Anda di halaman 1dari 14

1.

Pengertian Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi
oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena
persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri
(Djamaludin, 2001). Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir
(cognitive), kemauan (volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor) (Yosep,
2007).
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada
fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang
menimbulkan

penderitaan

pada

melaksanakan peran social.


Gangguan jiwa adalah

individu

suatu

dan

atau

ketidakberesan

hambatan
kesehatan

dalam
dengan

manifestasi-manifestasi psikologis atau perilaku terkait dengan penderitaan yang


nyata dan kinerja yang buruk, dan disebabkan oleh gangguan biologis, sosial,
psikologis, genetik, fisis, atau kimiawi (psikologi.or.id).
2. Macam-Macam Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang
psikologik dari unsur psikis (Maramis, 2004). Macam-macam gangguan jiwa
(Maslim, 2001): Gangguan jiwa organik dan simtomatik, skizofrenia, gangguan
skizotipal dan gangguan waham, gangguan suasana perasaan, gangguan
neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan
gangguan fisiologis dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa
dewasa, retardasi mental, gangguan perkembangan psikologis, gangguan
perilaku dan emosional dengan onset masa kanak dan remaja.
2.1
Skizofrenia
a. Definisi Skizofrenia
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi
berbagai area individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima
dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi serta
berperilaku dengan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial (Isaac,
2005).
Definisi skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa III(PPDGJ III) menjelaskan bahwa skizofrenia adalah suatu
sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan
penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik,
fisik, dan sosial budaya.
b. Klasifikasi Skizofrenia

Diagnosa Skizofrenia berawal dari Diagnostik and Statistical Manual


of Mental Disorders (DSM) yaitu: DSM-III (American Psychiatric Assosiation,
1980) dan berlanjut dalam DSM-IV (American Psychiatric Assosiation,1994)
dan DSM-IV-TR (American Psychiatric Assosiation,2000). Berikut ini adalah
tipe skizofrenia dari DSM-IV-TR 2000. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gejala yang dominan yaitu (Davison, 2006) :
Tipe Paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau
halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afektif
yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau
waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain
(misalnya waham kecemburuan, keagamaan, atau somalisas) mungkin juga
muncul. Ciri-ciri lainnya meliputi ansietas, kemarahan, menjaga jarak dan
suka berargumentasi, dan agresif.
Tipe Disorganized (tidak terorganisasi)
Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau,
tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate. Pembicaraan
yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat
kaitannya dengan isi pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku dapat
membawa pada gangguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup
sehari-hari.
Tipe Katatonik
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah gangguan pada psikomotor
yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (waxy flexibility). Aktivitas
motor yangberlebihan, negativism yang ekstrim, sama sekali tidak mau
bicara dan berkomunikasi (mutism), gerakan-gerakan yang tidak terkendali,
mengulang ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku orang
lain (echopraxia).
Tipe Undifferentiated
Tipe Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan
perubahan pola simptom-simptom yang cepat menyangkut semua indikator
skizofrenia. Misalnya, indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion),
emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah, adanya delusi,
referensi yang berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat
besar, autisme seperti mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase
yang menunjukkan ketakutan.
Tipe Residual
Tipe ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari
skizofrenia tetapi masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa,

seperti keyakinan-keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide


tidak wajar yang tidak sepenuhnya delusional. Gejala-gejala residual itu
dapat meliputi menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas,
dan afek datar.
c. Etiologi Skizofrenia
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etilogi) yang pasti
mengapa seseorang menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak.
Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan
faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara
lain (Yosep, 2007) :

Faktor genetik;
Virus;
Auto antibody;
Malnutrisi.

Peran genetik pada skizofrenia dari penelitian diperoleh gambaran sebagai


berikut :

Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%,


saudara kandung 10,1%; anak-anak 12,8%; dan penduduk

secara keseluruhan 0,9%.


Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar
identik 59,20%; sedangkan kembar fraternal 15,2%.

Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan


otak janin juga mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia kelak
dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena kekurangan gizi,
infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal.
Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipuna ada gen yang
abnormal, skizofrenia tidak akan muncul kecuali disertai faktor-faktor
lainnya yang disebut epigenetik faktor. Kesimpulannya adalah bahwa
skizofrenia muncul bila terjadi interaksi antara abnormal gen dengan :

Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu

perkembangan otak janin;


Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama

kehamilan;
Komplikasi kandungan; dan
Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester
kehamilan.

