Anda di halaman 1dari 11

BAB I

GAMBARAN UMUM INSTANSI


A. Profil Instansi
Direktorat Jenderal Pajak adalah sebuah direktorat jenderal di bawah
Kementrian Keuangan Indonesia yang memiliki tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang perpajakan
Logo Instansi Ditjen Pajak Kanwil Jabar 1 :

Organisasi Direktorat Jendral Pajak pada mulanya merupakan perpaduan


dari beberapa unit organisasi yaitu:
1.

Jawatan Pajak yang bertugas melaksanakan pemungutan pajak


berdasarkan

perundang-undangan

dan

melakukan

tugas

pemeriksaan kas Bendaharawan Pemerintah.


2.

Jawatan Lelang yang bertugas melakukan pelelangan terhadap


barang-barang sitaan guna pelunasan piutang pajak negara.

3.

Jawatan Akuntan Pajak yang bertugas membantu Jawatan Pajak


untuk melaksanakan pemeriksaan pajak terhadap pembukuan
Wajib Pajak Badan.

4.

Jawatan Pajak Hasil Bumi ( Direktorat Iuran Pembangunan


Daerah pada Ditjen Moneter) yang bertugas melakukan
pungutan pajak hasil bumi dan pajak atas tanah yang pada tahu
1965 berubah menjadi Direktorat Iuran Pembangunan Daerah.

Dengan keputusan Presiden RI No.12 tahun 1976 tanggal 17 Maret `976,


Direktorat Ipeda diserahkan dari Direktorat Jenderal Moneter kepada Direktorat
Jenderal Pajak. Pada tanggal 27 Desember 1985 melalui UU RI No.12 Tahun
1985 Direktorat IPEDA berganti nama menjadi Direktorat Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB). Demikian juga unit kantor di daerah yang semula bernama
Inspeksi Ipeda diganti menjadi Inspeksi Pajak Bumi dan Bangunan, dan Kantor
Dinas Luar Ipeda diganti menjadi Kantor Dinas Luar PBB.
Untuk mengkoordinasikan pelaksanaan tugas di daerah, dibentuk beberapa
kantor Inspektorat Daerah Pajak (ItDA) yaitu di Jakarta dan beberapa daerah
seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Indonesia Bagian Timur. Inspektorat
Daerah ini kemudian menjadi Kanwil Ditjen Pajak seperti sekarang.
Direktorat Jenderal Pajak merupakan Institusi penting di negara ini
ternyata memiliki sejarah panjang sejak sebelum proklamasi kemerdekaan
Indonesia. Sejarah singkat DJP:
1. Pra Proklamasi Kemerdekaan RI
Pada zaman Penjajahan Belanda, tugas pemerintahan dalam bidang
moneter diemban oleh Departemen Van Financien dan memiliki dasar
hukum yaitu Staatsblad 1924 Number 576, Artikel 3. Pada zaman Jepang,
departemen Van Financien diubah menjadi Zaimubu oleh Syusekatjo yang
menjadi pemimpin. Djawatan-djawatan yang mengurus penghasilan

negara seperti Bea Cukai, Pajak, serta Hasil Bumi ketiganya digabungkan
oleh Syusekatjo.
2. Periode 1945-1959
Maklumat Menteri Keuangan No.1 tanggal 5 Oktober 1945 yang
menyatakan bahwa seluruh UU atau Peraturan tentang pembendaharaan
Keuangan Negara yaitu Pajak, Lelang, Bea dan Cukai, Pengadaan Candu
dan Garam tetap menggunakan UU atau Peraturan yang ada sebelumnya
sampai dengan dikeluarkannya Peraturan yang baru oleh pemerintah.
Penetapan Pemerintah tanggal 7 November 1945 No.25/D memutuskan
bahwa urusan Bea ditandatangani Departemen Keuangan Bahagian Padjak
mulai tanggal 1 November 1945 sesuai Putusan Menteri Keuangan tanggal
31 Oktober 1945 No.B.01/1. Akhir tahu 1951 Kementerian Keuangan
mengadakan perubahan dimana Djawatan Padjak, Djawatan Bea dan
Cukai, dan Djawatan Padjak Bumi berada dibawah koordinasi Luran
Negara.
3. Periode 1964-1994
Tahun 1964 Djawatan Padjak diubah menjadi Direktorat Pajak
yang berada dibawah pimpinan Pembantu Menteri Urusan Pedapatan
Negara. Kemudian pada tahun 1966 berdasarkan Keputusan Presidium
Kabinet No. 75/U/KEP/11/1966 tentang Struktur Organisasi dan
Pembagian Tugas Departemen-Departemenm Direktorat Padjak diubah
menadi Direktorat Djendral Padjak yang membawahi Sekertariat
Direktorat Djendral, Direktorat Padjak Langsung, Direktorat Padjak Tidak
Langsung, Direktorat Prentjanaan dan Pengoesoetan, dan Direktorat
Pembinaan Wilayah.
Tahun 1988 Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak terdiri dari satu
Sekretariat, 6 Direktorat dan 2 Pusat. Kemudian pada athun 1994 Kantor
Direktorat Jenderal Pajak terdiri dari 1 sekretariat dan 8 Direktorat.

