Anda di halaman 1dari 21

1

MODEL PERENCANAAN WANAWISATA:


WISATA ALAM BERBASIS HUTAN
Diabstraksikan oleh:
Prof Dr Ir Soemarno MS
Bahan kajian dalam MK. Perencanaan Lingkungan dan Pengembangan Wilayah
PPSUB Oktober 2011

I. PENDAHULUAN
Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa
keaneka- ragaman flora, fauna dan gejala alam dengan keindahan
pemandangan alamnya merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Potensi sumberdaya alam dan ekosistemnya ini dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dengan tetap
memperhatikan upaya konservasi. Sumberdaya alam yang dapat
dimanfaatkan sebagai pelestarian alam dan sekaligus sebagai obyek
wisata alam, adalah: gunung, taman laut, sungai, pantai, flora termasuk
hutan, fauna, air terjun, danau dan pemandangan alam.
Pengertian wisata alam meliputi obyek dan kegiatan yang
berkaitan dengan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi
sumber daya alam dan ekosistemnya, baik dalam bentuk asli (alami)
maupun perpaduan dengan buatan manusia. Akibatnya tempat-tempat
rekreasi di alam terbuka yang sifatnya masih alami dan dapat memberikan kenyamanan semakin banyak dikunjungi orang (wisatawan).
Meningkatnya kegiatan wisata alam ini ada kaitannya dengan
perubahan pola hidup masyarakat, meningkatnya taraf kehidupan,
adanya pertambahan waktu luang dan semakin meningkatnya fasilitas
sarana dan prasarana sehingga dapat menjangkau tempat-tempat dimanapun lokasi wisata berada.
Secara umum telah disadari bahwa dalam menunjang pengembangan sektor pariwisata yang memiliki beraneka ragam obyek serta
daya tarik, kadar hubungan, lokasi serta ketersediaan dana dan berbagai
faktor penentu lainnya menyebabkan tingkat pengembangan yang tidak
seragam. Oleh karena itu dalam penanganan, pengembangan dan
pembinaannya perlu adanya keterpaduan lintas sektoral baik di tingkat
daerah maupun di tingkat pusat.
Dalam rangka memadukan pembinaan, pengembangan, dan
pemanfaatan perlu ditetapkan skala prioritas. Sekala prioritas dalam
pelaksanaan pembangunan dengan ruang lingkup tingkat Propindi
Daerah Tingkat I. Sehingga dalam pelaksanaan pengembangan obyek-

obyek wisata alam harus ditinjau dari wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.
Dengan adanya skala prioritas, maka dapat memanfaatkan ketersediaan
tenaga dan dana yang terbatas, dimana obyek dan daya tarik wisata
alam yang telah ditetapkan sebagai prioritas akan memberi manfaat
secara optimal.
2. Konsep dan Pendekatan
2.1. Pengertian Pariwisata dan Rekreasi
Pariwisata adalah kegiatan seseorang dari tempat tinggalnya
untuk berkunjung ke tempat lain dengan perbedaan waktu kunjungan dan
motivasi kunjungan (anonim, 1986). Menurut Pandit (l990), pari-wisata
adalah salah satu jenis industri baru yang mampu meng-hasilkan
pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja,
peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektorsektor produktifitas lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang komplek
juga meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya seperti industri
kerajinan dan cinderamata, penginapan dan transportasi, secara
ekonomis juga dipandang sebagai industri.
Hakekat pariwisata dapat dirumuskan sebagai seluruh kegiatan
wisatawan dalam perjalanan dan persinggahan sementara dengan
motivasi yang beraneka ragam sehingga menimbulkan permintaan
barang dan jasa. Seluruh kegiatan yang dilakukan pemerintah di
daerah dengan tujuan wisatawan untuk menyediakan dan menata
kebutuhan wisatawan, dimana dalam proses keseluruhan menimbulkan
pengaruh terhadap kehidupan ekonomi , sosial-budaya, politik dan
hankamnas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan bangsa
dan negara" (Anonymous, 1987).
Selanjutnya arti dari wisatawan adalah perjalanan seseorang
yang karena terdorong oleh suatu atau beberapa keperluan melakukan
pejalanan dan persinggahan lebih dari 24 jam di luar tempat tinggalnya,
tanpa bermaksud mencari nafkah (Anonymous, 1987). Secara harfiah
rekreasi berarti re - kreasi, yaitu kembali kreatif. Sedang rekreasi itu
sendiri merupakan kegiatan (bahkan kegiatan itu direncanakan) dan
dilaksanakan karena seseorang ingin melaksanakan. Jadi dapat diartikan
usaha atau kegiatan yang dilaksanakan pada waktu senggang untuk
mengembalikan kesegaran fisik (Clawson dan Knetsch, 1966 dalam
Basuni dan Sudargo, 1988). Basuni dan Soedargo (1988), menambahkan
kegiatan rekreasi dapat dibedakan menurut sifatnya yaitu rekreasi aktif
dan rekreasi pasif. Rekreasi aktif adalah rekreasi yang lebih berorientasi
pada manfaat fisik daripada mental, sedang rekreasi pasif adalah
rekreasi yang berorientasi pada manfaat mental dari pada fisik.

