Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

GONORRHEA

Oleh :
Anindita Putri Hapsari

G99141012

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU FARMASI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Gonorrhea (gonore) adalah infeksi pada permukaan membran mukosa yang disebabkan
oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gonore meupakan penyebab tersering infeksi menular
seksual. Penularan penyakit ini melalui inokulasi langsung dengan sekret yang terinfeksi pada
suatu membran mukosa ke membran mukosa lain. Infeksi terutama melibatkan epitel pada
uretra, endoservix, rectum, pharynx, konjungtiva; biasanya terlokalisir pada lokasi infeksi
namun bisa menyebar ke traktus genitalia yang lebih atas sehingga timbul komplikasi PID
(pelvic inflammatory disease) dan epididymo-orchitis atau bakteremia. Diagnosis penyakit

gonore ini tergantung dari lokasi infeksinya, sebagai contoh jika lokasinya di uretra maka
diagnosisnya uretritis gonore.
Diperkirakan 200 juta kasus baru gonore terjadi setiap tahunnya. Pada tahun 1999,
jumlah kasus baru infeksi gonore yang didiagnosis di Amerika Utara mencapai 1,56 juta,
Eropa Barat 1,11 juta, Asia Selatan dan Asia Tenggara 27,2 juta dan di Amerika Latin dan
Karibia 7,27 juta.
Rasio penderita laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Insidensi tertinggi pada
dewasa muda usia 15-29 tahun. Pada wanita lebih sering asimtomatik sedangkan pada lakilaki jarang asimtomatik. Wanita kurang dari 25 tahun mempunyai risiko tertinggi terkena
gonore. Laki-laki yang berhubungan seksual sesama jenis lebih berisiko terkena dan
membawa gonore dan berisiko lebih tinggi terjadi resistensi antibiotik.
Masalah yang timbul pada penyakit gonore ini adalah mengenai resistensi Neisseria
gonorrhoeae terhadap antibiotik seperti golongan penisilin. Hal ini dikarenakan Neisseria
gonorrhoeae memproduksi penisilinase. Juga dilaporkan bahwa bakteri penyebab gonore ini
resisten terhadap antibiotik golongan fluorokuinolon. Perlu dilakukan pemilihan antibitiotik
yang adekuat (tidak resisten) dan cara penggunaan yang tepat untuk terapi gonore sehingga
komplikasi dapat dicegah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Definisi dan Etiologi


Gonorrhea (gonore) adalah infeksi purulen pada permukaan membran mukosa
yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Neisseria gonorrhoeae (Wong, 2015).
Infeksi terutama melibatkan epitel kolumner pada uretra, endoservix, rectum, pharynx,
konjungtiva; biasanya terlokalisir pada lokasi infeksi namun bisa menyebar ke traktus
genitalia yang lebih atas sehingga menyebabkan PID (pelvic inflammatory disease) dan
epididymo-orchitis atau bakteremia (Bignell and Unemo, 2012). Penularan penyakit ini
melalui inokulasi langsung dengan sekret yang terinfeksi pada suatu membran mukosa
ke membran mukosa lain (Bignel and FitzGerald, 2011).

II.

Epidemiologi

Diperkirakan 200 juta kasus baru gonore terjadi setiap tahunnya. Pada tahun
1999, jumlah kasus baru infeksi gonore yang didiagnosis di Amerika Utara mencapai
1,56 juta, Eropa Barat 1,11 juta, Asia Selatan dan Asia Tenggara 27,2 juta dan di
Amerika Latin dan Karibia 7,27 juta. Gonore merupakan penyebab tersering infeksi
menular seksual di dunia khususnya mulai abad ke-20.
Kejadian resistensi antibiotik mulai muncul di akhir tahun 1940. Hal ini
dikarenakan Neisseria gonorrhoeae memproduksi penisilinase. Namun resistensi
fluorokuinolon juga dilaporkan meningkat drastis pada 10 tahun terakhir pada sebagian
besar daerah di Amerika Serikat.
Rasio penderita laki-laki dibandingkan perempuan adalah 1,2:1. Pada wanita
lebih sering asimtomatik sedangkan pada laki-laki jarang asimtomatik. Wanita kurang
dari 25 tahun mempunyai risiko tertinggi terkena gonore. Laki-laki yang berhubungan
seksual sesama jenis lebih berisiko terkena dan membawa gonore dan berisiko lebih
tinggi terjadi resistensi antibiotik (Wong, 2015).
III.

