Anda di halaman 1dari 17

UJIAN

COMPOUNDING AND DISPENSING

Oleh:
Margaretta Indra Pratiwi (1308515004)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

I. RESEP
Seorang pasien datang membawa resep ke apotek, Apoteker menyapa pasien dan
memperkenalkan diri sebagai apoteker di apotek tersebut. Selanjutnya Apoteker menanyakan
maksud dan tujuan pasien datang ke apotek. Pasien akan menyatakan maksudnya untuk
menebus resep serta menyerahkan resep yang akan ditebusnya. Berikut adalah resep yang
dibawa oleh pasien:

Gambar 1. Resep
II. SKRINING RESEP
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan


bahwa skrining resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi:
1. Persyaratan administratif :
Nama, SIP, dan alamat dokter
Tanggal penulisan resep
Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang minta
Cara pemakaian yang jelas
Informasi lainnya
2. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas,
cara dan lama pemberian.

3. Pertimbangan klinis:

adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis,

durasi, jumlah obat, dan lain-lain).


2.1 Skrining Administratif
Hasil skrining administrasi pada resep dapat dilihat pada Tabel 1.
Kelengkapan Resep
Nama
SIP
SIK
Alamat rumah
Identitas dokter
Alamat praktek
No Telp
Hari dan jam kerja
Simbol R/
Nama Kota
Superscriptio
Tanggal resep
Nama obat
Kekuatan/potensi obat
Inscriptio
Jumlah obat
Bentuk sediaan obat (BSO)
Subscriptio
Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Signatura
Waktu minum obat
Informasi lain
Paraf
Penutup
Tanda tangan
Nama
Alamat
Umur
Identitas pasien
Jenis kelamin
BB

Ada

Tidak ada

Tabel 1. Hasil Skrining Administratif Resep


Permasalahan administratif pada resep yaitu identitas dokter dan pasien kurang
lengkap. SIK dokter tidak ada. Pada pasien, alamat yang tercantum hanya kota saja, tidak
alamat lengkap sehingga perlu ditanyakan lebih lanjut apabila pasien baru pertama kali
menebus resep ke Apotek. Identitas pasien yang kurang lainnya yaitu berat badan pasien.
Pasien adalah anak-anak umur 5 tahun, sehingga data berat badan sangat diperlukan untuk
perhitungan dosis. Untuk data jenis kelamin dapat melihat langsung pasin dimana pasien
adalah seorang anak laki-laki.
Didalam resep informasi terkait obat yang belum lengkap yaitu potensi atau kekuatan
obat. Dalam resep yang terdapat kekuatan obat hanya Sedrofen saja. Sediaan lain, yaitu
Trifed, Mucohexin, dan Indexon, hanya tercantum bentuk sediaannya yaitu tablet. Data

kekuatan atau potensi obat ini penting untuk menghindarkan terjadinya kesalahan dalam
dispensing obat kepada pasien.
Berdasarkan hasil skrining administratif yang telah dilakukan, terdapat permasalahan
yang terjadi. Permasalahan skrining administratif resep dan cara pengatasannya dirangkum
sebagai berikut:

Identitas dokter penulis resep kurang lengkap


Pengatasan: dalam kasus ini, dokter penulis resep adalah dokter yang praktek di
apotek sehingga resep terjamin keasliannya
Identitas pasien tidak lengkap
Pengatasan: menanyakan langsung kepada pasien
Dalam resep tersebut tidak terdapat kekuatan tablet Trifed, Mucohexin, dan
Indexon yang diberikan.
Pengatasan: semua sediaan tersedia dalam 1 jenis potensi saja sehingga tidak perlu
dikonsultasikan dengan dokter

Percakapan dengan pasien untuk penggalian informasi identitas pasien dilakukan


sebagai berikut.
Apoteker

: Selamat sore Bu. Apakah sebelumnya anak Ibu pernah periksa di dr.
Mitra dan menebus obat di sini?

Pembawa resep : Belum Mbak.


Apoteker

: Untuk kelengkapan administrasi, saya memerlukan informasi tambahan.


Berapa berat badan anak Ibu?

