Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PENGINDERAAN JAUH


MODUL IV
DETEKSI PERUBAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT

Disusun Oleh:
Hendri Zand Fransiskus Lahagu
Shift 2

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

Shift 2
Tgl Praktikum

: 30 April 2015

Tgl Pengumpulan : 06 Mei 2015


LEMBAR PENILAIAN
MODUL IV:
DETEKSI PERUBAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT

Nama: Hendri Zand Lahagu


NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

NIM: 26020113140118

KETERANGAN

Ttd:
NILAI

Pendahuluan
Tinjauan Pustaka
Materi dan Metode
Hasil dan Pembahasan
Penutup
Daftar Pustaka
TOTAL

I. PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Penginderaan jauh ialah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi
tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh

dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah atau
gejala yang dikaji. Teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing), telah merubah
paradigma visualisasi permukaan bumi kita dari impian menjadi kenyataan, dari
fiksi ilmiah menjadi bukti ilmiah. Lompatan teknologinya telah menghasilkan
manfaat yang sangat berguna bagi banyak bidang yang berkaitan dengan
manajemen pemanfaatan bumi dan permukaannya.
Produk teknologi penginderaan jauh yang sangat luar biasa adalah berupa
citra satelit dengan resolusi spasial yang tinggi, memberikan visual permukaan
bumi sangat detail.
DeteksiPerubahanLahan (Landuse Change Detection) yang dikaji dari data
inderaja merupakan sarana peringatan dini yang tepat bagi pengelolaan
lahanpesisir yang berkelanjutan.Melalui data ini dapat dilihat luas lahanyang
terdegradasi dan kondisi kerusakan lingkungan yang terjadi sebagai dasar untuk
menghitung aset sumber daya yang hilang (Anonim, 2009).
Melihat kondisi ini, data dan informasi yang diperoleh dari penginderaan
jauh memegang peranan yang sangat penting. Melalui analisa data ini secara
kontinyu dapat di monitor perubahan penggunaan lahan yang terjadi. Akan tetapi,
monitoring tidak dapat berbicara banyak tanpa dapat mendeteksi nilai aset yang
hilang karena konversi penggunaan lahan tersebut. Oleh karena itu, deteksi
perubahan lahan ini dapat dijadikan input untuk mengembangkan suatu model
yang dituangkan dalam beberapa skenario kebijakan pengelolaan penggunaan
lahan yang lestari (Anonim, 2008).
Garis pantai divisualisasikan dalam citra dengan melakukan deliniasi
menggunakan metode ekstrapolasi antara kedudukan duduk tengah dengan
permukaan air sesaat yang menandai batas air dan darat yang diperoleh dari
hitungan numerik data pasut.Keterbatasan resolusi yang dimiliki teknologi
penginderaan jauh menggunakan radar menyebabkan metode baru ini hanya dapat
diterapkan untuk daerah pantai yang landai dimana perubahan kedudukan air laut
secara horizontal saat pasang dan surut sangat signifikan.Untuk daerah perairan
yang curam, metode ini menemui kendala karena sulitnya pemodelan matematika
untuk penentuan garis pantai dengan perhitungan data pasut. Output yang

dihasilkan dari penentuan garis pantai dengan teknik penginderaan jauh yaitu peta
citra LPI Skala 1 : 100.000.
I.2. Tujuan
I.2.1. Mahasiswa Mampu Menampilkan Citra Satelit Citra Temporal
I.2.2. Mahasiswa Mampu Mendeteksi Perubahan Garis Pantai
I.2.3. Mahasiswa Mampu Menganalisa Spasial Perubahan Garis Pantai
I.2.4. Mahasiswa Mampu Menganalisa perubahan luas tambak

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pantai Utara Jawa


Jalur Pantura (Jalur Pantai Utara) adalah istilah yang digunakan untuk
menyebut jalan nasional sepanjang 1.316 km antara Merak hingga Ketapang,

Banyuwangi di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, khususnya antara Jakarta dan
Surabaya. Jalur ini sebagian besar pertama kali dibuat oleh Daendels yang
membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dari Anyer ke Panarukan pada
tahun

1808-an.