Menurut Direktorat Perlindungan dan Pelestarian Alam (1979)


dalam Hemawan (1983) bahwa rekreasi alam atau wisata alam merupakan salah satu bagian dari kebutuhan hidup manusia yang khas
dipenuhi untuk memberikan keseimbangan, keserasian, ketenangan
dan kegairahan hidup, dimana rekreasi alam atau wisata alam adalah
salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang berlandaskan
atas prinsip kelestarian alam.
2.2. Pengertian Wisata Alam
Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Wisata Alam adalah
kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata
dan
rekreasi alam. Sedangkan kawasan konservasi sendiri adalah
kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang
mempunyai sistem penyangga kehidupan, peng-awetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
Pasal 31 dari Undang-undang No. 5 tahun 1990 menyebutkan
bahwa dalam taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk
kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang
budidaya dan wisata alam. Pasal 34 menyebutkan pula
bahwa
pengelolaan taman wisata dilaksanakan oleh Pemerintah.
Wisata alam adalah bentuk kegiatan rekreasi dan pariwisata
yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam, baik dalam keadaan
alami maupun setelah ada usaha budidaya, sehingga memungkinkan
wisatawan memperoleh kesegaran jasmaniah dan rohaniah, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta menumbuhkan inspirasi
dan cinta terhadap alam (Anonymous, 1982 dalam Saragih, 1993).
2.3. Pengertian Obyek dan Potensi Wisata Alam
Obyek wisata alam adalah perwujudan ciptaan manusia, tata
hidup seni-budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam
yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi (Anonymous, 1986).
Selanjutnya Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam
(1979) mengasumsikan obyek wisata adalah pembinaan terhadap kawasan beserta seluruh isinya maupun terhadap aspek pengusahaan
yang meliputi kegiatan pemeliharaan dan pengawasan terhadap kawasan wisata. Obyek wisata yang mempunyai unsur fisik lingkungan
berupa tumbuhan, satwa, geomorfologi, tanah, air, udara dan lain
sebagainya serta suatu atribut dari lingkungan yang menurut anggapan manusia memiliki nilai tertentu seperti keindahan, keunikan, ke-