Pembawa resep : Berat badannya 26 kg.


Apoteker

: Apakah anak Ibu memiliki riwayat penyakit dan alergi obat?

Pembawa resep : Tidak ada Mbak.


Apoteker

: Apakah ada obat yang sedang dikonsumsi?

Pembawa resep : Tidak ada Mbak.


Apoteker

: Apakah anak Ibu alergi susu?

Pembawa resep : Tidak Mbak.


Apoteker

: Dimana alamat rumah Ibu dan berapa no telepon yang dapat kami
hubungi?

Pembawa resep : Perum. Bumi Jimbaran Asri Jl. Kampus Udayana II no 20 Jimbaran dan
No telepon rumah saya (0361) 833999.
Apoteker

: Terima kasih Bu.

Setelah dilakukan pengatasan masalah administratif, Apoteker memutuskan bahwa


resep tersebut dapat ditangani. Skrining resep kemudian dilanjutkan ke skrining farmasetik
dan farmakologi.
2.2 Skrining Farmasetik
Skrining farmasetik dilakukan untuk melihat apakah ada masalah farmasetik sediaan
dari obat-obat yang dituliskan dalam resep. Kesesuaian farmasetik yang perlu diperhatikan
berdasarkan Kepmenkes nomor

1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek antara lain bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas,
cara dan lama pemberian.
a. Bentuk Sediaan
Dalam resep Trifed, Mucohexin, dan Indexon sudah tercantum bentuk sediaannya yaitu
tablet. Sedangkan Sedrofen belum

tercantum bentuk sediaannya, namun sediaan

Sedrofen yang beredar dipasaran ialah berupa kapsul (MIMS, 2012). Pemilihan bentuk
sediaan Sedrofen tidak tepat karena Sedrofen berisi antibiotik Cefadroxil. Antibiotik tidak
boleh dicampur dengan sediaan simptomatik karena antibiotik harus diminum sampai habis,
sedangkan obat simtomatik diminum hanya sampai gejala hilang.

b. Dosis Sediaan
Dosis masing-masing sediaan dalam resep sudah tercantum dengan jelas.
c. Potensi atau Kekuatan Sediaan
Penulisan kekuatan pada resep masih kurang lengkap sehingga perlu disesuaikan
antara bentuk sediaan dari nama obat yang disebutkan dalam resep dengan sediaan yang ada
di pasaran. Jika tidak terdapat potensi dari masing-masing obat, maka potensi yang dimaksud
dalam resep adalah potensi terkecil dari sediaan tersebut. Bila perlu, apoteker harus
berkonsultasi kembali kepada dokter untuk memastikan bahwa potensi obat tersebut.
Adapun potensi sediaan yang belum lengkap adalah Trifed, Mucohexin, dan Indexon.
Akan tetapi ketiga obat hanya memiliki satu jenis potensi saja sehingga tidak
dipermasalahkan

e. Inkompatibilitas
Tidak terdapat masalah inkompatibilitas karena semua sediaan yang dicampur
merupakan sediaan padat. Masalah yang terjadi yaitu salah pemilihan bentuk sediaan
Sedrofen.

2.3 Skrining Farmakologi


Pada tahap ini dilakukan pertimbangan pemberian obat pada resep berdasarkan
adanya alergi, efek samping, interaksi, dan kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat, dan lainlain) sesuai dengan Kepmenkes nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek. Alergi pasien telah ditanyakan sebelumnya pada pelengkapan syarat
administrasi dan dicatat pada catatan pengobatan pasien. Berdasarkan hasil percakapan
dengan ibu Pasien, diketahui bahwa pasien An. Rhadaa tidak memiliki alergi. Untuk
menentukan efek samping, interaksi, dan kesesuaian obat pada resep, perlu mengetahui
spesifikasi obatnya.