Terakhir pada Desember 2006 berdasarkan PMK131/PMK.01/2006,


susuan organisasi Kantor Pusat DJP berubah kembali, terdiri dari 1
Sekertariat dan 8 Direktorat dan 1 Pusat yang dipimpin pejabat Eselon Iia
yaitu :
1. Sekretariat Direktorat Jenderal
2. Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan
3. Direktorat Peraturan Perpajakan I
4. Direktorat Peraturan Perpajakan II
5. Direktorat Keberatan dan Banding
6. Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian
7. Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan
8. Direktorat Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat
9. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan
10. Direktorat Intelijen dan Penyidikan
11. Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi Informasi
12. Direktorat Transformasi Proses Bisnis
13. Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya
Aparatur
14. Direktorat Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan
Selain itu terdapat juga 4 tenaga pengkaji yaitu:

1. Tenaga Pengkaji bidang Pelayanan Perpajakan


2. Tenaga Pengkaji bidang Ekstensifikasi dan Intensifikasi Perpajakan
3. Tenaga Pengkaji bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum
Perpajakan
4. Tenaga Pengkaji bidang Pembinaan dan Penertiban Sumber Daya
Manusia
Sedangkan Unit Kerja vertikal di daerah meliputi Kantor Wilayah Ditjen Pajak,
Kantor Pelayanan Pajak, dan Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan (KP2KP). Saat ini terdapat 31 Kantor Wilayah DJP di Indonesia, yang
dipimpin pejabat Eselon II A, salah satunya adalah Kantor wilayah DJP Jabar I.
B. Visi dan Misi Perusahaan
1.Visi
Menjadi Institusi Penghimpun Penerimaan Negara yang Terbaik demi Menjamin
Kedaulatan dan Kemandirian Negara.
2. Misi
Menjamin penyelenggaraan negara yang berdaulat dan mandiri dengan :
1. Mengumpulkan penerimaan berdasarkan kepatuhan pajak sukarela yang
tinggi dan penegakan hukum yang adil.
2. Pelayanan berbasis teknologi modern untuk kemudahan pemenuhan
kewajiban perpajakan.
3. Aparatur pajak yang berintegritas, kompeten, dan profesional.
4. Kompensasi yang kompetitif berbasis sistem manajemen kinerja.

C. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Ditjen Pajak Kanwil Jabar I :

D. Strategi Kinerja
Penerimaan pajak (tidak termasuk penerimaan cukai, migas, dan PNBP) di
tahun 2015 ditargetkan untuk berkontribusi sebesar 70% terhadap total
penerimaan negara. Kontribusi ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata
kontribusi penerimaan pajak selama 5 tahun terakhir yang berkisar 55%-60%
terhadap total penerimaan negara. Peningkatan kontribusi penerimaan pajak
ditargetkan seiring dengan rencana pemerintah menurunkan defisit anggaran dari
2.4% (terhadap PDB) di 2014 menjadi 1.9% di 2015.

