Anda di halaman 1dari 15

Thalasemia Pada Anak

Claudia Fetricia
102012318
D5
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email: f3tricia@yahoo.com

Pendahuluan
Thalassemia merupakan penyakit darah herediter (keturunan) yang paling
sering danakan merupakan kelainan genetik utama yang timbul setelah penyakit
infeksi dan gangguan giziteratasi di Indonesia. Menyambut paradigma Indonesia
Sehat 2010 yang baru dicanangkan,kualitas sumber daya manusia tentu saja
merupakan faktor yang utama dan keberadaanthalassemia tentu saja akan menurunkan
kualitas kesehatan masyarakat.1
Talasemia merupakan penyakit darah resesif autosomal yang diwariskan atau
diturunkan. Pada penderita talasemia, cacat genetik menyebabkan tingkat
pembentukan salah satu rantai-rantai globin yang menyusun hemoglobin menjadi
berkurang . Sintesa salah satu rantai globin yang berkurang tersebut dapat
menyebabkan pembentukan molekul hemoglobin yang abnormal, sehngga
menyebabkan anemia, sebagai gejala khas thalassemia yang nampak.
Anamnesis
Pada kasus skenario ini pasien masih anak-anak, maka dapat dilakukan
alloanamnesis pada orang tuanya, hal-hal yang penting yang dapat ditanyakan, antara
lain : 2
a. Keluhan utama : Pucat sejak 3 bulan yang lalu
b. Riwayat penyakit sekarang
- Apakah pucat nya saat tertentu atau terus menerus?
- Keluhan timbul karena anemia: pucat, gangguan nafsu makan, gangguan
tumbuh kembang dan perut membesar karena pembesaran lien dan hati.
c. Riwayat persalinan dan perkembangan bayi
- Bagaimana proses persalinan? Normal atau Caesar?
- Bagaimana berat badan bayi ketika lahir?
Premature : dapat menyebabkan anemia pada bayi karena kekurangan besi
ketika lahir
Bagaimana asupan gizi bayi sejak 0-4 bulan? Apakah pemberian asi nya
teratur?
1

Pemberian kolostrum : Kolostrum adalah ASI yang keluar pada harihari pertama, kental dan berwarna kekuning-kuningan. Kolostrum
mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan yang tinggi.
Pemberian ASI saja/ ASI Eksklusif : Kontak fisik dan hisapan bayi
akan merangsang produksi ASI terutama pada 30 menit pertama
setelah lahir. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi
kebutuhan gizi bayi. Perlu diingat bahwa ASI adalah makanan terbaik
untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan
menyusui akan terbina hubungan kasih sayang antara ibu dan anak.
d. Riwayat penyakit dahulu
- Apakah bayi usia 0-4 bulan pernah mengalami suatu penyakit? Infeksi?
e. Riwayat keluarga
- Apakah Ibu menderita anemia? Kelainan penyakit darah?
Apakah bayi lahir kembar? Bayi kembar dapat menyebabkan terjadi nya
anemia
Apakah di keluarga ada yang mengalami kelainan yang berhubungan
dengan darah?
f. Riwayat pengobatan
- Apakah saja obat yang ibu minum ketika mengandung?
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan perdarahan lambung (aspirin, obat
anti inflamasi,dll). Obat lainnya dapat menyebabkan masalah dalam
penyerapan zat besi dan vitamin (antacid, pil KB, obat anti arthritis)
- Apakah bayi sudah berobat atau baru pertama kali ?

Pemeriksaan Fisik
a.

Tanda-tanda vital
Menilai tanda vital untuk mengetahui perubahan hemodinamik. Tanda vital penting
untuk menegakkan diagnosis sesuatu penyakit. Pemeriksaan vital yang umumnya
dilakukan adalah:
1. Pemeriksaan tekanan darah
2. Pemeriksaan nadi:
Disertai frekuensi denyut jantung(pulsus defisit)
Perhatikan tekanan nadi pada pasien.Adakah dia mengalami takikardia atau
tidak.
3. Pemeriksaan suhu tubuh
4. Pemeriksaan kadar nafas:
Frekuensi/laju pernapasan
Tipe/pola
Kedalaman
Irama/keteraturan.3

b.

Pemeriksaan fisik lainnya


1. Apakah pasien sakit ringan atau berat? Apakah pasien sesak napas atau syok
akibat kehilangan darah akut?
2. Adakah tanda-tanda anemia? Lihat apakah konjungtiva anemis dan telapak
tangan pucat. (anemia yang signifikan mungkin timbul tanpa tanda klinis yang
jelas).
2

3. Adakah koilonikia (kuku seperti sendok) atau keilitis angularis seperti yang
ditemukan pada defisiensi Fe yang sudah berlangsung lama?
4. Adakah tanda-tanda ikterus (akibat anemia hemolitik)?
5. Adakah tanda-tanda kerusakan trombosit (misalnya memar, petekie)?
6. Adakah tanda-tanda leukosit abnormal atau tanda-tanda infeksi?
7. Adakah tanda-tanda keganasan? Adakah penurunan berat badan baru-baru ini,
massa, jari tabuh, atau limfodenopati?
8. Adakah hepatomegali, splenomegali, atau massa abdomen?
9. Apakah hasil pemeriksaan rektal normal? Adakah darah samar pada
feses(faecal occult blood [FOB])?
10. Adakah tanda-tanda neuropati perifer?(ini menunjukan defisiensi vitamin B12
atau folat).3,4

Pemeriksaan Penunjang
a.

