Anda di halaman 1dari 4

DEMAM THYPOID

A. Definisi Demam Thypoid


Demam thypoid atau tifoid atau tipus adalah suatu infeksi yang disebabkan
oleh bakteri Samonella typhi (genus salmonella kingdom Enterobacteriaceae dari
bakteri gram negatif ) yang menyerang saluran pencernaan. Demam thypoid dijumpai
di negara berkembang seperti di beberapa negara Asia Tenggara dan Afrika, terutama
di daerah yang kebersihan dan kesehatan lingkungannya kurang memadai. Di
Indonesia, demam tifoid merupakan penyakit endemik (penyakit yang terdapat
sepanjang tahun) dan menduduki peringkat kedua setelah diare. Dapat menyerang
semua golongan umur.
B. Penyebab
Bakteri Salmonella typhi adalah organisme aerobik (membutuhkan oksigen),
tidak berbentuk spora, dan memiliki flagel basil dan dapat ditemukan di dalam tinja
dan air kemih penderita. Penyebaran bakteri ke dalam makanan dan minuman yang
tercemar, baik pada waktu memasak atau pun melalui tangan dan alat masak yang
kurang bersih, bisa juga terjadi akibat pencucian tangan yang tidak bersih setelah
BAB dan BAK. Bakteri dapat masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa ke dalam
peredaran darah. Bakteri salmonella akan diserap oleh usus halus dan menyebar ke
semua organ tubuh terutama hati dan limpa, sehingga terjadi pembengkakan dan
nyeri. Bakteri salmonella akan meneruskan perjalannya masuk peredaran darah dan
masuk ke dalam kelenjar limfe, terutama di usus halus. Hal ini akan diikuti oleh
terjadinya peradangan pada usus halus dan usus besar.
Salmonella sangat cepat berkembang pada daerah pertanian, karena menjadi
salahsatu media yang besar atas penyebaran salmonella. Makanan yang banyak
menjadi medianya yaitu keju, rempah-rempah, sayuran, buah segar dan akan
menyebar saat di ekspor. Lalat dapat juga berperan sebagai perantara penularan
memindahkan mikroorganisme dari tinja ke makanan.
C. Gejala
Gejala klinis demam tifoid pada anak dapat bervariasi dari yang ringan hingga yang
berat. Biasanya gejala pada orang dewasa akan lebih ringan dibanding pada anakanak. Kuman yang masuk ke dalam tubuh anak, tidak segera menimbulkan
gejala.Gejala akan muncul secara bertahap dalam waktu 8-14 hari setelah terinfeksi.
Gejalanya berupa:
1. Demam

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sakit kepala
Nyeri sendi
Sakit tenggorokan
Sembelit
Penurunan nafsu makan dan
Nyeri perut

Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang
ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala
yang ditimbulkan antara lain :
1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang
malamnya demam tinggi.
2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak
akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau
pedas.
3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hati dan
limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga
terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa
masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan
gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa
kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas,
pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
D. Komplikasi
Dapat terjadi perforasi atau perdarahan. Mengapa bisa timbul perdarahan dan
perforasi? Kuman Salmonella typhi terutama menyerang jaringan tertentu, yaitu
jaringan atau organ limfoid, seperti limpa yang membesar. Juga jaringan limfoid di
usus kecil, yaitu plak Peyeri, terserang dan membesar. Membesarnya plak Peyeri ini
tidak berarti ia tambah kuat; sebaliknya, jaringan ini menjadi rapuh dan mudah rusak
oleh gesekan makanan yang melaluinya. Inilah sebabnya mengapa kepada pasien tifus
harus diberikan makanan lunak, yaitu agar konsistensi bubur yang melalui liang usus,
tidak sampai merusak permukaan plak Peyeri ini. Bila tetap juga rusak, maka dinding
usus setempat, yang memang sudah tipis, makin menipis, sehingga pembuluh darah
setempat ikut rusak dan timbul perdarahan, yang kadang-kadang cukup hebat. Bila ini
berlangsung terus, ada kemungkinan dinding usus itu tidak tahan dan pecah
(perforasi), diikuti peritonitis yang dapat berakhir fatal.