Selanjutnya dikemukakan bahwa orang yang sudah mempunyai


faktor epigenetik tersebut, bila mengalami stresor psikososial dalam

kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk menderita skizofrenia dari


pada orang yang tidak ada faktor epigenetik sebelumnya.
d. Psikopatologi Skizofrenia
e. Tanda dan Gejala Skizofrenia
Secara general gejala serangan skizofrenia dibagi menjadi 2 (dua),
yaitu gejala positif dan negatif (maramis, 2004) yaitu:
Gejala positif
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak
tidak mampu menginterpretasikan dan merespons pesan atau
rangsangan

yang datang.Klien

skizofrenia mungkin

mendengar

suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau


mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya.Auditory
hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu klien merasakan
ada

suara

dari

dalam

dirinya.Kadang

suara

itu

dirasakan

menyejukkan hati, memberi kedamaian, tapi kadang suara itu


menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, seperti
bunuh diri.
Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam
menginterpretasikan

sesuatu

yang

kadang

berlawanan

dengan

kenyataan. Misalnya, para penderita skizofrenia, lampu traffic di jalan


raya yang berwarna merah,kuning, hijau, dianggap sebagai suatu
isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita skizofrenia berubah
menjadi paranoid, mereka selalu merasa sedang di amat-amati,
diintai, atau hendak diserang.
Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah dimana klien
skizofrenia

tidak

mampu

memproses

dan

mengatur

pikirannya.Kebanyakan klien tidak mampu memahami hubungan


antara kenyataan dan logika. Karena klien skizofrenia tidak mampu
mengatur

pikirannya

serampangan

dan

logika.Ketidakmampuan

membuat
tidak
dalam

mereka
bisa

berbicara
ditangkap

berpikir

secara
secara

mengakibatkan

ketidakmampuan mengendalikan emosi dan perasaan. Hasilnya,


kadang penderita skizofrenia tertawaatau berbicara sendiri dengan
keras tanpa mempedulikan sekelilingnya. Semua itu membuat
penderita skizofrenia tidak bisa memahami siapa dirinya, tidak
berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu manusia, juga tidak bisa
mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebagainya.
Gejala Negatif

Klien

skizofrenia

kehilangan

motivasi

dan

apatis

berarti

kehilangan energy dan minat dalam hidup yang membuat klien


menjadi orang yang malas. Karena klien skizofrenia hanya memilki
energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang lain
selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi klien
skizofrenia menjadi datar. Klien skizofrenia tidak memilki ekspresi
baik dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan da
tidak memiliki emosi apapun. Mereka mungkin bisa menerima
pemberian

dan

perhatian

orang

lain,

tetapi

tidak

bisa

mengekspresikan perasaan mereka.


Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan
berharap, selalu menjadi bagian dari hidup klien skizofrenia, mereka
tidak merasa memiliki perilaku yang menyimpang, tidak bisa
membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak mengenal
cinta. Perasaan depresiadalah sesuatu yang sangat menyakitkan,
disamping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil
dalam depresi. Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien
skizofrenia menarik diri dari lingkungannya. Mereka selalu merasa
aman bila sendirian. Dalam beberapa kasus, skizofrenia menyerang
manusia usia muda antara 15 sampai 30 tahun, tetapi serangan
kebanyakan terjadi pada usia 40 tahun ke atas. Skizofrenia bisa
menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun
tingkat sosial ekonomi.Diperkirakan penderita penderita skizofrenia
sebanyak 1% dari jumlah manusia yang ada di bumi.
f. Penatalaksanaan skizofrenia
Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat

berupa

terapi

biologis, dan terapi psikososial.


Terapi Biologis
Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu
terapi

dengan

menggunakan

obat

antipsikosis,

terapi

elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian otak. Terapi dengan


penggunaan

obat

antipsikosis

dapat

meredakan

gejala-gejala

skizofrenia. Obat yang digunakan adalah chlorpromazine (thorazine)


dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk
kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol
(haldol). Obat ini disebut obat penenang utama. Obat tersebut dapat
menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan
tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang

tersebut dapat dengan mudah terbangun). Obat ini cukup tepat bagi
penderita

skizofrenia

yang

tampaknya

tidak

dapat

menyaring

stimulus yang tidak relevan (Durand, 2007).


Terapi Elektrokonvulsif juga dikenal sebagai terapi electroshock
pada

penatalaksanaan

terapi

biologis.