Patofisiologi
Gonore disebabkan oleh invasi bakteri diplokokus gram negatif , Neisseria
gonorrheae. Bakteri ini melekat dan menghancurkan membran sel epitel kolumner
yang melapisi uretra, endoservix, rectum, pharynx, konjungtiva yang dapat terjadi pada
kedua jenis kelamin. Untuk dapat menular, harus terjadi kontak langsung mukosa ke
mukosa. Tidak semua organ yang terpajan gonore akan terjangkit penyakit. Risiko
penularan dari laki-laki ke perempun lebih besa daripada perempuan ke laki-laki karena
lebih luasnya mukosa yang terpajan dan eksudat yang berdian lama di vagina. Setelah
terinokulasi, infeksi dapat menyebar ke prostat, vas deferens, vesikula seminalis,
epididimis, dan testis pada laki-laki dan ke uretra, kelenjar Skene, kelenjar Bartholin,
endometrium, tuba fallopi, dan rongga peritoneum, menyebabkan PID pada perempuan.
PID adalah penyebab utama infertilitas pada perempuan. Infeksi gonokokus dapat
menyebar melalui aliran darah, menimbulkan bakteremia gonokokus. Bakteremia dapat
terjadi pada laki-laki maupun perempuan tetapi apabila dibandingkan lebih sering
terjadi pada perempuan. Perempuan berisiko paling tinggi mengalami penyebaran
infeksi pada saat haid. Penularan perinatal kepada bayi saat lahir, melalui os serviks
yang terinfeksi, dapat menyebabkan konjungtivitis dan akhirnya kebutaan pada bayi
apabila tidak diketahui dan diobati (Price et al., 2005).

IV.

Manifestasi Klinis
A. Gejala
1. Laki-laki :

a. Infeksi pada uretra (uretritis gonore) dapat menyebabkan


munculnya sekret dari uretra (>80%) dan/atau disuria (>50%)
sejak 2-5 hari setelah terpapar.
b. Uretritis gonore bisa jadi asimtomatik (<10%).
c. Infeksi rektal biasanya asimtomatik namun dapat menimbulkan
sekret dari anal atau nyeri perianal/anal (7%).
d. Infeksi faringeal biasanya asimtomatik (>90%).
2. Wanita :
a. Infeksi pada endoserviks biasanya asimtomatik (hingga 50%).
b. Sekret vaginal yang berlebihan merupakan gejala yang paling
umum (hingga 50%).
c. Nyeri perut bawah (hingga 25%).
d. Infeksi uretra menyebabkan disuria (12%) namun tidak sering.
e. Gonore jarang menyebabkan perdarahan di antara dua masa
menstruasi atau menoragia.
f. Infeksi rektal biasanya berkembang dari paparan sekret genital
dan biasanya asimtomatik.
g. Infeksi faringeal biasanya asimtomatik.
Infeksi Neisseria gonorrhoeae biasanya juga disertai infeksi oleh
Chlamydia trachomatis, Trichomonas vaginalis dan Candida albicans.
B. Tanda
1. Laki-laki :
a. Sekret uretral yang mukopurulen atau purulen.
b. Jarang, nyeri/bengkak pada epididimis atau balanitis.
2. Wanita :
a. Sekret endoserviks yang mukopurulen dan mudah terjadi
perdarahan endoserviks (<50%) (catatan : sekret mukopurulen
bukan merupakan prediktor yang sensitif terhadap infeksi
serviks).
b. Nyeri pelvis atau nyeri perut bawah (<5%).
c. Biasanya pada pemeriksaan tidak didapatkan tanda abnormalitas.
(Bignel and FitzGerald, 2011)
V.

Penegakan Diagnosis
Gold standart penegakan diagnosis penyakit gonore adalah melalui anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang menunjang manifestasi klinis gonore dan jika ditemukan
bakteri Neisseria gonorrhoeae pada pemeriksaan penunjang kultur bakteri (Bignel and
FitzGerald, 2011).

VI.