b. Kesesuaian
Berdasarkan spesifikasi masing-masing obat, dapat diketahui bahwa pasien tidak
memiliki riwayat alergi. Sedangkan adanya efek samping obat, interaksi, kesesuaian (dosis,
durasi, jumlah obat, dan lain-lain) akan dibahas lebih lanjut pada bagian analisis SOAP.
III. ANAMNESE KEFARMASIAN
3.1 Indikasi Obat
Dua hal utama yang harus diperhatikan dalam penegakan anamnese kefarmasian yaitu
mengetahui indikasi dan tujuan pemberian obat yang diresepkan serta mengajukan three
prime question kepada pasien. Pasien membawa resep dari dokter spesialis telinga hidung
tenggorokan. Obat yang diresepkan antara lain sedrofen kapsul, trifed tablet, mucohexin
tablet, dan indexon tablet. Indikasi dan tujuan pemberian obat tersebut dapat dilihat pada
Tabel 2.
Nama Sediaan
Sedrofen Kapsul

Kandungan
dan Dosis
Cefadroxil
monohydrate

Kategori Farmakologi

Indikasi

Antibiotika
golongan Pengobatan untuk infeksi bakteri
cephalosporin (Lacy et yang rentan terhadap sefadroksil,

500 mg

Trifed Tablet

Mucohexin
Tablet

Indexon Tablet

al., 2008)

termasuk infeksi yang disebabkan


oleh
Streptococcus
A
betahomolitik (Lacy et al., 2008)
Triprolidine
Kombinasi
Antagonis Pengobatan sementara untuk
HCl 2.5 mg, Histamin H1 dan agonis kongesti nasal, menghilangkan
pseudoephed alfa/beta (Lacy et al., mampet pada hidung, hidung
rine HCl 60 2008).
meler, bersin-bersin, gatal pada
mg
hidung atau tenggorokan, mata
berair karena common cold, hay
fever, atau alergi pada saluran
pernafasan bagian atas lain (Lacy
et al., 2008).
Bromheksin
Mukolitik (Sweetman,
Pengobatan
gangguan
pada
HCl 8 mg
2009)
saluran nafas yang dihubungkan
dengan batuk produktif, sindrom
mata kering karena produksi
mucus
yang
tidak normal
(Sweetman, 2009).
Deksametha- Kortikosteroid sistemik,
Terutama sebagai antiinflamasi
son 0.5 mg
agen antiinflamasi (Lacy
dan agen penekan sistem imun
et al., 2008)
pada
pengobatan
berbagai
penyakit,
termasuk
alergi,
endokrin, hematologi, inflamasi,
neoplastik, sistem saraf, ginjal,
saluran pernafasan, rematik, dan
autoimun, mungkin digunakan
untuk pengobatan edema otak,
shock sepsis, pembengkakan
kronis, sebagai agen pembantu
penegakan diagnosa, diagnosa
sindrom Cushing, dan antiemetik
(Lacy et al., 2008).

Tabel 2. Indikasi Obat


Berdasarkan indikasi obat-obat yang diresepkan, anamnese kefarmasian sementara
yaitu infeksi saluran pernafasan bagian atas (upper respiratory tract infection).
3.2 Three Prime Question
Untuk memperkuat anamnese kefarmasian, diperlukan informasi tambahan dari
pasien melalui three prime questions dan keluhan yang diderita pasien. Keluhan pasien
didapatkan dengan menanyakan langsung dan melihat sendiri gejala yang dialami sehingga
didapatkan data subyektif dan obyektif. Berikut ini adalah percakapan antara Apoteker
dengan Ibu pasien.

Apoteker
: Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang Ibu terima?
Pembawa resep : Tadi dokter bilang kalau anak saya terkena penyakit yang namanya
Apoteker