Tujuan

pembangunan

Jalan

Raya

Pos

adalah

untuk

mempertahankan pulau Jawa dari serbuan Inggris. Pada era perang Napoleon,
Belanda ditaklukkan oleh Perancis dan dalam keadaan perang dengan Inggris )
(Anonim, 2011).
Jalur Pantura melintasi 5 provinsi: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jawa Timur. Ujung paling barat terdapat Pelabuhan Merak, yang
menghubungkannya dengan Pelabuhan Bakauheni di Pulau Sumatra, ujung paling
selatan dari Jalan Trans Sumatra. Ujung paling timur terdapat Pelabuhan
Ketapang yang menghubungkannya dengan Pelabuhan Gilimanuk di Pulau Bali.
Jalur Pantura merupakan jalan yang menghubungkan bagian barat Pulau Jawa dan
bagian timurnya ( Anonim, 2011 ).
Jalur Pantura melintasi sejumlah kota-kota besar dan sedang di Jawa,
selain Jakarta, antara lain Cilegon, Tangerang, Bekasi, Cirebon, Tegal,
Pekalongan, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Tuban, Surabaya,
Pasuruan, Probolinggo, dan Banyuwangi. Selain jalan arteri, terdapat jalan tol di
Pantura, yaitu:

Jalan tol Jakarta-Merak (Banten)

Jalan tol Jakarta-Cikampek (Karawang)

Jalan tol Palimanan-Kanci (Cirebon)

Jalan tol Dalam Kota Semarang

Jalan tol Surabaya-Gresik

Jalan tol Surabaya-Gempol (Pasuruan)


Jalur ini memiliki signifikansi yang sangat tinggi dan menjadi urat nadi

utama transportasi darat, karena setiap hari dilalui 20.000-70.000 kendaraan. Jalur
Pantura menjadi perhatian utama saat menjelang Lebaran, di mana arus mudik

melimpah dari barat ke timur. Arus paling padat tedapat di ruas JakartaCikampek-Cirebon-Tegal-Semarang ) ( Anonim, 2011).
Di Cikampek, terdapat percabangan menuju ke Bandung (dan kota-kota di
Jawa Barat bagian selatan). Di Tegal, terdapat percabangan menuju ke Purwokerto
(dan kota-kota di Jawa Tengah bagian selatan). Di Semarang, terdapat
percabangan menuju ke timur (Surabaya-Banyuwangi) dan menuju ke selatan
(Solo-Madiun) ( Anonim, 2011 ).
Kerusakan lingkungan yang dialami pesisir utara pulau Jawa, makin lama
makin parah. Yang jadi musabab terutama adalah abrasi, pengikisan daratan oleh
air laut. Akibat abrasi, berbagai infrastruktur rusak, lingkungan hancur, ekosistem
berubah. Dan secara sosial dan ekonomi juga menciptakan bencana terhadap
penduduk. Sayung, Tanggul Tlare dan Bulak merupakan contoh nyata tentang
ancaman abrasi laut (Anonim, 2011).
Namun pemerintah masih belum menaruh perhatian yang memadai.
Memang mulai dibangun sejumlah fasilitas pelindung pantai, seperti beton-beton
penjinak gelombang, juga dijalankan program penanaman kembali pohon bakau
atau mangrove di berbagai kawasan pantai ( Anonim, 2011 ).
Tapi berbagai upaya itu terkesan setengah-setengah. Keterbatasan dana
selalu jadi alasan tidak optimalnya penanganan melalui bangunan fisik. Sementara
penanganan secara alami, agar mencapai kerapatan yang cukup untuk menahan
laju abrasi, pohon bakau memerlukan waktu setidaknya 25 tahun ( Anonim,
2011 ).