Pengobatan

CDC merekomendasikan semua pasien yang terinfeksi Neisseria gonorrhoeae


juga diberikan terapi terhadap infeksi Chlamydia trachomatis, karena gonore biasanya
disertai dengan infeksi Chlamydia trachomatis (Wong, 2015).
Guideline terapi gonore oleh CDC merekomendasikan dual terapi antibakteri
yaitu dari golongan sefalosporin ditambah azitromisin, meskipun hasil kultur tidak
menunjukkan adanya Chlamydia trachomatis. Regimen yang direkomendasikan yaitu
seftriakson 250 mg IM dosis tunggal dan azitromisin 1 g oral dosis tunggal. Sebagai
dual terapi maka kedua obat tersebut diberikan pada hari yang sama. Dosis tunggal
injeksi dari golongan sefalosporin lain yang dapat digunakan adalah :
1. seftizoksim 500 mg IM,
2. sefoksitin 2 g IM ditambah probenesid 1 g oral,
3. sefotaksim 500 mg IM.
Obat-obat tersebut tidak memberikan manfaat yang lebih dibandingkan seftriakson,
namun aman dan secara umum efektif. Regimen alternatif yang diberikan jika tidak
tersedia seftriakson adalah sefiksim 400 mg oral dosis tunggal dan azitromisin 1 g oral
dosis tunggal.
Pasien diedukasi untuk tidak melakukan aktivitas seksual selama 7 hari setelah
diberikan terapi dan tampak adanya penyembuhan/berkurangnya gejala. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi penularan penyakit (CDC, 2015).
Contoh Peresepan
Contoh kasus : seorang laki-laki 30 tahun datang dengan keluhan kencing nanah
sejak 4 hari yang lalu disertai rasa nyeri saat kencing.
R/ Ceftriaxone inj mg 250 No. I
cum disposable syringe cc 3 No.I
disposable syringe cc 1 No.I
S imm
R/ Azithromycin cap mg 500 No. II
S 1 dd cap II
R/ Na diclofenac tab enterik mg 50 No. X
S 2 dd tab I
Pro : Tn A (30 thn)
Informasi Obat
1. Ceftriaxone
a. Mekanisme kerja : obat antibitiotik golongan sefalosporin bekerja
dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Yang dihambat adalah
reaksi transpeptidase tahap ketiga yang berperan dalam pembentukan

dinding sel. Sefalosporin aktif terhadap bakteri gram positif dan gram
negatif.
Ceftriaxone merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi 3 yang
sensitif terhadap bakteri penghasil penisilinase (Gunawan dkk, 2007).
b. Indikasi : infeksi serius saluran nafas bawah, kulit, saluran kemih, tulang
dan sendi, intra abdominal, gonore, septikemia bakterial. Profilaksis
selama pembedahan. Infeksi pada ginjal, meningitis.
c. Dosis : dewasa dan anak > 12 tahun 1-2 g 1x/hari tergantung jenis dan
keparahan infeksi. Maksimal : 4 g/hari. Gonore non komplikasi 250 mg
IM dosis tunggal. Profilaksis selama pembedahan 1 g Ivdosis tunggal
1/2 -2 jam sebelum operasi. Meningitis 100 g/kgBB/hari dalam dosis
terbagi tiap 12 jam dengan atau tanpa loading dose 75 mg/kgBB.
Maksimal 4 g/hari. Anak < 12 tahun dan bayi dengan infeksi serius lain
selain meningitis 50-75 mg/kgBB/har dalam dosis terbagi, diberikan
tiap 12 jam. Maksimal 2 g/hari.
d. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap sefalosporin.
e. Perhatian pada pasien yang sensitif terhadap penisilin, hamil dan laktasi.
f. Efek samping : mual, muntah, diare, stomatitis, glositis, sakit kepala,
pusing, reaksi kulit, anemia, granulositopenia, anemia hemolitik,
peningkatan sementara SGOT/SGPT, leukopenia, trombositosis.
g. Sediaan : vial 1 g.
2. Azithromycin
a. Mekanisme kerja : obat antibiotik golongan makrolid ini bekerja dengan
menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berkaitan secara
reversibel dengn ribosom subunit 5OS.
Azithromycin merupakan antibiotik golongan makrolid yang sensitif
terhadap Chlamydia trachomatis (Gunawan dkk, 2007).
b. Indikasi : infeksi saluran nafas atas dan bawah, kulit dan struktur kulit,
uretritis dan servisitis non gonore karena Chlamydia trachomatis.
c. Dosis : dewasa (termasuk lanjut usia) penyakit menular seksual 1 g
sebagai dosis tunggal per oral. Semua indikasi lainnya 500 mg 1x/hari
selama 3 hari. Anak 10 mg/kbBB/hari sebagai dosis tunggal atau selama
3 hari.
d. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap eritromisin, makrolid, ketolid
atau salah satu komponen obat ini.
e. Perhatian pada gangguan ginjal atau hati sedang atau berat , hamil dan
laktasi, anak < 18 tahun.
f. Efek samping : mual, rasa tidak enak pada perut, muntah, kembung,
diare, gangguan pendengaran, nefritis interstitial, gagal ginjal akut,