langkaan, kekhasan, keragaman, bentangan alam dan keutuhan


(Anonymous, 1987).
Obyek wisata alam yang ada di Indonesia dikelompokkan menjadi
dua obyek wisata alam yaitu obyek wisata yang terdapat di luar kawasan
konservasi dan obyek wisata yang terdapat di dalam kawasan konsevasi
yang terdiri dari taman nasional, taman wisata, taman buru, taman laut
dan taman hutan raya. Semua kawasan ini berada di bawah tanggungjawab Direktorat Jendral Perlindungan dan Pelestarian Alam
DEPHUTBUN. Kegiatan rekreasi yang dapat dilakukan berupa
lintas alam, mendaki gunung, mendayung, berenang, menyelam, ski air,
menyusur sungai arus deras, berburu (di taman buru). Sedangkan obyek
wisata yang terdapat di luar kawasan konservasi dikelola oleh
Pemerintah Daerah, Pihak Swasta dan Perum Perhutani, salah satunya
adalah Wana Wisata.
Kelayakan sumberdaya alam merupakan potensi obyek wisata
alam yang terdiri dari unsur-unsur fisik lingkungan berupa tumbuhan,
satwa, geomorfologi, tanah, air, udara dan lain sebagainya, serta suatu
atribut dari lingkungan yang menurut anggapan manusia memiliki nilainilai tertentu seperti keindahan, keunikan, kelangkaan, atau ke-khasan
keragaman, bentangan alam dan keutuhan (Anonymous, 1987).
2.4. Pronsip-prinsip Wisata Alam
Menurut Undang-Undang Kepariwisataan No. 9 Tahun 1990,
penyelenggaraan pariwisata dilaksanakan dengan tetap memelihara
kelestarian dan mendorong upaya peningkatan mutu lingkungan hidup
serta obyek dan daya tarik wisata itu sendiri, nilai-nilai budaya bangsa
yang menuju ke arah kemajuan adab, mempertinggi derajat kemanusiaan, kesusilaan dan ketertiban umum guna memperkokoh jati diri
bangsa dalam rangka mewujudkan wawasan Nusantara.
Selanjutnya menurut John, dkk. (1986), prinsip wisata yang paling
berhasil mengkombinasikan sejumlah minat yang berbeda diantaranya
olah raga, satwa liar , pakaian setempat, tempat ber-seja-rah,
pemandangan yang mengagumkan, makanan.
Ditambahkan pula
potensi wisata alam (kawasan yang dilindungi) akan turun dengan cepat
bila biaya, waktu dan ketidak-nyamanan perjalanan meningkat atau bila
bahaya selalu mengintai.
Fasilitas-fasilitas yang memadai diperlukan agar pengunjung
dapat menikmati keindahan atau kebudayaan daerah tersebut. Penerangan disampaikan kepada pengunjung mengingat akan pentingnya

keselamatan pengunjung dan kelestarian alam dan kebersihan lingkungan.


2.5. Pengertian Hutan wisata dan Wana Wisata
Menurut Keputusan Menteri Kehutanan RI No: 687/Kpts II/
1989 Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 1 : bahwa hutan wisata
adalah kawasan hutan
diperuntukkan secara khusus, dibina dan
dipelihara guna kepentingan pariwisata dan wisata buru, yaitu hutan
wisata yang memiliki keindahan alam dan ciri khas tersendiri sehingga
dapat dimanfaatkan bagi kepentingan rekreasi dan budaya disebut
Taman Wisata.
Wana wisata adalah obyek-obyek wisata alam yang dibangun
dan dikembangkan oleh Perum Perhutani di dalam kawasan hutan
produksi atau hutan lindung secara terbatas dengan tidak mengubah
fungsi pokoknya (Anonimous, 1989).
2.6. Motivasi Pengunjung
Kawasan yang ditunjuk sebagai obyek wisata alam harus
mengandung potensi daya tarik alam baik flora, fauna beserta
ekosistemnya, farmasi geologi, gejala alam. Kawasan yang demikian
nantinya mampu mendukung pengembangan selanjutnya sesuai dengan fungsi dan memenuhi motivasi pengunjung.
Purba (1985), menegaskan motivasi pengunjung pada hakekatnya akan timbul 5 kelompok kebutuhan, yaitu (1) adanya daya
tarik ; (2) Angkutan dan jasa kemudahan yang melancarkan perjalanan
;
(3)
Perjalanan; (4) akomodasi ; (5) Makanan dan minuman.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan
pengembangan pariwisata adalah (1) tersedianya obyek dan atraksi
wisata, yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang yang
mengunjungi suatu daerah wisata, misalnya keindahan alam, hasil
kebudayaan suatu bangsa, tatacara hidup suatu masyarakat, adat
istiadat suatu bangsa, fertival tradisional dan upacara kenegaraan ; (2)
adanya fasilitas aksesibility, yaitu sarana dan prasarana perhubungan
dengan segala fasilitasnya, sehingga memungkinkan para wisatawan
dapat me-ngunjungi suatu daerah tujuan wisata tertentu ;
(3)
tersedianya fasilitas amenitas, yaitu sarana kepariwisataan yang dapat
memberi pelayanan pada wisatawan selama dalam perjalanan wisata
yang dilaksanakannya. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