2.2. Citra Satelit Multitemporal


Sistem penginderaan jauh didesain memiliki sifat multi aplikasi yaitu
multi spektral, multi spasial dan multi temporal.Sifat multi spektral dari sistem
penginderaan jauh dikarenakan sensor kamera satelit menggunakan saluran
penginderaan dua atau lebih pada saat yang bersamaan.Semakin banyak kanal
atau saluran yang digunakan maka informasi yang didapat semakin banyak dan

lengkap.Sifat multi spasial berarti sistem penginderaan jauh memiliki ketajaman


(ketelitian) spasial sebanyak dua atau lebih, sering juga disebutkan ketelitian
spasial ini sebagai resolusi spasial (Anonim, 2008).
Jika resolusi spasial semakin tinggi maka semakin tinggi ketelitian citra
yang berarti mempunyai skala yang semakin besar pula.Sedangkan sifat multi
temporal berarti kemampuan sensor penginderaan jauh untuk melakukan
pengulangan penyapuan suatu daerah tertentu pada waktu yang telah
ditetapkan.Kembalinya satelit untuk menyapu suatu kawasan dapat pada periode
satu jam, satu hari hingga satu bulan berikutnya (Anonim, 2008).

2.3. Analisa Spasial


Dalam statistik, analisis spasial atau statistik spasial termasuk salah satu
teknik formal yang studi entitas menggunakan properti mereka topologi,
geometris, atau geografis. Ungkapan benar mengacu pada berbagai teknik, banyak
masih dalam pengembangan awal mereka, dengan menggunakan pendekatan
analitik yang berbeda dan diterapkan di bidang beragam seperti astronomi, dengan
penelitian atas penempatan galaksi di kosmos, untuk teknik fabrikasi chip, dengan
penggunaannya 'tempat dan rute' algoritma untuk membangun struktur kabel
kompleks. Ungkapan ini sering digunakan dalam arti lebih terbatas untuk
menjelaskan teknik yang diterapkan pada struktur pada skala manusia, terutama
dalam analisis data geografis. Ungkapan ini bahkan kadang-kadang digunakan
untuk merujuk kepada teknik spesifik di daerah tunggal penelitian, misalnya,
untuk menggambarkan geostatistik (Anonim, 2011).
Sejarah analisis spasial dimulai dengan awal, survei kartografi dan
geografi pada awal sejarah, meskipun teknik analisis spasial tidak diformalkan
sampai bagian akhir abad kedua puluh. Modern analisis spasial berfokus pada
teknik-teknik berbasis komputer karena jumlah data yang besar, kekuatan ilmu
informasi modern statistik dan geografis (GIS) software, dan kompleksitas dari
model komputasi. teknik analisis spasial telah dikembangkan dalam geografi,

biologi, epidemiologi, sosiologi, demografi, statistik, geoinformatics, ilmu


komputer, matematika, dan pemodelan ilmiah (Anonim, 2011).
Kompleks timbul masalah dalam analisis spasial, banyak yang tidak jelas
atau diatasi secara tuntas, namun membentuk dasar untuk penelitian saat ini. Yang
paling mendasar dari ini adalah masalah menentukan lokasi spasial dari entitas
yang sedang dipelajari. Sebagai contoh, sebuah studi terhadap kesehatan manusia
dapat menggambarkan posisi spasial manusia dengan titik ditempatkan di mana
mereka tinggal, atau dengan titik yang terletak di mana mereka bekerja, atau
dengan menggunakan baris untuk menggambarkan perjalanan mingguan mereka,
masing-masing pilihan memiliki efek dramatis pada teknik yang dapat digunakan
untuk analisis dan kesimpulan yang dapat diperoleh. (Anonim, 2011).

