.241
c. Astronomi
Tokohnya: Al-Biruni dengan kitabnya al-Hind dan al-Qanun al-Masudi fi al-Haia wa al-Nujum,
Nasiruddin Tusi menyusun tabel astronomi Ilkanian, Ibn Yunus membuat perbaikan tabel
astronomi dan Hakemite Tables, Moh. Targai Ulugh Begh (cucu Timur Lenk) menyusun kitab alZij al-Sulthani al-Jadid yang berisi 1018 bintang.
d. Matematika
Tokohnya yang populer adalah al-Khawarizmi yang menemukan angka 0 (aljabar) pada abad IX.
Angka 1-9 berasal dari angka-angka Hindu di India.
e. Optik

Tokohnya adalah Ali al-Hasan ibnul Haitsam yang dikenal Alhazen, menulis sebuah buku besar
tentang optic Optical Thesaurus, mengoreksi teori Euclid dan Ptolemy. Ia juga
mengembangkan teori pemfokusan, pembesaran, dan inversi dari bayangan.
f. Fisika
Tokohnya Abdul Rahman al-Khazini, menulis kitab Mizanul Hikmah (The Scale of Wisdom)
tahun 1121 M.
g. Geografi
Tokohnya: Zamakhsyari (w.1144) seorang Persia, menulis kitabul Amkina wal Jibal wal Miyah
(The Book of Places, Mountains and Waters), Yaqut menulis Mujamul Buldan (The Persian
Book of Places) tahun 1228, Al-Qazwini menulis Ajaib al-Buldan (The Wonders of Lands), dll.
h. Sains lainnya
Seperti Botani (Abd Latif), Antidote/penawar racun (Ibn Sarabi), Trigonometri (Jabir ibn Aflah),
dan Musik (Nasiruddin Tusi, Qutubuddin, Asy- Syirazi, dan Safiuddin).
d. Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Setelah kekuasaan bani Seljuk berakhir, khalifah bani Abbasiyah berkuasa kembali dan titak
lagi berada di bawah pengaruh satu dinasti tertentu. Namun demikian, banyak dinasti-dinasti
kecil Islam yang independent. Wilayah kekuasaan bani Abbasiyah menyempit di Baghdad dan
sekitarnya yang menunjukkan pada kelemahan politik mereka. Keadaan ini dibaca oleh tentara
Mongol dan Tartar untuk menyerang Baghdad yang akhirnaya bisa mereka kuasai.
Masa kemunduran bani Abbasiyah sebenarnya sudah dimulai sejak periode kedua. Namun
karena khalifah yang berkuasa sangat kuat, benih kehancuran dinasti ini masih belum sempat
berkembang. Dalam sejarah kekuasaan bani Abbasiyah terlihat bahwa apabila khalifah yang
berkuasa kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil yang hanya
mendapatkan bayaran, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda
pemerintahan sepenuhnya. Di samping kelemahan khalifah yang menjadi penyebab kemunduran,
ada beberapa faktor lain yang menjadi sebab kemunduran khilafah bani Abbasiyah, antara lain:
1. Persaingan Antar Bangsa
Dalam berdirinya khilafah bani Abbasiyah, mereka lebih memilih bersekutu dengan bangsa
Persia dari pada bangsa Arab. Persekutuan ini disebabkan karena mereka sama-sama tertindas
selama bani Umayyah berkuasa. Di sisi lain, bangsa Arab beranggapan bahwa mereka lebih

istimewa dibandingkan dengan bangsa non Arab di dunia Islam. Pada waktu itu tidak ada
kesadaran untuk merajut elemen-elemen yang beraneka ragam tersebut dengan kuat. Akibatnya
yang muncul adalah fanatisme kearaban dan fanatisme antar bangsa. Setelah al-Mutawakkil naik
tahta, dominasi Turki dalam kepemerintahan tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan khilafah
bani Abbasiyah sebenarnya sudah berakhir berganti ke tangan orang-orang Turki, bani Buwaih,
dan bani Seljuk.
2. Kemerosotan Ekonomi
Khilafah bani Abbasiyah juga mengalami kemunduran dalam bidang ekonomi bersamaan
dengan kemunduran dalam bidang politik. Walaupu periode pertama terbilang sukses
perekonomiannya, namun memasuki periode kedua mengalami kemerosotan. Pendapatan negara
menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Hal ini disebabkan menyempitkan
wilayah kekuasaan mereka dan banyaknya kerusuhan yang mengganggu perekonomian bangsa.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian semakin memburuk.
Sebaliknya, perekonomian yang buruk semakin memperlemah kondisi polotik dinasti
Abbasiayah, kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
3. Konflik Keagamaan
Pada periode pertama sudah bermunculan gerakan-gerakan keagamaan yang membuat
beberapa khalifah waktu itu merasa berang dan berusaha untuk memberantasnya. Al-Mahdi
bahkan mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang zindiq dan
melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bidah. Akan tetapi semua itu tidak
menghentikan kegiatan mereka. Konflik di antara merekapun bermunculan. Mulai dari polemik
tentang ajaran sampai pada konflik bersenjata yang menumpahkan darah diantara kedua belah
pihak.
Konflik keagamaan tidak terbatas antar muslim dan zindiq atau Sunni dengan Syiah,
melainkan juga antar aliran dalam Islam. Mutazilah yang cenderung rasional, dituduh sebagai
pembuat bidah oleh golongan salaf. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh alMamun saat menjabat sebagai khalifah dengan menjadikan Mutazilah sebagai madzhab resmi
dinasti Abbasiyah. Pada masa al-Mutawakkil, giliran golongan salaf yang menjadi madzhab
resmi, sementara Mutazilah dibatalkan.
4. Ancaman dari Luar