3. Analisis dan Evaluasi


3.1. Tempat dan Waktu Analisis
Analisis dapat dilaksanakan di daerah wana wisata , seperti
Pantai Bajul mati, RPH Bantur BKPH Sumber Manjing Kulon, BKPH
Sengguruh termasuk dalam wilayah kesatuan pemangkuan
Hutan
(KPH) Malang. Secara geografis terletak di daerah Malang Selatan.
3.2. Peralatan dan Obyek Analisis
Peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan kajian dan
analisis meliputi: Peta lokasi daerah wana wisata pantai KPH Malang
untuk mengetahui letak daerah wana wisata pantai.
Tabel ukuran baku sebagai dasar dalam penilaian prioritas
pengembangan daerah wana wisata pantai dan daftar isian, kamera
untuk mendokumentasikan potensi daerah wana wisata pantai, alat tulis
menulis serta roll-meter untuk mengukur lebar pantai.
Obyek yang digunakan selama analisis adalah lima pantai yang
ada di KPH Malang meliputi : Pantai Bajul Mati, Pantai Kondang Merak
dan Pantai Junggring Seloko.
3.3. Teknik Pengambilan Data
Pengamatan lapang secara langsung meliputi penilaian potensi
wana wisata pantai. Wawancara merupakan teknik pengambilan data
secara langsung untuk mengetahui kadar hubungan, kondisi lingkungan, perawatan dan dan pelayanan sarana dan prasarana penunjang
dan hubungan dengan obyek alam. Wawancara dilakukan secara
langsung kepada pengunjung dan petugas yang ada. Dalam rangka
penelitian wawancari terbagi menjadi dua macam, yang berbeda sifat.
Pertama wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari
individu-individu tertentu untuk keperluan informasi/informan. Ke dua
wawancara untuk mendapatkan keterengan tentang pandangan dari
individu yang diwawancarai untuk penyusunan sampel responden
(Koentjaraningrat, 1994).
Wawancara dilakukan dengan jalan memberikan sejumlah
pertanyaan secara tertulis kepada responden dan dipersilahkan untuk
mengisinya. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan
metode accidental-sampling, yaitu pembagian kuisioner berdasarkan
pengunjung yang secara kebetulan ditemui , pengambilan sampel tidak
diteruskan apabila sudah mencukupi pengambilan data dihentikan
(Nawawi, 1991).
Teknik pengambilan data lain juga dilakukan dengan jalan
mendokumentasikan obyek penelitian yang dijadikan sumber.

3. 4. Data dan Informasi


Data primer merupakan data yang didapat secara langsung di
lapangan dengan membagikan daftar isian, penilaian potensi dan
pendokumentasian.
Data sekunder didapatkan dengan jalan menghimpun data yang
ada serta dikumpulkan dari instansi atau lembaga yang terkait dengan
analisis. |
3.5. Kriteria Penilaian
Untuk mengetahui prioritas pengembangan daerah wana wisata
pantai dapat digunakan kriteria yang mendasari penilaiannya menurut
Ditjen PHPA (1993):
(1). Daya Tarik.
Penilaian daya tarik kawasan areal obyek dibagi menjadi dua
jenis, yaitu kawasan hutan dan pantai. Bobot kriteria daya tarik mendapat
nilai 6 (enam). Unsur-unsur daya tarik tentang kawasan hutan
meliputi : (a) Keindahan ; (b) Banyaknya jenis sumberdaya alam yang
menonjol untuk wisata, (c) Keunikan sumberdava alam , (d) Keutuhan
sumberdaya alam; (e) Pilihan keqiatan; (f) kebersihan udara; (g) Ruang
gerak pengunjung; (h) Kepekaan sumberdaya alam. Unsur-unsur daya
tarik wana wisata pantai meliputi : (a) lebar pantai tai diukur pada waktu
air laut surut dengan panjang pantai minimal 1 km ; (b) Keselamatan peti
paut pantai ; (c) Kebersihan laut ; (d) Keindahan; (e) Jenis pasir ; (f)
Kebersihan dan (g) variasi kegiatan.
(2). Potensi pasar, penilaian kriteria potensi pasar mempunyai
bobot 5 (lima). Hal ini mengingat berhasil tidaknya pemanfaatan suatu
obyek sebagai obyek wisata tergantung tinggi rendahnya potensi pasar.
Unsur kriteria potensi pasar meliputi: (a) jumlah penduduk kabupaten
pada radius 75 km ; (b) jarak obyek dari terminal bus atau non-bus dan
pintu gerbang udara regional dan Internasional.
(3). Kadar hubungan, mempunyai bobot penilaian sebesar 5
(lima). Kriteria penilaiannya meliputi: (a) kondisi jalan, (b) jumlah
kendaraan bermotor ; (c) Frekuensi kendaraan umum, (d) jumlah tempat
duduk transportasi utama menuju lokasi per minggu.
(4). Kondisi lingkungan.

