Anda di halaman 1dari 44

KEPABEANAN & CUKAI

Dosen : Drs. Jiwa Pribadi Agustianto, MM.

Disusun Oleh :
Johana Calvin Resti Anggarini
F201420170

Program Studi Ilmu Administrasi Publik


Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Manajemen STIAMI

Pokok Bahasan

Kepabeanan
Dasar Hukum
Istilah-Istilah
Persyaratan Eksport & Import
Dokumen Eksport & Import
Klasifikasi Eksport
Flowchart Prosedur Eksport
Contoh Dokumen Kepabeanan
Pungutan Negara atas Import
Contoh Perhitungan Pungutan Negara Atas Import

Dasar Hukum Kepabeanan

UU No. 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan


Kep. Menkeu No. 112/KMK.04/2003 Tentang
Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor
Peraturan DJBC No. P-08/BC/2009 Tentang
Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan di
Bidang Impor

Peraturan Pemerinah No. 32 Tahun 2009


Tentang Tempat Penimbunan Berikat
Peraturan Menteri Keuangan No.
147/PMK.04/2011 Tentang Kawasan Berikat

PENGERTIAN
Kepabeanan
Segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang
masuk dam keluar daerah pabean, pemungutan bea masuk dan bea keluar
Daerah Pabean
Wilayah RI yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya
Tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya
berlaku undang-undang kepabeanan
Kawasan Pabean
Kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandara, atau tempat lain yang
ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Bea Masuk
Pungutan negara berdasarkan undang-undang kepabeanan yang dikenakan terhadap
barang yang diimpor
Bea Keluar
Pungutan negara berdasarkan undang-undang kepabeanan yang dikenakan terhadap
barang yang diekspor

Impor
Kegiatan memasukan barang ke daerah pabean
Ekspor
Kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean
Tempat Penimbunan Sementara
Bangunan atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di
kawasan pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu pemuatan
dan pengeluarannya
PEB BC 3.0
Pemberitahuan pabean ekspor yan digunakan untuk memberitahukan
ekspor barang
NPP
Nota Pemberitahuan Penolakan yaitu pemberitahuan kepada eskportir oleh
Pejabat Dokumen Ekspor atau Sistem Komputer Pelayanan yang
memberitahukan bahwa PEB ditolak karena pengisian data PEB dan
dokumen pelengkap pabean tidak lengkap/tidak sesuai
NPE
Nota Pelayanan Ekspor yaitu Nota yang diterbitkan oleh Pejabat Pemeriksa
Dokumen Ekspor atau Sistem

NPE
Nota Pelayanan Eksport yaitu Nota yang diterbitkan oleh Pejabat
Pemeriksa Dokumen
PKBE
Pemberitahuan Konsolidasi Barang Eksport yaituy
Pemberitahuan yang dibuat oleh pihak yang melakukan
konsolidasi yang berisi daftar seluruh PEB dan Nota
Pelayanan Eksport yang ada dalam satu peti kemas
KITE
Kemudahan Eksport Tujuan Import adalah pemberian
pembebasan atau pengembalian bea masuk atau cukai
serta PDRI lainnya tidak dipungut atas import barang
atau bahan yang diolah, dirakit atau dipasang pada
barang lain yang hasilnya terutama untuk tujuan eksport
API
Angka Pengenal Import

Persyaratan Eksport & Import


Persyaratan Eksport
1.
Mengajukan dan mengisi formulir
dengan melampirkan :
- Copy Akta Pendirian Perusahaan yang
dilegalisir
- SIUP
- Domisili Perusahaan
- NPWP
- Neraca Awal
- Referensi bank yang bersangkutan
- Bukti adanya hubungan dengan luar
negeri
- Tanda Daftar Perusahaan
2.
Setelah data diperiksa dengan benar
dan lengkap, Kanwil Deperindag
menerbitkan API ( Angka Pengenal
Import)