rhinosinusitis.
: Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang

Ibu terima?
Pembawa resep : Obatnya diminum tiga kali sehari satu bungkus
(penjelasan mengenai cara penggunaan obat sudah benar tetapi kurang lengkap, oleh
karena itu dalam hal ini apoteker berperan memberikan penjelasan yang lengkap mengenai
cara pakai obat tersebut.).
Apoteker
: Apa yang Dokter katakan mengenai harapan setelah anak Ibu
menggunakan obat ini?
Pembawa resep : Dokter tidak mengatakan apa-apa Mbak
(durasi pengobatan belum disampaikan oleh dokter. Informasi yang juga belum diberikan
yaitu efek samping yang mungkin timbul dan cara penyimpanan obat).
Selanjutnya digali informasi lagi dari pasien:
Apoteker
: Maaf Bu, saya memerlukan beberapa informasi agar saya dapat
menjelaskan cara pemakaian obat dengan tepat. Keluhan apa saja yang
anak Ibu rasakan yang telah disampaikan kepada dokter?
Pembawa resep : anak saya pilek dan bersin-bersin sejak hampir 2 minggu yang lalu, sejak
seminggu yang lalu dia batuk-batuk Mbak.
Apoteker
: Apakah sejak pilek anak Ibu belum pernah Ibu bawa ke dokter?
Pembawa resep : Baru hari ini Mbak. Saya kira hanya flu biasa, jadi hanya saya beri
vitamin C saja biar cepat sembuh
Apoteker
: Oh begitu ya Bu. Apakah anak Ibu sempat demam?
Pembawa resep : Sejak 2 hari yang lalu sempat demam tinggi, namun sudah tidak demam
lagi hari ini
Apoteker
: Apakah anak Ibu sempat diberi antibiotik bulan lalu?
Pembawa resep : Tidak Mbak.
Apoteker
: Maaf, saya lihat langsung dulu anak Ibu ya.
Pembawa resep : Iya Mbak
(Apoteker melihat kondisi pasien langsung di mana pasien batuk berdahak, amandel tidak
membengkak, hidung memerah dan meler, disertai bersin-bersin, Selain itu, apoteker sempat
mengukur suhu tubuh pasien dengan termometer digital, di mana didapatkan suhu tubuh
pasien ialah 37.5oC)
Apoteker
: Apakah sebelumnya makan makanan tertentu?
Pembawa resep : Tidak Mbak
Apoteker
: Apakah anak Ibu memiliki alergi obat?
Pembawa resep : Tidak Mbak
Apoteker
: Apakah memiliki riwayat penyakit?
Pembawa resep : Tidak Mbak
Apoteker
: Apakah sedang konsumsi obat tertentu?
Pembawa resep : Tidak Mbak

Apoteker

: Apakah Ibu ikut asuransi JKN atau asuransi lainnya

Pasien

: Tidak Mbak

Apoteker

: Baik. Ini no antrian Ibu. Mohon ditunggu sebentar ya Bu, nanti nomor
antrian Ibu akan kami panggil.

Pasien

: Iya Mbak.
Dari hasil percakapan dengan Ibu pasien dan melihat langsung kondisi pasien, dapat

diketahui bahwa pasien mengalami rhinosinusitis akut karena infeksi bakteri. Data subyektif
dan obyektif pasien dirangkum dalam Tabel 4.
Subyektif
Bersin-bersin, hidung meler selama
hampir 2 minggu
Batuk berdahak selama seminggu
Sempat demam tinggi selama 2 hari
Tidak mengeluhkan susah menelan

Obyektif
Suhu tubuh 37.5oC
Batuk berdahak
Hidung memerah, dan meler, disertai
bersin-bersin.
Amandel tidak membengkak

Tabel 4. Data Subyektif dan Obyektif Pasien


Data keluhan pasien secara subyektif dan obyektif tersebut menunjukkan bahwa
pasien mengalami rhinosinusitis akut karena infeksi bakteri. Anamnese kefarmasian ini
diperkuat dengan melihat algoritma terapi untuk rhinosinusitis akut karena infeksi bakteri
pada Gambar 5.

Gambar 5. Algoritma Terapi Rhinosinusitis Akut karena infeksi bakteri (Chow et al., 2012).
Adapun regimen antimikroba untuk rhinositis akut karena infeksi bakteri pada anakanak dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Regimen antimikroba untuk rhinositis akut karena infeksi bakteri pada anakanak (Chow et al., 2012).