Kriteria kondisi lingkungan mempunyai nilai bobot 5 (lima), yang


meliputi (a) tata guna lahan atau perencanaan, (b) status pemilikan
lahan, (c) Kepadatan penduduk ;(d) sikap masyarakat, (e)
Mata
pencaharian : (g) Pendidikan ; (h) Media yang masuk ; (i) Dampak sumberdaya alam biologis, dan (j) Sumberdaya fisik.
(5). Pengelolaan perawatan dan pelayanan.
Faktor ini merupakan hal yang harus ditingkatkan dalam pemanfaatan obyek wisata alam, karena berkaitan dengan kepuasan
pengunjung dan pelestarian obyek itu sendiri sehingga dalam penilaian pengelolaan perawatan dan pelayanan diberi nilai 4 (empat).
Kriteria penilaian tersebut meliputi unsur-unsur : (a) pemantapan organisasi atau pengelola ; (b) Mutu pelayanan, dan (c) Sarana perawatan
dan pelayanan.
(6). Kondisi iklim.
Kondisi iklim yang baik lebih mengundang pengunjung pada
obyek wisata alam tertentu. Kondisi iklim diberi bobot angka 4 (empat).
Unsurunsur tersebut meliputi: (a) Pengaruh iklim terhadap waktu
kunjungan, (b) suhu udara pada musim kemarau, (c) jumlah bulan
kering per tahun ; (d) rata-rata penyinaran matahari pada musim hujan ;
(e) kecepatan musim angin ; dan (f) Kelembaban udara.
(7). Akomodasi.
Akomodasi merupakan salah satu yang diperlukan dalam kegiatan wisata khususnya pengunjung dari tempat yang jauh. Penilaian
kriteria akomodasi mempunyai nilai bobot 3 (tiga). Unsur-unsur yang
digunakan dalam kriteria ini didasarkan pada jumlah kamar yang berada
pada radius 75 km dari obyek wisata
(8). Prasarana dan sarana penunjang.
Prasarana dan sarana pengunjung merupakan penunjang kemudahan dan kenikmatan bagi para Wisatawan. Karena sifatnya sebagai penunjang dan pengadaannya tidak terlalu sulit, maka nilai
bobotnya 2 (dua). Unsur-unsur tersebut meliputi : (a) Prasrana yang ada
pada radius 2 km dari batas kawasan: (b)sarana penunjang; (c) Fasilitas
Khusus; dan (d) Fasilitas kegiatan.
(9). Tersedianya air bersih merupakan faktor yang perlu dalam
pengembangan suatu obyek , baik untuk pengelolaan maupun pelayanan. Unsur tersebut diberi bobot nilai 2 (dua). Macam-macam unsur
yang digunakan dalam menilai kriteria ini adalah ; (a) Jarak sumber air