PersyaratanImport
Import
Persyaratan
SIUPyang
yangdikeluarkan
dikeluarkanoleh
olehKantor
Kantor
1.1. SIUP
WilayahDepartemen
DepartemenPerindustrian
Perindustrian
Wilayah
danPerdagangan
PerdaganganProvinsi
Provinsi
dan
SIUPoleh
olehDepartemen
DepartemenTeknis
Teknisatau
atau
2.2. SIUP
LembagaPemerintah
PemerintahNon
NonTeknis
Teknis
Lembaga
lainnyaberdasarkan
berdasarkanperundangperundanglainnya
undanganyang
yangberlaku
berlaku
undangan
TandaDaftar
DaftarPerusahaan
Perusahaanyang
yang
3.3. Tanda
dikeluarkanKanwil
KanwilDeperindag
Deperindag
dikeluarkan
tingkatProvinsi
Provinsi
tingkat

Dokumen Eksport & Import


Dokumen Eksport
1. Dokumen Utama :
- PEB
- B/L (Bill of Lading)
untuk angkutan Laut)
- Invoice-Packing List
2. Dokumen Pelengkap
- SKA (Sertifikat
Keterangan Asal) / COO
(Certificate of Origin)
- SM (Sertifikat Mutu)
- LPS-E (Laporan
Pemeriksaan SurveryorEkspor)

Dokumen Import
1. RKSP (Rencana
Kedatangan Sarana
Pengangkut)
2. PIB (Pemberitahuan Import
Barang)
3. Manifest
4. Invoice
5. COO (Certificate of Origin)
6. D/O (Delivery Order)

Klasifikasi Barang Ekspor


Jenis barang yang diatur tata niaga ekspornya
Produk Perkebunan : kopi digongsang / tidak digongsang, olahan
Produk Kehutanan : produk dari rotan ataupun kayu
Produk Industri
: asetat anhidrida, asam fenilasetat, efedrin, aseton, butanol
Produk Pertambangan : intan, timah, emas
Jenis barang yang diawasi ekspornya
Produk Peternakan : bibit sapi, sapi bukan bibit, kerbau, kulit Buaya, wet blue, binatang liar dan tumbuhan
Produk Perikanan : ikan napoleon, wirasse, benih ikan bandeng
Produk Perkebunan : inti kelapa sawit (palm kernel)
Produk Pertambangan : gas, kokas/minyak petroleum, bijih logam Mulia, perak, emas,
Produk industri : sisa dan scrap dari besi, baja steinless, tembaga, kuningan, aluminium, pupuk urea
Jenis barang yang dilarang ekspornya
Produk Pertanian: anak ikan dan ikan arwana, benih ikan sidat, ikan hias botia,
udang galah ukuran 8 cm dan udang panaedae
Produk Kehutanan: kayu bulat, bahan baku serpih, bantalan kereta api atau trem dari kayu dan kayu gergajian
Produk Kelautan: pasir laut
Produk Pertambangan: bijih timah dan konsentratnya, abu dan residu yang mengandung arsenik,
logam atau senyawanya dan lainnya, terutama yang mengandung timah dan batu mulia

Jenis barang yang bebas


Semua jenis barang yang tidak tercantum dalam peraturan di atas dikategorikan
sebagai barang bebas ekspor,
namun tentunya eksportir harus memenuhi persyaratan sebagai eksportir terlebih dahulu

Bea Masuk

Pungutan Negara Atas Import

Pajak Dalam Rangka Import


1. PPh Pasal 22
2. PPN Import
3. PPnBm Import

Pungutan Negara Atas Import


Tarif Bea Masuk

Lanjutan
C = Cost / Harga Barang Impor
Nilai barang yang sebenarnya dibayar atau yang seharusnya
dibayar
I = Insurance / Asuransi
Biaya asuransi pengangkutan dari pelabuhan muat di luar negeri
sampai dengan pelabuhan bongkar di Indonesia, jika data
asuransi tidak tersedia :
Biaya Asuransi = 0,5% x (C+F)
F = Freight / Biaya Pengangkutan
Biaya Pengangkutan dari pelabuhan muat di luar negeri
sampai pelabuhan bongkar di Indonesia

Perhitungan jika biaya freight tidak ada ialah sebagai berikut.