Uji rutin darah


1.

Hitung darah lengkap (full blood count, FBC)


Sampel darah dalam antikoagulan sequestrene(etilendiamintetra-asetat, EDTA)
diuji dengan penganalisis automatis. Penganalisis menghasilkan berikut ini:
Konsentrasi hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah merah, indeks sel
darah merah;
Jumlah dan diferensial sel darah putih(tiga bagian: neutrofil, limfosit,
monosit; atau lima bagian jika mencakup eosinofil dan basofil);
Jumlah dan ukuran trombosit;
Penganalisis semakin bisa menghasilkan jumlah retikulosit terautomatisasi
dan menghitung trombosit imatur ('retikulosit trombosit').
Indeks sel darah merah(mean corpuscular volume = MCV; mean corpuscular
haemoglobin = MCH; mean corpuscular haemoglobin concentration =
MCHC; red cell distribution width = RDW) dan jumlah sel darah merah
(SDM x 1012/L-1) akan memberikan indikalor jenis anemia (misalnya defisiensi besi atau makrositik).4,5

2.

Apusan darah
Apusan darah digunakan untuk menilai ukuran/bentuk sel darah merah;
gambaran dan diferensial sel darah putih; sel abnormal; ukuran dan morfologi
trombosit, dan lainnya.4

3.

Laju endap darah (LED), viskositas plasma/whole blood, dan protein C-reaktif
LED sebagian besar ditentukan oleh konsentrasi protein plasma, terutama
fibrinogen dan globulin. Kisaran normal LED meningkat seiring pertambahan
usia. Peningkatan LED merupakan indikator yang tidak spesifik terhadap
respons fase akut dan berguna dalam memonitor aktivitas penyakit. Peningkatan
LED terjadi pada gangguan inflamasi, infeksi, keganasan, mieloma, anemia, dan
kehamilan.4,5
Viskositas plasma memberikan informasi yang dapat dibandingkan dan semakin
disukai karena dapat diautomatisasi secara mudah. Viskositas whole blood juga
dipengaruhi oleh jumlah sel, sehingga meningkat bila jumlah sel darah

merah(eritrokrit), jumlah sel darah putih(leukokrit), atau jumlah trombosit


sangat meningkat. Protein C-reaktif(C-reactive protein, CRP) meningkat pada
respons fase akut dan berguna dalam memonitor hal ini.4
4.

Uji laboratorium khusus


Pemeriksaan penunjang pada anemia hemolitik, gangguan hemoglobin,
defisiensi hematinik, penyakit keganasan, dan lain-lain.4

b.

Kadar Hematinik
Yaitu vitamin B12, folat, feritin, besi dalam serum (SI), dan kapasitas total
pengikatan besi (TIBC), serta saturasi transferrin (serum persen), diperiksa
menggunakan alat penganalisis dengan menggunakan immunoassay. Hasilnya
dapat mengindikasikan penyebab yang mendasari anemia.4,5

c.

Uji Gangguan Hemoglobin


Merupakan keadaan herediter yang paling sering terjadi pada manusia.
Elektroforesis hemoglobin adalah suatu teknik sederhana di mana sel darah
merah dilisis untuk melepaskan hemoglobin, dan lisat ditempatkan pada gel yang
diberi aliran listrik. Kromatografi cair kinerja tinggi(high performance liquid
chromatography, [HPLC]) adalah teknik automatis yang semakin banyak
digunakan untuk menggantikan elektroforesis hemoglobin. Teknik ini
memungkinkan deteksi hemoglobin abnormal; dan deteksi proporsi relatif dari
berbagai hemoglobin normal (HbA, HbA2, HbF).4

d. Bilirubin Tak Langsung (Serum, Uji Van den Bergh)


Untuk memantau kadar bilirubin yang dikaitkan dengan ikterik dan untuk
memastikan gangguan pada hati. Penurunan Kadar: Anemia defisiensi zat besi.
Pengaruh Obat: Barbii salisilat(aspirin) penisilin, kafein dalam dosis tinggi.
Peningkatan Kadar: Ikterik obstruktif disebabkan oleh batu atau neoplas hepatitis,
sirosis hati, mononukleosis infeksius, metastasis(kanker) penyakit Wilson.5
Tabel 1. Berbagai Nilai Normal Hasil Uji Laboratorium pada Anak.5
No

Jenis Pemeriksaan

Nilai Rujukan (Anak-anak)

Eritrosit

4.00 5.20 x 106 /ul

Leukosit

6.000 17.000 l

Trombosit

200.000 475.000 l

Retikulosit

0,5% - 2,0% dari seluruh SDM

Hb

11 16 g/dl

Ht

29% - 40%

LED

0 10 mm/jam

MCV

82 92 cu

MCH

27 -31 pg

e.