Berdasarkan tabel 5, diketahui bahwa cefadroksil tidak termasuk regimen antimikroba


untuk rhinosinositis akut karena infeksi bakteri pada anak-anak, sehingga perlu
dikonsultasikan dengan dokter terkait penggantian cefadroksil dengan antibiotik lainnya.
Untuk trifed, mucoheksin, dan indexon yang merupakan obat simptomatis pada terapi pasien,
di mana trifed berfungsi untuk mengurangi mampet dan meler pada hidung pasien serta
bersin-bersin pada pasien, mucoheksin sebagai agen mukolitik yang berfungsi mengencerkan
dahak sehingga mudah dikeluarkan oleh pasien, sedangkan indexon berguna untuk
mengurangi inflamasi pada sinus pasien sehingga mampet pada hidung dapat segera
berkurang. Dengan demikian, pemilihan obat simptomatis pada pasien telah tepat.
Untuk memastikan anamnese kefarmasian perlu dilakukan konsultasi dengan dokter
IV. ANALISIS SOAP
4.3 Assesment
Assesment dapat dilakukan dengan menggunakan analisa 4T1W ataupun dengan
analisa DRP. Pada resep ini akan dilakukan analisa DRP sebagai berikut:
DRP
Terapi obat yang tidak perlu
Obat yang tidak tepat

Salah

DRP pada Resep

Dosis terlalu rendah


Adverse drug reaction
Dosis terlalu tinggi

sediaan cefadroxil
Dosis terlalu tinggi untuk Diganti 1/3 tab

pemilihann

Pengatasan DRP

bentuk Diganti dengan

Mucohexin
Kepatuhan pasien
Memerlukan terapi tambahan
Interaksi obat
Tabel . Analisa SOAP dengan metode DRP

Perhitungan Dosis

1 kali

Sedrofen

Cefadroxil
monohidrat 500 mg
3 xsehari
Triprolidine HCl 2,5
mg, (1/3)

Trifed

Mucohexin
Indexon

Pseudoephedrine
HCl 60 mg
3 x sehari (1/3)

Dosis Lazim
1 hari
30 mg/kgBB/hari
dalam dosis terbagi 2
kali sehari (anak)

Dodis Maksimal
1 kali
1 hari
-

2 g/hari
(anak)

2,5 mg
(dewasa)

5 mg/hari
(anak)

60
mg
diberikan
3-4 kali
(dewasa)

240 mg/hari
(dewasa)

Bromhexin HCl 8 mg

0.08-0.3
mg/kg/hari
Dexamethasone 500 6-85
24-340 g/kgBB
mcg
g/kgBB
(anak)
3 x sehari (1/3)
(anak)
Tabel . Dosis Lazim dan Maksimum Obat
3 x sehari (1/2)

(DepKes RI, 1979; Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011)


Pertihungan dosis untuk anak 5 tahun:
Perhitungan menggunakan rumus Clark (Syamsuni, 2006):

Dimana, Da = Dosis anak


W anak = berat badan anak (pon = kg x 2,2)
W dewasa = berat badan dewasa 150 pon
Dd = Dosis dewasa
Berdasarkan hasil diskusi dengan Ibu pasien, pasien dengan An. Rhadaa umur 5 tahun
memiliki berat badan 26 kg. Beberapa perhitungan menggunakan data berat badan dalam kg
(mg/kgBB), tetapi jika dosis tidak dikalikan langsung dengan berat kg maka menggunakan
rumus Clarks. Berat badan pasien dikonversikan dalam pon menjadi:
26 kg = (26 x 2,2) pon = 57,2 pon. Sehingga perhitungan masing-masing dosis obat adalah
sebagai berikut:
a. Cefadroxil
30 mg/kgBB/hari
Untuk BB = 26 kg : 30 x 26 = 780 mg

b. Triprolidine HCl
Da = 57,2/ 150 x 5 mg/hari = 1,91 mg/hari
c. Pseudoephedrine HCl
Da = 57,2/ 150 x 240 mg/hari = 91,52 mg/hari
d. Bromhexin HCl
0.08-0.3 mg/kg/hari
e. Dexamethasone
Da 1x = 6-85 g/kgBB = 6-85 g x 26 kg = 156-2210 g = 0,156 mg 1,21 mg
Da 1x = 24-340 g/kgBB = 24-340 g x 26 kg = 624 8840 g = 0,624 8,84 mg
Dosis Lazim
1 kali
1 hari
Cefadroxil
monohidrat 200
mg
3 xsehari
Triprolidine HCl
2,5 mg,