Biaya angkutan sarana pengangkut dapat diketahui dari B/L, AirWay Bill atau Master
Airway Bill atau dari daftar biaya pengangkutan asosiasi forwarder internasional (IATA)
dan asosiasi perusahaan penerbangan internasional, tetapi biaya yang tertera dari daftar
tersebut sebenarnya bukan merupakan patokan bagi biaya pengangkutan yang
sebenarnya.
Dalam sistem pengangkutan dikenal adanya beberapa potongan biaya pengangkutan,
seperti diskon, pengurangan biaya atas dasar volume dan frekuensi pengangkutan
barang, dan sebagainya.
Untuk biaya pengangkutan (terutama melalui laut), harus dimasukkan dalam komponen
perhitungan biaya pengangkutan dengan biaya penanganan barang di pelabuhan atau
terminal handling cost (THC) yang dibayar di pelabuhan muat/transit atau pelabuhan
tujuan.
Dalam hal di invoice diberikan catatan atau tulisan freight collect, berarti bahwa biaya
pengangkutan belum dibayar baik oleh pengirim maupun penerima. Biaya ini akan
dibayar di pelabuhan tujuan dengan bukti pembayaran dari agen sarana pengangkut.
Asuransi dibuka di luar negeri jika incoterm (cara penyerahan barang) cost insurance
freight (CIF), tetapi jika terminology yang digunakan adalah free on board (FOB), berarti
polis asuransi belum ada atau tidak diterbitkan, sesuai dengan peraturan Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai Nomor 02 Tahun 2005 ditetapkan besar asuransi adalah 0,5% x
bea masuk, asuransi dapat dibuka di luar negeri atau di dalam negeri.

Pajak Dalam Rangka Import


1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
2. Pajak Penghasilan Pasal 22
PPh Pasal 22 (impor) dikenakan 2,5% terhadap Wajib Pajak penerima barang
yang memiliki Angka Pengenal Importir (API)
PPh Pasal 22 (impor) dikenakan 7,5% terhadap Wajib Pajak penerima barang
yang memiliki dan dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
PPh Pasal 22 (impor) dikenakan 15% terhadap Wajib Pajak penerima barang
yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
3. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah

Nilai Dasar Penghitungan Bea Masuk


NDPBM (Nilai Dasar Penghitungan Bea Masuk) atau KURS
Nilai tukar yang dipergunakan sebagai dasar penghitungan BM
Nillai tukar mata uang yang dipergunakan sebagai NDPBM ditetapkan sesuai dengan
Keputusan Menteri Keuangan yang terbit secara berkala (setiap hari Rabu)
Dalam hal nilai tukar mata uang yang dipergunakan sebagai NDPBM tidak tercantum
dalam Keputusan Menteri Keuangan, nilai tukar yang dipergunakan sebagai NDPBM
adalah nilai tukar spot harian valuta asing yang bersangkutan di pasar internasional
terhadap dolar Amerika Serikat yang berlaku pada penutupan hari kerja sebelumnya.

Contoh Perhitungan Pungutan Negara Atas


Import
Jam tangan mempunyai tarif pos / HS = 9101.99.00.00
Harga barang (Cost (C)) $111.25
Asuransi (Insurance (I)) $0.44
ongkir (Freight (F)) $25.95
Cost + Insurance + Freight = CIF = $137.64
CIF tersebut dikurangi hak untuk barang kiriman $50 = 137.64-50 =
$87.64
Berhubung kurs rupiah saat itu adalah Rp 8.967/1 USD, maka
$87.64 = 87.64 * 8967 = Rp 785867,88
Bea Masuk = 10% = Rp 79.000 (pembulatan)
PPN = 10% = Rp. 87.000 (pembulatan)
PPh = 7,5% = Rp. 65.000 (pembulatan)
Total tagihan = Rp. 231.000,Selain itu, di Bea cukai ada ongkos tambahan untuk repacking dan
ada tambahan biaya juga di kantor pos, sehingga Total biaya menjadi
Rp. 285.000

Pokok Bahasan Cukai

Dasar Hukum
Istilah-istilah
Barang Kena Cukai
Pita Cukai
Flowchart Pelekatan Pita Cukai
Prosedur Permohonan NPPKBC MMEA
Cukai Rokok
Tarif Cukai Tahun 2015
Pelunasan Cukai
Perhitungan Cukai Hasil Tembakau
Perhitungan Cukai Import Etil Alkohol
Contoh Dokumen Cukai