Pada

akhir

1930-an,

electroconvulsive therapy (ECT) diperkenalkan sebagai penanganan


untuk skizofrenia.Tetapi terapi ini telah menjadi pokok perdebatan
dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. ECT ini
digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan
jiwa, termasuk skizofrenia.
Menurut Fink dan Sackeim (1996) antusiasme awal terhadap ECT
semakin memudar karena metode ini kemudian diketahui tidak
menguntungkan bagisebagian besar penderita skizofrenia meskipun
penggunaan terapi ini masih dilakukan hingga saat ini. Sebelum
prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT merupakan
pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien seringkali tidak
bangun

lagi

setelah

mengakibatkan

aliran

listrik

ketidaksadaran

dialirkan

sementara,

ke

tubuhnya

serta

dan

seringkali

menderita kerancuan pikiran dan hilangnya ingatan setelah itu.


Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan
otak mengakibatkan berbagai cacat fisik (Durand, 2007).
Pada terapi biologis lainnya seperti pembedahan bagian otak
memperkenalkan prefrontal lobotomy, yaitu proses operasi primitif
dengan cara membuang stone of madness atau disebut dengan
batu gila yang dianggap menjadi penyebab perilaku yang terganggu.
Menurut Moniz, cara ini cukup berhasil dalam proses penyembuhan
yang dilakukannya, khususnya pada penderita yang berperilaku
kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950-an cara ini ditinggalkan karena
menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya, otak
tumpul, tidak bergairah, bahkan meninggal.
Terapi Psikososial
Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan
situasi pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ)
menjadi

monoton

dan

menjemukan.

Secara historis,

sejumlah

penanganan psikososial telah diberikan pada pasien skizofrenia, yang


mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini merupakan
akibat

masalah

adaptasi

terhadap

dunia

karena

berbagai

pengalaman yang dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat

dua bagian yaitu terapi kelompok dan terapi keluarga (Durand,


2007).

Terapi

kelompok

merupakan

salah

satu

jenis

terapi

humanistik. Pada terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling


berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai
pemberi arah di dalamnya. Para peserta terapi saling memberikan
feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami. Peserta
diposisikan pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk
berkomunikasi, sehingga dapat memperkaya pengalaman peserta
dalam kemampuan berkomunikasi.
Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi
kelompok. Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar
dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Keluarga
berusaha untuk menghindari ungkapan-ungkapan emosi yang bisa
mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali.
Dalam hal ini, keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk
mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang
negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap
persoalan

secara

bersama-sama.

Keluarga

diberi

pengetahuan

tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya.


Dari

beberapa

penelitian,

seperti

yang

dilakukan

oleh

Fallon

(Davison, et al., 1994; Rathus, et al., 1991) ternyata campur tangan


keluarga sangat membantu dalam proses penyembuhan, atau
sekurang-kurangnya
2.2

mencegah

kambuhnya

penyakit

penderita,

dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.


Depresi
Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan

dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk


perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi,
kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.
Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan
pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan,
ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain
sebagainya (Hawari, 2000). Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang
berhubungan dengan penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan
pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam (Nugroho, 2000).
Depresi

adalah

gangguan

patologis

terhadap

mood

mempunyai

karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan


bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidakberdayaan,

harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya
yang akan datang. Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan
perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu
misalnyakematian orang yang dicintai.
2.3
Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami
oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah
yang dihadapi sebaik-baiknya, Maslim (2001). Suatu keadaan seseorang
merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak
spesifik. Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak
dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan
sampai tingkat berat. Mengidentifikasi rentang respon kecemasan kedalam
empat tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan, sedang, berat dan
kecemasan panik.
2.4
Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa

gejala-gejala

gangguan

kepribadian

(psikopatia) dan gejala-gejala nerosa berbentuk hampir sama pada orangorang dengan intelegensi tinggi ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan
bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan intelegensi sebagaian
besar tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi
gangguan kepribadian: kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau
siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif, kepribadian anankastik
atau

obsesif-konpulsif,

kepribadian

histerik,

kepribadian

astenik,

kepribadian antisosial, Kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequate


( Maslim,2001).
2.5
Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang
disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak (Maramis,2004). Gangguan
fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang
terutama mengenai otak atau yang terutama diluar otak. Bila bagian otak
yang terganggu itu luas , maka gangguan dasar mengenai fungsi mental
sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila
hanya bagian otak dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi
inilah yang menentukan gejala dan sindroma, bukan penyakit yang
menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih
menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit tertentu
daripada pembagian akut dan menahun
2.6
Gangguan Psikosomatik

Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah


(Maramis,

2004).