Sedrofen

Trifed

Mucohexin

780

2 g/hari
(anak)

1,91
mg/hari

5 mg/hari
(anak)

91,52
mg/hari

Pseudoephedrine
HCl 60 mg
3 x sehari

60 mg
diberikan
3-4 kali
(dewasa)

Bromhexin HCl
8 mg

2,08-7,8
mg

3 x sehari

Indexon

Dexamethasone
500 mcg

3 x sehari

Dodis Maksimal
1 kali
1 hari

Resep
600 sehari
(tepat)
2,5 / hari
tepat dose
40 mg

0,156 mg 0,624
1,21 mg 8,84 mg

12 mg
(over dose

500 mcg/1500
mcg = 0,167
mg/ 0,5 mg
(tepat dosis)

4.4 Plan
Berdasarkan hasil analisis SOAP, terdapat beberapa DRP yang terjadi pada resep.
Pengatasan DRP perlu dikonsultasikan dengan dokter. Selain pengatasan DRP, anamnese
kefarmasian juga perju dikonsultasikan terlebih dahulu. Berikut ini adalah konsultasi yang
dilakukan dengan dokter.
Apoteker

: Selamat siang Dok, saya Apoteker Apotek Marga Farma Dok. Maaf dok, apa

Dokter

ada waktu sebentar, saya ingin menanyakan mengenai resep An. Rhadaa
: Iya itu pasien saya. Ada apa?

Apoteker

: Apakah pengobatannya diindikasikan untuk rhinosinositis akut?

Dokter

: Iya.

Apoteker

: pemberian Cefadroxil dengan pertimbangan apa Dok? Menurut literatur yang


saya baca untuk rhinosinositis akut antibiotik yang digunakan itu
Amoxicillin.

Dokter

: Saya pertimbangkan resistensi.apa harusnya amox?

Apoteker

: Iya Dok.

Dokter

: Iya, tidak apaa2. Tolong sesuaikan dosisnya..

Apoteker

: dosis untuk trifed dan indexon lebih dari dosis maksimal Dok. Bagaimana
baiknya?

Dokter

: iyaa.. tolong diganti

Apoteker

: Baik Dok, terima kasih atas waktu dan sarannya. Selamat siang Dok

Dokter

:Iya. Sama-sama. Selamat siang.


Hasil konsultasi dengan dokter memastikan bahwa pasien menderita penyakit.... Plan

pengatasan masalah terkait DRP adalah sebagai berikut


a. Resep Akhir
Berdasarkan analisis DRP serta hasil konsultasi dengan dokter, ada perubahan dalam
obat yang diresepkan. Beberapa perubahan yang dilakukan untuk pengatasan DRP adalah
sebagai berikut
-

Sedrofen diganti dengan claneksi forte berisi amox klavulonat. dosisnya 45


mg/kg/hari 2 x sehari. Dosis yang diberikan 582.5 mg, diminum 2 1/3 sendok teh.

claneksi forte diberikan 3 botol untuk minimal 5 hari terapi


Mucohexin di racik 1/3 tab untuk 1 pulvis

V. COMPOUNDING / Penyiapan Obat


Resep yang telah melalui skrining administrasi, farmasetik dan farmakologi kemudian
dilanjutkan ke tahap penyiapan obat. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, penyiapan
obat tersebut meliputi peracikan, etiket, kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat,
informasi obat, konseling, dan monitoring penggunaan obat.
1. Peracikan sediaan:
Trifed, mocohexin, dan indexon diracik sebanyak 7 tablet masing-masing lalu dibagi
menjadi 20 bagian serbuk
2. Final Check: Pemeriksaan kembali kondisi dan jumlah bungkus serbuk yang telah
diracik.

3. Sign off
a. Sediaan puyer yang telah dikemas dengan klip obat diberi etiket putih dengan
keterangan diminum 3 kali sehari 1 bungkus setelah makan
b.
.
4. Clean up: Membersihkan alat yang digunakan serta sekitar tempat peracikan.

