Anda di halaman 1dari 95

ISBN: 978-602-19425-5-0

Peta dan Potensi


Industri Perangkat
Telekomunikasi
Seluler Indonesia
Penulis:
Riza Azmi, M.Kom (Puslitbang SDPPI)
Editor:
Adi Indrayanto, PhD (Pusat Mikroelektronika ITB)

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika
Badan Litbang SDM - Kementerian Komunikasi dan Informatika
2014

Peta dan Potensi Industri Perangkat Telekomunikasi


Seluler Indonesia
Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia 2014
Puslitbang SDPPI
Kementerian Komunikasi dan Informatika

Sanksi Pelanggaran Pasal 44:


1. Barang

siapa

dengan

sengaja

dan

tanpa

hak

mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau

memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara


paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan
atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas


Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta

Peta dan Potensi


Industri Perangkat
Telekomunikasi
Seluler Indonesia
Penulis:
Riza Azmi, M.Kom (Puslitbang SDPPI)

Editor:
Adi Indrayanto, PhD (Pusat Mikroelektronika ITB)

Puslitbang SDPPI Badan Litbang SDM


Kementerian Komunikasi dan Informatika

Peta dan Potensi Industri Perangkat Telekomunikasi


Seluler Indonesia
Penulis:
Riza Azmi

Editor:
Adi Indrayanto, PhD

Design Sampul:
Ronaldi Wijaya

Layout Isi:
Riza Azmi

Penerbit:
Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Gedung B Lantai 4, Medan Merdeka Barat 9, Jakarta, 10110
e-mail : puslitbang.sdppi@mail.kominfo.go.id
Telp./fax: +62 21 348 33640

Percetakan
Dicetak oleh PT. , isi diluar tanggung jawab Percetakan
Cetakan pertama, Desember 2014. Kota: Jakarta, Indonesia
Diterbitkan pertama kali oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Puslitbang SDPI Kementerian
Kementerian Komunikasi dan Informatika 2014

Ringkasan Eksekutif
Perkembangan telekomunikasi di Indonesia berkontribusi positif dan langsung
terhadap penerimaan negara baik dari sisi APBN maupun PNBP dengan ratarata 10 Triliun rupiah setiap tahun. Namun jika dilihat dari sisi lain,
perkembangan telekomunikasi menimbulkan defisit neraca perdagangan
yang disebabkan oleh impor perangkat telekomunikasi yang relatif besar
dibandingkan dengan penerimaan negara di sektor ini yaitu sekitar 24 Triliun
rupiah.

Studi

ini

bertujuan

memetakan

Industri

perangkat

handset

telekomunikasi seluler dilihat dari value-chain industri ini dan melihat potensi
industri lokal dalam rangka mengurangi defisit tersebut.
Dari hasil studi ini, Industri perangkat telekomunikasi Indonesia secara umum
dapat dibagi menjadi 3 entitas besar yaitu Industri Perangkat Customer
Premises Equipment (CPE) Telekomunikasi, Industri Jaringan Telekomunikasi
dan Industri Konten atau Over the Top. Secara elemen value-chain, Industri
CPE telekomunikasi Indonesia sudah tergolong lengkap namun masih bertipe
relational dimana ketergantungan kuat antara merk dan manufaktur. Untuk
mengurangi biaya produksi, pemerintah perlu mendorongnya ke tipe value
chain modular dengan mengintensifkan masing-masing value-chain.

Industri perangkat jaringan telekomunikasi Indonesia dapat dikategorikan


masih bersifat hierarcy karena dimanufaktur dari hulu ke hilir (vertically
integrated) serta dalam hal ini pasar sebagian besar dikuasai oleh penanam

modal asing. Dalam rangka mengurangi Degree of Asimetry untuk pasar ini
pemerintah dapat mendorong dari tipe Hierarcy ke Captive dengan cara
menarik industri berbasis R&D ke Indonesia. Indonesia sendiri juga memiliki
potensi untuk pembuatan perangkat jaringan telekomunikasi ini dilihat dari
portofolio yang ada.
Beberapa rekomendasi dari studi ini agar industri perangkat telekomunikasi
dapat berkembang yaitu dengan mendorong industri dari manufaktur ke
industri berbasis inovasi salah satunya dengan mengubah kebijakan TKDN
yang berbasis komponen menjadi TKDN berbasis inovasi. Selain itu, untuk
mencegah tingginya degree of asimetry dalam value-chain industri ini
pemerintah harus menggeser tipe value-chain di industri ini dengan
mendorong tumbuhnya value-network seperti mendorong industri kreatif.
Pemerintah juga perlu memberikan insentif melalui PNBP di sektor yang sama
dengan skema Carrot Incentive. Selain itu, pemerintah perlu mensiasati
barrier-to-entry dengan rekomendasi membuat konsorsium industri dan
memasukkannya ke dalam industri pertahanan di bidang telekomunikasi.
Kata Kunci: rantai nilai, modularitas produk, jaringan nillai, industri perangkat
handset telekomunikasi seluler

ii

Sambutan Kepala Puslitbang SDPPI


Pada tahun 2014 ini, Puslitbang SDPPI, Kementerian Komunikasi dan
Informatika

melaksanakan

kegiatan

Pemetaan

Industri

Perangkat

Telekomunikasi Indonesia untuk melihat gambaran peta kekuatan dan


kelemahan industri lokal dalam menyediakan perangkat telekomunikasi di
dalam negeri. Walaupun kajian ini terlihat sepintas tidak terkait langsung
dengan tugas pokok dan fungsi Kementerian, namun kami memberanikan
diri mengambil langkah pertama kalinya menyusun peta dan roadmap
industri telekomunikasi ini dalam membantu industri perangkat telekomunikasi
menjadi tuan rumah di negara sendiri.
Adapun perangkat telekomunikasi yang dimaksud dalam kajian ini dibagi
menjadi 2 yaitu perangkat handset telekomunikasi seperti handphone, tablet
dan perangkat handset telekomunikasi seluler lainnya; serta perangkat
jaringan telekomunikasi seluler seperti BTS. Pertimbangan penelitian ini
membatasi pada 2 industri tersebut, dikarenakan pertama pasar untuk
perangkat handset telekomunikasi bernilai sekitar 54 milyar dalam setahun
atau terbesar untuk wilayah Asia-Tenggara; sementara penyediaan industri
manufaktur lokal terkait perangkat ini masih sangat kecil. Kedua, karena
perangkat jaringan telekomunikasi seluler merupakan perangkat vital yang
sampai dengan saat ini pemainnya masih dikuasai Penanam Modal Asing.
Dalam penulisannya, Kami menyadari terdapat beberapa kekurangan dan
membuka diri untuk masukan terkait kekurangan baik yang disengaja
ataupun tidak disengaja dalam buku ini.
Demikian sambutan saya, semoga buku ini berguna untuk melihat peta dan
potensi industri perangkat telekomunikasi seluler di Indonesia.
Jakarta, Desember 2014
Kepala Puslitbang SDPPI

Sunarno

iii

iv

Sambutan Kepala Badan Litbang SDM


Sebagaimana kita ketahui, pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia
dari tahun ke tahun semakin meningkat yang ditunjukkan dengan
pertumbuhan jumlah pelanggan telekomunikasi terutama dari industri
telekomunikasi bergerak seluler yang terus tumbuh pesat terutama sejak
tahun 2006. Sampai dengan saat ini tercatat tidak kurang dari 300 juta
pelanggan seluler di Indonesia atau meningkat 5 kali lipat dari 6 tahun yang
lalu. Pertumbuhan industri telekomunikasi bergerak seluler ini pada satu sisi
berdampak positif terhadap penerimaan negara bukan pajak yang
disetorkan ke negara, namun di sisi lain, Industri untuk perangkat jaringan
telekomunikasi terutama untuk perangkat jaringan seluler seperti BTS di
Indonesia masih sebagian besar dikuasai oleh penanam modal asing,
padahal di satu sisi merupakan perangkat vital telekomunikasi.
Terkait dengan hal tersebut, gambaran mengenai rantai nilai produksi dan
kesiapan industri lokal perangkat jaringan telekomunikasi yang konprehensif
diperlukan untuk melihat potensi lokal untuk industri ini. Pada prinsipnya, saya
meyakini bahwa industri lokal mampu bersaing dalam membuat perangkat
jaringan telekomunikasi.
Saya mengapresiasi terbitnya buku ini untuk melihat kondisi pasar industri ini
menurut pandangan industri lokal, bagaimana kelebihan/kekurangan dan
kesiapan industri perangkat telekomunikasi lokal; peluang dan tantangannya
serta bagaimana kebutuhan dukungan Industri ini dari pemerintah.
Demikian sambutan dari Saya. Semoga buku ini berguna dan dapat
memperkuat penyediaan perangkat infrastruktur telekomunikasi oleh anakanak bangsa.
Jakarta, Desember 2014
Kepala Badan Litbang SDM

DR. Basuki Yusuf Iskandar

vi

Daftar Isi

Ringkasan Eksekutif .................................................................................................. i


Sambutan Kepala Puslitbang SDPPI ......................................................................iii
Sambutan Kepala Badan Litbang SDM ................................................................. v
Daftar Isi .................................................................................................................. vii
Latar Belakang ......................................................................................................... 1
Landasan Teori dan Metode Penyusunan ............................................................ 3
Tata Kelola Value-Chain ......................................................................................... 3
Value Chain dan Value Network Industri Telekomunikasi ................................ 4
Product Modularity dalam Industri Perangkat Telekomunikasi ....................... 7
Peta Operasional Industri Telekomuniasi berbasis e-TOM ................................ 8
Metode Penyusunan Peta Industri Perangkat Telekomunikasi Seluler ........... 9
Gambaran Umum Industri Perangkat Telekomunikasi Indonesia ................... 13
Industri Perangkat Customer Premises Equipment Telekomunikasi Seluler . 13
Pangsa Pasar Perangkat CPE Telekomunikasi Seluler ................................. 13
Kondisi Impor Perangkat Telekomunikasi Seluler di Indonesia ................... 15
Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi ..................................................... 21
PT. Huawei Investment Tech Indonesia .......................................................... 22
PT. Nokia Solutions Networks Indonesia .......................................................... 22
PT. Ericsson Indonesia ......................................................................................... 23
PT. Samsung Telecommunication Indonesia................................................. 23
PT. ZTE Indonesia ................................................................................................. 24
Kebijakan Industri Perangkat Telekomunikasi ................................................... 25
Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ..................................... 25
Tata Cara Ketentuan Perizinan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam
(Handheld), dan Komputer Tablet ..................................................................... 26

vii

Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari Kawasan


yang Telah Ditetapkan.......................................................................................... 30
Interpretasi Ketiga Peraturan Menteri Perindustrian, Perdagangan dan
Keuangan ................................................................................................................ 31
Potensi Lokal Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi .............................. 33
PT. INTI ....................................................................................................................... 33
PT. CMI Indonesia ................................................................................................... 36
PT. Xirka Silicon Technology (XST) ........................................................................ 38
PT. LEN Industri ......................................................................................................... 38
PT. Fusi Global Teknologi ....................................................................................... 39
Versatile Silicon ....................................................................................................... 40
Peta Industri Perangkat Telekomunikasi Seluler ................................................ 43
Peta Industri Perangkat Customer Premises Equipment Telekomunikasi
dalam Negeri .......................................................................................................... 43
Design House ....................................................................................................... 45
System Integrator ................................................................................................ 45
Manufaktur........................................................................................................... 45
Brand Owner ....................................................................................................... 47
Retailer .................................................................................................................. 47
Peta Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi dalam Negeri ................. 49
Radio Network Infrastructure ............................................................................ 50
Billing Platform ..................................................................................................... 50
Network Solution ................................................................................................. 50
Service Managemen dan SIM-Card............................................................... 50
Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Industri Telekomunikasi
Indonesia ................................................................................................................ 53
Industri Perangkat CPE Telekomunikasi .............................................................. 53
Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi ..................................................... 57
Rekomendasi Pengembangan Industri Perangkat Telekomunikasi ............... 61
Mendorong Industri Berbasis Inovasi ................................................................... 61

viii

Tingkat Kandungan Dalam Negeri berbasis Inovasi ....................................... 63


Mendorong Berubahnya Tipe Value Chain ...................................................... 64
Menciptakan Value Network dalam Industri Perangkat Telekomunikasi ... 65
Bentuk Insentif Negara .......................................................................................... 65
Mencegah Barrier-to-Entry dalam Menumbuhkan Industri Dalam Negeri . 66
Penutup ................................................................................................................... 69
Simpulan ................................................................................................................... 69
Saran ......................................................................................................................... 69
Lampiran ................................................................................................................. 71
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 75

ix

Latar Belakang
Pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dari pertumbuhan jumlah pelanggan
telekomunikasi terutama dari industri telekomunikasi bergerak seluler yang
terus bertambah sejak tahun 2006. Data dari Kementerian Komunikasi dan
Informatika menunjukkan bahwa jumlah pelanggan pada industri ini tahun
2006 sebesar 63 juta pelanggan dimana 5 tahun setelahnya meningkat
menjadi 211 juta pelanggan atau sebesar hampir 4 kali lipatnya [1].
Pertumbuhan industri telekomunikasi bergerak seluler ini juga berdampak
positif terhadap penerimaan negara. Menurut Direktorat Jenderal Sumber
Daya dan Perangkat Pos dan Informatika [2], kontribusi industri ini terhadap
pendapatan negara pada tahun 2013 sebesar 0.76% penerimaan total
negara atau sebesar 3.10% dari total PNBP ke negara. Peningkatan ini
sebagian besar dipengaruhi oleh permintaan terhadap akses data mobile,
sehingga sumbangan terhadap PNBP dari sektor permintaan lisensi frekuensi
meningkat tajam. Sejak tahun 2008 sampai dengan 2013 dapat dilihat bahwa
penerimaan dari PNBP frekuensi meningkat hampir 50% dimana pada tahun
2013 tercatat di sektor ini tercatat hampir 10,9 trilliun rupiah. Pada satu sisi
sumbangan di sektor ini cukup besar, namun di sisi lain dibandingkan dengan
penerimaan negara yang terkait dengan sektor ini, defisit perdagangan
telekomunikasi yang ditimbulkan terkait perangat telekomunikasi ini cukup
besar dikarenakan hampir sebagian besar Indonesia masih melakukan impor
perangkat untuk memenuhi kebutuhan perangkat ini. Data dari Kementerian
Perdagangan, nilai impor produk ini sebesar USD 2,09 milyar pada tahun 2012,
meningkat pada tahun 2013 sebesar USD 2,5 milyar dan sampai dengan
September 2014 sebesar USD 2,8 milyar.
Peningkatan industri telekomunikasi ini tidak lepas dari tingginya penetrasi
seluler di Indonesia yaitu pada tahun 2010 sebesar 211 juta pelanggan.
Dengan melihat asumsi bahwa pada tahun 2010 jumlah pelanggan sebesar
211 juta, maka diperkirakan jumlah handset untuk kategori industri ini paling
tidak sebesar 211 juta handset yang telah beredar di pasaran, jika 1
pelanggan tersebut setidaknya memiliki 1 handset. Menurut badan survey
GfK, sepanjang tahun 2012, Indonesia menempati posisi pertama di Asia

dalam penjualan pasar handset seluler, dimana 54 juta handset terjual hanya
dalam waktu satu tahun [3].
Pada satu sisi, hal tersebut dapat dinilai sebagai keuntungan tersendiri
dimana Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar telekomunikasi di
Indonesia, namun di sisi lain, Industri Telekomunikasi di Indonesia terutama
industri manufaktur dapat dikatakan masih sangat rendah. Dari data [2]
komposisi sertifikasi untuk perangkat telekomunikasi yang masuk ke Indonesia
99,04% merupakan produk manufaktur dari luar negeri dengan komposisi
terbanyak 71.65% perangkat berasal dari negara Tiongkok sementara produk
sertifikasi asli dari Indonesia hanya berjumlah 29 dari 5.503 perangkat
telekomunikasi yang disertifikasi pada tahun tersebut.
Perkembangan industri telekomunikasi seluler ini selain sebagai pasar dari sisi
handset telekomunikasi juga merupakan pasar besar dari perangkat jaringan
telekomunikasi seperti Base Station Seluler. Hal ini dikarenakan selain pasar
potensial dari sisi konsumen yang cukup besar juga luasnya wilayah Indonesia
yang harus dicakup Operator Seluler. Jika dilihat komposisinya, pemain
perangkat jaringan ini seluler ini sebagian besar terdiri dari luar negeri seperti
Huawei,

Nokia

Solution

Network,

Ericson,

ZTE,

dan

Samsung

Telecommunication.
Dari hal tersebut, pada satu sisi industri telekomunikasi tumbuh sangat pesat
di Indonesia namun di sisi lain, jumlah perangkat telekomunikasi lebih banyak
dari

luar negeri, selain

itu, data

dan

informasi

mengenai

Industri

Telekomunikasi ini terutama dari sisi manufaktur, rantai produksi dan


pemetaannya masih belum dapat ditemukan di Indonesia. Sehingga studi ini
akan melihat peta Industri Telekomunikasi di Indonesia tersebut secara holistik,
tidak hanya dari sisi manufaktur namun juga distributor dengan mengkaji
pemetaan dengan melihat Value Chain Governanance [4] dari industri ini
serta analisis Strength, Weakness, Threath and Opportunity dari industri ini.

Landasan Teori dan Metode


Penyusunan
Tata Kelola Value-Chain
TABEL 1 T EORI VALUE -CHAIN [4]
Tipe
Tata
Kelola

Kompleksitas
Transaksi

Kodifikasi
Transaksi

Kapabilitas
Supply

Market
Modular
Relasional
Captive
Hierarki

Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Rendah

Tinggi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah

Derajat
koordinasi
dan
kemampuan
asimetris
Rendah

Tinggi

Menurut teori tata kelola value-chain [4], struktur value-chain dapat dilihat
dari 3 faktor utama yaitu:
1. Kompleksitas Transaksi, yaitu informasi dan pengetahuan tentang proses
dan spesifikasi produk
2. Kodifikasi Transaksi, yaitu informasi dan pengetahuan yang dapat
diklasifikasikan secara jelas tugas dan fungsinya
3. Kapabilitas Supply, yaitu supplier potensial terkait permintaan kebutuhan
Jika ketiga faktor tersebut dinilai dengan kategori Tinggi dan Rendah, maka
akan terdapat delapan kategori value-chain, dimana 5 diantaranya dapat
dijelaskan dan secara umum terjadi saat ini (Tabel 1) yaitu Market, Modular,
Relasional, Captive dan Hierarki. Jika dijelaskan lebih lanjut derajat koordinasi
dan kemampuan bervariasi antara tipe Market (rendah) ke tipe hierarki
(tinggi) sebagaimana pada Gambar 1, dimana hubungan antarelemen
tersebut dijelaskan.