Dasar Hukum Cukai

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007


tentang Perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai;
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 62/PMK.011/2010 tentang
Tarif Cukai Etil Alkohol, Minuman Yang Mengandung Etil Alkohol,
Dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.011/2010 tentang
Perubahan
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-43/BC/2009
tentang Tata Cara Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau;
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P 22/BC/2010 tentang Tata Cara Pemungutan Cukai Etil Alkohol,
Minuman Mengandung Etil Alkohol, dan Konsentrat Mengandung
Etil Alkohol.
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2008 tentang Nomor
Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/PMK.04/2008 tentang
Tata Cara Pemberian, Pembekuan dan Pencabutan NPPBKC untuk
Pengusaha Pabrik, Importir, Penyalur dan Pengusaha Tempat
Penjualan Eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol.

Istilah-Istilah
Cukai
pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai
Sifat dan karakteristik tertentu
MMEA
Minuman Mengandung Etil Alkohol
NPPKBC
Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai
Pita Cukai
Pita berupa hologram yang dilekatkan pada bungkus rokok dan minuman mengandung
etil alkohol

Barang Kena Cukai


Cukai dikenakan terhadap Barang Kena Cukai yang terdiri dari:
1. etil alkohol atau etanol, dengan tidak mengindahkan bahan
yang digunakan dan proses pembuatannya;
2. minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa
pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan
proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung
etil alkohol;
3. hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun,
tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan
tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pengganti
atau bahan pembantu dalam pembuatannya.

Barang Kena Cukai


Barang kena cukai adalah barang-barang tertentu yang
mempunyai sifat atau karakteristik, yang :
1. konsumsinya perlu dikendalikan
2. peredarannya perlu diawasi
3. pemakaiannya dapat menimbulkan efek negatif bagi masyarakat
atau lingkungan hidup,
4. pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan
dan keseimbangan

Pita Cukai
Pita Cukai yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
merupakan bukti pembayaran cukai atas penjualan tembakau
berbentuk rokok kretek dan cigarette. Produk yang oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai dipercayakan pencetakannya ke Perum
Percetakan UangRepublik Indonesia memiliki unsur sekuriti yang
cukup handal dalam rangka meminimalkan pemalsuan. Salah
satunya adalah pemberian hologram pada cetakan pita cukai. Pita
Cukai dicetak sesuai pesanan dari Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai, berdasarkan nilai pajak yang dikenakan untuk produk yang
terkena pajak.

Prosedur Permohonan NPPKBC MMEA


1. Syarat Fisik
a.Tidak berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau
tempat-tempat lain yang bukan bagian bangunan yang dimintakan
izin (dikecualikan bagi TPE yang berada di kawasan perdagangan,
hotel atau tempat hiburan).
b Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum.
c. Untuk pabrik memiliki luas bangunan paling sedikit 300 (tiga
ratus) meter persegi sedangkan penyalur memiliki luas bangunan
paling sedikit 100 (seratus) meter persegi.
d. Memiliki persil, bangunan, ruangan, tempat dan pekarangan yang
termasuk bagian dari bangunan yang dimintakan izin.
e. Memiliki bangunan, ruangan, dan tempat yang dipakai untuk
membuat etil alkohol (bagi pabrik).
f. Memiliki bangunan, ruangan, tempat dan tangki atau wadah lainnya
untuk menimbun MMEA yang selesai dibuat (bagi pabrik).
g. Memiliki bangunan, ruangan, tempat dan tangki atau wadah lainnya
untuk menimbun MMEA yang cukainya sudah dibayar atau
dilunasi/MMEA Impor.

h. Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah lainnya
i.
j.
k.
l.

untuk menyimpan bahan baku atau bahan penolong (bagi pabrik).


Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah lainnya
yang digunakan untuk kegiatan produksi dan penimbunan bahan baku atau bahan
penolong (bagi pabrik).
Memiliki ruangan yang memadai bagi pejabat Bea dan Cukai dalam melakukan
pekerjaan atau pengawasan (bagi pabrik).
Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok dengan ketinggian paling
rendah 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi bagian
depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.
Untuk lokasi tempat usaha bagi importir, penyalur dan TPE MMEA memiliki jarak
lebih dari 100 (seratus) meter dengan tempat ibadah umum, sekolah atau rumah
sakit.