Menyikapi peningkatan target penerimaan pajak yang sangat tinggi, mau


tidak mau Direktorat Jenderal Pajak (DJP) harus melakukan upaya luar biasa guna
menggali setiap potensi pajak dalam perekonomian, baik itu melalui kebijakan
pajak (tax policy) maupun administrasi pajak (tax administration). Aspek
kebijakan pajak mencakup pemahaman tentang siapa yang dipajaki, apa yang
dipajaki, dan berapa besar pajaknya, sedangkan konsep administrasi pajak adalah
pemahaman tentang bagaimana cara pemajakannya.
Sesuai dengan Pasal 23A Undang Undang Dasar tahun 1945, kedua aspek
perpajakan tersebut diatur melalui beberapa Undang-Undang, antara lain:
Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang
tentang Pajak Penghasilan, dan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Secara konseptual, penggalian potensi pajak
dalam upaya mendorong penerimaan dapat ditempuh dengan meninjau kembali
siapa dan apa yang dipajaki, berapa yang dipajaki dan bagaimana cara
memajakinya.
Mengacu kepada Undang-Undang, DJP adalah entitas yang mendapatkan
mandat untuk mengelola administrasi perpajakan secara nasional (saat ini
pengelolaan tax policy berada Badan Kebijakan Fiskal).
Bagi DJP, peranan sebagai sebuah tax administrator tersebut dirumuskan
dalam tiga fungsi utama DJP yaitu:
1. Fungsi Pelayanan yang mencakup mencakup bagaimana DJP
menyediakan layanan yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih murah
bagi Wajib Pajak (WP);

2. Fungsi Pengawasan yang memastikan bahwa semua WP memenuhi


kewajibannya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang perpajakan
yang berlaku;
3. Fungsi Penegakan Hukum yang memastikan bahwa ketentuan pajak
diterapkan dengan adil bagi semua WP, sanksi diterapkan untuk
pelanggar, dan sebuah sistem deteksi ketidakpatuhan berjalan. Ketiga
fungsi tersebut tidak berdiri sendiri dan harus didukung fungsi lainnya
dalam operasional DJP, seperti fungsi pengelolaan organisasi dan
sumber daya manusia, teknologi informasi dan komunikasi, hubungan
masyarakat, serta fungsi lainnya (Lihat bagan 1).

Untuk dapat terus beradaptasi dengan kebutuhan jaman, baik itu


peningkatan kebutuhan anggaran negara, perkembangan sosial ekonomi,
maupun perkembangan organisasi, DJP harus terus berupaya untuk
memperbaiki dan menyempurnakan pengelolaan administrasi perpajakan di
Indonesia dengan terus menyempurnakan fungsi-fungsi yang ada. Dengan

demikian, proses transformasi menjadi sebuah kebutuhan dalam upaya


pengamanan penerimaan negara.
E. Aspek Praktik Manajemen Perusahaan
1. Aspek Pelayanan
Dalam hal pelayanan, tugas Direktorat Jenderal Pajak Kanwil Jabar I
tertera pada PMK No. 206.2/PMK.01/2014 Pasal 4 ayat (1) tentang Jenis, Fungsi
dan Kedudukan Organisasi. Selain menyelenggarakan fungsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus
juga menyelenggarakan fungsi bimbingan pendataan, penilaian, dan pengurangan
Pajak Bumi dan Bangunan minyak dan gas bumi areal offshore dan tubuh bumi.
Direktorat Jenderal Pajak mengembangkan sistem pelayanan yang
mencakup mencakup bagaimana DJP menyediakan layanan yang lebih cepat,
lebih mudah, dan lebih murah bagi Wajib Pajak (WP)
2. Aspek Pemasaran
Pemasaran tidak hanya dilakukan oleh perusahaan komersil, Instansi
pemerintah khususnya Ditjen Pajak pun harus bisa melakukan pemasaran agar
masyarakat sadar akan pentingnya membayar pajak.
Pemasaran yang di lakukan oleh Kanwil DJP Jabar I adalah melalui
kegiatan Penyuluhan langsung ke masyarakat salah satu contohnya adalah
program Tax Goes to School dan Tax Goes to Campus. Mengembangkan teknologi
informasi komunikasi elektronik, saat ini yang terbaru adalah penggunaan efaktur, serta memberikan himbauan melalui media sosial dan media cetak dalam
rangka meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak.
3. Aspek Sumber Daya Manusia
Pegawai Kanwil DJP Jabar I mayoritas adalah lulusan Diploma atau
Sarjana Jurusan Manajemen serta Akuntansi dan Perpajakan yang berasal dari

STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) atau melalui rekruitmen yang


dilakukan secara terpusat.
Jenjang karir terendah adalah CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) yang
diberi tanggung jawab pekerjaan selama satu tahun sebelum diangkat menjadi
PNS (Pegawai Negeri Sipil). Manajemen PNS dalam Direktorat Jenderal Pajak
mengatur adanya fasilitas dan kesejahteraan bagi PNS, salah satunya adalah hak
pensiun bagi PNS yang telah berumur minimal 50 tahun dan memiliki masa kerja
paling sedikit 20 tahun,PNS tersebut akan diberhentikan secara hormat dan
diberikan dana pensiun berupa pesangon.