GAMBAR 1 TEORI VALUE-CHAIN DAN HUBUNGAN ANTARA KETIGA FAKTOR [4]

Value Chain dan Value Network Industri Telekomunikasi

GAMBAR 2 VALUE CHAIN INDUSTRI TELEKOMUNIKASI [5]

Secara umum, generalisasi value-chain industri telekomunikasi dapat dibagi


menjadi 3 elemen yaitu Manufaktur Perangkat Telekomunikasi, Operator dan
Pelanggan [5]. Hubungan antara ke tiganya merupakan hubungan rantai
supply dimana masing-masing independen satu dan

lainnya yang

menghasilkan nilai dan ketergantungan satu sama lain.


Terkait dengan manufaktur perangkat telekomunikasi, value chain industri
perangkat telekomunikasi secara global mengikuti sistem Product Modularity.
Hal ini dapat dijelaskan dengan teori tata kelola value chain [4], bahwa
rumitnya penyediaan komponen dalam pembuatan perangkat ini, namun di
sisi

lain,

dikarenakan

tingginya

permintaan

terhadap

produk

ini

menyebabkan banyaknya muncul penyedia komponen secara global


seperti integrated circuit, software, dan pheriperalnya. Secara umum Value
Chain dapat dipetakan ke dalam Industri Perangkat Telekomunikasi Global
pada Gambar 3 yang secara umum terdiri dari pengembangan produk,
platform, integrasi, produk dan layanan pelanggan [6].

GAMBAR 3 VALUE CHAIN INDUSTRI PERANGKAT TELEKOMUNIKASI G LOBAL [6]


Keterkaitan

dalam

rantai

supply

ini

di

industri

perangkat

jaringan

telekomunikasi dapat dibagi sebagai suatu hubungan dari hulu ke hilir


sebagaimana dalam Gambar 4, dimana masing-masing sub-system dalam

rantai supply ini memposisikan dirinya masing-masing [7]. Relasi di industri


perangkat jaringan telekomunikasi ini, masih bersifat hierarki atau bersifat
vertikal [4].

GAMBAR 4 VALUE CHAIN TRADISIONAL INDUSTRI JARINGAN TELEKOMUNIKASI [7]


Dengan luasnya aplikasi bisnis telekomunikasi terutama dengan adanya
perubahan perilaku pasar, hubungan tersebut berubah dari Value Chain
kepada Value Network [7]. Perbedaan antara keduanya dalam studi kasus
penyelenggaraan telekomunikasi di Jepang [5] dan secara umum Value
Network lebih menekankan untuk menjawab 7 perubahan perilaku pasar
yaitu [7]:
1. Layanan berbasis transaksi (transaction) menjadi layanan berbasis
hubungan (relationship)
2. Digerakkan

oleh

marketing

(Marketing

Push)

menjadi

keinginan

pelanggan (Customer (subscriber) Pull)


3. Bertujuan untuk memperoleh pelanggan (Customer Acquisition) menjadi
memperoleh keloyalan pelanggan ((Profitable) Customer Retention)
4. Mendapatkan pendapatan per pengguna (Average revenue per User)
menjadi mendapatkan berapa keuntungan per-pengguna (Average
Profit per User)
5. Berbasis ke platform layanan (Intelligence in Platform) ke fokus pada
handset pintar (Intelligence in Handsets)
6. Memaksimalkan investasi (Investment in Infrastructure) menuju ke
memaksimalkan kegunaan aset yang ada (Leveraging ke Assets)
7. Fokus ke teknologi (Technology) menjadi memaksimalkan layanan yang
bisa disediakan teknologi (Content/Services)
Untuk menjawab perubahan ke tujuh perilaku tersebut secara cepat maka
operator cenderung melakukan Service Level Aggrement untuk secara
segera menciptakan value. Value Network sendiri cenderung dilakukan jika

terdapat banyak layanan-layanan pendukung dengan hubungan kompleks


dan cenderung singkat untuk menghasilkan layanan yang memenuhi ketujuh
perubahan tersebut.

Product Modularity dalam Industri Perangkat Telekomunikasi


Product Modularity merupakan pembagian pekerjaan komponen industri
yang fokus pada salah satu bidang dimana komponen tersebut dapat
digabungkan [8]. Pembagian ini sebagai industri horizontal [9], yaitu industri
yang fokus pada salah satu penyediaan komponen (Gambar 5). Dalam
industri vertikal atau industri tradisional, vendor membuat keseluruhan
perangkat dari hulu ke hilir. Dalam industri elektronika tradisional industri
vertikal memiliki ciri memiliki departemen design, sistem operasi, perakitan,
pemasaran sekaligus sebagai pemilik brand.

Design

Vendor 1

Vendor 2

Operating System

Vendor 3

Manufacturing

Vendor 4

Marketing
Vendor 1

Vendor 2

GAMBAR 5 VERTICALLY INTEGRATED VS . H ORIZONTALLY SPECIALIZED [9]


Spesialisasi industri ini akan lebih efektif jika perusahaan memiliki spesialisasi
pembuatan komponen dengan melakukan koordinasi antar pembuat
komponen tersebut [10]. Efisiensi tersebut juga bebas dari skala perusahaan,
baik perusahaan skala besar maupun skala kecil [10]. Hubungan value-chain
yang efektif dan efisien dengan profit perusahaan dijabarkan dalam model

yang dibuat oleh Elgazzar (2012) [11], dimana hubungan ini dilihat dari hasil
evaluasi matriks dalam model dengan pendekatan Analytical Hierarcical
Proces. Dengan arsitektur yang sesuai, Products Modularity juga akan
meningkatkan products reusability dan meminimalkan hal-hal yang tidak
diperlukan sehingga berdampak pada Green Supply Chain atau rantai
supply yang efektif dan efisien [12].
Perusahaan-perusahaan yang melakukan pemisahaan fungsi ini diantaranya
Apple, Microsoft dan HP [9]. Dalam prakteknya, produk iPhone dari Apple,
tidak dimanufaktur oleh Apple sendiri. Dalam konteks ini, Apple hanya
melakukan design house dan merancang tampilan produknya. Perusahaan
yang melakukan manufaktur adalah Foxconn. Di negara-negara yang
menjadi basis pasar Apple, pemasaran dilakukan oleh perusahaan lokal,
sebagai contoh di Indonesia seperti PT. Global Teleshop, PT. Trikomsel atau PT.
Erajaya selaku distributor.

Peta Operasional Industri Telekomuniasi berbasis e-TOM


eTOM

Framework

(Enhanced

Telecommunication

Operation

Map)

merupakan framework yang jamak digunakan oleh Industri Telekomunikasi di


dunia yang berasal dari TeleManagement Forum [13]. Framework ini
mendeskripsikan unit-unit dasar yang dimiliki oleh perusahaan telekomunikasi.
Secara umum eTOM terdiri dari 3 bagian besar yang dijabarkan pada eTOM
level 0 (Gambar 6) yaitu Strategi, Infrastruktur dan Produk; Operasi; dan
Manajemen Pendukung [13].
eTOM framework bekerja dengan proses dekomposisi dari level 0 secara
global sampai dengan level 3 yang rinci menyebutkan fungsi masing-masing
sub-sistem. Secara proses, eTOM tidak membatasi alur kerja masing-masing
elemen, namun proses secara dinamis berubah sesuai dengan skenario
tujuan perusahaan.
Dikaitkan dengan Value Chain[7], framework ini setidaknya menyediakan
fungsi untuk menangani infrastruktur, billing dan dan layanan ke pelanggan,
serta dapat mengadopsi perubahan dari Value Chain ke Value Network
dengan adanya elemen Strategy, Infrastucture and Product (SIP). Dalam
industri ini, hal yang berkaitan dengan industri perangkat jaringan
telekomunikasi adalah elemen pada SIP yang menentukan kebutuhan
perangkat jaringan.

GAMBAR 6 P ETA P ROSES DAN E LEMEN U MUM ET OM LEVEL 0 [13]

Metode Penyusunan Peta Industri Perangkat Telekomunikasi


Seluler
Dalam memetakan Industri perangkat Telekomunikasi di Indonesia kajian ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Model yang dibangung untuk
memetakan industri perangkat handset telekomunikasi seluler menggunakan
modifikasi Supply Chain Modularity [9] yang dapat dilihat Tabel 2 dan Tabel
3. Dari kerangka tersebut dilakukan analisis Strength, Weakness, Threath and
Opportunity untuk melihat gambaran kondisi industri ini. Data dianalisis
dengan menggunakan kerangka Supply Chain Governance [4].
Data primer pada penelitian ini didapatkan dengan wawancara mendalam
kepada informan dari pihak industri perangkat handset telekomunikasi seluler
yaitu

1. Pemilik brand/merk handset dan industri manufaktur, meliputi PT Aries


Indo Global (AIG) dengan merk dagang EverCross, PT Maju Express
Indonesia dengan merk dagang MITO, PT Supertone dengan merk
dagang SPC, PT. Tiphone Mobile Indonesia dengan merk dagang TIPhone, PT. Teletama Artha Mandiri dengan merk dagang Venera, PT.
Zhou Internasional dengan merk dagang Asiafone, PT Arga Mas
Lestari dengan merk dagang AdvanDigital, PT. Tata Sarana Mandiri
dengan merk dagang IVIO, PT. SatNusa Persada (Design House
handset) dan PT. Sarana Kencana

Mulya dengan merk dagang

Polytron.
2. Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi: PT Hariff Daya Tunggal
Engineering, PT LEN Industri (Persero), PT Industri Telekomunikasi
Indonesia, PT Xirka Silicon Technology, PT Compact Microwave
Indonesia, Versatile Silicon, PT Teknologi Riset Global dan PT. Fusi
Global Teknologi
3. Industri Eksisting yaitu Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi yang
meliputi PT. Huawei Investment Indonesia, Nokia-Solution Network,
dan Samsung Telecommunication.
Pemilihan kriteria informan yaitu mengetahui secara teknis pengembangan
produk

dan

menduduki

jabatan

tertentu

disuatu

instansi

yang

mempengaruhi kebijakan terkait industri. Hal ini dimaksudkan agar, setiap


perubahan pada instansi tersebut dapat diperoleh dalam penelitian ini.
Data sekunder didapatkan dengan penggalian data ke sumber-sumber
terkait seperti: yaitu data impor perangkat handset telekomunikasi seluler dari
Kementerian Perdagangan, data sertifikasi perangkat telekomunikasi dan
data pelanggan telekomunikasi dari Direktorat Jenderal SDPPI, Kementerian
Komunikasi dan Informatika, data peredaran perangkat telekomunikasi CPE
di Indonesia yang didapat dari distributor perangkat telekomunikasi meliputi
PT. Erajaya, PT. Trikomsel, PT. Global Teleshop, BlackBerry Indonesia dan PT.
Apple Indonesia untuk melihat jumlah dan sumber data sekunder lainnya
seperti GfK Indonesia dan GfK Asia-Pasifik untuk melihat data interpolasi
peredaran jumlah perangkat telekomunikasi seluler.

10

Telekomunikasi

Jaringan

Industri

TABEL 2 KERANGKA PETA INDUSTRI P ERANGKAT TELEKOMUNIKASI


Elemen

Konsep

Sumber

Radio Network Infrastructure

Sub sistem yang menyediakan infrastruktur jaringan radio

[7]

Billing Platform

Sub sistem yang menyediakan software penghitungan tarif

[7], [13]

Network Solution

Sub sistem pendukung manajemen infrastruktur dan strategi

[13]

Service Management

Sub

[13]

sistem

yang

menyediakan

dukungan

layanan

pengguna
Sub sistem sebagai pemegang merk dan lisensi

[7], [5]

Design House

Arsitektur handset

[9]

System Integrator

Penggabungan platform, hardware dan software

[14]

Component Suppliers

Penyedia komponen

[15]

Manufacturing

Assembly produk

[9]

Brand Owner

Pemilik merk

[9]

Investor penjual

[14], [15]

Service Provider

CPE

Chipset

Retailer

Over the Top: Layanan Pendukung/Konten


Konsumen

11

TABEL 3 KERANGKA ANALISIS INDUSTRI CPE T ELEKOMUNIKASI


Nama

Gangnes

Model

Generik

(2011) [9]

Penelitian

Design House

Keterangan

Chipset

Sub sistem pada value chain yang memproduksi chipset.

Design House

Sub sistem pada value chain yang menguasai arsitektur produk yang berhubungan dengan chipset. [9]

ODM

Sub sistem pada value chain yang berhubungan dengan design tampilan suatu produk. Dengan asumsi sistem operasi
mengalami pengerucutan pada sistem operasi tertentu yaitu iOS, Android dan WindowsPhone [16], maka pada
Operating

System

penelitian ini definisi Operating System diganti dengan definisi system integrator. Hal ini dikarenakan Operating System

System

Integrator

yang digunakan tidak dibuat sendiri oleh Sub-System sendiri namun telah disediakan dan dengan menitik beratkan
vendor atau sub-system yang menguasai penggabungan sub-component dalam mendesign tampilan produk. System
Integrator menggabungkan platform, software dan sistem. [14]
Sub-system yang membuat komponen perangkat[15]. Komponen ini mencakup supply material (plastik, logam, gelas),

Suppliers

supply komponen (memory, baterai, core chip, display dan periferal) [17].

Manufacturing

Manufacturing

Sistem yang melakukan produksi [15], [9]

Marketing

Brand Owner

Sistem yang memiliki brand dan melakukan pemasaran. [9]

Marketing

OEM

CM

Component

Sub-elemen yang membeli produk dalam skala besar untuk menjualnya kembali [15]. Walaupun dalam rantai supply
Retailer

sub-elemen ini tidak terlibat dalam proses produksi, namun keberadaannya sebagai pemegang modal berperan
sangat penting dalam skala ekonomi. Sub elemen ini juga didefinisikan sebagai marketing, penjualan dan layanan
purna jual pengguna. [14]

12

Gambaran Umum Industri Perangkat


Telekomunikasi Indonesia
Industri Perangkat Customer Premises Equipment Telekomunikasi
Seluler
Pangsa Pasar Perangkat CPE Telekomunikasi Seluler
SMARTPHONE VS FEATURED PHONE
0,3
0,3
0,4
3

0,5
0,5
1

13

10

12

16

0,5
0,5
1
4

21

0,5
0,5
1
4

28

0,5
1
1,5
3
4

35

SMARTPHONE OTHERS
SMARTPHONE WINDOWS PHONE
SMARTPHONE IOS
SMARTPHONE A40 ASA TOUCH
SMARTPHONE BLACKBERRY
SMARTPHONE ANDROID

71

68

MOBILE PHONE

64
59

OCT12DEC12

JAN13 MAR13

AP RL13 JUN13

JUL13-SEP13

55

OCT13DEC13

Source: GfK Indonesia

GAMBAR 7 SEGMENTASI P ERANGKAT CPE DI INDONESIA (SUMBER : GF K)

13

GfK melaporkan bahwa nilai pasar perangkat untuk CPE telekomunikasi


sebesar 54 triliun rupiah selama satu tahun, dimana usia penggantian
perangkat baru oleh pengguna memiliki umur paling lama 12 bulan [3].
Mereka melaporkan bahwa untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia
merupakan pasar terbesar untuk kategori ini. Pada tahun 2013 impor ponsel
mencapai 16.470 ton atau senilai dengan US$ 2,8 miliar atau Rp 33,4 triliun
dengan negara asal impor terbesar yaitu Tiongkok dengan 13.116 ton atau
US$ 1,6 miliar; Vietnam dengan 1.426 ton atau US$ 607,1 juta; Meksiko 239 ton
atau US$ 203,6 juta; Taiwan sebesar 271 ton atau US$ 190,8 juta; India 432 ton
atau US$ 56,5 juta; dan Hungaria dengan 63 ton atau US$ 51,5 juta.
Sementara sisanya dari Korea, Hong Kong, Singapura, Kanada, Australia,
Thailand, Amerika Serikat dan negara lainnya [18].

SHARE PER PRICE SEGMENT


3,6
1,4
1,5
2,2
3,9

4,7
1,5
1,6
2,3
3,7

8,4

7,7

8,5

8,3

10,9

7,8

>4000000IDR
>3500000IDR - 4000000IDR
>3000000IDR - 3500000IDR

13,6
14,3

>2500000IDR - 3000000IDR
>2000000IDR - 2500000IDR
>1500000IDR - 2000000IDR
>1000000IDR - 1500000IDR
>750000IDR - 1000000IDR

33,5

>500000IDR - 750000IDR
>250000IDR - 500000IDR

33,2

<=250000 IDR

12,1
YTD11

15,3

YTD12

Source: GfK Indonesia

GAMBAR 8 SEGMENTASI HARGA CPE DI INDONESIA (SUMBER : GF K INDONESIA )

14

Industri ini lebih menarik dibandingkan industri elektronik lainnya dikarenakan


pertama, dari sisi ukuran perangkat, relatif lebih mudah melakukan impor
daripada memanufakturnya dalam negeri. Industri elektronik lainnya seperti
mesin cuci, televisi atau kulkas, untuk menghemat biaya kirim lebih banyak
dilakukan assembly di dalam negeri. Sehingga, importasi produk ini
cenderung lebih besar dibandingkan jumlah manufakturnya di dalam negeri.
Kedua, nilai pasar produk ini lebih besar dibandingkan dengan produk
elektronik dengan usia pakai yang lebih cepat, dimana untuk produk
elektronik sekitar 3 sampai dengan 4 tahun. Ketiga, dengan masuknya
Indonesia dalam perjanjian Information Technology Agreement [19],
Indonesia ikut serta dalam tariff cutting mechanism untuk bea masuk produk
TIK, sehingga produk impor untuk kategori ini terutama produk handphone
telekomunikasi bernilai 0, padahal jika komponen produk telekomunikasi
dirakit di dalam negeri akan dikenai pajak sesuai dengan ketentuan berlaku.
Sehingga, sangat efisien bagi sebuah perusahaan untuk membuatnya di luar
negeri.
Dari sisi segmentasi harga, menurut laporan GfK yang dapat dilihat pada
Gambar 7 secara umum dapat terlihat bahwa segmentasi perangkat ini
menuju kepada segmentasi smartphone. Namun pada satu sisi, pasar untuk
featured-phone dengan harga di bawah 1 juta merupakan tren yang sangat
besar di Indonesia (Gambar 8). Sehingga, sebagian besar manufaktur lokal
menyasar segmen ini. Hal tersebut dapat dilihat dari rentang harga produk
telekomunikasi industri lokal yang masih menyasar featured-phone yang
nilainya dibawah satu juta rupiah. Hal ini dapat dihubungkan dengan
segmentasi produk ini sebesar 60% untuk pasar dibawah 1 juta rupiah pada
Gambar 8.

Kondisi Impor Perangkat Telekomunikasi Seluler di Indonesia


Beradasarkan data produk impor perangkat telekomunikasi dari Kementerian
Perdagangan bahwa nilai impor produk ini sebesar USD 7 milyar sepanjang
tahun 2012 sampai dengan September 2014. Nilai impor ini naik sebesar
16,76% antara tahun 2012 sampai dengan 2013 dan 8,20% antara tahun 2013
sampai dengan September 2014. Walaupun nilai impor ini mengalami
peningkatan, namun jumlah barang yang diimpor mengalami penurunan
sebesar (-3,61)% antara tahun 2012 sampai dengan 2013 dan (-13,47)%
antara tahun

2013 sampai

dengan

September

2014.