terhadap lokasi obyek wisata; (b) Debit sumber air; (c) dapat tidaknya
dialirkan.
(10). Hubungan dengan wisata lain.
Dalam pengembangan suatu obyek di suatu lokasi perlu memperhatikan adanya obyek lain di lingkungannya yang mencerminkan
obyek wisata sehingga menunjang kunjungan para wisatawan. Sehingga
dalam penilaian diberikan bobot paling rendah yaitu 1 (satu). Unsurunsur yang dinilai dalam kriteria ini didasarkan ada dan tidaknya serta
jumlah obyek wisata lain dengan nilai daya tarik minimal 100, dalam
radius 75 Km dari obyek wisata yang dinilai.
3.6. Kriteria Evaluasi
1. Aspek Kepariwisataan
Nilai angka setiap kriterla dalam Tabel Kriteria Penilaian dan
Pengembangan wisata alam dapat ditetapkan dengan angka indeks,
dimana kisarannya antara 51 (nilai terendah) hingga 200 sebagai nilai
tertinggi. Nilai 51 menunjukkan nilai terendah dari suatu kriteria penilaian
dan ditinjau dari kriteria penilaian tertentu mendapatkan nilai terendah,
sedangkan nilai 200 sebagai nilai tertinggi dari suatu kriteria dimana
suatu obyek wisata tersebut mempunyai nilai tertinggi ditinjau dari
kriteria penilaian. Besarnya masing-masing nilai kriteria merupakan
jumlah dari nilai setiap unsur dan sub-unsur yang berkaitan. Perhitungan
dari masing-masing obyek yang dinilai merupakan keseluruhan nilai dari
setiap kriteria dikalikan dnegan bobot masing-masing.
2. Aspek Pengunjung
Analisis yang dilakukan adalah menganalisis daftar isian yang
dibagikan kepada pengunjung, dari hasil isian yang dilakukan perhitungan dan persentase. Selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel dan
diuraikan. Potensi wisata, minat pengunjung dan tanggapan serta saransaran akan dapat diketahui dengan melihat persentase tersebut.
Tabel 1. Kriteria Penilaian Daya Tarik Obyek Wisata Alam Pantai
No

Unsur/Subunsur
Ada 5

Keindahan
a. Variasi pandangan pulau /gunung di
laut

Ada 4

Nilai
Ada 3

Ada 2

Ada 1

10

b. Keindahan relief
c. Kerindangan tepi pantai
d. Keserasian pandangan pantai dan
sekitarnya
e. Ada ciri khusus
Keselamatan laut tepi pantai
a. Tidak ada arus balik berbahaya
b. Tidak ada kecuraman dasar
c.
Bebas
gangguan
binatang
berbahaya
d. Tidak ada kepercayaan yang
mengganggu
Jenis pasir

4.

Variasi kegiatan

5.

Kebersihan air
a. tdk ada pengaruh pelabuhan
b. Tdk ada pengaruh pemukiman
c. Tdk ada pengaruh sungai
d. tdk ada pengaruh pelelangan
ikan/pabrik/pasar
e. Tdk ada sumber pencemaran
f. Tdk ada pengaruh/akibat musim

35

30

25

20

15

Ada 4

Ada 3

Ada 2

Ada 1

30

25

20

15

Pasir
karang

Kuarsa
putih

Kuarsa
hitam

Kuarsa
berli
at

30
Lebih 6
Ada >4

25
Ada 56
Ada 4

20
Ada 34
Ada 3

15
Ada 12
Ada 2

25

20

15

10

Tdk
ada/
sedi kit
psir
10
Ada 1

11

6.
7.

Lebar pantai (diukur waktu surut,


dan panjang pantai minimal 1 km
) dalam satuan meter
Kebersihan atau kenyamanan
a. Tdk ada sampah
b. Tidak ada coret-coret
(vandalisme)
c. Bebas kebisingan
d. Tidak banyak gangguan
binatang
e. Bebas bau yang mengganggu
f. Sedikit kerikil/kerang tajam
Jumlah

>150

100150

50-100

<50

Ada 5

Ada 4

Ada 3

Ada 2

Ada 1

25

20

15

10

150 x 6 = 900

12

Tabel 2. Kriteria Penilaian Potensi Pasar


Jumlah penduduk
Dati II radius 75
km dari obyek

>3000

25003000

200
0250
0

150
0200
0

100
0150
0

500100
0

<50
0

90
100
110
120
130
140
160

72
84
96
102
114
120
132

60
70
80
85
95
100
110

48
56
64
68
76
80
88

36
42
48
51
57
60
66

24
28
32
34
38
40
44

12
14
16
17
19
20
22

Kepadatan
penduduk /km2
100
101-200
201-300
301-400
401-500
501-600
700
Pintu gerbang udara
internasional/regional