Setidaknya ada dua Faktor eksternal yang mempengaruhi kemunduran dinasti Abbasiyah.
Pertama, perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang yang menelan banyak
korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Begitu juga orang-orang
Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II mengeluarkan seruan
kepada umat Kristen Eropa supaya melakukan perang suci yang lebih dikenal dengan sebutan
perang Salib.

BAB III
KESIMPULAN PENUTUP
a. Kesimpulan
- Bani Umayyah
Bani Umayah merupakan salah satu dinasti Islam yang cukup masyhur seperti yang
penguasa-penguasa muslim yang lain. Bahkan pada masa ini, perubahan demi perubahan
dilakukan, setidaknya keberanian Bani Umayah untuk keluar dari tradisi Arab dalam masalah
pergantian kepemimpinan serta pemindahan pusat kekuasaan dari Jazirah Arab ke Damaskus
(luar jazirah Arab) menjadi bukti sederhana tentang dinamika yang terjadi pada masa Bani
Umayah berkuasa.
Tulisan di atas walaupun sangat singkat telah memberikan gambaran tentang pergulatan
kekuasan Bani Umayah dengan segala dinamikan yang terjadi selama berkuasa kurang lebih 90
tahun lamanya, di satu sisi telah menorehkan banyak catatan kemajuan bagi Islam, tetapi pada
sisi yang lain tidak juah beda dengan penguasa-penguasa sebelumnya, yaitu ketidakmampuan
dalam meminimalisir konflik politik, yang acapkali melahirkan berbagai tragedi pertempuran di
kalangan umat Islam.
Namun demikian, Bani Umayah tetaplah bagian penting dan menarik dalam sejarah umat
Islam yang harus terus dijadikan sebagai pengalaman sangat berharga, karena tidak semua yang
dilakukan Bani Umayah itu jelek, tetapi juga memiliki sisi penting yang harus ditiru oleh umat
Islam. Kekuasaan Bani Umayah yang hampir seabad lamanya dalam memimpin umat Islam,
tetaplah sebuah prestasi yang harus diapreasi secara kritis.
- Bani Abbasiyah

Masa kekuasaan bani Abbasiyah yang terbagi dalam lima periode terbilang cukup lama.
Dengan menerapkan sistem kekuasaan absolutisme, mereka telah menguasai dunia Islam lebih
dari 500 tahun. Pada saat itu pula masa kejayaan Islam direngkuh. Kemajuan yang dicapai dalam
bidang fisik, ilmu pengetahuan, poltik, ekonomi, dan banyaknya ilmuwan Islam saat itu adalah
bukti konkrit bahwa Islam mencapai puncak kejayaannya. Berbagai peristiwa penting, seperti
perluasan wilayah Islam ke berbagai daerah, juga beberapa peperangan termasuk perang dengan
Byzantium, Mongol, Tartar, penumpasan gerakan Zindiq, dan perang Salib ikut mewarnai
perjalanan kepemerintahan dinasti Abbasiyah.
Bila kita cermati, dalam sejarah kekuasaan bani Abbasiyah terlihat bahwa apabila khalifah
yang berkuasa kuat, maka kepemerintahan akan berjalan baik pula. Kekuasaan sepenuhnya ada
di tangan khalifah. Para menteri cenderung hanya berperan sebagai kepala pegawai sipil. Tetapi
jika yang menjabat sebagai khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan
sepenuhnya. Bahkan dalam pengangkatan atau pemberhentian khalifah mereka sendirilah yang
menentukan.
Sistem kekuasaan absolutisme yang mereka jalankan, ditengarai menjadi salah satu penyebab
kemunduran dinasti Abbasiyah. Dengan sistem yang demikian, tidak mungkin dipungkiri akan
menimbulkan kecemburuan di kalangan keluarga mereka sendiri. Apalagi dengan banyaknya
kerusuhan, baik di kalangan umat Islam sendiri ataupun serangan-serangan dari Negara lain
adalah penyebab utama kehancuran dinasti Abbasiyah.