Hal

tersebut

dikarenakan pergeseran preferensi pasar dari low-end ke middle-end.

15

SEGMENTASI PASAR CPE TELEKOMUNIKASI

High-End;
20,20%

High-End;
11,58%

High-End;
24,65%

High-End;
47,59%

Middle-End;
51,29%

Middle-End;
70,69%

Middle-End;
45,76%

Middle-End;
30,99%

Low-End;
21,42%

2012

Low-End;
28,50%

2013

Low-End;
17,72%

2014

Low-End;
29,59%

J AN - 1 3 SD SE P - 1 4

GAMBAR 9 SEGMENTASI PASAR CPE TELEKOMUNIKASI SELULER (SUMBER : K EMENTERIAN


P ERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH )
Dari data impor tersebut yang dapat terlihat pada rekapitulias pada Gambar
9, dapat dilihat bahwa CPE telekomunikasi seluler untuk kategori middle-end
masih menguasai produk impor ini yaitu hampir setengah dari produk impor.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa setiap tahunnya penurunan jumlah
pasar high-end menuju ke segmentasi middle-end dan secara garis besar,
pasar handset seluler lebih banyak untuk pasar Middle-End. Rekapitulasi ini
dikategorikan jika nilai impor tersebut harga satuannya di bawah Rp 500.000
dikategorikan sebagai handset low-end, harga satuannya di antara
Rp500.000 Rp2.000.000 dikategorikan sebagai handset middle-end, dan
harga satuannya di atas Rp2.000.000 dikategorikan sebagai handset highend.

16

Produk Impor Berdasarkan Merk Terbesar


Market Share

ADVAN
OPPO

1,04%
4,81%
1,56%
0,95%

MITO

3,05%

SONY

3,25%
0,76%

11,13%

4,24%

CROSS
LENOVO
SMARTFREN
APPLE
BLACKBERRY

19,79%
2,91%
1,49%
4,40%
2,98%
6,63%
0,82%
14,13%
3,09%
15,60%
19,09%

NOKIA

31,92%

SAMSUNG

12,35%
11,28%

OTHERS
0,00%

Jumlah Handset

22,76%
5,00%

10,00%

15,00%

20,00%

25,00%

30,00%

35,00%

40,00%

45,00%

GAMBAR 10 P ANGSA PASAR CPE TELEKOMUNIKASI S ELULER BERDASARKAN MERK


(SUMBER : K EMENTERIAN PERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH )
Data Kementerian Perdagangan, sejak tahun 2012 sampai dengan
September 2014, tercatat 117 merk perangkat seluler dengan Market-Share
yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Adapun merk dengan pangsa pasar
terbesar yang dapat dilihat pada rekapitulasi Gambar 10 yaitu Samsung,
Nokia, Blackberry, Apple, Smartfren, Lenovo, Cross/Ever Cross, Sony, Mito,
Advan dan Oppo. Hampir setengah pangsa pasar produk ini dikuasai oleh
produk dengan merk Samsung, namun dari sisi jumlah perangkat yang
beredar 20% perangkat berasal dari Merk lokal Cross/EverCoss. Merk lokal
dengan Band Coss/EverCross, Advan dan Mito walaupun masuk ke dalam 10
besar pangsa pasar dari sisi jumlah namun masih menyasar kategori low-end
sehingga dari sisi market share lebih kecil. Sebagai perbandingan pada
Gambar 10 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara prosentase

17

jumlah dan Market share (nilai impor) beberapa merk ini, dimana merk
dengan kualitas high-end dari sisi jumlah lebih sedikit namun lebih besar dari
sisi Market-Share (Tabel 4).

Market-Share Impor Perangkat Telekomunikasi


Seluler
2012

#N/A

VIET NAM

0,00%
29,341%
0,00%
0,000%
0,000%

THAILAND

0,00%
0,016%
0,000%

0,00%
0,000%
0,032%

ROMANIA

0,41%
0,000%
0,001%

MALAYSIA

KOREA, REPUBLIC OF

INDIA

HUNGARY

HONG KONG

0,269%
4,858%

16,03%

4,20%
0,000%
0,003%
0,99%
0,679%
0,550%
7,59%
0,000%
1,121%
3,37%
0,054%
1,065%
0,05%
0,048%
0,000%
56,47%
59,646%
57,753%

CHINA

CANADA

38,373%

10,82%
0,555%
5,020%

SINGAPORE

MEXICO

2013

0,00%
0,361%
0,000%

UNITED STATES

TAIWAN, PROVINCE OF CHINA

2014

0,07%
0,000%
0,257%

0,000%

10,000% 20,000% 30,000% 40,000% 50,000% 60,000% 70,000%

GAMBAR 11 M ARKET -SHARE IMPOR CPE BERDASARKAN ASAL NEGARA (SUMBER :


K EMENTERIAN PERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH )

18

TABEL 4 11 MERK TERBESAR B EREDAR DAN KATEGORI


Merk
Kategori Market
SAMSUNG
Middle-End
NOKIA
Low-End
BLACKBERRY
High-End
APPLE
High-End
SMARTFREN
Middle-End
LENOVO
Middle-End
CROSS
Low-End
SONY
High-End
MITO
Low-End
OPPO
Middle-End
ADVAN
Low-End
(Sumber: Kementerian Perdagangan sd September 2014, diolah)
Dengan melihat asal negara (Country of Origin) CPE telekomunikasi, dapat
dilihat pada Gambar 11 bahwa sebagian besar perangkat berasal dari
Tiongkok sebesar 81% kemudian Vietnam sebesar 17%, namun dari sisi nilai
impor, Tiongkok memiliki Market Share sebesar 60% sementara sepertiga
lainnya berasal dari Vietnam. Hal ini menunjukkan bahwa Tiongkok
merupakan basis manufaktur CPE telekomunikasi walaupun merk bukan
berasal dari negara tersebut, dimana pemegang merk cenderung
melakukan chain modularity untuk menghemat proses produksi mereka [9].
Dalam hal ini manufaktur dilakukan di Tiongkok dimana proses manufaktur
lebih murah, sementara distribusi dengan mendirikan perusahaan lokal di
Indonesia. Dari data tersebut, brand-brand lokal lebih banyak melakukan
produksinya di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.
Perbandingan impor tiap tahun berdasarkan asal negara ini ditunjukkan
pada Gambar 11 dan Gambar 12, dimana selama 3 tahun terakhir, produk
CPE lebih banyak berasal dari Tiongkok dengan rata-rata 57% dengan jumlah
perangkat sebesar 84% dari seluruh total perangkat yang beredar. Di sisi lain,
jika dilihat dari perkembangannya, perangkat CPE yang berasal dari Vietnam,
baru memulai impornya sejak tahun 2013 dan menguasai Market-share
terbesar ke dua. Impor pada negara ini merupakan produk impor merk
Samsung yang di assembly di negara tersebut.

19

Jumlah Barang Perangkat Telekomunikasi


Seluler
#N/A

VIET NAM

2012; 0,000%
2014; 0,060%
2013; 0,000%
2012; 0,000%
2014; 22,304%
2013; 10,716%

UNITED STATES

2012; 0,000%
2014; 0,000%
2013; 0,000%

THAILAND

2012; 0,000%
2014; 0,003%
2013; 0,000%

TAIWAN, PROVINCE OF CHINA

2012; 2,331%
2014; 0,271%
2013; 1,353%

SINGAPORE

2012; 0,000%
2014; 0,000%
2013; 0,003%

ROMANIA

2012; 0,095%
2014; 0,000%
2013; 0,000%

MEXICO

2012; 2,772%
2014; 0,061%
2013; 0,539%

MALAYSIA

2012; 0,698%
2014; 0,000%
2013; 0,000%

KOREA, REPUBLIC OF

2012; 0,183%
2014; 0,130%
2013; 0,091%

INDIA

2012; 9,899%
2014; 0,000%
2013; 1,866%

HUNGARY

2012; 0,348%
2014; 0,028%
2013; 0,173%

HONG KONG

2012; 0,131%
2014; 0,059%
2013; 0,000%
2012; 83,537%
2014; 77,082%
2013; 85,225%

CHINA

CANADA

2012; 0,006%
2014; 0,000%
2013; 0,033%

0,000% 10,000% 20,000% 30,000% 40,000% 50,000% 60,000% 70,000% 80,000% 90,000%

GAMBAR 12 JUMLAH PERANGKAT YANG DIIMPOR BERDASARKAN ASAL N EGARA (SUMBER :


K EMENTERIAN PERDAGANGAN SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH )

20

TABEL 5 KATEGORI HANDSET B ERDASARKAN NEGARA


Negara
2012
2013
2014
Keseluruhan
Pengimpor
CANADA
High-End
High-End
#N/A
High-End
CHINA
Low-End
Low-End
Middle-End
Low-End
HONG KONG
Low-End
#N/A
Middle-End
Middle-End
HUNGARY
High-End
High-End
Middle-End
High-End
INDIA
Low-End
Low-End
#N/A
Low-End
KOREA SELATAN
High-End
High-End
High-End
High-End
MALAYSIA
High-End
High-End
High-End
High-End
MEXICO
High-End
High-End
High-End
High-End
ROMANIA
High-End
Middle-End
#N/A
Middle-End
SINGAPORE
#N/A
High-End
#N/A
High-End
TAIWAN,
High-End
High-End
Middle-End
High-End
PROVINCE
OF
CHINA
THAILAND
#N/A
#N/A
High-End
High-End
UNITED STATES
High-End
#N/A
High-End
High-End
VIET NAM
#N/A
Middle-End
Middle-End
Middle-End
(Sumber: Kementerian Perdagangan sd September 2014, diolah)
Jika dilihat market share negara lainnya cenderung turun tiap tahunnya, hal
ini dikarenakan tren dari perangkat CPE low-end dan high-end menuju ke
middle end, sebagai contoh untuk impor dari negara Meksiko yang menyasar
pasar High-End dan India yang menyasar pasar Low-End yang cenderung
turun. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 yang merupakan rata-rata jenis
kategori perangkat dari negara tersebut. Dari tabel tersebut dapat dilihat
bahwa pergeseran kategori perangkat dari Tiongkok selama 3 tahun ini dari
produksi CPE low-end menjadi middle-end.

Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi


Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi terutama untuk jaringan bergerak
seluler secara keseluruhan dikuasai oleh Penanam Modal Asing. Industri ini
dapat dikategorikan sebagai industri dengan value chain hierarki [4] atau
masih integrated terutama di sisi perangkat infrastruktur radio, dikarenakan
masing-masing elemen dalam produk ini cenderung lebih susah untuk di bagi
menjadi perkomponen dan memiliki Intellectual Property yang tinggi seperti
Chipset, Cell, SingleRAN, dan RRU dengan sedikitnya pemain di industri ini
dengan persaingan ketat antar-vendor secara internasional, sehingga
vendor harus mengembangkan dan memanufakturnya secara in-house.
Tercatat ada 6 pemain di industri ini yang beroperasi di Indonesia yaitu PT.

21

Huawei Investment Tech Indonesia, Nokia Solution Network, Ericsson, Samsung


Telecommunication, dan ZTE Indonesia. Dari kelima pemain tersebut, marketshare dikuasai oleh Huawei sebesar 60% sejak tahun 2008.

PT. Huawei Investment Tech Indonesia


PT. Huawei Investment Tech Indonesia atau Huawei masuk ke Indonesia sejak
tahun 2002 dan mengambil alih market-share di industri ini sebesar 60% sejak
tahun 2008. Strategi pasar Huawei ditempuh melalui harga yang sangat
bersaing dan hampir gratis sehingga Huawei berhasil meningkatkan marketsharenya

dimana

penerimaan dari

harga

perangkat

tersebut

dioptimalkan

dengan

Managed-Services. Selain itu biaya upgrade dan

maintenance dibebankan kepada pengguna.


Huawei merupakan Market-leading di Indsutri ini dimana secara global
mengalokasikan untuk pengembangan dan riset sebesar 10% revenue. Selain
itu dengan keuntungan pabrikan di negeri Tiongkok, dimana perusahaan
dapat membuat perangkat lebih cepat dan lebih murah, maka Huawei
selalu siap dengan permintaan dan kebutuhan user. Kelebihan lain dari
Huawei adalah, mereka menguasai pangsa pasar untuk di daerah Jawa dan
Sumatera,

sehingga

sangat

memudahkan

untuk

pemasangan

dan

maintenance.
Dengan penguasaan Market-Sahre begitu besar perusahaan ini dapat
menerapkan Locking-Market dimana perpindahan merk perangkat sangat
membebani operator dari sisi migrasi ke perangkat baru dan juga dampak
ke pelanggan, sehingga user cenderung akan tetap memakai satu merk
yang memiliki kompatibilitas yang sama. Dengan harga perangkat akan
jenuh ke satu titik, sehingga keuntungan Huawei adalah, mereka sudah
menguasai pangsa pasar di bidang ini namun dengan harga yang relatif
sama.

PT. Nokia Solutions Networks Indonesia


Nokia Solution Network masuk ke Indonesia sejak1996 dengan nama Nokia
kemudian merger dengan Divisi jaringan Siemen dengan pembelian saham
70% menjadi Nokia-Siemens Network, kemudian tahun 2011 mengambil
penuh saham menjadi Nokia Solution Network. Saat ini mereka hanya
menguasai 20% pangsa pasar di produk ini.

22

NSN sendiri memiliki strategi dalam persaingan usaha di bidang ini yaitu
dengan technologi-leading dengan menginvestasikan sebesar 14% untuk
biaya R&D. Strategi ini ditempuh agar mereka mendapatkan user-based
yang besar pada saat technology-deploy pertama seperti di LTE dan 5G.
Dengan cara ini, mereka dapat mengunci user untuk menggunakan produk
mereka selama 5 tahun dengan cara Managed Service dan penggantian
alat. Strategi lain NSN ke depan dengan melihat tren Software Defined Radio
dibandingkan Hardware-Based yang dapat menghemat biaya produksi.
Tantangan NSN dimana mereka mengusai pangsa pasar untuk daerah
dengan infrastruktur transportasi yang sulit seperti di Kalimantan dan Papua,
sehingga biaya transportasi dan sumber daya manusia yang besar.

PT. Ericsson Indonesia


Ericsson didirikan oleh Lars Magnus Ericsson pada tahun 1876. Ericsson
merupakan

anak

perusahaan

dari

Telefonaktiebolaget

LM

Ericsson

(perusahaan registrasi number 556016-0680) yang berpusat di Stockholm,


Swedia. Ericsson telah hadir di 5 benua termasuk diantaranya di negara
Australia, Amerika, China, Canada, Singapore, Thailand, Korea, Japan,
German. Ericsson mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1907. Ericsson
menyediakan infrastruktur untuk solusi dan layanan komunikasi tetap dan
bergerak kepada pelanggannya. Ericsson memasok jaringan selular (NMT)
pertama pada tahun 1987 dan merupakan pelopor dalam menyediakan
jaringan bergerak digital (GSM 900) di tahun 1995 dan juga jaringan GSM 1800
di tahun 2000 [20].
Dalam bidang jaringan telekomunikasi, saat ini PT. Ericsson Indonesia berfokus
pada jaringan 2G, 3G dan sudah siap mengimplementasikan teknologi LTE.
Saat ini Ericsson sedang melakukan uji coba LTE bersama dengan operator
XL.

PT. Samsung Telecommunication Indonesia


PT. Samsung Telecommunication Indonesia (Samsung Telecommunication)
masuk ke pasar infrastruktur telekomunikasi Indonesia sejak tahun 2003. Sejak
awal masuk, Samsung mengkhususkan pada pasar infrastruktur CDMA seperti
untuk Flexi-Telkom dan Mobile8, dimana Samsung menjadi pemain tunggal
untuk infrastruktur ini. Hal ini dikarenakan negara asal Samsung mengadopsi

23

CDMA sebagai teknologi dasar mereka dan pemain lainnya seperti NSN dan
Ericson fokus pada infrastruktur 2G dan 3G.
Sejak masuknya Huawei dan ZTE yang juga ikut bermain pada pasar ini,
Samsung hanya mendapatkan market-share sebesar 30%. Lini bisnis Samsung
sekarang

untuk

mensupport

perangkat

pada

operator

Smart-Fren.

Dikarenakan locking-user, maka sangat sulit untuk merebut kembali marketshare yang ada dikarenakan migrasi merk perangkat membutuhkan effort
yang lebih. Selain itu, Samsung tidak memiliki lini Managed Services
dikarenakan pangsa pasarnya yang sangat kecil
Kelebihan Samsung fokus kepada kualitas perangkat, namun dari satu sisi
mempengaruhi harga jual sehingga berimbas kepada kurang bersaingnya
harga dengan perangkat Huawei dan ZTE. Saat ini Samsung menguasai pasar
infrastruktur untuk wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi untuk
perangkat CDMA.
Strategi dalam menghadapi persaingan ke depan adalah dengan 2 cara
yaitu dengan menambah pangsa pasar dan penjualan dan menambah
variasi produk seperti infrastruktur akses sehingga bisa melakukan crosssubsidy untuk harga perangkat infrastruktur telekomunikasi yang mereka jual
Dengan adanya roadmap dari Kementerian Kominfo untuk memigrasi
SmartFren dan WCDMA850 ke teknoogi netral yang mengarah ke LTE,
Samsung pada dasarnya akan mengikuti pola tersebut, namun jika
persaingan di ranah LTE ini sangat ketat, maka dipastikan akan keluar dari
pasar Indonesia dikarenakan harga pasar yang kurang sehat

PT. ZTE Indonesia


PT. ZTE Indonesia (ZTE) mulai masuk ke pasar Indonesia pada tahun 1999, PT
ZTE Indonesia telah tumbuh menjadi salah satu anak perusahaan ZTE terbesar
di luar negeri asaalnya dengan kantor pusat di Jakarta dan empat kantor
regional di Kalimantan (Balikpapan & Banjarmasin), Sumatera (Medan),
Sulawesi (Manado, Makassar), dan Jawa (Semarang, Bandung, dan
Surabaya). Saat ini untuk perangkat jaringan telekomunikasi, ZTE Indonesia
berfokus pada teknologi CDMA, 2G, 3G dan LTE. ZTE Indonesia juga
menjalankan bisnis sebagai Managed Service Provider (MSP) di bidang
telekomunikasi, yaitu menjalankan fungsi optimasi, monitoring, trouble
shooting, network planning dan lain-lain bagi klien-kliennya.