10

MCHC

32 37 %

11

RDW

32 36 Coulter S

12

Besi Serum

100 -135 g/dl

13

Ferritin

8 -140 ng/ml

14

Saturasi Transferin

20 -35 %

15

Bilirubin Indirect

0,1 1,0 mg/dl

16

Hb F

1% -2% Hb Total

Pemeriksaan Radiologi
Pada penderita thalassemia yang kurang mendapat perawatan, foto Rontgem tulang
kepala menunjukkan gambaran hair on end kortex menipis, diploe melebar dengan
traberkula tegak lurus pada kortex akibat komplikasi. Foto tulang pipih dan ujung
tulang panjang menunjukkan perluasan sumsum tulang trabekula tampak jelas.6,7

Diagnosis Kerja
Thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipopkromik herediter dengan
berbagai derajat keparahan.1 Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang
diwariskan (inherited) dan masuk ke dalam kelompok hemoglobinopati, yakni
kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi di dalam
atau dekat gen globin. Mutasi gen globin ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai
globin, yakni:
a. Perubahan struktur rangkaian asam amino (amino acid sequence) rantai globin
tertentu, disebut hemoglobinopati struktural, atau
b. Perubahan kecepatan sintesis (rate of synthesis) atau kemampuan produksi rantai
globin tertentu, disebut thalassemia.
Hemoglobinopati yang ditemukan sccara klinis, baik pada anak anak atau orang
dewasa, disebabkan oleh mutasi gen globin atau . Sedangkan, mutasi berat gen
globin , dan dapat menyebabkan kematian pada awal gestasi.
Penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan satu atau lebih rantai globin atau
, ataupun rantai globin lainnya, dapat menimbulkan defisiensi produksi (parsial)
atau menyeluruh (komplit) rantai globin tersebut. Akibatnya, terjadi thalassemia yang
jenisnya dengan rantai globin yang terganggu produksinya.2
Pada kasus yang diberikan, pasien diduga kuat menderita thalassemia-
intermedia, oleh sebab itu akan sedikit disinggung mengenai pendekatan diagnosis
thalassemia- berikut ini. Dan juga pada bagian patofisiologi akan dibahas dua
bentuk besar dari thalassemia yaitu thalassemia- dan thalassemia-.
Pendekatan Diagnosis
Riwayat penderita dan keluarga sangat penting dalam mendiagnosis thalassemia,
karena pada populasi dengan ras dan etnik tertentu terdapat frekuensi yang tinggi jenis
gen abnormal thalassemia yang spesifik. Pemeriksaan fisik mengarahkan ke diagnosis
thalassemia, bila dijumpai gejala dan tanda pucat yang menunjukkan anemia, ikterus

yang menunjukkan hemolitik, splenomegali yang menunjukkan adanya penumpukan


(pooling) sel abnormal, dan deformitas skeletal, terutama pada thalassemia-
yang menunjukkan ekpansi rongga sumsum tulang, pada thalassemia mayor.
Penderita sindrom talassemia umumnya menunjukkan anemia mikrositik
hipokrom. Kadar hemoglobin dan hematokrit menurun, tetapi hitung jenis eritrosit
biasanya secara disproporsi relatif tinggi terhadap derajat anemia, yang menyebabkan
MCV yang sangat rendah. MCHC biasanya sedikit menurun. Pada thalassemia mayor
yang tidak diobati, relative distribution width (RDW) meningkat karena anisosotosis
yang nyata. Namun, pada thalassemia minor RDW biasanya normal; hal ini
membedakannya dengan anemia defisiensi besi. Elektroforesis dengan selulosa asetat
pada pH basa penting untuk menapis diagnosis hemoglobin H, Barts, Constrant
Spring, Lepore, dan variasi lainnya.7
Diagnosis banding
1. Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah defisiensi gizi
tersering pada anak di seluruh dunia terutama di negara sedang
berkembang, termasuk juga Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh
kurangnya zat besi dalam tubuh penderita, adalah salah satu masalah gizi
yang menonjol di Indonesia selain Kekurangan Kalori-Protein, Defisensi
Yodium dan vitamin A. Kebutuhan zat besi untuk anak dan balita dapat
dilihat pada tabel 1. 6
Tabel 1. Kebutuhan zat besi anak & balita 6
Umur
Kebutuhan
0 6 bulan

3 mg

7 12 bulan

5 mg

1 3 tahun

8 mg

4 6 tahun

9 mg

Anemia defisiensi besi pada bayi dan anak dapat disebabkan : 6


Pengadaan zat besi yang tidak cukup
Cadangan zat besi pada waktu lahir tidak cukup, karena berat lahir
rendah, lahir kurang bulan, lahir kembar, waktu ibu mengandung
menderita anemia kekurangan zat besi yang berat, dan fetus
kehilangan darah pada saat atau sebelum persalinan, seperti adanya
sirkulasi fetus ibu dan perdarahan retroplasesta
Absorbsi kurang, karena Diare menahun, Sindrom malabsorbsi,
Kelainan saluran pencernaan, Kebutuhan akan zat besi meningkat
untuk pertumbuhan, terutama pada lahir kurang bulan dan pada saat
akil balik, Kehilangan darah
Perdarahan yang bersifat akut maupun menahun, misalnya pada
poliposis rektum, divertkel Meckel
Infestasi parasit, misalnya cacing tambang.