Sering

terjadi

perkembangan

neurotik

yang

memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi


alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan
psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan dahulu
neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka
sering disebut juga gangguan psikofisiologik.
2.7
Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti
atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya
keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada
tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif,
bahasa,

motorik

dan

social.

Sedangkan

menurut

Yosep

(2007)

penggolongan gangguan jiwa dan dibedakan menjadi :


a. Neurosa
Neurosa ialah kondisi psikis dalam ketakutan dan kecemasan yang
kronis dimana tidak ada rangsangan yang spesifik yang menyebabkan
kecemasan tersebut.
b. Psikosa
Psikosis merupakan

gangguan

penilaian

yang

menyebabkan

ketidakmampuan seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya.


Hasilnya, terdapat realita baru versi orang psikosis tersebut. Psikosis
dapat pula diartikan sebagai suatu kumpulan gejala atau sindrom yang
berhubungan gangguan psikiatri lainnya, tetapi gejala tersebut bukan
merupakan gejala spesifik penyakit tersebut
3. Gejala Gangguan jiwa
3.1
Gejala Gangguan Psikologis Pada KESADARAN & KOGNISI
Kesadaran adalah suatu kondisi kesigapan mental individu dalam
menanggapirangsang dari luar maupun dari dalam. Gangguan kesadaran
seringkali merupakanpertanda kerusakan organik pada otak. Terdapat
berbagai tingkatan kesadaran,yaitu:
a. Kompos mentis: adalah suatu derajat optimal dari kesigapan mental
individu dalam menanggapi rangsang dari luar maupun dari dalam
dirinya. Individu mampu memahami apa yang terjadi pada diri dan
lingkungannya serta bereaksi secara memadai.
b. Apatia: adalah suatu derajat penurunan kesadaran, yakni individu
berespon lambat terhadap stimulus dari luar. Orang dengan kesadaran
apatis tampak tak acuh terhadap situasi disekitarnya. Psikologi &
Psikoterapi.

c. Somnolensi:

adalah

suatu

keadaan

kesadaran

menurun

yang

cenderung tidur. Orang dengan kesadaran somnolen tampak selalu


mengantuk dan bereaksi lambat terhadap stimulus dari luar.
d. Sopor: adalah derajat penurunan kesadaran berat. Orang dengan
kesadaran sopor nyaris tidak berespon terhadap stimulus dari luar,
atau hanya memberikan respons minimal terhadap perangsangan kuat.
e. Koma: adalah derajat kesadaran paling berat. Individu dalam keadaan
koma tidak dapat bereaksi terhadap rangsang dari luar, meskipun
f.

sekuat apapun perangsangan diberikan padanya.


Kesadaran berkabut: suatu perubahan kualitas

kesadaran

yakni

individu tidakmampu berpikir jernih dan berespon secara memadai


terhadap situasi disekitarnya. Seringkali individu tampak bingung, sulit
memusatkan perhatiandan mengalami disorientasi.
g. Delirium: suatu perubahan kualitas kesadaran yang disertai gangguan
fungsi kognitif yang luas. Perilaku orang yang dalam keadaan delirium
dapat sangat berfluktuasi, yaitu suatu saat terlihat gaduh gelisah lain
waktu nampak apatis. Keadaan delirium sering disertai gangguan
persepsi berupa halusinasi atauilusi. Biasanya orang dengan delirium
akan sulit untuk memusatkan,mempertahankan dan mengalihkan
perhatian (3 P terganggu)
h. Kesadaran seperti mimpi

(Dream

like

state):

adalah

gangguan

kualitaskesadaran yang terjadi pada serangan epilepsi psikomotor.


Individu dalamkeadaan ini tidak menyadari apa yang dilakukannya
meskipun tampak sepertimelakukan aktivitas normal. Perlu dibedakan
dengan tidur berjalan (sleepwalking) yang akan tersadar bila diberikan
perangsangan
i.

(dibangunkan),sementara

pada

dream

like

state

penderita tidak bereaksi terhadapperangsangan.


Twilight state: keadaan perubahan kualitas kesadaran yang disertai
halusinasi. Seringkali terjadi pada gangguan kesadaran oleh sebab
gangguanotak organik. Penderita seperti berada dalam keadaan
separuh sadar,respons terhadap lingkungan terbatas, perilakunya

3.2

impulsif, emosinya labildan tak terduga.