24

Kebijakan Industri Perangkat


Telekomunikasi
Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)
Peraturan Menteri Perindustrian Nomor: 16/M-IND/PER/2/2011 Tentang
Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri ini
mulai berlaku pada tanggal 21 Februari 2011 serta menjadi pedoman seluruh
produsen ponsel di tanah air. Peraturan Menteri ini digunakan dalam rangka
peningkatan

penggunaan

produk

dalam

negeri dan menciptakan

pengembangan industrilisasi telepon seluler. Hal seiring dengan semakin


meningkatnya volume impor produk tersebut yang tidak memenuhi standar,
maka standar mutu dan teknis produk tersebut harus lebih diperhatikan demi
melindungi kepentingan konsumen. Pada Pasal 1 ayat 1 di Peraturan menteri
ini menyatakan produk dalam negeri adalah barang/jasa termasuk rancang
bangun

dan

perekayasaan

yang

diproduksi

atau

dikerjakan

oleh

perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di Indonesia, yang dalam


proses produksi atau pengerjaannya dimungkinkan penggunaan bahan
baku/komponen impor.
Aturan TKDN mendefinisikan produk dalam negeri adalah barang yang
diproduksi oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di Indonesia
(wilayah kedaulatan negara - NKRI). Tingkat komponen dalam negeri, yang
selanjutnya disebut TKDN, didefinisikan sebagai besarnya komponen dalam
negeri pada barang, jasa dan gabungan barang dan jasa. Komponen
dalam negeri pada barang adalah penggunaan bahan baku, rancang
bangun dan perekayasaan yang mengandung unsur manufaktur, fabrikasi,
perakitan,

dan penyelesaian akhir pekerjaan yang berasal

dari dan

dilaksanakan di dalam negeri. Sedangkan komponen dalam negeri pada


jasa adalah penggunaan jasa sampai

dengan penyerahan akhir dengan

memanfaatkan tenaga kerja termasuk tenaga ahli, alat kerja termasuk


perangkat lunak dan sarana pendukung yang berasal dari dan dilaksanakan
di dalam negeri. Seperti telah ditunjukkan sebelumnya bahwa penetapan
nilai TKDN didasarkan kriteria:
1. Untuk

bahan

material langsung

berdasarkan

negara

asal

barang;

25

2. Untuk alat kerja/fasilitas kerja


negara

berdasarkan

kepemilikan

dan

asal;

3. Untuk tenaga kerja berdasarkan kewarganegaraan.


Sementara itu, biaya bahan (material) langsung, biaya tenaga kerja
langsung dan biaya tidak langsung pabrik dihitung sampai di lokasi
pengerjaan (pabrik workshop) untuk produk barang yang bersangkutan.
Penetapan kriteria di atas sifatnya subyektif berdasarkan pengetahuan yang
dimiliki. Hal ini memungkinkan nilai TKDN yang berbeda untuk produk
yang sama tapi diproduksi oleh perusahaan yang berbeda.

Tata Cara Ketentuan Perizinan Impor Telepon Seluler, Komputer


Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet
Peraturan

Menteri

Perdagangan

Republik

Indonesia

Nomor

82/M-

DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer


Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet ini mulai berlaku pada tanggal
1 Januari 2013 dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia
Nomor 38/M-DAG/PER/8/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor
Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet ini
mulai berlaku pada tanggal 1 Agustus serta menjadi acuan seluruh distributor
perusahaan elektronik di tanah air. Aturan ini diterbitkan guna mendukung
Kesehatan,

Keamanan,

Keselamatan

dan

Lingkungan

(K3L),

serta

industrialisasi telepon seluler dan komputer di masa yang akan datang.


Seiring dengan semakin meningkatnya volume impor ketiga jenis produk
tersebut yang tidak memenuhi standar, maka standar mutu dan teknis
produk tersebut harus lebih diperhatikan demi melindungi kepentingan
konsumen.
Kedua Peraturan Menteri Perdagangan tersebut diatas pada pasal 1 Ayat 4
menyatakan impor adalah kegiatan memasukan barang ke dalam Daerah
Pabean. Artinya Peraturan Menteri Perdagangan itu dapat didefinisikan
produk impor adalah produk yang dimasukan ke dalam Daerah Pabean,
bukan dilihat dari negara asal produk.
Dalam Peraturan Menteri Perdagangan ini, setiap telepon seluler, komputer
genggam dan komputer tablet yang diimpor harus memenuhi standar dan
persyaratan teknis yang berlaku, Beberapa contoh syarat teknis yang
ditetapkan, antara lain:

26

1. Syarat pelabelan serta manual dan kartu garansi purna jual dalam
bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh
Standardisasi

dan

Perlindungan

Direktorat Jenderal

Konsumen

Kementerian

Perdagangan, dan standar teknis dari Kementerian Komunikasi dan


Informatika.
2. Untuk dapat melakukan impor ketiga jenis produk tersebut,
perusahaan harus mendapat penetapan Importir Terdaftar (IT) dan
Persetujuan Impor (PI) Telepon Seluler, Komputer Genggam dan
Komputer Tablet dari Menteri Perdagangan.
3. Untuk mendapatkan PI tersebut, Importer Terdaftar harus terlebih
dahulu mendapatkan Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor dari
Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT),
Kementerian

Perindustrian, dan

Sertifikat

Alat

dan

Perangkat

Telekomunikasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.


4. Berdasarkan ketentuan, telepon seluler, komputer genggam dan
komputer tablet yang diimpor oleh Importer terdaftar hanya dapat
diperdagangkan dan atau dipindahtangankan kepada distributor
dan tidak kepada retailer ataupun konsumen langsung.
5. Impor ketiga jenis produk ini juga hanya dapat dilakukan melalui
pelabuhan laut dan udara tertentu. Untuk pelabuhan laut yang
diperbolehkan, yaitu Belawan di Medan, Tanjung Priok di Jakarta,
Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, dan
Soekarno-Hatta di Makassar.
6. Sementara itu, untuk pelabuhan udara adalah Polonia di Medan,
Soekarno-Hatta di Tangerang, Ahmad Yani di Semarang, Juanda di
Surabaya, dan Hasanuddin di Makassar.
7. Kemudian, surveyor yang ditunjuk oleh Menteri Perdagangan akan
melakukan verifikasi atau penelusuran teknis impor terlebih dahulu di
pelabuhan muat terhadap setiap pelaksanaan impor telepon seluler,
komputer genggam, dan komputer tablet.
Suatu perusahaan yang ingin menjadi importir, ada beberapa tahap yang
harus dilakukan: 1. Menjadi Importer Terdaftar (IT), yaitu perusahaan yang
disetujui untuk melakukan impor telepon seluler, komputer genggam
(handheld) dan komputer tablet untuk keperluan kegiatan usaha dengan
memperdagangkan dan atau memindahtangankan kepada pihak lain.
Perusahaan mengajukan permohonan kepada Menteri Perdagangan
melalui Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri dengan 9 (sembilan)

27

persyaratan yang harus dipenuhi; 2. Mendapatkan Persetujuan Importer (PI),


yaitu ijin impor telepon seluler, komputer genggam (handheld) dan komputer
tablet juga dengan mengajukan permohonan ke Kementerian Perdagangan
dengan 7 (tujuh) persyaratan yang harus dipenuhi; 3. Mendapatkan Tanda
Pendaftaran Produk (TPP), yaitu surat tanda pendaftaran produk yang akan
diimpor dengan tipe, nomor identitas telepon seluler, komputer genggam
(handheld), komputer tablet dan jumlah produk, yang diterbitkan oleh
pejabat instansi/ unit teknis terkait yang berwenang dari Kementerian
Perindustrian

dan

Sertifikat

Alat

dan

Perangkat

Telekomunikasi

dari

Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tahapan yang ketiga ini harus


dimiliki terlebih dahulu, sebelum mendapatkan Persetujuan Importer
(Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82 tahun 2012, pasal 4 dan 7).
Dalam

Peratuan

Kementerian

Perdagangan

ini,

perusahaan

yang

mendapatkan Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam


(handheld) dan Komputer Tablet harus mengajukan permohonan tertulis
kepada Menteri Perdagangan melalui Direktur Jenderal Perdagangan Luar
Negeri, dengan melampirkan sejumlah kelengkapan, di antaranya:
1. Asli surat pernyataan kerjasama dengan paling sedikit 3 (tiga)
distributor;
2. Bukti pengalaman sebagai importer Telepon Selular, Komputer
Genggam (handheld) dan Komputer Tablet;
3. Bukti sebagai distributor Telepon Selular, Komputer Genggam
(handheld) dan Komputer Tablet paling singkat selama 3 (tiga) tahun;
4. Surat penunjukan atau kerjasama sebagai distributor Telepon Selular,
Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri atas nama Menteri Perdagangan
menerbitkan Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam
(handheld) dan Komputer Tablet paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung
sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar. Penetapan sebagai
Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan
Komputer Tablet berlaku selama 2 (dua) tahun, bunyi Pasal 5 Peraturan
Menteri perdagangan itu.
Dalam Peraturan Menteri Perdagangan itu, Importer Terdaftar Telepon Selular,
Komputer

Genggam

(handheld)

dan

Komputer

Tablet

juga

harus

mendapatkan Persetujuan Impor (PI) melalui permohonan tertulis kepada


Menteri Perdagangan melalui Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri,

28

dengan mencantumkan Tanda Pendaftaran Produk (TPP) Impor dari Direktur


Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Impor (IUBTI) Kementerian
Perindustrian. Masa berlaku Persetujuan Impor yang dikeluarkan Kementerian
Perdagangan sama dengan masa berlaku Tanda Pendaftaran Produk Impor
dari Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Importer
Kementerian Perindustrian.
Dalam Peraturan
ditegaskan,

Menteri Perdagangan Nomor 32 Tahun 2013 pasal 17

penetapan

sebagai

Importer

Terdaftar

Telepon

Selular,

Komputer Genggam (handheld) dan Komputer Tablet dapat dicabut izinnya


apabila perusahaan :
1. Tidak melakukan kewajiban mendirikan industri Telepon Seluler,
Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer Tablet sebagaimana
dimaksud dalam
2. Terbukti

Pasal 8A;

memperdagangkan

dan/atau

memindahtangankan

Telepon Selular, Komputer Genggam (handheld) dan Komputer


Tablet yang diimpornya kepada konsumen atau pengecer (retailer)
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2);
3. Tidak melakukan kewajiban penyampaian laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 sebanyak 2 (dua) kali;
4. Tidak melakukan impor Telepon Seluler, Komputer Genggam
(Handheld) dan Komputer Tablet dalam jangka waktu 6 (enam)
bulan berturut-turut;
5. Terbukti mengubah informasi yang tercantum dalam dokumen impor
Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan Komputer
Tablet ;
6. Melakukan pelanggaran di bidang kepabeanan berdasarkan
informasi dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian
Keuangan;
7. Dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap atas tindak pidana yang
berkaitan dengan penyalahgunaan dokumen impor teleponSeluler,
Komputer genggam (Handheld) dan Komputer Tablet.
Pencabutan sebagai Importer Terdaftar Telepon Selular, Komputer Genggam
(handheld) dan Komputer Tablet ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Perdagangan Luar Negeri untuk dan atas nama Menteri Perdagangan, tegas
Pasal 18 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 82 Tahun 2012.

29

Kegiatan pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor telepon seluler,


komputer genggam (handheld) dan komputer tablet sangat penting
dilaksanakan, hal ini sesuai dengan pasal 12 ayat 2. Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 82 tahun 2012. Untuk pendukung dasar hukum kegiatan
tersebut diterbitkan Keputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia
Nomor 123/M-DAG/KEP/2/2013 tentang Penetapan Surveyor Sebagai
Pelaksana Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor Telepon Seluler, Komputer
Genggam (handheld), dan Komputer Tablet. Hal penting yang perlu
diketahui adalah Surveyor dalam hal ini PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan
PT. Sucofindo (Persero) melakukan verifikasi atau penelusuran teknis impor
telepon seluler, komputer genggam (handheld), dan komputer tablet di
pelabuhan muat negara asal sebelum dikapalkan.

Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang ke dan dari


Kawasan yang Telah Ditetapkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 47/PMK.04/2012 Tentang Tata Laksana
Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan Yang Telah
Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas
Dan Pembebasan Cukai Pada Pasal 1, menyatakan:
Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah
darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat tertentu di zona
ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku UndangUndang Kepabeanan. (ayat 4).
Kawasan Pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu

di

pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu
lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai. (ayat 5).
Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan
pelabuhan bebas, yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Bebas,
adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga bebas dari
pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, dan cukai. (ayat 6).
Makna pasal 1 ayat 4, 5 dan 6 dapat dijelaskan bahwa kawasan pabean
merupakan tempat lalulintas barang yang dikenakan bea masuk dan pajak.

30

Sedangkan kawasan bebas adalah kawasan yang tidak dikenakan bea


masuk dan pajak. Barang-barang impor harus melalui kawasan pabean ini.

Interpretasi
Ketiga
Peraturan
Perdagangan dan Keuangan
Peraturan

Menteri

Perdagangan

Menteri

Republik

Perindustrian,

Indonesia

Nomor

82/M-

DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer


Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet dan Peraturan Menteri
Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/M-DAG/PER/8/2013 tentang
Perubahan

Atas

Peraturan

Menteri

Perdagangan

Nomor

82/M-

DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer


Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet mendefinisikan produk impor
adalah produk yang dimasukan ke dalam Daerah Pabean, bukan dilihat dari
negara asal produk.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 47/PMK.04/2012 Tentang Tata Laksana
Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan Yang Telah
Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas
Dan Pembebasan Cukai mendefinisikan Kawasan Bebas terpisah dari Daerah
Pabean dan aturan Perindustrian mendefinisikan produk dalam negeri
adalah barang yang diproduksi oleh perusahaan yang berinvestasi dan
berproduksi di wilayah kedaulatan Indonesia (NKRI).
Sehingga produk yang diproduksi di Kawasan Bebas Indonesia, walaupun
memiliki TKDN, tetap dianggap produk impor saat dikirim dari Kawasan Bebas
ke Daerah Pabean Indonesia.
Peraturan perundang-undangan yang ada selama ini berasumsi bahwa
produsen ponsel itu terintegrasi vertikal. Pada kenyataannya industri ponsel
dunia terbagi-bagi secara modular atau terspesialisasi horizontal untuk
mengejar economic of scales. Konsekuensi dari aturan yang ada, hanya
mengidentifikasi produsen ponsel brand owner atau importir, sementara
value chain industri ponsel yang lain tidak terakomodasi.
Untuk mendapatkan data rinci yang berkaitan dengan 1. Ketentuan Tingkat
Komponen Dalam Negeri (TKDN); 2. Impor telepon selelur, komputer
genggam (handheld) , dan komputer tablet; 3. Tata laksana pemasukan dan
pengeluaran barang ke dan dari kawasan yang telah ditetapkan, dapat
melihat peraturan perundang-undangan, dibawah ini, yaitu :

31

1. Peraturan

Menteri

Perindustrian

Nomor

16/M-IND/PER/2/2011

Tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen


Dalam Negeri
2. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 82/MDAG/PER/12/2012

Tentang

Ketentuan

Impor

Telepon

Seluler,

Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.


3. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/MDAG/PER/8/2013

tentang

Perubahan

Atas

Peraturan

Menteri

Perdagangan Nomor 82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan


Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam

(Handheld), dan

Komputer Tablet.
4. Keputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 123/MDAG/KEP/2/2013 tentang Penetapan Surveyor Sebagai Pelaksana
Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor Telepon Seluler, Komputer
Genggam (handheld), dan Komputer Tablet.
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 47/PMK.04/2012 Tentang Tata
Laksana Pemasukan Dan Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan
Yang Telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Dan
Pelabuhan Bebas Dan Pembebasan Cukai.

32

Potensi Lokal Industri Perangkat


Jaringan Telekomunikasi
Secara umum, Indonesia memiliki potensi untuk membangun perangkat
jaringan telekomunikasi dengan diberikan kesempatan mengembangkan
produk jaringan seluler.

PT. INTI
Pada awal-awal tahun pendiriannya, PT. INTI merupakan laboratorium Pos,
Telepon dan Telegraf (PTT) serta Laboratorium Tadio dan Pusat Perlengkapan
Radio yang bernaung di bawah Jawatan Pos, Telepon, dan Telegraf.
Berdasarkan PP N0. 241 Tahun 1961 Jawatan Pos, Telepon dan Telegraf (PTT)
diubah status hukumnya menjadi Perusahaan Pos dan Telekomunikasi (PN
POSTEL). Dari PN Postel ini, dengan PP No. 300 tahun 1965 didirikan PN
Telekomunikasi. Bagian Penelitian dan Bagian Perlengkapan yang semual
terdapat pada PN POSTEL, digabungkan dan berganti nama menjadi
Lembaga Administrasi, Bagian Penelitian dan Bagian Industri[21].
Pada tanggal 25 Mei 1966, PN Telekomunikasi mulai mengadakan kerjasama
dengan perusahaan asing, yaitu Siemens AG dan pelaksanaannya
dibebankan kepada Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pos dan
Telekomunikasi (LPP Postel). Untuk merealisasikan kerjasama tersebut maka
pada tanggal 17 Februari 1968 dibentuk suatu bagian pabrik telepon dalam
organisasi LPP Postel dan LPP Postel diubah menjadi Lembaga Penelitian
Pengembangan

Industri

Pos

dan

Telekomunikasi

(LPPI

Postel)

yang

berpangkal pada bagian pabrik telepon kemudian diresmikan oleh Presiden


Republik Indonesia kala itu, yaitu Presiden Suharto yang diwakili oleh Menteri
Ekuin Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 22 Juni 1968.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor: 036/M-PBUMN/1988,
INTI dimasukkan ke dalam kelompok Industry Strategis. Pada tanggal 17
Januari 1998 dikeluarkan sebuah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 12 Tahun 1988 yang menghilangkan peran departemen teknis dalam
mengelola BUMN. Sebagai tindak lanjutnya, pembinaan INTI beralih ke
Kementerian Negara Pendayagunaan BUMN. Pada tahun yang sama BPIS
beralih status menjadi sebuah holding company dengan nama PT BPIS dan
sepuluh BUMN strategis dibawahnya menjadi anak perusahaan. Kondisi ini

33

berakhir pada tahun 2002, dimana PT. BPIS dibubarkan pada bulan Maret
2002 sesuai Peraturan Pemerintah Nomor: 52 Tahun 2002. Selanjutnya
pengelolaan INTI beralih kembali ke Kementerian Negara Pendayagunaan
BUMN[22].

34

TABEL 6 P ORTOPOLIO PRODUK PT. INTI

Home gateway
Device

Transportation

Energy

Smart Med

Smart Meter

Phone
Smart TV

Controller

Smart OTT

M2M

FTTH

M2M

FTTH

WiFi

Smart OBU

Smart Clinic

PLC

M2M

M2M

Smart WAVE*

Management

Prepaid Meter

BBM

Consumer

Smart

Smart Meeting

Close user group

ICT

Smart Track

TITO

OTT Application

Defense

Smart Fuel

Fleet
Application

Health

Smart

Smart Track

Smart City

OTT
STB

Network

Government

Smart Clinic

Smart
Meeting

Smart Hospital

Management

Radar Lead Integrator

Telecom

FTTH

Smart home

Smart Fleet
IPP
Service

OTT Service

Renewable
Resources

with

Smart Parking
Smart

Smart Clinic

IPP

Smart Edu

Toll

Collection

35

Dalam menjalankan usahanya, saat ini PT. INTI bermitra dengan beberapa
perusahaan diberbagai bidang terkait telekomunikasi dan informasi
diantaranya Fixed Network (NSN, Alcatel Lucent, Huawei, Krone, 3M, Konet,
NWC,

Siegers,

WRI,

UT

Starcom),

Wireless

Network

(Sagem

Telecommunications, Tongyu, Motorola, Ericsson, Samsung, JRC, Elora, Global


Celular), Support & Value Added (Rohde & Schwarz, Eltek Valere, Hoppecke,
Abacus Shoto, B&B, Leoh, IBT, Denyo, H&S, BPPT, LIPI), Mobile Device, IT &
Content (Cisco, Juniper, IBM, SunMicrosystem, HP, Dell, Oracle, Microsoft, HDS,
Intel, Motricity, F5, Via, Premiere Telco Hongkong, NetApp, Grandstream).
Adapun produk-produk yang dihasilkan oleh PT. INTI yaitu Genuine Product
(IP PBX, INTI Rectifier, Smart Clinic, Smart Control Unit); Joint Development
(Coastal Radar (LIPI), Smart Meeting (BPPT)) dan OEM (Smartphone).