2. Syarat Administrasi
Tahap Pertama
Sebelum mengajukan permohonan untuk mendapatkan NPPBKC, pemohon
mengajukan permohonan secara tertulis kepada KPPBC Madya Cukai Kudus
untuk dilakukan pemeriksaan lokasi, bangunan atau tempat usaha dengan
melampirkan :
a. Salinan/fotocopy SIUP-MB ( hanya menjadi persyaratan bagi pengusaha pabrik,
importir, penyalur dan TPE MMEA dengan kadar etil alkohol di atas 5% sedangkan
pengusaha pabrik, importir, penyalur dan TPE MMEA dengan kadar etil alkohol di
sampai dengan 5% cukup dengan melampirkan SIUP ).
b. Salinan/fotocopy izin usaha industri atau tanda daftar industri kecuali untuk
penyalur dan pengusaha TPE.
c. Gambar denah lokasi, bangunan atau tempat usaha.
d. Salinan/fotocopy IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).
e. Salinan/fotocopy izin yang diterbitkan oleh pemda setempat berdasarkan UU
mengenai gangguan.

Tahap Kedua
Atas permohonan yang diajukan, pejabat Bea dan Cukai melakukan wawancara
terhadap pemohon dalam rangka memeriksa kebenaran :
a. Data pemohon sebagai penanggung jawab.
b. Data dalam lampiran permohonan
Atas pelaksanaan wawancara tersebut pejabat Bea dan Cukai membuat Berita
Acara Wawancara (BAW) yang ditandatangani kedua belah pihak.
Tahap Ketiga
Setelah pelaksanaan wawancara dilakukan, pejabat Bea dan Cukai melakukan
pemeriksaan lokasi, bangunan atau tempat usaha kemudian membuat Berita
Acara Pemeriksaan (BAP) Lokasi, Bangunan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari
sejak permohonan pemeriksaan lokasi pabrik diterima.
Dokumen BAP yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan
NPPBKC memiliki masa berlaku selama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterbitkan.
Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pemohon tidak mengajukan
permohonan NPPBKC maka seluruh tahapan yang telah dilalui dianggap gugur.

Tahap Keempat
Setelah dilakukan pemeriksaan lokasi, bangunan atau tempat usaha, selambat-lambatnya 3
(tiga) bulan sejak pelaksanaan pemeriksaan lokasi, bangunan atau tempat usaha oleh pejabat
Bea dan Cukai pemohon harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Menteri
Keuangan u.p Kepala KPPBC Madya Cukai Kudus dengan menggunakan Formulir PMCK-6
dengan dilampiri :
Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Lokasi, Bangunan tau Tempat Usaha
Salinan/fotocopy IMB (Ijin Mendirikan Bangunan). Dalam hal pemohon bukan pemilik
bangunan harus menyertakan surat perjanjian sewa menyewa yang disahkan notaris untuk
jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun.
Salinan/fotocopy izin yang diterbitkan oleh pemda setempat berdasarkan UU mengenai
gangguan (HO).
Salinan/fotocopy izin usaha industri atau tanda daftar industri (khusus pengusaha pabrik).
Salinan/fotocopy izin usaha perdagangan (SIUP).
Salinan/fotocopy izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggungjawabnya di
bidang kesehatan.
Salinan/fotocopy izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggungjawabnya di
bidang tenaga kerja.
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Kepolisian Republik Indonesia apabila
pemohon merupakan orang pribadi.
Kartu Pengenal Diri apabila pemohon merupakan orang pribadi.
Akte pendirian usaha apabila pemohon merupakan badan hukum.
Surat pernyataan bermaterai bahwa pemohon tidak keberatan untuk dibekukan atau dicabut
NPPBKC yang telah diberikan dalam hal nama pabrik atau importir yang bersangkutan
memiliki kesamaan nama, baik tulisan maupun pengucapannya dengan nama pabrik atau
importir lain yang telah mendapatkan NPPBKC.

Cukai Rokok
Cukai rokok adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap rokok.
Dasar pengenaan Cukai Rokok adalah Harga Dasar yang digunakan untuk
perhitungan cukai atas Barang Kena Cukai yang dibuat di Indonesia yaitu Harga
Jual Pabrik atau Harga Jual Eceran.