Gejala yang paling sering ditemukan pada anemia defisiensi besi pada
anak adalah pucat yang berlangsung lama (kronis) dan dapat ditemukan
gejala komplikasi seperti : lemas, tidak nafsu makan, rewel, mudah lelah,
mudah infeksi karena menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi,
ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal,
gangguan prestasi belajar dan gangguan perilaku. 6
2. Anemia Hemolitik
Penyakit anemia hemolitik adalah salah satu jenis penyakit kekurangan
darah yang disebabkan oleh meningkatnya proses penghancuran sel darah
merah dalam tubuh. Apabila dibiarkan tentu keadaan seperti ini akan
berdampak buruk pada penderita. Pada kondisi normal, sel darah merah
akan bertahan dalam waktu 120 hari, namun pada penderita anemia
hemolitik penghancuran sel darah merah terjadi lebih cepat. Hal ini akan
menyebabkan penurunan sel darah merah, yang bersifat sementara atau
secara terus menerus
Gejala Anemia Hemolitik
Gejala anemia hemolitik hampir sama dengan anemia yang lain. Kadangkadang gejala hemolisis terjadi secara tiba-tiba, terasa sangat berat dan
menyebabkan krisis hemolitik, yang ditandai dengan:

Menggigil
Demam
Perasaan melayang
Nyeri punggung dan nyeri lambung
Penurunan tekanan darah.
Sakit kuning (jaundice) dan air kemih yang berwarna gelap bisa
terjadi karena bagian dari sel darah merah yang hancur masuk ke
dalam darah.
Limpa membesar karena menyaring sejumlah besar sel darah merah
yang hancur, sehingga sering menyebabkan nyeri perut.

Penyebab Lain Anemia Hemolitik


Penyakit anemia sering terjadi akibat dari sumsum tulang tidak mampu
mengatasi akibat dari usia sel darah merah yang pendek, atau bisa juga
terjadi akibat gangguan dari beberapa faktor. Sumsum tulang akan berusaha
mengganti dan mempercepat pembentukan sel darah merah, dan apabila
keadaan tersebut terjadi terus menerus akan menyebabkan anemia
hemolitik.Terjadinya seseorang menderita penyakit anemia hemolitik yaitu
akibat dari adanya beberapa faktor yang menjadi pemicunya, seperti :

Adanya kelainan pada sel darah merah pada tubuh (seperti adanya
kelainan kelainan pada kandungan hemoglobin, kelainan pada
fungsi sel darah merah, dll).

Ada penyakit tertentu (seperti penyakit kanker tertentu terutama


limfoma atau lupus eritematosus sistemik).

Konsumsi obat-obatan tertentu (seperti dapson, metildopa, hingga


golongan sulfa).

Terjadi sumbatan pada pembuluh darah.


Terjadi pembesaran pada limpa.
Sistem kekebalan yang menghancurkan reaksi autoimun.
3. Anemia ec infeksi kronis (Cacingan)

Balita cacingan jangan sampai diremehkan, cacingan bisa menghambat


pertumbuhan anak baik secara fisik maupun kecerdasannya. Anak cacingan
bisa menjadi kekurangan gizi dan mengalami masalah di bagian pencernaan,
oleh sebab itu, penting mengenali gejala anak cacingan sejak awal.
Secara umum, balita cacingan biasanya sulit sekali mengalami kenaikan berat
badan sehingga kalau dibiarkan bisa menyebabkan anak menjadi kurang gizi.
Balita yang terkena cacingan juga sering mengalami diare dan sakit atau nyeri
di bagian perut. Tidak hanya itu, anak cacingan bisa juga mengalami anemia
karena kekurangan darah akibat diserap oleh cacing terutama cacing tambang.
Ciri lain anak cacingan adalah hilangnya nafsu makan dan munculnya rasa
lemas serta loyo.
Perlu diketahui bahwa cacing ini bisa berpindah dari satu organ tubuh ke
organ tubuh yang lain, hal ini bisa menyebabkan kerusakan pada organ
tersebut. Misalnya jika anak mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh
bisa saja itu pertanda bahwa ada cacing yang sudah menyebar sampai ke
bagian paru-parunya, cacing di organ tubuh lain selain perut bisa
menimbulkan gejala seperti benjolan atau bengkak, demam maupun kejang.
Ciri-ciri anak cacingan juga tergantung dari jenis cacing yang ada di dalam
tubuhnya, cacing jenis gelang misalnya umumnya tidak menimbulkan gejala
yang spesifik. Namun cacing gelang tertentu bisa membuat masalah pada mata
atau menyebabkan gejala asma, cacing kremi menyebabkan adanya rasa gatal
di organ kelamin anak dan akan semakin bertambah gatal kalau malam hari.
Biasanya cacing jenis ini akan terlihat saat anak membuang feses, melalui tinja
memang dapat diketahui apakah anak positif menderita cacingan atau tidak.