PT. CMI Indonesia


PT. CMI Teknologi didirikan pada tahun 2004 yang pada awalnya dengan
nama GRE Services. PT. CMI Teknologi melanjutkan pekerjaan Compact
Microwave Indonesia (CMI), yang telah beroperasi sejak tahun 1987. PT. CMI
Teknologi merupakan sebuah perusahaan swasta di Indonesia yang memiliki
usaha dibidang RF dan Microwave, yang meliputi :
1. Telekomunikasi terrestrial dan Satelit, untuk penggunaan sipil, militer
maupun dunia aviasi.
2. Perangkat sensor dan penginderaan jarak jauh, seperti misalnya
Radar (Radio Detection and Raging).
3. Guidance Control, seperti radio pengendalian pada peluru kendali,
pesawat tanpa awak dan sejenisnya.
Selain itu, saat ini bidang usaha PT. CMI Teknologi telah merambah ke bidang
elektronik pertahanan dan khususnya dibidang telekomunikasi frekuensi
tinggi yang telah ditekuni selama 25 tahun telah mampu menciptakan sendiri
perangkat perangkatnya dan tidak terkait prinsipal. Salah satu produknya
yaitu stasiun bumi (satellite transceiver) yang telah berhasil diekspor.
Secara profil sebagai spesialisasi industri, PT CMI Teknologi memiliki sertifikasi
ISO 9001/2008 dan juga telah terakreditasi sebagai Industri Pertahanan sejak
Januari 2013. Selain itu memiliki kualifikasi sertifikasi Approved Maintenance
Organization (AMO) dan Distributor of Aeronautical Product yang merupakan
persyaratan

pekerjaan

dilingkungan

penerbangan

(aviasi)dimana

diperlukan dalam menekuni disiplin perangkat yang bekerja pada daerah

36

frekwensi tinggi (microwave). Selain itu, untuk persyaratan pmebuatan


komponen yang dijual berdasarkan ijin pemerintah pemilik teknologi, maka
CMI Teknologi telah terdaftar di United States Defense Department Trade
Control (DDTC) guna memenuhi ketentuan International Traffic in Arms
Regulation (ITAR) Chapter 129. PT CMI Teknologi menekuni bidang Radio
Transmission yang meliputi :
1. Telekomunikasi terrestrial dan Satellite, untuk penggunaan sipil, militer
maupun dunia aviasi.
2. Perangkat sensor dan penginderaan jarak jauh, seperti misalnya
Radar (Radio Detection and Raging).
3. Guidance Control, seperti radio pengendalian pada peluru kendali,
pesawat tanpa awak dan sejenisnya.
Adapun portofolio beberapa produk PT. CMI yaitu:
1. Dibidang Satellite Communication:
a. Satellite transceiver (20 125) Watt
b. Block up Converter
c. Up Down Converter
d. Sedang dikembangkan adalah satellite modem TDMA format.
2. Dibidang terrestrial radio:
a. Tactical Radio Communication HF, VHF dan UHF frequency.
b. Hand held radio communication
c. Sedang dikembangkan TDMA system untuk penggunaan
commercial maupun military dan optical fiber transmission
system.
3. Dibidang sensor dan penginderaan jarak jauh, CMI Teknologi telah
banyak

memproduksi

berbagai

microwave

assembly

untuk

keperluan suku cadang Ground base Radar maupun Air Borne Radar.
Dalam waktu dekat CMI Teknologi akan menerbitkan produk radar
system yang murni buatan Indonesia.
4. Dibidang Control dan Pengendalian, PT CMI Teknologi belum secara
intensive menekuninya namun bidang ini yang memiliki kompetensi
yang sama dengan bidang lainya yang sedang ditekuni CMI
Teknologi, akan mulai ditekuni secara intensive dalam beberapa
tahun mendatang.

37

PT. Xirka Silicon Technology (XST)


Didirikannya XST bermula sejak tahun 2005 sampai dengan 2008 dengan
memulai usahanya sebagai design house yang melayani perusahaan
elektronik multinasional di Fukuoka, Jepang. XST didirikan tahun 2008 sebagai
sebuah perusahaan fabless yang berfokus pada chipset Baseband WiMax.
Sejak tahun 2011 XST mengembangkan kartu SIM dan pada tahun 2012
dilanjutkan dengan pengembangan produk kartu cerdas (smart card) dan
turunannya seperti kartu akses dan kartu ID dengan memanfaatkan teknologi
Near Field Communication (NFC) dan RFID. XST juga merupakan Principal
Member WiMax Forum.
Dalam melakukan pabrikasi sampai pembuatan silikon XST masih harus
dilakukan

di

Jepang

atau

Singapura

dikarenakan

alat

untuk

memproduksinya sangat mahal, sementara skala produksi Xirka masih relatif


kecil. Xirka juga berpengalaman degan bekerjasama dengan Huawei untuk
perangkat WiMax dimana pemerintah mensyaratkan kandungan Tingkat
Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sehingga vendor global seperti Huawei,
mau tidak mau harus bermitra dengan vendor lokal.

PT. LEN Industri


PT. LEN Industri awalnya bernama Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang
didirikan pada tahun 1965 dan pada tahun 1991 menjadi Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) bernama PT. LEN Industri yang berada di bawah koordinasi
Kementerian Negara BUMN. Selama ini Len telah mengembangkan bisnis
dan produk-produk dalam bidang elektronika untuk industri dan prasarana
dalam bidang:
1. Penyiaran, selama lebih dari 30 tahun telah memproduksi ratusan
Pemancar TV dan Radio yang telah terpasang di berbagai wilayah di
Indonesia.
2. Jaringan infrastruktur telekomunikasi
3. Elektronika untuk pertahanan, baik darat, laut, maupun udara.
4. Sistem Persinyalan Kereta Api di berbagai jalur kereta api di Pulau
Jawa dan Sumatera.
5. Sistem Elektronika Daya untuk kereta api listrik.

38

6. Pembangkit Listrik Tenaga Surya.


PT. LEN memiliki 3 (tiga) unit bisnis, yang terdiri dari Elektronika Pertahanan
(ELHAN), Information & Communication Technology (ICT),

Elektronika

Transportasi (ELTRANS). Di bidang ICT sendiri produk yang dihasilkan oleh PT.
LEN Industri, disajikan pada Tabel 5.
TABEL 7 P RODUK PT. LEN INDUSTRI DI BIDANG INFORMATION & COMMUNICATION
T ECHNOLOGY (ICT)
Smart Card

Broadcasting

KTP
Elektronik
Paspor
Elektronik

DVB T/T2

BPJS
Kesehatan

Set Top Box

Pemancar
TV

IT
Computing
Database
Kearsipan

Toll System
OBU
(On
Board Unit
Contact
Center

Fixed
Access
TITO

Wireless
Access
Wimax

OSP-FO
Akses

LTE

PT. Fusi Global Teknologi


PT. Fusi Global Teknologi (Fusi) merupakan perusahaan baru yang bergerak
di bidang design dan produksi chipset bidang telekomunikasi terutama
wireless dan infrastruktur dan bergerak untuk spesialisasi bidang Digital Signal
Processing (DSP), Wireless Communications (ADSB, SSB), ASIC Front-end dan
Back-end design, FPGA Prototyping, VLSI Architecture & Design, PCB Design
(Analog, Digital and RF), Broadband (WiMax, LTE, DVB-T/T2), Near Field
Communication (NFC), Android Programming (NFC, GPS Navigation &
Tracking), Machine-to-machine technology (Wireless sensors) dan Industrial
Product Design meliputi prototyping dan produksi skala besar
PT Fusi Global Teknologi didirikan sejak tahun 2012. Secara pengalaman,
inisiasi ide pendiriannya dimulai pada tahun 2007 dengan proyek iBurst dan
2008 sampai dengan 2011 dengan proyek WiMAX, kemudian tahun 2012
dengan proyek LTE.
Adapun portofolio Fusi antara lain:
1. LTE Matlab Toolbox
LTE Matlab Toolbox merupakan simolator untuk LTE transport dan LTE
physical layer yang berjalan dalam Matlab
2. LTE Signal Generator
LTE Signal Generator merupakan pembangkit sinyal portabel yang
digunakan untuk membuat sinyal LTE dan WiMax secara kustomisasi.

39

3. LTE Signal Analyzer


LTE Signal Analyzer merupakan analyzer untuk LTE secara portabel
untuk mendeteksi sinyal LTE/WiMax
4. LTE Framework
LTE Framework merupakan software LTE NodeB yang dapat
digunakan baik itu untuk pengembangan, penelitian, prototyping
dan implementasi, baik untuk sistem benchmark, verifikasi atau tes
kesesuaian
5. WiMAX Subscriber Station
WiMAX Subscriber Station merupakan Indoor Access Point untuk
teknologi WiMax
6. WiMAX Small Cell Board
WiMAX Small Cell Board merupakan Base Station untuk teknologi
WiMax
7. Prototipe dan Produk lainnya
Fusi juga mengembangkan beberapa konsep dan produk seperti NFC
Enabled Wireless Devices, Wireless Mesh System, HF Audio, Digital Data
FSK, NFC Reader, RFID Reader, GPS Tracking Solution, e-Money, eLogistics dan Bluetooth Low Energy

Versatile Silicon
2006

2007

2009

MPEG-4 AVC ASIC

iBurst FPGA
implementation
WiMax 802.16d

WiMax 802.16e
Car navigation software

2010

2011

2012

Li-Ion charging controller


Electronic Module
Incubator

Radiation-counter LSI
GPS module
BTS monitoring system

Contactless-LSI
Card Reader
Security Motor

2013

2014

Wireless-LSI
E-Voting

UAV Controller

GAMBAR 13 P ORTOFOLIO PRODUK VERSATILE SILICON

40

Versatile Silicon didirikan pada tahun 2006 dengan fokus perusahaan pada
layanan IC-design sampai, design System on Chip (SOC), Embedded
programming, PCB design sampai dengan 24 layer, Antenna Design, dan
FPGA Prototyping Electronics Module Development. Perusahaan ini juga
berpengalaman dalam membuat chip berbasis OFDM/OFDMA dan Crypto
processor. Adapun portofolio Versatile Silicon (Gambar 4-9).

41

42

Peta Industri Perangkat Telekomunikasi


Seluler
Secara umum, value chain industri telekomunikasi seluler Indonesia dapat
dibagi menjadi 3 elemen yaitu Service Provider, Layanan Pendukung dan
Handset Telekomunikasi.

GAMBAR 14 P ETA INDUSTRI TELEKOMUNIKASI BERDASARKAN VALUE-CHAIN

Peta Industri Perangkat Customer


Telekomunikasi dalam Negeri

Premises

Chipset

Design House

System
Integrator

Manufacturing

Brand Owner

Retailer

Equipment

Component
Suppliers

GAMBAR 15 PETA INDUSTRI TELEKOMUNIKASI BERDASARKAN VALUE-CHAIN


Di dalam negeri, industri lokal yang memilki brand lokal di Indonesia tercatat
PT Aries Indo Global (AIG) dengan merk dagang EverCross, PT Maju Express
Indonesia dengan merk dagang MITO, PT Supertone dengan merk dagang

43

SPC, PT. Tiphone Mobile Indonesia dengan merk dagang TI-Phone, PT.
Teletama Artha Mandiri dengan merk dagang Venera, PT. Zhou Internasional
dengan merk dagang Asiafone, PT Arga Mas Lestari dengan merk dagang
AdvanDigital. Adapun, industri lokal yang sudah mampu melakkan
manufaktur perangkat ini yaitu Polytron, PT. Panggung dan SatNusa.
Jika dilihat nilai estimasi market-share pasar produk telekomunikasi di dalam
negeri masih sangat jauh dibandingkan merk dari luar negeri. Hal ini
dikarenakan belum terintegrasinya sistem value-chain yang ada di Indonesia.
Jika melihat kategori supply chain secara lokal [4], industri di Indonesia masih
bersifat relasional, dimana dalam hal ini SatNusa, Panggung dan Polytron
yang sudah mampu memproduksi, bertindak sebagai lead-firm dalam
industri ini dan relasional supplier adalah pemilik brand lokal di dalam negeri.
Namun, jika dilihat secara global value-chain, sebagaimana matriks pada
Tabel 4-3, Indonesia secara umum sudah lengkap memiliki rantai supply
secara keseluruhan. Dalam diskusi sebelumnya [10], [9] dan [12] memberikan
argumen bahwa Product Modularity merupakan salah satu solusi dalam
efisiensi dan efektivitas industri suatu negara. Namun di sisi lain industri
komponen perangkat seperti perangkat peripheral seperti kamera, baterai,
display dan lain sebagainya masih memiliki ketergantungan terhadap rantai
supply global, sehingga impor perangkat peripheral ini cenderung lebih besar
dikarenakan belum adanya industri manufaktur ini di Indonesia.
TABEL 8 MATRIKS PETA S UPPLY CHAIN MODULARITY INDUSTRI CPE TELEKOMUNIKASI
I NDUSTRI L OKAL
Vendor
TSM

Design
House

System
Integrator

Brand Owner

SatNusa
Polytron

Manufaktur

Advan

MITO

SPC

EverCross

AsiaFone

TI-Phone

Panggung

Sumber: data diolah

44

Design House
Di Indonesia baru terdapat 1 perusahaan Design House yang terlisensi oleh
Qualcomm selaku vendor chipset utama dunia yaitu PT. Tata Sarana Mandiri
(TSM) yang berwadah dalam 1 group IDEA International Development
Limited, LtD yang berbasis di Tiongkok. Perusahaan ini juga merupakan satusatunya design house yang berada di Asia Tenggara. Perusahan ini terlisensi
untuk mendesign chipset Qualcomm 8260, 8960, 8064, 8926, 8974, dan 8916
yang tersegmentasi dari produk low-end sampai dengan high-end. Dengan
bekerja sama dengan PT. SatNusa Persada (SatNusa), TSM memproduksi IVIO,
yaitu ponsel 4G TD-LTE pertama yang Semi Knocked Down di Indonesia [23],
[24] dengan kisaran harga 2 juta.

System Integrator
Di Indonesia, sampai dengan saat ini, hanya TSM dan Polytron yang dapat
dikategorikan sebagai System Integrator. Pada prinsipnya, System Integrator
berperan sebagai sub-system yang melakukan design tampilan, membuat
dan

menentukan

komponen

apa

saja

yang

akan

dipakai,

serta

berhubungan langsung dengan supplier kompenen. Sehingga, pada satu sisi,


System Integrator selain berperan dalam merancang tampilan dan hasil akhir
suatu produk, juga berperan sebagai pemilik modal yang berhubungan
langsung dengan penyedia komponen.

Manufaktur
Sampai dengan saat ini, SatNusa, Polytron dan Panggung berpran sebagai
manufaktur perangkat CPE telekomunikasi. Sub-Elemen ini bertindak dalam
melakukan perakitan komponen dan melakukan testing produk.
SatNusa sendiri berlokasi di Batam dan didirikan pada tahun 1990.
Perusahaan ini sendiri memulai lini Electronics Manufacturing Services (EMS)
untuk perangkat telekomunikasi sejak Juni 2014. Perusahaan ini merupakan
perusahaan perangkat telekomunikasi pertama yang menyediakan solusi
semi-paripurna (Semi Knocked-Down) untuk perangkat telekomunikasi dari
surface-mount technology (SMT), sampai dengan assembly perangkat.
Dengan kemampuan tersebut, SatNusa dapat meraih TKDN sebesar 30%.
Selain itu, dengan lokasi di wilayah Free Trade Zone, Batam mengurangi biaya
pajak.

45

SatNusa memiliki 2 line produksi yang memiliki kapasitas 80.000 100.000 buah
per bulan untuk kategori perangkat telekomunikasi low-end dan 80.000
100.000 buah per bulan untuk kategori smartphone. Produksi tersebut dapat
ditingkat pada kapasitas 1.000.000 buah per bulan jika terdapat supply
dengan penambahan pada area manufaktur seluas 3.000m2.
Politron sendiri didirikan pada 16 Mei 1975 di Kudus dengan nama PT.
Indonesian Electronic & Engineering, dan berubah nama menjadi PT. Hartono
Istana Electronic pada 18 September 1976, dan menjadi PT. Hartono Istana
Teknologi. Polytron sendiri menghasilkan produk-produk Audio, Video dan
Home Aplliances dan baru memulai lini bisnis untuk perangkat telekomunikasi
sejak awal tahun tahun 2011 melalui anak perusahaannya PT. Sarana
Kencana Mulya dengan merk dagang handphone POLYTRON.
Polytron memiliki 3 pabrik di Kudus Krapyak Krapyak seluas 109.000M2,
109.000M2, Sidorekso Sidorekso-Kudus seluas 130.000M2 130.000M2 dan di
Sayung-Semarang seluas 300.000M2 dengan total karyawan lebih dari 9.000
orang. Polytron

sendiri

baru

memproduksi

perangkat

telekomunikasi

(handphone, PDA dan smartphone) pada triwulan 3 2013 dengan kapasitas


perbulan sebanyak 360.000 pertahun dan direncanakan meningkat menjadi
840.000 pada tahun 2014 dan 1.200.000 pada tahun 2015. Dalam hal
penyediaan

komponen,

secara

umum

Polytron

menyediakan

solusi

paripurna (Semi Knocked-Down) dimana beberapa bagian komponen


diproduksi di dalam negeri seperti:
1. Baterai Charger (self design, in-house production)
2. Baterai LiOn (self design, in-house injection & welding)
3. Plastic Casing Injection (in-house injection production)
4. Plastic Casing Coating (in-house painting, printing & vacuum
metalizing)
5. Packaging (bekerjasama dengan Local Supplier)
6. PCB-A (in-house SMT pick & place)
7. Speaker (self design, in-house production)
8. Open Cell HP (clean room facility in-house production)
9. Software and Application development in-house RnD
10. ID (Industrial Design) dan MD (Mechanical Design) development inhouse Rnd

46

Panggung

sendiri

merupakan

perusahaan

yang

dikenal

dan

berpengalaman dalam assembly untuk produk-produk luar negeri seperti ZTE.