Besarnya cukai rokok terutang dengan sistem kombinasi, yaitu menggunakan


tarif spesifik dan tarif advalorum. Tarif advalorum artinya cukai dihitung sekian
persen dari harga per bungkus rokok. Harga per bungkus tersebut sesuai yang
tercantum pada bungkus rokok. Sedangkan tarif spesifik artinya cukai dihitung
sekian persen dari harga rokok per batang. Apabila menggunakan sistem
kombinasi, maka hasil perhitungan tarif advalorum dan tarif spesifikasi
digabungkan.

Fungsi pengenaan Cukai yaitu :


a) melaksanakan fungsi untuk membatasi beredarnya barang
barang yang dianggap immoral atau tidak sehat jika di
konsumsi masyarakat serta melindungi lingkungan hidup
seperti hasil tembakau, dan minuman mengandung etil
Alkohol,
b) pengenaan cukai yang berfungsi untuk barang-barang
nonesensial atau atas konsumsi barang mewah,
c) cukai dipergunakan sebagai suatu sarana untuk menciptakan
tenaga kerja seperti rokok sigaret kretek tangan, KLB dan
KLM,
d) cukai merupakan salah satu sumber penerimaan negara
dalam pembiayaan pembagunan demi keadilan dan
keseimbangan

Tarif Cukai Tahun 2015


Menteri Keuangan mengatur kebijakan tarif cukai tahun 2015, yang ditujukan
untuk mencapai target penerimaan APBN tahun 2015 dari sektor cukai hasil
tembakau. Target penerimaan cukai yang ditetapkan dalam APBN 2015 adalah
sebesar Rp120,55 triliun. Kebijakan ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Keuangan nomor 205/PMK.011/2014 tanggal 17 Oktober 2014. Kebijakan ini
akan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2015.
Dari data yang dikutip melalui laman Badan Kebijakan Fiskal (BKF), tahun
depan, khusus pengusaha pabrik sigaret kretek tangan kecil dengan batasan
jumlah produksi rokok sampai dengan 50 juta batang per tahun, tidak
dinaikkan cukainya. Sedangkan untuk golongan menengah, diberikan
penambahan batasan produksi sebesar 50 juta batang sehingga batasan
jumlah produksi yang baru menjadi sampai dengan 350 juta batang per tahun.
Sementara itu, sistem tarif cukai tahun 2015 akan melanjutkan kebijakan
tahun sebelumnya yaitu tarif cukai spesifik untuk semua jenis hasil tembakau,
dengan tetap mempertimbangkan batasan produksi dan batasan harga jual
eceran.
Sebagai informasi, tarif cukai terakhir kali diatur dalam PMK nomor
179/PMK.011/2012. Pada tahun 2014, karena mulai berlaku pajak rokok
sebesar 10 persen dari cukai, sesuai amanat UU nomor 28 tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka tarif cukai hasil tembakau tidak
mengalami penyesuaian.

Pelunasan Cukai
Sebagaimana diatur dalam
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108/PMK.0
4/2008 TENTANG PELUNASAN CUKAI
dalam Pasal 2 yang berbunyi:
Cukai atas barang kena cukai yang dibuat di Indonesia dilunasi pada saat
pengeluaran barang kena cukai dari pabrik atau tempat penyimpanan.
Cukai atas barang kena cukai yang diimpor dilunasi pada saat barang kena
cukai diimpor untuk dipakai.
Kemudian pada Pasal 3 diatur tentang pelaksanaan cara pelunasan cukai,
selengkapnya berbunyi:
Cara pelunasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilaksanakan
dengan:
1. pembayaran;
2. pelekatan pita cukai; atau
3. pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya.
4. Pelunasan cukai dengan cara pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a, dilakukan dengan membayar cukai sebelum barang kena cukai
dikeluarkan dari pabrik, tempat penyimpanan, tempat penimbunan sementara,
atau tempat penimbunan berikat.

Lanjutan..

5. Pelunasan cukai dengan cara pelekatan pita cukai sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b, dilakukan dengan melekatkan pita cukai yang seharusnya dan
dilekatkan sesuai ketentuan, sebelum barang kena cukai dikeluarkan dari
pabrik, tempat penimbunan sementara, tempat penimbunan berikat, atau di
tempat pembuatan barang kena cukai di luar negeri.
6. Pelunasan cukai dengan cara pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dilakukan dengan membubuhkan
tanda pelunasan cukai lainnya yang seharusnya dan dibubuhkan sesuai
dengan ketentuan, sebelum barang kena cukai dikeluarkan dari pabrik, tempat
penimbunan sementara, tempat penimbunan berikat, atau di tempat pembuatan
barang kena cukai di luar negeri.