Etiologi
Sindrom talasemia akibat tidak adanya sintesis satu atau lebih rantai polipeptida
globin yang bergabung membentuk hemoglobin. Sindrom thalassemia- biasanya
disebabkan oleh delesi satu gen globin atau lebih. Thalassemia- dapat juga karena
delesi gen, tetapi lebih lazim merupakan akibat kelainan pembacaan atau pemrosesan
DNA. Pada tingkat molekular, sekurang-kurangnya diketahui 100 mutasi yang
mengakibatkan kelainan ini. Mutasi ini dapat mengurangi produksi atau mengubah
pemrosesan mRNA. Cara lain pergeseran kerangka atau mutasi nonsense dapat
menggambarkan mRNA nonfungsional. Pada tingkat fenotip, tidak dibuat -globin
(thalassemia-0) atau pengurangan jumlah -globin. normal yang dihasilkan
(thalassemia-+). Hanya rantai globin normal yang dihasilkan pada kelainan ini,
tetapi ada bentuk thalassemia tidak biasa lain yang secara struktural disintesis rantai
globulin abnormal. 7

Epidemiologi
Gen thalassemia sangat luas tersebar, dan kelainan ini diyakini merupakan penyakit
genetik manusia yang paling prevalen. Distribusi utama meliputi daerah-daerah
perbatasan Laut Mediterania, sebagian besar Afrika, Timur Tengah, sub-benua India,
dan Asia Tenggara. Dari 3- 8% orang Amerika keturunan Itali atau Yunani dan 0,5%
dari kulit hitarn Amerika membawa gen untuk thalassemia. Di beberapa daerah Asia
Tenggara sebanyak 40% dari populasi mempunyai satu atau lebih gen thalassemia.
Daerah geografi di mana thalassemia merupakan prevalen yang sangat paralel dengan
daerah di mana Plasmodium falciparum dulunya merupakan endemik. Resistensi
terhadap infeksi malaria yang mematikan pada pembawa gen thalassemia agaknya
menggambarkan kekuatan selektif yang kuat yang menolong ketahanan hidupnya
pada daerah endemik penyakit ini.7

Patofisiologi dan Manifestasi Klinis


Pada thalassemia-, dimana terdapat penurunan produksi rantai , terjadi
produksi berlebihan rantai . Produksi rantai globin , di mana pasca kelahiran masih
tetap diproduksi rantai globin 22 (HbF), tidka mencukupi untuk mengkompensasi
defisiensi 22 (HbA). Hal ini menunjukkan bahwa produksi rantai globin dan rantai
globin tidak pernah dapat mencukupi unutk mengikat rantai yang berlebihan.
Rantai yang berlebihan ini merupakan ciri khas pada patogenesis thalassemia-. 5,7
Rantai yang berlebihan, yang tidak dapat berikatan dengan rantai globin
lainnya, akan berpresipitasi pada prekursor sel darah merah dalam sumsum tulang dan
dalam sel progenitor dalam darah tepi. Presipitasi ini akan menimbulkan gangguan
pematangan prekursor eritroid dan eritropoiesis yang tidak efektif (inefektif),
sehingga umur eritrosit menjadi pendek. Akibatnya, timbul anemia. Anemia ini lebih
lanjut lagi akan menjadi pendorong (drive) proliferasi eritroid yang terus menerus
(intens) dalam sumsum tulang yang inefektif, sehingga terjadi ekspansi sumsum
tulang. Hal ini kemudian akan menyebabkan deformitas skeletal dan berbagai
gangguan pertumbuhan dan metabolisme. Anemia kemudian akan ditimbulkan lagi
(exacerbated) dengan adanya hemodilusi akibat adanya hubungan langsung
(shunting) darah akibat sumsum tulang yang berekspansi dan juga oleh adanya
splenomegali. Pada limpa yang membesar makin banyak sel darah merah abnormal
yang terjebak, untuk kemudian akan dihancurkan oleh sistem fagosit. Hiperplasia
sumsum tulang kemudian akan meningkatkan absorpsi dan muatan besi. Hal ini akan
menyebabkan penimbunan besi yang progresif di jaringan berbagai organ, yang akan
diikuti kerusakan organ dan diakhiri dengan kematian, bila besi ini tidak segera
dikeluarkan. 5,7
Thalassemia
a. Thalassemia- 0 Homozigot (Anemia Cooley, Thalassemia Mayor)
Manifestasi Klinis. Thalassemia-0 homozigot biasanya menjadi
bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan
kedua kehidupan. Transfusi darah regular diperlukan pada penderita ini untuk

mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang disebabkan
oleh anemia. Tanpa transfusi harapan hidup tidak lebih dari beberapa tahun.
Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima
transfusi pada waktu anemia berat, terjadi hipertrofi jaringan eritropoetik di
sumsum tulang maupun di luar sumsum tulang. Tulang-tulang menjadi tipis
dan fraktur patologis mungkin terjadi. Ekspansi masif sumsum tulang di muka
dan tengkorakmenghasilkan wajah yang khas. Pucat, hemosiderosis, dan
ikterus sklera biasanya ada, dan batu empedu bilirubin dapat terbentuk pada
remaja sebagai akibat hemolisis kronis dan hiperbilirubinemia. Limpa dan hati
membesar karena hematopoiesis ekstramedular dan hemosiderosis. 4,5
Temuan Laboratorium. Kelainan morfologi eritrosit pada penderita
thalassemia-0 homozigot yang tidak ditransfusi adalah ekstrem.Pemeriksaan
darah menunjukkan anemia hipokromik dan biasanya mikrositik. Timbul
mikrosit yang berubah bentuk, sel target, bintik basofilik dan kadang-kadang
makrosit. Jumlah retikulosit, walaupun meningkat, jarang melebihi 5%.
Sejumlah besar eritrosit yang berinti ada di darah tepi, terutama setelah
splenektomi. Kadar Hb turun secara cepat menjadi kurang dari 5 g/dL kecuali
jika transfusi diberikan. Kadar bilirubin serum tidak terkonjugasi meningkat.
Kadar serum besi tinggi, dengan saturasi kapasitas pengikat-besi. Gambaran
biokimiawi yang nyata adalah adanya kadar HB F yang sangat tinggi dalam
eritrosit. 5,7
b. Thalassemia- Intermedia
Ekspresi gen homozigot thalassemia (+) menghasilkan sindrom miripanemia Cooley yang kurang berat ("thalassemia intermedia"). Deformitas
skelet dan hepatosplenomegali timbul pada penderita ini, tetapi kadar Hb
mereka biasanya bertahan pada 6-8 g/dL tanpa transfusi. Bagaimanapun,
mereka dapat berkembang menderita hemosiderosis hebat, disebabkan karena
absorpsi besi gastrointestinal yang sangat meningkat. Namun kadang-kadang,
perjalanan klinis dapat lebih ringan daripada perjalanan klinis thalassemia-
mayor, walaupun data genetik menunjukkan bahwa penderita-mempunyai
talasemia homozigot. 5,7
Beberapa Hb yang abnormal secara struktural menghasilkan perubahan
hematologis mirip-thalassemia- dan, bila ada dalam kombinasi dengan gen
thalassemia- juga menycbabkan sindrom thalassemia intermedia. 5,7
Kedua orang tua biasanya ditemukan menderita mikrositosis dan bukti
adanya ciri thalassemia- pada elektroforesis hemoglobin. Perjalanan klinis
yang lebih ringan pada penderita ini biasanya karena pewarisan homozigot gen
talasemia yang lebih ringan, seperti thalassemia-, atau karena pewarisan
heterozigot ganda dari satu gen talasemia berat dan satu yang ringan. Pewarisan homozigot dua gen talasemia berat dapat dikurangi dengan pewarisan
bersama gen tambahan untuk thalassemia-; walaupun sintesis rantai globin
total lebih rendah daripada penderita dengan thalassemia- homozigot,
ketidakseimbangan lebih kecil antara produksi rantai - dan -globin dan
karena itu, pembentukan benda-inklusi kurang dan hemolisis kurang. 5,7
c. Thalassemia- Heterozigot (Thalassemia Minor/Ciri Bawaan)
Sejumlah kelainan sintesis rantai -globin yang berbeda secara genetik
dapat menghasilkan gambaran klinis thalassemia minor. Derajat penekanan
sintesis rantai -globin normal dan jumlah sisa sintesis rantai- tampak
merupakan penentu yang penting terhadap keparahan heterozigot Harapan
hidup pada talasemia- minor normal. 5,7

10

Adanya thalassemia biasanya dapat dibedakan pada heterozigot dengan


penentuan hemoglobin A2 dan F kuantitatif, darah lengkap dengan indeks
eritrosit dan pewarnaan benda inklusi eritrosit. Tidak mungkin pemeriksaan
sintesis in vitro untuk membedakan ciri thalassemia-0, tidak adanya rantaiyang disintesis, dari ciri thalassemia-+, dengan beberapa rantaidisintesis. Namun, kedua orang tua mungkin mempunyai bentuk 0 ciri
thalassemia jika keturunan homozigot secara total tidak mampu mensintesis
rantai-. Sebaliknya, jika gen thalassemia- diwariskan bersama kelainan
struktural rantai-, seperti hemoglobin sel sabit, setiap hemoglobin A yang
muncul harus berasal dari lokus gen -globin thalassemia dan menunjukkan
adanyathalassemia-+. Tidak adanya hemoglobin A pada kelompok ini sesuai
dengan thalasemia-0. 5,7
Pada penyakit ini ditemukan eritrosit adalah mikrositik hipokromik dengan
poikilositosis, ovalositosis, dan sering bintik-bintik basofil. Sel target mungkin
juga ada tetapi biasanya tidak mencolok dan tidak spesifik untuk thalassemia.
MCV rendah, kira-kira 65 fL, dan MCH juga rendah (<26 pg). Penurunan
ringan pada ketahanan hidup eritrosit juga dapat diperlihatkan, tetapi tanda
hemolisis biasanya tidak ada. Kadar besi serum normal atau meningkat.5,7
Individu dengan ciri (trait) thalassemia sering didiagnosis salah sebagai
anemia defisiensi besi dan mungkin diberi terapi yang tidak tepat dengan
preparat besi selama waktu yang panjang.1,5 Lebih dari 90% individu dengan
trait thalassemia- mempunyai peningkatan diagnosis Hb A2 yang berarti
(3,4-7%). Kira-kira 50% dari individu ini juga mempunyai sedikit kenaikan
Hb F. sekitar 2-6%. 5,7
Pada satu kelompok kecil kasus yang benar-benar khas, dijumpai Hb
A2normal dengan kadar Hb F berkisar dari 5% sampai 15%, yang mewakili
thalassemia tipe . Bentuk "silent carrier" thalassemia- tidak
menimbulkan kelainan yang dapat diperlihatkan pada individu heterozigot,
tetapi gen untuk keadaan ini, jika diwariskan bersama-sama dengan gen untuk
thalassemia-0, menghasilkan sindrom thalassemia intermedia. 5,7
d. Sindrom Thalassemia- Lainnya
Tipe defek delesi yang langka, yang menyangkut gen globin-. globin-,
dan globin- menghasilkan gambaran klinis mirip dengan pada trait
thalassemia pada individu heterozigot. Namun, pada masa neonatus, defek
ini nyata ditandai oleh penyakit anemia hemolitik dengan mikrositosis, normoblastemia, dan splenomegali. Proses hemolitik sembuh sendiri (self limited),
tetapi transfusi suportif mungkin diperlukan. 5,7
Thalassemia-
Delesi gen globin- menyebabkan sebagian besar kelainan ini. Terdapat empat
gen globin- pada individu normal, dan empat bentuk thalassemia- yang
berbeda telah diketahui sesuai dengan delesi satu, dua, tiga, atau semua empat
gen ini. Delesi gen globin- tunggal menghasilkan pengidap tenang fenotipe
thalassemia- (silent carrier). Biasanya tidak ada abnormalitas hematologi yang
nyata, kecuali mikrositosis ringan.
Individu yang kekurangan dua gen globin- memperlihatkan gambaran
pengemban bakat thalassemia-, dengan anemia mikrositik ringan. Pada bayi
baru lahir yang terkena, sejumlah kecil Hb Barts (4) dapat ditemukan pada
elektroforesis Hb. Lewat umur satu bulan, Hb Barts tidak lagi terlihat, dan kadar
Hb A2 dan Hb F secara khas normal. Delesi tiga dari empat gen globin- terkait