Walaupun melakukan assembly untuk produk luar negeri, Panggung sampai
dengan saat ini belum memiliki brand sendiri.

Brand Owner
Sejak meningkatnya kebutuhan perangkat telekomunikasi, terdapat banyak
sekali produk dengan brand-owner dari dalam negeri, namun proses produksi
hampir sebagian besar masih dilakukan di negara luar terutama Tiongkok.
Tercatat tidak kurang 80 merk yang merupakan brand dalam negeri
(Lampiran 2). Adapun beberapa brand yang masif beredar di pasaran yaitu
Polytron, Advan, MITO, SPC, EverCross, AsiaFone dan TI-Phone.
Secara umum, hampir semua brand tersebut hanya melakukan stamping
brand yang proses design dan produksinya dilakukan di luar negeri. Hal
tersebut dikarenakan Indonesia mengikuti kebijakan ICT Trade Aggrement
yang mewajibkan biaya impor produk sebesar 0% [19]. Dibandingkan
dengan memanufakturnya di dalam negeri, dimana biaya komponen
dikenakan pajak 5-7%, maka akan lebih menguntungkan jika pemilik brand
tersebut mengimpornya secara langsung. Tercatat hanya Polytron yang
memanufakturnya di dalam negeri, namun dengan komponen yang
sebagian besar sampai dengan saat ini masih dari luar negeri.

Retailer
Sub-System Retailer merupakan elemen yang sangat penting dikarenakan
pemegang modal utama dan menjadi penentu pasar. Retailer menyediakan
dana dalam jumlah besar dan memegang risiko untuk menjual semua
perangkat yang diberlinya. Menurut data dari Kementerian Perdagangan,
sampai dengan 2014, terdapat 160 perusahaan yang dapat dikategorikan
sebagai pemegang modal utama atau importir (Lampiran 2.3). Dari 160
perusahaan tersebut 10 importir menguasai 80% modal dimana samsung
sebagai importir terbesar di Indonesia sebesar 30% dari seluruh pasar atau
senilah 28 Triliun rupiah selama 3 tahun (Gambar 4-10).
Importir lokal yang juga menguasai modal di Indonesia yaitu Erajaya
Swasembada Tbk (12%), Trikomsel Oke Tbk (9,68%) dan Teletama Artha
Mandiri (6,12%). Sementara itu, jika dilihat dari banyaknya jumlah barang
yang diimpor, Aries Indo Global dan Maju Express Indonesia merupakan

47

importir yang mengimpor dalam jumlah terbesar namun dengan kategori


CPE Low-End. Kedua importir ini juga sekaligus sebagai pemegang merk yaitu
merk EverCross dan MITO.

IMPORTIR CPE TELEKOMUNIKASI


Jumlah Perangkat

Lainnya

0,40%
2,02%

Lenovo Indonesia

1,20%
2,29%

Maju Express Indonesia


Sinar Eka Selaras
Aries Indo Global
Smart Telecom
Parastar Echorindo
Teletama Artha Mandiri
Trikomsel Oke Tbk
Erajaya Swasembada Tbk
Samsung Electronics Indonesia

Market Share

11,45%
3,20%
0,37%
3,45%
20,30%
4,29%
2,95%
4,46%
6,12%
5,21%
2,35%
6,12%
7,41%
9,68%
9,28%
12,00%
11,64%

GAMBAR 16 IMPORTIR P ERANGKAT TELEKOMUNIKASI


P ERDAGANGAN , 2012 SD SEPTEMBER 2014, DIOLAH )

30,18%

(SUMBER :

KEMENTERIAN

Dari data tersebut, secara keseluruhan peta industri Indonesia dapat


digambarkan sebagaimana Gambar 4-10. Brand owner dibandingkan
dengan mengimpor produknya dapat mengolah sendiri di Indonesia dengan
memesannya kepada value chain pertama yaitu Tata Sarana Mandiri yang
mampu membuat design house untuk perangkat ini. Konsep tersebut
kemudian diberikan kepada System Integrator untuk dibuat design jadi
perangkat, design industri nya dan komponen yang dibutuhkan. Selanjutnya,

48

proses produksi dapat dilakukan secara paralel jika diperlukan produksi yang
masif kepada manufaktur. Proses selanjutnya adalah proses advertensi dan
marketing yang diserahkan kepada pemegang modal yaitu distributordistributor pemilik gerai di Indonesia.

Design
House
Tata Sarana
Mandiri

System
Integrator
SatNusa
Polytron

Manufaktur
SatNusa
Polytron
Panggung

Brand
Owner
IVIO
Polytron
Advan
MITO
SPC
EverCross
AsiaFone
TI-Phone

Retailer
Erajaya
Trikomsel
Teletama Artha
Mandiri
Parastar

GAMBAR 17 P ETA INDUSTRI TELEKOMUNIKASI BERDASARKAN VALUE-CHAIN

Peta Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi dalam Negeri


TABEL 9 P ETA P OTENSI K EMAMPUAN LOKAL INDUSTRI PERANGKAT JARINGAN
T ELEKOMNIKASI
Elemen
Radio
Network
Infrastructure

Penyedia Eksisting
Huawei,
NSN,
ZTE,
Samsung
Telecomunication,
Ericsson

Billing
Platform
Network
Solution

Amdocs, Acision

Service
Management
dan SIM-Card

Huawei,
NSN,
ZTE,
Samsung
Telecomunication,
Ericsson
Huawei,
NSN,
ZTE,
Ericsson, PT. LEN, Xirca
Chipset

Potensi Kemampuan Lokal


PT
Hariff
Daya
Tunggal
Engineering,
PT
Industri
Telekomunikasi Indonesia, PT
Compact
Microwave
Indonesia, Versatile Silicon, PT
Teknologi Riset Global dan PT.
Fusi Global Teknologi
PT
Industri
Telekomunikasi
Indonesia
PT LEN Industri (Persero)

PT LEN Industri (Persero), PT Xirka


Silicon Technology,

Di Indonesia, terdapat beberapa yang dikategorikan sebagai perusahaan


perekayasa elektronika, beberapa diantaranya telah dikumpulkan dalam
[25] dan [26]. Dari hasil pengumpulan data, terkait dengan indutri perangkat

49

telekomunikasi, dapat dikategorikan berdasarkan value-chain industri ini


beserta kemampuan lokal yang dimilikinya (Tabel 4-4).

Radio Network Infrastructure


Industri lokal yang memiliki potensi sebagai value-chain pada industri ini yaitu
PT Hariff Daya Tunggal Engineering, PT Industri Telekomunikasi Indonesia, PT
Compact Microwave Indonesia, Versatile Silicon, PT Teknologi Riset Global
dan PT. Fusi Global Teknologi. PT. INTI sendiri secara portofolio telah
mengerjakan beberapa produk jaringan telekomunikasi termasuk WiMax,
sementara PT. CMI Indonesia telah mampu membuat perangkat komunikasi
pertahanan termasuk design antena dan radio. Versatile Silicon, PT. Teknologi
Riset Global, Fusi telah mampu mendesign chipset untuk perangkatperangkat jaringan telekomunikasi.

Billing Platform
Billing Platform merupakan hal krusial dalam industri telekomunikasi seluler
yang mencatata dan merekam proses pembayaran dan penagihan ke
konsumen sekaligus menyediakan solusi paripurna dalam pendapatan
operator. Sampai dengan saat ini, platform pembayaran yang dipakai
dalam industri telekomunikasi seluler seperti Amdocs dan Acision. Untuk
industri lokal, dilihat dari portofolionya PT. INTI pada prinsipnya mampu
membuat platform untuk billing tersebut. Kesulitan untuk masuk ke dalam
pasar ini dikarenakan barrier-entry dari pemain lama seperti technologylocking dan legacy system yang membuatnya sulit untuk berubah.

Network Solution
Saat ini, Network Solution menjadi satu dengan vendor industri jaringan
telekomunikasi seperti Huawei, NSN, ZTE, Samsung Telecomunication, Ericsson.
Berdasarkan protofolionya PT. LEN memiliki kemampuan dalam hal ini seperti
perancangan jaringan, network dimensioning, dan solusi jaringan lainnya.

Service Managemen dan SIM-Card


Managed

Service

biasanya

terintegrasi

dengan

industri

jaringan

telekomunikasi seperti Huawei, NSN, ZTE, Samsung Telecomunication, Ericsson.


Industri lokal yang memiliki pengalaman dalam managed service yaitu INTI.
Salah satu valu-chain dalam industri ini yang tidak kalah pentingnya yaitu SIMCard yang menyediakan dan merancang komponen kartu dengan

50

permintaan yang sangat tinggi. Perusahaan lokal yang memiliki kemampuan


ini yaitu Xirka. Pada satu sisi, industri SIM-Card memiliki pasar yang sangat
tinggi, di lapangan ditemui bahwa industri ini berjalan tidak sehat
dikarenakan perusahaan asing menjual harga produknya di bawah harga
produksi sehingga berpotensi mematikan industri lokal.

51

52

Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan


Ancaman Industri Telekomunikasi
Indonesia
Industri Perangkat CPE Telekomunikasi
Dengan melihat gambaran umum industri perangkat handset telekomunikasi
seluler di Indonesia dan dengan melihat peta rantai supply yang ada
berdasarkan model sebelumnya, maka kekuatan, kelemahan, peluang dan
ancaman industri perangkat handset telekomunikasi seluler di Indonesia
dapat digambarkan pada tabel 5-1. Secara umum, Indonesia sudah lengkap
memiliki value chain yang ada, bahkan Indonesia memiliki perusahaan
Design-House yang merupakan satu-satunya di Asia-Tenggara, selain itu
captive market yang cukup besar sekitar 300 juta pelanggan dengan prediksi
pada tahun 2014.
Di sisi lain, walaupun value-chain tersebut sudah lengkap, namun industri
yang ada di Indonesia belum terintegrasi satu sama lain sehingga industri ini
belum masif untuk mencapai economic scale. Selain itu, industri masih
berfokus pada sisi marketing dan manufaktur dan belum membuat design
perangkat.
Industri di Indonesia pada dasarnya memiliki peluang untuk tumbuh
dikarenakan nilai industri cukup besar yaitu berdasarkan prediksi [3] sebesar
54 milyar selama 1 tahun dengan usia handset rata-rata di bawah 12 bulan.
Selain itu dengan melihat tren pertumbuhan yang cukup signifikan dari tahun
ke tahun. Jika melihat tren teknologi, Industri di Indonesia memiliki peluang
dengan adanya life-cycle teknologi baru yaitu 4G, dimana dapat
menyediakan bisnis proses baru serta permintaan perangkat baru.
Adapun ancaman industri ini yaitu banyaknya produk impor dengan merkmerk yang sudah diakui secara internasional. Selain itu dengan Indonesia
masuk kedalam perjanjian ICT Trade Aggrement dari WTO, maka produk
impor lebih diminati dikarenakan bea masuknya yang 0%.
TABEL 10 ANALISIS SWOT INDUSTRI PERANGKAT CPE TELEKOMUNIKASI INDONESIA

53

Strength

Secara Produk
Modularity,
Indonesia sudah
lengkap memiliki
vendor yang
memiliki subsystem yang
ada
Indonesia
memiliki DesignHouse yang
merupakan
satu-satunya di
Asia-Tenggara
Jumlah
pelanggan
yang sangat
besar dengan
pasar potensial
(captive
market) sekitar
300 juta
pelanggan
seluler

Weakness

Masih belum
terintegrasinya
supply-chain
yang ada
Belum masifnya
manufaktur
dalam negeri
dikarenakan
lebih banyak
melakukan
impor
(rendahnya
economic
scale)
Fokus industri
hanya pada di
sisi manufaktur
dan marketing,
sementara dari
sisi design house,
dan system
integrator masih
kurang (ODM).

Opportunity

Pasar handset
telekomunikasi
cukup besar
senilai 54 milyar
selama 1 tahun
dengan usia
handset ratarata selama 1
tahun
Pertumbuhan
jumlah
pelanggan
yang cukup
signifikan dari
tahun ke tahun
Perubahan
teknologi 3G ke
4G memberikan
Life-cycle baru
untuk industri
telekomunikasi.

Thread

Serbuan produk
impor dalam
negeri
Ancaman merk
yang lebih
terkenal secara
internasional
Perjanjian ITA
yang lebih
menguntungkan
impor, dari
pada
manufaktur di
dalam negeri
Belum kuatnya
regulasi untuk
mendukung
pertumbuhan
industri ini

Pengembangan
industri di
Indonesia masih
mindset
traditional
manufaktur
Belum banyak
industri
komponen di
dalam negeri

Dari sisi regulasi, masih terdapat beberapa kekurangan untuk menumbuhkan


industri ini. Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor
82/M-DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer
Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet dan Peraturan Menteri

54

Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/M-DAG/PER/8/2013 tentang


Perubahan

Atas

Peraturan

Menteri

Perdagangan

Nomor

82/M-

DAG/PER/12/2012 Tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer


Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet mendefinisikan produk impor
adalah produk yang dimasukan ke dalam Daerah Pabean, bukan dilihat dari
negara asal produk. Namun jika mengacu kepada Peraturan Menteri
Keuangan Nomor: 47/PMK.04/2012 Tentang Tata Laksana Pemasukan Dan
Pengeluaran Barang Ke Dan Dari Kawasan Yang Telah Ditetapkan Sebagai
Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Dan Pembebasan
Cukai mendefinisikan Kawasan Bebas terpisah dari Daerah Pabean dan
aturan Perindustrian mendefinisikan produk dalam negeri adalah barang
yang diproduksi oleh perusahaan yang berinvestasi dan berproduksi di
wilayah kedaulatan Indonesia (NKRI). Sehingga produk yang diproduksi di
Kawasan Bebas Indonesia, walaupun memiliki TKDN, tetap dianggap produk
impor saat dikirim dari Kawasan Bebas ke Daerah Pabean Indonesia. Selain
itu, Peraturan perundang-undangan yang ada selama ini berasumsi bahwa
produsen ponsel itu terintegrasi vertikal. Pada kenyataannya industri ponsel
dunia terbagi-bagi secara modular atau terspesialisasi horizontal untuk
mengejar economic of scales. Konsekuensi dari aturan yang ada, hanya
mengidentifikasi produsen ponsel brand owner atau importir, sementara
value chain industri ponsel yang lain tidak terakomodasi.
Terkait dengan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
industri perangkat handset telekomunikasi seluler di Indonesia tersebut,
terdapat beberapa strategi untuk industri di Indonesia (Tabel 5-2). Hal ini
selain untuk mendorong industri dalam negeri juga untuk mengurangi defisit
impor untuk produk ini. Beberapa strategi yang dapat dilakukan yaitu dari
pihak industri dapat melakukan penguatan brand lokal dan menciptakan
variasi brand sasaran pasar terutama penguatan posisi pasar untuk tren
terbesar dari sisi harga yaitu dengan rentang mid-end device. Hal ini
sebagaimana dibahas sebelumnya bahwa tren perangkat telekomunikasi di
Indonesia menuju ke perangkat middle-end.

TABEL

0-11

S TRATEGI

SWOT

INDUSTRI

PERANGKAT

HANDSET

TELEKOMUNIKASI

SELULER INDONESIA

Strategi

Strength

Weakness

55

Opportunity
Penguatan brand lokal dan
menciptakan variasi brand
sasaran pasar
Penguatan posisi pasar untuk
tren terbesar dari sisi harga
yaitu dengan rentang mid-end
device

Mewajibkan brand luar


memiliki salah satu sub-system
supply chain di Indonesia
terutama untuk design dan
riset.

Thread
Menerapkan TKDN yang dapat
melindungi pasar dalam negeri
terutama porsi TKDN untuk R&D
seperti design house dan
system-integrator

Penguatan supply-chain
dalam negeri dengan insentif
untuk komponen perangkat

Insentif pajak bagi sub-system


yang membuka salah satu subsystem supply chain di dalam
negeri
Strategi bundling operator
dalam negeri untuk pemasaran
produk TKDN dalam negeri

Dari sisi pemerintah dapat mendorong dengan menerapkan TKDN yang


dapat melindungi pasar dalam negeri terutama porsi TKDN untuk R&D seperti
design house dan system-integrator. Selain itu dengan insentif pajak bagi subsystem yang membuka salah satu sub-system supply chain di dalam negeri.
Pemerintah juga dapat menyediakan pasar untuk industri dalam negeri
dengan strategi bundling operator dalam negeri untuk pemasaran produk
TKDN dalam negeri. Pemerintah juga dapat membuat kebijakan untuk
mewajibkan brand luar memiliki salah satu sub-system supply chain di
Indonesia terutama untuk design dan riset, hal ini agar adanya transfer
knowledge untuk industri ini dan penguatan supply-chain dalam negeri
dengan insentif untuk komponen perangkat. Hal ini dikarenakan jika
dibandingkan dengan membuat di dalam negeri, maka opsi melakukan
impor lebih murah dikarenakan bea masuk untuk komponen ini masih besar.

56

Industri Perangkat Jaringan Telekomunikasi


TABEL 12 ANALISIS SWOT INDUSTRI PERANGKAT JARINGAN T ELEKOMUNIKASI INDONESIA
Strength

Weakness

Opportunity

Pertumbuhan
jumlah
pelanggan
yang cukup
signifikan dari
tahun ke tahun,
sehingga
menjamin pasar
telekomunikasi
dapat tumbuh

Masih belum
terintegrasinya
kemampuan
industri yang
ada untuk
membuat
produk jaringan
telekomunikasi

Perubahan
teknologi 3G ke
4G memberikan
Life-cycle baru
untuk industri
telekomunikasi.

Struktur valuechain pasar


masih bertipe
Hierarcy atau
vendor
menguasai
semua lini

Thread

Barrier-to-entry
vendor industri
eksisting

Indonesia
memiliki potensi
industri lokal
untuk membuat
perangkat
jaringan
telekomunikasi

Terkait dengan industri perangkat jaringan telekomunikasi di Indonesia


identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman tergambar dalam
Tabel 5-1. Identifikasi tersebut didasarkan pada gambaran umum industri ini
serta peta industri ini di Indonesia secara value chain. Industri di Indonesia
pada dasarnya diuntungkan oleh pertumbuhan telekomunikasi yang diiringi
dengan jumlah pelanggan, sehingga hal ini menjamin pasar untuk industri ini
tetap dapat tumbuh. Selain itu, dilihat dari portofolio industri yang ada
Indonesia memiliki kesempatan untuk bermain dalam industri ini. Namun disisi
lain, dapat dilihat bahwa belum terintegrasinya kemampuan industri ini
sehingga pembuatan produk jaringan telekomunikasi belum terwujud. Selain
itu, struktur value-chain untuk industri ini masih bersifat Hierarki atau verticaly
integrated dimana satu vendor menguasai semua lini. Dengan adanya hal
tersebut, vendor incumbent memasttikan adanya barier to entry untuk pasar
ini. Kesempatan industri Indonesia terletak pada lyfe-cycle teknologi baru
yaitu 4G dimana kesempatan operator untuk mengupgrade atau mengganti
perangkatnya dikarenakan kebutuhan bandwidht yang terus meningkat.