fungsi hati abnormal, peusing/vertigo, kebingungan mental, sakit kepala,


somnolen.
g. Interaksi : antasid, digoksin, zidovudin, derivat ergot, kumarin,
siklosporin, rifabutin.
h. Sediaan : tablet salut selaput 250 mg, 500 mg; kapsul 250 mg, 500 mg;
sirup 200 mg/5 ml.
3. Natrium diclofenac
a. Mekanisme kerja : OAINS menghambat produksi prostaglandin dengan
menghambat kerja enzim siklooksigenase (Gunawan dkk, 2007).
b. Indikasi : bentuk inflamasi dan degeneratif seperti artritis reumatik,
spondilitis ankilosa, osteoartritis, spondiloartritis, reumatik non artikular.
c. Dosis : dewasa 100-150 mg/hari. Kasus derajat sedang dan terapi jangka
lama 75-100 mg/hari. Anak lebih dari 1 tahun 0,5-2 mg/kgBB/hari.
Semua dosis harus diberikan dalam 2-3 dosis terbagi.
d. Kontraindikasi : tukak peptik, asma, urtikaria, rinitis akut.
e. Perhatian pada kerusakan hati atau ginjal berat, gangguan saluran
pencernaan, hamil trimester 1.
f. Efek samping : jarang : perdarahan saluran pencernaan, hematemesis,
melena, tukak lambung dengan atau tanpa perdarahan atau perforasi,
diare berdarah.
g. Interaksi : litium, digoksin, diuretik hemat kalium, OAINS sistemik,
antikoagulan, siklosporin.
h. Sediaan : tablet salut enterik 25 mg, 50 mg; ampul 25 mg/ml.
(MIMS, 2015)

BAB III
ILUSTRASI KASUS
A. IDENTITAS PESERTA
Nama
: Tn. A
Umur
: 30 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan
: Sopir truk
Alamat
: Jebres, Solo
Agama
: Islam

B. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Keluar cairan putih kekuningan dari kemaluan
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan keluar cairan putih kekuningan dari kemaluan
sejak 3 hari SMRS, darah (-), bau (-). Keluhan dirasakan terus menerus terutama
pagi hari saat bangun tidur. Pada awal keluhan muncul, pasien merasakan gatal,
panas, merah dan bengkak di ujung kemaluan. Pasien tidak merasa demam, BAB
tidak ada keluhan, nyeri saat BAK. Pasien belum mencoba memeriksakan
keluhannya ke tenaga medis maupun mengonsumsi obat untuk mengurangi
keluhan. Pasien sudah memiliki istri namun memiliki kebiasaan jajan
(hubungan seks dengan PSK), yang terakhir 5 hari SMRS.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit sebelumnya

: disangkal

Riwayat mondok

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa

: disangkal

Riwayat sakit jantung

: disangkal

Riwayat penyakit paru

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat DM, Hipertensi `

: disangkal

e. Riwayat Status Gizi


Penderita biasa makan tiga kali sehari dengan nasi, lauk pauk, tahu, tempe,
lebih sering makan daging ayam. Penderita minum air putih kurang lebih 6-7
gelas perhari.
f. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien sehari-hari bekerja sebagai sopir truk.
g. Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan jajan (berhubungan seksual dengan PSK) sejak
6 bulan yang lalu saat istirahat dalam perjalanan sebagai sopir truk.

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum: Sakit sedang, compos mentis, gizi kesan cukup
b. Tanda Vital
: T : 120/80 mmHg
Rr : 20x/mnt
N : 90x/mnt
S : 36,5 0C
c. Mata
: Visus ODS 6/6, CA (-/-), SI (-/-)
d. Telinga
: NT tragus (-/-), LT lapang, secret (-/-), MT intak
e. Hidung
: NCH (-/-), secret (-/-), epistaksis (-/-), SD (-/-)
f. Mulut
: bibir kering (-), mukosa pucat (-), lidah kotor (+), tepi lidah
hiperemi (+), tremor (+)
g. Tenggorokan : tonsil hiperemi (-/-), T1-T1, faring hiperemi (-/-)
h. Leher
: KGB tidak membesar, JVP tidak menigkat
i. Thorax
Cor:
I : Ictus cordis tidak tampak
P : Ictus cordis tidak kuat angkat
P : Batas jantung kesan tidak melebar
A : Bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising (-)
Pulmo
: I : Pengembangan dada kanan = kiri
P : Fremitus raba kanan = kiri
P : Sonor/Sonor
A : Suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
j. Abdomen
: I : Dinding perut sejajar dinding dada
P : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P : Tymphani
A : Peristaltik (+)
k. Urogenital
: OUE eritem, terdapat sekret mukopurulen.
l. Ekstremitas
: Oedem
Akral dingin