Gejala Gangguan Psikologis Pada EMOSI / PERASAAN
Emosi adalah suasana perasaan yang dihayati secara sadar, bersifat

kompleks

melibatkan

pikiran,

persepsi

dan

perilaku

individu.Secara

deskriptif fenomenologis emosi dibedakan antara mood dan afek.


a. Gejala Gangguan Mental Pada Mood
Mood adalah suasana perasaan yang bersifat pervasif dan bertahan
lama, yang mewarnai persepsi seseorang terhadap kehidupannya.

1. Mood eutimia: adalah suasana perasaan dalam rentang normal,


yakni individu mempunyai penghayatan perasaan yang luas dan
serasi dengan irama hidupnya.
2. Mood hipotimia: adalah suasana perasaan yang secara pervasif
diwarnai dengan kesedihan dan kemurungan. Individu secara
subyektif
semangat.

mengeluhkan

tentang

Secara obyektif

kesedihan

tampak

dan

dari sikap

kehilangan

murung

dan

perilakunya yang lamban.


3. Mood disforia: menggambarkan suasana perasaan yang tidak
menyenangkan. Seringkali diungkapkan sebagai perasaan jenuh,
jengkel, atau bosan.
4. Mood hipertimia: suasana
memperlihatkan
terhadap

perasaan

semangat

berbagai

dan

aktivitas

yang

kegairahan

kehidupan.

secara
yang

perfasif

berlebihan

Perilakunya

menjadi

hiperaktif dan tampak enerjik secara berlebihan.


5. Mood eforia: suasana perasaan gembira dan sejahtera secara
berlebihan.
6. Mood ekstasia:

suasana

perasaan

yang

diwarnai

dengan

kegairahan yang meluap luap. Sering terjadi pada orang yang


menggunakan zat psikostimulansia
7. Aleksitimia: adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk
menghayati suasana perasaannya. Seringkali diungkapkan sebagai
kedangkalan kehidupan emosi. Seseorang dengan aleksitimia
sangat sulit untuk mengungkapkan perasaannya.
8. Anhedonia: adalah suatu suasana perasaan yang diwarnai dengan
kehilangan minat dan kesenangan terhadap berbagai aktivitas
kehidupan.
9. Mood kosong: adalah kehidupan emosi yang sangat dangkal, tidak
atau sangat sedikit memiliki penghayatan suasana perasaan.
Individu dengan mood kosong nyaris kehilangan keterlibatan
emosinya dengan kehidupan disekitarnya. Keadaan ini dapat
dijumpai pada pasien skizofrenia kronis.
10.Mood labil: suasana perasaan yang berubah ubah dari waktu ke
waktu. Pergantian perasaan dari sedih, cemas, marah, eforia,
muncul bergantian dan tak terduga. Dapat ditemukan pada
gangguan psikosis akut.
11.Mood iritabel: suasana perasaan yang sensitif, mudah tersinggung,
mudah marah dan seringkali bereaksi berlebihan terhadap situasi
yang tidak disenanginya.
b. Gejala Gangguan Mental Pada Afek

Afek adalah respons emosional saat sekarang, yang dapat dinilai lewat
ekspresi wajah, pembicaraan, sikap dan gerak gerik tubuhnya (bahasa
tubuh).Afekmencerminkan situasi emosi sesaat.
1. Afek luas: adalah afek pada rentang normal, yaitu ekspresi emosi
yang luasdengan sejumlah variasi yang beragam dalam ekspresi
wajah, irama suara maupun gerakan tubuh, serasi dengan suasana
yang dihayatinya.
2. Afek menyempit: menggambarkan nuansa ekspresi emosi yang
terbatas.