57

TABEL 13 STRATEGI SWOT INDUSTRI PERANGKAT TELEKOMUNIKASI INDONESIA


Strategi

Strength

Weakness

Memisahkan industri lokal


perangkat jaringan
telekomunikasi dalam pasar
sekarang untuk melindungi dan
mendorong tumbuhnya
economic scale perusahaan
dengan melibatkannya di
dalam industri pertahanan

Mewajibkan brand luar


memiliki salah satu sub-system
supply chain di Indonesia

Menerapkan TKDN yang dapat


melindungi pasar dalam negeri
terutama porsi TKDN yang
berbasis inovasi seperti R&D

Penguatan supply-chain
dalam negeri dengan insentif
untuk komponen perangkat

Opportunity

Thread

Memberikan insentif bagi


operator yang menggunakan
produk dengan TKDN yang
tinggi

Untuk mendorong tumbuhnya industri lokal, beberapa strategi yang dapat


dilakukan terkait identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
tersebut yaitu dari pemerintah hendaknya memisahkan industri lokal
perangkat jaringan telekomunikasi dalam pasar sekarang untuk melindungi
dan

mendorong

tumbuhnya

economic

scale

perusahaan

dengan

melibatkannya di dalam industri pertahanan. Hal ini dikarenakan untuk


menghindari barrier to entry industri ini. Dengan dimasukkannya industri ini
dalam kateogori pertahanan dapat menumbuhkan kepercayaan diri
produsen lokal serta melindungi industri lokal yang baru tumbuh terutama dari
sektor telekomunkasi ini. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk
konsorsium industri pertahanan telekomunikasi yang dapat menjadi wadah
agar industri-industri dalam negeri mempunyai portofolio dan pasar yang
terlindungi

dalam

mengembangkan

produk

telekomunikasi.

Setelah

konsorsium tersebut tumbuh, pemerintah kemudian dapat melepaskan


mereka ke dalam persaingan pasar industri telekomunikasi yang ada dengan
skema insentif dan pengawasan tertentu.

58

Hal yang dapat dilakukan selanjutnya yaitu dengan mewajibkan brand luar
memiliki salah satu sub-system supply chain di Indonesia, terutama bidang
riset dan design perangkat. Hal ini dilakukan agar proses transfer knowledge
untuk industri ini dapat berjalan, selain itu hal ini dimaksudkan untuk
memindahkan industri berbasis knowledge ke Indonesia yang memiliki nilai
tambah besar.
Kebijakan lainnya yang dapat diambil dengan menerapkan TKDN yang
dapat melindungi pasar dalam negeri terutama porsi TKDN yang berbasis
inovasi

seperti

R&D

dan

memberikan

insentif

bagi

operator

yang

menggunakan produk dengan TKDN yang tinggi serta penguatan supplychain dalam negeri dengan insentif untuk komponen perangkat. Hal ini
dilakukan agar efek insentif tersebut menjadi efek domino untuk peningkatan
industri di Indonesia.

59

60

Rekomendasi Pengembangan Industri


Perangkat Telekomunikasi
Pada satu sisi, Indonesia terikat pada perjanjuan Information Technology
Aggrement [19], dimana pajak impor masuk untuk barang TIK bernilai 0%,
sehingga sulit melakukan barrier impor perangkat ini. Walaupun Penerimaan
Negara Bukan Pajak dari sektor ini yang hanya 10,8 trilliun pada tahun 2013,
namun nilai impor hanya untuk industri handet sekitar USD 2,5 juta setiap
tahunnya atau sekitar Rp 30 Triliun, sementara menurut [3], nilai pasar
perangkat ini sekitar Rp 54 Triliun, sehingga terdapat margin hampir 50% dari
industri ini.
Pada satu sisi terdapat ketimpangan jika perangkat ini dimanufaktur di
Indonesia. Pemerintah mengenakan pajak masuk untuk impor komponen
perangkat telekomunikasi antara 5% - 7.5%, sehingga terdapat selisih harga
antara barang jadi dan barang yang dirakit di luar negeri yang
mengakibatkan kecenderungan untuk langsung mengimpor produk ini dari
negara lain.
Untuk

mengembangkan

industri

perangkat

telekomunikasi

tersebut,

pemerintah dapat melakukan beberapa strategi untuk meningkatkan


kontribusi ke Negara. Jika pengenaan pajak masuk untuk perangkat
telekomunikasi tidak dapat dilakukan dikarenakan ITA, negara dapat
mengintensifkan

penerimaan

melalui

industri

berbasis

inovasi

dan

mendorong penciptaan Value Network. Selain itu, pemerintah dapat


memberikan Carrot Incentive atau insentif implisit dengan PNBP selaku
enabler nya.

Mendorong Industri Berbasis Inovasi


Dalam diagram smile of value creation atau value chain disaggregation
(Gambar ), secara empiris [27] medeskripsikan bahwa nilai tambah elemen
value chain paling besar berada pada industri berbasis inovasi yaitu fokus
pada Riset atau Marketing. Terkait dengan hal tersebut, pada rantai suplply
industri perangkat telekomunikasi, untuk meningkatkan potensi nilai tambah,
negara dapat mendorong pengembangan industri pada 2 elemen rantai
supply ini yaitu dengan memperbanyak value chain yang berbasis riset yaitu

61

Design House dan System Integrator serta mendorong tumbuhnya merk-merk


baru dengan sasaran marketing yang inovatif.

GAMBAR 18 K ONSEP VALUE CHAIN DISAGGREGATION ATAU SMILE OF VALUE CREATION


[27]
Jika dikaitkan dengan pengenaan pajak sebagai komponen penerimaan
negara dalam industri ini, pengenaan pajak komponen dengan melihat
diagram value chain disaggregation cenderung menghasilkan nilai yang
lebih rendah. Dalam rangka mendorong industri perangkat telekomunikasi ini
untuk maju dan meningkatkan potensi penerimaan negara, negara pertama
dapat fokus untuk memberikan insentif pada 2 elemen value chain yang
menghasilkan added-value yang lebih besar, terutama pada bidang Design
House dan System Integrator. Pemberian insentif ini dapat berupa nilai
prosentase nilai TKDN yang lebih besar, sementara untuk manufaktur atau
pendirian pabrik diberikan prosentase nilai TKDN yang relatif di bawah R&D
misalnya penggunaan komponen. Kewajiban pendirian pabrik di Indonesia
dalam hal ini hanya akan meningkatkan jumlah tenaga kerja, namun memiliki
value leverage yang relatif kecil. [27] juga berargumen bahwa kebangkitan
ekonomi justru dengan mengkoneksikan value-chain dengan luar negeri,
sehingga

pengenaan

pajak

terhadap

komponen

ini

justru

akan

memperlambat industri.
Dari sisi perangkat jaringan telekomunikasi, pemerintah perlu mendorong dan
memberikan insentif untuk perusahaan-perusahaan Penanam Modal Asing
untuk bekerja sama dalam bidang R&D. Selain itu, perlunya memisahkan

62

elemen-elemen value-chain industri perangkat jaringan telekomunikasi yang


berbasis industri inovasi seperti Billing Platform, Network Solution dan Service
Management untuk dikelola dalam negeri. Selama ini, rantai supply pada
value ini dengan mindet vertical-oriented dimana vendor cenderung
menyediakannya secara one-stop-solution yaitu antara Radio Network
Infrastructure, Billing Platform, Network Solution dan Service Management
dalam satu paket, sehingga kecenderungan locking service begitu tinggi. Di
sisi lain, pemerintah perlu mengatur open-platform compatibility untuk industri
ini, sehingga operator tidak dikunci untuk salah satu jenis perangkat dan sulit
untuk berpindah ke pada perangkat merk lain.
Hal kedua, shifting penerimaan dari pajak per-komponen dapat dikurangi
untuk menaikkan daya tarik pasar terhadap harga barang untuk industri lokal.
Dengan hal ini dari sisi penjualan yaitu marketing, iklan, dan layanan purna
jual yang memiliki value added yang lebih besar dapat tumbuh sehingga
setelah industri ini berkembang pemerintah cenderung memiliki penerimaan
yang lebih besar.

Tingkat Kandungan Dalam Negeri berbasis Inovasi


Secara umum Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dihitung berdasarkan
prosentase material yang dihasilkan di dalam negeri [28], [29]. Pada satu sisi,
dengan cara ini dapat membatasi arus impor dalam negeri dengan
mengutamakan komponen dari dalam negeri, namun di sisi lain koneksi
value-chain dengan luar negeri untuk kebangkitan ekonomi dari sektor ini
justru dengan semakin berkurang [27].
Terkait dengan hal tersebut, pemerintah sebaiknya dapat menempatkan
industri di Indonesia berdasarkan spesialisasinya, sehingga kewajiban
membangun industri dalam negeri dapat disiasati dengan mengintensifkan
industri manufaktur dalam negeri untuk memperkuat Economic Scale
industri lokal [30].
Pola TKDN pun dapat diubah dari yang berbasis komponen menjadi TKDN
berbasis inovasi atau berbasis Riset dan Design perangkat. Hal ini dikarenakan
Inovasi memiliki value-added yang lebih besar dibandingkan manufaktur
[27]. Pada satu sisi, manufaktur dapat mengurangi tenaga kerja, namun di sisi
tenaga kerja kasar atau buruh, di sisi lain manufaktur hanya mendapatkan
value-added yang kecil. Prosentase untuk TKDN kemudian porsinya dapat
dibagi yaitu Inovasi: Manufaktur 25% berbanding 75%. Hal ini selain untuk

63

mengurangi Degree of Assimetry [4] juga bertujuan agar terdapat proses


transfer knowledge teknologi ke Indonesia, memindahkan industri berbasis
knowledge ke Indonesia yang memiliki nilai tambah besar dan mendorong
proses inovasi dibandingkan manufaktur/tenaga buruh.

Mendorong Berubahnya Tipe Value Chain


Perubahan tipe value chain pada dasarnya untuk mengurangi Degree of
Asimetry atau ketergantungan pada salah satu perusahaan. Selain itu, hal
ini dapat mengurangi biaya produksi [12]. Berdasarkan kategori value-chain
[4], tipe pasar perangkat telekomunikasi di Indonesia dapat dikategorikan
tipe Relational dimana masih dominannya hubungan Lead Firm dan
Supplier, sebagai contoh hubungan antara Manufaktur dan Brand Owner
(Supplier). Untuk mengurangi Degree of Asimetry dan untuk mengurangi
biaya pembuatan handset, pemerintah dapat mendorong berubahnya
value-chain di Indonesia dari tipe Relational ke Modular [12]. Perubahan ini
bertujuan untuk menciptakan Economic of Scale perusahaan. Peningkatan
skala

ekonomis

produk

yang

dihasilkan

pada

prinsipnya

untuk

memaksimalkan margin perusahaan dengan cara menyediakan pasar bagi


masing-masing rantai supply. Akibat dari peningkatan skala ekonomis
tersebut dapat dapat miningkatkan kemandirian industri dalam negeri.
Jika melihat dari tipe pasar perangkat telekomunikasi di Indonesia, dapat
dikategorikan sebagai value-chain yang bersifat Hierarcy. Hal ini dikarenakan
dalam satu industri menguasai semua lini dari Hulu ke Hilir (vertically
integrated) misalnya vendor perangkat telekomunikasi menguasai dari sisi
Radio Infrastructure Network, Billing System, Network Planning sampai dengan
Managed Services. Untuk mengurangi Degree of Asimetry dalam rangka
menekan ketergantungan terhadap vendor dapat dilakukan dengan
mendorong value-chain di Indonesia dari tipe Hierarcy ke Captive dengan
cara menarik industri berbasis R&D ke Indonesia.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbesar prosentase nilai TKDN
untuk bidang Riset dan Design terutama untuk SDM tenaga kerja baik untuk
Perangkat Jaringan Telekomunikasi dan Perangkat Handset Telekomunikasi
yang dilakukan di dalam negeri. Hal ini bertujuan sebagai proses transfer
knowledge

teknologi, memindahkan

industri berbasis

knowledge

ke

Indonesia yang memiliki nilai tambah besar, dan mendorong proses inovasi
dibandingkan manufaktur/tenaga buruh. Selain itu dengan mewajibkan

64

perusahaan perangkat telekomunikasi dengan membuka standar protokol


koneksi.

Menciptakan Value
Telekomunikasi

Network

dalam

Industri

Perangkat

Untuk berubah dari value chain tradisional ke value network pemerintah


dapat menumbuhkan industri-industri kreatif yang fokus pada pertumbuhan
konten [5], [7]. Intensifikasi jaringan perlu ditingkatkan daripada meluaskan
jaringan dengan peningkatan hubungan ke pelanggan. Di sisi lain, seperti
dalam kasus di Jepang [7], pemerintah perlu memberikan insentif untuk
industri-industri konten dalam negeri seperti industri musik, video, publishing,
retail dan tiket dan penyiaran.
Di Indonesia sendiri 36% akses konten melalui handset adalah situs SocialNetworking dan situs yang paling sering diakses yaitu Google[31]. Selain itu,
online-shoping merupakan salah satu tren akses di Indonesia seperti akses
TokoBagus dan Kaskus yang menempati posisi 15 besar situs yang sering
diakses [31]. Terkait dengan pola tersebut, merupakan salah satu hal yang
potensial untuk menumbuh kembangkan industri berbasis konten dalam
negeri.
Salah satu momentum dalam perubahan yang mendukung penciptaan
industri jasa ini yaitu dengan peningkatan investor terhadap start-up
Indonesia. Investasi ke-6 terhadap start-up industri kreatif Tokopedia sebesar
USD 100jt merupakan bukti pengakuan potensi pasar di Indonesia [32],
sehingga perlunya pemerintah tetap menjaga momentum ini untuk
menciptakan Value Network dalam membangkitkan industri telekomunikasi.
Pada kenyataannya shifting value chain ke value network dengan 7
perubahan pola umum pasar berlanjut [7], sehingga untuk memberikan nilai
tambah pada industri telekomunikasi dengan mengintensifkan infrastruktur
yang ada dengan memberi nilai tambah pada industri ini.

Bentuk Insentif Negara


Secara umum, perkembangan telekomunikasi di Indonesia berdampak
positif dengan menyumbang rata-rata 10 triliun rupiah selama setahun [2],
namun di sisi lain menghasilkan defisit neraca perdagangan sebesar 24 triliun
rupiah pertahun. Dalam mengurangi defisit neraca perdagangan dari sektor
telekomunikasi, salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan

65

melakukan

penggelaran

infrastruktur

telekomunikasi

dengan

memperbanyak value chain dalam negeri, baik dari sisi konten dengan
menumbuhkan value-network maupun dengan mengubah struktur value
chain dalam negeri dengan mengembangkan industri komponen perangkat
telekomunikasi dalam negeri.
Untuk menumbuhkan hal tersebut, pemerintah dapat memberikan insentif.
Insentif tersebut dapat berupa Carrot (penghargaan) atau Stick (hukuman)
dimana hal yang perlu diperhatikan bahwa kedua jenis insentif tersebut
merupakan sistem yang saling bersubtitusi bukan saling melengkapi [33],
sehingga pemberian carrot incentive lebih efisien tanpa diabungkan dengan
dengan Stick.
Salah satu skema insentif yang dapat diberikan dengan menggunakan
instrumen Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHP). Pengurangan BHP ini
dapat

dilakukan

dengan

syarat

Operator

Telekomunikasi

telah

menggunakan infrastruktur Telekomunikasi dengan TKDN di atas dari yang di


wajibkan dalam regulasi atau penggunaan bundling handset telekomunikasi
oleh Operator Telekomunikasi dengan jumlah penjualan tertentu. Hal ini
bertujuan untuk menyediakan pasar untuk handset produksi dalam negeri.
Selain itu, dengan cara ini pemerintah menggunakan operator sebagai
indirect catalyst untuk yang memiliki daya tawar yang besar.

Mencegah Barrier-to-Entry dalam Menumbuhkan Industri Dalam


Negeri
Barrier

to

entry

merupakan

pencegahan

industri

incumbent

untuk

mendapatkan profit normal tanpa adanya entry baru [34]. Pencegahan ini
merupakan berupa biaya yang dikeluarkan oleh incumbent untuk menjegah
pemain baru. Biasanya barrier to entry berbentuk keuntungan incumbent
dalam Scale of Economic sehingga membuat proses produksi lebih efisien.
Namun disisi lain selain hal tersebut [35] berpendapat bahwa loyalitas
terhadap brand membantu dalam mengurangi barrier-to-entry.
Jika dilihat industri perangkat telekomunikasi Indonesia, baik Industri CPE
Telekomunikasi maupun industri jaringan telekomunikasi, pemain-pemain
incumbent memiliki skala keekonomian yang sudah cukup untuk mencegah
industri lokal masuk. Di satu sisi, pemerintah melalui kebijakan [28] mewajibkan
importir membangun industri perangkat CPE dengan maksud untuk

66

mengurangi defisit impor di dalam negeri, namun di sisi lain kebijakan untuk
menumbuhkan Economic of Scale industri dalam negeri belum dibangun.
Industri-industri jaringan incumben seperti Huawei, NSN, Ericson, Samsung dan
ZTE juga melakukan hal serupa. Dalam hal ini sebagai contoh, untuk Huawei
sebagai incumben terbesar pada industri ini menerapkan harga hampir gratis
atau Rp.1 untuk setiap radio infrastruktur mereka, biaya didapatkan dari
managed-service dan upgrade produk.
Di lini value-chain industri telekomunikasi seperti Chipset telekomunikasi juga
mengalami tekanan terhadap ini. Industri luar negeri seperti Samsung,
Tsinghua Tongfang, EM Micro Electronic terindikasi menekan margin sampai
dengan margin minus untuk mematikan industri dalam negeri. Dalam skala
keekonomisan, industri seperti Xirka sulit berkembangdan bersaing pada
pasar seperti ini. Sehingga, jika industri-industri lokal pada semua lini value
chain ini masuk pada pasar yang sama, hanya akan membuang modal
perusahaan tersebut.
Barrier-to-entry ini menyebabkan industri lokal tidak bisa mengembangkan
produk dan berekspansi dengan produk dengan nilai tambah tinggi, selain
itu dikarenakan kecenderungan nilai import yang besar sehingga tenaga
kerja terdidik tidak termanfaatkan dan tidak terbentuknya ekosistem industri
di Indonesia.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah dapat memisahkan industri perangkat
telekomunikasi lokal yang baru tumbuh dengan pasar yang ada, salah
satunya dengan melibatkan industri perangkat telekomunikasi ini sebagai
industri pertahanan. Dalam Bagian Keenam Undang-Undang tersebut
dijelaskan untuk Perluasan Usaha dan Peningkatan Kapasitas Produksi [36] ,
pemerintah dapat menunjuk dan melindungi industri ini.
Hal ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri produsen lokal dan melindungi
industri lokal yang baru tumbuh terutama dari sektor telekomunkasi ini.
Pemerintah

dapat

membentuk

konsorsium

industri

pertahanan

telekomunikasi yang dapat menjadi wadah agar industri-industri dalam


negeri

mempunyai

portofolio

dan

pasar

yang

terlindungi

dalam

mengembangkan produk telekomunikasi. Setelah konsorsium tersebut


tumbuh, pemerintah kemudian dapat melepaskan mereka ke dalam
persaingan pasar industri telekomunikasi yang ada dengan skema insentif
dan pengawasan tertentu.