Jayapura
/
Pekanbaru / Ambon/
Kupang
Medan / Menado /
Surabaya
Denpasar
Jakarta
Jumlah

s/d 150
15

Jarak dalam km
151301451300
450
600
10
5
1

>600
-

25

20

15

30
40

25
35

20
30

15
25

10
20

13

Tabel 3. Kriteria Penilaian: Kadar Hubungan


N
o

Kondisi
jarak
Jalan Darat
< 35 km
36 - 70
71 -100
> 100

Baik

Cukup

Sedang

Buruk

80
60
40
20

60
40
20
10

40
25
15
5

20
15
5
1

> 7500
1

Jumlah
kendaraan
ber-motor /perahudi
kabupaten
obyek
berada (penumpang)
dalam buah
Frekuensi kendaraan
umum dari pusat
penyebaran wisata
ke obyel (buah/hari)
Jumlah
tempat
duduk
transport
umum
menuju
penyeberangan
wisata
terdekat/
minggu atau setiap
200 seat = 1

25015000
20

<2500

40

50017500
30

Mudah/
> 25 kali

Cukup/
17-24

Sedang/
9-16

Sukar
s/d 8

> 6000

40016000

20014000

2000

40

30

20

10

10

14

Tabel 4. Kondisi Lingkungan (Radius 1 km dari batas kawasan)


No

Unsur/Sub-unsur

Tata guna lahan /


Perencanaan

2.

Status pemilikan
lahan

Kepadatan
penduduk

Sikap masyarakat

Tingkat
pengaangguran

Mata pencaharian
penduduk

Pendidikan

Media
masuk

Dampak
sumberdaya
biologis
Sumberdaya
alam fisik

10

yang

Nilai
Rencana
mendukung

Tataguna lahan
mendukung

Belum ada tata


guna lahan/
Tata lingkungn
tak sesuai
10
50% tanah adat

20
50 % tanah
negara
20
71-100

15
50% tanah
desa
15
101-150/ 51-70

20
Menunjang
20
30%

15
Masa bodoh
15
21-30%

10
Mnentang adat
5
9-20%

20
50% buruh
tani
20
50% lulus
SLTP

15
50% pedagang

10
50% buruh jasa

15
50% lulus SD

10
50% tdk lulus
SD

20
TV,Radio,
Media
cetak
20
kritis

15
Ada TV dan
radio

10
Ada radio

5
50% pemilik/
peg negri
5
50% tdk
pernah
sekolah
5
Tdk ada

15
Sedang

10
Subur

5
Sangat subur

20
Tdk ada
bahan
bangunan
20

15
Ada sumber
bahan
bangunan
15

10
Ada mineral
berharga

5
Ada bahan
bangunan
mineral
5

10
151-200 / 26-50

10

5
50% tnah
milik pribadi
5
> 200 / < 25
5
9%

15

Tabel

5. Pengelolaan, Perawatan dan Pelayanan

No

Unsur/Subunsur

Nilai

A.

KEMANTAPAN ORGANISASI/ PENGELOLAAN

Status pengelolaan

Jumlah pegawai

Pendapatan
terendah
pegawai (x Rp 1000)

Dana anggaran
a. Administrasi
b. Perawatan
c. Pengembangan
d. Operasional/ Pemasaran

Sumberdana

Status pegawai (lebih 50%)

Pergantian pimpinan harian


dalam 5 th terakhir

a. Pemerintah
b. Perusahaan pemerintah: (1) Persero, (2)
Perum, (3) Perjan, (4) PN, (5) PD, (6)
lainya
c. Perusahaan suasta: PT, CV, Koperasi,
Firma, lainnya
d. Belum ada pengelolaan
>45
31-41
16-30
3-15
20
15
10
5
>40
30-39
20-29
10-19

3
1
<9

20
Ada 4

15
Ada 3

10
Ada 2

5
Ada 1

1
Tdk ada

20
100%
income
pengunj
ung

10
50%
subsidi

5
50%
ioran

1
Tdk ada
sbr dana

20
tetap
20
s/d 1 x

15
Sbgian
besar
income
pengunju
ng
15
Harian
15
2x

10
Sambilan
10
3x

5
Musiman
5
> 3x

1
Tadk ada

20

15

10

16

MUTU PELAYANAN

Mutu pelayanan

2.