11

dengan sindrom mirip-thalassemia intermedia, penyakit Hb H. Anemia mikrositik


pada keadaan ini disertai dengan morfologi eritrosit yang abnormal. 4,6
Bentuk thalassemia- yang paling berat, disebabkan oleh delesi semua gen
globin-, disertai dengan tidak ada sintesis rantai sama sekali. Karena Hb F, Hb
A, dan Hb A2 semuanya mengandung rantai , maka tidak satupun dari Hb ini
terbentuk. Hb Barts (4) merupakan sebagian besar dari Hb pada bayi yang
menderita, dan karena 4 mempunyai afinitas oksigen yang tinggi, maka bayibayi itu mengalami hipoksia berat. Eritrositnya juga mengandung sejumlah kecil
Hb embrional normal (Hb Portland = 22), yang benungsi sebagai pengangkut
oksigen. Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati dan kebanyakan dari bayi yang
lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam. Tipe-tipe gen thalassemia-
bervariasi antar populasi, dan perbedaan ini menentukan sindrom thalassemla-
yang pre-dominan pada kelompok populasi tertentu. 4,6

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada anak dengan kelainan thalasemi,
adalah :
1. Medikamentosa 6

Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar


feritin serum sudah mencapai 1000 g/l atau saturasi transferin lebih 50%,
atau sekitar 10-20 kali transfusi darah. Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg
berat badan/hari subkutan melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam
dengan minimal selama 5 hari berturut setiap selesai transfusi darah.
Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk
meningkatkan efek kelasi besi.
Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.
Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat
memperpanjang umur sel darah merah.

2. Bedah : Splenektomi, dengan indikasi: 6

limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita,


menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya
ruptur

hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi darah


atau kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan
dalam satu tahun.
3. Suportif
Transfusi darah : Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl.
Dengan kedaan ini akan memberikan supresi sumsum tualang yang adekuat,
menurunkan tingkat akumulasi besi, dan dapat mempertahankan pertumbuhan
dan perkembangan penderita. Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red
cell), 3 ml/kg BB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dl. 4

12

Pencegahan
Tidak ada pengobatan definitif yang tersedia dengan luas untuk thalassemia,
penekanan utama telah ditempatkan pada penapisan populasi yang berisiko agar dapat
diberikan konseling genetik. Diagnosis prenatal dengan menggunakan cairan amnion,
biopsi vilikofionik, atau darah janin tersedia luas, dan bila digunakan, sangat
mengurangi insiden kasus baru thalassemia, terutama thalassemia- mayor. Penapisan
pembawa sifat thalassemia- lebih berdaya guna bila dikerjakan dengan penilaian
indeks sel darah merah. Individu dengan MCV dan MCH yang rendah dinilai
konsentrasi HbA2-nya. 5
Di Indonesia program pencegahan thalassemia-mayor telah dikaji oleh
Departemen Kesehatan melalui program "health technology assesment" (HTA), di
mana beberapa butir rekomendasi, sebagai hasil kajian, diusulkan dalam program
prevensi thalassemia, termasuk tekhnik dan metoda uji saring laboratorium, strategi
pelaksanaan dan aspek medikolegal, psikososial, dan agama. 6

Prognosis
Thalasemia homozigot umumnya meninggal pada usia muda dan jarangmencapai usia
dekade ke-3, walaupun digunakan antibiotik untuk mencegah infeksidan pemberian
chaleting agents untuk mengurangi hemosderosis (harganya punsangat mahal, pada
umumnya tidak terjangkau oleh penduduk negara berkembang). Thalasemia minor
(trait) dan thalasemia beta HbE yang umumnya mempunyai prognosis baik dan dapat
hidup seperti biasa. 4

Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada thalassemia intermedia dapat diakibatkan oleh proses
penyakitnya atau oleh pengobatannya. Pertumbuhan lambat terutama, akibat
kegagalan maturasi tulang, terutama selama tahun-tahun remaja. Maturasi seksual
juga terlambat, atau tidak ada dan hipogonadisme lazim pada anak laki-laki dan
perempuan. Kelainan pertumbuhan dan perkembangan ini diduga akibat
hemosiderosis transfusi bukannya talasemia. Namun pertumbuhan tinggi dan berat
badan cukup normal selama umur 4-5 tahun pertama pada anak yang ditransfusi
secara teratur dan perkembangan intelektual normal.1,6
Kematian pada sebagian besar penderita yang ditransfusi secara teratur dianggap
berasal dari kelebihan besi. Penyerapan besi saluran cerna meningkat sebagai akibat
anemia hemolitik kronis. Lagi pula, terjadi peningkatan beban besi tubuh yang
progresif sekitar 250 mg pada setiap unit darah yang ditransfusikan (besi tubuh total
3,5 g pada laki-laki dewasa normal). Akumulasi besi menyebabkan penggelapan kulit
karena melanin dan besi diendapkan di dermis. Akumulasi besi pada jaringan lain,
terutama hati, pankreas, kelenjar endokrin, dan jantung, dapat mengakibatkan fibrosis
dan kerusakan organ permanen. Diabetes melitus, insufisiensi hati, dan gangguan
kelenjar endokrin dapat terjadi. Komplikasi yang paling serius adalah gagal jantung
yang sering mematikan yang mengikuti aritmia atrium dan ventrikel yang aneh pada
beberapa remaja dan dewasa muda.1,2,6

13

Pencegahan
Tidak ada pengobatan definitif yang tersedia dengan luas untuk thalassemia,
penekanan utama telah ditempatkan pada penapisan populasi yang berisiko agar dapat
diberikan konseling genetik. Diagnosis prenatal dengan menggunakan cairan amnion,
biopsi vilikofionik, atau darah janin tersedia luas, dan bila digunakan, sangat
mengurangi insiden kasus baru thalassemia, terutama thalassemia- mayor.6
Penapisan pembawa sifat thalassemia- lebih berdaya guna bila dikerjakan dengan
penilaian indeks sel darah merah. Individu dengan MCV dan MCH yang rendah
dinilai konsentrasi HbA2-nya.4
Di Indonesia program pencegahan thalassemia- mayor telah dikaji oleh
Departemen Kesehatan melalui program "health technology assesment" (HTA), di
mana beberapa butir rekomendasi, sebagai hasil kajian, diusulkan dalam program
prevensi thalassemia, termasuk tekhnik dan metoda uji saring laboratorium, strategi
pelaksanaan dan aspek medikolegal, psikososial, dan agama.4

Kesimpulan
Dari data-data yang sudah dapat dikumpulkan maka anak tersebut dapat
didiagnosis menderita thalassemia. Namun untuk menyimpulkan lagi thalassemia
jenis apa, perlu pemeriksaan lanjutan yang lebih lengkap dan terarah. Sehingga
dengan begitu dapat ditentukan penatalaksanaannya demi kebaikan pasien.

Daftar Pustaka
1. Honig GR. Kelainan Hemoglobin dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Nelson;
editor Richard E. Behrnab, et all; Alih bahasa, A. Samik Wahab; editor bahasa
Indonesia, A. Samik Wahab, et all. Ed.15 Vol.2. Jakarta: EGC, 2000. h. 402-20
2. Sudoyo Aru W, et all. Dasar-dasar Talasemia: Salah Satu Jenis Hemoglobinopati.

Iswari S, Atmakusuma D(eds). Buku ajar IPD. Jilid 2. Jakarta: Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2009.h.1379-86

14

3. Gleadle Jonathan. Anemia dalam Buku At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan


Fisik; alih bahasa, Rahmalia Annisa; editor, Safitri Amalia. Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2005. h.83-84
4. Mehta AB, Hoffbrand AV. Anemia dalam Buku At a Glance Hematologi; alih

bahasa, Rahmalia Annisa; editor, Safitri Amalia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
h.18-25
5. Kee JL. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostic. Alih bahasa, Sari

Kurniansih, et all; editor bahasa Indonesia, Ramona P.Kapoh .Edisi 6. Jakarta.


EGC: 2007. h.813-7
6. Mentzer WC. Talasemia dalam Buku Ajar Pediatrik Rudolf; editor, Abraham M.

Rudolph, et all; alih bahasa, A. Samik Wahab, Sugiarto; editor bahasa Indonesia,
Natalia Susi, et all. Ed.20 Vol.2. Jakarta: EGC, 2006. h. 1331-34
7. Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. Kelainan Genetik pada Hemoglobin Dalam

Kapita Selekta Hematologi (Essentials of Hematology). Alih bahasa, Lyana


Setiawan; editor bahasa Indonesia, Dewi Asih Mahanani. Ed.4. Jakarta: EGC;
2005.h. 431-38.

15