67

68

Penutup

Simpulan
Industri perangkat telekomunikasi Indonesia secara umum dapat dibagi
menjadi 3 entitas besar yaitu Industri Perangkat Customer Premises Equipment
Telekomunikasi, Industri Jaringan Telekomunikasi dan Industri Konten atau
Over the Top. Secara elemen value-chain, Industri CPE telekomunikasi
Indonesia sudah tergolong lengkap namun masih bertipe relational dimana
ketergantungan kuat antara merk dan manufaktur. Untuk mengurangi biaya,
pemerintah perlu mendorongnya ke tipe value chain modular dengan
mengintensifkan masing-masing value-chain.
Industri perangkat jaringan telekomunikasi Indonesia bersifat hierarcy karena
dikerjakan dari hulu ke hilir (vertically integrated) dan pasar 100% dikuasai
oleh penanam modal asing. Dalam rangka mengurangi Degree of Asimetry
untuk pasar ini pemerintah dapat mendorong dari tipe Hierarcy ke Captive
dengan cara menarik industri berbasis R&D ke Indonesia. Indonesia sendiri
juga memiliki potensi untuk pembuatan perangkat jaringan telekomunikasi ini
dilihat dari portofolio yang ada.

Saran
Walaupun perkembangan telekomunikasi berkontribusi positif dan langsung
terhadap APBN negara, di satu sisi, pemerintah perlu mempertimbangkan
untuk membangun industri lokal. Hal ini dikarenakan defisit neraca impor
yang diakibatkan dari sektor ini cukup besar. Beberapa rekomendasi dari
studi ini agar industri perangkat telekomunikasi dapat berkembang yaitu
dengan mendorong industri dari manufaktur ke industri berbasis inovasi salah
satunya dengan mengubah kebijakan TKDN yang berbasis komponen
menjadi TKDN berbasis inovasi. Selain itu, untuk mencegah tingginya degree
of asimetry dalam value-chain industri ini pemerintah harus menggeser tipe
value-chain di industri ini dengan mendorong tumbuhnya value-network
seperti mendorong industri kreatif. Pemerintah juga perlu memberikan insentif
melalui PNBP di sektor yang sama dengan skema Carrot Incentive. Selain itu,

69

pemerintah perlu mensiasati barrier-to-entry dengan rekomendasi membuat


konsorsium industri dan memasukkannya ke dalam industri pertahanan di
bidang telekomunikasi.

70

Lampiran
Merk dan Market Share Produk di Indonesia (Sumber: Kementerian
Perdagangan, 2012 sd. September 2014)
MERK
ACER
ACS
ADVAN
AEDUPAC
AIRTEC
ALCATEL
ALDO
ALFALINK
APPLE
ASIAFONE
ASUS
AXIOO
BEYOND
BLACKBERRY
BLACKFOX
BLACKJELLY
BLUEBERRY
CERRY
CHERRY
CITYCALL
CROSS
CYRUS
DGTEL
DTC
EAGLE
EPAD
EXTREME
FORME
G STAR
G.PLUS
GOSCO
GSTAR
GT
GVON
HAIER
MAXX
HIMAX
HISENSE
HONEYWELL
HP

Market
Share
0,483%
0,001%
1,035%
0,003%
0,006%
0,077%
0,050%
0,006%
6,634%
0,635%
1,206%
0,269%
0,108%
14,129%
0,010%
0,008%
0,016%
0,006%
0,219%
0,003%
4,243%
0,236%
0,005%
0,004%
0,000%
0,026%
0,021%
0,002%
0,000%
0,022%
0,008%
0,178%
0,004%
0,042%
0,011%

MERK

MERK

HTC
HUAWEI
IFONE
IMO
INI
INTERMEC
IT MOBILE
ITU
IVIO
JJ MOBILE
K-FONE
KHAR
KINGBERRY
K-TOUCH
LENOVO
LEXUS
LG
MAXIS
MAXTRON
MICRON
MITO
MIXCON
MMC
MOTOROLA
MOVI
MYFON
MYPHONE
N/A
NEXCOM
NEXIAN
NINETOLOGY
NOKIA
OLIVE
ONECLICK
OPPO

Market
Share
0,368%
0,164%
0,004%
0,194%
0,497%
0,011%
0,019%
0,020%
0,007%
0,003%
0,051%
0,002%
0,026%
0,011%
2,912%
0,007%
1,078%
0,032%
0,757%
0,012%
3,045%
0,000%
0,277%
0,193%
0,165%
0,001%
0,000%
0,236%
0,106%
0,645%
0,014%
15,599%
0,006%
0,005%
1,555%

PIDION
PIXCOM
POINT
POLYTRON
PRINCE
SAMSUNG
SIMTOP
SKY
SMARTFREN
SONY
SPC
SPEED
STEELE
STRAWBERRY
SUNBERRY
TIGER
TI-PHONE
TITAN
TORI
TREQ
VENERA
VERTU
VGEN
V-GEN
VION
VIRTUV
VISIO
VITELL
VIVO
WINMATE
XCOM
XEVIAN
XIAOMI
XPERIA
XTAB

Market
Share
0,012%
0,058%
0,015%
0,586%
0,025%
31,924%
0,004%
0,087%
4,396%
3,246%
0,194%
0,070%
0,072%
0,004%
0,035%
0,056%
0,067%
0,374%
0,001%
0,028%
0,445%
0,000%
0,008%
0,009%
0,013%
0,004%
0,017%
0,062%
0,014%
0,002%
0,011%
0,006%
0,059%
0,010%
0,001%

0,024%
0,076%
0,002%
0,107%

O-RING
PHICOMM
PHICOMN
PHILIPS

0,000%
0,011%
0,010%
0,000%

ZOID
ZTE
ZUPER
ZYREX

0,011%
0,060%
0,020%
0,039%

71

Data Importir Indonesia Berdasarkan Abjad (Kementerian Perdagangan,


2012 sd. September 2014)
29. Csl Indonesia

A
1.

Acer Indonesia

2.

Acer Manufacturing
Indonesia

3.

Akasha Wira International Tbk

4.

Alpha Dunia Online

5.

Alvotel

6.

Aneka Kurnia Indah

7.

Arga Mas Lestari

8.

Aries Indo Global

9.

Artha Comfortindo Perkasa

10. Asibo Sukses Berjaya


11. Astrindo Senayasa
12. Autojaya Idetech
13. Avanta Jaya Mandiri
14. Avnet Datamation Solutions

B
15. Bali Indo Comunication
16. Bangun Persada Tata Makmur
17. Bejana Nusa Agung
18. Berca Cakra Teknologi
19. Berkah Mandiri Sukses
20. Beyond Asia Technology
21. Bina Niaga Multiusaha
22. Bintang Cemerlang

D
30. Daftar Harga Eksim
31. Damai Sejati
32. Data Citra Mandiri
33. Datacomindo Mitrausaha
34. Datascrip
35. Dharma Kumala Utama
36. Dian Graha Elektrika
37. Dini Nusa Kusuma
38. Dua Rajawali
39. Duta Kalingga Pratama
40. Duta Sarana Sukses
41. Dwi Utama Perkasa
42. Dwiprana Ridhojaya
43. Dynatama Internusa

E
44. Ecs Indo Jaya
45. Emax Fortune International
46. Ensco Sarida Offshore
47. Erajaya Swasembada Tbk
48. Esolusindo Kencana

23. Bintang Mahameru Utama

49. Formosa Karya Abadi

24. Bsp Tiga Utama

50. Fpx Indonesia


51. Freshindo Marketama

52. Fujitsu Indonesia

25. Cahaya Citra Infocomm

26. Citra Era Communication


27. Comtech Cellular

53. General Utama Expresindo

28. Comworks Indonesia

54. Global Mobile Technologie

72

55. Global Selular Networks

80. Madya Utama Expresindo

56. Globe Telekom Nusantara

81. Maju Express Indonesia

57. Gvon Nusantara

82. Mandiri Makmur Mahardika


83. Markin Bright Comm

Indonesia

58. Hewlett Packard Indonesia


59. Hidup Gaya Digital
60. Huawei Tech Investment

84. Media Power Technology


85. Mega Mobile Indonesia
86. Megah Abadi Sakti
87. Megasindo Pratama
88. Meghantara Multimedia

Solusindo
61. I Cherry Selular Indonesia

89. Mentari

62. Ilufa Electronic Indonesia

90. Metrotech Jaya Komunika

63. Indo Global Solution


64. Indo Maz Mobile

Indonesia
91. Mikro Teknologi Indonesia

65. Indomac Bhakti Karya

92. Mitra Komunikasi Nusantara

66. Indonesia Oppo Electronics

93. Mitra Telekomunikasi Selular

67. Industri Telekomunikasi

94. Mlw Telecom

Indonesia
68. Ingram Micro Indonesia

95. Mobile Sarana Sentosa


96. Multindo Asia Nusantara

69. Inter Digital Solutions


70. International Trading Co
71. Intersys
72. Inti Dufree Promosindo
73. Inti Gemilang Anugerah

N
97. Naga Mas Kreasi Mandiri
98. Nec Indonesia
99. Nexco Jaya
100. Nipress Tbk
101. Nokia Indonesia

74. Karya Niaga Makmur


75. Konten Indomedia Pratama
76. K-Touch Indonesia

L
77. Lasindo Sakti Indonesia
78. Lenovo Indonesia
79. Lg Electronics Indonesia

O
102. Oaktech Nusantara

P
103. Palliser Indonesia
104. Parastar Echorindo
105. Pasifik Satelit Nusantara
106. Pazia Pillar Mercycom
107. Pelangimas Indonesia

73

108. Persada Centra Digital

137. Techking Enterprises Indonesia

109. Pramatya Digital Telecom

138. Teleplan Indonesia

110. Pramindo Ikat Nusantara

139. Teletama Artha Mandiri

111. Procell Indonesia

140. Tera Data Indonusa

112. Pusara Indo Prima

141. Tiphone Mobile Indonesia Tbk


142. Tranz Global Utama Indonesia

143. Tri Fortuna Indonesia

113. Sakura Jaya Mandiri


114. Samsung Electronics
Indonesia
115. Sarana Kencana Mulya
116. Saverindo Inti Persada
117. Selular Media Infotama
118. Sentra Primer Solusindo
119. Shambala Himalaya Persada
120. Sinar Bintang Nusantara
121. Sinar Eka Selaras
122. Sinar Jaya Sukses Mandiri
123. Sinar Samudra
124. Sistech Kharisma
125. Smart Telecom
126. Solusi Periferal

144. Triduta Mitra Sejahtera


145. Trikomsel Oke Tbk
146. Trinity
147. Trisakti Universal

U
148. Untung Anugrah Sejahtera

V
149. Vagus Multi Technology
150. Venus Inti Jaya
151. Vitell Mobile Indonesia
152. Vizta Telesindo Prakarsa

127. Sony Indonesia


128. Spektrum Mega Persada

153. Wahana Datarindo Sempurna

129. Star Multimedia Abadi

154. Wahana Jaya Selular

130. Sukses Mandiri Aviation

155. Wellcomm Ritelindo Pratama

131. Sumber Karunia Anugerah

156. Wisma Inkopad Indonesia

132. Sumbersolusindo Hitech


133. Supertone
134. Surya Agung Jaya Mandiri
135. Surya Citra Multimedia
136. Synnex Metrodata Indonesia

Z
157. Zellda Unilands
158. Zhou Internasional
159. Zte Indonesia
160. Zyrexindo Mandiri Buana

74

Daftar Pustaka
[1]

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Data Statistik Bidang Pos


dan Telekomunikasi, Semester II - 2010, Jakarta, 2010.

[2]

Ditjen SDPPI, Data Statistik Bidang Pos dan Telekomunikasi, Semester II


- 2013, 2013.

[3]

GfK Asia, GfK Press Release: Southeast Asias Mobile Phones Market
Grew, Singapore, 2012.

[4]

G. Gereffi, J. Humphrey, and T. Sturgeon, The Governance of Global


Value Chains, Rev. Int. Polit. Econ., vol. 12, no. 1, pp. 78104, Feb. 2005.

[5]

J. L. Funk, The emerging value network in the mobile phone industry:


The case of Japan and its implications for the rest of the world,
Telecomm. Policy, vol. 33, no. 12, pp. 418, Feb. 2009.

[6]

K. Conly, Comparative Analysis: Global Mobile Phone Industry, 2010.

[7]

J. Peppard and A. Rylander, From Value Chain to Value Network :


Insights for Mobile Operators From Value Chain to Value Network :
Insights for Mobile Operators, Eur. Manag. J., vol. 24, no. 2, pp. 128141,
2006.

[8]

F. Salvador, Toward a Product System Modularity Construct: Literature


Review and Reconceptualization, IEEE Trans. Eng. Manag., vol. 54, no.
2, pp. 219 240, 2007.

[9]

B. Gangnes, A. Van Assche, and B. Canada, Product Modularity and


the Rise of Global Value Chains : Insights from the Electronics Industry.
Montral: CIRANO, 2011.

[10]

M. Zhang, X. Zhao, and Y. Qi, The Effects of Organizational Flatness,


Coordination, and Product Modularity on Mass Customization
Capability, Int. J. Prod. Econ., vol. 158, pp. 145155, Dec. 2014.

[11]

S. H. Elgazzar, N. S. Tipi, N. J. Hubbard, and D. Z. Leach, Linking Supply


Chain Processes Performance to a Companys Financial Strategic
Objectives, Eur. J. Oper. Res., vol. 223, no. 1, pp. 276289, Nov. 2012.

75

[12]

Y. Kristianto and P. Helo, Product Architecture Modularity Implications


for Operations Economy of Green Supply Chains, Transp. Res. Part E
Logist. Transp. Rev., vol. 70, pp. 128145, Oct. 2014.

[13]

ITU-T, ITU-T Recommendation M.3050 Supplement 4: Enhanced


Telecom Operations Map (eTOM), Ge, 2008.

[14]

J. Anderson and M. Zander, The Changing World of Mobile Device:


Breaking up the Handset Value Chain, 2007.

[15]

R. Scanlon, Aligning Product and Supply Chain Strategies in the Mobile


Phone Industry Signature of Author, Massachusetts Institute of
Technology, 2009.

[16]

Vision Mobile, Terms of re-use Also by VisionMobile, 2013.

[17]

Danish Technological Institute, Study on Internationalisation and


Fragmentation of Value Chains and Security of Supply: Case Study on
Mobile Devices, Rotterdam, 2012.

[18]

detikFinance, Impor Ponsel Turun Sampai Rp 800 Miliar di Februari,


2014.

[Online].

Available:

http://finance.detik.com/read/2014/04/07/081258/2547223/4/1/impor
-ponsel-turun-sampai-rp-800-miliar-di-februari. [Accessed: 07-Oct-2014].
[19]

World Trade Organization, Information Technology Agreement


introduction,

1997.

[Online].

Available:

http://www.wto.org/english/tratop_e/inftec_e/itaintro_e.htm#2.
[Accessed: 29-Sep-2014].
[20]

An. Priskilla and N. Artini, Evaluasi Sistem Informasi Distribusi pada PT.
Ericsson Indonesia, Universitas Bina Nusantara, 2007.

[21]

A. T. Pratiwi, Analisis Atas Kinerja Perusahaan Sebelum Dan Sesudah


Penerapan Balanced Scorecard (Studi kasus pada PT. INTI (Persero)),
Widyatama Repository, 2008. .

[22]

A. S. Wibowo, Laporan Praktek Kerja Lapangan di Bagian Purel (Public


Relations) PT. INTI (Persero), Bandung, 2014.

[23]

BatamPos, Batam Pos IVO, Smartphone Buatan Batam, Ramaikan


Pasar

Ponsel

Pintar,

2014.

[Online].

Available:

76

http://batampos.co.id/05-07-2014/ivo-smartphone-buatan-batamramaikan-pasar-ponsel-pintar/. [Accessed: 07-Oct-2014].


[24]

AntaraNews, Ivo hadirkan ponsel 4G harga terjangkau - ANTARA


News,

2014.

[Online].

Available:

http://www.antaranews.com/berita/442534/ivo-hadirkan-ponsel-4gharga-terjangkau. [Accessed: 07-Oct-2014].


[25]

KabarKita.Org, Perusahaan Rekayasa Elektronika di Indonesia |


Elektrologi,

2013.

[Online].

Available:

http://elektrologi.kabarkita.org/perusahaan-rekayasa-elektronika-diindonesia/. [Accessed: 02-Oct-2014].


[26]

KabarKita.Org, Perusahaan Pendukung Elektronika di Indonesia |


2013.

Elektrologi,

[Online].

Available:

http://elektrologi.kabarkita.org/perusahaan-pendukung-elektronikadi-indonesia/. [Accessed: 02-Oct-2014].


[27]

R. Mudambi, Location, Control and Innovation in Knowledge-Intensive


Industries, J. Econ. Geogr., vol. 8, no. July, pp. 699725, 2008.

[28]

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Ketentuan dan Tata Cara


Penghitungan

Tingkat

Komponen

Dalam

Negeri.

Indonesia:

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2011.


[29]

Menteri Komunikasi dan Informatika, Tata Cara Penilaian Pencapaian


Tingkat

Komponen

Dalam

Negeri

pada

Penyelenggaraan

Telekomunikasi. 2009.
[30]

Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Perubahan Atas Peraturan


Menteri

Perdagangan

Nomor

82/M-DAG/PER/12/2012

tentang

Ketentuan Impor Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld) dan


Komputer Tablet. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 2013.
[31]

Opera Software ASA, State of the Mobile Web: Focus on Indonesia,


2013.

[32]

R. Mamuaya, Pendanaan Masif yang Diperoleh Tokopedia Menepis


Semua Keraguan terhadap Investasi di Bidang Teknologi Indonesia,
Daily

Social,

2014.

[Online].

Available:

http://dailysocial.net/post/pendanaan-masif-yang-diperoleh-

77

tokopedia-menepis-semua-keraguan-terhadap-investasi-teknologiindonesia.
[33]

E. Fehr and K. M. Schmidt, Adding a Stick to the Carrot? The Interaction


of Bonuses and Fines, No. 197, 2007.

[34]

J. S. Bain, Barriers to New Competition. Cambridge: Harvard University


Press, 1956.

[35]

R. P. McAffee, H. M. Mialon, and M. A. Williams, What Is a Barrier to


Entry ?, in AEA Papers and Proceedings, 2004, vol. 91125.

[36]

Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia


tentang Industri Pertahanan. Indonesia: Republik Indonesia, 2012.

78

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Gedung B Lantai 4, Medan Merdeka Barat 9, Jakarta, 10110
e-mail : puslitbang.sdppi@mail.kominfo.go.id
Telp./fax: +62 21 348 33640