2.4. DeteksiPerubahan Memakai Citra Satelit


Sutanto (1986), mengemukakan bahwa pada dasarnya kegiatan
interpretasi citra terdiri dari dua tingkat yaitu, tingkat pertama berupa
pengenalan objek melalui proses deteksi dan identifikasi, dan tingkat
kedua berupa penilaian atas pentingnya objek yang telah dikenali
tersebut, yaitu arti pentingnya tiap objek dan kaitannya dengan antar
objek tersebut. Tingkat pertama berarti perolehan data, sedangkan
pada tingkat kedua berupa interpretasi atau analisis data. Di dalam
upaya

otomatisasi,

hanya

tingkat

pertamalah

yang

dapat

dikomputerkan. Tingkat kedua harus dilakukan oleh orang yang


berbekal ilmu pengetahuan cukup memadai pada disiplin ilmu tertentu.
Model data pada citra adalah model data raster yaitu bentuk
dimana setiap lokasi dipresentasikan sebagai suatu posisi sel. Sel yang
diorganisasikan ini dalam bentuk kolom dan baris sel-sel yang biasa
disebut grid. Setiap baris matrik berisikan berisikan sejumlah sel yang
memiliki nilai tertentu yang mempresentasikan suatu fenomena
geografis. Nilai yang terkandung oleh suatu sel adalah angka yang
menunjukkan data nominal, misalnya kelas lahan, konsentrasi polutan
dan lain-lain (Sutanto, 1986).

Oleh Sutanto (1986) dikatakan bahwa tiap obyek memiliki


karakteristik tersendiri di dalam menyerap dan memantulkan tenaga
yang diterima olehnya. Karakteristik ini disebut karakteristik spektral
yang ditunjukkan sebagaimana kurva pantulan umum vegetasi, tanah,
dan air.

Gambar 1.2. Kurva Pantulan Umum Vegetasi, Tanah dan Air


Banyak pendekatan aplikasi GIS terdahulu untuk deteksi perubahan yang
difokuskan pada daerah urban. Ini mungkin karena metoda deteksi perubahan
tradisional sering menghasilkan deteksi perubahan yang tidak betul karena
kompleksitas landscape urban dan model tradisional tidak bisa digunakan secara
efektif menganalisa data multi-sumber. Sehingga, kekuatan fungsi GIS
memberikan alat yang menyenangkan untuk pengolahan data multi-sumber dan
efektif dalam menangani analisa deteksi perubahan yang menggunakan data
multi-sumber. Banyak penelitian difokuskan pada integrasi GIS dan teknik
penginderaan jauh yang diperlukan untuk analisis deteksi perubahan yang lebih
akurat ( Sutanto, 1994 ).

III. MATERI METODE


3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari

: Kamis, 30 April 2015

Waktu

: 15.00 17.00 WIB.

Tempat

: Laboratorium Komputasi Ilmu Kelautan, Universitas


Diponegoro, Semarang

3.2. Materi
Adapun materi pada praktikum indraja kali ini sebagai berikut :
1. Menampilkan citra multi temporal
2. Deteksi perubahan garis pantai
3. Analisis perubahan spasial
3.3.

Metode
3.3.1 Menampilkan Citra Satelit Multitemporal
1. Buka software ER MAPPER , lalu buat window baru. Kemudian klik
icon Edit Algorithm

2. Lalu di window Algorithm, klik icon Load Dataset . Setelah muncul


window Raster Dataset, pilih file Landsat_5Juli2001. ers. Lalu klik
OK

3.
Kemudian pada window ER MAPPER , setelah itu klik icon

(RGB)

dan ganti description pada window algorithm menjadi NAMA_NIM


yaitu HendriLahagu_26020113140118.

4. Lalu pseudo layer pada window algorithm di cut, kemudian pada


window algorithm ubah band dari citra menjadi band 5 untuk Red
Layer, band 4 untuk Green Layer, dan band 2 untuk Blue Layer. Lalu
tajamkan dengan mengklik icon Refresh Image with 99%. Lalu klik
lagi icon refresh pada window ER MAPPER .

Red Layer : Band 5

Green Layer : Band 4

Blue Layer : Band 3

5. Kemudian pada default surface klik dua kali untuk mengganti nama
default surface menjadi nama kita 2001.

6. Membuat window baru dengan klik edit pilih new maka akan muncul
window sebagai berikut

7. Pada window Algorthm, klik icon Load Dataset dan kali ini pilih file
Landsat_9April2003.ers. Lalu klik OK.

8. Kemudian pjada window ER MAPPER , klik icon

(RGB) dan

ganti description pada window algorithm menjadi NAMA_NIM


yaitu HendriLahagu_26020113140118.