1. Kelancaran pelayanan
2. Keramahan staf
3. Kemampuan
komunikasi
4. Penguasaan materi
5. Kerapian pakaian
6. Petugas penerangam
Kemampuan bahasa:
a. Daerah asal
b. Indonesia
c. Asing

Sarana perawatan & Pelayanan

a. Kemudahan informasi
b. Tempat peristirahatan
c. Tempat parkir
d. MCK
e. Fasilitas kebersihan
f. Sumber penerangan
g. Catatan pengunjung

ada
6
30

Ada5

ada4

25

20

Ada
3

Ada
2

ada
1

10

10

Ada 7

Ada 6

A
d
a

Ada
3
15

ada
2
10

ada
1
5

tdk
ada
1

Ada
4

Ada
3

Ada
2

Ada
1

20

15

10

5
35

30

2
5

17

Tabel 6. Kondisi Iklim


No

Unsur

Nilai

Pengaruh iklim terhadap waktu


kunjungan

Suhu udara
kemarau (oC)

Jumlah bulan kering dan lembab


rata-rata per tahun (bulan)

Rata-rata penyinaran matahari


(%) pada musim hujan

Kecepatan angin pd musim


kemarau (knot/jam)

Rataan lembab udara


per tahun

pada

musim

10-12
bln
50
20-21

7 - 9 bln

4-6 bln

4 bln

30
8

40
22-24
17-19
20
7

30
25-27
14-16
10
6

10
28-30
11-13
5
5

> 30
< 10
2
4

30
>65

20
64-60

15
59-55

10
54-45

5
< 45

30
Nyaman
1-2

20
Sdang
3-4 /
0.7-0.9

5
Panas/
Kuat
>7/
, 0.3

30
< 60
30

20
61-70
20

10
Krang/a
gak
kurang
5-6 /
0.4 -0.6
10
71-80
10

1
> 81
5

18

Tabel 7. Akomodasi (Radius 75 km dari obyek)


Unsur/ Sub unsur

Jumlah kamar

Jumlah

Nilai
Sampai dg
100
101-250
251-500
501-750
751-1000
1001-1250
1251-1500
1501-1750
1751-2000
Lebih dari
2000

20
40
60
80
100
120
140
160
180
200

19

Tabel
No

8. Prasarana dan sarana Pengunjung(Radium 2 km dari obyek)


Unsur/Subunsur
4
macam

3
macam

Macam
2 macam 1 macam

tdk ada

Nilai
1

2.

3.

Prasarana
a. Kantor por
b. Kantor kawat
c. Telepon umum
d. Puskesmas/klinik
Sarana penunjang:
a. Rumah makan
b. Pusat Pembelanjaan
c. Bank
d. Toko souvenir
Fasilitas khusus
a. Unt anak-anak
b. Untuk ornag tua
c. Untuk ornag cacat
Fasilitas kegiatan:
(minimal untuk 10 orang,
bila kurang dianggap tidak
ada)

50

40

30

20

10

50

40

30

20

10

50

40

30

10

8
macam

7-8
macam

5-6
macam

3-4
macam

3 macam

50

40

30

20

10

20

Tabel 9. Ketersediaan air bersih


No

Unsur/sub-unsur

Nilai
Sgt mudah

Mudah

Agak
mudah

Sukar

1.

Datap tidaknya air dialirkan ke


obyek atau mudah dikirim dari
tempat lain

80

65

50

10

Jarak sujber air terhadap lokasi


obyek wisata

0 - 3 km

3.1- 5

5.1- 7

Jauh

60

45

30

10

2
60

1-2
45

0.5-0.9
30

0.5
15

Debit sumber air

21

Tabel 10. Hubungan dengan obyEk wisata lain (Radius 75 km)


(BOBOT 1)
Nilai

51

51
100

Obyek
wisata
lain
Sejenis
Tdak
sejenis
Sejenis
Tdak
sejenis

Jumlah obyek wisata lain


0

10

11

12

10
0
90

80

60

40

20

100

90

80

70

60

50

40

30

20

10

80
70

100
80

80
90

60
10
0

40
90

20
80

1
70

60

50

40

30

20

10

80

60

40

20

80

90

10
0

90

80

70

60

50

40

30

10
0
60

80

60

40

20

78

80

90

10
0

90

80

70

60

50

101

Sejenis

60

80

105

Tdak
sejenis

50

60

10
0
70

151

Sejenis

40

60

80

200

Tdak
sejenis

30

40

50

Anda mungkin juga menyukai