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan kultur didapatkan bakteri Neisseria gonorrheae dan Chlamydia
trachomatis.
E. DIAGNOSIS KERJA
Uretritis gonore
F. TERAPI
a. Non medikamentosa
i. Jangan melakukan hubungan seksual sejak 7 hari setelah mendapatkan terapi
atau jika belum menunjukkan perbaikan gejala untuk menghindari penularan.
ii. Membawa pasangannya untuk ikut diperiksa dan diterapi (menghindari
gejala pingpong).
iii. Setia kepada pasangan.
iv. Selalu menjaga kebersihan daerah kemaluan.

b. Medikamentosa
i. Antibakteri
ii. Analgetik

R/ Ceftriaxone inj mg 250 No. I


cum disposable syringe cc 3 No.I
disposable syringe cc 1 No.I
S imm
R/ Azithromycin cap mg 500 No. II
S 1 dd cap II
R/ Na diclofenac tab enterik mg 50 No. X
S 2 dd tab I
Pro : Tn A (30 thn)

BAB III
PEMBAHASAN
A. Seftriakson
Pemilihan obat ini berdasarkan pedoman terapi infeksi menular seksual gonore
oleh CDC (2015). Seftriakson merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi 3
yang sensitif terhadap bakteri penghasil penisilinase. Jadi obat ini merupakan pilihan

yang tepat/pilihan utama untuk uretritis gonore karena bakteri penyebabnya merupakan
penghasil penisilinase. Selain itu, obat golongan penisilin dan fluorokuinolon yang juga
merupakan pilihan terapi sebelumnya, dilaporkan resisten. Berdasarkan rekomendasi
CDC, seftriakson pada kasus uretritis gonore diberikan secara injeksi intramukuler 250
mg dosis tunggal. Efek samping yang sering timbul adalah alergi. Oleh karena itu
sebelum diberikan, sebaiknya dilakukan skin test terlebih dahulu.
B. Azitromisin
Azitromisin merupakan antibakteri golongan makrolid yang sensitif terhadap
Chlamydia trachomatis. Obat ini menjadi pilihan tambahan karena pada gonore biasanya
disertai infeksi Chlamydia trachomatis. Dengan pemberian antibiotik dual terapi ini bisa
untuk mencegah kemungkinan resistensi.
C. Na diklofenak
Na diklofenak merupakan AINS yang berfungsi sebagai analgetik dalam kasus ini
(keluhan nyeri saat BAK).

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi pilihan yang dapat diberikan pada kasus uretritis gonore adalah dual terapi
antibiotik ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal dan azithromisin oral 1 g dosis tunggal
diberikan pada hari yang sama. Terapi dapat ditambahkan analgetik jika pasien
mengeluhkan nyeri, terutama saat berkemih.
B. Saran
Edukasi yang dapat disampaikan pada pasien :
1. Jangan melakukan hubungan seksual sejak 7 hari setelah mendapatkan terapi atau
jika belum menunjukkan perbaikan gejala untuk menghindari penularan.
2. Membawa pasangannya untuk ikut diperiksa dan diterapi (menghindari gejala pingpong).
3. Setia kepada pasangan.

4. Selalu menjaga kebersihan daerah kemaluan.

DAFTAR PUSTAKA

Bignell C and FitzGerald M (2011). UK national guideline for the management of gonorrhea
in adults. International Journal of STD & AIDS, 22 : 541-547.
Bignell C and Unemo M (2012). European guideline on the Diagnosis and treatment of
gonorrhea in adults.
CDC (2015). Gonococcal Infection. In : Sexually Transmitted Disease Treatment Guidelines.
CDC, 64 (3) : 60-69.
Gunawan SG dkk (2007). Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
MIMS (2015). Referensi Obat : Informasi Ringkas Produk Obat. Edisi 16. Jakarta : PT
Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia).
Price SA and Wilson SM (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi
6. Jakarta : EGC.