9. Lalu pseudo layer pada window algorithm di cut .

10. Kemudian pada window algorithm ubah band dari citra menjadi band
5 untuk Red Layer, band 4 untuk Green Layer, dan band 2 untuk
Blue Layer. Lalu tajamkan dengan mengklik icon Refresh Image with
99%. Lalu klik lagi icon refresh pada window ER MAPPER .
Red Layer : Band 5

Green Layer : Band 4

Blue Layer : Band 3 dan Refresh Image with 99%

11. Kemudian pada default surface klik dua kali untuk mengganti nama
default surface menjadi 2003

12. Maka akan terdapat dua citra dengan waktu yang berbeda, akan tetapi
menunjukan daerah yang sama, yaitu citra tahun 2001 dan citra tahun
2003.

3.3.2

Deteksi Perubahan Garis Pantai


1. Pada layer citra 2003 di klik , lalu klik icon copy pada window
algorithm dan paste ke citra layer 2001.

2. Karena tujuan kita adalah untuk mendeteksi, maka pada citra tersebut,
klik surface pada window algorithm kemudian pilih transparency dan
geser-geser ke kanan untuk melihat perubahan yang terjadi dari tahun
2001-2003. Semakin ke kanan sampai transparency 100% berarti citra
menunjukkan tahun 2003.

Transparency 0%

Transparency 25%

Transparency 50%

Transparency 75%

Transparency 100%

3.3.3

Analisis Spasial Perubahan Garis Pantai

1. Pada window utama, pilih bagian Edit lalu Annotate Vector Layer. Lalu
muncul window New Map Composition klik OK kemudian klik Close
pada window ER MAPPER baru

2. Lalukan pembesaran sedikit lagi dengan zoom box tool, lalu transparency
di geser kekiri 0% sampai kembali ke citra tahun 2001 .

3. Mengukur panjang garis pantai dengan Polyline. Kemudian digitasi


panjang garis pantai dengan mengklik icon polyline pada window tools
baru.

4. Lalu lihat panjangnya dengan mengklik icon edit object extend pada
window tools baru yang tadi.

5. Lalu ganti warna digitasi dengan mengklik ikon pointer yang ada pada
window tools yang baru tadi, kemudian klik dua kali pada garis pantai
yang telah didigitasi sehingga muncul window line style.

6. Lalu ganti warnanya menjadi warna Kuning dan mengganti kolom width
menjadi 3.0

7. Lalu pilih close dan lihat di citra layer

8. Kemudian untuk menghitung panjang garis pantai di tahun 2003, maka


tranparancy di geser ke kanan sampai 100% yang menunjukkan citra
tahun 2003.

9. Lalu digitasi kembali panjang garis pantainya dengan polyline pada


window tools yang baru tadi. Kemudian lihat panjang garis pantainya
dengan mengklik ikon edit object extend pada window tools, lalu ganti
warnanya menjadi warna Biru dan mengganti kolom width menjadi 3.0

10. Lalu pilih close, maka untuk citra hasil digitasi dari tahun 2001-2003
menjadi:

11. Kemudian
klik

kanan

pada citra 2001


pilih zoom all

dataset.

Mengamati

perbedaan

luas perubahan

tambak dengan Polygon. Ubah transparency sampai ke 0% untuk tahun


2001 kembali, setelah itu pilih zoom box tools lagi untuk memperbesar
citra yang ingin diketahui perubahan luas tambak.

12. Lalu lakukan digitasi dengan mengklik icon Polygon pada window tools.

13. Lalu lihat hasil luasan perubahan tambaknya dengan mengklik edit object
extend pada window tools.

14. Lalu ganti warna digitasi dengan mengklik ikon pointer yang ada pada
window tools yang baru tadi. Kemudian klik dua kali pada garis pantai
yang telah didigitasi sehingga muncul window line style.