E. Patogenesis (proses perjalanan penyakit)


Cara kuman tifoid menimbulkan penyakit adalah dengan cara masuk melalui
mulut. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung,
karena pH asam lambung yang asam (<2) akan membunuh deman tifoid tersebut.
Kemudian sebagian dari kuman yang lolos akan masuk usus halus, bermultiplikasi
dan menyerang ujung-ujung villi usus halus dan kelenjar limphe mesenterikal dan
kemudian masuk keperedaran darah. Proses ini disebut, bakteriemi primer,yang
tidak berlangsung lama, karena kemudian kuman ditangkap oleh sel-sel
retikuloendotelial sistem di hati dan limpa, juga bermultiplikasi dalam sel fagosit
monuklear dalam kelenjar limphe, folikel limphe, hati danlimpa.
Gambaran klinis adalah berupa selama 10-14 hari, dengan suhu meningkat
secara bertahap seperti anak tangga, meningkat pada malam hari dan menurun
pada pagi hari dan makin hari makin panas. Suhu mencapai puncaknya setinggi
39-40 derajat celcius pada hari ke lima. Terdapat perlambatan denyut nadi, bercak
merah pada kulit, lidah kotor, bibir kering, pembesaran limpa dan hati, batuk
kering dan penurunan kesadaran.
F. Pencegahan
Demam tifoid dapat dicegah dengan kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan.
Beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid secara umum
diantaranya:
1. Cuci tangan.
Cuci tangan anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun terutama
sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet.
Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air.
2. Buanglah kotoran pada jamban yang saniter dan yang tidak terjangkau oleh lalat.
Ditempat yang tidak ada jamban, tinja ditanam jauh dari sumber air di hilir.
3. Berantas lalat dengan menghilangkan tempat berkembang biak mereka dengan
sistem pengumpulan dan pembuangan sampah yang baik. Lalat juga dapat
diberantas menggunakan insektisida.
4. Hindari minum air yang tidak dimasak.
Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid.
Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka seluruh bagian luar botol
atau kaleng sebelum membukanya. Untuk menyikat gigi usahakan tidak menelan
air di pancuran kamar mandi.
5. Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah.

Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada
yang telah dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar, cucilah buah
dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir. Perhatikan apakah buah dan
sayuran tersebut masih segar atau tidak. Buah dan sayuran mentah yang tidak
segar sebaiknya tidak disajikan. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk
mencuci, pilihlah buah yang dapat dikupas.
6. Pilih makanan yang masih panas.
Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan pada suhu ruang. Yang
terbaik adalah makanan yang masih panas.
G. Pengobatan
Pengobatan dapta dilakukan dengan pemberian antibiotik, lebih dari 99% penderita
dapat disembuhkan. Untuk medical treatment, pilihan obat pertama adalah
Chlorampenicol 500 mg diberikan 4x sehari, sampai 7 hari bebas demam, atau bisa
juga diberikan selama 15 hari berturut-turut. Sebagai pilihan kedua adalah
Cotrimoxasole, sedangkan untuk pilihan ketiga urutan ketiga pilihan obatnya adalah
Amoxicillin dan Ampisilin. Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol,
kadang makanan diberika melalui infus sampai penderita dapat mencerna makanan.
Di rumah-rumah sakit tertentu, ada yang menerapkan suatu nutrisi yang
disebut diet tifoid I s/d IV, yang pada intinya menggunakan pemikiran sbb:Bila panas
masih tinggi, maka diberi diet tifus I yang berupa bubur saring agar makanan dan zat
gizi serta nutrisi langsung diserap oleh villi usus dan tidak membebani kerja sistem
pencernaan kita. Seiring dengan turunnya panas, makanan saring berupa bubur saring
dan sebagainya boleh diganti dengan bubur biasa, dan setelah penderitaan agak pulih,
dan dapat meniggalkan tempat tidurnya, diganti dengan nasi tim dan makanan
lembek, dan akhirnya setelah penderita benar-benar sembuh, di perkenankan makanmakanan biasa, tentunya dengan mengunyah lama sampai makanan menjadi lembut.
Prinsip pemberian diet disini, adalah agar tidak membebani dan memfosir sistem
pencernaan penderita. Pemberian makanan cair dan lunak, memungkinkan zat nutrisi
langsung diserap dengan membutuhkan pencernaan yang minimal, yang pada
gilirannya akan memberikan kesempatan pada sel-sel tubuh yang sakit khususnya
bagian dari sistem penccernaan untuk memulihkan dirinya.