Intensitas

dan

keluasan

dari

ekspresi

emosinya

berkurang, yang dapat dilihat dari ekspresi wajah dan bahasa


tubuh yang kurang bervariasi.
3. Afek menumpul: merupakan penurunan serius dari kemampuan
ekspresi emosi yang tampak dari tatapan mata kosong, irama
suara monoton dan bahasa tubuh yang sangat kurang.
4. Afek mendatar: adalah suatu hendaya afektif berat lebih parah dari
afek menumpul. Pada keadaan ini dapat dikatakan individu
kehilangankemampuan ekspresi emosi. Ekspresi wajah datar,
pandangan mata kosong,sikap tubuh yang kaku, gerakan sangat
minimal, dan irama suara datar seperti robot.
5. Afek serasi: menggambarkan keadaan normal dari ekspresi emosi
yangterlihat dari keserasian antara ekspresi emosi dan suasana
yang dihayatinya.
6. Afek tidak serasi: kondisi sebaliknya yakni ekspresi emosi yang
tidak cocok dengan suasana yang dihayati. Misalnya seseorang
yang menceritakansuasana duka cita tapi dengan wajah riang dan
tertawa tawa.
7. Afek labil: Menggambarkan perubahan irama perasaan yang cepat
dan tiba tiba, yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal.
3.3

Gejala Gangguan Psikologis Pada PERILAKU MOTORIK


Perilaku adalah ragam perbuatan manusia yang dilandasi motif dan

tujuan tertentu serta melibatkan seluruh aktivitas mental individu. Perilaku


merupakan respons totalindividu terhadap situasi kehidupan. Perilaku
motorik adalah ekspresi perilakuindividu yang terwujud dalam ragam
aktivitas motorik. Berikut ini diuraikan berbagairagam gangguan perilaku
motorik yang lazim dijumpai dalam praktek psikiatri, yaitu:
1. Stupor Katatonia: penurunan aktivitas motorik secara ekstrim,
bermanifestasi sebagai gerakan yang lambat hingga keadaan tak

bergerak dan kaku sepertipatung. Keadaan ini dapat dijumpai pada


skizofrenia katatonik
2. Furor katatonia: suatu keadaan agitasi motorik yang ekstrim,
kegaduhanmotorik tak bertujuan, tanpa motif yang jelas dan tidak
dipengaruhi

olehstimulus

eksternal.

Dapat

ditemukan

pada

skizofrenia katatonik, seringkalisilih berganti dengan gejala stupor


katatonik.
3. Katalepsia: adalah keadaan mempertahankan sikap tubuh dalam
posisi tertentu dalam waktu lama. Individu dengan katalepsi dapat
berdiri di atas satu kaki selama berjam jam tanpa bergerak.
Merupakan salah satu gejala yang bisa ditemukan pada skizofrenia
katatonik.
4. Flexibilitas cerea: keadaan sikap tubuh yang sedemikian rupa dapat
diatur tanpa perlawanan sehingga diistilahkan seluwes lilin.
5. Akinesia: menggambarkan suatu kondisi aktivitas motorik yang
sangat terbatas, pada keadaan berat menyerupai stupor pada
skizofrenia katatonik.
6. Bradikinesia: perlambatan gerakan motorik yang biasa terjadi pada
parkinsonisme atau penyakit parkinson. Individu memperlihatkan
3.4

gerakan yang kaku dan kehilangan respons spontan.


Gejala Gangguan Psikologis Pada PROSES BERPIKIR
Gejala gangguan mental pada proses berpikir adalah sebagai berikut:
1. Proses pikir primer: terminologi yang umum untuk pikiran yang
dereistic, tidak logis, magis; secara normal ditemukan pada mimpi,
tidak normal sepertipada psikosis
2. Gangguan bentuk pikir/arus pikir: asosiasi longgar: gangguan arus
piker dengan ideideyang berpindah dari satu subyek ke subyek lain
yang tidakberhubungan sama sekali; dalam bentuk yang lebih
parah disebut inkoherensia.
3. Inkoherensia: pikiran yang secara umum tidak dapat kita mengerti,
pikiran atau kata keluar bersama-sama tanpa hubungan yang logis
atau tata bahasa tertentu hasil disorganisasi piker.
4. Flight of Ideas / lommpat gagasan: pikiran yang sangat cepat,
verbalisasi berlanjut atau permainan kata yang menghasilkan
perpindahan yang konstan dari satu ide ke ide lainnya; ide biasanya
berhubungan dan dalam bentuk yang tidak parah, pendengar
mungkin dapat mengikuti jalan pikirnya.
5. Sirkumstansial: pembicaraan yang tidak langsung sehingga lambat
mencapai

point

yang

diharapkan,

tetapi

seringkali

akhirnya

mencapai point atau tujuan yang diharapkan, sering diakibatkan


keterpakuan yang berlebihan pada detail dan petunjuk petunjuk.
6. Tangensial: ketidakmampuan untuk mencapai tujuan secara
langsung dan seringkali pada akhirnya tidak mencapai point atau
tujuan yang diharapkan.