Lalu ganti

warnanya menjadi warna Hijau dan mengganti kolom width menjadi 3.0

15. Sehingga citra akan terlihat sebagai berikut :

16. Kemudian lakukan hal yang sama pada citra dengan transparency 100% ,
lalu lihat luasnya.

17. Dari hasil pengamatan adanya perubahan luas tambak yang terjadi dari
tahun 2001-2003.

18. Lalu tutup semua windowsnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. HASIL
4.1.1 Menampilkan Citra Satelit
Citra satelit tahun 2001

Citra satelit tahun 2003

4.1.2. Deteksi Perubahan Garis Pantai


Citra 2001

Transparency 0%

Transparency 25%

Transparency 50%

Transparency 75%

Transparency 100%

Citra 2003

Transparency 0%

Transparency 25%

Transparency 50%

Transparency 75%

Transparency 100%

4.1.3. Analisa Spasial perubahan garis pantai


A. Menentukan dan Menganalisis Perubahan Panjang Garis Pantai

B. Menentukan dan Menganalisis Perubahan Luasan Tambak di Sekitar


Pantai Utara Jawa

4.2. Pembahasan

4.2.1. Menampilkan Citra Satelit Multi Temporal


Pada praktikum kali ini, kita menggunakan 2 citra pada lokasi dan satelit
Landsat yang sama namun tanggal berbeda, yaitu pada tanggal 5 Juli 2001 dan
tanggal 9 April 2003. Tujuan menggunakan tanggal yang berbeda, agar kita bisa
melihat perbedaan yang terjadi selama kurun waktu antara 5 juli 2001 hingga 9
april 2003.
Dari data citra satelit 9 April 2003, dapat terlihat bahwa pantai tampak
terkena abrasi yang di sebabkan oleh ombak dsb, hal ini terlihat dari perbandingan
dengan citra 5 Juli 2001. Bila diamati lebih detail, terdapat penurunan jumlah luas
pantai selama 2 tahun tersebut.
4.2.2. Deteksi Perubahan Garis Pantai
Pada metode ini dilakukan penggabungan dua buah citra yaitu pada
tanggal 5 Juli 2001 dan tanggal 9 April 2003, kemudian dilakukan transparency
untuk melihat perubahan yang terjadi dalam waktu dua tahun itu. Transparansi
dilakukan untuk melihat perubahan secara lebih jelas dalam posisi yang sama.
Transparansi sendiri pada 0%, 25%, 75% dan 100%, hal ini dilakukan untuk
memperjelas perbandian perubahan daerah yang terjadi secara lebih detail.
4.2.3. Analisa Spasial Perubahan Garis Pantai
Dari hasil analisa spasial perubahan garis pantai dari citra 5 Juli 2001 dan
9 April 2003 terdapat perbedaan jumlah garis pantai, hal ini dikarenakan beberapa
faktor, yaitu faktor alam dalan faktor buatan :
a. Faktor alam
1. Cuaca dan Aktivitas gelombang, pola arus, dan juga daerah pasang
surutnya.
2. Erosi dan Abrasi yang akan membuat garis pantai akan mengalami
pengikisan oleh air laut dan semakin lama semakin berkurang
daratannya.
3. Sedimentasi

atau

abrasi,

yang

mengalami

menyebabkan bertambahnya daratan.


b. Faktor buatan
1. Pembuatan tambak oleh masyarakat sekitar
2. Pengerukan pasir pantai

pengendapan

dan

3. Dirusaknya ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang oleh


manusia, yang dapat berakibat nilai dampak yang disebabkan oleh
alam menjadi lebih besar, contoh : dampak abrasi oleh air laut
Dari 2 faktor tersebut, memang sama sama berpengaruh, namun yang
utama adalah faktor. Akan tetapi alam pun tidak akan membuat kerusakan jika
bukan dari manusianya