Perhitungan Cukai Hasil Tembakau

Terkait metode pelunasan cukai Hasil Tembakau (HT) yang dilakukan dengan cara
pelekatan pita cukai, maka komponen-komponen data yang diperlukan adalah:
1.

Seri pita cukai


Untuk pita cukai hasil tembakau dibedakan menjadi tiga seri:
seri I , yaitu terdiri dari 120 keping per lembar;

seri II , yaitu terdiri dari 56 keping per lembar;

seri III , yaitu terdiri dari 150 keping per lembar.


Isi per bungkus
Perhitungan cukai Hasil Tembakau menggunakan satuan per batang, yaitu
jumlah batang dalam satu bungkus.
Harga Jual Eceran
Komponen ini menentukan tingkat tarif spesifik yang harus dikenakan (apakah
berada di layer 1, layer 2 atau layer 3) dan juga komponen yang harus
diperhatikan dalam penghitungan PPN Hasil Tembakau.
Jumlah lembar
Pengertiannya adalah jumlah lembar pita cukai yang dipesan. Hal lain yang harus
diperhatikan dalam perhitungan cukai Hasil Tembakau adalah kewajiban
pemungutan pajak pertambahan nilai (PPN) Hasil Tembakau.

2.
3.

4.

Lanjutan

Rumus penghitungan Cukai Hasil Tembakau


Cukai = Tarif Cukai Spesifik x Jumlah Batang
Jumlah Batang = Jumlah Lembar x Jumlah Keping Seri x Isi per
Kemasan
Rumus penghitungan PPN Hasil Tembakau Dalam Negeri
PPN HT dalam negeri = Tarif Efektif (8,4 %) x Harga Jual Eceran Total
Harga Jual Eceran Total = HJE per kemasan x Jumlah Lembar Pita
Cukai x Jumlah Keping Seri
PPN HT Impor
PPN HT Impor= 10% X Nilai Impor
Khusus PPN untuk HT Impor
PPN Dalam Negeri=8,4% X HJE Total - PPN HT Impor

Perhitungan Cukai Impor Etil Alkohol (EA)


Importir A mengimpor barang kena cukai berupa etil alkohol dari luar negeri
dengan rincian data sebagai berikut:
Jumlah etil alkohol yang diimpor sebanyak 10.000 liter
Harga barang tersebut sesuai invoice adalah C& F USD 0.5 per liter
Biaya insurance yang dikeluarkan importir adalah USD 1,000.00
NDPBM diasumsikan Rp. 10.000 per 1 USD
Pos Tarif dan pembebanan sesuai HS adalah: 2207.10.00.00 (BM 30%, PPN 10%,
PPh. Psl. 22 2,5%)
Pertanyaan: Hitung pungutan yang harus dilunasi Importir sebelum barangnya
dapat dikeluarkan dari Kawasan Pabean.

Lanjutan.
Jawab:
- Pungutan Cukai = 10.000 liter x Rp. 10.000,- = Rp. 100.000.000,- Nilai Pabean = CIF x NDPBM
USD (10.000 x 0,5) + 1,000 = USD 5,000.00 x Rp. 10.000,= Rp. 50.000.000,- Bea Masuk = 30 % x Rp.50.000.000,- = Rp.15.000.000,- Nilai Impor = Nilai Pabean + BM + Cukai
Rp. 50.000.000,- + Rp. 15.000.000,- + Rp. 100.000.000 =Rp. 165.000.000,- PPN Impor= 10% x Rp.165.000.000,- = Rp.16.500.000,- PPh pasal 22= 2,5% x Rp.165.000.000,- = Rp. 4.125.000,- Total Pungutan : BM + Cukai + PPN + PPh. Psl 22 :
Rp.15.000.000,- + Rp. 100.000.000,- + Rp 16.500.000,- + Rp 4.125.000,- = Rp.
135.625.000,-

Thank You