VI. DISPENSING DAN KIE


Penyerahan obat disertai dengan pemberian KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)
kepada pasien mengenai manfaat atau indikasi obat, aturan pakai, cara penyimpanan obat,
jangka waktu penggunaan obat, efek samping yang mungkin muncul, dan beberapa hal yang
perlu dilakukan oleh pasien yang mencakup pelaksanaan terapi non farmakologi, antara lain:
KIE mengenai obat :
a) Apoteker memanggil nomor antrian pasien An. Rhadaa
b) Ada dua obat yang diberikan kepada pasien yaitu:
c) claneksi forte untuk mengobati infeksi . Diminum 2 kali sehari setelah makan. Tiap kali
minum sebanyak dikocok dahulu lalu dituang 2 1/3 sendok takar yang terdapat tanda
batas 5 ml. dengan cara menuangkan sirup dalam pada gelas kecil lalu diminumkan.
Sirup diminum sampe habis
d) serbuk diminum 3 kali sehari setelah makan. Jika ada gangguan pencernaan seperti diare
segera periksa lagi ke dokter
e) jika 3-5 hari tidak membaik kembali periksa ke dokter
KIE:
Hidari makan berminya dan minuman dingin

VII. MONITORING
- kepatuhan pasien minum antibiotik: telpon ibu pasien hari ke dua
- perbaikan gejala hari ke 3 dengan telpon

VIII. PMR (Patient Medical Record)

Catatan Pengobatan Pasien (Patient Medication Record)


Nama Pasien
Nomor Register
Tanggal Lahir
Jenis Kelamin

: Rhadaa
: 01
: Denpasar,
: Laki-laki

Riwayat Alergi
:
a. ...........-............................-.
b. ........................................
c. ........................................
d. ........................................

Tgl

15
Jan
2014

No.
R/
01

Dokter

Dr. Mirta

Alamat
No. Telp
Apotek
Apoteker
Penyakit Kronis :
a. ...............-............................
b. ...........................................
c. ...........................................
d. ...........................................

Obat

Claneksi
forte
Ttrifed
Mucohexin
indexon

Dosis

Jumlah

: Perum Bumi Jimbaran Asri. Jl. Kampus Udayana 2 no.20


: (0361) 833999
: Apotek Marga Farma
: Margaretta Indra Pratiwi, S.Farm., Apt.

Bersin-bersin, hidung meler selama hampir 2 minggu


Batuk berdahak selama seminggu
Sempat demam tinggi selama 2 hari
Tidak mengeluhkan susah menelan

Riwayat terapi
:
a. ....-................................
b. .....................................
c. .....................................
d. .....................................
Rute

Frek/h
ari

Oral

2x

Oral

3x

Oral

3x

Tgl
habis

MTR
(monitor
ing)
-

Masalah

Terapi
Farmakologi

Terapi Non Farmak

Ttd Apoteker
Keterangan Lain:
..................

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. MIMS Online Indonesia. http://www.mims.com/.

Menkes RI. 2004 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta:
Negara Republik Indonesia
Chow, A. W., M. S. Benninger, I. Brook, J. L. Brozek, E. J. C. Goldstein, L. A. Hicks, G. A.
Panket, M. Seleznick, G. Volturo, E. R. Wald, and T. m. File Jr. 2012. IDSA Clinical
Pratice Guideline for Acute Bacterial Rhinosinusitis in Children and Adults. Clinical
Infectious Diseases Advance Access. Dipiro, Joseph T. Robert L. Talber, Gary C.
Yee, Gary R. Matzke, Barbara G. Wells, L. Michael Posey. 2008.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 7th Edition. USA: The Mc-GrawHill Companies, Inc.
Lacy, C. F., L. L. Amstrong, M. P. Goldman, L. L. Lance. 2009. Drug Information Handbook
17th Edition. America: Lexicomp.
Lacy, C. F., L. L. Amstrong, M. P. Goldman, L. L. Lance. 2011. Drug Information Handbook
20th Edition. America: Lexicomp.
Sweetman, S. 2009. Martindale: The Complete Drug Reference, 36th Edition. London: The
Pharmaceuticals Press.