yang memulai berbuat kerusakan di bumi ini yang

mengakibatkan garis pantai menjadi mundur. Untuk mencegah terjadinya


kemunduran garis pantai dapat melakukan penanaman mangrove di setiap pantai,
selain untuk mencegah erosi dan abrasi mangrove juga berfungsi sebagai sedimen
trap.
4.2.4. Analisa Perubahan Luas Tambak
Pada analisa perubahan luas tambak, kita menggunakan 2 citra satelit,
yaitu citra Landsat 5 Juli 2001 dengan citra Landsat 9 April 2003, seiring
bertambahnya waktu terjadi perubahan mengenai luas tambak yang cenderung
bertambah. Hasil dari praktikum kali ini,

adalah terlihatnya perubahan luas

tambak yang semakin meluas ke daerah daratan secara dominan walaupun ada di
beberapa wilayah yang mengalami penyempitan luas tambak. Hal ini dapat
disebabkan karena penambahan luas tambak yang dilakukan secara sengaja oleh
manusia untuk kepentingan materinya. Selain itu bisa juga terjadi karena
mundurnya garis pantai yang menyebabkan tambak yang awalnya dapat berfungsi
secara normal menjadi tergenang oleh air laut, sehingga masyarakat sekitar
membuat tambak baru dengan lahan yang mereka punya.

V. PENUTUP
5.1

Kesimpulan

Dari praktikum penginderaan jauh modul ke-4 Deteksi Perubahan


Dengan Citra Satelit adalah sebagai berikut :
1. Dengan resolusi temporal yang tinggi proses perubahan gambar peta
dapat dianalisis lebih detail, misal kita dapat menghitung luasan daerah
yang mengalami abrasi sepenjang tahun, kita dapat menghitung
pertambahan luasan lahan, dan berkurangnya area vegetasi setiap tahun
sehingga kita dapat menganalisa pengaruh dari berkurangnya vegetasi
dengan proses abrasi.
2. Untuk mengetahui perubahan panjang garis pantai dapat menggunakan
tool polyline dengan mengaplikasikannya menggunakan citra temporal.
3. Untuk mengetahui perubahan luasan tambak dapat menggunakan tool
polygon dengan mengaplikasikannya menggunakan citra temporal
5.2

Saran

1. Praktikan diharapkan memperhatikan arahan dari asisten


2. Praktikan diharapkan mengulangi langkah-langkah yang dilakukan setelah
praktikum berlangsung agar dapat memahami materi praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Aronoff, S., 1989, Geographic Information System: A Management Perspective,


WDL Publication, Ottawa, Canada.

Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital Teori dan Aplikasinya Dalam
Bidang Penginderaan Jauh. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Estes J.E dan D.S. Simonett, 1975. Fundamental of Image Interpretatation:
Manual of remote Sensing, vol 1, first edition. R.G. Revees: ed-in-chief,
American Society of Fotogrmetri, Falls Chourch, Virginia.
Lu, D, P. Mausel at all, Change Detection Techniques, International J. Remote
Sensing, Juni 2003, Vol 25, No 12, P.2365 -2407.

http://library.pelangi.or.id/?pilih=arsip&topik=7&nid=2594 Diakses pada hari


Selasa tanggal 05 Mei Oktober 2015.

http://www.lapanrs.com/INOVS/PENLI/ind/INOVS--PENLI--255--ind-laplengkap--jansen_upap_2006.pdf Diakses pada hari Selasa tanggal 05


Mei Oktober 2015.
Pratikto, W.A, Armono H.D, Suntoyo. 1997. Perencanaan Fasilitas Pantai dan
Laut. Edisi Pertama. BPFE. Yoyakarta. 226 hlm.
Saputra, Ichwan. 2013. http://udayanailmu.blogspot.com/2013/02/mitigasibencana-gelombang-pasang-di.html. diunggah pada hari Selasa tanggal 05
Mei Oktober 2015.
Triatmodjo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta Ofset. Yogyakarta.
Triatmodjo, B. 2003. Pelabuhan. Beta Ofset. Yogyakarta.